Anda di halaman 1dari 11

FEMINISME VS PENDIDIKAN PEREMPUAN DI SUMATERA UTARA

Ameilia Zuliyanti Siregar zuliyanti@yahoo.com,azsyanti@gmail.com Pendahuluan The surest way to keep a people down is to educate the men and neglect the women. If you educate a man you simply educate an individual, but if you educate a woman you educate a family. Dr. J. E. Kwegyir Aggrey, a visionary Ghanian educator (18751927)". Masalah wanita telah lahir sejak pertama kali wanita berada di permukaan bumi ini. Persoalan wanita menjadi persoalan penting dan serius, selalu dibicarakan dikalangan wanita, p[ria, bahkan bangsa-bangsa di dunia. Dahulu wanita dipandang sangat rendah oleh bangsabangsa di Timur maupun Barat, juga menurut pandangan agama yang ada sebelum agama Islam. Hak-hak wanita tak pernah diberikan, mereka begitu tertindas. Wanita dianggap tak lebih dari pengembang keturunan, menjadi pelayan bagi suami, bahkan kadang dianggap sebagai pemuas nafsu para pria. Wanita hanya boleh bekerja dalam rumah tangga suaminya atau bagi yang belum menikah dipingit dirumah orang tuanya (Adrina,1998). Namun, perempuan islam dengan fitrah 3 m+1h (menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui) diajarkan menganut pola keluarga sakinah-mawadah warohmah. Keseimbangan (mitra) lebih ditekankan dalam persamaan hak, kewajiban, kedudukan, dan pekerjaan dalam kehidupan bermasyarakat. Berkat perjuangan wanita yang telah sadar dan bangkit dari ketern tidak produktif, tindasan kaum pria, maka muncullah wanita-wanita yang tidak hanya mampu mengurus rumah tangga, tetapi mampu berada dalam posisi tertinggi di bidang pekerjaan maupun pendidikan. Wanita kini banyak yang menempati posisi penting, yang sebelumnya hanya mendominansi kaum pria. Contohnya: Margareth Theatcher (PM Britian), Cory Aquino dan Gloria Aroyo (Presiden Fillipina), Chandrika Bandaranaike Kumaratonga (Presiden Srilanka), Benazir Bhutto (PM Pakistan), Shirin Ebodi (Nobel 2003, Iran), Megawati Soekarno Putri (Presiden RI), Rini Suwandi (Menteri Perdagangan RI), anggota DPR/MPR RI, birokrat, akdemisi, teknisi, pengusaha, ulama, dan lainnya yang menyumbangkan konstribusi dalam pembangunan di Indonesia. Klasifikasi Feminimisme 1. Feminisme Liberal Kebebasan penuh dan individual. Berakar rasionalitas: private-publik, wanita di bidang domestik adalah subordinat dan tidak produktif. Naomi Wolf (1954) feminisme kekuatan, wanita berkarir bebas di luar rumah, tidak tergantung kepada pria. 2. Feminisme Radikal Separatisme wanita berdasarkan kelamin (gender), dikenal pada tahun 1960. Wanita lebih cenderung berperan secara seksualitas, sektor publik, objek banyak produk. 3. Femisme Post Modern
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 1

Ide anti absolute dan anti otoritas, gagal modernitas dan pemilahan karena fenomena sosial. Gender, seksualitas dan struktur sosial adalah masalah utama di masyarakat pada tahun 1970-an. Wanita fokus mengembangkan sejarah dan ilmu pengetahuan (tahun 1980-abad 20). 4. Feminisme Anarkis Wanita yang berpaham politik membentuk masyarakat sosial. Negara dan lelaki adalah masalah yang harus dihancurkan, berkembang tahun 1970-1990. 5. Feminisme Sosialis Pembebasan wanita, bukan untuk dimiliki siapa pun. Mark (1976) berpendapat masyarakat tanpa kelas, tanpa gender. Wanita kelompok ini menolak lembaga perkawinan, seks bebas, kehidupan tanpa norma, budaya, dan agama yang tidak membatasi wanita. Kelima mahzab ini berkembang menjadi sub mahzab seperti feminism lesbian, feminism cultural, eco-feminisme, wanitaisme, feminisme global (Saulnier, 2000; Sally, 2010), dan lainnya. Setiap mahzab feminis memiliki perspektif yang berbeda mengenai ketidakadilan dan penindasan terhadap wanita. Masing-masing mahzab memiliki pendekatan dan strategi yang beragam dalam mengeliminasi ketidakadilan gender ini. Variasi pemikiran ini selain merefleksikan bagaimana feminisme berusaha merespons berbagai kritik yang dilontarkan oleh setiap mahzab satu sama lain, selain itu menunjukkan feminisme merupakan suatu paradigma yang cair, responsivf, dan tidak dogmatis. Menurut Dominelli (2002:97) dan Edi Suharto (2010), meskipun feminisme berayu wajah, tetapi teori-teori feminimisme memiliki beberapa kesamaan dalam hal: Menjunjung hak asasi wanita terbebas dari penindasan. Memberi kesempatan pada wanita berbicara dan bersuara atas namanya sendiri. Mendengarkan terhadap apa yang seharusnya dinyatakan oleh wanita. Menciptakan gaya hidup alternatif disini dan saat ini. Mengintegrasikan teori dan praktek. Mencari kesesuaian antara tujuan dengan cara-cara pencapaian tujuan itu. Memetakan solusi-solusi kolektif yang menghargai individualitas, dan keunikan setiap wanita. Menghargai konstribusi wanita. Menggunakan pengalaman-pengalaman wanita individu guna memaknakan realitas sosial.

Perspektif Wanita 1. Wanita dalam pandangan Bangsa Arab Jahiliyah Wanita dalam pandangan bangsa Arab sebelum datangnya agama Islam sangat hina. Mereka merasa malu dan terhina apabila isterinya melahirkan anak seorang wanita, sehingga apabila istri hamil, si suami telah menyediakan sebuah lubang. Apabila anak yang dilahirkan itu seorang wanita, maka akan segera dikubur hidup-hidup agar terlepas dari rasa malu. Apabila anak wanita dibiarkan hidup, nasibnya akan sangat buruk, diperlakukan sebagai budak belian, mengangkut beban yang berat, atau paling baik nasibnya diperlakukan sebagai boneka, dipaksa untuk melakukan pelacuran atau dimadu dengan tidak terbatas (Thahar,1982:23).
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 2

Seorang ayah akan tega mengubur anaknya hidup-hidup, demi kehormatan suku dan keluarganya. Jika seorang wanita ditinggal mati oleh suaminya, maka di harus masuk kurungan dan dengan memakai pakaian yang buruk. Tidak boleh memakai harum-harumanan sebelum satu tahun, tidak menerima warisan, tetapi dapat menjadi ahli waris. Sehingga bila seseorang yang wafat meninggalkan wanita, maka saudara tua orang yang paling dekat dengannya akan mendapat warisan untuk memiliki jandanya. Rendahnya martabat wanita juga terlihat dengan hakikat perkawinan Bangsa Arab Jahiliyah, mereka cenderung bersifat possessive. Mereka tidak memberi batasan berapa jumlah wanita yang boleh dinikahi oleh laki-laki (Fakih, 1996:51-52). Wanita yang dicerai juga tidak mempunyai iddah sehingga dapat dirujuk oleh suaminya kapan saja ia suka. 2. Wanita dalam pandangan Bangsa Parsi Tidak jauh berbeda dengan Bangsa Arab, Bangsa Parsi juga menghina kaum wanita dengan berbagai cara. Menurut satu riwayat di kala Mazda yang mengaku dirinya pengganti Zaratustra pada permulaan abad ke-6, di perintahkannya untuk memberikan hak yang sama rata pada laki-laki untuk memiliki harta benda, sementara hak wanita disamakannya dengan binatang. Perempuan dalam pandangan mereka semata-mata disediakan untuk kesenangan lelaki, dijadikan barang dagangan, dan perhiasan yang boleh siapa pun juga yang suka memilikinya, apabila sudah bosan boleh dibuang atau dibunuh. 3. Wanita dalam pandangan Bangsa Yunani Romawi Menurut Bangsa Yunani, wanita adalah makhluk rendah yang berguna sebagai penambah keturunan dan mengatur rumah tangga. Aristoteles pernah menulis bahwa pusat segala makhluk adalah laki-laki saja (Thahar, 1982:25), jika seseorang melahirkan anak wanita dianggap sangat jelek, bagaikan seorang laki-laki yang pincang setengah manusia. Dalam pandangan Aristoteles, wanita bukan manusia yang sempurna seperti laki-laki, tidak sama dengan laki-laki dalam segala hal. Plato menulis "saya bersyukur kepada Dewa-Dewa karena delapan berkat", salah satu berkat sempurna karena tidak dilahirkan sebagai seorang wanita. Bangsa Romawi pernah mengadakan kongres tentang wanita sebelum Islam dan memutuskan bahwa "perempuan itu adalah hewan yang bernajis, kotor, tidak berjiwa, den tidak kekal di akhirat. Mereka dilarang makan daging, tidak boleh tertawa, dan bercakap. Segenap waktunya harus digunakan untuk beribadah kepada Tuhan, berhidmat kepada laki-laki" (Thahar.1982:25). Menurut Hukum Romawi, bila seorang wanita melakukan kesalahan, mereka mendapat hukuman yang sangat kejam, seperti disiram air panas, dibakar diatas api, atau pun kaki dan tangannya diikatkan kepada kuda yang disuruh berlari kencang. Di Perancis, dikembangkan suatu kepercayaan bahwa kecelakaan, kejahatan, dan kesengsaraan di dunia ini berawal dari wanita. Semboyan mereka "carilah kebinasaan itu kamu akan mendapatkannya pada wanita" (Thahar 1982:25). Dahulu dan mungkin sampai sekarang, di beberapa daerah mengkultuskan seseorang ibu melahirkan anak laki-laki boleh memakan daging bakar dicampur gula dan anggur, tetapi apabila ibu melahirkan seorang anak wanita, maka makanannya cukup dengan bubur saja. Apa yang digambarkan kebudayaan Perancis mengenai wanita menunjukkan mereka sangat membedakan antara anak laki-laki dengan wanita, mereka mengagungkan anak laki-laki setinggi-tingginya, dan merendahkan wanita sehina-hinanya. Sesungguhnya kita ketahui bahwa
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 3

tenaga, waktu, dan kasih sayang seorang ibu tidak ada perbedaan kepada anaknya. Akan tetapi mengapa harus ada perbedaan perlakuan ketika dia melahirkan seorang anak wanita? Ungkapan-ungkapan Barat banyak sekali yang menunjukkan betapa rendah dan hinanya perempuan di mata mereka. Didukung pendapat Murtada Mutahhari (1989:99), Barat mewakili pandangan gereja mengatakan, 'Seorang wanita harus malu karena jadi wanita', 'wanita adalah makhluk berambut panjang yang berakal pendek', atau ungkapan 'wanita adalah sejenis binatang liar yang terakhir dijinakkan oleh laki-laki'. Menurut mereka 'wanita adalah mata rantai terakhir antara hewan dan manusia', dan ungkapan-ungkapan lainnya untuk menghinakan dan merendahkan wanita. 4. Wanita dalam pandangan Bangsa Indonesia Bangsa Indonesia dahulu turut merendahkan wanita, sekalipun tidak menamakannya dengan Iblis atau binatang, tetapi intinya tetap menganggap wanita tidak berharga sama sekali. Wanita tidak diperbolehkan maju sama dengan kaum laki-laki, karena wanita dididik untuk mengurus rumah tangga, dan memperhambakan dirinya kepada laki-laki. Wanita mulai dipingit setelah berusia 12 tahun, tidak diberi pendidikan (kasus ini masih ada dideteksi pada pola pikir masyarakat pedesaan, 2011). Mereka beranggapan bahwa tidak perlu pendidikan tinggi bagi wanita, karena tempatnya di dalam rumah. Pandangan rendah terhadap wanita hingga sekarang belum sepenuhnya hilang meski tidak serendah pandangan orang zaman dahulu. Bahkan dalam masyarakat Jawa dikenal istilah "mana - masak - macak", suatu ungkapan yang menyatakan tugas wanita dilarang bekerja diluar rumah. Pameo akrab wanita dengan 3 R Dapur-Kasur-Sumur mengkonsepsikan wanita sebagai pembantu rumah yang menyiapkan makanan, pelayan suami, mencuci pakaian, membersihkan rumah dan mengurus anak-anak ke sekolah. "Setinggi-tingginya wanita, tetap kembalinya di dapur", suatu paradigm salah yang dikonsepsi masyarakat Indonesia. Di Indonesia, Ibu R.A Kartini (1879-1904), menyadari seharusnya tidak ada perbedaan pendidikan antara laki-laki dan wanita. Perjuanganya berhasil. Jasa-jasanya tetap dikenang bangsa Indonesia hingga sekarang ini. Menurut Bachtiar dan Kartini (1979:58), Kartini sebagai lambang perjuangan kaum wanita, namun dalam kenyataan sejarah di Indonesia pernah ada wanita yang memimpin negara (wilayah), yakni Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatudddin Johan Berdaulat yang memerintah Aceh, menggantikan suaminya pada tahun 1641 dan Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan yang menggantikan kakeknya pada tahun 1856 menjadi kepala negara di Kerajaan Datu Tanette. Kedua tokoh ini jarang disebut dalam sejarah. Namun demikian di daerah-daerah hingga sekarang masih terlihat juga kesenjangan yang sangat jauh antara laki-laki dan wanita. Wanita masih saja dianggap lebih rendah dari wanita. Misal di daerah Batak sebuah keluarga tidak akan merasa bangga sebelum memiliki anak lakilaki. Kebalikannya di Padang, wanita dianggap paling berkuasa dalam suatu keluarga (USAID, 2003).

5. Wanita dalam pandangan agama diluar Islam Agama-agama lainnya memandang rendah terhadap wanita sebagaimana yang disebutkan dalam kitab agama mereka. Misalnya, dalam Agama Hindu, Brahma memandang wanita dengan sangat rendahnya, seperti dituliskan oleh Manu yang dikutip Kamarisah Thahar:
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 4

Orang kehilangan kehormatan karena perempuan, dan asal permusuhan adalah perempuan. Perempuan memiliki tabiat menggoda laki-Iaki dan tidak pernah dapat mandiri. Wanita tidak diperkenankan menuruti kehendaknya sendiri, tetapi harus tunduk kepada orang tua (yang belum menikah) atau pada suaminya. Wanita itu sama dengan budak belian yang punya satu tuan yakni suaminya(Thahar ,1982:30). Kita melihat apabila seorang wanita Hindu ditinggal mati oleh suaminya, maka ia harus rela dibakar hidup-hidup sebagai tanda kesetiaan dan kecintaan seorang istri terhadap suaminya. Betapa menyedihkan nasib wanita, padahal kalau seorang suami yang ditinggal mati oleh istrinya, tidak disuruh untuk menyertai isterinya untuk dibakar bersama-sama. Hal ini juga masih berlaku untuk wanita India, apabila menjanda harus berkurung di rumah, memakai pakaian putih, berdiam diri, dan menyepi. Dalam pandangan Agama Yahudi, Tuhan menciptakan seorang wanita dengan mencabut tulang Nabi Adam. Apabila seorang wanita melahirkan anak laki-Iaki, dia menjadi najis selama satu minggu, tetapi jika dia melahirkan anak perempuan, dia menjadi najis dalam dua minggu (Imamat pasal 12:2). Ini menunjukkan bahwa adanya perbedaan laki-laki dengan perempuan. Setiap orang yahudi laki-laki dalam sembahyangnya setiap pagi memuja: "Terpujilah Tuhan yang telah membuatku tidak perempuan" (Thahar.1982:37). Sedangkan perempuan Yahudi bersembahyang mengucapkan. "Terpujilah Tuhan Robbul Alamin, bahwa la membuat aku menurut kehendak-Nya". Dalam perjanjian baru Agama Kristen disebutkan "Tetapi aku suka kamu mengetahui, bahwa kepala tiap laki-laki itu Kristus, dan kepala perempuan itu Laki-laki, dan kepala Kristus itu Allah"(Korintus I pasal 11: 3). Diayat lain dinyatakan agar wanita tunduk dan patuh pada suami, karena laki-laki yang menjadi suaminya adalah pemimpin bagi istrinya. Sehingga dalam sidang Jumat wanita dilarang untuk berbicara, kalaupun dia ingin bertanya cukup pada suaminya dirumah, karena wanita tidak punya hak untuk berbicara dalam sidang jumat. Sikap ini lebih membudaya pada kultur etnik masyarakat Batak, Toraja, Kalimantan, dan lainnya di Indonesia. Dalam Agama Kong Hu Chu, wanita direndahkan, dan laki-laki itu disucikan. Sebagai tanda kesucian itu, wanita dilarang duduk bersama-sama dengan lelaki dalam menuntut ilmu. 6. Wanita dalam pandangan Agama Islam Dalam pandangan Islam, tidak ada perbedaan antara laki-laki dengan wanita. Islam sebagai agama rahmatan lil'alamin mengangkat derajat kaum wanita dari penindasan dari ajaran-ajaran sebelumnya. Islam mengajarkan bahwa pria dan wanita itu sama, mempunyai persamaan hak dan kewajiban, tidak ada yang lebih dimuliakan kecuali orang lebih bertaqwa (Soetari, 1994; Marnissi, 1995). Islam adalah aturan konsep Maha Pencipta untuk manusia. Ajaran Islam menentukan keseimbangan tindakan manusia dengan hukum alam. Islam menuntun manusia, pria dan wanita dalam melaksanakan tugas sebagai khlifah dimuka bumi (Yanggo, 1993). Islam yang digariskan dalam Al-Quran, bukanlah risalah tentang filsafat, namun mengungkapkan secara eksplisit tentang tiga topik filsafat: alam semesta, manusia, dan masyarakat. Dalam Al-Quran menerangkan hakikat penciptaan pria dan wanita berasal dari satu jiwa, bersifat serta esensi yang sama. Wahai sekalian manusia, bertqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jenis yang sama, dan daripadanya tuhan menciptakan pasangannya, dan daripada keduanya diperkembangbiakkan laki-laki dan wanita yang banyak (QS 4: 1). Disini jelas ditekankan tidak ada perbedaan derajat antara pria dan wanita. Dengan kata lain, tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Keduanya memang tidak diciptakan dalam bentuk yang sama persis, melainkan sebagai pasangan yang saling melengkapi manusia ( to
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 5

completly, sharing and living together). Pasangan ini memiliki kemampauan yang berbeda, lakilaki lebih kuat fisik dan beranalogi sehingga dapat bekerja berat, sedangkan wanita lemah lembut, memungkinkan baginya pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan dalam kesabaran. Jiwa laki-Iaki lebih mudah bergejolak dan lebih kasar, sedangkan wanita lebih tenang dan lebih halus, yang membutuhkan pengayoman. Perbedaan in selintas menunjukkan masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, tetapi bila ditelaah lebih jauh, ini merupakan sinkronisasi alam yang harmonis bila dipadukan. Ketentuan Islam dalam meletakkan posisi pria dan wanita berdasarkan bakat, minat, dan fitrah, tanpa pemaksaan yang tidak sesuai dengan kondisi alami pria dan wanita. Karenanya posisi yang digariskan Islam disesuaikan dengan identitas yang khas dan selaras dengan apa yang ada pada pria dan wanita. Islam memberikan hak-hak wanita sebagaimana yang telah digariskan dalam Islam antara lain: 1) Wanita menjadi pasangan bagi pria (OS. 4:1; 16:72; 2:187; 30:189; 42:11; 9:71; 49:13). 2) Iman seorang wanita dinilai sama dengan pria (QS 33:35, 38; 85:10; 47:19; 49:13). 3) Wanita dan pria mendapat imbalan yang sama atas perbuatan amal kebaikannya (QS 33:35; 3:195; 4:124; 16:97; 49:13). 4) Wanita dan pria memiliki hak yang sama dalam memperoleh dan memiliki harta (QS 4:4, 32). Perspektif Wanita Sumatera Utara: Feminisme vs Pendidikan Sumatera Utara adalah salah satu provinsi ketiga terbesar di Indonesia, dengan populasi penduduk 12 juta jiwa, terdiri dari 19 distrik, dengan 71.680 km 2 dari 3.7% wilayah Indonesia (BPS, 2011). Islam telah menempatkan wanita pada tempat yang sebaik-baiknya, namun kadang wanita tidak menyadarinya. Konsepsi dan pergerakan Feminisme di dunia Barat tidak perlu ditiru dan dipolakembangkan di Indonesia. Wanita dalam Islam ditempatkan pada posisi terbaik, bermitra sejajar dengan pria, dan berperan strategis dalam pembangunan di Negara kita. Kelima peran strategis wanita dapat dibagi atas: 1. Sebagai Pemimpin Rumah Tangga Kepemimpinan dalam rumah tangga yang dimaksud adalah tanggung jawab dalam memanage keluarga, tetapi bukan untuk mencari nafkah. Mencari nafkah adalah tanggung jawab suami. Wanita sebagai pemimpin dalam rumah tangga seperti hadist Rasulullah: Al-mar'atu ra'iyatun fi bayti zawjiha wa mas'ulatun 'an ra'iyyatihal 'Wanita itu adalah pemimpin dirumah tangga suaminya, dan dia akan dimintai pertanggungjawaban tentang kepemimpinannya'(HR. Bukhori). Para ulama pendapat bahwa wanita bertanggung jawab dalam pengurusan rumah tangga. Semua puqaha' mendukung penuh agar para wanita tetap tinggal dirumah, bekerja dan melayani anak dan suami dengan kasih sayang, sabar, dan penuh keikhlasan. Mereka berpendapat, wanita lebih baik di rumah, wanita yang bekerja diluar rumah akan banyak mendatangkan fitnah. Wanita dapat bekerja di luar rumah apabila ingin mengaktualisasikan ilmu yang dimilikinya, membantu ekonomi keluarga, serta untuk kemaslahatan ummat. Alasan para ulama mendukung kepemimpinan wanita dalam rumah tangga karena tugas domestik adalah yang paling sesuai dan paling aman bagi wanita. Sebagai pemimpin didalam rumah tangga, wanita bertanggung jawab atas harta suaminya, bertanggung jawab mendidik anak-anaknya dengan penuh kasih sayang agar menjadi generasi islami bertanggung jawab, berakhlaq mulia, dan soleh/soleha. Tugas wanita sebagai pemimpin dalam rumah tangga sangat berat karena ditangan wanita terbentuk masa depan bangsa, sebagaimana disebutkan
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 6

dalam hadist: "Apabila baik wanitanya, maka baiklah negaranya, dan jika rusak wanitanya, maka binasalah negaranya" (Hadist Bukhori). 2. Sebagai Imam Dalam Sholat Imam adalah sama dengan pemimpin, dalm hal ini pemimpin shalat. Wanita sebagai pemimpin shalat, terjadi perselisihan pendapat dikalangan ulama fiqih. Sebagian membolehkan wanita menjadi imam, sebahagian menolak dengan alasan-alasan tertentu, dan sebahagian lainnya membolehkannya dengan kekhususan yang menjadi makmumnya adalah wanita. Menurut Imam Syafi'i, wanita mengimani wanita dibolehkan, tetapi tidak boleh mengimani laki-laki. Abu Tsaur dan At-Thabari membolehkan wanita mengimami laki-laki dan wanita karena keimaman wanita diakui secara mutlak. Alasan Abu Tsaur dan At-Thabari, pada dasarnya tidak ada larangan yang jelas bagi wanita menjadi imam, kecuali hanya berdasarkan penafsiran para Fuqaha' saja. Tidak ada ayat ataupun hadist yang menyatakan "dilarang wanita menjadi imam". Menurut jumhur Ulama, wanita dilarang mengimami laki-laki, sebab wanita harus dibelakangkan seperti yang diajarkan oleh hadist: Akhkhiru hunna min haytsu akhkhara hunna allahu-'Akhirkanlah wanita, karena Allah telah mengakhirkan mereka (wanita)". Kalaulah wanita dapat mengimami laki-laki tentunya sejak masa nabi hal ini sudah tersebar, tetapi ternyata tidak demikian kenyataanya. Alasan-alasan yang dikemukakan oleh ulama yang membolehkan kaum wanita menjadi imam dengan alasan persamaan derajat dalam sholat, terlebih-lebih lagi kenyataan seperti ini sudah banyak diriwayatkan sejak permulaan Islam dengan mengutip sebuah hadist diriwayatkan Abu Daud dari Ummu Waraqah: Inna Rasulallahi shallallahu 'alayhi wasallama kaana yazuuruha fi baytihaa wa ja'ala lahaa yu'adzdzinu laha wa amarahaa anta'umma ahla daarihaal- 'Sesungguhnya Muhammad SAW pernah menziarahi Ummu Waraqah dirumahnya, menunjukkan seorang mu'azin yang azan untuknya, dan memerintahkan Ummu Waraqah untuk menjadi Imam seisi rumahnya'. Dengan alasan tersebut diatas, seorang wanita dibolehkan untuk menjadi imam bagi makmum wanita. Tetapi bagi ulama yang berpandangan ortodoks, tetap merendahkan wanita dan tidak membolehkannya menjadi Imam. Pandangan merendahkan wanita sebenarnya adalah pengaruh dari pandang orang-orang sebelumnya, presendens dalam sosio-kultur masyarakat, atau mungkin laki-laki takut disaingi wanita, sehingga dengan alasan agama mereka tidak menerima kesamaan derajat wanita dengan laki-laki seperti disiratkan Al-Quran. 3. Sebagai Pemimpin Organisasi atau Perusahaan Secara managerial, tugas pemimpin adalah mulai dari merencanakan, mengorganisasi, menggerakkan, memotivasi, mengawasi dan mengevaluasi. Secara spesifik berkaitan dengan pengambilan keputusan, komunikasi memilih, dan mengembangkan sumber daya manusia. Kapasitas kepemimpinan lebih ditentukan oleh kemantapan dalam pengambilan keputusan. Wanita dianggap agak sulit mengemban dan menjalankan tugas kepemimpinan ini. Alasan lain yang dikemukakan para ulama mengapa wanita tidak dibenarkan menjadi pemimpin adalah karena lemahnya akal wanita. Kalau kita perhatikan bagaimana kiprah wanita pada masa sekarang ini, pendapat tersebut kurang tepat sasaran. Ditinjau dari segi kriteria seorang pemimpin seperti diatas, wanita memiliki kemampuan dalam memimpin organisasi/perusahaan. Dalam kepemimpinan tidak harus memiliki tubuh kuat, tetapi lebih berwawasan luas, mengkolaborasikan pikiran-fisik, dan mengoptimalkan managerial pribadi.
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 7

Kalau ditinjau dari sudut pandangan Islam, tidak ada larangan wanita bekerja diluar kecuali karena tepaksa. Menurut Yanggo (1993), Islam tidak melarang wanita untuk bekerja diluar rumah seperti yang dikemukakan:"Islam tidak menghalangi kaum wanita untuk memasuki berbagai bidang profesi sesuai dengan keahliannya, seperti menjadi Guru/Dosen, Dokter, Pengusaha, Menteri, Hakim dan lain-lain. Bahkan bila mampu dan sanggup, wanita boleh menjadi perdana Menteri atau Presiden, asal dalam tugasnya tetap memperhatikan hukumhukum atau aturan yang telah ditetapkan oleh Islam." Islam tidak pernah melarang wanita itu menjadi pemimpin karena dalam hadist dinyatakan bahwa setiap orang itu adalah pemimpin. Kullukum raa'in wa kullukum mas'ulun 'an ra'iyyatihilSetiap kamu semua adalah pemimpin dan semua akan diminta tanggung jawab terhadap kepemimpinannya". Hadis ini menunjukkan bahwa setiap manusia berhak menjadi pemimpin terhadap orang lain, seorang pemimpin haruslah lebih baik daripada orang yang dipimpinnya. Dengan demikian seorang wanita dapat menjadi pimpinan dalam suatu perusahaan, organisasi, departemen atau yang lainnya, yang penting dia punya kemampuan untuk menjadi pemimpin. Adakalanya wanita lebih dapat memahami dan mengambil keputusan yang lebih tepat daripada laki-laki. Selama masyarakat membutuhkan, dan dia mampu untuk itu, maka boleh dan sah-sah saja wanita menjadi pemimpin. Kondisi masyarakat sekarang ini sangat mengharapkan kehadiran dan partisipasi wanita mengisi berbagai lini dalam pembangunan. Disamping itu, Islam tidak membolehkan, pemimpin di pos-pos tertentu dijabat oleh seseorang non muslim, yang pada akhirnya akan merugikan umat Islam itu sendiri. 4. Sebagai Hakim Mengangkat wanita menjadi hakim terjadi perselisihan pendapat di kalangan para ulama, sebahagian membolehkannya, dan sebahagian melarangnya dengan mengemukakkan alasan masing-masing. Imam Abu Hanifah membolehkan wanita menjadi hakim, tetapi terbatas pada urusan harta. Menurutnya, peradilan itu sama dengan kesaksian wanita dalam harta. Sementara itu At-Thabari menyatakan bahwa wanita boleh menjadi hakim dalam segala perkara, dengan alasan bahwa setiap orang dapat memberi peradilan di antara orang banyak, kecuali dalam perkara yang telah takhsiskan oleh ijma' yakni Imamah kubra (jabatan Kepala Negara). Tetapi Jumhur Ulama berpendapat, syarat menjadi hakim haruslah laki-laki, sehingga menolak keputusan peradilan yang dilakukan oleh wanita. Alasan penolakan mereka adalah menyamakan wanita dengan hamba, yakni kurangnya kehormatan mereka. Sedangkan Al-Mawardi seorang ahli fiqih siyasah terkemuka menolak hakim wanita dengan alasan wanita tidak mempunyai kemampuan untuk memegang jabatan-jabatan. Menurut Ibnu Rusydi penalakan para fuqaha' atas hakim wanita alasannya adalah analogi kepada Imamah Kubra (jabatan Kepala Negara) yang sudah disepakati oleh para ulama. Kalau kita perhatikan alasan yang dikemukakan para ulama, ada dua alasan wanita ditolak menjadi hakim karena kurang cerdas, kurang bijaksana, dan penyamaan dengan hamba. Alasan karena wanita kurang cukup kemampuannya, rasanya tidak tepat karena masa sekarang wanita memiliki kemampuan, berpendidikan, dan berpikiran maju. Sedangkan alas an kurangnya kehormatan wanita yang dipandang sama dengan hamba adalah pandangan yang keliru, Islam tidak pernah membedakan derajat laki-laki dengan wanita, tetapi keduanya setara di hadapan Allah. Dalam ajaran Islam disebutkan bahwa Islam datang untuk mengangkat derajat kaum wanita, tetapi mengapa mereka masih merendahkan kaum wanita? Menurut Analisa saya, dikotomi gender ahli fiqih didominansi lelaki sehingga perspektif tentang wanita kurang tepat disampaikan kepada masyarakat.
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 8

5. Sebagai Pemimpin Negara Syarat kelelakian untuk menjadi kepala negara/pemerintahan tidak diperdebatkan lagi oleh ahli fiqih klasik. Masalah kepemimpinan dalam negara islam oleh Benazir Bhuto pada tahun 1989, ketika terpilih menjadi presiden wanita Pakistan pertama, para fuqaha' ramai membincangkannya, dan mencoba menggali bagaimana menurut hukum islam tentang kepemimpinan wanita. Menurut Imam al-Haramain al-Juaini, para ulama berijma' bahwa, wanita tidak boleh menjadi imam dan hakim. la tidak menguraikan apa alasannya. Rasyid Rido (1935) mengutip pendapat At-Taftazani yang menyatakan bahwa syarat menjadi imam (kepala negara/pemerintahan) adalah mukallaf, muslim, laki-laki, mujtahid, berani, bijaksana, cakap, sehat indrawi, adil, dan dari kalangan Quraisy. Sedangkan menurut ulama Hanafiah syarat Imam adalah muslim, laki-laki, merdeka, berani, dan dari kalangan Quraisy. Menurut Al-Mawardi, membolehkan wanita menjadi hakim atau pemimpin berarti melawan sunnatullah karena Allah telah berfirman bahwa lelaki itu memimpin kaum wanita karena Allah memberi kelebihan terhadap sebahagian arang atas sebahagian yang lain. (QS An-Nissa:34). Kelebihan yang dimaksud menurut ulama fikih dalam firman Allah tersebut adalah kelebihan akal dan kebijaksanaan. Alasan kuat lainnya yang selalu digunakan untuk menentang kebolehan wanita menjadi pemimpin adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari yang berasal dari Abu Bakar yakni: lan yaflaha qawmun wallaw amarahum imr 'atunl- "Tidak akan beruntung suatu kaum yang mengangkat wanita menjadi pemimpinnya" (HR.Bukhari). Kalau kita teliti dari keseluruhan uraian diatas dapat diringkaskan alasan-alasan penolakan para ulama tentang kebolehan wanita menjadi kepala pemerintahan atau kepemimpinan secara umum adalah: - aA-Qur'an surat An-nisa' ayat 34; Hadist Abu Bakrah ; dan menurut qodratnya wanita itu lebih lemah dan kurang sempurna dibanding laki-laki. Bila kita tinjau dari segi konteks ayat jelas ia berbicara tentang hubungan suami istri, bukan hubungan sosial dalam konteks yang luas misalnya tentang penguasa dan rakyatnya. Karenanya Ayat tersbut tidak dapat dikatakan nash, atau pelarangan wanita menjadi pemimpin dalam pemerintahan. Lelaki memimpin wanita adalah hubungan langsung lelaki dengan wanita yang hidup dalam suatu perkawinan dan ini adalah wajar. Banyak ulama menolak kepemimpinan wanita, disebabkan wanita kurang akal dan agama. Kurang akal karena kesaksian wanita setengah dari kesaksian laki-laki, sedangkan kurang agamanya disebut karena adanya masa-masa tertentu harus meninggalkan kewajiban shalat. Kurang akal tersebut menurut Izzat (1995: 83), bukan kekurangan yang bersifat alamiyah (tidak cerdas, idiot), bersifat fitriyah yang lazim, melainkan berupa sebahagian kewajiban yang berkaitan dengan kompetensi bersifat umum dan khusus. Bahkan wanita kadangkala lebih utama dan unggul daripada laki-laki karena persoalannya menyangkut kepada keahlian yang mengandung unsur-unsur capaian dan kompetensi yang bersifat khusus (Mercy dan Lucia, 2008). Perbandingan jumlah laki-laki dengan perempuan lima tahun terakhir di di Sumatera Utara dapat dilihat dari tabel 1. Menurut Tumanggor dan Sulaiman (2009), dikota Medan, tingkat partisipasi angkatan kerja wanita pada tahun 2006 mencapai 42.65% seperti disajikan pada tabel 2. Manakala tabel 3 dan tabel 4 menunjukan tingkat pendidikan perempuan dan jumlah perempuan di DPRD di Sumatera Utara dan BPS, 2010).
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 9

Tabel 1. Perbandingan jumlah gender (laki-laki dan perempuan) di Sumatera Utara Tahun Laki-Laki (jiwa) Perempuan (jiwa) Jumlah (jiwa) 2005 6.165.071 6.161.607 12.326.678 2006 6.324.504 6.318.990 12.643.494 2007 6.381.900 6.452.500 12.834.400 2008 6.489.000 6.553.300 13.042.300 2009 6.594.100 6.654.300 13.248.400 Sumber: Sensus Penduduk BPS (2010) Tabel 2. Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Menurut Jenis Kegiatan (2006) Jenis Kegiatan Laki-Laki (%) Perempuan (%) Jumlah Bekerja 68.75 36.46 52.27 Mencari pekerjaan 5.64 6.19 5.92 Sekolah 17.16 16.80 16.98 Lainnya 8.46 40.56 24.85 Sumber: Sensus Penduduk BPS (2010) Tabel 3. Persentase Penduduk 15 Tahun Keatas Menurut Pendidikan (2006) Jenis Kegiatan Laki-Laki (%) Perempuan (%) Jumlah (%) Tidak/Belum tamat SD 18.44 18.24 18.33 SD 18.51 22.80 20.68 SLTP 20.59 20.98 20.79 SLTA 34.70 31.86 33.27 DI/DII 0.82 0.91 0.87 Akademik/DIII 1.47 1.77 1.62 Perguruan Tinggi 5.47 3.44 4.44 Sumber: Sensus Penduduk BPS (2010) Tabel 4. Persentase Penduduk Menurut Jenis Kegiatan dan Anggota DPRD Tenaga Kerja Anggota DPRD Laki-Laki Perempuan Jumlah Laki-Laki Perempuan Jumlah (jiwa) (jiwa) (jiwa) (individu) (individu) (individu) (%) (%) 2008 6.165.071 6.161.607 12.326.678 79 (92.94) 6 (7.06) 85 2009 6.324.504 6.318.990 12.643.494 84 (84) 16 (16) 100 Sumber: Sensus Penduduk BPS (2010) Tahun

DAFTAR PUSTAKA
Adrina, Rahman. (1998). Hak-Hak Reproduksi Perempuan yang Terpasung. Program Kajian Wanita Universitas Indonesia dan the Ford Foundation. Pustaka Harapan, Jakarta.ionn th Bacchtiar, Harsja, dan W. Kartini (1990). Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita, dalam Satu Abad Kartini. Pustaka Sinar Harapan Cet. Ke-4, Jakarta. Badan Prakiraan Statistik (BPS). (2010). Kota Medan Dalam Angka. Medan Dominelli, Lena (2002). Feminisme Theory Dalam Martin Davies (eds). Companion to Social Work. Blackwell, Oxford. Edi Suharto. (2010). Teori Feminism dan pekerjaan Sosial. 1-25p.
Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 10

Fakih, Masaur. (1996). Posisi Kaum Perempuan dalam Islam: Tinjauan dari Analisis Gender dalam: Membincang Feminisme. Risalah Gusti, Surabaya. Ibnu Jarullah, Abdullah. (1995). Pedoman Wanita Shalihah. Rica Grafika, Jakarta. Ibnu Rusydi, Bidayatu al-Mujtahid wa Nihayat al-Muqtashid. Dar al-Fikri Jilid I. Jakarta. Izzat, Hibbah Rauf. (1995). Wanita dan Politik Pandangan Islam.Remaja Rosdakarya, Bandung. Mercy Tembon, and Lucia Fort. (2008).The Girls Education in21s Century. World Bank. 313p. Mernissi, Fatima. (1995). Setara di Hadapan Allah. LSPPA-Yayasan Prakarsa, Yagyakarta. Mutahhari, Murthada. (1992). Hak-Hak Wanita dalam Islam. diterjemahkan oleh Ummu Munaya. YAPI, Jakarta. Rida, Rasyid, al-Khilafah aw al-imamah al-Uzma. tanpa tahun. Matba' ah al Manar. Mesir. Saulnier, C. F. (2000). Feminisme Theory and Social Works:Approaches andApplications. The Harworth Press, New York. Sally J.Scholtz. 2010. Feminism.World Publishers, Oxford. Soetari, Endang. (1994). Mengupayakan Kepemimpinan yang Ideal (dalam Majalah Mimbar Studi-Depag IAIN Sunan G.Jati. 50/XVI/1994). Thahar, Kamarisah. (1982). Hak Asasi Wanita dalam Islam. Ofset Maju, Medan. Tumanggor Sair dan Sulaiman Effendi. (2009). Faktor-Faktor Yang mempengaruhi Tingkat Parisipasi Angkatan Kerja Wanita di Kota Medan. Madani 10(1): 98-110. USAID. (2003). Research Report Female Circumcision in Indonesia: Extent, Implications and Possible Interventions to Uphold Womens Health Rights. Jakarta.46p. Yanggo, Huzaimah T. (1993). Konsep Wanita Menurut Qur'an, Sunnah dan Fikih (dalam Wanita Islam Indonesia Dalam Kajian Tekstual dan Kontekstual (Eds. Johan H Meuleman). INIS, Jakarta.

Feminisme vs Pendidikan Perempuan di Sumatera Utara oleh Ameilia Zuliyanti Siregar disampaikan pada LKK Kohati HMI Cabang Medan: 9-13 Januari 2011 di Student Centre HMI Cabang Medan, Jalan Adinegoro No 3 Medan. [Type text] Page 11