Anda di halaman 1dari 8

SAMPAH DOMESTIK BERDAYA GUNA

Ameilia Zuliyanti Siregar dan Nurzaimah Ginting Dept.Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara zuliyanti@yahoo.com,azsyanti@gmail.com Pendahuluan Sampah adalah hasil akhir dari produk aktivitas yang hampir tidak pernah diingat untuk mengelolanya. Hal ini tidak dapat dipungkiri bila kita melihat bagaimana keadaan sampah yang ada di lingkungan kita. Sampah dapat berasal dari kegiatan industri pertanian/kehutanan, dan domestik yang berada disekitar kita dalam bentuk cair, padat, dan gas. Banyak sekali alasan mengapa saat ini kita harus mengelola sampah. Dapat disebutkan antara lain adalah : 1. Sampah yang tidak dikelola menjadi sumber penyakit. Di atas tanah, sampah menjadi tempat berkumpulnya parasit sementara di bawah tanah, air yang berasal dari sampah dapat mengkontaminasi air bawah tanah. 2. Tumpukan sampah sangat menganggu dari segi estetika, terutama sampah yang berada di perkotaan. 3. Paradigma bahwa sampah cukup dikelola secara konventional yaitu dikumpulkan dan dibuang ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir) telah berubah dan harus ditinggalkan. Saat ini muncul paradigma baru bahwa sampah harus diatur dan dikelola oleh semua pihak yang terlibat dengan sampah.

Mengapa Paradigma Terhadap Sampah Berubah? Perubahan paradigma terhadap sampah dikarenakan kesadaran akan manfaat pengelolaan sampah. Disamping dari manfaat kesehatan dan estetika, maka manfaat pengelolaan sampah adalah sebagai berikut:

1. Melestarikan lingkungan. Pada sampah yang ditumpuk di TPA akan terjadi proses pembusukan dimana pembusukan ini akan mengeluarkan gas rumah kaca yaitu CH4 (metan). Akumulasi metan akan menyebabkan penipisan lapisan ozon. Pada saat ini yang telah terjadi adalah bukan saja penipisan ozon, namun ozon sudah menjadi berlubang. Inilah yang menyebabkan panas bumi meningkat dan diikuti dengan anomali terhadap perubahan cuaca. 2. Sampah yang dikelola ternyata dapat dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Di kota banyak sampah organik dihasilkan. Sampah organik dapat berasal dari kegiatan ibu rumah tangga memasak di dapur, maupun sampah organik yang berasal dari pasar, pertanian, dan bidang industri. 3. Pada saat ini harga pupuk kimia non subsidi sudah meningkat menjadi 5 kali lipat sementara pupuk kimia subsidi banyak yang dioplos. produksi untuk bertani. 4. Permintaan terhadap sayur organik maupun buah organik sudah mulai terbuka, hal ini berkaitan dengan kesadaran konsumen akan lebih lezatnya rasa sayur ataupun buah yang dipupuk dengan pupuk organik. 5. Pemakaian pupuk kimia dalam jangka panjang akan merusak struktur tanah serta kondisi kimia tanah. Akibatnya kemampuan tanah untuk menyerap unsurunsur mineral menjadi berkurang, artinya dari 100% pupuk kimia yang diberikan, maka bisa jadi hanya 50% yang terserap. 6. Kebalikan dengan pemakaian pupuk kimia, maka pemakaian pupuk organik dalam jangka panjang akan memperbaiki struktur tanah serta produktivitas dari tanaman. Dalam kondisi seperti ini, maka pupuk organik dapat membantu sehingga mengurangi biaya

Bagaimana Mengelola Sampah ? Seperti disebutkan diatas, maka semua pihak yang terlibat dengan sampah harus berpartisipasi. Untuk sampah rumah tangga di perkotaan, maka salah satu yang harus terlibat adalah ibu rumah tangga. Bila ibu-ibu rumah tangga mampu mengkelola sampahnya di rumahnya, maka efek lanjutan dari pengelolaan ini sangat besar. Mencontohkan yang terjadi di suatu Rumah Tangga di kota Surabaya, hasil dari pengelolaan sampah oleh ibu-ibu rumah tangga diikuti dengan penataan lingkungannya, menjadikan RT tersebut juara tingkat nasional untuk katagori RT berinovasi. Di Jakarta, pengelolaan sampah dilakukan oleh sekumpulan ibu di RT dalam membuat tanaman apotik keluarga dan menyiramkan pupuk dari hasil cucian beras, cucian ikan dan lain sebagainya. Bahkan di Bogor, sisa minyak penggorengan dapat dijadikan bahan bakar alternatif bus kampus. Sedangkan di Jawa sekarang dikembangkan pemanfaatan limbah plastik menghasilkan bahan bakar minyak (BBM) alternatif pengganti BBM yang sekarang mengalami kenaikan harga yang menimbulkan kontradiksi di kalangan masyarakat dunia, khususnya di Indonesia.

Teknologi Apa Yang Dapat Dipakai Untuk Melakukan Proses Kompos ? Terdapat beberapa teknologi pembuatan kompos, diantaranya seperti berikut: 1. Open Windrow 2. Bak Aerasi 3. Keranjang Susun Method 4. Rotary Kiln 5. Mini Komposter 6. Teknologi Takakura

Pada saat ini, teknologi yang sangat sederhana serta biayanya murah adalah keranjang Takakura. Aplikasi teknologi ini berasal dari Jepang. Pada percobaan di Surabaya, teknologi ini disenangi oleh ibu-ibu rumah tangga, karena sangat praktis. Selain itu sampah tidak berbau, bersih serta pengolahannya dapat dilakukan di dalam rumah. Berdasarkan penelitian Koji Takakura, seorang ahli kompos yang diperbantukan pemerintah Jepang untuk Indonesia, ada 3 tahapan dalam proses pembuatan kompos ini, yaitu : 1. Tahap Pembuatan Inokulan Cair. 2. Tahap Pembuatan Inokulan Padat. 3. Tahap Pemakaian Inokulan Padat untuk Pengomposan. Teknologi Takakura 1. Tahap Pembuatan Inokulan Cair Tujuan tahapan ini adalah untuk membiakkan mikroorganisma yang berdasarkan hasil penelitian Koji Takakura seorang ahli kompos yang diperbantukan pemerintah Jepang untuk bangsa Indonesia akan mampu mendegradasi sampah organik yang berasal dari dapur rumah tangga Indonesia. Mikroorganisma dasar adalah Saccharomyces yang berasal dari ragi tape, Rhizopus dari ragi tempe dan Lactobacillus dari yoghurt. Mikroorganisma ini mempunyai sifat-sifat sebagai berikut: a. Sifat amilolitik, mikroorganisma yaitu Saccharomyces akan menghasilkan enzim amilase yang berperan dalam mengubah karbohidrat menjadi volatile fatty acids dan keto acids yang kemudian akan menjadi asam amino. b. Sifat proteolitik, mikroorganisma yaitu Rhizopus akan mengeluarkan enzim protease yang dapat merombak protein menjadi polipeptida-polipeptida, lalu menjadi peptida sederhana,dan akhirnya menjadi asam amino bebas, CO2 dan air. c. Sifat lipolitik, mikroorganisma yaitu Lactobacillus akan menghasilkan enzim lipase yang berperan dalam perombakan lemak.
4

Inokulan Cair dibuat dari 10 liter air sumur; 1,5 liter air tebu; 60 gr ragi tape (5 buah); 60 gram ragi tempe; 2 sendok makan yoghurt. Semuanya dimasukkan ke galon ukuran 20 liter, lubangnya ditutup dengan kantong plastik ukuran 1 kg, dan dibiarkan 3 hari. Guna ditutup dengan kantong plastik adalah untuk mendapat indikasi apakah mikroorganisma yang akan diaktifkan bekerja, bila kantong plastik menggelembung, berarti terjadi reaksi positif dari mikroorganisma dalam tahapan inokulan cair. Proses gelembung akan mulai sesudah hari pertama dan proses akan diteruskan sampai 3 hari. Bila kantong plastik tidak menggelembung, proses harus diulang dari awal.

2. Tahap Pembuatan Inokulan Padat Inokulan Padat dibuat dari inokulan cair, bekatul (sekam padi) sebanyak 10 kg; dedak 20 kg; dan ragi tape 3 buah. Semuanya dicampur rata, biasanya inokulan cair tudak cukup banyak untuk membuat kebasahan sekitar 60%, sehingga perlu ditambah air sumur sekitar 7 liter. Bila sudah rata, ditutup dengan goni yute. Inokulan padat biarkan selama 1 minggu.

3. Tahap Pemakaian Inokulan Padat untuk Pengomposan Setelah 1 minggu, inokulan padat mulai dapat dicampur dengan sampah organik. Inokulan padat ditempatkan dalam keranjang yang mempunyai lubang udara dan dilapisi dengan suatu bahan yang dapat menyerap penguapan yang terjadi akibat bekerjanya mikroorganisma mencerna sampah. diletakkan bantalan sekam, demikian juga di bagian tutup. Bahan yang digunakan bisa karton kardus ataupun ambal tipis. Kemudian di dasar keranjang

Sampah dirajang halus, kemudian dibuat lubang di tengah inokulan padat, masukkan sampah, aduk rata memakai catok, dan semua harus tertutup dengan inokulan padat. Keranjang yang berisi sekitar 10 kg inokulan padat dapat mengakomodasi sampah dapur rata-rata rumah tangga Indonesia yaitu 6 individu dengan sekitar 1,5 kg sampah. Setelah 40 hari, keranjang akan penuh. Keluarkan 1/3 bagian lalu anginkan sekitar 1 bulan sebelum diaplikasikan pada tanaman. 2/3 bagian lagi diteruskan untuk proses pengomposan berikutnya. Biasanya 2/3 bagian ini akan mempunyai keragaman mikroorganisma yang lebih dari pada keragaman mikroorganisma inokulan padat awal. Hal ini disebabkan selama proses masuknya berbagai macam sampah, beberapa strain mikroorganisma akan tumbuh bersama sampah yang masuk. Berbagai mikroorganisma mungkin terikut pada akar bayam, batang daun meranti, daun katu, dll. Keragaman strain mikroorganisma akan meningkatkan kemampuan inokulan padat dalam mencerna sampah.

Tahap Pemakaian Inokulan Padat untuk Pengomposan Sampah Organik (Kulit Coklat, Kulit Kopi, Sampah Sortiran Sayur) Sampah organik lain, sangat banyak jenisnya. Dapat disebutkan antara lain kulit coklat, kulit kopi, sortiran sayur mayur atau pun sampah pasar. Kesemua sampah tersebut sangat sayang dibuang karena masih dapat memberikan keuntungan, dari pada dibiarkan membusuk dan merusak lingkungan. Sampah kulit coklat misalnya, bila dibiarkan tidak diolah, apalagi apabila dibiarkan beronggok di kebun coklat, akan menjadi sarang Helopeltis, Theobroma yaitu serangga/insect dimana bila mereka selesai beranak pinak di tumpukan kulit coklat, mereka akan dengan senang hati terbang ke buah coklat muda di pohon coklat dan mulai merusak kulit coklat untuk dapat menghisap sari coklat yang lezat. Akibatnya buah coklat menjadi rusak. Diperkirakan antara 30 80 %
6

produksi coklat turun akibat diserang oleh Helopeltis beserta Theobroma. Oleh karena itu, kullit coklat tidak boleh dibiarkan beronggok di kebun coklat. Pengolahan kulit coklat untuk menjadi kompos sangat mudah. Kulit coklat segar dikeprek memakai kayu atau batu. Lalu kulit tersebut diaduk dengan inokulan padat, ini disebut tumpukan pertama. Tumpukan ini ditutup dengan selimut bekas atau baju bekas, tidak boleh ada bagian yang tidak tertutup. Jumlah kulit coklat dengan inokulan padat harus berimbang, artinya semua permukaan kulit coklat harus tertutup dengan inokulan padat. Sebaiknya, setiap hari harus ada kulit coklat segar untuk ditambahkan ke tumpukan pertama, artinya setiap hari kita memberikan makan sampah kulit coklat untuk mikroorganisma yang ada di inokulan padat. Bila tidak setiap hari ada kulit coklat segar, maka boleh berselang. Suatu saat bila tumpukan kompos menjadi dingin, maka kemungkinan karena kurang air, maka percikkan air dan balik-balik. Tumpukan harus panas/hangat, agar belatung tidak tumbuh. Bila belatung tumbuh, tambahkan dedak, dan balikbalik. Tidak perlu khawatir bila tumbuh belatung, bila belatung mati akan meningkatkan nilai Nitrogen dari kompos. Apabila kompos dianggap sudah banyak, keluarkan 1/3 bagian, anginkan 1 bulan, kemudian aplikasikan ke tanaman. kompos yang baru kembali. Sisa 2/3 lanjutkan untuk membuat

Informasi Tambahan Kompos Takakura Lactobacillus sp penting dalam dekomposisi bahan organik. Jenis-jenis bakteri asam laktat ini antara lain: Lactobacillus lactic, Lactobacillus acidophillus, Lactobacillus bulgaricus, Lactobacillus plantarum, Lactobacillus delbrueckii. Lactobacillus paling tahan terhadap keadaan asam dibandingkan jenis bakteri asam laktat lainnya (Jenis Pediococcus dan Streptococcus). Bakteri ini penting dalam fermentasi susu dan sayuran. Kelompok bakteri asam laktat menghasilkan
7

sejumlah besar asam laktat sebagai hasil akhir dari metabolisme gula (karbohidrat). Asam laktat yang dihasilkan dengan cara ini akan menurunkan nilai pH dari lingkungan pertumbuhannya dan menimbulkan rasa asam. pH yang rendah ini menyebabkan hambatan pertumbuhan pada beberapa mikroorganisme lainnya khususnya bakteri. Saccharomyces penting dalam dekomposisi karbohidrat. Ragi /Yeast (Saccharomyces cerevisiae) memproduksi substansi yang berguna bagi tanaman dengan cara fermentasi. Substansi bioaktif yang dihasilkan oleh ragi berguna untuk pertumbuhan sel dan pembelahan akar. Ragi juga berperan dalam perkembang biakan atau pembelahan mikroorganisme menguntungkan lain seperti Actinomycetes dan bakteri asam laktat (Lactobacillus sp). Jamur ini penting dalam merombak sisa nasi, roti dan sumber karbohidrat lainnya. Rhizopus penting dalam dekomposisi protein dan karbohidrat. Jamur ini bermanfaat dalam merombak sisa dapur yang mengandung protein maupun karbohidrat. Apabila anda tertarik dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga lingkungan di sekitar kita, silahkan melakukan kegiatan kecil dan rutin yang berdampak bagi kelestarian lingkungan. Membuang sampah pada tempatnya, menyiramkan tanaman dengan sisa cucian beras, cucian ikan, cucian sayur, memotong dedaunan dan mengembalikan ke tanah sebagai pupuk hijau, membuat apotik obat-obatan (Atoba) mini di rumah, bahkan membuat dua tong sampah (organik dan anorganik) di sekeliling rumah merupakan konsep wujud kepedulian kita terhadap lingkungan. Mari kita sadari dan jalankan konsep berwawasan lingkungan dalam kehidupan harian kita!