Anda di halaman 1dari 28

PEMATERI H.

ZAENAL ARIFIEN HABDULLAH


1

PELATIHAN KEPROTOKOLAN AKADEMIK BAGI DOSEN DAN TENAGA ADMINISTRASI PERGURUAN TINGGI SWASTA DISELENGGARAKN OLEH KORDINASI PERGURUAN TINGGI SWASTA (KOPERTIS) WILAYAH IV JAWA BARAT JATINANGOR 19 MARET 2009

MATERI PENYAJIAN APLIKASI PEDOMAN PROTOKOL NEGARA DI PERGURUAN TINGGI PEMATERI H. ZAENAL ARIFIEN HABDULLAH

H. ZAENAL ARIFIEN HABDULLAH BANTEN 06 PEBRUARI 1942 JABATAN SEKARANG


1. Widyaiswara LB Spesialisasi Keprotokolan Badan Diklat DEPDAGRI; 2. Staf Khusus Kepala Protokol Negara / Nara Sumber Pedoman Protokol Negara. 3. Anggota Dewan Pakar Nasional Mitra Gender.

PENGALAMAN JABATAN
1971-193 Pejabat / Kepala Protokol Pemda Provinsi Jawa Barat. 1993-1998 Kepala Protokol Departemen Dalam Negeri. 1998-2002 Pejabat Fungsional Widyaiswara Badan Diklat Depdagri
3

POKOK BAHASAN KEPROTOKOLAN


PERSPEKTIF TENTANG KEPROTOKOLAN SUMBER HUKUM KEPROTOKOLAN DEFINISI TERMINOLOGI KEPROTOKOLAN KONTEK KEPROTOKOLAN SUBYEK KEPROTOKOLAN SUBSTANSI KEPROTOKOLAN APLIKASI KEPROTOKOLAN MEKANISME PEMBERIAN PENGHORMATAN PROTOKOLER KEPROTOKOLAN MENDUKUNG KEWIBAWAAN JABATAN PARADIGMA KEPROTOKOLAN

PERSPEKTIF TOKOH TENTANG KEPROTOKOLAN

PROTOKOL TEH KANGG0 BAPA MAH LIR IBARAT RAKSUKAN

DIPLOMASI PROTOKOL DALAM JALUR KEPROTOKOLAN MENGHADIRKAN RASA SIMPATIK DAN EMPATIK

KEPROTOKOLAN NASIONAL
NORMA-NORMA/ATURAN-ATURAN/KEBIASAANKEBIASAAN YANG DIANUT DAN/ATAU DIYAKINI DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA, BERBANGSA, PEMERINTAHAN DAN BERMASYARAKAT YANG DIAPLIKASI DI DALAM KEGIATAN SEBAGAI

PERLAKUAN TERHADAP SESEORANG DAN TERHADAP LAMBANG-LAMBANG KEHORMATAN NKRI SELARAS DENGAN
JABATAN ATAU KEDUDUKANNYA YANG BERLAKU DI WILAYAH NKRI

SUATU BENTUK PENGHORMATAN DAN

SUMBER HUKUM KEPROTOKOLAN INDONESIA

LANDASAN & SUMBER HUKUM KEPROTOKOLAN


KETENTUAN INTERNASIONAL KETENTUAN NASIONAL

KONVENSI WINA 1815 DAN KONVENSI Aix La Chapelle TAHUN 1818 MENGATUR TENTANG DINAS DIPLOMATIK
KONVENSI WINA TAHUN 1961 DAN 1963 MENGATUR TENTANG HUBUNGAN DIPLOMATIK

DOMAIN

RELATED

SITUASI POLITIK NEGARA

HISTORIS UNDANG-UNDANG PROTOKOL


MAJELIS PERMUSYAWARATAN RAKYAT R.I. TAP NO. III/MPR/1978 PSL 13

HAK KEUANGAN/ADMINISTRATIF DAN KEDUDUKAN PROTOKOL DARI PIMPINAN/ANGGOTA LEMBAGA TERTINGGI/TINGGI NEGARA DIATUR DENGAN UNDANG-UNDANG
UU No.8 TH 1987 (HOR DAN LAK THDP SESEORANG,BENDERA KEBANGSAAN, LAGU KEBANGSAAN MELIPUTI TAPAT, TAUP, TAHOR, DAN HOR LAK DLM KEADAAN TERTENTU (WAFAT DAN LINKAMTIB (PP NO. 62 TH 1990)

UU No. 7 TH 1978 (PRES, WAPRES, DAN MANTAN)

UU No.12 TH 1980 (PIMP DAN ANGG LT/TN DAN MANTAN ANGG)

ANALISA UU NO. 8 TH 1987 TTG PROTOKOL

SAMBIL MENUNGGU RUU DISYAHKAN MENJADI UNDANGUNDANG, SEBAGAI PEDOMAN SEMENTARA DALAM PENYELENGGARAAN KEPROTOKOLAN DI INDONESIA, MAKA DIRJEN PROTOKOL DAN KONSULER DEPLU DALAM KAPASITASNYA SELAKU KEPALA PROTOKOL NEGARA MENERBITKAN BUKU PEDOMAN PROTOKOL NEGARA (PROTOCOL GUIDELINES) TERTANGGAL 21 OKTOBER 2005. BUKU TSB TELAH DISOSIALISASIKAN KEPADA PEJABAT SIPIL, TNI DAN POLRI DI SEJUMLAH PROVINSI, KABUPATEN / KOTA PADA TAHUN 2006, 2007, 2008. TENTANG JABATAN KEPALA PROTOKOL NEGARA (CHIEF OF STATE PROTOCOL) DITETAPKAN BERDASARKAN KEPPRES NOMOR 32 TH 1971 DAN PENJELASAN Psl 3 ayat (1) PP NOMOR 62 TH 1990 KEPALA PROTOKOL NEGARA DIJABAT OLEH DIRJEN PROTOKOL DAN KONSULER DEPLU R.I. BERFUNGSI SEBAGAI RUJUKAN TERTINGGI MASALAH KEPROTOKOLAN NASIONAL DAN INTERNASIONAL.

12

UU NO. 8 TH 1987 TENTANG PROTOKOL MENGINGAT SITUASI POLITIK NEGARA, PERLU DIREVISI KARENA BEBERAPA MATERINYA PERLU DISESUAIKAN DENGAN JIWA DAN SEMANGAT REFORMASI. PP NOMOR 40, 43 DAN 44 TAHUN 1958 TENTANG LAMBANG KEHORMATAN NKRI DITINGKATKAN DERAJAT HUKUMNYA MENJADI UNDANG-UNDANG.

RAPAT DENGAR PENDAPAT DENGAN BADAN LEGISLASI DPR R.I.

PEMBAHASAN RUU TTG BENDERA NEGARA, BAHASA, LAMBANG NEGARA DAN LAGU KEBANGSAAN, KAMIS 7 JUNI 2007 DI GEDUNG NUSANTARA 1 GD MPR/DPR, JAKARTA.

PEMBAHASAN RUU TTG PROTOKOL, SENIN 3 DESEMBER 2007 DI GD NUSANTARA 1 GEDUNG MPR/DPR, JAKARTA. SRT UNDANGAN SEKJEN DPR RI TGL 22 NOVEMBER 2007 NOMOR PW.001/9037/DPR RI/2007. PADA KEDUA PERTEMUAN TSB HADIR STAF KHUSUS KEPALA PROTOKOL NEGARA MEWAKILI KEPALA PROTOKOL NEGARA, DIDAMPINGI PEJABAT PROTOKOL DARI DITJEN PROTOKOL DAN KONSULER DEPLU DAN PEJABAT PROTOKOL PEMDA PROVINSI DKI JAKARTA.

SRT UNDANGAN SEK JEN DPR TGL 29 MEI 2007 NOMOR PW.001/4133/DPR RI/2007.

13

ASAS DAN TUJUAN UNDANG UNDANG PROTOKOL (RUU PROTOKOL)

PROTOKOL DIATUR BERDASARKAN ASAS KEBANGSAAN, KETERTIBAN DAN KEPASTIAN HUKUM, KESEIMBANGAN, KESERASIAN, DAN KESELARASAN DAN/ATAU TIMBAL BALIK. PENGATURAN PROTOKOL BERTUJUAN UNTUK;
MEMBERIKAN PENGHORMATAN KEPADA PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH DAN TOMASTU SESUAI DENGAN JABATAN / KEDUDUKANNYA; MEMBERIKAN PEDOMAN PENYELENGGARAAN SUATU ACARA BERJALAN TERTIB, RAPI, LANCAR DAN TERATUR SESUAI KETENTUAN DAN KEBIASAAN YANG BERLAKU SECARA NASIONAL / INTERNASIONAL; MENCIPTAKAN HUBUNGAN BAIK DALAM TATA PERGAULAN ANTAR BANGSA.

PENGATURAN PROTOKOL MELIPUTI TATA TEMPAT, TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN
14

ASAS DAN TUJUAN PERLAKUAN TERHADAP LAMBANG-LAMBANG KEHORMATAN NKRI (RUU LAMBANG NEGARA)
LAMBANG KEHORMATAN NKRI TERDIRI DARI; LAMBANG NEGARA, BENDERA NEGARA, PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN, LAGU KEBANGSAAN. PENGATURAN DILAKSANAKAN BERDASARKAN ASAS KEBANGSAAN, KENUSANTARAAN, BHINEKA TUNGGAL IKA, KETERTIBAN DAN KEPASTIAN HUKUM, DAN/ATAU KESEIMBANGAN, KESERASIAN DAN KESELARASAN. BERTUJUAN UNTUK MENUNJUKKAN KEDAULATAN DAN KEHORMATAN BANGSA DAN NKRI. MENJADI SIMBUL DAN PEREKAT PERSATUAN DAN KESATUAN BANGSA, KEPASTIAN DAN STANDARISASI PENGGUNAAN BENDERA NEGARA, BAHASA, LAMBANG NEGARA DAN LAGU KEBANGSAAN.

15

DEFINISI TERMINOLOGI DALAM KEPROTOKOLAN

DEFINISI PROTOKOL
(Psl 1 ayat (1) UU No. 8 Th 1987

SERANGKAIAN ATURAN DALAM ACARA KENEGARAAN ATAU ACARA RESMI YANG MELIPUTI ATURAN MENGENAI TATA TEMPAT, TATA UPACARA, DAN TATA PENGHORMATAN SEHUBUNGAN DENGAN PENGHORMATAN KEPADA SESEORANG SESUAI DENGAN JABATAN DAN/ATAU KEDUDUKANNYA DALAM NEGARA, PEMERINTAHAN, ATAU MASYARAKAT.
SUBJECT MATTER > DIGNITY

KEPROTOKOLAN
NORMA-NORMA ATAU ATURANATURAN ATAU KEBIASAANKEBIASAAN YANG DIANUT DAN/ATAU DIYAKINI DALAM KEHIDUPAN BERNEGARA, BERBANGSA, PEMERINTAHAN DAN BERMASYARAKAT.
SUBJECT MATTER; IMAGE BUILDING

(Rakertas Protokol Nasional, Maret 2004 dan Buku Pedoman Protokol Negara, Oktober 2005).

TERMINOLOGI LAINNYA

KEDUDUKAN PROTOKOLER (PP No. 24 Th 2004) HAK PROTOKOLER (UU No. 23 Th 2003) PENGHORMATAN PROTOKOLER (UU No. 8 Th 1987) ACARA KENEGARAAN (UU No. 8 Th 1987) ACARA RESMI (UU No. 8 Th 1987) TATA TEMPAT; TATA UPACARA DAN TATA PENGHORMATAN (PP No. 62 Th 1990) SUBYEK KEPROTOKOLAN (UU No. 8 Th 1987 dan PP No. 62 Th 1990) > (PN, PP, TOMASTU, LK NKRI) TUAN RUMAH (Penjelasan Psl 13 (2) PP No. 62 Th 1990) PROTOKOLER (H.Zaenal Arifien Habdullah)

KONTEN KEPROTOKOLAN
RUANG LINGKUP; PENGHORMATAN
(JABATAN/KEDUDUKAN, KEBANGSAAN, DAN JENAZAH)

KONTEKS KEPROTOKOLAN
KENEGARAAN KONTEKS KEBANGSAAN KONTEKS PERGAULAN KONTEKS ACARA

PERLAKUAN
(DLM KEADAAN TERTENTU MELIPUTI PEMBERIAN LINKAMTIB DUKSAR)

ASPEK KEPROTOKOLAN REGULASI PSYCHOLOGY SOSIOLOGI EKSPEKTASI

PENGATURAN

UPACARA & KUNJUNGAN

SUBYEK KEPROTOKOLAN
PEJABAT NEGARA
(Psl 1 (4) UU No. 8 Th 1987 dan Psl 11 (1) UU No. 43 Th 1999

PEJABAT PEMERINTAH
(Psl 1 (5) UU No. 8 Th 1987 dan Psl 1 (5-7) UU No. 43 Th
1999

TOKOH MASYARAKAT TERTENTU TINGKAT NASIONAL & DAERAH (Psl 5 (2) (3) PP No. 62 Th 1990)

PIMPINAN DAN ANGGOTA DPRD (Psl 9 PP No. 24 Th 2004)


(PP No. 40, 43, 44 Th 1958 dan PP No. 62 Th 1990)

LAMBANG KEHORMATAN NKRI

SUBSTANSI KEPROTOKOLAN

1. TATA TEMPAT
TATA TEMPAT ADALAH ATURAN MENGENAI URUTAN TEMPAT BAGI PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH DAN TOMASTU DALAM ACARA KENEGARAAN ATAU ACARA RESMI. (Psl 1 ayat (7) PP No. 62 Th 1990)

2. TATA UPACARA
ATURAN UNTUK MELAKSANAKAN UPACARA DALAM KENEGARAAN ATAU ACARA RESMI.(Psl 1 ayat (6) PP No. 62 Th 1990)

PEJABAT NEGARA, PEJABAT PEMERINTAH DAN TOKOH MASYARAKAT TERTENTU MENDAPAT PENGHORMATAN DAN PERLAKUAN SESUAI KEDUDUKANNYA. (Psl 3 UU No. 8 Th 1987 DAN RUU PROT)
PENGHORMATAN DAN PERLAKUAN SESUAI KEDUDUKANNYA ADALAH SIKAP PROTOKOL YANG HARUS DIBERIKAN KEPADA SESEORANG DALAM ACARA SESUAI JABATAN / KEDUDUKANNYA AGAR DAPAT MELAKSANAKAN TUGASNYA SECARA LEBIH BERHASILGUNA DAN BERDAYAGUNA. KETENTUAN TERSEBUT TIDAK BOLEH MENIMBULKAN SIKAP MEWAH DAN BERKELEBIHAN YANG MEMBERATKAN BEBAN PEMERINTAH. (Penjelasan Psl 3 UU No. 8 Th 1987).

4. TATA LAMBANG KEHORMATAN NKRI

(PP

NO. 66 TH 1951, PP NO. 40, 43, DAN 44 TAHUN 1958)

LAMBANG NEGARA GARUDA PANCASILA; BENDERA NEGARA (BK SMP, BK , SMP); GAMBAR RESMI PRESIDEN DAN WAKIL PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA SERTA LAGU KEBANGSAAN INDONESIA RAYA

APLIKASI KEPROTOKOLAN

PRINSIP PERTAMA PENGHORMATAN DAN PERLAKUAN TERHADAP SESEORANG DALAM SUATU ACARA MELIPUTI TATA TEMPAT, TATA UPACARA, DAN TATA PENGHORMATAN HARUS SESUAI DENGAN KEDUDUKAN DAN MARTABAT JABATANNYA SEBAGAI WUJUD PENGAKUAN STATUS DAN KEDUDUKAN SESEORANG, (Penjelasan Umum UU No. 8 Tahun 1987)

PRINSIP KEDUA
PENGHORMATAN DAN PERLAKUAN TERHADAP LAMBANG LAMBANG KEHORMATAN NKRI HARUS SELARAS DENGAN KEDUDUKANNYA SEBAGAI SIMBUL NEGARA / LAMBANG KEDAULATAN NKRI SUATU EKSPRESI BANGSA YANG BERADAB. (Penjelasan Umum UU No. 8 Tahun 1987)

PRINSIP KETIGA
PENGHORMATAN DAN PERLAKUAN TERHADAP SESEORANG DALAM KEADAAN TERTENTU MELIPUTI PEMBERIAN PERLINDUNGAN, KETERTIBAN, DAN KEAMANAN SESUAI DENGAN KEDUDUKAN JABATANNYA DALAM KENEGARAAN DAN PEMERINTAHAN AGAR DAPAT MELAKSANAKAN TUGAS SECARA LEBIH BERHASILGUNA DAN BERDAYAGUNA.
(Penjelasan Umum UU No. 8 Tahun 1987)

26

KEPROTOKOLAN MENDUKUNG KEWIBAWAAN JABATAN


RI -1 DAN RI-2 PEJABAT LAIN

PARADIGMA KEPROTOKOLAN
PENGHORMATAN DAN PERLAKUAN TERHADAP SESEORANG SESUAI DENGAN KEDUDUKANNYA DALAM NEGARA, PEMERINTAHAN, ATAU DI MASYARAKAT DAPAT MENJAGA KEHORMATAN DAN MENUMBUHKAN KEWIBAWAAN ADALAH CERMIN KUALITAS SESEORANG MERUPAKAN HAK ASASI MANUSIA YANG HARUS DIJUNJUNG TINGGI. PENGHORMATAN DAN PERLAKUAN TERHADAP LAMBANG LAMBANG KEHORMATAN NKRI YANG SELARAS DENGAN KEDUDUKANNYA SEBAGAI LAMBANG KEDAULATAN NEGARA ADALAH PARAMETER BANGSA YANG BERADAB DEMI TEGAK UTUH DAN LESTARINYA NEGARA KESATUAN R.I.
28