Anda di halaman 1dari 27

LBM 5 SISTEM KESEHATAN NASIONAL

STEP 1 o o Hygiene Perusahaan : Upaya pemeliharaan lingkungan kerja (fisik, kimia, radiasi, dll.) dan lingkungan perusahaan. Kesehatan Kerja : Spesialisasi dalam ilmu kesehatan atau kedokteran beserta prakteknya yang bertujuan agar pekerja atau masyarakat pekerja memperoleh derajat kesehatan setinggi-tingginya baik fisik atau mental maupun sosial dengan usaha-usaha preventif dan kuratif terhadap penyakit-penyakit atau gangguan-gangguan kesehatan yang diakibatkan pekerjaan dan lingkungan kerja serta terhadap penyakit-penyakit umum. Hiperkes (Hygiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja) : Bagian dari usaha kesehatan masyarakat yang ditujukan pada masyarakat pekerja, masyarakat sekitar perusahaan, dan masyarakat umum yang menjadi konsumen dari hasil-hasil produksi perusahaan. Keselamatan Kerja : Keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja dengan pesawat, mesin, alat kerja, bahan dan proses pengelolaannya, landasan tempat kerja, lingkungan kerja, dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut. Ergonomi : Studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen dan desain atau perancangan. Ilmu serta penerapannya yang berusaha menyerasikan pekerjaan dan lingkungan terhadap orang atau sebaliknya dengan tujuan tercapainya produktivitas dan efisiensi yang setinggitingginya melalui pemanfaatan manusia seoptimal mungkin. Pneumokoniosis : Golongan penyakit yang terjadi karena penimbunan debu dalam paru-paru. Toksikologi : Ilmu yang mempelajari tentang racun atau pengaruh yang merugikan suatu zat / bahan kimia pada organisme hidup. Analisa Toksikologi Industri : Analisa zat-zat yang kemungkinan beracun pada industri tersebut yang dapat menyebabkan penyakit pada pekerja dan masyarakat sekitar. Penyakit Akibat Kerja : Kelainan yang ditimbulkan karena proses atau kontak langsung dalam pekerjaan melakukan

o o

Kecelakaan Kerja : Kecelakaan yang ada hubungannya dengan kerja, dalam kecelakaan terjadi karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaaN

HIGIENE PERUSAHAAN DAN KESEHATAN KERJA 1. Batasan2 Lapangan kesehatan yang ditujukan pada pemeliharaan dan mempertinggi derajat kesehatan tenga kerja, dilakukan dengan mengatur pemberian pengobatanm, perawatan tenaga kerja sakit, mengatur persediaan tempat, cara-cara dan syarat yang memenuhi norma kesehatan kerja untuk mencegah penyakit baik sebagai akibat pekerjaan maupun penyakit umum. Upaya pemeliharaan lingkungan kerja dan lingkungan perusahaan. 2. Ruang lingkup Kesehatan kerja : Memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan kerja masyarakat pekerja di semua lapangan kerja setinggi2nya baik fisik, mental maupun kesejahteraan sosialnya Mencegah timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat pekerja yang diakibatkan oleh keadaan/kondisi lingkungan kerja Memberikan pekerjaan dan perlindungan bagi pekerjaannya dari kemungkinan bahaya yang disebabkan oleh faktor2 yang membahayakan kesehatan (Prof.dr.Soekidjo Notoatmodjo.2007.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:Rineka Cipta) 3. Tujuan Agar masyarakat pekerja (karyawan perusahaan, pegawai negeri, petani, nelayan, pekerja-pekerja bebas, dsbg) dapat mencapai derajat keseahtan yang setinggi-tingginya baik fisik, mental dan sosialnya Agar masyarakat sekitar perusahaan terlindung dari bahaya-bahaya pengotoran oleh bahan-bahan yang berasal dari perusahaan Agar hasil produksi perusahaan tidak membahayakan kesehatan masyarakat konsumennya Agar efisiensi kerja dan daya produktifitas para karyawan meningkat dan dengan demikian akan meningkatkan pula produksi perusahaan. (dr.Indan Entjang.2000.IKM.Bandung : PT.Citra Adtyia Bakti) Tujuan utama hiperkes : Menciptakan tenaga kerja yang sehat dan produktif (Sumamur.1986.Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja.Jakarta : Gunung Agung) 4. Determinan kes kerja untuk mencapai tujuan kesehatan masyarakat pekerja dan produktivitas kerja dan yang setinggi-tingginya diperlukan suatu prakondisi yang menguntungkan bagi masyarakat pekerja tersebut. Prakondisi inilah yang disebut determinan kesehatan kerja yang mencakup tiga faktor utama, yaitu : beban kerja, beban tambahan akibat dari lingkungan kerja, dan kemampuan kerja a. beban kerja beban pekerjaan dapat berupa beban fisik, beban mental ataupun beban sosial sesuai dengan pekerjaan si pelaku. Tingkat ketepatan penempatan seseorang

pada suatu pekerjaan, disamping didasarkan pada beban optimum, juga dipengaruhi oleh pengalaman, keterampilan, motivasi dsb. Kesehatan kerja berusaha mengurangi atau mengatur beban kerja para karyawan atau pekerja dengan cara merencanakan atau mendesain suatu alat yang dapat mengurangi beban kerja. Misalnya alat untuk mengangkat barang yang berat diciptakan gerobak, untuk mempercepat pekerjaan tulis menulis diciptakan mesin ketik dan komputer, untuk mengurangi beban hitung menghitung diciptakan kalkulator atau komputer. b. beban tambahan lingkungan merupakan beban tambahan karena mengganggu pekerjaan dan harus diatasi oleh pekerja atau karyawan yang bersangkutan. Beban tambahan dapat dikelompokkan menjadi 5 faktor yaitu : faktor fisik, misalnya : penerangan/ pencahayaan yang tidak cukup, suhu udara yang panas, kelembaban yang tinggi atau rendah, suara yang bising dsb faktor kimia, yaitu bahan-bahan kimia yang menimbulkan gangguan kerja, misalnya : bau gas, uap atau asap,debu, dsb faktor biologi, yaitu binatang atau hewan dan tumbuhtumbuhan yang menyebabkan pandangan tidak enak menggangu misalnya : lalat,kecoa, lumut, taman yang tak teratur, dsb faktor fisiologi,yakni peralatan kerja yang tidak sesuai dengan ukuran tubuh atau anggota badan ( ergonomic , misalnya : meja atau kursi yang terlalu tinggi atau pendek faktor sosial-psikologi, yaitu suasana kerja yang tidak harmonis, misalnya : adanya klik, gosip, cemburu, dsb lingkungan kerja yang tidak sehat akan menjadi beban tambahan bagi kerja atau karyawan, misalnya : penerangan atau pencahayaan ruangan kerja yang tidak cukup dapat menyebabkan kelelahan mata kegaduhan dan bising dapat menggangu konsentrasi, mengganggu daya ingat, dan menyebabkan kelelahan psikologis gas, uap, asap dan debu yang terhisap lewat pernafasan dapat mempengaruhi berfungsinya berbagai jaringan tubuh, yang akhirnya menurunkan daya kerja binatang, khususnya serangga ( nyamuk, kecoa, lalat, dsb ) di samping menganggu konsentrasi kerja, juga merupakan pemindahan ( vektor ) dan penyebab penyakit alat-alat bantu kerja yang tidak ergonomis ( tidak sesuai dengan ukuran tubuh ) akan menyebabkan kelelahan kerja yang cepat

hubungan atau iklim kerja yang tidak harmonis dapat menimbulkan kebosanan, tidak betah kerja, dsb, yang akhirnya menurunkan produktivitas kerja Cara-caramengatur lingkungan agar tidak menjadi beban kerja : penerangan/ pencahayaan yang cukup, standar penerangan tempat kerja setara dengan 100 sampai dengan 200 kaki lilin. Penggunaan lampu neon ( fluorecent ) dianjurkan karena : kesilauan rendah, tidak banyak bayangan, dan suhu rendah dekorasi warna di tempat kerja. ruangan yang diberi pendingin ( AC ) akan meningkatkan efisiensi kerja, namun suhu yang terlalu dingin juga akan mengurangi efisiensi bebas serangga ( lalat, nyamuk, kecoa ) dan bebas dari bau-bauan yang tidak sedap penggunaan musik di tempat kerja, dsb c. kemampuan kerja kemampuan seseorang dalam melakuka pekerjaan berbeda dengan seseorang yang lain, meskipun pendidikan dan pengalamannya sama, dan bekerja pada suatu pekerjaan atau tugas yang sama. Perbedaan ini disebabkan karena kapasitas orang tersebut berbeda. Kapasitas adalah kemampuan yang dibawa dari lahir olh seseorang yang terbatas. Artinya kemmapuan tersebut dapat berkembang karena pendidikan atau pengalaman tetapi sampai pada batasbatas tertentu saja. Kapasitas dipengaaruhi oleh berbagai faktor, antara lain : gizi dan kesehatan ibi, genetik dan lingkungan. Selanjutnya kapasitas ini mempengaruhi atau menentukan kemempuan seseorang. Peningkatan kemampuan tenaga kerja akhirnya akan berdampak terhadap peningkatan produktivitas kerja.

5. Perbedaan kes kerja dan kes masy Perbandingan Kesehatan Kerja dengan Kesehatan Masyarakat Kesehatan kerja Kesehatan masyarakat kerja sebagai sasaran utama Kesehatan masyarakat Kesehatan masyarakat umum

Biasanya mengurus golongan karyawan yang mudah didekati Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan periodik Yang dihadapi lingkungan kerja Tujuan utama produktivitas adalah

sebagai sasaran utama Mengurusi masyarakat kurang mudah dicapai yang

Sulit untuk melaksanakan pemeriksaan periodik Lingkungan umum merupakan masalah pokok Tujuan utama : kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Dibiayai oleh pemerintah, dan partisipasi masyarakat

peningkatan

Dibiayai oleh perusahan atau tenaga kerja

6. Usaha2 Pencegahan dan pemberantasan penyakit-penyakit dan kecelakaan akibat kerja Pemeliharaan dan peningkatan kesehatan tenaga kerja Pemeliharaan dan peningkatan efisiensi dan daya produktifitas tenaga manusia Pemberantasan kelelahan kerja dan peningkatan kegairahan kerja Pemeliharaan dan peningkatan hygiene dan sanitasi perusahaan pada umumnya seperti kebersihan ruangan-ruangan, cara pembuangan sampah sisa pengolahan dan sebagainya Perlindungan bagi masyarakat sekitar suatu perusahaan agar terhindar dari pengotoran oleh bahan-bahan dan perusahaan yang bersangkutan Perlindungan masyarakat luas (konsumen) dari bahaya-bahaya yang mungkin ditimbulkan oleh hasil-hasil produksi perusahaan (dr.Indan Entjang.2000.IKM.Bandung : PT.Citra Adtyia Bakti) 7. Penerapan Pengenalan lingkungan kerja : mengetahui secara kulitatif bahaya potensial di tempat kerja, menentukan lokasi, jenis dan metoda pengujian yang perlu dilakukan. Penilaian lingkungan kerja : dilakukan pengukuran, pengambilan sample dan analisis laboratorium, melalui penilaian lingkungan dapat ditentukan kondisi lingkungan kerja secara kuantitatif dan terinci, serta membandingkan hasil pengukuran dan standar yang berlaku, sehingga dapat ditentukan perlu atau tidaknya teknologi pengendalian, ada atau tidak korelasi kasus kecelakaan dan penyakit akibat kerja dengan lingkungannya, serta sekaligus merupakan dokumen data di tempat kerja. Pengendalian lingkungan kerja : metoda teknik untuk menurunkan tingkat factor bahaya lingkungan sampai batas yang masih dapat ditolerir dan sekaligus melindungi pekerja. (A.M.Sugeng Budioro.2005.Bunga Rampai, Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi).Semarang : Undip)

ERGONOMI 1. Prinsip2 dan penerapannya Sikap tubuh dalam melakukan pekerjaan sangat dipengaruhi oleh bentuk, susunan, ukuran, dan penempatan mesin-mesin, penempatan alat-alat petunjuk, cara-cara harus melayani mesin (macam gerak,arah,kekuataan,dsb). Untuk normalisasi ukuran mesin atau peralatan kerja harus diambil ukuran tersebar sebagai dasar serta diatur dengan suatu cara, shg ukuran tersebut dapat dikecilkan dan dapat dilayani oleh tenaga kerja yang lebih kecil, misalnya : tempat duduk yang dapat dinaik turunkan dan dimajukan atau dimundurkan. Ukuran-ukuran antropometri yang dapat dijadikan dasar untuk penempatan alat-alat kerja adalah sebagai berikut : Berdiri : tinggi badan,bahu,siku,pinggul,dll Duduk : tinggi duduk,panjang lengan atas,panjang lengan bawah dan tangan,jarak lekuk lutut Pada pekerjaan tangan yang dilakukan berdiri,tinggi kerja sebaiknya 5-10 cm di bawah tinggi siku. Dari segi otot,sikap duduk yang paling baik adalah sedikit membungkuk sedang dari sudut tulang, dianjurkan duduk tegak agar punggung tidak bungkuk dan otot perut tidak lemas. Tempat duduk yang baik adalah : Tinggi dataran duduk dapat diatur dengan papan kaki yang sesuai dengan tinggi lutut sedangkan paha dalam keadaan datar Lebar papan duduk tidak kurang dari 35 cm Papan tolak punggung tingginya dapat diatur dan menekan pada punggung Arah penglihatan untuk pekerjaan berdiri adalah 23-37 derajat ke bawah sedangkan untuk pekerjaan duduk arah penglihaan ini sesuai dengan sikap kepala yang istirahat. Kemampuan beban fisik maksimal oleh ILO ditentukan sebesar 50 Kg. Kemampuan seseorang bekerja adalah 8-10 jam per hari.lebih dari itu efisiensi dan kualitas kerja menurun. (Prof.dr.Soekidjo Notoatmodjo.2007.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:Rineka Cipta) 2. Tujuan Memaksimalkan efisiensi karyawan. Memperbaiki kesehatan dan keselamatan kerja. Menganjurkan agar bekerja aman, nyaman, dan bersemangat. Memaksimalkan bentuk (performance) kerja yang meyakinkan. (dr.Gempur Santoso, Drs., M.Kes.Ergonomi Manusia, Peralatan, dan Lingkungan)

Bagaimana mengatur kerja agar tenaga kerja dapat melakukan pekerjaannya dengan rasa aman, selamat, efisien, efektif, dan produktif, disamping juga rasa nyaman serta terhindar dari bahaya yang mungkin timbul ditempat kerja. (A.M.Sugeng Budioro.2005.Bunga Rampai, Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi).Semarang : Undip) 3. Manfaat Mencegah terjadinya kecelakaan kerja dan mencegah ketidakefisiensi kerja ( meningkatkan produksi kerja ) Mengurangi beban kerja karena apabila peralatan kerja tidak sesuai dengan kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan menjadi beban tambahan kerja (Prof.dr.Soekidjo Notoatmodjo.2007.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:Rineka Cipta) 4. Aspek2 1. Faktor manusia Dibagi 2: Faktor dari dalam, adalah faktor yang berasal dari dalam diri manusia seperti umur, jenis kelamin, kekuatan otot, bentuk dan ukuran tubuh, dll. Faktor dari luar, berasal dari luar manusia seperti penyakit, gizi, lingkungan kerja, sosial ekonomi,adat istiadat, dsb. 2. Anthropometri Suatu pengukuran yang sistematis terhadap tubuh manusia, terutama seluk beluk dimensional ukuran dan bentuk tubuh manusia. Antropometri yang merupakan ukuran tubuh digunakan untuk merancang atau menciptakan suatu saran kerja yang sesuai dengan ukuran tubuh pengguna sarana kerja tersebut. Dalam pelaksanaan pengukuran antropometri dikenal dua macam pengukuran yaitu antropometri statis dan dinamis. 3. Sikap tubuh dalam bekerja Hubungan tenaga kerja dalam sikap dan interaksinya terhadap sarana kerja akan menentukan efisiensi, efektivitas, dan produktivitas kerja, selain SOP yang terdapat pada setiapa jenis pekerjaan. Semua sikap tubuh yang tidak alamiah dalam bekerja, misalnya sikap menjangkau barang yang melebihi jangkauan tangannya harus dihindarkan. Apabila hal ini tidak memungkinkan maka harus diupayakan agar beban statiknya diperkecil. Pada waktu bekerja diusahakan agar bersikapsecara alamiah dan bergerak optimal. Sikap tubuh dalam bekerja yang dikatakan secara ergonomik adalah yang memberikan rasa nyaman, aman, sehat, dan selamat dalam bekerja yang dilakukan antara lain dengan cara: Menghindarkan sikapa yang tidak alamiah dalam bekerja Diusahakan beban statik menjadi sekecil-kecilnya

Perlu dibuat dan ditentukan kriteria dan ukuran baku tentang peralatan kerjayanga sesuai dengan ukuran antropometri tenaga kerja penggunanya. Agar diupayakan bekerja dengan sikap duduk dan berdiri secara bergantian. 4. Manusia- mesin Fungsi manusia dalam hubungan manusia-mesin dalam rangkaian produksi ini adalah sebagai pengarah atau pengendali jalannya mesin tersebut. Manusia menerima informasi dari mesin melalui indera mata untuk membuat keputusan untuk menyesuaikan atau merubah kerja mesin melalui alat kendali yang ada pada mesin. Pada umumnya setiap mesin mempunyai SOP. Kemudian mesin menerima perintah tersebut untuk kemudian untuk menjalankan tugasnya. Jelas disini bahwa bekerjanya mesin sangat tergantung pada manusia sebagai pengendalinya. 5. Pengorganisasian kerja Pengorganisasian kerja terutama menyangkut waktu kerja, waktu istirahat,kerja lembur dan lainnya yang dapat menentukan tingkat kesehatan dan efisiensi tenaga kerja. Jam kerja selama 8 jam perhari diusahakan sedapat mungkin tidak terlampaui, apabial tidak dapat dihindarkan perlu diusahakan grup kerja baru atau perbanyakan kerja ship. 6. Pengendalian lingkungan kerja Lingkungan kerja yang buruk atau melampaui nilai ambang batas yang ditetapkan, yang melebihi toleransi manusia untuk menghadapinya, akan menurunkan produktivitas kerja, menyebabkan penyakit akibat kerja, kecelakaan kerja, pencemaran lingkungan sehingga tenaga kerja dalam melaksanakan pekerjaannya tidak mendapat rasa aman, nyaman, sehat, dan selamat. Terdapat berbagai faktor lingkungan kerja yang berpengaruh terhadap kesehatan, keselamatan, dan efisiensi serta produktivitas kerja yaitu faktor fisik; seperti pengaruh kebisingan, penerangan, iklim kerja, getaran; faktor kimia seperti pengaruh bahan kimia, gas, uap, debu; faktor fisiologis seperti;sikap dan cara kerja, penentuan jam kerja dan istirahat, kerja gilir, kerja lembur; faktor psikologis;seperti suasana tempat kerja, hubungan antar pekerja dan faktor biologis seperti infeksi karena bakteri, jamur, virus, cacing. Untuk pengendalian lingkungan kerja dapat dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu pengendalian secara teknik, pengendalian secara administratif, dan pengendalian dengan pemberian alat pelindung diri (APD). 7. Kelelahan kerja Penyebab kelelahan kerja adalah akibat tidak ergonomisnya kondisi sarana, prasarana, dan lingkungan kerja merupaan faktor dominan bagimenurunnya atau rendahnya produktivitas kerja seorang tenaga kerja. Kelelahan merupakan suatu kondisi melemahnya tenaga untuk melakukan suatu kegiatan walaupun bukan merupakan satu-satunya gejala. Kelelahan dapat dibagi dua macam: Kelelahan otot

Kelelahan umum Kelelahan otot ditunjukkan melalui gejala sakit nyeri, seperti ketegangan otot dan sakit sekitar sendi, sedangkan kelelahan umum dapat terlihat pada munculnya sejumlah keluhan yang berupa perasaan lamban dan keenggan beraktivitas. 8. Kerusakan trauma kumulatif (CTD) Penyakit ini timbul karena terkumpulnya kerusakan kerusakan kecil akibat trauma berulang yang membentuk kerusakan yang cukup besar dan menimbulkan rasa sakit. Gejala CTD muncul pada jenis pekerjaan yang monoton sikap kerja yang tidak alamiah, penggunaan atau pengerahan otot yang melebihi kemampuannya. Penyebab timbulnya trauma pada jaringan tubuh antara lain karena: Over exertion Over stretching Over compressor Ada beberapa faktor resiko untuk terjadinya CTD, yaitu; Terdapat posture atau sikap tubuh yang janggal Gaya yang melebihi kemampuan jaringan Lamanya waktu pada saat melakukan posisi janggal Frekuensi siklus gerakan dengan posture janggal per menit 9. Kesegaran jasmani dan musik Pekerja yang sehat, segar, dan bugar dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. Pengadaan musik di tempat kerja sebaiknya dilakukan untuk jenis pekerjaan yang monoton dan pekerjaan tangan yang berulang serta pekerjaan lain yang memerlukan aktivitas mental. Hal ini dimaksudkan untuk mengurangi kebosanan dan kejenuhan dalam kerja. Pencegahan terhadap gangguan-gangguan kesehatan kerja: a. Subtitusi Yaitu mengganti bahan yang lebih bahaya dengan bahan yang kurag bahaya atau tidak berbahaya sama sekali, misalnya carbon tetraclorida diganti dengan trichlor etilen. Atau ironshot dipergunakan sebagai pengganti pasir pada kegiatan sandbalsting. b. Ventilasi umum Yaitu mengalirkan udara sebanyak menurut perhitungan keadaan ruang kerja, agar kadar dari bahan-bahan yang berbahaya oleh pemasukan udara ini lebih rendah daripada kadar yang membahayakan yaitu kadar Nilai Ambang Batas (NAB). NAB adalah kadar yang padanya atau di bawah dari padanya, apabila pekerja-pekerja meghirupnya 8 jam sehari, 5 hari seminggu, tidak akan menimbulkan kelainan atau penyakit. Ventilasi keluar setempat (local exhausters)

c.

Ialah alat yang biasanya menghisap udara di suatu tempat kerja tertentu, agar bahan-bahan dari tempat tertentu itu yang membahayakan dihisap dan dialirkan keluar. d. Isolasi Yaitu mengisolasi operasi atau proses dalam perusahaan yang membahayakan, misalnya isolasi mesin yang sangat hiruk, agar kegaduhan yang disebabkannya turun dan tidak menjadi gangguan lagi. Atau contoh lain ialah isolasi percampuran bensin dengan tetra etil timah hitam Pakaian pelindung Misalnya, masker, kaca mata, sarung tangan, sepatu, topi, pakaian, dll Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja Yaitu pemeriksaan kesehatan kepada calon pekerja untuk mengetahui, apakah calon tersebut serasi dengan pekerjaan yang akan diberikan kepadanya, baik fisik, maupun mentalnya. Pemeriksaan kesehatan berkala/ulangan Untuk evaluasi, apakah faktor-faktor penyebab itu telah menimbulkan gangguan-gangguan/kelainan-kelainan kepada tubuh pekerja atau tidak. Penerangan sebelum kerja Agar bekerja mengetahui dan mentaati peraturan-peraturan, dan agar mereka lebih berahati-hati. Pendidikan tentang kesehatan dan keselamatan kepada pekerja secara kontinu Agar pekerja-pekerja tetap waspada dalam menjalankan pekerjaannya.

e. f.

g.

h.

i.

Dr. Sumamur P.K., M.Sc, Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja, Jakarta : Gunung Agung 5. Program Program ergonomic meliputi : Penentuan problematic Percobaan untuk pemecahan Pengeterapan hasil percobaan dan pembuktian effektivitas Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung Jakarta 6. Ruang Lingkup Ruang lingkup : teknik pengalaman psikis fisik

- anatomi, berhub dg gerakan dan kekuatan otot dan sendi - antropometri - sosiologi - fisiologis - bio mekanika(gerakan dan sikap badan) Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung Jakarta 7. Penerapan i. posisi kerja terdiri dari posisi duduk dan posisi berdiri ii. proses kerja dapat menjangkau peralatan kerja sesuai dg posisi waktu bekerja sesuai dg ukuran antropometrinya iii. tataletak tempat kerja (display terlihat pd wkt melakukan aktifitas kerja, simbol yg berlaku internasional lebih banyak digunakan drpd kata2) iv. mengangkat beban (ada bermacam2 cara dalam mengangkat beban, yaitu dg kepala, bahu, punggung) Notoatmodjo, Soekidjo, Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip- Prinsip Dasar, 2003 8. Metode memberikan pengarahan dan pelatihan ttg tugas kpd pekerja, sebelum melaksanakan tgs barunya memberikan uraian tgs tertulis yg jelas kpd pekerja atau karyawan melangkapi karyawan atau pekerja dg peralatan yg sesuai / cocok dg ukurannya menciptakan lingkungan kerja yg nyaman dan aman (IKM prinsip prinsip dasar, Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo, Rineka Cipta) Diagnosis, dapat dilakukan melalui wawancara dengan pekerja, inspeksi tempat kerja penilaian fisik pekerja, uji pencahayaan, ergonomik checklist dan pengukuran lingkungan kerja lainnya. Variasinya akan sangat luas mulai dari yang sederhana sampai kompleks. Treatment, pcmecahan masalah ergonomi akan tergantung data dasar pada. saat diagnosis. Kadang sangat sederhana seperti merubah posisi meubel, letak pencahayaan atau jendela yang sesuai, membeli furniture sesuai dengan dimensi fisik pekerja. Follow up, dengan evaluasi yang subyektif atau obyektif, subyektif misalnya dengan menanyakan kenyamanan bagian badan yang sakit, nyeri bahu dan siku, keletihan , sakit kepala dan lain-lain. Secara obyektif misalnya dengan parameter produk yang ditolak, absensi sakit, angka kecelakaan dan lain-lain. (www.digilib.go.id) KECELAKAAN KERJA 1. Definisi Kecelakaan yang ada hubungannya dengan kerja, dalam kecelakaan terjadi karena pekerjaan atau pada waktu melaksanakan pekerjaan.

2. Faktor2 yg mempengaruhi (penyebab) Faktor mekanis dan lingkungan, yang meliputi segala sesuatu selain manusia. Faktor manusia (Sumamur.1986.Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja.Jakarta : Gunung Agung) Perilaku pekerja itu sendiri (faktor manusia), yang tidak memenuhi keselamatan, misalnya: karena kelengahan, kecerobohan, nagantuk, kelelahan, dan sebagainya. Menurut hasil penelitian yang ada, 85% dari kecelakaan yang terjadi disebabkan karena faktor manusia ini. Kondisi-kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman atau "unsafety condition", misalnya: lantai licin, pencahyaan kurang, silau, mesin yang terbuka, dan sebagainya. (Prof.dr.Soekidjo Notoatmodjo.2007.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:Rineka Cipta) Ada 4 faktor : Alat dan bahan yang tidak aman Penggunaan alat yg kurang aman atau rusak dan penggunaan bahan kimia berbahaya. Keadaan tidak aman Ruang kerja terkontaminasi, suhu terlalu tinggi, gudang penyimpanan tidak teratur dsb. Tingkah laku pekerja, apabila : Lalai atau ceroboh dalam bekerja Meremehkan kemungkinan setiap bahaya Tidak melaksanakan prosedur kerja sesuai dengan standar kerja yang diberikan. Tidak disiplin dalam menaati peraturan keselamatan kerja, termasuk pemakaian alat pelindung diri. Pengawasan, apabila : Memberikan prosedur yang tidak benar atau bahaya Kurang mengetahui atau tidak dapat mengantisipasi akan kemungkinan adanya bahaya Terlalu lemah dalam menegakkan disiplin kerja bagi para pekerja untuk menaati peraturan keselamatan kerja (A.M.Sugeng Budioro.2005.Bunga Rampai, Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi).Semarang : Undip) 3. Pencegahan Peraturan perundang-undangan Standarisasi Pengawasan Pendidikan untuk tenaker Motivasi dari pekerja untuk bekerja dengan selamat Keselamatan Kerja dan pencegahan kecelakaan, Sumamur

v. syarat2 lingkungan kerja yg baik, meliputi : ventilasi, penerangan cahaya, sanitasi dan suhu udara vi. pemeliharaan rumah tangga perusahaan , meliputi : penimbunan, pengaturan mesin, bejana2, dll. vii. Gedung harus memiliki alat pemadam kebakaran, pintu keluar darurat, lubang ventilasi, dan lantai yg baik. viii. Perencanaan yg baik terlihat dr pengaturan operasi, pengaturan tempat mesin, proses yg selamat, cukup alat2, dan cukup pedoman2 pelaksanaan dan aturan2. mesin2 , alat2 dan perkakas kerja harus memenuhi perencanaan yg baik, cukup dilengkapi alat2 pelindung. ix. Perencanaan yg baik terlihat dr baiknya garding pd bagian2 mesin atau perkakas2 yg bergerak, al : berputar. x. Perawatan mesin2 dan perkakas2 kerja harus diperhatikan xi. Adanya aturan2 kerja yg lengkap, jelas dan dipaksakan agar pekerja melaksanakannya dg sungguh2. xii. Disiplin yg kurang diatasi dg peringatan2 pekerja yg melanggar peraturan. xiii. Pemeriksaan kesehatan sebelum dan pd waktu2 kerja xiv. Mengadakan latihan2 kerja (Sumamur, HIGIENE PERUSAHAAN DAN KESEHATAN KERJA, 1994) 4. Macam2 a. Klasifikasi menurut jenis kecelakaan : Terjatuh Tertimpa benda Tertumbuk atau terkena benda2 Terjepit oleh benda Gerakan2 melebihi kemampuan Pengaruh suhu tinggi Terkena arus listrik Kontak bahan2 berbahaya atau radiasi b. Klasifikasi menurut penyebab : Mesin, misalnya mesin pembangkit tenaga listrik, mesin penggergaji kayu,dsb Alat angkut, alat angkut darat, udara, dan alat angkut air Peralatan lain, misalnya : dapur pembakar dan pemanas, instalasi pendingin, alat2 listrik, dsb Bahan2, zat2, dan radiasi misalnya bahan peledak, gas, zat2 kimia,dsb Lingkungan kerja (diluar bangunan, di dalam bangunan dan di bawah tanah) Penyebab lain yg belum masuk tsb diatas c. Klasifikasi menurut sifat luka atau kelainan : Patah tulang Dislokasi (keseleo) Regang otot (urat)

Memar dan luka dalam yg lain Amputasi Luka di permukaan Gegar dan remuk Luka bakar Keracunan2 mendadak Pengaruh radiasi, dll d. Klasifikasi menurut letak kelainan atau luka di tubuh : Kepala Leher Badan Anggota atas Anggota bawah Banyak tempat Letak lain yg tdk termasuk dlm klasifikasi tsb (Prof.dr.Soekidjo Notoatmodjo.2007.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:Rineka Cipta) KESELAMATAN KERJA 1. Batasan Ilmu dan penerapan teknologi untuk meningkatkan keselamatan yang berkaitan dengan alat kerja, bahan kerja, proses kerja, tempat kerja dan lingkungna kerja. Keselamatan yang berkaitan dengan hubungan tenaga kerja dengan pesawat, mesin, alat kerja, bahan dan proses pengelolaannya, landasan tempat kerja, lingkungan kerja, dan cara-cara melakukan pekerjaan tersebut. 2. Tujuan Melindungi hak keselamatan tenaga kerja dalam/selama melakukan pekerjaan untuk kesejahteraan hidup serta peningkatan produksi dan produktivitas nasional Menjamin keselamatan setiap orang lain yang berada di tempat kerja Memelihara sumber produksi serta menggunakan dengan amat dan berdayaguna (efisien) (Dr.Dainur.1995.Materi-materi Pokok Ilmu Kesehatan Masyarakat)

3. Syarat-syarat a. Mencegah dan mengurangi kecelakaan b. Mencegah, mengurangi, dan memadamkan kebakaran c. Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan, dll. d. Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian2 lain yang berbahaya e. Memberi pertolongan pada kecelakaan f. Memberi alat2 perlindungan diri pada para pekerja

g. Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebar luasnya suhu , kelembaban , debu , kotoran , asap , uap , gas , hembusan angin , cuaca , sinar atau radiasi , suara dan getaran h. Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik physik maupun psycis, peracunan , infeksi dan penularan i. Memperoleh penerangan yang cukup dan sesuai j. Menyelenggarakan suhu dan lembab udara yang baik k. Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup l. Memeliharan kebersihan , kesehatan dan ketertiban m. Memperoleh keserasian antara tenaga kerja , alat kerja , lingkungan cara dan proses kerjanya n. Mengamankan dan memelihara segala jenis bangunan o. Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar-muat , perlakuan dan penyimpanan barang p. Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya q. Menyesuaikan dan menyempurnakan pengamatan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaannya menjadi bertambah tinggi Sumber : Kesehatan Kerja di Perusahaan oleh dr.R.Darmanto Djojodibroto,SpP 4. Faktor yg mempengaruhi Pekerja itu sendiri (faktor manusia), yang tidak memenuhi keselamatan, misalnya: karena kelengahan, kecerobohan, nagantuk, kelelahan, dan sebagainya. Menurut hasil penelitian yang ada, 85% dari kecelakaan yang terjadi disebabkan karena faktor manusia ini. Dapat diuraikan sbb : Ciri psikologis, fisik kelainan faal perseorangan Faktor rasa/emosi Faktor situasi pekerjaan Keserasian tenaga kerja terhadap proses pekerjaan Sikap dan tingkah laku pekerja, misal: lalai, menganggap remeh, enggan memakai alat perlindungan diri Kondisi-kondisi lingkungan pekerjaan yang tidak aman atau "unsafety condition", meliputi ; Bahan-bahan berbahaya Alat/bangunan yang kurang memenuhi syarat Aspek tekhnik atau proses Kurangnya pengawasan (Prof.dr.Soekidjo Notoatmodjo.2007.Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta:Rineka Cipta) 5. Sasaran Sasaran-sasaran utama keselamatan kerja adalah tempat kerja, yang padanya : Dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau peledakan.

Dibuat, diolah, dipakai, dipergunakan, diperdagangkan, diangkut atau disimpan bahan atau barang yang dapat meledak, mudah terbakar, menggigit, beracun, menimbulkan infeksi, bersuhu tinggi. Dikerjakan pembangunan, perbaikan, perawatan, pembersihan atau pembongkaran rumah, gedung atau bangunan lainnya termasuk bangunan pengairan, saluran atau terowongan di bawah tanah dan sebagainya atau dilakukan pekerjaan persiapan. Dilakukan usaha pertanian, perkebunan, pembukaan hutan, pengerjaan hutan, pengolahan kayu atau hasil hutan lainnya, peternakan, perikanan dan lapangan kesehatan. Dilakukan usaha pertambangan dan pengolahan emas, perak, logam atau bijih logam lainnya, batu-batuan, gas, minyak atau mineral lainnya, baik di permukaan atau di dalam bumi, maupun di dasar perairan. Dilakukan pengangkutan barang, binatang atau manusia, baik di daratan melalui terowongan, dipermukaan air, dalam air maupun udara. Dikerjakan bongkar muat barang muatan di kapal, perahu, dermaga, dok, stasiun atau gudang. Dilakukan penyelaman, pengambilan benda dan pekerjaan lain di dalam air. Dilakukan pekerjaan di bawah tekanan udara atau suhu yang tinggi atau rendah. Dilakukan pekerjaaan yang mengandung bahaya tertimbun tanah, kejatuhan, terkena pelantingan benda, terjatuh atau terperosok, hanyut atau terpelanting. Dilakukan pekerjaan dalam tangki, sumur, atau lobang. Terdapat atau menyebar suhu, kelembaban, debu, kotoran, api, asap, uap, gas, hembusan angin, cuaca, sinar atau radiasi, suara atau getaran. Dilakukan pembuangan atau pemusnahan sampah atau limbah. Dilakukan pendidikan atau pembinaan, percobaan, penyelidikan atau riset yang menggunakan alat teknis. Dibangkitkan, diubah, dikumpulkan, disimpan, dibagi-bagikan atau disalurkan listrik, gas, minyak atau air. Dilakukan pekerjan-pekerjaan yang lain yang berbahaya. (Sumamur.1986.Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja.Jakarta : Gunung Agung) 6. Faktor manusia dalam kerja ergonomi peraturan ttg bagaimana melakukan kerja, termasuk menggunakan peralatan kerja. Tujuan utama ergonomi adalah mencegah kecelakaan kerja, dan mencegah ketidak efisienan kerja ( meningkatkan produksi kerja). Disamping itu ergonomi jg dpt mengurangi beban kerja, krn apabila peralatan kerja tdk sesuai dg kondisi dan ukuran tubuh pekerja akan menjadi beban tambahan kerja. psikologi kerja pekerjaan apapun akan menimbulkan reaksi psikologis bg yg melakukan pekerjaan itu. Reaksi ini dapat besifat positif misalnya senang, bergairah, dan merasa sejahtera, atau

reaksi yg bersifat nagatif. Misalnya : bosan, acuh, tdk serius, dsb. Seorang pekerja / karyawan yg bersikap bosan, acuh, dan tak bergairah melakukan pekerjaan ini banyak faktor yg menyebabkannya, antara lain: tdk cocok dg pekerjaan itu, tdk tahu bagaimana melakukan pekerjaan yg baik, kurangnya insentif, lingkungan kerja yg tdk menyenangkan, dll. Salah satu faktor mangapa karyawan / pekerja melakukan pekerjaannya dg sikap negatif adalah karena tdk mengetahui bagaimana melakukan pekerjaannya sec baik dan efisien. Kurangnya perhatian terhadap cara kerja ini oleh pimpinan perusahaan dapat menimbulkan kebosanan, akibat kebosanan bagi pekerja mereka akan mencari variasi kerja lain yg tdk dikuasai ( utk menghindari monoton ini), dan ini dapat berakibat kecelakaan kerja. Oleh sebab itu, kebosanan dan kemonotonan kerja erat kaitannya dg kecelakaan kerja. Aspek lain dari psikologi kerja ini yg sering menjadi masalah kesehtan kerja adalah stres. Untuk dapat mengelola stres, pertama sekali yg perlu dilakukan adalah mengidentifikasi sumber atau penyebab stres atau stressor. Faktor2 yg sering menjadi penyebab stres dilingkungn kerja dapat dikelompokkan mjd 2 : faktor internal dari dlm pekerja itu sendiri, misalnya : kurangnya percaya diri dalam melakukan pekerjaan, kurangnya kemampuan / ketrampilan dlm melakukan pekerjaan. - Faktor eksternal faktor lingkungan kerja. Lingkungan kerja ini mencakup lingkungan fisik dan lingkungan sosial (masyarakat kerja). Lingkungan fisik yg sering menimbulkan stres kerja al : tempat kerja yg tdk hiegenis, kebisingan yg tinggi. Lingkungan manusia (sosial) yg sering menimbulkan stres adalah pemimpin yg otoriter, persaingan kerja yg tdk sehat, adanya klik2 di lingkungan kerja. (IKM prinsip prinsip dasar, Prof. Dr. Soekidjo Notoatmojo, Rineka Cipta) 7. Upaya hukum Materi keselamatan kerja juga diatur dalam UU No.1 Tahun 1970 yang ruang lingkupnya berhubungan dengan mesin, landasan tempat kerja dan lingkungan kerja, serta cara mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit akibat kerja, memberikan perlindungan kepada sumber-sumber produksi sehingga dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas. (A.M.Sugeng Budioro.2005.Bunga Rampai, Hiperkes & KK, Edisi Kedua (Revisi).Semarang : Undip) PENYAKIT AKIBAT KERJA 1. Faktor2 penyebab 1. Golongan fisik Suara pekak atau tuli Radiasi sinar Ro atau sinar radioaktif penyakit susunan darah, penyakit kulit Suhu heat stoke, heat cramps, hyperpyrexia, frostbite Tekanan tinggi caisson disease

Penerangan lampu yang kurang caisson disease 2. Golongan kimia Debu pneumokoniosis Uap metal fume fever, dermatitis, keracunan Gas keracunan oleh CO, H2S, dll Larutan dermatitis Awan atau kabut misalnya racun serangga, racun jamur, dll keracunan

3. Golongan infeksi oleh bibit penyakit (misal anthrax & brucella pada pekerja penyamak kulit) 4. Golongan fisiologis Disebabkan oleh kesalahan konstruksi mesin, sikap badan kurang baik, salah cara melakukan pekerjaan, dll yang kesemuanya menimbulkan kelelahan fisik bahkan lambat laun perubahan fisik tubuh pekerja. 5. Golongan mental-psikologis Misal hubungan kerja yang tidak baik, keadaan monoton. (Sumamur.1986.Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja.Jakarta : Gunung Agung) 2. Jenis2 penyakit yg sering terjadi 1. SILICOSIS Silicosis adalh penyakit yang paling penting dari golongan pneumokoniasis. Penyebabnya adalah silica hebas (SiO2) yang terdapat pada debu yang dihirup waktu bernafas dan ditimbun dalam paru-paru. Tidaklah boleh dilupakan, bahwa silica bebas berlainan dengan garam-garam silicat yang tidak rnenyebabkan silicosis. Penyakit ini biasanya terdpat pada pekerja-pekerja di perusahaan yang menghasilkan batu-batu untuk bangunan, di perusahaan granit, di perusahaan keramik, di tambang timah putih, di tambang besi, di tambang batu bara, di perusahaan tempat menggerinda besi, di pabrik besi dan baja, dalam proses sandblasting, dan lain-lain. Singkatnya, penyakit tersebut selalu mungkin terdapat pada pekerja yang menghirup debu dengan silica bebas di dalamnya. Masa inkubasi silicosis adalah 2-4 tahun. Sebagaimana umumnya berlaku untuk penyakit-penyakit, masa inkubasi ini sangat tergantung dari banyaknya debu dan kadar silica bebas di dalam debu tesebut. Makin banyak silica bebas yang dihirup ke dalam paru-paru, makin pendek masa inkubasi penyakit silicosis. Silicosis digolongkan menurut tingkat sakit penyakit tersebut, yaitu tingkat pertama, kedua, dan ketiga, atau masing-masing disebut pula tingkat ringan, sedang, dan berat. a. Tingkat pertama atau silicosis ringan Ditandai dengan sesak nafas (dyspnea) ketika bekerja, mula-mula ringan. kemudian bertambah berat. Sepanjang tingkat sakit demikian, dyspnea merupakan tanda terpenting. Batuk-batuk mungkin sudah terdapat pada fase pertama ini, tetapi biasanya kering, tidak berdahak. Keadaan umum penderita masih baik. Gejala-

gejala klinis paru-paru sangat sedikit. Pengembangan paru-paru sedikit terganggu, atau t.idak sama sekali. Suara pernafasan dlam batas normal. Biasanya gangguan kemampuan bekerja sedikit sekali atau tidak ada. Mungkin pada pekerja berusia lanjut didapati hyperesonansi oleh karena emphysema. Gambaran rontgen menunjukkan bayangan noduli yang terpisah, bundar dan paling besar diameternya 2 mm. Noduli mungkin terlihat pada sebagian lapangan paru-paru atau pada seluruhnya, tapi yang penting adalah terpisahnya noduli satu dengan yang lainnya. Kadang-kadang noduli tertutup oleh bayangan gelap yang mengesankan adanya emphysema. b. Tingkat kedua atau silicosis sedang Sesak dan batuk menjadi sangat kentara. Tanda-tanda kelainan paru-paru pada pemeriksaan klinis juga tampak. Dada kurang berkembang. Suara nafas tidak jarang bronchial. Ronchi terutama terdapat di basis paru. Selalu ditemui gangguan kemampuan untuk bekerja. Gambaran rontgen menunjukan bahwa pada seluruh lapangan paru-paru terlihat noduli, dan terdapat penyatuan dari beberapa noduli membentuk bayangan yang lebih besar. Tingkat ketiga atau silicosis berat Sesak mengakibatkan keadaan cacat total. Dapat terlihat hypertrofi jantung kanan, dan kemudian tanda-tanda kegagalan jantung kanan. Gambaran paru-paru memperlihatkan daerah-daerah dengan konsolidasi massif. Sampai kini belumlah jelas bagaimana mekanisme silica bebas menimbulkan silicosis. Terdapat ernpat buah teori tentang mekanisme tersebut yaitu: 1) Teori mekanis, yang menganggap permukaan runcing debu-debu merangsang terjadinya penyakit. 2) Teori elektromagnetis, yang menduga bahwa gelombang-gelombang elektromagnetislah penyebab silicosis dalam paru-paru 3) Teori silikat, yang menjelaskan bahwa SiO2 bereaksi dengan air dan jaringan paru-paru, sehingga terbentuk silikat yang menyebabkan kelainan paru-paru. 4) Teori immunologis, yaitu tubuh mengadakan zat anti yang bereaksi di paruparu dengan antigen berasal dari debu. Pencegahan silicosis dapat dilakukan dengan cara: a. Substitusi misalnya mengganti kieslguhr dengan batu kapur untuk pendinginan lambat penghancuran logam, dan zircoicum sebagai pengganti tepung silica dalam pabrik penuangan besi atau baja. Untuk gurinda digunakan carborundum, emery, atau alumina, bukan lagi dari bahan silica. Demikian pula sandblasting, yaitu proses meratakan permukaan logam dengan debu pasir yang disemprotkan dengan tekanan tinggi, pasir diganti dengan bubuk alumina. b. Penurunan kadar debu di udara tempat kerja c. Perlindungan diri pada pekerja, antara lain berupa tutup hidung, yang paling sederhana terbuat dari kain kasa.

c.

d. Ventilasi umum, dengan mengalirkan udara ke ruang kerja melalui pintu dan jendela, tapi cara ini biasanya mahal harganya. e. Ventilasi lokal, yang disebut pompa ke luar setempat, biayanya lebih murah f. Pompa keluar setempat dimaksudkan untuk menghisap debu dari tempat sumber debu dihasilkan, dan mengurangi sedapat mungkin debu di daerah kerja. Di samping usaha-usaha seperti tersebut di atas, pemeriksaan kesehatan sebelum kerja dan berkala adalah penting, Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja berguna misalnya untuk tidak menerima penderita-penderita sakit paru, dan untuk tidak menempatkan seorang calon pekerja yang pernah sakit demikian di tempat kerja yang banyak debu. Terutama penyakit-penyakit seperti TBC paru, bronchitis kronik, asthma bronchiale, dan lain-lain merupakan alasan kuat menolak para calon untuk bekerja yang menghadapi silica bebas. Pemeriksaan berkala dimaksudkan untuk menemukan penderita-penderita silicosis sedini mungkin; yang kemudian dapat segera dipindahkan pekerjaan agar cacat dapat dicegah. 2. ANTHRACOSIS Anthracosis adalah pneumokosis oleh karena debu-debu arang batu. Masa inkubasi penyakit ini adalah 2-4 tahun. Anthracosis terlihat dalam tiga gambaran klinis, yaitu anthracosis murni, silicoanthracosis dan tuberculosilicoanthracosis. Anthracosis murni biasanya lambat menjadi berat dan tidak begitu berbahaya, kecuali jika terjadi emphysema yang rnungkin menyebabkan kematian. Pada silicoanthracosis jarang terjadi mphysema. Pada tuberculosilicanthracosis, selain terdapat ke!ainan paru-paru oleh debu yang mengandung silica dan arang batu juga oleh basil-basil tubeculosa yang menyerang paru-paru. Dalam hal ini gambaran klinis tidaklah begitu berbeda dengan silicosis murni. Riwayat penyakit secara klinis dari anthracosis mungkin bertahun-tahun. Kadang-kadang penderita tidak memperlihatkan gejala, walaupun rontgen paru nenunjukkan kelainan-kelainan. Untuk waktu yang lama gejala yang menonjol hanyalah sesak nafas. Sering kali penderita batuk dengan dahak kehitaman, gejala tersebut disebut melanoptysis, yang terjadi bertahun-tahun. Dada penderita menjadi bundar dan ujung-ujung jarinya membesar (clubbing fingers). Perkusi hyperresonant terdapat di dasar paru, sedangkan pada auskultasi adalah lemah. Krepitasi terdengar, apabila penderita dihinggapi bronchitis juga. Pemeriksaan laju endapan darah secara berkala memperlihatkan hasil-hasil trus meninggi. Gambaran klinis berakhir dengan kegagalan jantung kanan atau silicotuberculosis yang menyebabkan kematian. Cara-cara pencegahan anthracosis dan komplikasi-komplikasinya adalah sebagai berikut : a. Ventilasi penting untuk mengurangi kadar debu di udara. b. Pemotongan (cutting) arang batu dilakukan secara basah dengan jalan menyemprotkan air ke rantai alat pemotong pada tempat-tempat rantai bersentuhan dengan permukaan. c. Pengeboran basah dengan aliran air bertekanan tinggi ke tempat-tempat mengebor, pengeboran kering harus dilarang.

d. Membasahi permukaan arang batu dengan air. e. Memercikkan air ke arang batu yang diangkat, dimuat dan diangkut. f. Masker debu untuk dipakai pada waktu memasuki tambang sesudah peledakan. Perlu diingatkan, bahwa umumnya masker-masker ini terbatas umurnya sesuai dengan effisiensi masker tersebut. g. Pengukuran kadar debu arang batu di udara tempat kerja h. Perneriksaan paru-paru berkala untuk diagnosa sedini mungkin. 3. ASBESITOSIS Asbesitosis adalah salah satu jenis pneumokoniasis yang penyebabnya adalah asbes. Asbes adalah campuran berbagai silikat, tapi yang terpenting adalah magnesium silikat. Pekerjaan-pekerjaan dengan bahaya penyakit tersebut adalah bahan asbes, penenunan dn pemintalan asbes, reparasi tekstil yang terbuat dari asbes dan lain-lain. penggunaan asbes untuk keperluan pembangunan. Kelainan dalam paru-paru tidak berbentuk noduli yang terpisah satu dengan yang lainnya, melainkan kelainan fibrous yang diffuse dan disertai penebalan pleura dan juga emphysema. Debu asbes yang dihirup masuk dalam paru-paru mengalami perubahan menjadi badan-badan asbestos oleh pengendapan-pengendapan fibrin di sekitar serat-serat asbes tersebut, badan-badan ini pada pemeriksaan mikrskopis berupa batang dengan panjang sampai 200 mikrn. Gejala-gejala asbesitosis adalah sesak nafas, batuk, dan banyak mengeluarkan dahak. Tanda-tanda fisis adalah cyanosis, pelebaran ujung-ujung jari, dan krepitasi halus di dasar paru pada auskultasi. Ludah mengandung badan-badan asbestos yang Baru mempunyai arti untuk diagnosa apabila terdapat dalam kelompokkelornpok. Kelainan radiologis lambat terlihat, sedangkan gejala-gejala telah lebih dahulu tampak. Gambaran rontgen pada permulaan sakit menunjukkan gambaran ground glass appearance atau dengan titik-titik halus di basis paru, sedangkan batasbatas jantung dan diafragma tidaklah jelas. Cara pencegahan asbesitosis antara lain dengan usaha-usaha : Menurunkan kadar debu di udara. Pada pertambangan asbes, pengeboran harus secara basah. Di perindustrian tekstil dengan menggunakan asbes, harus diadakan ventilasi setempat atau pompa keluar setempat. d. Di saat mesin karding dibersihkan, pekerja-pekerja yang tidak bertugas tidak boleh berada di tempat tersebut, sedangkan petugas memakai alat-alat perlindungan diri secukupnya. e. Jika seorang pekerja harus memasuki ruang yang penuh oleh debu asbes, ia harus memakai alat pernafasan yang memungkinkannya bernafas udara segar. f. Sebaiknya pembersihan mesin karding dilakukan secara penghisapan hampa udara. g. pendidikan tentang kesehatan dan penerangan tentang bahaya penyakit kepada pekerja. 4. BYSSINOSIS Byssinosis adalah pneumokniosis yang penyebabnya terutama oleh debu kapas kepada pekerja-pekerja dalam industri tekstil. Penyakit itu terutama erat dengan a. b. c.

pekerjaan kirding dan blowing, tapi terdapat pula pada pekerjaan-pekerjaan lainya, bahkan dari prmulaan proses, yaitu pembuangan biji kapas, sampai pada proses terakhir yaitu penenunan, Masa inkubasi rata-rata terpendek adalah 5 tahun, yaitu bagi para pekerja pada karding dan blowing. Bagi para pekerja lainya mas inkubasi ini lebih dari 5 tahun. 5. BERRYLIOSIS Berryliosis adalah pneumokoniosis yang penyebabnya adalah debu berrylium. Menghirup udara yang mengandung berrylium berupa logam oksida fluorida menyebabkan bronchitis dan pneumonitis. Apabila yang dihirup itu adalah debu silikat dari seng brrytium, dan mangan, pada banyak peristiwa terjadi pneumonitis terlambat atau kemudian, yang dikenal sebagai berryliosis chronica. Gejala-gejalanya adalah berat badan menurun sangat cepat dan disertai keluhan sesak nafas. Batuk dan banyak dahak bukan rnerupakan gejala terpenting pada riwayat penyakit berryliosis. Pernriksaan klinik biasanya tidak menunjukkan kelainan-kelainan yang luar biasa, tetapi mungkin terdengar suara-suara tambahan pada auskultasi. Pada keadaan sakit dini gambaran rontgen memperlihatkan bayangan kabur, tapi kemudian retikuler, dan akhirnya nodul yang terpisah-pisah serta tersebar. STANNOSIS Stannosis adalah pneumokoniosis yang tidak begitu berbahaya, yang penyebabnya adalab debu biji timah putih. Penyakit ini terdapat pada pekerja yang berhubungan dengan pengolahan biji timah atau industri-industri yang menggunakan timah putih. Pada stannosis biasanya tidak terdapat fibrosis yang massif tidak ada tanda-tanda cacat paru-paru, dan jarang terjadi komplikasi. Pada keadaan sakit tingkat permulaan, gambaran rontgen paru-paru menunjukkan penambahan corakan dan penyebaran hilus. Kemudian nampak noduli di daerah antar iga ketiga, rnula-mula di paru kanan, lalu di paru kiri. Lebih lanjut, penambahan corakan hilang, sedangkan noduli semakin jelas dan opak. SIDEROSIS Debu yang mengandung prsenyawaan besi dapat menyebabkan siderosis. Penyakit ini tidak begitu berbahaya dan tidak progresif. Sidarosis terdapat pada pekerja-pekerja yang menghirup debu dan pengolahan bijih besi. Biasanya pada siderosis murni tidak terjadi fibrosis atau emphysema, sehingga tidak ada pula cacat paru. TALKOSIS Talkosis adalah pneurnokoniasis yang disebabkan oleh debu talk yang masuk ke dalam paru-paru. Biasanya talk merupakan campuran mineral-mineral, jadi bukan hanya Mgsilikat saja. Menghirup talk bisa menyebabkan fibrosis peribronchial dan perivaskuler. Gambaran rontgen paru menunjukkan bulla emphysema dan fibrosis.

6.

7.

8.

Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung Jakarta 3. Pencegahan

Upaya pengendalian terhadap penyakit akibat kerja: Substitusi : yakni mengganti bahan berbahaya dengan bahan yang kurang atau tidak berbahaya sama sekali, tanpa mengurangi hasil pekerjaan maupun mutunya. Isolasi, yakni memisahkan proses yg berbahaya dari pekerja atau unit lainnya. Misalnya menyendirikan mesin-mesin yg sangat gemuruh, atau proses2 yg menghasilkan gas atau uap yang berbahaya. Ventilasi umum yang dilakukan dengan mengalirkan udara kedalam ruang kerja agar kadar bahan yang berbahaya berkurang. Metode basah untuk mengurangi tersebarnya debu dalam proses produksi Ventilasi keluar setempat dengan menggunakan alat penghisap agar bahan yg berbahaya dapat dialirkan keluar Perawatan rumah tangga yg baik, meliputi kebersihan, pembuangan sampah, pencucian dan pengaturan tempat kerja yg aman. Terhadap pekerja perlu dilaksanakan : Pemeriksaan kesehatan sebelum kerja Pemeriksaan kesehatan berkala dan khusus untuk mengetahui apakah pekerjaan yang dilakukan telah menimbulkan gangguan, kelainan pada pekerja atau tidak. Penggunaan alat pelindung diri. Penyuluhan sebelum kerja agar diketahui bahaya dan cara kerja yang benar dan aman. Pelatihan keselamatan dan kesehatan kerja, dll. Pengawasan dan pemantauan lingkungan kerja yang dilakukan secara teratur dan terusmenerus. (Sumamur.1986.Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja.Jakarta : Gunung Agung) TOKSIKOLOGI 1. Faktor 2 yang menyebabkan toksikologi a. Sifat fisik Meliputi : gas, uap,debu, fume, asap, misalnya kabut atau fog. Timah hitam dalam bentuk fume lebih beracun daripada bentuk debunya. Larutan yang bertekanan uap tinggi misalnya benzena lebih toksik dibandingkan larutan yang tekanan uapnya rendah. Contoh : Toluene b. Sifat Kimia Jenis senyawa, besar molekul, konsentrasi dan daya larut. Sebagai contoh gas yang larut dalam air ( amonia dan sulfur dioksida ) bila terhirup meskipun kadarnya rendah akan mengiritasi saluran nafas atas.Sedang gas yang tidak mudah larut dalam air ( Nitrogen Dioksida, Ozon, Fosgen) dapat mecapai saluran nafas yang lebih dalam.

c. Port d entre ( Cara masuk di dalam tubuh ) Zat kimia masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernafasan ( perinhalasi )saluran cerna ( per oral )dan kulit ( per dermal ). Inhalasi merupakan cara masuk yang paling sering dalam industri. d. Faktor individu Usia ,jenis kelamin, ras ,status gizi, kesehatan ,faktor genetik dan kebiasaan lain misalnya merokok ,minum-minuman keras, toleransi dan sebagainya Hiperkes dan KK, UNDIP SEMARANG 2. Nilai ambang batas dan kadar tertinggi dari racun : Nilai Ambang Batas (NAB) : kadar yg pekerja sanggup menghadapinya dengan tidak menunjukkan penyakit atau kelainan dalam pekerjaan mereka sehari-hari untuk waktu 8 jam sehari dan 40 jam seminggunya. Kadar Tertinggi Diperkenankan : nilai tertinggi dari kadar sesuatu zat yg pekerja tidak menderita penyakit atau gangguan kesehatan oleh karenanya (lebih menekankan pada efek akut dari pada efek kumulatif atau menahun. (Higiene Perusahaan dan Kesehatan Kerja .....Dr. Sumamur) Nilai Ambang Batas (NAB) Faktor Fisika di tempat kerja, yang terdiri dari NAB iklim kerja dan kebisingan. NAB ini di tetapkan berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Nomor SE-01/MEN/ 1978. Selanjutnya NAB faktor fisika tahun 1978 ditinjau kembali untuk disempurnakan menjadi Nilai Ambang Batas Faktor Fisika yang terdiri dari Nilai Ambang Batas, * * * * * Iklim Kerja, Intensitas kebisingan, Intensitas getaran, Radiasi Gelombang mikro (microwave) Radiasi sinar ultra violet.

Nilai Ambang Batas faktor fisika ini ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Tenaga Kerja Nomor Kep.51/MEN/1999. 2. Nilai Ambang Batas (NAB) Faktor Kimia, yang pertama ditetapkan berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor SE-02/MEN/1978.

Ditinjau kembali dan disempurnakan pada tahun 1997, dan ditetapkan berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja Nomor-01/MEN/1997. 3. Standar jumlah kalori yang dibutuhkan oleh tenaga kerja untuk melakukan suatu jenis pekerjaan (belum ditetapkan secara hukum). Standar ukuran sarana kerja yang dianjurkan untuk tenaga kerja Indonesia (ditetapkan berdasrkan lokakarya Ergonomi).

4.

http://www.nakertrans.go.id/pedoman/standar_hiperkes.php 3. Kegunaan nilai ambang batas : Sebagai kadar standar untuk perbandingan Pedoman untuk perencanaan dan design pengendalian peralatan Substitusi bahan-bahan yg lebih dengan yg kurang beracun Membantu menetukan gangguan2 ksehatan atau penyakit akibat faktor kimiawi. Pneumoconiosis 1. Klasifikasi a. Silicosis disebabkan oleh SiO2 bebas. Silikosis adalah penyakit yang paling penting dari golongan penyakitPneumokonioses.Penyebabnya adalah silika bebas (SiO2) yang terdapat dalam debu yang dihirup waktu bernafas dan ditimbun dalam paru paru dengan masa inkubasi 2-4 tahun.Pekerja yang sering terkena penyakit ini umumnya yang bekerja di perusahaan yang menghasilkan batu-batu untuk bangunan seperti granit, keramik,tambang timah putih, tambang besi, tambang batu bara, dan lain lain.Gejala penyakit ini dapat dibedakan pada tingkat ringan sedang dan berat.Pada tingkat Ringan ditandai dengan batuk kering, pengembangan paru-paru. Pada lansia didapat hyper resonansi karena emphysema.Pada tingkat sedang terjadi sesak nafas tidak jarang bronchial,ronchi terdapat basis paru paru. Pada tingkat berat terjadi sesak napas mengakibatkan cacat total,hypertofi jantung kanan, kegagalan jantung kanan b. Asbestosis disebabkan oleh debu asbes. Asbestosis adalah jenis pneumokosikosis yang disebabkan oleh debu asbes dengan masa latennya 10-20 tahun. Asbes adalah campuran berbagai silikat yang terp[enting adalah campuran magnesium silikat pekrja yang umumnya terkenan penyakit ini adalah pengelola asbes, penenunan,pemintalan asbes dan reparasi tekstil yang terbuat dari asbes. Gejala yang timbul berupa sesak nafas,batuk berdahak/riak terdengan rhonchi di basis paru, cyanosis terlihat bibir biru. Gambar radiologi menunjukan

adanya titik titik halus yang disebut Iground glass appearance, batas jantung dengan diafragma tidak jelas seperti ada duri duri landak sekitar jantung (Percupine hearth) c. Berryliosis disebabkan oleh debu Be. d. Siderosis disebabkan oleh debu mengandung Fe2O3. e. Stannosis disebabkan oleh debu bijih timah putih (SnO2). f. Byssinosis disebabkan oleh debu kapas. g. Anthrakosilikosis Anthrakosilikosis ialah pneumokomiosis yang disebabkan oleh silika bebas bersama debu arang batu. Penyakit ini mungkin ditemukan pada tambang batu bara atau karyawan industri yang menggunakan bahan batu bara jenis lain. Gejala penyakit ini berupa sesak nafas, bronchitis chronis batuk dengan dahak hitam (Melanophtys (Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung. Jakarta. Hal 126) 2. Gejala Gejala-gejalanya antara lain batuk-batuk kering, sesak nafas, kelelahan umum, berat badan menurun, banyak dahak, dan lain-lain. Gambaran rontgen paruparu menunjukkan kelainan-kelainan dalam paru-paru baik noduler, ataupun lain-lainnya. Sumamur. 1986. Higiene Perusahaan dan Keselamatan Kerja. Gunung Agung Jakarta 3. Diagnosis Harus ada riwayat pekerjaan yang menghadapi debu berbahaya dan menyebabkan pneumoconioses, misalnya pernah atau sedang bekerja di pertambangan, di pabrik keramik, dll. gejala klinis berbeda-beda tergantung dari derajat banyaknya debu yang ditimbun dalam paru-paru, sudah tentu makin besar bagian paru-paru yang terkena, makin hebatlah gejala-gejalanya, walaupun hal itu tidak selalu benar demikian. Gejala-gejalanya antara lain batuk-batuk kering, sesak nafas, kelelahan umum, susut berat badan, banyak dahak, dll. Gambaran Ro paru-paru menunjukkan kelainan-kelainan dalam paru-paru, baik noduler ataupun lain-lainnya. Pemeriksaan tempat kerja harus menunjukkan adanya debu yang diduga menjadi sebab penyakit pneumoconiosis itu. Bila pemeriksaan akan diteruskan dengan biopsi paru-paru, maka paru-paru harus menunjukkan kadar zat penyebab yang lebih tinggi daripada kadar yang biasa. Diagnosa Pneumoconiosis adalah sukar, sebab sesungguhnya tak seorangpun manusia yang tidak menimbun debu-debu dalam paru-parunya. Lebih-lebih kehidupan di kota atau di tempat kerja yang sangat berdebu itu. Makin tua umur berarti makin banyak pulalah debu ditimbun dalam paru-paru sebagai hasil penghirupan debu sehari-hari. Lebih-lebih pneumoconioses tingkat permulaan sangat sukar dipastikan diagnosisnya.

Sumber : higiene perusahaan dan kesehatan kerja oleh Dr.Sumamur P.K.M.Sc