Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR DAN PERKEMBANGAN TUMBUHAN II STRUKTUR REPRODUKSI PADA BRYOPHYTA

OLEH: NAMA NIM : ERVIN JUMIATIN : 0910913018

LABORATORIUM TAKSONOMI DAN STRUKTUR PERKEMBANGAN TUMBUHAN JURUSAN BIOLOGI FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS BRAWIJAYA 2010

1. LATAR BELAKANG Tumbuhan lumut (Bryophyta) merupakan peralihan dari Thallophyta (tumbuhan yang tidak dapat dibedakan antara akar, batang, daun) dan Cormophyta (tumbuhan yang sudah dapat dibedakan antara akar, batang dan daun). Tumbuhan lumut dapat dibagi menjadi tiga kelas yaitu Hepaticopcida (lumut hati), Anthocerotopsida (lumut tanduk), dan Bryopsida (lumut daun). Hepaticopsida (lumut hati) merupakan tumbuhan bertalus dan berbentuk lembaran berwarna hijau dengan percabangan menggarpu atau terbelah pada ujung distalnya (apical notch). Struktur reproduksi lumut hati secara seksual, terdapat gametangium jantan berupa antheridial head yang didukung oleh anteridiofor. Anteridium sendiri terdapat pada permukaan adaksial (dorsal), sedangkan gametangium betina berupa archegonial head dan didukung oleh tangkai archegoniofor (Uno, 2001). Lumut daun memiliki struktur tubuh lebih lengkap disbanding dengan lumut tanduk. Lumut daun mempunyai rizoid, batang dan daun seperti halnya struktur tubuh tumbuhan berkormus. Lumut daun memiliki struktur reproduksi secara seksual yaitu dengan adanya antheridial head bila dibentuk anteridium, yang terdapat pada bagian distal. Serta archegonial head apabila dibentuk arkegonium. Kedua macam gametongium ini terdapat pada talus yang berbeda (Tjitrosoepomo, 1990). 2. TUJUAN Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan dari praktikum ini adalah untuk melihat dan mengamati struktur reproduksi pada lumut hati (Hepaticeae) dan lumut daun (Musci). 3. ALAT DAN BAHAN Alat dan bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah preparat awetan Marchantia VS cupule, preparat awetan Marchantia vs antheridial head, preparat awetan Marchantia VS archegonial head, preparat awetan Marchantia developing sporogonium mature, mikroskop, preparat awetan Moss VS antheridial head, preparat awetan Moss VS archegonial sporophyte, dan preparat awetan LS sporogonium. 4. CARA KERJA Pada pengamatan struktur reproduksi pada Bryophyta adalah, pertama diamati preparat awetan tersebut dengan mikroskop dengan perbesaran lemah dulu dan dilanjutkan pada perbesaran kuat bila diperlukan. Diperhatikan struktur reproduksi jantan dan betina pada lumut hati tersebut. Ditulis hasil pengamatan pada table pengamatan . dan digambar secara skematis pada kolom yang disediakan.

5. HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Marchantia VS cupule 5.1.1 gambar pengamatan

keterangan gambar: 1. tangkai gemma 2. gemma 3. gemma cup semacam mangkuk 5.1.2 deskripsi pengamatan pada penampang memanjang dari preparat awetan Marchantia VS cupule, dapat diketahui bagian-bagiannya yaitu tangkai gemma, gemma cup yang berbentuk seperti mangkuk. Didalam gemma cup terdapat gemma yang berbentuk oval dengan ujung runcing serta didukung oleh adanya tangkai gemma. deskripsi literature struktur reproduksi secara aseksual pada lumut hati yaitu adanya gemma cup (kupula) yang berbentuk menyerupai mangkuk atau piala dan dengan tepi-tepi yang bergerigi. Pada gemma cup lumut hati ini, terdapat suatu gemma diadalamnya (Tjitrosoepomo, 1990).

5.1.3

5.2 Marchantia VS antheridial head

5.2.1

gambar

Keterangan gambar: 1. Tangkai antheridial head (antheridiofor) 2. Anteridium 3. Antheridial head 5.2.2 deskripsi Berdasarkan pengamatan, pada preparat awetan Marchantia VS antheridial head, nampak bagian-bagiannya antara lain tangkai antheridial head (antheridiofor), antheridium dan antheridial head. Antheridiofor menyerupai suatu tangkai dengan suatu cakaram bertoreh delapan pada ujungnya. Pada pendukung gametangium jantan menyerupai suatu tangkai dengan suatu cakaram bertoreh delapan pada ujungnya. Pada sisi atas cakaram terdapat ruang-ruang berbentuk botol yang bermuara pada permukaan atas dengan sebuah tiang yang kecil. Ruang-ruang tersebut berisi antheridium dan satu sama lain terpisah oleh jaringan yang mengandung ruang-ruang udara (Tjitrosoepomo, 1990). Anteridum lumut hati terbentuk pada saat salah satu sel pada permukaan membelah menjadi beberapa segmen dengan perantaraan sekat-sekat melintang. Masing-masing segmen membelah lagi menjadi empat sel oleh sekat-sekat yang tegak lurus pada sekat-sekat yang dibuat pertama (Tjitrosoepomo, 1990).

5.3 marchantia VS archegonial head

5.3.1

gambar pengamatan

Keterangan gambar: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. archegoniofor (tangkai archegonial head) archegonial head archegonium stalk venter neck cell egg

Deskripsi Berdasarkan pengamatan, pada Marchantia VS archegonial head, memiliki bagian-bagian antara lain archegoniofor atau tangkai dari archegonial head, archegonial head, archegonium. Sedangkan pada pengamatan archegonium, nampak bagian-bagiannya yaitu stalk, venter neck cell dan egg. Pendukung gametangium betina pada Marchantia berakhir dengan suatu badan yang berbentuk bintang. Letak pendukung arkegonium berderetan menurut arah jari-jari. Ukuran arkegonium sangat kecil. Pada proses pembentukan arkegonium, dimulai dengan sel pada permukaan yang membelah menjadi dua. Sel pada bagian bawah akan menjadi tangkai dan sel pada bagian atas akan membelah lagi secara membujur hingga menjadi empat sel. Dimana 3 sel berada di dipinggir sedangkan yang satu berada ditengah-tengah lalu membelah lagi secara melintang, membentuk sel tutup dan sel dalam. Ketiga sel yang berada dipinggir akan membelah-belah menjadi dinding perut dan leher arkegonium. Dari sel dalam akhirnya akan terbentuk sel telur (egg), sel saluran perut, dan sel saluran leher (Tjitrosoepomo, 1990).

5.3.2

5.4 marchantia VS Developing sporogonium mature 5.4.1 Gambar Pengamatan

Keterangan gambar: 1. Capsule 2. Spora 3. Elater 4. Sporogonium 5. Foot 6. Sisa venter 7. Stalk 8. Sheath (tudung) 5.4.2deskripsi Berdasarkan pengamatan pada preparat Marchantia VS developing sporogonium mature, terlihat bagian-bagian yang terdiri dari capsule, spora, elater, sporogonium, foot, sisa venter, stalk, dan sheath. Dinding sel pada capsule spora terdiri atas selapis sel dengan penebalanpenebalan seperti serabut. Proses pembentukan capsule spora mula-mula masih diselubungi oleh bekas dinding arkegonium yang ikut terangkat pada perkembangan sporogonium. Kapsul spora Marchantia dapat menghasilkan beberapa ratus spora. Kapsul spora terbentuk dari suatu sel teratas yang merupakan hasil pembelahan zigot yang pertama. Sel bawah berkembang menjadi kaki dan tangkai sporogonium. Pada sel-sel dalam kapsul dapat dibedakan dalam sel-sel dinding dan jaringan arkesora yang ada didalam. Masing-masing sel arkespora membelah menjadi dua sel, dimana yang satu sel kecil dan yang lainnya lebar. Sel anakan yang lebar ada yang langsung merupakan sel induk spora, ada pula

yang membelah lagi beberapa kali sebelum menjadi sel induk spora. Sel yang kecil akan tumbuh menjadi sel-sel yang panjang berbentuk seperti serabut berdinding lunak, namun mempunyai penebalan-penebalan berbentuk spiral yang disebut dengan elatera (Tjitrosoepomo, 1990). 5.5 Moss VS Atnheridial Head 5.5.1 Gambar pengamatan

Keterangan gambar: 1. Anteridium 2. Anteridial head Deskripsi Berdasarkan pengamatan pada penampang memanjang dari Moss Antheridial head dengan perbesaran 40X, nampak bagian-bagiannya yang terdiri dari anteridium berupa badan pembentuk gamet jantan pada Moss dan antheridial head yang berupa gambar keseluruhan pada penampangmemanjang Moss antheridial head. Pada Moss, baik anteridium maupun arkegonium mempunyai tangkai dan perkembangan berbeda dengan perkembangan alat-alat yang sama pada golongan lumut yang lain. Sel-selnya mempunyai susunan yang rumit dan semuanya berasal dari segmen-segmen hasil pembelahan sel pemula. Pada anteridium sel pemula berbenuk pasak. Segmen-segmen yang dipisahkannya segera membelah-belah lagi menjadi sel-sel yang letaknya dipinggir dan sel-sel disebelah dalam pada Moss antheridial head terdapat bagian-bagian dari anteridium yang berbentuk oval memanjang dan tersusun secara berderet. Antheridial head adalah keseluruhan dari penampang (Tjitrosoepomo, 1990). 5.5.2

Perkembangan dari arkegonium dari Moss yaitu, mula-mula sejalan dengan anteridium, namun kemudian sel ujungnya berubah menjadi sel induk arkegonium dan dengan dinding-dindng pemisah yang yang periklinal lalu membentuk tiga sel pinggir, dan satu sel ditengah berbentuk tetraeder. Sel ditengah berbentuk tetraeder tersebut lalu membentuk sekat melintang dan dengan demikian terjadilah sel tutup. Sel-sel calon dinding arkegonium dan satu sel yang letaknya dipusat. Sel pusat tersebut nantinya membentuk sel telur dan sel saluran perut (Uno, 2001). 5.6 Moss WM (Whole Mount) developing sporophyte 5.6.1 deskripsi secara keseluruhan, bagian-bagian Moss developing sporophyte yaitu sporofit yang berbentuk kecil lurus memanjang dan gametofit. Struktur dari sporofit Moss yang matang terbagai menjadi tia bagian yaitu kaki, seta dan kapsul. Struktur dari kaki berbentuk seperti palang yang melekat pada gametangium betina. Kaki tersusun atas sel parenkim yang berdinding tipis. Kaki tersebut berfungs sebagai penguat sporofit dan sebagai organ penyerap. Seta pada Moss memiliki ukura panjang dan ramping (Uno, 2001). 5.7 Moss LS (Longitudinal Section) Sporogonium 5.7.1 Gambar pengamatan

Keterangan gambar: 1. Sporogonium 2. Columella 3. Kumpulan spora

deskripsi berdasarkan pengamatan pada penampang memanjang dari Moss developing sporogonium tampak dengan jelas bagian sporogonium pada spesies tersebut. Sporogonium berbentuk memanjang dan tersusun dari sel-sel yang berbentuk segilima dan dibagian tengah terdapat pula bentukan sel yang memanjang dan berwarna gelap. Sporogonium pada Moss apabila telah matang/ masak maka anteridium akan membuka oada ujungnya, begitu oula dengan arkegonium yang sel telurnya teah siap untuk dibuahi. Pada arkegonium, pada tepi bagian dinding yang terbuka tersebut lalu membengkok keluar dan berbentuk seperti corong atau robek menjadi empat bagian yang masing-masing juga tergulung keluar. Spermatozoid Moss berbeda dengan spermatozoid pada Hepaticeae, dimana pada spermatozoid pada Moss akan menunjukkan reaksi kemotaksis terhadap sakarosa (Tjitrosoepomo, 1990) 5.8 Perbedaan dan persamaan struktur reproduksi pada Marchantia dan Moss No. Perbedaan persamaan Marchantia Moss 1 struktur tubuh berkormus Struktur tubuh berupa talus Mengalami pergiliran keturunan 2 Anteridium dan Anteridium dan Sporofit berumur arkegonium berada pada arkegonium berada pada pendek talus yang berbeda talus yang sama 3 Memiliki gemma cup Tidak memiliki gemma Memiliki rhizoid cup 6. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang telah diuraikan diatas, dapat dipahami bahwa struktur dan bagian-bagian dari alat reproduksi lumut terutama pada lumut hati dan lumut daun. Struktur reproduksi pada kedua jenis lumut tersebut jelas berbeda, dimana pada lumut daun sel-selnya memiliki susunan yang lebih rumit bila dibandingkan dengan lumut hati, serta semuanya berasal dari segmen-segmen hasil pembelahan sel pemula pada lumut daun. 7. Daftar Pustaka Tjitrosoepomo, G. 1990. Taksonomi tumbuhan. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta. Uno, G., Storey, R., and Moore, R. 2001. Principle of Botany. McGraw-Hill Companies.

5.7.2