Anda di halaman 1dari 67

MAKALAH DIAGNOSA KOMUNITAS

SATE LANSIA: SAPU JAGAD SEHAT LANSIA, PROGRAM PEDULI KESEHATAN LANSIA DI DESA DUWET KRAJAN KECAMATAN TUMPANG KABUPATEN MALANG 2012

Oleh : Fendy dwija P Vilda Prasasti Yuwono Rahita Putri Nastiti Efriko Septananda Saifillah Ienag Yudhistrie

Pembimbing : dr. Chusnul Chuluq, MPH

LABORATORIUM ILMU KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA MALANG, 2012

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Lansia adalah tahap akhir siklus hidup manusia, merupakan bagian dari proses

kehidupan yang tak dapat dihindarkan dan akan di alami oleh setiap individu. Pada tahap ini individu mengalami banyak perubahan baik secara fisik maupun mental, khususnya kemunduran dalam berbagai fungsi dan kemampuan yang pernah dimilikinya. Perubahan penampilan fisik sebagian dari proses penuan normal, seperti rambut yang mulai memutih, kerut-kerut ketuaan di wajah, berkurangnya ketajaman panca indera, serta kemunduran daya tahan tubuh, merupakan acaman bagi integritas orang usia lanjut. Belum lagi mereka harus berhadapan dengan kehilangan-kehilangan peran diri, kedudukan sosial, serta perpisahan dengan orang-orang yang dicintai. Semua hal tersebut menuntut kemampuan beradaptasi yang cukup besar untuk dapat menyikapi secara bijak (Soejono, 2000). Ada beberapa pendapat mengenai batasan umur lanjut usia yaitu: a. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia Lanjut usia meliputi : usia pertengahan yakni kelompok usia 46 sampai 59 tahun. Lanjut usia (Elderly) yakni antara usia 60-74 tahun. Usia lanjut tua (Old) yaitu antara 75 sampai 90 tahun dan usia sangat tua (Very Old) yaitu usia diatas 90 tahun. b. Menurut Undang-undang nomor 13 tahun 1998 Lanjut usia adalah seseorang yang mencapai usia 60 tahun keatas. c. Menurut Prof. Dr. Koesoemato Setyonegoro pengelompokkan lanjut usia sebagai berikut: Usia dewasa muda (Elderly adulthood) : 18 atau 20-25 tahun. Usia dewasa penuh (Middle year) atau maturitas : 25-60 atau 65 tahun. Lanjut usia (Geriatric Age) lebih dari 65 atau 70 tahun. Terbagi untuk umur 75-80 tahun (Old) dan lebih dari 80 tahun (Very Old). Keberhasilan Pembangunan Nasional memberikan dampak meningkatnya Umur Harapan Hidup waktu lahir (UHH) yaitu dari 68,6 tahun 2004 menjadi 70,6 pada tahun 2009. Meningkatnya UHH menyebabkan peningkatan jumlah lanjut usia, dimana pada tahun 2020 diperkirakan mencapai 28,8 juta jiwa. Berdasarkan proyeksi Biro Pusat Statistik (BPS), pada tahun 2005-2010 jumlah penduduk lanjut usia akan sama dengan jumlah balita, yaitu 8,5% dari jumlah penduduk atau sekitar 19 juta jiwa. (Depkes RI, 2008). Sedangkan usia harapan hidup Kabupaten Malang tahun 2010 adalah 72,70 tahun (RKPD, 2012).

Penuaan di negara sedang berkembang berjalan dengan cepat dan diikuti dengan perubahan dinamis dalam struktur dan peran keluarga, di samping pola perburuhan dan migrasi. Urbanisasi, migrasi orang muda ke perkotaan mencari pekerjaan, banyaknya perempuan masuk angkatan kerja dan perubahan keluarga besar ke arah keluarga inti, mengakibatkan lebih sedikit 4 orang yang bersedia merawat lanjut usia yang membutuhkan bantuan. Puskesmas Tumpang merupakan satu dari 38 puskesmas yang terdapat di Kabupaten Malang, yang juga mempunyai kewajiban mendukung terwujudnya visi Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, yaitu terwujudnya lingkungan, perilaku, dan mengaktifkan peran serta masyarakat untuk hidup sehat dan produktif. Ada 15 desa yang menjadi cakupan kerja Puskesmas Tumpang. Salah satunya adalah desa duwet krajan, desa yang akan menjadi sasaran diagnosis komunitas kami. Jumlah lansia di desa duwet krajan adalah sejumlah sekitar 600 lansia. Penyedia layanan kesehatan untuk lansia adalah oleh seorang perawat desa. Dari data sekunder berdasar kunjungan ke klinik, terdapat beberapa penyakit terbanyak yang terdiagnosis. Namun, data primer dimana dilakukan survey langsung terhadap para lansia belum dilakukan. Sehingga permasalahan kesehatan utama belum dapat disimpulkan. Sehingga tugas kami adalah untuk mencari permasalahan kesehatan utama di desa duwet krajan, yang nantinya akan dilakukan diagnosis komunitas hingga melakukan intervensi komunitas di desa tersebut. 1.2 Rumusan Masalah Rumusan masalah dalam makalah diagnosis komunitas ini adalah apakah permasalahan kesehatan utama yang dirasakan lansia dan faktor resiko yang terdapat di desa duwet krajan? 1.3 Tujuan Kegiatan Tujuan kegiatan dalam makalah diagnosis komunitas ini untuk mengetahui permasalahan kesehatan utama lansia di desa duwet krajan faktor resiko, hingga merumuskan diagnosis komunitas dan melakukan intervensi terhadap masalah kesehatan tersebut. 1.4 Manfaat Kegiatan Bagi peneliti Meningkatkan pengetahuan dan skill dalam melakukan diagnosis komunitas.

Meningkatkan kemampuan dalam berinteraksi dengan masyarakat secara langsung.

Bagi masyarakat Memberi bantuan dalam menambahkan data-data tentang permasalahan lansia di desa duwet krajan. Meningkatkan kesadaran masyarakat desa duwet krajan tentang pentingnya menjaga kesehatan.

BAB II DATA WILAYAH SETEMPAT

I. Keadaan umum wilayah desa / kelurahan 1. Batas wilayah desa / kelurahan No Letak Desa / kelurahan 1 Utara Ngadirejo 2 3 4 Selatan Barat Timur Duwet Dampul Hutan Tumpang

Kecamatan Jabung Tumpang Tumpang

2. Luas wilayah desa / kelurahan menurut penggunaan No Penggunaan Luas ( ha ) 1 Permukiman A. Permukiman pejabat pemerintah B. Permukiman abri C. Permukiman real estate D. Permukiman kpr- btn E. Permukiman umum 76.,830 Total luas permukiman : 76.,830 2 Ladang / tegalan 417.428 Total luas ladang 417.428 3 Hutan A. Hutan lindung B. Hutan rakyat 186.196 C. Hutan produksi D. Hutan suaka margasatwa E. Hutan cagar alam F. Hutan mangrove G. Hutan konversi Total luas hutan : 186.196 4 Untuk bangunan A. Perkantoran B. Sekolah 0.296 C. Pertokoan D. Pasar E. Terminal F. Jalan 2.6 Total luas untuk bangunan : 5 Lain-lain A.makam 1.5 Total luas lain - lain : 1.796 Total luas wilayah desa 682.243 3. Kesuburan tanah No Tingkat kesuburan 1 Sangat subur

Luas ( ha ) 305.420

2 3 4

Subur Sedang Tidak subur Total luas

100.254 54.238 145.508 605.420 Keterangan 2500 mm/th 700 -1050 Luas ( ha ) 204.675 477.575 682.250

4. Curah hujan dan tinggi tempat No Uraian 1 Curah hujan 2 Tinggi tempat dari permukaan laut 5. Topografi atau bentang lahan No Uraian 1 Dataran 2 Perbukitan/pegunungan Total luas

6. Orbitasi No Uraian 1 Jarak ke ibu kota kabupaten/kota terdekat 2 Jarak ke ibu kota kecamatan terdekat 3 Lama tempuh ke ibu kota kabupaten/kota terdekat 4 Lama tempuh ke ibu kota kec. Terdekat

Keterangan 23 km 7 km 40 menit 15 menit

II. SUMBER DAYA ALAM A. Pertanian 1. Potensi Irigasi yang dimiliki No 1 2 3 4 5 Danau Lain Mata air Sumur Sungai Uraian Keterangan _ _ 13 _ 3

2. Hasil Tanaman Palawija No 1 2 3 4 Jenis Palawija Kubis Cabe rawit Koro bengok Kacang panjang 5 Luas (Ha) 16 5 Ton/Th 240 12

5 6 7 8 9 10 11 12

Sorgum Kacang hijau Jagung Ubi jalar Talas Ubi kayu Tebu Jamur Tiram 10 11 38 2000 (LOG) 75 110 2850 1.5 45 225

3. Hasil Tanaman Buah-buahan No 1 2 3 Jenis Buah - buahan Durian Pisang Alpokat Luas (Ha) 2 25 10 Ton/Th -

4. Status Kepemilikan Pertanian Tanaman Pangan No 1 2 3 4 5 6 7 Status Penyewa/Penggarap Penyakap Pemilik Tanah Tegalan/Ladang Pemilik Tanah Sawah Buruh Tani Anggota TNI Buruh Bangunan/Industri/Lain-lain Jumlah Jumlah 69 712 753 1 8 1543

5. Kelompok Tani No Kegiatan yang dilakukan Keterangan

1 2 3 4 5 6 7

Simpan Pinjam Pertemuan Rutin Penyusun Pola Tanam Pengaturan air Irigasi Pengadaan Semprotan Bebas Hama Gropyokan Tikus Arisan Jumlah

Ada Ada Ada _ _ _ _

C. Perkebunan Hasil Tanaman Perkebunan Rakyat No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jenis Tanaman Vanili Tembakau Tebu Pisang Pala Mete Lada Kopi Kelapa Sawit Kelapa Apel Coklat Cengkeh Ketela Pohon Lain-lain Total Hasil Perkebunan Luas (Ha) 0 0 38 25 0 0 0 12 0 0 130 0 18 11 0 0 Ton/Th 0 0 2850 _ 0 0 0 30 0 0 425 0 23 110 0 0

D. Peternakan 1. Potensi Peternakan No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Sapi Potong Kambing Ayam Ras Itik Entok Angsa Jumlah Ada / Tidak Ada Ada Ada Ada Ada Tidak Jumlah (ekor) 723 482 1235 250 243 3 2936

2. Status Kepemilikan Usaha Peternakan No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Status Pemilik Usaha Ternak sapi Potong Pemilik Usaha Ternak sapi Perah Pemilik Usaha Ternak Kuda Pemilik Usaha Ternak Kerbau Pemilik Usaha Ternak Kambing Pemilik Usaha Ternak Itik Pemilik Usaha Ternak Domba Pemilik Usaha Ternak Babi Pemilik Usaha Ternak Ayam Ras Pemilik Usaha Ternak Ayam Buras Buruh Peternakan Jumlah Jumlah 581 _ _ _ 96 32 _ _ 72 _ 13 794

E. Pertambangan dan Bahan Galian 1. Jenis Kekayaan Pertambangan dan Bahan Galian

No 1

Jenis Pertambangan & Bhn Galian Pasir

Luas (Ha) 0,5

Ton/Th 1,72

2. Status Kepemilikan Usaha Pertambangan / Bahan Galian No 1 2 Status Pemilik usaha pertambangan (Pasir) Pemilik usaha perdagangan hasil tambang Jumlah 3 3

F. Pariwiasata 1. Potensi Wisata Alam No 1 2 Potensi Air Terjun Sumber Pitu Agro Wisata Keterangan 1 Apel

2. Prasarana Hiburan & Rekreasi No Jenis Prasarana Ada / Tidak 1 Bilyard 8 Keterangan Baik / Rusak Baik

III. SUMBER DAYA MANUSIA 1. Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin No 1 2 3 Status Perempuan Laki-laki Kepala Keluarga Jumlah Keterangan 2416 2309 1257 4725

2. Jumlah Penduduk Berdasarkan Usia No Usia Jumlah No Usia Jumlah

10

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

0 - 12 Bulan 1 tahun 2 tahun 3 tahun 4 tahun 5 tahun 6 tahun 7 tahun 8 tahun 9 tahun 10 tahun 11 tahun 12 tahun 13 tahun 14 tahun 15 tahun 16 tahun 17 tahun 18 tahun 19 tahun 20 tahun 21 tahun 22 tahun 23 tahun 24 tahun 25 tahun 26 tahun 27 tahun

54 66 45 42 35 37 57 58 56 60 54 62 52 55 59 54 58 77 74 69 76 75 72 77 82 73 84 81

33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

32 tahun 33 tahun 34 tahun 35 tahun 36 tahun 37 tahun 38 tahun 39 tahun 40 tahun 41 tahun 42 tahun 43 tahun 44 tahun 45 tahun 46 tahun 47 tahun 48 tahun 49 tahun 50 tahun 51 tahun 52 tahun 53 tahun 54 tahun 55 tahun 56 tahun 57 tahun 58 tahun >59 tahun

74 73 82 75 77 81 72 74 78 72 83 79 76 79 81 75 77 79 83 71 79 72 69 76 77 71 79 604

11

29 30 31 32

28 tahun 29 tahun 30 tahun 31 tahun

79 72 77 85

Jumlah

4725

3. Pertumbuhan Penduduk No 1 2 Keterangan Jumlah Penduduk Tahun ini Jumlah Penduduk Tahun lalu Jumlah 4725 4709

4. Status Mata Pencaharian Penduduk di bidang Jasa/Perdagangan No 1 a. b. Status Jasa Pemerintahan / Non Pemerintahan Pegawai Desa Pegawai Negeri Sipil ( PNS ) 1). Pegawai Kelurahan 2). PNS 3). ABRI 4). Guru 5). Dokter 6). Bidan 7). Mantri Kesehatan / Perawat 8). Lain-lain c. d. Pensin ABRI / Sipil Pegawai Swasta 2 63 5 2 23 1 1 14 Jumlah (Orang)

12

e. f. 2 a. b. c. d. 3 a. b. c. d. e. f. 4 a.

Pegawai BUMN / BUMD Pensiunan Swasta Jasa Perdagangan Pasar Desa / Kelurahan Warung Kios Toko Jasa Angkutan dan Transportasi Angkutan Tidak Bermotor Angkutan Bermotor Mobil Kendaraan Umum/ picup Perahu/Sampan Angkutan Laut Motor Tempel Kapal Motor Jasa Hiburan/Tontonan Sandiwara / Kuda Lumping

53 7

7 -

2 2 8

b. Pencaksilat & Tari Topeng c. 5 a. b. c. 6 a. b. c. d. 7 Billyard Jasa Pelayanan Hukum dan Nasihat Notaris Pengacara Konsultan Jasa Keterampilan Tukang Kayu Tukang Batu Tukang Jahit/Bordir Tukang Cukur Jasa Lainya

47 58 16 -

13

a. b. c.

Listrik, Gas dan Air Konstruksi Persewaan Jumlah

16

5. Tingkat Pendidikan Penduduk No 1 2 Tingkat Pendidikan Penduduk tdk tamat SD /sederajat Penduduk tamat SD /sederajat Jumlah 370 1802

6. Prasarana Pendidikan Formal No Jenis Prasarana Keterangan Ada / Tidak 1 2 3 4 5 Universitas/Sekolah Tinggi Taman Kanak-kanak (TK) SLTP/Sederajat SLTA/Sederajat SD/Sederajat _ 2 2 _ 3 Baik Baik Baik Baik / Rusak

7. Kualitas Angkatan Kerja No 1 2 3 4 5 Keterangan Jumlah angkatan kerja tidak tamat SD/Sederajat Jumlah angkatan kerja tamat SLTP/Sederajat Jumlah angkatan kerja tamat SLTA/Sederajat Jumlah angkatan kerja tamat Diploma Angkatan kerja tamat Perguruan Tinggi Jumlah Jumlah 140 98 117 12 9 376

8. Pengangguran

14

No Uraian 1 penduduk usia 15 - 55 tahun yang belum bekerja

Jumlah 152

angkatan kerja usia 15 - 55 th

354

9. Remaja Putus Sekolah No 1 2 3 4 SD SLTP SLTA Kuliah Jumlah 10. Wajib Belajar 9 Tahun No 1 2 Keterangan Penduduk usia 7-15 tahun Penduduk usia 7-15 tahun yang masih sekolah Jumlah 589 573 204 Keterangan Jumlah 44 79 81

Penduduk usia 7-15 tahun yang tidak sekolah

16

Jumlah

1178

11. Akseptor Keluarga Berencana No 1 2 Keterangan Pasangan usia subur Jumlah akseptor KB menurut umur a. Kurang 20 tahun b. 21-30 tahun c. 31-40 tahun 28 236 241 Jumlah 605

15

d. Lebih dari 40 tahun Jumlah

52 1162

12. Penduduk Cacat mental dan fisik No 1 2 3 4 5 6 Keterangan Tuna Wicara Tuna Rungu Tuna Netra Sumbing Lumpuh Cacat mental Jumlah 13. Kesejahteraan Penduduk No 1 2 3 4 5 Keterangan Keluarga Pra Sejahtera Keluarga Sejahtera I Keluarga Sejahtera II Keluarga Sejahtera III Keluarga Sejahtera III Plus Jumlah Jumlah 529 397 254 58 19 1257 Jumlah 5 4 1 1 28 39

16

IV. KESEHATAN MASYARAKAT 1. Prasarana Air Bersih No 1 2 3 4 5 6 Jenis Prasarana Sumur Pompa Sumur Gali Perpipaan Penampungan Air Hujan (PAH) PAM Mata Air Keterangan Ada / Tidak (buah) Baik / Rusak 3 Sedang 1 Sedang 18 Baik. Keterangan Ada / Tidak (buah) Baik / Rusak Ada sedang -

2.Prasarana Pembuangan Limbah No 1 2 3 4 Jenis Prasarana Bak Sampah Gerobak Sampah Pengolahan Limbah SPAL

3. Prasarana Kesehatan No 1 2 3 4 5 Jenis Prasarana Rumah Sakit Umum (RSU) RS Bersalin Puskesmas Polindes Poliklinik Keterangan Ada / Tidak (buah) Baik / Rusak 1 Rusak -

17

18

BAB III METODE PENGUMPULAN DATA

Penentuan masalah kesehatan wilayah Duwet Krajan dalam makalah ini bersumber pada data sekunder dan data primer. Data sekunder didapatkan dari data rutin triwulan puskesmas tahun 2012, data bidan desa, data perawat desa, data kunjungan posyandu lansia, dan profil Desa Duwet Krajan. Data primer didapatkan dari kuesioner yang disebar secara random di tiga dusun, yaitu Suwaru, duwet krajan, dan tosari. Kuesioner disebarkan secara random sampling pada masyarakat, dengan penentuan jumlah sample berdasarkan pada rumus Slovin (Setiawan N, 2007):

dengan jumlah KK sebagai acuan. n merupakan ukuran sample, N ukuran populasi, dan d merupakan toleransi kesalahan. Dengan jumlah populasi dalam satu desa adalah 1257 KK, maka jumlah sample yang dibutuhkan dapat dihitung sebagai berikut: n= 1257 1257.(0,1)2 + 1

n = 92 n 92 (dibulatkan ke atas) Maka jumlah sample minimal yang dibutuhkan adalah 93 KK. Pertanyaan-pertanyaan dalam kuesioner dapat menskrining permasalah kesehatan dari beberapa sumber faktor resiko. Pertanyaan-pertanyaan tersebut secara umum dapat mencerminkan kondisi kesehatan lansia.

BAB IV ANALISIS DATA

4.1

Analisis Deskriptif Data Sekunder

4.1.1 Ada lansia atau tidak dari 100 kepala keluarga

Dari 100 quisioner yang dibagi secara acak dalam 3 dusun, didapatkan bahwa 63 rumah penduduk memiliki lansia di dalamnya, dan 37 rumah penduduk tidak terdapat lansia di dalamnya. Akan tetapi dalam hal ini tidak diidentifikasi apakah lansia tersebut laki-laki atau perempuan. 4.1.2 Status pekerjaan lansia

20

Dari 63 lansia yang ada, 54 diantaranyabekerja, atau sekitar 85% dan 9 diantaranya tidak bekerja atau sekitar 15 % dari total lansia yang ada.

4.1.3 Jenis Pekerjaan Lansia

Dari 54 lansia yang bekerja di desa Duwet Krajan, ditemukan bahwa pekerjaan mayoritas adalah sebagai buruh tani yaitu 44 orang dengan prosentase 84%, 6 orang dengan pekerjaan terbanyak kedua adalah sebagai kuli

21

dengan prosentase 11,5%, dan 5,5% atau sekitar 3 orang menjalani pekerjaan sebagai pedagang. 4.1.4 Penghasilan lansia

Dari 63 lansia yang ada, 54 lansia bekerja dengan berbagai macam tingkat penghasilan mulai kurang dari 300.000 per bulan, diantara 300.000500.000 per bulan, dan di atas 500.000 perbulan. Dari quisioner didapatkan 43 orang, atau 79,6% mendapatkan gaji dibawah 300.000 sebulan untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari, 8 orang dengan gaji menengah, atau sekitar 14,8%. Dan hanya 3 orang memiliki penghasilan diatas 500.000 per bulan yaitu 5,5%. Ini tidak dibedakan berdasarkan pekerjaan lansia, data ini secara umum penghasilan lansia tanpa memandang bekerja sebagai apa. 4.1.5 Cara lansia pergi ke tempat bekerja

22

Dari 54 lansia yang bekerja di desa Duwet Krajan, 49 orang atau 90,7% pergi ke tempat kerja dengan cara berjalan kaki dan 5 orang atau 9,2% dengan menggunaan kendaraan. 4.1.6 Cara lansia membawa barang bawaan pulang bekerja

Dari 54 lansia yang bekerja di desa Duwet Krajan, 33 orang membawa barang bawaan maupun dagangan mereka dengan cara digendong atau sekitar 61%, 9 orang yang lain membawa barang pekerjaannya dengan cara dipikul atau sekitar 16,6%. 9 orang yang lain dengan cara dijinjing atau sekitar 16,6%, dan 3 orang terakhir dengan cara lain-lain yang tidak disebutkan dalam quisioner yaitu dengan prosentase hanya 5,5%.

23

4.1.7 kesadaran lansia untuk berobat jika sedang sakit

Dari keseluruhan lansia yang ada, yaitu 63 lansia, memiliki opini yang berbeda-beda dalam menjaga kesehatannya dan memilih tempat berobat. 22 orang atau sekitar 34,9%. 18 orang memilih berobat ke puskesmas meskipun tempatnya jauh dari rumah dengan prosentase 28,5%. 11 orang yang lain memilih untuk tidak berobat dan hanya sekedar minbum jamu-jamuan yang ada di desanya atau sekitar 17,4%. 9 orang memilih untuk pijet, yaitu sekitar 14,2%. Dan 3 orang terakhir tidak tahu harus melakukan apa jika sakit atau hanya sekedar berdiam diri di rumah, yaitu sekitar 4,7%. 4.1.8 Penyakit yang paling banyak dikeluhkan oleh lansia

24

Berikut adalah penyakit terbanyak yang dikeluhkan oleh lansia, 39 orang atau sekitar 57,1% mengeluhkan pegal linu. 12 orang atau sekitar 19% mengeluhkan batuk pilek. 8 orang atau sekitar 12,7% mengeluhkan pusing dan 4 orang atau sekitar 6,3% lain-lain, seperti demam, dan lain-lain. 4.1.9 Jarak tempat bekerja lansia dari rumah

Jarak tempat bekerja lansia dari rumah sampai tempat kerja 38 orang atau sekitar 60,3% adalah sekitar < 1 km, sedangkan 25 orang atau 39,6% berjarak > 1 km.

25

BAB V RUMUSAN DIAGNOSIS KOMUNITAS

5.1 Identifikasi Masalah Kesehatan Menurut hasil survey yang dilakukan pada bulan november-desember 2012 di Desa Duwet Krajan ditemukan beberapa permasalahan mengenai kesehatan pada golongan masyarakat lanjut usia. Survey dilakukan secara primer yaitu dengan datang langsung ke rumah warga dan memberikan kuisioner, dan sekunder yaitu melalui data kunjungan dari perawat desa. Berdasarkan survey yang kami lakukan, didapatkan 3 penyakit lansia yang paling banyak terjadi pada masyarakat lansia Duwet Krajan, yaitu: Hipertensi, Penyakit otot dan jaringan, ISPA. Dengan Scoring menggunakan kriteria M (magnitude), S (seriousness), dan F (feasibility). Nominal scoring mempunyai range 1-10 berdasarkan tingkat besarnya, tingkat keparahan, dan kemungkinan untuk diintervensi. Hasil analisis tertera pada tabel 5.1. Berdasarkan daftar

26

Ranking permasalahan tersebut, maka prioritas masalah kesehatan yang ada di Duwet Krajan saat ini adalah myalgia. Myalgia merupakan penyakit yang terbanyak dirasakan oleh para lansia di desa duwet krajan. Penyakit ini diprediksi merupakan salah satu penyakit akibat kerja, dimana pekerjaan terbanyak di desa ini adalah buruh tani. Karena itu, diharapkan ada diagnosis komunitas tentang penyakit myalgia dan dapat dilakukan intervensi baik dari segi pencegahan awal atau dari segi pengobatan.

27

Tabel 5.1 Hasil Analisis Health Problem lansia

Faktor Resiko Behaviour Kebiasaan makan makanan tinggi garam karena penyajian makanan yang berulang Kebiasaan ketika usia lansia tidak bekerja Kurangnya kesadaran untuk berobat dan kontrol rutin ke petugas kesehatan Environmetal Rata-rata penghasilan keluarga per hari + Rp. 25.000 sehingga masyarakat lebih memilih uangnya

M S F Total

Hipertensi

untuk membeli makan daripada untuk berobat dan kontrol rutin ke petugas kesehatan. Intrinsic Usia di atas 50 tahun faktor resiko terjadinya hipertensi Genetik Health Service Kurangnya edukasi di kalangan komunitas tentang hipertensi Sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang kurang memadai. Tidak adanya posyandu lansia di Dusun Krajan-Tosari di desa Duwet Krajan sehingga tidak ada monitoring rutin pada lansia.

22

Sistem otot dan jaringan

Behaviour Lansia mengangkat barang-barang dari rumah ke tempat kerja dengan posisi barang yang kurang ergonomis Enviromental

26

28

Kondisi geografis desa yang berada di dataran tinggi dan lahan yang menanjak Intrinsic Asupan Nutrisi yang Kurang Terpenuhi pada individu. Rendahnya status pendidikan warga dan kesadaran akan pentingnya kesehatan masa tua. Health Service Kurangnya edukasi dan advokasi di kalangan lansia oleh penyedia layanan kesehatan (posyandu) Sarana dan Prasarana Pelayanan Kesehatan yang Kurang Memadai Behaviour Kurangnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan diri Anggapan masyarakat bahwa merupakan penyakit yang biasa, sehingga tidak membutuhkan ISPA pengobatan. Enviromental Rumah sehat hanya 42,86% (539 KK) dari 1257 kepala keluarga Intrinsic Usia di atas 45 tahun meningkatnya kerentanan tubuh terhadap infeksi Health Service Kurangnya edukasi di kalangan komunitas oleh penyedia layanan kesehatan Sarana dan prasarana pelayanan kesehatan yang kurang memadai. Tidak adanya posyandu lansia di Dusun Krajan-Tosari desa Duwet Krajan sehingga tidak ada monitoring pada lansia. 7 8 9 24

29

5.2 Daftar Ranking Permasalahan No 1. 2. 3. Permasalahan Myalgia Infeksi Saluran Pernafasan Akut Hipertensi Index Prioritas 26 24 22

30

BAB VI PLAN OF ACTION

A. Health Problem Tingginya prevalensi penyakit myalgia pada masyarakat lansia di desa Duwet Krajan. Berikut analisis faktor resiko terjadinya myalgia di desa Duwet Krajan berdasarkan hasil kuisioner yang dibagikan kepada 30 lansia yang mengalami myalgia. Risk Factor No. Behaviour 1. Lansia mengangkat barang-barang dari rumah ke tempat kerja dengan posisi mengangkat dan membawa barang yang kurang ergonomis 2. Kebiasaan mengangkat barang dengan beban yang melebihi batas

No. Environmental 1. Kondisi geografis desa yang berada di dataran tinggi dan lahan yang menanjak. No. Health Service 1. Kurangnya edukasi dan advokasi di kalangan lansia oleh penyedia 2. layanan kesehatan (posyandu) Kurangnya pemanfaatan posyandu lansia di Dusun Krajan-Tosari

desa Duwet Krajan sehingga tidak ada monitoring rutin pada lansia. No. Intrinsic 1. Asupan nutrisi yang kurang terpenuhi pada individu 2. Rendahnya status pendidikan warga B. Risk Factors & Contributing Risk Factors No. 1. Risk Factor Lansia mengangkat barang-barang dari rumah ke tempat kerja dengan posisi mengangkat dan membawa barang yang kurang ergonomis Contributing Risk Factor Behaviour Predisposing: Kurangnya

Pengetahuan

Individu Terhadap pentingnya ergonomitas kerja serta manfaatnya terhadap lansia itu sendiri Enabling: Tidak tersedianya alat bantu yang digunakan lansia untuk membawa barangbarang dengan lebih mudah Reinforcing: Anggapan bahwa posisi dan

31

cara mengangkat barang tidak berhubungan 2. Kebiasaan mengangkat barang dengan beban yang melebihi batas dengan myalgia. Predisposing: yang diperbolehkan Enabling: Kebiasaan Tidak tidak adanya melakukan keharusan pengukuran berat beban yang dibawa Reinforcing: menerapkan diperkenankan peraturan agar Kemenakertrans menimbulkan Penduduk kurang

mengetahui tentang batas maksimal beban

tentang tentang beban maksimum yang tidak kecelakaan kerja . Environmental Faktor resiko tidak dapat diubah

1.

Kondisi geografis desa yang berada di dataran tinggi dan lahan yang menanjak.

1.

Health Service Kurangnya edukasi dan Predisposing: advokasi di kalangan lansia oleh penyedia layanan kesehatan (posyandu)

Kurangnya

akses

lansia

terhadap Media Informasi Terkait Kesehatan kelompok usia lanjut. Enabling: Kurangnya Sumberdaya manusia serta referensi pengetahuan untuk melakukan KIE melalui Penyuluhan. Reinforcing: Tidak tersedianya biaya dari pemerintah. Predisposing: Kurangnya dana untuk biaya

2.

Kurangnya

pemanfaatan Posyandu operasional Posyandu baik dari pihak desa lansia di Dusun Krajan- maupun warga. Tosari di desa Duwet Enabling: Krajan monitoring rutin kurang dasar di Dusun Krajan-Tosari. berjalan. Reinforcing: Kurangnya komunikasi antara tenaga kesehatan setempat-puskesmaspamong desa, sehingga sarana prasana dan Kader yang direkrut kurang sarana sehingga mengerti dan sulit memahami ilmu medis sehingga penambahan

dapat mencakup lansia prasarana seperti posyandu lansia akan sulit

32

kebutuhan yang masih terjangkau tidak dapat dipenuhi. Intrinsic yang Predisposing: Kurangnya Pengetahuan lansia Enabling: Kurangnya resources dari desa, serta tidak tersedianya makanan untuk mencukupi Nutrisi masyarakat Reinforcing: Kebiasaan dan kesukaan terhadap makanan tertentu, pekerjaan warga yang kurang mencukupi untuk biaya 2. Rendahnya status pendidikan warga kebutuhan nutrisi keluarganya Predisposing: kurangnya pengetahuan warga tentang manfaat pendidikan Enabling: kurangnya sarana pendidikan untuk warga Reinforcing: kurangnya peran pemerintah setempat dalam penggalakan wajib belajar. C. Objective, Sub-Objective
No. 1. Objective Lansia mengangkat barang-barang dari rumah ke tempat kerja dengan posisi mengangkat dan membawa barang yang kurang ergonomis Obj: >50% lansia dapat melakukan mengangkat dengan membawa menggunakan tas benar cara barang dan beban anti Behaviour Predisposing: Sub-Objective meningkatkan pengetahuan

1.

Asupan individu

nutrisi

kurang terpenuhi pada Terkait Nutrisi yang baik dan dibutuhkan oleh

kelompok usia lanjut tentang cara mengangkat dan membawa barang dengan benar untuk mencegah myalgia sebesar 10 %. Enabling: menurunkan kebiasaan dililitkan ke pingang sebesar 10 % Reinforcing: menurunkan anggapan bahwa posisi kerja tidak mengakibatkan myalgia sebesar 10 % membawa beban dengan menggunakan selendang yang

33

2.

pegal Kebiasaan mengangkat barang dengan beban yang melebihi batas Obj : >50% lansia mengetahui beban maksimal yang diperbolehkan.

Predisposing:

meningkatkan

pengetahuan

kelompok lanjut usia tentang batasan beban yang dapat dibawa untuk agar tidak cedera sebesar 10 %. Enabling: meningkatkan kebiasaan membawa barang tidak melebihi berat yang dianjurkan yang dapat dilakukakan lansia sebesar 10 %. Reinforcing: menurunkan kepercayaan bahwa makin berat beban yang mampu dibawa orang tua makin mencerminkan keperkasaannya sebesar 10 %. Environment

1.

Kondisi geografis desa Faktor yang tidak dapat diubah yang berada di dataran tinggi dan lahan yang menanjak. Health Service Predisposing:

1.

Kurangnya edukasi dan advokasi di kalangan lansia oleh penyedia layanan kesehatan (posyandu) Obj: >10%

Meningkatkan

pemahaman

masyarakat terhadap masalah kesehatan yang mayoritas dialami masyarakat sebesar 10%, dengan metode permainan / hal lain yang menyenangkan agar lebih mudah diserap. Enabling: Advokasi untuk tenaga melakukan kesehatan aktivitas

lansia setempat

memahami permasalahan dialami.

penyuluhan masyarakat diwaktu masyarakat Desa Duwet Krajan tengah mengadakan Reinforcing: Meningkatkan cakupan wilayah posyandu lansia dalam memonitoring lansia, sebesar 50% dalam tiap Dusun. Predisposing: menyediakan

kesehatan yang sedang perkumpulan rutin.

2.

Kurangnya

peralatan

pemanfaatan Posyandu tambahan untuk pemeriksaan kesehatan dasar lansia di Dusun Krajan- pada posyandu lansia yang terdiri dari tensi Tosari Krajan desa Duwet meter sehingga contoh dan stetoskop, serta memberikan teknis kebutuhan pelaksanaan

monitoring rutin kurang posyandu seperti buku registrasi, dan KMS.

34

dapat mencakup lansia Enabling: Meningkatkan kehadiran 20% kader di Dusun Krajan-Tosari. Posyandu, pelayanan Obj : enam posyandu posyandu. lansia setiap aktif dilakukan Reinforcing: Advokasi ketua kader lansia yang untuk mengkomunikasikan mengembangkan posyandu lansia kepada tenaga kesehatan. Intrinsic yang Predisposing: Meningkatkan pengetahuan makanan sedarhana yang mudah didapat untuk meredakan myalgia. Obj: asupan meningkatkan Enabling: Meningkatkan kesadaran memilih nutrisi yang makanan yang bernutrisi tinggi dibandingkan bulan, untuk membantu dasar melakukan lansia di kesehatan

dicapai dalam 1 tahun. 1. Asupan individu nutrisi

kurang terpenuhi pada kelompok usia lanjut sebesar 30% tentang

cukup pada kelompok makanan yang lezat sebesar 10%. usia lanjut sebesar > 10 Reinforcing: Advokasi ketua kader lansia % dalam kurun waktu 3 untuk mengkomunikasikan mengembangkan bulan 2. Rendahnya status pendidikan warga resep-resep sederhana berbahan dasar makanan pokok pereda myalgia. Faktor yang tidak dapat diubah.

D. Pemecahan Masalah Terpilih


NO. RISK FACTORS & CONTRIBUTING RISK 1 Lansia FACTORS mengangkat barang- Penyuluhan
mengangkat tentang dan benar cara pada cara

PROBLEM SOLUTIONS

PEARL SCORE P E A R L 5 5 5 5 5

barang dari rumah ke tempat dan membawa barang yang

membawa

kerja dengan posisi mengangkat barang

dengan

kelompok lansia Penyuluhan tentang

4 5

kurang ergonomis Kurangnya mengangkat dan membawa Pengetahuan Individu Terhadap barang dengan benar pada pentingnya serta ergonomitas manfaatnya kerja kelompok pra-lansia Penyuluhan tentang cara 3 5 terhadap mengangkat dan membawa 5 5 5

lansia itu sendiri

35

barang dengan benar pada kader setempat 2 Kebiasaan mengangkat barang Penyuluhan batas Penduduk tentang beban kurang
tentang batas

5 5

dengan beban yang melebihi maksimal beban angkut yang


mampu dibawa pada kelompok lansia

mengetahui maksimal

batas Penyuluhan tentang batas 4 5 yang maksimal beban angkut yang

diperbolehkan untuk menghindari mampu dibawa pada kelompok myalgia dan gerakan sederhana pra-lansia Penyuluhan untuk meredakan myalgia
maksimal mampu

tentang
angkut pada

batas yang

3 5

beban

dibawa

kader 5 5 - 5 4 5 -

Kondisi

geografis

desa

setempat Senam yoga lansia yang -

berada di dataran tinggi dan 4 lahan yang menanjak. Kurangnya edukasi dan advokasi Role di kalangan lansia oleh penyedia Kurangnya akses lansia 5 4 4 4 5 5 play tentang yang masalah sering 5 5 5 4 5

kesehatan

layanan kesehatan (posyandu) dijumpai masyarakat lansia terhadap Media Informasi Terkait Pembukaan Posyandu Lansia 5 4 Kesehatan kelompok usia lanjut Kurangnya pemanfaatan Sistem pembiayaan mandiri: 5 5 Posyandu lansia di di desa Dusun asuransi Duwet masuk desa 5 5 4 4 4 5 Krajan-Tosari (ASMADES) Penyuluhan kader mengenai 5 4 kesehatan lansia Menyediakan Posyandu Lansia 5 4 tambahan di Dusun Duwet Krajan dan di Dusun Tosari sebagai sarana dan fasilatas dalam mendukung program edukasi dan promosi mengenai kesehatan lansia Mengadakan pemeriksaan dan 5 4 pengobatan gratis sebagai upaya skrining dan tatalaksana 5 4 5

Krajan sehingga monitoring rutin kurang dapat mencakup lansia di Dusun Krajan-Tosari Kader yang direkrut kurang mengerti dan sulit memahami ilmu medis dasar sarana posyandu berjalan sehingga lansia penambahan seperti sulit akan prasarana

36

Asupan nutrisi yang kurang terpenuhi pada individu Kurangnya Pengetahuan Terkait Nutrisi yang baik dan dibutuhkan oleh lansia

penyakit sederhana. Penyuluhan kepada kelompok 5 5 usia lanjut tentang makanan sedarhana didapat yang untuk mudah meredakan

myalgia Penyuluhan kepada kader dan 4 5 ketua kader tentang alternatif pengembangan sederhana resep-resep dasar berbahan

makanan pokok yang dapat 7 Rendahnya warga status meredakan myalgia pendidikan sarana -

kurangnya

pendidikan untuk warga

Dari analisis dengan metode PEARL FACTOR, maka yang mendapatkan nilai tertinggi adalah meningkatkan peran kader kesehatan melalui program penyuluhan dan pelatihan serta pembukaan posyandu lansia dalam meningkatkan kepedulian masyarakat lansia terhadap penyakit myalgia sehingga angka lansia yang memeriksakan kesehatannya juga meningkat. E. Klasifikasi Solusi Masalah Berdasarkan Tingkat Prevensi No. 1 -Health Promotion PREVENTION LEVEL LIST OF ACTION/SOLUTION Primary Prevention
Penyuluhan lansia Penyuluhan pra-lansia tentang cara mengangkat dan

TOTAL PEARL SCORE 25

membawa barang dengan benar pada kelompok tentang cara mengangkat dan

24

membawa barang dengan benar pada kelompok

Penyuluhan tentang cara mengangkat dan membawa barang dengan benar pada kader setempat
Penyuluhan tentang batas maksimal beban

23

25

37

angkut yang

mampu dibawa pada kelompok

lansia Penyuluhan tentang batas maksimal beban angkut yang mampu dibawa pada kelompok pralansia

24

Penyuluhan tentang batas maksimal beban


angkut yang mampu dibawa pada kader

23

setempat Penyuluhan

kader

mengenai

kesehatan

22 24 24 23

lansia Role play tentang masalah kesehatan yang -Specific Protection 2 -Early Case Menyediakan Posyandu Lansia tambahan di Detection Dusun Duwet Krajan dan di Dusun Tosari sebagai sarana dan fasilatas dalam mendukung program edukasi dan promosi -Prompt Treatment 3 -Physical Rehabilitation Penyuluhan kepada kelompok usia lanjut tentang makanan sedarhana yang mudah didapat untuk meredakan myalgia Penyuluhan kepada kader dan ketua kader tentang alternatif pengembangan resepresep sederhana berbahan dasar makanan -Mental Rehabilitation -Social Rehabilitation pokok yang dapat meredakan myalgia Sistem pembiayaan mandiri: asuransi sederhana masuk desa (ASMADES) mengenai kesehatan lansia Mengadakan pemeriksaan dan pengobatan gratis sebagai upaya skrining dan tatalaksana penyakit sederhana. sering dijumpai masyarakat lansia Senam yoga lansia

23

24

22

23

F. Target Group 1. 2. Primer Sekunder Krajan : Penduduk Usia Lansia (> 45 tahun) di Desa Duwet Krajan : Kelompok pra-lansia dan kader posyandu di Desa Duwet

38

3.

Tersier

: Perangkat Desa Duwet Krajan

G. Goal Menurunkan angka kejadian myalgia sebesar 30% pada kelompok usia lanjut di Desa Duwet Krajan selama 3 bulan.

39

H. STRATEGI
No Strategi intervensi Setting & metode
Setting : Rumah Bu Lurah Metode : Kader Lansia

Target populasi

Peran & tanggung jawab


Tenaga kesehatan Memberikan penyuluhan kepada

Sumber daya
tenaga kesehatan, Input: -

Evaluasi
Umum : Kehadiran kader sebagai penyuluhan. Kehadiran kesehatan penyuluh. Ketersediaan media penyuluhan. Proses: Antusiasme keaktifan dalam diskusi. Kemampuan peserta menjawab pertanyaan penyuluh. Outcome Peningkatan tentang materi yang diajukan tenaga sebagai Khusus : dan para lansia

Tujuan

1 Penyuluhan kesehatan, tentang ergonomisitas dan mudah makanan didapat myalgia, kerja, yang untuk

Menurunkan prevalensi dan insidensi lansia dengan

simulasi tas anti pegal,

Penyuluhan

oleh

tenaga kesehatan kepada kader dan lansia menggunakan metode discussion group dan

kawasan masyarakat mengenai desa Duwet batasan myalgia, cara mengangkat barang Krajan di yang baik, contoh tas anti pegal, dan makanan myalgia. sederhana

peserta myalgia di kawasan desa Duwet Krajan

mengatasi myalgia

Meningkatkan pengetahuan lansia tentang segala hal yang berhubungan dengan myalgia dan ergonomisitas dan kerja sehingga para lansia peserta dapat myalgia. mencegah dan proses mengurangi kesakitan

yang dapat meredakan

dengan alat bantu tas anti pegal.

40

wawasan maupun dan -

lansia kader bagaimana

tentang pegal linu, mencegahnya Peningkatan pengetahuan lansia maupun tentang ergonomisitas kerja yang baik Peningkatan pengetahuan lansia maupun tentang dengan sederhana 2 Pemeriksaan dan Pengobatan Gratis lansia Setting : Rumah ibu Lurah Metode : Pengobatan dengan (Upaya Perorangan) metode gratis, UKP Kesehatan Lansia di kawasan Desa Duwet Krajan - Tenaga kesehatan: dan Tenaga kesehatan, kader Posyandu mudah dibuat Input: Kehadiran kader Malang. Kehadiran tenaga Khusus : Pengobatan kesehatan Posyandu penyakit dasar. para kader cara makanan yang Umum : Pendataan penyakit dasar dan sosialisasi layanan posyandu lansia kader

mengatasi pegal linu

pemeriksaan - Kader: dan

pengobatan lansia pendaftaran pendataan

Posyandu lansia

Lansia desa Duwet

penyakit lansia

41

konvensional, melibatkan kader

yang dan -

Lansia desa Duwet Malang. Kehadiran sebagai lansia peserta desa Duwet Malang pengobatan gratis. Ketersediaan materi Pengobatan Grais. Ketersediaan media Pengobatan Gratis Proses: Kehadiran antusiasme sebagai pengobatan. Kesesuaian Kerjasama panitia gratis. Outcome: Peningkatan wawasan tentang lansia penyakit desa Duwet Malang alur antar pengobatan gratis. pengobatan dan lansia peserta

tenaga kesehatan desa Duwet Malang.

42

yang cara serta

diderita

dan cara

pencegahan

mencegah keparahan. Peningkatan kesadaran tentang lansia desa Duwet Malang pentingnya dan kesehatan hubungannya dengan produktivitas kerja. Peningkatan kesadaran tentang Posyandu serta kesehatan 3 Pembukaan Posyandu lansia Krajan Desa Duwet Setting : rumah ibu lurah Metode : Penyuluhan tenaga Kader posyandu, warga lansia, oleh pak lurah dan kesehatan perangkat desa. Tenaga memberikan penyuluhan tentang posyandu kepada kader dan lansia, sedangkan kesehatan Tenaga kesehatan, pak lurah lainnya.. Input: Kehadiran kader sebagai penyuluhan dan para lansia peserta dan lansia manfaat Lansia layanan desa Umum : Memudahkan kelompok desa usia Duwet akses lanjut Krajan desa Duwet Malang

kepada kader dan

43

lansia menggunakan metode discussion, lansia simbolis group serta secara dengan

pak lurah dan perangkat desa meresmikan pembukaan posyandu

pembukaan posyandu lansia Kehadiran kesehatan pemateri. Ketersediaan media penyuluhan. Proses: Antusiasme keaktifan dalam diskusi. Outcome: Peningkatan wawasan maupun tentang lansia Peningkatan pengetahuan lansia maupun tentang yang kader manfaat didapatkan lansia kader posyandu tenaga sebagai

untuk dasar.

mendapatkan kesehatan angka kelompok di Desa

pelayanan Menurunkan kesakitan usia lanjut

peresmian posyandu

pemotongan pita.

Duwet Krajan. Khusus : dan Memberikan proses kelompok usia layanan lanjut di peserta kesehatan dasar terhadap desa Duwet Krajan.

oleh lansia dengan

44

adanya lansia -

posyandu

Peningkatan pengetahuan lansia maupun KMS manfaatnya kader dan tentang penggunaan

Peningkatan pengetahuan lansia tentang diadakannya posyandu lansia dan pelayanan apa saja yang dari lansia. bisa didapat posyandu menjadi dengan jadwal

Lansia kenal lansia.

perangkat posyandu 4 Role play Setting: Rumah Bu Lurah Metode : Lansia desa Tenaga Duwet Krajan memandu dan pertanyaan peserta. kesehatan permainan memberikan kepada Tenaga kesehatan Input: Kehadiran kader sebagai roleplay dan para lansia peserta Umum: Meningkatkan wawasan usia lanjut kelompok tentang

Permainan

berupa

papan dengan kotak

45

ular

tangga

Kehadiran kesehatan pengarah permainan.

tenaga sebagai

kesehatan secara umum Meningkatkan

lansia

sebanyak 18 kotak

Lansia

dibagi 5 -

menjadi 3 kelompok masing-masing orang lansia.

keterampilan kelompok usia lanjut dalam konsep menerapkan dan peserta Khusus: proses Mengisi dengan lansia dikemas secara waktu materi dalam tunggu khusus bentuk antrian pengobatan gratis kelompok usia lanjut yang

Ketersediaan media permainan

Terdapat dadu untuk mengetahui maju langkah. harus berapa

Proses: Antusiasme keaktifan dalam permainan. Outcome: Meningkatnya kesadaran dalam bekerja kelompok Meningkatnya kesadaran dalam memanfaatkan posyandu sebagai dalam lansia media mengontrol lansia

ergonomisitas kerja.

Terdapat papan kartu denga

beberapa yang ada merahnya maksud

mundur 2 langkah, kartu kuning mundur 1 dan langkah, kotak kartu kosong hijau ada hukuman, dengan menjawab

pentingnya acara yang menyenangkan.

pertanyaan.

kesehatan lansia.

46

Lansia beberapa tentang

memahami hal penyakit

yang biasa ada di 5 Sarasehan Kader dan Perangkat Desa Setting: Balai Desa Duwet Krajan Rumah Kepala Desa Open group discussion Metode: Perangkat Desa Kader Lansia Tenaga mengenai pembiayaan ASMADES, kesehatan sistem mandiri beserta Tenaga kesehatan, perangkat desa, kader desa mereka. Jangka Pendek: Para kader dan perangkat desa hadir minimal 80% Semua kader dan perangkat desa memiliki salinan rencana penanganan kendala Perangkat kader desa dan Ketersediaan media penyuluhan Jangka Menengah: Rencana ASMADES bisa disosialisasikan secara langsung kepada para lansia desa Duwet Krajan Jangka Panjang: Pendirian Posyandu lansia mandiri di Desa Duwet Krajan Khusus: Meningkatkan wawasan perangkat desa tentang sistem untuk dan kader alternatif pembiayaan warga Desa Umum: Branstorming kendala dan alternatif solusi permasalahan pendirian Posyandu Lansia baru.

memberikan presentasi

di kawasan simulasi dana kepada desa Duwet perangkat desa dan Krajan kader

membentuk dan luas peserta

tim pengelola keuangan ASMADES menyepakati cakupan premi

mandiri dari oleh dan Duwet Krajan Meningkatkan wawasan perangkat desa dan kader tentang solnnnnnnnnnnnnnn nnnnnusi pendanaan

ASMADES dan besaran

47

Meningkatnya kunjungan lansia ke Posyandu mandiri lansia -

untuk biaya operasional Posyandu Meningkatkan rasa memiliki Posyandu yang telah ada kepada warga Desa Duwet Krajan Umum: Meningkatkan pengetahuan lansia tentang gerakangerakan yang dapat dilakukan untuk mencegah dan mengatasi myalgia Meningkatkan pengetahuan kepada kader Posyandu mengenai contoh materi penyuluhan yang atraktif Kusus: Memperagakan gerakan-gerakan

Senam yoga lansia

Setting: Rumah Bu Lurah Memberikan pelatihan senam yoga kepada lansia Memberikan advis kepada kader posyandu untuk rutin melaksanakan senam yoga lansia Metode:

Kader Lansia

Tenaga kesehatan Memandu peserta

Tenaga kesehatan

Jangka Pendek: Jumlah partisipasi dan antusiasme peserta senam yoga lansia Jumlah terlaksananya senam yoga lansia (disesuaikan dengan program yang disepakati) Peningkatan pengetahuan tentang senam yoga ringan sehingga bisa mengurangi ketegangan otot

melakukan gerakandi kawasan gerakan senam yoga desa Duwet lansia Krajan

48

Jangka Panjang: Menurunnya angka kejadian myalgia pada lansia di kawasan desa Duwet Krajan

pada kelompok lansia dan kader Posyandu untuk mencegah dan mengurangi myalgia

49

BAB VII HEALTH PROMOTION ACTION

7.1 Penyuluhan dan Pelatihan menjaga kesehatan pribadi Tema Waktu Kegiatan Hari Tanggal Waktu Tempat Sasaran Sasaran Primer Sasaran Sekunder : Siswa siswi SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2 : Guru SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2 serta Kader di Desa Benjor Identifikasi Masalah Kesehatan Tujuan Kegiatan Memberikan pengetahuan mengenai bagaimana menjaga kesehatan pribadi meliputi mencuci tangan dan menggosok gigi Memberikan pengetahuan tentang makanan sehat Memberikan contoh cara mencuci tangan dan menggosok gigi yang baik dan benar. Menjaring calon Kader tiwisada diantara siswa SD di Benjor Materi 1. Penyuluhan menjaga kesehatan pribadi meliputi: a. Tujuan dan fungsi mencuci tangan b. Tujuan dan fungsi menggosok gigi c. Makanan sehat 2. Simulasi cara menjaga kesehatan pribadi meliputi a. Cara mencuci tangan yang benar b. Cara menggosok gigi yang benar Metode : Jumat : 22 Februari 2013 : 08.00 10.30 : SDN 1 dan SDN 2 Benjor :

50

Penyuluhan oleh tenaga kesehatan diberikan kepada siswa, guru dan kader desa Benjor menggunakan metode diskusi dan simulasi dengan menggunakan alat dan bahan yang tersedia.

Media Media penyampaian: o Loud speaker o Buku Saku o Poster Alat & Bahan: o Air bersih mengalir o Sabun o Sikat gigi o Pasta gigi o Gelas o Kain lap o Ember Proses Peserta dikumpulkan di tempat yang telah disediakan Penyuluh menyampaikan materi cara mencuci tangan, menggosok gigi, serta makanan sehat menggunakan buku saku dan poster Peserta dibawa keluar ke tempat simulasi yang telah disediakan Penyuluh menunjuk beberapa orang untuk mempraktekkan cara mencuci tangan dan menggosok gigi Penyuluh mengajak sasaran untuk mencuci tangan dan menggosok gigi bersama Acara selesai Indikator Keberhasilan Input: Kehadiran siswa siswi SD sebagai peserta penyuluhan. Kehadiran tenaga kesehatan sebagai penyuluh. Ketersediaan media penyuluhan. Proses:

51

Antusiasme dan keaktifan sasaran dalam proses diskusi. Kemampuan peserta menjawab pertanyaan tentang materi yang diajukan penyuluh. Kemampuan peserta dalam mempraktekkan materi yang diajukan penyuluh ketika simulasi. Kemampuan calon kader tiwisada sebagai contoh dan pembimbing teman-temannya Outcome Peningkatan wawasan siswa siswi, guru maupun kader tentang kesehatan pribadi Peningkatan pengetahuan siswa siswi, guru maupun kader tentang cara mencuci tangan dan menggosok gigi Perubahan perilaku siswa siswi dalam mencuci tangan dan menggosok gigi 7.2 Pembinaan Kader Tiwisada Tema Waktu Kegiatan Hari Tanggal Waktu Tempat Sasaran Sasaran Primer Sasaran Sekunder : Siswa siswi SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2 yang ditunjuk sebagai kader tiwisada : Siswa siswi SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2, Guru SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2 serta Kader di Desa Benjor Identifikasi Masalah Kesehatan Tujuan Kegiatan Memberikan pengetahuan tentang pemeriksaan tajam penglihatan Memberikan pengetahuan cara perawatan luka yang baik dan benar : Sabtu : 23 Februari 2013 : 08.00 10.30 : SDN 1 dan SDN 2 Benjor :

52

Memberikan contoh cara memeriksan tajam penglihatan danmerawat luka yang baik dan benar. Membina Kader tiwisada di desa Benjor Materi 1. Penyuluhan dan simulasi cara memeriksa tajam penglihatan 2. Penyuluhan dan simulasi cara merawat luka yang benar Metode Penyuluhan oleh tenaga kesehatan diberikan kepada calon kader tiwisada, siswa, guru dan kader desa Benjor menggunakan metode diskusi dan simulasi dengan menggunakan alat dan bahan yang tersedia. Media Media penyampaian: o Loud speaker o Buku Saku Alat & Bahan: o Air bersih mengalir o Snellen chart o Perban o Plester o Betadin Proses Peserta dikumpulkan di tempat yang telah disediakan Penyuluh menyampaikan materi cara merawat luka yang benar Peserta di bagi berpasang-pasangan dan diminta mempraktekkan cara merawat luka yang benar Penyuluh menyampaikan materi cara memeriksa tajam penglihatan kepada calon kader tiwisada Calon kader tiwisada mencari pasangan sebagai dokter dan pasien Calon kader berperan sebagai dokter dan memeriksa tajam penglihatan peserta yang lain yang berperan sebagai pasien secara berpasangpasangan Acara selesai

53

Indikator Keberhasilan Input: Kehadiran siswa siswi SD serta calon kader tiwisada sebagai peserta penyuluhan. Kehadiran tenaga kesehatan sebagai penyuluh. Ketersediaan media penyuluhan. Proses: Antusiasme dan keaktifan sasaran dalam proses diskusi. Kemampuan peserta menjawab pertanyaan tentang materi yang diajukan penyuluh. Kemampuan peserta dalam mempraktekkan materi yang diajukan penyuluh ketika simulasi. Kemampuan kader tiwisada dalam berperan sebagai dokter Outcome Peningkatan wawasan siswa siswi, guru maupun kader tentang kesehatan pribadi Peningkatan pengetahuan siswa siswi, guru maupun kader tentang cara memeriksa tajam penglihatan dan merawat luka Terbinanya kader tiwisada yang dapat meneruskan pengetahuan kepada siswa siswi yang lain 7.3 Pembentukan UKS SDN 1 dan SDN 2 Benjor Tema Waktu Kegiatan Hari Tanggal Waktu Tempat Sasaran Sasaran Primer Sasaran Sekunder : Siswa siswi SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2 : Guru SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2 serta Kader di Desa Benjor : Sabtu : 23 Februari 2013 : 10.30 - selesai : SDN 1 dan SDN 2 Benjor :

54

Identifikasi Masalah Kesehatan Tujuan Kegiatan Memberikan pengetahuan mengenai pengertian UKS. Memberikan pengetahuan mengenai manfaat UKS bagi siswa siswi sebagai sarana dalam pendidikan, pelayanan, dan pembinaan kesehatan Mensosialisasikan UKS kepada siswa siswi SDN 1 dan SDN 2 Benjor. Advokasi kepada perangkat sekolah agar mendukung kegiatan UKS Materi Apa manfaat dari UKS bagi siswa siswi terkait dengan kesehatan? Apa saja yang dilakukan oleh UKS Metode Penyuluhan oleh tenaga kesehatan diberikan kepada calon kader tiwisada, siswa, guru dan kader desa Benjor menggunakan metode diskusi. Media Media penyampaian: o Loud speaker o Buku Saku Proses Peserta dikumpulkan di tempat yang telah disediakan Penyuluh menyampaikan materi UKS Perkenalan kader tiwisada kepada sasaran Penyerahan buku pedoman perawatan kesehatan pribadi dan alat pemeriksaan tajam penglihatan Acara selesai Indikator Keberhasilan Input: Kehadiran siswa siswi SD serta kader tiwisada Kehadiran tenaga kesehatan sebagai penyuluh. Ketersediaan media penyuluhan. Proses: Antusiasme dan keaktifan sasaran.

55

Outcome Peningkatan wawasan siswa siswi, guru maupun kader tentang UKS Terbinanya kader tiwisada yang dapat meneruskan kegiatan UKS Terbentuknya UKS dan berjalannya kegiatan yang dilakukan oleh UKS

7.4 Sarasehan Kader dan Perangkat Desa Tema : mensana in corpore sano Waktu Kegiatan I: Hari Tanggal Waktu Tempat Sasaran : : : : : Kader dan perangkat desa Benjor, Malang

Waktu Kegiatan II: Hari Tanggal Waktu Tempat Sasaran : Selasa : 26 Februari 2013 : : Balai Desa Benjor : Kader dan perangkat desa Benjor, Malang

Identifikasi Masalah Kesehatan Tujuan Kegiatan Membahas permasalahan kesehatan di desa Benjor Penyampaian materi penyakit yang mudah menular Diskusi terbuka bagaimana cara pencegahan dan menyelesaikan penyakit tersebut Diskusi terbuka tentang pentingnya pembinaan kader tiwisada dan keberadaan UKS di SDN yang berada di desa Benjor Menjalin keakraban antara dokter muda dengan kader dan perangkat desa. Materi

56

Materi tentang penyakit yang mudah menular (influenza, scabies, varicella) Tentang UKS Manfaat dan pentingnya UKS Perlunya pembinaan Kader tiwisada di Desa Benjor Metode Open group discussion Media mikrofon, catatan kecil Indikator Keberhasilan Jangka Pendek: Para kader dan perangkat desa hadir minimal 80% Semua kader dan perangkat desa memiliki salinan penyakit mudah menular yang disampaikan. Ketersediaan media penyuluhan. Jangka menengah: Rencana pengadaan UKS di SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2 didukung oleh kader dan perangkat desa. Jangka panjang Pendirian UKS di desa Benjor Menurunnya rataan absensi di SDN Benjor 1 dan SDN Benjor 2.

57

BAB VIII EVALUASI KEGIATAN

8.1 Penyuluhan dan Pelatihan menjaga kesehatan pribadi Evaluasi Proses: K ehadiran seluruh peserta atau siswa kelas 3 & 4 di SDN 1 serta SDN 2 Benjor Ketersediaan alat dan bahan dalam simulasi Siswa siswi tampak antusias mengikuti penyampaian materi dan simulasi Evaluasi Impact: Kepahaman siswa siswi terhadap materi yang diberikan Kemampuan kader tiwisada dalam membimbing peserta lain dalam simulasi Evaluasi outcome : Diadakannya acara cuci tangan dan sikat gigi bersama secara rutin setiap minggu Daya ingat siswa siswi dengan cara cuci tangan dan sikat gigi (dievaluasi 3 bulan kemudian) 8.2 Pembinaan Kader Tiwisada Evaluasi Proses: K ehadiran seluruh peserta atau siswa kelas 3 & 4 di SDN 1 serta SDN 2 Benjor Ketersediaan alat dan bahan dalam simulasi

58

Siswa siswi tampak antusias mengikuti penyampaian materi dan simulasi Evaluasi Impact: Kepahaman siswa siswi terhadap materi yang diberikan Kemampuan kader tiwisada dalam mengulang cara rawat luka Kemampuan kader tiwisada dalam mengulang dan memeriksa sebagai dokter Evaluasi outcome : Adanya screening dari pihak sekolah terhadap tajam penglihatan siswa siswi Daya ingat siswa siswi dengan cara memeriksa tajam penglihatan dan merawat luka (dievaluasi 3 bulan kemudian)

8.3 Pembentukan UKS SDN 1 dan SDN 2 Benjor Impact: Kehadiran para kader dan lansia sebagai peserta penyuluhan sejumlah 170 orang. Peningkatan wawasan lansia maupun kader tentang posyandu lansia Peningkatan pengetahuan lansia maupun kader tentang manfaat yang didapatkan oleh lansia dengan adanya posyandu lansia Peningkatan pengetahuan lansia maupun kader tentang penggunaan KMS dan manfaatnya Peningkatan pengetahuan lansia tentang jadwal diadakannya posyandu lansia dan pelayanan apa saja yang bisa didapat dari posyandu lansia. Proses: Antusiasme dan keaktifan peserta dalam penyuluhan. Materi yang disampaikan berjalan lancar Kerjasama dari para kader untuk mengkondisikan para lansia Outcome Peningkatan kunjungan posyandu lansia.(dievaluasi tiap bulan) Peningkatan screening terhadap penyakit-penyakit pada lansia. 8.4 Sarasehan Kader dan Perangkat Desa Impact:

59

Kehadiran 90% kader dan perangkat desa Pemahaman para kader dan perangkat desa mengenai kendala dan cara mengatasi pada posyandu lansia. Proses: Para kader dan perangkat desa tampak antusias mengikuti penjelasan dari dokter muda Para kader dan perangkat desa aktif bertanya dan memberikan tanggapan pada sesi diskusi, dan berjanji segera mensosialisasikan ke para warga Outcome Perwujudan pendirian posyandu lansia mandiri

60

BAB IX PEMBAHASAN

9.1 Intervensi Lansia Data primer permasalahan kesehatan di desa duwet krajan kami dapatkan melalui data primer dan data sekunder. Data primer kami dapatkan dari kuisioner yang langsung dibagikan kepada para lansia yang dibagi secara random. Data sekunder kami dapatkan dari data kunjungan lansia ke pusat kesehatan lansia setempat, yaitu di perawat desa. Berdasarkan hasil survey kami, melalui data primer dan sekunder terdapat tiga penyakit terbanyak yang dialami para lansia desa duwet krajan. Selanjutnya, melalui teknik MSF (magnitude Feasibility ) kami dapatkan bahwa myalgia merupakan prioritas kesehatan utama pada para lansia. Karena itu diagnosa komunitas kami mengarah ke penyakit tersebut, beserta strategi intervensinya. Intervensi besar kami dirangkai dalam satu tema besar yaitu SATE LANSIA, merupakan singkatan dari Sapu Jagad Sehat Lansia. Di dalam acara ini, terdapat 5 acara inti, yaitu senam lansia, pembukaan posyandu lansia mandiri, penyuluhan kesehatan seputar myalgia, sosialisasi tas anti pegal, roleplay myalgia, dan pemeriksaan dan pengobatan gratis lansia. Total undangan yang kami sebarkan adalah sejumlah 200 lembar. Undangan tersebar ke semua dusun. Acara dimulai dari jam 07.00 dan beakhir jam 13.00, bertempat di rumah pak kepala desa. Dalam pengadaannya, acara ini juga dibantu oleh kader-kader desa duwet krajan. Rangkaian promosi kesehatan ini diawali dengan senam lansia. Prosesnya adalah para lansia berkumpul di halaman rumah pak kepala desa melakukan senam dengan instruktur dari para dokter muda. Senam ini bertujuan untuk mengajarkan kepada para lansia bagaimana cara menghilangkan

61

ketegangan dan kekakuan otot, sehingga otot tidak terasa pegal dan kaku. Para lansia tampak aktif mengikuti gerakan dari para dokter muda, meskipun sesekali mereka istirahat karena merasa lelah. Promosi kesehatan dilanjutkan dengan penyuluhan tentang posyandu lansia. Berdasar survey yang kami lakukan sebelumnya, posyandu lansia telah berdiri di ketiga dusun, namun yang berdiri secara mandiri hanya di dusun swaru. Sedangkan di dusun duwet krajan dan dusun tosari, posyandu lansia bergabung pengadaannya dengan posyandu balita. Survey kami menunjukkan, data kunjungan posyandu lansia hanya sedikit, kurang dari 10% jumlah total lansia tiap dusun. Setelah kami analisis, sebagian besar lansia tidak hadir karena tidak tahu ada posyandu lansia. Karena itu, promosi kesehatan kami juga bertujuan untuk memisahkan antara posyandu lansia dengan posyandu balita. Prosesi pemisahan dilambangkan dengan pemotongan pita, yang dilanjutkan dengan penyerahan seperangkat alat kesehatan untuk eksekusi posyandu lansia pada nantinya. Kegiatan posyandu ini juga kami sosialisasikan kepada para lansia yang hadir. Promosi kesehatan selanjutnya adalah penyuluhan tentang myalgia. Berdasar survey, salah satu faktor resiko terbesar penyebab tingginya angka myalgia di desa duwet krajan adalah lifestyle cara membawa barang yang salah, serta barang bawaan yang terlalu berat. Kedua hal tersebut berkaitan dengan ergonomitas kerja. Karena itu, materi yang kami bawakan berupa ergonomi dan penerapannya. Berdasar teori ergonomi, beban maksimum yang diperkenankan dibawa sehingga tidak menimbulkan kecelakaan kerja adalah sebagai berikut:

JENIS

DEWASA PRIA (KG) WANITA (kg) 15 10

TENAGA KERJA MUDA Pria (kg) 15 10-15 Wanita (kg) 10-12 6-9

Sekali-sekali Terus menerus

40 15-18

Selain beban maksimal yang diperkenankan, cara membawa barang juga menjadi perhatian kami. Ketika salah satu lansia diminta memperagakan cara

62

mengambil barang yang benar, sebagian besar tidak tahu atau salah. Menurut teori ergonomitas, cara mengambil barang yang benar agar tidak menimbulkan resiko nyeri adalah seperti gambar berikut:

Di sesi penyuluhan ini, kami juga mempromosikan sebuah desain tas baru, yang bisa menjadi solusi untuk membawa barang-barang berat. Tas ini kami namakan tas tegal, kepanjangan tas anti pegal. Tas ini didesain dengan ruang yang besar, sehingga bisa untuk membawa barang-barang banyak, serta dengan prinsip-prinsip tas ergonomis. Bahan-bahannya bisa dibeli sendiri dengan harga murah dan bisa dibuat sendiri oleh para lansia. Dengan tas ini, diharapkan para lansia tidak lagi membawa barang dengan cara yang salah sehingga mengurangi angka kejadian myalgia. Selain teori-teori tentang ergonomi dan prakteknya, kami juga memperkenalkan makanan-makanan yang bisa mengurangi myalgia seperti pisang dan lidah buaya. Makanan-makanan ini dikenal tinggi potassium. Setelah penyampaian oleh dokter muda, penyuluhan dilanjutkan oleh penyampaian dari dr chusnul chuluq MPH tentang penyakitpenyakit yang biasa menyerang lansia, faktor-faktor resiko dan cara penanganannya. Sesi promosi kesehatan selanjutnya adalah roleplay. Permainan nya berupa ular tangga, yang dimainkan oleh 3 tim. Setiap kotak mengandung pertanyaan-pertanyaan seputar kesehatan secara umum, serta materi yang telah disampaikan sebelumnya. Setiap jawaban benar akan diberikan reward berupa melanjutkan permainan, dan bila salah akan diberikan hukuman berupa menyanyikan lagu.

63

Sesi promosi kesehatan tereakhir adalah pemeriksaan dan pengobatan gratis. Tujuan pengobatan gratis ini adalah untuk skrening masalah kesehatan Lansia desa Duwet Malang, memberikan upaya kesehatan sekunder kepada Lansia desa Duwet Malang, memberikan edukasi singkat mengenai cara pencegahan dan mencegah keparahan penyakit yang diderita Lansia Desa Duwet Malang, serta meningkatkan kesadaran akan penggunaan fasilitas kesehatan desa kepada Lansia Desa Duwet Malang. Dengan menggunakan metode UKP (Upaya Kesehatan Perorangan) konvensional dengan melibatkan kader, serta tenaga medis desa Duwet Krajan Malang. Dari 300 undangan yang kami sebar hadir 160 lansia, yang kemudian kami periksa, pengobatan dasar penyakit, dan pendataan dari setiap permasalahan kesehatan yang di alami para lansia. Sehingga didapatkan data mengenai permasalahan kesehatan di desa Duwet Krajan Malang.

9.2 Intervensi Kader Posyandu lansia di desa duwet krajan telah berdiri sejak beberapa bulan yang lalu. Namun, dalam pelaksanaannya posyandu lansia masih berdampingan dengan posyandu balita. Kegiatan yang dilakukan sebagian besar masih untuk posyandu balita, sedangkan untuk posyandu lansia sendiri para kader masih kabur dalam pelaksanaannya. Dengan pemisahan posyandu lansia dengan balita, atau dengan kata lain posyandu lansia berdiri sendiri, maka dibutuhkan pencerdasan kader dalam kaitannya dengan kesehatan lansia. Sehingga nantinya, peran kader akan sangat penting dalam beberapa tindakan preventif primer terhadap penyakit-penyakit terbanyak pada lansia. Karena itu, salah satu intervensi kami untuk membantu pendirian posyandu lansia adalah dengan memberikan sebuah buku pedoman pelaksanaan posyandu lansia. Buku pedoman ini berisi tentang pelaksanaan posyandu, mulai dari struktur keorganisasian, kegiatan-kegiatan posyandu, materi yang bisa disampaikan dalam penyuluhan, dan lain-lain. Harapan kami dengan adanya buku ini, para kader lansia bisa lebih aktif dalam promosi kesehatan terhadap lansia, dan nantinya akan menurunkan angka kesakitan pada lansia. Pemberian buku ini

64

kami sertakan juga bagan-bagan dan beberapa poster lansia untuk membantu pada penyuluhan. Selain pada pencerdasan kader, salah satu masalah yang kami coba berikan solusi adalah pada keuangan. Disini, kami menawarkan sebuah sistem asuransi dari warga desa dan untuk warga desa, yang diberi nama ASMADES (Asuransi Masuk Desa). Asuransi ini nantinya akan digunakan untuk pengeluaran kesehatan rutin, dan memberikan biaya untuk lansia yang sakit. Para perangkat desa dan kader tampak sangat antusias dengan sistem ini, dan menjanjikan kami untuk disampaikan ke warga desa dan melihat tanggapan dari para warga. Jika tanggapannya positif, maka sistem ini akan segera diberlakukan.dengan keuangan yang stabil dan mencukupi, ditambah kader yang cerdas dan terlatih, maka posyandu lansia akan siap untuk berdiri sendiri.

65

66

BAB X PENUTUP

10.1 Kesimpulan 1. Lansia adalah salah satu permasalahan utama di desa duwet krajan. 2. Kendala posyandu lansia pada keuangan, dan kegiatan kader. 3. Myalgia menempati angka tertinggi pada survey data penyakit sebesar 57%. 4. Intervensi dengan bentuk rangkaian acara penyuluhan, simulasi, pengobatan, dan pembukaan posyandu lansia mandiri. 10.2 Saran 1. Perangkat dan kader desa melakukan case finding terhadap kasuskasus yang terjadi pada lansia di desa duwet krajan sehingga data kesehatan lansia bisa lebih disempurnakan. 2. Pemberdayaan keluarga lansia terhadap gangguan kesehatan yang dialami lansia, sehingga keluarga ikut berperan aktif dalam membantu meningkatkan taraf kesehatan lansia 3. Mengajak kader-kader desa untuk berperan aktif dalam menghidupkan posyandu lansia dan membantu program-program untuk kesehatan lansia.

67