Anda di halaman 1dari 5

BAB VI PENGELOLAAN PELAYANAN KESEHATAN KEBIDANAN KOMUNITAS

Kebidanan dalam bahasa Inggris berasal dari kata midwife yang bersama wanita (mid = bersama, wife = wanita). Sementara dalam bahasa Yunani, cum-mater yang berarti berkaitan dengan wanita. Menurut Churchill, bidan adalah seorang petugas kesehatan yang terlatih secara formal ataupun tidak dan bukan seorang dokter, yang membantu kelahiran bayi, serta memberi perawatan maternal terkait. Bidan merupakan salah satu profesi tertua di dunia sejak adanya peradaban umat manusia. Seorang bidan professional bertanggung jawab dan bermitra dengan perempuan dalam memberikan dukungan, asuhan, serta konseling yang diperlukan selama kehamilan, persalinan, dan nifas; memfasilitasi kelahiran atas tanggung jawabnya sendiri; serta memberikan asuhan kepada bayi baru lahir dan anak. Berikut beberapa definisi bidan: 1. Menurut Kepmenkes No. 369/Menkes/SK/III/2007 dan dalam definisi Ikatan Bidan

Indonesia (IBI), bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti program pendidikan kebidanan serta lulus ujian sesuai dengan persyaratan yang berlaku. 2. Menurut WHO, bidan adalah seorang yang telah diakui secara regular dalam program pendidikan kebidanan sebagaimana yang telah diakui skala yuridis dimana ia ditempatkan dan telah menyelesaikan pendidikan kebidanan serta memperoleh izin melaksanakan praktik kebidanan.

Kebidanan mencakup pengetahuan dan keterampilan yang bertujuan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan. Komunitas adalah kelompok orang yang berada di lokasi tertentu yang saling berinteraksi, sedangkan bidan komunitas adalah bidan yang bekerja melayani keluarga dan masyarakat di wilayah tertentu. Pengelolaan kebidanan komunitas mencakup kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi, serta pencatatan dan pelaporan. A. Perencanaan Kegiatan kebidanan komunitas akan terlaksana dengan baik dan member hasil yang sesuai dengan yang diharapkan jika berdasarkan perencanaan. Perencanaan adalah proses

yang menggambarkan keinginan untuk mencapai tujuan tertentu melalui kegiatan dengan mengorganisasikan dan mendayagunakan sumber daya yang tersedia. Proses penyusunan rencana terdiri atas langkah-langkah penentuan tujuan, strategi, kegiatan, sumber daya, pelaksanaan, dan evaluasi. Dalam menentukan prioritas masalah, perlu diperhatikan besar, luas, dampak dan tingkat kemudahan mengatasi masalah tersebut. Langkah menentukan strategi adalah menentukan arah pelaksanaan kegiatan untuk mencapai tujuan. Berdasarkan kegiatan pokok disusun program yang mencakup hal-hal berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. Aktivitas dengan target yang akan dicapai. Tujuan sasaran yang akan dicapai. Aktivitas yang dilakukan. Tempat pelaksanaan. Waktu dan penjadwalan pelaksanaan. Pelaksana yang bertanggung jawab. Sumber daya yang juga perlu ditentukan adalah tenaga, sarana dan fasilitas, dana manajemen, serta informasi B. Pengorganisasian Setiap kegiatan yang diarahkan kepada ibu dan anak dalam kaitan dengan kehamilan dan persalinan, keluarga berencana, serta anak balita merupakan kegiatan terpadu di dalam kebidanan komunitas. Yang termasuk pengorganisasian tempat kebidanan komunitas dilaksanakan adalah puskesmas, lembaga ketahanan masyarakat desa (LKMD) di seksi 7 dan 8 dengan bidan menjadi anggotanya. Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) merupakan gerakan pembangunan masyarakat yang tumbuh dari masyarakat sendiri dengan wanita sebagai motor penggeraknya. Kelompok dasawisma adalah salah satu bentuk gerakan pembangunan masyarakat yang dibentuk melalui kegiatan PKK. Perencanaan harus dilakukan secara matang sampai dengan tahap evaluasi. Penyusunan rencana evaluasi bertujuan memudahkan pelaksanaan evaluasi jika kegiatan telah dilaksanakan. Langkah awal membuat rencana evaluasi adalah bergantung pada tujuan program atau kegiatan yang dievaluasi.

C. Pencatatan dan Pelaporan Pencatatan Pencatatan adalah kegiatan atau proses pendokumentasian suatu aktivitas dalam bentuk tulisan di atas kertas, file komputer, dan lain-lain dengan ilustrasi tulisan, grafik, gambar, dan suara. Untuk memudahkan pencacatan dapat menggunakan formulir standar yang telah ditetapkan dalam Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP). SP2TP adalah kegiatan pencatatan dan pelaporan data umum, sarana, tenaga dan upaya pelayanan kesehatan di puskesmas termasuk puskesmas pembantu, yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Kesehatan RI No.63/Menkes/SK/II/1981. Jenis formulir standar yang digunakan dalam pencatatan adalah rekam kesehatan keluarga, kartu rawat jalan, kartu indeks penyakit, kartu ibu, kartu anak, KMS Balita dan Anak Usia Sekolah, KMS Ibu Hamil, KMS Usia Lanjut, Register. Manfaat pencatatan adalah sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Memberi informasi tentang keadaan masalah/kegiatan. Sebagai bukti dari suatu kegiatan/peristiwa. Bahan proses belajar dan bahan penelitian. Sebagai pertanggungjawaban. Bahan pembuatan laporan. Perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Bukti hukum. Alat komunikasi dalam penyampaian pesan serta mengingatkan kegiatan peristiwa khusus.

Pelaporan Pelaporan adalah catatan yang memberikan informasi tentang kegiatan tertentu dan hasilnya disampaikan ke pihak yang berwenang terhadap kegiatan tersebut. Manfaat pelaporan, meliputi : 1. 2. 3. 4. Pertanggungjawaban otentik tentang pelaksanaan kegiatan, Memberi informasi terdokumentasi, Bahan bukti kegiatan, Bahan pelayanan,

5. 6.

Bahan penyusunan rencana dan evaluasi, serta Bahan untuk penelitian

Jenis laporan dibagi menjadi dua yaitu laporan insidensial, adalah laporan kejadian luar biasa atau darurat yang memerlukan pelayanan dan bantuan cepat. Sementara laporan berkala, misalnya laporan harian, mingguan, bulanan, triwulan, kuartalan, dan tahunan. Adapun mekanisme pelaporan, yaitu: 1. Tingkat Puskesmas a. Laporan dari puskesmas pembantu dan bidan di desa disampaikan ke pelaksana kegiatan di puskesmas. b. c. Pelaksana kegiatan merekapitulasi data yang dicatat. Hasil rekapitulasi dimasukkan ke formulir laporan untuk disampaikan kepada coordinator SP2TP d. Hasil rekapitulasi pelaksanaan kegiatan diolah dan dimanfaatkan untuk

meningkatkan kinerja kegiatan. 2. Tingkat Dari II a. Pengolahan data SP2TP di Dati II menggunakan perangkat lunak yang ditetapkan oleh Depkes. b. Laporan SP2TP dari puskesmas yang diterima Dinkes Dati II disampaikan kepada pelaksana SP2TP untuk direkapitulasi. c. Hasil rekapitulasi dikoreksi, diolah, serta dimanfaatkan sebagai bahan untuk umpan balik dan tindak lanjut untu meningkatkan kinerja program. d. Hasil rekapitulasi data setiap tiga bulan dibuat untuk dikirim ke Dinkes Dati I, Kanwil Depkes Propinsi, dan Departemen Kesehatan. 3. Tingkat Dati I a. Pengolahan dan pemanfaatan data SP2TP mempergunakan perangkat lunak sama dengan Dati II. b. c. Laporan dari Dinkes Dati II diteruskan ke pelaksana untuk direkapitulasi. Hasil rekapitulasi disampaikan ke pengelola program Dati I untuk diolah dan dimanfaatkan serta dilakukan tindak lanjut, bimbingan, dan pengendalian.

4.

Tingkat Pusat Hasil olahan yang dilaksanakan Ditjen Binkesmas paling lambat dua bulan setelah berakhir triwulan tersebut, kemudian disampaikan kepada pengelola program terkait dan pusat data kesehatan untuk dianalisis dan dimanfaatkan sebagai umpan balik, kemudian dikirimkan ke Kanwil Depkes Propinsi.

Anda mungkin juga menyukai