Anda di halaman 1dari 14

BAB IX TATA CARA PENGAJUAN TERMIJIN

A. Tinjauan Umum 1. Dalam pengurusan Termijn melibatkan beberapa pihak antara lain: a. Pihak I adalah Pihak yang memberikan pekerjaan kepada Pihak II dan sekaligus sebagai Pihak yang mengajukan termijn (tagihan pembayaran) kepada Pihak III berdasarkan permohonan pembayaran termijn dari pihak II.

b. Pihak II (pemborong/kontraktor) adalah Pihak yang melaksanakan pekerjaan sekaligus sebagai pihak yang mengajukan pembayaran termijn (tagihan pembayaran) kepada Pihak I atas apa yang telah dikerjakan. c. Pihak III (Bendahara Umum) adalah Pihak yang memerintahkan kepada Pihak IV (Bank) untuk melakukan pembayaran termijn (tagihan pembayaran) berdasarkan pengajuan pembayaran termijn dari Pihak I. Pihak IV (Bank) adalah Pihak yang membayarkan termijn berupa uang tunai atau masuk rekening Perusahaan kepada Pihak II atas perintah Pihak III.

d.

2.

Pengambilan angsuran pembayaran secara berangsur-angsur sesuai prestasi yang dicapai oleh kontraktor dan diatur sebagai berikut : a. Tanpa uang muka a.1. Pembayaran termijn kesatu sebesar 25% dari harga borongan jika pekerjaan mencapai 30% a.2. Pembayaran termijn kedua sebesar 25% dari harga borongan bilamana pekerjaan sudah mencapai 55%
109

a.3. Pembayaran angsuran ke tiga sebesar 25% dari harga borongan bila pekerjaan mencapai 80% a.4. Pembayaran angsuran ke empat sebesar 20% bilamana pekerjaan sudah diterimakan untuk pertama kalinya serta dapat diterima baik oleh Direksi.

a.5. Apabila serah terima dari kedua tidak dilakukan dalam 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal penyerahan pertama, maka Pejabat Pembuat Komitmen akan melakukan teguran terhadap pemborong untuk segera menyerahkan pekerjaan kedua kalinya, jika dalam 10 (sepuluh) hari tidak dilaksanakan Pejabat Pembuat Komitmen akan memblokir jaminan bank (jaminan pelaksanaan) tersebut yang diteruskan kekantor kas negara b. Dengan uang muka b.1. Pembayaran termijn kesatu sebesar 25% dari harga borongan jika pekerjaan sudah mencapai 30% dan dikurangi angsuran uang muka sebesar 25% dari uang muka b.2. Pembayaran termijn kedua sebesar 25% dari harga borongan jika pekerjaan sudah mencapai 55% dan dikurangi angsuran uang muka sebesar 25% dari uang muka b.3. Pembayaran termijn ketiga sebesar 25% dari harga borongan jika pekerjaan sudah mencapai 80% dan dikurangi angsuran uang muka sebesar dari uang muka b.4. Pembayaran termijn keempat sebesar 20% dari harga borongan jika pekerjaan sudah mencapai 100% dan dikurangi angsuran uang muka sebesar 25% dari uang muka serta pekerjaan sudah diserahkan untuk pertama kalinya dan dapat diterima baik oleh Pejabat Pembuat Komitmen

b.5. Pembayaran termijn kelima sebesar 5% jika batas waktu pemeliharaan telah berakhir dan pekerjaan sudah diserahkan

110

untuk yang kedua kalinya dan diterima baik oleh Pejabat Pembuat Komitmen b.6. Apabila serah terima tidak dilakukan dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal penyerahan pertama, maka Pejabat Pembuat Komitmen akan melakukan teguran terhadap pemborong untuk segera menyerahkan pekerjaan yang kedua kalinya, jika dalam 10 (sepuluh) hari tidak dilaksanakan pemimpin proyek akan memblokir jaminan bank (jaminan pelaksanaan) tersebut yang diteruskan ke Kantor Kas Negara. 3. Tiap pengajuan termijn harus dilengkapi : a. Surat Pertanggungjawaban Belanja ( SPTB). b. Daftar Rincian Permintaan Pembayaran. c. Surat Pernyataan LS d. Faktur Pajak dan SSP (PPN + PPh). e. Referensi Bank, Copy NPWP yang terbaru f. Jaminan Bank (Uang Muka dan Retensi). g. Ringkasan Kontrak h. Kwitansi/Bukti Pembayaran LS (bermeterai) i. BA Pembayaran j. Permohonan Pembayaran k. Persetujuan Pembayaran. l. Kontrak/SPK dan Addendum m. BA kemajuan Pekerjaan (BA Prestasi) n. BA PHO/FHO o. BA Serah terima Barang/Pekerjaan (bermeterai) B. Tata cara Pengurusan Termijn
111

Pengurusan Termijn 1 (Pertama): 1. Pihak II membuat Surat Permohonan Pembayaran Termijn I yang ditujukan kepada Pihak I (Pengguna Anggaran). 2. Surat Permohonan Pembayaran Termijn I, dilampirkan hal-hal sebagai berikut: a. Laporan Prestasi Pekerjaan Fisik yaitu berupa Laporan Harian, Laporan Mingguan dan Laporan Kemajuan Pekerjaan. b. Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan. 3. Berita Acara Pembayaran Termijn I Pekerjaan Fisik, berisi tentang: a. Menerangkan bahwa pada hari, tanggal, bulan dan tahun tersebut dapat dilaksanakan Pembayaran Termijn I oleh Pihak I (Pejabat Pembuat Komitmen) kepada Pihak II. b. Menerangkan tentang data dari Pihak I (Pejabat Pembuat Komitmen), berupa Nama, Jabatan, Alamat.

c. Menerangkan tentang data dari Pihak II (Nama, Jabatan, Alamat). d. Pernyataan telah mengadakan Pemeriksaan dan Penilaian atas hasil pekerjaan Pihak II, untuk : - Program - Kegiatan - Pekerjaan - Lokasi - Tahun Anggaran - Kontraktor Pelaksana Alamat
112

: . : : : : .. : Nama Kontraktor dan

- Surat Perjanjian Kerja (Kontrak) - Nilai Pekerjaan (Kontrak) - Waktu Pekerjaan e.

: Nama dan Tanggal : .. : ..

Menerangkan tentang jumlah yang harus dibayarkan oleh Pihak I (Pejabat Pembuat Komitmen) kepada Pihak II Berita Acara Pembayaran Termijn I Pekerjaan Fisik ini dibuat oleh Pihak I (Pejabat Pembuat Komitmen) dan ditanda tangani serta distempel oleh Pihak I (Pejabat Pembuat Komitmen) dan Pihak II serta diketahui oleh Pihak I (Pengguna Anggaran) Berita Acara ini dibuat dalam rangkap secukupnya. Pihak II membuat Faktur Pajak Standart, yang berisi : a. Nomor Seri Faktur Pajak Pihak II b. Identitas Pihak II sebagai Pengusaha Kena Pajak (PKP) c. Identitas Pihak I (Nama Instansi) sebagai Pembeli Barang Kena Pajak/Penerima Jasa Kena Pajak d. Menerangkan perihal pembayaran Termijn I (25% dari nilai kontrak dan dikurangi 25% dari uang muka) e. Jumlah nominal pembayaran Termijn I (25% dari nilai kontrak dan dikurangi 25% dari uang muka) f. Dasar Pengenaan Pajak (DPP) didapat dari [(100/110) x Nilai Kontrak] g. h. II Pajak Pertambahan Nilai (PPN) didapat dari 10% x DPP Faktur Pajak Standar ini ditandatangani dan berstempel Pihak

f.

g. 4.

113

i. Faktur Pajak Standar ini dibuat dalam rangkap 3 (tiga), dengan rincian : - Lembar 1 (satu) untuk Pihak I/Pemegang Kas - Lembar 2 (dua) untuk Pihak II - Lembar 3 (tiga) untuk Kantor Pelayanan Pajak (KPP) setempat 5. Pihak II membuat Pertambahan Nilai Surat Setoran Pajak (PPN), yang berisi : (SSP) tentang Pajak

a. Lokasi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) b. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pihak II c. Nomor Wajib Pajak/Pihak II d. Alamat Wajib Pajak/Pihak II e. MAP/Kode Jenis Pajak (untuk PPN memakai 411211) f. Kode Jenis Setoran (100) g. Uraian Pembayaran h. Masa Pajak (diisi bulan yang sesuai) i. Tahun Pajak (diisi tahun yang sesuai) j. Jumlah Pembayaran (diisi dengan rupiah penuh/angka), dengan ketentuan (10% x DPP) k. Terbilang (huruf dari jumlah pembayaran) l. PPN ini ditanda tangani dan berstempel Pihak II m. PPN ini dibuat dalam rangkap 5 (lima), dengan rincian :
114

- Lembar 1 (satu) untuk Arsip Wajib Pajak/Pihak II - Lembar 2 (dua) untuk KPP melalui KPPN/Pihak IV/Bank - Lembar 3 (tiga) untuk dilaporkan Wajib Pajak/Pihak II ke KPP - Lembar 4 (empat) untuk Bank Persepsi/Kantor Pos dan Giro - Lembai 5 (lima) untuk Arsip Wajib Pungu/Pihak Lain/Pihak I 6. Pihak II membuat Surat Setoran Pajak (SSP) tentang Pajak Penghasilan (PPh) pasal 23, yang berisi : a. Lokasi Kantor Pelayanan Pajak (KPP) b. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) Pihak II c. Nama Wajib Pajak/Pihak II d. Alamat Wajib Pajak/Pihak II e. MAP/Kode Jenis Pajak (untuk PPh Pasal 23 memakai 4111211) f. Kode Jenis Setoran (100) g. Uraian Pembayaran h. Masa Pajak (diisi bulan yang sesuai) i. Tahun Pajak (diisi tahun yang sesuai) j. Jumlah Pembayaran (diisi dengan rupiah penuh/angka), dengan ketentuan (2% x DPP) k. Terbilang (huruf dari jumlah pembayaran) l. PPh Pasal 23 ini ditanda tangani dan berstempel Pihak II h. PPh Pasal 23 ini dibuat dalam rangkap 5 (lima), dengan rincian :
115

- Lembar 1 (satu) untuk Arsip Wajib Pajak/Pihak II - Lembar 2 (dua) untuk KPP melalui KPPN/Pihak IV/Bank - Lembar 3 (tiga) untuk dilaporkan Wajib Pajak/Pihak II ke KPP - Lembar 4 (empat) untuk Bank Persepsi/Kantor Pos dan Giro - Lembai 5 (lima) untuk Arsip Wajib Pungu/Pihak Lain/Pihak I 7. Pihak II membuat Kwitansi yang berisi tentang : a. Pembayaran Termijn I dari Pihak I b. Jumlah Pembayaran Trrmijn I yang diterima oleh Pihak II dari Pihak I (Nama Instansi) c. Menerangkan tentang pembayaran tersebut diperolehdari tagihan pembayaran atas selesainya pekerjaan Pihak II 8. Pihak I (Pemegang Kas) membuat Tanda Bukti Penerimaan yang berisi: a. Jumlah Pembayaran Termijn I b. Menerangkan pembayaran untuk perihal c. Jumlah bersih penerimaan Pihak II, didapat dari [Jumlah Kotor (PPN+PPh Pasal 23)]. d. Tanda Bukti Penerimaan ini dibuat dalam rangkap 4 (empat), dengan rincian : - Lembar I (satu) untuk Pihak I. - Lembar 2 (dua) dan 3 (tiga) untuk Pihak III (Bendahara Umum). - Lembar 4 (empat) untuk Pihak II.
116

9.

Pihak I (Pengguna Anggaran) membuat Surat Pernyataan untuk belanja operasi dan pemeliharaan, yang berisi tentang : a. Menerangkan tentang jumlah uang yang harus dibayarkan. b. Menerangkan bahwa jumlah uang tersebut tidak akan digunakan untuk pengeluaran pengeluaran yang tidak berlaku. c. Menerangkan bahwa jumlah uang tersebut akan dipertanggung jawabkan oleh Pihak I (Pengguna Anggaran), selambat-lambatnya tanggal 10 bulan berikutnya. d. Surat Pernyataan untuk belanja operasi dan pemeliharaan ini ditanda tangani dan berstempel Pihak I (Pengguna Anggaran). Surat Pernyataan untuk belanja operasi dan pemeliharaan ini dibuat dalam rangkap 2 (dua), dengan rincian : - Lembar 1 (satu) untuk Pihak III (Bendahara Umum). - Lembar 2 (dua) untuk Arsip Pihak I (Pengguna Anggaran).

e.

10.

Pihak I (Pemegang Kas) membuat Daftar Pengantar Surat Permintaan Pembayaran (SPP) yang ditujukan kepada Pihak III (Bendahara Umum), yang berisi tentang : a. Menerangkan tentang jumlah uang yang harus dibayarkan. b. Menerangkan atas nama Pemegang Kas c. Menerangkan Rekening pada Bank yang bersangkutan

d. Daftar Pengantar Surat Permintaan Pembayaran (SPP) ini ditanda tangani dan berstempel Pemegang Kas. e. Daftar Pengantar Surat Permintaan Pembayaran (SPP) ini dibuat dalam rangkap 2 (dua), dengan rincian : - Lembar 1 (satu) untuk Pihak III (Bendahara Umum).
117

- Lembar 2 (dua) untuk Arsip Pihak I (Pemegang Kas). 11. Pihak I (Pemegang Kas) membuat Daftar Pengantar Surat Permintaan Pembayaran (SPP) yang ditujukan kepada Pihak III (Bendahara Umum), yang berisi tentang : a. Menerangkan tentang Identitas Pihak I (Nama Instansi) b. Menerangkan tentang jumlah uang yang harus dibayarkan. c. Menerangkan atas nama Pemegang Kas d. Menerangkan rekening pada Bank yang bersangkutan e. Menerangkan perincian penggunaan pembayaran f. Surat Permintaan Pembayaran (SPP) ini ditanda tangani dan berstempel Pihak I dan Pemegang Kas g. Daftar Pengantar Surat Permintaan Pembayaran (SPP) ini dibuat dalam rangkap 2 (dua), dengan rincian : - Lembar 1 (satu) untuk Pihak III (Bendahara Umum). - Lembar 2 (dua) untuk Arsip Pihak I (Pemegang Kas) 12. Pihak I (Pemegang Kas) membuat Surat Permintaan Pembayaran (SPP) yang ditujukan kepada Pihak III (Bendahara Umum), yang berisi tentang : a. Menerangkan tentang Identitas Pihak I (Nama Instansi) b. Menerangkan tentang jumlah uang yang harus dibayarkan. c. Menerangkan atas nama Pemegang Kas d. Menerangkan rekening pada Bank yang bersangkutan e. Menerangkan perincian penggunaan pembayaran
118

f. Surat Permintaan Pembayaran (SPP) ini ditanda tangani dan berstempel Pihak I dan Pemegang Kas g. Daftar Pengantar Surat Permintaan Pembayaran (SPP) ini dibuat dalam rangkap 2 (dua), dengan rincian : - Lembar 1 (satu) untuk Pihak III (Bendahara Umum). - Lembar 2 (dua) untuk Arsip Pihak I (Pemegang Kas) 13. Pihak I/Pemgang Kas membuat Pengendalian Anggaran Belanja (PAB), yang berisi tentang : a. Kode Rekening Pihak I b. Uraian Pembayaran c. Jumlah Surat Keputusan Otorisasi (SKO) d. Jumlah Anggaran e. Jumlah yang diminta sekarang f. Jumlah yang masih dapat dipergunakan g. Pengendalian Anggaran Belanja (PAB) ini ditanda tangani dan berstempel Pihak I dan Pemegang Saham h. Pengendalian Anggaran Belanja (PAB) ini dibuat dalam rangkap 2 (dua), dengan rincian : - Lembar 1 (satu) untuk Pihak III (Bendahara Umum). - Lembar 2 (dua) untuk Arsip Pihak I (Pemegang Kas). 14. Pihak II mengajukan berkas-berkas (poin a,b, g,h,i,j,k dan Dokumen Kontrak) kepada Pihak III (Bendahara Umum). 15. Pihak III (Bendahara Umum) membuat Surat Perintah Membayar (SPM), yang berisi :
119

a. Identitas Pihak I (Nama Instansi) b. Identitas Pihak II (Nama Perusahaan) c. Dasar Pembayaran (berdasarkan SKO)

d. Perihal Pembayaran e. Informasi tentang besarnya Pajak yang harus dibayar yaitu PPN dan PPh SPM yang harus dibayarkan SPM ini ditanda tangani dan berstempel Pihak I (Pengguna Anggaran), Pihak II dan Pihak III

f. g.

h. SPM ini dibuat dalam rangkap 4 (empat) dengan rincian : - Lembar 1 (satu) untuk Pihak III (Bendahara Umum) - Lembar 2 (dua) untuk Pihak IV (Bank) - Lembar 3 (tiga) untuk Pihak I (Pengguna Anggaran) - Lembar 4 (empat) untuk Pihak II 16. Pihak III (Bendahara Umum) membuat Surat Pemindah Bukuan, yang berisi : a. Identitas Pihak II (Nama Perusahaan) b. Uraian pembayaran, yang berisi perintah agar dibayarkan dari rekening Pihak I (Pemegang Kas) kepada rekening Pihak II c. d. e. Tanggal dan Nomor SPM Jumlah yang harus dibayarkan Potongan, yang berisi : PPN dan PPh
120

f. g.

Jumlah bersih yang diterima Surat Pemindah Bukuan ini ditanda tangani dan berstempel Pihak III Surat Pemindah Bukuan ini dibuat dalam rangkap 4 (empat), dengan rincian sebagai berikut : - Lembar 1 (satu) untuk Pihak III (Bendahara Umum) - Lembar 2 (dua) untuk Pihak IV (Bank) - Lembar 3 (tiga) untuk Pihak I (Pengguna Anggaran) - Lembar 4 (empat) untuk Pihak II

h.

17. Pihak II mengajukan berkas e, f, n dan o kepada Pihak IV (Bank), untuk pencairan termijn a. Pihak IV akan langsung memotong termijn yang didapat oleh Pihak II dengan memotong PPN dan PPh sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

b. Untuk berkas PPN pada bagian penerimaan akan ditanda tangani dan distempel oleh Pihak IV sebagai bukti penerimaan atas pembayaran PPN. c. Untuk berkas PPN pada bagian penerimaan akan ditanda tangani dan distempel oleh Pihak IV sebagai bukti penerimaan atas pembayaran PPh. d. Setelah semua berkas dinyatakan sah maka Termijn I dapat dibayarkan Pihak IV kepada Pihak II Pengurusan Termijn II dan Termijn III sama dengan Termijn I Pengurusan Termijn IV

121

Pada pengurusan Termijn IV sama dengan Termijn I akan tetapi ditambah dengan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Pertama dan penyerahan Jaminan Pemeliharaan dari Pihak II ke Pihak I

Pencairan Jaminan Pemeliharaan Apabila masa pemeliharaan telah selesai, maka Pihak II dapat mengajukan Pencairan Jaminan Pemeliharaan, dibuktikan dengan : a. Surat Pernyataan telah dikerjakan perbaikan atas kerusakankerusakan bangunan b. Daftar Cheklist Pekerjaan c. Laporan Pekerjaan

d. Berita Acara Pemeriksaan Pekerjaan e. f. Berita Acara Selesainya Masa Pemeliharaan Berita Acara Serah Terima Pekerjaan Kedua

122