Anda di halaman 1dari 33

PRESENTASI KASUS TB PARU DENGAN HEMOPTISIS

Oleh: Adi heryadi 109103000008 Maharani 109103000054 Rahmatul fithri yanti 109103000019

Pembimbing: dr. Alvin Kosasih, Sp.P.

STASE PULMONOLOGI RUMAH SAKIT PARU DR. M. GOENAWAN PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2013

KATA PENGANTAR Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan karuniaNya kami dapat menyelesaikan makalah presentasi kasus yang berjudul TB paru dengan hemoptisis. Shalawat serta salam tak henti-hentinya mengalir kepada uswatun hasanah, Nabi Muhammad saw., berserta keluarga, sahabat,dan semoga kepada kita semua selaku umatnya hingga akhir zaman, amin. Penyusunan makalah ini tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, maka dari itu kami mengucapkan terima kasih kepada pihak yang telah membantu. Tak ada gading yang tak retak. Begitu pula dengan makalah ini. Kami merasa masih banyak kekurangan, karena itu segala kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini akan terbuka. Akhir kata, kami berharap makalah ini dapat bermanfaat, bagi pembaca umumnya dan bagi kami khususnya. kami terima dengan hati

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Jakarta, 09 Mei 2013

Penulis

DAFTAR ISI Kata pengantar ......................................................................................................................... 2 Daftar Isi................................................................................................................................... 3 BAB I STATUS PASIEN ...................................................................................................... 4 BAB II TINJAUAN PUSTAKA......................................................................................... 12 4.1 Tuberkulosis .................................................................................................................... 12 4.2 Hemoptisis ...................................................................................................................... 29 DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................................... 33

BAB I STATUS PASIEN I. IDENTITAS PASIEN Nama Jenis Kelamin Usia Agama Alamat Pendidikan terkahir Pekerjaan Status Pernikahan Pembiayaan II. ANAMNESIS Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tanggal 09 Mei 2013 a. Keluhan Utama Batuk darah sejak 2 hari SMRS : Tn. NIU : Laki - laki : 19 tahun : Islam : Bogor : SMA : Tidak bekerja : Belum menikah : Jamkesda

b. Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dibawa oleh keluarga dengan keluhan batuk darah sejak 2 hari SMRS. Batuk darah 10 kali total darah yang keluar 1 L. Darah yang keluar berwarna merah segar dan sebagian berupa gumpalangumpalan hitam dan bercampur dengan dahak. Batuk tidak keluar dari hidung, tidak keluar bersama bersin, tidak keluar bersama makanan dan tidak keluar dari anus. Pasien juga mengeluh sesak napas, sesak tidak dipengaruhi posisi. Sesak semakin berat saat berktifitas dan agak membaik dengan

beristirahat. Sesak tidak disertai nyeri dada yang menjalar. Pasien juga mengeluh mual, namun tidak muntah, nyeri ulu hati (+) BAK normal tidak nyeri dan berdarah. BAB normal 1x per hari, warna kuning, tidak encer dan tidak ada darah. Sejak 3 bulan SMRS pasien juga mengeluhkan batuk. Batuk berdahak dengan dahak berwarna putih kadng berwarna kuning. Pasien juga merasa berat badan semakin turun, pasien tidak ingat berapa kilo berat badannya turun, namun pasien dan keluarga merasa tubuh pasien semakin kurus dan baju menjadi longgar. Pasien juga mengeluh nafsu makan turun, demam tidak terlalu tinggi dan sering berkeringat malam. 3 jam SMRS keadaan pasien dirasa semakin memburuk dan semakin lemah sehingga pasien dibawa ke IGD RSP Goenawan. Saat di IGD pasien diinfus dan diberi obat untuk mengurangi mual, pemantauan tanda vital dan cek darah lengkap sebelum dibawa ke ruang rawat inap. Saat ini pasien sudah tidak batuk darah lagi, sesak semakin berkurang,

c. Riwayat Penyakit Dahulu Pasien tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Riwayat minum obat TB disangkal. Riwayat sakit gula (-), darah tinggi (-), asma (-), alergi (-), sakit kronis lainnya (-) d. Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada keluarga yang sakit seperti pasien. Riwayat TB (-), sakit gula (-), darah tinggi (-), asma (-), alergi (-), sakit kronis lainnya (-)

e. Riwayat Sosial dan Kebiasaan Sejak selesai sekolah SMA pasien tidak bekerja. Dahulu pasien sekolah di pesantren dan teman pasien banyak yang batuk-batuk dan tidak diobati. Pasien merokok 10 tahun, bisa habis 1 bungkus perhari kadang jenis kretek kadang jenis filter. Riwayat mengkonsumsi alkohol, narkoba dan promiskuitas di sangkal.

III. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik di ruangan tanggal 09 Mei 2013. Keadaan umum Kesadaran Tanda vital Tekanan Darah Nadi Pernapasan Suhu Tinggi badan Berat badan BMI : 100/70 mmHg : 84 x/menit : 24 x/menit : 37,0c : 163 cm : 40 kg : 15.06 : Tampak sakit sedang : Kompos mentis

Kepala

: Normosefal, rambut hitam, distribusi merata, tidak mudah dicabut.

Mata

: Konjungtiva anemis (+/+), sklera ikterik (-/-), pupil bulat isokor +/+, refleks cahaya langsung +/+, refleks cahaya tak langsung +/+

Telinga Hidung

: Normotia +/+, nyeri tekan tragus -/- , serumen -/: Deviasi septum -/-, sekret +/+, konka hiperemis -/-

Gigi dan Mulut : Karies gigi (+), lidah tidak kotor. Tenggorok Leher : Faring tidak hiperemis, tonsil T1-T1 : Trakea lurus ditengah, tidak teraba pembesaran tiroid, JVP 5-2 cmH2O, KGB tidak teraba membesar Thoraks Depan : Paru Inspeksi : Bentuk dada normal, bekas luka (-), venektasi (-), spider

nevi (-), benjolan (-), perubahan warna (-), pergerakan dada simetris saat statis dan dinamis, pelebaran sela iga, penggunaan otot bantu pernapasan Barrel chest (+)

Palpasi

: Vokal fremitus simetris kanan dan kiri, tidak terdapat nyeri tekan, krepitasi (-)

Perkusi Auskultasi Jantung Inspeksi Palpasi

: Sonor di kedua lapang paru kanan dan kiri : Suara napas vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki +/+

: Pulsasi ictus cordis tidak terihat : Pulsasi ictus cordis teraba 2 jari medial dari linea

Perkusi

midklavikula sinistra : Batas jantung kanan : ICS IV linea sternalis dextra

Batas jantung kiri : ICS V 2 jari medial linea Auskultasi midklavikula sinistra Pinggang jantung : ICS II linea parasternalis sinistra : BJ I, II normal, murmur (-), gallop(-) Thoraks Belakang : Paru Inspeksi : Bentuk dada normal, bekas luka (-), venektasi (-), spider

nevi (-), benjolan (-), perubahan warna (-), pergerakan dada simetris saat statis dan dinamis, pelebaran sela iga, penggunaan otot bantu pernapasan Barrel chest (+) Palpasi : Vokal fremitus simetris kanan dan kiri, tidak terdapat nyeri tekan, krepitasi (-) Perkusi Auskultasi : Sonor di kedua lapang paru kanan dan kiri : Suara napas vesikuler +/+, wheezing -/-, rhonki +/+

Abdomen Inspeksi : Datar, lemas, dinding perut sejajar dinding dada.

Palpasi Perkusi Auskultasi

: Supel, nyeri tekan (+), hepar dan lien tidak teraba. : Timpani, shifting dulness (-) : Bising usus (+) normal. CRT<3 detik

Ekstremitas Kulit

: Akral hangat, edema (-) : Sianosis (-)

IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG A. Laboratorium Pemeriksaan HEMATOLOGI Hemoglobin Hematokrit Leukosit Trombosit LED FUNGSI HATI SGOT SGPT 21 13 0-34/l 0-40/ul 10 g/dL 31% 11.250/ul 481.000/u 103 13,2-17,3 g/dl 33-45% 5.000-10.000/ul 150-450 rb/ul 2-30 7 mei 2013 Nilai Normal

FUNGSI GINJAL Ureum darah Kreatinin darah 27.2 0.72 20-40 mg/dl 0,6-1,5 mg/dl

DIABETES GDS 103 70-140 g/dl

B. Pemeriksaan rontgen thoraks

Interpretasi hasil foto : Kualitas foto baik identitas lengkap, foto simetris, kekerasan cukup Tulang-tulang dan jaringan lunak dinding dada tampak baik Sinis kostofrenikus tajam Diafragma normal Trakea di tengah Tampak fibroinfiltrat di lapangan atas kedua paru dengan konsolidasi inhomogen di lapangan atas paru kanan. CTR < 50%

V. Resume Laki-laki 19 tahun batuk darah sejak 2 hari SMRS. Batuk darah masif. Darah merah segar dan sebagian berupa gumpalan-gumpalan hitam bercampur dengan dahak. Sesak napas (+), tidak dipengaruhi posisi, semakin berat saat beraktifitas, agak membaik dengan beristirahat. Mual, nyeri ulu hati (+). Sejak 3
9

bulan SMRS batuk berdahak warna putih-kekuningan. Berat badan dan nafsu makan turun, demam tidak terlalu tinggi dan sering berkeringat malam. Pemeriksaan fisik : KU TSS, kesadaran CM, Tekanan Darah 100/70 mmHg, Nadi 84 x/menit, Pernapasan 24 x/menit, Suhu 37,0C, Tinggi badan 163 cm, Berat badan 40 kg, BMI 15.06. Konjungtiva anemis, auskultasi paru rhonki +/+ Pemeriksaan laboratorium : anemia, hematokrit , leukositosis, trombositosis, LED . Rontgen toraks : Tampak fibroinfiltrat di lapangan atas kedua paru dengan konsolidasi inhomogen di lapangan atas paru kanan

VI. DIAGNOSIS TB paru BTA? lesi luas kasus baru dengan hemoptysis

VII. Rencana Pemeriksaan Anjuran Pemeriksaan Anjuran : Pemeriksaan sputum SPS Elektrolit BT/CT

VIII. Tatalaksana Non-medikamentosa Jika batuk darah timbul lagi : 1. Tenangkan pasien 2. Awasi ABCD 3. Pimpin batuk efektif 4. Observasi 5. Cari sumber perdarahan 6. Cari penyebab Bed rest Tidak menahan batuk darah

10

Edukasi mengenai penyakit dan pengobatan Diet TKTP Periksakan keluarga pasien

Medikamentosa NaCl 0.9%/8 jam Rifampisin 1x450 mg INH 1x300 mg Pirazinamid 1x500 mg Etambutol 1x750 mg Ceftriaxone 1x1 gr Ranitidin 2x1 amp Transfusi darah bila Hb < 10 g/dl

IX. Prognosis Ad vitam Ad fungsionam Ad sanationam : dubia ad bonam : dubia ad bonam : dubia ad bonam

11

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 TUBERKULOSIS Tuberkulosis Paru di dunia semakin memburuk dengan jumlah kasus yang terus meningkat serta banyak yang tidak berhasil disembuhkan, terutama Negaranegara yang dikelompokkan dalam 22 negara dengan masalah Tuberkulosis Paru besar (high burden countries), sehingga pada tahun 1993 WHO/ Organisasi Kesehatan Dunia mencanangkan Tuberkulosis Paru sebagai salah satu kedaruratan dunia (global emergency). Indonesia termasuk dalam negara high burden countries. Berdasarkan laporan WHO tahun 2009, karena Indonesia tercatat sebagai negara yang memberikan konstribusi penderita TB nomor tiga terbesar di dunia setelah India dan Cina. Penyebab utama meningkatnya beban masalah TB antara lain adalah: 1. Kemiskinan pada berbagai kelompok masyarakat, seperti pada negara negara yangsedang berkembang. 2. Kegagalan program TB selama ini. Hal ini diakibatkan oleh: Tidak memadainya komitmen politik dan pendanaan Tidak memadainya organisasi pelayanan TB (kurang terakses oleh masyarakat, penemuan kasus /diagnosis yang tidak standar, obat tidak terjamin penyediaannya, tidak dilakukan pemantauan, pencatatan dan pelaporan yang standar, dan sebagainya) Tidak memadainya tatalaksana kasus (diagnosis dan paduan obat yang tidak standar, gagal menyembuhkan kasus yang telah didiagnosis) Salah persepsi terhadap manfaat dan efektifitas BCG Infrastruktur kesehatan yang buruk pada negara-negara yang mengalami krisis ekonomi atau pergolakan masyarakat. 3. Perubahan demografik karena meningkatnya penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan. 4. Dampak pandemi infeksi HIV.
12

Untuk menyikapi hal tersebut, pada tahun 1993, WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Upaya pemerintah dalam menanggulangi Tuberkulosis (TB), setiap tahun semakin menunjukan kemajuan. Menurut data Depkes terbaru tahun 2011, Indonesia saat ini menduduki peringkat ke 5. Data WHO Global Report yang dicantumkan pada Laporan Triwulan Sub Direktorat Penyakit TB tahun 2010 menyebutkan, estimasi kasus baru TB di Indonesia tahun 2006 adalah 275 kasus /100.000 penduduk /tahun dan pada tahun 2010 turun menjadi 244 kasus/100.000 penduduk/tahun. Pada tahun 2006, pelaksanaan pengendalian penyakit TB telah dapat menurunkan insiden kasus menular dari 130/100.000 penduduk (WHO-1995) menjadi 104/100.000 penduduk. Selain dengan angka insiden, keberhasilan program pengendalian TB dapat dengan melihat beberapa indikator program pengendalian TB yang antara lain angka penemuan kasus atau Case Detection Rate (CDR) dan angka keberhasilan pengobatan atau Succes Rate (SR) selama lima tahun terakhir. Untuk mengendalikan penyakit TB, pada awal tahun 1990-an WHO dan IUATLD telah mengembangkan strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai strategi DOTS (Directly observed Treatment Short-course) tersebut dan telah terbukti sebagai strategi penanggulangan yang secara ekonomis paling efektif (cost-efective). Penerapan strategi DOTS secara baik, disamping secara cepat merubah kasus menular menjadi tidak menular, juga mencegah berkembangnya MDR-TB. Fokus utama DOTS adalah penemuan dan penyembuhan pasien, prioritas diberikan kepada pasien TB tipe menular. Strategi ini akan memutuskan penularan TB dan dengan demikian menurunkan insidens TB di masyarakat. Menemukan dan menyembuhkan pasien merupakan cara terbaik dalam upaya pencegahan penularan TB. Suatu penelitian menyebutkan akan pentingnya peran dokter karena metode passive case detection dalam strategi DOTS. Tetapi, peran dari masyarakat sangatlah penting dalam mengenali gejala penyakit ini dan mengerti pentingnya penemuan kasus secara dini, yang dilanjutkan dengan tindakan

13

pencarian pengobatan dari mulai proses yang dilalui pasien dan petugas kesehatan. Penundaan oleh pasien dimulai dari munculnya gejala sampai kunjungan pertama ke fasilitas kesehatan. Sementara itu, penundaan oleh petugas kesehatan dimulai dari periode antara kunjungan pertama pasien sampai terdiagnosisnya pasien sebagai kasus TB. Penting sekali dilakukan program yang memperpendek periode penundaan ini karena deteksi dini dapat memberikan banyak sekali keuntungan terhadap kontrol TB. Sejak tahun 1995, program nasional penanggulangan TB mulai melaksanakan strategi DOTS dan menerapkannya pada Puskesmas secara bertahap. Sampai tahun 2000, hampir seluruh Puskesmas telah komitmen dan melaksanakan strategi DOTS yang diintegrasikan dalam pelayanan kesehatan dasar. Selanjutnya diperlukan suatu penelitian yang mencari tahu bagaimana suatu masyarakat berpartisipasi untuk memperbaiki program yang ada di Puskesmas tersebut.

2.1.1 DEFENISI TB Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman TB menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.

2.1.2 ETIOLOGI TB Penyakit TB disebabkan oleh bakteri Micobacterium tuberculosis. Bakteri ini berbentuk batang yang mengelompok (koloni) dan bersifat tahan asam sehingga dikenal juga sebagai Batang Tahan Asam (BTA). Mycobacterium tuberculosis menyebabkan TB dan merupakan patogen manusia yang sangat penting . Kuman ini non motil, tidak berspora, berbentuk batang yang tidak berkapsul dan tidak memproduksi toksin. Sebagian besar dinding kuman terdiri atas lipid, kemudian peptidoglikan dan arabinomannan. Lipid inilah yang membuat kuman lebihtahan terhadap asam (asam alkohol) sehingga bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat hidup dalam udara kering maupun dalam keadaan dingin, hal ini terjadi

14

karena kuman beradadalam sifat dormant. Sifat dormant inilah yang dapat menyebabkan penyakit tuberkulosis menjadi aktif lagi

2.1.3 PENULARAN TB Sumber penularan adalah pasien TB BTA positif. Pada waktu batuk atau bersin, pasien menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei). Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000 percikan dahak. Umumnya penularan terjadi dalam ruangan dimana percikan dahak berada dalam waktu yang lama. Ventilasi dapat mengurangi jumlah percikan, sementara sinar matahari langsung dapat membunuh kuman. Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil pemeriksaan dahak, makin menular pasien tersebut. Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. Risiko penularan Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan dahak. Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Risiko penularan setiap tahunnya di tunjukkan dengan Annual Risk of Tuberculosis Infection (ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI sebesar 1%, berarti 10 (sepuluh) orang diantara 1000 penduduk terinfeksi setiap tahun. Menurut WHO ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3%. Infeksi TB dibuktikan dengan perubahan reaksi tuberkulin negative menjadi positif. Risiko menjadi sakit TB Hanya sekitar 10% yang terinfeksi TB akan menjadi sakit TB. Dengan ARTI 1%, diperkirakan diantara 100.000 penduduk rata-rata terjadi 1000 terinfeksi TB dan 10% diantaranya (100 orang) akan menjadi sakit TB setiap tahun. Sekitar 50 diantaranya adalah pasien TB BTA positif. Faktor yang mempengaruhi kemungkinan seseorang menjadi pasien TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS dan malnutrisi (gizi buruk).

15

Infeksi HIV mengakibatkan kerusakan luas sistem daya tahan tubuh seluler (cellular immunity) dan merupakan faktor risiko paling kuat bagi yang terinfeksi TB untuk menjadi sakit TB (TB Aktif). Bila jumlah orang terinfeksi HIV meningkat, maka jumlah pasien TB akan meningkat, dengan demikian penularan TB di masyarakat akan meningkat pula.

2.1.4 PATOGENESIS TB Tuberkulosis Primer Kuman tuberkulosis yang masuk melalui saluran napas akan bersarang di jaringan paru sehingga akan terbentuk suatusarang pneumonik, yang disebut sarang primer atau afek primer. Sarang primer ini mungkin timbul di bagian mana sajadalam paru, berbeda dengan sarang reaktivasi. Dari sarang primer akan kelihatan peradangan saluran getah beningmenuju hilus (limfangitis lokal). Peradangan tersebut diikuti oleh pembesaran kelenjar getah bening di hilus (limfadenitisregional).Afek primer bersama-sama dengan limfangitis regional

16

dikenal sebagai kompleks primer. Kompleks primer iniakan mengalami salah satu nasib sebagai berikut : 1. Sembuh dengan tidak meninggalkan cacat sama sekali (restitution ad integrum) 2. Sembuh dengan meninggalkan sedikit bekas (antara lain sarang Ghon, garis fibrotik, sarang perkapuran di hilus) 3. Menyebar dengan cara : Perkontinuitatum, menyebar ke sekitarnya.Salah satu contoh adalah epituberkulosis, yaitu suatu kejadian penekanan bronkus, biasanya bronkus lobusmedius oleh kelenjar hilus yang membesar sehingga menimbulkan obstruksi pada saluran napas bersangkutan,dengan akibat atelektasis. Kuman tuberkulosis akan menjalar sepanjang bronkus yang tersumbat ini ke lobusyang atelektasis dan menimbulkan peradangan pada lobus yang atelektasis tersebut, yang dikenal sebagaiepituberkulosis. Penyebaran secara bronkogen, baik di paru bersangkutan maupun ke paru sebelahnya atau tertelan.Penyebaran secara hematogen dan limfogen.Penyebaran ini berkaitan dengan daya tahan tubuh, jumlah danvirulensi kuman. Sarang yang ditimbulkan dapat sembuh secara spontan, akan tetetapi bila tidak terdapat imunitiyang adekuat, penyebaran ini akan menimbulkan keadaan cukup gawat seperti tuberkulosis milier, meningitistuberkulosa, typhobacillosis Landouzy. Penyebaran ini juga dapat menimbulkan tuberkulosis pada alat tubuhlainnya, misalnya tulang, ginjal, anak ginjal, genitalia dan sebagainya. Komplikasi dan penyebaran ini mungkinberakhir dengan : 1. Sembuh dengan meninggalkan sekuele (misalnya pertumbuhan terbelakang pada anak setelah mendapatensefalomeningitis, tuberkuloma ) atau 2. Meninggal. Semua kejadian diatas adalah perjalanan tuberkulosis primer

Tuberkulosis Pasca-Primer Dari tuberkulosis primer ini akan muncul bertahun-tahun kemudian tuberkulosis post-primer, biasanya pada usia 15-40 tahun. Tuberkulosis post primer mempunyai nama yang bermacam macam yaitu tuberkulosis bentuk dewasa,localized tuberculosis, tuberkulosis menahun, dan sebagainya. Bentuk

17

tuberkulosis inilah yang terutama menjadiproblem kesehatan rakyat, karena dapat menjadi sumber penularan.Tuberkulosis post-primer dimulai dengan sarangdini, yang umumnya terletak di segmen apikal dari lobus superior maupun lobus inferior.Sarang dini ini awalnyaberbentuk suatu sarang pneumonik kecil. Nasib sarang pneumonik ini akan mengikuti salah satu jalan sebagai berikut: 1. Diresopsi kembali, dan sembuh kembali dengan tidak meninggalkan cacat 2. Sarang tadi mula mula meluas, tetapi segera terjadi proses penyembuhan dengan penyebukan jaringan fibrosis.Selanjutnya akan membungkus diri menjadi lebih keras, terjadi perkapuran, dan akan sembuh dalam bentukperkapuran. Sebaliknya dapat juga sarang tersebut menjadi aktif kembali, membentuk jaringan keju danmenimbulkan kaviti bila jaringan keju dibatukkan keluar. 3. Sarang pneumonik meluas, membentuk jaringan keju (jaringan kaseosa). Kaviti akan muncul dengan dibatukkannyajaringan keju keluar. Kaviti awalnya berdinding tipis, kemudian dindingnya akan menjadi tebal (kaviti sklerotik). Akhir kaviti ini, mungkin meluas kembali dan menimbulkan sarang pneumonik baru. Sarang pneumonik ini akan mengikuti polaperjalanan seperti yang disebutkan diatas. Dapat pula memadat dan membungkus diri (encapsulated), dan disebut tuberkuloma. Tuberkuloma dapatmengapur dan menyembuh, tetapi mungkin pula aktif kembali, mencair lagi dan menjadi kaviti lagi. Kaviti bisa pula menjadi bersih dan menyembuh yang disebut open healed cavity, atau kaviti menyembuh denganmembungkus diri, akhirnya mengecil. Kemungkinan berakhir sebagai kaviti yang terbungkus, dan menciutsehingga kelihatan seperti bintang (stellate shaped)

2.1.5 DIAGNOSIS TB Penemuan kasus TB Penemuan kasus bertujuan untuk mendapakan kasus TB melalui serangkaian kegiatan mulai dari penjaringan terhadap suspek TB, pemeriksaan fisik dan laboratories, menentukan diagnosis dan menentukan klasifikasi penyakit dan tipe pasien TB, sehingga dapat dilakukan pengobatan agar sembuh dan tidak

18

menularkan penyakitnya kepada orang lain. Kegiatan penemuan pasien terdiri dari penjaringan suspek, diagnosis, penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien. Kegiatan ini membutuhkan adanya pasien yang memahami dan sadar akan gejala TB, akses terhadap fasilitas kesehatan dan adanya tenaga kesehatan yang kompeten yang mampu melakukan pemeriksan terhadap gejala dan keluhan tersebut. Penemuan pasien merupakan langkah pertama dalam kegiatan tatalaksana pasien TB. Penemuan dan penyembuhan pasien TB menular, secara bermakna akan dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat TB, penularan TB di masyarakat dan sekaligus merupakan kegiatan pencegahan penularan TB yang paling efektif di masyarakat. Strategi penemuan pasien TB, secara umum dilakukan secara pasif dengan promosi aktif. Penjaringan tersangka pasien dilakukan di fasilitas pelayanan kesehatan; didukung dengan penyuluhan secara aktif, baik oleh petugas kesehatan maupun masyarakat, untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka pasien TB. Pelibatan semua layanan dimaksudkan untuk mempercepat penemuan dan mengurangi keterlambatan pengobatan. Penemuan secara aktif pada masyarakat umum, dinilai tidak cost efektif. Penemuan secara aktif dapat dilakukan terhadap ; Kelompok khusus yang rentan atau beresiko tinggi sakit TB seperti pada pasien dengan HIV (orang dengan HIV AIDS) Kelompok yang rentan tertular TB seperti di rumah tahanan, lembaga pemasyarakatan (para narapidana), mereka yang hidup pada daerah kumuh, serta keluarga atau kontak pasien TB, terutama mereka yang dengan TB BTA positif. Pemeriksaan terhadap anak dibawah lima tahun pada keluarga TB harus dilakukan untuk menentukan tindak lanjut apakah diperlukan pengobatan TB atau pegobatan pencegahan. Kontak dengan pasien TB resistan obat Penerapan manajemen tatalaksana terpadu bagi kasus dengan gejala dan tanda yang sama dengan gejala TB, seperti pendekatan praktis menuju kesehatan paru (PAL = practical approach to lung health), manajemen terpadu balIta sakit

19

(MTBS),

manajemen

terpadu

dewasa

sakit

(MTDS)

akan

membantu

meningkatkan penemuan kasus TB di layanan kesehatan, mengurangi terjadinya misopportunity kasus TB dan sekaligus dapat meningkatkan mutu layanan. Tahap awal penemuan dilakukan dengan menjaring mereka yang memiliki gejala: Gejala utama pasien TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah, batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun, malaise, berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik, demam meriang lebih dari satu bulan. Gejala-gejala tersebut diatas dapat dijumpai pula pada penyakit paru selain TB, seperti bronkiektasis, bronkitis kronis, asma, kanker paru, dan lainlain. Mengingat prevalensi TB di Indonesia saat ini masih tinggi, maka setiap orang yang datang ke Fasyankes dengan gejala tersebut diatas, dianggap sebagai seorang tersangka (suspek) pasien TB, dan perlu dilakukan pemeriksaan dahak secara mikroskopis langsung. Suspek TB MDR adalah semua orang yang mempunyai gejala TB dengan salah satu atau lebih kriteria suspek dibawah ini: 1. Pasien TB yang gagal pengobatan kategori 2 (kasus kronik) 2. Pasien TB tidak konversi pada pengobatan kategori 2. 3. Pasien TB dengan riwayat pengobatan TB di fasyankes Non DOTS. 4. Pasien TB gagal pengobatan kategori 1. 5. Pasien TB tidak konversi setelah pemberian sisipan. 6. Pasien TB kambuh. 7. Pasien TB yang kembali berobat setelai lalai/default. 8. Pasien TB dengan riwayat kontak erat pasien TB MDR 9. ODHA dengan gejala TB-HIV. Pemeriksaan dahak 1. Pemeriksaan dahak mikroskopis Pemeriksaan dahak berfungsi untuk menegakkan diagnosis, menilai keberhasilan pengobatan dan menentukan potensi penularan Pemeriksaan dahak untuk

penegakan diagnosis dilakukan dengan mengumpulkan 3 spesimen dahak yang

20

dikumpulkan dalam dua har kunjungan yang berurutan berupa Sewaktu-PagiSewaktu (SPS) S (sewaktu): dahak dikumpulkan pada saat suspek TB datang berkunjung pertama kali. Pada saat pulang, suspek membawa sebuah pot dahak untuk mengumpulkan dahak pagi pada hari kedua P (Pagi): dahak dikumpulkan di rumah pada pagi hari kedua, segera setelah bangun tidur. Pot dahak dibawa dan diserahkan sendiri kepada petugas di Fasyankes. S (sewaktu): dahak dikumpulkan di Fasyankes pada hari kedua, saat menyerahkan dahak pagi. Pengambilan 3 spesimen dahak masih diutamakan dibanding dengan 2 spesimen dahak mengingat masih belum optimalnya fungsi sistem danhasil jaminan mutu eksternal pemeriksaan laboratorium. Interpretasi pemeriksaan mikroskopik dibaca dengan skala IUATLD (rekomendasi WHO).Skala IUATLD (International Union Against Tuberculosis and Lung Disease) : - Tidak ditemukan BTA dalam 100 lapang pandang, disebut negatif - Ditemukan 1-9 BTA dalam 100 lapang pandang, ditulis jumlah kuman yang ditemukan - Ditemukan 10-99 BTA dalam 100 lapang pandang disebut + (1+) - Ditemukan 1-10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut ++ (2+) - Ditemukan >10 BTA dalam 1 lapang pandang, disebut +++ (3+) 2. Pemeriksaan Biakan Peran biakan dan identifikasi M. Tuberkulosis pada pengendalian TB adalah untuk menegakkan diagnosis TB pada pasien tertentu, yaitu : - Pasien TB Ekstra Paru - Pasien Tb Anak - Pasien TB BTA Negatif Pemeriksaan tersebut dilakukan jika keadaan memungkinkan dan tersedia laboratorium yang telah memenuhi standar yang ditetapkan.

3. Uji Kepekaan Obat TB


21

Uji kepekaan obat TB bertujuan untuk resistensi M. Tuberkulosis terhadap OAT. Uji kepekaan obat tersebut harus dilakukan di laboratorium yang tersertifikasi dan lulus pemantapan mutu atau Quality Assurance (QA). Pemeriksaan tersebut ditujukan untuk diagnosis pasien TB yang memenuhi kriteria suspek TB-MDR.

DIAGNOSIS TUBERKULOSIS Diagnosis TB paru Semua suspek TB diperiksa 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari, yaitu sewaktu - pagi - sewaktu (SPS). Diagnosis TB Paru pada orang dewasa ditegakkan dengan ditemukannya kuman TB. Pada program TB nasional, penemuan BTA melalui pemeriksaan dahak mikroskopis merupakan diagnosis utama. Pemeriksaan lain seperti foto toraks, biakan dan uji kepekaan dapat digunakan sebagai penunjang diagnosis sepanjang sesuai dengan indikasinya. Tidak dibenarkan mendiagnosis TB hanya berdasarkan pemeriksaan foto toraks saja. Foto toraks tidak selalu memberikan gambaran yang khas pada TB paru, sehingga sering terjadi overdiagnosis. Diagnosis TB ekstra paru Gejala dan keluhan tergantung organ yang terkena, misalnya kaku kuduk pada Meningitis TB, nyeri dada pada TB pleura (Pleuritis), pembesaran kelenjar limfe superfisialis pada limfadenitis TB dan deformitas tulang belakang (gibbus) pada spondilitis TB dan lain-lainnya. Diagnosis pasti ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologi yang diambil dari jaringan tubuh yang terkena Diagnosis TB pada Orang Dengan HIV AIDS (ODHA) Pada ODHA, diagnosis TB paru dan TB ekstra paru ditegakkan sebagai berikut: 1. TB Paru BTA Positif, yaitu minimal satu hasil pemeriksaan dahak positif. 2. TB Paru BTA negatif, yaitu hasil pemeriksaan dahak negatif dan gambaran klinis & radiologis mendukung Tb atau BTA negatif dengan hasil kultur TB positif. 3. TB Ekstra Paru pada ODHA ditegakkan dengan pemeriksaan klinis, bakteriologis dan atau histopatologi yang diambil dari jaringan tubuh yang

22

terkena. Pemeriksaan Radiologik Pemeriksaan standar ialah foto toraks PA. Pemeriksaan lain atas indikasi: foto lateral, top-lordotik, oblik, CT-Scan.Pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam bentuk

(multiform).Gambaran radiologik yang dicurigai sebagai lesi TB aktif : - Bayangan berawan / nodular di segmen apikal dan posterior lobus atas paru dan segmen superior lobus bawah - Kaviti, terutama lebih dari satu, dikelilingi oleh bayangan opak berawan atau nodular - Bayangan bercak milier - Efusi pleura unilateral (umumnya) atau bilateral (jarang) Gambaran radiologik yang dicurigai lesi TB inaktif - Fibrotik - Kalsifikasi - Schwarte atau penebalan pleura Luluh paru (destroyed Lung ): o Gambaran radiologik yang menunjukkan kerusakan jaringan paru yang berat, biasanya secara klinis disebut luluh paru. Gambaran radiologik luluh paru terdiri dari atelektasis, ektasis/ multikaviti dan fibrosis parenkim paru. Sulituntuk menilai aktiviti lesi atau penyakit hanya berdasarkan gambaran radiologik tersebut. o Perlu dilakukan pemeriksaan bakteriologik untuk memastikan aktiviti proses penyakit. Luas lesi yang tampak pada foto toraks untuk kepentingan pengobatan dapat dinyatakan sbb (terutama pada kasusBTA negatif): Lesi minimal,bila proses mengenai sebagian dari satu atau dua paru dengan luas tidak lebih dari sela iga 2depan (volume paru yang terletak di atas chondrostemal junction dari iga kedua depan dan prosesus spinosusdari vertebra torakalis 4 atau korpus vertebra torakalis 5), serta tidak dijumpai kaviti Lesi luas bila proses lebih luas dari lesi minimal.

23

2.1.5 KLASIFIKASI PENYAKIT DAN TIPE PASIEN Penentuan klasifikasi penyakit dan tipe pasien tuberkulosis memerlukan suatu definisi kasus yang meliputi empat hal , yaitu: Lokasi atau organ tubuh yang sakit, paru atau ekstra paru Bakteriologi (hasil pemeriksaan dahak secara mikroskopis): BTA positif atau BTA negative Riwayat pengobatan TB sebelumnya, pasien baru atau sudah pernah diobati Status HIV pasien.
24

Tingkat keparahan penyakit: ringan atau berat. Saat ini sudah tidak dimasukkan dalam penentuan definisi kasus Manfaat dan tujuan menentukan klasifikasi dan tipe adalah : Menentukan paduan pengobatan yang sesuai, untuk mencegah pengobatan yang tidak adekuat (undertreatment ), menghindari pengobatan yang tidak perlu (overtreatment) Melakukan registrasi kasus secara benar Standarisasi proses (tahapan) dan pengumpulan data Menentukan prioritas pengobatan TB, dalam situasi dengan sumber daya yang terbatas Analisis kohort hasil pengobatan, sesuai dengan definisi klasifikasi dan tipe Memonitor kemajuan dan mengevaluasi efektifitas program secara akurat baik pada tingkat kabupaten, provinsi, nacional, regional maupun dunia. a. Klasifikasi berdasarkan organ tubuh (anatomical site) yang terkena: 1) Tuberkulosis paru. Tuberkulosis paru adalah tuberkulosis yang menyerang jaringan (parenkim) paru. tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada hilus. 2) Tuberkulosis ekstra paru. Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura, selaput otak, selaput jantung (pericardium), kelenjar lymfe, tulang, persendian, kulit, usus, ginjal, saluran kencing, alat kelamin, dan lain-lain. Pasien dengan TB paru dan TB ekstraparu diklasifikasikan sebagai TB paru b. Klasifikasi berdasarkan hasil pemeriksaan dahak mikroskopis, Keadan ini terutama ditujukan pada TB Paru: 1) Tuberkulosis paru BTA positif. Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif. 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran tuberculosis 1 spesimen dahak SPS hasilnya BTA positif dan biakan kuman TB positif. 1 atau lebih spesimen dahak hasilnya positif setelah 3 spesimen dahak SPS pada pemeriksaan sebelumnya hasilnya BTA negative dan tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT. 2) Tuberkulosis paru BTA negative

25

Kasus yang tidak memenuhi definisi pada TB paru BTA positif. Kriteria diagnostik TB paru BTA negatif harus meliputi: a) Paling tidak 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negative b) Foto toraks abnormal sesuai dengan gambaran tuberkulosis. c) Tidak ada perbaikan setelah pemberian antibiotika non OAT, bagi pasien dengan HIV negatif. d) Ditentukan (dipertimbangkan) oleh dokter untuk diberi pengobatan. c. Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya Klasifikasi berdasarkan riwayat pengobatan sebelumnya disebut sebagai tipe pasien, yaitu: 1) Kasus baru Adalah pasien yang belum pernah diobati dengan OAT atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan (4 minggu). Pemeriksaan BTA bisa positif atau negative 2) Kasus yang sebelumnya diobati Kasus kambuh (Relaps)

Adalah pasien tuberkulosis yang sebelumnya pernah mendapat pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh atau pengobatan lengkap, didiagnosis kembali dengan BTA positif (apusan atau kultur). Kasus setelah putus berobat (Default )

Adalah pasien yang telah berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif. Kasus setelah gagal (Failure)

Adalah pasien yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali menjadi positif pada bulan kelima atau lebih selama pengobatan. 3) Kasus Pindahan (Transfer In) Adalah pasien yang dipindahkan keregister lain untuk melanjutkan

pengobatannya. 4). Kasus lain: Adalah semua kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas, seperti yang i. tidak diketahui riwayat pengobatan sebelumnya, ii. pernah diobati tetapi tidak diketahui hasil pengobatannya,

26

iii. kembali diobati dengan BTA negative.

2.1.6 PENGOBATAN TB 2.1.6.1 Tujuan, dan Prinsip Pengobatan Pengobatan TB bertujuan untuk menyembuhkan pasien,

mencegahkematian, mencegah kekambuhan, memutuskan rantai penularan danmencegah terjadinya resistensi kuman terhadap Obat Anti Tuberkulosis(OAT). Jenis , sifat dan dosis OAT yang akan dijelaskan pada bab ini adalah yangtergolong pada lini pertama. Secara ringkas OAT lini pertama dijelaskan pada tabeldibawah ini:

2.1.6.2 Panduan OAT lini pertama dan peruntukannya. a. Kategori-1 (2HRZE/ 4H3R3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien baru: Pasien baru TB paru BTA positif. Pasien TB paru BTA negatif foto toraks positif Pasien TB ekstra paru

b. Kategori -2 (2HRZES/ HRZE/ 5H3R3E3) Paduan OAT ini diberikan untuk pasien BTA positif yang telah diobati sebelumnya: Pasien kambuh
27

Pasien gagal Pasien dengan pengobatan setelah putus berobat (default)

Catatan: Untuk pasien yang berumur 60 tahun ke atas dosis maksimal untukstreptomisin adalah 500mg tanpa memperhatikan berat badan. Untuk perempuan hamil lihat pengobatan TB dalam keadaankhusus. Cara melarutkan streptomisin vial 1 gram yaitu denganmenambahkan aquabidest sebanyak 3,7ml sehingga menjadi 4ml.(1ml = 250mg).

c. OAT Sisipan (HRZE) Paket sisipan KDT adalah sama seperti paduan paket untuk tahap intensif kategori 1 yang diberikan selama sebulan (28 hari).

28

Penggunaan OAT lini kedua misalnya golongan aminoglikosida (misalnya kanamisin) dan golongan kuinolon tidak dianjurkan diberikan kepada pasienbaru tanpa indikasi yang jelas karena potensi obat tersebut jauh lebih rendahdaripada OAT lini pertama. Disamping itu dapat juga meningkatkanterjadinya risiko resistensi pada OAT lini kedua.

2.2 HEMOPTISIS 2.2.1 Defenisi Batuk darah atau hemoptisis adalah ekspektorasi darah akibat perdarahan pada saluran napas di bawah laring, atau perdarahan yang keluar melalui saluran napas bawah laring. Batuk darah lebih sering merupakan tanda atau gejala dari penyakit dasar sehingga etiologi harus dicari melalui pemeriksaan yang lebih teliti. Batuk darah masif dapat diklasifikasikan berdasarkan volume darah yang dikeluarkan pada periode tertentu. Batuk darah masif memerlukan penanganan segera karena dapat mengganggu pertukaran gas di paru dan dapat mengganggun kestabilan hemodinamik penderita sehingga bila tidak ditangani dengan baik dapat mengancam jiwa. 2.2.2 Etiologi

29

Sumber perdarahan hemoptisis dapat berasal dari sirkulasi pulmoner atau sirkulasi bronkial. Hempotisis masif sumber perdarahan umumnya berasal dari sirkulasi bronkial ( 95 % ). Sirkulasi pulmoner memperdarahi alveol dan duktus alveol, sistem sirkulasi ini bertekanan rendah dengan dinding pembuluh darah yang tipis. Sirkulasi bronkial memperdarahi trakea, bronkus utama sampai bronkiolus dan jaringan penunjang paru, esofagus, mediastinum posterior dan vasa vasorum arteri pulmoner. Sirkulasi bronkial ini terdiri dari arteri bronkialis dan vena bronkialis. Asal anatomis perdarahan berbeda tiap proses patologik tertentu: (a). bronkitis akibat pecahnya pembuluh darah superfisial di mukosa, (b) TB paru akibat robekan atau ruptur aneurisma arteri pulmoner (dinding kaviti aneurisma Rassmussen). atau akibat pecahnya anastomosis bronkopulmoner atau proses erosif pada arteri bronkialis, (c) infeksi kronik akibat inflamasi sehingga terjadi pembesaran & proliferasi arteri bronchial misal : bronkiektasis, aspergilosis atau fibrosis kistik,(d) kanker paru akibat pembuluh darah yg

terbentuk rapuh sehingga mudah berdarah. Penyebab batuk darah sangat beragam antara lain : 1. Infeksi : tuberkulosis, staphylococcus, klebsiella, legionella), jamur, virus 2. Kelainan paru seperti bronchitis, bronkiektasis, emboli paru, kistik fibrosis, emfisema bulosa 3. Neoplasma : kanker paru, adenoma bronchial, tumor metastasis 4. Kelainan hematologi : disfungsi trombosit, trombositopenia, disseminated intravascular coagulation (DIC) 5. Kelainan jantung : mitral stenosis, endokarditis tricuspid 6. Kelainan pembuluh darah : hipertensi pulmoner, malformasi arterivena, aneurisma aorta 7. Trauma : jejas toraks, rupture bronkus, emboli lemak 8. Iatrogenik : akibat tindakan bronkoskopi, biopsi paru, kateterisasi swanganz, limfangiografi 9. Kelainan sistemik : sindrom goodpasture, idiopathic pulmonary systemic lupus erytematosus, vaskulitis (granulomatosis

hemosiderosis,

wagener, purpura henoch schoenlein, sindrom chrug-strauss) 10. Obat / toksin : aspirin, antikoagulan, penisilamin, kokain

30

11. Lain-lain : endometriosis, bronkiolitiasis, fistula bronkopleura, benda asing, hemoptisis kriptogenik, amiloidosis Penelitian yang dilakukan di RS persahabatan oleh Retno dkk : 323 pasien hemoptisis di IGD RS Persahabatan didapatkan TB paru 64,43 %, bronkiektasis 16,71 % , karsinoma paru 3,4 % dan Maria : 102 pasien hemoptisis rawat inap dan IGD RS Persahabatan didapatkan TB paru 75,6 %, bekas TB paru 16,7 %, bronkiektasis 7,8 %. Penalaksanaan hemoptisis masif memerlukan penanganan khusus agar tidak berakibat fatal dengan angka mortaliti hemoptisis masif 75 % disebabkan oleh asfiksia. Pasien dengan hemoptisis masif seharusnya dirawat di unit perawatan intensif untuk memonitor status hemodinamik dan penilaian jumlah darah yang hilang. Penatalaksanaan dilakukan ; 1. Proteksi jalan napas dan stabilisasi pasien 2. Lokalisasi sumber perdarahan dan penyebab perdarahan 3. Terapi spesifik Tahap 1 adalah mempertahankan jalan napas yang adekuat, pemberian suplementasi oksigen, koreksi koagulapati, resusitasi cairan, dan berusah melokalisir sumber perdarahan. Tahap 2 setelah pasien dalam keaadan stabil perlu dilakukan pemeriksaan lebih lanjut mencari sumber perdarahan dan penyebab perdarahan. Pemeriksaan yang dapat dilakukan antara lain : foto toraks, CT scan bronkoskopi ( BSOL atau bronkoskop kaku ). Tahap 3 adalah menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan toraks, angiografi,

berulang. Terapi ini dibagi 2 yaitu ( a ) dengan bronkoskop antara lain melakukan bilasan garam fisiologis , epinefrin , pemberian trombin fibrinogen, tamponade dengan balon., ( b ) tanpa bronkoskop antara lain pemberian obat antifibrinolitik pengobatan penyakit primernya. Tatalaksana konservatif : dan

31

1.

Menenangkan pasien sehingga perdarahan mudah berhenti. Juga memberitahukan pasien agar tidak takut-takut membatukkan darah yang ada di saluran pernapasan.

2. Penderita diminta berbaring pada posisi bagian paru yang sakit dan sedikit tlederenberg, terutama sekali apabila reflex batuknya tidak adekuat. 3. Jaga agar jalan napas tetap terbuka, bila terdapat tanda-tanda sumbatan jalan napas perlu dilakukan pengiaspan. Pemberian oksigen tidak selalu diperlukan dan hanya berarti apabila jalan napas telah bebassumbatan. 4. Pemasangan IV line untuk penggantian cairan maupun untuk jalur pemberian obat parenteral. 5. Pemberian obat hemostatik belum jelas manfaatnya pada penderita hemoptisis. Meskipun demikian dapat diberikan a.l asam traneksamat, karbazokrom, atau antikoagulan lain seperti vit k, vit c. 6. Obat-obatan dengan efek sedasi ringan bila pasien gelisah. Obat penekan batuk diberikan apabila terdapat batuk yangberlebihan yang dapat merangsang timbulnya perdarahan yang lebih banyak. Transfusi darah bila hematokrit turun dibawah nilai 25 atau hb kurang dari 10 g/dl sedang perdarahan masih berlanjut.

32

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI. Rencana Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis tahun 2002-2006. Jakarta. Departemen Kesehatan RI. 2001 2. Kementrian Kesehatan RI. Riset Kesehatan Dasar RISKESDAS 2010. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementrian Kesehatan RI. 2010 3. Departemen Kesehatan RI. Profil Kesehatan Indonesia 2006. Jakarta. 2006 4. Price, Sylvia A. Patofisiologi, volume 2. Edisi 6. Jakarta : EGC.2006 5. Susanto AD, Prasenohadi, Yunus F. The Year of the lung. Deopartemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran FKUI-RS. Persahabatan. 2010 6. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia. Tuberkulosis. Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2011 7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit Dan Penyehatan Lingkungan. Pedoman Nasional Pengendalian Tuberkulosis. 2011 8. Zulkifli Amin, Asril Bahar. Tuberkulosis Paru dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi V. Jakarta: Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. 2009. p.2230-9 9. Florees RJ. Sandur S. Massive Hemoptysis. Hospital Physician. 2006;37-43 10. Arif N. Batuk darah dalam pulmonologi klinik. Bagian pulmonologi

FKUI; Jakarta : 1992, 179-183 11. Wihastuti R, Maria, Situmeang T, Yunus F. Profil penderita batuk darah

yang berobat ke bagian paru RSUP Persahabatan Jakarta. J Respir Indo 1999;19:54-9

33