Anda di halaman 1dari 16

Tugas Etika Profesi

“Cyber Crime”

Di susun Oleh :

• FAHMI ISTANTO 12080570


• HERU SUSENO 12080575
• OKTA FERI KUSTANTO 12080578
• SUYITNO 12080553
• ARI SUTIYONO 12080557
• DHIMAS BAYU NURCAHYO 12080558
• YUSUF HADI WIJAYA 12080581

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN INFORMATIKA DAN ILMU


KOMPUTER
EL RAHMA YOGYAKARTA
2009
A. Pengertian Cyber Crime

Cybercrime adalah tidak kriminal yang dilakukan dengan menggunakan teknologi computer
sebagai alat kejahatan utama. Cybercrime merupakan kejahatan yang memanfaatkan
perkembangan teknologi computer khusunya internet. Cybercrime didefinisikan sebagai
perbuatan melanggar hukum yang memanfaatkan teknologi computer yang berbasis pada
kecanggihan perkembangan teknologi internet.

Karakteristik Cybercrime

Cybercrime memiliki karakteristik unik yaitu :

1. Ruang lingkup kejahatan


2. Sifat kejahatan
3. Pelaku kejahatan
4. Modus kejahatan
5. Jenis kerugian yang ditimbulkan

Dari beberapa karakteristik diatas, untuk mempermudah penanganannya maka cybercrime


diklasifikasikan :

a. Cyberpiracy : Penggunaan teknologi computer untuk mencetak ulang software atau


informasi, lalu mendistribusikan informasi atau software tersebut lewat teknologi
komputer.
b. Cybertrespass : Penggunaan teknologi computer untuk meningkatkan akses pada
system computer suatu organisasi atau individu.
c. Cybervandalism : Penggunaan teknologi computer untuk membuat program yang
menganggu proses transmisi elektronik, dan menghancurkan data di komputer.

Perkiraan perkembangan cyber crime di masa depan

Dapat diperkirakan perkembangan kejahatan cyber kedepan akan semakin meningkat seiring
dengan perkembangan teknologi atau globalisasi dibidang teknologi informasi dan
komunikasi, sebagai berikut :

Denial of Service Attack. Serangan tujuan ini adalah untuk memacetkan sistem dengan
mengganggu akses dari pengguna jasa internet yang sah. Taktik yang digunakan adalah
dengan mengirim atau membanjiri situs web dengan data sampah yang tidak perlu bagi

Cyber Crime – Kelompok 3 2


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
orang yang dituju. Pemilik situs web menderita kerugian, karena untuk mengendalikan
atau mengontrol kembali situs web tersebut dapat memakan waktu tidak sedikit yang
menguras tenaga dan energi.

Hate sites. Situs ini sering digunakan oleh hackers untuk saling menyerang dan
melontarkan komentar-komentar yang tidak sopan dan vulgar yang dikelola oleh para
“ekstrimis” untuk menyerang pihak-pihak yang tidak disenanginya. Penyerangan
terhadap lawan atau opponent ini sering mengangkat pada isu-isu rasial, perang program
dan promosi kebijakan ataupun suatu pandangan (isme) yang dianut oleh seseorang /
kelompok, bangsa dan negara untuk bisa dibaca serta dipahami orang atau pihak lain
sebagai “pesan” yang disampaikan.

Cyber Stalking adalah segala bentuk kiriman e-mail yang tidak dikehendaki oleh user atau
junk e-mail yang sering memakai folder serta tidak jarang dengan pemaksaan. Walaupun
e-mail “sampah” ini tidak dikehendaki oleh para user.

B. Jenis – Jenis Cyber Crime

a. Jenis-jenis cybercrime berdasarkan jenis aktivitasnya

1. Unauthorized Access to Computer System and Service

Kejahatan yang dilakukan dengan memasuki/menyusup ke dalam suatu


sistem jaringan komputer secara tidak sah, tanpa izin atau tanpa sepengetahuan dari
pemilik sistem jaringan komputer yang dimasukinya. Biasanya pelaku kejahatan
(hacker) melakukannya dengan maksud sabotase ataupun pencurian informasi
penting dan rahasia. Namun begitu, ada juga yang melakukan hanya karena merasa
tertantang untuk mencoba keahliannya menembus suatu sistem yang memiliki
tingkat proteksi tinggi. Kejahatan ini semakin marak dengan berkembangnya
teknologi internet/intranet.

Kita tentu tidak lupa ketika masalah Timor Timur sedang hangat-hangatnya
dibicarakan di tingkat internasional, beberapa website milik pemerintah RI dirusak
oleh hacker (Kompas, 11/08/1999). Beberapa waktu lalu, hacker juga telah berhasil
menembus masuk ke dalam database berisi data para pengguna jasa America Online
(AOL), sebuah perusahaan Amerika Serikat yang bergerak dibidang e-commerce,
yang memiliki tingkat kerahasiaan tinggi (Indonesian Observer, 26/06/2000). Situs
Cyber Crime – Kelompok 3 3
STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
Federal Bureau of Investigation (FBI) juga tidak luput dari serangan para hacker,
yang mengakibatkan tidak berfungsinya situs ini dalam beberapa waktu lamanya.

2. Illegal Contents

Merupakan kejahatan dengan memasukkan data atau informasi ke internet


tentang sesuatu hal yang tidak benar, tidak etis, dan dapat dianggap melanggar
hukum atau mengganggu ketertiban umum. Sebagai contohnya adalah pemuatan
suatu berita bohong atau fitnah yang akan menghancurkan martabat atau harga diri
pihak lain, hal-hal yang berhubungan dengan pornografi atau pemuatan suatu
informasi yang merupakan rahasia negara, agitasi dan propaganda untuk melawan
pemerintahan yang sah, dan sebagainya.

3. Data Forgery

Merupakan kejahatan dengan memalsukan data pada dokumen-dokumen


penting yang tersimpan sebagai scriptless document melalui internet. Kejahatan ini
biasanya ditujukan pada dokumen-dokumen e-commerce dengan membuat seolah-
olah terjadi “salah ketik” yang pada akhirnya akan menguntungkan pelaku.

4. Cyber Espionage

Merupakan kejahatan yang memanfaatkan jaringan internet untuk melakukan


kegiatan mata-mata terhadap pihak lain, dengan memasuki sistem jaringan komputer
(computer network system) pihak sasaran. Kejahatan ini biasanya ditujukan terhadap
saingan bisnis yang dokumen ataupun data-data pentingnya tersimpan dalam suatu
sistem yang computerized.

5. Cyber Sabotage and Extortion

Kejahatan ini dilakukan dengan membuat gangguan, perusakan atau


penghancuran terhadap suatu data, program komputer atau sistem jaringan komputer
yang terhubung dengan internet. Biasanya kejahatan ini dilakukan dengan
menyusupkan suatu logic bomb, virus komputer ataupun suatu program tertentu,
sehingga data, program komputer atau sistem jaringan komputer tidak dapat
digunakan, tidak berjalan sebagaimana mestinya, atau berjalan sebagaimana yang
dikehendaki oleh pelaku. Dalam beberapa kasus setelah hal tersebut terjadi, maka
pelaku kejahatan tersebut menawarkan diri kepada korban untuk memperbaiki data,

Cyber Crime – Kelompok 3 4


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
program komputer atau sistem jaringan komputer yang telah disabotase tersebut,
tentunya dengan bayaran tertentu. Kejahatan ini sering disebut sebagai cyber-
terrorism.

6. Offense against Intellectual Property (Copyright)

Kejahatan ini ditujukan terhadap Hak atas Kekayaan Intelektual yang


dimiliki pihak lain di internet. Sebagai contoh adalah peniruan tampilan pada web
page suatu situs milik orang lain secara ilegal, penyiaran suatu informasi di internet
yang ternyata merupakan rahasia dagang orang lain, dan sebagainya.

7. Infringements of Privacy

Kejahatan ini ditujukan terhadap informasi seseorang yang merupakan hal


yang sangat pribadi dan rahasia. Kejahatan ini biasanya ditujukan terhadap
keterangan pribadi seseorang yang tersimpan pada formulir data pribadi yang
tersimpan secara computerized, yang apabila diketahui oleh orang lain maka dapat
merugikan korban secara materil maupun immateril, seperti nomor kartu kredit,
nomor PIN ATM, cacat atau penyakit tersembunyi dan sebagainya.

8. Cracking

Kejahatan dengan menggunakan teknologi computer yang dilakukan untuk


merusak system keamaanan suatu system computer dan biasanya melakukan
pencurian, tindakan anarkis begitu merekan mendapatkan akses. Biasanya kita sering
salah menafsirkan antara seorang hacker dan cracker dimana hacker sendiri identetik
dengan perbuatan negative, padahal hacker adalah orang yang senang memprogram
dan percaya bahwa informasi adalah sesuatu hal yang sangat berharga dan ada yang
bersifat dapat dipublikasikan dan rahasia.

9. Carding

Adalah kejahatan dengan menggunakan teknologi computer untuk


melakukan transaksi dengan menggunakan card credit orang lain sehingga dapat
merugikan orang tersebut baik materil maupun non materil.

Masih banyak lagi istilah – istilah dalam kejahatan cyber yang lain di
antaranya :

Cyber Crime – Kelompok 3 5


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
1. Fraud
Adalah sejenis manipulasi informasi keuangan dengan tujuan untuk mengeruk
keuntungan sebesar-besarnya.
2.PHISING
Phising adalah kegiatan memancing pemakai komputer di internet (user) agar mau
memberikan informasi data diri pemakai (username) dan kata sandinya (password)
pada suatu website yang sudah di-deface.
3.SPAMMING
Spamming adalah pengiriman berita atau iklan lewat surat elektronik (e-mail) yang
tak dikehendaki.
4.MALWARE
Malware adalah program komputer yang mencari kelemahan dari suatu software
5.DEFACING
Defacing adalah kegiatan mengubah halaman situs/website pihak lain,
6.PHISING
Phising adalah kegiatan memancing pemakai komputer di internet (user) agar mau
memberikan informasi data diri pemakai (username) dan kata sandinya (password)
pada suatu website yang sudah di-deface

b. Jenis-jenis cybercrime berdasarkan motif

Berdasarkan motif cybercrime terbergi menjadi 2 yaitu :

Cybercrime sebagai tindak kejahatan murni : dimana orang yang melakukan


kejahatan yang dilakukan secara di sengaja, dimana orang tersebut secara sengaja
dan terencana untuk melakukan pengrusakkan, pencurian, tindakan anarkis, terhadap
suatu system informasi atau system computer.

Cybercrime sebagai tindakan kejahatan abu-abu : dimana kejahatan ini tidak jelas
antara kejahatan criminal atau bukan karena dia melakukan pembobolan tetapi tidak
merusak, mencuri atau melakukan perbuatan anarkis terhadap system informasi atau
system computer tersebut.

Selain dua jenis diatas cybercrime berdasarkan motif terbagi menjadi :

Cybercrime yang menyerang individu : kejahatan yang dilakukan terhadap orang


lain dengan motif dendam atau iseng yang bertujuan untuk merusak nama baik,

Cyber Crime – Kelompok 3 6


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
mencoba ataupun mempermaikan seseorang untuk mendapatkan kepuasan pribadi.
Contoh : Pornografi, cyberstalking, dll

Cybercrime yang menyerang hak cipta (Hak milik) : kejahatan yang dilakukan
terhadap hasil karya seseorang dengan motif menggandakan, memasarkan,
mengubah yang bertujuan untuk kepentingan pribadi/umum ataupun demi
materi/nonmateri.

Cybercrime yang menyerang pemerintah : kejahatan yang dilakukan dengan


pemerintah sebagai objek dengan motif melakukan terror, membajak ataupun
merusak keamanan suatu pemerintahan yang bertujuan untuk mengacaukan system
pemerintahan, atau menghancurkan suatu Negara.

C. Contoh Kasus Cyber Crime di Indonesia

• Pencurian dan penggunaan account Internet milik orang lain.

Salah satu kesulitan dari sebuah ISP (Internet Service Provider) adalah adanya
account pelanggan mereka yang “dicuri” dan digunakan secara tidak sah. Berbeda
dengan pencurian yang dilakukan secara fisik, “pencurian” account cukup
menangkap “userid” dan “password” saja. Hanya informasi yang dicuri. Sementara
itu orang yang kecurian tidak merasakan hilangnya “benda” yang dicuri. Pencurian
baru terasa efeknya jika informasi ini digunakan oleh yang tidak berhak. Akibat dari
pencurian ini, penggunan dibebani biaya penggunaan account tersebut. Kasus ini
banyak terjadi di ISP. Namun yang pernah diangkat adalah penggunaan account
curian oleh dua Warnet di Bandung.

• Membajak situs web.

Salah satu kegiatan yang sering dilakukan oleh cracker adalah mengubah halaman
web, yang dikenal dengan istilah deface. Pembajakan dapat dilakukan dengan
mengeksploitasi lubang keamanan. Sekitar 4 bulan yang lalu, statistik di Indonesia
menunjukkan satu (1) situs web dibajak setiap harinya. Contoh kasusnya antara lain
:

Cyber Crime – Kelompok 3 7


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
 Pembajakan web KPU tahun 2004
“….Pada hari Sabtu, 17 April 2004, Dani Firmansyah, konsultan Teknologi Informasi
(TI) PT Danareksa di Jakarta berhasil membobol situs milik Komisi Pemilihan Umum
(KPU) di http://tnp.kpu.go.id dan berhasil melakukan perubahan pada seluruh nama
partai disitus TNP KPU pada jam 11:24:16 sampai dengan 11:34:27. Perubahan ini
menyebabkan nama partai yang tampil pada situs yang diakses oleh publik, seusai
Pemilu Legislatif lalu, berubah menjadi nama-nama lucu seperti Partai Jambu, Partai
Kelereng, Partai Cucak Rowo, Partai Si Yoyo,Partai Mbah Jambon, Partai Kolor Ijo,
dan lain sebagainya. Dani menggunakan teknik SQL Injection(pada dasarnya teknik
tersebut adalah dengan cara mengetikkan string atau perintah tertentu di address bar
browser) untuk menjebol situs KPU. Kemudian Dani tertangkap pada hari Kamis, 22
April 2004. Dan sidang kasus pembobolan situs TNP KomisiPemilihan Umum (KPU)
digelar Senin(16/8/2004)…..”

 Pembajakan web KPU tahun 2009


“….web resmi KPU kpu.go.id Sabtu 15 Maret pukul 20.15 diganggu orang tak
bertanggungjawab. Bagian situs kpu.go.id yang diganggu hacker adalah halaman
berita, dengan menambah berita dengan kalimat ”I Love You Renny Yahna Octaviana.
Renny How Are You There?”. Bukan hanya itu, sipengganggu juga mengacak-acak isi
berita kpu.go.id.

pengurus situs web kpu.go.id untuk sementara menutup kpu.go.id /sehingga tidak bisa
diakses oleh publik yang ingin mengetahui berita-berita tentang KPU khususnya
mengenai persiapan Pemilu 2009. Padahal awal April 2008 tahapan awal pelaksanaan
Pemilu 2009 yaitu pemutakhiran data pemilih dan pendaftaran Parpol peserta Pemilu
mulai dilaksanakan…..

 Pembajakan Situs Depkominfo


Cyber Crime – Kelompok 3 8
STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
 Pembajakan situs Komisi Hukum Nasional Republik Indonesia

 Pembajakan situs PDAM Kota Denpasar Bali

Cyber Crime – Kelompok 3 9


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
Ini ada juga daftar beberapa situs yang di deface menjelang HUT RI tahun
2007 :

http://www.kajen.go.id/hut.htm
http://disnakerkarawang.go.id/
http://www.bazisdki.go.id/hut.htm
http://depnakertrans.net/
http://dikmas.com/hut.htm
http://indosatschool.com/indosat/caching/
http://amikom.ac.id/images/
http://www.telkomjogja.net/hut.htm
http://kopegtel.pekalongan.net
http://bisnisjakarta.com/
http://bursatransmigrasi.net/
http://alattulis.net/item.php?id=0,26
http://dosasex.com/ap/artikel.php?aid=247
http://harianterbit.com/
http://tvkatalog.com/hut.htm

Ada contoh lain kejahatan cyber di Indonesia


- Pebobolan kartu Kredit melalui Internet yang dilakukan oleh Petrus
Pangkur dengan hukuman 1 tahun penjara karena melakukan
penipuan dan pemalsuan kertu kredit milik orang lain untuk membeli
barang. Pada tahun 2002.
- Steven Haryono dengan cara menipu pelanggan BCA dengan
memlesetkan www.clickbca.com , dengan tujuan kita melek terhadap
internet banking. Diperoleh 130 PIN milik pengunjung yang tidak
sadar teresat. Namun tidak terkena jerat hukum. Pada tahun 2001.
- Ramdoni dan Yanti tertangkap melakukan perdagangan wanita ilegal
dengan melalui situs web. Pada tahun 2004.
- Johnny Indrawan Yusuf menjual VCD porno melalui situs internet di
daerah Waru Sidoharjo, Jawa Timur melalui situs WEB, dengan
melalui transfer ATM. Pada tahun 2004
- Pada awal tahun 2002, Gartner IncH, (www.gartner.com) mengalami
kerugian dari nilai transaksi US$ 700.000.000 hilang sepanjang tahun
2001 akibad fraud. Kerugian itu sebesar US $ 61,8 Milyar atau 19
kali lebih tinggi dari kerugian via off line.
Demikianlah beberapa contoh kasus cyber crime di Indonesia meski
banyak kasus lain yang sudah diselesaikan secara hukum atau belum
terselesaikan dan hanya menjadi polemik saja.

Cyber Crime – Kelompok 3 10


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
• Denial of Service (DoS) dan Distributed DoS (DDos) attack.

DoS attack merupakan serangan yang bertujuan untuk melumpuhkan target


(hang,crash) sehingga dia tidak dapat memberikan layanan. Serangan ini tidak
melakukan pencurian, penyadapan, ataupun pemalsuan data. Akan tetapi dengan
hilangnya layanan maka target tidak dapat memberikan servis sehingga ada kerugian
finansial. Bagaimana status dari DoS attack ini? Bayangkan bila seseorang dapat
membuat ATM bank menjadi tidak berfungsi. Akibatnya nasabahbank tidak dapat
melakukan transaksi dan bank (serta nasabah) dapat mengalami kerugian finansial.
DoS attack dapat ditujukan kepada server (komputer) dan juga dapat ditargetkan
kepada jaringan (menghabiskan bandwidth). Tools untuk melakukan hal ini banyak
tersebar di Internet. DDoS attack meningkatkan serangan ini dengan melakukannya
dari berberapa (puluhan, ratusan, dan bahkan ribuan) komputer secara serentak. Efek
yang dihasilkan lebih dahsyat dari DoS attack saja.

• Kejahatan yang berhubungan dengan nama domain.

Nama domain (domain name) digunakan untuk mengidentifikasi perusahaan dan


merek dagang. Namun banyak orang yang mencoba menarik keuntungan dengan
mendaftarkan domain nama perusahaan orang lain dan kemudian berusaha
menjualnya dengan harga yang lebih mahal. Pekerjaan ini mirip dengan calo karcis.
Istilah yang sering digunakan adalah cybersquatting. Masalah lain adalah
menggunakan nama domain saingan perusahaan untuk merugikan perusahaan lain.
(Kasus: mustika-ratu.com) Kejahatan lain yang berhubungan dengan nama domain
adalah membuat “domain plesetan”, yaitu domain yang mirip dengan nama domain
orang lain. (Seperti kasus klikbca.com) Istilah yang digunakan saat ini adalah
typosquatting.

D. Solusi atau Penanggulangan


Beberapa cara yang harus di lakukan sebagai upaya penanggulangan Cyber Crime
- Penegakkan hukum dengan landasan UU ITE
- Sosialisasi di instansi – instansi baik di pemerintahan, perkantoran maupun di
sekolah - sekolah tentang kejahatan cyber
- Memperkuat system keamanan ( security system )

Cyber Crime – Kelompok 3 11


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
- Melakukan modernisasi hukum pidana material dan hukum acara pidana.
- Mengembangkan tindakan-tindakan pencegahan dan pengamanan komputer.
- Melakukan langkah-langkah untuk membuat peka warga masyarakat, aparat
pengadilan dan penegak hukum, terhadap pentingnya pencegahan kejahatan
yang berhubungan dengan komputer.
- Melakukan upaya-upaya pelatihan (training) bagi para hakim, pejabat dan para
penegak hukum mengenai kejahatan ekonomi dan cyber crime.
- Memperluas rules of ethics dalam penggunaan komputer dan mengajarkannya
melalui kurikulum informatika.
- Mengadopsi kebijakan perlindungan korban Cyber Crime sesuai dengan
deklarasi PBB mengenai korban, dan mengambil langkah-langkah untuk
korban melaporkan adanya cyber crime.

E. Tinjauan Hukum

1. KUHP mampu untuk menangani kejahatan di bidang komputer (computer


crime). Madjono Reksodiputro, pakar kriminolog dari Universitas Indonesia
yang menyatakan bahwa kejahatan komputer sebenarnya bukanlah kejahatan
baru dan masih terjangkau oleh KUHP untuk menanganinya. Pengaturan untuk
menangani kejahatan komputer sebaiknya diintegrasikan ke dalam KUHP dan
bukan ke dalam undang-undang tersendiri.
2. Kejahatan yang berhubungan dengan komputer (computer crime) memerlukan
ketentuan khusus dalam KUHP atau undang-undang tersendiri yang mengatur
tindak pidana dibidang komputer.
Berbagai upaya telah dipersiapkan untuk memerangi cyber crime. The
Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) telah
membuat guidelines bagi para pembuat kebijakan yang berhubungan dengan
computer related crime , dimana pada tahun 1986 OECD telah
mempublikasikan laporan yang berisi hasil survei terhadap peraturan
perundang-undangan negara-negara anggota, beserta rekomendasi
perubahannya dalam menanggulangi computer related crime, yang diakui
bahwa sistem telekomunikasi memiliki peran penting didalam kejahatan
tersebut. Melengkapi laporan OECD, The Council of Europe (CE) berinisiatif
melakukan studi mengenai kejahatan tersebut. Studi ini memberikan guidelines
lanjutan bagi para pengambil kebijakan untuk menentukan tindakan-tindakan
apa yang seharusnya dilarang berdasakan hukum pidana negara-negara anggota
Cyber Crime – Kelompok 3 12
STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
dengan tetap memperhatikan keseimbangan antara hak-hak sipil warga negara
dan kebutuhan untuk melakukan proteksi terhadap computer related crime
tersebut. Pada perkembangannya, CE membentuk Committee of Experts on
Crime ini Cyber space of The Committee on Crime problem, yang pada tanggal
25 April 2000 telah mempublikasikan draft Convention on Cyber Crime
sebagai hasil kerjanya, yang menurut Susan Brenner dari University of
Daytona School of Law, merupakan perjanjian internasional pertama yang
mengatur hukum pidana dan aspek proseduralnya untuk berbagai tipe tindak
pidana yang berkaitan erat dengan penggunaan komputer, jaringan atau data,
serta berbagai penyalahgunaan sejenis.

Di Indonesia sendiri, setidaknya sudah terdapat Undang-Undang no. 11 tahun


2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yang di gawangi oleh
Direktorat Aplikasi Telematika Departemen Komunikasi dan Informatika.
Subyek-subyek muatannya ialah menyangkut masalah yurisdiksi, perlindungan
hak pribadi, azas perdagangan secara e-comerce, azas persaingan usaha tidak
sehat dan perlindungan konsumen, azas hak atas kekayaan intelektual (HaKI)
dan hukum Internasional serta azas Cyber Crime. UU tersebut mengkaji cyber
case dalam beberapa sudut pandang secara komprehensif dan spesifik,
fokusnya adalah semua aktivitas yang dilakukan dalam cyberspace, kemudian
ditentukan pendekatan mana yang paling cocok untuk regulasi Hukum Cyber
di Indonesia. Jaringan komputer global pada awalnya digunakan hanya untuk
saling tukar-menukar informasi, tetapi kemudian meningkat dari sekedar media
komunikasi kemudian menjadi sarana untuk melakukan kegiatan komersil
seperti informasi, penjualan dan pembelian produk.
Keberadaannya menjadi sebuah intangible asset sebagaimana layaknya
intelectual property. Adanya pergeseran paradigma dimana jaringan informasi
merupakan infrastruktur bagi perkembangan ekonomi suatu negara,
mengharuskan kita secara sistematis membangun pertumbuhan pemanfaatan
Teknologi Informasi di Indonesia.
` Upaya penanggulangan cyber crime di Indonesia selama ini adalah berdasarkan
2 hal yang terkait, yaitu :

1. Kebijakan Hukum Pidana dalam penanggulangan cyber crime.


2. Pembentukan cyber law untuk penanggulangan cyber crime.

Cyber Crime – Kelompok 3 13


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
Indonesia adalah negara hukum, bukan negara atas kekuasaan belaka. Ini
mengisyaratkan bahwa perikehidupan berbagsa, bernegara dan bermasyarakat
mengikuti hukum. Segala konflik yang terjadi adalah diselesaikan menurut
hukum sehingga tercapai kepastian hukum. Ditinjau idealisme di atas maka
perlu segera dibentuk cyber law.

Sektor cyber space, juga banyak bersentuhan dengan sektor-sektor lain. Selama
ini, sektor-sektor itu telah memiliki aturasn khusus dalam pelaksanaannya. Ada
beberapa aturan yang bersentuhan dengan dunia cyber yang dapat digunakan
untuk menjerat pelaku cyber crime, sehingga sepak terjang mereka makin
sempit. Peraturan-peraturan khusus itu adalah, sebagai berikut :

1. Undang-Undang Nomor 36 tahun 1999 tentang Telekomunikasi.


2. Undang-Undang Nomor 5 tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli
dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.
3. Undang-Undang Nomor 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen.
4. Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta.
5. Undang-Undang Nomor 14 tahun 2001 tentang Hak Paten.
6. Undang-Undang Nomor 15 tahun 2001 tentang Merk.

Undang – undang di atas adalah Undang – undang yang lama sebelum di sahkannya
Undang – undang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE) pada tahun 2008.
Sedang peninjauan menurut UU ITE sebagai berikut :
UU ITE dipersepsikan sebagai cyberlaw di Indonesia, yang diharapkan bisa
mengatur segala urusan dunia Internet (siber), termasuk didalamnya memberi
punishment terhadap pelaku cybercrime. Nah, kalau memang benar cyberlaw perlu
kita diskusikan apakah kupasan cybercrime sudah semua terlingkupi? Di berbagai
literatur, cybercrime dideteksi dari dua sudut pandang.

1. Kejahatan yang Menggunakan Teknologi Informasi Sebagai Fasilitas:


Pembajakan, Pornografi, Pemalsuan/Pencurian Kartu Kredit, Penipuan melalui
Email (Fraud), Email Spam, Perjudian Online, Pencurian AccountInternet,
Terorisme, Isu Sara, Situs Yang Menyesatkan, dsb

Cyber Crime – Kelompok 3 14


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
2. Kejahatan yang Menjadikan Sistem Teknologi Informasi Sebagai Sasaran:
Pencurian Data Pribadi, Pembuatan/ Penyebaran Virus Komputer,
Pembobolan/Pembajakan Situs, Cyberwar, Denial of Service (DOS), Kejahatan
Berhubungan Dengan Nama Domain, dsb

Secara umum, bisa kita simpulkan bahwa UU ITE boleh disebut sebuah cyberlaw
karena muatan dan cakupannya luas membahas pengaturan di dunia maya, meskipun
di beberapa sisi ada yang belum terlalu lugas dan juga ada yang sedikit terlewat.
Muatan UU ITE kalau saya rangkumkan adalah sebagai berikut:
1. Tanda tangan elektronik memiliki kekuatan hukum yang sama dengan tanda
tangan konvensional (tinta basah dan bermaterai). Sesuai dengan e-ASEAN
Framework Guidelines (pengakuan tanda tangan digital lintas batas)
2. Alat bukti elektronik diakui seperti alat bukti lainnya yang diatur dalam KUHP
3. UU ITE berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum, baik yang
berada di wilayah Indonesia maupun di luar Indonesia yang memiliki akibat
hukum di Indonesia
4. Pengaturan nama domain dan Hak Kekayaan Intelektual
5. Perbuatan yang dilarang (cybercrime) dijelaskan pada Bab VII (pasal 27-37) :
- Pasal 27 (Asusila, Perjudian, Penghinaan, Pemerasan)
- Pasal 28 (Berita Bohong dan Menyesatkan, Berita Kebencian dan
Permusuhan)
- Pasal 29 (Ancaman Kekerasan dan Menakut-nakuti)
- Pasal 30 (Akses Komputer Pihak Lain Tanpa Izin, Cracking)
- Pasal 31 (Penyadapan, Perubahan, Penghilangan Informasi)
- Pasal 32 (Pemindahan, Perusakan dan Membuka Informasi Rahasia)
- Pasal 33 (Virus?, Membuat Sistem Tidak Bekerja (DOS?))
- Pasal 35 (Menjadikan Seolah Dokumen Otentik (phising?)

UU ITE adalah cyberlaw-nya Indonesia, kedudukannya sangat penting untuk


mendukung lancarnya kegiatan para pebisnis Internet, melindungi akademisi,
masyarakatdan mengangkatcitra Indonesia di level internasional. Cakupan UU ITE
luas (bahkan terlalu luas?), mungkin perlu peraturan di bawah UU ITE yang
mengatur hal-hal lebih mendetail (peraturan mentri, dsb). UU ITE masih perlu
perbaikan, ditingkatkan kelugasannya sehingga tidak ada pasal karet yang bisa
dimanfaatkan untuk kegiatan yang tidak produktif.

Cyber Crime – Kelompok 3 15


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA
F. Referensi
• http://www.duniamaya.org/index.php/security/kejahatan-dunia-maya-cybercrime/
• http://beckhans.blogspot.com/2009/04/situs-kpu-diacak-hacker-pemilu-2009_15.html
• http://dilunisme.blogspot.com/2008/12/etika-profesi-cyber-ethic-contoh-kasus.html
• http://badkiddies.blogspot.com/2008_08_01_archive.html
• http://ronny-hukum.blogspot.com/
• http://moduskejahatan.blogspot.com/2008/06/penanggulangan-kejahatan-hacking-
di.html
• http://cybercrime.wordpress.com/

Cyber Crime – Kelompok 3 16


STMIK EL RAHMA YOGYAKARTA