Anda di halaman 1dari 45

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

DAFTAR ISI
I. II. III. IV. V. VI. VII. Pendahuluan ................................................................................................ 1 Pembagian Otopsi ....................................................................................... 1 Otopsi Medikolegal ..................................................................................... 2 Dasar Hukum .............................................................................................. 4 Pemeriksaan Luar ...................................................................................... 6 Pemeriksaan Dalam .................................................................................... 8 Pemeriksaan Khusus ..................................................................................14 Daftar Pustaka.............................................................................................23

VIII. Pemeriksaan Penunjang ........................................................................... 20

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

I. PENDAHULUAN
Otopsi adalah pemeriksaan pemeriksaan terhadap bagian luar terhadap tubuh mayat, yang meliputi maupun dalam, dengan tujuan menemukan

proses penyakit dan atau adanya cedera, melakukan interpretasi atau penemuanpenemuan tersebut, menerangkan penyebab kematian serta mencari hubungan sebab akibat antara kelainan-kelainan yang ditemukan dengan penyebab kematian. 1,2

II. PEMBAGIAN OTOPSI


Berdasarkan tujuannya, otopsi terbagi atas : 1. Otopsi Anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas kedokteran. Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit yang setelah disimpan 2 x 24 jam di laboratorium ilmu kedokteran kehakiman tidak ada ahli waris yang mengakuinya. Setelah diawetkan di laboratorium anatomi, mayat disimpan sekurang-kurangnya satu tahun sebelum digunakan untuk praktikum anatomi. Menurut hukum, hal ini dapat dipertanggungjawabkan sebab warisan yang tak ada yang mengakuinya menjadi milik negara setelah tiga tahun (KUHPerdata pasal 1129). Ada kalanya, seseorang mewariskan mayatnya setelah ia meninggal pada fakultas kedokteran, hal ini haruslah sesuai dengan KUHPerdata pasal 935.1,2,3 2. Otopsi Klinik, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti, menganalisa kesesuaian antar diagnosis klinis dan diagnosis postmortem, patogenesis penyakit, dan sebagainya. Otopsi klinis dilakukan dengan persetujuan tertulis ahli waris, ada kalanya ahli waris sendiri yang memintanya.1,2,3 3. Otopsi Forensik/Medikolegal, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus

ii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal kecelakaan, pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara. Tujuan dari otopsi medikolegal adalah : Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau belum jelas. Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat kematian. Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas benda penyebab dan pelaku kejahatan. Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk visum et repertum.1,3,4

III. OTOPSI MEDIKOLEGAL


Otopsi medikolegal dilakukan atas permintaan penyidik sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara. Hasil pemeriksaan adalah temuan obyektif pada korban, yang diperoleh dari pemeriksaan medis.4 Beberapa hal yang perlu diperhatikan pada otopsi medikolegal : 1. Tempat untuk melakukan otopsi adalah pada kamar jenazah. 2. Otopsi hanya dilakukan jika ada permintaan untuk otopsi oleh pihak yang berwenang. 3. Otopsi harus segera dilakukan begitu mendapat surat permintaan untuk otopsi. 4. Hal-hal yang berhubungan dengan penyebab kematian harus dikumpulkan dahulu sebelum memulai otopsi. Tetapi kesimpulan harus berdasarkan temuan-temuan dari pemeriksaan fisik. 5. Pencahayaan yang baik sangat penting pada tindakan otopsi. 6. Identitas korban yang sesuai dengan pernyataan polisi harus dicatat pada laporan. Pada kasus jenazah yang tidak dikenal, maka tanda-tanda identifikasi, photo, sidik jari, dan lain-lain harus diperoleh.

iii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 7. Ketika dilakukan otopsi tidak boleh disaksikan oleh orang yang tidak berwenang. 8. Pencatatan perincian pada saat tindakan otopsi dilakukan oleh asisten. 9. Pada laporan otopsi tidak boleh ada bagian yang dihapus. 10. Jenazah yang sudah membusuk juga bisa diotopsi.4 Adapun persiapan yang dilakukan sebelum melakukan otopsi

forensik/medikolegal adalah: 1. Melengkapi surat-surat yang berkaitan dengan otopsi yang akan dilakukan, termasuk surat izin keluarga, surat permintaan pemeriksaan/pembuatan visum et repertum. 2. Memastikan mayat yang akan diotopsi adalah mayat yang dimaksud dalam surat tersebut. 3. Mengumpulkan keterangan yang berhubungan dengan terjadinya kematian selengkap mungkin untuk membantu memberi petunjuk pemeriksaan dan jenis pemeriksaan penunjang yang harus dilakukan. 4. Memastikan alat-alat yang akan dipergunakan telah tersedia. Untuk otopsi tidak diperlukan alat-alat khusus dan mahal, cukup : Timbangan besar untuk menimbang mayat. Timbangan kecil untuk menimbang organ. Pisau, dapat dipakai pisau belati atau pisau dapur yang tajam. Guntung, berujung runcing dan tumpul. Pinset anatomi dan bedah. Gergaji, gergaji besi yang biasanya dipakai di bengkel. Forseps atau cunam untuk melepaskan duramater. Gelas takar 1 liter. Pahat. Palu. Meteran. iv

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Jarum dan benang. Sarung tangan Baskom dan ember Air yang mengalir3,4

5. Mempersiapkan format otopsi, hal ini penting untuk memudahkan dalam pembuatan laporan otopsi.

IV. DASAR HUKUM


Beberapa peraturan perundang-undangan yang mengatur pekerjaan dokter dalam membantu peradilan: 5 - Pasal 133 KUHAP : Ayat 1: Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal merupakan tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya. Ayat 2: Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat 1 dilakukan secara tertulis yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat. Ayat 3: Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah sakit harus diperlakukan baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat tersebut dan diberi label yg memuat identitas mayat diberi cap jabatan yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat. - Pasal 134 KUHAP (1) Dalam hal sangat diperlukan di mana untuk keperluan pembuktian bedah mayat tidak mungkin lagi dihindari, penyidik wajib memberitahukan terlebih dahulu kepada keluarga korban. (2) Dalam hal keluarga keberatan, penyidik wajib menerangkan sejelas-jelasnya tentang maksud dan tujuan perlu dilakukannya pembedahan tersebut. (3) Apabila dalam waktu dua hari tidak ada tanggapan apapun dari keluarga atau pihak yang perlu diberitahu tidak ditemukan, penyidik segera melaksanakan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam pasal 133 ayat (3) undang-undang ini. - Pasal 179 KUHAP: 1. Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau dokter ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan. 2. Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaikbaiknya dan yang sebenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya. vi

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

V. PEMERIKSAAN LUAR
Bagian pertama dari teknik otopsi adalah pemeriksaan luar. Sistematika pemeriksaan luar adalah : 1. Memeriksa label mayat (dari pihak kepolisian) yang biasanya diikatkan pada jempol kaki mayat. Gunting pada tali pengikat, simpan bersama berkas pemeriksaan. Catat warna, bahan, dan isi label selengkap mungkin. Sedangkan label rumah sakit, untuk identifikasi di kamar jenazah, harus tetap ada pada tubuh mayat. 2. Mencatat 3. Mencatat jenis/bahan, jenis/bahan, warna, warna, corak, corak, serta serta kondisi kondisi (ada (ada tidaknya tidaknya bercak/pengotoran) dari penutup mayat. bercak/pengotoran) dari bungkus mayat. Catat tali pengikatnya bila ada. 4. Mencatat pakaian mayat dengan teliti mulai dari yang dikenakan di atas sampai di bawah, dari yang terluar sampai terdalam. Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak tekstil, bentuk/model pakaian, ukuran, merk penjahit, cap binatu, monogram/inisial, dan tambalan/tisikan bila ada. Catat juga letak dan ukuran pakaian bila ada tidaknya bercak/pengotoran atau robekan. Saku diperiksa dan dicatat isinya. 5. Mencatat perhiasan mayat, meliputi jenis, bahan, warna, merek, bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan tersebut. 6. Mencatat benda di samping mayat. 7. Mencatat perubahan tanatologi : i. Lebam mayat; letak/distribusi, warna, dan intensitas lebam. ii. Kaku mayat; distribusi, derajat kekakuan pada beberapa sendi, dan ada tidaknya spasme kadaverik. iii. Suhu tubuh mayat; memakai termometer rektal dam dicatat juga suhu ruangan pada saat tersebut.

vii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal iv. Pembusukan v. Lain-lain; misalnya mumifikasi atau adiposera. 8. Mencatat identitas mayat, seperti jenis kelamin, bangsa/ras, perkiraan umur, warna kulit, status gizi, tinggi badan, berat badan, disirkumsisi/tidak, striae albicantes pada dinding perut. 9. Mencatat segala sesuatu yang dapat dipakai untuk penentuan identitas khusus, meliputi rajah/tatoo, jaringan parut, kapalan, kelainan kulit, anomali dan cacat pada tubuh. 10. Memeriksa distribusi, warna, keadaan tumbuh, dan sifat dari rambut. Rambut kepala harus diperiksa, contoh rambut diperoleh dengan cara memotong dan mencabut sampai ke akarnya, paling sedikit dari 6 lokasi kulit kepala yang berbeda. Potongan rambut ini disimpan dalam kantungan yang telah ditandai sesuai tempat pengambilannya. 11. Memeriksa mata, seperti apakah kelopak terbuka atau tertutup, tanda kekerasan, kelainan. Periksa selaput lendir kelopak mata dan bola mata, warna, cari pembuluh darah yang melebar, bintik perdarahan, atau bercak perdarahan. Kornea jernih/tidak, adanya kelainan fisiologik atau patologik. Catat keadaan dan warna iris serta kelainan lensa mata. Catat ukuran pupil, bandingkan kiri dan kanan. 12. Mencatat bentuk dan kelainan/anomali pada daun telinga dan hidung. 13. Memeriksa bibir, lidah, rongga mulut, dan gigi geligi. Catat gigi geligi dengan lengkap, termasuk jumlah, hilang/patah/tambalan, gigi palsu, kelainan letak, pewarnaan, dan sebagainya. 14. Bagian leher diperiksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh. 15. Pemeriksaan alat kelamin dan lubang pelepasan. Pada pria dicatat kelainan bawaan yang ditemukan, keluarnya cairan, kelainan lainnya. Pada wanita dicatat keadaan selaput darah dan komisura posterior, periksa sekret liang

viii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal sanggama. Perhatikan bentuk lubang pelepasan, perhatikan adanya luka, benda asing, darah dan lain-lain 16. Perlu diperhatikan kemungkinan terdapatnya tanda perbendungan, ikterus, sianosis, edema, bekas pengobatan, bercak lumpur atau pengotoran lain pada tubuh. 17. Bila terdapat tanda-tanda kekerasan/luka harus dicatat lengkap. Setiap luka pada tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan penyebab luka, lokasi, ukuran, dll. Dalam luka diukur dan panjang luka diukur setelah kedua tepi ditautkan. Lokalisasi luka dilukis dengan mengambil beberapa patokan, antara lain : garis tengah melalui tulang dada, garis tengah melalui tulang belakang, garis mendatar melalui kedua puting susu, dan garis mendatar melalui pusat. Contoh : Luka panjang dua setengah sentimeter dan masuk ke dalam dada. Ujung yang satu letaknya dua sentimeter sebelah kiri dari garis tengah melalui tulang dada dan dua sentimeter di atas garis mendatar melalui kedua puting susu. Sedangkan ujung yang lain lima sentimeter sebelah kiri dari garis tengah melalui tulang dada dan empat sentimeter di atas garis mendatar melalui kedua puting susu. Saluran tusuk dilukis di bagian pemeriksaan dalam, ditulis organ apa saja yang tertusuk. 18. Pemeriksaan ada tidaknya patah tulang, serta jenis/sifatnya.1,3,4

VI. PEMERIKSAAN DALAM


Pemeriksaan dalam bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut ini : Insisi I dimulai di bawah tulang rawan krikoid di garis tengah sampai prosesus xifoideus kemudian 2 jari paramedian kiri dari puat sampai simfisis, dengan demikian tidak perlu melingkari pusat. Insisi Y, merupakan salah satu tehnik khusus otopsi dan akan dijelaskan kemudian.

ix

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Insisi melalui lekukan suprastenal menuju simfisis pubis, lalu dari lekukan suprasternal ini dibuat sayatan melingkari bagian leher.3,4

Pada pemeriksaan dalam, organ tubuh diambil satu persatu dengan hati-hati dan dicatat : 1. Ukuran : Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita pengukur. Secara tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas inferior organ. Organ hati yang mengeras juga menunjukkan adanya pembesaran. 2. Bentuk 3. Permukaan : Pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang lembut, berkilat dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika terdapat penebalan, permukaan yang kasar , penumpulan atau kekeruhan. 4. Konsistensi: Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut. 5. Kohesi: Merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu. Caranya dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada saat ditarik. Jaringan yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi yang rendah sedangkan jaringan yang susah menunjukkan kohesi yang kuat.

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 6. Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur permukaan penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ tubuh adalah keabu-abuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah yang terdapat pada organ tersebut. Warna kekuningan, infiltrasi lemak, lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen bisa merubah warna organ. Warna yang pucat merupakan tanda anemia. Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan khusus juga bisa dilakukan terhadap sistem organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab kematian.4 Insisi pada masing-masing bagian-bagian tubuh yaitu :

1. Dada :
Tulang dada diangkat dengan memotong tulang rawan iga 1 cm dari sambungannya dengan cara pisau dipegang dengan tangan kanan dengan bagian tajam horizontal diarahkan pada tulang rawan iga dan dengan tangan yang lain menekan pada punggung pisau. Pemotongan dimulai dari tulang rawan iga no. 2. Tulang dada diangkat dan dilepaskan dari diafragma kanan dan kiri kemudian dilepaskan mediastinum anterior. Rongga paru-paru diperiksa adanya perlengketan, darah, pus atau cairan lain kemudian diukur. Kemudian pisau dengan tangan kanan dimasukkan dalam rongga paru-paru, bagian tajam tegak lurus diarahkan ke tulang rawan no.1 dan tulang rawan dipotong sedikit ke lateral, kemudian bagian tajam pisau diarahkan ke sendi sternoklavikularis dengan menggerak-gerakkan sternum, sendi dipisahkan. Prosedur diulang untuk sendi yang lainnya. Mediastinum anterior diperiksa adanya timus persistens. Perikardium dibuka dengan Y terbalik, diperiksa cairan perikardium, normal sebanyak kurang lebih 50 cc dengan warna agak kuning. Apeks jantung diangkat, dibuat insisi di bilik dan serambi kanan diperiksa adanya embolus yang menutup arteri pulmonalis. Kemudian dibuat insisi di bilik dan serambi kiri. Jantung dilepaskan dengan memotong pembuluh besar dekat perikardium. Seksi Jantung :

xi

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Jantung dibuka menurut aliran darah : pisau dimasukkan ke vena kava inferior sampai keluar di vena superior dan bagian ini dipotong. Ujung pisau dimasukkan melalui katup trikuspidalis keluar di insisi bilik kanan dan bagian ini dipotong. Ujung pisau lalu dimasukkan arteri pulmonalis dan otot jantung mulai dari apeks dipotong sejajar dengan septum interventrikulorum. Ujung pisau dimasukkan ke vena pulmonalis kanan keluar ke vena pulmonalis kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau dimasukkan melalui katup mitral keluar di insisi bilik kiri dan bagian ini dipotong. Ujung pisau kemudian dimasukkan melalui katup aorta dan otot jantung dari apeks dipotong sejajar dengan septum inetrventrikulorum. Jantung sekarang sudah terbuka, diperiksa katup, otot kapiler, chorda tendinea, foramen ovale, septum interventrikulorum. Arteri koronaria diiris dengan pisau yang tajam sepanjang 4-5 mm mulai dari lubang dikatup aorta. Otot jantung bilik kiri diiris di pertengahan sejajar dengan epikardium dan endokardium, demikian pula dengan septum interventrikulorum. Paru-paru : Paru-paru kanan dan kiri dilepaskan dengan memotong bronkhi dan pembuluh darah di hilus, setelah perkardium diambil. Vena pulmonalis dibuka dengan gunting, kemudian bronkhi dan terakhir arteri pulmonalis. Paru-paru diiris longitudinal dari apeks ke basis.

2. Perut :
Usus halus dipisahkan dari mesenterium, usus besar dilepaskan, duodenum dan rektum diikat ganda kemudian dipotong. Limpa : dipotong di hilus, diiris longitudinal, perhatikan parenkim, folikel, dan septa. Esofagus-Lambung-Doudenum-Hati : Semua organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Esofagus diikat ganda dan dipotong. Diafragma dilepaskan dari hati dan esofagus dan unit tadi dapat diangkat. Sebelum diangkat, anak ginjal kanan yang biasanya melekat pada hati dilepaskan terlebih dahulu.

xii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Esofagus dibuka terus ke kurvatura mayor, terus ke duodenum. Perhatikan isi lambung, dapat membantu penentuan saat kematian. Kandung empedu ditekan, bulu empedu akan menonjol kemudian dibuka dengan gunting ke arah papila Vater, kemudian dibuka ke arah hati, lalu kandung empedu dibuka. Perhatikan mukosa dan adanya batu. Buluh kelenjar ludah diperut dibuka dari papila Vater ke pankreas. Pankreas dilepaskan dari duodenum dan dipotong-potong transversal. Hati : perhatikan tepi hati, permukaan hati, perlekatan, kemudian dipotong longitudinal. Usus halus dan usus besar dibuka dengan gunting ujung tumpul, perhatikan mukosa dan isinya, cacing. Ginjal, Ureter, Rektum, dan Kandung Urine Organ tersebut di atas dikeluarkan sebagai satu unit. Ginjal dengan suatu insisi lateral dapat diangkat dan dilepaskan dengan memotong pembuluh darah di hilus, kemudian ureter dilepaskan sampai panggul kecil. Kandung urine dan rektum dilepaskan dengan cara memasukkan jari telunjuk lateral dari kandung urine dan dengan cara tumpul membuat jalan sampai ke belakang rektum. Kemudian dilakukan sama pada bagian sebelahnya. Tempat bertemunya kedua jari telunjuk dibesarkan sehingga 4 jari kanan dan kiri dapat bertemu, kemudian jari kelingking dinaikkan ke atas dengan demikian rektum lepas dari sakrum. Rektum dan kandung urine dipotong sejauh dekat diafragma pelvis. Anak ginjal dipotong transversal. Ginjal dibuka dengan irisan longitudinal dari lateral ke hilus. Ureter dibuka dengan gunting sampai kandung urine, kapsul ginjal dilepas dan perhatikan permukaannya. Pada laki-laki rektum dibuka dari belakang dan kandung urine melalui uretra dari muka. Rektum dilepaskan dari prostat dan dengan demikian terlihat vesika seminalis. Prostat dipotong transversal, perhatikan besarnya penampang. Testis dikeluarkan melalui kanalis spermatikus dan diiris longitudinal, perhatikan besarnya, konsistensi, infeksi, normal, tubuli semineferi dapat ditarik seperti benang.

xiii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Urogenital Perempuan : Kandung urine dibuka dan dilepaskan dari vagina. Vagina dan uterus dibuka dengan insisi longitudinal dan dari pertengahan uterus insisi ke kanan dan ke kiri. Ke kornu. Tuba diperiksa dengan mengiris tegak lurus pada jarak 1-1,5 cm. Ovarium diinsisi longitudinal. Pada abortus provokatus kriminalis yang dilakukan dengan menusuk ke dalam uterus, seluruhnya : kandung urine, uterus dan vagina, rektum difiksasi dalam formalin 10% selama 7 hari, setelah itu dibuat irisan tegak lurus pada sumbu rektum setebal 1,25 cm, kemudian semuanya direndam dalam alkohol selama 24 jam. Saluran tusuk akan terlihat sebagai noda merah, hiperemis. Dari noda merah ini dibuat sediaan histopatologi.

3. Leher :
Lidah, laring, trakea, esofagus, palatum molle, faring dan tonsil dikeluarkan sebagai satu unit. Perhatikan obstruksi di saluran nafas, kelenjar gondok dan tonsil. Pada kasus pencekikan tulang lidah harus dibersihkan dan diperiksa adanya patah tulang.

4. Kepala :
Kulit kepala diiris dari prosesus mastoideus kanan sampai yang kiri dengan mata pisau menghadap keluar supaya tidak memotong rambut terlalu banyak. Kulit kepala kemudian dikelupas ke muka dan ke belakang dan tempurung tengkorak dilepaskan dengan menggergajinya. Pahat dimasukkan dalam bekas mata gergaji dan dengan beberapa ketukan tempurung lepas dan dapat dipisahkan. Durameter diinsisi paralel dengan bekas mata gergaji. Falx serebri digunting dibagian muka. Otak dipisah dengan memotong pembuluh darah dan saraf dari muka ke belakang dan kemudian medula oblongata. Tentorium serebri diinsisi di belakang tulang karang dan sekarang otak dapat diangkat. Selaput tebal otak ditarik lepas dengan cunam. Otak kecil dipisah dan diiris horisontal, terlihat nukleus dentatus. Medula oblongata diiris transversal, demikiaan pula otak besar setebal 2,5 cm. Pada trauma kepala perhatikan adanya edema, kontusio, laserasi serebri.

5. Tengkorak Neonatus :
xiv

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Kulit kepala dibuka seperti biasa, tengkorak dibuka dengan menggunting sutura yang masih terbuka dan tulang ditekan ke luar, sehingga otak dengan mudah dapat diangkat.3

VII. PEMERIKSAAN KHUSUS


Pada beberapa keadaan tertentu, diperlukan berbagai prosedur khusus dalam tindakan otopsi, antara lain : insisi Y, insisi pada kasus dengan kelainan leher, tes emboli udara, tes apung paru, tes pada pneumothorax, dan tes alphanaphthylamine. Insisi Y Insisi Y, dilakukan semata-mata untuk alasan kosmetik, sehingga jenazah yang sudah diberi pakaian, tidak memperlihatkan adanya jahitan setelah dilakukan bedah mayat. Ada dua macam insisi Y, yaitu :

1. Insisi yang dilakukan dangkal (shallow incision) yang dilakukan pada tubuh pria.

xv

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah tulang selangka dan sejajar dengan tulang tersebut, kiri dan kanan, sehingga bertemu pada bagian tengah (incisura jugularis). Lanjutkan sayatan, dimulai dari incisura jugularis ke arah bawah tepat di garis pertengahan sampai ke sympisis os pubis menghindari daerah umbilikus. Kulit daerah leher dilepaskan secara hati-hati sampai ke rahang bawah; tindakan ini dimulai dari sayatan yang telah dibuat pertama kali. Dengan kulit daerah leher dan dada bagian atas tetap utuh, alat-alat dalam rongga mulut dan leher dikeluarkan. Tindakan selanjutnya sama dengan tindakan pada bedah mayat yang biasa. 2. Insisi yang lebih dalam (deep incision), yang dilakukan untuk kaum wanita. Buat sayatan yang letaknya tepat di bawah buah dada, dimulai dari bagian lateral menuju bagaian medial (proc. Xiphoideus); bagian lateral disini dapat dimulai dari ketiak, ke arah bawah sesuai dengan arah garis ketiak depan (linea axillaris anterior), hal yang sama juga dilakukan untuk sisi yang lain (kiri dan kanan). Lanjutkan sayatan ke arah bawah seperti biasa, sampai simphisis os pubis, dengan demikian pengeluaran dan pemeriksaan alat-alat yang berada dalam rongga mulut, leher, dan rongga dada lebih sulit bila dibandingkan dengan insisi Y yang dangkal. Insisi pada Kasus dengan Kelainan di Daerah Leher Insisi ini dimaksudkan agar daerah leher dapat bersih dari darah, sehingga kelainan yang minimalpun dapat terlihat; misalnya pada kasus pencekikan, penjeratan, dan penggantungan. Prinsip dari teknik ini adalah pemeriksaan daerah dilakukan paling akhir.

xvi

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Buat insisi I, yang dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah seperti biasa, sampai ke simpisis os pubis. Buka rongga dada, dengan jalan memotong tulang dada dan iga-iga. Keluarkan jantung, dengan menggunting mulai dari v.cava inferior, vv.pulmonalis, a.pulmonalis, v.cava superior dan terakhir aorta. Buka rongga tengkorak, dan keluarkan organ otaknya. Dengan adanya bantalan kayu pada daerah punggung, maka daerah leher akan bersih dari darah, oleh karena darah telah mengalir ke atas ke arah tengkorak dan ke bawah, ke arah rongga dada; dengan demikian pemeriksaan dapat dimulai. Tes emboli udara Emboli udara, baik yang sistemik maupun emboli udara pulmoner, tidak jarang terjadi. Pada emboli sistemik udara masuk melalui pembuluh vena yang ada di paru-paru, misalnya pada trauma dada dan trauma daerah mediastinum yang merobek paru-paru dan merobek pembuluh venanya. Emboli pulmoner adalah emboli yang tersering, udara masuk melalui pembuluh-pembuluh vena besar yang terfiksasi, misalnya pada daerah leher bagian bawah, lipat paha atau daerah sekitar rahim (yang sedang hamil); dapat pula pada daerah lain, misalnya pembuluh vena pergelangan tangan sewaktu diinfus, dan udara masuk melalui jarum infus tadi. Fiksasi ini penting, mengingat bahwa tekanan vena lebih kecil dari tekanan udara luar, sehingga jika ada robekan pada vena, vena tersebut akan menguncup, hal ini ditambah lagi dengan pergerakan pernapasan, yang menyedot. buat sayatan I, dimulai dari incisura jugularis, ke arah bawah sampai ke symphisis pubis, potong rawan iga mulai dari iga ke-3 kiri dan kanan, pisahkan rawan iga dan tulang dada keatas sampai ke perbatasan antara iga ke-2 dan iga ke-3, potong tulang dada setinggi perbatasan antara tulang iga ke-2 dan ke3,

xvii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal setelah kandung jantung tampak, buat insisi pada bagian depan kandung jantung dengan insisi I, sepanjang kira-kira 5-7 sentimeter; kedua ujung sayatan tersebut dijepit dan diangkat dengan pinset (untuk mencegah air yang keluar), masukkan air ke dalam kandung jantung, melalui insisi yang telah dibuat tadi, sampai jantung terbenam; akan tetapi bila jantung tetap terapung, maka hal ini merupakan pertanda adanya udara dalam bilik jantung, tusuk dengan pisau organ yang runcing, tepat di daerah bilik jantung kanan, yang berbatasan dengan pangkal a. Pulmonalis, kemudian putar pisau itu 90 derajat; gelembung-gelembung udara yang keluar menandakan tes emboli hasilnya positip, bila tidak jelas atau ragu-ragu, lakukan pengurutan pada a. Pulmonalis, ke arah bilik jantung, untuk melihat keluarnya gelembung udara, bila kasus yang dihadapi adalah kasus abortus, maka pemeriksaan dengan prinsip yang sama, dilakukan mulai dari rahim dan berakhir pada jantung, semua yang disebut di atas adalah untuk melakukan tes emboli pulmoner, untuk tes emboli sistemik, pada prinsipnya sama, letak perbedaannya adalah : pada tes emboli sistemik tidak dilakukan penusukan ventrikel, tetapi sayatan melintang pada a. Coronaria sinistra ramus desenden, secara serial beberapa tempat, dan diadakan pengurutan atas nadi tersebut, agar tampak gelembung kecil yang keluar, dosis fatal untuk emboli udara pulmoner 150-130 ml, sedangkan untuk emboli sistemik hanya beberapa ml. Tes Apung Paru-paru Tes apung paru-pau dikerjakan untuk mengtahui apakah bayi yang diperiksa itu pernah hidup. Untuk melaksanakan test ini, persyaratannya xviii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal sama dengan test emboli udara, yakni mayatnya harus segar. Cara melakukan tes apung paru-paru: Keluarkan alat-alat dalam rongga mulut, leher dan rongga dada dalam satu kesatuan, pangkal dari esophagus dan trakea boleh diikat. Apungkan seluruh alat-alat tersebut pada bak yang berisi air. Bila terapung lepaskan organ paru-paru, baik yang kiri maupun yang kanan. Apungkan kedua organ paru-paru tadi, bila terapung lanjutkan dengan pemisahan masing-masing lobus, kanan terdapat lima lobus dan kiri dua lobus. Apungkan semua lobus tersebut, catat yang mana yang tenggelam dan mana yang terapung. Lobus yang terapung diambil sebagian, yaitu tiap-tiap lobus 5 potong dengan ukuran 5 mm x 5 mm, dari tempat yang terpisah dan perifer. Apungkan ke 25 potongan kecil-kecil tersebut, bila terapung, letakkan potongan tersebu pada dua karton, dan lakukan penginjakan dengan menggunakan berat badan, kemudian dimasukkan kembali ke dalam air. Bila terapung berarti tes apung paru positif, paru-paru mengandung udara, bayi tersebut pernah dilahirkan hidup. Bila hanya sebagian yang terapung, kemungkinan terjadi pernafasan partial, bayi tetap pernah dilahirkan hidup. Tes Pada Pneumothoraks Pada trauma di daerah dada, ada kemungkinan jaringan paru robek, sedemikian rupa sehingga terjadi mekanisme ventil di mana udara yang masuk ke paru-paru akan diteruskan ke dalam rongga dada, dan tidak dapat keluar kembali, sehingga terjadi kumulasi udara, dengan akibat paru-paru akan kolaps dan korban akan mati.

xix

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Diagnosa pneumothorax yang fatal semata-mata atas dasar test ini, bila test ini tidak dilakukan, diagnosa sifatnya hanya dugaan. Cara melakukan test ini adalah sebagai berikut: buka kulit dinding dada pada bagian yang tertinggi dari dada, yaitu sekitar iga ke 4 dan 5 ( udara akan berada pada tempat yang tertinggi ), buat kantung dari kulit dada tersebut mengelilingi separuhnya dari daerah iga 4 dan 5 ( sekitar 10 x 5 cm ) pada kantung tersebut kemudian diisi air, dan selanjutnya tusuk dengan pisau, adanya gelembung udara yang keluar berarti ada pneumothorax; dan bila diperiksa paru-parunya, paru-paru tersebut tampak kollaps, cara lain; setelah dibuat kantung , kantung ditusuk dengan spuit besar dengan jarum besar yang berisi air separuhnya pada spuit tersebut; bila ada pneumothorax, tampak gelembung-gelembung udara pada spuit tadi. Tes Alpha Naphthylamine Test ini dilakukan untuk mengetahui adanya butir-butir mesiu khususnya pada pakaian korban penembakan, kertas saring Whatman direndam dalam larutan alphanaphthylamine, dan keringkan dalamoven, hindari jangan sampai terkena sinar matahari, pakaian yang akan diperiksa, yaitu yang diduga mengandung butirbutir mesiu, dipotong dan di atasnya diletakkan kertas saring yang telah diberi alpha-naphthylamine, di atas kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine tadi ditaruh lagi kertas saring yang dibasahi oleh aquadest, keringkan dengan cara menyeterika tumpukan tersebut, yaitu kain yang akan diperiksa, kertas yang mengandung alpha-naphthylamine dan kertas saring yang basah,

xx

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal test yang positif akan terbentuk warna merah jambu (pink colour), pada kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine; bintikbintik merah jambu tadi sesuai dengan penyebaran butir-butir mesiu pada pakaian. 5 Setelah otopsi selesai, semua organ tubuh dimasukkan kembali ke dalam rongga tubuh. Lidah dikembalikan ke dalam rongga mulut sedangkan jaringan otak dikembalikan ke dalam rongga tengkorak. Jahitkan kembali tulang dada dan iga yang dilepaskan pada saat membuka rongga dada. Jahitkan kulit dengan rapi menggunakan benang yang kuat, mulai dari dagu sampai ke daerah simfisis. Atap tengkorak diletakkan kembali pada tempatnya dan difiksasi dengan menjahit otot temporalis, baru kemudian kulit kepala dijahit dengan rapi. Bersihkan tubuh mayat dari darah sebelum mayat diserahkan kembali pada pihak keluarga.1

VIII. PEMERIKSAAN PENUNJANG


Pada otopsi juga dilakukan prosedur laboratorium yaitu : 1. Sediaan histopatologi dari masing-masing organ. Dari tiap organ diambil sediaan sebesar 2 x 2 x1 cm kubik dan difiksasi dalam formalin 10%.Organ yang diambil adalah: paru-paru, hati, limpa, pankreas, otot jantung, arteri koronaria, kelenjar gondok, ginjal, prostat, uterus, korteks otak, basal ganglia dan dari bagian lain yang menunjukkan adanya kelainan. 2. Pemeriksaan toksikologi. Prinsip pengambilan sampel pada kasus keracunan adalah diambil sebanyakbanyaknya setelah kita sisihkan untuk cadangan dan untuk pemeriksaan histopatolgik. Secara umum sampel yang harus diambil adalh: a. Lambung dan isinya b. Seluruh usus dan isinya dengan membuat sekat dengan ikatan-ikatan pada pada usus setiap jarak sekitar 60 cm c. Darah, yang berasal dari sentral (jantung) dan yang berasal dari perifer (v,jugularis; a.femoralis, dan sebagainya), masing-masing 50

xxi

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal ml dan dibagi dua, yang satu diberi bahan pengawet dan yang lain tidak diberi bahan pengawet. d. Hati, sebagai tempat detoksifikasi , diambil sebanyak 500 gram e. Ginjal, diambil keduanya yaitu pada kasus keracunan logam berat khususnya atau bila urine tidak tersedia. f. Otak, diambil 500 gram. Khusus untuk keracunan chloroform dan sianida, dimungkinkan karena otak terdiri dari jaringan lipoid yang mempunyai kemampuan untuk meretensi racun walaupun telah mengalami pembususkan. g. Urine, diambil seluruhnya. Karena pada umunya racun akan diekskresikan melalui urine, khususnya pada test penyaring untuk keracunan narkotika, alkohol dan stimulan. h. Empedu, diambil karena tempat ekskresi berbagai racun. i. Pada kasus khusus dapat diambil: jaringan sekitar suntikan, jaringan otot, lemak di bawah kulit dinding perut, rambut, kuku dan cairan otak. Pada pemeriksaan intoksikasi, digunakan alkohol dan larutan garam jenuh pada sampel padat atau organ. NaF 1% dan campuran NaF dan Na sitrat digunakan untuk sampel cair. Sedangkan natrium benzoate dan phenyl mercuric nitrate khusus untuk pengawet urine. 3. Pemeriksaan bakteriologi. Dalam hal ada dugaan sepsis diambil darah dari jantung dan sediaan limpa untuk pembiakan kuman. Permukaan jantung dibakar dengan menempelkan spatel yang dipanaskan sampai merah, kemudiaan darah jantung diambil dengan tabung injeksi yang steril dan dipindah dalam tabung reagen yang steril. Permukaan limpa dibakar dengan cara tersebut di atas dan dengan pinset dan gunting yang steril diambil sepotong limpa dan dimasukkan dalam tabung reagen yang steril dan kedua tabung dikirim ke laboratorium bakteriologi.

xxii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 4. Sediaan apus bagian korteks otak, limpa dan hati. Mungkin perlu dilakukan untuk melihat parasit malaria.Sediaan hapus lainnya adalah dari tukak sifilis atau cairan mukosa. 5. Darah dan cairan cerebrospinalis diambil untuk pemeriksaan analisa biokimia. 6. Pemeriksaan urine dan feces. 7. Usapan vagina dan anus, utamanya pada kasus kejahatan seksual. 8. Cairan uretra.3,4

xxiii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

DAFTAR PUSTAKA
1. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta. 2000: 187-9. 2. Anonim. Autopsy. Available At : HYPERLINK "http://en.wikipedia.org/wiki/Autopsy" http://en.wikipedia.org/wiki/Autopsy. Accessed On : September 2006. 3. Hamdani, Njowito. Autopsi. Dalam: Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi Kedua. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2000 : 48-59. 4. Chadha, PV. Otopsi Mediko-Legal. Dalam: Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi Kelima. 5. Idries, AM. Prosedur Khusus. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Binarupa Aksara. Jakarta. 1997 : 354-61.

xxiv

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

6. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Autopsi. Dalam: Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Kedua. Media Aesculapius. Jakarta. 2000: 187-9. Anonim. Autopsy. Available At :

xxv

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN RE FERAT Oktober 2006

TEKNIK OTOPSI MEDIKOLEGAL

OLEH: Restu Isnayah H. Kiki Amelia M. Risnawati H. C 111 01 003 C 111 01 111 C 111 01 163

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

xxvi

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal MAKASSAR 2006 DAFTAR ISI Pendahuluan .............................................................................................................1 Dasar Hukum ...........................................................................................................2 Pembagian Otopsi .....................................................................................................3 Pemeriksaan Luar ....................................................................................................4 Pemeriksaan Dalam ..................................................................................................5 Pemeriksaan Khusus ...............................................................................................6 Pemeriksaan Penunjang .........................................................................................7

xxvii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN RE FERAT Oktober 2006

TEKNIK OTOPSI MEDIKOLEGAL

OLEH: Restu Isnayah H. Kiki Amelia M. Risnawati H. C 111 01 003 C 111 01 111 C 111 01 163

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN xxviii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2006 DAFTAR ISI Pendahuluan .............................................................................................................1 Dasar Hukum ...........................................................................................................2 Pembagian Otopsi .....................................................................................................3 Pemeriksaan Luar ....................................................................................................4 Pemeriksaan Dalam ..................................................................................................5 Pemeriksaan Khusus ...............................................................................................6 Pemeriksaan Penunjang .........................................................................................7

xxix

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

7.

HYPERLINK "http://en.wikipedia.org/wiki/Autopsy" . Accessed On : September 2006.

8. Hamdani, Njowito. Autopsi. Dalam: Ilmu Kedokteran Kehakiman. Edisi Kedua. Gramedia Pustaka Utama. Jakarta. 2000 : 48-59. 9. Chadha, PV. Otopsi Mediko-Legal. Dalam: Ilmu Forensik dan Toksikologi. Edisi Kelima. 10. Idries, AM. Prosedur Khusus. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Binarupa Aksara. Jakarta. 1997 : 354-61.

xxx

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN RE FERAT Oktober 2006

TEKNIK OTOPSI MEDIKOLEGAL

OLEH: Restu Isnayah H. Kiki Amelia M. Risnawati H. C 111 01 003 C 111 01 111 C 111 01 163

xxxi

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2006 DAFTAR ISI Pendahuluan .............................................................................................................1 Dasar Hukum ...........................................................................................................2 Pembagian Otopsi .....................................................................................................3 Pemeriksaan Luar ....................................................................................................4 Pemeriksaan Dalam ..................................................................................................5 Pemeriksaan Khusus ...............................................................................................6 Pemeriksaan Penunjang .........................................................................................7

xxxii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN Jumat, 29 September 2006

DISCUSSION SUMMARY

Disaster Victim Identification

xxxiii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

OLEH: Mendila P. A. Restu Isnayah H. Risnawati H. Kiki Amelia M. Lili Sri Wardani Adriyanto W. A. I Andiny S. Dewi A Molangga Jasawarjo P. C 111 00 019 C 111 01 003 C 111 01 163 C 111 01 111 C 111 99 030 C 111 01 218 110.200.0091 110.200.0031 110.98.0074

Tanggal Kepaniteraan : 11 September 21 Oktober 2006 ( Minggu III) DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2006 BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN Rabu, 27 September 2006

PRO JUSTITIA
VISUM ET REPERTUM NO. KS. 08 / VR/ 2000

xxxiv

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

OLEH: Mendila P. A. C 111 00 019 Restu Isnayah H. C 111 01 003 Risnawati H. C 111 01 163 Kiki Amelia M. C 111 01 111 Lili Sri Wardani C 111 99 030 Adriyanto W. A. I C 111 01 218 Andiny S. 110.200.0091 Dewi A Molangga 110.200.0031 Jasawarjo P. 110.98.0074 Tanggal Kepaniteraan : 11 September 21 Oktober 2006 ( Minggu III ) DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN KEHAKIMAN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2006 BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN RE FERAT Oktober 2006

TEKNIK OTOPSI MEDIKOLEGAL


xxxv

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

OLEH: Restu Isnayah H. Kiki Amelia M. Risnawati H. C 111 01 003 C 111 01 111 C 111 01 163

Tanggal Kepaniteraan : 11 September 21 Oktober 2006

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2006 BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN

RE FERAT Oktober 2006

xxxvi

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

TEKNIK OTOPSI MEDIKOLEGAL

OLEH: Restu Isnayah H. Kiki Amelia M. Risnawati H. C 111 01 003 C 111 01 111 C 111 01 163

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK DI BAGIAN ILMU KEDOKTERAN FORENSIK DAN MEDIKOLEGAL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2006 PEMERIKSAAN LUAR Beberapa hal yang perlu diperhatikan: 1. Contoh usapan cairan saliva harus diambil

xxxvii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal 2. Pengikisan bahan yang menmpel pada kuku harus dilakukan sebelum pakaian dibuka. Setiap benda yang menembpel harus diambil dan dimasukkan dalam amplop. Sediakan sepuluh buah amplop kecil yang telah diberi tanda, satu amplop untuk setiap jari. Kemudian dengan sebatang koek api yang ujungnya dipotong meruncing atau menggunakan ujung kertas yang dilipat, diambilbahan yang berada di bawah kuku. Masing-masing jari dipegang persis di atas amplop yang telah diberi tanda yang sesuai, sambil mengeluarkan benda yang berada di bawah kuku. Kemudian bahan kikisan yang diperoleh beserta benda pengikisnya dimasukkan ke dalam amplop , lalu amplopnya ditutup rapat. 3. Rambut kepala harus diperiksa,contoh rambut diperoeh dengan cara memotong dan mencabut sampai ke akarnya, paling sedikit dari 6 lokasi kulit kepala yang berbeda. Potongan rambut ini disimpan dalam kantungan yang telah ditandai sesuai tempat pengambilannya. 4. Pakaian dicatat berikut kondisi pakaian tersebut dengan terperinci, misalnya terdapatnya robekan, kancing hilang atau adanya tanda-tanda kerusakan pada pakaian karena usaha perlawanan. Bercak pada pakaian berupa darah, cairan sperma, minyak, racun, bkas muntah, faeces, dll harus disismpan untuk dianalisa. Pakaian yang basah ditempatkan di tempat terbuka agar mengering. 5. Ukuran tinggi dan berat badan jenazah, disertai keadaan umum berupa status gizi dan status pekembangan tubuh. 6. Keadaan umum: warna kulit, simetris atau tidaknya otot-otot. Jenis kelamin, usia, suku bangsa, bentuk tubuh, tanda-tanda lainnya, tahi lalat, penyakit kulit yang ada. 7. Usapan vagina / anus : rambut pubis harus disisir. Rambut pubis yang kusut digunting dan diambil untuk contoh pemeriksaan. 8. Perhatikan adanya tanda-tanda penyakit, misalnya edema tungkai, edema anasarka, emfisema, erupsi, dll. 9. Saat kematian harus diperhatikan dengan memeriksa suhu rektum, rigor mortis, lebam mayat, tanda pembusukan. 10. Tengkorak dan wajah: Dicari apakah ada tanda-tanda fraktur, edema lokal, sianosis, petekia. 11. Mata harus diperiksa dengan cermat , yaitu pada bagian kelopak mata, konjungtiva, perlunakan bola mata, warna sklera, kekeruhan kornea dan

xxxviii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal lensa warna; warna dan ukuran pupil, mata palsu petekia dan jaringan periorbital untuk melihat adanya resapan darah. 12. Bagian leher diperksa jika ada memar, bekas pencekikan atau pelebaran pembuluh darah. Kelenjar tiroid dan getah bening juga diperiksa secara menyeluruh. 13. Abdomen-genitalia eksterna harus diperiksa, misalnya jika terdapat hernia, vena abdomen, perubahan warna infeksi lokal, edema, dll. 14. Lubang mulut anus diperiksa untuk melihat adanya luka, benda asing, darah, dll. 15. Setiap luka pada tubuh harus diperinci dengan lengkap, yaitu perkiraan penyebab luka, lokasi, ukuran, dll. 16. Fraktur: adanya dislokasi juga harus diperhatikan. 17. Daftar yang lengkap dari seluruh benda yang diperoleh dari jenazah korban. PEMERIKSAAN DALAM Pemeriksaan dalam bisa dilakukan dengan beberapa cara berikut ini: (i) Sayatan bentu I mulai dari dagu melalui umbilicus sampai ke simfisis pubis. (ii) Sayatan bentuk Y, dimana kaki tegak dari bentuk Y itu dimulai dari prosesus xipoideus menuju simfisis pubis, sedangkan kedua lengan huruf Y ada;ah dari prosesus akromialis klavikula menuju prosesus xipoideus. Sayatan melalui lekukan suprasternal menuju simfisis pubis, lalu dari lekukan suprasternal ini dubuat sayatan melingkari bagian leher.

(iii)

DESKRIPSI ORGAN Organ tubuh diamabil hati-jati dan dicatat: ukuran, bentuk, permukaan, konsistensi, kohesi dan potongan penampang melintang. Ukuran: Pengukuran secara langsung adalah dengan menggunakan pita pengukur. Secara tidak langsung dilihat adanya penumpulan pada batas inferior organ. Organ hati yang mengeras juga menunjukkan adanya pembesaran.

xxxix

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Permukaan: Pada umumnya organ tubuh mempunyai permukaan yang lembut, berkilat dengan kapsul pembungkus yang bening. Carilah jika terdapat penebalan, permukaan yang kasar , penumpulan atau kekeruhan. Konsistensi: Diperkirakan dengan cara menekan jari ke organ tubuh tersebut. Kohesi: Merupakan kekuatan daya regang anatar jaringan pada organ itu. Caranya dengan memperkirakan kekuatan daya regang organ tubuh pada saat ditarik. Jaringan yang mudah teregang (robek) menunjukkan kohesi yang rendah sedangkan jaringan yang susah menunjukkan kohesi yang kuat. Potongan penampang melintang: Disini dicatat warna dan struktur permukaan penampang organ yang dipotong. Pada umumnya warna organ tubuh adalah keabu-abuan, tapi hal ini juga dipengaruhi oleh jumlah darah yang terdapat pada organ tersebut. Warna kekuningan, infiltrasi lemak, lipofisi, hemosiferin atau bahan pigmen bisa merubah warna organ. Warna yang pucat merupakan tanda anemia. Struktur organ juga bisa berubah dengan adanya penyakit. Pemeriksaan khusus juga bias dilakukan terhadap system organ tertentu, tergantung dari dugaan penyebab kematian. Setelah selesai melakukan pemerikaan, maka jenazah korban sudah bisa diserahkan kepada pihak kepolisian. KEPALA Potongan melintang dibuat dari sisi bagian telinga yang satu menuju yang lain, lalu kulit kepala dilepas ke arah depan dan belakang, lalu dicatat hal-hal berikut ini: 2. Perhatikan jika ada resapan darah pada bagian dalam kulit kepala. 3. Adanya tanda-tanda fraktur pada tulang tengkorak; kemudian tulang tengkorak dipotong secara melintang menggunakan gergaji. 4. Fraktur pada bagian dalam tulang tengkorak. 5. Adanya perdarahan ekstradural pada lapisan luar selaput otak. 6. Sinus venosus longitudinal juga diperiksa jika ada tanda-tanda laserasi dan trombosis. Setelah itu lapisan duramater bisa dibuka dan diperhatikan hal-hal berikut ini: Adanya perdarahan subdural atau subarakhnoid xl

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal DADA 1. Tulang rusuk dan sternum diperiksa untuk melihat adanya tanda fraktur. 2. Rongga pleura diperiksa untuk melihat adanya perlengketan, benda asing, cairan purulenta, atau darah. 3. Periksa cairan yang terdapat pada perikardium. 4. Paru-paru diperiksa secara terpisah dan keadaan paru-paru dinilai untuk melihat adanya edema, emfisema atau kondisi patologis lainnya. 5. Jantung diperiksa untulk melihat keadaan katup jantung, endokarditis dan miokarditis, tanda-tanda infark atau fibrosis. Aorta juga diperiksa untuk melihat aneurisma atau tanda degenerasi. 6. Laring, trakea dan esofagus juga diperiksa untuk melihat adanya kondisi patologis. ABDOMEN 1. Periksa peritonium untuk melihat adanya inflamasi, eksudasi, pus atau perlengketan. Pada rongga abdomen juga diperiksa jika terdapat darah, cairan purulenta atau isi lambung. 2. Lambung: Pemeriksaan lambung sangat penting dilakukan pada kasus yang dicurigai. Lambung disayat dengan bentuk huruf I melalui ujung Kardia dan Pilorus, lalu diletakkan di atas nampan. Isi lambung dikirim ke laboratorium untuk dianalisa. Lalu dicatat keadaan dari mukosa lambung. 3. Usus halus: Isinya juga bisa dikirim untuk pmeriksaan laboratorium, dan dicatat adanya tanda-tanda kongesti, inflamasi, erosi, tukak, perforasi dan keadaan lainnya. 4. Hati: (1) Keadaan patologis misalnya abses, pertumbuhan tumor, harus diperhatikan. Jika terdapat luka juga harus dicatat secara terperinci. (2) Kandung empedu juga diperiksa khusus untuk melihat adanya batu empedu. 5. Pankreas: Lihat jika ada tanda nekrosis 6. Limpa: Ruptur limpa perlu dikemukakan jika karena bisa merupakan penyebab kematian. Jika terdapat ruptur, letak dan ukurannya hatus dicatat. xli Adanya pus (nanah). Bagian otak dipotong menjadi beberapa bagian dan diperiksa; adanya memar, perdarahan, proses inflamasi atau pertumbuhan tumor.

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

7. Ginjal: Lihat jika ada tanda-tanda nefritis atau perubahan degenerasi. 8. Uterus: Lihat jika ada tanda kehamilan dan perkiraan usia kehamilan. Rongga vagina juga diperiksa umtuk melihat adanya benda asing atau memar. 9. Saraf tulang belakang: Biasaya bagian ini tidak diperika kecuali ada indikasi menunjukkan trauma tulang belakang atau tanda-tanda penyakit. Lapisan duramater dibuka dan diperiksa adanya perdarahan, inflamasi, supurasi atau tumor. Kolumna vertebralis juga diperiksa untuk melihat adanya fraktur atau dislokasi. PROSEDUR LABORATORIUM 9. Sediaan histologi dari masing-masing organ. 10. Pemeriksaan bakteriologi. 11. Sediaan apus bagian korteks otak, limpa dan hati. Mungkin perlu dilakukan untuk melihat parasit malaria.Sediaan hapus lainnya adalah dari tukak sifilis atau cairan mukosa. 12. Darah dan cairan cerebrospinalis diambil untuk pemeriksaan analisa biokimia. 13. Pemeriksaan urine dan feces. 14. Usapan vagina dan anus. 15. Cairan uretra.

xlii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal

TEST APUNG PARU-PARU Tes apung paru-pau dikerjakan untuk mengtahui apakah bayi yang diperiksa itu pernah hidup. Untuk melaksanakan test ini, persyaratannya sama dengan test emboli udara, yakni mayatnya harus segar. Cara melakukan tes apung paru-paru: Keluarkan alat-alat dalam rongga mulut, leher dan rongga dada dalam satu kesatuan, pangkal dari esophagus dan trakea boleh diikat. Apungkan seluruh alat-alat tersebut pada bak yang berisi air. Bila terapung lepaskan organ paru-paru, baik yang kiri maupun yang kanan. Apungkan kedua organ paru-paru tadi, bila terapung lanjutkan dengan pemisahan masing-masing lobus, kanan terdapat lima lobus dan kiri dua lobus. Apungkan semua lobus tersebut, catat yang mana yang tenggelam dan mana yang terapung. Lobus yang terapung diambil sebagian, yaitu tiap-tiap lobus 5 potong dengan ukuran 5 mm x 5 mm, dari tempat yang terpisah dan perifer. Apungkan ke 25 potongan kecil-kecil tersebut, bila terapung, letakkan potongan tersebu pada dua karton, dan lakukan penginjakan dengan menggunakan berat badan, kemudian dimasukkan kembali ke dalam air. Bila terapung berarti tes apung paru positif, paru-paru mengandung udara, bayi tersebut pernah dilahirkan hidup. Bila hanya sebagian yang terapung, kemungkinan terjadi pernafasan partial, bayi tetap pernah dilahirkan hidup. TEST PADA PNEUMOTHORAX

xliii

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal Pada trauma di daerah dada, ada kemungkinan jaringan paru robek, sedemikian rupa sehingga terjadi mekanisme ventil di mana udara yang masuk ke paru-paru akan diteruskan ke dalam rongga dada, dan tidak dapat keluar kembali, sehingga terjadi kumulasi udara, dengan akibat paru-paru akan kolaps dan korban akan mati. Diagnosa pneumothorax yang fatal semata-mata atas dasar test ini, bila test ini tidak dilakukan, diagnosa sifatnya hanya dugaan. buka kulit dinding dada pada bagian yang tertinggi dari dada, yaitu sekitar iga ke 4 dan 5 ( udara akan berada pada tempat yang tertinggi ), buat kantung dari kulit dada tersebut mengelilingi separuhnya dari daerah iga 4 dan 5 ( sekitar 10 x 5 cm ) pada kantung tersebut kemudian diisi air, dan selanjutnya tusuk dengan pisau, adanya gelembung udara yang keluar berarti ada pneumothorax; dan bila diperiksa paru-parunya, paru-paru tersebut tampak kollaps, cara lain; setelah dibuat kantung , kantung ditusuk dengan spuit besar dengan jarum besar yang berisi air separuhnya pada spuit tersebut; bila ada pneumothorax, tampak gelembung-gelembung udara pada spuit tadi. TEST ALPHA NAPHTHYLAMINE Test ini dilakukan untuk mengetahui adanya butir-butir mesiu khususnya pada pakaian korban penembakan, kertas saring Whatman direndam dalam larutan alphanaphthylamine, dan keringkan dalamoven, hindari jangan sampai terkena sinar matahari, pakaian yang akan diperiksa, yaitu yang diduga mengandung butirbutir mesiu, dipotong dan di atasnya diletakkan kertas saring yang telah diberi alpha-naphthylamine,

xliv

Teknik Otopsi Medikolegal Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal di atas kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine tadi ditaruh lagi kertas saring yang dibasahi oleh aquadest, keringkan dengan cara menyeterika tumpukan tersebut, yaitu kain yang akan diperiksa, kertas yang mengandung alpha-naphthylamine dan kertas saring yang basah, test yang positif akan terbentuk warna merah jambu (pink colour), pada kertas saring yang mengandung alpha-naphthylamine; bintikbintik merah jambu tadi sesuai dengan penyebaran butir-butir mesiu pada pakaian.

xlv