Anda di halaman 1dari 9

Geographic Tongue dan Faktor- Faktor Resiko yang Berkaitan dengannya pada Pasien Gigi dan Mulut di Iran

( Geographic Tongue and Associated Risk Factors among Iranian Dental Patients)

Disadur dari : Honarmand M, Mollashahi LF, Shirzaiy M, Sehhatpour M. Geographic Tongue and Associated Risk Factors among Iranian Dental Patients. 2013. Iranian J Publ Health; 42 (2) 215-219.

Pembimbing:

Penyadur

Indri Lubis, drg.

1. Dayuni A. Simarmata (070600050) 2. Ester A. Sembiring (070600078)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI DEPARTEMEN PENYAKIT MULUT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA TAHUN 2013

Geographic Tongue dan Faktor- Faktor Resiko yang Berkaitan dengannya pada Pasien Gigi dan Mulut di Iran
Disadur dari: Honarmand M, Mollashahi LF, Shirzaiy M, Sehhatpour M. Geographic Tongue and Associated Risk Factors among Iranian Dental Patients. 2013. Iranian J Publ Health; 42 (2) 215-219.

Abstrak Latar Belakang: Geographic Tongue merupakan kelainan yang bersifat jinak, melibatkan permukaan dorsal lidah dan ditandai dengan daerah depapilasi dengan tepi yang jelas dan meninggi berwarna putih kekuningan atau keabu-abuan namun kadang-kadang dapat memiliki batas tidak jelas. Beberapa penelitian telah melaporkan hubungan antara kondisi tersebut dan beberapa faktor risiko yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk melihat rata-rata prevalensi dan faktor risiko geographic tongue pada pasien yang datang pada Departemen Oral Medicine Zahedan Dental School, pada tahun 2012. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian cross sectional yang melibatkan 2000 pasien yang berkunjung ke departemen dan menggunakan regresi Poisson. Metode pengumpulan data meliputi pemeriksaan riwayat medis serta melakukan pemeriksaan intraoral. Data yang dikumpulkan dianalisa menggunakan software SPSS 17 dan uji statistik Chi-square,. Hasil: Di antara 2000 pasien yang dipilih, 7,8% (156 orang) menderita geographic tongue. Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara terjadinya geographic tongue dan riwayat alergi dan fissured tongue (P <0,001). Tidak ada hubungan statistik yang signifikan antara terjadinya geographic tongue dan jenis kelamin, kebiasaan merokok dan obatobatan. Kesimpulan: Geographic tongue lebih sering pada pasien yang menderita atopi atau alergi serta pasien dengan fissured tongue. Kata kunci: Epidemiologi, faktor resiko, Geographic tongue

PENDAHULUAN Geographic Tongue merupakan kelainan yang bersifat jinak, melibatkan permukaan dorsal lidah dan ditandai dengan daerah depapilasi dengan tepi yang jelas dan meninggi berwarna putih kekuningan atau keabu-abuan namun kadang-kadang dapat memiliki batas tidak jelas..1 Lesi ini juga dapat terjadi pada vestibulum bukal dan mukosa labial yang dikenal dengan geographic stomatitis namun hal tersebut jarang terjadi. Lesi ini dapat menghilang pada suatu daerah lidah dan dapat muncul kembali di daerah lain dengan sangat cepat, oleh karena itu lesi ini juga disebut benign migratory glossitis.2 Geographic tongue biasanya asimtomatik, tapi kadang-kadang sensasi terbakar pernah dilaporkan sebagai efek setelah makan makanan pedas dan asin serta setelah minum minuman beralkohol
1,3,

Tingkat keparahan simtom bervariasi pada waktu yang berbeda, tergantung pada
1,3,5

aktivitas penyakit4. Etiologi dan patogenesis geographic tongue masih belum diketahui diduga ada hubungan antara geographic tongue dengan psoriasis1,6, diabetes mellitus7, Reiter sindrom8, Down sindrom, kehamilan, faktor psikologis 1,8, riwayat keluarga 1 dan konsumsi beberapa obatobatan seperti pil kontrasepsi 8 dan lithium karbonat 9 .Alergi telah diduga sebagai faktor etiologi utama geographic tongue. Hubungan antara geographic tongue dengan asma, eksim, demam, peningkatan serum imunoglobulin E (IgE) dan pasien-pasien atopik
1, 5, 8 1,5,10

juga pernah dilaporkan.

Beberapa penelitian lain juga telah menunjukkan hubungan antara geographic tongue dan fissured tongue . Fissured tongue adalah kondisi asimtomatik yang terlihat dengan gambaran berupa beberapa lekukan pada permukaan dorsal lidah1. Perawatan simtomatik dapat terdiri dari menggunakan obat kumur yang mengandung anestesi, kortikosteroid topikal seperti betametason gel, antihistamin dan suplemen Zn 1,8. Lesi ini dapat sembuh dengan menggunakan obat-obatan tetapi sulit untuk memperkirakan lama penyembuhan1. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan prevalensi geographic tongue pada penduduk di Iran

dan untuk menilai faktor risiko yang berhubungan dengan geographic tongue.

BAHAN DAN METODE PENELITIAN Penelitian cross-sectional ini dilakukan pada pasien yang dirujuk ke Departemen Oral Medicine Zahedan Dental School antara September 2011 dan Mei 2012. Sesuai dengan pilot study yang dilakukan di September 2011 (5 dari 63 pasien yang diperiksa pada Departemen

Penyakit Mulut memiliki geografis lidah) dan mempertimbangkan P = 5% untuk level 99% keyakinan dan 1% kesalahan ditoleransi dan menggunakan rumus N =
( )

, diperoleh 1985

orang dan akhirnya sampel yang ikut berpartisipasi dalam penelitian ada sebanyak 2000 orang. Menggunakan metode Poisson sampel berurutan, pasien yang dirujuk ke Departemen Oral Medicine antara September 20Departemen dalam penelitian sampai besar sampel tercapai. Data yang diperlukan dikumpulkan dengan cara observasi dan melengkapi kuesioner. Setelah mendapatkan riwayat yang lengkap dari pasien (termasuk informasi yang berhubungan dengan karakteristik individu, riwayat medis, obat-obatan dan kebiasaan merokok), pemeriksaan klinis (dengan cara menggunakan kaca mulut disposable di bawah pencahayaan) dilakukan oleh spesialis penyakit mulut. Dalam penelitian ini, kriteria diagnosa dari geographic tongue ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis serta riwayat dan karakteristik dari kelainan 1. Seluruh individu ikut berpartisipasi pada penelitian ini setelah peneliti mendapatkan informed consent dari sampel 1. Data yang terkumpul dianalisa dengan menggunakan software SPSS 17. Untuk data kuantitatif, ditunjukkan dengan nilai rata-rata dan standar deviasi dan data kualitatif, ditunjukkan dengan table distribusi prevalensi. Analisa data dengan uji analisa ChiSquare, di mana P < 0,01 adalah signifikan. Oral Medicine1 dan Maret 2012 diikutsertakan

HASIL Dalam penelitian ini, 2000 pasien yang dirujuk ke Departemen Oral Medicine Zahedan Dental School dievaluasi. Prevalensi geographic tongue adalah 7,8% (n = 156). Prevalensinya adalah 3,7% (n = 74) pada laki-laki dan 4,1% (n = 82) pada perempuan. Namun, perbedaan ini tidak signifikan berdasarkan uji Chi-Square (P = 0,36). Rata-rata usia orang- orang yang diteliti adalah 32.13 11.94 tahun. Insiden tertinggi (sekitar 3,1%) geographic tongue terjadi pada usia rentang 20-29 tahun. Menurut uji statistik Chi-Square (P = 0,49), tidak ada perbedaan yang signifikan secara statistik antara kelompok usia yang berbeda menurut terjadinya geographic tongue (Tabel 1). Diantara pasien geographic tongue tersebut sebanyak 30 pasien (1,5%)

dengan geographic tongue adalah perokok, sedangkan 126 pasien (6,3%) non-perokok. Menurut uji statistik Chi-Square (P = 0,93), tidak ada hubungan yang signifikan antara geographic tongue dan non-perokok. Prevalensi keseluruhan fissured tongue adalah 13,9% (277 pasien).

Table 1: Distribusi BMG berdasarkan usia Umur (thn) 10-19 20-29 30-39 40-49 50-59 60-69 70-79 P = 0,49 Benign Migratory Glossitis (N = 10) 0,5% (N = 62) 3,1% (N = 48) 2,3% (N = 25) 1,35 (N = 9) 0,5% (N = 2) 0,1% (N = 0)

Sejumlah 45 pasien (2,3%) menderita fissured tongue dan geographic tongue pada saat yang sama. Menurut uji statistik Chi-Square (P <0,001), ada hubungan yang signifikan secara statistik antara fissured tongue dan geographic tongue. Hubungan geographic tongue dengan penyakit sistemik ditemukan dalam beberapa kasus (Tabel 2).

Tabel 2: Distribusi BMG terhadap penyakit sistemik Penyakit Penyakit kardiovaskular Diabetes Atopi dan Alergi Kelainan gastrointestinal Penyakit Ginjal Penyakit Psikologis Kehamilan Jumlah 103 65 27 7 21 66 28 BMG 6 2 9 2 0 5 3 7.6 10.7 Prevalensi 5.8 3.1 33.3 28,6 P 0.44 0.15 <0,001 0.06 0.18 0.95 0.56

Menurut uji statistik Chi-Square (P <0,001), ada hubungan yang signifikan secara statistik antara insiden geographic tongue dengan alergi, sedangkan berdasarkan uji statistik

yang sama, tidak ada hubungan statistik

antara geographic tongue dan penyakit lainnya.

Sebanyak 129 orang yang menderita geographic tongue secara sistemik sehat. Di antara pasien dengan geographic tongue, 5 pasien (3,2%) menggunakan obat antidepresan, 2 pasien (1,2%) menggunakan obat-obatan untuk diabetes, 6 pasien (3.8%) menggunakan obat antihipertensi, 1 pasien (0,6%) menggunakan antihipertensi dan antidepresan secara bersamaan, 2 pasien (1,2%) menggunakan antihistamin nasal spray dan 140 pasien tidak menggunakan obat-obatan. Tidak ada hubungan yang signifikan antara geographic tongue dengan obat-obatan yang digunakan.

PEMBAHASAN Dalam penelitian ini, prevalensi geographic tongue adalah 7,8% yang secara relatif konsisten dengan hasil penelitian yang dilakukan sebelumnya (6,2%)11, (7,9%)7, dan (6,5%)12. Prevalensi berebeda dari penelitian yang lain dilaporkan sebanyak 12,8% 13, 12,4% 4, 1,5% 5 dan 1,8%
2

lebih besar dibandingkan dengan hasil penelitian ini. Perlu dicatat bahwa perbedaan

antara hasil seperti ini mungkin disebabkan oleh perbedaan antara besar sampel dan populasi yang diteliti. Dalam penelitian ini, geographic tongue terlihat lebih banyak pada perempuan, namun, hubungan ini tidak signifikan secara statistik. Hasil ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya
2,5,13 14 15

. Meskipun dalam penelitian yang dilakukan Mumcu

dan Jainkittivong

kondisi ini lebih umum pada perempuan dibandingkan laki-laki yang dapat dihubungkan dengan keterlibatan hormon perempuan yang dapat memicu kondisi ini untuk berkembang atau meningkat4. Namun, hubungan tersebut tidak ditemukan dalam penelitian kami. Dalam penelitian ini, geographic tongue lebih banyak ditemukan pada pasien di bawah usia 30 tahun. Hasil penelitian ini sesuai dengan penelitian sebelumnya5,15,16 di mana geographic tongue telah dilaporkan lebih banyak pada orang di bawah usia 30 tahun. Penelitiann kami menunjukkan bahwa geographic tongue sedikit di kalangan perokok. Beberapa penelitian2,5,16 juga mengungkapkan bahwa geographic tongue secara statistik sedikit di kalangan perokok. Penelitian ini menunjukkan efek proteksi rokok pada insiden geographic tongue. Mekanisme perlindungan rokok pada insidensi geographic tongue dapat dipertimbangkan mirip dengan kejadian recurrent stomatitis aphthous. Membuat perubahan sitologi pada epitel mukosa oral seperti meningkatkan proliferasi sel dan indeks keratinisasi, produk tembakau

melindungi jaringan mulut terhadap iritan. Selain itu, nikotin mengurangi produksi TNF, produksi Interleukin-1 dan Interleukin-6 dengan mengaktivasi reseptor nicotin pada makrofag. Hal ini juga mengarah pada pengurangan peradangan dengan mempengaruhi SSP melalui aktivasi hipotalamus-hipofisis-adrenal (HPA) dan sistem saraf otonom dan produksi glukokortikoid2. Dalam penelitian ini, 45 pasien (28,8%) dengan geographic tongue mengalami fissured tongue pada saat yang sama. Hubungan ini secara statistik signifikan. Hubungan antara dua kelainan ini juga telah dilaporkan dalam penelitian yang dilakukan oleh Miloglu dan Shulman2,5. Dalam penelitian ini, ada hubungan yang signifikan antara geographic tongue dan alergi. Dalam suatu penelitian, 11,9% pasien dengan geographic tongue memiliki riwayat alergi dan penyakit atopik dan hubungan yang signifikan antara geographic tongue dan riwayat alerginya, sementara itu tidak ada hubungan yang signifikan antara geographic tongue dan penyakit sistemik lainnya5. Dalam penelitiannya, Gorgen menunjukkan bahwa alergi lebih umum pada pasien dengan geographic tongue dibandingkan pada kelompok kontrol10. Ada hubungan positif yang signifikan antara geographic tongue dan alergi17. Para peneliti juga menyatakan bahwa geographic tongue dapat bertindak sebagai indikator untuk kecenderungan tubuh dalam mengembangkan reaksi alergi terhadap paparan iritan lingkungan17. Meskipun penelitian ini menunjukkan hubungan antara geographic tongue dan alergi, maka untuk membuktikan adanya hubungan tersebut, dianjurkan untuk melakukan tes alergi seperti patch test pada pasien dengan geographic tongue di penelitan masa depan. Salah satu kelemahan dari penelitian ini adalah bias pada riwayat medis pasien berdasarkan pernyataan mereka dan riwayat rujukan mereka ke dokter untuk penyakit sistemik. Karena etiologi geographic tongue tidak diketahui dan hubungannya dengan penyakit sistemik dan obat-obatan dilaporkan dalam penelitian yang berbeda, dianjurkan untuk merancang penelitian lebih lanjut yang difokuskan pada penyakit sistemik tertentu dan hubungannya dengan geographic tongue dan melakukan semua pemeriksaan klinis, tes paraclinical dan saran medis agar dapat diperoleh penyakit sistemik spesifik. Dapat dikatakan bahwa perbedaan yang ada antara penelitian yang berbeda tentang hubungan antara geographic tongue dan penyakit sistemik adalah karena kurangnya pendekatan diagnosa yang sistematis dalam penelitian tersebut.

KESIMPULAN Ada hubungan yang signifikan secara statistik antara geographic tongue dengan fissured tongue dan alergi.

REFERENSI 1. Greenbreg M, Glick M, Ship J (2008). Burkets Oral Medicine.12th ed. BC Deker London, P. 103 4. 2. Shulman JD, Carpenter WM (2006). Preva-lence and risk factors associated with geographic tongue among US adults. Oral Dis, 12(4): 381 6. 3. Jahanbani J, Sandvik L, Lyberg T, Ahlfors E (2009). Evaluation of oral mucosal lesions in 598 referred Iranian patients. Open Dent J, 3: 42 7. 4. Hashemipour M., Rad M., Dastboos A (2008). Frequency, Clinical Characteristics and Factors Associated with Geographic Tongue. Shiraz J Dent, 9(1): 83-92. 5. Miloglu O, Goregen M, Akgul M. The preva-lence and risk factors in 7619 Turkish den-tal out patients (2009). Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod, 107: 29 33. 6. Cawson R, Odell E (2002). Essential of Oral Pathology and Oral Medicine. 7th ed. Churchill Liringstone London. P.134-137. 7. Rabiei M, Mohtasham Amiri Z, Kalantari S, Hassannia H (2007). Oral Soft Tissue Pathologies Among Dia Patients In Rasht- 2005. J Shaheed Sadoughi University of Medical Sciences and Health Services, 15(3):46-52. 8. Neville B, Damm D, Allen C, Bouquot J (2002). Oral& Maxillofacial Pathology. 7th ed.W.B.Sanders co London, P.677-679. 9. Zargari O (2006). The prevalence and signific-ance of fissured tongue and geographical tongue in psoriatic patients. Clin Derma-tol,31:192-5. 10. Gorgen M, Melikoglu M, Ozkan M, Erdem T (2010). Predisposition of allergy in patients with benign migratory glossitis. Oral Surg Oral Med Oral Pathol Oral Radiol Endod, 110: 470-474. 11. Ghodsi SZ, Ghani Nezhad H, Farpoor L, Ali Mardani A, Taheri A, Mansoori P (2005). Prevalence of geographic tongue and its association with other cutaneous diseases in patients referred to the Dermatology Clinic of Tehran Razi Hospital in 1997. Iranian J Dermatol, 30(8): 20-25.

12. Delavarian Z, Zavar S (2004). Prevalence of oral lesions and awareness of their presence in patients attending to Oral-medicine Cen-ter of Mashhad Dental School. J Dental School Shahid Beheshty Of Medical Science, 22(3): 425-426. 13. Yarom N, Contony U, Gorsky M (2004). Prevalence of fissured tongue, geographic tongue and median rhomboid glossitis among Israeli of different ethnic origins. J Dermatol, 209(2): 88 94. 14. Mumcu G, Cimilli H, Sur H, Hayran O, Atalay T (2004). Prevalence and distribution of oral lesions: A cross- sectional study in Tur-key. Oral Dis, 11: 817. 15. Jainkittivony A, Langlais Rp (2005). Geo-graphic tongue: Clinical characteristics of 188 cases. J Contemp Dent Pract; 1: 123 35. 16. Avcu N, Kanli A (2003). The prevalence of tongue lesions in 5150 Turkish dental outpatients. Oral Dis, 9(4): 188 95. 17. Marks R, Czarny D (1984). Geographic ton-gue: sensitivity to the environment. Oral Surg Oral Med Oral Pathol, 58:156-9.