Anda di halaman 1dari 8

BAB II METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimental. Dalam penelitian eksperimental peneliti berhak memanipulasi berbagai tingkat variabel independen tertentu. Terdapat tiga variabel dalam penelitian eksperimental yaitu : 1.Variabel bebas : Variasi pemanis yang digunakan yaitu aspartam 6%, sorbitol 30% dan kombinasi aspartam-sorbitol (6%24%). 2.Variabel tergantung a. Sifat Fisik Granul b. Sifat Fisik Tablet : : Kecepatan Alir, Sudut diam dan Kompresibilitas. : Keseragaman bobot, Kerapuhan, Kekerasan dan Waktu melarut. c. Tanggapan Rasa 3.Variabel terkendali : Rasa dari masing-masing formula : Umur, asal, lokasi pengambilan dan waktu pemanenan daun sirih merah. Suhu pengeringan daun sirih merah, suhu pengeringan granul, bobot tablet, tekanan dan kecepatan pada saat mencetak tablet.
B.Bahan dan Alat Penelitian 1.Bahan Penelitian

Bahan tanaman yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun sirih merah yang diperoleh dari perkebunan tanaman sirih merah di Salatiga Jawa Tengah. Daun sirih merah tersebut dipanen pada siang hari. Bahan penyari dalam penelitian ini adalah etanol 70% yang dibeli dari PT Brataco. Bahan yang digunakan untuk formulasi tablet hisap adalah Manitol dari PT Konimex, Solo; Mg Stearat, Aspartam dan Sorbitol yang dibeli dari PT Brataco; Polivinil Pirolidon, Mentol, dan Air suling yang dibeli dari Laboratorium Teknologi Farmasi Universitas Islam Indonesia.

2.Alat Penelitian a.Alat untuk ekstraksi : oven (Memmert), blender (Maspion), ayakan 30 mesh (Tatonas), moisture balance (Mettler toledo), alat-alat gelas (Pyrex), perangkat perkolator (Pyrex), rotary evaporator (Heidolph), viskometer elektrik (Brookfield) b.Alat untuk pembuatan tablet hisap : ayakan 30 dan 14 mesh (Tatonas), pipet tetes, oven (Memmert), mortir dan stamper, mesin tablet single punch (Korsch/TDP) c.Alat untuk uji sifat fisik granul : alat uji sudut diam, kompresibilitas (Erweka) dan kecepatan alir, stop watch. d.Alat untuk uji sifat fisik tablet : timbangan (Mettler toledo), stop watch,hardness tester (Erweka TBH-125), friability tester (Erweka TA-100/TA-200) dan stop watch. C.Jalannya Penelitian 1.Pengumpulan Bahan Daun sirih merah yang digunakan memiliki karakteristik permukaan mengkilap, warna daun bagian atas hijau bercorak warna putih keabu-abuan, bagian bawah berwarna merah, dan daunnya tebal. 2.Identifikasi Tanaman Identifikasi tanaman dilakukan untuk memastikan kebenaran daun sirih merah yang digunakan dalam penelitian. Identifikasi terhadap tanaman sirih merah dilakukan di Laboratorium Biologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas Negeri Semarang. 3.Pembuatan Serbuk Simplisia Proses pembuatan serbuk daun sirih merah pada penelitian ini adalah sebagai berikut: daun sirih merah segar ditimbang sebanyak 13,5 kg kemudian dicuci dengan air mengalir untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel. Kemudian dikeringkan menggunakan oven pada suhu 45oC, untuk menghindari menguapnya bahan aktif yang tidak tahan panas. (Depkes RI, 1985). Simplisia yang sudah kering dihaluskan menggunakan blender dan disaring menggunakan ayakan 30 mesh dengan tujuan untuk menyamakan derajat kehalusan dari serbuk yang akan diekstraksi. Pengubahan bentuk menjadi serbuk bertujuan untuk meningkatkan luas permukaan bahan baku, karena semakin luas permukaan dapat memperbesar kontak dengan pelarut sehingga senyawa aktif yang dikehendaki lebih mudah tersari (Voigt, 1984). Kadar air pada simplisia diperiksa dengan menggunakan alat moisture balance. Setelah didapatkan serbuk sirih merah, rendemen dihitung dengan rumus sebagai berikut: Rendemen (%) = Berat daun sirih merah kering 100% Berat daun sirih merah segar

4.Pembuatan Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah Pembuatan ekstrak etanol daun sirih merah dilakukan dengan metode perkolasi menggunakan cairan penyari etanol 70%. Pada bagian leher percolator yang akan digunakan diberi kapas, untuk menghindari lolosnya serbuk simplisia. Serbuk simplisia sebanyak 2,345 kg dibasahi selama kurang lebih 4 jam dengan cairan penyari. Serbuk yang sudah basah tersebut dimasukkan ke dalam perkolator yang kran bagian bawahnya sudah ditutup hingga tingginya mencapai 2/3 bagian perkolator. Pengisian perkolator ini dilakukan sedikit demi sedikit sambil tiap kali ditekan, setelah serbuk dimasukkan ke dalam perkolator kemudian ditutup dengan kertas saring dan ditambahkan pelarut untuk membentuk lapisan yang tipis di bagian atas simplisia tersebut. Perkolator ditutup dan dilakukan perendaman selama kurang lebih 24 jam. Setelah 24 jam kran bagian bawah perkolator dibuka sehingga pelarut yang sudah mengandung bahan aktif diteteskan secara perlahan. Menstrum/pelarut dapat ditambahkan apabila diperlukan. Perkolasi dilakukan terus menerus hingga tetes terakhir yang didapatkan berwarna jernih (Depkes RI, 1986). Ekstrak cair yang diperoleh selanjutnya diuapkan dengan menggunakan rotary evaporator. Tujuan pembuatan ekstrak kental adalah untuk menghilangkan pelarut yang masih ada sehingga dihasilkan ekstrak yang hanya mengandung komponen senyawa aktif tanpa adanya pengaruh dari pelarut yang digunakan. Setelah itu ekstrak kental dikumpulkan dan diukur bobotnya untuk menghitung rendemen yang dihasilkan. Rendemen hasil dihitung dengan rumus sebagai berikut : Rendemen hasil (%) = bobot ekstrak kental 100% bobot simplisia Ekstrak yang diperoleh diuji sifat fisiknya meliputi: a.Uji organoleptik Dilakukan pemeriksaan untuk mendeskripsikan bentuk, warna, bau dan rasa dari ekstrak (Depkes RI, 2000). b.Uji kekentalan Ekstrak dimasukkan ke dalam bejana yang memiliki rotor yang sesuai dengan konsistensi ekstrak. Prinsip kerjanya berdasarkan hambatan pemutaran rotor oleh ekstrak yang diuji. Semakin kental suatu ekstrak maka daya hambat semakin tinggi terhadap perputaran rotor. Hasil yang terbaca pada alat merupakan viskositas dari ekstrak dengan satuan cp. c.Uji kadar air Ekstrak yang diperoleh diuji kadar airnya dengan menggunakan moisture balance. 5.Pembuatan Tablet Hisap Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah Sebelum membuat sediaan tablet hisap perlu dihitung dosis yang akan digunakan. Menurut Sudewo (2010) sirup sirih merah untuk obat batuk dibuat dengan cara sirih merah sebanyak 10 lembar (20 gram) ditambah gula putih 100 gram dan direbus menggunakan empat gelas air (800 ml) disisakan satu gelas (200 ml), penggunaan 3 x sehari satu sendok makan (15 ml). Jika dosis sehari 3 x 15 ml = 45 ml sirup daun sirih merah.

Maka 200 ml : 45 ml = 4 hari penggunaan. Dari hasil tersebut maka dapat digunakan sebagai acuan untuk menghitung dosis ekstrak sirih merah yang digunakan untuk tablet hisap. Menurut hasil uji coba penimbangan dan dilakukan replikasi 5 kali maka berat ratarata 10 lembar daun sirih merah yaitu 27,5 gram. Perhitungan dosis untuk penggunaan satu hari adalah 27,5 gram (basah) dikali 17,37% = 4,78 gram (serbuk kering). Dari serbuk kering tersebut didapatkan ekstrak kental sebanyak 1,29 gram. Maka dosisnya adalah 1290 mg untuk durasi pemakaian 4 hari. Dosis untuk 1 hari yaitu 1290 mg : 4 hari = 322 ,5 mg, sehingga untuk 1 x minum dosisnya 107,5 mg. Ekstrak kental daun sirih merah memiliki rasa yang sangat pahit, untuk mendapatkan rasa yang enak dan dapat diterima oleh konsumen maka dosis untuk sekali pemakaian dibagi 3 menjadi 107,5 mg : 3 = 35, 83 mg untuk mempermudah perhitungan dibulatkan menjadi 36 mg untuk setiap tablet. Maka aturan pakai untuk tablet hisap ini adalah 3 x 3 tablet.
Formulasi dari tablet hisap ekstrak etanol daun sirih merah ditunjukkan pada Tabel II.
Tabel II. Formulasi Tablet Hisap Ekstrak Etanol Daun Sirih Merah

Bahan (mg) Ekstrak kental PVP Sorbitol Manitol Air suling Aspartam Mentol Mg stearat Total
Keterangan :
FI FII FIII FIV

I 36 50 882 qs 2 30 1000

formula II III 36 36 50 50 300 822 582 qs qs 60 2 2 30 30 1000 1000

IV 36 50 240 582 qs 60 2 30 1000

: Tanpa pemanis : Kadar pemanis aspartam 6% : Kadar pemanis sorbitol 30% : Kadar pemanis aspartam 6%-sorbitol 24% (30%)

Langkah awal pembuatan tablet ini adalah ekstrak kental, PVP, manitol, aspartam, sorbitol dan magnesium stearat diayak dengan ayakan 30 mesh kemudian ditimbang sesuai masing-masing formula. Penambahan bahan-bahan dilakukan secara internal dan eksternal. Bahan-bahan internal dicampurkan saat proses awal pembuatan granul, bahanbahan internal yang ditambahkan harus tahan pemanasan karena pembuatan granul melibatkan proses pengeringan dengan pemanasan. Bahan internal yang digunakan adalah : ekstrak kental, manitol, PVP, sorbitol. Bahan eksternal adalah bahan-bahan yang ditambahkan ketika granul kering telah diayak dan siap untuk dikempa. Bahanbahan eksternal dalam penelitian ini adalah aspartam, mentol dan magnesium stearat. Aspartam dan mentol ditambahkan secara eksternal karena bahan-bahan ini tidak tahan

pemanasan sedangkan magnesium stearat ditambahkan secara eksternal karena fungsinya sebagai pelicin. Pembuatan FI sebagai berikut: ekstrak kental, PVP, manitol dicampur dan ditambahkan air suling sebanyak 13 ml. Setelah bahan-bahan tersebut tercampur, lalu diayak dengan ayakan 14 mesh hingga terbentuk granul. Kemudian granul dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 50oC selama empat hari. Granul yang sudah kering kemudian diayak dengan menggunakan ayakan 14 mesh dan diuji sifat fisiknya yaitu sudut diam, kompresibilitas dan kecepatan alir. FII dibuat sebagai berikut: ekstrak kental, PVP, manitol dicampur dan ditambahkan air suling sebanyak 23,5 ml. Setelah bahan-bahan tersebut tercampur maka diayak dengan ayakan 14 mesh hingga terbentuk granul. Kemudian granul dikeringkan dengan oven pada suhu 50oC selama empat hari kemudian setelah kering granul diayak dengan ayakan mesh 14 dan diuji sifat fisiknya. F III dibuat dengan cara: ekstrak kental, PVP, sorbitol, manitol dicampur dan ditambahkan air suling sebanyak 13 ml. Setelah bahan-bahantersebut homogen diayak dengan ayakan mesh 14 hingga terbentuk granul, yang kemudian dikeringkan dengan oven pada suhu 50oC selama satu minggu dan setelah kering ayak kembali dengan ayakan mesh 14 serta diuji sifat fisiknya. F IV : ekstrak kental, PVP, sorbitol, manitol dicampur dan ditambahkan air suling sebanyak 10 ml. Setelah bahan- bahan tersebut homogen diayak dengan ayakan 14 mesh hingga terbentuk granul. Setelah itu dikeringkan dengan oven pada suhu 50oC selama satu minggu dan setelah granul kering diayak kembali dengan ayakan 14 mesh dan diuji sifat fisiknya.
Proses pembuatan tablet hisap ekstrak etanol daun sirih merah untuk FI dan FIII adalah sebagai berikut: granul yang telah memenuhi persyaratan, ditambahkan Mentol yang sudah digerus halus dan Magnesium stearat kemudian dikompresi hingga terbentuk tablet. Tablet yang terbentuk diuji sifat fisiknya. FII dan FIV: granul yang telah memenuhi persyaratan ditambahkan aspartam, diaduk sampai tercampur kemudian ditambahkan Mentol yang sudah digerus halus dan Magnesium stearat. Langkah selanjutnya granul yang telah terbentuk dikompresi. Setelah itu tablet diuji sifat fisik tabletnya meliputi:

a.Keseragaman bobot Sebanyak 20 butir tablet ditimbang, kemudian dihitung bobot rata-rata tiap tablet. Jika ditimbang satu persatu, tidak boleh lebih dari 2 tablet yang masing-masing bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih besar dari harga yang ditetapkan kolom A, dan tidak satu tabletpun yang bobotnya menyimpang dari bobot rata-ratanya lebih dari harga yang ditetapkan kolom B yang ditunjukkan dalam tabel III (Depkes RI, 1979).

Tabel III. Penyimpangan Bobot Tablet (Depkes RI, 1979) Bobot rata-rata 25 mg atau kurang 26 mg sampai dengan 150 mg 151 mg sampai dengan 300 mg Lebih dari 300 mg Penyimpangan bobot rata-rata dalam % A 15% 10% 7,5% 5% B 30% 20% 15% 10%

b.Kekerasan tablet

Kekerasan tablet diuji dengan alat digital hardness tester Erweka TBH-125. Prosedur yang dilakukan adalah sebagai berikut: sebuah tablet diletakkan pada alat dengan posisi horizontal, alat dikalibrasi hingga posisi 0,00. Kemudian tekan tombol start sehingga logam penjepit bergerak untuk memecah tablet. Baca skala yang tertera pada alat, satuan hasil untuk kekerasan tablet adalah kg. Percobaan dilakukan 5 kali dan dihitung harga puratanya (Voigt, 1984). Untuk memperoleh daya terapi atau efikasi maksimum dan waktu huni yang diperlama dalam mulut, tablet hisap hendaknya memiliki kekerasan kurang lebih 10 kg dan yang paling baik adalah 20 kg agar dapat melarut dengan lambat tanpa terjadi disintegrasi (Parrott, 1971).

c.Kerapuhan tablet Sebanyak 20 tablet yang telah dibebasdebukan ditimbang dan dicatat beratnya sebagai M1, kemudian dimasukkan kedalam friabilator tester. Mesin dijalankan dengan kecepatan 25 rpm. Tablet dikeluarkan dan dibebasdebukan, lalu ditimbang dan dicatat beratnya sebagai M2. Persentase kehilangan bobot menunjukkan kerapuhannya (Voigt, 1984). Kerapuhan

sebaiknya tidak boleh melebihi 1 % (Banker dan Anderson, 1986). Kerapuhan tablet dapat dihitung dengan rumus: Kerapuhan tablet =M1M1-M2 x 100 %

d.Waktu melarut Pengujian dilakukan dengan menghitung waktu melarut tablet dimulai ketika responden menghisap tablet tanpa mengunyahnya dan tablet dibiarkan melarut dengan sendirinya hingga habis didalam mulut. Waktu yang diperlukan untuk melarut sampai tablet habis dicatat (Nugroho, 2008). Waktu melarut tablet hisap yang ideal adalah selama kurang dari 5-10 menit (Siregar dan Wikarsa, 2010).
6.Uji Tanggapan Responden terhadap Rasa Tablet Hisap

Uji tanggap rasa ini dilakukan dengan teknik sampling acak ( random sampling) dengan populasi heterogen sejumlah 20 responden mengisi angket yang disediakan. Setiap responden mendapatkan kesempatan yang sama untuk merasakan sampel dari keempat formula tablet hisap ekstrak etanol daun sirih merah. Responden memberikan pendapat mengenai rasa tablet hisap dengan mengisi angket yang telah disediakan. D.ANALISIS DATA Dilakukan pendekatan teoritis dengan membandingkan paramater uji sifat fisik granul dan sifat fisik tablet dengan persyaratan kepustakaan yang ada. Data kekerasan tablet hisap dianalisis secara statistik menggunakan ANAVA satu jalan dilanjutkan dengan uji Tuckey. Data keseragaman bobot, kerapuhan dan waktu melarut tablet dianalisis secara statistik menggunakan Kruskal Wallis dilanjutkan dengan Mann Whitney. Data uji tanggap rasa dianalisis secara deskriptif. 30

E.SKEMA JALANNYA PENELITIAN


Granul basah Ditambahkan Mg stearat Ditambahkan Mentol Ditambahkan Aspartam untuk formula II dan IV 1.Uji sifat fisik tablet : Keseragaman bobot Kekerasan tablet Kerapuhan tablet Waktu larut tablet 2.Uji tanggap rasa Dimasukkan oven dengan suhu 50 oC Pemeriksaan sifat fisik granul : Granul kering Sudut diam Uji Kompresibilitas Kecepatan Alir

Tablet Hisap

Analisis Data
Gambar 2. Skema Jalannya Penelitian