Anda di halaman 1dari 2

ini tidak akan muncul kecuali dari orang yang Keempat: Bersandar kepada seseorang dalam

berkeyakinan bahwasanya mayit atau orang hal-hal yang diserahkan kepadanya suatu urusan
ghaib ini mempunyai andil yang tersembunyi untuk dilakukan/diselesaikan, istilah lainnya
dalam (pengaturan) alam dan tidak ada bedanya adalah al-wikaalah (mewakilkan sesuatu), maka
apakah mayit/orang ghaib itu nabi atau wali ini boleh berdasarkan Al-Qur’an, As-Sunnah
ataupun thaghut musuh Allah Ta’ala. dan Ijma’. Contohnya: ucapan Nabi Ya’qub p
Ketiga: Tawakkal kepada orang lain dalam kepada anak-anaknya: Vol.29/03/1429H/2008
hal-hal yang orang tersebut punya andil
padanya bersamaan adanya perasaan akan
‫ﭑﭒﭓﭔﭕﭖ‬
tingginya kedudukan orang yang ditawakkali «Hai anak-anakku, pergilah kalian, maka HAKIKAT YAKIN DAN TAWAKKAL
dan rendahnya orang yang bertawakkal, seperti carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya.» Al Ustadz Abu Hamzah Yusuf Al-Atsari
bersandar/tawakkal kepada seseorang dalam (Yuusuf:87). Makna & Hakikat Yakin yakin.” (Adz-Dzaariyaat:20)
rizkinya, penghidupannya dan yang lainnya Contoh lainnya: seperti kalau engkau mewakilkan Berkata Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah v Dan Allah telah mengkhususkan orang-orang
atau seperti penyandaran kebanyakan manusia kepada seseorang dalam masalah jual-beli sesuatu, menerangkan makna yakin: "Yakin dalam yang yakin dengan petunjuk dan kemenangan/
kepada pekerjaannya dalam mendapatkan hal ini tidak mengapa, karena sesungguhnya dia iman seperti kedudukan ruh dalam jasad, keberuntungan di antara seluruh alam, Allah
rizkinya, maka ini termasuk syirik ashghar bersandar kepadanya dalam keadaan dia merasa yang dengannya orang-orang yang ‘arif saling berfirman:
karena kuatnya keterikatan hati dengannya dan bahwasanya kedudukan yang tinggi itu milik berunggul-unggulan, orang-orang berlomba-
kuatnya penyandaran kepadanya dan sebagian
‘ulama memasukkannya dalam syirik khafiy
dia dan dia di atasnya, karena sesungguhnya dia
menjadikannya sebagai wakil dari dia.
lomba padanya, orang-orang yang beramal ‫ﭦﭧﭨ ﭩ ﭪﭫﭬﭭﭮﭯ‬
berjalan kepadanya, dan suatu kaum beramal
(yang tersembunyi). Dan sungguh Nabi n telah mewakilkan agar berada di atasnya, serta isyarat mereka
‫ﭰ ﭱ ﭲ ﭳ ﭴ ﭵ ﭶ ﭷﭸ ﭹ ﭺ‬
Dan karena inilah engkau akan mendapati kepada ‘Ali bin Abi Thalib agar menyembelih
orang tersebut merasakan dalam dirinya sisa hewan qurbannya (di waktu haji); beliau
seluruhnya kepadanya, dan apabila sabar ‫ﭻﭼ‬
bergandengan dengan yakin maka keduanya itu
bahwasanya dia bersandar kepada hal ini dengan mewakilkan Abu Hurairah untuk menjaga akan melahirkan kepemimpinan dalam agama. “Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-
penyandarannya orang yang membutuhkan, zakat; dan beliau juga mewakilkan ‘Urwah bin Allah Ta’ala berfirman –dan dengan firman- Qur`an) yang telah diturunkan kepadamu dan
maka engkau akan mendapatkan dalam dirinya Al-Ja’d agar membeli hewan qurban untuknya. Nya orang-orang yang mencari petunjuk akan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu,
kecondongan kepada orang yang rizki dia ada Dari keterangan yang telah lalu maka akan mendapat petunjuk- : serta mereka yakin akan adanya (kehidupan)
di sisinya (melalui perantaraannya-pent), inilah jelas bahwa tawakkal itu termasuk di antara akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat
yang nampak pada orang tersebut, maka dia
tidak meyakini bahwasanya orang tersebut/
kedudukan-kedudukan yang tertinggi dan
sesungguhnya wajib atas manusia agar selalu
‫ﭺﭻﭼﭽ ﭾﭿ‬ petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah
orang-orang yang beruntung.” (Al-Baqarah:4-5)
pekerjaannya semata-mata sebagai sebab bersama tawakkal dalam seluruh perkaranya. ‫ﮀﮁ ﮂ ﮃ ﮄ ﮅ‬ Maka yakin adalah ruhnya amalan-amalan hati
saja, bahkan dia menjadikannya di atas sebab. Wallaahu A’lam. yang (amalan-amalan hati tersebut) merupakan
«Dan Kami jadikan di antara mereka itu
Adapun jika dia bersandar kepadanya dengan (Lihat Al-Qaulul Mufiid 2/28-29 tahqiiq ruhnya amalan-amalan anggota badan, dan
pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk
meyakini bahwasanya hal itu (orang/pekerjaan) Hani Al-Hajj dan Syarh Tsalaatsatil Ushuul merupakan hakikatnya kejujuran/kebenaran serta
dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan
hanya sebab saja dan bahwasanya Allah-lah hal.59) pusatnya perkara ini.” (Madaarijus Saalikiin
adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.» (As-
yang menentukan rizki atau yang lainnya melalui 2/397)
Wabillahit taufiq. Sajdah:24)
tangan orang tersebut maka hal ini tidak mengapa Oleh karena itu, yakin adalah ilmu yang tidak
Allah Ta’ala mengkhususkan orang-orang yang
apabila orang yang dia bersandar kepadanya (diambil dari Buletin Al Wala' wal Bara Edisi ada keraguan padanya dan i’tiqad/ keyakinan/
yakin dengan kemampuan mengambil manfaat
mempunyai usaha yang dibenarkan syari’at ke-2 Tahun ke-3 / 03 Desember 2004 M / 20 kepercayaan yang sesuai dengan kenyataan. Ada
terhadap ayat-ayat(Nya) dan hujjah-hujjah, Allah
dalam mendapatkan rizki atau yang lainnya. Syawwal 1425 H) tiga tingkatan dalam yakin: ‘ilmul yaqiin, haqqul
berfirman –dan Dialah sebenar-benar dzat yang
Diterbitkan di bawah Yayasan Asy Syariah dengan yaqiin, dan ‘ainul yaqiin. Adapun tingkatan
berbicara- :
Akta Notaris no.16 tanggal 31 Mei 2005 pertama seperti pengetahuanmu bahwasanya
Penanggung Jawab: Al-Ustadz Qomar ZA, Lc Redaktur Ahli: Al-Ustadz Abdul Mu’thi Al- Maidani, Al-Ust- ‫ﮝﮞﮟ ﮠﮡ‬ di lembah ini terdapat air, sedangkan tingkatan
tadz Abdul Haq, Al-Ustadz Abdul Jabbar kedua adalah kalau kamu sudah melihatnya
Koordinator: Ristyandani Sekretaris: Abu Harits Bendahara: Taufik Distribusi: Slamet Widodo
“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda
dan tingkatan ketiga adalah kalau kamu sudah
Alamat Redaksi: Wisma Kun Salafiyyan, Jl. Palagan Tentara Pelajar 99 RT 6 RW 34, Sedan Sariharjo, Ngaglik, (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang
Sleman Telepon: (0274) 7170587 E-mail: pakis_jogja@yahoo.co.id
meminumnya. dalam menolak apa-apa yang tidak disukai, ditemani oleh orang yang akan menunjukiku dan pahala tawakkal.
bersamaan adanya ketsiqahan/kepercayaan jalan.” Beliau juga berlindung dari panas dan Akan tetapi secara umum kita mempunyai
Makna & Hakikat Tawakkal kepada-Nya dan melakukan sebab-sebab yang dingin, akan tetapi semuanya itu tidaklah tawakkal yang lemah, sehingga kita tidak
Berkata Ibnu Rajab Al-Hambaliy v diperbolehkan padanya, dan inilah definisi mengurangi tawakkalnya. merasakan adanya tawakkal kepada Allah dan
menerangkan makna tawakkal: "Yaitu benarnya tawakkal yang paling dekat. Sehingga mesti Pernah disebutkan kepada ‘Umar z bahwasanya bersandar kepada-Nya ketika melaksanakan
penyandaran hati kepada Allah k di dalam adanya dua perkara: Pertama: bersandar kepada ada sekelompok manusia dari penduduk Yaman ibadah ataupun kegiatan lainnya, bahkan secara
mendapatkan kemaslahatan-kemaslahatan Allah dengan penyandaran yang jujur dan datang untuk berhaji tetapi tidak membawa umum kita bersandar kepada sebab-sebab yang
dan menolak kemadharatan-kemadharatan hakiki. Kedua: melakukan sebab-sebab yang bekal, maka mereka didatangkan kepada ‘Umar zhahir dan melupakan sesuatu di balik itu (yaitu
(berbagai mara bahaya) dari perkara-perkara dibolehkan padanya. z, lalu ‘Umar z menanyai mereka, maka tawakkal kepadaAllah-pent), maka kita kehilangan
dunia dan akhirat seluruhnya, yang seluruh Maka barangsiapa yang menjadikan mereka pun menjawab: “Kami adalah orang- pahala yang besar yaitu pahala tawakkal.
perkara diserahkan kepada-Nya, dan merupakan penyandarannya kepada sebab-sebab itu lebih orang yang bertawakkal kepada Allah.” Maka Sebagaimana kita tidak diberi kemudahan
pembuktiannya iman bahwasanya tidak ada yang banyak maka berkuranglah tawakkalnya kepada ‘Umar pun membantah: “Kalian bukan orang- untuk mendapatkan apa yang kita inginkan
memberi, tidak ada yang mencegah, tidak ada Allah, dan jadilah dia orang yang menodai dalam orang yang bertawakkal, bahkan kalian adalah sebagaimana ini banyak terjadi, sama saja apakah
yang memberikan madharat dan tidak ada yang masalah pencukupan Allah (terhadap hamba- orang-orang yang pura-pura bertawakkal.” kita mendapatkan penghalang-penghalang yang
memberikan manfaat kecuali Dia. Nya), maka seakan-akan dia menjadikan sebab mengharuskan terputusnya ibadah/kegiatan yang
Perealisasian/pembuktian tawakkal tidaklah semata (tanpa tawakkal-pent) yaitu bersandar Urgensinya Tawakkal kita lakukan ataupun penghalang-penghalang
menafikan usaha dalam mengambil sebab- terhadap apa-apa yang dia condong kepadanya Tawakkal adalah setengah agama, dan karena yang mengharuskan berkurangnya ibadah/
sebab yang telah Allah Ta’ala tentukan terhadap dari mendapatkan hal-hal yang diinginkan dan inilah kita mengatakan dalam shalat kita: kegiatan tersebut.
makhluk-Nya dengannya dan telah berjalan menghilangkan hal-hal yang tidak disukai.
sunnah-Nya pada makhluk-Nya dengan hal Dan sebaliknya barangsiapa yang menjadikan
‫ﭢﭣﭤﭥﭦ‬ Pembagian Tawakkal
itu, maka sesungguhnya Allah Ta’ala telah penyandarannya kepada Allah tetapi melalaikan/ «Hanya kepada Engkaulah kami beribadah Tawakkal terbagi menjadi empat macam:
memerintahkan untuk mengambil sebab-sebab tidak mengambil sebab-sebab, maka sungguh dia dan hanya kepada Engkaulah kami mohon Pertama: Tawakkal ibadah dan ketundukan,
bersamaan perintah-Nya untuk bertawakkal, telah mencela dalam masalah hikmahnya Allah, pertolongan.» (Al-Faatihah:5) yaitu ketundukan yang muthlaq kepada Dzat
maka usaha dalam mengambil sebab-sebab karena sesungguhnya Allah telah menjadikan Maka kita meminta kepada Allah pertolongan yang ditawakkali sehingga dia yakin bahwasanya
dengan anggota badan adalah ibadah kepada- bagi segala sesuatu itu ada sebabnya, maka dengan bersandar kepada-Nya bahwasanya Dia di tangan-Nya-lah perolehan manfaat dan
Nya sedangkan tawakkal kepada-Nya dengan barangsiapa yang bersandar kepada Allah akan menolong kita terhadap peribadahan kita penolakan madharat, maka dia bersandar kepada-
hati adalah keimanan kepada-Nya." (Jaami’ul dengan penyandaran semata, maka dia adalah kepada-Nya. Nya dengan penyandaran yang sempurna, dalam
‘Uluum wal Hikam hal.628 - Al-Muntaqaa) orang yang menodai dalam masalah hikmahnya Allah Ta’ala berfirman: keadaan dia merasakan akan butuhnya dia
Berkata Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah v :
"Yakin adalah temannya tawakkal, dan karena
Allah, karena sesungguhnya Allah adalah
Hakim, yang mengaitkan sebab-sebab dengan
‫ﮘﮙﮚ‬ kepada-Nya, maka jenis tawakkal ini wajib hanya
diberikan untuk Allah Ta’ala. Dan barangsiapa
inilah ada yang menafsirkan tawakkal dengan akibat-akibatnya. Contohnya seperti orang «Maka beribadahlah kepada-Nya, dan yang memalingkannya untuk selain Allah, maka
kuatnya yakin, sedangkan yang benar adalah yang bersandar/tawakkal kepada Allah dalam bertawakkallah kepada-Nya.» (Huud:123) dia musyrik, yaitu orang yang melakukan syirik
bahwa tawakkal adalah buahnya yakin dan
hasilnya." (Madaarijus Saalikiin 2/397-398,
mendapatkan anak tetapi dia tidak menikah, dan
contoh lainnya sangat banyak.
‫ﯾﯿﰀﰁﰂ‬ akbar seperti orang-orang yang bersandar kepada
orang-orang shalih dari kalangan orang-orang
lihat Bahjatun Naazhiriin 1/148-149) Sedangkan Nabi n sendiri adalah orang yang “Hanya kepada Allah-lah aku bertawakkal yang sudah mati dan orang-orang yang ghaib/
paling bertawakkal di antara orang-orang yang dan hanya kepada-Nya-lah aku kembali.” tidak hadir, dan hal ini tidak akan muncul kecuali
Hakikat Tawakkal & Contoh-contohnya bertawakkal, akan tetapi bersamaan dengan (Huud:88) dari orang yang berkeyakinan bahwa orang-orang
Sesungguhnya manusia apabila mengesakan itu beliau tetap mengambil sebab-sebab. Maka Dan tidak mungkin akan terealisasi suatu ibadah ini (yang sudah mati dan yang ghaib) mempunyai
Allah Ta’ala dengan tawakkal maka berarti dia ketika safar beliau membawa bekal, dan ketika kecuali dengan tawakkal, karena sesungguhnya andil yang tersembunyi dalam (pengaturan)
bersandar kepada-Nya dalam mendapatkan apa- keluar ke Uhud (untuk perang) beliau memakai manusia seandainya diserahkan kepada dirinya, alam, lalu dia bersandar kepada mereka dalam
apa yang diinginkan dan dalam menghilangkan dua baju besi (HR. Abu Dawud no.2590). Dan maka ini berarti diserahkan kepada kelemahan mendapatkan kemanfaatan-kemanfaatan dan
apa-apa yang tidak disukai, dan dia tidak ketika keluar untuk hijrah (ke Madinah) beliau dan ketidakberdayaan, dan dia tidak akan mampu menolak kemadharatan-kemadharatan.
bersandar kepada selain-Nya. mengambil seseorang untuk menunjukkan jalan untuk melaksanakan ibadah. Maka jika manusia Kedua: Tawakkal tersembunyi yaitu bersandar
Sedangkan tawakkal itu sendiri adalah (HR. Al-Bukhari no.2263), dan beliau tidak itu ketika beribadah kepada Allah, dia merasakan kepada mayit atau orang yang ghaib dalam
penyandaran kepada Allah Ta’ala dalam mengatakan: “Saya akan pergi berhijrah dan bahwasanya dia bertawakkal kepada Allah, maka mendapatkan manfaat atau menolak bahaya, maka
mendapatkan apa-apa yang diinginkan dan bertawakkal kepada Allah serta saya tidak akan dengan itu dia akan mendapatkan pahala ibadah ini adalah syirik akbar. Karena sesungguhnya hal