Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN KIMIA TERPADU

Analisis Kadar MSG dalam Makanan Kemasan

Disusun oleh : Fitri Aldina Hollika M.Arielga Pamungkas Rafli Rachmawandi Siti Nurjanah Yoga Firmansyah Kelas : XIII ak 6

1. Judul Percobaan

Analisis Kualitatif dan Kualitatif MSG pada makanan berkemasan Leo Kripik Kentang

2. Nama Pembimbing

:
GANA DARGANA, S.PD. DRS. OTONG NUGRAHA, M.SI

3. Tanggal Percobaan
1 Juli 2013 4 Juli 2013 5 Juli 2013

4. Tanggal Laporan
17 Juli 2013

5. Identitas Sampel
o o o o Jenis sampel Merk sampel Tanggal kadaluarsa Teknik sampling

:
> Padat > Cheetos > 15 Mei 2014 > Grab Sampling

6. Prinsip Percobaan
o

Penentuan kadar MSG metode Titrasi Bebas Air Zat uji dilarutkan dalam pelarut yang cocok, lalu dititrasi dengan larutan baku HClO4, menggunakan indkator kristal violet. Pada TA terjadi perubahan warna dari violet menjadi biru. Penentuan kadar MSG metode Titrasi Kjedhal Sejumlah tertentu sampel didestruksi dengan menggunakan asam sulfat dan katalis garam Kjeldahl. Hasil destruksi dinetralkan dengan menggunakan larutan alkali dan melalui destilasi. Destilat ditampung dalam larutan asam sulfat. Selanjutnya ion- ion sulfat yang terbentuk dititrasi dengan menggunakan larutan NaOH terhadap indikator Metil merah. o

7. Tujuan Percobaan
o

Penentuan kadar MSG metode Titrasi Bebas Air Dapat menentukan banyaknya % MSG pada sampel makanan Leo Kripik Kentang melalui metode Titrasi Bebas Air. Penentuan kadar MSG metode Titrasi Kjedhal Dapat menentukan banyaknya % MSG pada sampel makanan Leo Kripik Kentang melalui metode Titrasi Kjedhal.

8. Dasar Teori

Monosodium Glutamat (MSG) adalah kristal putih yang biasanya dibuat sebagai pelengkap bumbu masak atau vetsin agar masakan memiliki cita rasa yang kuat . Monosodium Glutamat (MSG) , merupakan turunan kimia L-Glutamic acidmonosodium salt , yang jika di-Indonesia-kan menjadi garam natrium dari asamglutamate(natrium glutamate atau sodium glutamate). Sodium itu nama lain dari Natrium. Sedangkan ikatan aslinya adalah asam glutamat atau glutamic acid yang mampu mengikat dua ion positif. Karena unsur Na hanya memiliki satu valensi,maka masih ada satu unsur asam. Karena yang diikat baru satu, maka disebut mono, artinya satu. Satu sodium asam glutamat alias monosodium glutamat disingkat menjadi MSG. Dan rumus kimianya C5H8NNaO4.Rumus struktur dariMonosodium Glutamat menurut Winarno (1989) sebagai berikut :

Dari struktur ini terlihat bahwa MSG memiliki satu karbon asimetrik yaitu karbon empat dari kiri. Karbon tersebut terikat oleh 4 gugus yang saling berbeda sehingga merupakan bentuk isomer yang aktif. Bentuk garam yang terikat pada karbon empat dari kiri ini memiliki kekutan membangkitkan atau mempertegas citarasa dari daging, ikan atau jenis makanan lainnya. Pada zaman dahulu di Cina senyawa Monosodium Glutamat diproduksi dari rumput laut.

Sekarang senyawa MSG dibuat dan diproduksi dengan menggunakan bahan mentah gluten dari gandum, jagung, kedelai dan hasil samping dari pembuatan gula bit atau molase (tetes) gula tebu. Selain itu juga dibuat dari hasil fermentasi karbohidrat. Tetapi secara komersil MSG diproduksi dari gluten gandum hasil samping gula bit atau molases. Di Indonesia MSG lebih banyak dibuat dari molases (tetes).Glutamat biasanya terdapat dalam zat asam amino yang terdapat pada protein dalam tubuh kita dan pada makanan yang kita makan. MSG yang dibutuhkan dalam makanan adalah sama halnya dengan glutamate alami yang terdapat dalam bahan makanan.
Glutamate alami dan bumbu masakan tidak dapat dibedakan oleh analisa kimia. Sebagai glutamate, mereka selalu ada disetiap makanan. Secara alamiah glutamate terdapat dalam bahan makanan seperti tomat, jamur, kobis, keju, ikan laut, daging dan bahkan air susu ibu (yang kadarnya 20 kali lebih tinggi dari susu sapi).Versi monosodium pada hakikatnya merupakan bentuk glutamat dengan konsentrasi paling tinggi dan mudah ditangani. Indera pengecap kita bekerja melalui beberapa reaksi kimia dan fisiologis yang rumit sekali. Bagaimana tepatnya glutamat beraksi sulit dijabarkan. Akan tetapi ada beberapa gagasan yang dianggap dapat diterima. Orang sudah tahu bahwa molekul-molekul dengan citarasa tertentu melekat ke reseptor dalam sistem pengecap kita dengan lama yang berbeda-beda sebelum terlepas kembali. Maka salah satu kemungkinan dalam hal ini adalah glutamat berfungsi memastikan agar molekul-molekul tertentu bisa melekat lebih lama, dan karena itu memberi rasa lebih kuat. Begitu pula, tidak mustahil glutamat mempunyai seperangkat reseptor mereka sendiri, terpisah dari resptor -reseptor untuk empat kelompok rasa yang sudah kita kenal yaitu manis, asam, asin dan pahit. Perlu diketahui bahwa sesungguh nya MSG atau vetsin bekerja untuk mengintensifkan,atau menguatkan citarasa tertentu yang sudah ada. Industri makanan olahan lebih suka menyebutnya potensiator atau penguat citarasa. MSG yang berbentuk kristal putih ini sebenarnya tidak mempunyai rasa,tetapi mempunyai f ungsi sebagai penegas cita rasa ( flavor enhancer ) makanan ,terutama dari protein hewani hewani (daging, ikan, ayam). Glutamat, selain terdapat dalam tubuh, juga mendapat sumbangan dari bahan makanan yang kita makan seperti keju, telur, daging, ikan, ayam, susu,kentang, tomat, brokoli, jamur,anggur. Jadi, penambahan MSG pada makan an sebenarnya hanya untuk menyenangkn atau memanjakan lidah dan otak kita kita dengan kelezatan makanan. PENENTUAN MSG(MONOSODIUM GLUTAMAT)DENGAN METODE KJELDAHL MSG (monosodium glutamat) atau mononatrium glutamat adalah garam sodium dari asam glutamat. Asam glutamat adalah suatu asam amino yang merupakan salah satu komponen penting protein yang dibutuhkan tubuh kita. Secara alami asam glutamat terdapat dalam makanan kita sehari-hari seperti daging, ikan, telur, susu (termasuk ASI),

keju, tomat dan berbagai macam sayuran. Glutamat adalah salah satu dari 20 asam amino penyusun protein. Sebagai asam amino, glutamat termasuk dalam kelompok non esensial, yang artinya tubuh mampu memproduksi sendiri. Glutamat ada di setiap mahluk hidup baik dalam bentuk terikat maupun bebas. Glutamat yang masih terikat dengan asam amino lain sebagai protein tidak memiliki rasa. Hanya jika glutamat yang dalam bentuk bebas memiliki rasa umami (gurih). Dengan demikian, semakin tinggi kandungan glutamat bebas dalam suatu makanan, semakin kuat rasa Umaminya. Kadar glutamat dalam makanan bervariasi tergantung dari macam makanan, kondisi makanan (mentah atau matang) dan proses pengolahannya. Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen. Sampel didestruksi dengan asam sulfat dan dikatalisis dengan katalisator yang sesuai sehingga akan menghasilkan amonium sulfat. Setelah pembebasan dengan alkali kuat, amonia yang terbentuk disuling uap secara kuantitatif ke dalam larutan penyerap dan ditetapkan secara titrasi. Metode ini telah banyak mengalami modifikasi. Metode ini cocok digunakan secara semimikro, sebab hanya memerlukan jumlah sampel dan pereaksi yang sedikit dan waktu analisa yang pendek. Cara Kjeldahl digunakan untuk menganalisis kadar protein kasar dalam bahan makanan secara tidak langsung, karena yang dianalisis dengan cara ini adalah kadar nitrogennya. Dengan mengalikan hasil analisis tersebut dengan angka konversi 6,25, diperoleh nilai protein dalam bahan makanan itu. Angka 6,25 berasal dari angka konversi serum albumin yang biasanya mengandung 16% nitrogen. Prinsip cara analisis Kjeldahl adalah sebagai berikut: mula-mula bahan didestruksi dengan asam sulfat pekat menggunakan katalis selenium oksiklorida atau butiran Zn. Amonia yang terjadi ditampung dan dititrasi dengan bantuan indikator. Cara Kjeldahl pada umumnya dapat dibedakan atas dua cara, yaitu cara makro dan semimakro. Cara makro Kjeldahl digunakan untuk contoh yang sukar dihomogenisasi dan besar contoh 1-3 g, sedang semimikro Kjeldahl dirancang untuk contoh ukuran kecil yaitu kurang dari 300 mg dari bahan yang homogen. Cara analisis tersebut akan berhasil baik dengan asumsi nitrogen dalam bentuk ikatan N-N dan N-O dalam sampel tidak terdapat dalam jumlah yang besar. Kekurangan cara analisis ini ialah bahwa purina, pirimidina, vitamin-vitamin, asam amino besar, kreatina, dan kreatinina ikut teranalisis dan terukur sebagai nitrogen protein. Walaupun demikian, cara ini kini masih digunakan dan dianggap cukup teliti untuk pengukuran kadar protein dalam bahan makanan. Analisa protein cara Kjeldahl pada dasarnya dapat dibagi menjadi tiga tahapan yaitu proses destruksi, proses destilasi dan tahap titrasi. 1. Tahap destruksi Pada tahapan ini sampel dipanaskan dalam asam sulfat pekat sehingga terjadi destruksi menjadi unsur-unsurnya. Elemen karbon, hidrogen teroksidasi menjadi CO, CO2 dan H2O. Sedangkan nitrogennya (N) akan berubah menjadi (NH4)2SO4. Untuk mempercepat proses destruksi sering ditambahkan katalisator berupa campuran Na2SO4 dan HgO (20:1). Gunning menganjurkan menggunakan K2SO4 atau CuSO4. Dengan penambahan katalisator tersebut titk didih asam sulfat akan dipertinggi

sehingga destruksi berjalan lebih cepat. Selain katalisator yang telah disebutkan tadi, kadang-kadang juga diberikan Selenium. Selenium dapat mempercepat proses oksidasi karena zat tersebut selain menaikkan titik didih juga mudah mengadakan perubahan dari valensi tinggi ke valensi rendah atau sebaliknya. 2. Tahap destilasi Pada tahap destilasi, ammonium sulfat dipecah menjadi ammonia (NH3) dengan penambahan NaOH sampai alkalis dan dipanaskan. Agar supaya selama destilasi tidak terjadi superheating ataupun pemercikan cairan atau timbulnya gelembung gas yang besar maka dapat ditambahkan logam zink (Zn). Ammonia yang dibebaskan selanjutnya akan ditangkap oleh asam khlorida atau asam borat 4 % dalam jumlah yang berlebihan. Agar supaya kontak antara asam dan ammonia lebih baik maka diusahakan ujung tabung destilasi tercelup sedalam mungkin dalam asam. Untuk mengetahui asam dalam keadaan berlebihan maka diberi indikator misalnya BCG + MR atau PP. 3. Tahap titrasi Apabila penampung destilat digunakan asam khlorida maka sisa asam khorida yang bereaksi dengan ammonia dititrasi dengan NaOH standar (0,1 N). Akhir titrasi ditandai dengan tepat perubahan warna larutan menjadi merah muda dan tidak hilang selama 30 detik bila menggunakan indikator PP. %N = N. NaOH 14,008 100% Apabila penampung destilasi digunakan asam borat maka banyaknya asam borat yang bereaksi dengan ammonia dapat diketahui dengan titrasi menggunakan asam khlorida 0,1 N dengan indikator (BCG + MR). Akhir titrasi ditandai dengan perubahan warna larutan dari biru menjadi merah muda. Setelah diperoleh %N, selanjutnya dihitung kadar proteinnya dengan mengalikan suatu faktor. Besarnya faktor perkalian N menjadi protein ini tergantung pada persentase N yang menyusun protein dalam suatu bahan. TITRASI BEBAS AIR Dalam penitrasian bebas air, indikator bereaksi dengan H+ atau melepaskan H+, masing-masing disertai dengan terjadinya perubahan warna. Perubahan warna sangat tergantung dari jenis sampel. Oleh karena itu, pemilihan indikator secara empiris, yaitu menggunkan potensiometer bersama-sama dengan indikator visual yang diselidiki. Indkator yang diplih adalah yang memperlihatkan perubahan warna yang tajam dekat dengan titik ekuivalen. Untuk titrasi basa lemah dan garam-garamnya dapat digunakan crystal violet, methyl-rosaniline chloridee, quanalfine red, naphtholbenzein dan malchite green. Untuk basa-basa yang realtif lebih kuat dapat digunakan methyl red, methyl orange, dan thymol blue(Harmita,2006). Reaksi yang terjadi pada titrasi bebas air dapat diterangkan dengan konsep dari Bronsted dan Lowry, yaitu bahwa asam adalah pemberi proton (proton donor) sedangkan basa adalah penerima proton (Proton acceptor) (Harmita, 2006). Maka akan terdapat konsentrasi yang lebih besar dari proton yang tersolvasi dalam pelarut

tersebut. Jadi, bisa terlihat bahwa jika HB itu asam lemah untuk dititrasi dengan layak larutan berair, jika dapat meningkatkan keasamannya dan juga titrabilitasnya dengan memilih pelarut yang lebih basa dari air (Underwood, 1993). Pada pelarut asam lemah dan basa lemah dalam lingkungan bebas air harus diperhatikan pengaruh pelarut bukan air terhadap tetapan ionisasi, tetapan dissosiasi, tetapan asam asam dan basa senyawa yang hendak dititrasi. Yang tidak kalah penting adalah pengaruh konstanta dialetrik pada reaksi protolisis pada pelarut bukan air (Wunas, 1986). Titrasi bebas air atau titrasi non-Aqua adalah titrasi yang menggunakan pelarut organik sebagai pengganti air. Dengan pelarut organik tertentu, kekuatan asam atau basa lemah dapat diperbesar sehingga memungkinkan suatu titrasi yang tidak memuaskan dalam pelarut air. Dibidang farmasi teknik kini banyak dipakai karena banyak obat bersifat asam atau basa lemah yang suka larut dalam air. Dengan pemilih pelarut yang tepat, penetapan kadar dari komponen campuran asam atau basa juga dimungkinkan. Teori asam-basa dari arrhenius ternyata tidak berhasil menjelaskan sifat karakteristik dari asam dan basa dalam pelarut organik. Dalam hal ini, teori yang umum telah dikemukakan oleh bronsted. Menurut teori ini, asam adalah pemberi proton, sedangkan basa adalah penerima proton (Anonim, 2012). Dalam pemilihan pelarut, ada tiga hal yang harus diperhatikan, yaitu sifat asam-basa dari pelarut. Untuk menitrasi basa lemah, maka dipilih pelarut yang lebih bersifat asam dan demikian pula sebaliknya. Misalnya, pada titrasi basa lemah, asam asetat lebih baik daripada air, Tetapan dan autoprotolisis serta Tetapan dielektrik. Asam perklorat sejauh ini merupakan asam yang telah luas digunakan untuk titrasi basa lemah, karen asam ini adalah asam yang sangat kuat yang sangat mudah didapat. Basa lemah dititrasi paling sering dalam larutan asam asetat glasial. Normalnya pengaruh temperatur pada volume titran teukur dapat diabaikan dengan diabaikan dengan larutab berair pada variasi temperatur kamar basa. Pelarut organik seperti asam asetat, benzena, dan metanol sebaiknya mempunyai koefisien ekspansi ternal yang agak besar, dan perubahan volumenya tidak bisa diabaikan jika titran tersebut berada pada temperatur standarisasinya (Underwood, 1993) Titrasi titrimetri dalam lingkungan bebas air, pelarut mengambil bagian yang amat penting untuk reaksi stoikiometri, dimana pelarut tersebut dapat mengambil bagian dalam reaksi. Ada tiga teori yang menerangkan reaksi netralisasi dalam suatu pelarut yaitu teori ikatan hidrogen, teori Lewis dan teori Bronsted. Penggunaan pelarut aprotik pada titrasi bebas air memberikan dua keuntungan. Pelarut tidak mempunayi efek menyetingkatkan keasaman/kebasaan asam basa yang bereaksi sesamanya. Garam yang terjadi pada titrasi tidak akan diuraikan secara protolitik oleh pelarut. Kerugiannya adalah sifat yang sedikit polar atau non polar yang mempunyai daya pelarutan kecil uuntuk protolit dan pendesakan kembali disosiasi. Disebabkan terdesaknya kembali disosiasi, maka kemampuan hantaran suatu larutan akan sangat dikurangi, sehingga misalnya penentuan potensiometri suatu titrasi tidak mungkin dilakukan (Roth, 1988).

Seperti telah diuraikan diatas, kekuatan asam basa ditentukan pula oleh kemampuan pelarut untuk menerima dan melepaskan proton. Berdasarkan hal ini maka pelarut dapat dibedakan menjadi (Anonim, 2012) : Pelarut protogenik, adalah pelarut yang mudah memberikan proton. Misalnya : asam-asam Pelarut protofilik, adalah pelarut yang mudah menerima proton. Misalnya : basa-basa, eter, keton Pelarut amfiprotik, adalah pelarut yang dapat menerima maupun memberikan proton. Misalnya : air, asam asetat, alkohol Pelarut aprotik, adalah pelarut yang tidak dapat menerima maupun memberikan proton. Misalnya : kloroform, benzen, dioksan Digunakan pelarut organic bukan air karena senyawa tersebut tidak dapat larut dalam air, disamping itu kurang reaktif dalam air seperti misalnya garam-garam amina, dimana garamgaram ini dirombak lebih dahulu menjadi basa yang bebas larut dalam air, sari dengan pelarut organik lain dan direaksikan dengan asam baku berlebih, yang kemudian pelarutnya diuapkan dan barulah kelebihan asam ditentukan kembali dengan basa baku sedangkan senyawa-senyawa organik yang mengandung nitrogen ditentukan dengan metode Kjeldahl. (Dhanar Dani, 1998).

9. Alat dan Bahan


o

Penentuan kadar MSG metode Titrasi Bebas Air Alat Bahan Neraca analitis Sampel Buret 50 mL Aqua DM Pipet Seukuran 100ml CH3COOH-glacial Botol semprot HClO4 standar 0,098N Corong tangkai pendek Labu Erlenmeyer Batang pengaduk Klem Buret Statif Tegel putih

Penentuan kadar MSG metode Titrasi Kjedhal Alat 1. Labu foss 2. Gelas ukur 25 mL, 100 mL 3. Corong pendek 4. Gelas kimia 600 mL 5. Labu ukur 100 mL 6. Pipet seukuran 10 mL 7. Adaptor 8. Selang 9. Alat destilasi foss 10. Kaki tiga 11. Kassa asbes 12. Batang pengaduk 13. Magnetic stirrer 14. Buret 15. Klem 16. Statif 17. Botol semprot 18. Pipet tetes

Bahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Sampel Aqua DM Garam Kjeldahl H2SO4 (p) NaOH 30% H2SO4 0,1185N NaOH 0,1037N

10.Langkah Kerja
o

Penentuan kadar MSG metode Titrasi Bebas Air timbang 250 mg sampel secara teliti basahkan dengan air, larutkan dalam asam asetat glasial 100 mL, titrasi dengan Asam perklorat 0,1 N . Penentuan kadar MSG metode Titrasi Kjedhal 0,4 gram contoh MSG dipanasi dalam labu kjedhal dengan 0,5 gram Cusulfat, 4,5 gram kalium sulfat dan 20 ml H2SO4 (p) samapai cairan menjadi jernih. Pemanasan dilanjutkan hingga 3 jam, lalu dinginkan. Larutan dipindahkan ke dalam labu destilasi, cuci dengan air suling dan encerkan hingga volume 200 ml, Tambahkan 80 ml NaOH 30 %, Amonia yang terdestilasi ditampung dalam 25 ml H2SO4 0,1 N dan indikator merah metil. Bila 2/3 volume larutan telah terdestilasi, titer kelebihan H2SO4 dengan NaOH 0,1 N. dan hitung kadar kemurnian MSG

11.Data Pengamatan
o

Penentuan kadar MSG metode Titrasi Bebas Air

Persamaan Reaksi
MSG + CH3COOH Asam Glutamat + HClO4 Asam Glutamat + CH3COONa Monochlorida glutamat + H2O Sampel 2 140,3900 gram 0,2650 gram 140,6550 gram 2 0,35 0,00 0,35 Biru

Data Penimbangan
Penimbangan Massa alat Massa zat Massa alat + zat Sampel 1 140,5511 gram 0,2520 gram 140,8031 gram 1 0,32 0,32 Biru

Tabel Titrasi
Titrasi ke Skala Akhir (ml) Skala Awal (ml) Volume Pemakaian (ml) Warna Perhitungan
% MSG1 =

x 100 % x 100%

% MSG2 =

x 100 % x 100%

=
= 1,25 % % Kesalahan = = 4,16% o

=
= 1,30% % Kesalahan = = 8,33%

x 100%

x 100%

Penentuan kadar MSG metode Titrasi Kjedhal

Persamaan Reaksi Destruksi: CuSO4, K2SO4 C,H,O,N,S(s) + H2SO4(l) (NH4)2SO4(aq) + CO2(g) + SO2(g) + H2O(l) Destilasi (NH4)2SO4 + NaOH NH3 + H2SO4
(berlebih)

NH3 + H2O + Na2SO4 NH4SO4 + H+

Titrasi H2SO4 sisa + 2NaOH Data Penimbangan


Penimbangan Massa alat Massa zat Massa alat + zat

Na2SO4 + 2H2O

Sampel 0,9768 gram 0,3981 gram 1,3749 gram

Tabel Titrasi Titrasi Ke Skala Akhir (ml) Skala Awal (ml) Volume Pemakaian (ml) Warna

1 27,91 0,00 27,91 Jingga Mg N = mEk N x BE N = 0,0682 mEk x 14 = 0,9548 mg

Perhitungan
mEk N = [V x N] H2SO4 [VxN] NaOH = [25,00ml x 0,1185N] [27,91ml x 0,1037N] = 2,9625 mEk 2,8943 mEk = 0,0682 mEk %N = = = 0,24% % Kesalahan = = 25% x 100%

% MSG = % N x fk N = 0,24% x 6,25 = 1,50%

12.Rangkaian Alat
o

Penentuan kadar MSG metode Titrasi Bebas Air

Saat Titrasi o Penentuan kadar MSG metode Titrasi Kjedhal

Saat Destilasi

Saat Titrasi

13.Pembahasaan : - Pada saat destruksi dengan H2SO4(p) sampel terdestruksi menjadi unsur unsurnya. Elemen karbon, hydrogen, teroksidasi menjadi CO2 dan H2O sedangkan nitrogennya dirubah menjadi (NH4)2SO4 - Dengan penambahan katalisator Garam Kjeldahl titik didih asam sulfat akan dipertinggi sehingga proses destruksi lebih cepat - hasil praktikum yang kami dapatkan dengan titrasi bebas air sebesar 1,25% & 1,30% , dan
dengan metode kjeldahl sebesar 1,50%. sedangkan dalam literatur tercantum kadar MSG dalam Chiki Chetos adalah sebesar 1,20% . sehingga dapat disimpulkan metode yang paling tepat digunakan untuk penentuan MSG dalam Chiki adalah metode titrasi bebas air. hasil praktikum yang kami lakukan, kadar yang didapat dengan metode titrasi bebas air adalah 1,25% & 1,30% sedangkan dalam literatur adalah 1,20%. Adapun faktor kesalahan yang menyebabkannya pada praktikum kali ini adalah : - Indicator yang ditambahkan terlalu banyak - Waktu pemasan kurang sehingga perubahan warna yang dihasilkan kurang maksimal - Kurang telitinya praktikan dalam mengamati hasilnya. - Kurang telitinya praktikan saat menitrasi kadar MSG dapat ditentukan secara kjeldahl karena MSG (monosodium glutamat) atau mononatrium glutamat adalah garam sodium dari asam glutamat. Asam glutamat adalah suatu asam amino yang merupakan salah satu komponen penting protein yang dibutuhkan tubuh kita. sehingga kita dapat menentukan kadar MSG dengan metode kjeldahl. karena pada dasarnya Metode Kjeldahl merupakan metode yang sederhana untuk penetapan nitrogen total pada asam amino, protein dan senyawa yang mengandung nitrogen.
Menurut Badan Kesehatan Sedunia (WHO) asupan MSG per hari yang disarankan ialah sekitar 0-120 mg/kg berat badan. Jadi, jika berat seseorang 50 kg, maka konsumsi MSG yang aman menurut perhitungan tersebut 6 gr (kira-kira 2 sendok teh) per hari. Rumus ini hanya berlaku pada orang dewasa. WHO tidak menyarankan penggunaan MSG pada bayi di bawah 12 minggu. Nurhasan dari (Public Interest Research and Advocacy Center-PIRAC) di Jakarta, Kamis, mengatakan pihaknya sudah meneliti 13 contoh makanan ringan yang beredar luas. Dari 13, tujuh diantaranya mengandung Mono Sodium GlutamateMSG tetapi tidak mencantumkannya dalam kemasan, empat produk menyatakan mengandung penyedap dan penambah rasa tetapi tidak menyebutkan mengandung MSG dan dua produk mencantumkan MSG namun tidak menyebut jumlah kandungannya. Ketujuh produk tersebut adalah Cheetos (1,20 persen), Chitato rasa sapi panggang (1,06), Chiki rasa keju (0,76), HappytosTorpilachips (0,71), Golden Horn rasa keju (0,46), Smax rasa ayam (0,57), dan Taro Snack rasa rumput laut (0,62). Keempat produk yang menyatakan mengandung penyedap dan penambah rasa tetapi tidak menyebutkan mengandung MSG adalah Zetz rasa ayam bumbu mamamia (0,50), Twistko rasa jagung barbeque (1,59), Double Decker Snack ayam (0,48) dan Twistee Corn (0,47). Keempat produk itu dinilai dianggap menyesatkan karena menyebutkan mengandung penyedap rasa tetapi tidak menyebutkan mengandung MSG. Dua produk yang mencantumkan MSG tetapi tidak menyebutkan jumlah kandungannya adalah Gemez rasa ayam panggang (0,59) dan Anak Mas rasa keju (0,52).

Analisi dengan metode kjeldahl terbagi menjadi 3 tahapan, yaitu : Destruksi, destilasi dan titrasi

> pada proses destruksi sampel dipanaskan dengan asam sulfat pekat dan dengan bantuan katalis garam kjeldahl, elemen karbon, hidrogen, teroksidasi menjadi co, co2 dah h2o, sedangkan N akan berubah menjadi (NH4)2SO4. > pada tahap destilasi (NH4)2SO4 akan dipecah menjadi NH3 dengan penambahan NaOH 50% w/w sampai alkalis > NH3 yang dibebaskan harus ditampung dengan H2SO4 standar dalam jumlah berlebih dan ditambahkan indikator metil merah. yang kemudian akan dititrasi dengan NaOH Standar Hingga TA.

14.Kesimpulan

Pada saat penentuan kadar MSG, hasil yang mendekati pada literatur adalah penentuan kadar MSG dengan menggunakan metode Titrasi Bebas Air.

15.Daftar Pustaka

http://catatankimia.com/catatan/analisa-kualitatif-dan-kuantitatif-msg.html ( S HAMDANI / 20 Juni 2013) http://farmasi07itb.wordpress.com/2009/10/30/titrasi-bebas-air-praktikum-kuyang-tak-terlaksana/ http://chamaiiaariani.wordpress.com/ http://sutriaddina.wordpress.com/2013/02/16/tbatitrasi-bebas-air/ http://acef-cholacha.blogspot.com/2010/07/pemeriksaan-glukosa-darah.html http://thepatria.wordpress.com/2011/03/27/awas-efek-samping-msg-atau-vetsin/

PARAF

NILAI

CATATAN