Anda di halaman 1dari 36

1. Sebutkan cara kerja obat aminofilin Aminofilin merupakan bentuk garam dari teofilin.

Mekanisme kerjanya yaitu dengan menghambat enzim fosfodiesterase (PDE) sehingga mencegah pemecahan cAMP dan cGMP masing-masing menjadi 5-AMP dan 5-GMP. Penghambatan PDE menyebabkan akumulasi cAMP dan cGMP dalam sel sehingga menyebabkan relaksasi otot polos termasuk otot polos bronkus. (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007) 2. Sebutkan dosis pemberian aminofilin, maintanance dose, lethal dose dan pemberiannya pada kasus-kasus yang memerlukan pemberian aminofilin Dosis : Dewasa : Asma akut berat yang memburuk dan belum mendapat terapi dengan Teofilin. Injeksi IV pelan : 250-500mg (5 mg/kg) (diinjeksikan lebih dari 20 menit) dengan monitoring ketat, selanjutnya dapat diikuti dengan dosis pada asma akut berat. Dewasa : Asma akut berat : IV infus 500 mcg/kg/jam (dengan monitoring ketat) disesuaikan dengan konsentrasi plasma Teofilin. Anak-anak : Asma akut berat yang memburuk dan belum mendapat terapi dengan Teofilin. Injeksi IV pelan : 5 mg/kg (diinjeksikan lebih dari 20 menit) dengan monitoring ketat, selanjutnya dapat diikuti dengan dosis pada asma akut berat. Anak-anak : Asma akut berat: IV infus: anak usia 6 bulan - 9 tahun 1mg/kg/jam anak usia 10 - 16 tahun 800 mcg/kg/jam disesuaikan dengan konsentrasi teofilin dalam plasma. Rentang terapeutik teofilin adalah 10 sampai 20 mcg/mL, Lethal dose mulai menunjukan efek toksik pada rentang 15-20 mcg/ml Untuk dosis pemeliharaan (maintanance dose), efek yang optimal dapat dipertahankan dengan pemberian infus aminofilin 0,5 mg/kgBB/jam untuk dewasa normal dan bukan perokok. Anak di bawah 12 tahun dan orang dewasa perokok memerlukan dosis yang lebih tinggi yaitu 0,8-0,9 mg/kgBB/jam. Dosis ini diturunkan pada pasien dengan penurunan atau gangguan perfusi hati. Tanpa

mengetahui besarnya kadar obat dalam plasma, pemberian infus tidak boleh melebihi 6 jam. (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007) (http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-obat/208aminofilin.html) 3. Tuliskan semua sediaan aminofilin Di Indonesia, aminofilin tersedia dalam bentuk ampul 10 ml yang mengandung 24 mg aminofilin setiap mililiternya untuk penggunaan IV. Terdapat juga sediaan dalam bentuk tablet 100 mg dan 200 mg dengan naa dagang aminophilin. (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007) (Daftar Obat Standar Edisi vii, PT. JAMSOSTEK, 2005) 4. Jelaskan perbedaan aminofilin dan teofilin Aminofilin merupakan bentuk garam dari teofilin. Aminofilin berbentuk serbuk berwarna putih atau sedikit kekuningan. Bersifat anhydrous atau tidak mengandung lebih dari 2 molekul air. Aminofilin mengandung tidak kurang dari 84.0% dan tidak lebih dari 87.4% teofilin anhydrous, serta mengandung 13.5% sampai 15% anhydrous ethylenediamine. Larut dalam air (larutan menjadi keruh akibat pengaruh karbon dioksida), tidak larut dalam dehydrated alkohol. Sedangkan teofilin merupakan obat golongan derivat xantin yang memilik gugus metil 1,3-dimetilxantin yang memiliki efek diuresis, merangsang SSP, merangsang otot jantung dan merelaksasikan oto polos terutama bronkus sehingga dapat berfungsi sebagai bronkodilator. Perbedaannya adalah kelarutan aminofilin lebih besar daripada teofilin, tetapi temyata derajat absorpsinya tidak banyak berbeda. Sebagai pedoman, 1,27 gram aminofilin setara dengan 1 gram teofilin. Dalam tubuh aminofilin terurai menjadi teofilin sehingga dalam hal ini setiap pemberian teofilin dalam bentuk aminofilin, dosis harus dinaikkan sebanyak 20% untuk memperoleh kekuatan yang sama (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007) (http://mimin-mien.blogspot.com/2010/03/uji-bioekuivalensiaminofilin html)

5. Pembagian pneumonia menurut MTBS Berdasarkan pedoman MTBS (2000), pneumonia dapat diklasifikasikan secara sederhana berdasarkan gejala yang ada. Klasifikasi ini bukanlah merupakan diagnose medis dan hanya bertujuan untuk membantu para petugas kesehatan yang berada di lapangan untuk menentukan tindakan yang perlu diambil, sehingga anak tidak terlambat mendapatkan penanganan. Klasifikasi tersebut adalah: a. Pneumonia berat atau penyakit sangat berat, apabila terdapat gejala: 1) Ada tanda bahaya umum, seperti anak tidak bisa minum atau

menetek, selalu memuntahkan semuanya, kejang atau anak letargi / tidak sadar. 2) 3) inspirasi) b. Pneumonia, apabila terdapat gejala napas cepat. Batasan napas cepat Terdapat tarikan dinding dada dalam Terdapat stridor (suara napas bunyi grok-grok saat

adalah: 1) lebih 2) Anak usia 12 bulan-5tahun apabila frekuensi napas Anak usia 2-12 bulan apabila frekuensi napas 50x/menit atau

40x/menit atau lebih c. Batuk bukan pneumonia, apabila tidak ada tanda-tanda pneumonia

atau penyakit sangat berat. (http://dusept.blogspot.com/2012/01/proposal-penelitian-pneumonia.html)

6.

Sebutkan sefalosporin generasi 1-4, indikasi dan kontraindikasi Sefalosporin termasuk golongan antibiotika Betalaktam. Seperti antibiotik Betalaktam lain, mekanisme kerja antimikroba Sefalosporin ialah dengan menghambat sintesis dinding sel mikroba. Yang dihambat adalah reaksi transpeptidase tahap ketiga dalam rangkaian reaksi pembentukan dinding sel. Sefalosporin aktif terhadap kuman gram positif maupun garam negatif, tetapi spektrum masing-masing derivat bervariasi.

Penggolongan Sefalosporin Hingga tahun 2006 golongan Sefalosporin sudah menjadi 4 generasi, pembedaan generasi dari Sefalosporin berdasarkan aktivitas mikrobanya dan yang secara tidak langsung sesuai dengan urutan masa pembuatannya. Tabel 1. Penggolongan Sefalosporin Nama Cefadroxil Cefalexin Cefazolin Cephalotin Cephradin Cefaclor Cefamandol Cefmetazol Cefoperazon Generasi Cara Pemberian 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 Oral Oral IV dan IM IV dan IM Oral IV dan IM Oral IV dan IM IV dan IM IV dan IM Oral IV dan IM Aktivitas Antimikroba Aktif terhadap kuman gram positif dengan keunggulan dari Penisilin aktivitas nya terhadap bakteri penghasil Penisilinase Kurang bakteri aktif gram terhadap postif dengan tetapi

No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

dibandingkan generasi pertama,

10. Cefprozil 11. Cefuroxim

lebih aktif terhadap kuman gram misalnyaH.influenza, negatif; Pr.

Mirabilis, 12. Cefditoren 13. Cefixim 14. Cefotaxim 15. Cefotiam 16. Cefpodoxim 17. Ceftazidim 18. Ceftizoxim 19. Ceftriaxon 20. Cefepim 21. Cefpirom 3 3 3 2 3 3 3 3 4 4 Oral Oral IV dan IM IV dan IM Oral IV dan IM IV dan IM IV dan IM Oral IV dan IM Oral IV dan IM Golongan Klebsiella

E.coli, ini

dan

umumnya

kurang efektif dibandingkan dengan terhadap generasi kuman pertama gram

positif, tetapi jauh lebih efektif Enterobacteriaceae, termasuk strain penghasil Penisilinase. Hampir sama dengan terhadap

generasi ketiga

Indikasi Klinik : Sediaan Sefalosporin seyogyanya hanya digunakan untuk pengobatan infeksi berat atau yang tidak dapat diobati dengan antimikroba lain, sesuai dengan spektrum antibakterinya. Anjuran ini diberikan karena selain harganya mahal, potensi antibakterinya yang tinggi Adapun indikasi dari masing Sefalosporin sebagai berikut : Adapun indikasi dari masing-masing obat golongan sefalosporin yaitu : 1. Cefadroxil dan Cefalexin Obat golongan Cefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri pada kulit, tenggorokan, dan infeksi kandung kemih. Antibiotik ini tidak efektif untuk pilek, flu atau infeksi lain yang disebabkan virus.

2. Cefazolin Cefazolin digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi pada kandung empedu dan kandung kemih, organ pernafasan, genito urinaria (infeksi pada organ seksual dan saluran kencing), pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit atau luka. 3. Cephalotin Obat golongan Sefalosporin ini yang digunakan untuk mengobati infeksi bakteri dan penyakit pada infeksi kulit dan jaringan lunak, saluran nafas, genito-urinaria, pasca operasi, otitis media dan septikemia. 4. Cefaclor dan Cefixim Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit seperti pneumonia dan infeksi pada telinga, paru-paru, tenggorokan, saluran kemih dan kulit. 5. Cefamandol, Ceftizoxim dan Ceftriaxon Cefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam penyakit pada paru-paru, kulit, tulang, sendi, perut, darah dan saluran kencing. 6. Cefmetazol Cefmetazol lebih aktif daripada Sefalosporin golongan pertama terhadap gram positif Proteus, Serritia, kuman anaerobik gram negatif (termasuk B. fragilis) dan beberapaE.coli, Klebsiella dan P. mirabilis, tetapi kurang efektif dibandingkan Cefoxitin atau Cefotetan melawan kuman gram negatif. 7. Cefoperazon dan Ceftazidim Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi termasuk paru-paru, kulit, sendi, perut, darah, kandungan, dan saluran kemih. 8. Cefprozil

Obat Sefalosporin ini mengobati infeksi seperti Otitis Media, infeksi jaringan lunak dan saluran nafas. 9. Cefuroxim Cefuroxim digunakan untuk mengobati infeksi tertentu yang disebabkan oleh bakteri seperti; bronkitis, gonore, penyakit limfa, dan infeksi pada organ telinga, tenggorokan, sinus, saluran kemih, dan kulit. 10. Cefotaxim Cefotaxime digunakan untuk mengobati Gonore, infeksi pada ginjal

(pyelonephritis), organ pernafasan, saluran kemih, meningitis, pencegahan infeksi pada proses operasi dan infeksi kulit dan jaringan lunak. 11. Cefotiam Memiliki aktivitas spetrum luas terhadap kuman gram negatif dan positif, tetapi tidak memiliki aktivitas terhadapPseudomonas aeruginosa. 12. Cefpodoxim Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi seperti Pneumonia, Bronkitis, Gonore dan infeksi pada telinga, kulit, tenggorokan dan saluran kemih. 13. Cefepim Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi seperti Pneumonia, kulit, dan saluran kemih. 14. Cefpirom Obat Sefalosporin ini menghilangkan bakteri yang menyebabkan berbagai macam infeksi pada darah atau jaringan, paru-paru dan saluran nafas bagian bawah, serta saluran kemih Kontraindikasi :

Obat

golongan

sefalosporin

umumnya

bersifat

nefrotoksik

sehingga

penggunaannya harus lebih diperhatikan pada pasien dengan gangguan ginjal. (http://tama3143pharmacyarea.blogspot.com/2011/04/sefalosporin.html) (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007)
7. Mengapa cefotaxim dapat melewati sawar darah otak ?

Cefotaxim merupakan salah satu obat yang dapat menembus swar darah otak dikarenakan memiliki kelarutan yang baik dalam lemak yang dapat melintasi sawar darah otak. (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007)
8. Jelaskan cara kerja, indikasi dan tujuan pemberian kalmethason

Mekanisme kerja : kalmethasone adalah obat yang berisi dexamethasone yang merupakan kelompok kortikosteroid dan bekerja mempengaruhi kecepatan sintesis protein. Molekul hormon memasuki sel melewati membran plasma secara difusi pasif. Hanya di jaringan target hormon ini bereaksi dengan reseptor protein yang spesifik dalam sitoplasma dan membentuk kelompok steroid. Kompelks ini mengalami perubahan konformasi, lalu bergerak menuju nukelus dan berikatan dengan kromatin. Ikatan ini menstimuasi transkripsi RNA dan sintesis protein spesifik. Induksi ini akan menghasilkan efek psikologis steroid.

(Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007)
9. Farmakologi kalmethason

Kortisol merupakan bentuk alami dari glukokortikoid yang disintesis dari kolesterol di dalam korteks adrenal. Dalam keadaan normal, di dalam sirkulasi terdapat kurang dari 5% kortisol bebas yang merupakan bentuk aktif dalam terapi. Sedangkan sisanya dalam bentuk inaktif karena terikat dengan cortisol-binding globulin (CBG, atau yang dikenal sebagai transcortin) (95%) atau berikatan dengan albumin (5%). Sekresi cortisol setiap harinya berkisar antara 10-20 mg, dengan puncak diurnal sekitar pukul 8 pagi. Kortisol memiliki waktu paruh 90 menit. Metabolismenya terutama berlangsung di dalam hepar dan metabolit yang dihasilkan diekskresikan oleh ginjal dan hepar. Mekanisme kerja glukokortikoid melalui difusi pasif melalui membran sel, diikuti dengan ikatan dengan protein reseptor di dalam sitoplasma. Kompleks reseptor hormon kemudian masuk ke dalam nukleus mempengaruhi transkripsi sejumlah gen-gen target yang menyebabkan penurunan sintesis molekul-molekul proinflamasi termasuk sitokin, interleukin, molekul adhesi dan protease. Glukokortikoid mempengaruhi replikasi dan pergerakan sel serta menimbulkan keadaan monositopenia, eosinopenia dan lymphocytopenia. Efeknya terhadap sel T lebih besar dibandingkan dengan sel B. Lymphocytopenia timbul sebagai akibat redistribusi sel-sel yang bermigrasi dari sirkulasi menuju jaringan lymphoid lainnya, dan diyakini bahwa glukokortikoid menyebabkan apoptosis. Glukokortikoid juga berperan dalam aktivasi, proliferasi dan diferensiasi sel. Fungsi makrofag berkurang oleh kortisol dan penurunan ini memperngaruhi reaksi hipersensitivitas sedang dan lambat. Fungsi monosit dan lymphosit juga turut terpengaruh. Penggunaan glukokortikoid juga menyebabkan produksi antibodi berkurang. (http://sikkahoder.blogspot.com/2012/07/kortikosteroid-mekanismekerjaefek.html#.UbSl79hrGN8)
10.

Efek samping kalmethasone pada gizi buruk

Penggunaan obat-obatan golongan kortikosteroid dalam waktu lama dapat menghambat pertumbuhan karena efek antagonisnya terhadap kerja hormon pertumbuhan di perifer. Efek ini berhubungan dengan

besarnya dosis yang dipakai. Pada beberapa jaringan, terutama otot dan tulang, obat ini menghambat sintesis dan menambah degradasi protein dan RNA. Hal inilah yang mungkin sering menyebabkan kegagalan hormon pertumbuhan bila digunakan bersamaan dengan kortikosteroid. Obat ini juga menghambat maturasi tulang dengan berbagai faktor yaitu menghambat somatomedin oleh hormon pertumbuhan dan hambatan aktivitas osteoblas di tulang. Obat ini juga dapat menyebabkan terjadinya penurunan limfosit, monosit dan eosinofil pada darah. Oleh sebab itu, anak dengan gizi buruk sebaiknay memperhatikan hal ini berkaitan dengan hambatan pertumbuhan dan fungsi imun yang menurun. (Farmakologi dan Terapi Edisi 5, Departemen Farmakologi dan Terapeutik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2007)
11.

Sebutkan nilai normal analisa gas darah

Analisa gas darah adalah suatu pemeriksaan daya serap / interaksi darah dengan gas yang dihirup lewat pernafasan. sampel darah diambil langsung dari arteri.

PEMERIKSAAN

NORMAL

PH

7,34 -7,44
PCO2

35 45
PO2

89 116
HCO3

22 26
TCO2

22 29
BASSE EXCESS

- 2 ( +3 )
SATURASI O2

95 -98

(http://staff.ui.ac.id/internal/132051049/material/AGD.pdf) 12. Jelaskan mengenai asidosis metabolik dan respiratorik metabolik, respiratorik, alkalosis

a. Asidosis Respiratorik (pH turun pCO2 naik) Asidosis Respiratorik adalah keasaman darah yang berlebihan karena penumpukan karbondioksida dalam darah sebagai akibat dari fungsi paru-paru yang buruk atau pernafasan yang lambat. Kecepatan dan kedalaman pernafasan mengendalikan jumlah karbondioksida dalam darah. Dalam keadaan normal, jika terkumpul karbondioksida, pH darah akan turun dan darah menjadi asam. Tingginya kadar karbondioksida dalam darah merangsang otak yang mengatur pernafasan, sehingga pernafasan menjadi lebih cepat dan lebih dalam. Penyebab : Asidosis respiratorik terjadi jika paru-paru tidak dapat mengeluarkan karbondioksida secara adekuat. Hal ini dapat terjadi pada penyakit-penyakit berat yang mempengaruhi paru-paru, seperti:

- Emfisema - Pneumonia berat - Edema pulmo. Asidosis respiratorik dapat juga terjadi bila penyakit-penyakit dari saraf atau otot dada menyebabkan gangguan terhadap mekanisme pernafasan. Selain itu, seseorang dapat mengalami asidosis respiratorik akibat narkotika dan obat tidur yang kuat, yang menekan pernafasan. b. Asidosis Metabolik (pH turun HCO3 turun) Asidosis metabolik adalah keasaman darah yang berlebihan, yang ditandai dengan rendahnya kadar bikarbonatdalam darah. Bila peningkatan keasaman melampaui sistem penyangga pH, darah akan benar-benar menjadi asam. Seiring dengan menurunnya pH darah, pernafasan menjadi lebih dalam dan lebih cepat sebagai usaha tubuh untuk menurunkan kelebihan asam dalam darah dengan cara menurunkan jumlah karbon dioksida. Pada akhirnya, ginjal juga berusaha mengkompensasi keadaan tersebut dengan cara mengeluarkan lebih banyak asam dalam air kemih. Tetapi kedua mekanisme tersebut bisa terlampaui jika tubuh terus menerus menghasilkan terlalu banyak asam, sehingga terjadi asidosis berat dan berakhir dengan keadaan koma. Penyebab : Penyebab asidosis metabolik dapat dikelompokkan kedalam 3 kelompok utama:
1. Jumlah asam dalam tubuh dapat meningkat jika mengkonsumsi suatu asam

atau suatu bahan yang diubah menjadi asam. Sebagian besar bahan yang menyebabkan asidosis bila dimakan dianggap beracun.. Contohnya adalah metanol (alkohol kayu) dan zat anti beku (etilen glikol).

Overdosis aspirin pun dapat menyebabkan asidosis metabolik.


2. Tubuh dapat menghasilkan asam yang lebih banyak melalui metabolisme.

Tubuh dapat menghasilkan asam yang berlebihan sebagai suatu akibat dari beberapa penyakit; salah satu diantaranya adalah diabetes melitus tipe I. Jika diabetes tidak terkendali dengan baik, tubuh akan memecah lemak dan menghasilkan asam yang disebut keton. Asam yang berlebihan juga

ditemukan pada syok stadium lanjut, dimana asam laktat dibentuk dari metabolisme gula. 3. Asidosis metabolik bisa terjadi jika ginjal tidak mampu untuk membuang asam dalam jumlah yang semestinya. Bahkan jumlah asam yang normalpun bisa menyebabkan asidosis jika ginjal tidak berfungsi secara normal. Kelainan fungsi ginjal ini dikenal sebagai asidosis tubulus renalis, yang bisa terjadi pada penderita gagal ginjal atau penderita kelainan yang mempengaruhi kemampuan ginjal untuk membuang asam. c. Alkalosis Respiratorik (PH naik PCO2 turun) Alkalosis Respiratorik adalah suatu keadaan dimana darah menjadi basa karena pernafasan yang cepat dan dalam menyebabkan kadar karbondioksida dalam darah menjadi rendah. Penyebab : Pernafasan yang cepat dan dalam disebut hiperventilasi, yang menyebabkan terlalu banyaknya jumlah karbondioksida yang dikeluarkan dari aliran darah. Penyebab hiperventilasi yang paling sering ditemukan adalah kecemasan. Penyebab lain dari alkalosis respiratorik adalah -rasa nyeri - sirosis hati - kadar oksigen darah yang rendah - demam - overdosis aspirin. Pengobatan : Biasanya satu-satunya pengobatan yang dibutuhkan adalah memperlambat pernafasan. Jika penyebabnya adalah kecemasan, memperlambat pernafasan bisa meredakan penyakit ini. Jika penyebabnya adalah rasa nyeri, diberikan obat pereda nyeri. Menghembuskan nafas dalam kantung kertas (bukan kantung plastik) bisa

membantu meningkatkan kadar karbondioksida setelah penderita menghirup kembali karbondioksida yang dihembuskannya. Pilihan lainnya adalah mengajarkan penderita untuk menahan nafasnya selama mungkin, kemudian menarik nafas dangkal dan menahan kembali nafasnya selama mungkin. Hal ini dilakukan berulang dalam satu rangkaian sebanyak 6-10 kali. Jika kadar karbondioksida meningkat, gejala hiperventilasi akan membaik, sehingga mengurangi kecemasan penderita dan menghentikan serangan alkalosis respiratorik
d. Alkalosis Metabolik (pH naik HCO3 naik)

Alkalosis Metabolik adalah suatu keadaan dimana darah dalam keadaan basa karena tingginya kadar bikarbonat. Penyebab : Alkalosis metabolik terjadi jika tubuh kehilangan terlalu banyak asam. Sebagai contoh adalah kehilangan sejumlah asam lambung selama periode muntah yang berkepanjangan atau bila asam lambung disedot dengan selang lambung (seperti yang kadang-kadang dilakukan di rumah sakit, terutama setelah pembedahan perut). Pada kasus yang jarang, alkalosis metabolik terjadi pada seseorang yang mengkonsumsi terlalu banyak basa dari bahan-bahan seperti soda bikarbonat. Selain itu, alkalosis metabolik dapat terjadi bila kehilangan natrium atau kalium dalam jumlah yang banyak mempengaruhi kemampuan ginjal dalam mengendalikan keseimbangan asam basa darah. Penyebab utama akalosis metabolik: 1. Penggunaan diuretik (tiazid, furosemid, asam etakrinat) 2. Kehilangan asam karena muntah atau pengosongan lambung 3. Kelenjar adrenal yang terlalu aktif (sindroma Cushing atau akibat penggunaan kortikosteroid). (http://lyrawati.files.wordpress.com/2008/07/gangguan-keseimbangan-asam-danbasa1.pdf) (http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/731/1/08E00129.pdf) 13. Sebutkan isi, lokasi, kontraindikasi dan cara pemberian vaksin BCG

Isi Vaksin BCG berisi bakteri hidup yang dilemahkan berasal dari strain Mycobacterium bovis Kontraindikasi Karena berisi bakteri hidup, pemberian vaksin ini tidak dapat dilakukan pada pasien yang memiliki ganggun imunitas tubuh atau pada pasien yang sedang mwngkonsumsi obat-obatan imunosupresan. Dosis Umur 1 tahun Umur > 1 tahun : 0,05 cc : 0,1 cc

Lokasi penyuntikan BCG Vaksin BCG diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas pada insersio M.deltoideus sesuai anjuran WHO, tidak ditempat lain (misalnya bokong, paha). Untuk mendapatkan lokasi deltoid yang baik membuka lengan atas dari pundak ke siku. Lokasi yang paling baik adalah pada tengah otot, yaitu separuh antara akromion dan insersi pada tengah humerus. Bila bagian bawah deltoid yang disuntik, ada risiko trauma saraf radialis karena saraf tersebut melingkar dan muncul dari otot trisep. Posisi yang salah akan menghasilkan suntikan subkutan yang tidak benar dan meningkatkan resiko penetrasi saraf.

Cara penyuntikan BCG Posisi seorang anak yang paling nyaman untuk suntikan di daerah deltoid ialah duduk di atas pangkuan ibu atau pengasuhnya. Lengan yang akan disuntik dipegang dan menempel pada tubuh bayi, sementara lengan lainnya diletakkan di belakang tubuh orang tua atau pengasuh. Lokasi deltoid yang benar merupakan hal yang penting supaya vaksinasi berlangsung aman dan berhasil. Jarum suntik ditusukkan membuat sudut 450 -600 mengarah pada akromion.

(Rahajoe, N.N. et al. Tuberkulosis (Vaksin BCG) dalam Buku Imunisasi di Indonesia. Edisi kedua. Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta, 2005.)
14.

Sebutkan cara penyuntikan,indikasi,kontraindikasi dari semua

imunisasi dasar 1. BCG ( Bacillus Calmette Guerin ) Indikasi : Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap TBC (Tuberculosa). Cara Pemberian dan Dosis : Sebelum disuntikkan vaksin BCG harus dilarutkan dengan 4 ml pelarut NaCl 0,9%. Melarutkan dengan menggunakan alat suntik steril dengan jarum panjang. Dosis pemberian 0,05 ml, sebanyak 1 kali, untuk bayi. Kontra indikasi : Adanya penyakit kulit yang berat / menahun seperti : eksim, furunkulosis dan sebagainya. Mereka yang sedang menderita TBC. Efek samping : Imunisasi BCG tidak menyebabkan reaksi yang bersifat umum seperti demam. 1-2 minggu kemudian akan timbul indurasi dan kemerahan di tempat suntikkan yang berubah menjadi pustule, kemudian pecah menjadi luka. Luka tidak perlu pengobatan, akan sembuh secara spontan dan meninggalkan tanda parut. Kadang-kadang terjadi pembesaran kelenjar regional di ketiak dan / atau leher, terasa padat, tidak sakit dan tidak menimbulkan demam. Reaksi ini normal, tidak memerlukan pengobatan dan akan menghilang dengan sendirinya. 2. DPT Hepatitis B Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit difteri, tetanus, pertusis dan hepatitis B. Cara pemberian dan dosis : Pemberian dengan cara intra muskuler 0,5 ml sebanyak 3 dosis. Dosis pertama pada usia 2 bulan, dosis selanjutnya dengan interval minimal 4 minggu (1 bulan). Dalam pelayanan di unit statis, vaksin yang sudah dibuka

dapat dipergunakan paling lama 4 minggu dengan penyimpanan sesuai ketentuan :


vaksin belum kadaluarsa vaksin disimpan dalam suhu 2 derajat Celcius sampai dengan 8 derajat Celcius tidak pernah terendam air sterilitasnya terjaga VVM (Vaksin Vial Monitor) masih dalam kondisi A atau B Efek samping Reaksi lokal seperti rasa sakit, kemerahan dan pembengkakan di sekitar tempat penyuntikan. Reaksi yang terjadi bersifat ringan dan biasanya hilang setelah 2 hari. 3. Polio Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap Poliomyelitis. Cara pemberian dan dosis Diberilan secara oral, 1 dosis adalah 2 (dua) tetes sebanyak 4 kali (dosis) pemberian, dengan interval setiap dosis minimal 4 minggu. Di unit pelayanan statis, vaksin polio yang telah dibuka hanya boleh digunakan selama 2 minggu dengan ketentuan :

vaksin belum kadaluarsa vaksin disimpan dalam suhu 2 derajat Celcius sampai dengan 8 derajat Celcius tidak pernah terendam air sterilitasnya terjaga VVM (Vaksin Vial Monitor) masih dalam kondisi A atau B

Sedangkan di posyandu vaksin yang sudah terbuka tidak boleh digunakan lagi untuk hari berikutnya. Efek samping Pada umumnya tidak terdapat efek samping.

Kontraindikasi Pada individu yang menderita immune deficiency. Tidak ada efek yang berbahaya yang timbul akibat pemberian OPV pada anak yang sedang sakit. Namun jika ada keraguan, misalnya sedang menderita diare, maka dosis ulangan dapat diberikan setelah sembuh. 4. Imunisasi Hepatitis B Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap infeksi yang disebabkan oleh virus Hepatitis B. Tidak dapat mencegah infeksi virus lain seperti virus Hepatitis A atau C atau yang diketahui dapat menginfeksi hati. Cara pemberian dan dosis Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1(buah) HB. Vaksin disuntikkan dengan dosis 0,5 ml atau 1(buah) HB ADS PID, pemberian suntikkan secara intra muskuler, sebaiknya pada anterolateral paha. Pemberian sebanyak 3 dosis. Dosis pertama diberikan pada usia 0-7 hari, dosis berikutnya dengan interval minimum 4 minggu (1 bulan). 5. Campak Indikasi Untuk pemberian kekebalan aktif terhadap penyakit Campak. Cara pemberian dan dosis Dosis pemberian 0,5 ml disuntikkan secara subkutan pada lengan atas, pada usia 9-11 bulan. Dan ulangan (booster) pada usia 6-7 tahun (kelas 1 SD) setelah cath-up campaign Campak pada anak Sekolah Dasar kelas 1-6. Vaksin campak yang sudah dilarutkan hanya boleh digunakan maksimum 6 jam. Efek samping Hingga 15% pasien dapat mengalami demam ringan dan kemerahan selama 3 hari yang dapat terjadi 8-12 hari setelah vaksinasi. Kontraindikasi Individu yang mengidap penyakit immuno deficiency atau individu yang diduga menderita gangguan respon imun karena leukemia, lymphoma.

15.

Kenapa pemberian imunisasi campak dilakukan pada anak

usia 9 bulan ? Anjuran pemerintah program imunisasi dasar dan WHO. Menurut WHO (1973) imunisasi campak cukup dilakukan dengan 1 kali suntikan setelah bayi berumur 9 bulan. Lebih baik lagi setelah ia berumur lebih dari 1 tahun. Karena kekebalan yang diperoleh berlangsung seumur hidup, maka tidak diperlukan revaksinasi lagi. Pada umumnya vaksinasi pada bayi berumur kurang dari 9 bulan tidak dapat menghasilkan kekebalan yang baik, karena terganggu oleh antibodi yang dibawa sejak lahir dari ibunya. (Garnadi, Yudi. Imunisasi. Edisi 1. MediaDIKA. 2000)

16.

Jelaskan mengenai terapi oksigen

Teknik Pemberian Oksigen Cara pemberian oksigen dibagi dua jenis, yaitu sistem arus rendah dan sistem arus tinggi, keduanya masing-masing mempunyai keuntungan dan kerugian. Alat oksigen arus rendah diantaranya kanul nasal, topeng oksigen, reservoir mask,kateter transtrakheal, dan simple mask. Alat oksigen arus tinggi diantaranya venturi mask, dan reservoir nebulizer blenders. 1. Alat pemberian oksigen dengan arus rendah Kateter nasal dan kanul nasal merupakan alat dengan sistem arus rendah yang digunakan secara luas. Kanul nasal terdiri dari sepasang tube dengan

panjang 2 cm, dipasangkan pada lubang hidung pasien dan tube dihubungkan secara langsung keoxygen flow meter. Alat ini dapat menjadi alternatif bila tidak terdapat masker, terutama suplemen rendah bagi oksigen pasien rendah. yang Kanul ke

membutuhkan nasal arus

mengalirkan

oksigen

nasofaring dengan aliran 1-6 24-40%. Aliran yang lebih

L/m, dengan FiO2 antara tinggi tidak

Gambar 1. Kanul nasal Meningkatkan FiO2 secara bermakna diatas 44% dan akan menyebabkan mukosa membran menjadi kering. Kanul nasal merupakan pilihan bagi pasien yang mendapatkan terapi oksigen jangka panjang.

Simple oxygen mask dapat menyediakan 40-60% FiO 2, dengan aliran 5-10L/m. aliran dapat dipertahankan 5L/m atau lebih dengan tujuan mencegah CO2 yang telah dikeluarkan dan tertahan di masker terhirup kembali. Penggunaan alat ini dalam jangka panjang dapat

menyebabkan iritasi kulit dan pressure sores.

Gambar mask

2. Simple

oxygen

Partial rebreathing mask merupakan simple mask yang disertai dengan kantung reservoir. Aliran oksigen harus selalu tersuplai untuk mempertahankan kantung reservoir minimal sepertiga sampai setengah penuh pada inspirasi. Sistem ini mengalirkan oksigen 6-10L/m dan dapat menyediakan 40-70% oksigen. Sedangkan non-rebreathing mask hampir sama dengan parsial rebreathing mask kecuali alat ini memiliki serangkai katup one-way. Satu katup diletakkan diantara kantung dan masker untuk mencegah udara ekspirasi kembali kedalam kantung. Untuk itu perlu aliran minimal 10L/m. Sistem ini mengalirkan FiO2 sebesar 60-80%.

Gambar 3. Partial rebreathing mask

Gambar 4. Non-rebreathing mask Transtracheal oxygen. Mengalirkan oksigen secara langsung melalui kateter ke dalam trakea. Oksigen transtrakea dapat meningkatkan kesetiaan pasien menggunakan oksigen secara kontinyu selama 24 jam, dan sering berhasil bagi pasien hipoksemia yang refrakter. Dari hasil studi, dengan oksigen transtrakea ini

dapat menghemat penggunaan oksigen 30-60%. Keuntungan dari pemberian oksigen transtrakea yaitu tidak menyolok mata, tidak ada bunyi gaduh, dan tidak ada iritasi muka/hidung. Rata-rata oksigen yang diterima mencapai 80-96%. Kerugian dari penggunaan oksigen transtrakea adalah biaya tinggi dan resiko infeksi lokal. Komplikasi yang biasa terjadi pada pemberian oksigen transtrakea ini adalah emfisema subkutan, bronkospasme, dan batuk paroksismal. Komplikasi lain diantaranya infeksi stoma, dan mucus ball yang dapat mengakibatkan fatal.

Gambar 5. Transtrakheal oksigen 2. Alat pemberian oksigen dengan arus tinggi Alat oksigen arus tinggi diantaranya venture mask dan reservoir nebulizer blenders. Alat venturi mask menggunakan prinsip jet mixing (efek Bernoulli). Jet mixing mask,mask dengan arus tinggi, bermanfaat untuk mengirimkan secara akurat konsentrasi oksigen rendah (24-35%). Pada pasien dengan PPOK dan gagal nafas

tipe II, bernafas dengan mask ini mengurangi resiko retensi CO2, dan memperbaiki hipoksemia. Alat tersebut terasa lebih nyaman dipakai, dan masalah rebreathing diatasi melalui proses pendorongan dengan arus tinggi tersebut. Sistem arus tinggi ini dapat mengirimkan sampai 40L/menit oksigen melalui mask, yang umumnya cukup untuk total kebutuhan respirasi. Dua indikasi klinis untuk penggunaan oksigen dengan arus tinggi adalah pasien dengan hipoksia yang memerlukan pengendalian FiO2, dan pasien hipoksia dengan ventilasi abnormal.

Gambar 6. Venturi mask

17.

Perbedaan komposisi ASI dan susu formula

ASI (Air Susu Ibu) Komposisi ASI mengandung air sebanyak 87.5%, oleh karena itu bayi yang mendapat cukup ASI tidak perlu lagi mendapat tambahan air walaupun berada di tempat yang mempunyai suhu udara panas. Kekentalan ASI sesuai dengan saluran cerna bayi, sedangkan susu formula lebih kental dibandingkan ASI. Hal tersebut yang dapat menyebabkan terjadinya diare pada bayi yang mendapat susu formula.

Karbohidrat Laktosa adalah karbohidrat utama dalam ASI dan berfungsi sebagai salah satu sumber energi untuk otak. Kadar laktosa yang terdapat dalam ASI hampir 2 kali lipat dibanding laktosa yang ditemukan pada susu sapi atau susu formula. Namun demikian angka kejadian diare yang disebabkan karena tidak dapat mencerna laktosa (intoleransi laktosa) jarang ditemukan pada bayi yang mendapat ASI. Hal ini disebabkan karena penyerapan laktosa ASI lebih baik dibanding laktosa susu sapi atau susu formula. Kadar karbohidrat dalam kolostrum tidak terlalu tinggi, tetapi jumlahnya meningkat terutama laktosa pada ASI transisi (7-14 hari setelah melahirkan). Sesudah melewati masa ini maka kadar karbohidrat ASI relatif stabil.

Protein

Kandungan protein ASI cukup tinggi dan komposisinya berbeda dengan protein yang terdapat dalam susu sapi. Protein dalam ASI dan susu sapi terdiri dari protein whey dan Casein. Protein dalam ASI lebih banyak terdiri dari protein whey yang lebih mudah diserap oleh usus bayi, sedangkan susu sapi lebih banyak mengandung protein Casein yang lebih sulit dicerna oleh usus bayi. Jumlah protein Casein yang terdapat dalam ASI hanya 30% dibanding susu sapi yang mengandung protein ini dalam jumlah tinggi (80%). Disamping itu, beta laktoglobulin yaitu fraksi dari protein whey yang banyak terdapat di protein susu sapi tidak terdapat dalam ASI. Beta laktoglobulin ini merupakan jenis protein yang potensial menyebabkan alergi. Kualitas protein ASI juga lebih baik dibanding susu sapi yang terlihat dari profil asam amino (unit yang membentuk protein). ASI mempunyai jenis asam amino yang lebih lengkap dibandingkan susu sapi. Salah satu contohnya adalah asam amino taurin; asam amino ini hanya ditemukan dalam jumlah sedikit di dalam susu sapi. Taurin diperkirakan mempunyai peran pada perkembangan otak karena asam amino ini ditemukan dalam jumlah cukup tinggi pada jaringan otak yang sedang berkembang. Taurin ini sangat dibutuhkan oleh bayi prematur, karena kemampuan bayi prematur untuk membentuk protein ini sangat rendah. ASI juga kaya akan nukleotida (kelompok berbagai jenis senyawa organik yang tersusun dari 3 jenis yaitu basa nitrogen, karbohidrat, dan fosfat) dibanding dengan susu sapi yang mempunyai zat gizi ini dalam jumlah sedikit. Disamping itu kualitas nukleotida ASI juga lebih baik dibanding susu sapi. Nukleotida ini mempunyai peran dalam meningkatkan pertumbuhan dan kematangan usus,

merangsang pertumbuhan bakteri baik dalam usus dan meningkatkan penyerapan besi dan daya tahan tubuh. Lemak Kadar lemak dalam ASI lebih tinggi dibanding dengan susu sapi dan susu formula. Kadar lemak yang tinggi ini dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan otak yang cepat selama masa bayi. Terdapat beberapa perbedaan antara profil lemak yang ditemukan dalam ASI dan susu sapi atau susu formula. Lemak omega 3 dan omega 6 yang berperan pada perkembangan otak bayi banyak ditemukan dalam ASI. Disamping itu ASI juga mengandung banyak asam lemak rantai panjang diantaranya asam dokosaheksanoik (DHA) dan asam arakidonat (ARA) yang berperan terhadap perkembangan jaringan saraf dan retina mata. Susu sapi tidak mengandung kedua komponen ini, oleh karena itu hampir terhadap semua susu formula ditambahkan DHA dan ARA ini. Tetapi perlu diingat bahwa sumber DHA & ARA yang ditambahkan ke dalam susu formula tentunya tidak sebaik yang terdapat dalam ASI. Jumlah lemak total di dalam kolostrum lebih sedikit dibandingkan ASI matang, tetapi mempunyai persentasi asam lemak rantai panjang yang tinggi. ASI mengandung asam lemak jenuh dan tak jenuh yang seimbang dibanding susu sapi yang lebih banyak mengandung asam lemak jenuh. Seperti kita ketahui konsumsi asam lemah jenuh dalam jumlah banyak dan lama tidak baik untuk kesehatan jantung dan pembuluh darah. Karnitin

Karnitin ini mempunyai peran membantu proses pembentukan energi yang diperlukan untuk mempertahankan metabolisme tubuh. ASI mengandung kadar karnitin yang tinggi terutama pada 3 minggu pertama menyusui, bahkan di dalam kolostrum kadar karnitin ini lebih tinggi lagi. Konsentrasi karnitin bayi yang mendapat ASI lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapat susu formula.

Vitamin K Vitamin K dibutuhkan sebagai salah satu zat gizi yang berfungsi sebagai faktor pembekuan. Kadar vitamin K ASI hanya seperempatnya kadar dalam susu formula. Bayi yang hanya mendapat ASI berisiko untuk terjadi perdarahan, walapun angka kejadian perdarahan ini kecil. Oleh karena itu pada bayi baru lahir perlu diberikan vitamin K yang umumnya dalam bentuk suntikan.

Vitamin D Seperti halnya vitamin K, ASI hanya mengandung sedikit vitamin D. Hal ini tidak perlu dikuatirkan karena dengan menjemur bayi pada pagi hari maka bayi akan mendapat tambahan vitamin D yang berasal dari sinar matahari. Sehingga pemberian ASI eksklusif ditambah dengan membiarkan bayi terpapar pada sinar matahari pagi akan mencegah bayi menderita penyakit tulang karena kekurangan vitamin Vitamin E Salah satu fungsi penting vitamin E adalah untuk ketahanan dinding sel darah merah. Kekurangan vitamin E dapat menyebabkan terjadinya kekurangan darah D.

(anemia hemolitik). Keuntungan ASI adalah kandungan vitamin E nya tinggi terutama Vitamin A Selain berfungsi untuk kesehatan mata, vitamin A juga berfungsi untuk mendukung pembelahan sel, kekebalan tubuh, dan pertumbuhan. ASI pada kolostrum dan ASI transisi awal.

mengandung dalam jumlah tinggi tidak saja vitamin A dan tetapi juga bahan bakunya yaitu beta karoten. Hal ini salah satu yang menerangkan mengapa bayi yang mendapat ASI mempunyai tumbuh kembang dan daya tahan tubuh yang baik. Vitamin yang larut dalam air Hampir semua vitamin yang larut dalam air seperti vitamin B, asam folat, vitamin C terdapat dalam ASI. Makanan yang dikonsumsi ibu berpengaruh terhadap kadar vitamin ini dalam ASI. Kadar vitamin B1 dan B2 cukup tinggi dalam ASI tetapi kadar vitamin B6, B12 dan asam folat mungkin rendah pada ibu dengan gizi kurang. Karena vitamin B6 dibutuhkan pada tahap awal perkembangan sistim syaraf maka pada ibu yang menyusui perlu ditambahkan vitamin ini. Sedangkan untuk vitamin B12 cukup di dapat dari makanan sehari-hari, kecuali ibu menyusui yang vegetarian. Mineral Tidak seperti vitamin, kadar mineral dalam ASI tidak begitu dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsi ibu dan tidak pula dipengaruhi oleh status gizi ibu. Mineral di dalam ASI mempunyai kualitas yang lebih baik dan lebih mudah

diserap dibandingkan dengan mineral yang terdapat di dalam susu sapi. Mineral utama yang terdapat di dalam ASI adalah kalsium yang mempunyai fungsi untuk pertumbuhan jaringan otot dan rangka, transmisi jaringan saraf dan pembekuan darah. Walaupun kadar kalsium ASI lebih rendah dari susu sapi, tapi tingkat penyerapannya lebih besar. Penyerapan kalsium ini dipengaruhi oleh kadar fosfor, magnesium, vitamin D dan lemak. Perbedaan kadar mineral dan jenis lemak diatas yang menyebabkan perbedaan tingkat penyerapan. Kekurangan kadar kalsium darah dan kejang otot lebih banyak ditemukan pada bayi yang mendapat susu formula dibandingkan bayi yang mendapat ASI. Kandungan zat besi baik di dalam ASI maupun susu formula keduanya rendah serta bervariasi. Namun bayi yang mendapat ASI mempunyai risiko yang lebih kecil utnuk mengalami kekurangan zat besi dibanding dengan bayi yang mendapat susu formula. Hal ini disebabkan karena zat besi yang berasal dari ASI lebih mudah diserap, yaitu 20-50% dibandingkan hanya 4 -7% pada susu formula. Keadaan ini tidak perlu dikuatirkan karena dengan pemberian makanan padat yang mengandung zat besi mulai usia 6 bulan masalah kekurangan zat besi ini dapat diatasi. Mineral zinc dibutuhkan oleh tubuh karena merupakan mineral yang banyak membantu berbagai proses metabolisme di dalam tubuh. Salah satu penyakit yang disebabkan oleh kekurangan mineral ini adalah acrodermatitis enterophatica dengan gejala kemerahan di kulit, diare kronis, gelisah dan gagal tumbuh. Kadar zincASI menurun cepat dalam waktu 3 bulan menyusui. Seperti halnya zat besi kandungan mineral zink ASI juga lebih rendah dari susu formula, tetapi tingkat

penyerapan lebih baik. Penyerapan zinc terdapat di dalam ASI, susu sapi dan susu formula berturut-turut 60%, 43-50% dan 27-32%. Mineral yang juga tinggi kadarnya dalam ASI dibandingkan susu formula adalah selenium, yang sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan cepat.

Susu formula Susu formula untuk bayi di bawah 6 bulan secara umum digolongkan menjadi dua: 1. Formula adaptasi Susu formula jenis ini mempunyai kandungan sebagai berikut: * Lemak Disarankan mempunyai kadar lemak antara 2,7-41 g setiap 100 ml atau setara 8,5%. Dari jumlah ini, 3-6% kandungan energinya harus terdiri dari asam linoleik. * Protein Kadarnya harus berkisar antara 1,2 sampai 1,9 g/100 ml, dengan rasio lakalbumin/kasein kurang lebih 60/40. Karena itu komposisi asam aminonya harus identik dengan protein yang terdapat dalam ASI. Alasannya, hanya protein itulah yang bisa dimanfaatkan bayi. * Karbohidrat Disarankan kandunganya antara 5,4 sampai 8,2 g bagi tiap 100 ml. Karbohidratnya dianjurkan terdiri atas laktosa dan selebihnya glukosa atau dekstrin-maltosa. Dalam hal ini tidak dibenarkan menggunakan sumber karbohidrat dari tepung, madu, atau susu yang diasamkan.

* Mineral Sebagian besar mineral dalam susu sapi adalah natrium, kalium, kalsium, fosfor, magnesium dan klorida. Karena itu komposisinya harus diturunkan sekitar 0,25 sampai 0,34 g tiap 100 ml. Ini dimaksudkan untuk menghindari gangguan keseimbangan air dan dehidrasi hipertonik, selain timbulnya gangguan hipertensi di kemudian hari. * Vitamin Harus ditambahkan pada pembuatan susu formula. * Energi Harus disesuaikan dengan ASI yang jumlahnya sekitar 72 Kkal. 2. Formula awal lengkap Sesuai namanya, susu ini memiliki susunan gizi yang lengkap untuk bayi baru lahir. Sekalipun demikian, susu ini sedikit berbeda dari formula adaptasi. Susu formula ini mempunyai kadar protein tinggi karena rasio proteinnya tidak disesuaikan dengan rasio protein yang terkandung dalam ASI. Begitu juga dengan mineral yang lebih tinggi dari susu formula adaptasi. Keuntungan susu formula jenis ini adalah harganya yang jauh lebih murah daripada susu formula adaptasi. Susu formula untuk bayi 6 bulan ke atas mengandung protein yang lebih tinggi dari susu adaptasi maupun susu awal lengkap. Rasio proteinnya pun tidak mengikuti rasio yang terdapat dalam ASI. Sedangkan kadar beberapa mineral, karbohidrat, lemak dan energinya lebih tinggi. Ini dimaksudkan untuk mengimbangi kebutuhan anak yang sudah semakin aktif dan sedemikian cepat tumbuh kembangnya.

Perbedaan paling nyata dalam kebutuhan zat gizi bayi 6 bulan ke bawah dan 6 bulan ke atas adalah kalorinya. Kalori yang dibutuhkan bayi usia 6 bulan ke bawah per hari hanya sebesar 560 kkl atau lebih, sedangkan bayi usia 6 bulan ke atas adalah 800 kkl per hari atau lebih. * Kandungan Zat Tambahan Kemajuan teknologi memungkinkan susu formula yang sudah ada ditingkatkan kualitasnya, yakni dengan diformulasikan sedemikian rupa sehingga makin mirip dengan ASI. Salah satunya adalah penambahan DHA. Penambahan ini dibolehkan karena zat tambahan tersebut merupakan zat-zat mikro. Hanya saja penambahannya pun harus mengikuti standar yang berlaku. Yang tak kalah penting, orang tua harus segera memastikan cocok atau tidaknya si bayi mendapat susu tersebut. Bila ternyata tidak cocok, ya jangan dipaksakan. Asal tahu saja, DHA yang berasal dari ikan berpotensi menyebabkan alergi. Belakangan beberapa produsen susu menggunakan DHA/AA yang bersumber dari bahan nonikan.

18. Pembagian diare menurut MTBS Menurut pedoman MTBS (2000), diare dapat dikelompokkan menjadi : Diare akut : terbagi atas diare dengan dehidrasi berat, diare dengan dehidrasi sedang, diare dengan dehidrasi ringan

Diare persiten : jika diare berlangsung 14 hari/ lebih. Terbagi atas diare persiten dengan dehidrasi dan persiten tanpa dehidrasi Disentri : jika diare berlangsung disertai dengan darah

Pedoman MTBS tentang klasifikasi diare Tanda dan gejala yang tampak Klasifikasi

Terdapat 2 atau lebih tanda dan gejala berikut : - Letargi/ tdk sadar - Mata cekung - Tdk bisa minum/malas minum - Cubitan kulit perut kembalinya sangat lambat Terdapat 2 atau lebih tanda dan gejala berikut : - Gelisah, rewel atau mudah marah - Mata cekung - Haus, minum dengan lahap - Cubitan kulit perut kembalinya lambat Tdk cukup tanda2 untuk diklasifikasikan sebagai dehidrasi berat atau ringan/ sedang Diare selama 14 hari atau lebih disertai dengan dehidrasi Diare selama 14 hari atau lebih tanpa disertai dengan dehidrasi Terdapat darah dalam tinja (berak campur darah)

diare dengan dehidrasi berat

dehidrasi dengan dehidrasi ringan/ sedang

diare tanpa dehidrasi diare persiten berat diare persiten disentri

(http://melatikalimantan.blogspot.com/2011/08/askep-diare.html) 19. 1 takar susu formula untuk berapa cc ? 1 sendok takar susu formula biasanya untuk 30 cc air (http://www.dunia-bayi.com/menyiapkan-susu-formula/) 20. Jelaskan patomekanisme diare 21. Jelaskan pemeriksaan clinitest

PEMERIKSAAN CLINITEST

Clinitest adalah suatu pemeriksaan dengan menggunakan tablet clinitest yang digunakan untuk mendeteksi adanya zat-zat dalam feses yang mereduksi tembaga yang terdapat dalam tablet clinitest tersebut. Zat-zat tersebut adalah monosakarida seperti glukosa, laktosa, fruktosa, galaktosa, dan pentosa. Clinitest ini dapat digunakan untuk membedakan diare yang disebabkan oleh karena ekskresi abnormal gula (monosakarida) dan diare yang disebabkan oleh karena kuman.

Prinsip Clinitest Gula (monosakarida) akan mereduksi tembaga. Warna larutan yang dihasilkan dibandingkan dengan warna baku pada color chart.

Bahan Pemeriksaan Feses (feses padat dan cairannya dicampur terlebih dahulu sebelum diperiksa) Bahan pemeriksaan ini harus segera diperiksa dalam waktu 1 jam atau dapat disimpan dalam lemari es paling lama 4 jam.

Alat : Sentrifus Aquadest Pipet Tabung reaksi Color chart Faeces container

Penangas air Rak tabung reaksi Tang penjepit Reagen Tablet clinitest. Teknik Pemeriksaan 1. Periksa apakah ada glukosa dalam urin dengan urine dipstick. Jika terdapat glukosuria, maka hal ini dapat menyebabkan hasil false positive, jika feses yang akan diperiksa sudah bercampur dengan urin. 2. Encerkan feses dengan aquadest dengan perbandingan 1:2. 3. Jika masih terdapat feses padat, sentrifus selama 2-6 menit. 4. Ambil dengan pipet 15 tetes supernatant, masukkan ke dalam tabung reaksi yang bersih dan kering. 5. Masukkan tablet clinitest ke dalam tabung reaksi. 6. Panaskan dalam penangas air hingga mendidih. Selama pemanasan, larutan tersebut jangan diaduk. 7. Setelah mendidih, ambil tabung reaksi dari penangas air dengan tang penjepit dan tempatkan pada rak tabung reaksi. 8. Tunggu hingga sekitar 15 detik, kemudian kocok larutan perlahan-lahan. Perhatikan perubahan warnanya. 9. Warna yang terbentuk kemudian dibandingkan dengan warna pada color chart.

Kadar Normal Kadar monosakarida < %