Anda di halaman 1dari 15

Kuliah Pelaporan dan Akuntansi Keuangan PPAk Fakultas Ekonomi & Bisnis Universita Hasanuddin 29 Juni 2013

Pengertian
Menurut SFAC No 6 Paragraph 25, Aset

adalah manfaat ekonomik masa datang yang cukup pasti atau diperoleh atau dikuasai/dikendalikan oleh suatu entitas akibat transaksi atau kejadian masa lalu. Menurut IASC, Aset adalah suatu sumber daya yang dikendalikan oleh perusahaan sebagai hasil kejadian masa lau yang mana manfaat ekonomis masa depan diharapkan didapatkan oleh perusahaan.

Penggolongan
Aset / Aktiva diklasifikasikan menjadi 5

bagian, yaitu : 1. Aset Lancar 2. Aset Investasi 3. Aset tak Berwujud 4. Aset Tetap 5. Aset Lainnya

Pengakuan
Pada umumnya pengakuan aset dilakukan bersamaan dengan adanya transaksi, kejadian, atau keadaan tersebut. Disamping memenuhi definisi aset, kriteria keterukuran, keterpautan, dan keterandalan harus dipenuhi pula. Adapun kondisi perlu dan kondisi cukup yang merupakan penguji yang cukup rinci untuk mengakui aset : 1. Deteksi adanya aset. 2. Sumber ekonomik dan kewajiban. 3. Berkaitan dengan entitas. 4. Mengandung nilai 5. Berkaitan dengan waktu pelaporan

Pengukuran / Penilaian
Ketika suatu aset keuangan atau kewajiban keuangan diakui awalnya, suatu entitas harus diukur pada nilai wajarnya ditambah, dalam hal aset keuangan atau kewajiban keuangan tidak pada nilai wajar melalui laporan laba atau rugi, biaya transaksi yang langsung dapat diatribusikan dengan perolehn atau masalah dari aset keuangan atau kewajiban keuangan. penilain adalah penentuan jumlah rupiah yang harus dilekatkan pada suatu pos aset pada saat akan dilaporkan atau disajikan dalam statemen keuangan pada periode tertentu.

Lanjutan
Dasar Penilain FASB (SFAC No. 5,

Paragraf 67), dapat disarikan sebagai berikut : 1. Historical cost 2. Current (replacement) cost 3. Current market value 4. Net Realizable value 5. Present (or discounted) value of future cash flows

Penyajian
prinsip akuntansi berterima umum, terutama standar akuntansi menetapkan penyajian dan pengungkapan tiap pos-pos aset. Walaupun aset didefinisikan secara umum sebagai manfaat ekonomik di masa datang yang dikuasai kesatuan usaha dan yang benar-benar timbul dari transaksi yang sah, tiap pos aset didefinisi lebih lanjut atau spesikfik sesuai dengan sifat pos tersebut. Secara umum, prinsip akuntansi berterima umum memberi pedoman penyajian aset sebagai berikut

Pengungkapan
Menurut PSAK No. 13, Pengungkapan sebagai berikut:

1.
2. 3. 4.

5.
6.

Kebijakan Akuntansi Jumlah signifikan yang dilaporkan sebagai penghasilan investasi Nilai pasar dari investasi yang dapat dipasarkan jika tidak dicatat dalam nilai pasar Nilai wajar dari investasi properti jika dipertanggungjawabkan sebagai investasi jangka panjang dan tidaka dicatat pada nilai wajar Pembatasan signifikan pada kemampuan realisasi investasi atau pengiriman uang dari penghasilan dan hasil pelepasan Untuk investasi jangka panjang yang dinyatakan pada jumlah yang dinilai kembali.

Pengakuan Rugi Penurunan Nilai


Nilai terpulihkan aset < Nilai tercatat
nilai tecatat aset diturunkan menjadi sebesar nilai terpulihkan. Penurunan tersebut adalah rugi penurunan nilai
PSAK 48 Par 59-60-61

Rugi penurunan nilai diakui dalam laporan laba rugi, Kecuali aset disajikan pada jumlah direvaluasi sesuai dengan standar lain (Contoh PSAK 16)

Pengakuan Rugi Penurunan Nilai


Setiap rugi penurunan nilai aset revalusian

PSAK 16

diperlakukan sebagai penurunan revaluasi.


diakui dalam pendapatan

komprehensif lain, sepanjang kerugian penurunan nilai tidak melebihi jumlah surplus revaluasi untuk aset yang sama
rugi penurunan nilai atas aset revaluasian

mengurangi surplus revaluasi untuk aset tersebut

10

Ilustrasi Penurunan Nilai 1


Contoh: PT Anggrek melakukan uji penurunan nilai terhadap peralatan yang dimilikinya. Nilai tercatat dari peralatan sebesar Rp 200 juta, nilai wajar dikurangi biaya menjual Rp180 juta dan nilai pakainya 205 juta.
Rp 200 juta Rp 205 juta Dibandingkan

Nilai tercatat

Nilai diperoleh kembali


Lebih tinggi antara

Tidak ada penurunan nilai

Nilai wajar dikurangi b. penjualan Rp 180 juta

Nilai pakai

Rp 205 juta
11

Ilustrasi Penurunan Nilai 2


Contoh: PT Anggrek, (informasi sama) kecuali nilai pakai dari peralatan sebesar Rp 175 juta.
Rp20 juta Rugi Penurunan Nilai Rp 200 juta Rp 180 juta Dibandingkan

Nilai tercatat

Nilai diperoleh kembali


Lebih tinggi antara

Jurnal mencatat kerugian penurunan nilai:. Dr. Kerugian Penurunan Nilai Rp 20 juta Cr. Ak. Dep Peralatann Rp 20 juta

Nilai wajar dikurangi b. penjualan Rp 180 juta

Nilai pakai Rp 175 juta


12

Pengakuan Rugi Penurunan Nilai


Contoh

Perusahaan Melody melakukan review penurunan nilai aset pada 2010. Sebidang tanah dicatat pada nilai wajar dengan surplus revaluasi senilai Rp 50 juta, aset-aset lainnya dicatat pada nilai historis dikurangi akumulasi depresiasi atau amortisasi. Haril dari reviu sebagai berikut: Fair value less costs to sell Value in use Rp 212 juta Rp 220 juta Rp 8.2 juta Rp 6.5 juta Rp21 juta Rp 18 juta Carrying amount Rp 300 juta Rp 9 juta Rp 30 juta

Tanah (nilai wajar) Aset tak berwujud, pada biaya yang teramortisasi Mesin, setelah didepresiasikan

Tentukan berapa rugi penurunan nilai dan bagaimanakah jurnalnya?


13

Pengakuan Rugi Penurunan Nilai

Solusi Contoh

Berdasarkan informasi yang tersedia, aset Melodi yang mengalami kerugian penurunan nilai adalah:
Recoverable amount Rp 220 juta Rp 8.2 juta
Rp 21 juta

Tanah, pada nilai wajar Aset Tak Berwujud, pada biaya teramortisasi Mesin, setelah didepresiasikan

Carrying amount Impairment loss Rp 300 juta Rp 80 juta Rp 9 juta N/A


Rp 30 juta Rp 9 juta

Kerugian penurunan nilai dikurangkan terlebih dahulu ke surplus revaluasi. Dr Surplus revaluasi Rp 50 juta Rugi penurunan nilai (80 juta 50 juta) 30 juta Cr Tanah Rp 80 juta Untuk mengakui kerugian penurunan nilai tanah Dr Kerugian penurunan nilai Rp 9 juta Cr Mesin Untuk mengakui kerugian penurunan nilai mesin Rp 9 juta

14

Terima Kasih