Anda di halaman 1dari 18

Post Stroke Pada Lansia Dengan Hipertensi dan Obesitas Tanpa Pelaku Rawat

Pelayanan Kedokteran Keluarga *Nurvita Anggraeni *Dokter Muda Fakultas Kedokteran UPN Veteran Jakarta**

Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk membuktikan bahwa dengan pelayanan kedokteran keluarga yang holistik dan komprehensif dapat mengatasi permasalahan penyakit kronis tanpa pelaku rawat. Pasien adalah lansia yang merupakan ibu dari keenam anaknya yang semuanya telah berkeluarga. Masalah dalam keluarga ini adalah tidak adanya pelaku rawat yang menangani pasien, karena pasien adalah janda dan semua anak pasien telah berkeluarga. Pasien tinggal dalam keluarga extended (besar), dengan anak yang keenam beserta menantu dan cucunya, keluarga pasien kurang mengetahui tentang mengenai perilaku hidup sehat. Masalah pasien antara lain yaitu post stroke dengan hipertensi dan obesitas. Penatalaksanaan klinis yang dilakukan bersifat simptomatik dan asimptomatik. Simptomatik yaitu terapi medikamentosa untuk mengontrol hipertensinya dan terapi simptomatik yaitu dengan dilakukan edukasi mengenai stroke, faktor resiko peyebab stroke, dan pencegahan agar tidak terjadi stroke berulang. Diberikan pula penjelasan tentang asupan gizi pada lansia yang mengalami hipertensi dan obesitas. Keberhasilan tindakan dinilai dari data klinis dan indeks koping keluarga. Hasil studi menunjukkan perkembangan penyakit disebabkan kurangnya pengetahuan pasien mengenai perilaku hidup sehat, kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien dan kurangnya pengetahuan keluarga terhadap perilaku hidup sehat, serta pelayanan provider kesehatan yang kurang menyeluruh. Penerapan pelayanan kedokteran keluarga secara holistik, komprehensif, dan berkesinambungan yang memandang pasien sebagai bagian dari keluarga, telah dijalankan dan berhasil memperbaiki keadaan pasien, sehingga keluarga mulai memperhatikan pasien dalam mengatasi masalah kesehatan pasien yang juga akan mempengaruhi peningkatan taraf kesehatan pasien dan keluarganya. Pada akhir studi, masalah post stroke pada lansia dengan hipertensi dan obesitas berhubungan dengan pola makan yang harus dirubah menjadi pola makan sehat yang berpedoman pada aneka ragam makanan yang memenuhi gizi seimbang, sehingga masih perlu pembinaan dalam membentuk perilaku hidup bersih dan sehat. Kata kunci : post stroke, tanpa pelaku rawat, pelayanan kedokteran keluarga

Pendahuluan
Menurut definisi WHO (World Health Organization), stroke adalah suatu tanda klinis yang berkembang cepat akibat gangguan otak fokal (atau global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih dan dapat menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler. (World Health Organizatition, 2005) Stroke merupakan penyakit utama yang menyebabkan kematian di seluruh dunia dan penyebab utama ketiga kematian di Amerika Serikat, di belakang penyakit jantung dan semua kanker. Di Amerika Serikat, stroke menyebabkan kematian 90.000 wanita dan 60.000 pria setiap tahun. Selain menyebabkan kematian, stoke juga merupakan penyebab utama kecacatan dan penyebab seseorang dirawat di rumah sakit dalam waktu lama. Di samping itu stroke merupakan penyebab tersering kedua kepikunan setelah penyakit Alzheimer. Pada tahun 2000, penderita stroke di Amerika Serikat menghabiskan biaya sebesar 30 milyar dolar Amerika untuk perawatan. (Dipiro, et all, 2005) Menurut Yayasan Stroke Indonesia (Yastroki), terdapat kecenderungan meningkatnya jumlah penyandang stroke di Indonesia dalam dasawarsa terakhir. Kecenderungannya menyerang generasi muda yang masih produktif. Hal ini akan berdampak terhadap menurunnya tingkat produktifitas serta dapat mengakibatkan terganggunya sosial ekonomi keluarga. Tidak dapat dipungkiri bahwa peningkatan jumlah penderita stroke di Indonesia identik dengan wabah kegemukan akibat pola makan kaya lemak atau kolesterol yang melanda di seluruh dunia, tak terkecuali Indonesia. (Yastorki, 2003) Di Indonesia, stroke merupakan penyakit nomor tiga yang mematikan setelah jantung dan kanker. Bahkan, menurut survei tahun 2004, stroke merupakan pembunuh no.1 di RS Pemerintah di seluruh penjuru Indonesia. Diperkirakan ada 500.000 penduduk yang terkena stroke. Angka morbiditas lebih berat dan angka mortalitas lebih tinggi pada stroke hemoragik dibandingkan dengan stroke iskemik. Hanya 20% pasien yang dapat melakukan kegiatan mandirinya lagi. Angka mortalitas dalam bulan pertama pada stroke hemoragik mencapai 40-80%. Dan 50% kematian terjadi dalam 48 jam pertama. (Yastorki, 2003) Banyak faktor yang memungkinkan seseorang terkena stroke, antara lain; Hipertensi, Transient Inchemic attack (TIA), Hiperkolesterolemia, Diabetes Melitus, Merokok, Obesitas, dan penyakit kardiovaskuler, selain itu faktor usia, ras, jenis kelamin , riwayat keluarga juga turut menjadi faktor risiko kejadian stroke. (Adams HP,et all, 2000) Dalam menangani kasus ini diperlukan peranan dokter keluarga yang dapat menangani penderita tersebut secara holistik dan komprehensif sehingga dapat mencegah timbulnya stroke berulang.

Ilustrasi Kasus Dari hasil anamenesis seorang nenek (Ny. F) berusia 62 tahun, didapatkan informasi bahwa nenek tersebut pertama kali mengeluhkan lengan dan tungkai sebelah kiri terasa lemah pada waktu 2 tahun yang lalu (tahun 2008), keluhan timbul mendadak setelah pasien baru bangun tidur. Pasien saat itu pasien tidak mengeluhkan nyeri kepala, mual, muntah, kejang, ataupun demam. Selain itu pasien merasakan wajahnya mencong ke sebelah kanan, namun pasien tidak mengeluhkan berbicara cadel/pelo, gangguan menelan, ataupun suara serak. Hal ini kemudian membuat pasien langsung dibawa ke Puskesmas Pancoran Mas, dokter waktu itu mengatakan pasien didiagnosis dengan stroke ringan. Selama terapi pasien tidak pernah ke rumah sakit maupun fisioterapi, pasien hanya ke Puskesmas Pancoran Mas dan ke pengobatan alternatif. Semenjak itu pula pasien mengeluhkan wajahnya sering berkedut-kedut pada bagian wajah kanan. Pada tanggal 25 Januari 2011 pasien datang ke Puskesmas Pancoran Mas untuk kontrol hipertensinya yang memang setiap satu bulam sekali rutin untuk pengobatan, namun selain itu pasien juga mengeluhkan nyeri pada tungkai kanannya sejak 1 minggu yang lalu, nyeri dirasakan
seperti urat ditarik-tarik, nyeri berawal dari lutut kemudian kemudian menjalar ke tungkai bawah, nyeri dirasakan hilang timbul, terutama pada saat pasien beraktivitas sehingga membuat pasien berjalan terseok-seok, nyeri juga dirasakan pada saat posisi dari duduk ke berdiri, pasien tidak kuat duduk

terlalu lama, misalkan ketika sembahyang, pasien tidak mengeluhkan kesemutan, ataupun baal/
mati rasa. Pasien mengeluhkan lutut sebelah kanan terasa panas.

Riwayat hipertensi (+) sejak 3 tahun yang lalu, pasien selalu kontrol ke puskesmas 1 bulan sekali. Riwayat kencing manis disangkal, riwayat kolesterol tinggi disangkal, riwayat penyakit jantung disangkal. Riwayat kebiasaan: merokok disangkal, kebiasaan minum kopi disangkal, pasien kadang-kadang minum teh atau jamu, pasien terkadang mengkonsumsi obatobat herbal atau obat warung, pasien terkadang masih memakan makanan yang mengandung garam tinggi, lemak jenuh, ataupun kolesterol tinggi, aktivitas/pekerjaan pasien sehari-hari tidak menentu tergantung apa yang bisa dikerjakan, pasien tidak bekerja dan hanya di rumah saja mengasuh cucunya, pasien jarang berolahraga. Riwayat penyakit keluarga, pasien menyangkal anggota keluarga yang mengalami keluhan yang sama seperti pasien (kelemahan pada lengan dan tungkai sebelah kiri), riwayat
hipertensi ada pada ayah dan ibu pasien, terdapat riwayat penyakit jantung pada ayah sehingga

mengakibatkan ayah pasien meninggal, pasien menyangkal riwayat keluarga kencing manis, ASMA. Pada pemeriksaan fisik didapatkan bahwa keadaan umumnya kompos mentis dan sadar penuh. Berat badannya 60 kg dan tinggi badannya 148 cm, status gizi obesitas dengan IMT=27,39. Pada pemeriksaan tanda-tanda vital didapatkan tekanan darah di tangan kanan 150/90 mmHg dan tangan kiri 150/90 mmHg, nadi 100 kali per menit, laju pernapasan 18 kali per menit dan suhu 36,7 0C. Pada pemerikasaan status generalis masih didapatkan dalam batas normal, . Pada pemeriksaan status neurologis, didapatkan nervus kranialis (nervus fasialis: kerutan
dahi simetris kanan dan kiri, kedua mata menutup baik, lipatan nasolabialis kiri lebih datar dibanding kanan, ketika meringis, pipi kiri tertinggal dari kanan, saat pasien menggembungkan pipi, pipi kiri sulit digembungkan. Kekuatan motorik ekstremitas atas dan bawah sebelah kanan bernilai 5, sedangkan kekuatan motorik ekstremitas atas dan bawah sebelah kiri bernilai 4. Pada gerakan involunter terdapat

tics fasialis sebelah kanan. Penilaian Struktur dan Komposisi Keluarga Keluarga terdiri atas 3 generasi dengan kepala kelurga adalah seorang nenek yang berusia 62 tahun yang pernah mendapat serangan stroke. Bentuk keluarga adalah keluarga besar (extended) dengan pemimpin keluarga adalah seorang nenek yang sudah tidak produktif lagi.

Tn. M 50 thn
Ny. F 62 thn

Ny. F 62 thn Tn. S 33 thn


Ny. F 62 thn

Tn. A 43 thn

thn Ny. S 40 thn

Tn. M 36 thn
Ny. F 62 thn

thn

thn Ny. F 62 thn

Tn.N 70 thn

Keterangan : Laki laki : Perempuan : Meninggal : Tinggal 1 rumah : Pasien Gambar 1. Genogram
Ny. Y 26 thn Tn.D 28 thn Ny. P 24 thn

An.MA 1,5 thn

Penilaian Terhadap Keluarga Dalam penatalaksanaan penyakit pasien sangat diperlukan peran serta yang aktif dari seluruh anggota keluarga terutama anak-anak pasien yang sudah dewasa dalam merawat dan memperhatikan pasien. Peran keluarga saat ini lebih memperhatikan keadaan kesehatan pasien yang merupakan gejala sisa dari penyakit stroke yang pernah diderita. Selain itu seluruh anggota keluarga juga harus berperan aktif dalam menjaga kebersihan di sekitar rumah dan memperhatikan asupan nutrisi yang baik agar mengurangi faktor resiko penyebab stroke, terutama pasien juga terdapat hipertensi dan obesitas dan untuk pencegahan agar tidak terjadi stroke berulang. Untuk itu, agar tujuan dapat tercapai dalam mengobati pasien dengan melibatkan keluarga dalam perawatan kesehatan pasien yang berkaitan dengan masalah fisik, psikologik, sosial dan lingkungan keluarga maka dilakukan kunjungan rumah pada tanggal 29 Januari, 2 Februari dan 10 Februari 2011.

Identifikasi Masalah Keluarga 1. Masalah dalam organisasi keluarga : dalam struktur keluarga, kepala keluarga adalah seorang nenek yang sudah tidak produktif dan hanya mengandalkan penghasilan dari anaknya dan usaha keluarga berupa rumah kontrakan dan bengkel. 2. Masalah fungsi biologis : pasien pernah mendapat serangan stroke dan saat ini memiliki gejala-gejala sisa yang cukup menghambat aktifitas pasien. Selain itu pasien memiliki
status gizi obesitas. Status gizi ini menjadi faktor resiko penyakit pasien yaitu hipertensi. 3. Masalah fungsi psikologis : pasien merupakan seorang janda, telah menikah yang kedua kalinya sejak 10 tahun yang lalu, karena suaminya yang pertama juga telah meninggal. Pasien

memiliki enam anak yang kesemuanya telah menikah, hal ini membuat pasien kurang mendapat perhatian mengenai masalah kesehatannya. Hubungan dengan anak, menantu dan
cucunya baik.

4. Masalah fungsi ekonomi dan pemenuhan kebutuhan : penghasilan dari usaha keluarga mencukupi untuk kebutuhan sehari-hari. Anak pasien yang semuanya sudah berkeluarga dapat mencukupi kebutuhan hidupnya masing-masing. Meskipun untuk kebutuhan sehari-hari mencukupi, keluarga dan pasien tidak memiliki tabungan kesehatan jika

sewaktu-waktu terjadi keadaan darurat seperti dirawat rumah sakit, dikarenakan kurangnya pengetahuan manajemen keuangan dari keluarga pasien. Sehingga jika ada keluarga yang sakit hanya mencukupi untuk berobat di puskesmas atau klinik bidan ataupun dokter umum terdekat. 5. Masalah perilaku kesehatan : keluarga belum cukup mengerti tentang perilaku hidup sehat di dalam lingkungan keluarga. 6. Masalah lingkungan : Lingkungan rumah cukup baik. Kebersihan lingkungan terjaga.
Diagnosis Holistik (25 Januari 2011 di Puskesmas Pancoran Mas)

Aspek Personal

: Pasien belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang perilaku

hidup sehat. Pasien rutin kontrol ke puskesmas untuk hipertensinya karena merasa khawatir
jika tekanan darah tidak turun-turun dan takut jika terjadi serangan stroke berulang.

Aspek Klinis : Aspek Individual Aspek Psikososial Aspek Fungsional

Pasien menderita post Stroke 2 tahun yang lalu dengan status gizi

obesitas (IMT 27,39) dan hipertensi selama 3 tahun : Pasien masih memerlukan bantuan dari pelaku rawat dalam

mengontrol penyakitnya. :Pasien tidak mendapat dukungan mengenai masalah

kesehatannya, karena anak-anaknya semua telah berkeluarga. : Sebagian besar aktivitas masih dapat dilakukan oleh pasien

namun terkadang pasien juga bergantung pada anggota keluarga lainnya. Diagnosis Keluarga Keluarga extended dengan kepala keluarga yang tidak produktif dan bergantung pada penghasilan anaknya dan usaha keluarga serta dengan perilaku anggota keluarga yang tidak memperhatikan perilaku hidup sehat di lingkungan keluarga dan kurangnya dukungan anggota keluarga terhadap masalah kesehatan pasien.

Tujuan Umum Penyelesaian Masalah Pasien dan Keluarga Terselesaikannya masalah pasien dan dapat menciptakan keluarga yang dapat meningkatkan kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap anggota keluarga agar terwujud derajat kesehatan yang optimal melalui hidup dalam lingkungan dan perilaku yang

sehat. Selain itu diharapkan setiap anggota keluarga dapat mengenali pengertian stroke, tanda dan gejala, faktor-faktor resiko penyebab stroke, serta penatalaksanan dan pencegahan stroke.

Indikator Keberhasilan

Tidak berulangnya serangan stroke pada pasien, dengan mengontrol faktor-faktor resiko penyebab stroke yaitu hipertensi dan obesitas. Pasien dan anggota keluarga yang lainnya dapat melakukan perilaku hidup sehat dengan menjaga kebersihan dan kesehatan di dalam rumah dan di lingkungan sekitarnya, sehingga dapat meningkatkan status kesehatan keluarga dengan peningkatan kesehatan fisik, mental dan sosial seluruh anggota keluarga Anak pasien yang sudah berkeluarga yang tinggal bersama pasien agar bertindak sebagai pelaku rawat memahami dan mampu melaksanakan anjuran penatalaksanaan pasien agar gejala sisa dari stroke dapat diatasi dan anggota keluarga agar turut mendukung dengan melakukan perilaku hidup sehat. Sehingga hipertensi yang merupakan salah satu faktor risiko terjadinya penyakit stroke, dapat dicegah dan diobati dengan merubah pola makan menjadi pola makan sehat yang berpedoman pada aneka ragam makanan yang memenuhi gizi seimbang. Setiap anggota keluarga memahami pentingnya peranan keluarga di sini dalam menyelesaikan masalah kesehatan pasien, sosial maupun lingkungan keluarganya, adanya kemampuan keluarga untuk mengatasi permasalahan dalam berperilaku hidup bersih dan sehat dalam lingkungan keluarganya, sehingga turut membantu dalam proses penyembuhan pasien.
Tindak Lanjut Terhadap Pasien dan Keluarga

Untuk penyakit stroke yang telah lama dialami pasien, adalah diberikan edukasi yang cukup mengenai penyakit stroke yang dialami dan gejala sisa yang diderita pasien, serta faktorfaktor resiko penyebab stroke dalam hal ini pasien terdapat hipertensi dan obesitas. Untuk mengendalikan tekanan darah tinggi/hipertensi yaitu dengan pemberian obat anti hipertensi yang harus rutin diminum, dalam hal ini menganjurkan pasien agar selalu kontrol ke puskesmas setiap bulannya. Untuk obesitas yang dialami pasien agar mengontrol berat badannya dengan diberikan edukasi mengenai asupan nutrisi dengan mengkonsumsi gizi yang seimbang seperti, makan banyak sayuran, buah-buahan, ikan terutama ikan salem dan tuna, minimalkan junk food dan beralih pada makanan tradisional yang rendah lemak jenuh, rendah kolesterol dan gula, serealia dan susu rendah lemak, mengkonsumsi makanan kaya serat. Memberikan edukasi untuk olah

raga teratur (minimal 30 menit setiap hari) dan mengurangi stress. Untuk gejala sisa dari stroke untuk agar kelumpuhan yang dialami tidak bertambah berat dan mengurangi ketergantungan pada orang lain dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari. Dapat dilakukan dalam bentuk rehabilitasi fisik, mental dan sosial. Rehabilitasi akan diberikan oleh tim yang terdiri dari dokter, perawat, ahli fisioterapi, ahli terapi wicara dan bahasa, ahli okupasional, petugas sosial dan peran serta keluarga, namun karena gejala stroke telah 2 tahun berlalu rehabilitasi yang dilakukan mungkin tidak terlihat signifikan perbedaannya, dibandingkan rehabilitasi yang dilakukan beberapa hari post stroke. Anak pasien yang tinggal bersama pasien harus merawat ibunya dengan baik dan mendukung perilaku hidup sehat agar hipertensi dan obesitasnya dapat terkontrol, sehingga faktor resiko pencetus terjadinya stroke berulang dapat menurun.

Alur Penatalaksanaan Pasien

Tanggal 23 Januari 2011 datang kePuskesmas Pancoran Mas untuk kontrol hipertensi (sejak 3 thn yll)

RPK: hipertensi (+) ayah & ibu, peny. Jantung (+) ayah

Keluhan lain : nyeri pada tungkai kanannya sejak 1 minggu

RPD: pasien pernah mengalami stroke 2 thn yll

PF: KU: CM BB= 60 kg & TB 148 cm, status gizi obesitas (IMT=27,39) TD kanan & kiri: 150/90 mmHg Status generalis: dbn Status neurologis : hemiparesis sinistra dan paresis nervus VII sinistra tipe UMN Gerakan involunter: Tics fasialis bagian kanan wajah

Ny. F 62 tahun

-Pemberian edukasi terhdp kesehatan -Pencarian pendapatan tambahan

Tindakan Terhadap Keluarga

Penatalaksanaan pasien ini memerlukan partisipasi seluruh anggota keluarga dalam mengatasi masalah yang dihadapinya, sehingga dapat memperbaiki pola hidup dalam keluarga dalam membentuk keluarga yang sejahtera. Pertamatama dijelaskan kepada keluarga pasien masalah yang sebenarnya yang sedang mereka alami. Kemudian diberikan penjelasan tentang pentingnya usaha untuk perbaikan kesehatan terutama dalam memperbaiki pola hidup sehat agar dapat mengontrol faktor-faktor resiko penyebab stroke pada pasien yaitu hipertensi dan obesitas. Keluarga juga harus mendapat pengetahuan yang sejelasjelasnya bahwa peran keluarga sangat besar dalam memperbaiki status gizi pasien dengan obesitas, agar kemudian bisa saling membantu secara materil maupun dukungan moril, dalam memecahkan masalah yang dihadapi pasien dan dianggap sebagai masalah keluarga bersama yang harus dipecahkan secara bersamasama pula. Selanjutnya

diberikan pula motivasi terhadap keluarga untuk memperhatikan pasien terutama tentang pentingnya untuk menyeimbangkan asupan kalori dengan kebutuhan energi total dengan membatasi konsumsi makanan yang mengandung kalori tinggi dan atau makanan yang kandungan gula dan lemaknya tinggi. Disamping itu, agar melakukan aktifitas fisik yang cukup untuk mencapai kebugaran jasmani dengan menyeimbangkan pengeluaran dan pemasukan energi/kalori. Untuk menurunkan berat badan, penggunaan energi harus melebihi asupannya. Selain itu juga dalam mengatasi status gizi dalam kategori obesitas, peran keluarga sangat penting untuk memberikan semangat atau motivasi terutama terhadap pelaku rawat agar mampu menyelesaikan masalah tersebut. Kendala yang dialami keluarga ini utamanya adalah tidak adanya pelaku rawat untuk membentuk pola makan yang baik terhadap pasien dan tidak adanya dukungan terhadap perbaikan perilaku hidup sehat, disamping terdapat pula kendala ekonomi dalam manajemen keuangan dimana pemenuhan kebutuhan sehari-hari masih mencukupi, namun keluarga pasien tidak memliki tabungan kesehatan. Disini faktor pengetahuan mengenai pentingnya kesehatan masih dirasakan kurang. Dilakukan penilaian terhadap penguasaan masalah dan kemampuan beradaptasi yang dapat dilihat pada Tabel 1. Penilaian kemampuan mengatasi masalah secara keseluruhan dan kemampuan adaptasi dengan skala : 5: dapat diselesaikan sepenuhnya oleh pasien dan keluarganya

4:

penyelesaian hampir seluruhnya oleh keluarga dengan sedikit petunjuk dari orang lain / dokter / pelayanan kesehatan

3: 2:

penyelesaian hanya sedikit atas partisipasi keluarga partisipasi keluarga hanya berupa keinginan saja karena tidak mampu, penyelesaian oleh orang lain / dokter / pelayanan kesehatan

1: 99 :

tidak ada partisipasi, tidak ada penyelesaian walaupun sarana ada tidak dapat dinilai.

Kesan dari kemampuan penyelesaian masalah awal dalam keluarga adalah 2 yaitu keluarga cukup mampu menyelesaikan sedikit masalahnya dan masih memerlukan petunjuk penyelesaian masalah dari orang lain/dokter/provider kesehatan. Pada akhir studi dilakukan penilaian kembali kemampuan keluarga menyelesaikan masalahnya. Nilai akhir koping keluarga yang didapat adalah 3, dimana keluarga mampu menyelesaikan masalahnya dengan arahan dari petugas pelayan kesehatan.

Pembahasan Studi kasus dilakukan pada pasien Ny. F, usia 62 tahun, dengan keluhan kelemahan pada

lengan dan tungkai sebelah kiri sejak 2 tahun yang lalu. Pasien merupakan janda dengan enam anak
yang kesemuanya telah berkeluarga. Penyebab keadaan ini adalah faktor cara hidup dan makanan yang menyebabkan risiko menjadi lebih besar untuk menderita penyakit stroke. Diagnosis post stroke dengan hipertesi dan obesitas pada pasien ditegakkan atas dasar keluhan

lengan dan tungkai sebelah kiri terasa lemah pada waktu 2 tahun yang lalu (tahun 2008), keluhan timbul mendadak setelah pasien baru bangun tidur. Selain itu pasien merasakan wajahnya mencong ke sebelah kanan. Kemudian pasien langsung dibawa ke Puskesmas Pancoran Mas, dokter waktu itu mengatakan pasien didiagnosis dengan stroke ringan. Semenjak itu pula pasien mengeluhkan wajahnya sering berkedut-kedut pada bagian wajah kanan. Selain itu pasien
memiliki riwayat hipertensi sejak 3 tahun yang lalu, dan riwayat keluarga hipertensi serta penyakit jantung. Pada pemeriksaan fisik didapatkan BB= 60 kg & TB 148 cm, status gizi obesitas (IMT=27,39), TD kanan & kiri: 150/90 mmHg, status generalis dalam batas normal, status neurologis terdapat

hemiparesis sinistra dan paresis nervus VII sinistra tipe UMN, gerakan involunter terdapat Tics fasialis pada wajah bagian kanan. Pemeriksaan penunjang tidak dilakukan pada pasien karena waktu itu pasien hanya kontrol dan tidak pernah dirawat di rumah sakit, waktu itu di puskesmas pernah dilakukan

pemeriksaan darah namun hasilnya sudah hilang. Pasien hanya mengatakan kadar kolesterolnya pernah tinggi. Penegakkan diagnosis stroke didasarkan atas hasil penemuan klinis dari anamnesis (wawancara) terutama terjadinya keluhan/gejala defisit neurologik yang mendadak. Tanpa trauma kepala, dan adanya faktor risiko stroke. Pemeriksaan fisik adanya defisit neurologik fokal, ditemukan faktor risiko seperti hipertensi, kelainan jantung dan kelainan pembuluh darah lainnya. Pemeriksaan tambahan/Laboratorium adalah dengan pemeriksaan Neuro-Radiologik Computerized Tomography Scanning (CT-Scan), sangat membantu diagnosis dan membedakannya dengan perdarahan terutama pada fase akut. Pemeriksaan untuk menemukan faktor resiko, seperti: pemeriksaan darah rutin (Hb, hematokrit, leukosit, eritrosit), hitung jenis dan bila perlu gambaran darah. Komponen kimia darah, gas, elektrolit, Doppler, Elektrokardiografi (EKG). (Americant Heart, 2004) Pada kunjungan ke Puskesmas Pancoran Mas adalah karena untuk mengontrol tekanan darah tingginya, sehingga saat itu pasien diberikan terapi medikamentosa anti hipertensi yang diberikan adalah Captopril 25 mg yang diminum sehari satu kali dan untuk keluhan nyeri pada tungkai kanan pasien diberikan Ibuprofen yang diminum tiga kali sehari, vitamin B1 dan vitamin B6 juga diminum tiga kali sehari. Dalam penanganan kasus ini dilakukan pendekatan kedokteran keluarga untuk memberikan pelayanan kesehatan yang holistik, komprehensif, berkesinambungan, terpadu dan paripurna, dengan memandang pasien sebagai bagian dari dirinya sendiri. Keluarga dan lingkungannya. Masyarakat Indonesia pada umumnya, mempunyai pengetahuan akan kesehatan yang kurang, dan kesadaran akan kesehatan yang masih rendah. Hal ini bukan hanya karena faktor ekonomi yang membentuk perilaku demikian, namun dikarenakan juga edukasi tentang kesehatan yang masih diterima mayarakat masih kurang, yang seringkali dikombinasi dengan kebiasaan atau tradisi tradisi tertentu yang melekat erat dalam budaya masyarakat. Dalam hal ini diperlukan peran petugas kesehatan yang membina suatu keluarga dalam memberikan pemahaman tentang kesehatan yang nantinya akan menjadi suatu budaya kesehatan baru dan perilaku sehat yang diharapkan dapat diteruskan pada generasi selanjutnya dalam keluarga tersebut.

Pengetahuan tentang kesehatan yang minim dari pasien Pada kasus ini, terdapat sejumlah kebiasaankebiasaan tertentu yang tidak baik bagi kesehatan pasien, riwayat kebiasaan pasien kadang-kadang minum jamu yang menurut pasien dapat menurunkan tekanan darah tingginya, pasien terkadang mengkonsumsi obat-obat herbal atau obat

warung jika terdapat keluhan nyeri pada tungkai kanannya atau sakit kepala, pasien terkadang masih memakan makanan yang mengandung garam tinggi, lemak jenuh, ataupun kolesterol tinggi,

aktivitas/pekerjaan pasien sehari-hari tidak menentu tergantung apa yang bisa dikerjakan, pasien tidak bekerja dan hanya di rumah saja mengasuh cucunya, pasien jarang berolahraga. Dari
pengamatan kami setelah dilakukan beberapa kali kunjungan rumah, didapat kesan bahwa pasien kurang menyadari faktor-faktor resiko penyebab stroke dialami pasien yaitu hipertensi dan obesitas dan belum memahami betul bagaimana cara mengontrolnya. Pasien hanya menganggap berobat ke puskesmas untuk hipertensinya sudah cukup, namun tidak diimbangi dengan perilaku hidup sehat.

Asupan gizi pada pasien yang tidak seimbang Gizi berasal dari bahasa arab: al gizai yang artinya makanan dan manfaatnya untuk kesehatan. Dapat juga diartikan sari makanan yang bermanfaat untuk kesehatan. Manusia dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya, dimulai dari saat pembuahan, berlangsung sepanjang masa hidupnya hingga dewasa sampai masa tua, memerlukan zat gizi yang terkandung dalam makanan. Jadi manusia mendapat zat gizi atau nutrien dalam bentuk makanan yang berasak dari hewan (hewani) dan tumbuh-tumbuhan (nabati). Zat gizi tersebut adalah karbohidrat, protein dan lemak yang disebut sebagai zat gizi makro serta vitamin dan mineral yang disebut dengan zat gizi mikro. Selain itu, untuk memperlancar proses metabolisme dalam tubuh diperlukan air dan serat. Tubuh manusia membutuhkan aneka ragam makanan untuk memenuhi semua zat gizi tersebut. Masalah gizi dipengaruhi oleh banyak faktor dan kompleks, kekurangan atau kelebihan salah satu unsur zat gizi akan menyebabkan kelainan atau penyakit. Asupan makanan tidak seimbang merupakan salah satu faktor penyebab tidak langsung dari terjadinya obesitas dan beresiko menjadi hipertensi maupun penyakit serebrovaskuler ataupun kardiovaskuler. Hipertensi merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke. Hipertensi meningkatkan risiko terjadinya stroke sebanyak 4 sampai 6 kali. Makin tinggi tekanan darah kemungkinan stroke makin besar karena terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh darah sehingga memudahkan terjadinya penyumbatan/perdarahan otak. Sebanyak 70% dari orang yang terserang stroke mempunyai tekanan darah tinggi. Sedangkan obesitas berhubungan erat dengan hipertensi, dislipidemia, dan diabetes melitus. Obesitas meningkatkan risiko stroke sebesar 15%. Obesitas dapat meningkatkan hipertensi, jantung, diabetes dan aterosklerosis yang semuanya akan meningkatkan kemungkinan terkena serangan stroke. Dalam hal ini pembina memotivasi pasien agar dapat memakan makanan dengan nutrisi yang seimbang sesuai kebutuhan kalori, misalnya dengan prinsip utama dalam melakukan pola makan sehat adalah gizi seimbang, dimana mengkonsumsi beragam makanan yang seimbang dari kuantitas dan kualitas yang terdiri dari, sumber karbohidrat : biji-bijian, sumber protein hewani : ikan, unggas, daging putih, putih telur, susu rendah/bebas lemak, sumber protein nabati : kacang-kacangan dan polong-polongan serta hasil olahannya, sumber vitamin dan mineral : sayur dan buah-buahan segar.

Untuk obesitasnya, secara umum untuk menurunkan berat badan dapat dicapai dengan menurunkan asupan total kalori. Dianjurkan untuk menurunkan berat badan 0,5 1 kg per minggu. Sehingga kebutuhan kalori harus dikurangi 500 1000 KKal/hari. Dianjurkan untuk meningkatkan penggunaan sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan dan produk biji-bijian serta mengurangi bahan makanan hewani (daging merah), lemak atau minyak jenuh (mentega atau santan), karbohidrat murni (gula, tepungtepungan) dan yang mengandung alkohol. Dalam menjalankan diet rendah kalori, agar berhatihati terjadinya kekurangan zat gizi mikro (vitamin dan mineral). Oleh karena itu, dianjurkan banyak makan sayuran dan buah-buahan (daftar bahan makanan penuh dapat dilihat di lampiran 1). Perhitungan energi sangat penting pada diet untuk mempertahankan atau menurunkan BB mencapai ideal. Diet tinggi lemak dapat menyebabkan kenaikan BB dalam waktu cepat. Namun harus diperhitungkan pula asupan dari seluruh total energi per hari terutama dari sumber makro nutrisi, yaitu: karbohidrat, protein dan lemak. 1 gram lemak setara dengan 9 kkal, 1 gram karbohidrat dan protein setara dengan 4 kkal sedangkan 1 gram alkohol setara dengan 7 kkal. Oleh karena itu, komposisi makronutrien yang dianjurkan adalah mengurangi bahan makanan. Pembina menyarankan agar setiap sehabis makan jangan langsung berbaring atau istirahat, lakukan aktivitas minimal 2 jam sebelum tidur. Untuk hipertensinya dengan menurunkan asupan natrium 1,8 gram/hari. Asupan garam

(Natrium Chlorida) dapat meningkatkan tekanan darah. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ratarata dapat menurunkan tekanan darah sistolik 4 mmHg dan diastolik 2 mmHg. Pada penderita hipertensi dan penurunan lebih sedikit pada individu dengan tekanan darah normal. Respons perubahan asupan garam terhadap tekanan darah bervariasi diantara individu yang dipengaruhi oleh faktor genetik dan juga faktor usia. Disarankan asupan garam < 6 gram sehari atau kurang dari 1 sendok teh penuh. Dari berbagai penelitian, terbukti bahwa kenaikan berat badan dapat meningkatkan tekanan darah dan terjadinya hipertensi, walaupun pada program penurunan berat badan. Penurunan tekanan darah dapat terjadi sebelum tercapai berat badan yang diinginkan. Penurunan sistolik dan diastolik rata-rata per kg penurunan berat badan adalah 1,6 / 1,1 mmHg. Sehingga dianjurkan untuk selalu menjaga berat badan normal, untuk menghindari terjadinya hipertensi.

Kurangnya Manajemen Keuangan Keluarga Keluarga ini merupakan keluarga besar dengan 4 orang anggota keluarga, terdiri dari pasien selaku kepala keluarga yang sudah tidak produktif dan hanya mengandalkan kebutuhan sehari-hari dari anak-anaknya dan usaha keluarga berupa rumah kontrakan dan usaha bengkel. Pasien tinggal bersama anak ke lima beserta menantu yang bekerja sebagai teknisi dan cucunya yang masih berusia 1,5 tahun. Perekonomian keluarga sebenarnya mencukupi untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun semua pemasukan yang ada digunakan untuk membangun rumah di belakang rumah pasien untuk ditempati anak

ke enam bersama keluarganya. Dengan demikian dalam keluarga ini tidak mempunyai perencanaan keuangan yang terarah. Keluarga ini hanya mampu memenuhi kebutuhan primer dalam keluarganya saja, yaitu sandang, pangan, dan papan dan belum ada kesempatan untuk menabung dan mengelola keuangan sedemikian rupa sehingga keluarga mempunyai simpanan bagi pemeliharaan kesehatan keluarganya. Pembina berusaha mendorong kepala keluarga dalam membuat rencana untuk mengatur keuangan dari penghasilan yang tidak tetap tersebut, dengan berusaha menyisihkan sedikit penghasilan setelah mencukupi kebutuhan primer dan alokasi tabungan untuk kesehatan, terutama kesehatan pasien. Pembina memotivasi anggota keluarga lain, misalnya anak pasien untuk menyisihkan uang sebagai tabungan kesehatan.

No. 1.

Masalah Pasien datang dengan keluhan timbul lenting lenting berisi cairan jernih diseluruh tubuh, gatal, anak rewel, dan nafsu makan menurun Pemberian susu kental manis pada anak

Koping Awal 3

Koping Akhir 4

Upaya Penyelesaian dari Keluarga Awal : Pasien segera dibawa ke Puskesmas Akhir : Anjuran Pembina dipatuhi, sehingga anak yang lainnya tidak tertular Awal : Pasien sering diberi susu kental manis oleh ibunya jika tidak ada susu bubuk Akhir : Ibu pasien berjanji tidak akan memberikan susu kental manis lagi pada kedua anaknya Awal : lingkungan rumah kurang bersih dan kebersihan perawatan anak tidak terjaga Akhir : Keluarga bersedia mengikuti anjuran pembina, namun saat akhir binaan lingkungan rumah belum ada perubahan. Awal : Ibu hanya menyediakan 4 botol susu untuk dua anaknya Akhir : Ibu pasien mau membeli botol susu yang baru untuk kedua anaknya, namun hal ini belum dikerjakan Awal : dalam keluarga ini hanya satu orang yang bekerja (pekerjaan tidak tetap) Akhir : Ibu pasien mulai mau mencari informasi tentang program program pengembangan masyarakat yang ada di kelurahan untuk bekal usaha

2.

3.

Kebersihan lingkungan rumah dan kebersihan perawatan anak

4.

Pemakaian botol susu hanya 4 berganti gantian untuk kedua anak

5.

Ketergantungan keluarga

finansial

Rata - rata Hasil Pembinaan

1. Keluarga mengikuti anjuran pembina untuk menjauhkan anak yang sakit dengan anak lainnya agar tidak tertular penyakit yang sama dengan memisahkan saat tidur dan saat bermain. 2. Orang tua pasien bersedia untuk tidak memberikan susu kental manis pada kedua anak dan menjaga porsi makan anak. 3. Ibu pasien mulai melakukan kebiasaan yang dianjurkan pembina, yaitu tidak memberikan susu saat anak bangun tidur, tapi anak diberi air putih saja dan langsung diberi makan.

4. Orang tua pasien bersedia untuk lebih menjaga kebersihan lingkungan rumah dan ibu pasien juga besedia untuk menjaga kebersihan anak dan alatalat makan anak. Ibu pasien berencana untuk membeli botol susu baru untuk anaknya, namun belum dikerjakan. 5. Ibu pasien mulai mencari tahu tentang kegiatankegiatan pengembangan masyarakat dari kelurahan yang mungkin dapat dilakukannya untuk meningkatkan perekonomian keluarganya. 6. Anggota keluarga yang lain mulai bekerja untuk membantu keuangan keluarga, yaitu nenek pasien yang bekerja sebagai buruh cuci harian. 7. Keluarga mulai memikirkan untuk mulai menabung dari penghasilannya tersebut yang dapat disisihkan untuk biaya kesehatan dan untuk pendidikan kedua anak nantinya. Namun demikian hal ini belum dapat dilakukan oleh keluarga ini. 8. Hasil pembinaan keluarga secara keseluruhan menunjukkan peningkatan indeks koping / penguasaan masalah dari 2 sebelum pembinaan menjadi 3 setelah pembinaan. 9. Konsep pelayanan kedokteran keluarga telah dijalankan dan perlu ditunjang dengan kerjasama yang baik antara provider kesehatan serta keluarga.

Saran

Penutup

Daftar Pustaka 1. Adams HP Jr, del Zoppo GJ, von Kummer R. 2000. Management of Stroke: A Practical Guide for the Prevention, Evaluation and Treatment of Acute Stroke. 1st ed. Caddo US: Professional Communications Inc. 2. Americant Heart, 2004. Stroke Statistic. http://www.americantheart.org/ Diakses pada tanggal 5 Februari 2011. 3. Bustan, Mn, 2000. Epidemiologi Penyakit Tidak Menular. PT. Rineka Cipta,Jakarta. 4. Dipiro, Joseph T, Robert L Talbert.,dkk. 2005 . Pharmacotheraphy a Pathophysiologic Approach 1 Fifth Edition. United States of America : McGraw-Hill Companies, Inc. 5. Feigin, V, 2006. Stroke Panduan Bergambar Tentang Pencegahan Dan Pemulihan Stroke. PT. Bhuana Ilmu Populer, Jakarta. 6. Lumbantobing, S.M, 2003. Neurogeriatri. Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta. 7. Price, S & Wilson, L, 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 6. EGC, Jakarta. 8. Pedoman Makan Untuk Kesehatan Jantung Indonesia, PERKI Pusat dan Yayasan Jantung

Indonesia; Jakarta, 2002


9. Pedoman Terapi Diet dan Nutrisi Edisi II, Mary Courtney Moore, diterjemahkan oleh

Dr.Liniyanti D. Oswari M. N. S. MSc; Hipokrates Tahun I, 1992


10. Sutrisno, A, 2007. Stroke Sebaiknya Anda Tahu Sebelum Anda Terserang Stroke. PT. Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 11. World Health Organizatition, 2005. STEP wise approach to stroke

surveillance.http://www.who.int/. Diakses pada tanggal 5 Februari 2011. 12. Yastorki, 2003. Stroke Urutan Ketiga Penyakit Mematikan. http.www.yastorki.or.id/. Diakses pada tanggal 5 Februari 2011.

Anda mungkin juga menyukai