Anda di halaman 1dari 45

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif, secara social dan ekonomis. Oleh karena itu upaya kesehatan sangat diperlukan dalam setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah, tenaga-tenaga kesehatan dan atau masyarakat itu sendiri. Hidup sehat adalah hal yang didambakan setiap orang. Baik itu sehat jasmani, rohani, maupun sosial. Untuk tercapainya derajat kesehatan yang diinginkan, untuk itu yang perlu ditingkatkan salah satunya adalah pelayanan dibidang farmasi. Dalam pelayanan obat-obatan dan bekalbekal kesehatan lainnya, harus benar-benar diperhatikan dan dilakukan dengan sebaik-baiknya sehingga tidak terjadinya kesalahan atau kekeliruan dalam pemeriksaan bekal-bekal kesehatan, serta terjaminnya kesehatan pasien. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan pendekatan

pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (preventif), penyembuhan penyakit (kuratif), dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif), yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu,

berkesinambungan. Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukan pekerjaan kefarmasian penyaluran perbekalan farmasi kepada masyarakat. Pekerjaan kefarmasian yang dimaksud sesuai dengan Ketentuan Umum Undangundang Kesehatan No. 23 tahun 1992, meliputi pembuatan, pengolahan, peracikan, pengubahan bentuk, pencampuran, penyimpanan dan

penyerahan obat atau bahan obat; pengadaan, penyimpanan, penyaluran dan penyerahan perbekalan farmasi lainnya dan pelayanan informasi

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 1

mengenai perbekalan farmasi yang terdiri atas obat, bahan obat, obat asli Indonesia (obat tradisional), bahan obat asli Indonesia (simplisia), alat kesehatan dan kosmetika. Perkembangan kefarmasian selanjutnya

mengarah pada kegiatan pelayanan informasi obat (PIO) untuk melayani masyarakat di bidang informasi kesehatan.

B. RUMUSAN MASALAH Beberapa rumusan masalah yang akan dibahas oleh penulis yaitu : 1. Bagimana sistem pelayanan resep di Apotek Sanggabuana Palangka Raya? 2. Kegiatan apa saja yang dilakukan di Apotek Sanggabuana Palangka Raya ? 3. Bagaimana Pelayanan obat yang baik kepada pasien ?

C. TUJUAN Tujuan diadakannya praktek kerja lapangan di Apotek ini adalah : 1. Melaksanakan salah satu peran, fungsi dan kompetensi Ahli Madya Farmasi yaitu pelayanan kefarmasian di Apotek meliputi identifikasi resep, merencanakan dan melaksanakan peracikan obat yang tepat. 2. Untuk mengetahui dan memahami kegiatan teknis kefarmasian di Apotek dalam pengelolaan perbekalan farmasi. 3. Memberikan kesempatan untuk beradaptasi langsung pada iklim kerja kefarmasian di Apotek.

D. PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANGAN Kegiatan praktek kerja lapangan di Apotek Sanggabuana dilaksanakan pada tanggal 06 Februari-19 Maret 2012.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. APOTEK 1. Pengertian Apotek Apotek (berasal dari bahasa Belanda : Apotheek) adalah tempat menjual dan kadang membuat atau meramu obat. Apotek juga merupakan tempat Apoteker, melakukan praktik profesi farmasi sekaligus menjadi peritel. Kata ini berasal dari kata bahasa yunani apotheca yang secara harafiah berarti menyimpan ( Anonim, 2011 ). Menurut peraturan pemerintah Republik Indonesia No. 51 Tahun 2009 tentang pekerjaan kefarmasian, Apotek adalah sarana pelayanan kefarmasian tempat dilakukannya praktek kefarmasian oleh Apoteker. Menurut keputusan menteri kesehatan Republik Indonesia

(Kepmenkes RI) No. 1332/MENKES/SK/X/2002, tentang perubahan atas peraturan MenKes RI No. 922/MENKES/PER/X/1993 mengenai ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek, yang dimaksud dengan Apotek adalah suatu tempat tertentu, tempat dilakukannya pekerjaan kefarmasian penyalur perbekalan farmasi kepada masyarakat ( Anonima, 2002). Sediaan farmasi yang disalurkan adalah obat, bahan obat, obat asli Indonesia, alat kesehatan dan kosmetik, sedangkan perbekalan kesehatan yang disalurkan adalah semua bahan dan peralatan yang diperlukan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan ( Anonima, 2002 ).

2. Tugas dan Fungsi Apotek Tugas dan fungsi Apotek adalah : a) Tempat pengabdian profesi seorang Apoteker yang telah mengucapkan sumpah jabatan.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 3

b) Sarana farmasi yang melaksanakan peracikan pengubahan bentuk, pencampuran, dan penyerahan obat/bahan obat. c) Sarana penyaluran perbekalan farmasi yang harus menyebarkan obat yang diperlukan masyarakat secara luas dan merata. d) Sebagai sarana pelayanan informasi obat dan perbekalan farmasi lainnya kepada masyarakat ( Syamsuni, 2005 )

3. Apoteker dan Asisten Apoteker Apoteker adalah sarjana farmasi yang telah lulus dan telah mengucapkan sumpah jabatan Apoteker yang berdasarkan perundangundangan yang berlaku mereka berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Apoteker. Asisten Apoteker adalah mereka yang berdasarkan perundangundangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai asisten Apoteker. a. Tanggung Jawab dan Peran Apoteker dan Asisten Apoteker Apoteker dan asisten Apoteker mempunyai peran tugas dan tanggung jawab sebagai berikut ; Mengawasi obat-obatan yang diperlukan/pengendalian kualitas obat Sebagai pusat informasi obat Pengelolaan obat mulai dari perencanaan sampai distribusi obat Menyediakan dan mengawasi kebutuhan obat Mengembangkan dan melaksanakan pelayanan terapi obat tertentu atas permintaan dokter Memberikan pelayanan informasi obat Ikut mengembangkan kebijakan dan prosedur yang lengkap, untuk distribusi yang aman dari semua obat dan pelengkapannya

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 4

Ikut

berpartisipasi

dalam

mendukung

penelitian

farmasetik dan medik yang sesuai dengan sasaran, tujuan, dan sumber IFRS dan Rumah Sakit itu sendiri Meracik, menyediakan, dan menyampaikan perbekalan farmasi kepada penderita Ikut merawat dan menjaga fasilitas yang ada di Rumah Sakit

4. Standar Pelayanan Apotek Tujuan dibuatnya standar pelayanan di Apotek yaitu : 1. Sebagai pedoman penyelenggaraan pelayanan kefarmasian

dirumah sakit 2. Untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian 3. Untuk menerapkan konsep pelayanan kefarmasian 4. Untuk memperluas fungsi dan peran Apoteker farmasi rumah sakit 5. Untuk melindungi masyarakat dari pelayanan yang tidak profesional 6. Untuk melindungi profesi dalam praktek kefarmasian (

Anonim,2004).

5. Cara Pelayanan Farmasi Yang Baik WHO (1997) mensyaratkan : 1. Peduli terhadap kesejahteraan pasien 2. Aktifitas inti farmasi menyediakan obat dan produk pelayanan kesehatan 3. Memberikan kontribusi dalam peresepan obat yang rasional, tepat dan ekonomis 4. Tujuan pelayanan farmasi harus sesuai untuk setiap individu, terdefinisi secara jelas dan dikomunikasikan secara efektif kepada semua pihak yang terkait

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 5

6. Pengelolaan Obat Di Apotek 1. Penyimpanan Obat Kegiatan yang dilakukan meliputi : a. Pengaturan tata ruang, yaitu dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan kemudahan dalam penyimpanan, penyusunan,

pencarian dan pengawasan obat-obatan. Faktor-faktor yang dipertimbangkan yaitu: Kemudahan bergerak Sirkulasi udara Rak dan pallet Kondisi penyimpanan khusus Pencegahan kebakaran

b. Penyusunan stok obat menurut bentuk sediaan dan alfabetis, apabila tidak memungkinkan obat yang sejenis dapat

dikelompokkan menjadi satu. untuk memudahkan pengendalian stok maka dilakukan langkahlangkah sebagai berikut : (1) Gunakan prinsip FIFO dalam penyusunanobat yaitu obat yang pertama diterima harus pertama juga digunakan sebab umumnya obat yang datang pertama biasanya juga diproduksi lebih awal dan akan kadaluarsa lebih awal pula. (2) Gunakan lemari khusus untuk menyimpan narkotika dan obatobatan yang berjumlah sedikit tapi mahal harganya. (3) Susun obat yang dapat dipengaruhi oleh temperatur, udara, cahaya dan kontaminasi bakteri pada tempat yang sesuai. (4) Susun obat dalam rak dan berikan nomor kode, pisahkan obat dalam dengan obat-obatan untuk pemakaian luar. (5) Cantumkan nama masing-masing obat pada rak dengan rapi. (6) Barang-barang yang memakan tempat seperti kapas dapat disimpan didalam dus besar, sedangkan dus kecil dapat
PKL Di Apotek Sanggabuana Page 6

digunakan untuk menyimpan obat-obatan dalam kaleng atau botol. (7) Apabila persediaan obat cukup banyak, maka biarkan obat tetap dalam box masing-masing, ambil seperlunya dan susun dalam satu dus bersama obat-obatan lainnya. Pada bagian luar dus dapat dibuat daftar obat yang disimpan dalam dus tersebut. (8) Obat-obatan yang mempunyai batas waktu pemakaian maka perlu dilakukan rotasi stok agar obat tersebut tidak selalu berada dibelakang yang dapat menyebabkan kadaluarsa. c. Pencatatan stok obat Fungsi : Kartu stok digunakan untuk mencatat mutasi obat (penerimaan, pengeluaran, hilang, rusak atau kadaluarsa). Tiap lembar kartu stok hanya diperuntukkan mencatat data mutasi 1 (satu) jenis obat. Tiap baris data hanya diperuntukkan mencatat 1 (satu) kejadian mutasi obat. Data pada kartu stok digunakan untuk menyusun laporan, perncanaan pengadaan-distribusi dan sebagai pembanding terhadap keadaan fisik obat dalam tempat penyimpanannya.

Kegiatan yang harus dilakukan : Kartu stok diletakkan bersamaan/berdekatan dengan obat bersangkutan Pencatatan dilakukan secara rutin dari hari ke hari Setiap terjadi mutasi obat ( penerimaan, pengeluaran, hilang, rusak/daluwarsa ) langsung dicatat di dalam kartu stok Penerimaan dan pengeluaran dijumlahkan pada setiap akhir bulan.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 7

Informasi yang didapatkan : Jumlah obat yang tersedia (sisa stok) Jumlah obat yang diterima Jumlah obat yang keluar Jumlah obat yang hilang/rusak/daluwarsa Jangka waktu kekosongan obat

d. Pengamanan mutu obat Secara teknis, kriteria mutu obat mencakup identitas, kemurnian, potensi, keseragaman dan ketersediaan hayatinya.

7. Tata Cara Pendirian Apotek Sesuai dengan keputusan Menteri Kesehatan No.

1332/MENKES/SK/X/2002 Pasal 7 dan 9 tentang ketentuan dan Tata Cara Pemberian Izin Apotek adalah sebagai berikut : a. Pemberian izin Apotek diajukan kepada Kepala kantor Dinas Kesehatan kabupaten/Kota dengan menggunakan contoh formulir model APT-1. b. Dengan menggunakan formulir APT-2 Kepala Dinas

Kesehatan Kabupaten/kota selambat-lambatnya 6 (enam) hari setelah menerima permohonan dapat meminta bantuan teknis kepada Kepala Badan POM untuk melakukan pemeriksaan setempat terhadap kesiapan Apotek untuk melakukan kegiatan. c. Tim Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota atau Kepala Badan POM selambat-lambatnya 6 (enam) hari kerja setelah permintaan bantun teknis dari Kepala Dinas Kesehatan kabupaten/Kota melaporkan hasil pemeriksaan setempat

dengan menggunakan contoh formulir APT-3. d. Dalam hal pemeriksaan sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan (3) tidak dilaksanakan, Apoteker pemohon dapat membuat surat pernyataan siap melakukan kegiatan kepada Kepala

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 8

Kantor Dinas kesehatan Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan Kepada Kepala Dinas Propinsi dengan menggunakan contoh formulir model APT-4. e. Dalam jangka waktu 12 (dua belas) hari kerja setelah diterima laporan pemeriksaan sebagaimana dimaksud ayat (3) atau pernyataan dimaksud ayat (4) Kepala Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat mengeluarkan Surat Izin Apotek dengan menggunakan formulir model APT-5. f. Dalam hal hasil pemeriksaan Tim Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota atau Kepala Badan POM dimaksud (3) masih belum memenuhi syarat Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota setempat dalm waktu 12 (dua belas) hari kerja mengeluarkan Surat Penundaan dengan menggunakan contoh formulir model AFT-6. g. Terhadap Surat Penundaan sebagaimana dimaksud (6), Apoteker diberi kesempatan untuk melengkapi persyaratan yang belum dipenuhi selambat-lambatnya dalam 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Penundaan. h. Terhadap permohonan izin Apotek ternyata tidak memenuhi persyaratan yang dimaksud pasal 5 dan atau pasal 6 atau lokasi Apotek tidak sesuai dengan permohonan, maka Kepala Dinas Kesehatan/Kota setempat dalam rangka waktu selambatlambatnya duabelas hari kerja wajib mengeluarkan Surat Penolakan disertai alasan-alasannya dengan menggunakan contoh formulir model APT-7. Alur proses Perizinan Apotek terlampir. Syarat Permohonan Izin Apotek : a. Surat Permohonan Izin Apotek yang dilengkapi dengan : 1) Salinan/Fotocopy Surat Izin Kerja Apoteker 2) Salinan/Fotocopy Kartu tanda Penduduk 3) Salinan/Fotocopy denah bangunan

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 9

4) Surat yang mengatakan status bangunan dalam bentuk akte hak milik/sewa/kontrak 5) Daftar AA dengan mencantumkan nama, alamat, tanggal lulus, dan nomor Surat Izin Kerja 6) Asli dan salinan/fotocopy Surat Izin Atasan bagi pemohon Pengawai Negeri, Anggota ABRI, dan Pegawai Instansi Pemerintah lainnya. 7) Akte perjanjian Kerjasama Apoteker Pengelola Apotek dengan pemilik Saran Apotek 8) Surat pernyataan Pemilik Sarana tidak terlibat

pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang obat 9) Rekomendasi untuk Apoteker pengelola Apotek dari Organisasi Profesi (IAI) setempat 10) Pasfoto APA ukuran 4x6= 2 lembar. b. Melengkapi Syarat dari Pemda (UPPT) : 1) SITU ( Surat Izin Tempat Usaha ) 2) Izin Reklame 3) SIUP ( Surat Izin Usaha Perdagangan ) (Anonima, 2002).

8. Persyaratan Pendirian Apotek Menurut Kepmenkes RI No. 1332/Menkes/SK/X/2002, disebutkan bahwa persyaratan-persyaratan Apotek adalah sebagai berikut : a. Untuk mendapatkan Izin Apotek, Apoteker atau Apoteker yang bekerjasama dengan pemilik sarana yang telah memenuhi persyaratan harus siap dengan tempat, perlengkapan termasuk sediaan farmasi dan perbekalan farmasi yang lain yang merupakan milik sendiri atau milik pihak lain.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 10

b. Sarana Apotek dapat didirikan pada lokasi yang sama dengan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi. c. Apotek dapat melakukan kegiatan pelayanan komoditi yang lain di luar sediaan farmasi ( Anonima, 2002 ). Beberapa persyaratan yang harus diperhatikan dalam pendirian Apotek adalah : a. Lokasi dan Tempat Jarak antara Apotek tidak lagi dipersyaratkan, namun sebaiknya tetap mempertimbangkan segi penyebaran dan pemerataan pelayanan kesehatan, jumlah penduduk, dan kemampuan daya beli penduduk disekitar lokasi Apotek, Kesehatan lingkungan, keamanan dan mudah dijangkau masyarakat dengan kendaraan. b. Bangunan dan Kelengkapan Bangunan Apotek harus mempunyai luas dan memenuhi persyaratan yang cukup serta memenuhi persyaratan teknis sehingga dapat menjamin kelancaran pelaksanaan tugas dan fungsi Apotek serta memelihara mutu perbekalan kesehatan di bidang farmasi. Bangunan Apotek sekurang-kurangnya terdiri dari ruang tunggu, ruang administrasi dan ruang kerja Apoteker, ruang penyimpanan obat, ruang peracikan dan penyerahan obat, tempat pencucian obat, kamar mandi dan toilet. Bangunan Apotek juga harus dilengkapi dengan sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, penerangan yang baik, alat pemadam kebakaran yang berfungsi baik, ventilasi dan sistem sanitasi yang baik dan memenuhi syarat higienis, papan nama yang memuat nama Apotek, nama APA, nomor SIA, alamat Apotek, nomor telepon Apotek.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 11

c. Perlengkapan Apotek Apotek harus memiliki perlengkapan, antara lain ; a) Alat pembuangan, pengolahan dan peracikan seperti timbangan, mortar, gelas ukur, dan lain-lain. b) Perlengkapan dan alat penyimpana, dan perbekalan farmasi, seperti lemari obat dan lemari pendingin. c) Wadah pengemas dan pembungkus, etiket dan plastik pengemas. d) Tempat penyimpanan khusus narkotika, psikotropika dan bahan beracun. e) Buku standar Farmakope Indonesia, ISO, MIMS, DPHO, serta kumpulan peraturan per-UU berhubungan dengan Apotek. f) Alat administrasi, seperti blanko pesanan obat, faktur, kwintansi, salinan resep dan lain-lain ( Anonima, 2002 ). yang

9. Tata cara Pelaporan Narkotika Apotek berkewajiban menyusun dan mengirimkan laporan paling lambat tanggal 10 setiap bulannya. Dalam laporan tersebut diuraikan mengenai pembelian/pemasukan dan penualan/pengeluaran narkotika yang ada dalam tanggung jawabnya dan ditandatangani oleh APA. Laporan tersebut ditujukan kepada Kepala Dinas Kesehatan

Kabupaten/Kota setempat dengan tembusan : 1) Dinas Kesehatan Provinsi setempat 2) Kepala Balai POM setempat 3) Penanggung jawab Narkotika PT. Kimia Farma (persero) Tbk 4) Arsip Laporan penggunaan Narkotika tersebut terdiri dari : 1) Laporan pemakaian bahan baku Narkotika 2) Laporan penggunaan sediaan jadi Narkotika

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 12

3) Laporan khusus penggunaan Morfin dan Petidin

10. Pelanggaran Apotek a. Dalam melakukan tugas dan fungsinya, Apotek mengenal beberapa istilah pelanggaran dalam melakukan kegiatannya. Jenis

pelanggaran Apotek menganal beberpa istilah pelanggaran dalam melakukan kegiatannya, jenis pelanggaran Apotek dapat

dikatagorikan dalam dua macam berdasarkan berat dan ringannya pelanggaran tersebut (Belladona dkk, 2011). Kegiatan yang termasuk pelanggaran berat Apotek meliputi: a. Melakukan kegiatan tanpa ada tenaga teknis farmasi. Kondisi ini tidak boleh terjadi dan dilakukan secara sengaja.karena komoditi di Apotek salah satunya adalah obat yang peredanya diatur dalam perundang-undangan yang berlaku. b. Terlibat dalam penyaluran atau penyimpanan obat palsu atau peredaran gelap, peredaran gelap yang dimaksud adalah

penggolongan obat dari narkotika. Psikotropika dan obat keras. c. Pindah alamat Apotek tanpa izin. Dalam pengajuan untuk mendapatkan izin Apotek, telah dicantumkan denah dan lokasi Apotek, sehingga ketika ingin pindah harus mendapat persetujuan Dinas Kesehatan Kab/Kota. d. Menjual narkotika tanpa resep dokter. Penyaluran dan penggunaan telah diatur dalam Undang-Undang No 35 Tahun 2009, kegiatan ini hanya boleh dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai izin dan harus berdasarkan resep dan indikasi penyakit yang jelas. Penyaluran tanpa resep dan indikasi penyakit yang jelas. Penyularan tanpa resep akan dikenai sanksi material dan atau pidana minimal 4 tahun.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 13

b. Kerjasama dengan Pedagangan Besar Farmasi (PBF) dalam menyalurkan obat kepada pihak yang tidak berhak dalam jumlah besar. Selain merusak pasar, kegiatan seperti ini akan

mengacaukan sistem peredaran obat baik di Apotek, distributor, maupun pabrik. Akibat yang mungkin ditimbulkan adalah peredaran/penjualan obat oleh tenaga bukan farmasi sehingga masyarakat/konsumen tidak terlindungi bahaya penyalahgunaan obat (Belladona dkk, 2011). Kegiatan yang termasuk pelanggaran ringan Apotek meliputi : c. Tidak menunjukkan Apotek Pendamping pada waktu Apoteker Pengelolaan Apotek (APA) tidak bisa hadir pada jam buka Apotek. d. Mengubah denah Apotek tanpa izin. Tidak ada pemberitahuan kepada Dinas Kesehatan setempat. e. Menjual obat daftar G/obat keras kepada yang tidak berhak f. Melayani resep yang tidak jelas keabsahannya. Nama, Surat Izin Kerja (SIK) dan alamat praktek dokter yang tidak terlihat jelas dibagian kepala resep. Jika resep semacam ini dilayani, maka ini termasuk suatu tindakan pelanggaran. g. Menyimpan obat rusak, tidak mempunyai penandaan atau belum dimusnahkan. Termasuk obat yang dikategorikan expired date h. Obat dalam kartu stok tidak sesuai dengan jumlah yang ada. i. Salinan resep yang tidak ditanda tangani oleh Apoteker. j. Melayani salinan resep dari Apotek lain. k. Lemari narkotika tidak memenuhi syarat l. Resep narkotika tidak dipisahkan. m. Buku narkotika tidak diisi atau tidak bisa dilihat atau diperiksa. n. Tidak mempunyai atau mengisi kartu stok hingga tidak dapat diketahui dengan jelas asal usul obat tersebut (Belladona dkk, 2011).

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 14

11. Sanksi Apotek Setiap pelanggaran Apotek terhadap ketentuan yang berlaku dapat dikenakan sanksi, baik sanksi administrasi maupun sanksi pidana. Sanksi administrasi yang diberikan menurut Keputusan Mentri Kesehatan RI No.1332/MENKES/SK/X/2002 No.922/MENKES/PER/X/1993 adalah : a. Peringatan secara tertulis kepada APA secara tiga kali berturutturut dengan tenggang waktu masing-masing dua bulan. b. Pembekuan izin Apotek untuk jangka waktu selama-lamanya enam bulan sejak dikeluarkan penetapan pembekuan izin Apotek. o. Pembekuan izin Apotek tersebut dapat dicairkan kembali apabila Apotek tersebutdapat membuktikan bahwa seluruh persyaratan yang ditentukan dalam keputusan Mentri Kesehatan RI dan Permenkes tersebut sudah dipenuhi (Belladona dkk, 2011). dalam Permenkes

12. Pencabutan Izin Apotek Pebcabutan izin Apotek dilakukan apabila : a. Apoteker Pengelola Apotek (APA) tidak memenuhi ketentuan b. Apoteker Pengelola Apotek (APA) tidak memenuhi kewajiban c. Apoteker Pengelola Apotek (APA) melanggar perundangundangan d. SIK APA dicabut. Pencabutan izin Apotek dilakukan oleh Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala BPOM dan Menteri Kesehatan. Pencabutan izin Apotek dilakukan setelah: a. Peringatan tertulis sebanyak tiga kali dengan tenggang waktu 2 bulan b. Pembekuan izin selama 6 bulan (Belladona,dkk 2011).

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 15

B. OBAT 1. Definisi Obat Obat adalah suatu bahan yang dimaksud untuk digunakan dalam penetapan diagnose, mencegah, mengurangi, menghilangkan,

menyembuhkan penyakit atau gejala penyakit, luka atau kelainan badaniah atau rohaniah pada manusia dan hewan untuk memperelok badan atau bagian badan manusia (Anief, 1977). Obat yaitu semua bahan tunggal/campuran yang dipergunakan oleh semua makhluk untuk bagian dalam maupun luar, guna mencegah, meringankan, ataupun menyembuhkan penyakit (Syamsuni, 2005). Jenis-jenis obat, yaitu : a. Obat Tradisional ialah obat jadi atau obat berbungkus yang berasal dari bahan tumbuh-tumbuhan, hewan, mineral dan sediaan gelanik atau campuran dari bahan-bahan tersebut yang usaha pengobatan berdasarkan pengalaman (Per. MenKes No.

1079/MENKES/-Per/VII/1976) b. Obat Jadi yakni obat dalam keadaan murni atau campuran berupa serbuk, cairan, salep, tablet, pil, supositoria atau bentuk lain yang mempunyai nama teknis sesuai dengan F.I (Farmakope Indonesia) atau buku-buku lain yang telah ditetapkan oleh Pemerintah Indonesia. c. Obat paten yakni obat jadi dengan nama dagang yang terdaftar atas nama sipembuat atau yang dikuasai dan dijual dalam bungkus asli dari pabrik yang memproduksinya. d. Obat baru ialah obat yang terdiri dari atau berisi zat baik sebagai bagian yang berkhasiat, maupun yang tidak berkhasiat, (misalnya lapisan, pengisi, pelarut, bahan pembantu/vehiculum) atau komponen lain yang belum dikenal, sehingga tidak diketahui akan khasiat dan keamanannya. Juga obat yang belum dimasukkan dalam F.I (farmakope Indonesia) yang secara resmi belum digunakan/diimpor di Indonesia.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 16

e. Obat esensial adalah obat yang paling dibutuhkan untuk pelaksanaan pelayanan kesehatan bagi masyarakat terbanyak yang meliputi diagnose, profilaksi terapi dan rehabilitasi. f. Obat generic adalah obat esensial yang tercantum dalam Daftar Obat Esensial Nasional (DOEN) dan mutunya terjamin karena diproduksi sesuai persyaratan Cara Pembuatan Obat yang Baik (C.P.O.B) dan diuji oleh Pusat Pengujian Obat dan Makanan Nasional (PPOMN), Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI. g. Obat Wajib Apotek ialah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep Dokter oleh Apoteker di Apotek (Syamsuni, 2005).

2. Penggolongan Obat a. Menurut kegunaan obat : 1) Untuk menyembuhkan (terapeutik) 2) Untuk mencegah (profilaksis) 3) Untuk diagnosis (diagnostik) b. Menurut cara penggunaan obat : 1) Medicamentum ad usum internum (pemakaian dalam) melalui oral, beretiket putih 2) Medicamentum ad usum externum (pemakaian luar) melalui implantasi, injeksi, membrane mukosa, rectal, vaginal, nasal, ophthalmic, aurical/gargarisma/gargle, beretiket biru. c. Menurut cara kerjanya : 1) Lokal : obat yang bekerja pada jaringan setempat seperti pemakaian pada kulit, anus/dubur. 2) Sistemik : obat yang sebelum bereaksi ketempat yang sakit harus melalui sirkulasi darah terlebih dahulu dan digunakan melalui mulut/oral. d. Menurut sumber obat : Obat yang kita gunakan dapat bersumber dari : 1) Tumbuhan (flora, nabati)

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 17

2) Hewan (fauna,hayati) 3) Mineral ( pertambangan) 4) Sintesis ( tiruan/buatan ) 5) Mikroba/fungi/jamur e. Menurut bentuk sediaan obat 1) Bentuk padat ; contohnya serbuk, tablet, pil, kapsul, dan supositoria 2) Bentuk setengah padat ; contohnya salep (unguentum), krim, pasta, cerata, gel, dan salep mata (occulenta) 3) Bentuk cair/larutan ; contohnya potio, sirup, eliksir, obat tetes, gargarisma, clisma, epithema, injeksi, infuse intravena, douche, dan lation. 4) Bentuk gas ; contohnya inhalasi/spray/aerosol. f. menurut proses Fisiologi dan Biokimia Dalam Tubuh 1) Obat farmakodinamika. Bekerja terhadap inang (host) dengan jalan mempercepat atau memperlambat proses fisiologi atau dalam tubuh, misalnya hormone, diuretic,

fungsi biokimia

hipnotik, dan obat otonom. 2) Obat kemoterapeutik. Obat ini dapat membunuh parasit dan kuman didalam tubuh inang. Obat ini hendaknya memiliki kegiatan farmakodinamika sekecil-kecilnya terhadap organisme inang dan berkhasiat untuk melawan sebanyak mungkin parasit (cacing, protozoa) dan mikroorganisme (bakteri, virus). Obatobatan neoplasma (onkolitika, sitostatika, atau obat kanker) juga dianggap termasuk golongan ini. 3) Obat diognostik, yaitu oabat yang membantu dalam

mendiognosis (pengenalan penyakit), misalnya barium sulfat untuk membantu diagnosis pada saluran lambung usus, serta natriumiopanoat dan asam iod organic lainnya untuk membantu diagnosis pada saluran empedu.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 18

g. Menurut undang-undang 1) Pengelolaan Obat Narkotika Berdasarkan undang-undang No 25 tahun 2009 tentang Narkotika, narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman baik sintetis maupun semisintetis yang dapat

menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa nyeri, dan dapat menimbulkan ketergantungan. Narkotika dibedakan dalam 3 golongan : a) Narkotika golongan I adalah narkotika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi sangat tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : heroin, opium, kokain. b) Narkotika golongan II adalah narkotika berkhasiat

pengobatan digunakan sebagai pilihan terakhir dan dapat digunakan dalam terapi dan atau/untuk tujuan

pengembangan ilmu pengetahuan dan mempunyai potensi tinggi mengakibatkan ketergantungan. Contoh : morfin dan petidin. c) Narkotika golongan III adalah yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan atau/untuk tujuan pengembangan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakibatkan ketergantungan. Contoh : kodein dan etilmorfin (Anonim, 2009)

2) Obat Keras Obat keras adalah semua obat yang : a) Mempunyai takaran/dosis maksimum (DM) atau yang tercantum dalam daftar obat keras yang ditetapkan pemerintah. b) Diberi tanda khusus lingkaran bulat berwarna merah dengan garis tepi hitam dan huruf K yang menyentuh garis tepinya.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 19

c) Semua obat baru, kecuali dinyatakan oleh pemerintah (Depkes RI) tidak membahayakan. d) Semua obat sediaan parenteral/injeksi/infuse intravena.

3) Obat Bebas Terbatas Obat bebas terbatas adalah obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen/pabriknya dan diberi tanda lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam serta diberikan tanda peringatan (P No. 1 s/d No 6, misalnya P No 1 ; Awas obat keras, bacalah aturan pakainya ).

4) Obat Bebas Obat bebas adalah oabat yang dapat dibeli secara bebas dibeli secara bebas dan tidak membahayakan bagi si pemakai dalam batas dosis yang dianjurkan. Diberi tanda lingkaran bulat berwarna hijau dengan garis tepi hitam. (Syamsuni, 2006).

h.

OWA (Obat Wajib Apotek) Berdasarkan keputusan Menteri Kesehatan No.

347/MenKes/SK/VII/1990 tentang obat wajib apotek. Obat keras yang dapat diserahkan tanpa Resep Dokter oleh Apoteker di Apotek : 1) Oral kontrasepsi baik tunggal maupun kombinasi untuk 1 siklus 2) Obat saluran cerna yang terdiri dari : a) Antasida + anti spasmodik + sedatif b) Anti spamodik (papaverin, hioscin, atropin) c) Analgetik anti spasmodik 3) Obat mulut dan tenggorokan, maksimal 1 botol 4) Obat saluran nafas yang terdiri dari obat asma tabet atau mukolitik, maksimal 20 tablet 5) Obat yang mempengaruhi sistem neuromuskular yang terdiri dari :

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 20

a) Analgetik

(antalgin,

asam

mefenamat,

glavenin

diazepam/derivatnya) b) Antihistamin, maksimal 20 tablet. 6) Antiparasit yang terdiri dari obat cacing, maksimal 6 tablet 7) Obat kulit topical yang terdiri dari : a) Semua salap/cream antibiotik b) Semua salap/cream kortikosteroid c) Semua salap/cream antifungi d) Antiseptic lokal e) Enzim anti radang topical f) Pemutih kulit, maksimal 1 tube ( Daris, 2008).

3. Cara Kerja Obat Secara umum obat bekerja dengan cara mempengaruhi

(metabolisme) sel-sel penderita dan/atau mempengaruhi (metabolisme) sel-sel mikroorganisme atau parasit-parasit penyebab penyakit ( Zaman, 2006). Untuk menghasilkan efek farmakologi atau efek terapi, obat harus mencapai tempat aksinya dalam konsentrasi yang cukup untuk menimbulkan respon. Tercapainya konsentrasinya obat tergantung dari jumlah obat yang diberikan, tergantung pada keadaan dan kecepatan obat diabsorbsi dari tempat pemberian dan distribusinya oleh aliran darah ke bagian yang lain dari badan ( Zaman, 2006).

4. Jenis Obat dan Bahan Obat. Jenis obat dan atau bahan obat yang ditulis dibelakang R/ pada resep dapat berupa : obat baku, obat paten, obat jadi atau preparat standar, ataupun campuran yang merupakan komposisi sendiri dari dokter yang menulis resep. Ketiga bentuk diatas dapat mengandung hanya satu zat tunggal yang berkhasiat sebagai obat pokok (remedium

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 21

cardinale), atau merupakan kombinasi dari beberapa obat pokok dengan atau tanpa obat penunjang (remedium adjuvans, korigens dan vehikulum) ( Zaman, 2006).

5. Cara dan Waktu Penggunaan Obat Yang Tepat a. Cara Penggunaan Obat Bermacam-bermacam cara penggunaan obat yang

dimungkinkan yaitu: obat suntik ; obat yang ditelan atau diminum (oral) ; sublingual (di bawah lidah) ; obat luar ; obat kumur ; obat rectal ; intravaginal ; intraurethral ; dan sebagainya. Cara penggunaan obat yang tepat disesuaikan dengan penderita dan indikasinya, serta sifat-sifat fisika-kimia obatnya.

b. Waktu Penggunaan Obat Untuk mencapai efek terapeutik yang paling optimal (disamping menghilangkan atau sekurang-kurangnya mengurangi efek samping obat yang menganggu) harus ditetapkan pula waktu yang tepat suatu obat yang digunakan. Waktu penggunaan obat harus dicantumkan pada resep, sehingga nantinya juga tertulis pula pada etiket wadah obat yang diterima penderita dari Apotek. Diantara waktu penggunaan obat yang penting adalah : 1) Sebelum makan : ante coenam (a.c) 2) Sesudah makan : post coenam (p.c) 3) Sedang waktu makan : durante coenam (d.c) 4) Malam sebelum tidur : ante coenam (a.c) 5) Pagi hari : mane 6) Sesudah buang air besar : post defaecatio (post. deface)

6. Tanggal Kadaluarsa Tanggal kadaluarsa obat (expiration date) dicantum pada wadah obat yang setelah tanggal/waktu tertentu keamanan pemakaiannya tidak

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 22

dapat dipertanggungjawabkan lagi. Bila kadaluarsa, sesuatu obat tidak lagi memenuhi syarat untuk dipergunakan. Suhu penyimpanan obat sangat berpengaruh : kalau suatu obat tidak disimpan sesuai dengan aturan suhunya, maka ada kemungkinan jauh sebelum tanggal kadaluarsa yang tercantum, obat tersebut sudah rusak. Obat-obat yang mempunyai tanggal kadaluarsa antara laian antibiotika, sera dan Vaccin. Kebanyakan antibiotika tanggal kadaluarsanya kira-kira dua hingga lima tahun setelah pembuatan, Sera dan Vaccin kira-kira enam bulan hingga satu tahun setelah pembuatan di pabrik ( Zaman, 2006).

7. Cara Penyimpanan Obat Secara umum, obat harus disimpan sedemikian rupa sehingga tidak berubah oleh pengaruh kelembaban udara, suhu, sinar/cahaya. Bahan obat yang rusak atau basah karena kelembaban udara, harus disimpan dalam wadah yang udaranya kering (missal dikeringkan dengan CaO atau bahan exiccator lainnya). Bahan obat yang mudah rusak karena suhu, harus disimpan sesuai dengan petunjuk

penyimpanan. Bahan obat yang mudah rusak karena sinar cahaya, terutama cahaya UV, harus disimpan dalam wadah yang tidak tembus cahaya UV. Sedangkan obat yang bersifat racun, harus disimpan dalam almari terkunci, khususnya bagi obat-obat yang tergolong narkotika ( Zaman, 2006). Berikut adalah cara penyimpanan obat yang benar : Jauhkan dari jangkauan anak-anak a. Simpan obat dalam kemasan asli dan dalam wadah tertutup rapat jangan mengganti kemasan botol ke botol lainnya. b. Jangan pernah mencampur obat dalam bentuk sediaan tablet dan kapsul dalam satu wadah. c. Simpan obat di tempat yang sejuk dan terhindar dari sinar matahari langsung.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 23

d. Jagan menyimpan kapsul atau tablet di tempat yang panas atau lembab karna dapat menyebabkan kerusakan pada obat tersebut. e. Obat dalam bentuk cairan jangan disimpan dalam lemari pendingin kecuali disebutkan pada etiket atau kemasan obat. f. Hindarkan obat dalam bentuk cair menjadi beku. g. Jangan tinggalkan obat didalam mobil dalam jangka waktu lama, karena perubahan suhu dapat merusak obat. h. Jangan simpan obat yang telah kadaluarsa ( Zaman, 2006).

8. Dosis Obat Kecuali bila dinyatakan lain maka yang dimaksud dengan dosis obat adalah sejumlah obat yang memberikan efek terapeutik pada penderita dewasa, juga disebut dosis lazim atau dosis medicinalis atau dosis terapeutik. Bila dosis obat yang diberikan melebihi dosis terapeutik terutama obat yang tergolong racun ada kemungkinan menjadi racun, dinyatakan sebagai dosis toxica yang dapat sampai mengakibatkan kematian, disebut sebagai dosis letalis ( Zaman, 2006). Dosis maksimum obat yaitu batas dosis yang relatif masih aman diberikan kepada penderita. Angka yang menunjukkan Dosis

Maksimum (D.M) untuk suatu obat ialah dosis tertinggi yang masih dapat diberikan kepada penderita dewasa, ini umumnya dicantumkan dalam satu gram, milligram, microgram atau satuan internasional, kecuali untuk beberapa cairan ( Zaman, 2006).

Faktor yang memodifikasi aksi obat yaitu : a) Berat badan ( mg/kg berat badan) b) Umur c) Jenis kelamin d) Kondisi patologik pasien e) Cara pemakaian obat ( Zaman, 2006).

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 24

9. Pengadaan dan penyimpanan Obat Dalam memperoleh obat dan perbekalan farmasi, Apotek harus mengambil dari pabrik farmasi, pedagang besar farmasi (PBF), Apotek lainnya, atau sarana distribusi lain yang sah. Obat-obat tersebut harus memenuhi ketentuan daftar obat wajib Apotek. Surat pesanan obat dan perbekalan farmasi lainnya harus ditandatangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) dengan mencantumkan nama dan nomor SIK. Jika APA berhalangan dapat diwakilkan oleh Apoteker pendamping atau Apoteker pengganti (Syamsuni, 2005) Surat pesanan obat khususnya obat-obat narkotika dan psikotropika harus ditandatangani oleh APA, atau jika berhalangan dapat diwakili oleh Apoteker pendamping atau Apoteker pengganti dengan

menyebutkan nama dan SIK-nya. (Syamsuni, 2005) Obat dan bahan obat harus disimpan dalam wadah yang cocok dan harus memenuhi ketentuan pembungkusan dan penandaan sesuai Farmakope edisi terbaru atau yang telah ditetapkan oelh Badan POM. Penerimaan, penyimpanan dan penyaluran obat serta perbekalan kesehatan di bidang farmasi harus diatur dengan administrasi. Obat-obat yang juga disimpan dalam persediaan harus disimpan sedemikian rupa, sehingga tidak berubah sifatnya karena pengaruh sinar matahari, udara atau kelembaban udara. Bahan-bahan menguap atau yang mengandung bahan menguap atau yang mudah berubah, harus disaimpan dalam botol atau kaleng yang ditutup baik-baik atau bejana yang tepat (Syamsuni, 2005).

Suhu penyimpanan : a) Dingin adalah suhu tidak lebih dari 8o, lemari pendingin mempunyai suhu antara 2
o

dan 8 o, sedangkan lemari

pembeku mempunyai suhu anatara -20 o dan -10 o.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 25

b) Sejuk adalah suhu antara 8 o dan 15 o. Kecuali dinyatakan lain bahan yang harus disimpan pada suhu sejuk dapat disimpan didalam lemari pendingin. c) Suhu kamar adalah suhu pada ruang kerja. Suhu kamar terkendali adalah suhu diatur antara 15 o dan 30 o. d) Hangat adalah suhu antara 30 o dan 40 o. e) Panas berlebih adalah suhu diatas 40 o (Syamsuni,2005).

10. Pemusnahan Obat Pemusnahan obat dan perbekalan kesehatan dibidang farmasi karena rusak, dilarang atau kadaluarsa dilakukan dengan cara dibakar, ditanam atau dengan cara lain yang ditetapkan oleh Badan POM. Pemusnahan tersebut harus dilaporkan oleh APA secara tertulis kepada dinas kesehatan setempat dengan mencantumkan : a. Nama dan alamat apotek b. Nama APA c. Perincian obat dan perbekalan kesehatan di bidang farmasi yang akan dimusnahkan d. Rencana tanggal dan tempat pemusnahan e. Cara pemusnahan (Syamsuni,2005).

C. RESEP 1. Definisi Resep Resep adalah permintaan tertulis dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan yang diberi izin berdasarkan peraturan perundangundangan yang berlaku kepada Apoteker Pengelola Apotek untuk menyiapkan dan atau membuat, meracik serta menyerahkan obat kepada pasien (Syamsuni,2005).

2. Jenis Resep Resep disebut juga Furmulae Medicae, terdiri dari dua jenis yaitu :

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 26

a. Formulae Officinalis, yaitu resep yang tercantum dalam buku Farmakope atau buku lainnya dan merupakan resep standar. b. Farmakope Magitralis, yaitu resep yang ditulis oleh dokter.

Komponen resep menurut fungsi bahan obatnya adalah : 1) Remedium Cardinale, yaitu bahan atau obat yang berkhasiat obat. 2) Remedium Adjunvantia/adjuvans, yaitu bahan atau obat yang menunjang kerja dari bahan obat utama. 3) Corrigens, yaitu bahan obat tambahan guna memperbaiki warna, rasa, dan bau obat utama. Corrigens berupa : a. Corrigens Actionis, yaitu obat yang memperbaiki atau menambah efek obat pertama. b. Corrigens Saporis, (memperbaiki rasa) c. Corrigens Adoris, (memperbaiki bau) d. Corrigens Coloris (memperbaiki warna) e. Corrigens Solubilis untuk memperbaiki kelarutan dari obat utama 4) Constituen/Vehiculum/Exipiens, yaitu bahan tambahan ynag

dipakai sebagai bahan pengisi dan pemberi bentuk untuk memperbesar volume obat.

3. Resep Lengkap Resep yang lengkap memuat hal-hal sebagai berikut : a. Nama, alamat, dan nomor izin praktek dokter, dokter gigi atau dokter hewan. b. Tanggal penulisan resep. c. Tanda R/ pada bagian kiri setiap penulisan resep. d. Nama setiap obat dan komposisinya e. Aturan pemakaian obat yang tertulis

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 27

f. Tanda tangan atau paraf dokter penulisan resep sesuai dengan perundang-undangan yang berlaku. g. Nama pasien/jenis hewan, umur serta alamat pasien/pemilik hewan. h. Tanda seru dan paraf dokter untuk resep yang mengandung obat dalam jumlah melebihi dosis maksimalnya ( Zaman, 2006).

D. Peran Asisten Apoteker dalam Pelayanan Farmasi 1. Definisi Asisten Apoteker Asisten Apoteker yang dimuat dalam keputusan Mentri Kesehatan RI No.1332/MENKES/SK/X/2002 adalah mereka yang berdasarkan peraturan perundang-undangan yang berlaku berhak melakukan pekerjaan kefarmasian sebagai Asisten Apoteker. Sedangkan asisten Apoteker menurut pasal 1 Keputusan Mentri Kesehatan RI No.679/MENKES/V/2003, tentang Registrasi dan Izin Kerja Asisten Apoteker menyebutkan bahwa Asisten Apoteker adalah Tenaga Kesehatan yang berijasah Sekolah Menengah Farmasi, Akademi Farmasi Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan, Akademi Analisis Farmasi dan Makanan Jurusan Analis Farmasi dan Makanan Politeknik Kesehatan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

2. Tugas dan Fungsi Asisten Apoteker a. Fungsi Pembelian meliputi : mendata kebutuhan barang, membuat keputusan pareto barang, mendata pemasok, merencanakan dan melakukan pembelian sesuai denganyang dibutuhkan, kecuali ada ketentuan lain dari APA, dan memeriksa harga. b. Fungsi Gudang meliputi ; menerima dan mengeluarkan

berdasarkan fisik barang, menata, merawat dan menjaga keamanan barang.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 28

c. Fungsi Pelayanan meliputi : melakukan penjualan dengan harga yang telah ditetapkan, menjaga kenyamanan ruang tunggu, melayani konsumen dengan ramah, dan membina hubungan baik dengan pelanggan ( Umar, 2005).

3. Tempat Kerja Asisten Apoteker Tenaga kefarmasian bekerja pada sarana kefarmasian yaitu tempat yang digunakan untuk melakukan pekerjaan kefarmasian antara lain industri farmasi termasuk obat tradisional dan kosmetika, instalasi farmasi, Apotek dan toko obat (Yahman, 2010).

4. Hak dan Kewajiban Asisten Apoteker Asisten Apoteker sebagai salah satu tenaga kefarmasian yang selalu bekerja di bawah pengawasan seorang Apoteker yang memiliki SIA (Surat Izin Apotek). Apoteker Pengelola Apotek (APA) merupakan yang bertanggung jawab di Apotek dalam melakukan pekerjaan kefarmasian (Yahman, 2010). Pelayanan kefarmasian yang dilakukan oleh Apoteker dan Asisten Apoteker di Apotek harus sesuai dengan standar profesi yang dimilikinya. Dimana seorang Apoteker dan Asisten Apoteker dituntut oleh masyarakat pengguna obat (pasien) harus bersifat professional dan baik (Yahman, 2010). Hak yang dimiliki oleh Asisten Apoteker menurut Keputusan Menteri Kesehatan RI No.1332/MENKES/SK/X/2002 adalah sebagai berikut : a. Mendapat gaji dan tunjangan selama bekerja b. Mendapatkan keuntungan yang diperoleh Apotek berdasarkan atas kesepakatan dengan Pemilik Sarana Apotek (PSA) c. Mendapat tunjangan kesehatan. d. Mendapatkan libur dan cuti tahunan. e. Mendapatkan jaminan keselamatan pada waktu bekerja.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 29

f. Memilih Apotek dan pindah ke Apotek lain sesuai dengan keinginan.

Sedangkan kewajiban Asisten Apoteker Menurut Keputusan Mentri Kesehatan RI No. 1332/MENKES/X/2002 adalah sebagai berikut ; 1. Melayani resep dokter sesuai dengan tanggung jawab dan standar profesinya dilandasi pada kepentingan masyarakat serta melayani penjualan obatyang dapat dibeli tanpa resep dokter. 2. Memberikan informasi : a. Yang berkaitan dengan penggunaan atau pemakaian obat yang diserahkan kepada pasien. b. Penggunaan obat secara tepat, aman dan rasional atas permintaan masyarakat. Informasi yang diberikan harus benar, jelas dan mudah dimengerti serta cara penyampaiannya disesuiakan dengan kebutuhan, selektif,etika, bijaksana dan hati-hati. Informasi yang diberikan kepada pasien sekurangkurangnya meliputi : cara pemakaian obat, cara penyimpanan obat, jangka waktu pengobatan, makanan/minuman/aktifitas yang hendaknya dihindari selama terapidan informasi lain yang diperlukan. 1. Mengormati hak pasien dan menjaga kerahasiaan identitas serta data kesehatan pribadi pasien. 2. Melakukan pengelolaan Apotek meliputi : a. Pembuatan, pengelolaan, peracikan, pengubahan bentuk,

pencampuran, penyimpanan dan penyerahan obat dan bahan obat. b. Pengadaan, penyimpanan, penyaluran, dan penyerahan sediaan farmasi lainnya. c. Pelayanan informasi mengenai sediaan farmasi.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 30

BAB III TINJAUAN UMUM

A. Sejarah Apotek Sanggabuana Apotek Sanggabuana merupakan salah satu dari sarana kesehatan, yang bertujuan untuk menciptakan daerah yang peduli akan kesehatan dan mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat Palangka raya. Apotek Sanggabuana berdiri pada tanggal 20 februari tahun 2008. Pemilik Sarana Apotek dan Penanggung Jawab Apotek adalah ibu Wiwik

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 31

Wiranti, S.Si, Apt, dibantu oleh sang suami yaitu bapak Olly Suryono. Apotek Sanggabuana beralamat di jalan Sanggabuana II No.02, Palangka Raya. Hal ini sangat menguntungkan bagi masyarakat sekitar yang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam hal obat-obatan, tentunya dengan lebih cepat karena Apotek ini dekat dengan perumahan masyarakat di daerah Sanggabuana. Di dalam Apotek ini dibagi menjadi beberapa bagian ruangan, bagian-bagian tersebut meliputi : ruang dokter (sudah tidak digunakan lagi), ruang tunggu, ruang racik, dan dapur ( yang meliputi kamar mandi ). Ruang tunggu diletakkan antara ruangan yang berfungsi sebagai tempat penerimaan resep dan pembayaran, dengan diberi pembatas berupa etalase obat bebas. Kemudian untuk ruang pembayaran dan penerimaan resep diletakkan pada bagian depan Apotek dengan posisi menghadap jalan dan ruangan dikelilingi dengan dua etalase obat bebas, hal ini berfungsi untuk memudahkan karyawan untuk mengamati pelanggan dan dapat

memberikan pelayanan secara cepat kepada pelanggan. Sedangkan untuk ruang peracikan dan ruang dokter (sudah tidak digunakan lagi) diletakkan di belakang ruang penerimaan, dan diteruskan dengan ruang dapur yang disertai kamar mandi. Untuk sistem peletakkan obat di Apotek Sanggabuana disusun berdasarkan alphabet, jenis sediaan (dipisah antara obat luar dan obat dalam), bentuk sediaan (salep, tablet, sirup dll), dan berdasarkan golongan obat (obat bebas, bebas terbatas dan obat keras). Di Apotek Sanggabuana ini tidak melayani resep yang mengandung narkotika dan psikotropika. Sedangkan untuk sistem pengeluaran obat, Apotek Sanggabuana memakai sistem secara FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expire First Out) sistem ini digunakan untuk menjamin, memelihara dan memudahkan pengeluaran barang agar, semua barang dapat terjual

sebelum jatuh tanggal kadaluarsanya, dan meminimalkan terjadinya kerugian baik untuk Apotek maupun untuk pelanggan yang menggunakan obat tersebut.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 32

B. Fungsi dan Tugas Apotek Apotek Sanggabuana dikelola oleh seorang Apoteker, dengan dibantu dua orang karyawan, selain melayani penjualan obat bebas, Apotek Sanggabuana juga melayani resep dokter.

C. Kegiatan Apotek Kegiatan di Apotek Sanggabuana dilakukan setiap hari dan dimulai dari jam 07.00 WIB dan diakhiri pada jam 22.00 WIB yang terbagi atas 2 waktu kerja (shift) yaitu pukul 07.00-14.00 dan pukul 14.00-22.00 WIB yang mendukung kelancaran kegiatan pelayanan tersebut sehingga diadakan pembagian kerja bagi karyawan. Kegiatan di Apotek Sanggabuana meliputi pengadaan barang, penjualan barang, pengelolaan resep dan perbekalan kesehatan, penjualan obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras.

D. Tempat dan Kedudukan Apotek Sanggabuana di jalan Sanggabuana II No.02, Palangka Raya 73111.

E. Struktur Organisasi Struktur organisasi merupakan susunan yang terdiri dari fungsifungsi dan hubungan-hubungan yang menyatakan keseluruhan kegiatan untuk mencapai suatu sasaran. Struktur keorganisasian pada Apotek

Sanggabuana Palangka raya dapat dilihat pada Gambar 2.1 Struktur organisasi Apotek Sanggabuana Palangka raya :

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 33

OWNER + APOTEKER

KARYAWAN I

KARYAWAN II

Gambar 2.1 Struktur organisasi Apotek Sanggabuana Palangkaraya

Keterangan : 1. Owner Orang yang memiliki perusahaan tersebut, owner bertugas

mengontrol staf/Asisten Apoteker dalam bekerja dan sekaligus memegang keuangan didalam penggajian karyawan. Owner juga bertugas menjadi admin untuk mengetahui semua data obat, mengolah data user,mengolah transaksi baik penjualan atau pembelian obat dan pembuatan laporan. 2. Apoteker Apoteker adalah orang yang bertanggung jawab di Apotek itu, yang mengontrol penjualan obat, dan pengecekan obat. 3. Karyawan Karyawan berfungsi untuk membantu menjalankan menejemen yang ada di apotek, baik dalam hal penjualan maupun pengelolaan sediaan obat yang ada di Apotek Sanggabuana.

BAB IV PEMBAHASAN

NAMA

: APRILLIA HURIYANI
Page 34

PKL Di Apotek Sanggabuana

NPM

: 09.71.10874

Mahasiswa

program

studi

D3

Farmasi

Muhammadiyah

Palangkaraya telah melakukan praktek kerja lapangan di Apotek Sanggabuana pada tanggal 06 Februari sampai tanggal 19 Februari 2012. Kegiatan praktek kerja lapangan ini dilaksanakan untuk melatih mahasiswa agar dapat menghadapi situasi kerja yang menuntut mereka untuk bersikap terampil, disiplin, kreatif, tekun dan jujur serta mempunyai etos kerja yang tinggi terhadap pekerjaan yang dihadapinya. Apotek Sanggabuana berdiri pada tanggal 20 februari 2008. Pemilik sarana dan penanggung jawab Apotek adalah Wiwik Wiranti, S.Si, Apt. Apotek Sanggabuana beralamatkan di jalan Sanggabuana II No. 02 (Depan Muara Jalan Bukit Raya) Palangkaraya. Apotek Sanggabuana merupakan salah satu Apotek yang melayani penjualan barang dan melayani resep. Dengan adanya Apotek ini akan mempermudah masyarakat disekitar untuk memperoleh obat karena tempatnya yang mudah dijangkau. Letak Apotek Sanggabuana ini bias dikatakan startegis karena jalan Sanggabuana banyak dilewati oleh masyarakat. Selain itu banyak juga pertokoan disamping ataupun didepan Apotek yang membuat tempat itu banyak dikunjungi oleh masyarakat. Pengadaan barang di Apotek Sanggabuana berdasarkan

perminataan dari bagian pelayanan , obat-obat yang banyak dikonsumsi masyarakat dan penualan obat bebas, obat bebas terbatas, obat keras yang dicatat dalam buku pemesanan, sebagai dasar pembelian obat ke distributor. Pembelian obat dilakukan berdasarkan stock, untuk menjamin tidak adanya obat yang menumpuk atau kekurangan persediaan barang. Dalam memperoleh obat dan perbekalan farmasi, Apotek harus mengambil dari pabrik farmasi, pedagang besar farmasi (PBF), Apotek lainnya atau sarana distribusi yang sah. Obat-obat tersebut harus memenuhi ketentuan daftar obat wajib Apotek. Surat pesanan obat dan

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 35

perbekalan farmasi lainnya harus di tanda tangani oleh Apoteker Pengelola Apotek (APA) dengan mencantumkan nama dan nomor SIK. Penyimpanan obat di Apotek Sanggabuana yaitu penyimpanan obat sementara dalam jumlah kecil. Penyimpanan obat dalam jumlah yang kecil ini untuk memudahkan pengawasan terhadap waktu kadaluarsa dan jumlah obat yang hampir habis. Untuk setiap penujualan obat maka banyaknya obat yang dijual dicatat dibuku penjualan obat dan di tuliskan harga obat tersebut. Sedangkan untuk obat dan perbekalan darmasi lainnya habis maka ditulis di buku stok obat. Penyusunan atau penyimpanan obat di Apotek Sanggabuana dilakukan berdasarkan alfabetis sehingga memudahkan dalam

pengambilan obat. Jenis sediaan (obat luar, obat dalam), bentuk sediaan (salep, tablet, sirup, dll) dan golongan obat (bebas, bebas terbatas, keras). Penyimpanan obat di dalam ruangan tengah di lemari jenis obat keras di simpan di ruang racik, karena obat-obat tersebut tidak boleh terlihat oleh umum dan memerlukan pengawasan khusus sehingga diletakkan di tempat yang tidak terlihat oelh pengunjung. Sedangkan sediaan supositoria yang memerlukan tempat penyimpanan dengan suhu rendah di simpan dalam lemari es untuk menjaga kestabilan bahan sediaan dan menjaga agar bentuk sediaan tetap dalam keadaan baik. Apotek Sanggabuana tidak memiliki lemari obat golongan narkotika dan psikotropika karena obat-obat jenis ini memerlukan pengawasan yang khusus oleh tenaga kefarmasian yang professional dan menghindar penyalahgunaan obat. Sistem pengeluaran barang di Apotek Sanggabuana menggunakan sistem FIFO (First In First Out) dab FEFO ( First Expire First Out). FIFO merupakan jenis penyusunan berdasarkan barang yang pertama kali datang yang dikeluarkan terlebih dahulu, sedangkan FEFO berdasarkan FEFO berdasarkan expire data (kadaluarsa) yang dikeluarkan terlebih dahulu. Sehingga mengurangi angka kerugian dan mengurangi

kemungkinan obat telah expire date (kadaluarsa) sebelum terjual.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 36

Perbekalan farmasi yang telah expire date (kadaluarsa) atau rusak maka akan dimusnahkan pada tempat yang jauh dari pemukiman masyarakat dengan cara dibakar yang kemudian ditimbun dalam tanah sehingga tidak dapat disalahgunakan oleh pihak lain yang tidak bertanggung jawab.

Nama Npm

: Fauziah Lainah : 09-71-10963

A. Apotek Sanggabuana

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 37

Apotek Sanggabuana beralamat di jalan Sanggabuana II No.02, Palangka Raya. Hal ini sangat menguntungkan bagi masyarakat sekitar yang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam hal obat-obatan, tentunya dengan lebih cepat karena Apotek ini dekat dengan perumahan masyarakat di daerah Sanggabuana. Apotek Sanggabuana merupakan salah satu dari sarana kesehatan, yang bertujuan untuk menciptakan daerah yang peduli akan kesehatan dan mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat Palangka raya. Kegiatan di Apotek Sanggabuana dilakukan setiap hari dan dimulai dari pukul 07.00 WIB dan diakhiri pada pukul 22.00 WIB. Kegiatan tersebut di bedakan berdasarkan pembagian jadwal pada setaiap karyawan yang bekerja, untuk shift kerja pertama (pagi) dimulai dari pukul 07.00 dan diakhiri pada pukul 14.00 WIB, dan untuk shift kedua dimulai dari jam 14.00 WIB dan diakhiri sampai 22.00 WIB. Sedangkan bentuk kegiatan meliputi pengadaan barang, penjualan barang, pengelolaan resep, dan penjualan obat bebas, obat bebas terbatas dan obat keras. Apotek Sanggabuana memiliki bangunan dan tata ruang yang baik sehingga dapat mempermudah pelaksanaan dan menjalankan fungsi Apotek serta membantu memelihara perbekalan kesehatan dibidang farmasi serta dapat menambah minat dan daya tarik bagi pengunjung yang dating. Bangunan Apotek Sanggabuana juga dilengkapi dengan sarana sumber air yang memenuhi syarat kesehatan, penerangan yang baik, alat pemadam kebakaran, serta ventilasi dan sistem sanitasi yang baik dan memenuhi syarat higienis, papan nama Apotek yang besar di depan Apotek Sanggabuana, nama APA, nomor SIA, alamat Apotek. Dan di Apotek Sanggabuana juga dilengkapi fasilitas-fasilitas yang baik dan lengkap yaitu, ruang dokter (sudah tidak digunakan lagi), ruang tunggu, ruang peracikan, ruang pembayaran dan penyerahan obat, dan dapur ( yang meliputi kamar mandi ). Ruang tunggu diletakkan

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 38

antara ruangan yang berfungsi sebagai tempat penerimaan resep dan pembayaran, dengan diberi pembatas berupa etalase obat bebas. Kemudian untuk ruang pembayaran dan penerimaan resep diletakkan pada bagian depan Apotek dengan posisi menghadap jalan dan ruangan dikelilingi dengan dua etalase obat bebas, hal ini berfungsi untuk memudahkan karyawan untuk mengamati pelanggan dan dapat memberikan pelayanan secara cepat kepada pelanggan. Sedangkan untuk ruang dokter (sudah tidak digunakan lagi) letaknya di belakang ruang penerimaan, dan diteruskan dengan ruang dapur yang disertai kamar mandi. B. Pengelolaan Obat dan Perbekalan Kesehatan di Apotek Sanggabuana Sistem pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan yang ada di Apotek Sanggabuana dikelola dengan baik sesuai dengan tempatnya masing-masing yang dibedakan berdasarkan jenis obat, bentuk sediaan, serta disusun secara alfabetis. Pada etalase bagian depan diletakkan obat-obat bebas dan bebas terbatas dan obat tradisional lain serta obat-obat yang sering keluar setiap harinya, sedangkan etalase samping digunakan untuk sediaan obat seperti minyak angin, minyak kayu putih, salep cair dan sejenisnya, almari dibelakang meja kasir digunakan untuk meletakkan semua jenis sedian sirup baik obat maupun suplemen kesehatan, sedangkan etalase pembatas ruang depan dan ruang peracikan digunakan untuk menyimpan berbagai jenis salep dan obat-obatan anti alergi yang sering keluar diApotek, dan untuk rak di ruang dalam digunakan untuk menyimpan obat-obat keras yang disusun secara alphabet hal ini dikarenakan obatobat keras memerlukan pengawasan khusus dan harus terlindung dari penglihatan pengunjung hal ini berfungsi untuk meminimalkan penyalahgunaan obat oleh pengunjung.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 39

Di Apotek ini memiliki lemari pendingin yang digunakan untuk menyimpan obat-obatan yang membutuhka suhu ruangan yang rendah, seperti jenis sediaan suppositoria. Untuk penyimpanan obat di Apotek Sanggabuana menerapkan sistem penyimpanan obat sementara dalam jumlah yang kecil, hal ini bertujuan untuk memudahkan pengawasan terhadap mutu dan lamanya penggunaan obat yang diberikan kepada pengunjung. Sedangkan untuk sistem pengeluaran obat, Apotek Sanggabuana memakai sistem secara FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expire First Out) sistem ini digunakan untuk menjamin, memelihara dan memudahkan pengeluaran barang agar, semua barang dapat terjual

sebelum jatuh tanggal kadaluwarsanya, dan meminimalkan terjadinya kerugian baik untuk Apotek maupun untuk pelanggan yang

menggunakan obat tersebut. Dan selama kami menjalankan tugas peraktek kerja lapangan (PKL) di Apotek Sanggabuana kami diberikan beberapa tugas tambahan yang bertujuan untuk menambah pengetahuan dan

keterampilan kami, adapun tugas yang diberikan yaitu, membuat kartu stock barang dan membantu menata obat yang ada di Apotek, serta ditugaskan untuk mencari tahu obat-obat apa saja yang sering disalahgunakan oleh masyarakat, hal ini bertujuan agar kami lebih waspada agar tidak ada terjadinya penyalahgunaan obat oleh masyarakat

BAB V PENUTUP

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 40

A. KESIMPULAN

NAMA NPM

: APRILLIA HURIYANI : 09.71.10874

Setelah melakukan praktek kerja lapangan di Apotek Sanggabuana dapat disimpulkan bahwa kegiatan ini sangat bermanfaat bagi kami mahasiswa farmasi. Karena dengan adanya praktek kerja lapangan ini dapat mengetahui apa saja kegiatan yang dilakukan di Apotek Sanggabuana. Berdasarkan Peraturan Pemerinah No.51 Tahun 2009 Pasal 1 ayat 13 tentang Apotek. Apotek Sanggabuana telah melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai sarana pelayanan kesehatan sesuai dengan peraturan tersebut. Pelaksanaan teknis dengan nontekhnis di Apotek Sanggabuana juga sudah berjalan dengan baik, dan semua karyawan sudah menjalankan tugasnya masing-masing dengan baik. Kegiatan yang dilakukan di Apotek Sanggabuana adalah mulai dari melayani penjualan obat bebas, bebas terbatas, obat keras dan melakukan pelayanan informasi obat kepada pasien (PIO). Pengalaman yang kami dapat selama PKL ini sangat bermanfaat bagi kami dan sangat memudahkan kami untuk memasuki dunia kerja kami nantinya.

B. SARAN 1. Untuk meningkatkan pelayanan informasi obat kepada masyarakat maka Apoteker atau Asisten Apoteker yang ditunjukan dapat memberikan informasi obat secara langsung. 2. Diadakan sistem komputerisasi agar persediaan obat dapat terkontrol dengan baik.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 41

3.

Perlu adanya perluasan tempat agar penyimpanan obat lebih banyak sehingga kerja lebih leluasa.

4.

Perhatikan kartu stock dan segera melakukan pemesanan obat agar tidak terjadi kekosongan persediaan obat.

Nama : Fauziah lainah Npm : 09-71-10963

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 42

A. Kesimpulan

1.

Sistem pengelolaan obat dan perbekalan kesehatan yang ada di Apotek Sanggabuana dibedakan berdasarkan jenis obat, bentuk sediaan, serta disusun secara alfabetis.

2.

Untuk penyimpanan obat di Apotek Sanggabuana menerapkan sistem penyimpanan obat sementara dalam jumlah yang kecil.

3.

Sedangkan untuk sistem pengeluaran obat, Apotek Sanggabuana memakai sistem secara FIFO (First In First Out) dan FEFO (First Expire First Out) sistem ini digunakan untuk menjamin, memelihara dan memudahkan serta meminimalkan terjadinya kerugian baik untuk Apotek maupun untuk pelanggan yang menggunakan obat tersebut.

4.

Penolakan resep sering terjadi khususnya untuk resep yang mengandung obat narkotik dan psikotropika hal ini dikarenakan Apotek tidak memiliki persediaan untuk obat jenis narkotik dan psikotropika.

B. Saran 1. Usahakan agar memenuhi semua stok barang yang diperlukan agar tidak terjadinya penolakan resep/pasien. 2. Gunakan sistem komputerisasi untuk memperkecil kesalahan dalam pengelolaan barang di apotek 3. Perbekali pengetahuan yang lebih banyak kepada para karyawan agar pelayanan dapat semakin memuaskan pelanggan.

DAFTAR PUSTAKA

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 43

Anonim. 2010. Kedai Obat.(http:// www. blogcatalog. com/blog/ complete-farmacy hospital-medical-equipment-info/, diakses 16 feb 2012)

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia. Departemen Kesehatan Republik Indonesia.

Anonim. 2010. Undang Undang No. 35 tahun 2009 Tentang Narkotika. (http://www.bnpjabar.or.id/index.php, diakses 16 feb 2012)

Anief, Moh. Ilmu Meracik Obat. Gadjah Mada University Press : Yogyakarta.

Belladonna perdana putra, dkk, 2011. Laporan Praktek Kerja Profesi Apoteker di Apotek Kimia Farma no 202 Depok Timur. Jakarta.

Daris, Drs Azwar, Mkes, Apt. 2008. Himpunan Peraturan & Perundang-undangan kefarmasian. Jakarta.

Johanes, Narizan Zaman. 2001. Resep yang Rasional, Surabaya : Airlangga University Press.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.51 Tahun 2009 pasal 1 ayat 13 Tentang Tenagan Kefarmasian.

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.922/Menkes/Per/x/1993.Bab VII, Tentang Pelayanan Apotek. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

No.1332/MENKES/SK/X/2002.Tentang Tata Cara Izin Apotek.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 44

Peraturan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

No.

889/MENKES/PER/V/201. Tentang Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian.

Siregar, J.P. Charles. 2003. Farmasi Rumah Sakit Teori dan Terapan. Jakarta : Buku Kedokteran EGC.

Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. EGC :Jakarta.

Umar, M. 2005, Manajemen Apotek Praktis.Solo:CV.Ar-Rahman.A

Yahman, Dr. H. Soedarsono Aboe. 2010. (http:// amaliahimida. wordpress.com./2010/06/05/peran-asisten-apoteker-

dalam-pelayanan-kefarmasian-2.html. Diakses 18 feb 2012)

Zaman,JOENOES. EDISI 2. 2006. Ars Prescribendi resep yang rasional.Airlangga University Press : Surabaya.

PKL Di Apotek Sanggabuana

Page 45