Anda di halaman 1dari 10

magister akuntansi fakultas ekonomi universitas Indonesia

UJIAN TENGAH SEMESTER

Victoria Chemicals Plc: Merseyside and Rotterdam Projects.

ZIDNI AGNI APRIYA 1106035764

STATEMENT OF AUTHORSHIP
Saya yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah murni hasil pekerjaan saya sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya gunakan tanpa menyebutkan sumbernya. Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada mata ajaran lain, kecuali saya menyatakan dengan jelas bahwa saya menggunakannya. Saya memahami bahwa tugas yang kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarism. Kelas Mata Ajaran Judul Makalah/Tugas Hari, Tanggal Dosen : : : : : SK11-2S STRATEGI KEUANGAN PERUSAHAAN Victoria Chemicals Plc. Jumat, 05 April 2013 Prof. Dr. Junius Tirok, MBA., CMA.

Zidni Agni Apriya 1106035764

STATEMENT OF PROBLEM
Victoria Checmicals Plc. menghadapi beberapa masalah di bisnis Polypropylene dengan resesi yang mengakibatkan pasar tidak berkembang dan dua buah pabrik di Merseyside dan Rotterdam yang tidak efisien. Langkah untuk perbaikan ditawarkan oleh kedua pabrik tersebut, Merseyside mengajukan teknik efisiensi dan Rotterdam mengajukan teknologi terbaru dari Jepang. Valuasi proyek dengan Net Present Value (NPV), IRR, Payback Period dan Annual EPS diperlukan untuk membandingkan proyek mana yang sebaiknya diambil oleh Victoria Chemicals Plc. dan apakah Proyek yang diambil menghasilkan keuntungan maksimal bagi perusahaan?

JAWABAN
1. Why are the Merseyside and Rotterdam projects mutually exclusive?

Sesuai dengan referensi kasus di halaman 317, staf analis strategis Victoria berpendapat bahwa peningkatan output polypropylene sebesar 14% tidak sesuai, namun kenaikan output sebesar 7% dapat diterima oleh pasar. Proyek Merseyside dan Rotterdam sama-sama menargetkan kenaikan 7% output dengan proposal investasi yang dilakukan.

Jika kedua proyek diterima, maka akan terjadi kenaikan 14% output dan menurut analisa strategis hal ini tidak dapat diterima oleh pasar. Kenaikan yang dapat diserap hanya sebesar 7% oleh pasar, kenaikan output yang tidak diimangi dengan perkembangan permintaan pasar akan mengakibatkan kanibalisme market antara pabrik Merseyside dan Rotterdam, hal ini yang dihindari oleh Victoria Chemicals Plc. Sehingga Victoria Chemicals Plc. harus memilih salah satu proyek, apakah Merseyside atau Rotterdam atau tidak memilih keduanya dan tidak dapat memilih keduanya secara bersamaan.

2. How do the two projects compare on the basis of Victoria Chemicals investment criteria? What might account for the differences in ranking?

Kriteria yang disyaratkan Victoria Chemicals Plc. adalah sebagai berikut: 1. Net Present Value (NPV) yang dihasilkan harus positif 2. Internal Rate of Return (IRR) yang dihasilkan harus lebih besar dari 10% 3. Earning Per Share (EPS) atau Laba perSaham yang dihasilkan harus positif 4. Payback Period yang dihasilkan maksimum adalah 6 (enam) tahun

Valuasi dilakukan dengan asumsi sebagai berikut: 1. Kanibalisme market Rotterdam oleh Proyek Merseyside dilakukan mengacu kepada Exhibit 1. Rotterdam DCF with Erosion dan resesi berlangsung 10 tahun.

2. Required rate of return yang digunakan adalah 10% dan bukan 7% 3. Investasi truk transportasi gas dimasukkan kedalam capital expenditure dengan pembelian di 2010 dan pembatalan pembelian di 2012 dan depresiasi tidak berubah.

Berdasarkan Lampiran A Proyeksi Proyek Merseyside dan Lampiran B Proyeksi Proyek Rotterdam didapatkan hasil sebagai berikut:

Proyek Merseyside setelah disesuaikan dengan biaya kanibalisasi dan investasi transportasi yang dipercepat: 1. NPV = 6,49 juta GBP 2. IRR = 18,39% 3. Annual EPS = 0,02 GBP per Share 4. Payback Period = 5,1 tahun

Proyek Rotterdam: 1. NPV = 8,31 Juta GBP 2. IRR = 14% 3. Annual EPS = 0,04 GBP per Share 4. Payback Period = 9,78 tahun

Dari hasil tersebut dapat terlihat perbedaan dalam NPV dan Annual EPS lebih baik Proyek Rotterdam, namun dalam IRR dan Payback Period lebih baik Merseyside.

Perbedaan hasil valuasi disebabkan hal sebagai berikut: 1. NPV Proyek Rotterdam lebih besar karena Proyek Rotterdam menyertakan Terminal Value dari nilai property pipa gas yang dibeli untuk pasokan Polyprolene. 2. Annual EPS Proyek Rotterdam lebih besar karena Proyek Rotterdam menyertakan Terminal Value dari nilai property pipa gas. 3. IRR Proyek Merseyside lebih besar karena imbal hasil pertahun yang diberikan Proyek Merseyside lebih besar per tahun secara rata-rata. 4. Payback Period Proyek Merseyside lebih kecil dan lebih cepat selesai karena imbal hasil pertahun yang diberikan Proyek Merseyside lebih besar per tahun secara ratarata.

3. Is it possible to quantify the value of potencially adding the Japanese Technology to the Merseyside project? How, if at all, does this flexibility affect the economic attractiveness of the project?

Penerapan teknologi Jepang pada proyek Merseyside akan mengubah proyeksi Discounted Cash Flow (DCF) dari proyek Merseyside seperti pada Lampiran C Proyeksi Proyek Merseyside dengan Teknologi Jepang. Hasil valuasi dari DCF Proyek Merseyside dengan teknologi Jepang adalah sebagai berikut: 1. NPV = 10,12 Juta GBP 2. IRR = 18,82% 3. Annual EPS = 0,03 GBP per Share 4. Payback Period = 6,3 tahun

Valuasi dilakukan dengan asumsi sebagai berikut: 1. Kontrak pasokan gas sebesar 0,4 juta GBP pertahun mulai tahun 2010. 2. Capital Expenditure penerapan Teknologi Jepang sebesar 3,5 juta, 5 juta, 1 juta dan 1 juta mulai tahun 2010.

Jika dibandingkan dengan Lampiran A Proyeksi Proyek Merseyside dan Lampiran B Proyek Rotterdam, maka dapat dilihat bahwa dengan fleksibilitas penerapan teknologi Jepang pada Proyek Merseyside di 2010 akan mengakibatkan Proyek Merseyside menjadi proyek yang paling menguntungkan dibandingkan alternatif Proyek Merseyside biasa dan Proyek Rotterdam biasa.

4. What are the differences in the ways Elizabeth Austace and Lucy Morris have advocated their respective project? How might those differences in style have affected the outcome of the decision?

Elizabeth Austace dalam mempresentasikan proyek Rotterdam menyertakan unsur strategis dengan : Keunggulan teknologi akan menurunkan biaya produksi dan memperbaiki kualitas produk untuk memperoleh competitive advantage dalam persaingan di masa depan. Learning Curve akan menurunkan biaya produksi dan pada akhirnya akan menciptakan competitive advantage pada perusahaan. Investasi pada Property pipa yang meningkat nilai valuasi proyek yang diusulkan Aspek Kanibalisasi diperhitungkan dalam Discounted Cash Flow, sehingga analisa menjadi lebih detail.

Sementara Lucy Morris mempresentasikan proyek Merseyside dengan tidak menyertakan perhitungan tentang potensi penurunan atau resesi yang mengakibatkan kanibalisasi dan juga tidak menyertakan aspek strategis, sehingga kurang menggambarkan nilai valuasi yang tepat. Selain itu aspek strategis dari presentasi Lucy Morris juga tidak dikemukakan untuk menciptakan competitive advantage.

5. Which project should James Fawn propose to the chief executive officer and the board of directors?

Berdasarkan Lampiran A Proyek Merseyside, Lampiran B Proyek Rotterdam dan Lampiran C Proyek Merseyside dengan Teknologi Jepang, maka pilihan yang sebaiknya diambil adalah Proyek Merseyside dengan kemungkinan penerapan teknologi Jepang di 2010.

DAFTAR PUSTAKA
Ross, Stephen A., Westerfield, Randolph W., Jaffe, Jeffrey., Corporate Finance, McGraw Hill, 9th Edition, 2010. Bruner, R. F., Case Studies in Finance, McGraw Hill, 6th Edition, 2010.