P. 1
BUKU PNBP

BUKU PNBP

|Views: 103|Likes:
Dipublikasikan oleh Indra Al-Farizy

More info:

Published by: Indra Al-Farizy on Jul 26, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/16/2015

pdf

text

original

BAB I PENDAHULUAN 1.

Latar Belakang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah wujud dari pengelolaan keuangan negara yang merupakan instrumen bagi Pemerintah untuk mengatur pengeluaran dan penerimaan negara dalam rangka membiayai pelaksanaan kegiatan pemerintahan dan pembangunan, mencapai pertumbuhan ekonomi, meningkatkan pendapatan nasional, mencapai stabilitas perekonomian, dan menentukan arah serta prioritas pembangunan secara umum. APBN ditetapkan setiap tahun dan dilaksanakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Penetapan APBN dilakukan setelah dilakukan pembahasan antara Presiden dan DPR terhadap usulan RAPBN dari Presiden dengan memperhatikan pertimbangan Dewan Perwakilan Daerah (DPD). Pelaksanaan Undang-Undang No. 32 dan 33 Tahun 2004 secara menyeluruh memberikan kewenangan, atau secara tidak langsung tanggungjawab, kepada pemerintah daerah untuk merencanakan dan mengatur pola pengembangan daerahnya. Untuk itu, pemerintah daerah dituntut untuk mampu merencanakan pengembangan daerahnya dengan baik. Kenyataan yang ada menunjukkan bahwa tugas pemerintah daerah dalam perencanaan pembangunan daerah diawali dengan menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD), yang merupakan penjabaran tahunan dari strategi global kebijakan pembangunan daerah jangka panjang (5 tahun). Pada materi ini ditekankan bahwa tugas paling utama pemerintah daerah dalam merencanakan pembangunan pada era desentralisasi dan otonomi daerah adalah menyusun RAPBD secara baik dan benar. Pada tahap selanjutnya, RAPBD ini perlu diterjemahkan lagi ke dalam program-program sektoral, seperti progam peningkatan pendidikan dasar, peningkatan kesehatan dasar dan sebagainya, serta program-program listas sektoral seperti program pengembangan wilayah terpadu, program penanggulangan kemiskinan, dan sebagainya. Tahapan lanjutan ini bersifat lebih teknis dan memerlukan data yang lebih rinci. Format RAPBD terdiri dari dua bagian besar yaitu (1) sisi Penerimaan dan (2) sisi Pengeluaran. Pada sisi penerimaan terdapat bagian Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Bagian ini mengestimasi penerimaan suatu daerah dari sumber daya alam melalui aturan bagi hasil yang diterapkan berdasarkan UU No. 33 Tahun 2004. Di beberapa daerah, bagian ini akan relatif dominan besarnya dibandingkan dengan sumber penerimaan daerah lainnya. Di banyak daerah, baik untuk tingkat propinsi maupun tingkat kabupaten/kota, diperkirakan akan terjadi berbagai usaha untuk membesarkan penerimaan daerah di bagian ini semaksimal mungkin. Karenanya, mengetahui secara jelas aturan bagi hasil dan mampu memperkirakan dengan benar berapa penerimaan daerah dari Bagi Hasil Sumber Daya Alam merupakan hal yang penting. 1

Persoalannya saat ini adalah: (1) informasi mengenai aturan bagi hasil, di mana Bagi Hasil Sumber Daya Alam adalah salah satu komponennya, belum tersosialisasi dengan baik di banyak daerah, terutama sekali di tingkat kabupaten; (2) data-data detail yang dibutuhkan untuk menghitung penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam seringkali tidak ada, susah didapat, atau kualitasnya amat rendah; (3) waktu yang ada bagi pemerintah daerah untuk menyelesaikan RAPBDnya, terutama saat-saat ini, relatif amat singkat. 2. Maksud dan Tujuan Materi penulisan ditujukan kepada pemerintah daerah dan berbagai kalangan yang terkait dengan perencanaan pembangunan daerah yang bertujuan untuk membantu menjelaskan aturan Bagi Hasil Sumber Daya Alam dan berusaha mengembangkan beberapa metode untuk mengestimasi besarnya penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam untuk suatu daerah dengan data-data yang relatif mudah didapat. Selain itu pada materi ini masih menunjukkan berbagai kesulitan yang dihadapi daerah dalam mengestimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Secara umum, alur dari tulisan ini adalah sebagai berikut. Setelah bagian pendahuluan akan dijelaskan peranan penerimaan bagi hasil dalam pembiayaan pengeluaran daerah selama ini. Selanjutnya didiskusikan mengenai peraturan yang berkenaan dengan penerimaan bagi hasil secara umum. Kemudian, diuraikan secara khusus, aturan yang mengatur Bagi Hasil Sumber Daya Alam. 3. Penjelasan Materi Pada bagian selanjutnya, penulis mencoba menjelaskan beberapa metode untuk mengestimasi penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam mulai dari perencanaan, pencatatan dan Evaluasi PNBP, pelaporan serta proses bagi hasilnya.

2

BAB II TATACARA PERENCANAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (PNBP) SUMBER DAYA ALAM PERTAMBANGAN UMUM

2.1. Dana Perimbangan Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 55 Tahun 2005 dinyatakan bahwa Dana Perimbangan bertujuan untuk menciptakan keseimbangan keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah dan antara Pemerintahan Daerah. Dana Perimbangan yang terdiri dari Dana Bagi Hasil dari penerimaan pajak dan SDA, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus merupakan sumber pendanaan bagi daerah dalam pelaksanaan desentralisasi, yang alokasinya tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain mengingat tujuan masing-masing jenis penerimaan tersebut saling mengisi dan melengkapi. Dana Bagi Hasil adalah dana yang bersumber dari APBN yang dibagihasilkan kepada Daerah berdasarkan angka persentase tertentu dengan memperhatikan potensi daerah penghasil. Dana Alokasi Umum bertujuan untuk pemerataan kemampuan keuangan antardaerah melalui penerapan formula yang mempertimbangkan kebutuhan belanja pegawai, kebutuhan fiskal, dan potensi daerah. Kebutuhan daerah dicerminkan dari luas daerah, keadaan geografis, jumlah penduduk, tingkat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat di daerah, dan tingkat pendapatan masyarakat di daerah. Sedangkan kapasitas fiskal dicerminkan dari Pendapatan Asli Daerah, Dana Bagi Hasil Pajak, dan Sumber Daya Alam. Dana Alokasi Khusus dimaksudkan untuk mendanai kegiatan khusus yang menjadi urusan daerah dan merupakan prioritas nasional, sesuai dengan fungsi yang merupakan perwujudan tugas kepemerintahan di bidang tertentu, khususnya dalam upaya pemenuhan kebutuhan sarana dan prasarana pelayanan dasar masyarakat. Melalui penyempurnaan prinsip-prinsip, mekanisme, dan penambahan persentase beberapa komponen dana perimbangan diharapkan daerah dapat meningkatkan fungsi pemerintahan daerah sebagai ujung tombak dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat. 2.2. Dasar Hukum PNBP Salah satu unsur APBN adalah anggaran pendapatan negara dan hibah yang diperoleh dari : a. Penerimaan perpajakan; b. Penerimaan negara bukan pajak; dan c. Penerimaan Hibah dari dalam negeri dan luar negeri. PNBP merupakan lingkup keuangan negara yang dikelola dan dipertanggungjawabkan oleh Pemerintah, sehingga Badan Pemeriksa Keuangan 3

Berdasarkan Pasal 1 angka 1 Undang-undang No. penerimaan dari pemanfaatan sumber daya alam. Laporan hasil pemeriksaan BPK kemudian diserahkan kepada Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). bahwa yang dimaksud dengan Penerimaan Negara Bukan Pajak adalah seluruh penerimaan Pemerintah Pusat yang tidak berasal dari penerimaan perpajakan. 4.(BPK) sebagai lembaga audit yang bebas dan mandiri (ekternal Pemerintah) turut melakukan pemeriksaan atas komponen yang mempengaruhi pendapatan negara dan merupakan penerimaan negara sesuai dengan undang-undang. 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Dep. 22 Tahun 1997 yang telah diubah dengan PP No. f) penerimaan berupa hibah yang merupakan hak Pemerintah. Berdasarkan Pasal 2 dari UU di atas.PP Nomor 22 Tahun 1997 tentang Jenis dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penerimaan dari iuran tetap/landrent. 5. penerimaan dari kegiatan pelayanan yang dilaksanakan Pemerintah. . diantaranya melalui : . maka kemudian dilakukan pengaturan dalam peraturan perundang-undangan. Pertambangan dan Energi) meliputi : 1. Menyadari pentingnya PNBP. penerimaan berdasarkan putusan pengadilan dan yang berasal dari pengenaan denda administrasi. Pengelompokan PNBP ini kemudian ditetapkan dalam PP No.PP Nomor 73 Tahun 1999 tentang Tatacara Penggunaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Bersumber dari Kegiatan Tertentu. penerimaan dari hasil-hasil pengelolaan kekayaan Negara yang dipisahkan. 4 . Penerimaan dari jasa teknologi geologi tata lingkungan. 6. Penerimaan dari jasa penelitian/pengembangan dan jasa penerapan teknologi pada puslitbang teknologi minyak dan gas bumi. . 52 Tahun 1998 dengan menjabarkan jenisjenis PNBP yang berlaku umum di semua Departemen dan Lembaga Non Departemen.UU Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Penerimaan dari perjanjian karya pengusahaan pertambangan batubara. 3. ditetapkan bahwa jenis PNBP dapat dikelompokkan meliputi : a) b) c) d) e) penerimaan yang bersumber dari pengelolaan dana Pemerintah. Penerimaan dari jasa teknologi di bidang pertambangan umum. dan g) penerimaan lainnya yang diatur dalam Undang-undang tersendiri. 2. Untuk jenis PNBP yang berlaku pada Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (dh. Penerimaan dari iuran eksplorasi/iuran eksploitasi/royalti. Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

2. aturan pembagian tidak jauh berbeda dengan peraturan sebelumnya. Iuran pertambangan yang dimaksud disini adalah penerimaan pemerintah dari iuran tetap ( land rent). UU No. Bagi hasil SDA selanjutnya berdasarkan PP No. 25/1999). II sebagai lokasi daerah tambang itu berada. Pemerintah pusat mendapat bagian 20%. penerimaan negara dari sumber daya ini diatur berdasarkan prinsip besarnya produksi ataupun luas area.1. sedangkan 80% sisanya dibagikan ke daerah dengan perincian sebagai berikut: propinsi mendapat bagian 16% dan Daerah Tingkat (Dati) II mendapat bagian 64%.2. Selanjutnya dalam PP No. khususnya melalui pengenaan royalti dan iuran tetap. bagian pemerintah pusat adalah 30% sedangkan pemerintah daerah mendapat bagian 70% dari total iuran pertambangan. perimbangan tersebut berubah dimana porsi daerah meningkat. 32/1969 pasal 62 yang kemudian mengalami perubahan dengan ditetapkannya PP No. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dibagihasilkan Saat ini PNBP yang dibagihasilkan ke daerah hanyalah PNBP yang berasal dari penerimaan sumber daya alam. 32/1969. terdapat iuran pertambangan yang telah dibagihasilkan ke daerah sebelum perberlakuan UU No. 104 Tahun 2000 mengatur juga bagi hasil “pemerataan” dari royalti untuk pemkab/pemkot yang berada di dalam provinsi yang terkait.2. tetapi terdapat perbedaan terletak pada (1) pemisahan penerimaan dari royalti dan iuran tetap (landrent) dan (2) perimbangan bagi hasil antara propinsi dan kabupaten/kota untuk iuran-iuran tersebut. 2. pertambangan umum dan perikanan. PP No. 79/1992. PNBP yang dibagihasilkan ke daerah inilah yang dalam tulisan ini disebut sebagai penerimaan Bagi Hasil Sumber Daya Alam. Di sisi lain bagi hasil berdasarkan No. I yang selanjutnya disalurkan ke masing-masing Pemda Tk. 5 . iuran eksplorasi dan iuran eksploitasi (royalti). PNBP ini terdiri dari PNBP sumber daya alam minyak bumi. PNBP SDA Pertambangan Umum Di sektor pertambangan umum.2. Untuk kehutanan dan pertambangan umum. Di dalam PP No. Karenanya. II. Pada awalnya pengaturan bagi hasil iuran pertambangan ditetapkan dalam PP No. Untuk perikanan. penerimaan negara diatur berdasarkan nilai ekspor ikan dan license fee pengusahaan perikanan. tetapi disalurkan dulu ke Pemda Tk. 104 Tahun 2000 tentang Dana Perimbangan. 33 Tahun 2004 (dh. gas alam. 79/1992. Penerimaan negara yang berasal dari minyak bumi dan gas alam diatur berdasarkan prinsip NOI ( Net Operating Income). kehutanan. 79/1992 yang disalurkan oleh Pemerintah Pusat tidak langsung diterima oleh Pemda Tk.

Perencanaan PNBP 2.Iuran Produksi 20% III.Iuran Tetap 20% .3.Iuran Produksi 20% II. Panas Bumi . Artinya tidak bisa dilaksanakan 100 persen.Iuran Tetap 20% . Kontrak Karya . Perencanaan Anggaran Penyusunan APBN (anggaran pendapatan dan belanja negara) dalam ketentuan Pasal 23 ayat 1 UUD 1945 yang telah diubah menjadi Pasal 23 ayat 1. PKP2B . Prosentase perimbangan keuangan SDA Pertambangan Umum berdasarkan PP No. yaitu dengan penetapan Pemerintah Provinsi sebagai daerah penghasil atas pengelolaan usaha pertambangan umum yang berlokasi antara 4 – 12 mil laut serta ditetapkannya perimbangan keuangan dari kegiatan pertambangan Panas Bumi. terdapat perubahan yang mendasar dalam perimbangan keuangan. 6 .3.Iuran Tetap 20% . 55 Tahun 2005 tentang Dana Perimbangan.Iuran Tetap .Iuran Tetap 20% .5%-(3 sd 7%) IV. 55 Tahun 2005 sebagai berikut : No. Apabila ini terjadi maka sangat sulit dilaksanakan karena di APBN sebelumnya sudah ditetapkan anggaran yang mau dipergunakan. 2 dan 3 dikatakan anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang-undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab untuk sebesarbesarnya kemakmuran rakyat.Dana Hasil Produksi Batubara (13. Apabila DPR tidak menyetujui rancangan APBN yang diusulkan oleh Presiden.1.Iuran Produksi 20% 20% 16% 16% 80% 26% 16% 16% 16% 16% - 64% 32% 64% 32% 64% 32% - 32% 54% 32% 32% - 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 100% 2) Provinsi Sbg Daerah Penghasil . Rancangan undang-undang APBN diajukan oleh Presiden untuk dibahas bersama-sama DPR RI dengan memperhatikan pertimbangan DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Izin Usaha Pertambangan (IUP) 1) Kab/Kota Penghasil .Iuran Produksi 20% 16% 16% 32% 64% 32% 100% 100% 2. Penerimaan Pusat Propinsi Kab/Kota Kab/Kota Sekitar Total Penghasil Dlm Provinsi I. pemerintah menjalankan APBN tahun lalu.5%) 1) Royalti (3-7%) 20% 2) Penjualan Hasil Tambang 100% 13.Selanjutnya berdasarkan PP No.

Tingkat II yaitu laporan ketua/pimpinan panitia anggaran atas hasil pembicaraan tingkat I. Hasil pembahasan dengan komisi pasangan kerja akan disampaikan kepada Menteri Keuangan sebagai bahan penyusunan RAPBN tahun berikutnya. Dalam pembahasan dan penetapan APBN. panitia anggaran rapat kerja dengan pemerintah dan membentuk panitia kerja yaitu Panja asumsi dasar. memuat sekurang-kurangnya mengenai jenis. defisit dan pembiayaan. Setelah itu diputuskan menjadi Undang-undang selambat-lambatnya 2 bulan sebelum tahun anggaran yang bersangkutan. pendapatan negara dan pembiayaan. 2. DPD juga menerima hasil pemeriksaan keuangan dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). inflasi. DPR menerima dan menindaklanjuti pertimbangan tertulis yang disampaikan DPD sebelum memasuki tahap pembahasan antara DPR dengan Presiden. pendapatan. tarif.3. pendidikan dan agama. periode dan jumlah PNBP serta disampaikan paling lambat tanggal 15 Juli tahun anggaran berjalan. Fraksi-fraksi menyampaikan pendapat akhir atas RUU tersebut dan pemerintah juga menyampaikan pendapat akhirnya terhadap RUU APBN. tingkat suku bunga SBI 3 bulan. moneter. harga minyak Internasional dan produksi minyak Indonesia) selambat-lambatnya pertengahan bulan Mei tahun berjalan. Rapat kerja panitia anggaran dengan pemerintah dalam hal ini Menteri Keuangan dan Gubernur BI membentuk tiga Panja (panitia belanja) yaitu Panja kebijakan fiskal. pemerintah menyampaikan pokok-pokok fiskal dan kerangka ekonomi makro (asumsi pertumbuhan ekonomi. pendidikan dan agama. Pembahasan dan penetapan RAPBN dilakukan 2 tingkat pembicaraan yaitu tingkat I (rapat kerja panitia anggaran) dan tingkat II (rapat paripurna DPR). nilai tukar rupiah. DPD memberikan pertimbangan kepada DPR atas RUU APBN dan RUU yang berkaitan dengan pajak. Panja belanja pemerintah pusat dan Panja belanja ke daerah. 1 Tahun 2004 tentang Tatacara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi PNBP). Dalam penyusunan anggaran. Tingkat I. 7 .Pembahasan dan penetapan APBN yang didahului dengan penyampaian RUU tentang APBN beserta nota keuangan oleh Presiden. panitia anggaran harus berhubungan dengan DPD yaitu terhadap RUU yang berkaitan dengan APBN. DPD juga dapat melakukan pengawasan atas pelaksanaan APBN dan menyampaikan hasil pengawasannya kepada DPR sebagai bahan pertimbangan untuk ditindaklanjuti. Dalam membicarakan pendahuluan penyusunan RAPBN. Hasil pembahasan itu menjadi acuan bagi setiap kementerian negara/lembaga dalam penyusunan usulan anggaran yang selanjutnya dibahas dengan komisi pasangan kerjanya. pajak.2 Penyusunan Data PNBP SDA Pertambangan Umum Secara umum rencana PNBP adalah hasil penghitungan/penetapan PNBP yang diperkirakan akan diterima dalam 1 (satu) tahun yang akan datang (Pasal 1 angka 5 PP No. pidato Presiden pengantar RAPBN disertai nota keuangan pada bulan Agustus tahun sebelumnya.

luas wilayah. c) Data rencana produksi dan penjualan dari pemegang IUP. Departemen Keuangan sudah meminta “data makro RAPBN” kepada Kementerian dan Lembaga (K/L) dengan menggunakan asumsi pertumbuhan ekonomi. nilai tukar rupiah. tingkat produksi logam dan sebagainya. dihitung kembali berdasarkan realisasi tahun-tahun sebelumnya. harga minyak Internasional dan produksi minyak Indonesia sesuai Rencana Kerja Pemerintah (RKP).Sejalan dengan penyusunan APBN di atas yang dalam hal ini berkaitan dengan anggaran pendapatan dan belanja negara. inflasi. baik yang diperoleh dari pemerintah daerah maupun dari pemegang IUP. KK dan PKP2B serta kondisi finansial makro dunia. KK dan PKP2B). Pemegang IUP dan IUPK wajib memberikan laporan tertulis secara berkala atas rencana kerja dan pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan mineral dan batubara kepada Menteri. KK dan PKP2B yang ada di Ditjen Minerbapabum. 45 Tahun 2003. gubernur. permintaan data produksi dan penjualan dari DJMBP kepada pemerintah daerah untuk perencanaan PNBP kurang direspon. tingkat suku bunga SBI 3 bulan. paper trading. 4 Tahun 2009. jenis bahan galian dan tarif yang dikenakan sesuai PP No. Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam penyusunan perencanaan PNBP sebagai berikut: 1. b) Data hasil Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari pemegang KK dan PKP2B yang sudah dipresentasikan di DJMBP. Hasil kegiatan RKAB oleh Pemda dilaporkan ke Menteri ESDM sesuai Pasal 7 dan Pasal 8 UU No. 4 Tahun 2009. Pengumpulan data PNBP bagi pemegang IUP melalui mekanisme RKAB seharusnya sudah dilaksanakan oleh Pemda karena berdasarkan Pasal 111 UU No. sehingga DJMBP menggunakan data realisasi PNBP tahun sebelumnya yang diolah dengan prakiraan kenaikan/penurunan harga bahan galian internasional. tahapan kegiatan. Untuk DJMBP data makro tersebut diolah berdasarkan realisasi penerimaan Iuran Tetap dan Iuran Produksi (royalti) dari pemegang IUP. atau bupati/walikota sesuai dengan kewenangannya. Pada bulan Februari. Evaluasian data RKAB diolah kembali dengan melihat kepada kondisi finansial makro dunia antara lain “supply and demand” mineral dan batubara. Pengumpulan Data PNBP a) Data primer PNBP dari penerimaan Iuran Tetap berasal dari rekapitulasi pemegang IUP. Data tersebut terdiri dari nama perusahaan pemegang izin (IUP. 8 . maka perencanaan penerimaan/pendapatan PNBP SDA Pertambangan Umum dimulai sejak akhir tahun anggaran yang lalu. Berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya. masa berlaku.

.d) Hasil olahan atas rencana penerimaan Iuran Tetap dan Iuran Produksi (royalti) dibuatkan konsep awal Penetapan Daerah Penghasil dan Penghitungan Bagian Daerah Penghasil yang selanjutnya dikonsultasikan ke Mendagri dan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD) melalui Ditjen Bina Administrasi Keuangan Daerah (BAKD). Migas dan Panas Bumi. No. Identifikasi Kabupaten/Kota Penghasil SDA Pertambangan Umum merupakan dasar Keputusan MESDM tentang Daerah Penghasil dan Dasar Penghitungan Daerah Penghasil SDA Pertambangan Umum.2 Rencana Penerimaan Iuran Produksi/Royalti Izin Usaha Pertambangan Tahun . dan Tgl SK IUP Rencana Produksi Penjualan Harga Jual Masa Berlaku Bahan galian Tarif Rencana Royalti 2. Kegiatan identifikasi Kabupaten/Kota Penghasil menggunakan beberapa Undang-undang terbaru yang berkaitan dengan pemekaran Kabupaten/Kota serta lokasi keberadaan pemegang IUP. HSU sebagai daerah penghasil royalti dari PT Adaro Indonesia setelah dimekarkan. Identifikasi Kabupaten/Kota Penghasil SDA Pertambangan Umum.. maka posisi PT Adaro Indonesia berpindah ke Kab. dimana Kab. Rencana Penerimaan Iuran Tetap Izin Usaha Pertambangan Tahun . Nama Perusahaan/ No Kode Wilayah No.. Sebelum pemekaran terdapat 9 ... Format Data Rencana Penerimaan Iuran Tetap dan Royalti sebagai berikut : C. Sebagai contoh pada saat pemekaran Kabupaten Balangan dari Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU) di Provinsi Kalimantan Selatan. Nama Perusahaan /Kode Wilayah No. KK dan PKP2B yang terakhir.... Untuk Identifikasi Kabupaten/Kota Penghasil SDA Pertambangan Umum juga mempertimbangkan kesepakatan para pihak yang terkait dengan dengan pemekaran Kabupaten/Kota.1.. Balangan.. dan Tgl SK IUP Masa Berlaku Luas Wilayah Bahan Galian Tahapan Kegiatan Tarif/Ha Rencana Penerimaan Iuran Tetap C.

pemekaran Kabupaten/Kota. 10 . dan sebagainya. Balangan yang diketahui oleh Gubernur Kalimantan Selatan. Setelah konsep Penetapan Daerah Penghasil dan Penghitungan Bagian Daerah Penghasil ditetapkan oleh Mendagri melalui Ditjen BAKD dan hasil konsultasi dengan Dewan Pertimbangan Otonomi Daerah (DPOD). Keputusan Penetapan Daerah Penghasil dan Dasar Penghitungan Bagian Daerah Penghasil Sektor Pertambangan Umum. menyatakan bahwa dalam hal sumber daya alam berada pada wilayah yang berbatasan atau berada pada lebih dari satu daerah. 55 Tahun 2005. sehingga memudahkan dalam penyaluran dana bagi hasil SDA Pertambangan untuk tahun-tahun selanjutnya. ditetapkan bahwa Menteri teknis (dhi MESDM) menetapkan daerah penghasil dan dasar penghitungan DBH Sumber Daya Alam paling lambat 60 (enam puluh) hari sebelum tahun anggaran bersangkutan dilaksanakan setelah berkonsultasi dengan Menteri Dalam Negeri. Minyak Bumi dan Gas Alam selanjutnya disampaikan kepada Gubernur/Bupati/Walikota terkait. Menteri Dalam Negeri menetapkan daerah penghasil sumber daya alam berdasarkan pertimbangan menteri teknis terkait paling lambat 60 (enam puluh) hari setelah diterimanya usulan pertimbangan dari menteri teknis. Penetapan Daerah Penghasil dan Penghitungan Bagian Daerah Penghasil Berdasarkan Pasal 27 ayat (1) PP No. Pertambangan Umum serta Perikanan. Konsep Penetapan Daerah Penghasil dan Penghitungan Bagian Daerah Penghasil sebelum dikonsultasikan dengan Mendagri dibahas terlebih dahulu di Sekjen KESDM.pengaturan dan kesepakatan bagi hasil royalti antara DPRD Kab. 3. Selanjutnya pasal 27 ayat (1) PP No. pembahasan ini terkait dengan kenaikan atau penurunan Dana Bagi Hasil. HSU dan Kab. 55 Tahun 2005. Keputusan Menteri di atas juga dijadikan dasar oleh Menteri Keuangan dalam menerbitkan Keputusan tentang Penetapan Jumlah dana Bagian Daerah dari Sumber Daya Alam Minyak Bumi dan Gas Alam. maka MESDM menyusun Keputusan Daerah Penghasil dan Penghitungan Bagian Daerah Penghasil untuk disampaikan kepada Menteri Keuangan yang selanjutnya Menteri Keuangan menetapkan perkiraan alokasi DBH Sumber Daya Alam untuk masing-masing daerah paling lambat 30 (tiga puluh) hari setelah diterimanya ketetapan dari menteri teknis.

Jenis tarif atas penetapan ini dikenal dengan “tarif spesifik” yang tarifnya ditetapkan dengan nilai nominal uang. KESDM ditunjuk oleh Menkeu untuk menagih dan atau memungut PNBP yang Terutang dan wajib menyetor langsung PNBP yang diterima ke Kas Negara serta apabila tidak dipenuhinya kewajiban untuk menagih dan atau memungut serta menyetor PNBP dimaksud dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Jenis tarif PNBP atas penetapan dengan menghitung sendiri dikenal dengan istilah “tarif advalorem” yaitu tarif yang ditetapkan dengan persentase (%) dikalikan dengan dasar pengenaan tertentu. b. Tatacara Pemungutan Tatacara pemungutan PNBP berdasarkan Pasal 9 UU No. Ayat (3) UU No. kurs.1. Penentuan jumlah PNBP yang Terutang dalam hal ini ditetapkan oleh Instansi Pemerintah. 20 Tahun 1997 mempunyai ciri dan corak tersendiri serta dapat dibagi dalam dua kelompok dalam penentuan jumlah PNBP yang Terutang. yaitu ditentukan dengan cara: a. 11 . Untuk jenis PNBP yang menjadi terutang sebelum Wajib Bayar menerima manfaat atas kegiatan Pemerintah. seperti pemberian hak paten. pendapatan kotor. b. ditetapkan oleh Instansi Pemerintah. melakukan penuntutan dan pemungutan ganti rugi atas kerugian negara. Kewajiban Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral berkaitan dengan pemungutan pendapatan negara antara lain. PNBP SDA Pertambangan Umum dipungut oleh KESDM berdasarkan Pasal 6 ayat (1) sd.BAB III TATACARA PENGHITUNGAN DAN PENCATATAN PNBP SDA PERTAMBANGAN UMUM 3. atau penjualan bersih. Dalam hal Wajib Bayar menjadi terutang setelah menerima manfaat. pelayanan rumah sakit dan sebagainya. wajib : a. mengintensifkan penagihan dan pemungutan piutang negara. indeks harga. Dasar pengenaan tertentu merupakan satuan nilai yang digunakan sebagai dasar perhitungan. c. 20 Tahun 1997. seperti pemanfaatan sumber daya alam. pelayanan pendidikan. antara lain Harga Patokan (HP). dihitung sendiri oleh Wajib Bayar. maka penentuan jumlah PNBP yang Terutangnya dapat dipercayakan kepada Wajib Bayar yang bersangkutan untuk menghitung sendiri dalam rangka membayar dan melaporkan sendiri (self assessment). mengadakan intensifikasi pemungutan pendapatan negara yang menjadi wewenang dan tanggung jawabnya.

e. Pemerintah telah menerbitkan PP No.1. 3) Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB). 3. diminta agar setiap Kementerian/Lembaga menetapkan kebijakan untuk mengintensifkan pelaksanaan pungutan yang telah ditetapkan dalam undang-undang dan peraturan pemerintah. dan 6) Pelayanan Jasa Bidang Pendidikan dan Pelatihan. pihak Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. b.2. iuran eksploitasi/produksi (royalti). ditetapkan oleh Instansi Pemerintah (spesifik). Implementasi atas Keputusan Presiden tersebut. mengintensifkan pemungutan sewa penggunaan barang-barang milik negara. 2) Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi/Royalty. mengenakan sanksi atas kelalaian pembayaran piutang negara tersebut di atas. dihitung sendiri oleh Wajib Bayar (self assessment) 1) Iuran Tetap/Landrent. 3.d. f. Kementerian/Lembaga tidak diperkenankan mengadakan pungutan dan atau tambahan pungutan yang tidak tercantum dalam undang-undang dan atau peraturan pemerintah.2. Iuran Eksplorasi. Tatacara Penghitungan Berdasarkan Keputusan Presiden tentang Pedoman Pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun berjalan. 4) Pelayanan Jasa Bidang Minyak dan Gas Bumi. Jenis PNBP pada PP No. 45 Tahun 2003 antara lain : a. melakukan penuntutan dan pemungutan denda yang telah diperjanjikan. 2) Jasa Teknologi/Konsultasi Eksplorasi Mineral. 5) Pelayanan Jasa Bidang Penelitian dan Pengembangan. Batubara. Atas dasar penunjukkan tersebut di atas. Tata Cara Penghitungan dan Pertambangan Penyetoran Iuran Tetap Izin Usaha 12 . khususnya Direktorat Jenderal Mineral Batubara dan Panas Bumi telah melakukan pemungutan PNBP sesuai PP No. 45 Tahun 2003 tentang Tarif dan Jenis PNBP yang Berlaku Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral sektor Pertambangan Umum yang isinya beberapa pungutan antara lain pungutan iuran tetap. 1) Pelayanan Jasa Bidang Geologi dan Sumber Daya Mineral. 3) Jasa Teknologi Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi. Panas Bumi dan Konservasi. 45 Tahun 2003 tentang Tarif Atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral.

92. 45/2003 penghitungannya dipengaruhi a) Masa jatuh tempo pembayaran Masa jatuh tempo pembayaran selama 3 (tiga) bulan tersebut bertentangan dengan Pasal 4 UU No. sehingga perlu ditegaskan tentang masa jatuh tempo pembayaran agar tidak menimbulkan kesalahan persepsi dalam pembayaran iuran tetap karena akan berdampak pada pengenaan denda administrasi atas keterlambatan pembayaran iuran tetap tersebut. Iuran Eksplorasi maupun Iuran Produksi bagi pemegang IUP diatur dalam Pasal 39.Kewajiban pembayaran Iuran Tetap. apabila dilakukan pemeriksaan dalam pengelolaan Iuran Tetap karena terdapat potensi kerugian Negara yang terlambat dalam memanfaatkan Iuran Tetap secepatnya. 1165 Tahun 1992 disebutkan jatuh tempo pembayaran selama 3 (tiga) bulan. Masa jatuh tempo pembayaran selama 3 (tiga) bulan tersebut juga berpengaruh kepada pengelolaan penerimaan dalam APBN berjalan. 20 Tahun 1997 yang menyatakan bahwa. 45 Tahun 2003. bagi wajib bayar membayar terlebih dulu biaya jasa pencetakan peta dimaksud. juga berdampak pada hasil audit BPK. Pengaturan penghitungan dan penyetoran bayaran Iuran Tetap untuk masing-masing pengusahaan pertambangan sebagai berikut: 1) Iuran Tetap Izin Usaha Pertambangan Dalam pengelolaan Iuran Tetap. 128 UU No. Pemahaman atas kata “disetor langsung secepatnya ke Kas Negara” pada kegiatan pencetakan peta informasi IUP di Unit Pelayanan Informasi Pertambangan (UPIP) DJMBP. kewajiban penyetoran PNBP disetor langsung secepatnya ke Kas Negara. Timbulnya persepsi yang bermacam-macam tersebut. 79. Pemahaman atas kata “disetor langsung secepatnya ke Kas Negara” mempunyai persepsi yang berbeda-beda bagi wajib bayar. 4 Tahun 2009. Masa jatuh tempo pembayaran Iuran Tetap tidak disebutkan dalam PP No. Iuran Tetap = Luas Wilayah IUP X Tarif PP No. karena Pemerintah akan menerima dana dari Iuran Tetap setelah 3 (tiga) 13 . 45 Tahun 2003. setelah itu Bendaharawan Penerima UPIP menerima uang jasa pencatatan peta tersebut dan langsung menyetorkannya ke Kas Negara pada hari itu juga. tetapi dalam peraturan perundang-perundangan sebelumnya yaitu Kepmenpertamben No. metoda beberapa aspek meliputi : b) c) d) Masa jatuh tempo pembayaran Denda keterlambatan Keringanan pembayaran Iuran Tetap dihitung berdasarkan luas wilayah dikalikan dengan tarif sesuai PP No.

Provinsi Maluku Utara. Provinsi Maluku. pemungutan dan penyetoran PNBP yang berlaku pada KESDM merupakan kewenangan Menkeu. 20 tahun 1997 yang menyatakan. sehingga diperlukan peraturan pelaksanaan untuk menegaskan bahwa jatuh tempo pembayaran Iuran Tetap tersebut adalah 1 (satu) bulan. seharusnya hak dan kewajiban timbul bersamaan pada saat IUP diterbitkan oleh penerbit izin.E/35/DJB/2009 tanggal 13 Oktober 2009 yang ditujukan kepada pemegang IUP ditetapkan bahwa masa jatuh tempo pembayaran iuran tetap paling lambat 1 (satu) bulan setelah Surat Keputusan Izin Usaha Pertambangan ditandatangani oleh Gubernur/ Bupati/Walikota untuk kewajiban Tahun Pertama. dalam hal terdapat kekurangan pembayaran jumlah PNBP yang Terutang. disebutkan bahwa diperlukan ketetapan yang mengatur tatacara pengenaan. 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara. Untuk itu Dirjen Minerbapabum telah menerbitkan Surat Edaran No.bulan setelah pemegang IUP mempunyai hak untuk melakukan kegiatan penyelidikan umum maupun eksplorasi. pemungutan dan penyetoran PNBP yang berlaku pada KESDM. masa jatuh tempo Iuran Tetap dihitung pada akhir Januari untuk semester I dan akhir Juli pada semester II. Dalam Pasal 9 PP No. berdasarkan Surat Edaran Dirjen Minerbapabum No. Keringanan terhadap pemegang pemegang Kuasa Pertambangan Penyelidikan Umum atau Kuasa Pertambangan Eksplorasi termasuk perpanjangannya hanya untuk daerah-daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur. 20 Tahun 1997 adalah 3 (tiga) bulan. Selanjutnya pengaturan masa jatuh tempo pembayaran Iuran Tetap IUP sebelum pemberlakuan UU No.E/35/DJB/2009 tanggal 13 Oktober 2009 yang ditujukan kepada para pemegang IUP bahwa masa jatuh tempo untuk pembayaran Iuran Tetap dan Iuran Produksi (royalti) adalah selama 1 (satu) bulan. 45 Tahun 2003. Tetapi sampai sekarang belum ada ketetapan hukum tersebut belum ada. 32. karena sesuai dengan UU No. wajib bayar yang bersangkutan wajib melunasi kekurangannya dan ditambah dengan sanksi berupa denda administrasi sebesar 2% (dua persen) 14 . Walaupun kewenangan dalam pengenaan. bahwa Menteri Keuangan adalah pengelola fiskal dan Wakil Pemerintah dalam kepemilikan kekayaan negara yang dipisahkan Untuk mengisi kekosongan hukum dan mempertegas masa jatuh tempo atas pembayaran Iuran Tetap dimaksud. Kewajiban pembayaran Iuran Tetap tahun-tahun selanjutnya disesuaikan dengan masa berlaku izin usaha pertambangannya dengan masa jatuh tempo pembayaran 1 (satu) bulan. tetapi di sisi lain berdasarkan “yurisprudensi” yang ada pada kontrak PKP2B dan Kontrak Karya. b) Denda Administrasi Kurang Bayar PNBP Pengaturan denda kurang bayar PNBP bagi pemegang IUP mengacu kepada pasal 17 ayat (1) UU No. dan Provinsi Papua diberikan keringanan atas pembayaran Iuran Tetap/Landrent sebesar 50% (lima puluh persen) dari tarif yang berlaku. 32.

volume. Masing-masing besaran kewajiban KK tidak sama bergantung pada masa penandatangan kontrak.040.000.000.000.00. atau kesalahan administrasi. maka jumlah PNBP yang Terutang = (2% x Rp102.00 = Rp104.000.00 Jatuh tempo tanggal = 2 Januari 2006 Pembayaran tanggal = 3 Januari 2006 Keterlambatan = 1 hari.000. c) Contoh Penghitungan Denda Administrasi Kurang Bayar Iuran Tetap IUP . mekanisme penentuan jumlah PNBP. mekanisme penagihan. 29 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah. mekanisme pembayaran PNBP yang terutang berikut sanksinya.000.000. b. 15 . Untuk meningkatkan kepatuhan bagi wajib bayar PNBP. dasar pengenaan tertentu. dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak Yang Terutang. Pembayaran. c.000. 29 Tahun 2009 secara garis besar mengatur halhal sebagai berikut : a.sebulan untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan dari jumlah kekurangan tersebut.000. jumlah PNBP Pajak yang Terutang : = (2% x Rp100. 45 Tahun 2003.00) + Rp102.000.00 = Rp102. sdg dioprek 2) Iuran Tetap Kontrak Karya Pemegang Kontrak Karya dalam membayar Iuran Tetap tidak mengacu kepada PP No. Denda kurang bayar PNBP dikenakan kepada seluruh pemegang IUP yang terlambat menyetor PNBP setelah melewati 1 (satu) bulan masa jatuh tempo atau kurang bayar dari jumlah PNBP yang menjadi kewajibannya.000.00.000. PP No. Perhitungan denda kurang bayar PNBP sebagai berikut : Pokok Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Terutang = Rp100. Apabila pembayaran dilakukan pada tanggal 3 Februari 2006. Pemerintah telah menerbitkan PP No.000. Sampai saat ini Kontrak Karya sudah mencapai Generasi IX. dihitung 1 bulan Maka.00) + Rp100. Penyebab kekurangan pembayaran antara lain adalah kesalahan penghitungan tarif. pemungutan dan penyetoran PNBP yang terutang. melainkan kepada kesepakatan antara Pemerintah dan Pemegang Kontrak Karya.

184 = jumlah hari Jul + Agt + Sept + Okt + Nov + Des (31+31+30+31+30+31) = 184 hari 16 . 365 = jumlah hari dalam 1(satu) tahun Komariah Semester-I (Tahun Kabisat) 182/366 X Luas Wilayah X Tarif sesuai Kontrak Semester-II (Tahun Kabisat) 184/366 X Luas Wilayah X Tarif sesuai Kontrak Keterangan : 1. Iuran Tetap KK = Luas Wilayah X Tarif (sesuai Kontrak) Dengan adanya ketentuan didalam kontrak sebagaimana tersebut di atas yang menyatakan bahwa kewajiban pembayaran deadrent harus dibayarkan 2 (dua) kali dalam setahun pada tiap-taip tanggal 1 Januari (semester-I) dan 1 Juli (semester-II) pada tahun berjalan. 184 = jumlah hari Juli + Agt + Sept + Okt + Nov + Des (31+31+30+31+30+31) = 184 hari 3. maka rumus pembayaran deadrent menjadi sebagai berikut : Semester-I (Tahun Komariah) 181/365 X Luas Wilayah X Tarif sesuai Kontrak Semester-II (Tahun Komariah) 184/365 X Luas Wilayah X Tarif sesuai Kontrak Keterangan : 1. sejumlah uang untuk tiap tahun sebagai iuran tetap yang akan dihitung menurut jumlah hektar yang termasuk masing-masing Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan. 182 = jumlah hari Jan + Feb + Maret + April + Mei + Juni (31 +28+31+30+31+30) = 182 hari 2. dihitung. 181 = jumlah hari Jan + Feb + Maret + April + Mei + Juni (31 +28+31+30+31+30) = 181 hari 2. pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli dari tiap tahun dan dibayar dimuka dalam dua kali pembayaran masing-masing dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal-tanggal tersebut selama jangka waktu kontrak.Kewajiban perusahaan pemegang KK harus membayar Iuran tetap untuk Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan dalam Rupiah atau dalam mata uang lain yang disetujui bersama.

30-06-2002 (semester I) Semester I = 181 hari – 19 hari = 162 hari Umur Eksplorasi 01-07-2002 sd.10 = US$ 66.500 X US$ 0. maka perhitungannya adalah sebagai berikut : Maka perhitungan deadrentnya adalah : Semester I = 163/366 X 1. Denda atau hukuman-hukuman lain tidak boleh dianggap sebagai potongan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak. Apabila pemegang KK lalai melakukan suatu pembayaran atas kewajiban Iuran Tetap kepada Pemerintah. Selama jangka waktu tersebut pemegang KK wajib memperbaiki kelalaian tersebut. SMT. maka Pemerintah akan memberi teguran atas kelalaian tersebut dan diberi batas waktu selama 30 (tiga puluh) hari setelah penerimaan surat teguran.62 Apabila Eksplorasi PT SMT seluas 1500 hektar dimulai pada tanggal 20 Januari 2000.10 = US$ 75. Tahun 2002 adalah tahun Komariah (tidak dapat dibagi 4) = 365 hari Maka perhitungan deadrentnya adalah : Semester I = 162/365 X 1.80 Semester II = 184/366 X 1.10 = US$ 66. SMT pada semester I tahun 2002 dan semester II tahun 2002 ? 1.3.500 X US$ 0.. Umur Eksplorasi tgl. + in)} + 4n% Denda = Pokok Terhutang x ------------------------------------------12 17 . 3. 20-01-2002 sd.500 X US$ 0.41 Denda Keterlambatan Iuran Tetap/Deadrent Kontrak Karya Denda untuk pembayaran yang terlambat adalah beban bunga atas jumlah uang yang lalai dibayar. adalah pemegang Perjanjian Kontrak Karya yang tahapan Eksplorasinya seluas 1500 hektar dimulai pada tanggal 20 Januari 2002.58 Semester II = 184/365 X 1.10.10 = US$ 75.500 X US$ 0. 31-12-2002 (semester II) Semester II = 31+31+30+31+30+31 = 184 hari 2. terhitung dari tanggal seharusnya pembayaran dilaksanakan dengan tingkat bunga pokok yang berlaku di New York (The Federal Fund of New York) pada tanggal kelalaian itu terjadi ditambah 4% (empat persen). 366 = jumlah hari dalam 1(satu) tahun Kabisat Contoh Penghitungan PT. berapakah kewajiban deadrent yang harus dibayar oleh PT. Tarif yang dikenakan adalah US$ 0. {(i1 + i2 + ………. Luas wilayah = 1.500 Ha 4.

diatur dalam kontrak tentang “kewajiban atas pajak-pajak dan kewajiban keuangan kontraktor” atau pengaturan tentang “pembayaran-pembayaran kepada PTBA”. Selama jangka waktu tersebut pemegang PKP2B wajib memperbaiki kelalaian tersebut. Denda atau hukuman-hukuman lain tidak boleh dianggap sebagai potongan dalam menghitung Penghasilan Kena Pajak.. Kewajiban pemegang PKP2B harus membayar Iuran tetap untuk Wilayah Kontrak atau Wilayah Pertambangan dalam Rupiah atau dalam mata uang lain yang disetujui bersama. + in)} + 4n% Denda = Pokok Terhutang x ------------------------------------------12 18 . dihitung. Sampai saat ini PKP2B sudah mencapai Generasi III. maka Pemerintah akan memberi teguran atas kelalaian tersebut dan diberi batas waktu selama 30 (tiga puluh) hari setelah penerimaan surat teguran. {(i1 + i2 + ………. pada tanggal 1 Januari dan 1 Juli dari tiap tahun dan dibayar dimuka dalam dua kali pembayaran masing-masing dalam waktu 30 (tiga puluh) hari setelah tanggal-tanggal tersebut selama jangka waktu kontrak. Masing-masing besaran kewajiban Iuran Tetap PKP2B tidak sama bergantung pada masa penandatangan kontrak. sejumlah uang untuk tiap tahun sebagai iuran tetap yang akan dihitung menurut jumlah hektar yang termasuk masingmasing Wilayah Kontrak Karya atau Wilayah Pertambangan. Pengenaan dan penghitungan besaran tarif Iuran Tetap untuk kegiatan yang dilakukan pemegang PKP2B diatur dalam kontrak PKP2B tersebut.D = Jumlah Denda n = Jumlah bulan keterlambatan in = Tingkat Suku Bunga New York dalam % pada bulan ke n 3) Iuran Tetap Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) Legalitas kewajiban Iuran Tetap bagi pemegang PKP2B sama dengan pemegang Kontrak Karya. Apabila pemegang PKP2B lalai melakukan suatu pembayaran atas kewajiban Iuran Tetap kepada Pemerintah. Iuran Tetap PKP2B = Luas Wilayah X Tarif (sesuai Kontrak) Denda untuk pembayaran yang terlambat adalah beban bunga atas jumlah kewajiban yang lalai dibayar. terhitung dari tanggal seharusnya pembayaran dilaksanakan dengan tingkat bunga pokok yang berlaku di New York (The Federal Fund of New York) pada tanggal kelalaian itu terjadi ditambah 4% (empat persen).

D = Jumlah Denda n = Jumlah bulan keterlambatan in = Tingkat Suku Bunga New York dalam % pada bulan ke n 3. dan apabila dijual pemerintah mempunyai hak untuk mendapat bagian sesuai dengan besaran dari pemilikan terhadap sumber daya mineral tersebut. Tata Cara Penghitungan dan Penyetoran Iuran Eksplorasi. Dengan demikian. cara pengerjaan. Secara umum royalti adalah pembayaran untuk penggunaan atas hak. Hasil produksi kegiatan usaha pertambangan yang berupa komoditi mineral berbeda dengan produk industri yang lain. seperti hak paten. 55 Tahun 2005 (tentang Dana Perimbangan) adalah iuran produksi pemegang kuasa usaha pertambangan atas hasil dari kesempatankehgiatan eksplorasi/ eksploitasi. Dalam sistem perpajakan mineral selama ini dikenal 3 bentuk royalti. sedangkan pengertian lain dari Iuran Ekplorasi dan Iuran Eksploitasi (royalti) menurut DJMBP adalah pungutan yang merupakan hak negara atas bahan tambang yang diambil dari perut bumi.1 Pengertian Royalti Pertambangan Pengertian Iuran Ekplorasi dan Eksploitasi (royalti) menurut PP No. yaitu unit based atau specific royalti. Dalam pengusahaan pertambangan royalti merupakan bentuk pembayaran kepada pemerintah atas upaya-upaya yang dilakukan untuk mengusahakan sumber daya mineral. hak pengusahaan dan lain-lain. Secara filosofis pembayaran royalti menandakan adanya perpindahan kepemilikan bahan tambang dari pemerintah ke perusahaan. karena komoditi mineral tersebut bukan menjadi milik perusahaan tetapi merupakan komponen produksi suatu komoditi yang akan dihasilkan dari sumber daya mineral. Iuran Produksi (royalti) Izin Usaha Pertambangan 3. 19 . maka perusahaan dapat melakukan kegiatan produksi. Selanjutnya dengan membayar royalti sehingga dapat memperoleh hak pengusahaan. Pelepasan hak kepemilikan ini sejalan dengan ketentuan yang mensyaratkan bahwa pelepasan hak harus untuk tujuan kemakmuran atau untuk kepentingan ekonomi rakyat banyak. hak cipta.3. lisensi. pelepasan hak kepemilikan terhadap sumber daya mineral yang telah diproses menjadi komoditi mineral adalah setelah komoditi diserahterimakan kepada pembeli dengan menetapkan harga berdasarkan suatu sistem yang ditentukan seperti sistem Free on Board (FOB). 1) Unit based atau specific royalti Unit atau specific royalti merupakan pajak yang dikenakan berdasarkan pada basis volume atau berat dari bahan galian yang dieksploitasi.3. sebagai konpensasi pemberian hak pengusahaan untuk menambang. merek dagang/pola/model. ad valorem royalti dan profit based royalti.

Bagi Pemerintah: pemasukan relatif Profit based . Oleh karena itu untuk mengurangi dampak penurunan nilai royalti akibat inflasi.Mudah dihitung . Free On Track (FOT) atau CIF (Cash. Insurance.Untuk mineral logam royalti dihitung berdasarkan kadar logam yang terkandung dalam bijih. Royalti jenis “fix fee” ini tidak dapat mengimbangi tekanan inflasi.Mudah dihitung . Pedoman harga dari penjualan ini bervariasi mulai dari Free On Board (FOB).Nilai penjualan .Sensitif terhadap masa kritis .Jumlah logam dan Konsentrat .Jumlah logam dari bijih .Mudah diaudit . konsentrat maupun dalam logam itu sendiri. Royalti jenis ini dapat diklasifikasikan sebagai pajak. apabila harga cenderung menurun perusahaan akan menambang sedikit dan pada saat harga tinggi perusahaan akan meningkatkan produksinya. 3) Profit based royalti Profit based royalti adalah jenis royalti yang dihitung berdasarkan basis keuntungan (profit) dari kegiatan operasi pertambangan.Termasuk dalam biaya .Sensitif terhadap harga 20 .Keuntungan (profit) .Mudah diaudit . Freight) Pengenaan royalti ini sangat dipengaruhi oleh tingkat harga bahan galian. Perbedaan yang paling utama adalah kepekaan terhadap perubahan harga. Komponen Basis pengenaan Keuntungan Unit based .Jumlah produksi .Bagi pemerintah: pemasukan yg Ad valorem . Royalti ini akan mengurangi nilai harga jual bahan galian secara proporsional tiap tahun.Dibayar saat diperoleh . 2. Dari ketiga formula di atas menunjukkan bahwa royalti menurunkan keuntungan tahunan disebabkan karena adanya peningkatan biaya produksi atau penurunan nilai efektif dari harga jual. Akibat dari masing-masing formula berbeda satu sama lain. Pada saat harga konstan perusahaan cenderung untuk berproduksi sedikit pada tahun-tahun awal kemudian secara bertahap meningkatkan produksi pada tahun berikutnya. 1. sedangkan ad valorem royalti berbanding lurus dengan perubahan harga. Keunggulan dan kelemahan dari ketiga jenis royalti tersebut di atas dapat dilihat pada Tabel berikut ini: No.Termasuk dalam biaya . Unit royalti tidak berubah pada saat terjadi kenaikan/penurunan harga pasar. Besarnya pengenaan royalti jenis ini tidak dipengaruhi oleh faktor kualitas (kadar) bahan galian tetapi hanya dipengaruhi oleh faktor hasil (output) produksi 2) Ad valorem royalti Ad valorem adalah jenis royalti yang dikenakan berdasarkan nilai (value) penjualan dari mineral/batubara yang dieksploitasi.

Tidak sensitif terhadap perubahan harga dan biaya .Dihitung berdasarkan jumlah yang diproduksi bukan yang dijual . Contoh penghitungan . 45 Tahun 2003 tanggal 31 Juli 2003. sesuai Pasal 9 PP dimaksud Menkeu menerbitkan ketetapan yang mengatur tatacara pengenaan.55/ton batubara PP 58 Tahun 2008 stabil utk jangka panjang . Kelemahan .US$.US$.3. sehingga menimbulkan masalah dalam pembayaran Iuran Tetap maupun Royalti. Di dalam PP No.Kurang sensitif pada saat harga tinggi . Tetapi dengan banyaknya pertanyaan dan permintaan dari pemegang IUP dan Pemda serta untuk tertibnya penyelengaraan pemungutan PNBP di bidang Pertambangan Umum oleh Dirjen Geologi dan Sumber Daya Mineral 21 .0. Seharusnya setelah PP No.stabil dan dapat diprediksi 3. 45 Tahun 2003 terbit. Sedangkan di dalam PP sendiri tidak mengatur tatacara pelaksanaan dan mekanisme penyetoran untuk Iuran Tetap maupun Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi (royalti).5% net profit 5.2.3.2.Tidak sensitif terhadap masa krisis investasi (period of losses) .75% Nilai penjualan . 4/2009 3.Tidak sensitif terhadap biaya Sulit dihitung Sulit dievaluasi Sulit diaudit Dapat diklasifikasikan sebagai pajak 4. 45 Tahun 2003 tersebut. pemungutan dan penyetoran PNBP yang berlaku pada KESDM.Nilai/tarif sering tertinggal terhadap perubahan harga (out of date) .13.5% Nilai penjualan PP 45 Tahun 2003 . pasal-pasalnya tidak mengenal biaya pengurang dalam pembayaran Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi (royalti). Legalitas UU No. dihitung : Bahan Galian yang dijual (berat) x Tarif x Harga Jual. Iuran Produksi (royalti) Izin Usaha Pertambangan 1) Ketetapan Pemungutan Iuran Produksi (royalti) IUP Iuran Eksplorasi/Iuran Eksploitasi (royalti) untuk pemegang IUP berdasarkan PP No.225/kg emas .

E/35/DJB/2009 tanggal 13 Oktober 2009 yang ditujukan kepada para pemegang IUP diatur sebagai berikut : 1) Sejak terbitnya 32. sehingga oleh Dirjen Minerbapabum berdasarkan SE No. 508. No. 008 Tahun 2004 tersebut berpedoman pada kontrak penjualan batubara yang tercantum dalam kontrak-kontrak PKP2B. 2) Tata Cara Penyetoran Berdasarkan Surat Direktur Pengelolaan Keuangan Negara-Ditjen Perbendaharaan Nomor S-6360/PB.3/2009 tanggal 20 Oktober 2009 perihal Penyetoran PNBP Pertambangan Umum dan Surat Edaran Dirjen Minerbapabum No.saat itu diterbitkan SE No.000.000.071 di Bank Indonesia Jakarta. Royalti dan Penjualan Hasil Tambang) dari pemegang KP/IUP dan PKP2B yang semula disetor ke Rekening Kas Negara A KPPN Jakarta I rekening nomor 501. 2) Para pemegang IUP wajib segera menyetorkan pembayaran Iuran Tetap ke Kas Negara paling lambat 1 (satu) bulan setelah Surat Keputusan Izin Usaha Pertambangan ditandatangani oleh Gubernur/ Bupati/Walikota untuk kewajiban Tahun Pertama.E/35/DJB/2009 tanggal 13 Oktober 2009. 34.E/30/DJB/2009 tanggal 20 November 2009. pemungutan dan penyetoran PNBP yang berlaku pada KESDM. Penerbitan SE No. tata penyetoran Iuran Tetap. Pada pelaksanaan Surat Edaran dimaksud dalam penghitungan royalti mineral dan batubara menimbulkan potensi kerugian Negara karena adanya faktor-faktor pengurang royalti. Kewajiban pembayaran Iuran Tetap tahun-tahun selanjutnya disesuaikan dengan masa berlaku izin usaha pertambangannya dengan masa jatuh tempo pembayaran 1 (satu) bulan. 3) Para pemegang Izin Usaha Pertambangan Operasi Produksi wajib segera menyetorkan pembayaran Iuran Produksi ke Kas Negara paling lambat 1 (satu) bulan setelah tanggal pengapalan atau pengangkutan. terhitung mulai tanggal 20 Oktober 2009 diubah mekanismenya sebagai berikut : 22 . Iuran Produksi (royalti) dan Penjualan Hasil Tambang di atur sebagai berikut: 1) Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) Sumber Daya Alam Pertambangan Umum (Iuran Tetap. 008 Tahun 2004 yang mengatur mekanisme pengenaan.000 di Bank Indonesia Jakarta dan pemegang Kontrak Karya yang semula disetor ke Rekening Departemen Keuangan No. 008 Tahun 2004 dinyatakan tidak berlaku lagi. Besarnya Iuran Produksi dihitung : Bahan Galian yang dijual (berat) x Tarif x Harga Jual Harga Jual harus sesuai harga pasar Internasional yang berlaku dan berpedoman pada harga patokan yang ditetapkan Pemerintah Titik jual sebagai dasar perhitungan iuran produksi harus dilakukan di atas kapal pengangkut/Free On Board (FOB). maka SE GSDM No. 32.

3) Selanjutnya salinan SSBP/bukti setor (bukti transfer. PNBP dalam mata uang Rupiah untuk pembayaran Iuran Tetap. Rekening 600. d. Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral dan Batubara Kepala Biro Keuangan DESDM Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi terkait Kepala Dinas Pertambangan dan Energi Kab/Kota terkait Kepala Dinas Pendapatan Daerah Provinsi terkait Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kab/Kota terkait 3. e.502411 pada Bank Indonesia Jakarta. sepanjang hasil produksi itu merupakan produk yang nilainya sesuai kebiasaan umum dibayar atau dapat dibayar kepada pemegang KK oleh pembeli. Setiap pembayaran harus 23 . b. Batubara dan Panas Bumi dengan tembusan kepada. a.2.a. c. Royalti dan Penjualan Hasil Tambang disetor ke Bank Umum dengan perintah transfer/pemindahbukuan ke Rekening Kas Umum Negara (RKUN) Dalam Valas US$ No. Iuran Produksi (royalti) Kontrak Karya Pengaturan Iuran Produksi (royalti) Kontrak Karya di dalam kontraknya sebagai berikut: 1) Pemegang KK harus membayar Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi/Produksi dari wilayah pertambangannya. f.3. PNBP dalam mata uang Dollar Amerika (US$) untuk pembayaran Iuran Tetap. bukti pemindahbukuan) berikut data pendukungnya disampaikan kepada Direktur Pembinaan Program Mineral. 2) Untuk penyetoran Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) harus telah terpisah masing-masing menjadi PNBP Royalti dan PNBP Penjualan Hasil Tambang pada saat disetorkan. Royalti dan Penjualan Hasil Tambang disetor menggunakan Surat Setoran Bukan Pajak (SSBP) melalui Bank/Pos persepsi dengan kode Akun sebagai berikut: Pendapatan Iuran Tetap : Pendapatan Royalti : Pendapatan Penjualan Hasil Tambang : 421311 421312 423113 b. Iuran Eksploitasi/Produksi akan dibayar dalam Rupiah atau mata uang lain yang disetujui bersama dan harus dibayar pada atau sebelum hari terakhir dari bulan setelah setiap triwulan.

Kecuali untuk mineral industri untuk pengembangan wilayah.5% dari hasil produksi batubara atas harga FOB (Free On Board) atau harga setempat (at sale point) pada fasilitas muat akhir yang dimiliki pemegang PKP2B yang penentuan lokasi dan harga batubara bagian Pemerintah didasarkan atas transaksi jual beli batubara antara pemegang PKP2B dengan pembeli.3.5% harus dibayarkan paling lambat dalam waktu 30 (tiga puluh) hari pada periode pertama bulan berikutnya dengan 24 .3. jumlah setiap mineral yang dikenakan ditetapkan secara tepat dengan metoda perhitungan yang dapat diterima secara internasional. sepanjang secara ekonomis dan teknis dapat dilaksanakan dan harus menyerahkan pembuktiannya kepada Pemerintah.disertai dengan suatu pernyataan yang cukup terinci yang merupakan dasar perhitungan iuran eksploitasi/produksi untuk produksi yang dihasilkan selama triwulan sebelumnya. pengolahan atau penanganan bijih sebelum penjualan domestik atau pengapalan ekspor dilakukan sesuai norma-norma internasional yang dapat diterima serta layak secara ekonomis dan teknis dan sesuai norma tersebut Pemegang KK wajib untuk mempertinggi perolehan bijih ditambang seoptimal mungkin dari cadangan terukur dan perolehan produksi secara metalurgi dari bijih. Dana Hasil Produksi Batubara Dalam kontrak Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) secara garis besar diatur. Pemerintah berhak menerima 13. 3) Pemegang KK akan berkewajiban agar setiap penambangan. 4) Pemegang KK harus membayar setiap bahan galian golongan C yang ditambang secara terpisah dari wilayah pertambangannya. Bagian Pemerintah sejumlah 13. Dalam hal ini konsentrat atau dore bullion. 3. Setiap limbah/material pengotor yang dipindahkan untuk melakukan operasi penambangan dikecualikan dari pembayaran Iuran Eksploitasi/Produksi. 2) Iuran Eksploitasi/Produksi ditetapkan dalam kontrak sebagai berikut: dihitung dengan tarif yang a) tonase atau jumlah berat yang digunakan di dalam perhitungan adalah didasarkan atas produksi akhir yang dihasilkan dari pemegang KK. b) Pemerintah akan (atas permintaan tertulis dari pemegang KK) merinci besarnya tarif Iuran Eksploitasi/Produksi untuk tarif mineral yang tidak ada patokannya.

Pengelolaan dan tata cara penggunaan dana hasil produksi batubara untuk kegiatan pembiayaan pengembangan batubara. Kontraktor memperoleh delapan puluh enam setengah perseratus (86. Pemerintah menerima 2 (dua) pendapatan. atau apabila tidak ada kontrak penjualan menurut harga pasar. Pemerintah mendapatkan 13. Dalam pengelolaan Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara (APBN) dari Pengelolaan Dana Hasil Produksi Batubara (DHPB) yang disetor oleh pemegang PKP2B.Pasal 12 (1) menyebutkan bahwa Semua batubara hasil produksi pertambangan di Wilayah Perjanjian dibagi antara Batubara dengan Kontraktor. pembayaran Iuran Eksplorasi dan Iuran Eksploitasi (royalty) dan Pajak Pertambahan Nilai.5%).pengiriman/pemakaian sendiri. biaya pengawasan pengelolaan lingkungan dan keselamatan kerja pertambangan. 25 . b. yaitu Pendapatan Royalti dan Pendapatan Penjualan Hasil Tambang. Pembagian hasil produksi tersebut adalah Batubara memperoleh tiga belas setengah perseratus (13. 33 Tahun 2004 merupakan dana yang dibagihasilkan yang pelaksanaan teknisnya diatur dalam PP No. Kontrak PKP2B yang dikelola oleh Pemerintah saat ini terdiri dari 3 generasi dengan perbedaan sebagai berikut: 1) Generasi I . Berdasarkan Keppres No. inventarisasi sumber daya batubara. Pendapatan royalti dari PKP2B berdasarkan Pasal 17 UU No. Pendapatan royalti.5% hasil produksi batubara berupa natura (in-kind). inventarisasi sumber daya batubara dan biaya pengawasan pengelolaan lingkungan dan keselamatan kerja pertambangan ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan usul dan pertimbangan Menteri ESDM. Harga batubara akan mengacu kepada kontrak penjualan. pembiayaan pengembangan batubara. Pemegang PKP2B harus menjual hasil produksinya sesuai dengan praktekpraktek dagang internasional yang diterima secara umum dan berusaha sebaik-baiknya untuk memperoleh harga dan persyaratan penjualan yang dapat meningkatkan secara maksimal perolehan ekonomi dengan memperhatikan pasar dunia. 75 Tahun 1976 tentang Ketentuan Pokok Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B) dinyatakan bahwa Hasil produksi batubara digunakan untuk: a. d. c. 55 Tahun 2005. sedangkan dana hasil produksi batubara langsung disetorkan ke Kas Negara.5%).

1534/29/DJP/1998 tanggal 9 Juli 1998 meminta kepada kontraktor untuk mengikutsertakan batubara bagian pemerintah dalam setiap penjualannya. maka Pemerintah melalui surat Direktur Jenderal Pertambangan Umum No.Pasal 11 (1) menyebutkan bahwa Pemerintah berhak menerima tiga belas setengah perseratus (13.5%).5% dari hasil produksi batubara pemegang PKP2B Generasi I dan II sulit untuk dilakukan transaski penjualan oleh Pemerintah karena beberapa faktor ekonomis.2) Generasi II . Dalam setiap penjualan batubara yang diproduksi oleh kontraktor baik itu di atas kapal maupun di atas truk atau yang lainnya terdapat batubara bagian Pemerintah sebesar 13. Untuk Generasi I dan II karena prinsipalnya telah beralih kepada Pemerintah yang pada saat itu pengelolaan PKP2B dilimpahkan kepada Direktur Jenderal Pertambangan Umum dan secara teknis dilaksanakan oleh Direktorat Batubara. Berdasarkan Keputusan Presiden No. berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.5 % dan batubara bagian Kontraktor sebesar 86. 75 Tahun 1996 di atas. Pemerintah mendapatkan 13. 26 . maka pengelolaan mineral dan batubara dilimpahkan kepada Direktorat Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral yang secara teknis dilaksanakan oleh Direktorat Pengusahaan Mineral dan Batubara. terdapat perubahan prinsipal para kontraktor batubara yang beralih dari Perusahaan Umum Tambang Batubara kepada PT Tambang Batubara Bukit Asam selanjutnya kepada Pemerintah dalam hal ini Departemen Pertambangan dan Energi. Selanjutnnya. maka Pemerintah bersama dengan pemegang PKP2B melakukan perjanjian kerjasama pejualan batubara. 680.5%). Pembagian hasil produksi tersebut adalah PTBA memperoleh tiga belas setengah perseratus (13.K/29/M. Dengan adanya restrukturisasi pada Departemen Pertambangan dan Energi menjadi Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral tahun 2001.5% hasil produksi batubara berupa natura (in-kind).5% Sehubungan dengan bagian Pemerintah 13.Pasal 12 (1) menyebutkan bahwa Semua batubara hasil produksi pertambangan di Wilayah Perjanjian dibagi antara PTBA dengan Kontraktor. sehingga Pemerintah menerima bagian hasil produksi batubara berupa in-cash. Kontraktor memperoleh delapan puluh enam setengah perseratus (86.PE/1998 pengelolaan PKP2B tersebut dilimpahkan kepada Direktur Jenderal Pertambangan Umum dan secara teknis dilaksanakan oleh Direktorat Batubara.5%) dari hasil produksi secara tunai atas harga FOB (Free On Board) atau harga setempat (at sale point) pada fasilitas muat akhir yang dimiliki oleh Kontraktor yang penentuan lokasi dan harga batubara bagian pemerintah didasarkan atas transaksi jual beli batubara antara kontraktor dengan pembelian. 3) Generasi III .

Masa Tahun Anggaran dihitung mulai periode dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember tahun yang bersangkutan. Sedangkan Laporan Realisasi PNBP adalah daftar yang memuat PNBP yang telah dicapai/diperoleh dalam periode tertentu. Demikian pula halnya dengan Laporan Realisasi PNBP. periode. namun Rencana PNBP dalam mata uang asing juga disampaikan dan asumsi nilai tukarnya.BAB IV TATACARA PELAPORAN PNBP DAN PENGELOLAAN PNBP TERUTANG 4. Kewajiban Penyampaian Negara Bukan Pajak Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Peranan Penerimaan Negara Bukan Pajak memiliki arti penting dalam menunjang pembiayaan pembangunan nasional. dan untuk memperoleh data dan informasi dari Instansi Pemerintah mengenai Penerimaan Negara Bukan Pajak yang berkaitan dengan kegiatan Instansi Pemerintah yang bersangkutan serta sebagai dasar bagi Menteri Keuangan untuk menetapkan kebijakan di bidang Penerimaan Negara Bukan Pajak. Rencana PNBP tetap disampaikan dalam Rupiah. Dasar Hukum Tata Cara Penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak sesuai Pasal 7 ayat (2) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak diatur dalam PP No.1. 27 . sekurang-kurangnya memuat jenis. Dalam hal tarif PNBP ditetapkan dalam US$ atau mata uang asing. Rencana PNBP adalah hasil penghitungan/penetapan PNBP yang diperkirakan akan diterima dalam 1 (satu) tahun yang akan datang. dipandang perlu mengatur tata cara penyampaian Rencana dan Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak dalam Peraturan Pemerintah sesuai dengan Pasal 7 ayat (2) Undang-undang Nomor 20 Tahun 1997 tentang Penerimaan Negara Bukan Pajak.2. Materi laporan yang dimaksud adalah agar data yang disampaikan dapat memberikan gambaran secara obyektif dan informatif sehingga laporan tersebut bermanfaat secara optimal. Sekretaris Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral wajib melaksanakan penyusunan Rencana dan Laporan Realisasi PNBP setiap tahun dengan materi laporan . dan jumlah PNBP. sehingga perlu dioptimalkan antara lain melalui peningkatan pengelolaan Penerimaan Negara Bukan Pajak yang terencana dan tertib. juga disampaikan dalam mata uang asing dan realisasi nilai tukar pada saat disetor ke Kas Negara. 1 Tahun 2004. Sehubungan dengan hal tersebut. 4. tarif.

2. atau Rencana atau Laporan Realisasi PNBP Tahun Anggaran berjalan serta data pendukung lain. maka Rencana PNBP untuk Tahun Anggaran yang akan datang ditetapkan oleh Menteri Keuangan berdasarkan Rencana atau Laporan Realisasi PNBP Tahun Anggaran sebelumnya. Waktu penyampaian Laporan Realisasi PNBP triwulanan adalah : No. Dalam hal pejabat Instansi Pemerintah tidak atau terlambat menyampaikan Rencana dan Laporan Realisasi PNBP. 4. Berkaitan dengan penyusunan Rencana PNBP tahun yang akan datang dan apabila terdapat hal yang menyangkut revisi Rencana PNBP tersebut . maka penyampaian Rencana PNBP dilakukan pada hari kerja sebelumnya. Peraturan perundang-undangan yang berlaku antara lain peraturan disiplin yang berlaku bagi Pegawai Negeri. Periode Triwulan I Triwulan II Triwulan III Triwulan IV Jangka Waktu Jan-Maret April-Juni Juli-September Oktober-Desember Batas Waktu Penyerahan 30 April 31 Juli 31 Oktober 31 Januari Penyampaian laporan perkiraan realisasi PNBP dapat dilakukan secara langsung atau pengiriman tercatat melalui Kantor Pos/jasa pengiriman resmi kepada Menteri Keuangan dengan tanda bukti pengiriman. Apabila dalam hal Sekretaris Jenderal tidak atau terlambat menyampaikan Rencana PNBP.Setiap tahun rencana PNBP wajib disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral kepada Menteri Keuangan paling lambat pada tanggal 15 Juli Tahun Anggaran berjalan. maka Sekjen wajib menyampaikan revisi Rencana PNBP dimaksud paling lambat tanggal 15 Agustus Tahun Anggaran berjalan atau sebelum penyusunan perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Tahun Anggaran berjalan kepada Menteri Keuangan. dikenakan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. maka Sekjen wajib menyampaikan revisi Rencana PNBP dimaksud paling lambat tanggal 5 Agustus Tahun Anggaran yang bersangkutan kepada Menteri Keuangan. 3. Sedangkan apabila terdapat revisi Rencana PNBP Tahun Anggaran berjalan. Maka Menteri Keuangan dapat menetapkan Rencana PNBP untuk masing-masing Instansi Pemerintah. maka Menteri Keuangan dapat menetapkan Rencana PNBP Instansi Pemerintah yang bersangkutan. Laporan Realisasi PNBP triwulanan disampaikan secara tertulis oleh Sekjen Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral kepada Menteri Keuangan paling lambat 1 (satu) bulan setelah triwulan yang bersangkutan berakhir. Apabila tanggal 15 Juli jatuh pada hari libur. Apabila terjadi keterlambatan atau Sekjen Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral tidak menyampaikan Rencana PNBP. Semua Penyampaian Rencana dan realisasi PNBP yang dikirim ke Menteri Keuangan dilakukan secara tertulis. 28 . Selanjutnya apabila Sekjen Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral belum menyampaikan revisi Rencana PNBP tersebut. 1.

Namun dalam perkembangan selanjutnya. b. tujuan penggunaan dana PNBP antara lain untuk meningkatkan pelayanan. dan Penyetoran Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Terutang. Pembayaran. berdasarkan Surat Edaran Sekretaris Jenderal Depkeu RI Nomor : S-389/SJ/2006 tanggal 15 Juni 2006 yang kemudian ditindaklanjuti dengan Surat Edaran Dirjen Pajak Nomor : SE. 20 Tahun 1997 tentang PNBP juncto Pasal 1 angka 6 PP No. Kegiatan penatausahaan sebagian dana dari PNBP ini dilakukan oleh pimpinan instansi/bendaharawan penerima dan bendaharawan pengguna. dan Penyetoran PNBP yang Terutang) Petunjuk pelaksanaan PNBP terutang terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah. Jumlah PNBP yang terutang ditentukan dengan cara : a. dihitung sendiri oleh Wajib Bayar. Pembayaran. dan d. pelayanan pendidikan. atau b. meningkatkan produktivitas kerja serta meningkatkan efisiensi perekonomian. ditetapkan oleh instansi pemerintah. c. Pemberian ijin penggunaan dan besaran jumlah ditentukan oleh Menteri Keuangan melalui Keputusan Menteri Keuangan. (Wajib Bayar adalah orang pribadi atau badan yang ditentukan untuk melakukan kewajiban membayar menurut Pasal 1 angka 5 UU No. dan penjualan karcis masuk. laporan realisasi dan perkiraan tahun anggaran berjalan serta perkiraan untuk 2(dua) tahun anggaran mendatang. setelah Pimpinan instansi pemerintah mengajukan permohonan yang sedikitnya dilengkapi dengan: a. PNBP Terutang PNBP yang harus dibayar pada suatu saat atau dalam suatu periode tertentu menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku disebut PNBP yang Terutang. yang ditunjuk setiap awal tahun anggaran. jenis PNBP beserta tarif yang berlaku.12/2006 tentang Laporan Realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak. Walaupun PNBP memiliki sifat segera harus disetorkan ke kas negara. Apabila terdapat saldo lebih maka pada akhir tahun anggaran wajib disetor seluruhnya ke Kas Negara. rincian kegiatan pokok instansi dan kegiatan yang akan dibiayai PNBP. 29 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah. dihitung dengan menggunakan tarif : 29 .3. namun sebagian dana dari PNBP yang telah dipungut dapat digunakan untuk kegiatan tertentu oleh instansi yang bersangkutan. pelayanan kesehatan. Instansi Pemerintah memiliki kewajiban untuk menyampaikan Laporan Bulanan realisasi PNBP setiap tanggal 10 bulan berikutnya kepada Sekretaris Jenderal Depkeu serta tembusan disampaikan kepada Sekretaris Dirjen Pajak.05/PJ. 4. antara lain pemberian paten. antara lain pemanfaatan sumber daya alam. meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Instansi Pemerintah menerbitkan Surat Penyerahan Tagihan kepada instansi yang berwenang mengurus piutang Negara tersebut. 29 Tahun 2009 b. belum dilunasi. atau penjualan bersih) yang digunakan sebagai dasar perhitungan. advalorem. penagihan dilakukan oleh Pimpinan Instansi Pemerintah (Menteri atau Pimpinan Lembaga Non Departemen) selaku Pengguna Anggaran mekanisme penagihan dan/atau pemungutan diatur dengan Peraturan Menteri Keuangan Wajib Bayar pembayaran dilakukan oleh wajib bayar paling lambat pada saat jatuh tempo apabila belum dibayar. Dirjen Anggaran. . maka akan dikenakan sanksi sebesar 2% per bulan dari bagian yang terutang dan bagian dari bulan dihitung 1 (satu) bulan penuh. mekanisme : . . belum dilunasi. 3.Pimpinan Instansi Pemerintah menerbitkan Surat Tagihan Pertama. belum dilunasi. Pemberian denda ini juga berlaku dalam hal terjadi keterlambatan kekurangan pembayaran PNBP dan hanya dikenakan 30 .a. indeks harga. c. tarif spesifik adalah tarif yang ditetapkan dengan nilai nominal uang sesuai Penjelasan Pasal 4 ayat (1) PP No. penyetoran dilakukan menggunakan formulir SSBP (Surat Setoran Bukan Pajak) dan disampaikan kepada Bendahara Penerimaan Satuan Kerja. Untuk pembayaran yang dilakukan oleh wajib pajak. Apabila Wajib Bayar tidak melakukan pembayaran sampai melampaui jatuh tempo. 1. putusan pengadilan. Pengaturan Pembayaran dan Penyetoran PNBP yang Terutang dapat digambarkan sebagai berikut : No. kontrak. Dalam hal ini penetapan berdasarkan formula. kurs. Wajib bayar yang menghitung sendiri PNBP yang terutang harus menyampaikan surat tanda bukti pembayaran yang sah kepada Menteri Keuangan c.Dalam waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Tagihan Pertama. pendapatan kotor. ketentuan perundang-undangan.05/2008 tentang Tata Cara Penatausahaan dan Penyusunan laporan Pertanggungjawaban Bendahara Kementerian Negara/Lembaga/Kantor/Satuan Kerja). spesifik.Dalam waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Tagihan Ketiga.( Pasal 4 ayat (2) dan (3) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 73/PMK. Instansi Pemerintah menerbitkan Surat Tagihan Ketiga. Instansi Pemerintah pembayaran dilakukan oleh instansi pemerintah pada waktu yang ditentukan berdasarkan Peraturan Pemerintah apabila belum dibayar. dan hasil lelang.q. tarif advalorem adalah tarif yang ditetapkan dengan persentase (%) dikalikan dengan satuan nilai (berupa Harga Patokan.Dalam waktu 1 (satu) bulan sejak tanggal Surat Tagihan Kedua. penagihan wajib dilakukan oleh Pimpinan Instansi Pemerintah 2. Instansi Pemerintah menerbitkan Surat Tagihan Kedua. .

Selain memiliki kewajiban untuk menyetor PNBP. . dan Penyetoran PNBP Yang Terutang. Wajib Bayar juga memperoleh hakhak sebagai berikut: No. Pembayaran. jika disetujui.Wajib Bayar mengajukan permohonan pengembalian kelebihan masih berjalan kepada Pimpinan Instansi Pemerintah disertai dokumen pendukung lengkap.Wajib Bayar mengajukan permohonan mengangsur dan/atau menunda pembayaran PNBP yang terutang. 2. dan dapat diformulasikan sebagai berikut : 2%x nilai PNBP yang terutang +akumulasi denda.Setelah diterima.Setelah melalui pertimbangan yang ada. 31 . Menteri menerbitkan persetujuan atau penolakan permohonan dan menyampaikannya kepada Pimpinan Instansi Pemerintah paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak surat permohonan dari Pimpinan Instansi Pemerintah diterima. Keterlambatan 1 hari tetap diperhitungkan sebagai keterlambatan 1(satu) bulan penuh ). atau kesalahan administrasi (Metode perhitungan sanksi administrasi dapat dilihat pada Penjelasan Pasal 5 ayat (2) PP No. . secara tertulis kepada Pimpinan Instansi Pemerintah paling lambat 20 (dua puluh hari) sebelum tanggal jatuh tempo pembayaran PNBP yang terutang . 1. .untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan. volume.Pimpinan Instansi Pemerintah menyampaikan permohonan tersebut beserta rekomendasi tertulis kepada Menteri Keuangan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak permohonan tersebut diterima secara lengkap.Berdasarkan pertimbangan tertentu. Pimpinan Instansi Pemerintah memberikan persetujuan atau penolakan tersebut paling lambat 7 (tujuh) hari setelah persetujuan atau penolakan dari Menteri. jika disetujui Menteri akan menerbitkan penetapan persetujuan pengembalian kelebihan pembayaran secara tunai. b. Mekanisme dalam hal terdapat kelebihan perhitungan PNBP yang terutang a. .Pimpinan Instansi Pemerintah menyampaikan permohonan berakhir pengembalian kelebihan pembayaran kepada Menteri Keuangan disertai rekomendasi tertulis.Apabila melampaui batas waktu.Pengembalian kelebihan pembayaran dilakukan paling lambat 1 (satu) bulan terhitung sejak tanggal penetapan persetujuan Menteri. 29 Tahun 2009 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah. dasar pengenaan tertentu. Wajib Bayar juga memperoleh imbalan bunga 2% per bulan untuk jangka waktu paling lama 24 (dua puluh empat) bulan.Setelah melalui pertimbangan tertentu. kelebihan pembayaran diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas PNBP yang terutang pada periode berikutnya. usaha Wajib Bayar . . usaha Wajib Bayar . Kekurangan pembayaran PNBP terjadi karena kesalahan penghitungan tarif. . dalam kondisi keuangan perusahaan kurang mendukung atau terjadi force majeur (bencana alam) .

Terhadap PNBP yang Terutang dilakukan pemeriksaan oleh instansi berwenang untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban sesuai dengan peraturan perundangundangan. 29 Tahun 2008 tentang Tata Cara Penentuan Jumlah. 4. yang dibuktikan dengan rekomendasi dari instansi yang berwenang melakukan pemeriksaan. dan Penyetoran PNBP yang Terutang. . hubungan internasional. kepentingan keagamaan.3. dokumen. . Dalam hal berkaitan dengan kegiatan sosial. . Wajib Bayar tidak mampu membayar kewajiban PNBP yang Terutang. kepentingan nasional.Oleh Pimpinan Instansi Pemerintah. diberikan persetujuan atau penolakan paling lambat 15 (lima belas) hari kerja. Dengan adanya kekurangan penerimaan ini. Pimpinan Instansi Pemerintah akan menerbitkan penetapan atas kekurangan tersebut. mengalami kerugian.Wajib Bayar mengajukan permohonan untuk dilakukan peninjauan kembali dari kewajiban Pembayaran PNBP yang Terutang dan/atau sanksi administrasi berupa denda. Dalam hal berdasarkan hasil pemeriksaan terdapat kelebihan pembayaran PNBP yang Terutang Pimpinan Instansi Pemerintah menerbitkan penetapan atas kelebihan tersebut yang kemudian diperhitungkan sebagai pembayaran dimuka atas jumlah PNBP yang terutang dari Wajib Bayar yang bersangkutan pada periode berikutnya. dan wajib untuk dilunasi dengan ditambah sanksi administrasi berupa denda sebesar 2% (dua persen) per bulan dari kekurangan tersebut untuk paling lama 24 (dua puluh empat) bulan sejak PNBP yang terutang.permohonan tersebut kemudian diajukan oleh Pimpinan Instansi Pemerintah kepada Menteri dilengkapi dengan rekomendasi tertulis.Menteri kemudian dapat menerbitkan surat persetujuan atau surat penolakan dan menyampaikan kepada Pimpinan Instansi Pemerintah yang bersifat final.Ketentuan mengenai tata cara peninjauan kembali diatur dengan Peraturan Menteri. 32 . Pembayaran. dan data pendukung. berdasarkan ketentuan Pasal 10 PP No. . diajukan secara tertulis kepada Pimpinan Instansi Pemerintah disertai penjelasan. . Instansi yang berwenang adalah Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan BPK sesuai dengan ketentuan peraturan perundangundangan.

33 . 33 Tahun 2004 Tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah bahwa tujuan utama dari peraturan perimbangan itu adalah agar daerah mendapatkan biaya yang sepadan dengan kebutuhan dan kapasitas fiskalnya dalam memberikan layanan kepada publik. Peraturan pelaksanaan DBH dituangkan dalam Peraturan Menteri Keuangan tentang Alokasi Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam (SDA) Pertambangan Umum. sedangkan Pembinaan. Berkaitan dengan hal di atas. Berdasarkan Pasal 17 UU No. Dasar Hukum Penyaluran PNBP Sumber Daya Alam Sektor Pertambangan Umum Dalam UU No. termasuk pula di dalamnya untuk mendapatkan bagian dari bagi hasil atas pengelolaan sumber daya alam yang ada di daerahnya yang diperoleh dari dana perimbangan. Dana Perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi. DBH adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dibagihasilkan kepada Daerah berdasarkan angka persentase tertentu.BAB V TATA CARA PENYALURAN PNBP SUMBER DAYA ALAM SEKTOR PERTAMBANGAN UMUM 5. juga bertujuan untuk mengurangi ketimpangan sumber pendanaan pemerintahan antara Pusat dan Daerah serta untuk mengurangi kesenjangan pendanaan pemerintahan antar-Daerah. sehingga kemakmuran masyarakat secara relatif dapat dicapai dalam waktu yang bersamaan. 55 Tahun 2005 bahwa PNBP dari SDA Pertambangan Umum merupakan salah jenis dana perimbangan yang dibagihasilkan terdiri dari Iuran Tetap dan Royalti. maka daerah dalam rangka melaksanakan otonominya diberikan hak untuk mendapatkan sumber keuangan untuk menjamin tersedianya dana untuk pembiayaan pemerintahannya sendiri sesuai dengan urusan pemerintahan yang disesuaikan oleh pemerintah pusat. Dana perimbangan selain dimaksudkan untuk membantu Daerah dalam mendanai kewenangannya. Disamping itu perimbangan keuangan yang baik tentunya akan dapat dipakai sebagai instrumen untuk mengoreksi ketimpangan pendapatan antara daerah. Ketiga komponen Dana Perimbangan ini merupakan sistem transfer dana dari Pemerintah serta merupakan satu kesatuan yang utuh. sedangkan Dana Bagi Hasil (DBH) adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang dialokasikan kepada Daerah berdasarkan angka persentase untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan Desentralisasi.1. 33 Tahun 2004 dan Pasal 27 ayat (5) PP No. pemantauan dan evaluasi atas penggunaan dana perimbangan dilakukan oleh Menteri Keuangan dan Menteri Dalam Negeri. kewenangan dalam pemungutan yang diserahkan oleh pemerintah pusat diantaranya memungut pajak daerah dan retribusi daerah.

K/2009 tanggal 27 April 2009 tentang Kelengkapan dokumen PNBP. Bukti-bukti setor tersebut selanjutnya dievaluasi dan diverifikasi berdasarkan nama penyetor. 4) Ditjen Minerbapabum menyampaikan usulan penyaluran DBH ke Biro Keuangan KESDM berdasarkan hasil verifikasi daerah penghasil dan Berita Acara Rekonsiliasi. Data yang diminta meliputi seluruh data penerimaan royalti dan iuran tetap baik yang diterima di KPPN tersebar di seluruh Indonesia maupun yang diterima di Rekening Kas Umum Negara. 2082/84/SJN. nilai DBH. uraian dan periode penyetoran. 2) Biro Keuangan KESDM selanjutnya mencatat seluruh penerimaan PNBP dari Ditjen Perbendaharaan. KK dan PKP2B. 2) Hasil verifikasi bukti setor selanjutnya dicocokkan dengan kewajiban perusahaan. Usulan penyaluran berisikan data nama penyetor.1 Penerimaan Bukti Setor PNBP 1) Ditjen Minerbapabum menerima bukti setoran PNBP dari pemegang IUP. bahwa Sekjen KESDM hanya akan melakukan pencatatan dan menyampaikan usulan penyaluran PNBP SDA Pertambangan Umum kepada Departemen Keuangan yang dilengkapi dokumen pendukung berupa bukti setor perusahaan (bukti transfer atau SSBP) atau dokumen lain yang dipersamakan dan rincian daerah penghasil.2. daerah penghasil dan sebagainya. Kemkeu. 3) Berdasarkan Surat Sekjen KESDM No. Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan unit kerja terkait. Langkah selanjutnya adalah melakukan pencatatan. Biro Keuangan KESDM.2. jenis dan nilai setoran. 5. tanggal setor. Ditjen Perbendaharaan.5. Ditjen Perbendaharaan.2. Hasil pencatatan tadi disusun sebagai bahan rekonsiliasi tingkat Pusat antara Ditjen Minerba. Biro Keuangan KESDM. 34 .2 Proses Rekonsiliasi PNBP di Biro Keuangan KESDM 1) Biro Keuangan KESDM meminta data penerimaan PNBP ke Ditjen Perbendaharaan. sekaligus menghitung kurang atau lebih bayar dari setoran dimaksud. nama bank/kantor pos persepsi serta nama kota/kabupaten/provinsi. Kemkeu. Hasil rekonsiliasi selanjutnya dituangkan dalam Berita Acara Rekonsiliasi yang ditandatangani oleh unit kerja terkait. 3) Biro Keuangan KESDM selanjutnya mengadakan rekonsiliasi dengan Ditjen Minerba. serta mentaati batas akhir waktu usulan penyaluran DBH SDA PU yang telah ditetapkan 4) Hasil verifikasi DJMBP selanjutnya disampaikan ke Biro Keuangan KESDM untuk dilakukan rekonsiliasi dan diusulkan sebagai bahan penyaluran ke Menteri Keuangan. Kanwil Ditjen Perbendaharaan dan Ditjen Perimbangan Keuangan. Tata Cara Penyaluran PNBP SDA Sektor Pertambangan Umum 5.

Penyaluran Dana Bagi Hasil SDA Pertambangan Umum dilaksanakan secara triwulanan.2. Penyaluran triwulan pertama pada bulan April Penyaluran triwulan kedua pada bulan Juli Penyaluran triwulan ketiga pada bulan Oktober Penyaluran triwulan keempat pada bulan Desember 5) Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan setelah melaksanakan penyaluran. d. wilayah administratif masingmasing kabupaten/kota. c.3 Pengusulan dan Penyaluran DBH 1) Biro Keuangan KESDM setelah menerima usulan penyaluran DBH dari Ditjen Minerbapabum selanjutnya meneliti kembali atas usulan tersebut. 2) Biro Keuangan KESDM melalui Sekjen KESDM selanjutnya menyampaikan usulan penyaluran DBH kepada Ditjen Perimbangan Keuangan untuk menyalurkan bagian daerah penghasil sesuai porsinya. Hal-hal yang diteliti antara lain besarnya DBH yang diusulkan apakah sesuai SK MESDM tentang Penetapan Daerah Penghasil dan Penghitungan Bagian Daerah Penghasil. dan sebagainya. 4) Dana Bagi Hasil disalurkan ke Kas Daerah secara triwulanan sebagai berikut : a. 3) Ditjen Perimbangan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan yang mengatur Alokasi Dana Bagi Hasil SDA pertambangan Umum untuk masing-masing daerah adalah merupakan perkiraan yang disusun berdasarkan perkiraan penerimaan sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. segera menyampaikan Surat Permintaan Penerbitan Surat Ketetapan Otorisasi (SPP-SKO) dan Surat Permintaan Penerbitan Surat Perintah Membayar (SPP-SPM) kepada Direktur Jenderal Anggaran dalam rangka pencatatan dalam sistem Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. b.5. Untuk triwulan I dan II penyaluran dana dilaksanakan sebesar 20% dari pagu alokasi. 35 . sedangkan penyaluran selanjutnya diperhitungkan dengan realisasi penerimaan Dana Bagi Hasil Sumber Daya Alam Pertambangan Umum Triwulan III dan IV.

PENGELOLAAN PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK SUMBER DAYA ALAM PERTAMBANGAN UMUM DIREKTORAT JENDERAL MINERAL BATUBARA DAN PANAS BUMI DIREKTORAT PEMBINAAN PROGRAM MINERAL BATUBARA DAN PANAS BUMI BANDUNG. 1 APRIL 2010 36 .D. 29 MARET S.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->