Anda di halaman 1dari 54

Ruang lingkup dari ilmu psikologi lintas budaya adalah : a. Pewarisan dan Perkembangan Budaya b.

Budaya dan Diri (Self) c. Persepsi d. Kognisi & Perkembangannya e. Psikologi Perkembangan f. Bahasa g. Emosi h. Psikologi Abnormal i. Psikologi Sosial Oct 3

Hubungan Psikologi dan Budaya Pada awal perkembangannya, ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru sesudah tahun 50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas budaya benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan peranan penting dalam aspek psikologis manusia. Oleh karena itu pengembangan ilmu psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya. Triandis (2002) misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat bermakna apabila dilakukan lintas budaya. Hal tersebut juga berlaku bagi cabang-cabang ilmu psikologi lainnya. Sebenarnya bagaimana hubungan antara psikologi dan budaya? Secara sederhana Triandis (1994) membuat kerangka sederhana bagaimana hubungan antara budaya dan perilaku social : Ekologi - biologi - budaya sosiologi - ilmu linguistik - kepribadian - perilaku. Sementara itu Berry, Segall, Dasen, & Poortinga (1999) mengembangkan sebuah kerangka untuk memahami bagaimana sebuah perilaku dan keadaan psikologis terbentuk dalam keadaan yang berbeda-beda antar budaya. Kondisi ekologi yang terdiri dari lingkungan fisik, kondisi geografis, iklim, serta flora dan fauna, bersama-sama dengan kondisi lingkungan sosial-politik dan adaptasi biologis dan adaptasi kultural

merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku dan karakter psikologis. Ketiga hal tersebut kemudian akan melahirkan pengaruh ekologi, genetika, transmisi budaya dan pembelajaran budaya, yang bersamasama akan melahirkan suatu perilaku dan karakter psikologis tertentu.

pengertian, tujuan, dan hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lain
KATA PENGANTAR Pertama tama saya ingin berterimakasih kepada ibu dosen atas diberikan tugas untuk mencari apa yang dimasud dengan psikologi lintas budaya, tujuannya, serta hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lain. Dengan tugas ini saya mendapatkan ilmu yang banyak, sebab di dalam ilmu ini terdapat berbagai informasi tentang psikologi dan ilmu budaya. maka dari itu saya membuat tulisan yang berjudul pengertian, tujuan dan hubungan psikologi lintas budaya dengan ilmu lain.

Psikologi dewasa ini mulai menguak dan mencari prinsip-prinsip universalitas, seperti munculnya Psikologi Positif, Psikologi Islami, dan psikologi-psikologi yang lain. Di satu sisi psikologi barat memang dibutuhkan, namun di lain pihak karakteristik kultural budaya setempat juga mulai mendapatkan perhatian. Artinya, untuk memahami perilaku manusia di belahan bumi lain harus digunakan basis kultur dimana manusia itu hidup. Selain itu, diperlukan juga adanya integrasi antara perspektif Barat dan Timur untuk mencari kesamaan-kesamaan dan atau menjawab permasalahan yang tengah dihadapi masyarakat setempat. Berbicara budaya adalah berbicara pada ranah sosial dan sekaligus ranah individual. Pada ranah sosial karena budaya lahir ketika manusia bertemu dengan manusia lainnya dan membangun kehidupan bersama yang lebih dari sekedar pertemuan-pertemuan insidental. Dari kehidupan bersama tersebut diadakanlah aturan-aturan, nilai-nilai kebiasaan-kebiasaan hingga kadang sampai pada kepercayaan-kepercayaan transedental yang semuanya berpengaruh sekaligus menjadi kerangka perilaku dari individu-individu yang masuk dalam kehidupan bersama. Semua tata nilai, perilaku, dan kepercayaan yang dimiliki sekelompok individu itulah yang disebut budaya. PEMBAHASAN Sejarah Singkat Munculnya Psikologi Lintas Budaya Psikologi Lintas Budaya (PLB) merupakan salah satu cabang (sub disiplin) dari ilmu Psikologi, yang dalam 100 tahun terakhir ini berbagai studi mengenai PLB mengalami perkembangan yang cukup pesat. Jika ditarik agak jauh kebelakang dengan mencermati fenomena sebelum lahirnya PLB yakni pada masa abad pertengahan (abad ke 15) dan ke 16, maka dapat dilihat kecenderungan masyarakat di Eropa yang menaruh perhatian pada nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kebebasan (freedom), kesetaraan (equality) mengemuka di masa perahlian menuju pembaharuan (renaissance) terhadap sektor-sektor kehidupan. Keragaman (diversity) yang

Latar belakang

tampak dalam kehidupan masyarakat sehari-hari menjadi bagian yang tak terpisahkan dan merupakan isu penting pada menjelang masa renaissance tersebut. Tumbuh-kembang PLB lebih tampak di Amerika Serikat sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di negara itu. Namun demikian, kita akan mudah menjumpai studi-studi tentang perbandingan antara orang Amerika dengan Jerman, dibandingkan studi mengenai orang Amerika keturuan Afrika dengan orang Amerika keturunan Asia. Hal ini dimungkinkan karena mereka berasumsi bahwa Amerika merupakan satu kesatuan budaya (homogen) yang dapat dibedakan dengan bangsa di negara-negara lainnya. Pada masa "European Enlightenment" atau era pencerahan bangsa Eropa (Jahoda & Krewer: hal. 8) di abad 17 hingga ke 19, sebagai kelanjutan masa renaissance, perkembangan peradaban manusia mulai berubah kearah yang lebih luhur dan manusiawi dalam menempatkan posisi serta harkat manusia dalam kehidupannya (from savage to the civilized state of human life).

Pengertian Psikologi Lintas Budaya a. Matsumoto, (2004) : Dalam arti luas, psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di semua budaya) ataukah khas budaya (culture spesific, berlaku bagi orang-orang tertentu di budaya-budaya tertentu) b. Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) : psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. c. Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) : psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal. d. Brislin, Lonner, dan Thorndike, (1973): menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan. Pengertian Psikologi Lintas Budaya Kalau lintas budaya-nya sendiri, tentu maksudnya adalah memahami keragaman budaya yang ada di dunia sekaligus dampak budaya tersebut terhadap kelangsungan masyarakat sosial dalam lingkup budaya tertentu. Sementara kalau dalam psikologi lintas budaya, pembahasannya seputar pengaruh lingkungan budaya terhadap perilaku individu. Fungsi dari lintas budaya sendiri kalau menurut saya untuk merentangkan toleransi kita ketika berhadapan dengan anggota masyarakat dari budaya yang berbeda dengan kita sendiri. Menurut Segall, Dasen dan Poortinga, psikologi lintas-budaya adalah kajian mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Definisi ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok: keragaman perilaku manusia di dunia dan kaitan antara perilaku terjadi. Definisi ini relatif sederhana dan memunculkan banyak persoalan. Sejumlah definisi lain mengungkapkan beberapa segi baru dan menekankan beberapa kompleksitas: 1.

Riset lintas-budaya dalam psikologi adalah perbandingan sistematik dan eksplisit antara variabel psikologis di bawah kondisi-kondisi perbedaan budaya dengan maksud mengkhususkan antesede-anteseden dan proses-proses yang memerantarai kemunculan perbedaan perilaku penelitian lintas budaya dapat menghasilkan informasi penting tentang banyak topik yang menarik bagi psikolog. Dalam salah satu studi yang paling terkenal, peneliti menemukan bukti bahwa proses persepsi manusia mengembangkan berbeda tergantung pada apa jenis bentuk dan sudut orang terpapar setiap hari di lingkungan mereka. Masyarakat yang tinggal di negara-negara seperti Amerika Serikat dengan bangunan banyak mengandung sudut 90 derajat rentan terhadap ilusi optik yang berbeda dari yang di desa pedesaan Afrika, di mana bangunan tersebut tidak norma. Studi-studi lintas budaya juga menemukan bahwa gejala gangguan psikologis yang paling bervariasi dari satu budaya ke yang lain, dan telah menyebabkan peninjauan kembali atas apa yang merupakan seksualitas manusia normal. Sebagai contoh, homoseksualitas, lama dianggap perilaku patologis di Amerika Serikat, disetujui dari dalam budaya lain dan bahkan didorong dalam beberapa sebagai outlet seksual yang normal sebelum menikah. Pengertian Psikologi Lintas Budaya Budaya dalam kehidupan manusia adalah hal yang dekat dan melekat padanya. Budaya merupakan hasil karya manusia, lahir untuk manusia dalam mengatur dan mendukung kehidupannya. Tujuan menjadikan kehidupan ini menjadi lebih baik adalah keadaan akhir yang diinginkan tersebut. Kelly mendefinisikan budaya sebagai bagian yang terlibat dala7hm proses harapan-harapan yang dipelajari/dialami. Orang-orang yang memiliki kelompok budaya yang sama akan mengembangkan cara-cara tertentu dalam mengonstruk peristiwaperistiwa, dan mereka pun mengembangkan jenis-jenis harapan yang sama mengenai jenisjenis perilaku tertentu. Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi lintas budaya adalah cabang dari psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Di dalam kajiannya, terdapat pula paparan mengenai kepribadian individu yang dipandang sebagai hasil bentukan sistem sosial yang di dalamnya tercakup budaya. Adapun kajian lintas budaya merupakan pendekatan yang digunakan oleh ilmuan sosial dalam mengevaluasi budaya-budaya yang berbeda dalam dimensi tertentu dari kebudayaan. Psikologi Lintas Budaya ini muncul sebagai respon terhadap teori psikologi yang dikembangkan di Barat dalam satu kebudayaan bersifat universal. Padahal manusia diciptakan tidak bersifat universal melainkan bersifat lokal, hidup bersuku-suku dan berbangsa-bangsa dan memiliki budaya sendiri. Oleh karena itu Psikologi Lintas Budaya ini membahas tentang konsep psikologi lintas budaya, ruang lingkup psikologi

lintas budaya, pewarisan dan perkembangan budaya, budaya dan diri, perilaku sosial, emosi, kepribadian, kognisi, persepsi, akulturasi budaya, dan kelompok-kelompok etnik.

Ruang Lingkup Psikologi Lintas Budaya Mempelajari sejauh mana pengaruh suatu kebudayaan terhadap perilaku kelompok masyarakat yang bersangkutan. Seperti yang dikatakan oleh Segall (1990), kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Definisi ini mengarahkan perhatian pada 2 hal pokok : keragaman perilaku manusia didunia dan kaitan antara perilaku individu dengan konteks budaya, tempat perilaku terjadi.

1.

Pengertian psikologi lintas budaya

Pengertian Lintas budaya itu sendiri adalah memahami keragaman budaya yang ada di dunia sekaligus dampak budaya tersebut terhadap kelangsungan masyarakat sosial dalam lingkup budaya tertentu.Sedangkan pengertian psikologi lintas budaya adalah pengaruh lingkungan budaya terhadap perilaku seseorang dalam bersosialisasi dengan budaya sekitarnya dan masyarakat yang beragam budaya. Psikologi lintas budaya adalah kajian mengenai persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik; mengenai hubungan-hubungan di antara ubaha psikologis dan sosiobudaya, ekologis, dan ubahan biologis; serta mengenai perubahan-perubahan yang berlangsung dalam ubahan-ubahan tersebut. Pengertian Psikologi Lintas Budaya menurut para ahli : Matsumoto, (2004) : Dalam arti luas, psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di semua budaya) ataukah khas budaya (culture spscific, berlaku bagi orang-orang tertentu di budaya-budaya tertentu) Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) : psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan sosial dan budaya. Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) : psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal. Brislin, Lonner, dan Thorndike, (1973) : menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan.

2.

Tujuan mempelajari Psikologi Lintas Budaya

Tujuan psikologi lintas budaya adalah untuk melihat manusia dan perilakunya dengan kebudayaan yang ada dan sangat beragam.Untuk mencari persamaan dan perbedaan dalam fungsi-fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik.Serta untuk melihat kedua perilaku universal dan perilaku unik untuk mengidentifikasi cara dimana budaya memberikan dampak terhadap perilaku kita, kehidupan keluarga, pendidikan,pengalamansosial masyarakat dari berbagai aspek kehidupan. 3. Hubungan Psikologi Lintas Budaya dengan Ilmu lain

Psikologi Sosial mempelajari tingkah laku manusia dalam berhubungan dengan masyarakat sekitarnya. Ruang Lingkup Antropologi psikologi sama dengan pengakajian secara psikologi lintas budaya (cross cultural) mengenai kepribadian dan sistem sosial budaya. Meliputi masalah-masalah sebagai berikut : A. Hubungan struktur sosial dan nilai-nilai budaya dengan pola pengasuhan anak pada umumnya. B. Hubungan antara struktur kepribadian rata dengan sistem peran (role system) dan aspek proyeksi dari dari kebudayaan.

Psikologi Lintas Budaya dengan Psikologi Budaya

Psikologi budaya adalah studi tentang cara tradisi budaya dan praktek sosial meregulasikan, mengekspresikan, mentransformasikan dan mengubah psike manusia. Jadi perbedaan Psikologi lintas budaya dengan Psikologi budaya adalah Psikologi lintas budaya melihat persamaan dan perbedaan dalam fungsi individu secara psikologis, dalam berbagai budaya dan kelompok etnik sedangkan Psikologi budaya melihat bagaimana budaya dapat mentransformasikan dan mengubah psike seseorang.

Antropologi dengan Psikologi Lintas Budaya.

Sementara psikologi lintas-budaya dan antropologi sering tumpang tindih, baik disiplin cenderung memfokuskan pada aspek yang berbeda dari suatu budaya. Sebagai contoh, banyak masalah yang menarik bagi psikolog yang tidak ditangani oleh antropolog, yang memiliki masalah mereka sendiri secara tradisional, termasuk topik-topik seperti kekerabatan, distribusi tanah, dan ritual. Ketika antropolog melakukan berkonsentrasi pada bidang psikologi, mereka fokus pada kegiatan dimana data dapat dikumpulkan melalui pengamatan langsung, seperti usia anak-anak di sapih atau praktek pengasuhan anak. Namun, tidak ada tubuh yang signifikan data antropologi pada banyak pertanyaan yang lebih abstrak sering ditangani oleh psikolog, seperti konsepsi budaya intelijen. 4. Etnosentris dalam psikologi

definisi dan pengembangan kecenderungan untuk melihat dunia melalui filter Etnosentrisme sendiri budaya. Sebuah konsekuensi normal dari sosialisasi dan enkulturasi. Ketika kita menjadi enculturated, kita belajar bagaimana harus bertindak, bagaimana memahami dan menginterpretasikan bagaimana orang lain bertindak. Contoh : Pada saat kita dewasa, kita hampir tidak memperhatikan filter budaya di pikiran kita.

Menurut Matsumoto (1996) etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya melalui sudut pandang budaya sendiri. Berdasarkan definisi ini etnosentrisme tidak selalu negatif sebagimana umumnya dipahami. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga merupakan sesuatu yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata buruk, etnosentrisme juga merupakan sesuatu yang fungsional karena mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan. Pada saat konflik, etnosentrisme benar-benar bermanfaat. Dengan adanya etnosentrisme, kelompok yang terlibat konflik dengan kelompok lain akan saling dukung satu sama lain. Salah satu contoh dari fenomena ini adalah ketika terjadi pengusiran terhadap etnis Madura di Kalimantan, banyak etnis Madura di lain tempat mengecam pengusiran itu dan membantu para pengungsi. Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain saling berlawanan. Tipe pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme dan persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe kedua adalah etnosentrisme infleksibel. Etnosentrisme ini dicirikan dengan ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya.

5. Kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal transmisi budaya melalui enkulturasi dan sosialisasi. Kesamaan dan perbedaan enkulturasi sosialisasi : Enkulturasi dan Sosialisasi Proses dimana kita belajar dan menginternalisasi aturan dan pola perilaku yang dipengaruhi oleh budaya Sosialisasi. Contoh : Proses enkulturasi dimana anak anak muda belajar dan mengadopsi cara-cara dan perilaku budaya mereka sehigga mereka dapat mengetahui aturan dan budaya mereka masing-masing dan dapat menerapkan aturan tersebut kekehidupannya sendiri. 6. Kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya melalui perkembangan moral. Didalam setiap budaya yang ada di dunia yang dimiliki masing-masing negara pasti memiliki moral dan aturannya masing-masing. Akan tetapi pada saat ini nilai budaya dan moral tersebut sudah tidak memiliki nilai yang seimbang lagi dikarenakan bukan karena dari budaya dan nilainya yang salah akan tetapi dari para pemakai budaya tersebut yang membuat budaya dan nilai moral mulai tidak seimbang lagi atau biasa disalahgunakan, sehingga moral untuk saat ini hanya sebuah aturan tanpa diterapkan didiri masing-masing masyarakat, motral merupakan harga diri seorang manusia untuk membedakan dirinya memiliki harga diri dibandingkan dengan orang lain. 7. Kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya melalui masa remaja. Saat ini pengaruh budaya barat tidak hanya sebatas cara berpakaian, pergaulan, tapi juga di bidang pendidikan dan gaya hidup. Subjek yang paling terpengaruh adalah remaja. Bahkan bagi sebagian remaja, gaya hidup barat merupakan suatu kewajiban dalam pergaulan. Tanpa

disadari, para remaja telah memadukan kebudayaan dengan pergaulan dalam aspek kehidupan mereka. Mendominasi pada pemikiran tentang kepribadian di budaya barat contohnya amerika serikat misalnya aktualisasi diri, kesadaran diri, konsep diri, keyakinan diri, penguatan diri, kritik diri, mementingkan diri sendiri, meragukan diri sendiri (Lonner, 1988). Sedangkan perbedaannya yaitu dalam budaya bukan barata seperti Negara timur china, jepang dan india. Bersifat kolektivistik ketimbang individualistik (Triandis, 1985, 1994). Individualistik adalah orientasi individu atau diri yang mencakup pemisahan diri dari orang lain sedangkan koletivistik menunjuk pada orientasi kelompok yang mencakup hubungan diri dari orang lain. Orientasi individualistik versus kolektivistik ditemukan sebagai dimensi dasar dari budaya alamiah (Hoftsede, 1980).

8. kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya dalam hal konformitas. Konformitas adalah proses dimana seseorang mengubah prilakunya untuk dapat menyesuaikan dengan kelompoknya. Konformitas merupakan suatu hasil dari interaksi sosial dan proses sosial dalam kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Konformitas dilakukan secara terbuka sehingga terlihat oleh umum. Kepatuhan merupakan suatu bentuk ketundukan prilaku yang mucul ketika orang mengikuti suatu perintah lansung. Dalam budaya kolektif, konformitas dan kepatuhan tidak hanya dipandang baik tetapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk dapat menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif. Konformitas dilakukan orang seseorang didalam suatu kelompok kecil ataupun besar untuk dapat menhjadikan seseorang dapat diterima dikelompok tersebut, sehingga seorang tersebut menjadi bagian kelompok itu. Dalam hal budaya komformitas dilakukan untuk dapat menjadi bagian dalam budayanya sehingga dirinya mempunya identitas yang mebedakan budayanya dengan budaya orang lain. Untuk membandingkan bagaimana conformity, compliance, dan obedience secara lintas budaya, maka telaah itu harus memusatkan perhatian pada nilai konformitas dan kepatuhan itu sebagai konstruk sosial yang berakar pada budaya. Dalam budaya kolektif, konformitas dan kepatuhan tidak hanya dipandang baik tetapi sangat diperlukan untuk dapat berfungsi secara baik dalam kelompoknya, dan untuk dapat berhasil menjalin hubungan interpersonal bahkan untuk dapat menikmati status yang lebih tinggi dan mendapat penilaian atau kesan positif. 9. Kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya dalam hal nilainilai. Dalam transmisi budaya nilai dimasukan sebagai slah satu aspek di dalam masyarakat. Nilai tersebut muncul dan menjadi suatu ciri khas yang cenderung menetap pada seorang dan masyarakat karena itu penerimaan nilai sangat berpengaruh pada sifat kepribadian dan karakter masing-masing budaya yang ada.

10. Kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya dalam hal perilaku gender.

Pada saat ini perbedaan gender tidak merupakan suatu hal yang mutlak dalam mengembangan suatu budaya. Akan tetapi dalam transmisi budaya wanita dan laki-laki harus mematuhi peraturan yang ada dalam setiap masing-masing budaya, baik dimana terdapat adat istiadat yang berlaku dimana ia tinggal. Tetapi dalam hal tersebut biasanya wanita lebih dominan dalam melestarikan budaya mereka yang telah diturunkan oleh nenek moyang terdahulu.

11. Kesamaan dan perbedaan antar budaya dlm hal tranmisi budaya dalam hal individualisme dan kolektifisme Individual adalah pola sosial yang berfokus pada nilai tertinggi pada kepentingan individu yang bersifat personal. Dan mereka didorong untuk membangun suatu konsep akan diri yang terpisah dari ornag lain yang termasuk dalamkerangka tujuan keberhasilan yang cenderung mengarah pada tujuan diri individu. Kolektivisme adalah suatu pola sosial yang berfokus pada kepentingan kelompok yang menjadi suatu nilai tertinggi. Jadi, individual dan kolektivisme memiliki tempat tertinggi dalam suatu budaya. Akan tetapi keduanya memiliki perbedaan yang bertentangan dengan masing-masing norma, individualis lebih bertentangan dengan norma kelompok sedangkan kolektivitas lebih cenderung sesuai dengan norma kelompok.

12. Kesamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal tranmisi budaya dalam hal kognisi sosial. Kognisi sosial merupakan salah satu yang menjelaskan keunikan manusia. Kognisi social adalah cara di mana kita menginterpretasi, menganalisa, mengingat, dan menggunakan informasi tentang dunia social. Kognisi social dapat terjadi secara otomatis. Dalam psikologi, kognisi adalah referensi dari faktor-faktor yang mendasari sebuah prilaku. Pola pikir dan perilaku manusia bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih besar, yaitu budaya sebagai konstruksi sosial. Sedangkan kebudayaan dalam arti luas merupakan kreativitas manusia cipta, rasa dan karsa dalam rangka mempertahankan kelangsunganhidupnya. Dan manusia pun akan menciptakan suatu kreativitas untuk memenuhi kebutuhan mereka.

13. Jelaskan persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal sosial-masyarakat Masyarakat didefinisikan oleh Ralph Linton sebagai setiap kelompok manusia yang telah hidup dan bekerja bersama cukup lama sehingga mereka dapat mengatur diri mereka dan menganggap diri mereka sebagai satu kesatuan sosial dengan batas-batas yang dirumuskan dengan jelas. Sejalan dengan definsi dari Ralph Linton, Selo Sumardjan mendefinisikan masyarakat sebagai orangorang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan (Soerjono Soekanto, 1986). Mengacu kepada dua definisi tentang masyarakat seperti dikemukakan di atas, dapat di identifikasi empat unsur yang mesti terdapat di dalam masyarakat, yaitu:

1.Manusia (individu-individu) yang hidup bersama, 2.Mereka melakukan interaksi sosial dalam waktu yang cukup lama. 3.Mereka mempunyai kesadaran sebagai satu kesatuan. 4.Mereka merupakan suatu sistem hidup bersama yang menghasilkan kebudayaan,

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Psikologi_lintas_budaya http://jebhy.blogspot.com/2008/11/psikologi-lintas-budaya.html Matsumoto, D. (2002). Culture, psychology, and education. In W. J. Lonner, D. L. Dinnel, S. A. Etika Individual Pola Dasar Filsafat Moral. Karangan Drs. H. Burhanuddin,MM. Penerbit Rineka Cipta ISBN : 979-518-761-9 Tahun terbit 1997

Proses Enkulturasi Dalam Proses Enkulturasi seorang individu mempelajari dan menyesuaikan alam pikiran serta sikapnya dengan adat-istiadat, sistem norma dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya. Proses Enkulturasi sudah dimulai sejak kecil oleh setiap warga masyarakat, mula-mula dari orang-orang dalam lingkungan keluarganya, kemudian dari teman-temannya bermain. Bentuk awal dari proses enkulturasi adalah meniru berbagai macam tindakan orang lain, setelah perasaan dan nilai budaya yang memberi motivasi akan tindakan meniru itu tekah diinternalisasikan dalam kehidupan kepribadiannya dengan berkali-kali meniru tindakannya menjadi suatu pola yang mantap, dan norma yang mengatur tindakannya dibudayakan. Kadang-kadang berbagai norma juga dipelajari seorang individu secara sebagian-sebagian dengan mendengar berbagai orang lingkungan pergaulannya. Ada juga norma yang diajarkan secara formal di sekolah, misalnya norma etika, estetika, dan agama. Sosialisasi Sosialisasi adalah proses individu mulai menerima dan menyesuaikan diri dengan unsurunsur kebudayaan (adat istiadat, perilaku, bahasa) yang dimulai dari lingkungan keluarganya, yang kemudian makin meluas. Sosialisasi berlangsung sejak masa kanak-kanak (bayi). George Herbert Mead menjelaskan bahwa perkembangan manusia diantaranya melalui sosialisasi dapat melalui tiga tahap yaitu : 1. Play stage : tahap dimana seorang anak mulai mengambil peranan orang-orang di sekitarnya. 2. Game stage : tahap dimana anak mulai mengetahui peranan yang harus dijalankan dan peranan yang dijalankan orang lain.\ 3. Generalized other : tahap dimana seseorang telah mampu mengambil peranan-peranan yang dijalankan oleh orang lain. Proses sosialisasi dalam pembentukan kepribadian Proses sosialisasi dalam setiap masyarakat juga dipakai sebagai sarana pembentukan kepribadian. Menurut Allport, keptibadian adalah organisasi dinamis dari sistem psikofisis dalam individu yang turut menentukan cara-cara yang unik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan. Empat faktor yang menentukan kepribadian : 1) Keturunan (warisan biologis). 2) Lingkungan geografis. 3) Lingkungan kebudayaan. 4) Lingkungan sosial. Media Sosialisasi menurut Fuller and Jacobs : a. Keluarga. b. Kelompok bermain (kelompok sebaya). c. Sekolah. d. Lingkungan kerja.

e. Media massa. Menurut Robert Dreeben bahwa proses sosialisasi di sekolah selain mendapat ketrampilan dan pengetahuan juga mendapat : a. Kemandirian (independence). b. Prestasi (achievment) c. Spesifitas (specifity) (hal-hal yg spesifik) Definisi Sosialisasi Prof. Dr. Nasution , SH : sosialisasi adalah peoses membimbing individu ke dalam dunia sosial. Sukandar Wiraatmaja, MA: sosialisasi adalah suatu proses yang dimulai sejak seseorang itu dilahirkan untuk dapat mengetahui dan memperoleh sikap pengertian, gagasan dan pola tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat. Drs. Suprapto, sosialisasi adalah proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yang dijalankan. Peter L. Berger, sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi seorang anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat. Macam-macam sosialisasi 1. Sosialisasi primer adalah sosialisasi yang paling dasar yang berlangsung pada usia anakanak, yaitu usia 0 5 tahun atau belum sekolah. 2. Sosialisasi sekunder terjadi setelah sosialisasi primer. Sosialisasinya berlangsung di luar keluarga. 3. Enkulturasi adalah proses penyesuaian diri dengan adat istiadat, lingkungan, sistem norma, dan aturan aturan hidup lainnya. Proses sosialisasi terjadi melalui dua cara yaitu : a. Conditioning. b. Komunikasi atau interaksi. Conditioning, adalah keadaan yang menyebabkan individu mempelajari pola kebudayaan yang fundamental seperti cara makan, bahasa, berjalan, cara duduk, pengembangan tingkah laku dan sebagainya. Komunikasi atau interaksi, adalah proses hubungan yang terjadi antara individu-individu yang bergaul sehingga terjadi proses sosialisasi. Tujuan umum sosialisasi : a. Penyesuaian kelakuan yang dianggap baik. b. Pengembangan kemampuan dan pengenalan dirinya sebagai bagian masyarakat. c. Pengembangan konsep diri secara baik. Akulturasi Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa

menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Contoh akulturasi: Saat budaya rap dari negara asing digabungkan dengan bahasa Jawa, sehingga menge-rap dengan menggunakan bahasa Jawa. Ini terjadi di acara Simfoni Semesta Raya. Macam - Macam Transmisi Budaya 1. Transmisi Vertical General Acculturation Dari orang yang lebih tua/orang tua, pada budaya sendiri (intra) informal Misal : anak disiplin karena melihat orang tuanya Specific Socialization Peristiwa yang disengaja, terarah dan sistematis Misal : anak di didik untuk tidak membantah pada orang tua dan pendidikan formal 2. Oblique Transmision Dari orang dewasa lain, yang budayanya sama (enkulturasi/ sosialisasi) dari orang yang budayanya beda (akulturasi/ resosialisasi) General Aculturation Orang dewasa yang budayanya sama Anak meniru sopan-santun orang dewasa misal : dari guru Specific Socialization Misal : guru menanamkan sifat-sifat kerja sama General Acculturation Orang dewasa yang berbudaya beda Misal : model pakaian Specific Resocialization 3. Horizontal Transmision General Enculturation Dari teman sebaya pada budaya yang sama Misal : anak ikut-ikutan merokok karena ikut temannya Specific Socialization Misal : diskusi kelompok, anak mengikuti aturan bicara bergantian, dan belajar main musik dari teman

Terdapat 3 bentuk transmisi budaya, yaitu : Enkulturasi Enkulturasi mengacu pada proses dimana suatu budaya ditransmisikan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Budaya ditransmisikan melalui proses belajar, bukan melalui gen. Kultur tersebut dipelajari, bukan diwarisi. Orang tua, kelompok, teman, sekolah, lembaga keagamaan, dan lembaga pemerintahan merupakan guru-guru utama dibidang kultur. Enkulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui proses belajar dan penyesuaian alam pikiran dan sikap individu dengan sistem norma, adat, dan peraturan-peraturan yang hidup dalam kebudayaannya.

Akulturasi Akulturasi mengacu pada proses dimana budaya seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan budaya lain. Misalnya, budaya pendatang yang dipengaruhi oleh budaya tuan rumah. Secara berangsur-angsur; nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari budaya tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok pendatang. Pada waktu yang sama, budaya tuan rumah pun ikut berubah. Akulturasi mempengaruhi perkembangan psikologi individu melalui suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Akulturasi terjadi karena sekelompok orang asing yang berangsur-angsur mengikuti cara atau peraturan di dalam lingkup orang Indonesia. Sosialisasi Sosialisai adalah sebuah proses penanaman kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok atau masyarakat. Dapat dikatakan bahwa sosialisasi sebagai teori mengenai peranan (role theory); karena dalam proses sosialisasi diajarkan peran-peran yang harus dijalankan oleh individu. Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang. Kehidupan anak dalam menelusuri perkembangnya itu pada dasarnya merupakan kemampuan mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anakanak sebagai insan yang yang secara aktif melakukan proses sosialisasi.

Psikologi Lintas Budaya Psikologi Lintas Budaya (Cross Culture Psychology) Kata budaya sangat umum dipergunakan dalam bahasa sehari-hari. Paling sering budaya dikaitkan dengan pengertian ras, bangsa atau etnis. Kata budaya juga kadang dikaitkan dengan seni, musik, tradisi-ritual, atau peninggalanpeninggalan masa lalu. Sebagai sebuah entitas teoritis dan konseptual, budaya membantu memahami bagaimana kita berperilaku tertentu dan menjelaskan perbedaan sekelompok orang. Sebagai sebuah konsep abstrak, lebih dari sekedar label, budaya memiliki kehidupan sendiri, ia terus berubah dan tumbuh, akibat dari pertemuan-pertemuan dengan budaya lain, perubahan kondisi lingkungan, dan sosiodemografis. Budaya adalah produk yang dipedomani oleh individu-individu yang tersatukan dalam sebuah kelompok. Budaya menjadi pengikat dan diinternalisasi individu-individu yang menjadi anggota suatu kelompok, baik disadari maupun tidak disadari. Pada awal perkembangannya, ilmu psikologi tidak menaruh perhatian terhadap budaya. Baru sesudah tahun 50-an budaya memperoleh perhatian. Namun baru pada tahun 70-an ke atas

budaya benar-benar memperoleh perhatian. Pada saat ini diyakini bahwa budaya memainkan peranan penting dalam aspek psikologis manusia. Oleh karena itu pengembangan ilmu psikologi yang mengabaikan faktor budaya dipertanyakan kebermaknaannya. Triandis (2002) misalnya, menegaskan bahwa psikologi sosial hanya dapat bermakna apabila dilakukan lintas budaya. Hal tersebut juga berlaku bagi cabang-cabang ilmu psikologi lainnya. Sebenarnya bagaimana hubungan antara psikologi dan budaya? Secara sederhana Triandis (1994) membuat kerangka sederhana bagaimana hubungan antara budaya dan perilaku sosial, Ekologi - budaya - sosialisasi - kepribadian perilaku. Sementara itu Berry, Segall, Dasen, & Poortinga (1999) mengembangkan sebuah kerangka untuk memahami bagaimana sebuah perilaku dan keadaan psikologis terbentuk dalam keadaan yang berbeda-beda antar budaya. Kondisi ekologi yang terdiri dari lingkungan fisik, kondisi geografis, iklim, serta flora dan fauna, bersama-sama dengan kondisi lingkungan sosialpolitik dan adaptasi biologis dan adaptasi kultural merupakan dasar bagi terbentuknya perilaku dan karakter psikologis. Ketiga hal tersebut kemudian akan melahirkan pengaruh ekologi, genetika, transmisi budaya dan pembelajaran budaya, yang bersama-sama akan melahirkan suatu perilaku dan karakter psikologis tertentu. Pada umumnya penelitian psikologi lintas budaya dilakukan lintas negara atau lintas etnis. Artinya sebuah negara atau sebuah etnis diperlakukan sebagai satu kelompok budaya. Dari sisi praktis, hal itu sangat berguna. Meskipun hal tersebut juga menimbulkan persoalan, apakah sebuah negara bisa diperlakukan sebagai satu kelompok budaya bila didalamnya ada ratusan etnik seperti halnya indonesia? Dalam posisi seperti itu, penggunaan bahasa nasional yakni bahasa indonesia menjadi dasar untuk menggolongkan seluruh orang indonesia ke dalam satu kelompok budaya. Pada akhirnya tidak ada kategori kaku yang bisa digunakan untuk melakukan pengelompokan budaya. Apakah batas-batas budaya itu ditandai dengan ras, etnis, bahasa, atau wilayah geografis, semuanya bisa tumpang tindih satu sama lain atau malah kurang relevan. Sebuah definisi mengenai budaya dalam konteks psikologi lintas budaya diperlukan guna pemahaman yang sama mengenai apa yang dimaksud budaya dalam psikologi lintas budaya. Culture as the set of attitudes, values, belifs, and behaviors shared by a group of people, but different for each individual, communicated from one generation to the next (Matsumoto, 1996). Definisi Matsumoto dapat diterima karena definisi ini memenuhi semua perdebatan sebelumnya; budaya sebagai gagasan, baik yang muncul sebagai perilaku maupun ide seperti nilai dan keyakinan, sekaligus sebagai material, budaya sebagai produk (masif) maupun sesuatu (things) yang hidup (aktif dan menjadi panduan bagi individu anggota kelompok. Selain itu, definisi tersebut menggambarkan bahwa budaya adalah suatu konstruk sosial sekaligus konstruk individu. Psikologi lintas budaya adalah cabang psikologi yang (terutama) menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Dalam arti sempit, penelitian lintas budaya secara sederhana hanya berarti dilibatkannya partisipasian dari latar belakang kultural yang berbeda dan

pengujian terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya perbedaan antara para partisipan tersebut. Dalam arti luas, psikologi lintas budaya terkait dengan pemahaman atas apakah kebenaran dan prinsip-prinsip psikologis bersifat universal (berlaku bagi semua orang di semua budaya) ataukah khas budaya (culture spscific, berlaku bagi orang-orang tertentu di budaya-budaya tertentu) (Matsumoto, 2004). Menurut Seggal, Dasen, dan Poortinga (1990) psikologi lintas budaya adalah kajian ilmiah mengenai perilaku manusia dan penyebarannya, sekaligus memperhitungkan cara perilaku itu dibentuk, dan dipengaruhi oleh kekuatankekuatan sosial dan budaya. Pengertian ini mengarahkan perhatian pada dua hal pokok, yaitu keragaman perilaku manusia di dunia, dan kaitan antara perilaku individu dengan konteks budaya, tempat perilaku terjadi. Terdapat beberapa definisi lain (menekankan beberapa kompleksitas), antara lain: a. Menurut Triandis, Malpass, dan Davidson (1972) psikologi lintas budaya mencakup kajian suatu pokok persoalan yang bersumber dari dua budaya atau lebih, dengan menggunakan metode pengukuran yang ekuivalen, untuk menentukan batas-batas yang dapat menjadi pijakan teori psikologi umum dan jenis modifikasi teori yang diperlukan agar menjadi universal. b. Menurut Brislin, Lonner, dan Thorndike, 1973) menyatakan bahwa psikologi lintas budaya ialah kajian empirik mengenai anggota berbagai kelompok budaya yang telah memiliki perbedaan pengalaman, yang dapat membawa ke arah perbedaan perilaku yang dapat diramalkan dan signifikan. c. Triandis (1980) mengungkapkan bahwa psikologi lintas budaya berkutat dengan kajian sistematik mengenai perilaku dan pengalaman sebagaimana pengalaman itu terjadi dalam budaya yang berbeda, yang dipengaruhi budaya atau mengakibatkan perubahan-perubahan dalam budaya yang bersangkutan. Setiap definisi dari masing-masing ahli di atas, menitikberatkan ciri tertentu, seperti misalnya pertama, gagasan kunci yang ditonjolkan ialah cara mengenali hubungan sebab-akibat antara budaya dan perilaku. Kedua, berpusat pada peluang rampat (generalizabiliti) dari pengetahuan psikologi yang dianut. Ketiga lebih menitikberatkan pengenalan berbagai jenis pengalaman budaya. Kempat, mengedepankan persoalan perubahan budaya dan hubungannya dengan perilaku individual. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa psikologi lintas budaya adalah psikologi yang memperhatikan faktor-faktor budaya, dalam teori, metode dan aplikasinya.

PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA DENGAN BAHASA: Ketika kita berbicara tentang bahasa, kita berada dalam suatu lingkup yang sangat luas. Tidak perlu melihat keluar, tengok ke dalam Indonesia saja, kita sudah dapat melihat puluhan bahasa dalam satu negara. Lalu, di mana hubungannya? Psikologi membutuhkan pendekatan yang tepat dalam menangani suatu kasus. Dengan melihat bahasa sebagai kajian pengajaran, psikologi bisa menjadikan bahasa sebagai cara pendekatan dengan dialeg dan gaya bahasa dari masing-masing bahasa yang ada di Indonesia.

Perbedaan Makna Emosi Bagi Orang dan Dalam Perilaku Lintas Budaya Menurut psikologi Amerika, emosi mengandung makna personal yang amat kental, barangkali karena psikologi Amerika memandang perasaan batin (inner feeling) yang subjektif sebagai karakteristik utama yang mendefisinikan emosi.kalau kita sudah mendefinisikan emosi dengan cara ini, maka peran utama yang dipegang emosi adalah memberi informasi pada kita tentang diri kita sendiri.definisi-diri kita-yakni, bagaimana kita mendefinisikan dan mengidentifikasi diri kita-semuanya dipengaruhi oleh emosi kita,sebagai seseuatu yang personal,privat,sebagai pengalaman batin. Namun demikian, dalam budaya lain emosi memiliki peran yang berbeda. Misalnya, banyak budaya yang menganggap emosi sebagai pernyataan-pernyataan tentang hubungan antar orang dan lingkungannya,yang mencakup baik benda-benda maupun hubungan sosial dengan orang lain. Bagi orang Ifaluk di mikronesia (lutz,1982) maupun orang Tahiti (Levy,1984), emosi merupakan pernyataan mengenai hubungan-hubungan sosial dan lingkungan fisik. Konsep Jepang amae, yang biasanya dianggap sebagai suatu emosi yang penting dalam kebudayaan Jepang, menunjuk pada hubungan saling-tergantung (interdependen) antara dua orang. Penelitian Psikologis Lintas-Budaya tentang Emosi Ada beberapa perbedaan penting antara penelitian psikologis tentang emosi lintas-budaya dengan kajian antropologis dan etnografis. satu perbedaan pentingnya adalah bahwa ahli psikologi biasanya mendefinisikan terlebih dahulu apa tercakup sebagai suatu emosi dan aspek mana dari definisi tersebut yang akan dikaji. bila,misalnya,seorang peneliti hendak meneliti ekspresi marah lintas-budaya,ia harus mengasumsikan bahwa dalam setiap budaya yang hendak dikajinya marah merupakan suatu emosi, dan bahwa aspek ekspresif dan emosi itu setara di semua budaya . Perbedaan-perbedaan kultural dalam konsep dan definisi emosi,sebagaimana telah di diskusikan sebelumnya,menjadi model hambatan bagi penyelidikan ini.dalam meneliti marah, misalnya saja,sangat mungkin bahwa budaya-budaya yang di teliti memiliki definisi yang berbeda tentang marah,atau mengekspresikan marah secara berbeda. Ekspresi marah juga bisa memiliki makna yang berbeda untuk setiap budaya. Ekspresi Emosi Ekspresi wajah dari emosi merupakan aspek ekspresi emosi yang paling banyak dikaji, dan penelitian lintas-budaya mengenai ekspresi wajah inilah yang menjadi pendorong utama kajian-kajian emosi di psikologi Amerika. Ekman dan Izard mendapatkan bukti pertama yang sistematis dan konklusif tentang keuniversalan ekspresi anger (marah), disgust (jijik), fear (takut), happiness (senang), sadness (sedih) dan surprise (terkejut). Keuniversalan ini berarti bahwa konfigurasi mimik muka masing-masing emosi-emosi tersebut secara biologis bersifat bawaan atau innate, Serupa untuk semua orang dari budaya atau etnisitas. Dengan demikian, siapa pun, Dari budaya mana saja, yang mengalami salah satu dari emosi ini seharusnya mengekspresikan secara sama persis.

Aturan ini pada intinya mengatur kecocokan kapan ditampilkanya masing-masing emosi tersebut,tergantung pada situasi sosial.inilah yang kita sebut sebagai aturan ungkapan cultural (cultural display rules) (Ekman,1972). Dengan demikian, meskipun ekspresi wajah universal itu secara biologis bersifat bawaan sebagai prototype raut wajah pada semua orang, budaya punya pengaruh besar pada ekspresi emosi lewat aturan-aturan pengungkapan yang di pelajari secara cultural. Karena kebanyakan interaksi antar-manusia pada hakekatnya bersifat sosial, Kita harus memahami bahwa perbedaan kultural dalam aturan pengungkapan ini berlaku dalam kebanyakan, atau bahkan setiap kesempatan. Orang-orang dari latar belakang budaya yang berbeda dapat, dan memang, mengekspresikan emosi secara berbeda. Budaya juga mempengaruhi pelabelan emosi. Meski biasanya ada kesepakatan antar budaya dalam hal emosi apa yang ditampilkan oleh suatu ekspresi wajah, namun ada tetap ada variasi dalam kesepakatan tersebut. Sebagai contoh, meskipun sebagian besar subjek dari Indonesia, Jepang, Brazil dan Amerika sepakat bahwa suatu ekspresi wajah menunjukan emosi tertentu (seperti emosi takut), tetap ada perbedaan di tiap budaya dalam dalam hal berapa banyak subjek yang sepakat bahwa ekspresi tersebut menunjukan emosi takut (misalnya, 90% subjek di Amerika, Brazil dan Perancis melabeli ekspresi itu sebagai emosi takut, namun hanya 70% subjek di Jepang dan Indonesia yang menyepakati hal itu). Jenis perbedaan kultural dalam pelabelan emosi inilah yang ditemukan dalam dua penelitian yang lebih baru (Matsumoto,1989,1992). Bagaimanakah cara budaya mempengaruhi persepsi dan interpretasi emosi? Beberapa ahli psikologi percaya budaya bahwa memiliki aturan yang mengatur persepsi emosi, seperti halnya aturan pengungkapan yang mengatur ekspresinya.aturan tentang interpretasi dan persepsi ini disebut aturan dekode (decoding rules) (Buck,1984). Aturan ini adalah aturan cultural, sesuatu yang dipelajari, yang membentuk bagaimana orang di suatu budaya memandang dan menginterpretasi ekspresi-ekspresi emosi orang lain. Seperti aturan pengungkapan,aturan dekode di pelajari pada masa-masa awal kehidupan, dan di pelajari sedemikian baik sehingga kita tidak benar-benar menyadari pengaruhnya. Dengan demikian, aturan dekode adalah seperti saringan budaya yang mempengaruhi bagaimana kita menangkap ekspresi orang lain. Pengalaman Emosi Dalam beberapa tahun terakhir beberapa program penelitian mulai mempelajari bagaimana orang-orang dari berbagai budaya mengalami emosi secara berbeda-beda (lihat,misalnya, Scherer, Summerfield, dan Wallbot,1986; Wallbot dan Scherer,1986). Penelitian-penelitian tersebut, secara keseluruhan,melibatkan ribuan responden dari lebih dari 30 budaya di seluruh dunia, yang mengisi kuesioner tentang emosi yang mereka alami di kehidupan sehari-hari mereka secara kolektif, temuan dari penelitian-penelitian ini menujukan bahwa kebudayaan memiliki pengaruh yang besar pada bagaimana orang mengalami emosi. Salah satu dari penelitian ini (Scherer, Matsumoto,Wallbot dan kudoh,1988) menguji perbedaan antara orang Eropa, Amerika, dan Jepang mengenai frekuensi kemunculan emosi. Meskipun anda mungkin menduga bahwa orang dari berbagai penjuru dunia ini mengalami emosi dalam frekuensi yang kurang lebih sama, data yang didapat mengatakan sebaliknya. Orang Jepang melaporkan bahwa mereka mengalami semua emosi-termasuk senang, sedih,

takut dan marah-lebih sering ketimbang orang Amerika atau Eropa. Orang Amerika melaporkan lebih sering mengalami senang dan marah dibanding orang Eropa. Anteseden Emosi Beberapa penelitian telah mempelajari apakah anteseden emosi-yakni, hal-hal yang memicu atau terjadi mendahului suatu emosi- bervariasi dari suatu budaya ke budaya lain. Apakah jenis-jenis kejadian yang sama menghasilkan macam-macam emosi yang sama, pada frekuensi yang kurang lebih serupa, pada budaya yang berbeda-beda? Pertanyaan-pertanyaan ini dikaji oleh oleh sebuah penelitian yang membandingkan orang Amerika dan Jepang (Matsumoto, Kudoh, Scherer, & Wallbot,1988). Temuan-temuan penelitian ini menunjukan adanya perbedaan cultural dalam bagaimana orang dari budaya yang berbeda mengevaluasi situasi-situasi yang mengakibatkan emosi.

Menuju Teori Emosi Lintas-Budaya Bagaimanapun, kita perlu mempertimbangkan pengaruh kebudayaan pada emosi dalam teoriteori kita tentang emosi. Tak lama lagi, mahasiswa psikologi harus mengenal berbagai pendekatan lintas-budaya tentang emosi sebagaimana mereka akrab dengan teori-teori lain yang lebih mapan di psikologi Amerika, seperti teori James/Lange, Cannon/Bard, dan Schachter/Singer. Data yang ada dari kajian-kajian lintas-budaya dan keragaman orang dari berbagai belahan dunia beserta emosi mereka membuat hal ini menjadi suatu kaharusan.

Emosi yang muncul dipengaruhi oleh budaya, beberapa hal yang berkaitan diantara emosi dan budaya diantaranya adalah

Cara mengekspreksikan emosi Sebab timbulnya emosi Interpretasi akan suatu situasi

Konsep emosi Sulit menemukan konsep dasar tentang emosi antar budaya, apa yang dimaksud sebagai 'emosi' di budaya A sama dengan 'emosi' di budaya B. Maka banyak penelitian yang dilakukan untuk mempelajari apakah setiap budaya memiliki pemahaman yang sama tentang emosi. Ada beberapa emosi yang sifatnya universal, namun ada juga yang sangat dipengaruhi budaya. Di dalam bahasa Inggris yang termasuk dalam ' emotion' adalah angry, happy, sad, ashamed, dan emosi lainnya. Dalam bahasa jepang 'jodo' berarti marah, senang, sedih, malu, termasuk juga motivated, lucky.

Kategori emosi Pada budaya tertentu ada beberapa kata untuk mengungkapkan emosi yang tidak ada padanan katanya saat diterjemahkan dalam bahasa lain. Tapi itu bukan berarti emosi yang dimaksud tidak ada di budaya tersebut, hanya saja pandangan budaya terhadap emosi tersebut berbeda.

Masyarakat Tahiti tidak mengenal kata 'sadness' Mereka mendispkripsikannya dengan 'pe'a pe'a', yang berarti sick, fatigue, atau troubled. Emosi 'sadness' adalah universal, namun budaya mempengaruhi bagaimana mereka mendiskripsikannya.

Perhatikan juga, Indonesia punya satu kata untuk 'malu', namun dalam bahasa inggris ada kata 'embarrassment', ada juga 'shame' juga 'guilt', yang masingmasing diucapkan pada situasi-situasi berbeda. Lokasi emosi Orang barat (Eropa-Amerika) beranggapan bahwa emosi bertempat atau dirasakan di hati. Orang Jepang, di usus atau perut. Suku Cheowong di Malaysia, beranggapan di jantung. Suku Tahiti, sangat yakin jika emosi mereka bersumber di usus. Suku Ivaluk bersumber di inferash (our inside). Ekspresi emosi Pada 1969, penelitian Ekman menemukan tidak adanya perbedaan pada 7 budaya yang berbeda dalam mengekspreksikan 6 emosi, yaitu : marah, jijik, takut, bahagia, sedih dan terkejut. Sedangkan kapan dan dimana ekspresi emosi ditampilkan dipengaruhi oleh budaya.

Kognisi Sosial Kebudayaan dalam Kognisi sosial bagaimana orang berfikir mengenai dirinya sendiri dan dunia sosial atau bagaimana orang memilih, menginterpretasikan, mengingat, dan menggunakan informasi sosial untuk membuat penilaian dan mengambil keputusan.

elaskan persamaan dan perbedaan antar budaya melalui perkembangan moral! Moral (Bahasa Latin Moralitas) adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang memiliki nilai positif. Perkembangan moral sangat dipengaruhi dengan perkembangan religiusitas individu. Tentu peran Agama sangat menentukan sejauh mana kemoralan manusia itu sendiri. Melihat kondisi sekarang banyak tragedi kemanusian yang tidak berdasarkan kemoralan yang terjadi belum lama ini. Hal ini jelas menunjukan betapa rendahnya kualitas moral manusia. Budaya merupakan salah satu penentu selain Agama, dimana budaya yang beradab dan memiliki nilai-nilai kemoralan yang baik merupakan persamaan untuk melihat perkembangan moral disuatu tempat misalkan. Sehingga Moral itu sendiri memiliki kesamaan dengan budaya yaitu nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh. Tentu dimana ada persamaan disitu terletaka perbedaan. Budaya-budaya tentu tidak kembar identik satu dengan lainnya, hal ini banyak faktor yang mempengaruhinya seperti seni, kebiasaan, adat istiadat,nilai-nilai, dan berbagai penyokong budaya itu terbentuk. Dari hal perbedaan ini sangat jelas menimbulkan perbedaan pula dari segi perkembangan moral. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat. Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam ber interaksi dengan manusia. apabila yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai memiliki moral yang baik, begitu juga sebaliknya.Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Setiap budaya memiliki standar moral yang berbeda-beda sesuai dengan sistem nilai yang berlaku dan telah terbangun sejak lama.

jelaskan persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal sosial masyarakat! Budaya terbentuk dari banyak unsur yang rumit, termasuk sistem agama dan politik, adat istiadat, bahasa, perkakas, pakaian, bangunan, dan karya seni. Bahasa, sebagaimana juga budaya, merupakan bagian tak terpisahkan dari diri manusia sehingga banyak orang cenderung menganggapnya diwariskan secara genetis. Ketika seseorang berusaha berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda budaya dan menyesuaikan perbedaan-perbedaannya, membuktikan bahwa budaya itu dipelajari. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh. budaya bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Banyak aspek budaya turut menentukan perilaku komunikatif. Unsurunsur sosio-budaya ini tersebar dan meliputi banyak kegiatan sosial mayarakat. 11. jelaskan persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal sosial kognitif ! Teori Perkembangan Kognitif, dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk

secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan. konteks sosial juga merupakan salah satu sudut pandang dari perkembangan kognitif. Perspektif ini menyatakan bahwa lingkungan sosial dan budaya akan memberikan pengaruh terbesar terhadap pembentukan kognisi dan pemikiran anak. Teori ini memiliki implikasi langsung pada dunia pendidikan.

12. jelaskan persamaan dan perbedaan antar budaya dalam hal individual kolektifitas! Individu merupakan unit terkecil pembentuk masyarakat. Dalam ilmu sosial, individu berarti juga bagian terkecil dari kelompok masyarakat yang tidak dapat dipisah lagi menjadi bagian yang lebih kecil. Jadi budaya individu disini maksudnya suatu kebiasaan yang terdapat dalam diri individu itu sendiri. Ini dapat muncul karena mendapat pengaruh baik lingkungannya, keluarga dan pendidikannya. Budaya individu ini lebih menekankan kepada individunya baik itu tingkah laku maupun pola pikirnya yang membudidaya dalam dirinya. Sedangkan tolong menolong atau kolektivitas dalam hal budaya merupakan hal yang penting, dimana budaya tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa bantuan individu-individu yang tolong-menolong demi tercapainya budaya yang indah pada waktunya. Demikian apa yang saya susun merupakan usaha saya dalam menjawab pertanyaan yang di ajukan, semoga membawa manfaat bagi kita semua. Untuk lebih memperdalam apa yang saya susun, silahkan anda menelusuri sumbersumber yang saya gunakan sebagai referensi.

KEPRIBADIAN (SELF) DALAM PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA


Pendahuluan Berbicara budaya adalah berbicara pada ranah sosial dan sekaligus ranah individual. Pada ranah sosial karena budaya lahir ketika manusia bertemu dengan manusia lainnya dan membangun kehidupan bersama yang lebih dari sekedar pertemuan-pertemuan insidental. Dari kehidupan bersama tersebut diadakanlah aturan-aturan, nilai-nilai kebiasaan-kebiasaan hingga kadang sampai pada kepercayaan-kepercayaan transedental yang semuanya berpengaruh sekaligus menjadi kerangka perilaku dari individu-individu yang masuk dalam kehidupan bersama. Semua tata nilai, perilaku, dan kepercayaan yang dimiliki sekelompok individu itulah yang disebut budaya. Pada ranah individual adalah budaya diawali ketika individu-individu bertemu untuk membangun kehidupan bersama dimana individu-individu tersebut memiliki keunikan masing-masing dan saling memberi pengaruh. Ketika budaya sudah terbentuk, setiap individu merupakan agen-agen budaya yang memberi keunikan, membawa perubahan, sekaligus penyebar. Individu-individu membawa budayanya pada setiap tempat dan situasi

kehidupannya sekaligus mengamati dan belajar budaya lain dari individu-individu lain yang berinteraksi dengannya. Dari sini terlihat bahwa budaya sangat mempengaruhi perilaku individu. Budaya telah menjadi perluasan topik ilmu psikologi di mana mekanisme berpikir dan bertindak pada suatu masyarakat kemudian dipelajari dan diperbandingkan terhadap masyarakat lainnya. Psikologi budaya mencoba mempelajari bagaimana faktor budaya dan etnis mempengaruhi perilaku manusia. Di dalam kajiannya, terdapat pula paparan mengenai kepribadian individu yang dipandang sebagai hasil bentukan sistem sosial yang di dalamnya tercakup budaya. Adapun kajian lintas budaya merupakan pendekatan yang digunakan oleh ilmuan sosial dalam mengevaluasi budaya-budaya yang berbeda dalam dimensi tertentu dari kebudayaan. Pembahasan Sebagai makhluk yang dapat berpikir, manusia memiliki pola-pola tertentu dalam bertingkah laku. Tingkah laku ini menjadi sebuah jembatan bagi manusia untuk memasuki kondisi yang lebih maju. Pada hakikatnya, budaya tidak hanya membatasi masyarakat, tetapi juga eksistensi biologisnya, tidak hanya bagian dari kemanusiaan, tetapi struktur instingtifnya sendiri. Namun demikian, batasan tersebut merupakan prasyarat dari sebuah kemajuan. Lewin memberikan penjelasan mengenai peranan penting hubungan pribadi dengan lingkungan. Meksipun terdapat konstruk psikologis individu yang sulit ditembus oleh lingkungan luar, lingkungan masih tetap memiliki kontribusi dalam perkembangan individu. Dalam teori Medan yang digagas Lewin ini, pribadi tak dapat dipikirkan secara terpisah dari lingkungannya. Kelly mendefinisikan budaya sebagai bagian yang terlibat dalam proses harapan-harapan yang dipelajari/dialami. Orang-orang yang memiliki kelompok budaya yang sama akan mengembangkan cara-cara tertentu dalam mengonstruk peristiwa-peristiwa, dan mereka pun mengembangkan jenis-jenis harapan yang sama mengenai jenis-jenis perilaku tertentu. Terdapat suatu benang merah antara pendapat Lewin dan Kelly. Individu senantiasa bersinggungan dengan dunianya (lingkungan). Sementara itu, sebagai masyarakat dunia, manusia mungkin saja mengembangkan kebudayaan yang hampir sama antara satu masyarakat dengan masyarakat lainnya. Jika diamati, saat ini manusia sering kali menghadapi permasalahan yang disebabkan oleh budaya yang tidak mendukung. Ketika pengaruh budaya buruk mempengaruhi kepribadiaan seseorang maka dengan sendirinya berbagai masalah yang tidak di inginkan akan terjadi secara terus-menerus. Sebagai contoh, ketika budaya berpakaian minim bagi kaum perempuan masuk ke Indonesia, muncul berbagai perdebatan. Kepribadian dalam Lintas Budaya Kepribadian merupakan konsep dasar psikologi yang berusaha menjelaskan keunikan manusia. Kepribadian mempengaruhi dan menjadi kerangka acuan dari pola pikir dan perilaku manusia, serta bertindak sebagi aspek fundamental dari setiap individu yang tak lepas dari konsep kemanusiaan yang lebih nesar, yaitu budaya sebagai konstuk sosial.

Menurut Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi yang terdiri atas faktor-faktor biologis, psikologis dan sosiologis sebagaimana digambarkan oleh bagan di bawah ini: Definisi kepribadian Hal pertama yang menjadi perhatian dalam studi lintas budaya dan kepribadian adalah perbedaan diantara keberagaman budaya dalam memberi definisi kepribadian. Dalam literature-literatur Amerika umumnya kepribadian dipertimbangkan sebagai perilaku, kognitif dan predisposisi yang relatif abadi. Definisi lain menyatakan bahwa kepribadian adalah serangkaian karakteristik pemikiran, perasaan dan perilaku yang berbeda antara individu dan cenderung konsisten dalam setiap waktu dan kondisi. Ada dua aspek dalam definisi ini, yaitu kekhususan (distinctiveness) dan stablilitas serta konsistensi (stability and consistency). Semua definisi di atas menggambarkan bahwa kepribadian didasarkan pada stabilitas dan konsistensi di setiap konteks, situasi dan interaksi. Definisi tersebut diyakini dalam tradisi panjang oleh para psikolog Amerika dan Eropa yang sudah barang tentu mempengaruhi kerja ataupun penelitian mereka. Semua teori mulai dari psikoanalisa Freud, behavioral approach Skinner, hingga humanistic Maslow-Rogers meyakini bahwa kepribadian berlaku konsistan dan konsep-konsep mereka berlaku universal. Dalam budaya timur, asumsi stabilitas kepribadian sangatlah sulit diterima. Budaya timur melihat bahwa kepribadian adalah kontekstual (contextualization). Kepribadian bersifat lentur yang menyesuaikan dengan budaya dimana individu berada. Kepribadian cenderung berubah, menyesuaikan dengan konteks dan situasi. Locus of control Hal paling menarik dari hubungan kepribadian dengan konteks lintas budaya adalah masalah locus of control. Sebuah konsep yang dibangun oleh Rotter (1966) yang menyatakan bahwa setiap orang berbeda dalam bagaimana dan seberapa besar kontrol diri mereka terhadap perilaku dan hubungan mereka dengan orang lain serta lingkungan. Locus of control kepribadian umumnya dibedakan menjadi dua berdasarkan arahnya, yaitu internal dan eksternal. Individu dengan locus of control eksternal melihat diri mereka sangat ditentukan oleh bagaimana lingkungan dan orang lain melihat mereka. Sedangkan locus of control internal melihat independency yang besar dalam kehidupan dimana hidupnya sangat ditentukan oleh dirinya sendiri. Sebagai contoh adalah penelitian perbandingan antara masyarakat Barat (Eropa-Amerika) dan masyarakat Timur (Asia). Orang-orang Barat cenderung melihat diri mereka dalam kaca mata personal individual sehingga seberapa besar prestasi yang mereka raih ditentukan oleh seberapa keras mereka bekerja dan seberapa tinggi tingkat kapasitas mereka. Sebaliknya, orang Asia yang locus of control kepribadiannya cenderung eksternal melihat keberhasilan mereka dipengaruhi oleh dukungan orang lain ataupun lingkungan. Budaya dan Perkembangan Kepribadian Kepribadian manusia selalu berubah sepanjang hidupnya dalam arah-arah karakter yang lebih jelas dan matang. Perubahan-perubahan tersebut sangat dipengaruhi lingkungan dengan fungsifungsi bawaan sebagai dasarnya. Stern menyebutnya sebagai Rubber Band

Hypothesis (Hipotesa Ban Karet). Seseorang diumpamakan sebagai ban karet dimana faktorfaktor genetik menentukan sampai mana ban karet tersebut dapat ditarik (direntangkan) dan faktor lingkungan menentukan sampai seberapa panjang ban karet tersebut akan ditarik atau direntangkan. Dari hipotesa di atas dapat disimpulkan bahwa budaya memberi pengaruh pada perkembangan kepribadian seseorang. Perubahan-perubahan yang terjadi pada seorang anak yang tinggal bersama orangtua ketika beranjak dewasa tentunya sangat berbeda dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada anak yang tinggal di panti asuhan. Selain itu, perkembangan kepribadian seseorang dipengaruhi pula oleh semakin bertambahnya usia seseorang. Semakin bertambah tua seseorang, tampak semakin pasif, motivasi berprestasi dan kebutuhan otonomi semakin turun, dan locus of control dirinya semakin mengarah ke luar (eksternal). Budaya dan Indigenous Personality Berbagai persoalan mendasar yang muncul dalam kajian kepribadian dalam tinjauan lintas budaya dia atas menggambarkan sebuah kenyataan bahwa antar budaya yang berbeda sangat mungkin secara mendasar memiliki pandangan yang berbeda mengenai apa tepatnya kepribadian itu. Suatu kenyataan yang merangsang perlunya kajian-kajian yang bersifat lokal atau indigenous personality yang mampu memberi penjelasan mengenai kepribadian individu dari suatu budaya secara mendalam. Konseptualisasi mengenai kepribadian yang dikembangkan dalam sebuah budaya tertentu dan relevan hanya pada budaya tersebut. Sebagai contoh kajian indigenous personality adalah penelitian yang dilakukan Doi (1973). Doi mengemukakan adanya Amae yang dikatakan sebagai inti konsep dari kepribadian orang-orang Jepang. Amae berakar pada kata manis, dan secara perlahan dirujukkan sebagai sifat pasif, ketergantungan antar individu. Dipaparkan pula bahwa Amae berakar pada hubungan antara bayi dengan ibunya. Menurut Doi, relationship seluruh orang Jepang dipengaruhi dan berkarakteristik Amae, sebagaimana Amae ini secara mendasar mempengaruhi budaya dan kepribadian orang Jepang. Suatu konsep yang memandang kepribadian sebagai bagian tak terpisahkan dari konsep hubungan sosial. Temuan mengenai Amae di atas menunjukkan adanya perbedaan konsep kepribadian antara orang Jepang dan orang Amerika. Para Psikolog Amerika memandang bahwa yang menjadi inti kepribadian adalah konsep Ego. Ego disebut ekslusif kepribadian karena Ego mengontrol pintu-pintu kearah tindakan, memilih segi-segi lingkungan kemana ia dan bagaimana caranya, serta memiliki kuasa mengontrol proses-proses kognitif berupa persepsi, memori dan berpikir. Tujuan terpenting dari Ego adalah mempertahankan kehidupan individu. Konsep yang memandang kepribadian sebagai suatu yang bersifat otonom. Budaya dan Konsep Diri Definisi konsep diri Konsep diri adalah organisasi dari persepsi-persepsi diri. Organisasi dari bagaimana kita mengenal, menerima dan mengenal diri kita sendiri. Suatu deskripsi tentang siapa kita, mulai dari identitas fisik, sifat hingga prinsip. Berpikir mengenai bagaimana mempersepsi diri adalah bagaimana seseorang memberi gambaran mengenai sesuatu pada dirinya. Selanjutnya label akan sesuatu dalam diri tersebut

digunakan sekaligus untuk mendeskripsikan karakter dirinya. Sebagai contoh, seseorang yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yang humoris. Deskripsi ini berimplikasi bahwa: (1) orang tersebut memiliki atribut sebagai seorang yang humoris dalam dirinya, yang boleh jadi merupakan kemampuan ataupun ketertarikan terhadap segala hal yang berbau humor, (2) semua tindakan, pikiran dan perasaan orang tersebut mempunyai hubungan yang dekat dengan atribut tersebut, bahwa orang tersebut selama ini dalam setiap perilakunya selalu tampak humoris, (3) tindakan, perasaan dan pikiran orang tersebut di masa yang akan datang akan dikontrol oleh atributnya tersebut, bahwa orang tersebut dalam perilakunya di esok hari akan selalu menyesuaikan dengan atributnya tersebut. Asumsi-asumsi akan pentingnya konsep diri berakar dari pemilikiran individualistik barat. Dalam masyarakat barat, diri dilihat sebagai sejumlah atribut internal yang meliputi kebutuhan, kemampuan, motif, dan prinsip-prinsip. Konsep diri adalah inti dari keberadaan (existence) dan secara naluriah tanpa disadari mempengaruhi setiap pikiran, perasaan dan perilaku individu tersebut. Diri individual Diri individual adalah diri yang fokus pada atribut internal yang sifatnya personal; kemampuan individual, inteligensi, sifat kepribadian dan pilihan-pilihan individual. Diri adalah terpisah dari orang lain dan lingkungan. Budaya dengan diri individual mendesain dan mengadakan seleksi sepanjang sejarahnya untuk mendorong kemandirian sertiap anggotanya. Mereka didorong untuk membangun konsep akan diri yang terpisah dari orang lain, termasuk dalam kerangka tujuan keberhasilan yang cenderung lebih mengarah pada tujuan diri individu. Dalam kerangka budaya ini, nilai akan kesuksesan dan perasaan akan harga diri megambil bentuk khas individualisme. Keberhasilan individu adalah berkat kerja keras dari individu tersebut. Diri individual adalah terbatas dan terpisah dari ornag lain. Informasi relevan akan diri yang paling penting adalah atribut-atribut yang diyakini stabil, konstan, personal dan instrinsikdalam diri. Diri kolektif Budaya yang menekankan nilai diri kolektif sagat khas dengan cirri perasaan akan keterkaitan antar manusia satu sama lain, bahkan antar dirinya sebagai mikro kosmos dengan lingkungan di luar dirinya sebagai makro kosmos. Tugas utama normative pada budaya ini adalah bagaimana individu memenuhi dan memelihara keterikatannya dengan individu lain. Individu diminta untuk menyesuaikan diri dengan orang lain atau kelompok dimana mereka bergabung. Tugas normative sepanjang sejarah budaya adalah mendorong saling ketergantungansatu sama lain. Karenanya, diri (self) lebih focus pada atribut eksternal termask kebutuhan dan harapan-harapannya. Dalam konstruk diri kolektif ini, nilai keberhasilan dan harga diri adalah apabila individu tersebut mampu memenuhi kebutuhan komunitas dan menjadi bagian penting dalam hubungan dengan komunitas. Individu focus pada status keterikatan mereka (interdependent),

dan penghargaan serta tanggung jawab sosialnya. Aspek terpenting dalam pengalaman kesadaran adalah saling terhubung antar personal. Dapat dilihat bahwa diri (self) tidak terbatas, fleksibel, dan bertempat pad konteks, serta saling overlapping antara diri dengan individu-individu lain khususnya yang dekat atau relevan. Dalam budaya diri kolektif ini, informasi mengenai diri yang terpenring adalah aspek-aspek diri dalam hubungan. Pengaruhnya terhadap persepsi diri Studi yang dilakukan oleh Bond danTak-Sing (1983), dan Shwender dan Bourne (1984) menunjukkan bagaimana perbedaan konstruk diri mempengaruhi persepsi diri. Studi ini membandingkan kelompok Amerika dan kelompok Asia, subyek diminta menuliskan beberapa karakteristik yang menggambarkan diri mereka sendiri. Respon yang diberikan subyek bila dianalisa dapat dibagi ked lam dua jenis, yaitu respon abstrak atau deskripsi sifat kepribadian seperti saya seorang yang mudah bergaul, saya orang yang ulet; dan respon situasional seperti saya biasanya mudah bergaul dengan teman-teman dekat saya. Hasil studi menunjukkan bahwa subyek Amerika cenderung memberikan respon abstrak sedangkan subyek Asia cenderung memberikan respon situasional. penemuan ini menyatakan bahwa individu dengan konstruk diri yang dependent cenderung menekankan pada atribut personal: kemampuan ataupun sifat kepribadian; sebaliknya individu dengan konstruk diri intersependent lebih cenderung melihat diri mereka dalam konteks situasional dalam hubungannya dengan orang lain. Pengaruhnya pada social explanation Konsep diri juga menjadi semacam pola panduan bagi kognitif dalam melakukan interpretasi terhadap perilaku orang lain. Individu dengan diri individual, yang memiliki keyakinan bahwa setiap orang memiliki serangkaian atribut internal yang relatif stabil, akan menganggap orang lain juga memiliki hal yang sama. Hasilnya, ketika mereka melakukan pengamatan dan interpretasi terhadap perilaku orang lain, mereka berkeyakinan dan mengambil kesimpulan bahwa perilaku orang lain tersebut didasi dan didorong oleh aspekaspek dalam atribut internalnya. Pengaruhnya pada motivasi berprestasi Motivasi adalah faktor yang membangkitkan dan menyediakan tenaga bagi perilaku manusia dan organisme lainnya. motivasi manusia merupakan konsep yang paling banyak menarik perhatian dan diteliti dalam kajian psikologi, sekaligus paling controversial karena banyaknya definisi dan pemikiran yang dikembangkan. Teori motivasi yangn terkenal diantaranya disampaikan oleh Maslow dan Mc-Clelland. Dalam teori motivasi Maslow, manusia memiliki hierarki kebutuhan dari kebutuhan paling dasar yaitu fisiologis hingga kebutuhan paling tinggi yaitu aktualisasi diri. Sementara menurut Mc-clelland, manusia juga dimotivasi oleh dorongan sekunder yang penuh tenaga yang tidak berbasis kebutuhan, yaitu berprestasi, berafiliasi atau menjalin hubungan, dan berkuasa.

Dalam tradisi barat, konsep diri bersifat individual, motivasi diasosiasikan sebagai sesuatu yang personal dan internal, dan kurang terkait dengan konteks sosial ataupun interpersonal. Dalam komunitas tradisi timur, konsep diri condong dilihat sebagai bagian kolektifitas, kesuksesan adalah untuk mencapai tujuan sosial yang lebih luas. Kesuksesan selalu dipandang terkait dengan kebanggaan dan kebahagiaan orang lain, terutama orang-orang terdekat. Pengaruhnya pada peningkatan diri (self enhancement) Memelihara atau meningkatkan harga diri diasumsikan akan memiliki bentuk yang berbeda pada budaya yang cenderung interdependent. Diantara orang-orang yang datang dari budaya interdependent, penaksiran atribut internal diri mungkin tidak terkait dengan harga diri (self esteem) ataupun kepuasan diri (self satisfiaction). Sebaliknya, harga diri ataupun kepuasan diri terlihat lebih terkait dengan keberhasilan memainkan perannya dalam kelompok, memelihara harmoni, menjaga ikatan, dan saling membantu. Bagi orang-orang dri interdependent culture, melihat dirir sebagai unik atau berbeda malah akan menjadikan ketidakseimbangan psikologis diri. Mereka akan merasa terlempar dari kelompoknya dan kesepian sebagai manusia. Pengaruhnya pada emosi Emosi dapat diklasifikasikan atas arah hubungan sosial dari emosi, yaitu apakah emosi tersebut akan mengarahkan pada pemisahan diri dengan lingkungan, penarikan diri, ataupun penolakan hubungan sosial sekaligus secara simultan meningkatkan rasa penerimaan diri untuk mandiri dan lepas dari ketergantungan pada orang lain yang selanjutnya disebut socially disengaged emotions dan emosi yang akan mengarahkan pada keterhubungan dengan orang lain dan lingkungan luarnya atau dikenal sebagai socially engaged emotions. C. Penutup Menutup uraian makalah ini, ijinkanlah penulis kembali mengingatkan hakikat dari perbedaan yang ada di muka bumi, yaitu agar manusia saling mengenal sesamanya. Adanya latar belakang budaya yang berbeda, tentu akan dapat melahirkan perbedaan pemikiran. Namun demikian, perbedaan pemikiran itu hendaknya tidak melulu menjadi suatu perdebatan di antara masyarakat. Perbedaan itu hendaknya menjadi kekayaan bersama dalam khasanah kebudayaan masyarakat dunia yang memang heterogen. Ketepatan kita dalam memandang suatu permasalahan melalui perspektif tertentu akan dapat mengeliminasi permusuhan antar golongan. Sebagaimana dikemukakan oleh Freud, pada hakikatnya insting mati memang telah ada dalam diri manusia. Hanya saja, penulis berkeyakinan bahwa insting dalam diri manusia selalu dapat dikendalikan. Oleh karena itu, penggunaan sudut pandang yang tepat dalam mengkaji suatu masalah budaya adalah langkah yang tepat untuk dapat mengendalikan insting manusia.
Psikologi Lintas Budaya dan Perilaku Sosial 21.02 A. Victor Matanggaran No comments

ATRIBUSI

Atribusi adalah kesimpulan yang dibuat oleh seseorang untuk menerangkan mengapa orang lain melakukan suatu perbuatan. Dapat pula dijelaskan sebagai prinsip orang membuat penilaian terhadap sebab-sebab peristiwa, perilaku orang lain, dan perilaku mereka sendiri. Penyebab yang dimaksud biasanya adalah disposisi pada orang yang bersangkutan. Dengan demikian teori-teori atribusi adalah usaha untuk menerangkan bagaimana suatu sebab menimbulkan perilaku tertentu. Atribusi penting untuk dipelajari dalam psikologi social karena hal ini dapat menerangkan pada kita bagaimana orang menjelaskan suatu perilaku. Dengan memperlajari atribusi, kita juga dapat melihat bias-bias yang terjadi ketika seseorang menjelaskan perilaku orang lain, kemudian, pada gilirannya, memperngaruhi perilaku mereka sendiri.

Sejauh ini di dalam psikologi social dikenal ada tiga teori dalam kaitannya dengan atribusi yaitu : a. Theory of Correspondent Inferences Dikembangkan oleh Edward James dan Keith Davis. Apabila perilaku berhubungan dengan sikap atau karakteristik personal berarti dengan melihat perilakunya dapat diketahui dengan pasti sikap atau karakteristik orang tersebut. Hubungan yang demikian adalah hubungan yang dapat disimpulkan (correspondent inference). Ini berbeda dengan keadaan, dimana banyak orang melakukan hal yang sama. Misalnya, seorang yang menyampaikan rasa simpati terhadap suatu musibah belum bisa dikatakan sebagai orang yang simpatik, sebab sebagian orang memang melakukan hal yang serupa. Bagaimana mengetahui bahwa perilaku berhubungan dengan karakteristik atau sikap ? Ada beberapa cara untuk melihat ada atau tidak hubungan antara keduanya : 1. Dengan melihat kewajaran perbuatan atau perilaku. Orang yang bertindak wajar sesuai dengan keinginan masyarakat (social desirability), sulit untuk dikatakan bahwa tindakannya itu cerminan dari karakternya. Sebaliknya, akan lebih mudah untuk menebak bahwa perilakunya merupakan cerminan dari karakter dia bila dia melakukan sesuatu yang kurang wajar. Contohnya : orang yang berjalan sesuai dengan jalur sulit untuk ditebak bahwa perilaku itu mencerminkan karakternya. Namun bila dijumpai ada seseorang yang berjalan menerabas, dapat disimpulkan bahwa perbuatan itu adalah cerminan dari karakternya, yaitu tidak patuh pada aturan. Pengamatan terhadap perilaku yang terjadi pada situasi yang memunculkan beberapa pilihan. Pada situasi yang tidak memberikan alternatif lain, atau karena terpaksa, tidak mungkin bisa memprediksikan bahwa perilaku tersebut merupakan cerminan dari karakternya. Memberikan peran yang berbeda dengan peran yang sudah biasa dilakukan. Misalnya: seorang juru tulis diminta untuk menjadi juru bayar. Dengan peran yang baru ini, akan tampak keasliannya, perilaku yang merupakan gambaran dari karakternya.

2.

3.

b. Model of Scientific Reasoner Teori ini dikembangkan oleh Harold Kelly. Ia mengajukan konsep untuk memahami penyebab perilaku seseorang dengan memandang pengamat seperti ilmuwan, yang disebut sebagai ilmuwan naf. Untuk sampai pada suatu kesimpulan atribusi seseorang, diperlukan tiga informasi penting : 1. Distinctiveness Konsep ini merujuk pada bagaimana seseorang berperilaku dalam kondisi yang berbeda-beda. Distinctiveness yang tinggi terjadi apabila orang yang bersangkutan mereaksi secara khusus atau berbeda pada suatu peristiwa. Misalnya : ia hanya tertawa ketika nonton film komedi X, namun ketika nonton film komedi lainnya ia tidak pernah tertawa. Sedangkan distinctiveness yang rendah terjadi apabila orang yang bersangkutan merespon/mereaksi secara sama terhadap stimulus yang berbeda. Misalnya : seseorang yang selalu tertawa bila melihat film komedi. 2. Konsistensi Konsep ini menunjuk pada pentingnya waktu sehubungan dengan suatu peristiwa. Konsistensinya dikatakan tinggi apabila orang yang bersangkutan mereaksi yang sama untuk stimulus yang sama, pada waktu yang berbeda. Misalnya : orang yang selalu tertawa bila melihat lelucon dari pelawak Tessy, baik dulu maupun sekarang, disebut memiliki konsistensi yang tinggi. Sedangkan bila orang tersebut hanya kadang-kadang saja tertawa terhadap lelucon Tessy, ia memiliki konsistensi yang rendah. Konsistensi dikatakan rendah jika orang yang bersangkutan merespon berbeda atau tidak sama terhadap stimulus yang sama pada waktu yang berbeda. 3. Konsensus Konsep tentang konsensus selalu melibatkan orang lain, sehubungan dengan stimulus yang sama. Apabila orang lain tidak bereaksi sama dengan seseorang berarti konsensusnya rendah, dan sebaliknya jika orang lain juga melakukan hal sama dengan dirinya berarti konsensusnya tinggi.

Dari ketiga informasi tersebut, dapat ditentukan atribusi pada seseorang. Menurut Kelly ada tiga, yaitu : 1. Atribusi internal, yaitu perilaku seseorang merupakan gambaran dari karakternya apabila distinctiveness-nya rendah, konsensusnya rendah dan konsistensinya tinggi.

2. Atribusi eksternal, dikatakan demikian apabila ditandai oleh distinctivenessnya tinggi, konsensusnya tinggi dan konsistensinya juga tinggi. 3. Atribusi internal-eksternal, hal ini ditandai oleh distinctiveness-nya tinggi, konsensusnya rendah dan konsistensinya juga tinggi. c. Atribusi Keberhasilan dan Kegagalan Dua teori atribusi di atas bisa diterapkan secara lebih umum daripada teori yang akan dibicarakan pada bagian ini. Weiner dan Weiner mengkhususkan diri berteori tentang atribusi dalam kaitannya dengan keberhasilan dan kegagalan. Untuk menerangkan proses atribusi tentang keberhasilan atau kegagalan seseorang maka perlu memahami pusat ilmu psikologi dimensinya. Terdapat dua dimensi pokok memberi atribusi. Pertama, keberhasilan dan kegagalan memiliki penyebab internal dan eksternal (mirip konsep dari Kelley atau locus of control). Dimensi kedua, memandang dari segi stabilitas penyebab, stabil atau tidak stabil. Dari kedua dimensi tersebut, dapat dilihat ada empat kemungkinan : Kestabilan LOC Internal Tidak Stabil (Temporer) Eksternal Usaha Mood Kelelahan Nasib Ketidaksengajaan Kesempatan Stabil (Permanen) tugas Bakat Kecerdasan Karakteristik Fisik Tingkat kesukaran

Berdasarkan pada tabel di atas, maka dapat dilakukan kategorisasi atau atribusi seseorang. Misalnya mahasiswa yang berhasil menempuh ujian akhir kemungkinan karena selama kuliah memang selalu mendapat nilai baik dan dia memiliki kesanggupan untuk berusaha, maka dia bisa disebut sebagai orang yang cerdas, berbakat atau berkemampuan tinggi. Orang yang demikian bisa diberi atribusi internal-stabil. Bisa juga bukan karena kemampuannya yang memadai, tetapi karena tugas yang dibebankan relatif mudah, berarti atribusinya eksternal-stabil. Contoh atribusi internal-tidak stabil adalah pada kasus orang yang memiliki bakat tetapi keberhasilannya tergantung pada besarnya usaha, sehingga kadang-kadang berhasil tetapi tidak jarang pula gagal. Atribusi eksternal-tidak stabil, contohnya adalah orang yang mendapat undian berhadaih. Konsep atribusi ini tidak hanya terbatas untuk melihat keberhasilan, tetapi dengan analogi yang sama bisa juga untuk memberi atribusi kegagalan. Contohnya adalah orang pandai, yang biasanya sukses, suatu ketika mengalami

kegagalan karena tugas yang dibebankan terlalu berat untuk ditanggung sendirian (eksternal-stabil). Pada tahun 1982, Weiner memperluas model atribusinya dengan menambahkan satu dimensi lagi didalam dimensi penyebab internal-eksternal, yaitu dimensi dapat atau tidaknya penyebab itu terkontrol (controllable). Contohnya : untuk atribusi internal-stabil tak terkontrol adalah sukses karena bakat yang luar biasa sehingga jarang mengalami kegagalan.

Temuan-temuan lintas budaya tentang Atribusi

Penelitian lintas budaya tentang atribusi sangat penting, terutama untuk meningkatkan pemahaman kita mengenai interaksi intercultural. Ada banyak perilaku yang diatribusikan secara keliru mengenai beberapa perilaku orang akibat perilaku tersebut dipandang negataif. Dalam psikologi lintas budaya diketahui bahwa terdapat beberapa perilaku yang berakar pada dinamika kebudayaan yang memang mendorong dan melanggengkannya. Kita perlu mempertimbangkan faktor-faktor cultural dalam membuat atribusi atas perilaku orang lain maupun kita sendiri. Dengan begitu, kita telah mengambil satu langkah penting dalam memperbaiki pemahaman dan hubungan intercultural. Dalam beberapa penelitian, ditemukan bahwa dalam memandang keberhasilan dan kegagalan, siswa-siswa di Hong Kong memandang keberhasilan pada sebab-sebab Internal seperti usaha, ketertarikan dan kemampuan sedangkan Siswa-siswa Amerika memandang keberhasilan pada sebab-sebab internal. Demikian pula halnya dengan wanita india dalam penelitian Moghaddam, Ditto, dan Taylor (1990), yang menunjukkan bahwa perempuan india yang bermigarasi ke Kanada lebih cenderung mengatribusikan kenerhasilan dan kegagalan pada sebab-sebab internal. Chritteden (1991) menunjukkan bahwa wanita Taiwan lebih banyak menggunakan atribusi eksternal dan self-effacing tentang diri mereka ketimbang wanita amerika. Sebelumnya, Bond, Leung, dan Wan (1982) menunjukkan bahwa siswa-siswa cina yang self-effacing lebih disukai oleh teman-teman sebaya mereka dari pada siswa yang kurang dalam gaya atribusi ini. Kashima dan Triandis (1986) manunjukkan bahwa orang jepang menggunakan gaya atribusi yang jauh lebih berorientasi-kelompok dan kolektif, dalam kaitannya dengan tugas-tugas perhatian dan daya ingat. Subjek-subjek jepang ini lebih sering mengatribusikan kegagalan pada dirinya sendiri, dan keberhasilan lebih pada hal di luar diri. Orang dari kebudayaan yang berbeda memang punya gaya atribusional yang berbeda, dan perbedaan-perbadaan ini berakar jauh dalam latar belakang cultural dan pengasuhan. Ada cukup banyak penelitian yang mempertanyakan

daya penerapan lintas budaya dari berbagai konsep popular tentang atribusi yang terbukti benar di Amerika. Bias menguntungkan diri, atribusi-atribusi defensive, dan kesalahan atribusi mendasar tidak muncul dalam cara yang sama, atau dengan makna yang sama, di budaya lain. B. Ketertarikan Interpersonal dan Cinta

Ketertarikan Interpersonal adalah derajat perasaan positif atau negative terhadap orang lain tetapi lebih mengacu pada perasaan-perasaan positif terhadap orang lain dan merupakan salah satu dimensi penting psikologi social. Ahli-ahli psikologi menggunakan istilah ini untuk mencakup berbagai pengalaman, termasuk rasa menyukai, pertemanan, kekaguman, ketertarikan seksual, dan cinta (Dayakisni & Yuniardi, 2008; Matsumoto, 2008). Terdapat tiga faktor kunci ketertarikan, yaitu Daya tarik fisik, Kedekatan, dan Kesamaan. Pertama Daya Tarik Fisik adalah kelebihan fisik (ukuran, bentuk, karakter wajah, dan sebagainya) yang dapat memancing penilaian favorit orang lain. Yang kedua, Kedekatan adalah faktor kunci ketertarikan yang melibatkan kedekatan geografis, tempat tinggal, dan bentuk-bentuk lain dari kedekatan fisik. Yang ketiga adalah Kesamaan yang dalam hal ini adalah kesamaan minat, nilai-nilai dan kepercayaan. Ketiga faktor tersebut dapat menjadi penentu terjadinya suatu ketertarikan social. Matsumoto (2008) juga menulis bahwa beberapa penelitian menunjukkan bahwa kedekatan berpengaruh terhadap ketertarikan. Selain kedekatan tempat tinggal, daya tarik fisik juga cukup berpengaruh dalam hubungan interpersonal meski tampaknya daya tarik ini lebih penting untuk perempuan daripada untuk laki-laki. Hipotesis kesetaraan (matching hypotesis) memprediksi bahwa orang dengan ciri-ciri fisik yang kira-kira setara kemungkinan besar akan memilih untuk menjadi pasangan. Hipotesis kemiripan (similarity hypotesis) menyatakan bahwa orang yang hampir sama dalam usia, ras, agama, kelas sosial, pendidikan, kecerdasan, sikap, dan daya tarik fisik cenderung membentuk hubungan yang intim. Hipotesis keberbalasan ( recipocity hypotesis) menyatakan bahwa orang yang akan cenderung balas menyukai orang lain yang menyukai mereka.

Cinta (Menyukai Vs Mencintai)

Zick Rubin (1970,1992) menemukan bahwa menyukai termasuk penilaian favorit terhadap orang lain, sebagai cerminan perasaan yang besar atas kekaguman dan kehormatan. Mencintai dalam temuannya tidak hanya sebatas menyukai, tetapi disusun atas :

Caring yaitu hasrat untuk menolong orang lain, terutama ketika pertolongan dibutuhkan Attachment yaitu kebutuhan untuk bersama-sama dengan orang lain; dan Intimacy yaitu suatu rasa empati dan kepercayaan yang datang dari komunikasi yang dekat dan kedekatan secara pribadi dengan orang lain.

Cinta romantis adalah perasaan intens dari ketertarikan kepada orang lain, dalam sebuah konteks erotis dan dengan harapan masa depan.

Triangular theory of love yang diajukan oleh Sternberg (2001) menyatakan bahwa cinta mempunyai tiga komponen dasar: (1) intimacy (keintiman), rasa kedekatan dan pertautan, Matsumoto (2008) menambahkan bahwa keintiman mengacu pada kehangatan, kedakatan, dan berbagai dalam sebuah hubungan; (2) passion(keinginan), rasa ingin bersatu dengan orang lain; dan (3)commitment (tanggung jawab), keputusan untuk memelihara hubungan dalam jangka waktu yang sangat lama, dan mengacu pada niat untuk mempertahankan hubungan meski dihadapkan pada berbagai kesulitan (Matsumoto, 2008).

Temuan-temuan Lintas budaya tentang Ketertarikan Interpersonal dan Cinta Banyak informasi yang didapat dari penelitian-penelitian lintas budaya yang menyatakan bahwa konsep ketertarikan, cinta, dan keintiman berbeda pada tiap-tiap budaya. Perbandingan budaya-budaya dalam memandang cinta dapat menjadi pertimbangan. Di Amerika pada umumnya orang-orang merasakan bahwa cinta adalah sesuatu yang dibutuhkan dan kadang-kadang merupakan unsur yang cukup bagi terbentuknya hubungan romantis jangka panjang dan perkawinan. Orang-orang Amerika cenderung akan menikah dengan orang-orang yang dicintainya (Dayakisni & Yuniardi, 2008). Dalam budaya-budaya lain cinta mungkin tidak menjadi pertimbangan untuk hubungan jangka panjang dan perkawinan. Bahkan sesungguhnya, perkawinan yang disiapkan adalah hal yang umum terjadi di budaya-budaya lain, misalnya Jepang, Cina, dan India. Kadang-kadang perkawinan disiapkan oleh orang tua jauh sebelum usia dimana pasangan itu dipertimbangkan menikah. Cinta tidak

menjadi pertimbangan bagi mereka, sebab adanya keyakinan bahwa cinta seharusnya tumbuh dalam hubungan perkawinan (Dayakisni & Yuniardi, 2008).

Pengaplikasian cinta tidak hanya sekedar dipengaruhi oleh fenomena biologis atau fenomena insting, konsep keluarga dan lain-lain, tetapi juga dipengaruhi oleh adat dan budaya yang berlaku. Dalam budaya Barat, aplikasi cinta misalnya adalah sesuai kehendak pribadi, dan tidak ada sangkut pautnya dengan orang lain, termasuk keluarga sekalipun. Ini berbeda dengan beberapa budaya di Timur, yang sebagian masih ada campur tangan keluarga dalam pencarian jodoh misalnya. Keluarga sangat menentukan tentang siapa yang akan menjadi pasangan hidup anaknya kelak. Apakah, konsep budaya timur ini tidak akan menciptakan sebuah perkawaninan yang penuh cinta? Mungkin, jika ini ditanyakan kepada orang yang menentang perjodohan, akan menjawab, cinta abadi dalam keluarga perjodohan tidak akan tercipta. Tetapi fakta berkata lain. Kelanggengan sebuah rumah tangga yang berdasar pada perjodohan, relatif bertahan lebih lama, jika dibandingkan dengan keluarga yang terbentuk bukan karena campur tangan keluarga. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya angka perceraian dimasa lalu khususnya di Indonesia, jika dibandingkan dengan beberapa tahun belakangan ini, dimana jarang sekali keluarga terbentuk dengan perjodohan. Menurut pandangan neo-analis dan humanistic, daripada memilih pasangan hanya berdasarkan perasaan tertarik sesaat secara seksual sekedar untuk memenuhi kebutuhan yang tidak dewasa, mungkin akan lebih baik menggunakan sebuah jasa perjodohan yang lebih tahu dan berpengalaman untuk memilih calon pasangan yang saling mencintai dan menghargai, penuh kedewasaan, dan cinta akan tumbuh karenanya. Jika ini terjadi, mungkin hasilnya akan menghasilkan perkawinan yang lebih baik dan cinta yang sehat dan utuh. Perjodohan dalam budaya Barat adalah sebuah pelanggaran dalam hak asasi, dan terlalu mencampuri urusan pribadi (individual). Budaya di Timur yang menganut paham kolektif, ini adalah hal yang baik, karena konsep keluarganya berpaham kolektif. Jika terjadi permasalahan dalam sebuah keluarga, maka yang berusaha menjaga kelestarian perkawinan adalah seluruh keluarga besar. Karena, satu keluarga mengalami aib, maka itu adalah aib bagi seluruh keluarga dalam lingkungan yang kolektif (keluaga besar).

RESUME PSIKOLOGI LINTAS BUDAYA


October 18, 2012 faztilmi Uncatagories Leave a comment PENDAHULUAN Pengantar Psikologi adalah salah satu mata kuliah populer dikampus-kampus seluruh Amerika. Dalam kuliah ini kita menyajikan berbagai fakta, atau kebenaran yang terkumpul selama bertahun-tahun. Maka konseling lintas budaya akan dapat terjadi jika antara konselor dan klien mempunyai perbedaan. Kita tahu bahwa antara konselor dan klien pasti mempunyai perbedaan budaya yang sangat mendasar. Perbedaan budaya itu bisa mengenai nilai nilai, keyakinan, perilaku dan lain sebagainya. Perbedaan ini muncul karena antara konselor dan klien berasal dari budaya yang berbeda. Setiap konselor dan klien adalah pribadi yang unik. Unik dalam hal ini mempunyai pengertian adanya perbedaan perbedaan tertentu yang sangat dasar. Setiap manusia adalah berbeda (individual deferences). Dengan menantang pengetahuan tradisional, tujuan buku ini adalah memperkenalkan pembaca pada psikologi seluruh dunia dan memberi perspektif mengenai psikologi dan perilaku manusia yang lebih sesuai dengan anda. Dalam melakukan hubungan konseling dengan klien, maka konselor sebaiknya bisa memahami klien seutuhnya. Memahami klien seutuhnya ini berarti konselor harus dapat memahami budaya spesifik yang mempengaruhi klien, memahami keunikan klien dan memahami manusia secara umum/universal (Speight, 1991).

BAB I
1. 1. HAKIKAT PENGETAHUAN DALAM PSIKOLOGI

Tujuan paling penting Psikologi adalah untuk memahami perilaku manusia. Psikologi terutama mengandalkan penelitian ilmiah tentang manusia untuk mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana dan mengapa manusia bertingkah laku.Pada umumnya,sebelum kita mengakui sesuatu sebagai kebenaran dalam psikologi kita harus yakin terlebih dahulu bahwa penelitian yang menghasilkan kebenaran tersebut memenuhi standar-standar minimal ketepatan logika ilmiah.

Contoh parameter-parameter :
1. Parameter yang berkait dengan sifat tugas (Task) 2. Parameter yang terkait dengan lingkungan atau latar. 3. Paremeter yang terkait dengan partisipan atau peserta suatu penelitian.

Pengetahuan yang kita peroleh dari suatu studi tunggal pasti terbatas karena dihasilkan hanya satu kali dibawah parameter-parameter tertentu. Berdasarkan proses penelitian dan penelitianulang (replikasi), yuang diterima ahli psikologi sebagai kebenaran umumnya adalah pengetahuan yang berhasil bertahan melewati tantangan waktu dan, dan lebih konkretnya, melewati ujian eksperimen jamak (Multiple experiment).
1. 2. Apa itu Psikologi Lintas Budaya dan bagaimana Dampaknya pada kebenaran-kebenaran Psikologi ?

Psikologi lintas-budaya adalah cabang psikologi yang terutama menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batas-batas pengetahuan dengan mempelajari orangorang dari berbagai budaya yang berbeda. Sedangkan dalam arti sempit dapat di artiakan Penelitian lintas budaya berarti dilibatkannya partisipan dari latar belakang cultural yang berbeda dan pengujian terhadap kemungkinan-kemungkinan adanya perbedaan antara partisipan tersebut. Yang membedakan antara psikologis lintas-budaya dengan psikologis tradisional atau mainstream bukanlah fenomena yang diperhatikan. Perbedaanya lebih pada pengujian terhadap batasan-batasan atas pengetahuan dengan memeriksa apakah suatu pengetahuan bisa diterapkan atau didapatkan dari berbagai orang dengan latar belakang kultural yang berbeda. Dan dengan mendefinisikan psikologi lintas-budaya seperti ini, ahli psikologi dapat menerapkan teknik-teknik lintas budaya untuk menguji keuniversalan atau kekhasan-kultural (cultural specifity)semua aspek perilaku manusia. Budaya merupakan suatu konstruk individual-psikologis sekaligus konstruk sosial-makro. artinya, sampai batas tertentu, budaya ada di dalam setiap dan masing-masing diri kita secara individual sekaligus ada sebagai konstruk sosial-global.
1. 3. Etik, Emik, Etnosentrisme dan Stereotip

Etik mengacu pada temuan-temuan yang tampak konsisten/tetap di berbagai budaya; dengan kata lain, sebuah etik mengacu pada kebenaran atau prinsip yang universal. Sedangkan, Emik mengacu pada temuan-temuan yang tampak berbeda untuk budaya yang berbeda; dengan demikian, sebuah emik mengacu pada kebenaran yang bersifat khas-budaya (culturespecific). Etnosentrisme merupakan cara pandang dan penafsiran perilakunorang lain dari kacamata kultural kita sendiri. Sedangkan, Stereotip merupakan sikap, keyakinan, atau pendapat yang baku tentang orang-orang yang berasal dari budaya lain. stereotip berguna untuk menjadi dasar dalam melakukan penelitian, evaluasi, dan interaksi dengan orang dari budaya lain.
1. 4. Perlunya Memasukkan Isu-Isu Lintas Budaya dalam Mempelajari Psikologi Mainstream

Dua alasan mengapa isu-isu lintas budaya di anggap penting untuk dimasukan kedalam pengetahuan kita tentang psikologi. Alasan pertamanya adalah filsafat ilmiah, yaitu perlunya mengevaluasi kebenaran-kebenaran kita berdasarkan parameter-parameter yang melingkupi kebenaran-kebenaran tersebut, dan alasan kedua adalah memasukan lintas budaya ke dalam psikologi di anggap jauh lebih praktis.
1. 5. Definisi Operasional Konsep Budaya

Sebagaimana sudah kita bahas, sebagian besar ahli psikologis lintas budaya akan sepakat bahwa budaya merupakan sekumpulan sikap,nilai, perilaku dan keyakinan bersama, definisi ini adalah definisi yang psikologis, tidak bisa biologis, dan disinilah letak permaslahanya.
1. 6. Pengambilan Sampel

Dalam rancanan penelitian lintas-budaya yang paling sederhana, seorang peneliti mengambil sampel dari orang-oran dari suatu budaya, menambil data dari mereka, dan membandinkan data tersebut dengan data atau nilai-nilai lain yang telah diketahui. Peneliti lintas budaya harus member perhatian khusus pada isu-isu sampling dalam menjalankan riset mereka, disamping ketidak mampuan untuk mengukur budaya pada level sosiopsikologis, bila inin menarik kesimpulan tentang perbedaan cultural dari suatu sampel, peneliti lintas budaya perlu memastikan bahwa para peserta penelitian mereka merupakan representasi yang memadai dari budayanya, apapun budaya itu.
1. 7. Kesetaraan/ekuivalensi Lintas Budaya

Untuk melakukan penelitian lintas budaya yang valid, tidak cukup hanya dengan mendapatkan sample yang secara memadai mewakili budaya yang akan diteliti. Peneliti harus yakin bahwa sample yang mereka bandingkan sudah setara.
1. 8. Rumusan pertanyaan penelitian dan penafsiran data

Dalam memahami penelitian lintas budaya , disadari bahwa pertanyaan yang diajukan oleh peneliti itu sendiri tak bebas budaya alias culture-bound . karena itu pertanyan tersebut bias saja bermakna bagi suatu budaya namun tidak bagi budaya lain. Perbedaan kultur yang ditemukan dari suatu penelitian yang mengajukan pertanyaan yang demikian pasti tercemar olehnya.
1. 9. Tentang bahasa dan penerjemahan

Peneliti Lintas Budaya tidak seluruhnya dilakukan dalam bahasa inggris, Peneliti lintas budaya sering kali menggunakan prosedur terjemahan balik (back translation) untuk memastikan kesetaraan tertentu dalam protocol mereka. Dalam prosedur ini protocol dalam sebuah bahasa diterjemahkan kedalam bahasa lain, dan kemudian diterjemahkan kembali kebahasa semula oleh orang lain. Bila versi terjemahan baliknya sama dengan yang asli, maka disana terdapat kesetaraan tertentu. Bila ada ketidaksamaan, prosedur ini diulang sampai mendapat versi terjemahan balik yang persis sama dengan aslinya. H. Lingkungan penelitian

Dibanyak Universitas di Amerika Utara, mahasiswa peserta kuliahan pengantar psikologi diwajibkan untuk menjadi subjek peneliti sebagai sebagian syarat kelas tersebut. Karena hal ini sudah menjadi praktik yang mapan, ada semacam harapan dari siswa untuk berpartisispasi dalam penelitian sebagai bagian dari pengalaman akademik mereka. Banyak Negara lain tidak punya kebiasaan serupa. Mendatangi sebuah labolatorium universitas untuk menjalani eksperimen psikologi saja sudah punya makna yang bervariasi untuk budaya yang berbeda. Orang Amerika sudah sangat terbiasa dan tidak asing dengan proses ini, namun orang dari budaya lain barangkali tidak demikian, dan reaksi mereka dengan berada dilingkungan penelitian itu sendiri dapat mengganggu perbandingan lintas budaya. Persoalan ini juga harus diperhatikan oleh peneliti lintas budaya.

BAB II BUDAYA DAN DIRI

1. A.

Penjelasan tentang Diri 1. 1. Konsep Diri Independen

Banyak anekdot yang menunjukkan beragamnya penjelasan tentang diri di budaya-budaya yang berbeda. Di Amerika, menonjolkan dan menampilkan diri adalah suatu hal yang baik. Ibaratnya, roda yang berbunyilah yang dilumasi. Tapi, di banyak kebudayaan Asia, kemungkinan besar anda akan mendapat hukuman bila menonjolkan diri paku yang kurang tertanam akan dipukul sampai rata.
1. 1. Konsep Diri Independen

Anekdot-anekdot di atas menunjukkan bahwa tampaknya orang memiliki berbagai gagasan, premis, atau konsep yang berbeda tentang diri, orang lain, dan hubungan antara diri dan orang lain (Markus & Kitayama, 1991a). Di banyak kebudayaan Barat, ada suatu keyakinan yang kuat tentang keterpisahan antar individu. Tugas normatif budaya-budaya ini adalah untuk mempertahankan independensi atau kemandirian individu sebagai entitas yang terpisah dan self-contained (terbatas pada diri). Di masyarakat Amerika, banyak orang dibesarkan untuk menjadi unik, mengekspresikan diri, mewujudkan dan mengaktualisasikan diri yang sesungguhnya, dan seterusnya. Kebudayaan Amerika menyediakan tugas-tugas seperti ini bagi anggotanya. Banyak dari tugas kultural yang ada dalam budaya Amerika saat ini dirancang dan diseleksi, melalui sejarah, untuk mendorong terbentuknya independensi atau ketidaktergantungan masingmasing diri yang terpisah. Dengan adanya tugas-tugas kultural seperti ini, pengertian orang Amerika tentang harga diri atau nilai diri pun mengambil bentuk yang khas. Ketika individu

berhasil menjalani tugas-tugas kultural ini, mereka akan sangat puas dengan dirinya. Harga diri mereka meningkat.
1. 2. Konsep Diri Interdependen

Berbeda dengan itu, banyak kebudayaan non-Barat yang tidak mengasumsikan ataupun menghargai keterpisahan yang kentara tersebut. Sebaliknya, budaya-budaya ini menekankan pada apa yang barangkali bisa disebut kesalingterkaitan yang mendasar pada manusia. Tugas normatif utama dalam budaya-budaya non-Barat adalah melakukan penyesuaian diri untuk menjadi pas dan mempertahankan interdependensi diantara individu. Dengan demikian, banyak individu dalam budaya-budaya ini yang dibesarkan untuk menyesuaikan diri dengan orang dalam suatu hubungan atau kelompok, membaca maksud orang lain, menjadi orang yang simpatik, menempati dan menjalani peran yang diberikan pada diri kita, bertindak secara pantas, dan sebagainya. Hal-hal ini adalah tugas-tugas kultural yang dirancang dan terseleksi lewat sejarah suatu kelompok budaya untuk mendorong terjadinya interdependensi antara diri dengan orang lain.
1. B. Konsekuensi terhadap Kognisi, Emosi, dan Motivasi 1. 1. Konsekuensi terhadap Kognisi

Mengenal dan memahami orang dari budaya lain dari perspektif mereka sendiri menjadi hal yang semakin penting kalau kita ingin menjadi peserta dunia yang efektif. Persepsi diri. Pemahaman diri yang berbeda punya konsekuensi terhadap bagaimana kita mempersepsi diri kita. Dengan pengalaman diri yang independen, atribut-atribut internal menjadi informasi paling penting dan paling relevan dengan diri. Atribut- atribut internal ini relatif kurang penting bagi mereka yang memiliki pemahaman diri yang interdependen, yang memikirkan diri lebih dalam konteks tertentu. Sesuai dengan pandangan kita tentang diri yang independen dan interdependen, subjek-subjek Amerika cenderung lebih sering menulis sifat-sifat abstrak dari pada subjek Asia (Bond & Tak-Sing,1983; Shweder & Bourne, 1984).

1. 2.

Konsekuensi terhadap Emosi

Pemahaman diri yang berbeda punya beberapa konsekuensi penting terhadap pengalaman emosional. Dalam beberapa dekade terakhir ini, emosi lebih banyak dikaji sebagai mekanisme internal yang mempertahankan kondisi homeostatis dan meregulasi perilaku.
1. a. Konotasi Sosial Emosi

Kiyatama dan Markus (1994a) membedakan antara emosi-emosi yang mendorong independensi diri dan yang mendorong interdependensi. Emosi-emosi yang terkait dengan konteks sosial (socially engaged emotions) diantaranya yaitu emosi positif yang berasal dari hasil pengalaman menjadi bagian dari suatu hubungan dekat yang kurang lebih bersifat komunal.
1. b. Konotasi Sosial dan Emosi Sosial Asli (Indigenous).

Meski ada banyak emosi yang sama secara lintas budaya, banyak juga yang relative unik atau khas pada kebudayaan tertentu (Russell, 1991). Emosi-emosi ini disebut sebagai emosi ingenous (asli). Ada beberpa macam emosi yang dilaporkan dalam penelitian ini. Diantaranya yaitu :
1. Emosi-emosi yang bersifat generic, seperti merasa tidak tegang, girang, dan tenang. 2. Emosi-emosi yang memiliki konotasi sosial yang lebih spesifik. Baik terikat secara sosial (emosi yang socially engaged seperti perasaan bersahabat, hormat), maupun yang tidak terikat (Socially disengaged seperti rasa bangga, superior.

Bagi orang Amerika, emosi positif yang generik terkait terutama dengan pengalaman emosi yang tidak terikat secara sosial. Dengan kata lain, mereka yang mengalami emosi-emosi yang menandakan keberhasilan memenuhi tugas-tugas kultural independen (emosi-emosi yang lepas secara sosial seperti kebanggan) kemungkinan besar akan merasa secara umum baik/senang.

1. 3.

Konsekuensi Terhadap Motivasi

Perbedaan kultural dalam pemahaman diri juga mempengaruhi motivasi. Dalam pandangan barat, motivasi pada dasarnya bersifat internal di dalam si pelaku atau aktornya. Ciri-ciri diri internal diantaranya motivasi seseorang untuk berprestasi atau mencapai sesuatu, untuk berafiliasi, atau untuk mendominasi. Motivasi Berprestasi (Achievement Motivation) mengacu pada penegrtian hasrat akan pencapaian yang unggul. Dalam pengertian yang luas hasrat semacam ini dapat di jumpai dibanyak budaya (Maehr & Nicholls, 1980).

BAB III PERSEPSI

Persepsi adalah tentang memahami bagaimana kita menerima stimulus dari lingkungan dan bagaimana kita memproses stimulus tersebut. Secara lebih spesifik, sensasinya biasanya mengacu pada stimulus atau perangsangan nyata pada organ-organ indera tertentu mata (system visual), telinga (system pendengaran atau auditori), hidung (sistem penciuman atau olfaktori), lidah (pengecapan atau rasa), dan kulit (sentuhan). Persepsi biasanya dimengerti sebagai bagaimana informasi yang berasal dari organ yang terstimulasi diproses, termasuk bagaimana informasi tersebut diseleksi, ditata, dan ditafsirkan. Pendek kata, persepsi mengacu pada proses di mana informasi inderawi diterjemahjkan menjadi sesuatu yang bermakna.

Penelitian lintas-budaya di bidang sensasi dan persepsi belum sebanyak bidang psikologi lain seperti perkembangan, perkembangan kognitif dan intelegensi, emosi, dan psikologi sosial.

Beberapa komentar umum tentang pengaruh budaya pada persepsi Persepi dan Relaitas Salah satu hal yang harus disadari tentang persepsi adalah bahwa persepsi ktia atas dunia belum tentu mewakili secara persis realitas fisik dunia atau indera kita. Persepsi kita tentang dunia yang penuh tidak selalu cocok dengan realitas fisik dari sensasi yang kita terima lewat system penglihatan kita. Persepsi dan Pengalaman Pengalaman dan keyakinan-keyakinan kita tentang dunia mempengaruhi apa yang kita persepsi. Kita juga ingin tahu apakah orang lain mempersepsi dunia dengan cara yang sama seperti kita. Kalau mereka melihat dunia secara berbeda, aspek-aspek mana dari pengalaman dan latar belakang, mereka yang bisa menjelaskan perbedaan-perbedaan tersebut? Persepsi kita juga berubah bila kita mengetahui lebih banyak tentang sesuatu. PENGARUH-PENGARUH BUDAYA PADA PERSEPSI VISUAL Sampai disini pembahasan kita menunjukkan bahwa situasi dan pengalaman yang berbeda bisa membuat banyak hal terlihat berbeda. Fenomena ini tentu saja menjadi landasan pemahaman kita tentang bagaimana budaya bisa mempengaruhi persepsi. Pengetahuan Tradisional tentang Ilusi Visual Ilusi optik, ada banyak kajian psikologi di bidang persepsi yang meneliti ilusi optik, yaitu persepsi yang mengandung diskrepansi atau perbedaan antara kenampakan sebuah benda dengan benda itu sesungguhnya. Teori-teori dominan tentang ilusi optik Carpentered World Theory atau teori lingkungan buatan menyatakan bahwa orang seperti halnya sebagian besar orang Amerikan terbiasa melihat benda-benda yang berbentuk kotak. Kita sudah melakukan ini begitu lama sehingga kita tak lagi sadar bahwa kita menafsirkan berbagai benda seolah-olah berbentuk persegi padahal stimulus aktualnya tidak tegak lurus dengan mata kita.

Front Horizontal Foreshortening Theori atau teori pemendekan Horisontal Depan menyatakan bahwa kita menafsirkan garis vertical di mata kita sebagai garis horizontal yang terentang sampai kejauhan. Dengan demikian, kita akan menafsirkan garis vertical pada ilusi vertical/horizontal sebagai sebuah garis yang terentang menjauhi kita. Kedua teori ini memiliki beberapa persamaan gagasan. Yang pertama adalah bahwa cara kita melihat dunia berkembang seirirng waktu melalui pengalaman kita. Karena itu apa yang kita lihat adalah kombinasi antara bagaimana sebuaj objek memantulkan cahaya ke mata kita dan hasil belajar kita tentang cara melihat secara umum. Gagasan kedua yang ada pada kedua teori di atas adalah bahwa kita hidup di dalam sebuah dunia yang tiga dimensi yang terproyeksikan ke mata kita dalam bentuk dua dimensi.

BAB IV KOGNISI

Kognisi sebenarnya adalah istilah umum yang mencakup seluruh proses mental yang mengubah masukan-masukan dari indra menjadi pengetahuan. Proses-proses ini mencakup persepsi, pemikiran rasional, dan seterusnya. Meski kita mungkin mengira bahwa semua manusia mempunyai proses-proses mental dasar yang mirip, anda akan melihat bahwa orang-orang dari budaya yang berbeda mengorganisir, menyampaikan, dan merespon informasi secara berbeda-beda. Mereka juga berbeda dalam hal sejauh mana mereka berhasil mengembangkan kemampuan-kemampuan praktis tertentu dan dalam tingkat pendidikan formal gaya Eropa.

1. A. Kategorisasi dan Pembentukan Konsep Pengetahuan Tradisional

Salah satu proses mental paling mendasar adalah cara bagaimana orang mengelompokkan hal-hal ke dalam kategori-kategori. Orang malakukan kategorisasi berdasarkan kemiripan-kemiripan dan kemudian melekatkan label-yaitu kata-kata untuk mengelompokkan hal-hal yang kelihatannya punya kemiripan. Dengan demikian, orang menciptakan kategori-kategori dari hal-hal yang punya ciri-ciri tertentu. Misalnya, kursi bean-bag (kursi bantal), kursi makan yang tegap, dan kursi di ruang teater punya kenampakkan yang berbeda-beda, tapi tergolong dalam ketegori dasar yang sama, kursi, karena semua punya fungsi yang sama. Di budaya barat kalau orang mengatakan Itu sebuah kursi, artinya adalah bahwa benda tersebut bisa dan seharusnya digunakan untuk duduk (Rosh, 1978). Dalam contoh ini, penentu utama kategorinya adalah fungsi.
1. B. Kajian Lintas-Budaya tentang Kategorisasi

2. 1.

Beberapa aspek universal kategorisasi

Penelitian lintas-budaya mengindikasikan bahwa beberapa kategori yang digunakan untuk berpikir dan menyampaikan informasi yang kurang relative tidak tergantung atau dipengaruhi budaya. Sebagai contoh, ekspresi wajah yang menandakan emosi-emosi dasar senang (happiness), sedih (sadness), marah (anger), takut (fear), terkejut (surprise), dan jijik (disgust) ditempatkan pada kategori-kategori yang sama diberbagai budaya. Orang tampaknya memiliki kecenderungan bawaan (predisposisi) untuk lebih memilih bentuk, warna, dan ekspresi-ekspresi wajah tertentu.
1. 2. Beberapa aspek kategorasi yang khas-budaya

Dalam mengkaji kategorisasi kita melihat bahwa pada area-area dimana pengalaman antar budaya tidak berbeda-beda seperti dalam hal warna, bentuk, dan ekspresi wajah, orang akan membuat pengelompokan dan penilaian yang serupa. Namun ketika ada perbedaan pengalaman kultural, orang dari budaya yang berbeda akan membuat penilaian yang sangat berbeda tentang berbagai hal. Dasar dari proses-proses kategorisasi tidaklah berbeda, sedangkan yang berbeda adalah basis pengalaman yang digunakan untukmembuat kategori. Hanya dengan mempelajari prosesproses mental secara lintas budaya kita akan bisa melihat kemiripan maupun perbedaan dalam proses-proses mental ini. Salah satu cara lain yang digunakan peneliti untuk mempelajari bagaimana orang membuat pengelompokan adalah dengan menggunakan tugas penyortiran (sorting tasks).
1. C. 2. 1. Ingatan Pengetahuan Tradisional

Tugas intelektual penting lain yang dialami semua orang dalam menghadapi dunia adalah mengingat berbagai hal. Ada beberapa jenis ingatan, seperti ingatan sensori (inderawi), ingatan jangka pendek, dan ingatan jangka panjang. Ingatan sensoris mengacu pada informasi asli yang bertahan di organ-organ indra selama beberapa saat, biasanya hanya seper-sekian detik, setelah di terima. Ingatan jangka pendek mengacu pada suatu kapasitas ingatan yang terbatas dimana informasi bisa dipertahankan untuk selang waktu yang sedikit lebih panjang, biasa antara 20 sampai 30 detik. Ingatan jangka pendek mengacu pada masuknya informasi yang bisa di simpan untuk jangka waktu yang jauh lebih panjang. Pengulang-ulangan (rehearsal) adalah salah satu cara yang mudah untuk menyimpan informasi dalam ingatan jangka pendek dan kemudian ingatan jangka panjang. Pembongkahan (chunking) yakin pengelompokan butir-butir informasi kedalam bagianbagian kecil yang bermakna juga bisa membantu penyimpanan dan penggunaan kembali informasi. Dua aspek ingatan yang paling sering dikaji dalam psikologi eksperimental adalah efek urutan posisi yang terdiri dari efek awal (primacy) dan efek lahir (recency). Efek awal adalah kecenderungan kita untuk lebih mengingat hal-hal pertama dari suatau konteks daripada yang berada di tengah-tengah. Efek akhir adalah kecenderungan kita untuk mengingat dengan lebih baik hal-hal yang lebih akhir atau baru saja terjadi daripada yang sebelumnya.

1. D.

Pemecahan Masalah Pengetahuan Tradisional

Pemecahan masalah adalah proses dimana kita berusaha menemukan cara-cara mencapai suatu tujuan yang tampaknya tidak langsung bisa didapat. Jenis masalah yang berbeda mengarah pada jenis pemecahan yang berbeda pula. Masalah biasanya dipecahkam lewat beberapa cara. Misalnya, pemecahan masalah bisa dilakukan melalui proses coba-coba atau trial-and-error, yaitu dengan mencoba berbagai solusi sampai ada yang tampaknya berhasil. Orang juga bisa melakuknanya melalui analisis means/end atau cara/tujuan-akhir, yaitu dengan mengidentifikasi cara-cara yang bisa mengubah situasi saat ini ke arah yang mirip dengan hasil akhir yang di harapkan.Orang juga bisa memecahkan masalah dari belakang, memulai dari hasil akhir dan secara sistematis bekerja mundur sampai pada siyuasi saat ini. Tentu saja, selain itu semua ada pemecahan masalah yang terkait dengan perubahan insight-penemuan solusi yang tiba-tiba, yang sering terjadi setelah proses mencoba-coba atau trial-and-error.

Penelitian Lintas-Budaya tentang Pemecahan Masalah Para ahli psikologi berusaha mengisolasi proses pemecahan masalah ini dengan meminta orang-orang dari beberapa kebudayaan yang berbeda untuk menyelesaikan masalah-masalah yang belum mereka kenal dalam setting buatan. Dalam salah satu eksperimen seperti ini (Cole dkk., 1971), subjek-subjek Amerika dan Liberia diminta menggunakan sebuah alat yang memiliki berbagai tombol, panel, dan slot. Untuk membuka alat tersebut, agar mendapatkan suatu hadiah, para subjek eksperimen harus bisa melakukan dua prosedur yang terpisah pertama , menekan tombol yang tepat untuk mengeluarkan sebuah kelereng, dan kemudian memasukkan kelereng tersebut kedalam slot yang tepat untuk membuka sebuah panel.

BAB V PSKOLOGI PERKEMBANGAN

1. A.

PSIKOLOGI PERKEMBANGAN

Psikologi perkembangan adalah bidang psikologi yang menaruh perhatian pada perubahan dalam perilaku seiring berjalannya waktu.Tugas ahli psikologi perkembangan adalah untuk mendefinisikan dan menjelaskan jalannya perubahan developmental ini.Banyak perubahan

developmental yang terjadi karena interaksi antara perubahan biologis dengan lingkungan tempat tinggal seorang individu. Psikologi perkembangan mencakup berbagai macam topic: perkembangan pra-natal dan neonatal, perkembangan motorik, perkembangan tempramen, perkembangan kelekatan dan kepribadian, perkembangan agresi, perkembangan kognitif dan sosio-emosional, struktur keluarga, dan gaya pengasuhan orang tua, penalaran moral dan masih banyak lagi.
1. B. 2. 1. TEMPERAMEN Pengetahuan Tradisional

Thomas dan Chess (1977) menggambarkan bahwa ada tiga kategori utama temperamen: gampangan, sulit dan lambat untuk memulai. Interaksi antara temperamen anak dengan temperamen orang tua tampaknya merupakan salah satu kunci perkembangan kepribadian. Reaksi-reaksi orang tua pada temperamen anak-anak mereka bias memacu kestabilan atau ketidakstabilan dalam respon-respon temperamental anak-anak itu terhadap lingkungan.
1. 2. Penelitian Lintas-Budaya tentang Temperamen

Chisholm (1983) berpendapat bahwa ada hubungan yang kuat antara kondisi saat ibu hamil dengan iritabilitas bayi. Perbedaan temperamen yang khas untuk suatu kelompok budaya mengkin mencerminkan perbedaan-perbedaan genetic dan sejarah reproduksi.Interaksi antara respon orang tua dan temperamen bayi mungkin juda menjadi factor penting dalam perbedaan cultural.Tipe-tipe perbedaan yang muncul sejak lahir ini turut berperan dalam perbedaan kepribadian orang dewasa di budaya yang berbeda.
1. C. KELEKATAN 1. 1. Pengetahuan Tradisional

Kelekatan adalah ikatan khusus yang berkembang antara bayi dan pengasuhannya.Banyak para psikologi yang merasa bahwa kuaitas kelekatan ini punya efek seumur hidup terhadap hubungan seorang individu dengan orang-orang yang dicintainya. Kelekatan mendasari konsep kepercayaan dasar. Erikson (1963) menggambarkan formasi kepercayaan dasar sebagai langkah penting pertama dalam proses perkembangan psikososial yang berlangsung seumur hidup. Kelekatan yang buruk adalah komponen dari ketidak percayaan, kegagalan menyelesaikan kebutuhan-kebutuhan tahap perkembangan bayi.
1. 2. Penelitian Lintas-Budaya tentang Kelekatan

Asumsi orang amerika tentang sifat kelekatan adalah bahwa kelekatan ideal adalah kelekatan aman.Banyak peneliti lintas-budaya yang menentang pemahaman tentang kedekatan dengan ibu merupakan syarat untuk terbentuknya kelekatan yang aman dan sehat.
1. D. PENGASUHAN ORANG TUA, KELUARGA, DAN SOSIALISASI 1. 1. Pengatahuan Tradisional

Baumrind (1971) mengidentifikasikan tiga pola utama pengasuhan orang tua.Orang tua otoriter, orang tua yang permisif dan orang tua otoritatif. Banyak pengaruh terhadap perkembangan kita terjadi dalam hubunngan kita dengan orang selain orang tua kita.
1. 2. Penelitian Lintas-Budaya tentang Pengasuhan Orang tua, Keluarga dan Sosialisasi

Menjalankan peran sebagai orang tua dan pengasuhan anak dipengaruhi kadang secara sangat kuat oleh kondisi-kondisi kemiskinan.Lingkungan pengasuhan merupakan cermin dari seperangkat tujuan yang tesusun berdasarkan urutan nilai pentingnya. Yang pertama adalah kesehatan fisik dan pertahanan hidup, didukungnya perilaku-perilaku yang akan mengarah pada pemenuhan diri dan terakhir adalah perilaku-perilaku yang mendukung nilai-nilai cultural lain.

1. E. PENALARAN MORAL 1. 1. Pengetahuan Tradisional

Cara-cara anak memahami dunia mereka semakin lama menjadi konpleks.Perubahan kognitif ini juga berdampak pada berubahnya pemahaman mereka dalam penilaian moral. Teori dominan tentang penalaran moral dalam psikologi perkembangan adalah teori yang diajukan oleh Kohlberg (1976, 1984).Teori Kohlberg didasarkan pada karya-karya Piaget sebelumnya tentang perkembangan kognitif.Teri Kohlberg melihat bahwa ada tiga tahap umum perkembangan keterampilan penalaran moral.

BAB VI BAHASA DAN PEMEROLEHAN BAHASA

Bahasa adalah sarana utama untuk berkomunikasi dengan orang lain dan menyimpan informasi. Bahasa juga merupakan sarana utama dalam pewarisan budaya dari satu generasi ke generasi selanjutnya. Bahkan, tanpa bahasa, budaya sebagaimana yang kita kenal tidak ada. Karena itu tidak mengejutkan kalau para ahli psikologi lintas budayalah yang punya minat khusus pada bahasa. Pemerolehan bahasa (language acquisition) adalah suatu aspek penting dalam psikologi bahasa karena pengetahuan tentang hal itu akan membantu kita dalam memahami siu-isu perilaku manusia yang lebih luas. Pemahaman tentang bagaimana bahasa diperoleh pun penting karena alasan-alasan praktis. Pentingnya mempelajari bahasa- dan hubungan antara bahasa budaya dan perilaku tidak bisa diabaikan, terutama oleh mahasiswa psikologi Amerika. Secara umum orang Amerika terkenal tak peduli dengan bahasa selain bahasa inggris, sayangnya, ketidakpedulian ini seringkali disertai pandangan etnosentris tentang perlu tidaknya mempelajari, memahami dan menghargai bahasa, kebiasaan dan budayabudaya lain.

2.1

Teori dan Pandangan Tradisional Tentang Bahasa Ciri-Ciri Bahasa

Ahli psikolinguistik biasanya mencoba menggambarkan bahasa dengan menggunakan 5 ciri atau fitur kiritis, seperti :
1. Leksikon atau kosa kata. Kata kata yang ada dalam sebuah bahasa. Misalnya, pohon, makan, bagaimana dan pelan-pelan adalah di antara kosakata bahasa Indonesia. 2. Sintaks dan tata bahasa (grammar) suatu bahasa mengacu pada sistem aturan yang mengatur bentuk kata dan bagaiman kata kata dirangkai agar dapat menghasilkan ujaranyang memiliki makna. Misalnya, bahasa Inggris punya aturan gramatikal yang mengharuskan kita menambahkan huruf s di belakang banyak kata untuk menunjukkan kejamakannya (misalnya bentuk jamak dari cat adalah cats). 3. Fonologi. Sistem aturan yang mengatur bagaimana sebuah kata diucapkan (pronounciation atau aksen) dalam suatu bahasa. Dalam bahasa Indonesia bunyi pengucapan ular berbeda dengan pengucapan ulas. 4. Semantik. Arti yang dimaksud oleh suatu kata. Meja dalam bahasa Indonesia mengacu pada benda berkaki empat yang permukaannya datar. 5. Pragmatik. Sistem aturan tentang bagaimana bahasa digunakan dan dipahami dalam suatu konteks sosial. Sebagai contoh, ucapan dingin sekali disini! bisa diartikan sebagai pernyataan factual tentang temperature.

Hipotesis Sapir-Whorf Hipotesis Sapir-whorf menyatakan bahwa orang yang berbeda bahasa karena perbedaan bahasa ini berpikir secara berbeda. Karena budaya yang berbeda biasanya memiliki bahasa yang berbeda pula. Hipotesis Sapir-whorf penting dalam pemahaman kita terhadap perbedaan dan persamaan kultural dalam cara berpikir dan berperilaku sebagai fungsi bahasa. Penelitian Lintas Budaya Tentang Hipotesis Sapir-Whorf Dalam salah satu kajian paling awal tentang bahasa, Caroll dan Casagrande (1958) membanding orang yang berbahasa Navaho dan yang berbahasa Inggris. Mereka meneliti hubungan antara system klasifikasi bentuk dalam bahasa Navaho dengan tingkat perhatian anak-anak terhadap bentuk ketika melakukan klasifikasi benda-benda. Bahasa Navaho punya ciri gramatikal yang menarik karena kata-kata kerja yang berkenaan dengan melakukan sesuatu pada benda (seperti misalnya mengangkat atau menjatuhkan) punya bentuk yang berbed-beda tergantung pada benda apa yang dikenai perbuatan. Ada 11 bentuk linguistic

untuk menggambarkan bentuk-bentuk yang berbeda-beda. Ada 1 bentuk untuk benda-benda yang bulat-spherical, ada yang untuk benda-benda bulat-lonjong, ada yang untuk bendabenda panjang yang tidak kaku, dan seterusnya. Bahasa dan Perilaku Kasus Khusus Bilingualisme Diawal abad ke-20, banyak orang Amerika yang mengira bahwa mengetahui lebih dari satu bahasa adalah sesuatu yang harus dihindari. Yang umum dipercaya adalah bahwa manusia hanya punya ruang terbatas untuk menyimpan bahasa; kalau anda mempelajari terlalu banyak bahasa, anda akan mengambil ruang yang diperuntukan fungsi-fungsi lain seperti intelegensi. Pemerolehan Bahasa Apakah pemerolehan bahasa itu bersifat bawaan atau dipelajari? Hingga saat ini belum ada yang mendapat jawaban yang jelas mengenai hal diatas. Bukti-bukti yang mengarah pada dugaan bahwa ada beberapa aspek dari pemerolehan bahasa yang dipelajari sedangkan yang lain bersifat bawaan. Salah satu mitos umum yang ada dibanyak budaya adalah anak-anak mempelajarai bahasa asli mereka dengan meniru atau mengimitasi bahasa tersebut dari mendengar dilingkungan sekitarnya, hal ini bukan strategi yang penting dalam mempelajari bahasa. Pembuatan hipotesis dan pengujian terhadap hal ini merupakan strategi yang penting yang digunakan anak di seluruh dunia untuk mempelajari bahasa ini mereka.

BAB VII PERKEMBANGAN KOGNITIF DAN INTELIGENSI TEORI TAHAPAN PERKEMBANGAN KOGNITIF DARI PIAGET Selintas Teori Piaget Perkembangan kognitif adalah bidang khusus dalam psikologi yang mempelajari bagaimana keterampilan berpikit berkembang, teori ini berfokus pada periode bayi sampai masa dewasa. Piaget berpendapat bahwa anak-anak berkembang maju melalui empat tahap seiring pertumbuhan mereka dari bayi sampai masa remaja:
1. Tahap sensorimotor: dimulai sejak lahir sampai usia 2 tahun. Pencapaian terpenting pada tahap ini adalah didapatnya permanenesi objekkemampuan untuk mengetahui bahwa suatu objek atau benda teteap ada meski sedanag tidak terlihat atau menghilang dari pandangan mata. 2. tahap pra-operasional: dari usia 2 6 atau 7 tahun. Piaget mendefinisikan tahap ini berdasar lima sifat: konservasi, keterpakuan, ketidakberbalikan, egosentrisme, dan animisme.

3. tahap operasional konkret: mulai usia 6 atau 7 tahun 11 tahun. Selama tahap ini, anak-anak memperoleh keterampilan-keterampilan berpikir baru dalam mengahdapi benda dan kejadian-kejadian nyata. 4. tahap operasional formal: dimulai dari sekitar usia 11 tahun masa dewasa. Padatahap ini individu mengembangkankemampuan berpikir logis mengenai konsep-konsep abstrak seperti perdamaian, kebebasan dan keadilan.

INTELIGENSI: DEFINISI DAN KONSEP Definisi-definisi Tradisional tentang Inteligensi di Psikologi Amerika Di Amerika Serikat istilah inteligensi mengacu pada sejumlah kemampuan, keterampilan, bakat, dan pengetahuan yang berbeda, yang secara umum mengacu padakemampuan kognitif atau mental. Dengan demikian, secara tradisional ada beberapa proses yang kita pandang mewakili inteligensi, seperti ingatan; kosakata;komprehensi atau pemahaman; kemampuan matematis; penalaran logis; dan hal-hal semacam itu. Perbedaan cultural dalam Makna dan Konsep Inteligensi Orang Baganda dari Afrika Timur menggunakan kata obugezi untuk mengacu pada suatu kombinasi keterampilan-keterampilan mental dan social yang membuat seseorang menjadi tak mudah goyah, waspada, dan ramah ( Wober, 1974). Orang Djerma-Sonhai dari Afrika Barat memakia sebuah istilah yang bahkan lebih luas lagi maknanya, lakkal, yang merupakan kombinasi dari inteligensi, kecekatan, dan keterampilan social (Bisillat, Laya, Pierre & Pidoux, 1967). Kearena cara tiap budaya mendefinisikan inteligensi begitu berbeda, pengertian konsep ini sulit untuk dibandingkan dari satu masyarakat ke masyarakat lain dengan valid. PENGARUH-PENGARUH KULTURAL PADA PENGUKURAN INTELIGENSI Tes-tes inteligensi modern pertama dikembangkan di awal 1900-an untuk mengidentifikasi anak-anak yang terbelakang mental. Beberapa orang merespon bahwa tes inteligensi bias dan tidak mengukur dengan akurat kemampuan mental orang dari budaya lain. Denagn begitu, kurang dari satu decade setelah diciptakan tes inteligensi, pengenaannya pada orang dari budaya berbeda sudah menjadi kontroversi politis. Pandangan lain yang dipegang sebagian ahli psikologi lintas budaya adalah bahwa tes-tes inteligensi memang mengukur perbedaan yang nyata antarmasyarakat yang berbeda, tapi perbedaan tersebut seharusnya tidak dipandang sebagai kekurangan satu budaya disbanding yangf lain.

BAB IX PSIKOLOGI ABNORMAL

Bersama Down Torrell,San Fransisco State University Budaya mnambahkan dimensi penting dalam pendekatan terhadap abnormalitas dan perawatannya ( Marsella,1979). Budaya punya peran dalam membentuk tidak hanya pengalaman individual atas gangguan psikolois,tapi juga respon individu tersebut pada teknik-teknik penjakaan dan perawatan. Pandangan-pandangan Lintas Budaya tentang Abnormalitas Budaya-budaya yang memiliki kepercayaan adanya intervensi supranatural dapat membedakan dengan jelas antara kondisi-kondisi trans dan berbicara dengan arwah bisa diterima,dengan ketika perilaku yang sama akan dipandang sebagai tanda gangguan jiwa ( Murphy1976). Beberapa perilaku terkait psikosis (Delusi dan Halusinasi),secara universal dipandang sebagai abnormal. (Murphy,1976). Kleinmenn dan Marsela berargumen bahwa abnormalitas dan normalitas adalah dua konsep yang bersifat kulturi. Kleinmenn(1988) mengindikasikan bahwa individu-individu Cina dan Afrika yang depresi melaporkan bahwa mereka mengalami lebih sedikit bersalah dan malu disbanding individu Eoro-Amerika dan Eropa yang depresi. Tapi Cina dan Afrika melaporkan lebih banyak keluhan somatic. Definisi abnormalitas itu universal atau relative secara cultural menjadi sumber kontroversi di bidang psikologi lintas budaya. Penjangkaan dan perawatan Perilaku Abnormal di Berbagai Budaya Mencakup identifikasi dan menggambarkan gejala-gejala seorang individu dalam konteks lingkungan dan tingkat keberfungsian orang tersebut secara umum. Literature yang ada tentang standar teknik penjangkaan mengindikasikan kemungkinan adanya persoalan bisa atau keidakpekaan disuatu konteks cultural dipakai untuk menjangka perilaku dibudaya lain. Perawatan perilaku abnormal adalah untuk meringankan gejala dan membantu pasien menjaadi orang yang lebih sehat dan matang. yang bisa menghadapi hidup dan permasalahan dengan lebih baik.tes psikologis sudah bagus dalam menguraikan metodemetode penjangkaan tradisional,skema-skema klasifikasi dan iagnosik,prosedur wawancara dan observasi.

Beberapa Isu dalam Penjangkaan Lintas Budaya atas Perilaku Abnormal Alat-alat itu mungkin akan menjadi tak bermakna dibudaya yang didefinisikan berbeda dan mereka bisa gagal mengangkap ekspresi-ekspresi khas budaya dari suatu gangguan. Instrument-instrumen iagnosik standar untuk mengukur gejala depresif juga bisa gagal menangkap ekspresi cultural dari depresi yang penting pada orang Afrika dan orang Amerika asli.

BAB X PSIKOLOGI SOSIAL Psikologi social sebagai sebuah disiplin tidak dipandang pnya daya tarik atau nilai yang setinggi cabang-cabang psikologi lainnya. Ada perbedaan dalam bagaimana budaya memandang hubungan antar individu dan kelompok. Atribusi Atribusi adalah kesimpulan atau inferensi yang diambil orang tentang apa yang nmenjadi penyebab suatu kejadian dan perilaku diri maupun orang lain. Atribusi netral adalah atribusi yang memandang bahwa penyebab prilaku ada dalam diri pelakunya. Atribut eksternal adalah atribusi yang memandang penyebab perilaku berada diluar diri seseorang. Pengetahuan Berdasar Penelitian di Amerika Orang mengatribusikan suatu perilaku pada faktor-faktor penyebab yang ada bersamaan dengan munculnya perilaku tersebut namun tidak ada ketika perilaku itu tidak muncul. Ketika menarik suatu atribusi harus mmpertimbangkan tiga informasi yaitu :
1. Konsistensi,mengacu pada sejauh mana perilaku seseorang dalam situasi tertentu konsisten atau sama. 2. Kekhususan,mengacu pada apakah perilaku seseorang itu unik 3. Konsesus,mengacu pada apakah seseoranag ketika berada dalam situasi yang sama,cenderung merespon dengan cara yang sama.

Peneltian mengenai bias atribusi bicara tentang sifat atribusi diAmerika yang terikat budaya. Kesalahan atribusi mnendasar misalnya merupakan kecenderungan untuk menjelaskan perilaku orang lain.

Temuan-temuan Lintas Budaya tentang Atribusi Mempertimbangkan faktor-faktor lingkungan dan cultural dalam membuat atribusi atas perilaku orang lain maupun kita sendiri. Crittteden (1991),menunjukan wanita Taiwan menggunakan atribusi eksternal dan self effacing tentang diri kebanding wanita Amerika. Kashima dan Triandis (1986) menunjukan bahwa orang jepang menggunakan gaya atribusi yang jauh lebih berorientasi kelompok dan kolektif. Forgas,Furnham dan Frey (1989) mencatat adanya perbedaaan lintas bangsa yang cukup besar dari nilai penting berbagai tipe atribusi khusus tentang kemakmuran.tom and Cooper (1986) meneliti atribusi 25 guru sekolah dasar kulit putih tentang prestasi siswa dari kelas social,ras dan gender yang beda.

Penelitian lintas budaya tentang atribusi in toto belum menghasilkan gambaran yang jelas dan konseiten tentang sifat atribusi atau proses-proses atribusional pada semua budaya dan ras. Ketertarikan Interpersonal dan Cinta Mencakup berbagai pengalaman termasuk rasa mencintai,ketertarikan seksual dan cinta. Penelitian di Amerika telah menghasilkan beberapa temuan menarik. Disini ada perbedaan cultural dalam ketretarikan dan cinta. Konformitas,Ketundukan dan Kepatuhan Konformitas mengacu pada sikap mengalah pada tekanan social. Ketundukan sebagai sikap mengalah orang pada tekanan social dalam kaitannya dengan perilaku soaial mereka,meski mungkin keyakinan pribadi mereka tidak berubah. Kepatuhan merupakan salah satu bentuk ketundukan yang muncul ketika orang mengikuti suatu perintah langsung,biasanya seseorang dengan suatu posisi otoritas.

Pengetahuan Berdasar Penelitian di Amerika Faktor yang paling berpengaruh adalah ukuran kelompok dan derajat kesepakatan kelompok. Konformitas paling muncul ketika kelompok dalam eksperimen sepakat dalam penilaian mereka. Dalam penelitian Asch ketundukan merupakan hasil dari tekanan yang halus dan tak langsung atau implicit. Temuan Lintas Budaya tentang Konformitas,Ketundukan dan Kepatuhan Hadiyono dan Hahn (1985) menunjukan bahwa orang Indonesia lebih menyetujui konformitas daripada daripada orang Amerika.cashmore dan Goodnow (1986) bahwa orang Italia lebih menyetujui konformitas daripada daripada orang Australia. Buck,Newton (1984) menunjukan bahwa orang Jepang lebih menyetujui konformitas daripada orang Amerika. Argyle,Henderson,ond,Lizuke dan Contarello (1986) menunjukan bahwa orang Jepang dan Hongkong lebih menyetujui kepetuhan daripada orang Inggris dan Italia. Perilaku Kelompok : Produktivitas Versus Sosial Loafing Penelitian tentang perilaku kelompok punya pengaruh pada situasi dan isu-isu kehidupan nyata dan menjadi basis bagi banyak teknik intervensi terutama dalam psikologi organisasi dan industri. Persepsi Orang dan Pembentukkan Kesan Persepsi orang mengacu pada proses pembentukan kesan tentang orang lain. Penting karena pengaruhnya kesan dan perepsi tentang orang lain pada bagaimana kita berinteraksi dan menghadapai orang lain.

Kesimpulan Dalam menantang pengetahuan tradisional, kita tidak bisa mengabaikan nilai-nilai penting yang dikeluarkan untuk menghasilkan. Mengabaikan materi yang telah dilakukan untuk menghasilkan nya adalah tindakan yang tidak peka, dan tidak ada tempat bagi ketidakpekaan dalam dunia akademik. Dapat disimpulkan bahwa Psikologi lintas-budaya adalah cabang psikologi yang terutama menaruh perhatian pada pengujian berbagai kemungkinan batasbatas pengetahuan dengan mempelajari orang-orang dari berbagai budaya yang berbeda. Sejak semula buku ini tidak dimaksudkan sebagai sumber utama mempelajari kebenaran dalam psikologi. Melihat adanya cara alternatif untuk memandang orang dan kita bisa mengenali, memahami, dan menghargai psikologi orang dari latar belakang yang berbeda.