Anda di halaman 1dari 32

SOSIALISASI PENCEGAHAN, PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA (P4GN) DI KABUPATEN BINTAN TAHUN ANGGARAN 2013 I.

KATA PENGANTAR Generasi muda adalah harapan bangsa, kemajuan negara ini dimasa depan ditentukan oleh kualitas mereka dari sekarang tak ada kata terlambat untuk mulai membina mereka. Kita dapat memulainya sekarang dilingkungan tempatnya berada para pendidik seperti guru dan dosen sekaligus siswa dan mahasiswanya juga para orang tua dapat menjadi mitra pemerintah untuk turut serta membangun negara sesuai kapasitas. Dalam rangka pencegahan pemberantasan penyalah gunaan dan mengantisipasi peredaran narkoba di daerah, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bintan menyelenggarakan kegiatan sosialisasi pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran Narkoba. Untuk tahun 2013, pelaksanaannya diadakan di 2 (dua) Kecamatan yaitu Kecamatan Bintan Utara dan Kecamatan Teluk Sebong. Melalui kegiatan dan buku panduan sesuai dengan program Pencegahan Pemberantasan, Penyalahgunaan kegiatan Sosialisasi Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) sebagai acuan para peserta dalam penyelenggaraan Kegiatan Sosialisasi Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba dan

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-1-

pada gilirannya bermuara pada upaya penanganan secara dini secara komprehensif dan terkoordinasi pada kasuskasus strategis yang berkembang khususnya masalah peredaran Narkoba dan penyalahgunaannya. Walaupun masih banyak yang ingin dituangkan dalam buku panduan ini yang mengandung arti belum sempurnanya penulisan dan masih mengharapkan saran serta masukan namun yang paling utama adalah tercapainya harapan semoga upaya kita bersama dalam memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini senantiasa mendapat ridha dari Tuhan Yang Maha Esa sehingga tujuan akhir untuk menciptakan masyarakat Indonesia Bebas Narkoba dapat terwujud, Amin.... II. PENDAHULUAN Peredaran Narkoba masih menjadi ancaman buat generasi Indonesia kedepan, penyalahgunaan barang haram tersebut bahkan dapat menganggu daya saing Indonesia dalam waktu jangka panjang. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan, kejahatan narkoba masih menjadi ancaman serius bagi Indonesia maupun dunia internasional. Narkoba merusak karakter, fisik, ataupun kesehatan penggunaannya dalam jangka panjang ini akan sangat menganggu daya saing kita ujar presiden SBY dalam sambutan puncak Hari Anti Narkoba Internasional dilapangan Monas, Jakarta, Minggu (26 Juni 2011). Menurut beliau Narkoba ini merupakan kejahatan yang mempunyai jaringan global, regional ataupun secara nasional hasil kejahatan ini cukup besar banyak pihak yang

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-2-

hidupnya kaya tapi dengan melumpuhkan orang lain jelasnya. Saat ini jumlah korban narkoba sesuai data Badan Narkotika Nasional (BNN) tahun 2011 sudah mencapai 3,6 Juta atau 1,5 persen dari jumlah populasi penduduk Indonesia. Sementara Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos), BNN dan Pemerintah Daerah (Pemda) serta 82 Lembaga Pemasyarakatan, APBN, APBD dan Dana Mandiri baru mampu membiayai rehabilitasi bagi 3.750 dari 3,6 juta korban narkoba di Indonesia. Saat ini jumlah tersebut, kemungkinan akan terus bertambah setiap tahun, bila penanganan masalah ini tidak dilakukan secara serentak dan bersama-sama baik oleh lembaga negara, pemerintah maupun masyarakat. Ancaman bahaya narkoba sudah sangat mengkhawatirkan terhadap generasi bangsa ini. BNN memperkirakan jika tidak dilakukan penanggulangan secara serius maka pada tahun 2015 mendatang jumlah penyalah guna narkoba akan meningkat hingga 5,1 juta orang atau sekitar 2,8 persen dari jumlah penduduk Indonesia. Berdasarkan prevalensi penyalahgunaan Narkoba sebesar 1,99% menunjukan bahwa 98,01% belum menyalahgunakan Narkoba hal ini menunjukkan bahwa upaya pencegahan tersebut sangat diperlukan agar masyarakat imun terhadap penyalahgunaan narkoba di Indonesia. Disahkannya Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2005 Tentang Narkotika, merupakan wujud komitmen bangsa terhadap upaya penanggulangan bahaya penyalahgunaan

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-3-

narkoba, dalam rangka mengimplementasikan UndangUndang Nomor 35 Tahun 2009 tentang kelembagaan Badan Narkotika Nasional (BNN) sedangkan untuk memberikan arah dan kebijakan yang lebih strategis pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) yang salah satu aspek penting dan strategis tersebut adalah Bidang Pencegahan. Dengan ditetapkannya kebijakan strategi nasional program P4GN melalui Inpres Nomor 12 Tahun 2011, maka program P4GN Bidang Pencegahan lebih diarahkan pada upaya untuk : a. Menjadikan siswa/pelajar pendidikan menegah dan mahasiswa memiliki pola pikir sikap dan terampil menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. b. Menjadikan para pekerja pemerintah dan swasta memiliki pola pikir, sikap dan terampil menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Namun demikian, dengan besarnya jumlah sasaran dan luasnya jangkauan wilayah serta beragamnya masyarakat, maka cakupan upaya pencegahan tetap harus diimbangi dengan penggarapan lingkungan stratejik lainnya yaitu keluarga, institusi kemasyarakatan keagamaan, media masa dan komunitas rentan. Sehubungan dengan hal-hal tersebut diatas, maka perlu diadakan berbagai tindakan pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba yang

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-4-

dikoordinasikan pemerintah, salah satunya dalam bentuk kegiatan sosialisasi pencegahan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran narkoba. Kegiatan ini merupakan program kerja Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012, yang masuk dalam Program Peningkatan Pemberantasan Penyakit Masyarakat. Buku panduan ini disusun untuk maksud dan tujuan sebagai berikut : 1. Memberikan informasi dan pengetahuan tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan Narkoba khususnya bagi para pemuda; 2. Menggugah kesadaran dan kewaspadaan pemuda akan ancaman bahaya penyalahgunaan narkoba; 3. Mendorong para pemuda untuk melindungi diri, keluarga dan orang-orang terdekatnya dari bahaya penyalahgunaan narkoba; 4. Mendorong prakarsa dan peran aktif para pemuda dalam pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba; Beberapa istilah/pengertian dibawah adalah untuk memudahkan pemahaman terhadap buku pedoman ini. 1. Narkoba adalah singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Zat Aktif lainnya.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-5-

2. Penyalahgunaan (abuse) adalah penggunaan narkoba diluar tujuan pengobatan dan tanpa pengawasan dokter penggunaan narkoba secara melawan hukum; 3. Pengedaran gelap (illegal trafficking) adalah semua jaringan antara penanaman produksi, transportasi, eksportasi, importasi perdagangan serta pemasaran gelap sampai pada pemakai gelap narkoba; Demikian Buku Panduan Sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba semoga bermanfaat.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-6-

BAB I KEBIJAKAN DAN STRATEGI NASIONAL 2011-2015 Kejahatan Narkoba bersifat lintas negara terorganisir dan serius yang menimpa segenap lampiran masyarakat ia juga menimbulkan kerugian besar terutama dari segi kejahatan sosial ekonomi dan keamanan yang mengakibatkan hilangnya suatu generasi bangsa dimasa depan. Hasil penelitian Badan Narkotika Nasional (BNN) bekerjasama dengan pusat kesehatan Universitas Indonesia (Puslitkes UI) pada tahun 2008 mengungkapkan angka prevalensi penyalahgunaan narkoba nasional adalah 1,99% dari penduduk indonesia atau setara 3,6 juta orang dan pada tahun 2015 diprediksi akan mengalami kenaikan menjadi 2,8 % atau 5,1 juta orang bila tidak ada penanganan serius dari semua pihak.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-7-

Hal tersebut menjadi salah satu penyebab indonesia tidak lagi menjadi negara transit, tetapi sudah menjadi pasar narkoba yang besar, apalagi dengan harga yang tinggi great market, great price sehingga indonesia semakin rawan menjadi surga bagi para sindikat narkoba. Pada tingkat dunia, perputaran atau perkiraan global nilai uang dalam peredaran gelap narkoba menduduki peringkat pertama, sebesar US$399 milyar atau 80% dari jumlah keseluruhan uang yang beredar diindonesia, pada tahun 2010 perkiraan kerugian ekonomi yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkoba sekitar Rp. 41, 2 Triliun yang terdiri dari komponen biaya private dan biaya sosial. Secara global penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba akan mempengaruhi segenap sendi kehidupan masyarakat, bangsa dan negara indonesia oleh karena itu, perlu wujud nyata komitmen bersama seluruh komponen masyarakat, bangsa dan negara indonesia untuk bersatu menciptakan indonesia oleh karena itu, perlu wujud nyata komitmen bersama seluruh komponen masyarakat, bangsa, dan negara indonesia negeri bebas narkoba

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-8-

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-9-

BAB II PENYALAHGUNAAN NARKOBA Prevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia pada tahun 2008 sebesar 1,99% dari penduduk Indonesia berumur 10 59 sedangkan pada tahun pada tahun 2012 prevalensi tersebut naik menjadi 2,44%, sedangkan untuk tahun 2013 diproyeksikan meningkat menjadi 2,56% dan pada tahun 2015 naik menjadi 2,8% atau setara 5,1 5,6 juta orang.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-10-

Berdasarkan hasil penelitian BNN dengan puslitkes Universitas Indonesia tahun 2012, asumsi prevalensi menurut jenis narkoba yang digunakan tahun 2015 adalah:

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-11-

Sementara proyeksi kerawanan penyalahgunaan narkoba pada tahun 2010 (lihat Tabel 1 data kerawanan penyalahgunaan narkoba pada tahun 2010). Dari tabel I menunjukan, prevalensi di 10 Kecamatan provinsi diatas pervalensi nasional (2,21 %) yaitu DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Jambi, Sulawesi Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Lampung. Berdasarkan hasil penegakan hukum (sumber dari Direktorat TP Narkoba Bareskrim polri dan BNN, Januari 2011), jumlah tersangka penyalahgunaan narkoba tertinggi berada di DKI Jakarta yaitu : 1. DKI Jakarta = 3.671 Orang 2. Sumatera Utara = 2.066 Orang 3. Jawa Barat = 947 Orang Dari jumlah itu diketahui bahwa pekerja swasta merupakan jumlah terbesar sebagai tersangka penyalahguna narkoba dengan usia lebih dari 30 tahun. Bila dilihat dari kasus peredaran gelap narkoba 2008-2010, maka ganja menduduki peringkat tertinggi dibandingkan heroin, hashis dan sabu yaitu sebesar 8..459 kasus. Pada 2008, 8.722 kasus, pada 2009, 7,095 kasus. Data berdasarkan Direktorat TP narkoba Bareskrim Polri dan BNN januari 2011.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-12-

Sementara berdasarkan data Direktorat Jenderal Bea Cukai Januari 2009 hasil tertinggi penyitaan barang bukti heroin di bandar udara adalah di Jawa Timur yaitu sebesar 2.600 gram sdangkan pada 2010 di Banten 5.001 gram. Untuk barang bukti kokain, daun ganja dan sabu pada 2010 juga ditempati oleh Banten dengan jumlah masing-masing 203 gram, 3.300 gram dan 159.206,5 gram, sedangkan peringkat pertama barang bukti hashis dan ekstasi hasil penyitaan di bandar udara tahun 2010 dimiliki Bali dengan jumlah dengan masing-masing 5.922 Gram dan 402,48 Gram.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-13-

BAB III JARINGAN SINDIKAT NARKOBA Jaringan sindikat narkoba internasional yang beroperasi Indonesia meliputi Nigeria, Nepal, India, Pakistan, China, Taiwan, Malaysia dan Iran

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-14-

Demi kelancaran operasional jaringan sindikat merekrut kurir yang mayoritas adalah perempuan. Perekrutan dilakukan dengan terus terang dan sembunyi-sembunyi melalui berbagai tipu muslihat seperti menjadikan sebagai istri, diajak keliling luar negeri, membangun kerjasama bisnis dan peminjaman alamat tempat tinggal sebagai tempat transit. Strategi pendistribusian narkoba dilakukan secara berjenjang terputus dari pemasok hingga tingkat pemakai. Demikian pula dengan pihak penarik uang hasil penjualan narkoba, juga dilakukan secara berjenjang terputus sampai ketingkat pengumpul antara pemasok narkoba dengan menari uang hasil penjualan narkoba tidak saling mengenal. Sementara modus operandi pendistribusian yang dilakukan oleh para sindikat narkoba adalah dengan menggunakan berbagai cara, diantara body packing, swallowed (ditelan) dan disamarkan / disembunyikan pada barang-barang tertentu seperti kaki palsu, mainan anak-anak, kemasan makanan, lukisan, laptop dan lapisan koper. Dalam hal transaksi keuangan hasil kejahatan narkoba, modus operandi menggunakan pihak-pihak untuk membuka rekening perbankan dan memanfaatkan jasa layanan money changer baik legal maupun ilegal untu praktik money laundering, jaringan internasional menggunakan jasa hawala banking system, serta jaringan internet dimana sistem ini tidak mudah terdeteksi pergerakan dananya antar negara.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-15-

BAB IV ANALISIS ANCAMAN Berdasarkan data penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba seperti yang sudah dijelaskan diatas, maka dapat diketahui ancaman bagi Indonesia, contohnya dari jumlah

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-16-

penyalahgunaan narkoba. makin meningkatnya jumlah konsumen di Indonesia akan semakin mengundang beroperasinya jaringan sindikat narkoba ditanah air, terlebih lagi dengan harga yang tinggi. Selain itu jumlah penyalahgunaan narkoba coba pakai akan meningkat dari tahun-ketahun. Ini menunjukan keperawanan bagi orang imun akan menjadi coba pakai. Dengan demikian timbul teratur pakai maka akan manjadi pelanggan tetap. Dilihat dari kondisi lembaga perawatan / rehabilitasi medis dan sosial pada 2010 sangat terbatas dibandingkan dengan jumlah penyalahguna narkoba yang harus memperoleh perawatan. Data menujukan dari 3,8 juta penyalahguna narkoba yang ada pada 2010 hanya sekitar 18.000 orang yang menjalani perawatan atau sebesar 0,47%, sementara selebihnya belum mendapat perawatan. Para penyalahguna yang masih ada diluar atau tidak dalam perawatan tersebut rawan menjadi terbuka jaringan sindikat peredaran gelap narkoba. Pendidikan terakhir para tersangka penyalahguna narkoba paling banyak berpendidikan SLTA. Hali ini yang harus menjadi perhatian semua pihak karena ancaman terbesar ada pada kalangan siswa / pelajar SLTA. Bila dilihat dari data peredaran gelap narkoba pengungkapan kasus narkotika dalam tiga tahun terakhir ini menunjukan jenis sabu mengalami kenaikan sedangkan ganja terlihat penurunan, begitu pula dengan pengungkapan narkotika jenis ekstasi mengalami penurunan. Sementara dengan telah berhasilnya pengungkapan narkoba jenis heroin dan kokain, maka hal ini menunjukan telah masuknya narkoba dari luar negeri, mengingat Indonesia bukan produiksen kedua jenis narkoba tersebut.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-17-

Perkiraan kebutuhan heroin dan kokain di Indonesia sangat tinggi, sehingga dimungkinkan masih banyak yang berhasil lolos masuk ketanah air. Berhasil masuknya kedua jenis narkoba tersebut di Indonesia merupakan suatu keberhasilan jaringan sindikat narkoba. Selain itu ganja yang tadinya tumbuh hanya di Provinsi Aceh, ternyata ditemukan di daerah lain di luar Provinsi Aceh, bahkan ada yang masuk ke Indonesia dari luar negeri. Barang bukti yang selam ini berhasil disita masih dalam jumlah keci, bila dibandingkan dengan jumlah kebutuhan di Indonesia. Barang bukti tersebut sebagian kecil disita di wilayah paelabuhan laut. Diperkirakan penyelundupan narkoba bnyak dilakukan melalui laut edngan memanfaatkan kelemahan pengamanan di laut atau perairan, serta pelabuhan laut timbulnya laboratorium gelap narkoba didalam negeri juga menunjukan terjadinya penyimpangan bahan kimia prekursor disamping adanya penyelundupan prekursor dari luar negeri.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-18-

BAB V INDONESIA BEBAS NARKOBA TAHUN 2015

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-19-

Berdasarkan hal tersebut di atas, maka disusunlah kebijakan dan strategi nasional di bidang pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba secara komprehensif dan sinergis dengan tujuan terwujudnya Indonesia Bebas Narkoba tahun 2015. Sasaran yang ingin dicapai adalah meningkatnya jumlah masyarakat yang imun, menurunnya angka prevalensi penyalahguna narkoba dibawah 2,8% dari jumlah penduduk Indonesia dan meningkat pengungkapan jaringan peredaran gelap narkoba pada akhir 2015. Untuk itu disusunlah arah kebijakan di bidang P4GN sebagai berikut : - Pertama, menjadikan 47,2 % penduduk Indonesia imun terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba melalui partisipasi aktif seluruh komponen masyarakat, bangsa dan negara Indonesia dengan menumbuhkan sikap menolak narkoba dan menciptakan lingkungan bebas narkoba. - Kedua, menjadikan 2,8% penduduk Indonesia (penyalahguna narkoba) secara bertahap mendapat layanan rehabilitasi medis dari rehabilitasi sosial melalui rawat inap atau rawat jalan serta mencegah kekambuhan dengan program deyer care (rawat lanjut). Terakhir, menumpas jaringan sindikat narkoba dalam dan / atau luar negeri dan penghancuran kekuatan ekonomi jaringan sindikat narkoba dengan cara penyitaan aset yang berasal dari tindak pidana narkoba melalui penegakan hukum yang tegas dan keras.

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-20-

BAB VI STRATEGI

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-21-

Strategi Nasional yang telah disusun terbagi dalam empat bidang yaitu pencegahan, Pemberdayaan Masyarakat, Rehabilitasi dan pemberantasan strategi dibidang pencegahan adalah upaya menjadikan siswa/pelajar pendidikan menegah dan mahsiswa memiliki pola pikir, sikap dan terampil menolak penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Sedangkan adalah : strategi dibidang pemberdayaan masyarakat

1. Upaya menciptakan lingkungan pendidikan menegah dan kampus bebas dari penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba terutama ganja, sabu, ekstasi dan heroin. 2. Upaya menciptakan lingkungan kerja bebas dari penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkoba terutama ganja, shabu, ekstasi dan heroin. 3. Upaya menyadarkan dengan pemberdayaan masyarakat di Daerah-daerah yang secara sosiologis dan ekonomis melakukan penanaman ganja. 4. Upaya penyadaran dengan permberdayaan masyarakat terhadap masyarakat yang belum terkena narkoba, penyalahgunaan narkoba dan pelaku peredaran gelap narkoba ditempat rawan narkoba. Strategis dibidang rehabilitasi adalah upaya menginteksifikan pelaksanaan wajib lapor pecandu narkotika dan upaya memberikan pelayanan rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial kepada penyalah gunaan dan peredaran narkoba selain itu juga

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-22-

upaya pembangunan kapasitas lembaga rehabilitas medis dan rehabilitasi sosial secara perioritas berdasarkan kerawanan daerah penyalahgunaan narkoba dan upaya pembinaan lanjut kepada mantan penyalahgunaan, korban penyalahgunaan dan pecandu narkoba untuk mencegah terjadinya kekambuhan kembali. Sementara strategi di Bidang Pemberantasan diantaranya adalah upaya pengawasan yang ketat terhadap impor, ekspor dan eksport bahan kimia prekursor, dan penegakan hukum terhadap jaringan tersangka yang melakukan penyimpangan. selain itu juga upaya pengungkapan pabrikan gelap/narkoba dan/atau laboratorium rumahan dan jaringan sindikat yang terlibat, serta upaya pengungkapan tindak pidana pencucian uang yang berkaitan dengan tindak pidana narkotika secara tegas dan keras sesuai peraturan perundang-undangan. dengan adanya kebijakan dan strategi nasional tersebut diharapkan cutacita menuju indonesia negeri bebas narkoba bisa terwujud : menjadikan bangsa Indonesia imun, penyalahgunaan narkoba semakin pulih dan tidak kambuh, serta lebih aman dari peredaran gelap narkoba.

KEPALA BADAN KESBANGPOL KABUPATEN BINTAN Ttd. Drs. Irma Pembina Tk. I NIP. 19680508 198810 1 001

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-23-

KEPUTUSAN KEPALA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KABUPATEN BINTAN NOMOR: 10.a / KESBANG / 2012 TENTANG PEMBENTUKAN PANITIA DAN PENUNJUKAN PENCERAMAH KEGIATAN SOSIALISASI PENCEGAHAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN NARKOBA TAHUN ANGGARAN 2012 KEPALA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK, Menimbang : a. bahwa untuk kelancaran pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba Tahun 2012, dipandang perlu untuk membuat suatu keputusan ini; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-24-

ditetapkan Keputusan Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bintan tentang Pembentukan Panitia dan Penunjukan Penceramah Sosialisasi Pencegahan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba Tahun Anggaran 2012 Mengingat : 1. Undang undang Nomor 12 Tahun 1956 tentang Pembentukan Daerah Otonomi Kabupaten dalam Lingkungan Daerah Propinsi Sumatera Tengah (Lembaran Negara Tahun 1956 Nomor: 25); 2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1976 tentang Pengeesahan Konvensi Tunggal Narkotika 1961 (serta protokol yang merubahnya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1976 Nomor 36, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3085); 3. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1996 tentang Pengesahan Convention On Psychotrofic Substance 1971 (Konvensi Psikotropika 1971) Lembaran Negara Nomor 3657; 4. Undang-undang Nomor 7 Tahun 1997 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Illict Traffic in Narcotic Drugs And Phsycotropic Substance 1998 (Konversi Perserikatan Bangsabangsa tentang Pemberantasan Peredaran Gelap Narkotika dan Psikotropika tahun 1998) Lembaran Negara Republik Indonesia tahun 1997 Nomor 17, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 367; 5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2002 tentang Pembentukan Provinsi Kepulauan Riau (Lembaran Negara Tahun 2002 Nomor : 111,

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-25-

Tambahan Lembaran Negara Nomor 4237); 6. Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2004 Nomor 125, Tambahan Lembaran Nomor 4437) ; 7. Undang-undang Nomor 34 tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 127 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4439); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenagan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara RI tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Nomor 3952); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 5 Tahun 2006 Tentang Perubahan Nama Kabupaten Kepulauan Riau Menjadi Kabupaten Bintan Propinsi Kepulauan Riau; 10. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2010 tentang Badan Narkotika Nasional ; 11. Instruksi Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pelaksanaan Kebijakan dan Strategi Nasional Pencegahandan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba Tahun 2011 - 2015; 12. Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional Nomor 04 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Narkotika Nasional Provinsi dan Badan Narkotika Nasional Kabupaten/Kota;

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-26-

13. Peraturan Kepala Badan Narkotika Nasional Nomor 3 Tahun 2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja BNN; 14. Peraturan Daerah Kabupaten Bintan Nomor 9 Tahun 2011 tentang Pembentukan Organisasi Lembaga Teknis Kabupaten Bintan (Lembaran Daerah Tahun 2011 Nomor 9); 15. Peraturan Daerah Kabupaten Bintan Nomor 4 Tahun 2012 tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012 (Lembaran Daerah Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012 Nomor 4); 16. Dokumen Satuan Kerja Pelaksanaan Anggaran (DPA)

17. Perangkat Daerah Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Bintan Tahun 2012; MEMUTUSKAN Menetapkan KESATU : : Membentuk Panitia Kegiatan Pelatihan Sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba Tahun Anggaran 2012 dengan susunan Kepanitiaan sebagaimana tercantum pada lampiran Keputusan ini. Menunjuk Penceramah / Narasumber Pelatihan Sosialisasi Sosialisasi Pencegahan, Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Narkoba Tahun Anggaran 2012 sebagaimana terlampir dalam Keputusan ini.

KEDUA

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-27-

KETIGA

Dalam Pelaksanaan tugasnya Panitia berpedoman kepada ketentuan-ketentuan dan petunjuk-petunjuk yang berlaku. Segala Biaya yang timbul sebagai akibat keluarnya Keputusan ini dibebankan kepada Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012. Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan, dengan ketentuan apabila dikemudian hari ternyata terdapat kekeliruan didalam penetapan ini akan diadakan perbaikan sebagaimana mestinya. Ditetapkan di Tanjungpinang pada Tanggal 05 Maret 2012

KEEMPAT

KELIMA

KEPALA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KABUPATEN BINTAN Ttd. Drs. Irma Pembina Tk. I NIP. 19680508 198810 1 001

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-28-

Tembusan disampaikan kepada Yth ; 1. Bupati Bintan di Bandar Seri Bentan (sebagai laporan) 2. Kepala DPPKD Kab. Bintan 3. Inspektorat Daerah Kab. Bintan 4. Yang bersangkutan
LAMPIRAN I : KEPUTUSAN KEPALA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK NOMOR : 10.a/ KESBANG / 2012 TANGGAL : 05 Maret 2012

SUSUNAN PENGAJAR / PENCERAMAH KEGIATAN PELATIHAN SOSIALISASI PENCEGAHAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN NARKOBA KABUPATEN BINTAN

N O 1

KEGIATAN / MATERI Usaha bersama Mencegah Bahaya Penyalahgunaan Narkoba Bahaya Narkoba pada Kesehatan Kata Agama dalam Narkoba

DINAS / INSTANSI Gerakan Anti Narkotika / Granat Kab. Bintan Dinas Kesehatan Kab. Bintan Kementrian Agama Kabupaten Bintan

KET

2 3

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-29-

Sanksi dan Tindakan Hukum Bagi Pengguna dan Pengedar Gelap Narkoba

Polres Bintan

KEPALA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KABUPATEN BINTAN Ttd. Drs. Irma Pembina Tk. I NIP. 19680508 198810 1 001

LAMPIRAN II

: KEPUTUSAN KEPALA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK NOMOR : 10.a / KESBANG / 2012 TANGGAL : 05 Maret 2012

SUSUNAN PANITIA KEGIATAN SOSIALISASI PENCEGAHAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN DAN PEREDARAN GELAP NARKOBA (P4GN) DI KABUPATEN BINTAN TAHUN 2012

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-30-

N O 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9.

NAMA Drs.H..MUHAMMAD MM Drs. HASAN BASRI Drs. SAHAYANI H.M. TARMIZI NURHAYATI SYARIFAH BADARIAH DEDI WIZANI RIRIN AYU LESTARI DIAN FADHLIANA HENDRI,

JABATAN Kaban Kesbangpol Kab. Bintan Sekretaris Kesbangpol Kabid Kesatuan Bangsa Kasubbag Penyusunan dan Program Kasubbid Wawasan Kebangsaan Kasubbag Umum dan Kepegawaian Staf Sekretariat Kesbangpol Staf Sekretariat Kesbangpol Staf Sekretariat Kesbangpol

KEDUDUK AN DALAM PANITIA PENGARAH PEMBINA KETUA WAKIL KETUA SEKRETARI S ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA ANGGOTA

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-31-

KEPALA BADAN KESATUAN BANGSA DAN POLITIK KABUPATEN BINTAN Ttd. Drs. H. MUHAMMAD HENDRI, MM Pembina Tk. I NIP. 19680508 198810 1 001

Sosialisasi P4GN di Kabupaten Bintan Tahun Anggaran 2012


-32-