Anda di halaman 1dari 59

NiFAS DAN KELAINAN MASA NIFAS

RIO JAYA ABADI 112012084

DEFINISI
a. Nifas atau puerperium adalah periode waktu atau

masa dimana organ-organ reproduksi kembali kepada keadaan tidak hamil. Masa ini membutuhkan waktu sekitar enam minggu (Fairer, Helen, 2001:225)

b. Masa nifas (puerperium) dimulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira enam minggu (Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Nebnatal, 2001:122)

c. Masa nifas atau masa puerperium mulai setelah partus selesai dan berakhir setelah kira-kira enam minggu (Wiknjosastro, Hanifa, 1999: 237) d. Masa nifas (puerperium) adalah masa pulih kembali, mulai dari persalinan selesai sampai alatalat kandungan kembali seperti pra-hamil, lama masa nifas ini yaitu 6-8 minggu (Mochtar, Rustam, 1998:115)

KLASIFIKASI

Purperium Dini

Purperium Intermedial

Remote Purperium

ASPEK KLINIS DAN FISIOLOGIS PUERPERIUM


ORGAN REPRODU KSI PSIKOLOGI S

TRAKTUS URINARIU S

PERUBAH AN

KELENJAR MAMAE

PERUBAHAN PADA SISTEM REPRODUKSI


Selama masa nifas, alat-alat reproduksi interna maupun eksterna berangsur-angsur kembali ke keadaan sebelum hamil. Perubahan ini disebut Involusi.

Perubahan-perubahan yang terjadi antara lain: a. UTERUS Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke kondisi sebelum hamil. Desidua basalis tetap berada dalam uterus dengan ketebalan yang bervariasi, tepinya tampak ireguler dan diinflitrasi oleh darah, khususnya pada daerah plasenta

Miometrium berkontraksi : untuk menghentikan

perdarahan & untuk mengeluarkan sisa-sisa endometrium serta sisa-sisa plasenta / selaputnya. Pola kontraksi relatif tidak terkoordinasi. Aliran darah kapiler dalam uterus akan meningkat dalam beberapa hari pertama masa puerperium, seluruh aliran darah dalam uterus akan berkurang.

Perubahan pada uterus postpartum


Involusi uteri
Plasenta lahir

TFU
Setinggi pusat

Berat uterus
1000 gram

Diameter uterus
12,5 cm

7 hari (minggu 1)

Pertengahan
pusat simpisis dan

500 gram

7,5 cm

14 hari (minggu Tidak teraba


2) 6 minggu Normal

350 gram

5 cm

60 gram

2,5 cm

b. LOKIA Akibat involusi uteri, lapisan luar desidua yang mengelilingi situs plasenta akan menjadi nekrotik + darah Lokia. Mempunyai bau yang amis (anyir) meskipun tidak terlalu menyengat dan volumenya berbedabeda pada setiap wanita. Total jumlah rata-rata pengeluaran lokia sekitar 240 - 270 ml.

Lokia
Rubra

Waktu
1-3 hari

Warna
Merah kehitaman

Ciri-ciri
Terdiri dari sel desidua, verniks caseosa, rambut lanugo, sisa

mekoneum dan sisa darah


Sanguilenta 3-7 hari Putih merah bercampur Sisa darah bercampur lendir

Serosa

7-14 hari

Kekuningan/
kecoklatan

Lebih sedikit darah dan lebih


banyak serum, juga terdiri dari leukosit dan robekan laserasi

plasenta
Alba >14 hari Putih Mengandung leukosit, selaput lendir serviks dan serabut

jaringan yang mati.

c. VAGINA

Postpartus, vagina kembali dalam keadaan kendor. Rugae timbul kembali pada minggu ke-3. Himen tampak sebagai tonjolan kecil, berubah menjadi karankulae mitiformis yang khas bagi wanita multipara. Vagina tampak luas & dinding licin ukuran akan mengecil Aktivitas proliferatif epitel vagina akan pulih sesudah 4-6 minggu, tergantung pada aktivitas ovarium

d. REGENERASI ENDOMETRIUM Dalam waktu 2 atau 3 hari setelah melahirkan, sisa desidua berdiferensiasi dua lapisan. Stratum superficial menjadi nekrotik, dan terkelupas bersama lokhia. Stratum basal yang bersebelahan dengan miometrium tetap utuh dan merupakan sumber pembentukan endometrium baru. Endometrium terbentuk dari proliferasi sisa sisa kelenjar endometrium dan stroma jaringan ikat antar kelenjar tersebut. Endometrium pulih kembali dalam minggu ketiga.

PERUBAHAN TRAKTUS URINARIUS


Diuresis biasanya terjadi antara hari Ke 2-5. Bahkan ibu tidak mendapat infus cairan intravena yang berlebih. Kandung kemih masa nifas mempunyai Kapasitas yang bertambah besar dan relative tidak Sensitive terhadap tekanan cairan intravesika. Overdistensi pengosongan yang tidak sempurna dan urine residual yang berlebihan sering dijumpai.

PERUBAHAN PADA MAMAE


a.

Payudara Puting susu, areola, duktus & lobus membesar, vaskularisasi meningkat (Breast Engorgement).

b. Laktasi Masing masing payudara terdiri dari 15 24 lobi yang terletak terpisah satu sama lain oleh jaringan lemak. Tiap lobus terdiri dari lobuli yang terdiri pula dari acini yang menghasilkan air susu. Tiap lobules mempunyai saluran halus untuk mengalirkan air susu. Saluran ini disebut ductus lactiferosus yang memusat menuju ke putting susu di mana masing masing bermuara.

Keadaan payudara pada 2 hari pertama nifas sama

dengan keadaan dalam kehamilan. Pada waktu ini payudara belum mengandung susu, melainkan colostrum yang dapat dikeluarkan dengan memijat areola mamae. Colostrum adalah cairan kuning yang disekresi oleh payudara pada awal masa nifas. Progesteron dan estrogen yang dihasilkan plasenta merangsang pertumbuhan kelenjar kelenjar susu, sedangkan progesterone merangsang pertumbuhan saluran kelenjar.

Kedua hormone ini menghambat prolactin. Setelah

plasenta lahir, maka prolaktin dengan bebas dapat merangsang laktasi. Pada kira kira hari ke 3 postpartum, payudara menjadi besar, keras dan nyeri. Ini menandai permulaan sekresi air susu dan kalau areola mamae dipijat, keluarlah cairan putih dari puting susu.

PERUBAHAN PSIKOLOGIS
Menjadi orang tua adalah merupakan krisis dari melewati masa transisi. Masa transisi pada postpartum yang harus diperhatikan adalah : 1. Phase Honeymoon Phase Honeymoon ialah Phase anak lahir dimana terjadi intimasi dan kontak yang lama antara ibu ayah anak. Hal ini dapat dikatakan sebagai Psikis Honeymoon yang tidak memerlukan hal-hal yang romantik. Masingmasing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru.

2. Phase Pada Masa Nifas a. Phase Taking in Perhatian ibu terutama terhadap kebutuhan dirinya, mungkin pasif dan tergantung berlangsung 1 2 hari. Ibu tidak menginginkan kontak dengan bayinya tetapi bukan berarti tidak memperhatikan. Dalam Phase yang diperlukan ibu adalah informasi tentang bayinya, bukan cara merawat bayi.

b. Phase Taking hold Phase kedua masa nifas adalah phase taking hold ibu berusaha mandiri dan berinisiatif. Hal-hal yang berkontribusi dengan post Partal Blues adalah rasa tidak nyaman, kelelahan, kehabisan tenaga. Dengan menangis sering dapat menurunkan tekanan. Bila orang tua kurang mengerti hal ini maka akan timbul rasa bersalah yang dapat mengakibatkan depresi. Untuk itu perlu diadakan penyuluhan sebelumnya, untuk mengetahui bahwa itu adalah normal.

3. Fase letting Go atau saling ketergantungan dimulai pada minggu ke 5-6 pasca-partus.Tubuh ibu telah sembuh,secara fisik ibu mampu menerima tanggung jawab normal dan tidak lagi menerima peran sakit.Kegiatan seksualnya telah dilakukan kembali

MASALAH DALAM MASA NIFAS

DEMAM NIFAS
Demam ( 380 C) yang terjadi 24 jam setelah persalinan

atau demam yang terjadi pada 2 hari pada 10 hari pertama

postpartum
Penyebab Demam Nifas

Infeksi Uterus (metritis) Kelainan Mamae ( Bendungan ASI, mastitis, abses mamae)

Infeksi traktus urinarius (sistitis, pielonefritis)


Tromboplebitis

Faktor Risiko

Status sosioekonomi Proses persalinan

Tindakan persalinan
Bakteriologi

Cara terjadinya infeksi


Tangan pemeriksa/penolong Droplet infection

Banyak kuman patogen di RS


Koitus pada akhir kehamilan Infeksi intrapartum

1. Metritis
Infeksi uterus setelah persalinan, dapat menyebakan

kematian ibu.
Akibat dari kontaminasi flora normal vagina

Gejala & tanda klinis


Demam
Nyeri Lokia

(380-390C)-menggigil, nadi cepat

suprapubik, nyeri tekan uterus berbau-nanah 15.000 30.000 sel/uL pervaginam, syok

Leukosit

Perdarahan

Terapi Berikan antibiotik sampai ibu bebas demam

selama 48 72 jam

Ampisilin 2 g IV setiap 6 jam + Gentamisin 5 mg/kgBB IV tiap 24 jam

+ Metronidazol 500 mg IV tiap 8 jam

Jika ada perdarahan transfusi (bila perlu) Demam masih ada setelah th/ 72 jam dicari lebih teliti

penyebabnya Tdk ada perbaikan th/ konservatif (ada peritonitis) laparotomi Uterus terinfeksi dan nekrotik histerektomi subtotal

2. Infeksi adneksa ( Adneksitis atau Salpingo-ooforitis)


Adneksitis atau Salpingo-ooforitis adalah radang pada tuba

falopi dan radang ovarium yang terjadi secara bersamaan,


biasa terjadi karena infeksi yang menjalar ke atas sampai uterus, atau akibat tindakan post kuretase maupun post pemasangan alat kontrasepsi (IUD)
Di bagi menjadi 2

Salpingo-ooforitis akuta Salpingo-ooforitis kronik

Umumnya hanya terkena dalam bentuk perisalpingitis

tanpa menyebabkan oklusi


Terapi pada salpingo-ooforitis akuta bisa juga dilakukan

dengan istirahat baring, perawatan umum, pemberian antibiotika dan analgetika


Dapat terjadi abses ovarium:

Mungkin akibat invasi bakteri melalui robekan di kapsul ovarium Biasanya unilateral Bila ruptur peritonitis

Pembedahan dilakukan apabila Jika terjadi ruptur atau abses ovarium Jika terjadi gejala gejala ileus perlekatan Jika terjadi kesukaran untuk membedakan antara apendiksitis akuta dan adneksitis akuta

Gejala klinis Demam Laukositis Nyeri disebelah kanan dan kiri uterus

Peritonitis
Peradangan pada peritoneum yang merupakan

pembungkus visera dalam rongga perut yang dapat menyebar melalui pembuluh limfe yang berada di dalam uterus langsung mencapai peritoneum. Etiologi

Infeksi bakteri Kontaminasi dari luar : operasi yang tidak steril Hematogen : sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang pernapasan bagian atas,otitis media,mastoiditis,glomerulonefritis

3. peritonitis
Peritonitis nifas bisa terjadi karena meluasnya Metritis disertai nekrosis dan dehisensi insisi uterus
pelvioperitonitis :
demam, perut bawah nyeri Nanah dalam kavum douglas

Peritonitis umum krn kuman yg sangat patogen:


Suhu sangat tinggi, nadi cepat dan kecil, perut kembung dan nyeri, ada defense musculaire. Muka penderita, yang mula-mula kemerah-merahan, menjadi pucat, mata cekung

Antibiotik Ampisilin 2g iv,kemudia 1g setiap 6jam + gentamisin 5mg/kgbb iv dosis tunggal/hari + metronidazol 500mg iv setiap 8jam Infeksi mulai reda dan KU pasien membaik,drainase

bedah,dan perbaikan dapat di upayakan Pembedahan atau laparotomi mungkin dilakukan untuk mencegah perforasi. Bila perforasi tidak di cegah,intervensi pembedahan mayor adalah insisi dan drainase terhadap abses.

4. Flegmon parametrium (Parametritis)


>> metritis pasca SC selulitis parametrium yg parah

dan membentuk suatu daerah indurasi (flegmon) di


antara lembar-lembar ligamentum latum
Biasanya unilateral Serviks dan segmen bawah uterus

sering ikut terinfeksi (peradangan hebat,

meluas sampai dinding panggul dan ureter)


histerektomi supraservikal

Etiologi
Parametritis dapat terjadi A. Dari endometritis B. Dari robekan cervix C. Perforasi uterus oleh alat-alat Gejala klinis : Suhu tinggi dengan demam menggigil Nyeri unilateral tanpa gejala rangsangan peritoneum Diagnosa RT -> teraba infiltrat Uterus terdorong ke arah yang sehat

5. Abses pelvik
Flegmon parametrium yg mengalami supurasi

massa fluktuatif ligamentum latum


Harus dilakukan drainase pus dengan kolpotomi dan

antibiotik adekuat
Bila pecah ke dalam peritoneum

peritonitis

6. Infeksi perineum, vulva, vagina & serviks


Gejala & Tanda Klinis

Demam - mengigil Rasa nyeri serta panas pada tempat infeksi

Pada kasus berat seluruh vulva edema, ulserasi, terutup oleh


eksudat

Disuria dengan/tanpa retensi urin Fluor yang purulen

Terapi

Drainase dan pemberian antibiotik

Trombhoplebitis
Perjalanan infeksi melalui vena dan penyebab

penting dari kematian karena infeksi puerperalis 2 golongan vena 1. Vena dinding rahim dan lig. Latum (v.ovarika,v.uterina,dan v.hipogastrik) -> trombhoplebitis pelvika 2. Vena tungkai (v. Femoralis,v. Poplitea, dan v. safena ) -> thromboplebitis femoralis

1. Thrombhoplebitis pelvika
Yang paling sering meradang v. Ovarika ->

mengalirkan darah dan luka bekas plasenta di daerah fundus uteri Penjalaran : v.ovarika kiri -> v.renalis & v. Ovarika kanan -> v.kava inferior Trombosis yang terjadi setelah peradangan bermaksud untuk menghalangi mikroorganisme. Dengan proses ini diharapkan infeksi dapat sembuh,tapi jika daya tahan tubuh kurang,trombus dapat menjadi nanah

Bagian bagia kecil trombus terlepas dan terjadilah

emboli atau sepsis dan karena embolus ini mengandung nanah disebut juga pyaemia Embolus biasanya tersangkut pada paru,ginjal dan katup jantung. Pada baru menyebabkan infark. Jika daerah infark meluas,pasien meninggal mendadak. Bila selamat,pada pasien dapat timbul abses paru.

2. Thrombhoplebitis femoralis
Dapat terjadi pada v.safena magna dan

v.femoralis,penjalaran thrombhoplebitis vena uterina ( vena uterina,vena hipogastrika,vena iliaka eksterna,vena femoralis) dan akibat parametritis. Thromboplebitis vena femoralis mungkin terjadi karena aliran darah lambat di daerah lipat paha karena vena tersebut,yang tertekan oleh lig. Inguinale,juga karena dalam masa nifas kadar fibrinogen meninggi.

Pada thromboplebitis femoralis terjadi edema

tungkai yang mulai pada jari kaki,naik ke kaki,betis dan paha,bila thromboplebitis itu mulai pada vena safena atau vena femoralis. Sebaliknya,bila terjadi sebagai lanjutan dari thromboplebitis pelvika,edem mulai terjadi pada paha dan kemudia turun ke betis. Biasanya hanya satu kaki yang bengkak,tetapi kadang-kadang keduanya. Thromboplebitis femoralis jarang menimbulkan emboli. Penyakit juga terkenal dengan nama phlegmansia alba dolens ( radang yang putih dan nyeri)

KELAINAN MAMAE
Galaktokel
Akumulasi ASI di satu atau lebih lobus mamae akibat

penyumbatan ductus oleh sekret yang mengental


Sekret yang berlebih menimbulkan gejala-gejala penekanan Dapat sembuh spontan atau memerlukan aspirasi

Gangguan Sekresi ASI


Agalaktia kekurangan mutlak sekresi payudara (jarang),

dapat menghasilkan sedikit ASI dari putingnya pada hari 3-4


masa nifas
Poligalaktia sekresi payudara sangat berlebih

Mamae Aksesorius
Satu dari beberapa ratus wanita memiliki satu atau lebih

payudara aksesorius (polymastia)


Polymastia tidak memiliki makna obstetris, namun jika

terjadi pembesaran ketidaknyamanan


Biasanya terletak berpasangan pada masing-masing sisi

dinding toraks atau abdomen, di bawah payudara utama, di

aksila, bahu, panggul, selangkangan atau paha

Kelainan Papila Mamae


Papilla inverted

Setiap hari selama bulan-bulan terakhir kehamilan harus


dilakukan upaya menarik puting keluar dengan tangan

Fisura papilla

Fisura hampir selalu menyebabkan nyeri saat menyusui & terkadang mempengaruhi fungsi sekretorik, bersifat reversibel

Dapat memudahkan masuknya bakteri piogenik

Terapi:
-

Perasat hoffman : dua jari telunjuk atau ibu jari di letakkan di daerah gelanggang susu,kemudian diurut menuju arah

berlawanan
-

Jika tidak berhasil bayi sebaiknya tidak menyusu pada payudara yang sakit untuk sementara payudara tersebut

dikosongkan secara reguler dengan pompa sampai lesi sembuh


sempurna

Mastitis
Infeksi parenkimal kelenjar mamae, paling sering karena

Staphylococcus aureus
Gelaja & Tanda Klinis

Demam-menggigil,takikardi, mialgia Payudara merah, bengkak dan nyeri, mengeras, lebih hangat, biasanya unilateral

Penatalaksanaan

dikloksasilin 4x500 mg atau Eritromisin 3x250 mg p.o selama 10 hari Parasetamol 500 mg p.o

Kompres hangat sebelum menyusui


Evaluasi 3 hari

Abses Mamae
Gejala & Tanda Klinis

Demam yg menetap dalam waktu 48 72 jam Payudara merah, bengkak, dan nyeri Teraba fluktuasi, kadang keluar nanah

Penatalaksanaan

Kloksasilin 4x500 mg atau Eritromisin 3x250 mg p.o selama 10 hari Parasetamol 500 mg p.o Drainase abses

Bendungan ASI
Terjadi selama 24 jam pertama setelah sekresi laktasi Gejala & tanda klinis

Demam , biasanya 3-5 hari nifas (37,8 - 390 C) Demam berlangsung tidak lebih dari 16 jam Payudara bengkak dan nyeri (Unilateral / bilateral)

Penatalaksanaan

Menyangga payudara dengan bra yang pas

Kompres hangat, memijat payudara, dan pemberian analgesik


Memompa payudara dan mengeluarkan ASI secara manual (bila perlu)

SUBINVOLUSI UTERUS
Suatu keadaan menetapnya atau terjadinya retardasi involusi uterus. Proses

ini disertai pemanjangan masa pengeluaran lokhia dan

perdarahan uterus yang berlebihan atau ireguler, bahkan dapat terjadi perdarahan hebat.
Uterus teraba lebih besar dan lebih lunak dibanding normal untuk

periode nifas tertentu


Etiologi Retensi sisa plasenta dan Infeksi Penatalaksanaan

Metilergonovin 0,2 mg setiap 3-4 jam selama 24 48 jam Pemberian antibiotik

INKONTINENSIA URINE
Inkontinensia urine ketidakmampuan menahan air kencing

Disebabkan oleh perubahan otot & fasia di dasar panggul, desensus

dinding depan vagina disertai sisto-uretrokel, kadang dijumpai pada penderita dengan prolapsus total uterus & vagina dengan

kontinensia urine yang baik


Prevalensi gangguan meningkat dengan bertambahnnya umur &

paritas

Usia15 tahun atau lebih 10%, usia 35-65 tahun 12%, usia >65 tahun 16% Nulipara 5%, pada wanita dengan anak satu mencapai 10% & meningkat sampai 20% pada wanita dengan 5 anak

Jenis Inkontinesia Urine


Stress Inkontinence lemahnya mekanisme penutup

Urgency Inkontinence keluarnya urine secara involunter


dihubungkan dengan keinginan yang kuat untuk mengosongkannya

Overflow Incontinence keluarnya urine secara involunter ketika

tekanan intravesikal melebihi tekanan maksimal uretra akibat dari


distensi kandung kemih tanpa adanya aktifitas detrusor

Fistula urine sebagian besar akibat persalinan, dapat terjadi

langsung pada waktu tindakan operatif seperti seksio sesar, perforasi dan
kranioklasi, dekapitasi, atau ekstraksi dengan cunam, partus lama

Pada umumnya keluhan penderita yaitu:


Kencing keluar pada waktu batuk, tertawa, bersin dan latihan. Keluarnya kencing tidak dapat ditahan. Kencing keluar menetes pada keadaan kandung kencing penuh.

Pemeriksaan penunjang

USG, CT scan, IVP identifikasi kelainan patologi &

kelainan anatomi

Sistourethroskopi untuk identifikasi kelainan patologi seperti fistula, ureter ektopik maupun divertikulum

Sistometri menunjukan keadaan kandung kemih yang


hiperaktif, normal maupun hipoaktif

Penanganan Konservatif
Latihan otot dasar panggul Terapi Obat

Agonis alpha adrenergik


Efedrin Phenilpropanololamine Estrogen

Pemakaian Pressarium

Penanganan Operatif
Untuk keadaan inkontinesia urine sedang berat

INKONTINENSIA ALVI
Inkontenensia Alvi ketidakmampuan mengontrol

pengeluaran feses atau flatus Faktor predisposisi


DM Stroke Trauma spinal cord Partus pervaginam dsb

Inkontenensia Alvi pada Masa Nifas


Paling sering akibat dari partus pervaginam Partus pervaginam gangguan muskulus sphinter ani

ext/int atau kerusakan n. Pudenda akibat kompresi & iskemia

selama persalinan
Epidemiologi

35 % primipara & 44% multipara asimptomatik 13 % primipara & 23% multipara simptomatik

Faktor predisposisi

Perpanjangan kala 2 Forceps delivery Episiotomy

Terapi Konservatif

Latihan otot dasar panggul Loperamide 2-3 x 2-4 mg/hari (max. 16 mg/hari)

Terapi Operatif

Sphincteroplasty

Perdarahan dalam nifas


Penyebab perdarahan dalam nifas :

Sisa plasenta dan polip plasenta


Endometritis puerpuralis Perdarahan fungsional

Perdarahan karena luka

MATUR NUWUN