Anda di halaman 1dari 50

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Hampir semua negara di dunia cenderung kurang memperhatikan kesehatan neonatus (bayi berumur 1 sampai 28 hari) dibandingkan dengan umur-umur yang lain. Menurut Word Health Organization (WHO) penyebab terjadinya kematian bayi antara lain pengaruh tradisi yang berlaku dikeluarga, misalnya adanya larangan makan-makanan tertentu pada ibu hamil sehingga melahirkan anak dengan status gizi yang buruk atau mempunyai berat lahir rendah atau kurang dari 2500 gram, pemberian makanan bayi secara dini, sikap terhadap komplikasi, ketidaktahuan keluarga terhadap perawatan bayi baru lahir, pertolongan tenaga kesehatan dan rujukan (Departemen Kesehatan RI, 2003). Menurut Pancho (2000), yang menjadi keprihatinan di Indonesia adalah jumlah kematian neonatus yang tidak berubah-berubah dari waktu ke waktu. Hal ini disebabkan angka kematian ibu yang juga belum banyak berubah. Angka kematian ibu di Indonesia masih merupakan yang tertinggi di Asia. Masalah kematian bayi di Indonesia mempunyai kaitan yang erat sekali atau tidak terpisahkan dengan masalah kematian ibu. Masalah umum kematian neonatus di Indonesia utamanya karena rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan yang profesional pada saat persalinan. Di negara berkembang, sedikitnya dua dari tiga persalinan terjadi di rumah, baik oleh bidan, dukun

maupun oleh keluarga. Hanya setengahnya saja yang ditolong oleh penolong persalinan yang terampil. Penelitian telah menunjukkan bahwa lebih dari 50% kematian bayi terjadi dalam periode neonatal yaitu dalam bulan pertama kehidupan. Di Indoensia pada tahun 19982002 kematian neonatal sebesar 20/1000 kelahiran hidup. Angka ini bila diterjemahkan kedalam jumlah absolut berarti dari 4.608.000 bayi yang lahir di Indonesia setiap tahunnya. 100.454 bayi meninggal sebelum berusia 1 bulan. Jika dihitung untuk setiap harinya, 275 kematian neonatal terjadi pada setiap hari di Indonesia, yang juga berarti terjadi 12 kematian neonatal setiap jamnya atau terjadi satu kematian neonatal di Indonesia setiap lima menit dikarenakan pengetahuan yang

kurang terhadap perawatan bayi di masa neonatal (Ariawan, 2005). Kurang baiknya penanganan bayi baru lahir yang lahir sehat akan menyebabkan kelainan-kelainan yang dapat mengakibatkan cacat seumur hidup, bahkan kematian. Ditinjau dari pertumbuhan dan perkembangan bayi, periode neonatal merupakan periode yang paling kritis. Neonatus pada mingguminggu pertama sangat dipengaruhi oleh kondisi ibu pada waktu hamil dan melahirkan. Manajemen yang baik pada waktu masih dalam kandungan, selama persalinan, segera sesudah dilahirkan, dan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya akan (Sarwono, 2002). Periode postpartum merupakan masa untuk beradaptasi dengan perubahan fisik dan psikologis. Serta salah satu masa untuk mengadopsi peran ibu (Depkes, 1997). menghasilkan bayi yang sehat

Mengingat pentingnya adaptasi pada masa ini maka perawat diharapkan bisa memberi kontribusi dengan menyediakan pelayanan keperawatan yang mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan pada ibu postpartum ini. Salah satu cara yang bisa dilakukan perawat adalah dengan mengoptimalkan fungsinya sebagai edukator dengan memberikan pengetahuan tentang perawatan ibu dan bayi kepada ibu postpartum. Saat-saat awal perawatan bayi terutama pada saat masa nifas merupakan kurun waktu di mana ibu memulai aktivitas yang tidak biasa dari hari sebelumnya, walaupun bagi mereka yang pernah melahirkan yang kedua, dan seterusnya. Sehingga perlu adanya

perubahan perilaku dari kebiasaan sebelumnya menjadi kebiasaan mengasuh bayi yang baru dilahirkannya (Nurcahyo, 2008) Perubahan perilaku baru/adopsi perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan bersifat langgeng (long lasting). Sebaliknya perilaku yang tidak didasarkan oleh pengetahuan dan kesadaran tidak akan berlangsung lama (Moehji, 2002). Kesalahan yang dilakukan ibu dalam merawat bayinya perlu dihindarkan untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan. Adanya pengetahuan yang baik akan sangat membantu ibu dalam merawat bayi yang baru dilahirkannya. Survey pendahuluan yang dilakukan pada tanggal 18 Mei 2009 pada pukul 09.00 di RSUD Kebumen pada tahun 2008 didapatkan data 1080 kelahiran dan data yang diambil adalah pada bulan Pebruari, Maret dan April 2009, sebanyak 358 Ibu melahirkan di RSUD Kebumen. Semua bayi lahir normal dirawat gabung bersama Ibu. Pada hari kelahiran sampai ibu pulang masih dibantu oleh perawat / bidan dalam

merawat bayinya. Tetapi dari 10 orang responden yang di survey, ketika bidan atau perawat sedang tidak merawat dan ibu harus merawat bayinya sendiri, 6 orang (60%) merasakan kurang tahu, dan 4 orang (40%) menyatakan tahu bagaimana cara merawat bayinya. Dari 4 orang (40%) yang menyatakan tahu cara merawat bayi tidak ada yang menjawab dengan pasti, dan benar. Dari survey pendahuluan diatas dan pentingnya akan pengetahuan perawatan bayi yang baru lahir. Maka penulis tertarik untuk membuat

penelitian mengenai gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di Bangsal Bougenvile di RSUD Kebumen.

B. Rumusan Masalah Berdasarkan uraian diatas, maka permasalahan yang timbul adalah Bagaimana gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kebumen?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Umum Tujuan penelitian ini secara umum adalah untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kebumen. 2. Tujuan Khusus a. Mengidentifikasikan tingkat pengetahuan ibu post partum tentang Perawatan kulit kepala Bayi Baru Lahir normal di RSUD Kebumen.

b.

Mengidentifikasikan tingkat pengetahuan ibu post partum tentang Perawatan rambut Bayi Baru Lahir normal di RSUD Kebumen.

c. Mengidentifikasikan tingkat pengetahuan ibu post partum tentang Perawatan hidung Bayi Baru Lahir normal di RSUD Kebumen. d. Mengidentifikasikan tingkat pengetahuan ibu post partum tentang Perawatan telinga Bayi Baru Lahir normal di RSUD Kebumen. e. Mengidentifikasikan tingkat pengetahuan ibu post partum tentang Perawatan kulit badan Bayi Baru Lahir normal di RSUD Kebumen. f. Mengidentifikasikan tingkat pengetahuan ibu post partum tentang Perawatan tali pusat Bayi Baru Lahir normal di RSUD Kebumen. g. Mengidentifikasikan tingkat pengetahuan ibu post partum tentang Perawatan bokong Bayi Baru Lahir normal di RSUD Kebumen.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi RSUD Kebumen Diharapkan menjadi bahan masukan untuk RSUD kebumen supaya lebih meningkatkan pelayanan bagi ibu post partum khususnya ketrampilan cara merawat Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kebumen. 2. Ibu Post Partum Dapat mengetahui dan mempersiapkan diri untuk merawat bayinya yang baru lahir normal. 3. Bagi Peneliti Dapat menambah pengetahuan serta merupakan pengalaman dalam melakukan penelitian mengenai gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Post partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kebumen.

E. Keaslian Penelitian Sepengetahuan peneliti judul Karya tulis ini belum pernah ada, apabila ada kemiripan adalah penelitian sejenis pernah dilakukan oleh: 1. Nurcahyo (2008) tentang : Hubungannya Pengetahuan Dukun Bayi Penolong Persalinan dengan Perilaku Perawatan Bayi baru Lahir di Puskesmas Wonosari I Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunung Kidul. Tujuan Penelitian adalah : mengetahui Hubungannya Pengetahuan Dukun Bayi Penolong Persalinan dengan Perilaku Perawatan Bayi baru Lahir di Puskesmas Wonosari I Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunung Kidul. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan rancangan cross sectional dengan hasil. Ada Hubungannya Pengetahuan Dukun Bayi Penolong Persalinan dengan Perilaku Perawatan Bayi baru Lahir di Puskesmas Wonosari I Kecamatan Wonosari Kabupaten Gunung Kidul, dengan r = 0,778, dan p = 0,038 Perbedaan dengan penelitian ini adalah tentang tempat, subjek, metode dan waktu. 2. Penelitian Muhlisoh, (2008) dengan judul : Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Primigravida Tentang Perawatan Neonatus di Puskesmas Kuwarasan Kabupaten Kebumen Tahun 2008. Dengan jumlah sampel 50 responden dengan hasil penelitian sebagian besar mempunyai pengetahuan baik sejumlah 23 responden (46%), pengetahuan sedang sejumlah 14 orang dengan presntase (34%) dan sebagian kecil mempunyai pengetahuan kurang yaitu 10 responden (20%). Gambaran Pengetahuan Primigravida Tentang Perawatan Neonatus di Puskesmas Kuwarasan Kabupaten Kebumen Tahun 2008 dalam kategori baik.

Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakukan adalah desain penelitian yaitu mengunakan sampel diambil dengan tehnik purposive sampling dengan kriteria, ibu primigravida, sehat rohani. Data diambil dari kuisioner dalam penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengetahuan primigravida tentang perawatan neonatus. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Muhlisoh yaitu tempat penelitian dan cara menentukan jumlah sampel cara menentukan sampel adalah dengan kriteria umur, pendidikan, pekerjaan dan sumber informasi. 3. Penelitian Haryanti, (2006) dengan judul penelitian : Gambaran Pengetahuan Ibu Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di Puskesmas Magelang dengan jumlah responden 45. hasil penelitian menunjukan bahwa pada ibu pada umur (primigravida) dan pendidikan rendah sangat berpengaruh dalam pengetahuan perawatan bayi baru lahir Sebanyak 24 responden (53,8%), sebanyak 11 responden (24,2%) dan sebanyak 10 responden (22%) mempuyai pengetahuan yang baik tentang perawatan neonatus. Persamaan penelitian ini dengan penelitian yang akan dilakuakn adalah desain penelitian yaitu mengunakan sampel dengan teknik crosssectional sampling. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan Haryanti yaitu tempat penelitian dan kriteria inklusi umur dan pendidikan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Sebagai libusan teori dalam penelitian ini, berikut dikemukakan beberapa teori dan konsep yang terkait dalam penelitian ini. Adapun teori dan konsep tersebut meliputi: Pengetahuan, Ibu Post Partum, Perawatan Bayi Baru Lahir Normal, Kerangka Teori, Kerangka Konsep, Hipotesa. A. Tinjauan Teori 1. Pengetahuan Pengetahuan berasal dari kata tahu (know). Pengetahuan diartikan sebagai hasil penginderaan manusia atau hasil tahu seseorang terhadap objek melalui indera yang dimilikinya. Dengan sendirinya, pada waktu penginderaan sampai menghasilkan pengetahuan tersebut sangat

dipengaruhi oleh intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek (Notoatmodjo, 2005). Menurut Notoadmodjo pengetahuan juga merupakan proses kognitif dari seseorang atau individu untuk memberi arti terhadap lingkungan, sehingga masing-masing individu akan memberikan arti sendiri-sendiri terhadap stimuli yang diterimanya meskipun stimuli itu sama. Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk mengubah perilaku seseorang yang disengaja. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

antara lain yaitu pendidikan, informasi dan pengalaman.(Notoatmodjo, 2005). Perubahan atau tindakan pemeliharaan kesehatan dan peningkatan kesehatan yang dihasilkan oleh pendidikan kesehatan itu didasarkan kepada pengetahuan dan kesadarannya melalui proses pembelajaran. Dapat diartikan bahwa pendidikan akan mempengaruhi pengetahuan seseorang (Notoatmodjo, 2005). Dari uraian tadi dapat dimengerti apabila semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka semakin mengerti akan pengetahuan. Pembagian tingkat pendidikan di Indonesia menurut Depdiknas (2003) dapat dibagi menjadi: 1) Pendidikan formal; yaitu pendidikan yang terstruktur dan berjenjang terdiri atas pendidikan dasar menengah(SD, SLTP, SLTA), dan pendidikan tinggi (Perguruan Tinggi: Universitas, Akademi, Sekolah Tinggi, Institut). 2) Pendidikan non formal; yaitu jalur pendidikan di luar pendidikan formal (les, kursus). 3) Pendidikan

informal yaitu pendidikan keluarga dan lingkungan. Pengetahuan ibu dalam penelitian ini dapat didasarkan pada pendidikan yang telah diperoleh ibu baik secara formal, non formal atau informal dalam pemberian makanan tambahan untuk batitanya. Karena tingkatan pendidikan formal dapat mempengaruhi pemahaman ibu akan

pengetahuan pemberian makanan tambahan untuk batitanya (Herawati, 2006). Pengetahuan adalah merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu obyek tertentu. Pengindraan 9

terjadi

melalui

pancaindra

manusia,

yakni:

indra

penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmodjo, 2003 ). Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (overt behavior). Pengetahuan yang dicakup didalam dominan kognitif mempunyai 6 tingkat, yakni: a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya. Termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang telah diterima. Dalam kelompok ini masuk pada Ranah kognitif yang diukur mengikuti taksonomi Bloom yang meliputi ingatan (c1), pemahaman (c2) dan aplikasi (c3). b. Memahami (Comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang obyek yang diketahui, dan dapat menginterprestasi materi tersebut secara benar.

c. Aplikasi (Aplication)

10

Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi rill (sebenarnya). Aplikasi ini dapat diartikan atau penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau suatu obyek ke dalam komponen-komponen, tetapi masih didalam suatu struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. e. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjukkan kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau obyek. Penilaian-penilaian itu berdasarkan suatu kriteria yang ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada (Notoatmodjo, 2003 ).

Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan : 11

1) Tingkat pendidikan Ditengah-tengah masyarakat petugas kesehatan adalah menjadi tokoh panutan masyarakat khususnya dibidang kesehatan. Untuk itu maka petugas kesehatan harus mempunyai sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nalai kesehatan. Demikian juga masyarakat dan petugas-petugas yang lain. Oleh sebab itu,

mereka harus mempunyai sikap dan perilaku yang positif untuk mendorong perilaku atau penguat perilaku sehat masyarakat. 2) Sosial ekonomi Latar belakang sosial, struktur sosial dan ekonomi mempunyai pengaruh terhadap perilaku kesehatan masyarakat. Petugas kesehatan juga perlu mendalami tentang aspek-aspek sosial masyarakat. 3) Etnik atau budaya Berbagai golongan etnik dapat berbeda-beda didalam kebiasaan makan, susunan genetik, gaya hidup dapat mengakibatkan perbedaan-perbedaan didalam angka kesakitan. 4) Pekerjaan Pekerjaan sering kali dikaitkan dengan penghasilaan yaitu menilai hubungan antar tingkat penghasilaan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan maupun pencegahan, seseorang kurang memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada mungkin karena

12

tidak mempunyai cukup uang untuk membeli obat, membayar transport, dan sebagainya. 5) Umur Umur adalah variabel yang selalu diperhatikan didalam

penyelidikan-penyelidikan epidemiologi. Angka-angka kesakitan hampir semua menunjukan hubungan dengan umur. Pada masyarakat pedesaan yang kebanyakan masih buta huruf hendaknya memanfaatkan sumber informasi. Hal ini tentunya

tidak menjadi hal yang berat dikala mengumpulkan keterangan umur bagi mereka yang telah bersekolah. 6) Paritas Tingkat paritas telah menarik perhatian para peneliti dalam kesehatan si ibu maupun si anak. Kecenderungan kesehatan ibu yang berparitas rendah lebih baik yang berparitas tinggi.

B. Post Partum Masa nifas dimulai beberapa jam sesudah lahirnya plasenta sampai 6 minggu berikutnya. Meskipun tidak ada kenyataan yang jelas, namun tampaknya ada saat-saat ketika kontak antara ibu dalam massa nifas dengan bidan merupakan hal yang menentukan dalam mengidentifikasi dan merespon terhadap kebutuhan dan komplikasi. Saat-saat ini dirangkum dalam rumusan 6 jam, 6 hari dan 6 minggu.

13

Sementara bahan yang dipresentasikan dalam intra partum dititik beratkan pada asuhan awal selama 2-6 jam massa nifas, namun terdapat kesinambungan dari dukungan dan asuhan bagi ibu selama beberapa hari bayi juga adalah sangat dianjurkan. Bahan yang dipresentasikan selebihnya dari bagian nifas akan difokuskan pada asuhan selama 2-6 hari dan 2-6 minggu pertama. Jauh lebih penting dari pada menjaga jadwal yang kaku tentang asuhan nifas ini, ialah penekanan pada kepastian agar semua ibu mendapatkan akses terhadap asuhan nifas tersebut. Bayi Baru Lahir Normal. Definisi : Bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa memakai alat, pada usia kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat badan 2500-4000 gram, nilai Apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan (Nurcahyo, 2008).

C. Perawatan Bayi Baru Lahir. Merawat bayi memang bukan pekerjaan mudah. Padahal jika tak dirawat dengan benar dan kebersihannya tak dijaga, tubuhnya bakal rentan terhadap banyak penyakit. Bagian tubuh yang penting dirawat dan dijaga kebersihannya (Astuti, 2009). 1. Kulit Kepala Cradlecrap atau kerak di kulit kepala disebabkan kulit kepala terpolusi udara dan debu. Bersihkan dengan air matang setelah diberi obat dari dokter. Tapi jangan keras-keras karena setelah diberi obat, sebenarnya nanti akan ngelotok sendiri. Boleh juga menggunakan baby oil, diamkan 14

kira-kira 10-15 menit, lalu pijat secara lembut, dilanjutkan dengan pencucian. Tapi ingat, jangan lakukan pijatan atau pembersihan dengan keras. Jika kulit kepala sampai berdarah dan infeksi, bisa berbahaya. Sebab, ada satu peredaran darah di kepala yang menyambung dengan otak. Usahakan kulit kepala tetap sejuk dan kering, karena kerak ini akan makin parah jika kulit kepala berkeringat. Jangan kenakan topi pada bayi kecuali jika sangat diperlukan dan lepaskan topi itu setelah bayi berada di dalam rumah atau kendaraan (Astuti, 2009). 2. Rambut Menumbuhkan rambut bayi sebenarnya tak perlu sampo. Ia lebih menganjurkan pemakaian daun seledri sebagai perangsang. Tapi, bolehboleh saja menggunakan sampo khusus bayi dan cukup dua kali seminggu. Disarankan pemakaian sampo bayi yang mengandung Pro Vitamin B5, agar rambut tetap sehat, mudah diatur, dan lebih bercahaya. "Untuk membantu pertumbuhan rambut, bisa digunakan hair lotion yang juga mengandung Pro Vitamin B5 dan Vitamin E yang memberikan kelembaban ekstra pada kulit bayi yang sensitif. Untuk bayi kecil, basahi rambutnya dengan semprotan halus atau dengan menuangkan secangkir air. Tambahkan satu-dua tetes sampo dan gosok lembut sampai berbusa. Hindari jangan sampai sampo mengenai mata. Basuh sampai bersih dengan semprotan lembut atau beberapa cangkir air. Untuk bayi yang

sudah dapat berdiri sendiri, gunakan alat khusus yang dapat melindungi mata dari aliran air dan sampo saat rambutnya dikeramasi (Astuti, 2009). 15

3. Hidung. Bagian dalam hidung punya daya pembersih sendiri dan tak perlu perawatan khusus. Jika ada cairan atau kotoran yang keluar, bersihkan bagian luarnya. Jangan gunakan cotton buds, tisu yang digulung kecil atau jari Ibu untuk mengeluarkan kotoran dari dalam hidung. Ibu hanya akan mendorong kotoran itu lebih jauh ke dalam atau bahkan menggores membran pembatas hidung yang peka. Jika bayi punya banyak lendir karena pilek sehingga menghambat pernapasan, sedot keluar dengan cara mengisapnya oleh ibu secara lembut atau dengan aspirator hidung bayi. Tutup sebelah lubang hidung dengan jari, lalu isap sebelahnya. Begitu bergantian. Jangan sekali-sekali mengisap kedua lubang sekaligus, karena berbahaya. Lendir dapat naik ke telinga tengah, sehingga menimbulkan infeksi telinga tengah (Astuti, 2009). 4. Telinga Seperti hidung, bagian dalam telinga juga tak boleh dibersihkan. Ibu boleh membersihkan jika kotoran itu sudah mencapai "pintu" keluar atau setelah melewati "tikungan" di dalam liang telinga luar. Gunakan cotton buds yang diberi air hangat agar kotoran jadi lebih lunak, sehingga mudah dikeluarkan. Minta pertolongan dokter untuk membersihkan kotoran yang berada di dalam telinga dan keras. Sementara daun telinga dapat dibersihkan tiap kali memandikan bayi. Gunakan cotton buds atau kapas yang dibasahi air hangat. Lakukan secara lembut (Astuti, 2009).

16

5. Kulit Kulit manusia harus dibersihkan, karena merupakan "makanan empuk" bagi kuman-kuman kulit. Bayi baru lahir minimal dimandikan sehari sekali karena ia belum tahan dingin. Entah dengan cara berendam di bak mandi atau dilap dengan waslap basah yang sudah diberi sabun bayi. "Pilih yang mengandung Pro Vitamin B5". Ini berguna untuk merawat kesehatan kulit, memberi rasa nyaman, dan menjaga kulit tetap halus. Agar kulit tetap lembab dan terhindar dari kekeringan, dianjurkan pemakaian baby oil yang mengandung Vitamin E. "Vitamin ini juga bermanfaat untuk membuat kulit tetap halus, lembut, dan terhindar dari lecet. Untuk mencegah munculnya biang keringat, atur temperatur ruangan/kamar bayi senyaman mungkin. Jangan sampai bayi kepanasan. Jika tak punya AC, ventilasi kamar harus baik. Untuk mengatasi biang keringat, cukup diberi bedak khusus bayi. "Gunakan bedak bayi yang mengandung Pro Vitamin B5, agar kulit si kecil tetap halus dan lembut," Lalu, pada jam-jam yang banyak mengeluarkan keringat seperti siang hari, lap bagian tubuh yang banyak keringat dengan kapas yang dibasahi air hangat atau tisu basah non-alkohol. Lakukan sesering mungkin pada bayi yang banyak biang keringat, terutama di daerah-daerah lipatan (Astuti, 2009). 6. Tali Pusat Perawatan tali pusat pada bayi baru lahir harus diperhatikan betul, sebab daerah ini mudah sekali terkena infeksi. Libatkan pangkal tali pusat 17

dengan kasa steril yang dibasahi alkohol 70 persen. Ingat, pangkal tali pusat harus tertutup rapat. Lakukan dua kali sehari. Jaga agar kasa steril senantiasa lembab. Jika tali pusat yang belum putus tak sengaja terkena air saat bayi dimandikan, keringkan dengan cotton buds atau kasa steril, lalu beri alkohol 70 persen. Jangan bubuhi ramuan apa pun pada pangkal tali pusat. Cukup alkohol 70 persen, karena tak mengandung zat-zat racun yang bisa diserap tubuh bayi. Selain itu, alkohol dapat membunuh kuman dan mengeringkan pangkal tali pusat, sehingga pangkal tali pusat menciut dan akhirnya puput atau putus. Umumnya, tali pusat akan putus antara 1-2 minggu setelah kelahiran, tapi bisa juga terjadi lebih dini atau lebih lambat (Astuti, 2009) 7. Bokong Area ini mudah terkena masalah, karena sering berkontak dengan popok basah dan terkena macam-macam iritasi dari bahan kimia serta mikroorganisme penyebab infeksi air kemih/tinja, maupun gesekan dengan popok atau baju. Biasanya akan timbul gatal-gatal dan merah di sekitar bokong. Meski tak semua bayi mengalaminya, tapi pada beberapa bayi, gatal-gatal dan merah di bokong cenderung berulang timbul. Tindak pencegahan yang penting ialah mempertahankan area ini tetap kering dan bersih. Jika usaha pencegahan tak berhasil, yang dapat Ibu lakukan ialah: a. Jangan gunakan diapers sepanjang hari. Cukup saat tidur malam atau bepergian. 18

b. Jangan ganti-ganti merek diapers. Gunakan hanya satu merek yang cocok untuk bayi Ibu. c. Lebih baik gunakan popok kain. Jika terpaksa memakai diapers, kendurkan bagian paha untuk ventilasi dan seringlah menggantinya (tiap kali ia habis buang air kecil/besar). d. Tak ada salahnya sesekali membiarkan bokongnya terbuka. Jika perlu, biarkan ia tidur dengan bokong terbuka. Pastikan suhu ruangan cukup hangat sehingga ia tak kedinginan. e. Jika peradangan kulit karena popok pada bayi Ibu tak membaik dalam 1-2 hari atau bila timbul lecet atau bintil-bintil kecil, hubungi dokter anak Ibu. f. Penting pula diperhatikan faktor makanan. Para ibu yang menyusui bayinya dengan ASI harus menghindari makanan yang mengandung lemak, asam dan pedas karena dapat membuat bayi sering buang air besar sehingga pantatnya jadi lecet. Ini harus diobati dengan obat dari resep dokter (Astuti, 2009).

19

D. Kerangka Teori Didalam penelitian ini kerangka teorinya adalah sebagai berikut :

Gambar 2.1 Bagan Kerangka Teori Penelitian Sumber : Notoatmodjo, S. (2005), Astuti, ( 2009)

20

E. Kerangka Konsep Berdasarkan libusan teori tersebut, maka kerangka konsep penelitian adalah: Input Proses Output

Keterangan = = yang diteliti = yang tidak diteliti

Gambar 2.2 Bagan Kerangka Konsep Penelitian

21

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian Dalam penelitian ini menggunakan desain penelitian kwantitatif deskriptif eksploratif dengan pendekatan eksploratif yaitu menggali objek penelitian dikumpulkan untuk disimpulakan (Notoatmodjo, 2005) guna mengetahui Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kebumen.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi ini dilakukan di Bangsal Bougenville RSUD Kebumen dengan alasan bahwa, lokasi penelitian tersebut berdasarkan observasi dari bulan Pebruari April terdapat 358 persalinan normal, maka dalam satu bulan terdapat + 72 persalinan. 2. Penelitian dilakukan pada bulan Pebruari sampai bulan April 2009.

C. Populasi dan sampel 1. Populasi Populasi adalah keseluruhan variabel yang menyangkut masalah yang diteliti (Nursalam, 2001). Dalam penelitian ini populasi adalah ibu yang mempunyai balita dan melakukan persalinan di RSUD Kebumen 22

Gombong. Jumlah dalam tahun 2008 sebesar 1080 ibu yang melakukan persalinan. Dari hasil studi pendahuluan pada bulan Februari, Maret, April 2009, terdapat 76 Ibu melahirkan di RSUD Kebumen. 2. Sampel Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan sampling tertentu untuk mewakili populasi (Nursalam, 2001). Tehnik penggunaan sampel pada penelitian ini menggunakan Quota sample yatu tehnik yang dilakukan tidak mendasarkan diri pada strata atau daerah, tetapi mendasarkan diri pada jumlah yang sudah ditentukan. Dalam mengumpul kan data, peneliti menghubungi subjek yang memenuhi persyaratan ciriciri populasi, tanpa menghiraukan dari mana asal subjek tersebut (asal masih dalam populasi). Biasanya yang dihubungi adalah subjek yang mudah ditemui, sehingga pengumpulan datanya mudah. Yang penting diperhatikan disini adalah terpenuhinya jumlah (Quontum) yang telah ditetapkan. Jumlah quotum pada penelitian ini adalah sebanyak 76 ibu post partum. Kriteria sampel populasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: a. Kriteria inklusi adalah Ibu dalam keadaan sehat, dapat membaca dan menulis, dan Ibu post partum yang bersedia menjadi responden. b. Kriteria Eklusi adalah: ibu menderita gangguan jiwa, ibu tuna netra, Ibu buta huruf

23

D. Variabel penelitian Variabel adalah ukuran ciri yang dimiliki oleh anggota suatu kelompok (orang, benda, situasi) yang berbeda dengan yang dimiliki oleh kelompok tersebut (Nursalam, 2001). Dalam penelitian ini variabelnya adalah : Variabel terikat adalah Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal.

E. Definisi Operasional Definisi operasional tersebut mencakup variabel,devinisi operasional, alat ukur, hasil ukur. Tabel 3.1 Definisi operasional Definisi Operasional Tingkat Pengetahuan Pengetahuan Ibu Ibu Post Partum Post Partum Tentang Perawatan Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Bayi Baru Lahir Normal Normal tentang: Kulit kepala,Rambut, Hidung, Telinga,Kulit badan, Tali pusat,Bokong. Variabel Alat Mengukur Diukur dengan menggunakan kuisioner yang terdiri dari 50 pertanyaan dengan alternatif jawaban benar dan salah. Hasil ukur Skor > (76% -100%) : baik Skor > (56% -75%) : cukup Skor > (56%) : kurang

Data Yang Diperlukan 1. Data Primer Adalah data yang diperoleh langsung dari responden tentang Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kebumen. 24

2. Data Internal / data sekunder Data Internal penelitian ini diperoleh dari : Rekam Medik, dan bangsal perawatan.

F. Alat dan metode pengumpulan data Penelitian ini menggunakan kuesioner dan lembar observasi (chek list). Cara Pengukuran yaitu : Pengukuran Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kebumen. Jawaban ada dua alternatif yaitu ya dan tidak. Penilaian diberi skor 0 bila salah dan tidak sesuai dengan kunci jawaban, nilai 1 bila benar dan sesuai dengan kunci jawaban. Untuk pertanyaan tingkat pengetahuan ibu post partum terdapat 15 Soal .Penilaian diberi skor 0 bila salah dan nilai 1 bila benar. Tabel 3.2 Kisi-kisi Kuisioner Penelitian No 1. Variable Tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayii baru lahir normal Sub Variable a. Tingkat pengetahuan ibu post partum b. Perawatan kulit kepala c. Perawatan rambut d. Perawatan hidung e. Perawatan telinga f. Perawatan kulit badan g. Perawatan tali pusat h. Perawatan bokong. 25 Nomor Pertanyaan 1,2,3,4,5,6,7,8, 9,10,11,12,13, 14,15 1,2,3,4,5,6 1,2,3,4,5 1,2,3,4,5 1,2 1,2,3,4,5,6 1,2,3,4,5 1,2,3,4,5,6 Jumlah Pertanyaan 15 6 5 5 2 6 5 6

Jumlah Pertanyaan G. Teknik pengumpulan data

50

Untuk memperoleh data Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kebumen. Dilakukan dengan cara memberikan kuesioner pada responden tentang tingkat pengetahuan Ibu Post Partum dan perawatan Bayi Baru Lahir Normal.

H. Uji Validitas dan Reliabilitas Sebelum diberikan kepada responden, kuesioner dilakukan uji coba terlebih dahulu. Uji coba dilakukan terhadap responden yang mempunyai karakteristik hampir sama dengan responden penelitian, yaitu ibu post partum di Rumah Sakit lain yaitu di Puskesmas Wero Gombong. Pada tgl 30 juli 2009 Kuesioner yang valid dari hasil uji coba akan digunakan sebagai Kuesioner saat pengambilan data. Analisis terhadap hasil uji coba validitas dengan menggunakan bantuan komputer, menggunakan korelasi product moment (Arikunto, 2002). Dari hasil uji validitas didapatkan hasil dari 35 pertanyaan memiliki r hitung antara 0,497 0,770 dimana r hitung > dari r tabel dengan n = 20, yaitu 0,444 ini berarti 35 pertanyaan tersebut dinyatakan valit, sehingga dalam penelitian 35 pertanyaan dari masing-masing sub variable digunakan semua dalam penelitian ini. Sedangkan Uji reliabilitas menggunakan Alpha Cronbarh (Arikunto., 2002).Berdasarkan hasil uji realibilitas didapatkan Nilai Alpha > 0,7, maka semua koesioner dinyatakan reliabel. 26

I. Tata urutan kerja 1. Tahap persiapan a. Penyusunan proposal b. Penyusunan jadwal kegiatan c. Mengurus perijinan pada instansi terkait 2. Tahap Pelaksanaan a. Memberitahu inform consent kepada responden b. Menyebarkan koesioner kepada responden c. Mengumpulkan data dan jawaban koesioner d. Melakukan editing , cording , scoring , tabulating, e. Menganalisis data 3. Tahap Akhir a. Membuat laporan dan hasil penelitian b. Melakukan seminar hasil penilitian

I.

Analisa Data Data dianalisis dengan menggunakan teknik statistik deskriptif yaitu mendeskripsikan atau memaparkan hasil penelitian yang disajikan dengan frekwensi mutlak dan frekwensi relatif (persentase). Data yang digunakan adalah data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari subyek dan data sekunder yaitu data yang diperoleh tidak langsung dari subyek. 27

Pengukuran

data mengggunakan

skala

ordinal yaitu : bila

jawabannya benar (B) maka diberi nilai (1), bila jawabannya salah (S) maka diberi nilai (0). Penilaian hasil dilakukan dengan menghitung persentase dari tiap jawaban kemudian menentukan setiap kedudukan kategori dengan

menggunakan pedoman yang dikemukakan oleh Nur salam (2003) sebagai berikut :
1.

76 - 100 % : Termasuk pengetahuan baik. 56 75 % : Termasuk pengetahuan cukup. (< 56%) : Termasuk pengetahuan kurang

2.

3.

Cara menghitung menggunakan persentase dengan rumus :


X= F x100% N

X=

F x100% N

Keterangan : X = hasil prosentase N = total seluruh frekwensi F = frekuensi / hasil pencapaian

28

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Penelitian tentang Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di bangsal Bougenvile di RSUD Kebumen dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen mulai tanggal 1 Agustus sampai tanggal 25 Agustus 2009 dengan jumlah responden sebanyak 76 orang. A. Hasil Penelitian Hasil Penelitian tentang Gambaran Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di Bangsal Bougenvile di RSUD Kebumen dilakukan di Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Kebumen, penulis sampaikan dalam bentuk tabel-tabel berikut: Tabel 4.1 Distribusi frekuensi tentang Umur Ibu pada tingkat pengetahuan ibu post partum pada perawatan bayi baru lahir normal. Di RSUD Kebumen,tahun 2009 (n : 76). No Kelompok Umur Jumlah Persentase ( % ) 34,2 50,0 15,8 100,0

1 2 3

15 s/d 24 tahun 25 s/d 34 tahun 35 s/d 49 tahun Total

26 38 12 76

Dari hasil data statistik pada tabel 4.1 tentang Umur Ibu pada Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal Di 29

Bangsal Bougenvile Di RSUD Kebumen. Menunjukan bahwa mayoritas pada usia 25 34 tahun sejumlah 38 orang ( 50,0 % ). Sedangkan lainnya Usia 15 24 tahun sejumlah 26 orang (34,2%) dan usia 35 49 tahun sejumlah 12 orang (15,8%)

Tabel 4.2 Distribusi frekuensi tentang Pendidikan Ibu pada tingkat Pengetahuan ibu post partum pada perawatan bayi baru lahir normal Penelitian diRSUD Kebumen, tahun 2009 (n : 76). No Tingkat Pendidikan Jumlah Persentase ( % ) 18,4 81,6 0% 100,0

1 2 3

Pendidikan rendah Pendidikan menengah Pendidikan perguruan tinggi Total

14 62 0 76

Dari hasil data statistik pada tabel 4.2 tentang pendidikan ibu pada tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal di bangsal bougenvile di RSUD kebumen. Menunjukan bahwa mayoritas untuk pendidikan pada pendidikan menengah sejumlah 62 orang (81 ,6 %). Sedangkan pendidikan rendah sejumlah 14 orang (18,4%). Tabel 4.3 Distribusi frekuensi tentang Pekerjaan Ibu pada tingkat Pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal. Penelitian di RSUD Kebumen, tahun 2009 (n: 76). No Jenis Pekerjaan Jumlah Persentase ( % ) 31,6 68,4

1 2

Buruh Swasta 30

24 52

PNS Total

0 76

0% 100,0

Dari hasil data statistik pada tabel 4.3 tentang pekerjaan ibu pada tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal di bangsal bougenvile di RSUD kebumen. Menunjukan bahwa mayoritas untuk pekerja pada swasta sejumlah 52 orang ( 68 ,4 %). Sedangkan untuk pekerja pada buruh sejumlah 24 orang (31,6%). Tabel 4.4. Distribusi frekuensi tentang jumlah anak pada tingkat Pengetahuan ibu post partum pada perawatan bayi baru lahir normal.Penelitian di RSUD kebumen, tahun 2009 (n : 76). No Paritas Jumlah Persentase ( % ) 65,8 15,8 18,4 100,0

1 2 3

1,00 2,00 3,00 Total

50 12 14 76

Dari hasil data statistik pada tabel 4.4 tentang jumlah anak ibu pada tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal di bangsal bougenvile di RSUD kebumen. Menunjukan bahwa mayoritas untuk ibu post partum yang memiliki anak satu sejumlah 50 orang ( 65 ,8 %). Sedangkan ibu post partum yang memiliki anak tiga sejumlah 14 orang (18,4%) dan ibu post partum yang memiliki anak dua sejumlah 12 orang (15,8%). Tabel 4.5 Distribusi frekuensi pengetahuan ibu pada tingkat Pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal. Penelitian di RSUD Kebumen, tahun 2009 (n : 76). 31

No 1 2 3

Tingkat Pengetahuan Kurang Cukup Baik Total

Jumlah 0 37 39 76

Persentase (% ) 0 48,7 51,3 100,0

Dari hasil data statistik pada tabel 4.5 tentang pengetahuan ibu secara umum pada tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal di bangsal bougenvile di RSUD Kebumen. Menunjukan bahwa mayoritas untuk berpengatahuan baik sejumlah 39 orang ( 51,3 %). Sedangkan yang berpengetahuan cukup sejumlah 37 orang (48,7%). Tabel 4.6 Distribusi frekuensi tentang tingkat pengetahuan Ibu Mengenai Perawatan Bayi Baru Lahir Normal pada tingkat Pengetahuan ibu post partum pada perawatan bayi baru lahir normal.Penelitian di RSUD Kebumen, tahun 2009 (n : 76)
Perawatan Bayi Baru Lahir Normal Kulit Kepala Rambut Hidung Telinga Kulit Badan Tali Pusat Bokong Kurang % 3,9 5,3 0 26,3 15,8 27,6 0 Cukup % 17,1 38,2 5,3 0 28,9 53,9 14,5 Baik % 78,9 56,6 94,7 73,7 55,3 18,4 85,5 Total % 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

Berdasarkan Tabel 4.6 mengenai tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal yang paling baik adalah perawatan pada hidung menunjukkan bahwa mayoritas untuk berpengetahuan baik sejumlah 72 orang (94,7%). Sedangkan yang berpengetahuan cukup sejumlah 4 orang (5,3%).

32

B. Pembahasan Penelitian Berdasarkan hasil penelitian yang didapat dari kuesioner yang terdiri dari 50 pertanyaan mengenai pengetahuan terhadap 76 responden dapat dikemukakan hasil : 1. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kebumen. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar ibu post partum tentang perawatan bati baru lahir normal termasuk dalam kategori pengetahuan baik sebanyak 50 orang (65,8%), pengetahuan cukup sebanyak 14 orang (18,4%), pengetahuan kurang sebanyak 12 orang (15,8%). Tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal di RSUD Kebumen terbanyak adalah baik. Hal tersebut dikarenakan ibu post partum dapat memperoleh informasi tentang perawatan bayi baru lahir normal dari bidan dan sumber informasi lainnya seperti majalah, televisi, radio dan lain-lain. Seseorang yang memiliki informasi lebih banyak akan memiliki pengetahuan lebih luas. Sedangkan untuk pengetahuan kurang dikarenakan kurangnya pengetahuan ibu sehingga berdampak kurangnya wawasan dan pengetahuannya, teori lain menyebutkan bahwa pengetahuan diperoleh sebagai akibat pengaruh dari pergaulan orang lain dan lingkungannya (Soekanto, 2004). Ibu post partum yang mempunyai pengetahuan baik karena telah mendapatkan pengetahuan mengenai bayi baru lahir normal, pengetahuan 33

merupakan hasil tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. Pengindraan melalui panca indra manusia yakni indra penglihatan, pendengaran, penciuaman, raba dan rasa. Sebagian pengetahuan atau kognitif merupakan dominan yang sangat penting untuk terbentuknya tindakan seseorang (Over Behaviour). Karena dari pengalaman dan penelitian ternyata perilaku yang mendasari pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari pengetahuan (Notoatmodjo, 2003). Dari dua pendapat teori di atas dapat kita simpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal mempunyai sumber informasi yang berbeda-beda, bisa diperoleh dari informasi langsung ataupun tidak langsung seperti contoh informasi langsung yaitu dari tenaga kesehatan yang melakukan perawatan dari pergaulan maupun dari lingkungan. Sedangkan informasi tidak langsung yaitu dari majalah, televisi atau radio. Hasil penelitian mengenai tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal di RSUD Kebumen memberikan arti bahwa diharapkan dari pengetahuan yang dimiliki ibu tentang perawatan bayi baru lahir normal setelah pulang nanti dapat memberikan perawatan kepada bayinya dengan baik.

2. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kebumen Tentang Perawatan Kulit Kepala.

34

Tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan Kulit Kepala, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 60 orang (78,9 %) dari 76 responden. Cradlecrap atau kerak di kulit kepala disebabkan kulit kepala terpolusi udara dan debu. Bersihkan dengan air matang setelah diberi obat dari dokter. Tapi jangan keras-keras karena setelah diberi obat, sebenarnya nanti akan ngelotok sendiri. Boleh juga menggunakan baby oil, diamkan kira-kira 10-15 menit, lalu pijat secara lembut, dilanjutkan dengan pencucian. Tapi ingat, jangan lakukan pijatan atau pembersihan dengan keras. Jika kulit kepala sampai berdarah dan infeksi, bisa berbahaya. Sebab, ada satu peredaran darah di kepala yang menyambung dengan otak. Usahakan kulit kepala tetap sejuk dan kering, karena kerak ini akan makin parah jika kulit kepala berkeringat. Jangan kenakan topi pada bayi kecuali jika sangat diperlukan dan lepaskan topi itu setelah bayi berada di dalam rumah atau kendaraan (Astuti, 2009). Kulit adalah salah satu tibu yang paling terlihat dari kesehatan bayi dan kesejahteraan yang seharusnya diberikan perhatian yang sama dengan aspek lain dari kesehatan bayi. Untuk mencegah adanya kerak kepala, adanya : a. Cucilah kulit kepala bayi dengan sampo yang diformulasikan secara khusus agar menjadi cukup ringan dan lembut digunakan pada bayi. b. Bilaslah dengan seksama untuk menghilangkan semua sisa sampo.

35

c. Gosok kan baby oil dengan lembut pada kulit kepala bayi ibu dan biarkan beberapa saat untuk menghilangkan kulit keras, agar mudah dihilangkan (Jenny, 2006). Dari pendapat kedua teori di atas dapat kita simpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal tentang perawatan kulit kepala mempunyai kesamaan perawatan menggunakan baby oil dan mempunyai perbedaan. Bagi pendapat Astuti (2009) jika ada kerak dikepala bisa menggunakan air matang, setelah mendapat pbat dari dokter dan bisa juga tidak menggunakan obat karena nanti kerak atau kotoran akan mengelupas sendiri, dan hindari dari keringat yang terlalu banyak dan lepaskan topi jika di dalam rumah. Sedangkan menurut pendapat Jenny (2006) boleh menggunakan sampo yang diformulasikan secara khusus agar menjadi cukup ringan dan lembut digunakan pada bayi. 3. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kebumen tentang perawatan Rambut. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Perawatan Rambut, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 43 orang (56,6%) dari 76 responden. Menumbuhkan rambut bayi sebenarnya tak perlu sampo. Ia lebih menganjurkan pemakaian daun seledri sebagai perangsang. Tapi, bolehboleh saja menggunakan sampo khusus bayi dan cukup dua kali seminggu. 36

Disarankan pemakaian sampo bayi yang mengandung Pro Vitamin B5, agar rambut tetap sehat, mudah diatur, dan lebih bercahaya. "Untuk membantu pertumbuhan rambut, bisa digunakan hair lotion yang juga mengandung Pro Vitamin B5 dan Vitamin E yang memberikan kelembaban ekstra pada kulit bayi yang sensitif. Untuk bayi kecil, basahi rambutnya dengan semprotan halus atau dengan menuangkan secangkir air. Tambahkan satu-dua tetes sampo dan gosok lembut sampai berbusa. Hindari jangan sampai sampo mengenai mata. Basuh sampai bersih dengan semprotan lembut atau beberapa cangkir air. Untuk bayi yang

sudah dapat berdiri sendiri, gunakan alat khusus yang dapat melindungi mata dari aliran air dan sampo saat rambutnya dikeramasi (Astuti, 2009). Cucilah kulit kepala bayi dengan sampo yang diformulasikan secara khusus agar menjadi cukup ringan dan lembut digunakan pada bayi. Bilaslah dengan seksama untuk menghilangkan semua sisa sampo. Gosok kan baby oil dengan lembut pada kulit kepala bayi ibu dan biarkan beberapa saat untuk menghilangkan kulit keras, agar mudah dihilangkan (Jenny, 2006). Dari hasil dan pendapat kedua teori di atas dapat kita simpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal tentang perawatan rambut mempunyai kesamaan yaitu samasama menggunakan sampo.

37

4. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Hidung. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Hidung, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik, sejumlah 72 orang (94,7%) dari 76 responden. Bagian dalam hidung punya daya pembersih sendiri dan tak perlu perawatan khusus. Jika ada cairan atau kotoran yang keluar, bersihkan bagian luarnya. Jangan gunakan cotton buds, tisu yang digulung kecil atau jari Ibu untuk mengeluarkan kotoran dari dalam hidung. Ibu hanya akan mendorong kotoran itu lebih jauh ke dalam atau bahkan menggores membran pembatas hidung yang peka. Jika bayi punya banyak lendir karena pilek sehingga menghambat pernapasan, sedot keluar dengan cara mengisapnya oleh ibu secara lembut atau dengan aspirator hidung bayi. Tutup sebelah lubang hidung dengan jari, lalu isap sebelahnya. Begitu bergantian. Jangan sekali-sekali mengisap kedua lubang sekaligus, karena berbahaya. Lendir dapat naik ketelinga tengah, sehingga menimbulkan infeksi telinga tengah (Astuti, 2009). Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Hidung, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik. Memberikan arti bahwa diharapkan dari pengetahuan yang dimiliki ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal tentang perawatan Hidung setelah pulang nanti dapat memberikan perawatan kepada bayinya dengan baik. Hal tersebut dapat 38

diasumsikan dengan adanya pengetahuan Perawatan Bayi Baru Lahir Normal tentang perawatan Hidung yang baik merupakan stimuli yang baik juga bagi perilaku ibu untuk merawat bayinya, sehingga kesehatan hidung bayi akan terjaga. (Notoatmodjo, 2005). Dari hasil dan pendapat kedua teori di atas dapat kita simpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal tentang perawatan hidung sama-sama mempunyai perawatan yang bail, bisa menggunakan tisu yang digulung kecil atau jika banyak lendir karena pilek sehingga menghambat pernapasan sedot keluar dengan cara menghisapnya oleh ibu secara lembut atau dengan aspirator hidung bayi. 5. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kebumen tentang perawatan Telinga. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Telinga, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 56 orang (73,7%) dari 76 responden. Seperti hidung, bagian dalam telinga juga tak boleh dibersihkan. Ibu boleh membersihkan jika kotoran itu sudah mencapai "pintu" keluar atau setelah melewati "tikungan" di dalam liang telinga luar. Gunakan cotton buds yang diberi air hangat agar kotoran jadi lebih lunak, sehingga mudah dikeluarkan. Minta pertolongan dokter untuk membersihkan kotoran yang berada di dalam telinga dan keras. Sementara daun telinga 39

dapat dibersihkan tiap kali memandikan bayi. Gunakan cotton buds atau kapas yang dibasahi air hangat. Lakukan secara lembut (Astuti, 2009). Notoatmodjo (2005) pengetahuan juga merupakan proses kognitif dari seseorang atau individu untuk memberi arti terhadap lingkungan, sehingga masing-masing individu akan memberikan arti sendiri-sendiri terhadap stimuli yang diterimanya meskipun stimuli itu sama.

Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk mengubah perilaku seseorang yang disengaja. Menurut Dekdiknas (2003) bahwa pengetahuan dapat diperoleh pendidikan informal yaitu pendidikan keluarga dan lingkungan. Informasi tentang perawatan bayi baru lahir normal bisa dapat didapatkan dari informasi yang diberikan oleh anggota keluarga yang sudah

berpengalaman atau sebelumnya pernah mengalami hal tersebut dan dari lingkungan tempat tinggal responden, misalnya tetangga yang pernah mengalami hal tersebut. Dari hasil dan pendapat masing-masing teori di atas dapat kita simpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal tentang perawatan telinga mempunyai kesamaan perawatan yang baik yaitu dengan menggunakan cotton buds yang diberi air hangat agar kotoran menjadi lunak sehingga mudah dikeluarkan.

6. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Kulit. 40

Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Kulit, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 42 orang (55,3%) dari 76 responden. Kulit manusia harus dibersihkan, karena merupakan "makanan empuk" bagi kuman-kuman kulit. Bayi baru lahir minimal dimandikan sehari sekali karena ia belum tahan dingin. Entah dengan cara berendam di bak mandi atau dilap dengan waslap basah yang sudah diberi sabun bayi. "Pilih yang mengandung Pro Vitamin B5. Ini berguna untuk merawat kesehatan kulit, memberi rasa nyaman, dan menjaga kulit tetap halus. Agar kulit tetap lembab dan terhindar dari kekeringan, dianjurkan pemakaian baby oil yang mengandung Vitamin E. "Vitamin ini juga bermanfaat untuk membuat kulit tetap halus, lembut, dan terhindar dari lecet. Untuk mencegah munculnya biang keringat, atur temperatur

ruangan/kamar bayi senyaman mungkin. Jangan sampai bayi kepanasan. Jika tak punya AC, ventilasi kamar harus baik. Untuk mengatasi biang keringat, cukup diberi bedak khusus bayi. "Gunakan bedak bayi yang mengandung Pro Vitamin B5, agar kulit si kecil tetap halus dan lembut," Lalu, pada jam-jam yang banyak mengeluarkan keringat seperti siang hari, lap bagian tubuh yang banyak keringat dengan kapas yang dibasahi air hangat atau tisu basah non-alkohol. Lakukan sesering mungkin pada bayi yang banyak biang keringat, terutama di daerah-daerah lipatan. (Astuti, 2009). 41

Kulit adalah salah satu tibu yang paling terlihat dari kesehatan bayi dan kesejahteraan yang seharusnya diberikan perhatian yang sama dengan aspek lain dari kesehatan bayi. Sehingga pada waktu bayi baru lahir bayi belum mampu mengatur suhu badannya atau kulitnya dan membutuhkan pengaturan dari luar untuk membuatnya tetap hangat. Bayi baru lahir agar suhu kulit atau tubuh bayi merupakan tolak ukur kebutuhan akan tempat tidur yang hangat sampai suhu tubuhnya setabil (Sarwono, 2002). Dari hasil dan pendapat kedua teori di atas dapat kita simpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal tentang perawatan kulit mempunyai pendapat yang baik tapi mempunyai perbedaan. Menurut Astuti (2009) yaitu mengenai perawatan kulit yang secara langsung yaitu untuk mencegah biang keringat, bagaimana cara memandikan karena belum tahan dingin, sedangkan menurut Sarwono (2009) yaitu bagaimana caranya mengatur suhu kulit bayi agar tetap hangat.

7. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Talipusat. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Talipusat, secara mayoritas mempunyai pengetahuan cukup dan baik sejumlah 55 orang (72,3 %) dari 76 responden. 42

Perawatan tali pusat pada bayi baru lahir harus diperhatikan betul, sebab daerah ini mudah sekali terkena infeksi. Libatkan pangkal tali pusat dengan kasa steril yang dibasahi alkohol 70 persen. Ingat, pangkal tali pusat harus tertutup rapat. Lakukan dua kali sehari. Jaga agar kasa steril senantiasa lembab. Jika tali pusat yang belum putus tak sengaja terkena air saat bayi dimandikan, keringkan dengan cotton buds atau kasa steril, lalu beri alkohol 70 persen.. Jangan bubuhi ramuan apa pun pada pangkal tali pusat. Cukup alkohol 70 persen, karena tak mengandung zat-zat racun yang bisa diserap tubuh bayi. Selain itu, alkohol dapat membunuh kuman dan mengeringkan pangkal tali pusat, sehingga pangkal tali pusat menciut dan akhirnya puput atau putus. Umumnya, tali pusat akan putus antara 1-2 minggu setelah kelahiran, tapi bisa juga terjadi lebih dini atau lebih lambat (Astuti, 2009). Tali pusat pada umumnya akan puput pada waktu bayi berumur 6 7 hari. Bila tali pusat belum puput (lepas) maka setiap sesudah mandi tali pusat harus selalu dibersihkan dan dikeringkan. Caranya adalah dengan membersihkan pangkal tali pusat yang ada di perut bayi dan daerah sekitarnya dengan kain kasa yang dibasahi dengan zat antiseptik (betadin, alkohol 70%, dan lain-lain), yang paling penting adalah membersihkan lipatan tali pusat dari perut. Lipatan ini dapat dibersihkan dengan menarik sedikit tali pusat ke atas, samping, depan, ke bawah kulit 2,5 cm sekitar tali pusat. Selanjutnya pangkal tali pusat dan tali pusat ditutup dengan kain kasa yang bersih / steril dan diplester. Pemakain gurita tidak dianjurkan oleh karena bayi bernapas abdominal-torakal. (Wiknjosastro, 2002) 43

Dari hasil dan pendapat kedua teori di atas dapat kita simpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal tentang perawatan tali pusat mempuyai pendapat perawatan yang sama yaitu sama sama menggunakan alkohol.dan perbedaanya yaitu jika Winkjosastro, 2002. selain memakai alkohol juga memakai betadine. 8. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Perawatan Bokong. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Perawatan Bokong, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 65 orang (85,5 %) dari 76 responden . Area ini mudah terkena masalah, karena sering berkontak dengan popok basah dan terkena macam-macam iritasi dari bahan kimia serta mikroorganisme penyebab infeksi air kemih/tinja, maupun gesekan dengan popok atau baju. Biasanya akan timbul gatal-gatal dan merah di sekitar bokong. Meski tak semua bayi mengalaminya, tapi pada beberapa bayi, gatal-gatal dan merah di bokong cenderung berulang timbul. Tindak pencegahan yang penting ialah mempertahankan area ini tetap kering dan bersih. (Astuti, 2009). Pantat atau bokong bayi dibersihkan dengan air steril atau air bersih kemudian keringkan.bila pantat selalu basah,kemungkinan lecet dan terjadi infeksi (Wiknjosastro,2002). 44

Dari hasil dan pendapat teori di atas dapat disimpulkan bahwa tingkat pengetahuan ibu post partum tentang perawatan bayi baru lahir normal pada perawatan bokong mempunyai pendapat yang sama yaitu mengatakan bahwa area ini mudah terkena masalah apalagi jika bokong tersebut sering terkena basah oleh popok yang terkena air kemih atau kotoran tinja. Karena akan cepat timbul gatal-gatal merah, lecet dan terjadi infeksi. Tindak pencegahan yang penting ialah mempertahankan area ini tetap kering dan bersih. 9. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah (67,1%) dari 76 responden atau 51 orang. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik. Memberikan arti bahwa diharapkan dari pengetahuan yang dimiliki ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir Normal setelah pulang nanti dapat memberikan perawatan kepada bayinya dengan baik. Hal tersebut dapat diasumsikan dengan adanya pengetahuan Perawatan Bayi Baru Lahir Normal yang baik merupakan stimuli yang baik juga bagi perilaku ibu untuk merawat bayinya, sehingga kesehatan bayi akan terjaga dengan baik. (Notoatmodjo, 2005). Menurut Notoadmodjo pengetahuan juga merupakan proses kognitif dari seseorang atau individu untuk memberi arti terhadap 45

lingkungan, sehingga masing-masing individu akan memberikan arti sendiri-sendiri terhadap stimuli yang diterimanya meskipun stimuli itu sama. Pengetahuan merupakan aspek pokok untuk mengubah perilaku seseorang yang disengaja. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh data bahwa perawatan bayi baru lahir pada hidung, di dapatkan skor yang paling tinggi yakni (94,7%). Termasuk dalam kategori baik, hal ini menunjukan bahwa mayoritas ibu post partum sudah memahami cara perawatan bayi baru lahir normal pada hidung. Bagian dalam hidung punya daya pembersih sendiri dan tak perlu perawatan khusus. Jika ada cairan atau kotoran yang keluar, bersihkan bagian luarnya. Jangan gunakan cotton buds, tisu yang digulung kecil atau jari Ibu untuk mengeluarkan kotoran dari dalam hidung. Ibu hanya akan mendorong kotoran itu lebih jauh ke dalam atau bahkan menggores membran pembatas hidung yang peka. Jika bayi punya banyak lendir karena pilek sehingga menghambat pernapasan, sedot keluar dengan cara mengisapnya oleh ibu secara lembut atau dengan aspirator hidung bayi. Tutup sebelah lubang hidung dengan jari, lalu isap sebelahnya. Begitu bergantian. Jangan sekali-sekali mengisap kedua lubang sekaligus, karena berbahaya. Lendir dapat naik ke telinga tengah, sehingga menimbulkan infeksi telinga tengah (Astuti, 2009).

C. Keterbatasan penelitian 1. Penelitian ini hanya menggunakan metode deskriptif dan belum sampai pada metode analitik 46

2. Pada penelitian ini hanya membahas masing-masing subvariabel dan karakteristik responden

47

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan 1. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Pengetahuan ibu secara umum pada Perawatan Bayi Baru Lahir Normal di RSUD Kabupaten Kebumen, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 39 orang (51,3%) dari 76 responden. 2. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Kulit Kepala, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 60 orang (78,9%) dari 76 responden. 3. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Rambut, secara

mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 43 orang (56,6%) dari 76 responden. 4. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Hidung, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik, sejumlah 72 orang (94,7%) dari 76 responden. 5. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Telinga, secara

48

mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 56 orang (73,7%) dari 76 responden. 6. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Kulit Badan, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 42 0rang (55,3%) dari 76 responden. 7. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Talipusat, secara mayoritas mempunyai pengetahuan cukup dan baik sejumlah 55 orang (72,3%) dari 76 responden. 8. Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen tentang perawatan Perawatan Bokong, secara mayoritas mempunyai pengetahuan baik sejumlah 65 orang (85,5%) dari 76 responden. Kesimpulannya Tingkat Pengetahuan Ibu Post Partum yang paling baik secara mayoritas pada perawatan hidung pada Bayi Baru Lahir di RSUD Kabupaten Kebumen, karena mempunyai pengetahuan baik sejumlah 72 orang (94,7%) dari 76 responden.

B. Saran Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, saran yang dapat diberikan: 1. Bagi RSUD Kebumen

49

Meningkatkan kualitas pendidikan kesehatan Tentang Perawatan Bayi Baru Lahir bagi ibu-ibu sebelum post partum, atau saat menunggu kelahiran bayi. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan

baru.Sehingga akan lebih meningkatkan lagi pengetahuan ibu tentang Perawatan Bayi Baru Lahir. 2. Bagi ibu post partum Dianjurkan selalu meningkatkan pengetahuan tentang perawatan bayi baru normal dengan cara bertanya kepada petugas kesehatan, teman, kerabat, membaca buku atau mendengarkan melihat melalui media elektronik. 3. Bagi Peneliti Agar dapat mengembangkan penelitian ini dengan judul evaluasi perawatan bayi baru lahir normal di rumah sakit dan menerapkan pada praktik lapangan sesuai dengan prosedur rumah sakit setempat.

50