Anda di halaman 1dari 10

Makalah Pribadi Neuroscience PBL 2 semester 2

Caesar Rio Julyanto 10.2009.259 Kelompok C2

Fakultas Kedokteran UKRIDA

Bab 1 Pendahuluan

Latar Belakang Yang melatar belakangi pembuatan makalah ini adalah sebagai pemenuhan dari tugas belajar mandiri pada kegiatan Problem Based Learning yang diadakan pada fakultas kedokteran sebagai bagian dari proses belajar di dalam kurikulum KBK saat ini. Pada makalah kali ini, saya akan memaparkan Dasar Biologi Sel, sesuai dengan bahan kuliah pada modul kali ini, dan juga sesuai dengan hasil belajar mandiri yang telah saya lakukan berkaitan dengan kasus (scenario) pada kegiatan PBL kali ini.

Tujuan Adapun tujuan dari kegiatan PBL ini ialah untuk melatih mahasiswa berpikir kritis dan analitis. Dalam kegiatan ini, mahasiswa dituntut untuk terus berpartisipasi aktif,

menyumbangkan pikiran untuk kemajuan bersama. Dengan PBL, mahasiswa belajar dihadapkan pada kasus-kasus, dan bersama dengan pembahasan tersebut mahasiswa harus berpikir kritis dan luas melengkapi segala teori yang telah diberikan. Skenario kali ini ialah berkaitan dengan Sistem Saraf, dan diharapkan dapat membuat mahasiswa lebih mudah untuk mengembangkan ilmu pengetahuannya tentng neuroscience tersebut.. Pelajaran yang diberikan juga merupakan salah satu dasar ilmu kedokteran, dengan mempelajari system saraf, dan berbagai pelajaran lain.

Bab 2 Isi

Neuroscience atau ilmu mengenai system saraf merupakan suatu topic pembelajaran penting dalam dunia kedokteran dan merupakan salah satu system yang terpenting dalam kehidupan manusia. Saraf merupakan benda yang mengatur seluruh kegiatan dan system badan. Lebih tepatnya dapat dikatakan bersama system endokrin, system saraf menjadi system control utama bagi tubuh, untuk mengatur berbagai aktivitas tubuh yang bertujuan untuk mempertahankan keseimbangan (homeostasis).1 Dalam mempelajari ilmu (system) saraf, anggapan bahwa tidak sulit untuk memahami struktur serta fungsinya ialah tidak mendasar sama sekali. Justru dalam neuroscience, mahasiswa sering mengalami kesulitan dalam memahaminya. Hal ini dapat dimengerti karena perkembangan SSP manusia adalah yang paling sempurna dari pada makhluk lain jika kita membandingkan berbagai organ serta system lain dengan SSP. Sebelum membahas tentang system saraf, kita harus mengkaji terlebih dahulu mengenai neuron itu sendiri. Saraf merupakan sebuah sel saraf sebelum bergabung dalam sebuah system yang berbentuk seperti rantai atau kabel. Setiap sel saraf tersebut dikhususkan untuk menyalurkan impuls. Dengan menyalurkan impuls itulah neuron bekerja. Sel saraf tidak mampu membiak, metabolismenya rendah. Karena itu para ahli menyebutkan bahwa barangkali di seluruh tubuh hanya sel saraf yang paling rumit dan memerlukan lingkungan yang konstan.2 Sel saraf terdiri dari sebuah badan sel yang mengandung nucleus, dan dalam sitoplasmanya terdapat organela-organela yang antara lain ialah substansia Nissl, suatu zat berbulir-bulir yang dapat mnenyerap warna dasar (biru). Dari tepi badan sel tersebut, neuron memiliki juluran, yang umumnya terdiri dari sebuah akson dan beberapa dendrite. Seperti disebut diatas bahwa mekanisme akson ialah menghantarkan impuls, maka akan dibahas ketika

saraf mendapatkan stimulus dari luar, maka neuron akan tereksitasi sehingga merubah stimulus yang masuk menjadi listrik atau impuls yang kemudian akan dihantarkan sepanjang saraf. Dengan demikian timbul potensial aksi melalui penghantaran impuls tersebut. Hal tersebut yang harus dapat dipahami sebelum kita harus membicarakan tentang penghantaran impuls tersebut dari sel saraf ke sel saraf yang lain. Neuron dalam mekanisme kerjanya menerima impuls yang diberikan melalui dendrite lalu setelah diproses di badan sel, dan melewati akson Hillock atau yang kita sebut trigger zone maka setelah itu impuls akan diteruskan dalam bentuk potensial aksi yang menhikuti hokum all or none melewati akson.3 Di ujung akson yaitu terminal akson yang berisi vesikel tempat penyimpanan zat-zat kimiawi yakni neurotransmitter yang diproduksi di badan sel. Dari situ potensial aksi dari akson akan diteruskan ke dendrite neuron yang lain melalui sinaps. Pada sinaps itu, neurotransmitter akan dilepaskan dari vesikelnya. Pada proses fisiologis tersebut, juga terjadi proses biolistrik yang melibatkan serangkaian ion-ion dalam tubuh manusia. Ketika membrane sel dalam keadaan istirahat kita dapati potensial membrane (-70 mV) istirahat lalu kemudian seiring diberikannya impuls dan awal tercetusnya potensial aksi pada akson Hillock, maka akan terjadi perubahan voltasi, lalu pergerakan ion-ion dimulai disini, ion Na+ yang memiliki pintu bersifat voltage gater akan masuk sampai potensial membrane mencapai firing level atau intensitas ambang (-55 mV), sampai puncak lalu akan terjadi pembalikan muatan. Peristiwaa ini disebut depolarisasi. Setelah itu untuk mengimbangi jumlah muatan maka ion K+ akan masuk kedalam sel dan peristiwa ini merupakan repolarisasi. Dengan demikian, selesailah mekanisme biolistrik dari sel saraf yang berkesinambungan dengan proses hantaran potensial aksi dalam rangka menyampaikan atau meneruskan impuls dalam system saraf. Proses tersebut terus berlanjut seperti sebuah siklus sepanjang rantai system saraf.1

Neurotransmiter merupakan zat kimia di dalam otak yang berfungsi membawa pesan antar sel saraf. Zat-zat pembawa pesan ini diproduksi di dalam sel-sel saraf yang ada di otak, ketika pesan dari otak harus ditransmisikan ke bagian-bagian lain. Hampir seluruh kegiatan otak memanfaatkan neurotransmiter untuk menyampaikan pesan. Dengan membahas struktur dan fungsi otak ini, kita memperoleh suatu gambaran bahwa ternyata fungsi kehidupan manusia dikendalikan oleh jaringan lunak yang berada di dalam kepala itu. Otak bagaikan pusat pemerintahan yang mengendalikan seluruh wilayah yang menjadi otoritasnya. Selain lewat sinyal-sinyal listrik, otak memerintah organ-organ dengan menggunakan neurotransmiter. Ini adalah zat kimiawi pembawa pesan. Neurotransmiter ini diproduksi oleh sel-sel di ujung-ujung saraf otak seiring dengan sinyal-sinyal listrik yang melewatinya. Neurotransmiter itu kemudian dilepaskan menuju sel-sel sebelahnya, diterima oleh zat lain yang disebut reseptor (penerima).Jika reseptornya cocok dengan neurotransmiter, maka proses mengalirnya pesan itu akan berlanjut sampai ke organ yang dituju. Puluhan jenis neurotransmiter yang sudah diketahui fungsinya oleh manusia. Namun secara garis besar dikelompokkan ke dalam 3 golongan besar, yaitu: (1).kelompok asam amino seperti GABA (Asama gama-aminobutarat adalah mediator inhibisi utama dalam otak, dan merupakan transmiter dalam sinaps sistem saraf pusat) dan (2).kelompok Biogenic Amin, seperti dopamin, adrenalin, dan Glutamat. noradrenalin,

(3).kelompok peptida seperti nitrit oksida. Masing-masing neurotransmiter itu memainkan peranan yang berbeda-beda dalam menyampaikan pesan otak kepada organ-organ. Sebagai contoh, kalau suatu ketika anda sedang cemas atau marah memuncak, maka anda akan berkeringat dingin, jantung berdenyut lebih

kencang berdebar-debar, dan kadang badan terasa lemas. Ini adalah efek dari dilepaskannya adrenalin atas perintah otak. Adrenalin disebut juga epinefrin. Atau jika anda sedang gembira, maka perasaan gembira itu itu dipicu oleh lepasnya neurotransmiter bernama enkefalin.4 Proses listrik yang terurai diatas terorganisasi menjadi Sistem Saraf Pusat dan Sistem Saraf Tepi. Dari struktur saraf yang terintegrasi tersebut akan dibagi berdasarkan perbedaan fungsi, struktur, serta lokasi system saraf tersebut, dan itulah yang menjadikannya sangat rumit dalam mempelajarinya. SSP terdiri dari otak dan korda spinalis, dan SST merupakan serabutserabut saraf yang membawa pesan informasi listrik dari sentral dengan bagian tubuh perifer. Saraf tepi ini merupakan saraf yang berhubungan dengan pusat maka dibagi menjadi serabut afferent yang membawa informasi ke pusat, serta efferent yang membawa instruksi dari pusat ke efektor. Neuron efferent ini yang akan membuat otot atau kelenjar bekerja, maka dapat dibagi menjadi system saraf somatic dan system saraf otonom. Neuron somatic yang mempersarafi tubuh, lebih spesifik adalah otot rangka karena terdiri dari neuron motorik. Sistem saraf ini bekerja secara disadari, dan system saraf autonom akan banyak dibahas pada makalah ini karena sesuai dengan kasus pada scenario yang diberikan. Sesuai dengan scenario yang diberikan, berkaitan tentang Sistem Saraf Otonom. Ini adalah scenario dalam kasus: Seorang laki-laki 40 tahun datang ke klinik dengan keluhan berdebar sejak seminggu yang lalu. Dalam anamnesa ternyata terjadi kebakaran pada rumah tetangganya seminggu yang lalu yang juga membakar pagar rumahnya. Saat ini pada pemeriksaan fisik, nadi 100 kali/menit, suhu badan 36,5%, tekanan darah 140/90 mmHg. Sistem saraf otonom sesuai dengan namanya otonomi mempersarafi secara bebas tanpa control dari kesadaran. Saraf ini bekerja pada otot polos (pada organ visceral) dan otot jantung serta kelenjar. Sistem saraf otonom ini bekerja sesuai dengan keadaan tubuh yang diinformasikan

oleh reeseptor-reseptor, lebih tepatnya visceroseptor. Setelah diterima reseptor, pengendalian otonom akan masuk dan diatur oleh hipotalamus sebagai pengatur keseimbangan cairan, suhu, dan makan, Pons sebagai pengatur kardiovaskuler, respirasi, serta Medula Oblongata yang mengatur respirasi pula. Dalam mengendalikan tubuh menjalankan fungsinya, SSO ini diklasifikasikan atau memiliki dua jenis cabang yang bersifat antagonis dalam kerjanya. Saraf Simpatis dan saraf parasimpatis. Saraf simpatis umumnya bersifat menggiatkan maka bekerja dominan untuk kebutuhan yang emergency dan cenderung bersifat energik. Saraf parasimpatis dalam bekerja cenderung bersifat menghambat pada umumnya sehingga lebih mudah disebut sebagai mempertahankan fungsi kehidupan. Secara anatomi yang membedakan system saraf otonom dengan somatic ialah ganglion, ketika pada saraf somatic akson terus menuju tempat sinaps maka pada neuron otonom ini, ada sebuah ganglion sebelum tempat sinaps dengan reseptor pada otot ataupun kelenjar (efektor) sehingga menjadikan adanya neuron preganglion dan pascaganglion. Perbedaan anatomis kedua jenis saraf otonom tersebut ialah pada saraf simpatis, ganglion dekat dengan SSP, sehingga neuron praganglion akan lebih pendek dengan pascaganglion. Sebaliknya posisi ganglion untuk parasimpatis neuron. Ganglion sendiri sebenarnya ialah kumpulan sinaps.5 Neurotransmitter pada kedua cabang antagonis SSO ini juga jelas berbeda, pada saraf simpatis yang banyak bekerja ialah adrenalin atau noradrenalin karena sesuai dengan fungsinya dalam mekanisme fight or flight, serta pada saraf parasimpatis ada Asetilkolin, dan masih banyak yang lain.6 Kita melihat bahwa dalam scenario yang diberikan terjadi goncangan berupa kebakaran. Hal itu merupakan impuls terjadinya rasa berdebar, meskipun telah berlangsung cukup lama. Berarti masih ada proses emosi yang terkait dalam diri orang tersebut. Dalam hal ini,

sistemLimbik memainkan peranan penting. System ini terdiri dari beberapa bagian masingmasing dari serebrum, basal ganglia, thalamus, dan hipotalamus. Konsep emosi, dikaitkan pula dengan tampilan luar yang menunjukan secara nyata emosi tersebut, serta pola perilaku masingmasing individu dipengaruhi oleh system limbic. Bukti bahwa system limbic bekerja pada tingkat emosi ialah bahwa stimulasi daerah-daerah limbic selama proses pembedahan otak telah menimbulkan sensasi subjektif yang abstrak seperti kepuasan, rasa senang dan lain sebagainya pada pasien.1 Ketika stimuli diberikan, misalnya pada rasa takut dalam kasus kebakaran diatas atau pada saat-saat yang memerlukan kegiatan energik, saraf simpatis akan menggiatkan kerjanya dan mengeluarkan self stimulation neurotransmitter.7 Kerja saraf tersebut bekerja merespon kondisi luar yang memerlukan kerja energik maka ia akan melebarkan pupil misalnya. Setelah itu untuk mencukupi supply oksigen akan terjadi vasodilatasi. Dalam hal ini perlu dibahas suatu kelenjar endokrin, medulla adrenal. Kelenjar ini merupakan modifikasi dari saraf simpatis. Medula adrenal akan mensekresikan hormone ke dalam darah yakni epinefrin yang akan memperkuat kerja saraf simpatis. Pada prinsipnya, ketika reseptor menerima neurotransmitter yang bersifat andregenik, maka akan terjadi pengambilan oksigen, peningkatan denyut jantung dan menimbulkan berdebar.8

Bab 3 Penutup

Sesuai dengan kehidupan yang tidak statis maka tubuh memberikan respons tentang kondisi luar. Respons tersebut bekerja dipersarafi oleh saraf-saraf motorik. Dalam pengendalian organ-organ yang kerjanya tanpa disadari, Sistem Saraf Otonom yang mengambil alih pengaturan fungsi tubuh dengan mekanisme menggiatkan dan menghambat. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

Daftar Pustaka

1. Sherwood L. Fisiologi manusia dari sel ke sistem. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001. 2. Sidharta P, Mardjono M. Neurologi klinis dasar. Jakarta: Penerbit PT Dian Rakyat; 1978 3. Guyton & Hall. Buku ajar fisiologi kedokteran.9th ed. Jakarta:EGC,1999. 4. Murray R, Granner D, Rodwell V. Biokimia Harper; alih bahasa, Brahm U. Pendit; Ed.27. Jakarta: EGC; 2009. 5. Kindangen, Winami W, Indriani, Erma M, Ruminanti F, Winarsi. Modul blok 6. Jakarta: FK UKRIDA; 2010. 6. Ganong W, Review of medical physiology. 21st ed. New York. Lange Medical Books.2003. Section II Physiology of nerve & muscle cells. 5. Initation of impulses in sense organs. 7. Budiman G and Darmawan G. Basic neuroanatomi pathway. Second edition. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2009. 8. Anonim. Kenalilah rasa cemas yang tidak rasional. Diunduh dari:

http://www.ilmupsikologi.com/?p=19