Anda di halaman 1dari 9

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1.

Hasil Penelitian Hasil penelitian ini didapat dari data rekam medik Sub Bagian Alergi Imunologi Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang yang menderita penyakit Lupus Eritematosus Sistemik di bagian rawat inap RSMH Palembang dalam periode November 2010 sampai November 2012. Variabel penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, gambaran klinik LES, gambaran hematologi LES, gambaran kelainan ginjal LES serta gambaran serologi LES. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh penderita LES, sedangkan sampel penelitian adalah pasien LES yang didapat dari rekam medik Sub Bagian Alergi Imunologi Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang periode November 2010 sampai November 2012. Selama penelitian berlangsung peneliti menemukan 60 sampel penderita LES yang memenuhi kriteria penyerta. Sementara 12 sampel tidak memenuhi kriteria penyerta. Hasil penelitian disajikan dalam bentuk tabel dan deskripsi sebagai berikut. 4.1.1. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Umum Pada penelitian ini, diketahui rentang umur penderita LES terbanyak terdapat pada umur 21-29 tahun yaitu 19 sampel (31,7%) dan pada jenis kelamin perempuan yaitu 57 sampel (95,0%).

26

27

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Gambaran Umum Penderita LES Karakteristik 1. Umur 12-20 tahun 21-29 tahun 30-38 tahun 39-47 tahun Perempuan Laki-laki 18 19 15 8 57 3 30,0 31,7 25,0 13,3 95,0 5,0 Jumlah (n) Persentase (%)

2. Jenis Kelamin

Tabel 4. Distribusi Penyakit Alergi Imunologi RSMH Nov 2010-Nov 2012 Penyakit 1. LES 2. Bukan LES Total Jumlah (n) 60 371 431 Persentase (%) 13,9 86,1 100

Angka kejadian LES periode November 2010 sampai November 2012 di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang adalah 13,9%. 4.1.2. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Klinik (Kriteria ARA) Gambaran klinik tersering pada pasien LES di RSMH adalah artritis sebanyak 55 sampel (91,7%). Organ target yang lebih sering terserang adalah sel darah (kelainan hematologi) sebesar 46 sampel (82,1%), mulut sebesar 40 sampel (66,7%) dan ginjal sebesar 18 sampel (41,9%).

28

Tabel 5. Distribusi Frekuensi Gambaran Klinik Umum LES Berdasarkan Kriteria ARA Gambaran Klinik Umum Ruam Malar Ruam Diskoid Fotosensitifitas Ulkus Mulut Artritis Serositis Gangguan Ginjal Gangguan Neurologi Gangguan Hematologi Gangguan Imunologi Gangguan Titer ANA Alopesia
Ket : * ** ***

Jumlah (n) 38 13 33 40 55 10 18 8 49 19 8 32

Persentase (%) 63,3 21,7 55,0 66,7 91,7 16,7 41,9* 13,3 84,5** 31,7 88,8*** 53,3

: jumlah 43 sampel yang ada data pemeriksaan proteinuria dan silinder cast : jumlah 58 sampel yang ada data pemeriksaan hematologi : jumlah 9 sampel yang diperiksa ANA

4.1.3. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Hematologi Pada penelitian ini, ditemukan kebanyakan penderita LES mengalami anemia yaitu 54 sampel (93,1%). Jumlah sampel yang memiliki data Hb adalah 58 sampel, leukosit 57 sampel, trombosit 53 sampel, retikulosit 25 sampel, bilirubin total dan bilirubin direk masing-masing memiliki jumlah 8 sampel. Sehingga perhitungan presentase data berdasarkan jumlah masing-masing sampel. Pansitopenia adalah keadaan dimana pasien mengalami penurunan pada ketiga sel darah. Pada penelitian ini didapatkan 52 sampel yang memiliki data lengkap Hb, leukosit dan trombosit. Presentase yang didapatkan berdasarkan jumlah sampel yang ada.

29

Tabel 6. Distribusi Gambaran Hematologi Penderita LES Gambaran Laboratorium 1. Anemia Retikulosit meningkat Bilirubin direk meningkat Bilirubin total meningkat 2. Leukopenia 3. Trombositopenia 4. Bisitopenia Anemia dan leukositopenia Anemia dan trombositopenia Leukopenia dan trombositopenia 5. Pansitopenia Jumlah (n) 54 8 6 5 28 19 27 18 8 11 Persentase (%) 93,1 32,0 75,0 62,5 49,1 35,8 50,9 33,9 15,1 21,1

4.1.4. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Kelainan Ginjal Pada penelitian ini ditemukan proteinuria (+++) pada 3 sampel (7,1%) dan silinder cast pada 17 sampel (39,5%). Proteinuria negatif ditemukan pada 16 sampel (38,1%), proteinuria (+) pada 7 sampel (16,7%) serta proteinuria (++) pada 16 sampel (38,1%). Jumlah sampel yang memiliki data proteinuria adalah 42 sampel, jumlah sampel yang memiliki data silinder cast adalah 43 sampel dan jumlah sampel yang memiliki data albumin adalah 51 sampel.
Tabel 7. Distribusi Hasil Pemeriksaan Ginjal Penderita LES Gambaran Ginjal 1. Proteinuria (+++) 2. Silinder cast 3. Hipoalbuminemia Jumlah (n) 3 17 49 Persentase (%) 7,1 39,5 96,1

Keterangan : sampel bisa menderita salah satu saja, keduanya atau ketiganya

4.1.5. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Serologi Dari hasil penelitian didapatkan 8 dari 9 sampel yang memiliki ANA positif sehingga didapatkan presentasi sebesar 88,8% sedangkan Anti ds-DNA positif pada 6 dari 8 sampel sehingga didapatkan presentasi sebesar 75%.

30

Tabel 8. Distribusi Hasil Pemeriksaan Serologi Penderita LES Gambaran Serologi 1. ANA ANA positif ANA negatif ANA tidak diperiksa Anti ds-DNA positif Anti ds-DNA negatif Anti ds-DNA tidak diperiksa 8 1 51 6 2 52 13,3 1,7 85,0 10,0 3,3 86,7 Jumlah (n) Persentase (%)

2. Anti ds-DNA

4.2. Pembahasan 4.2.1. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Umum Pada hasil penelitian dapat diketahui LES paling banyak ditemukan pada wanita berusia 21-29 tahun, namun dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa kejadian LES hampir merata pada semua usia yang ditentukan oleh peneliti yaitu usia reproduksi. Hasil ini tidak jauh berbeda dari penelitian sebelumnya yang mengatakan bahwa LES lebih sering terjadi pada wanita usia reproduksi (Manson dan Rahman, 2005), begitu pula dengan penelitian di Palembang dengan rerata umur 34,05 9,78 (Susanti,2012). Hal ini disebabkan oleh faktor genetik MHC klas II dan III: HLA DR2 dan HLA DR3 (Isbagio dkk, 2006). MHC membantu pembentukan respon imun dengan mengkode protein yang berfungsi merespon antigen. MHC III mengkode komponen dari sistem komplemen yaitu sejumlah protein yang berinteraksi untuk membentuk kompleks imun yang memulai reaksi inflamasi tubuh (Hopkins,2012). Hormon berpengaruh dalam terjadinya LES, pada perempuan hormon estrogen lebih dominan sedangkan pada laki-laki hormon androgen yang lebih dominan. Hormon estrogen memperburuk LES dengan memperpanjang survival

31

sel-sel autoimun, meningkatkan produksi sitokin Th2 dan menstimulasi sel B untuk memproduksi autoantibodi (Elvidawati,2010). 4.2.2. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Klinik (Kriteria ARA) Dari hasil penelitian didapatkan sebagian besar gambaran klinik tersering pada pasien LES di RSMH Palembang adalah artritis yaitu sebanyak 55 sampel (91,7%). Hasil ini tidak jauh berbeda dengan penelitian lainnya dimana didapatkan artritis sebagai gambaran klinik tersering yaitu 188 sampel (81%) dari 231 sampel pada wanita dan 18 sampel (60%) dari 30 sampel pada pria (Font dkk, 1992). Begitu pula penelitian Perez dkk (2011) yang menyatakan gambaran klinik tersering dari LES adalah artritis (80%). Pada penelitian di Palembang juga didapatkan gejala artritis sebagai gejala tersering pada pasien LES yaitu sebesar 84,8% (Kurniati dkk, 2007). Hal ini dapat terjadi karena kompleks antigen antibodi yang membentuk kompleks imun akan mengendap di jaringan sendi. Kompleks imun akan mengaktifasi komplemen yang akan merusak jaringan sendi sehingga muncul gejala artritis. Pada penelitian ini ditemukan 40 sampel (66,7%) yang mengalami ulkus mulut. Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian di RSMH Palembang dengan penderita ulkus mulut sebesar 75,7% (Kurniati dkk, 2007). Autoantibodi akan membentuk kompleks imun yang akan mengendap di jaringan mulut. Kompleks imun tersebut akan mengaktifasi komplemen yang menimbulkan reaksi radang sehingga muncul ulkus mulut. Pada penelitian lain disebutkan bahwa gambaran klinik tersering adalah kelainan kulit (ruam malar/ruam diskoid) sebanyak 23 sampel (71,8%) (Fatoni, 2007), begitu pula dengan penelitian di RSMH yang menyatakan ruam malar sebagai gambaran klinik tersering sebesar 92,5% (Aryanti,2012). Sinar matahari merusak kulit dengan mengubah komposisi DNA superfisial sehingga regenerasi sel dalam tubuh rusak (Mardiningsih,2009). Sel kulit mengeluarkan sitokin dan prostaglandin sehingga terjadi inflamasi di tempat yang terpapar sinar matahari sehingga muncul ruam malar (Kristina,2010). Namun dari hasil penelitian ini ruam malar hanya dimiliki pada 38 sampel (63,3%).

32

Peneliti juga menghitung sampel yang mengalami alopesia atau rambut rontok yaitu 32 sampel (53,3%). Pada penelitian lainnya disebutkan bahwa alopesia masih merupakan gambaran klinik yang cukup banyak terjadi pada pasien LES yaitu sebesar 60% (Al Heresh, 2010). Walaupun tidak termasuk dalam Kriteria ARA namun rambut rontok masih cukup sering timbul sebagai gejala awal dari pasien LES. 4.2.3. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Hematologi Dari hasil penelitian didapatkan kelainan hematologi tersering pada penderita LES adalah anemia. Terdapat 54 sampel (93,1%) yang mengalami anemia. Penelitian lainnya juga menyebutkan terjadi anemia pada pasien LES (Fatoni, 2007). Anemia adalah keadaan dimana kadar Hb dibawah 12 g/dl pada perempuan dan di bawah 14 g/dl pada laki-laki. Dari penelitian didapatkan rerata kadar Hb penderita LES adalah 9,01 g/dl dimana pada penelitian sebelumnya di RSMH didapatkan rerata kadar Hb 11,30 1,64 g/dl (Susanti,2012). Anemia pada LES dapat berupa anemia hemolitik autoimun, anemia penyakit kronik dan anemia defisiensi besi (Susanti,2012). Anemia hemolitik ditandai dengan adanya peningkatan retikulosit, bilirubin direk, bilirubin total serta tes Coombs positif. Anemia hemolitik terjadi karena sel darah merah dilapisi oleh antibodi IgG yang akan pindah ke sirkulasi, terutama oleh sekuestrasi pada limpa. Sel darah merah yang dilapisi IgG dan komplemen akan difagosit oleh makrofag limpa dan sel retikuloendotelial. Akibatnya terjadi lisis sel darah merah. Sampel yang mengalami leukopenia sebesar 49,1%. Leukopenia adalah keadaan dimana kadar leukosit berada di bawah 5000 mm 3. Rerata kadar leukosit pada penelitian ini adalah 6094,74 mm3 yang tidak jauh berbeda hasilnya dengan penelitian di RSMH sebelumnya yaitu 8310 2820 mm3 (Susanti,2012). Trombositopenia terjadi pada 19 sampel (35,8%). Trombositopenia adalah keadaan dimana kadar trombosit berada dibaawah 150.000 mm3. Rerata kadar trombosit pada penelitian ini adalah 203452,83 mm3. Hal ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian di RSMH rerata kadar trombosit 266000 111000 mm 3 (Susanti,2012). Nilai rujukan hasil laboratorium yang digunakan dalam penelitian

33

ini adalah berdasarkan nilai rujukan yang digunakan dalam laboratorium Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Kerusakan sel darah akibat antigen adalah penyebab yang biasanya menimbulkan sitopenia pada LES (Giannouli, 2006). Kelainan hematologi pada LES terjadi akibat peningkatan sitokin-sitokin proinflamasi seperti IL1, IL6 dan TNF (Aryanti,2012). 4.2.4. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Kelainan Ginjal Dari hasil penelitian didapatkan sampel memiliki hasil pemeriksaan urin rutin yang tidak normal. Pada penelitian ini ditemukan proteinuria (+++) pada 3 sampel (7,1%) dan silinder cast pada 17 sampel (39,5%). Proteinuria negatif ditemukan pada 16 sampel (38,1%), proteinuria (+) pada 7 sampel (16,7%) serta proteinuria (++) pada 16 sampel (38,1%). Hasil ini tidak jauh berbeda dengan hasil penelitian di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang yaitu proteinuria negatif ditemukan pada 11 orang (47,8%), positif (+) pada 10 orang (48,5%) dan positif (++) pada 2 orang (8,7%) (Kristina,2010). Hal ini dapat terjadi karena kompleks antigen antibodi yang akan membentuk kompleks imun yang apabila mengendap lama di jaringan ginjal terutama glomerulus akan mengaktifkan komplemen. Lalu akan muncul reaksi inflamasi dan terjadi kerusakan ginjal. Protein yang awalnya bisa disaring dengan baik keluar melalui urin yang disebut proteinuria. 4.2.5. Distribusi Penderita LES Berdasarkan Gambaran Serologi Pada pemeriksaan laboratorium ini ada beberapa sampel yang tidak diperiksa, terutama pada pemeriksaan serologi (ANA), lebih dari 50% tidak diperiksa. Dari hasil penelitian ini didapatkan 88,8% sampel positif ANA dan 75% positif Anti ds-DNA. Hal ini tidak jauh berbeda dari penelitian Al Heresh (2010) yang menyatakan 95% penderita LES menunjukkan hasil pemeriksaan ANA positif serta hasil pemeriksaan positif pada Anti ds-DNA sebanyak 85%. Begitu pula dengan hasil penelitian di Rumah Sakit Dr. Mohammad Hoesin Palembang didapatkan ANA positif sebesar 87,5% (6 pasien yang

34

diperiksa) serta Anti ds-DNA positif sebesar 83,3% (8 pasien yang diperiksa) (Kurniati dkk, 2007). Sensitifitas ANA adalah 95% namun spesifisitasnya rendah sekitar 86% sedangkan sensitifitas Anti ds-DNA adalah 40-60% namun spesifisitasnya 95% untuk mendiagnosis LES (Graf,2001). Sedikitnya pasien yang diperiksa ANA dan Anti ds-DNA kemungkinan karena pemeriksaan tersebut memerlukan biaya yang mahal dan untuk menegakkan diagnosis LES diperlukan 4 dari 11 kriteria ARA. Sehingga apabila pasien tersebut sudah memenuhi kriteria maka tanpa dilakukan pemeriksaan ANA dan Anti ds-DNA diagnosis LES sudah bisa ditegakkan.