Anda di halaman 1dari 79

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA TERTINGGAL KECAMATAN PANGURURAN KABUPATEN

SAMOSIR TAHUN 2008 SKRIPSI Oleh: AGUSTARIA GINTING NIM. 061000212 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

ii FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA TERTINGGAL KECAMATAN PANGURURAN KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2008 SKRIPSI Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat Oleh: AGUSTARIA GINTING NIM. 061000212 FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2009
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

iii HALAMAN PENGESAHAN Skripsi Dengan Judul : FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA TERTINGGAL KECAMATAN PANGURURAN KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2008 Yang dipersiapkan dan dipertahankan oleh AGUSTARIA GINTING NIM. 061000212 Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi

Pada Tanggal 09 Januari 2009 dan Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima Tim Penguji Ketua Penguji Penguji I Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, MPH drh. Hiswani, M.Kes NIP. 130702002 NIP. 132084988 Penguji II Penguji III Drh. Rasmaliah, M.Kes Drs. Jemadi ,M.Kes NIP.390009523 NIP. 131996168 Medan, Maret 2009 Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara Dekan, dr. Ria Masniari Lubis, MSi NIP: 131124053 i
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

iv ABSTRAK Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit yang ditularkan melalui tanah, dengan dampak mengganggu perkembangan fisik, kecerdasan, mental, prestasi, dan menurunkan ketahanan tubuh. Hasil survei Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara di Sekolah Dasar ditemukan prevalensi kecacingan 68%. Survei Sub Program P2P dan PL Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir di 44 Sekolah Dasar ditemukan prevalensi kecacingan 25,49%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor- faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada anak SD Negeri di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Penelitian bersifat observasional analitik dengan desain cross sectional. Populasi 202 orang anak dan sampel adalah total sampling. Hasil penelitian ditemukan prevalensi kecacingan 56,40%. Prevalensi Ascaris lumbricoides 38,60%. Proporsi berdasarkan jenis infeksi campuran 47,40%. Proporsi kelompok umur 6-8 tahun 48,50%, laki-laki 57,40% dan makan obat cacing 6 bulan 81,70%. Proporsi tidak memiliki jamban 76,70%, tempat biasa pembuangan tinja di kebun 52,00%, personal higiene kategori sedang 68,30%. Proporsi Ascaris lumbricoides + Trichuris trichiura 40,70%. Derajat infestasi Ascaris lumbricoides ringan 89,74%, Trichuris trichiura ringan 100% dan Hookworm ringan 95,12%. Prevalensi kelompok umur 12 tahun 65,50%, perempuan 58,10%, dan makan obat cacing 6 bulan 68,50%. Hasil uji Chi Square Tidak ada hubungan bermakna antara faktor umur, jenis kelamin, kepemilikan jamban, tempat biasa buang air besar dengan kejadian kecacingan. Ada hubungan bermakna antara personal higiene, makan obat cacing dengan kejadian kecacingan (p < 0,05) . Kepada pihak sekolah agar senantiasa memberikan pengetahuan pentingnya personal higiene dan penyediaan sarana air bersih serta jamban untuk mencegah terjadinya infeksi kecacingan. Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir dan

Puskesmas Buhit supaya meningkatkan pembinaan dan melaksanakan program penanggulangan kecacingan yang sudah berjalan. Kata Kunci : Infeksi Kecacingan, Anak Sekolah, Desa Tertinggal iia
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

v ABSTRACT Worm Infections is one of the soil transmitted diseases that have impacted in influencing physic, intelligence, and body resistance. The results of a survey have done by the Provincial of Health of North Sumatra at Elementary schools found that 68% of the pupils have infected by worms. A survey done by the CDC and Healthy Environment at District of Health Samosir found that from 44 Elementary schools 25.49% of school children have infected by worms. This study was designed to determine the association of factors with the state of worm infection among the pupils at public elementary schools in undeveloped villages in the Sub-district of Pangururan, District of Samosir. The study was done by analytical observation using cross sectional study. Population consist of 202 children and sample is total sampling. The results of the study showed that 56.40% of the pupils were infected by worms. The proportion of Ascaris lumbricoides was 38.60%. The proportion of mixed infections was 47.40%. The proportion of infected children in the age-group of 6-8 years was 48.50%, males 57.40%, and having taken medicine against worms > 6 months was 81.70%. The proportion of them not having access to a toilet was 76.70%. The proportion of them who usually defecate in the garden is 52.00%, have moderate personal hygiene 68.30%. The proportion of Ascaris lumbricoides and Trichuris trichiura 40.70%. Have infections of Ascaris lumbricoides 89.74%, Tirchuris trichiura 100% and Hookworm 95.12%. The prevalence rate of infections in the age group of > 12 years was 65.50%, female 58.10% and having taken medicine against worms > 6 months 68.50%. The results of the Chi square test showed that no significant association between the factors of age, sex, having access to a toilet, and the place of defecation, with being infected by worms. There was a significant association between personal hygiene and having taken medicine against worms with being infected by worms (p < 0.05). Suggest to the school teachers to keep the personal hygiene of school children and to provide clean water and toilets to avoid infection by worms. The Department of Health at Samosir District and the Buhit Health Centre should have to increase their educational programs and to continue implementing their present programs in minimizing the worms infection. Keywords : Worm infection, Elementary schools children, undeveloped villages iib
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

vi DAFTAR RIWAYAT HIDUP Nama : Agustaria Ginting

Tempat/ Tanggal Lahir : Juhar, 15 Agustus 1972 Agama : Kristen Katolik Status Perkawinan : Belum Menikah Alamat Rumah : Jl. Beringin III No. 9 Helvetia Medan, Sumatera Utara Riwayat Pendidikan : 1. SD Impres No. 043944, Juhar Kab. Karo : Tahun 1979-1986 2. SLTP Negeri Juhar, Kab. Karo : Tahun 1986-1989 3. SLTA Negeri Tigabinanga, Kab. Karo : Tahun 1989-1992 4. Akademi Perawat St. Elisabet Medan : Tahun 1994-1997 5. Fakultas Kesehatan Masyarakat USU, Medan : Tahun 2006-2009 iii
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

vii KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas segala berkat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 dengan baik. Skripsi ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. Dalam Penyusunan skripsi ini, penulis mendapat banyak bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, karena itu penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Ibu dr. Ria Masniari Lubis, MSi, selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara. 2. Bapak Prof. dr. Sori Muda Sarumpaet, MPH, selaku Kepala Departemen Epidemiologi dan Pembimbing I yang telah membantu, membimbing dan mengarahkan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 3. Ibu drh. Hiswani M.kes, selaku Dosen pembimbing II yang telah membantu dan membimbing penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 4. Ibu drh. Rasmaliah M.Kes, selaku Dosen penguji I yang memberi saran dan kritik untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 5. Bapak Drs. Jemadi M.Kes, selaku Dosen penguji II yang memberi saran dan kritik untuk membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. iv
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

viii 6. Ibu dr. Halinda Sari Lubis M.KKK, selaku Pembimbing Akademik selama perkuliahan yang ikut berperan dalam menyelesaikan skripsi ini. 7. Bapak Sumihar Sinaga selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri No. 137637 Sigumbang dan Ibu Kartini Sitanggang selaku Kepala Sekolah Dasar Negeri No. 176385 Huta Tinggi Kecamatan Pangururan yang telah banyak membantu dan memberikan masukan kepada penulis untuk menyelesaikan

skripsi ini. 8. Bapak Manigor Simbolon SKM, sebagai Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir yang telah memberi dukungan dalam penelitian ini. 9. Ibu dr. Friska Situmorang sebagai Kepala Puskesmas serta Staf Puskesmas Buhit yang ikut membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini 10. Bapak Julianus Barus dan Ibu Agnes Sembiring selaku petugas laboratorium yang telah memberikan bantuan yang tak terhingga bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 11. Ibu Veronika, dr. Endang, dr. Nimpan Karo-karo, Helpi Sitanggang, Natalia Sitinjak, Riama, Novi, Dosma, Rosmani Manihuruk, Susan Lumban Tobing terima kasih atas bantuan, dukungan dan doannya. 12. Seluruh rekan-rekan mahasiswa/i di lingkungan Departemen Epidemiologi, serta seluruh pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang juga ikut berperan dalam proses penyelesaian skripsi ini. v
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

ix Teristimewa ucapan terima kasih kepada orang tua tercinta, S. Ginting dan R. br. Tarigan, yang telah melahirkan, membesarkan, mendidik penulis sejak kecil, serta Ordo dan Persaudaraan Kapusin Emmaus Helvetia yang senantiasa memberikan dukungan doa, materi, moral sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini. Penulis sadar bahwa skripsi ini masih perlu disempurnakan, maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran dari berbagai pihak yang bersifat membangun dan memperkaya materi skripsi ini. Semoga Tuhan Yang Maha Pengasih selalu menyertai dan memberkati kita semua dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi yang membutuhkannya. Medan, Januari 2009 Penulis vi
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

x DAFTAR ISI Halaman HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................... i ABSTRAK ..................................................................................................... iia ABSTRACT .................................................................................................. iib DAFTAR RIWAYAT HIDUP ...................................................................... iii KATA PENGANTAR ................................................................................... iv DAFTAR ISI .................................................................................................. vii DAFTAR TABEL ........................................................................................ x DAFTAR GAMBAR.......................................................................................... xii BAB 1 PENDAHULUAN................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang .............................................................................. 1

1.2. Perumusan Masalah ...................................................................... 5 1.3. Tujuan Penelitian .......................................................................... 5 1.3.1. Tujuan Umum ................................................................... 5 1.3.2. Tujuan Khusus .. 5 1.4. Manfaat Penelitian 7 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA .. 8 2.1. Definisi Kecacingan ................................................................... 8 2.2. Penyebab dan Morfologi ............................................................ 8 2.3. Daur Hidup ................................................................................ 12 2.4. Epidemiologi Penyakit Kecacingan ............................................ 15 2.4.1. Distribusi dan Frekuensi Penyakit Kecacingan ............... 15 2.4.2. Faktor Lingkungan ......................................................... 17 2.5. Cara Penularan ........................................................................... 19 2.6. Diagnosa ................................................................................... 20 2.7. Tanda dan Gejala ....................................................................... 20 2.8. Upaya Pencegahan ..................................................................... 20 2.8.1. Pencegahan Primer ........................................................ 20 2.8.2. Pencegahan Sekunder .................................................... 21 BAB 3 KERANGKA KONSEP .. 22 3.1. Kerangka Konsep Penelitian ...................................................... 22 3.2. Definisi Operasional ................................................................. 22 BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian .......................................................................... 26 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ...................................................... 26 4.2.1. Lokasi Penelitian ............................................................ 26 4.2.2. Waktu Penelitian ............................................................ 26 4.3. Populasi dan Sampel ..................................................................... 27 4.3.1. Populasi ............................................................................ 27 4.3.2. Sampel ............................................................................... 27 vii
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xi 4.4. Metode Pengumpulan Data ........................................................... 27 4.4.1. Data Primer ........................................................................ 27 4.4.2. Data Sekunder ................................................................... 28 4.5. Aspek Pengukuran ......................................................................... 28 4.6. Instrumen Penelitian ..................................................................... 29 4.7. Teknis Analisa Data ..................................................................... 30 BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. Data Sekunder ............................................................................ 31 5.1.1. Kondisi Geografis ........................................................... 31 5.1.2. Demografi ....................................................................... 32 5.1.2.1. Jumlah Penduduk .............................................. ... 32 5.1.2.2. Sarana Kesehatan ................. .............................. 33 5.1.2.3. Data Sepuluh Penyakit Terbesar di Puskesmas

Buhit................... .................................................. 33 5.1.2.4. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan ................ .... 34 5.2. Data Primer ................................................................................ 35 5.2.1. Prevalensi Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar ............ 35 5.2.2. Prevalensi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Pada Anak Sekolah Dasar .......................... ........... 35 5.2.3. Proporsi kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing..................................... .......................................... 36 5.2.4. Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Campuran..................................... ......................... 36 5.2.5. Karakteristik Anak Sekolah Dasar ................................... . 37 5.2.6. Lingkungan Anak Sekolah Dasar ..................................... 38 5.2.7. Kejadian Kecacingan Berdasarkan Berat Ringannya Infeksi Kecacingan ........................................................... 39 5.2.8. Analisis Hubungan Umur Dengan Kejadian Kecacingan . 40 5.2.9. Analisis Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Kecacingan ..................................................................... 41 5.2.10. Analisis Hubungan Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Kecacingan ....................................................... 42 5.2.11. Analisis Hubungan Tempat Biasa Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Kecacingan......................... .................. 43 5.2.12. Analisis Hubungan Personal Higiene Dengan Kejadian Kecacingan ...................................................... .. 44 5.2.13. Analisis Hubungan Frekuensi Makan Obat Cacing Dengan Infeksi Kecacingan ............................ .................. 45 BAB 6 PEMBAHASAN ... 46 6.1. Prevalensi Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar . ............ 46 6.2. Prevalensi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Anak Sekolah Dasar ...................................................................... 47 viii
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xii 6.3. Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing Anak Sekolah Dasar ........................................................ .. 49 6.4. Proporsi Kejadian Kecacingan berdasarkan Jenis Infeksi Cacing Campuran Anak Sekolah Dasar ................................................ .... 51 6.5. Karakteristik Anak Sekolah Dasar .............................................. 53 6.6. Lingkungan Anak Sekolah Dasar ................................................. 55 6.7. Berat Ringannya Infeksi Kecacingan Anak Sekolah Dasar ......... 59 6.8. Hubungan Umur Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar ............................. ................................................. 61 6.9. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar ......... ........................................................... 63 6.10. Hubungan Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar... .............................................. 64

6.11. Hubungan Tempat Biasa Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar .................................. 66 6.12. Hubungan Personal Higiene Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar .................................................................... 68 6.13. Hubungan Frekuensi Makan Obat Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar . .. 70 BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................. 73 7.1. Kesimpulan ................................................................................. 73 7.2. Saran .......................................................................................... 74 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 1. Kuesioner Penelitian 2. Hasil Pemeriksaan Feses Anak SD Negeri Kecamatan Pangururan 3. Master Data Hasil Penelitian 4. Hasil Output Analisis Univariat dan Bivariat 5. Surat Izin Penelitian 6. Surat Keterangan Selesai Penelitian 7. Klasifikasi Kelurahan Kecamatan Pangururan 8. Surat Keputusan Bupati Samosir 9. Jawaban Atas Pertanyaan 10. Peta Kecamatan Pangururan ix
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xiii DAFTAR TABEL Halaman Tabel 5.1. Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2007 . ........................................................................................ 32 Tabel 5.2. Jumlah Sarana Kesehatan Di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2007 . .............................................. 33 Tabel 5.3. Jenis Penyakit dan Jumlah Penderita di Puskesmas Buhit Tahun 2007. .............................................................................. 33 Tabel 5.4. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Buhit Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2007. .......... 34 Tabel 5.5. Distribusi Prevalensi Kejadian Kecacingan Pada Anak SD di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ............................................................................... 35 Tabel 5.6. Prevalensi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Pada Anak SD di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008. ............................................... 35 Tabel 5.7. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008. ............................................... 36 Tabel 5.8. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis

Infeksi Cacing Campuran Pada Anak SD di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ........... 36 Tabel 5.9. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Karakteristik di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008. ............................................... 37 Tabel 5.10. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Lingkungan di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008. ............................................... 38 Tabel 5.11. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Berat Ringannya Infeksi Cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ............................................................................... 39 x
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xiv Tabel 5.12. Tabulasi Silang Hubungan Umur Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008. ............................ 40 Tabel 5.13. Tabulasi Silang Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008. .......... 41 Tabel 5.14. Tabulasi Silang Hubungan Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008........... ............................................................................... 42 Tabel 5.15. Tabulasi Silang Hubungan Tempat Biasa Pembuang Tinja Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008.................................................................................. ........... 43 Tabel 5.16. Tabulasi Silang Hubungan Personal Higiene Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008........... ............................................................................... 44 Tabel 5.17. Tabulasi Silang Hubungan Frekuensi Makan Obat Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008.......... ..................................................................... 45 xi
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xv DAFTAR GAMBAR Halaman

Gambar 2.1. Cacing Ascaris lumbricoides Dewasa. ....................................... 9 Gambar 2.2. Ascaris lumbricoides: A. Betina; B; Jantan. .............................. 10 Gambar 2.3. Cacing Trichuris trichiura dewasa (Kiri : Betina, Kanan : Jantan)... ................................................................................... 10 Gambar 2.4. Cacing Ancylostoma duodenale Dewasa. .................................. 11 Gambar 2.5. Cacing Necator americanus Dewasa. ........................................ 12 Gambar 2.6. Siklus hidup Cacing Ascaris lumbricoides ................................ 13 Gambar 2.7. Siklus Hidup Cacing Trichuris trichiura. .................................. 14 Gambar 2.8. Siklus hidup Cacing Hookworm.. .............................................. 15 Gambar 6.1. Distribusi Prevalensi Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008..... ............................................................ 46 Gambar 6.2. Distribusi Prevalensi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ............................. 48 Gambar 6.3. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008..... ...... 50 Gambar 6.4. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Campuran Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008..... ...... 51 Gambar 6.5. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan umur di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008..... .......................................................................... 53 Gambar 6.6. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008.................. .............................. 54 Gambar 6.7. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Frekuensi Makan Obat Cacing di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008..... ........................ 55 xii
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xvi Gambar 6.8. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Kepemilikan Jamban di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008..... ........................ 56 Gambar 6.9. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Tempat Biasa Pembuangan Tinja di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ............................. 57 Gambar 6.10. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Personal Higiene di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ................................................................. 58 Gambar 6.11. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Umur Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ........... 61

Gambar 6.12. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Jenis Kelamin Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ........... 63 Gambar 6.13. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008.......................................................................................... 64 Gambar 6.14. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Tempat Biasa Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008................................................ 66 Gambar 6.15. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Personal Higiene Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008.......................................................................................... 68 Gambar 6.16. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Frekuensi Makan Obat Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar Negeri di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 ................................................................. 70 xiii
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Berdasarkan Pembukaan UUD 1945 termaktub tujuan bangsa Indonesia, yakni melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan pardamaian abadi dan kehidupan sosial. Untuk mencapai tujuan tersebut diselenggarakan program pembangunan nasional secara berkelanjutan, terencana dan terarah, termasuk di dalamnya pembangunan bidang kesehatan.1 Kebijakan pembangunan kesehatan telah ditetapkan beberapa program dan salah satu program yang mendukung bidang kesehatan ialah program upaya kesehatan masyarakat. Adapun tujuan program ini antara lain meningkatkan mutu kesehatan, mencegah terjadinya penyebaran penyakit menular, menurunkan angka kesakitan, kematian, yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan.2 Pencegahan dan pengobatan penyakit menular seperti infeksi kecacingan, pemerintah dan masyarakat telah bersama-sama melaksanakan berbagai program pemberantasan infeksi kecacingan, terutama di sekolah dasar. Kegiatan tersebut meliputi penyuluhan kesehatan tentang sanitasi yang baik dan tepat guna, higiene keluarga dan higiene pribadi. 3 Infestasi cacing pada manusia banyak dipengaruhi faktor perilaku, lingkungan tempat tinggal dan manipulasi terhadap lingkungan. Penyakit kecacingan 1
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal

Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

ii banyak ditemukan di daerah dengan kelembaban tinggi dan terutama mengenai kelompok masyarakat dengan personal higiene dan sanitasi lingkungan yang kurang baik.4 Kerugian dan dampak akibat infeksi kecacingan tidak menyebabkan manusia mati mendadak akan tetapi dapat mempengaruhi pemasukan, pencernaan, penyerapan dan metabolisme makanan. Selain dapat menghambat perkembangan fisik, kecerdasan, mental, prestasi, dapat menurunkan ketahanan tubuh sehingga mudah terkena penyakit lain.5 Penyakit kecacingan yang ditularkan melalui tanah atau Soil Transmitted Helminths yang sering dijumpai pada anak usia Sekolah Dasar yaitu Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Hookworm.6 WHO tahun 2006, mengatakan bahwa kejadian penyakit kecacingan di dunia masih tinggi yaitu 1 miliar orang terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides, 795 juta orang terinfeksi cacing Trichuris trichiura dan 740 juta orang terinfeksi cacing Hookworm.7 Hasil survei kecacingan Sekolah Dasar di 27 Propinsi Indonesia menurut jenis cacing tahun 20022006 didapatkan bahwa pada tahun 2002 prevalensi Ascaris lumbricoides 22,0%, Trichuris trichiura 19,9% dan Hookworm 2,4%. Tahun 2003 prevalensi Ascaris lumbricoides 21,7%, Trichuris trichiura 21,0% dan Hookworm 0,6%. Tahun 2004 prevalensi Ascaris lumbricoides 16,1%, Trichuris trichiura 17,2% dan Hookworm 5,1%. Tahun 2005 prevalensi Ascaris lumbricoides 12,5%, Trichuris trichiura 20,2% dan Hookworm 1,6% dan pada tahun 2006 prevalensi Ascaris lumbricoides 17,8%, Trichuris trichiura 24,2% dan Hookworm 1,0%. 8 2
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

iii Berdasarkan Survei Seksi P2ML Sub Dinas P2P & PL, Dinas Kesehatan Tingkat I Sumatera Utara pada anak Sekolah Dasar di tiga belas Kabupaten/Kota tahun 2003-2006 diperoleh hasil yaitu prevalensi Ascaris lumbricoides 39%, Trichuris trichiura 24%, dan Hookworm 5%.9 Menurut Profil Kesehatan Kabupaten Samosir (2004) penderita kecacingan sebanyak 790 orang dan penyakit ini berada pada urutan ke 10 dari sepuluh penyakit terbesar. Menurut laporan Bidang Yankes Kabupaten Samosir (2006) ditemukan penderita kecacingan sebanyak 2.252 orang dan penyakit ini berada pada urutan ke 6 dari 10 penyakit terbesar. Angka penderita kecacingan tahun 2007 sebanyak 2.352 orang dan berada pada urutan 7 dari 10 penyakit terbesar. Hasil survei kecacingan yang dilaksanakan oleh Sub Program P2P dan PL Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir (2007) di 44 Sekolah Dasar diperoleh prevalensi cacing Ascaris lumbricoides 23%, Trichuris trichiura 2% dan Hookworm 0,49%. 10, 11, 12,13 Kecamatan Pangururan mempunyai luas wilayah 121,43 km2, dengan 28 desa. Pekerjaan penduduk sebahagian besar mempunyai mata pencaharian petani dan berkebun. Daerah ini masih banyak dijumpai pemukiman yang belum memenuhi sanitasi lingkungan, faktor utamanya ialah tingkat sosial ekonomi dan pendidikan

yang masih rendah. Beberapa desa seperti desa Parmonangan, Aek Nauli, Pardomuan Nauli, Parbaba Dolok, Huta Tinggi, Parhorasan, berada pada daerah atau desa yang tertinggal. Daerah atau desa tertinggal ialah daerah atau desa yang relatif kurang berkembang dibandingkan dengan daerah atau desa lain dalam sekala nasional. Adapun kriterianya ialah (1) Secara geografis yaitu: sulit dijangkau karena letaknya perbukitan/pegunungan oleh transportasi, (2) Sumber daya alam yaitu: 3
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

iv sumber daya alam yang terbatas, (3) Sumber daya Manusia yaitu: daerah ini mempunyai tingkat pendidikan yang rendah serta keterampilan yang relatif rendah, (4) Prasarana dan Sarana yaitu: keterbatasan transportasi, pendidikan, irigasi dan air bersih, (5) Daerah Rawan Bencana dan Konflik Sosial yaitu seringnya suatu daerah mengalami bencana alam dan konflik sosial dan (6) Kebijakan Pembangunan yang kurang memihak pembangunan daerah.14,15 Jumlah penduduk Kecamatan Pangururan 28.553 jiwa, 4.213 orang merupakan anak Sekolah Dasar yang terdaftar di 37 Sekolah Dasar Negeri dan 208 terdaftar di Sekolah Dasar Swasta. Sekolah Dasar Negeri No. 173763 Sigumbang desa Parhorasan dan SD Negeri No. 176385 desa Huta Tinggi berada pada daerah atau desa tertinggal dengan sanitasi lingkungan kurang baik dengan kriteria WC belum ada / tidak berfungsi dengan baik, air bersih yang kurang, beberapa lantai rungan Sekolah Dasar Negeri tersebut sudah terkelupas dan berdebu. Pada tahun 2006 penyakit kecacingan di kecamatan ini berada pada urutan ke delapan dari 10 penyakit terbesar dengan jumlah sebanyak 1.127 orang dan pada tahun 2007 penyakit kecacingan berada pada urutan ke 4 dengan jumlah sebanyak 578 orang. Berdasarkan latar belakang di atas maka perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal dan sanitasi lingkungannya yang kurang baik. 4
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

v 1.2. Perumusan Masalah Belum diketahuinya faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir tahun 2008. 1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir tahun 2008. 1.3.2. Tujuan Khusus a. Untuk mengetahui prevalensi kejadian kecacingan pada anak SD di desa tertinggal tahun 2008. b. Untuk mengetahui prevalensi kejadian kecacingan berdasarkan jenis cacing

pada anak SD di desa tertinggal. c. Untuk mengetahui distribusi proporsi kejadian kecacingan berdasarkan jenis infeksi cacing pada anak SD di desa tertinggal. d. Untuk mengetahui distribusi proporsi kejadian kecacingan berdasarkan jenis cacing campuran pada SD di desa tertinggal. e. Untuk mengetahui distribusi proporsi anak sekolah dasar berdasarkan karakteristik (umur, jenis kelamin, frekuensi makan obat cacing) pada anak SD di desa tertinggal. 5
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

vi f. Untuk mengetahui distribusi proporsi anak sekolah dasar berdasarkan lingkungan (kepemilikan jamban, tempat biasa pembuangan tinja, personal higiene) pada anak SD di desa tertinggal. g. Untuk mengetahui distribusi proporsi kejadian kecacingan berdasarkan berat ringannya infeksi cacing usus pada anak SD di desa tertinggal. h. Untuk mengetahui prevalensi kejadian kecacingan berdasarkan karakteristik (umur, jenis kelamin, frekuensi makan obat cacing) pada anak SD di desa tertinggal. i. Untuk mengetahui hubungan umur dengan kejadian kecacingan pada anak SD di desa tertinggal. j. Untuk mengetahui hubungan jenis kelamin dengan kejadian kecacingan pada anak SD di desa tertinggal. k. Untuk mengetahui hubungan kepemilikan jamban dengan kejadian kecacingan pada anak SD di desa tertinggal. l. Untuk mengetahui hubungan tempat biasa pembuangan tinja dengan kejadian kecacingan pada anak SD di desa tertinggal. m. Untuk mengetahui hubungan personal higiene dengan kejadian penyakit kecacingan anak SD di desa tertinggal. n. Untuk mengetahui hubungan frekuensi makan obat cacing dengan kejadian kecacingan pada anak SD di desa tertinggal. 6
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

vii 1.4. Manfaat Penelitian 1. Sebagai informasi bagi staf pengajar di Sekolah Dasar agar dapat memberikan pengarahan/penyuluhan tentang pencegahan penyakit kecacingan di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 2. Sebagai sumbangan pemikiran terhadap upaya penanggulangan penyakit kecacingan serta bahan evaluasi dalam program penanggulangan penyakit kecacingan pemerintah khususnya Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 7
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

viii BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Defenisi Kecacingan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001) dengan memberi imbuhan ke dan akhiran an terhadap suatu kata benda maka terhadap kata tersebut mengandung arti menderita atau mengalami kejadian. Dengan demikian, kata kecacingan berarti seseorang yang mengalami kecacingan. Sedangkan Menurut Dinkes Jawa Timur (2003) Kecacingan ialah penyakit yang disebabkan karena masuknya parasit (berupa cacing) ke dalam tubuh manusia.16,17 2.2. Penyebab dan Morfologi Helmint (cacing) adalah salah satu kelompok parasit yang dapat merugikan manusia. Berdasarkan taksonomi, helmint dibagi menjadi dua yaitu: 1. Nemathelminthes (cacing gilik) 2. Plathyhelminthes (cacing pipih) Cacing yang termasuk Nemathelminthes yaitu kelas Nemotoda yang terdiri dari Nematode usus dan Nematoda jaringan. Sedangkan yang termasuk Plathyhelminthes adalah kelas Trematoda dan Cestoda.18 Namun yang akan dibahas di bawah ini adalah kelompok Nematoda usus. Sebab sebagian besar dari Nematoda usus ini merupakan penyebab kecacingan yang sering dijumpai pada masyarakat Indonesia khususnya pada usia Sekolah Dasar. Diantara Nematoda usus ini yang sering menginfeksi manusia ditularkan melalui tanah atau disebut soil transmitted helminths yakni : 8
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

ix a. Ascaris lumbricoides b. Trichuris trichiura c. Hookworm (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale)19 a. Ascaris lumbricoides Cacing Ascaris lumbricoides salah satu penyebab kecacingan pada manusia yang disebut penyakit askariasis. Cacing dewasa mempunyai ukuran paling besar di antara Nematoda intestinalis yang lain. Bentuknya silindris (bulat panjang), ujung anterior lancip. Bagian anterior dilengkapi oleh tiga bibir yang tumbuh dengan sempurna.18,20 Cacing betina berukuran lebih besar jika dibandingkan dengan cacing jantan, dengan ukuran panjangnya 20-35 cm. Pada cacing betina bagian posteriornya membulat dan lurus. Tubuhnya berwarna putih sampai kekuning kecoklatan dan diselubungi oleh lapisan kutikula yang bergaris halus. Cacing jantan panjangnya 10-30 cm, warna putih kemerah-merahan. Pada cacing jantan ujung posteriornya lancip dan melengkung ke arah ventral dilengkapi pepil kecil dan dua buah spekulum berukuran 2 mm. 19,20,21
Gambar 2.1. Cacing Ascaris lumbricoides Dewasa31

9 Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa
Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

Gambar 2.2. Ascaris lumbricoides: A. Betina; B; Jantan31

b. Trichuris trichiura Dalam bahasa Indonesia cacing ini dinamakan cacing cambuk karena secara menyeluruh bentuknya seperti cambuk. Hospes defenitifnya adalah manusia. Cacing ini lebih sering ditemukan bersama-sama dengan cacing Ascaris lumbricoides. Cacing dewasa hidup di dalam usus besar manusia terutama di daerah sekum dan kolon. Penyakit yang disebabkannya disebut trikuriasis. 18,20 Telur Trichuris trichiura berbentuk bulat panjang dan memiliki sumbat yang menonjol di kedua ujungnya, dan dilengkapi dengan tutup (operkulum) dari bahan mucus yang jernih. Telur berukuran 50-54 x 32 mikron. Kulit luar telur berwarna kuning tengguli dan bagian dalam jernih. Cacing jantan panjangnya 4 cm, dan cacing betina penjangnya 5 cm.19,21 Gambar 2.3. Cacing Trichuris trichiura dewasa(Kiri : betina, Kanan : jantan)31 10
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xi c. Hookworm Ada beberapa spesies cacing tambang yang penting dalam bidang medik, namun yang sering menginfeksi manusia ialah cacing Necator americanus dan Ancylostoma duodenale. Hospes dari kedua cacing ini adalah manusia. Dan kedua cacing ini menyebabkan penyakit Nekatoriasis dan Ankilostomiasis.20 Telur cacing tambang sulit dibedakan, karena itu apabila ditemukan dalam tinja disebut sebagai telur hookworm atau telur cacing tambang. Bentuk telurnya oval, dinding tipis dan rata, warna putih. Larva pada stadium rhabditiform dari cacing tambang sulit dibedakan. Panjangnya 250 mikron, ekor runcing dan mulut terbuka. Larva pada stadium filariform (Infective larvae) panjangnya 700 mikron, mulut tertutup ekor runcing dan panjang oesophagus 1/3 dari panjang badan.19,21 Cacing dewasa jantan berukuran 8 sampai 11 mm sedangkan betina berukuran 10 sampai 13 mm. Cacing Necator americanus betina dapat bertelur 9.000 butir/hari sedangkan cacing Ancylostoma duodenale betina dapat bertelur 10.000 butir/hari. 18,21 Gambar 2.4. Cacing Ancylostoma duodenale Dewasa 31 11
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xii Gambar 2.5. Cacing Necator americanus Dewasa 31 2.3. Daur Hidup a. Ascaris lumbricoides Manusia dapat terinfeksi cacing ini karena mengkonsumsi makanan, minuman yang terkontaminasi telur cacing yang telah berkembang. Telur yang telah berkembang tadi menetas menjadi larva di dalam usus halus. Selanjutnya larva tadi akan bergerak menembus pembuluh darah dan limfe di usus untuk kemudian mengikuti aliran darah ke hati atau aliran limfe ke ductus thoracicus menuju ke jantung. Setelah sampai di jantung larva ini akan dipompakan ke seluruh tubuh antara lain ke paru-paru. Larva di dalam paru-paru ini mencapai alveoli dan tinggal

selama 10 hari untuk berkembang lebih lanjut. Bila larva ini telah mencapai ukuran 1,5 mm, ia mulai bermigrasi ke saluran nafas, ke epiglotis dan kemudian ke esofagus, lambung akhirnya kembali ke usus halus dan menjadi dewasa yang berukuran 15-35 cm.22 Seekor cacing betina mampu menghasilkan 200.000-250.000 telur perhari. Telur yang telah dibuahi akan menjadi matang di tanah yang lembab dalam waktu 3 12 Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa
Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xiii minggu dan dapat hidup lama serta tahan terhadap pengaruh cuaca buruk. Keseluruhan siklus hidup ini berlangsung kurang lebih 2-3 bulan. Cacing dewasa ini akan tahan hidup di dalam rongga usus halus hospes selama 9-12 bulan.18,22
Gambar 2.6. Siklus hidup Cacing Ascaris lumbricoides
31

b. Trichuris trichiura Manusia terinfeksi cacing ini melalui makanan yang terkontaminasi telur cacing yang telah berembrio. Telur yang tertelan akan menetas di duodenum dan larva yang keluar akan melekat di villi usus. Untuk perkembangan larvanya cacing ini tidak mempunyai siklus paru-paru. Larva ini akan tetap tinggal di villi usus selama 20-30 hari untuk kemudian bergerak ke coecum dan kolon bagian proximal. Pada infeksi yang berat, cacing dapat pula ditemukan di ileum, appendix, bahkan seluruh usus besar. Cacing dewasa membenamkan bagian anteriornya di mukosa 13
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xiv usus dan mulai memproduksi telur sebanyak 2000-7000 telur perhari. Telur yang dihasilkan cacing ini akan keluar dari tubuh bersama tinja. Di luar tubuh, di tempat yang lembab dan hangat, telur ini akan mengalami pematangan dalam waktu 2- 4 minggu dan siap menginfeksi host lain. Waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan mulai dari telur sampai menjadi dewasa adalah 1-3 bulan.20,22 Gambar 2.7. Siklus Hidup Cacing Trichuris trichiura 32
Sumber : Prof. Dr. Sri Oemijati

c. Hookworm Cacing jantan dan betina dewasa berhabitat di usus kecil terutama jejenum, tetapi pada infeksi yang berat, cacing ini dapat pula ditemukan di lambung. Telur yang dihasilkan betinanya akan dikeluarkan bersama-sama tinja, 2-3 hari kemudian menetas dan keluar larva rhabditiform, selama 2 hari larva rhabditiform tumbuh menjadi larva filariform (infektif) yang tahan terhadap perubahan iklim dan dapat 14
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xv hidup selama 7-8 minggu di tanah lembab. Larva filariform menembus kulit, masuk ke pembuluh darah kapiler dan mengikuti peredaran darah masuk ke jantung kanan, kemudian paru-paru, lalu ke pharynx, kemudian ke usus halus dan di sana menjadi dewasa.19

Infeksi terjadi bila larva filariform menembus kulit. Infeksi Ancylostoma duodenale juga mungkin dengan menelan larva filariform.20 Gambar 2.8. Siklus hidup Hookworm32 2.4. Epidemiologi Penyakit Kecacingan 2.4.1. Distribusi dan Frekuensi Penyakit Kecacingan a. Orang Penyakit kecacingan dapat menyerang semua golongan umur dan jenis kelamin. Menurut Depkes RI (2004) infeksi kecacingan yang disebabkan cacing 15
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xvi soil transmitted helminths terjadi pada semua golongan umur sebesar 40%-60%, sedangkan pada usia Sekolah Dasar (7-15 tahun) sebesar 60%-80%. 3 Menurut penelitian Ginting (2001-2002) pada anak Sekolah Dasar di Kabupaten Tanah Karo dari 120 sampel ditemukan 84 orang yang positif kecacingan dengan rincian anak laki-laki sebanyak 51orang (60,7%) dan anak perempuan sebanyak 33 orang (39,3%). 23 Sejak tahun 2002 angka kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar terlihat mengalami fluktuasi yaitu dari 33,3%, menurun menjadi 33,0% pada tahun 2003, tahun 2004 meningkat menjadi 46,8%, kemudian menurun lagi tahun 2005 yaitu 28,4%, dan pada tahun 2006 meningkat kembali menjadi 32,6%. 8 b. Tempat Penyakit kecacingan umumnya terjadi pada daerah yang mempunyai sanitasi lingkungan yang jelek dan kurang tersedianya air bersih dan sosial ekonomi yang rendah. Dari hasil penelitian Hiswani (1997) di Nias menemukan prevalensi cacing yang ditularkan melalui tanah soil transmitted helminths masih cukup tinggi yaitu Ascaris lumbricoides sebesar 35% sedangkan prevalensi cacing Trichuris trichiura 5,7%.20,24 Pada tahun 2002 prevalensi kecacingan dari hasil survei di 10 propinsi Indonesia dengan sasaran anak Sekolah Dasar sangat bervariasi yaitu 4,8%-83,0% dengan prevalensi tertinggi di Propinsi Nusa Tenggara Barat dan diikuti Propinsi Sumatera Utara, sedangkan yang terkecil di Propinsi Jawa Timur. Hasil survei prevalensi kecacingan tahun 2003 dengan sasaran dan lokasi yang sama pada tahun 2002 menunjukkan hasil yang tidak jauh berbeda. Prevalensi cacingan keseluruhan 16
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xvii 42,26% dengan rincian Ascaris lumbricoides 22,26%, Trichuris trichiura 20,30% dan Hookworm 0,7%.25 c. Waktu Penyakit Kecacingan menunjukkan fluktuasi musiman. Biasanya insiden meningkat pada permulaan musim hujan, karena curah hujan sangat erat kaitannya dengan kelembaban tanah tempat telur cacing berkembang biak. Lingkungan tanah liat sangat menguntungkan bagi cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura

sedangkan lingkungan yang mengandung pasir sangat menguntungkan bagi cacing Hookworm.22 2.4.2. Faktor Lingkungan Penyakit kecacingan merupakan salah satu penyakit yang berbasis lingkungan oleh karena itu pemberantasan penyakit cacing ini harus melibatkan berbagai pihak. Faktor lingkungan seperti tanah, air, tempat pembuangan tinja tercemar oleh telur atau larva cacing serta berakumulasi dengan perilaku manusia yang tidak sehat pula yaitu personal higiene maka dapat menimbulkan kejadian kecacingan. 3,26 Keadaan lingkungan yang menyebabkan faktor penyebab kejadian kecacingan adalah a. Sumber air Air merupakan sangat penting bagi kehidupan manusia. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, mandi, mencuci 17
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xviii (bermacam-macam cucian) dan sebagainya. Supaya air tetap sehat dan terhindar dari kuman maka air yang digunakan harus diolah terlebih dahulu.27 Adapun sumber dan cara pengolahan air yang sering digunakan oleh masyarakat yaitu: i. Sumber air : air hujan, air permukaan (sungai, danau, mata air, air sungai), air tanah (sumur dangkal, sumur dalam) ii. Pengolahan air (seperti pembuangan benda-benda yang terapung/melayang, pengendapan, penyaringan, penyimpanan) 28 b. Jamban Jamban adalah salah satu sarana dari pembuang tinja manusia yang penting, karena tinja manusia merupakan sumber penyebaran penyakit yang multikompleks. Penyebaran penyakit yang bersumber pada faeces dapat melalui berbagai macam jalan atau cara seperti air, tangan, lalat, tanah, makanan dan minuman sehingga menyebakan penyakit. Jadi bila pengolahan tinja tidak baik, jelas penyakit akan mudah tersebar. Beberapa penyakit yang dapat disebarkan oleh tinja manusia antara lain: tipus, kolera dan bermacam-macam cacing. Maka untuk menghindari penyebaran penyakit lewat tinja ini setiap orang diharapkan menggunakan jamban sebagai penampung tinjanya27 c. Personal Higiene Kebersihan diri yang buruk merupakan cerminan dari kondisi lingkungan dan perilaku individu yang tidak sehat. Pengetahuan penduduk yang masih rendah dan kebersihan yang kurang baik mempunyai kemungkinan lebih besar terkena infeksi cacing. 18
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xix Usaha kesehatan pribadi (personal higiene) adalah daya upaya dari seseorang

untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatannya sendiri meliputi: i. Memelihara kebersihan diri (mandi 2x/hari, cuci tangan sebelum dan sesudah makan), pakaian, rumah dan lingkungannya (BAB pada tempatnya). ii. Memakan makanan yang sehat dan bebas dari bibit penyakit. iii. Cara hidup yang teratur. iv. Meningkatkan daya tahan tubuh dan kesehatan jasmani. v. Menghindari terjadinya kontak dengan sumber penyakit. vi. Melengkapi rumah dengan fasilitas-fasilitas yang menjamin hidup sehat seperti sumber air yang baik, kakus yang sehat. vii. Pemeriksaan kesehatan.29 2.5. Cara Penularan Cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Hookworm dikelompokkan sebagai cacing yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths) karena cara penularannya pada setiap orang sama yaitu melalui tanah. Secara gambaran epidemiologi, soil transmitted helminths biasa terdapat di daerah beriklim tropis dan daerah beriklim sedang dan perbedaannya hanya terletak pada jenis spesies dan beratnya penyakit yang ditimbulkan. Adapun cara cacing ini menginfeksi manusia yakni dengan menembus kulit manusia oleh larva infectious (larva matang) atau menelan telur cacing yang lengket pada makanan atau minuman yang tidak dimasak dengan matang.19,22 19
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xx 2.6. Diagnosa Diagnosa dapat ditegakkan dengan menemukan telur cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Hookworm. Dan pada cacing Ascaris lumbricoides dewasa dapat keluar melalui mulut, hidung, maupun anus.19,22 2.7. Tanda dan Gejala a. Terdapat loeffler sindrome dengan gejala: demam, batuk, infiltrasi paru-paru, malaise, bahkan pneumonitis. b. Pada infeksi ringan gangguan Gastro Intestinal ringan. c. Pada infeksi berat dapat meyebabkan gejala mual, muntah, anoreksia bahkan ileus. d. Menimbulkan penyakit Ground itch (cotaneous larva migrans) dengan gejala : gatal-gatal, erythema, papula, erupsi dan vesicula pada kulit. e. Badan terasa lemah, neusea, sakit perut, lesu, anemia, penurunan berat badan dan kadang-kadang diare dengan tinja berwarna hitam. f. Menimbulkan anemia pada penderita.19,21,22 2.8. Upaya Pencegahan 2.8.1. Pencegahan Primer Pencegahan cacing usus ini dapat dilakukan dengan memutuskan rantai daur hidup dengan cara: berdefekasi di kakus, menjaga kebersihan, cukup air di kakus, mandi dan cuci tangan secara teratur. Melakukan Penyuluhan kesehatan kepada masyarakat mengenai sanitasi lingkungan yang baik dan personal higiene serta cara menghindari infeksi cacing seperti : tidak membuang tinja di tanah, tidak

menggunakan tinja sebagai pupuk tanaman, membiasakan mencuci tangan sebelum 20


Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxi makan, membiasakan menggunting kuku secara teratur, membiasakan diri buang air besar di jamban, membiasakan diri membasuh tangan dengan sabun sehabis buang air besar, membiasakan diri memakai alas kaki bila keluar rumah, membiasakan diri mencuci semua makanan lalapan mentah dengan air yang bersih.18,20,22,30 2.8.2. Pencegahan Sekunder Pencegahan sekunder cacing usus ini dapat dilakukan dengan memeriksakan diri secara teratur ke Puskesmas, Rumah Sakit serta menganjurkan makan obat cacing 6 bulan sekali khususnya masyarakat yang rentan terinfeksi cacing.20,30 21
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxii BAB 3 KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep Variabel Independen Variabel Dependen 3.2 Definisi Operasional 3.2.1. Infeksi kecacingan ialah ditemukannya satu atau lebih telur cacing usus pada responden melalui pemeriksaan tinja dengan menggunakan metode Kato Katz dan dikelompokkan menjadi: 1. Positif (+) mengandung telur cacing 2. Negatif (-) mengandung telur cacing 22 Karakteristik Anak 1. Umur 2. Jenis Kelamin 3. Makan Obat Cacing Lingkungan 1. Kepemilikan Jamban 2. Tempat Biasa Pembuangan Tinja. 3. Personal Higiene Penyakit Kecacingan Agent 1. Ascaris lumbricoides 2. Trichuris trichiura 3. Hookworm 4. Campuran
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxiii 3.2.2. Jenis cacing ialah cacing yang termasuk ke dalam kelas Nematoda yang menginfeksi responden dan dikelompokkan menjadi: 1. Ascaris lumbricoides 2. Trichuris trichiura 3. Hookworm 4. Campuran 3.2.3. Umur adalah umur responden dihitung sejak ia lahir sampai penelitian ini dilakukan dan dikelompokkan menjadi : 1. 6 - 8 tahun 2. 9 - 11 tahun 3. 12 tahun 3.2.4. Jenis kelamin adalah jenis kelamin responden berdasarkan data di SD dan dikelompokkan menjadi: 1. Laki-laki 2. Perempuan 3.2.5. Makan obat cacing adalah waktu responden makan obat cacing dalam 6 bulan terakhir dan dikelompokkan menjadi: 1. 6 bulan 2. < 6 Bulan 3.2.6. Kepemilikan jamban adalah ketersediaan jamban yang digunakan responden setiap kali BAB dan dikelompokkan menjadi: 1. Tidak ada 2. Ada 23
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxiv 3.2.7. Tempat biasa pembuangan tinja adalah tempat pembuangan tinja yang biasa digunakan responden sebagai tempat buang air besar dan dikelompokkan menjadi: 1. Kebun 2. Sembarangan 3. Jamban sendiri (WC) 3.2.8. Personal higiene ialah tindakan kesehatan personal responden terhadap penyakit kecacingan pada setiap responden dan dikelompokkan menjadi: 33 1. Baik (apabila skor >75%-100% bila nilai 29-38) 2. Sedang (apabila skor 45%-74% bila nilai 17-28) 3. Buruk (apabila skor 44%) bila nilai 16) 3.2.9. Jenis cacing campuran ialah cacing yang menginfeksi penderita lebih dari satu jenis cacing dan dikelompokkan menjadi: 1. Ascaris lumbricoides + Trichuris trichiura 2. Ascaris lumbricoides + Hookworm 3. Hookworm + Trichuris trichiura 4. Ascaris lumbricoides + Trichuris trichiura + Hookworm 3.2.10. Berat ringannya infeksi cacing Ascaris lumbricoides ialah infeksi yang

disebabkan oleh cacing Ascaris lumbricoides dengan ditemukan telur cacing pada tinja responden setelah diperiksa di laboratorium dan dikelompokkan menjadi: 1. Ringan (ditemukan telur cacing 1-5000 telur ) 2. Sedang (ditemukan telur cacing 5001-50.000 telur) 3. Berat (ditemukan telur cacing >50.000 telur) 3.2.11. Berat ringannya infeksi cacing Trichuris trichiura ialah infeksi yang disebabkan oleh cacing Trichuris trichiura dengan ditemukan telur cacing 24
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxv pada tinja responden setelah diperiksa di laboratorium dan dikelompokkan menjadi:34 1. Ringan (ditemukan telur cacing 1-1000 telur) 2. Sedang (ditemukan telur cacing 1001-10.000 telur) 3. Berat (ditemukan telur cacing >10.000 telur) 3.2.12. Berat ringannya infeksi Hookworm ialah infeksi yang disebabkan oleh Hookworm dengan ditemukan telur cacing pada tinja responden setelah diperiksa di laboratorium dan dikelompokkan menjadi:34 1. Ringan (ditemukan telur cacing 1-2000 telur) 2. Sedang (ditemukan telur cacing 2001-7000 telur) 3. Berat (ditemukan telur cacing >7000 telur) 3.2.13. Prevalensi kecacingan adalah jumlah positif infeksi kecacingan dibagi dengan jumlah spesimen yang diperiksa. Angka prevalensi kecacingan dirinci seluruh jenis cacing dan tiap jenis cacing. Prevalensi seluruh kecacingan = Jumlah specimen positif infeksi cacing Jumlah specimen yang diperiksa Prevalensi Ascaris lumbricoide Jumlah specimen positif telur Ascaris lumbricoides Jumlah specimen yang diperiksa Prevalensi Trichuris trichiura Jumlah specimen positif telur Trichuris trichiura Jumlah specimen yang diperiksa Prevalensi Hookwoorm Jumlah specimen positif telur Hookworm Jumlah specimen yang diperiksa 25
x 100% x 100% x 100% x 100%
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxvi BAB 4 METODE PENELITIAN 4.1. Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan jenis penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian 4.2.1. Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini adalah dilaksanakan di SD Negeri No. 173763 di dusun III (Sigumbang) desa parhorasan. SD Negeri No. 176385 berada di dusun I desa Huta Tinggi. Jarak tempuh anak sekolah dasar dari tempat tinggal penduduk bervariasi, yakni antara 300 meter sampai 3 km. Ke dua lokasi penelitian ini berada di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dengan alasan bahwa Sekolah Dasar Negeri tersebut berada di desa yang tertinggal dari semua desa yang ada di Kecamatan Pangururan (data terlampir). Sekolah Dasar Negeri tersebut terletak di daerah pertanian dan mayoritas penduduknya adalah petani, serta Sekolah Dasar Negeri tersebut tidak mempunyai sumber air bersih. 4.2.2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilakukan pada bulan April 2008 - Januari 2009, dimulai survei awal, bimbingan proposal, pengumpulan data, penulisan skripsi sampai dengan ujian skripsi. 26
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxvii 4.3. Populasi dan Sampel 4.3.1. Populasi Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh murid kelas I-VI SD Negeri No. 173763 Sigumbang desa Parhorasan dan SD Negeri No. 176385 desa Huta Tinggi di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir tahun 2008, yang berjumlah 204 orang. 4.3.2. Sampel Sampel adalah seluruh murid kelas I-VI SD Negeri No. 173763 Sigumbang desa Parhorasan dan SD Negeri No. 176385 desa Huta Tinggi Kecamatan Pangururan tahun 2008, di mana besar sampel sama dengan jumlah populasi. Selama penelitian 2 orang tidak diikutkan sebagai sampel karena sakit, maka jumlah sampel seluruhnya adalah 202 orang. 4.4. Metode Pengumpulan Data 4.4.1. Data primer Data primer merupakan data yang diperoleh dari anak SD secara langsung dengan metode wawancara yang menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan sebelumnya dan observasi terhadap lingkungan. Dalam kunjungan ke sekolah peneliti dibantu oleh 4 orang tenaga kesehatan (AKBID) yang membantu wawancara dan observasi langsung. Wawancara dengan menggunakan kuesioner di sekolah dan mengadakan observasi ke tempat tinggal anak Sekolah Dasar dengan panduan daftar pertanyaan. Pemeriksaan feses dilakukan dilaboratorium Poliklinik Bersalin Santa Elisabet Pangururan oleh tenaga analis Rumah Sakit Santa Elisabet Medan.

27
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxviii 4.4.2. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari : 1. SD Negeri No. 173763 Sigumbang desa Parhorasan dan SD Negeri No. 176385 Huta Tinggi, Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir tahun 2008. 2. Puskesmas Buhit Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir tahun 2006. 3. Kantor Camat Pangururan Kabupaten Samosir tahun 2007. 4.5. Aspek Pengukuran a. Personal Higiene Item-item pertanyaan tentang personal higiene bervariasi yaitu; Kebiasaan mencuci tangan dan mandi sebanyak 6, Kebiasaan kontak dengan tanah sebanyak 3, Penggunaan alas kaki sebanyak 2, kebersihan kuku 3, dan sanitasi lingkungan 5 pertanyaan, dengan kriteria baik, sedang, buruk. Skor jawaban buruk adalah 0, skor jawaban sedang adalah 1 dan skor jawaban baik adalah 2 sehingga didapat aspek pengukuran personal higiene sebagai berikut: 1. Baik (skor 75%) bila nilai 29-38. 2. Sedang (skor 45%-74%) bila nilai 17-28 3. Buruk (skor 44% ) bila nilai 16 33 b. Penilaian Berat Ringannya Infeksi Cacing Usus. Untuk jenis infestasi cacing dilihat keberadaan cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura dan Hookworm pada hasil pemeriksaan telur cacing. Sedangkan 28
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxix derajat infestasi cacing ditentukan oleh banyaknya jumlah telur cacing/gram tinja yang diperoleh dari hasil pemeriksaan. Pengkategorian berat ringannya infeksi cacing usus yang dibuat oleh WHO tahun 2003 adalah sebagai berikut:34 Jenis Cacing Ringan Sedang Berat Ascaris lumbricoides 1-5000 5001-50.000 > 50.000 Trichuris trichiura 1-1000 1001-10.000 >10.000 Hookworm 1-2000 2001-7000 > 7000 4.6. Instrumen Penelitian a. Kuesioner Kuesioner yang ditujukan kepada anak Sekolah Dasar mencakup identitas diri anak (umur, jenis kelamin), daftar pertanyaan yang menyangkut kepemilikan jamban, tempat pembuangan tinja, personal higiene, makan obat cacing terhadap infeksi kecacingan. b. Metode Kato-katz Peralatan dan bahan; 1. Mikroskop

2. Slide atau gelas objek 3. Kertas cellophane yang telah direndam dengan larutan Kato. 4. Karton yang tebalnya 1.37 mm dan alat pelobang kertas berdiameter 6 mm. Karton ini dilobangi dengan pelobang kertas tersebut yang gunanya sebagai alat ukur tinja yang diperiksa. Berat tinja dalam satu lobang ini diperkirakan kira-kira 48 mg. 29
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxx 5. Kawat kasa yang halus 2x2 cm, untuk menyaring tinja. 6. Kertas tissue untuk mengisap cairan tinja yang encer. 7. Lidi untuk mengambil tinja. Teknik Pemeriksaaan: 1. Kepermukaan object glass diletakkan karton yang telah berlobang, diatasnya diletakkan saringan kawat kasa, tinja diletakkan keatas kawat kasa di atas lobang dan disaring dengan mengoles sampai lobang tersebut penuh. 2. Karton dan kawat kasa dibuang sehingga tinja tertinggal pada object glass sebanyak isi lobang karton. 3. Tinja ditutup dengan sepotong kertas cellophan kato dan diratakan. 4. Ditunggu selama kira-kira 15 menit. 5. Hitung telur cacing yang ditemukan x 21 (1000:48) maka didapatlah jumlah telur di dalam 1 gram tinja.35,36 4.7. Teknis Analisa Data Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan komputer SPSS 12.0 for Windows. Analisa data dilakukan terhadap data primer dengan menggunakan perhitungan statistik (Chi Square). Hasil penelitian disajikan dalam bentuk narasi, tabel dan grafik. 30
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxi BAB 5 HASIL PENELITIAN 5.1. Data Sekunder 5.1.1. Kondisi Geografis Kecamatan Pangururan berada di Wilayah Pemerintahan Kabupaten Samosir, Propinsi Sumatera Utara. Luas Wilayah Kecamatan Pangururan 121,43 Km2, luas Danau Toba 50,37 Km2, dengan ketinggian 900-1414 meter dari permukaan laut. Terdiri dari dataran tinggi dan rendah. Adapun batas-batas Wilayah Kecamatan Pangururan adalah sebagai berikut: - Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Simanindo - Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Palipi - Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Sianjur Mulamula - Sebelah Timur berbatasan dengan Kecamatan Ronggur Nihuta Secara Administrasi Wilayah Kecamatan Pangururan terdiri dari 3 kelurahan dan

25 desa. Adapun kelurahan yang di Kecamatan Pangururan yaitu Kelurahan Pangururan, Siogung-Ogung dan Pintu Sona. Kemudian yang termasuk desa di Kecamatan Panguruan yaitu: desa Rianiate, Parmonangan, Huta Namora, Pardomuan I, Tanjung Bunga, Parsaoran I, Sait Nihuta, Lumban Pinggol, Sianting-Anting, Parlondut, Aek Nauli, Pardugul, Panampangan, Sitoluhuta, Sinabulan, Siopat Sosor, Huta Bolon, Situngkir, Sialanguan, Pardomuan Nauli, Lumban Suhi-Suhi Dolok, Lumban Suhi-Suhi Toruan, Parbaba Dolok, Parhorasan dan Huta Tinggi. Sekolah Dasar Negeri No. 173763 Sigumbang berada di desa Parhorasan. Jumlah murid sebanyak 86 orang, Guru sebanyak 10 orang, kelas sebanyak 6 ruangan, luas 31
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxii tanah 4200 m2 dan luas bangunan 594 m2. Sekolah Dasar Negeri No.176385 berada di desa Huta Tinggi. Jumlah murid sebanyak 118 orang, Guru sebanyak 12 orang, kelas sebanyak 6 ruangan, luas tanah 5000 m2, luas bangunan 315 m2. 5.1.2. Demografi 5.1.2.1. Jumlah Penduduk Tabel 5.1. Distribusi Penduduk Berdasarkan Kelompok Umur dan Jenis Kelamin di Kecamatan Pangururan Tahun 2007 No Golongan Umur (Tahun) Jenis Kelamin f % Laki-laki Perempuan 1 0-4 1.529 1.782 3.311 11,60 2 5-9 1.737 1.752 3.489 12,22 3 10-14 1.807 1.605 3.412 11,95 4 15-19 1.827 2.041 3.868 13,55 5 20-24 1.347 799 2.146 7,52 6 25-29 967 851 1.818 6,36 7 30-34 723 992 1.715 6,01 8 35-39 514 614 1.128 3,95 9 40-44 691 696 1.387 4,85 10 45-49 541 684 1.225 4,29 11 50-54 707 878 1.585 5,55 12 55-59 480 529 1.009 3,53 13 60-64 401 592 993 3,48 14 >64 743 724 1.467 5,14 Total 14.014 14.539 28.553 100 Sumber : BPS Kab.Samosir 2007 Berdasarkan tabel 5.1 dapat diketahui bahwa jumlah penduduk di Kecamatan Pangururan pada tahun 2007 adalah 28.553 jiwa yang terdiri dari laki-laki sebanyak 14014 jiwa sedangkan perempuan 14.539 jiwa. Kelompok umur yang paling banyak adalah golongan umur 15-19 tahun, diikuti dengan golongan umur 5-9 tahun dan paling sedikit pada golongan umur 60-64 tahun. 32
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal

Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxiii 5.1.2.2. Sarana Kesehatan Tabel 5.2. Jumlah Sarana Kesehatan di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2007 No Sarana Kesehatan f 1. Rumah Sakit Umum 1 2. Puskesmas 1 3. Puskesmas Pembantu 5 4. Posyandu 48 5. Balai Pengobatan 1 6. Praktek Dokter Umum 4 8. Bidan Praktek 1 9. Apotik 1 10. Toko Obat 6 Total 68 Sumber BPS Kecamatan Samosir tahun 2007. Berdasarkan tabel 5.2. dapat diketahui bahwa sarana kesehatan yang paling banyak di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir adalah Posyandu sebanyak 48. 5.1.2.3. Data Sepuluh Penyakit Terbesar di Puskesmas Buhit Tabel 5.3. Jenis Penyakit dan Jumlah Penderita di Puskesmas Buhit Tahun 2007 No Jenis Penyakit f 1 Infeksi Saluran Pernafasan Atas 6.928 2 Tukak Lambung 1.115 3 Hipertensi 900 4 Cacingan 578 5 Disentri 510 6 Bronchitis 415 7 Scabies 404 8 Diare 384 9 Rematik 238 10 TB Paru 83 Total 11.555 Sumber: Profil Puskesmas Buhit Kecamatan Pangururan Tahun 2007 33
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxiv Berdasarkan tabel 5.3. dapat diketahui bahwa penyakit terbesar pada tahun 2007 adalah penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Atas sebanyak 6.928 orang dan penyakit kecacingan berada pada urutan ke empat sebanyak 578 orang, serta penyakit yang terkecil yaitu penyakit TB Paru sebanyak 83 orang. 5.1.2.4. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan Tabel 5.4. Jenis dan Jumlah Tenaga Kesehatan di Puskesmas Buhit Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2007

Sumber: Profil Puskesmas Buhit Kecamatan Pangururan Tahun 2007 Berdasarkan tabel 5.4. dapat diketahui bahwa jenis dan jumlah tenaga kesehatan yang paling banyak di Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir adalah Akademi Bidan sebanyak 27 orang. No Jenis Tenaga Kesehatan f 1. Doker Umum 3 2. Dokter Gigi 1 3. Akademi Bidan 27 4. Akademi Perawat 8 5. Akademi Gizi 1 6. Akademi Kesling 1 7. Akademi Analis 1 8. Akademi Farmasi 1 9. Bidan 11 10. Perawat 8 11. Perawat Gigi 1 12. Pekarya Kesehatan 2 Total 65 34
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxv 5.2. Data Primer Berdasarkan hasil pengumpulan data mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar Negeri No.173763 dan No.176385 di desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir diperoleh hasil sebagai berikut: 5.2.1. Prevalensi Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Tabel 5.5. Distribusi Prevalensi Kejadian Kecacingan Pada Anak SD di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Kejadian Kecacingan f % 1 Positif 114 56,4 2 Negatif 88 43,6 Total 202 100 Berdasarkan tabel 5.5. dapat diketahui bahwa hasil pemeriksaan feses anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir menunjukkan bahwa anak Sekolah Dasar yang positif infeksi kecacingan sebanyak 114 orang (56,4%) dan negatif sebanyak 88 orang (43,6%). 5.2.2. Prevalensi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Pada Anak Sekolah Dasar Tabel 5.6. Prevalensi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Pada Anak SD di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Jenis Cacing Kejadian Kecacingan Total Positif (+) Negatif (-)

f%f%f% 1 Ascaris lumbricoides 78 38,6 124 61,4 202 100 2 Trichuris trichiura 57 28,2 145 71,8 202 100 3 Hookworm 41 20,3 161 79,7 202 100 4 Campuran 54 26,7 148 73,3 202 100 35
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxvi Berdasarkan tabel 5.6. dapat diketahui bahwa kejadian kecacingan berdasarkan jenis cacing pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan adalah Ascaris lumbricoides sebanyak 78 orang (38,6%), Trichuris trichiura 57 orang (28,2%), Hookworm sebanyak 41 orang (20,3%), campuran 54 orang (26,7%). 5.2.3. Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing Tabel 5.7. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Jenis Infeksi f % 1 Ascaris lumbricoides 30 26,3 2 Trichuris trichiura 21 18,4 3 Hookworm 9 7,9 4 Campuran 54 47,4 Total 114 100 Berdasarkan tabel 5.7. dapat diketahui bahwa kejadian kecacingan berdasarkan jenis infeksi cacing pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan adalah infeksi Ascaris lumbricoides sebanyak 30 orang (26,3%), Trichuris trichiura sebanyak 21 orang (18,4%), Hookworm sebanyak 9 orang (7,9%) dan infeksi campuran sebanyak 54 orang (47,4%). 5.2.4. Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Campuran Tabel 5.8. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing Campuran Pada Anak SD di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Jenis Cacing Campuran f % 1 Ascaris +Trichuris 22 40,70 2 Ascaris + Hookworm 18 33,30 3 Ascaris +Trichuris +Hookworm 8 14,80 4 Trichuris+ Hookworm 6 11,20 Total 54 100 36 Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa
Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxvii Berdasarkan tabel 5.8. dapat diketahui bahwa kejadian kecacingan berdasarkan jenis infeksi cacing campuran ditemukan cacing Ascaris lumbricoides + Trichuris trichuris sebesar 40,70%, Ascaris lumbricoides+ Hookworm sebesar

33,30%, Ascaris lumbricoides + Trichuris trichuris+ Hookworm sebesar 14,80%, sementara Trichuris trichuris+Hookworm sebesar 11,20% pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 5.2.5. Karakteristik Anak Sekolah Dasar Tabel 5.9. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Karakteristik di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 1 Umur (Tahun) f % 6- 8 9-11 12 98 80 24 48,5 39.6 11.9 Total 202 100 2 Jenis Kelamin Laki-Laki Perempuan 116 86 57,4 42,6 Total 202 100 3 Makan Obat Cacing 6 bulan < 6 bulan 165 37 81,7 18,3 Total 202 100 Berdasarkan tabel 5.9. dapat diketahui bahwa hasil wawancara dari 202 responden didapatkan bahwa kelompok umur 6-8 tahun sebanyak 98 orang (48,5%), kelompok umur 9-11 tahun sebanyak 80 orang (39,6%) dan kelompok umur 12 tahun sebanyak 24 orang (11,9%). Jenis kelamin responden terbanyak laki-laki sebanyak 116 (57,4%), perempuan sebanyak 86 orang (42,6%). 37
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxviii Responden yang makan obat cacing 6 bulan terakhir sebanyak 165 orang (81,7%) sedangkan makan obat cacing < 6 bulan terakhir ini sebanyak 37 orang

(18,4%) pada anak Sekolah Dasar di desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 5.2.6. Lingkungan Anak Sekolah Dasar Tabel 5.10. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Lingkungan di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 1 Kepemilikan Jamban f % Tidak Ada Ada 155 47 76,7 23,3 Total 202 100 2 Tempat Biasa Pembuangan
Tinja

Kebun Sembarangan Jamban Sendiri 105 58 39 52,0 28,7 19,3 Total 202 100 3 Personal Higiene Baik Sedang Buruk 20 138 44 9,9 68,3 21,8 Total 202 100 Berdasarkan tabel 5.10. dapat diketahui bahwa hasil wawancara dari 202 responden yang tidak memiliki jamban didapatkan sebanyak 155 orang (76,7%) sedangkan responden yang memiliki jamban sebanyak 47 orang (23,3%). Tempat responden biasa membuang tinja ditemukan paling banyak di kebun sebanyak 105 orang (52,0%) dan paling sedikit di jamban sendiri 39 orang (19,3%). Kebersihan responden sebagian besar berada pada personal higiene kategori sedang yaitu 38
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xxxix

sebanyak 138 orang (68,3%) sedangkan paling sedikit ditemukan dengan personal higiene kategori baik yaitu sebanyak 20 orang (9,9%). 5.2.7. Kejadian Kecacingan Berdasarkan Berat Ringannya Infeksi Kecacingan Tabel 5.11. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Berat Ringannya Infeksi Cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 1 Ascaris lumbricoides f % Ringan Sedang 70 8 89,74 10,26 Total 78 100 2 Trichuris trichiura Ringan 57 100 Total 57 100 3 Hookworm Ringan Sedang 39 2 95,12 4,88 Total 41 100 Berdasarkan tabel 5.11. dapat diketahui bahwa infeksi kecacingan berdasarkan berat ringannya infeksi menunjukkan bahwa pada cacing Ascaris lumbricoides ditemukan infeksi ringan sebanyak 70 orang (89,74%) dan infeksi sedang sebanyak 8 orang (10,26%) sementara infeksi berat tidak ditemukan. Pada cacing Trichuris trichiura ditemukan hanya infeksi ringan sebanyak 57 orang (100%) sementara infeksi sedang dan berat tidak ditemukan. Pada cacing Hookworm ditemukan infeksi ringan sebanyak 39 orang (95,12%) dan infeksi sedang sebanyak 2 orang 4,88% namun infeksi berat tidak ditemukan. 39
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xl 5.2.8. Hubungan Umur Dengan Kejadian Kecacingan Tabel 5.12. Tabulasi Silang Hubungan Umur Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Kelompok Umur (tahun) Kejadian Kecacingan Total

Positif (+) Negatif (-) f%f%f% 1 6-8 51 52,0 47 48,0 98 100 2 9-11 48 60,0 32 40,0 80 100 3 12 15 62,5 9 37,5 24 100 2 = 1,542 df= 2 p= 0,462 Berdasarkan tabel 5.12. dapat diketahui hasil tabulasi silang antara umur dengan kejadian kecacingan pada anak SD Negeri di desa tertinggal Kecamatan Pangururan menunjukkan bahwa 98 orang berada pada kelompok umur 6-8 tahun ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 51 orang (52,0%) sedangkan negatif sebanyak 47 orang (48,0%). Pada kelompok umur 9-11 tahun berjumlah 80 orang ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 48 orang (60,0%) sedangkan negatif sebanyak 32 orang (40,0%). Pada kelompok umur 12 tahun berjumlah 24 orang ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 15 orang (62,5%) sedangkan negatif sebanyak 9 orang (37,5%) Berdasarkan hasil Uji Chi-Square diperoleh p > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara umur responden dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 40
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xli 5.2.9. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Kecacingan Tabel 5.13. Tabulasi Silang Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Jenis Kelamin Kejadian Kecacingan Total Positif (+) Negatif (-) f%f%f% 1 Laki-laki 64 55,2 52 44,8 116 100 2 Perempuan 50 58,1 36 41,9 86 100 2 = 0,177 df= 1 p= 0,674 Berdasarkan tabel 5.13. dapat diketahui hasil tabulasi silang antara jenis kelamin dengan kejadian kecacingan pada anak SD Negeri di desa tertinggal Kecamatan Pangururan menunjukkan bahwa 116 responden berjenis kelamin lakilaki ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 64 orang (55,2%) sedangkan negatif sebanyak 52 orang (44,8%). Kemudian dari 86 responden berjenis kelamin perempuan ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 50 orang (58,1%) sedangkan negatif sebanyak 36 orang (41,9%). Berdasarkan Hasil Uji Chi-square diperoleh P > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara jenis kelamin dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir.

41
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xlii 5.2.10. Hubungan Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Kecacingan Tabel 5.14. Tabulasi Silang Hubungan Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Kepemilikan Jamban Kejadian Kecacingan Total Positif (+) Negatif (-) f%f%f% 1 Tidak Ada 88 56,8 67 43,2 155 100 2 Ada 26 55,3 21 44,7 47 100 2 = 0,031 df= 1 p= 0,860 Berdasarkan tabel 5.14. dapat diketahui hasil tabulasi silang antara kepemilikan jamban dengan kejadian kecacingan pada anak SD Negeri di desa Tertinggal Kecamatan Pangururan menunjukkan bahwa 155 responden tidak memiliki jamban ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 88 orang (56,8%) sedangkan negatif sebanyak 67 orang (43,2%). Kemudian 47 responden memiliki jamban ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 26 orang (55,3%) sedangkan negatif sebanyak 21 orang (44,7%). Berdasarkan hasil uji Chi-square diperoleh nilai p > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara faktor kepemilikan jamban dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 42
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xliii 5.2.11. Hubungan Tempat Biasa Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Kecacingan Tabel 5.15. Tabulasi Silang Hubungan Tempat Biasa Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Tempat Biasa Pembuangan Tinja Kejadian Kecacingan Total Positif (+) Negatif (-) f%f%f% 1 Kebun 59 56,2 46 43,8 105 100 2 Sembarangan 36 62,1 22 37,9 58 100 3 Jamban Sendiri 19 48,7 20 51,3 39 100

2 = 1,696 df= 2 p= 0,428 Berdasarkan tabel 5.15. dapat diketahui bahwa hasil tabulasi silang antara kepemilikan jamban dengan kejadian kecacingan pada anak SD Negeri di desa tertinggal Kecamatan Pangururan menunjukkan bahwa 105 responden biasa buang air besar di kebun ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 59 orang (56,2%) sedangkan negatif sebanyak 46 orang (43,8%). Dari 58 responden biasa buang air besar secara sembarangan ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 36 orang (62,1%) sedangkan negatif sebanyak 22 orang (37,9%). Kemudian dari 39 responden biasa buang air besar di jamban sendiri ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 19 orang (48,7%) sedangkan negatif sebanyak 20 orang (51,3%). Berdasarkan hasil uji Chi-square diperoleh nilai p > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna secara statistik antara faktor tempat biasa pembuangan tinja dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 43
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xliv 5.2.12. Hubungan Personal Higiene Dengan Kejadian Kecacingan Tabel 5.16. Tabulasi Silang Hubungan Personal Higiene Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Personal Higiene Kejadian Kecacingan Total Positif (+) Negatif (-) f%f%f% 1 Baik 7 35,0 13 65,0 20 100 2 Sedang 71 51,4 67 48,6 138 100 3 Buruk 36 81,8 8 18,2 44 100 2 = 16,664 df= 2 p= 0,000 Berdasarkan tabel 5.16. dapat diketahui hasil tabulasi silang antara personal higiene dengan kejadian kecacingan pada anak SD Negeri di desa tertinggal Kecamatan Pangururan menunjukkan bahwa 20 responden mempunyai personal higiene baik ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 7 orang (35,0%) sedangkan negatif sebanyak 13 orang (65,0%). Kemudian 138 responden mempunyai personal higiene sedang ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 71 orang (51,4%) sedangkan negatif sebanyak 67 orang (48,6%). Dari 44 responden mempunyai personal higiene buruk ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 36 orang (81,8%) sedangkan negatif sebanyak 8 orang (18,2%). Berdasarkan hasil uji Chi-square diperoleh nilai p < 0,05 berarti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara faktor personal higiene dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 44
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal

Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xlv 5.2.13. Hubungan Frekuensi Makan Obat Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Tabel 5.17. Tabulasi Silang Hubungan Frekuensi Makan Obat Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 N0 Frekuensi Makan Obat Cacing Kejadian Kecacingan Total Positif (+) Negatif (-) f%f%f% 1 6 bulan 113 68,5 52 31,5 165 100 2 < 6 bulan 1 2,7 36 97,3 37 100 2 = 53,194 df= 1 p= 0,000 Berdasarkan tabel 5.17. dapat diketahui hasil tabulasi silang antara frekuensi makan obat cacing dengan infeksi kecacingan pada anak SD Negeri di desa tertinggal Kecamatan Pangururan menunjukkan bahwa 165 responden tidak makan obat cacing 6 bulan terakhir ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 113 orang (68,5%) sedangkan negatif sebanyak 52 orang (31,5%). Kemudian 37 responden makan obat cacing < 6 bulan terakhir ditemukan positif infeksi kecacingan sebanyak 1 orang (2,7%) sedangkan negatif sebanyak 36 orang (97,3%). Berdasarkan hasil uji Chi-square diperoleh nilai p < 0,05 berarti ada hubungan yang bermakna secara statistik antara faktor frekuensi makan obat cacing dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. 45
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xlvi BAB 6 PEMBAHASAN 6.1. Prevalensi Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar Prevalensi kejadian kecacingan Anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pengururan Kabupaten Samosir tahun 2008 dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 6.1. Distribusi Prevalensi Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui hasil pemeriksaan feses yang dilakukan pada 202 sampel anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Adapun hasil yang diperoleh prevalensi kecacingan sebesar 56,40%. Hasil survei Dinas Kesehatan Tingkat I Sumatera Utara pada anak Sekolah Dasar di tiga belas Kabupaten/Kota tahun 2003-2006 diperoleh hasil yaitu prevalensi

infeksi kecacingan sebesar 68%. 9 46


56,40% 43,60% Positif Negatif Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xlvii Hasil penelitian Ginting, (2003) dengan desain cross sectional dari 120 anak Sekolah Dasar di 5 SD Kabupaten Karo menemukan bahwa prevalensi kecacingan sebesar 70%.23 Hasil penelitian Dly Zukhriadi (2008) dengan desain cross sectional di tiga Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Sibolga Kota menemukan bahwa prevalensi kecacingan sebesar 55,8%. 37 Dari hasil penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa bila dibandingkan dengan angka Nasional infeksi kecacingan yaitu < 10% (Depkes, 2004), maka angka ini masih sangat tinggi, hal ini menunjukkan bahwa rendahnya upaya pencegahan infeksi kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir sehingga mengakibatkan tingginya prevalensi kecacingan. Perbedaan infeksi kecacingan pada masing-masing daerah disebabkan oleh adanya perbedaan faktor resiko di beberapa lokasi penelitian, terutama yang berhubungan dengan kondisi sanitasi lingkungan, higiene perorangan, umur penduduk dan kondisi alam atau geografi.18 6.2. Prevalensi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Anak Sekolah Dasar Prevalensi kejadian kecacingan berdasarkan jenis cacing pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 47
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xlviii Gambar 6.2. Distribusi Prevalensi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa prevalensi kejadian kecacingan yang menginfeksi anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir yaitu cacing Ascaris lumbricoides sebesar 38,60%, Trichuris trichiura sebesar 28,20% , Hookworm sebesar 20,30%, campuran sebesar 26,7%. Hasil survei Depkes bagian P2ML tahun 2004 di 10 propinsi sentinel Indonesia ditemukan prevalensi cacing Ascaris lumbricoides (17,74%), cacing Trichuris trichiura (17,74%), dan cacing Hookworm (6,46%)28 Hasil survei kecacingan yang dilaksanakan oleh Sub Program P2P dan PL Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir (2007) di 44 Sekolah Dasar diperoleh prevalensi cacing Ascaris lumbricoides 23%, Trichuris trichiura 2% dan Hookworm 0,49%

48
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

xlix Hasil Penelitian Dly Zukhriadi (2008) dengan desain cross sectional di tiga Sekolah Dasar Negeri Kecamatan Sibolga Kota menemukan prevalensi cacing Ascaris lumbricoides sebesar (54,2) cacing Trichuris trichiura sebesar (22,5%) sedangkan cacing Hookworm tidak ditemukan.37 Tingginya prevalensi kecacingan pada penelitian ini dapat disebabkan oleh pencemaran tanah dengan tinja yang mengandung telur cacing, hal ini tampak pada wawancara langsung bahwa sebagian besar anak Sekolah Dasar yang biasa buang air besar di kebun sendiri serta di sembarang tempat. Hal lain yang menarik pada penelitian ini ialah penderita cacing Hookworm yang cukup tinggi bila dibandingkan dengan hasil suvei Depkes dan Dinkes Samosir serta penelitian Zukhriadi. Infeksi cacing hookworm ini banyak dijumpai pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal ini, hal ini memungkinkan karena anak sekolah Dasar di tempat penelitian ini dapat dikatakan bahwa kebanyakan tidak memakai sandal atau alas kaki bila keluar dari rumah, serta tidak menjaga kebersihan kaki dengan baik. Hal ini berhubungan erat sekali dengan siklus hidup dan cara penularan sebagian besar cacing Hookworm. 6.3. Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing Anak Sekolah Dasar Proporsi kejadian kecacingan berdasarkan jenis infeksi cacing pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir dapat dilihat pada gambar di bawah ini: 49
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

l Gambar 6.3. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Infeksi Cacing Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat dilihat bahwa proporsi kejadian kecacingan yang menginfeksi anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir ditemukan infeksi terbanyak yaitu cacing campuran (Ascaris + Trichuria, Ascaris + Hookworm, Trichuris + Hookworm, Ascaris + Trichuris + Hookworm) sebesar 47,40%, dan terkecil Hookworm sebesar 7,90%. Sedangkan hasil penelitian Siregar (2008) dengan desain cross sectional di SD Negeri 06 Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis, di mana proporsi kejadian kecacingan berdasarkan jenis infeksi cacing terbanyak pada cacing Ascaris lumbricoides sebesar 53%, dan terkecil cacing Hookworm sebesar 4,1%.38 Hasil penelitian Sadjimin (2000) dengan desain cross sectional di siswa SD Kecamatan Ampana Kota Kabupaten Poso Sulawesi Tengah, menemukan proporsi kejadian kecacingan berdasarkan jenis infeksi cacing terbanyak pada cacing Ascaris lumbricoides sebesar 28,3%, dan terkecil cacing Hookworm sebesar 1%. Perbedaan 50
47,40%

26,30% 18,40% 7,90% Campuran Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Hookworm Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

li proporsi kejadian kecacingan pada setiap individu dapat saja terjadi, hal ini dipengaruhi beberapa faktor resiko seperti cuaca, geografis, kebersihan perorangan.4 6.4. Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Campuran anak Sekolah dasar Proporsi kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar berdasarkan jenis cacing campuran dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 6.4. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Jenis Cacing Campuran Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa jenis cacing campuran masing-masing ditemukan (infeksi cacing Ascaris lumbricoides (A.l) + Trichuris trichiura (T.t) sebesar 40,70%, infeksi cacing Ascaris lumbricoides (A.l) + Hookworm (H) sebesar 33,30%, infeksi cacing Ascaris lumbricoides (A.l)+ Trichuris trichiura (T.t) + Hookworm (H) sebesar 14,80% dan infeksi cacing Trichuris trichiura (T.t) + Hookworm (H) sebesar 11,20%. 51
40,70% 33,30% 14,80% 11,20% Ascaris +Trichuris Ascaris + Hookworm Ascaris +Trichuris +Hookworm Trichuris+ Hookworm

Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lii Gandahusada (2004) mengatakan bahwa infeksi cacing Ascaris lumbricoides sering sekali disertai infeksi cacing Trichuris trichiura. Namun cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm juga dapat ditemukan secara bersamaan karena cara penularannya pada setiap orang sama yaitu melalui tanah (soil transmitted helminths). Tingginya kejadian cacing Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yang menguntungkan parasit seperti keadaan tanah dan curah hujan serta temperatur optimal perkembang biakan yang hampir sama. Telur Ascaris lumbricoides dan Trichuris trichiura tumbuh lebih baik di tanah liat karena kelembaban tanah seperti ini sangat cocok bagi pertumbuhannya. Kurang disadarinya pemakaian jamban keluarga yang baik oleh masyarakat dapat menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja di sekitar halaman rumah, dibawah pohon dan di tempat-tempat pembuangan sampah.20,22 Penularan dan siklus hidup cacing Hookworm kebanyakan melalui tanah. Tanah yang sangat baik untuk pertumbuhan larvanya yaitu tanah yang berpasir.

Larvanya akan lebih mudah bergerak di pasir daripada di tanah liat sebab diameter pasir lebih besar dari diameter tanah liat. Selain faktor tanah yang sangat menguntungkan Hookworm, curah hujan yang belum lebat (misalnya permulaan musim hujan), arus air yang ditimbulkannya masih lambat. Arus air yang lambat ini merupakan perangsang bagi larva Hookworm bergerak kepermukaan tanah dan mempermudah terjadinya infeksi. Selain faktor di atas yang menguntungkan bagi pertumbuhan Hookworm dikenal beberapa cara penularan Hookworm yaitu melalui tanah dan transmisi ke 52
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

liii manusia melalui kulit dan mukosa, melalui makanan yang terkontaminasi dengan tanah dan kotoran manusia, melalui sayur yang terkontaminasi dengan larva infeksius.22 Penelitian Ginting, (2003) dengan desain cross sectional pada 120 anak Sekolah Dasar di 5 SD Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo menemukan infeksi campuran antara cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm dengan prevalensi sebesar 55,8%.23 6.5. Karakteristik Anak Sekolah Dasar Berdasarkan hasil pengumpulan data menggunakan kuesioner diketahui bahwa umur anak Sekolah Dasar yang menjadi responden dalam penelitian ini adalah antara 6-13 tahun, dimana dalam penelitian ini umur dikelompokkan menjadi tiga kategori sebagai berikut: Gambar 6.5. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Umur di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 53
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

liv Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa 48,50% dari responden berada pada kelompok umur 6-8 tahun dan paling sedikit pada kelompok umur 12 tahun sebesar 11,90%. Kondisi ini sesuai dengan laporan dari WHO (1998) yang mengatakan bahwa dari tiga setengah miliar penduduk yang terinfeksi parasit intestinal berbentuk cacing perut, ternyata empat ratus lima puluh juta di antaranya mengenai anak-anak. Demikian juga dengan pernyataan Depkes (2004) bahwa penyakit kecacingan sering dijumpai pada usia anak pra Sekolah dan Sekolah Dasar yang berumur berkisar 5-15 tahun.3,39 Gambar 6.6. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Jenis Kelamin di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa 57,40% dari responden berjenis kelamin laki-laki dan 42,60% berjenis kelamin perempunan sebesar. Jadi responden yang mendominasi anak Sekolah Dasar yaitu laki-laki sebesar 57,40%. Walaupun responden di tempat penelitian ini lebih banyak laki-laki, namun dalam

54
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lv kenyataannya tidak selalu laki-laki mengalami infeksi kecacingan lebih banyak dari anak perempuan.40 Gambar 6.7. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Frekuensi Makan Obat Cacing di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa 81,70% responden makan obat cacing 6 bulan dan sebesar 18,30% yang makan obat cacing < 6 bulan. Dari data di atas dapat dikatakan bahwa program pemberian obat cacing di daerah ini oleh tenaga kesehatan belum berjalan dengan semestinya. 6.6. Lingkungan Anak Sekolah Dasar Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa sebagian besar lingkungan responden belum lengkap dengan sistem pembuangan tinja, tempat biasa pembuangan tinja dan personal higiene untuk lebih jelas dapat dilihat dalam diagram sebagai berikut: 55
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lvi Gambar 6.8. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Kepemilikan Jamban di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa 76,70% responden tidak memiliki jamban sedangkan anak yang memilki jamban sebesar 23,30%. Kusnoputranto, H & Susanna, D. (2000) mengatakan bahwa penyakit dapat timbul apabila terjadi gangguan keseimbangan lingkungan yang mencakup beberapa faktor fisik, biologi, dan sosial ekonomi. Gangguan keseimbangan ini biasanya disebabkan oleh adanya perubahan dari satu faktor atau lebih. Perkembangan epidemiologi menggambarkan secara spesifik bahwa peran lingkungan dalam terjadinya penyakit sangat besar. Cara pandang epidemiologi, penyakit terjadi karena adanya interaksi antara manusia, agent, dan lingkungan. Apabila ketiga faktor ini tidak berada pada keadaan seimbang maka benih penyakit dapat menyerang manusia. Keadaan kesehatan lingkungan yang belum memenuhi persyaratan sanitasi dapat berakibat timbulnya penyakit-penyakit seperti malaria, colera, penyakit kulit, dan penyakit kecacingan. 56
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lvii Seperti yang diuraikan pada bab sebelunya bahwa lingkungan seperti sistem pembuangan tinja sangat berperan dalam memicu penyebaran penyakit kecacingan, hal ini disebabkan karena tinja dapat menjadi media transmisi infeksi cacing terhadap manusia, dengan demikian perlu adanya penanganan sistem pembuangan

tinja yang memenuhi syarat kesehatan. Berdasarkan data diatas sebagian besar rumah belum memiliki jamban hal ini dapat dipengaruhi oleh keadaan ekonomi keluarga atau sumber air untuk keperluan jamban di daerah ini sangat sulit di dapatkan. Kemudian lahan untuk membuang tinja di daerah ini masih sangat luas. Gambar 6.9. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Tempat Biasa Pembuangan Tinja di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa 52,00% responden biasa buang air besar di kebun dan 28,70% yang biasa buang air besar di sembarang tempat, sementara yang biasa buang air besar di jamban sendiri sebesar 19,30%. 57
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lviii Meskipun demikian konstruksi bangunan jamban yang sudah ada masih banyak yang belum memenuhi syarat baik dari segi kebersihannya. Berdasarkan hasil pengamatan diketahui bahwa sebagian besar bangunan jamban hanya berdinding semi permanen dengan air yang terbatas. Dengan minimnya air bersih untuk keperluan jamban maka banyak dari anak Sekolah Dasar di tempat penelitian ini membuang air besar di kebun ataupun sembarangan tempat. Hal ini dimugkinkan lagi bahwa bila membuang air besar dikebun kebutuhan akan air untuk kebersihan jamban tidak diperlukan. Gambar 6.10. Distribusi Proporsi Anak Sekolah Dasar Berdasarkan Personal Higiene di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa 68,30% responden memiliki personal higiene dengan kategori sedang, dan paling sedikit ditemukan pada personal higiene kategori baik sebesar 9,90%. Dari uraian diatas diketahui bahwa aspek pembentukan perilaku anak pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan, terutama perilaku hidup bersih sehat sebagian besar masih dalam kategori sedang, namun demikian masih dijumpai tindakan kebersihan perorangan 58
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lix pada anak Sekolah Dasar yang buruk, hal ini dimungkinkan karena keterbatasanketerbatasan keluarga anak sekolah Dasar seperti: keadaan ekonomi, kesadaran akan pentingnya kesehatan. Faktor lain yang cukup berperan dalam membentuk perilaku anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan dalam hal mencegah penyakit kecacingan ini adalah persediaan air bersih, di mana sebagian besar dari penduduk untuk memenuhi kebutuhan air bersih mereka memanfaatkan mata air yang tidak terlindung dengan baik dan jaraknya relatif jauh dari tempat tinggal penduduk. Faktor lain ialah kondisi sanitasi perumahan seperti saluran pembungan air limbah yang ditemukan hampir semua rumah tidak memiliki saluran air limbah, penduduk langsung membuang air limbah ke belakang rumah, akibatnya terdapat sarang lalat sebagai vektor menimbulkan penyakit dan bau yang tidak sedap.

6.7. Distribusi Proporsi Kejadian Kecacingan Berdasarkan Berat Ringannya Infeksi Kecacingan Anak Sekolah Dasar Kejadian kecacingan berdasarkan berat ringannya pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan dengan hasil infestasi infeksi cacing Ascaris lumbricoides ditemukan infeksi ringan sebanyak 70 orang (89,74%), infeksi sedang sebanyak 8 orang (10,26%) sementara infeksi berat tidak ditemukan. Pada cacing Trichuris trichiura ditemukan hanya infeksi ringan yaitu sebanyak 57 orang (100%). Kemudian pada cacing Hookworm ditemukan infeksi ringan sebanyak 39 orang (95,12%) infeksi sedang sebanyak 2 orang (4,88%) sementara infeksi berat tidak ditemukan.( Tabel 5.10) 59
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lx Berat ringanya suatu infeksi cacing pada penderita ditentukan oleh virulensi, kesanggupan migrasi, cara makan dari parasit, jumlah kontak dengan host, ratio seks cacing (Hookworm) yang menginfeksi host.40 Cara makan cacing juga dapat memperberat infeksi kecacingan pada penderita. Misalnya cacing Hookworm hidup dalm rongga usus halus tapi melekat dengan giginya pada dinding usus dengan mengisap darah. Infeksi cacing Hookworm ini dapat menyebabkan kehilangan darah secara perlahan akibatnya penderita mengalami kekurangan darah (anemia) sehingga dapat menurunkan gairah kerja serta menurunkan produktifitas. Di samping kerugian mengisap darah penderita, cacing ini juga mengakibatkan luka-luka gigitan berdarah berlangsung lama.3,40 Selain cara makan cacing Hookworm sangat merugikan penderita, ratio seks juga sangat menentukan berat ringannya infeksi kecacingan. Misalnya penderita diinfeksi dengan 50% cacing Hookworm jantan dan 50% cacing Hookwrom betina akan bereaksi berbeda bila diinfeksi 70% cacing Hookworm betina dan 30% cacing Hookworm jantan. Ternyata anemia yang ditimbulkan pada infeksi cara pertama lebih berat daripada cara ke dua. Keadaan ini di sebabkan oleh ratio seks cacing yang menginfeksi tidak sama. Hookworm cenderung bermigrasi ke tempat lain atau keluar dari tubuh host bila ratio seks diantara mereka tidak sama.40 Menurut penelitian Ayu (2003) dengan desain cross sectional pada anak pemulung di tempat pembuangan akhir sampah desa Namo Bintang Kabupaten Deli Serdang menemukan infeksi ringan sebesar (88,9%) dan infeksi sedang sebesar (11,1%) sedangkan infeksi berat tidak ditemukan.41 60
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxi Berdasarkan data di atas bahwa anak Sekolah dasar yang mengalami infeksi cacing ditemukan infeksi ringan dan sedang, sementara infeksi berat tidak ditemukan. Hal ini dimungkinkan karena dari waktu ke waktu semakin bertambahnya pengetahuan masyarakat akan kesehatan lewat penyuluhan dan pengobatan oleh tenaga kesehatan serta adanya program penanggulangan penyakit kecacingan pada anak Sekolah Dasar.

6.8. Hubungan Umur Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar Hubungan umur responden dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: Gambar 6.11. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Umur Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar di atas dapat diketahui bahwa prevalensi kecacingan pada kelompok umur 6-8 tahun sebesar 52,00% positif infeksi kecacingan dan sebesar 48,00% negatif infeksi kecacingan. Kemudian pada kelompok umur 9-11 61
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxii tahun sebesar 60,00% positif infeksi kecacingan dan sebesar 40,00% negatif infeksi kecacingan. Pada kelompok umur 12 tahun sebesar 37,50% positif infeksi kecacingan dan 37,50% negatif infeksi kecacingan. Infestasi kecacingan pada penelitian ini ditemukan mengenai anak dengan umur lebih tua. Secara epidemiologi puncak terjadinya infestasi kecacingan adalah pada usia 5-10 tahun.4 Hasil yang berbeda ini dapat dihubungkan dengan meningkatnya aktifitas bermain dan mobilitas anak yang lebih tua sehingga resiko tertular cacing lebih besar. Anak yang lebih muda termasuk higienenya masih dalam pengawasan orang tua sehingga resiko tertular menjadi lebih kecil. Berdasarkan hasil Uji Chi-Square diperoleh p > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara umur responden dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Hal ini sesuai penelitian Ginting (2003) dengan desain cross sectional di 5 Sekolah Dasar desa Suka Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara umur responden dengan kejadian kecacingan.(p= 0,811)23 62
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxiii 6.9. Hubungan Jenis Kelamin Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar Hubungan jenis kelamin responden dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: Gambar 6.12. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Jenis Kelamin Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa prevalensi kecacingan pada jenis kelamin laki-laki sebesar 55,20% positif infeksi kecacingan dan sebesar 44,80% negatif infeksi kecacingan. Kemudian prevalensi kecacingan pada jenis kelamin perempuan sebesar 58,10% positif infeksi kecacingan dan sebesar 41,90% negatif infeksi kecacingan. Dari data di atas dapat dikatakan bahwa infeksi kecacingan cenderung pada jenis kelamin perempuan dari pada jenis kelamin lakilaki.

Namun pada dasarnya kejadian kecacingan dapat menginfeksi setiap jenis kelamin, hal senada dengan pendapat Sandjaja (2007) dalam bukunya bahwa kejadian kecacingan pada setiap orang tidak membedakan jenis kelamin manusia.40 63
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxiv Berdasarkan hasil Uji Chi-Square diperoleh p > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Hal ini sejalan dengan penelitian Sadjimin, T. (2000) dengan desain cross sectional di Sekolah Dasar Kecamatan Ampana Kota Sulawesi Tengah yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara jenis kelamin dengan kejadian kecacingan.(p= 0,414) 4 6.10. Hubungan Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar Hubungan kepemilikan jamban responden dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: Gambar 6.13. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Kepemilikan Jamban Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 64
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxv Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa prevalensi kecacingan pada anak yang tidak memiliki jamban ditemukan sebesar 56,80% positif infeksi kecacingan dan sebesar 43,20% negatif infeksi kecacingan. Kemudian prevalensi kecacingan pada anak yang memiliki jamban sebesar 55,30% positif infeksi kecacingan dan sebesar 44,70% negatif infeksi kecacingan. Dari data di atas dapat diketahui bahwa responden yang tidak memiliki jamban cenderung mengalami infeksi kecacingan daripada responden yang memiliki jamban. Berdasarkan hasil Uji Chi-Square diperoleh p > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara kepemilikan jamban dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Penelitian Damanik (2001) dengan desain cross sectional di Sekolah Dasar Negeri 70 Kelurahan Bagan Deli yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kepemilikan jamban dengan kejadian kecacingan 42 65
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxvi 6.11. Hubungan Tempat Biasa Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar

Hubungan tempat biasa pembuangan tinja responden dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: Gambar 6.14. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Tempat Biasa Pembuangan Tinja Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa prevalensi kecacingan pada responden yang biasa buang air besar di kebun sebesar 56,20% positif infeksi kecacingan dan sebesar 43,80% negatif infeksi kecacingan. Kemudian prevalensi kecacingan pada responden yang biasa buang air besar di sembarang tempat sebesar 62,10% positif infeksi kecacingan dan sebesar 37,9% negatif infeksi kecacingan. Sementara prevalensi kecacingan pada responden biasa buang air besar di jamban 66
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxvii sendiri sebesar 48,70% positif infeksi kecacingan dan sebesar 51,30% negatif infeksi kecacingan. Kejadian kecacingan pada anak-anak usia Sekolah Dasar masih tinggi hal ini disebabkan karena kebiasaan membuang air besar secara sembarangan di dekat rumah, di kebun tempat ia bekerja dan kurang disadarinya pemakaian jamban keluarga dapat menimbulkan pencemaran tanah dengan tinja disekitar rumah, di bawah pohon, di tempat-tempat pembuangan sampah. Kondisi ini sangat menguntungkan bagi pertumbuhan telur cacing usus. 18,20 Berdasarkan hasil Uji Chi-Square diperoleh p > 0,05 berarti tidak ada hubungan yang bermakna antara tempat biasa pembuangan tinja dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Hal ini sesuai dengan penelitian Damanik (2001) dengan desain cross sectional di Sekolah Dasar Negeri 70 Kelurahan Bagan Deli yang menemukan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara tempat biasa pembuangan tinja dengan kejadian kecacingan.42 67
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxviii 6.12. Hubungan Personal Higiene Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar Hubungan personal higiene responden dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: Gambar 6.15. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Personal Higiene Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa prevalensi kecacingan pada responden dengan personal higiene baik sebesar 35,00% positif infeksi kecacingan dan sebesar 65,00% negatif infeksi kecacingan. Kemudian prevalensi

kecacingan pada responden dengan personal higiene sedang sebesar 51,40% positif infeksi kecacingan dan sebesar 48,60% negatif infeksi kecacingan. Sementara prevalensi kecacingan pada responden dengan personal higiene buruk sebesar 81,80% positif infeksi kecacingan dan sebesar 18,20% negatif infeksi kecacingan. Infeksi kecacingan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor salah satunya yaitu faktor kebersihan perorangan. Kebersihan perorangan khususnya pada usia anak 68
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxix Sekolah Dasar sangat penting mengingat pada usia ini infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah sangat tinggi. Hal ini terlihat dari hasil penelitian bahwa responden dengan personal higiene yang buruk mengalami infeksi lebih banyak dari pada anak yang memiliki personal higiene yang baik. Buruknya personal higiene seseorang menyebabkan kecacingan yang sering dipengaruhi oleh perilaku anak yang tidak baik seperti tidak mencuci tangan setelah buang air besar, Setiap kali mandi tidak menggunakan sabun, tidak mencuci kaki dan tangan dengan sabun setelah bermain di tanah, tidak menggunakan alas kaki ketika bermain dan keluar dari rumah, kebersihan kuku tidak dijaga dengan baik, kondisi air yang tidak baik dan sering mengkonsumsi air yang belum matang. Higiene yang baik merupakan syarat penting dalam mencegah dan memutuskan mata rantai penyebaran penyakit menular seperti kecacingan. Namun lingkungan dan personal higiene buruk akan memperberat kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar, karena pada usia Sekolah Dasar ini belum mampu mandiri untuk mengurus kebersihan diri.3,40 Berdasarkan hasil uji Chi-square diperoleh nilai p < 0,05 berarti ada hubungan yang bermakna antara personal higiene dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Artinya anak Sekolah Dasar dengan personal higiene yang baik kejadian kecacingannya lebih rendah dibandingkan dengan anak Sekolah Dasar dengan personal higiene yang buruk. Penelitian Dly Zukhriadi (2008) dengan desain cross sectional di 3 Sekolah Dasar Kota Sibolga menemukan bahwa ada hubungan yang bermakna antara 69
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxx personal higiene seperti tidak cuci tangan sebelum makan, tidak cuci tangan setelah buang air besar, tidak cuci tangan setelah bermain di tanah, makan jajanan, tidak memperhatikan kebersihan kuku dengan kejadian kecacingan.37 6.13. Hubungan Frekuensi Makan Obat Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar Hubungan frekuensi makan obat cacing responden dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar dapat dilihat dalam gambar di bawah ini: Gambar 6.16. Diagram Bar Tabulasi Silang Antara Frekuensi Makan Obat Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Anak Sekolah Dasar di

Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008 Berdasarkan gambar diatas dapat diketahui bahwa prevalensi kecacingan pada responden yang makan obat cacing 6 bulan sebesar 65,50% positif infeksi kecacingan dan sebesar 31,50% negatif infeksi kecacingan. Kemudian prevalensi 70
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxi kecacingan pada responden yang makan obat cacing < 6 bulan diperoleh sebesar 2,70% positif infeksi kecacingan dan sebesar 97,30% negatif infeksi kecacingan. Pencegahan dan pemberantasan rantai daur hidup cacing usus dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti berdefekasi di kakus, menjaga kebersihan diri, cukup air bersih, mandi dan cuci tangan secara teratur. Kemudian cara lain yaitu pemberian obat antihelmintik yang sangat efektif untuk membunuh telur-telur dari cacing usus yang ditularkan melalui tanah.18,22 Dari data di atas dapat diperoleh bahwa sebagian kecil pada responden makan obat cacing < 6 bulan dan sebagian besar responden tidak makan obat cacing 6 bulan, sehingga infeksi cacing usus yang ditularkan melalui tanah di tempat ini masih tinggi. Berdasarkan hasil Uji Chi Square menunjukkan p < 0,05 berarti ada hubungan yang bermakna antara makan obat cacing dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir. Artinya anak Sekolah Dasar yang makan obat cacing < 6 bulan kejadian kecacingannya lebih rendah dibandingkan dengan anak Sekolah Dasar yang makan obat cacing 6 bulan. Menurut Depkes (2004) pemberian obat cacing pada setiap penderita kecacingan dapat menyembuhkan penderita cacingan dengan tingkat kesembuhan sebesar 70% - 99%.3 Menurut penelitian Situmeang dkk (1995) di Sekolah Dasar Negeri II desa Tanjung Anom Kecamatan Pancur Batu Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara, menemukan bahwa pemberian obat Pyreantel Pamoat dan Mebendazole pada anak71
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxii anak yang menderita cacing usus mendapatkan angka kesembuhan pada cacing Ascaris lumbricoides, Trichuris trichiura, Hookworm, masing-masing 100%, 93,48% dan 100%. Jadi dapat dikatakan bahwa pemberian obat antihelmintik dapat menekan infeksi kecacingan yang ditularkan melalui tanah (soil transmitted helminths).43 Menurut penelitian Subahar dkk (1998) pada 5 Sekolah Dasar Negeri di wilayah Jakarta pusat dan madrasah ibtidaiyah, Jakarta Utara tentang pengaruh obat oksantel-pirantel pamoat dan mebendazole terhadap perkembangan telur Trichuris trichiura menunjukkan hasil bahwa dapat menghambat perkembangan telur Trichuris trichiura.44

72
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxiii BAB 7 KESIMPULAN DAN SARAN 7.1. Kesimpulan 7.1.1. Prevalensi kecacingan pada anak Sekolah Dasar di desa tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir tahun 2008 sebesar 56,40%. 7.1.2. Prevalensi kecacingan berdasarkan jenis cacing Ascaris lumbricoides 38,60%. 7.1.3. Distribusi proporsi berdasarkan jenis infeksi campuran 47,40%. 7.1.4. Distribusi proporsi berdasarkan jenis cacing campuran Ascaris lumbricoides + Trichuris trichiura 40,70%. 7.1.5. Distribusi proporsi berdasarkan karakteristik kelompok umur 6-8 tahun 48,50%, laki-laki 57,40% dan makan obat cacing 6 bulan sebesar 81,70%. 7.1.6. Distribusi proporsi berdasarkan lingkungan, tidak memiliki jamban 76,70%, tempat biasa pembuangan tinja di kebun 52,00%, personal higiene kategori sedang 68,30%. 7.1.7. Distribusi proporsi berdasarkan berat ringannya Ascaris lumbricoides ringan 89,74%, Trichuris trichiura ringan 100%, dan Hookworm ringan 95,12%. 7.1.8. Prevalensi kecacingan berdasarkan karakteristik pada kelompok umur 12 tahun 65,50%, perempuan 58,10%, dan makan obat cacing 6 bulan 68,50%. 7.1.9. Tidak ada hubungan bermakna antara faktor umur, jenis kelamin, kepemilikan jamban, tempat biasa pembuang tinja dengan kejadian kecacingan (p > 0,05). 7.1.10. Ada hubungan bermakna antara personal higiene dengan kejadian kecacingan, antara frekuensi makan obat cacing dengan kejadian kecacingan (p < 0,05). 73
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxiv 7.2. Saran 7.2.1. Untuk pihak sekolah agar memberikan pengetahuan tentang personal higiene seperti setiap mandi harus pakai sabun, mencuci tangan dengan sabun sesudah buang air besar, memakai alas kaki bila bermain dan keluar rumah, memotong kuku anak seminggu sekali, menggunakan air minum yang bersih, meminum air yang sudah dimasak dengan matang, tidak buang air besar di sembarang tempat, menyediakan Jamban dan air bersih untuk anak sekolah dalam mencegah terjadinya infeksi kecacingan. 7.2.2. Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir, dengan tingginya kejadian kecacingan sebesar (56,4%) maka program pemeriksaan, pencegahan dan penanggulangan kecacingan secara periodik yang sudah berjalan perlu ditingkatkan pada semua anak Sekolah Dasar. 7.2.3. Perlunya dilakukan penelitian lebih lanjut agar dapat mengetahui lebih jelas faktor-faktor yang berpengaruh dengan kejadian kecacingan pada anak Sekolah Dasar.

74
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxv DAFTAR PUSTAKA 1. Dinkes Propinsi Sumatera Utara. 2004. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia. Nomor: 128/MENKES/SK/II/2004/ Tentang Kebijakan Dasar Pusat Kesehatan Masyarakat. Jakarta. 2. Depkes RI, 2003. Indikator Indonesia Sehat 2010 dan Pedoman Penetapan Indikator Provinsi Sehat dan Kabupaten/Kota Sehat. Jakarta. 3. Depkes RI, 2004. Pedoman Umum Program Nasional Pemberantasan Cacingan di Era Desentralisasi. Jakarta. 4. Sadjimin, T. 2000. Gambaran Epidemiologi Kejadian Kecacingan Pada siswa Sekolah Dasar di Kecamatan Ampana Kota Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Jurnal Epidemiologi Indonesia. Vol 4, hal 1-2,6 5. Onggowaluyo, S,. Ismid, I, S. 1998. Gangguan Fungsi Kognitif Akibat Infeksi Cacingan Yang Ditularkan Melalui Tanah. Majalah Kedokteran Indonesia. Vol. 48. No.5. Mei, Jakarta. 6. Elmi, Dkk, 2004. 9 September 2008| 20.00 WIB. Status Gizi dan Infestasi Cacing Usus Pada Anak Sekolah Dasar Desa Tanjung Anom. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. FK USU. Medan. http://library .usu.ac.id/download/fk/anak-chairuddin11.pdf 7. WHO, 2006. 9 September 2008| 20.00 WIB Soil Transmitted Helminths. http://www.who.int/intestinal_worms/en/. 8. Depkes. RI. Kamis. 1 Mei 2008 | 20.00WIB. 2006. Profil Kesehatan Indonesia.Jakarta. http://www.depkes.go.id/downloads/publikasi/Profil%20Kese hatan%20Indonesia%202006.pdf 9. Dinkes, Prop. Sumatera Utara. 2007. Laporan Hasil Kegiatan Program Seksi P2ML Sub Dinas P2P & PL Dinas Kesehatan Propinsi Sumatera Utara. Medan. 10. Dinkes. Kab. Samosir. 2004. Profil Kesehatan Kabupaten Samosir 11. Dinkes. Kab. Samosir. 2006. Profil Kesehatan Kabupaten Samosir. 12. Dinkes Kab. Samosir. 2007. Profil Kesehatan Kabupaten Samosir
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxvi 13. Dinkes, Kab. Samosir. 2007. Program Pemberantasan dan Penanggulangan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2P dan PL). Samosir. 14. Kec. Pangururan. 2007. Kecamatan Pangururan Dalam Angka. 15. Menteri PDT, 2005. 9 September 2008| 20.00 WIB, Keputusan Menteri Negara Pembangunan Daerah Tinggal Republik Indonesia. Nomor:001/KEP/M-PDT/I/2005. http://www.Legalitas.org/database/puu/2005/PermenPDT01-2005.pdf

16. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. 2001. Kamus Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta. 17. Dinkes, Jawa Timur, Kamis 29 Juli 2008| 20.00 WIB, 2003. Pelaksanaan Program Kecacingan di Propinsi Jawa Timur. http://www.dinkesjatim.go.id/berita-datail.html?news-id=137 18. Gandahusada, S., Ilahude, D.H., Pribadi, W. 2003. Parasitologi Kedokteran. Edisi Ketiga. Gaya Baru. Jakarta. 19. Haryanti, E., 2002. Helmintologi Kedokteran. Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran USU. Medan. 20. Onggowaluyo,S,J. 2002. Parasitologi Medik I (Helmintologi). Pendekatan Aspek Identifikasi Diagnosis dan Klinik. Anggota IKAPI. EGC. Jakarta. 21. Prasetyo, H. 2003. Atlas Berwarna Helmintologi Kedokteran. Cetakan pertama. Editor Winarko. Airlangga University Press. Anggota IKAPI. Surabaya. 22. Sandjaja, B. 2007. Helminthologi Kedokteran . Editor Pedo Herri. Cetakan Pertama. Prestasi Pustaka. Jakarta. 23. Ginting, A, S. 2003. 1 Mei 2008| 20.00 WIB. Hubungan Antara Status Sosial Ekonomi Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar di Desa Suka Kecamatan Tiga Panah Kabupaten Karo Propinsi Sumatera Utara. Bagian Ilmu Kesehatan Anak. FK USU.Medan.http:/digilib.usu.ac.iddownload/fk/anaksri% 20alemina.pdf
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxvii 24. Hiswani. 1997. Pengaruh Pengetahuan Ibu Rumah Tangga Terhadap Prevalensi Infeksi Cacing Yang Ditularkan Melalui Tanah Di Desa Tertinggal (IDT) Kabupaten Nias Sumatera Utara. FKM. USU. Medan. 25. Depkes, RI. Kamis.1 Mei 2008| 20.00WIB, 2004. Pemberantasan Penyakit Menular Langsung. http://www.pppl.depkes.go.id/images_data/Profil%20P2ML%202004. pdf 26. Soemirat, J. 2005. Epidemiologi Lingkungan. Cetakan Kedua. Anggota IKAPI. Gajah Mada University Press. Yogyakarta. 27. Notoatmodjo, S. 2003. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan Kedua. Anggota IKAPI. PT Rineka Cipta. Jakarta. 28. Kusnoputranto,H. & Susanna, D. 2000. Kesehatan Lingkungan. FKM-UI. Jakarta. 29. Entjang, I. 2000. Ilmu Kesehatan Masyarakat. PT Citra Adytia Bakti. Anggota IKAPI. Bandung. 30. Idehan, B & Pusarawati, S. 2007. Helmintologi Kedokteran. Cetakan Pertama. Anggota IKAPI. Airlangga University Press. Surabaya. 31. An American Family Physian, 2004. Senin September 2008| 20.00WIB,. Common Intestinal Parasites. http://www.An.American.

FamilyPhysician. 32. Keputusan Menteri Kesehatan, No. 424. 2006. Senin September 2008| 20.00WIB. Pedoman Pengendalian Kecacingan. http://125.160.76.194/data/peraturan/Himp.%20Cetak%2006/Cetak% 20Himp.%20Jilid%20V/Kecacingan/Lamp%20KMK%20Cacingan.D OC 33. Arikunto.2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Edisi Revisi V. PT. Rineka Cipta. Jakarta. 34. Parasitology and Entomology Institute For Medical Research. 2003. Standard Operational Prosedures For Parasitological Diagnosis. Edition No.1. Schoole Of Dilpoma In Applied Parasitology and Entomology. Kuala Lumpur. 35. Napitupulu, T. dkk. 2006. Helmintologi Kedokteran. Laboratorium Parasitologi. FK. USU. Medan.
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxviii 36. Hadidjaja. P. 1990. Penuntun Laboratorium Parasitologi Kedokteran. FK.UI. Jakarta. 37. Dly Zukhriadi,R,R. 2008. Hubungan Personal Higiene Perorangan Siswa Dengan Infeksi Kecacingan Anak SD Negeri Di Kecamatan Sibolga Kota. Pasca Sarjana USU. Medan. 38. Siregar, B. 2008. Beberapa Faktor Yang Berhubungan Dengan Infeksi Kecacingan Yang Ditularkan Melalui Tanah Pada Murid SD Negeri 06 Kecamatan Pinggir Kabupaten Bengkalis Tahun 2008. FKM USU. Medan. 39. Sadjimin, T. & Rini, J. 2000. Hubungan Antara Gejala Dan Tanda Penyakit Cacing Dengan Kejadian Kecacingan Pada anak Sekolah Dasar Di Kecamatan Ampana Kota Kabupaten Poso Sulawesi Tengah. Jurnal Epidemiologi Indonesia. Vol 4, hal 9. 40. Sandjaja, B. 2007. Parasitologi Kedokteran Buku I Protozoologi Kedokteran. Editor Fitri. Cetakan Pertama. Prestasi Pustaka. Jakarta. 41. Ayu, M,S. 2003. Analisa Perilaku Pemulung Anak Terhadap Infestasi Cacing Dan Peran Instansi Lintas Sektoral Dalam Upaya Pencegahan Penyakit Akibat Kerja Di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Desa Namo Bintang Kabupaten Deli Serdang. (Tesis Sarjana S2 Yang Tidak Diterbitkan Program Magister Kesehatan Kerja USU). Medan 42. Damanik, H, D, L. 2001. Analisis Faktor Yang Berhubungan dengan Infeksi Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Negeri 70 Kelurahan Bagan Deli Tahun 2001. FKM USU. Medan. 43. Situmeang, R,dkk. 2004. Kamis.20 November 2008| 20.00WIB. Efek Obat Pyrantel Pamoat dan Mebendazole pada Nematoda Usus. Bagian Ilmu Kesehatan anak. FK USU. Medan 44. Subahar,R,dkk. 1998. Pengaruh Oksantel-Pirantel Pamoat Dan Mebendazole Terhadap Perkembangan Telur Trichuris trichiura. Majalah

Parasitologi FKUI. Vol 11, hal 8


Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxix KUESIONER PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA TERTINGGAL KECAMATAN PANGURURAN KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2008 I. Data Umum Responden 1. Nama : 2. Jenis kelamin : 3. Umur : 4. Alamat :
Lingkari jawaban dibawah ini:

II. Data Khusus 1. Apakah di rumah adik mempunyai jamban/WC? a. Tidak b. Ya 2. Di mana adik biasa buang air besar (BAB)? a. Kebun b. Sembarangan c. Jamban sendiri (WC) III. Data Personal Higiene a. Kebiasaan cuci tangan dan mandi 1. Sebelum makan apakah adik mencuci tangan? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak 2. Apakah sebelum makan adik mencuci tangan dengan sabun? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak 3. Setelah buang air besar apakah adik mencuci tangan? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxx 4. Apakah setelah buang air besar adik mencuci tangan dengan sabun? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak 5. Berapa kali adik mandi satu hari? a. 2x atau lebih/hari

b. 1x/hari c. Tidak mandi 6. Setiap kali mandi apakah adik menggunakan sabun? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak b. Kebisaan kontak dengan tanah 7. Apakah adik sering makan sambil bermain di tanah? a. Tidak b. Kadang-kadang c. Ya 8. Setelah bermain di tanah apakah adik membersihkan kaki dan tangan? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak 9. Apakah setelah bermain di tanah adik mencuci kaki dan tangan dengan sabun? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak c. Penggunakan alas kaki 10. Apakah adik menggunakan alas kaki (sandal, sepatu) setiap keluar rumah? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak 11. Pada waktu istirahat sekolah apakah adik memakai sepatu setiap kali bermain? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak d. Kebersihan kuku
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

lxxxi 12. Apakah seminggu sekali adik memotong kuku? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak 13. Apakah adik sering menggigit kuku ketika sedang bermain? a. Tidak b. Kadang-kadang c. Ya 14. Lihat keadaan kuku anak (observasi) a. Pendek bersih b. Pendek kotor c. Panjang kotor e. Sanitasi Lingkungan 15. Dari mana sumber air minum adik?

a. Mata air b. Sungai c. Air hujan 16. Lihat kondisi air bersih (tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna) (observasi) a. Bersih (tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna) b. Kurang bersih c. Tidak bersih 17. Lihat ketersediaan saluran pembuangan air limbah di rumah. (observasi) a. Ada dan lancar b. Ada dan tidak lancar c. Tidak ada 18. Lihat letak WC? (observasi) a. Di dalam rumah b. Di luar rumah c. Tidak punya WC 19. Apakah adik selalu meminum air yang sudah dimasak dengan matang? a. Ya b. Kadang-kadang c. Tidak Data Makan Obat 1. Apakah adik ada makan obat cacing 6 bulan terakhir ini? a.Ya b.Tidak
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

MASTER DATA PENELITIAN FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN KECACINGAN PADA ANAK SEKOLAH DASAR DI DESA TERTINGGAL KECAMATAN PANGURURAN KABUPATEN SAMOSIR TAHUN 2008
No sex umur umurk P1 P2 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 Pp5 Pp6 Pp7 Pp8 Pp9 Pp10 Pp11 Pp12 Pp13 Pp14 Pp15 Pp16 Pp17 11611121111210010122020 21611120001121012021220 32612320202221012222222 42611121101211002021020 51611121212221112121220 62612321221221102122221 72611111111121112121220 81611220101221002010210 91611210001221002020220 10 2 6 1 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 1 2 2 2 2 2 2 2 1 11 1 6 1 1 1 2 0 1 2 1 2 2 1 0 0 2 0 2 1 2 2 0 12 1 6 1 1 1 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 2 0 1 1 2 2 1 13 2 6 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 0 1 1 0 2 1 2 2 0 14 1 6 1 1 1 2 1 0 0 1 2 2 1 1 1 2 0 2 0 0 2 0 15 1 6 1 1 1 2 1 0 0 1 2 2 1 1 2 1 0 2 0 2 2 0 16 2 6 1 1 1 2 0 1 0 1 2 0 1 0 1 2 1 2 2 2 2 0 17 1 6 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 0 2 2 2 2 2 2 2 0 18 2 6 1 1 2 2 2 2 0 1 0 2 0 0 1 2 1 2 2 2 2 2 19 2 7 1 1 1 2 0 0 0 1 2 1 0 0 0 2 0 2 1 2 2 0 20 1 7 1 1 2 2 0 0 0 1 2 2 1 1 0 1 0 2 0 2 2 0 21 1 6 1 1 2 2 0 0 0 1 1 2 0 0 0 2 0 2 1 2 2 0 22 1 6 1 1 2 1 1 2 1 2 2 1 1 2 0 1 0 0 1 2 2 0

23 1 7 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 1 2 0 2 1 2 2 1 24 1 7 1 1 1 2 2 0 0 1 2 2 0 0 2 2 1 2 1 2 2 1 25 1 7 1 2 3 2 2 2 2 2 2 2 1 1 1 2 2 2 1 2 2 1 26 2 7 1 1 1 2 2 2 2 1 2 2 0 0 0 2 1 2 1 2 2 0 27 1 8 1 1 1 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 2 1 2 1 2 2 1 28 1 7 1 1 1 2 0 1 0 1 2 2 2 2 0 2 0 2 1 2 2 0 29 1 7 1 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2 0 2 2 1 2 2 2 2 2 30 2 7 1 1 1 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 2 1 2 2 2 2 0
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

2
Pp18 Pp19 totk Ppp1 infek jenas jentri jehok cam jcamp ascar ascark tri trik worm wormk jenis 02222222250404045 02222222250404045 22122222250404045 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 84 1 0 4 0 4 1 02222222250404045 22122222250404045 02222222250404045 0 1 3 1 1 1 2 1 1 2 2205 1 0 4 1008 1 4 0 1 3 1 1 1 1 2 1 1 4410 1 168 1 0 4 4 0 2 1 1 1 1 2 2 2 5 84 1 0 4 0 4 1 00222222250404045 02222222250404045 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 252 1 0 4 0 4 1 01222222250404045 01222222250404045 02222222250404045 02212222250404045 22222222250404045 0 0 3 1 1 1 1 2 1 1 42 1 84 1 0 4 4 0 2 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 168 1 0 4 2 01312222250404045 02222222250404045 0 2 2 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 210 1 3 02212222250404045 2 1 1 1 1 1 2 1 1 2 1869 1 0 4 2352 2 4 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 84 1 0 4 0 4 1 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 168 1 0 4 0 4 1 02222222250404045 02112222250404045 0 1 2 1 1 1 1 1 1 4 630 1 21 1 420 1 4
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

3
No sex umur umurk P1 P2 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 Pp5 Pp6 Pp7 Pp8 Pp9 Pp10 Pp11 Pp12 Pp13 Pp14 Pp15 Pp16 Pp17 31 2 7 1 1 1 2 0 1 0 2 2 2 1 1 2 2 2 2 1 2 2 0 32 1 9 2 1 2 2 0 1 0 1 2 2 1 0 1 1 1 2 0 2 2 1 33 1 7 1 2 3 2 0 2 0 2 2 2 0 0 0 2 2 2 1 2 2 1 34 1 7 1 2 3 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 2 0 1 1 2 2 1 35 2 7 1 1 1 2 0 1 0 1 2 2 1 1 2 2 1 2 1 2 1 1 36 2 7 1 1 1 2 0 2 0 0 0 2 2 0 2 2 1 2 2 2 2 0 37 1 7 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 2 0 0 1 0 2 1 2 1 0 38 1 9 2 1 1 2 0 0 0 1 1 2 0 0 0 1 1 1 1 2 1 1 39 1 8 1 1 1 2 1 2 0 1 2 1 0 0 1 1 1 1 1 2 1 1 40 1 8 1 1 1 2 0 0 0 1 2 1 0 0 0 2 1 2 0 2 1 0 41 2 8 1 1 1 2 0 0 0 1 2 1 0 0 0 1 2 1 1 2 2 0

42 2 8 1 1 1 2 0 2 1 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 0 43 1 8 1 1 2 2 0 1 1 1 2 1 0 0 0 2 0 1 0 2 2 0 44 2 8 1 1 2 2 0 1 0 1 2 2 1 0 1 2 2 2 2 2 2 0 45 2 8 1 2 1 1 0 1 0 1 2 1 1 1 0 1 0 0 0 2 2 1 46 2 8 1 1 1 2 0 1 1 1 2 2 1 1 2 2 1 2 2 2 2 0 47 1 8 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 0 1 2 1 2 1 2 2 1 48 2 8 1 1 1 2 1 2 0 1 2 1 1 0 2 1 2 2 2 2 2 0 49 1 9 2 1 1 2 0 0 0 1 2 1 0 0 1 1 1 1 1 2 1 1 50 1 9 2 1 1 2 2 1 1 1 2 2 2 2 0 1 1 2 1 2 2 0 51 1 9 2 1 2 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 2 0 2 1 2 2 0 52 1 10 2 1 1 2 1 1 0 1 2 2 0 1 0 2 0 2 0 2 2 0 53 1 11 2 1 2 2 1 0 1 1 2 2 1 1 2 2 0 2 1 2 2 0 54 1 9 2 1 2 1 0 0 1 2 2 2 0 0 1 2 0 2 0 2 2 1 55 1 9 2 1 1 2 1 1 1 2 2 2 0 0 1 2 0 2 1 2 2 0 56 1 9 2 1 1 2 0 1 0 1 1 1 1 0 0 2 2 2 1 2 2 0 57 1 10 2 1 2 1 0 0 0 1 2 2 0 1 0 1 0 2 0 2 2 1 58 2 9 2 2 3 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 1 0 2 0 2 2 1 59 1 10 2 1 2 1 0 0 0 1 2 0 0 0 0 1 0 2 0 2 1 1 60 2 11 2 1 1 1 1 0 0 1 2 2 0 0 0 2 0 2 0 2 2 0
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

4
Pp18 Pp19 totk Ppp1 infek jenas jentri jehok cam jcamp ascar ascark tri trik worm wormk jenis 01212222250404045 0 2 2 1 1 1 1 1 1 4 315 1 21 1 1113 1 4 0 2 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 105 1 0 4 2 0 1 2 1 1 1 1 2 1 1 63 1 315 1 0 4 4 02212222250404045 02212222250404045 0 2 2 1 1 1 1 1 1 4 189 1 945 1 889 1 4 0 1 3 1 1 2 1 2 2 5 0 4 315 1 0 4 2 0 1 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 63 1 0 4 2 0 1 3 1 1 1 1 2 1 1 462 1 147 1 0 4 4 0 1 3 1 1 1 1 2 1 1 3675 1 483 1 0 4 4 02122222250404045 01322222250404045 02222222250404045 1 1 3 1 1 1 1 2 1 1 7749 2 294 1 0 4 4 02222222250404045 0 1 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 42 1 0 4 2 01212222250404045 0 1 3 1 1 1 2 1 1 2 987 1 0 4 1869 1 4 01212222250404045 0 2 2 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 798 1 3 01222222250404045 02222222250404045 0 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1722 1 147 1 0 4 4 02212222250404045 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 168 1 0 4 0 4 1 0 1 3 1 1 2 1 2 2 5 0 4 63 1 0 4 2 1 1 2 1 1 1 2 2 2 5 63 1 0 4 0 4 1 0 1 3 1 1 1 2 1 1 2 3738 1 0 4 105 1 4 0 1 3 1 1 1 1 2 1 1 4431 1 42 1 0 4 4
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

5
No sex umur umurk P1 P2 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 Pp5 Pp6 Pp7 Pp8 Pp9 Pp10 Pp11 Pp12 Pp13 Pp14 Pp15 Pp16 Pp17

61 2 9 2 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 1 1 0 2 2 2 1 0 62 1 11 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 1 0 2 0 2 1 2 1 0 63 1 9 2 1 1 2 0 0 0 2 1 2 0 0 0 1 2 1 2 2 0 0 64 1 10 2 2 3 1 0 0 0 1 0 1 0 0 0 2 0 2 1 2 1 0 65 2 11 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 0 0 2 2 1 0 1 2 2 1 66 1 12 3 1 2 2 0 0 0 1 2 2 1 1 0 1 0 2 0 0 2 0 67 1 10 2 1 1 1 1 1 1 1 1 1 0 0 1 1 1 1 0 2 2 0 68 1 10 2 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 0 1 1 2 2 2 1 1 69 2 10 2 1 2 2 1 0 0 1 2 2 1 1 1 1 1 2 1 2 2 0 70 1 11 2 1 1 2 0 1 0 1 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 71 2 10 2 1 2 1 0 0 0 1 2 2 0 0 0 1 0 2 2 2 2 0 72 2 10 2 1 2 2 1 1 1 1 2 2 1 0 1 2 2 2 2 2 2 2 73 2 10 2 1 2 1 0 0 0 1 2 2 0 0 0 2 0 2 1 2 2 0 74 2 10 2 1 2 2 0 1 1 1 2 2 0 0 1 1 0 2 2 2 2 0 75 1 12 3 1 1 2 0 0 0 1 1 2 2 0 0 2 0 2 0 0 2 1 76 1 12 3 1 1 2 0 0 0 1 2 2 2 1 0 2 0 1 0 2 2 1 77 2 12 3 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 1 1 2 0 2 2 2 2 0 78 1 12 3 1 2 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 0 0 2 0 2 2 0 79 1 12 3 1 2 2 1 0 0 1 2 2 2 0 1 1 2 1 1 2 2 0 80 1 12 3 1 2 2 0 0 0 1 2 2 1 1 0 0 2 0 0 0 1 1 81 1 11 2 1 2 2 0 0 0 1 1 2 0 0 1 1 1 1 0 2 2 0 82 1 12 3 1 2 2 0 0 0 1 1 2 1 1 1 1 0 1 0 2 2 0 83 1 11 2 1 2 2 0 0 0 1 2 2 1 1 0 1 1 1 1 2 2 1 84 1 11 2 1 2 2 0 0 0 0 2 2 0 0 0 2 0 2 1 0 2 0 85 2 11 2 2 2 2 0 1 0 1 2 2 1 0 1 1 0 2 0 2 2 2 86 1 6 1 1 2 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 2 0 1 0 2 2 1 87 1 6 1 1 2 2 0 0 0 1 2 2 0 0 1 2 0 2 0 2 2 0 88 1 7 1 1 2 2 0 0 0 1 2 2 0 0 1 2 1 1 1 2 2 1 89 2 7 1 1 1 2 0 2 0 1 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 2 0 90 1 7 1 1 1 2 0 1 0 1 2 2 1 0 1 1 1 2 1 2 2 1
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

6
Pp18 Pp19 totk Ppp1 infek jenas jentri jehok cam jcamp ascar ascark tri trik worm wormk jenis 1 2 2 1 1 1 2 1 1 2 441 1 0 4 789 1 4 0 2 2 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 1680 1 3 0 1 3 1 1 2 1 1 1 3 0 4 882 1 63 1 4 1 2 3 1 1 1 1 1 1 4 8652 2 63 1 1638 1 4 02222222250404045 0 1 3 1 1 1 2 1 1 2 714 1 0 4 1533 1 4 01312222250404045 02222222250404045 02212222250404045 02112222250404045 0 1 3 1 1 1 2 1 1 2 168 1 0 4 84 1 4 1 2 1 1 1 1 2 2 2 5 1533 1 0 4 0 4 1 01312222250404045 0 1 2 1 1 1 2 2 2 5 42 1 0 4 0 4 1 01312222250404045 02222222250404045 02212222250404045 0 2 3 1 1 2 1 1 1 3 0 4 21 1 147 1 4 0 1 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 21 1 0 4 2 0 1 3 1 1 1 2 1 1 2 6867 2 0 4 903 1 4 01312222250404045 0 1 3 1 1 1 2 2 2 5 252 1 0 4 0 4 1 01212222250404045 0 1 3 1 1 1 2 2 2 5 6825 2 0 4 0 4 1

2 1 2 1 1 1 1 2 1 1 1008 1 168 1 0 4 4 01222222250404045 0 1 2 1 1 1 2 2 2 5 2541 1 0 4 0 4 1 0 2 2 1 1 1 2 1 1 2 2352 1 0 4 1869 1 4 02212222250404045 0 1 2 1 1 1 2 2 2 5 84 1 0 4 0 4 1


Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

7
No sex umur umurk P1 P2 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 Pp5 Pp6 Pp7 Pp8 Pp9 Pp10 Pp11 Pp12 Pp13 Pp14 Pp15 Pp16 Pp17 91 1 7 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 0 0 2 0 2 0 2 2 0 92 1 6 1 2 3 2 0 1 0 1 2 2 1 1 1 2 1 1 1 2 2 0 93 2 6 1 1 1 0 0 0 0 1 2 2 1 1 1 2 0 2 0 2 2 0 94 2 6 1 2 3 2 0 0 0 1 2 2 0 0 2 2 0 2 2 2 2 0 95 1 6 1 2 3 2 0 1 0 1 2 2 1 0 0 2 0 2 0 2 2 1 96 1 6 1 2 3 2 0 1 0 1 2 2 0 0 2 2 2 2 1 2 2 0 97 1 6 1 2 3 2 0 0 0 1 2 2 0 0 2 2 0 2 2 2 2 0 98 1 6 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 2 2 0 2 1 2 2 0 99 1 6 1 1 1 2 2 2 0 1 2 2 0 0 2 2 0 2 2 2 2 0 100 2 6 1 1 1 2 0 2 2 1 2 2 0 0 2 2 2 2 2 2 2 0 101 2 6 1 2 3 2 0 2 2 1 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 0 102 1 6 1 1 1 2 2 0 0 1 2 2 0 0 1 1 0 2 2 2 2 1 103 1 7 1 1 1 2 0 2 2 2 2 2 2 0 0 2 0 2 2 2 2 0 104 1 7 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 0 2 0 2 1 2 2 1 105 1 9 2 1 1 2 0 1 0 1 2 2 0 0 1 2 1 2 0 2 2 0 106 2 8 1 2 3 2 0 2 0 2 2 2 2 0 2 2 2 2 2 2 2 0 107 1 9 2 1 1 2 0 2 0 2 2 2 0 0 0 2 0 2 1 2 2 1 108 1 7 1 2 3 2 0 2 2 2 2 2 0 0 2 2 2 2 1 2 2 0 109 2 7 1 1 1 2 0 2 0 2 2 2 0 0 2 2 2 2 1 2 2 0 110 2 7 1 1 1 2 1 2 0 2 2 2 1 2 2 2 2 2 1 2 2 1 111 2 7 1 1 1 2 0 2 0 2 2 1 0 0 2 2 2 2 1 2 2 0 112 2 7 1 1 1 2 0 1 0 1 2 1 1 0 0 1 0 2 1 2 2 0 113 1 7 1 2 3 2 0 1 1 1 2 2 1 0 1 2 1 1 2 2 2 1 114 1 7 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 1 2 0 1 0 2 2 0 115 1 8 1 1 2 2 0 0 0 1 2 2 1 0 2 2 1 2 2 2 2 0 116 2 7 1 1 1 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 2 0 2 1 2 2 0 117 2 8 1 2 3 2 0 2 0 1 2 2 1 0 1 2 0 2 1 2 2 0 118 2 7 1 1 1 0 2 0 2 2 2 1 0 2 2 1 2 1 2 2 2 0 119 1 7 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 1 1 0 2 0 2 2 0 120 2 7 1 1 1 2 0 2 0 2 2 2 0 0 1 1 0 2 1 2 2 0
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

8
Pp18 Pp19 totk Ppp1 infek jenas jentri jehok cam jcamp ascar ascark tri trik worm wormk jenis 01212222250404045 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 252 1 84 1 0 4 4 0 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1743 1 42 1 0 4 4 1 1 2 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 504 1 3 2 1 2 1 1 1 1 1 1 4 9450 2 63 1 294 1 4 02222222250404045 12212222250404045 0 2 2 2 1 1 2 2 2 5 63 1 0 4 0 4 1 0 2 2 1 1 2 1 1 1 3 0 4 294 1 42 1 4 0 2 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 147 1 0 4 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 2 2688 1 0 4 504 1 4 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 4515 1 0 4 0 4 1 0 2 2 1 1 1 1 1 1 4 2163 1 63 1 189 1 4

01212222250404045 0 2 2 1 1 1 2 1 1 2 4557 1 0 4 651 1 4 22122222250404045 0 2 2 1 1 1 1 1 1 4 903 1 63 1 252 1 4 22112222250404045 0 2 2 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 2247 2 3 02112222250404045 0 2 2 1 1 1 2 1 1 2 504 1 0 4 588 1 4 0 2 2 1 1 1 2 1 1 2 1575 1 0 4 378 1 4 12212222250404045 0 1 3 1 1 2 1 2 2 5 0 4 63 1 0 4 2 02222222250404045 0 2 2 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 339 1 3 02212222250404045 0 2 2 1 1 1 2 1 1 2 1008 1 0 4 1029 1 4 0 1 3 1 1 1 2 2 2 5 210 1 0 4 0 4 1 0 2 2 1 1 2 1 1 1 3 0 4 63 1 861 1 4
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

9
No sex umur umurk P1 P2 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 Pp5 Pp6 Pp7 Pp8 Pp9 Pp10 Pp11 Pp12 Pp13 Pp14 Pp15 Pp16 Pp17 121 1 7 1 1 2 2 0 2 0 1 2 2 0 0 1 1 0 2 0 0 1 1 122 1 7 1 1 1 2 0 2 0 1 2 2 1 0 1 1 1 1 1 2 2 0 123 2 12 3 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 0 2 2 2 2 1 2 2 0 124 2 8 1 2 3 2 0 0 0 1 2 1 0 0 0 1 1 2 1 0 1 0 125 1 8 1 1 1 2 0 1 0 1 2 2 0 0 1 1 1 2 1 2 2 0 126 2 8 1 2 1 2 0 2 0 1 2 2 1 0 1 1 1 2 2 2 1 0 127 1 8 1 1 2 2 0 1 0 1 2 2 0 0 0 2 1 1 0 2 2 0 128 2 8 1 2 3 2 0 2 0 1 2 2 1 0 1 2 2 1 2 2 2 0 129 2 9 2 2 3 2 0 2 0 1 2 2 2 0 2 2 2 2 1 0 1 0 130 1 8 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 2 2 2 2 1 2 2 0 131 2 8 1 1 1 2 0 2 2 1 2 2 1 0 1 1 1 2 2 0 2 0 132 1 8 1 1 1 2 0 2 1 1 2 2 2 0 2 2 2 1 1 2 2 0 133 1 8 1 1 1 2 0 2 0 2 1 2 2 0 0 2 2 2 1 2 2 0 134 2 8 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 0 2 1 2 1 2 2 0 135 2 8 1 2 3 2 0 2 0 1 2 2 0 0 2 0 0 1 0 0 1 0 136 1 7 1 2 3 2 0 2 0 2 2 2 1 0 2 2 2 2 2 0 1 0 137 2 9 2 1 1 2 2 0 1 2 2 1 0 1 1 0 1 1 0 1 0 2 138 1 8 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 0 1 2 2 2 1 2 2 1 139 2 9 2 2 3 2 0 2 0 1 2 2 0 0 1 2 1 2 0 2 2 0 140 1 9 2 1 1 2 0 2 0 1 1 2 0 0 1 2 0 2 0 2 2 0 141 1 8 1 1 1 2 0 0 0 1 1 2 0 0 2 2 0 1 0 2 2 0 142 1 8 1 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 0 1 1 0 1 0 2 2 0 143 2 8 1 2 3 2 0 2 0 2 2 2 1 0 1 2 1 1 1 2 2 0 144 1 8 1 1 2 2 0 0 1 2 2 0 0 0 2 1 1 1 2 2 0 0 145 1 11 2 1 2 2 2 0 0 1 1 1 0 1 0 1 0 0 1 2 2 0 146 2 10 2 2 3 2 0 0 0 2 1 1 0 0 1 1 1 2 1 2 2 2 147 1 10 2 1 2 2 0 2 0 1 2 2 0 1 0 2 0 2 1 2 2 0 148 2 9 2 2 3 2 1 2 1 1 2 2 1 1 2 2 1 2 2 2 2 1 149 1 10 2 2 3 2 0 2 0 2 0 2 2 2 1 2 0 2 1 2 1 2 150 1 10 2 1 1 2 0 1 1 2 2 1 0 0 0 0 2 0 1 0 1 1
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

10
Pp18 Pp19 totk Ppp1 infek jenas jentri jehok cam jcamp ascar ascark tri trik wor m wormk jenis

0 1 3 1 1 1 1 2 1 1 84 1 42 1 0 4 4 02222222250404045 02212222250404045 1 2 3 1 1 2 1 2 2 5 0 4 42 1 0 4 2 0 2 2 1 1 1 1 2 1 1 2058 1 189 1 0 4 4 0 1 2 1 1 1 2 2 2 5 168 1 0 4 0 4 1 02222222250404045 12212222250404045 02222222250404045 02222222250404045 0 2 2 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 504 1 3 02212222250404045 0 2 2 1 1 1 2 1 1 2 378 1 0 4 294 1 4 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 1806 1 0 4 0 4 1 0 2 3 1 1 2 1 2 2 5 0 4 21 1 0 4 2 22222222250404045 0 2 2 1 1 2 1 1 1 3 0 4 441 1 42 1 4 02212222250404045 02212222250404045 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 84 1 0 4 0 4 1 0 1 3 1 1 1 2 2 2 5 63 1 0 4 0 4 1 01312222250404045 22222222250404045 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 525 1 21 1 0 4 4 0 2 3 1 1 1 2 2 2 5 147 1 0 4 0 4 1 2 2 2 1 1 1 2 2 2 5 63 1 0 4 0 4 1 02212222250404045 12112222250404045 12212222250404045 0 1 3 1 1 1 2 1 1 2 7056 2 0 4 273 1 4
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

11
No sex umur umurk P1 P2 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 Pp5 Pp6 Pp7 Pp8 Pp9 Pp10 Pp11 Pp12 Pp13 Pp14 Pp15 Pp16 Pp17 151 2 9 2 2 3 2 2 2 1 2 2 2 1 0 0 1 2 2 2 2 2 1 152 1 9 2 1 2 2 2 0 0 1 2 2 0 0 1 2 1 2 1 2 2 0 153 2 9 2 1 2 2 0 2 0 1 2 2 0 0 0 2 1 2 0 1 2 0 154 2 9 2 1 2 2 0 2 1 2 2 0 0 0 0 2 2 2 2 2 2 0 155 2 9 2 1 2 2 1 2 2 2 2 2 1 0 1 1 1 2 1 0 1 0 156 2 9 2 1 2 2 0 1 0 1 1 2 0 0 1 2 0 2 1 2 2 0 157 2 9 2 2 3 2 1 2 0 1 2 2 1 1 1 2 0 2 0 2 2 1 158 1 10 2 1 2 2 0 1 1 1 2 1 1 0 1 2 1 2 1 0 2 0 159 2 9 2 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 1 2 2 2 160 1 9 2 1 2 2 0 2 0 1 2 2 0 0 0 2 0 1 1 2 2 0 161 2 10 2 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 1 2 1 2 0 0 2 0 162 2 9 2 1 2 2 0 0 1 1 2 1 0 0 1 2 0 2 0 0 1 0 163 2 9 2 1 1 2 1 2 0 2 0 2 2 2 1 1 1 2 1 2 2 0 164 2 9 2 1 2 2 0 2 0 1 2 2 2 0 2 1 2 1 0 2 2 0 165 2 9 2 2 3 2 1 0 0 1 1 2 0 0 2 1 2 2 1 2 1 0 166 1 13 3 2 3 2 0 0 0 1 2 2 0 0 0 2 0 2 0 0 1 1 167 2 10 2 1 1 2 0 0 0 1 2 2 1 0 0 2 0 2 0 2 2 1 168 2 11 2 1 1 2 1 0 1 2 2 2 1 0 1 1 1 1 1 0 1 1 169 1 11 2 1 2 2 0 0 0 1 2 2 0 0 0 2 0 2 1 2 1 0 170 1 13 3 1 2 1 0 0 0 2 2 2 1 1 0 1 0 2 1 2 2 0 171 2 11 2 1 2 2 0 0 0 1 2 2 0 0 1 2 0 2 0 2 2 0 172 2 10 2 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 2 2 0 2 0 2 2 0 173 1 10 2 2 3 2 0 0 0 1 1 2 0 0 0 1 0 2 1 2 1 1 174 1 11 2 1 1 2 0 0 0 1 2 2 0 0 0 1 0 2 1 2 1 0

175 1 11 2 1 2 2 0 0 0 1 2 2 0 0 0 0 0 2 1 2 2 0 176 2 10 2 1 1 2 1 0 0 1 1 2 0 0 0 1 0 1 0 2 2 0 177 2 10 2 1 2 2 1 2 1 1 2 2 1 1 1 2 1 1 0 0 1 2 178 1 10 2 1 1 2 1 1 1 1 2 2 0 0 0 2 0 2 1 0 2 2 179 2 10 2 1 2 2 1 0 1 1 2 2 1 0 1 2 0 2 1 2 2 0 180 1 10 2 1 1 2 1 2 1 1 2 2 0 2 2 2 0 2 0 2 2 2


Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

12
Pp18 Pp19 totk Ppp1 infek jenas jentri jehok cam jcamp ascar ascark tri trik worm wormk jenis 22112222250404045 02222222250404045 0 2 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 63 1 0 4 2 0 2 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 21 1 0 4 2 0 2 2 1 1 1 1 2 1 1 82 1 42 1 0 4 4 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 2394 1 0 4 0 4 1 2 2 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 42 1 0 4 2 02212222250404045 12112222250404045 02212222250404045 2 2 2 1 1 1 1 2 1 1 5838 2 231 1 0 4 4 0 1 3 1 1 1 1 2 1 1 3192 1 63 1 0 4 4 02212222250404045 01212222250404045 1 2 2 1 1 1 1 2 1 1 441 1 63 1 0 4 4 2 1 3 1 1 1 2 2 2 5 273 1 0 4 0 4 1 0 2 2 1 1 1 1 2 1 1 6888 2 357 1 0 4 4 1 1 2 1 1 1 1 2 1 1 84 1 42 1 0 4 4 0 1 3 1 1 1 2 2 2 5 294 1 0 4 0 4 1 0 1 2 1 1 2 1 1 1 3 0 4 84 1 357 1 4 0 2 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 21 1 0 4 2 02212222250404045 1 1 3 1 1 1 1 1 1 4 21 1 42 1 1638 1 4 02312222250404045 0 1 3 1 1 2 1 2 2 5 0 4 378 1 0 4 2 0 1 3 1 1 2 1 2 2 5 0 4 189 1 0 4 2 12212222250404045 0 2 2 1 1 1 1 2 1 1 1827 1 147 1 0 4 4 0 1 2 1 1 1 2 2 2 5 588 1 0 4 0 4 1 2 2 1 1 1 2 1 2 2 5 0 4 126 1 0 4 2
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

13
No sex umur umurk P1 P2 Pp1 Pp2 Pp3 Pp4 Pp5 Pp6 Pp7 Pp8 Pp9 Pp10 Pp11 Pp12 Pp13 Pp14 Pp15 Pp16 Pp17 181 1 12 3 1 2 1 1 0 0 1 1 2 1 0 0 1 1 1 1 2 1 0 182 2 11 2 1 2 2 0 0 2 2 2 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 0 183 1 12 3 2 1 2 1 0 1 1 2 2 1 1 0 1 1 2 1 2 2 0 184 2 12 3 2 3 2 0 2 1 1 2 2 1 1 0 2 2 2 2 2 2 0 185 2 12 3 2 3 2 1 2 1 1 2 2 1 1 2 2 1 2 2 2 2 0 186 2 12 3 1 1 2 1 0 0 1 1 1 1 0 1 0 0 2 0 2 2 0 187 1 11 2 1 1 2 0 2 1 2 2 2 1 1 0 1 1 2 1 2 2 0 188 1 12 3 2 3 2 1 2 1 1 2 2 2 1 0 1 1 0 2 0 2 2 189 2 12 3 2 1 2 1 0 0 1 1 2 1 1 0 1 1 2 2 2 2 0 190 1 11 2 1 2 2 0 1 0 1 2 2 1 0 1 1 0 2 0 2 2 0 191 1 11 2 2 2 2 1 1 1 1 1 2 1 1 0 1 0 1 1 2 2 1 192 1 11 2 1 1 2 1 1 0 1 2 2 1 1 1 1 1 2 2 2 2 0 193 2 11 2 2 3 2 1 1 1 1 2 2 1 1 2 1 2 2 2 2 2 0

194 2 11 2 1 1 2 1 2 1 1 2 2 1 1 0 2 1 2 1 2 2 0 195 2 12 3 2 3 1 1 0 1 1 1 1 1 1 0 1 1 0 0 0 2 1 196 2 12 3 1 1 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 2 1 2 0 2 2 1 197 1 12 3 1 1 2 1 2 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 0 198 1 12 3 1 1 2 1 1 1 1 2 2 1 1 1 2 1 2 1 2 2 1 199 1 11 2 2 3 2 1 0 0 2 2 2 0 1 1 1 0 2 1 0 1 0 200 1 11 2 2 2 2 0 1 1 1 1 2 0 0 0 1 1 2 0 2 2 0 201 1 12 3 2 3 2 1 2 0 1 2 2 2 2 0 1 0 2 1 2 2 2 202 1 12 3 1 2 2 1 1 1 2 2 2 1 1 1 1 2 2 2 2 1 0


Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

14
Pp18 Pp19 totk Ppp1 infek jenas jentri jehok cam jcamp ascar ascark tri trik worm wormk jenis 0 1 3 1 1 1 1 2 1 1 210 1 63 1 0 4 4 02112222250404045 2 1 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 189 1 0 4 2 11222222250404045 22112222250404045 0 1 3 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 84 1 3 02212222250404045 22212222250404045 2 1 2 1 1 1 2 1 1 2 1722 1 0 4 441 1 4 01212222250404045 2 1 2 1 1 1 2 1 1 2 63 1 0 4 147 1 4 02212222250404045 2 2 1 1 1 1 2 2 2 5 84 1 0 4 0 4 1 01212222250404045 2 1 3 1 1 2 1 2 2 5 0 4 84 1 0 4 2 0 2 2 1 1 1 2 2 2 5 147 1 0 4 0 4 1 0 2 1 1 1 1 2 2 2 5 105 1 0 4 0 4 1 0 2 2 1 1 2 2 1 2 5 0 4 0 4 42 1 3 2 2 2 1 1 2 1 2 2 5 0 4 63 1 0 4 2 1 2 2 1 1 1 2 2 2 5 84 1 0 4 0 4 1 12212222250404045 02222222250404045
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

1 Output Analisis Univariat dan Bivariat 1. Prevalensi kejadian kecacingan Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Positif 114 56.4 56.4 56.4 Negatif 88 43.6 43.6 100.0 Total 202 100.0 100.0 2. Prevalensi kejadian kecacingan berdasarkan jenis cacing Ascaris lumbricoides Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent Valid Ascaris lumbricoides 78 38.6 38.6 38.6 Negatif 124 61.4 61.4 100.0 Total 202 100.0 100.0 Trichuris trichiura Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Trichuris trichiura 57 28.2 28.2 28.2 Negatif 145 71.8 71.8 100.0 Total 202 100.0 100.0 Hookworm
Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Hookworm 41 20,3 20,3 20,3 Negatif 161 79,7 79,7 100,0 Total 202 100,0 100,0
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

2 3. Proporsi kejadian kecacingan berdasarkan jenis infeksi cacing


Jenis cacing yang menginfeksi anak SD * Infeksi kecacingan pada anak SD Crosstabulation 30 0 30 100,0% ,0% 100,0% 26,3% ,0% 14,9% 14,9% ,0% 14,9% 21 0 21 100,0% ,0% 100,0% 18,4% ,0% 10,4% 10,4% ,0% 10,4% 909 100,0% ,0% 100,0% 7,9% ,0% 4,5% 4,5% ,0% 4,5% 54 0 54 100,0% ,0% 100,0% 47,4% ,0% 26,7% 26,7% ,0% 26,7% 0 88 88 ,0% 100,0% 100,0% ,0% 100,0% 43,6% ,0% 43,6% 43,6% 114 88 202 56,4% 43,6% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 56,4% 43,6% 100,0% Count % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total

Count % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Hookworm Campuran Negatif Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Total Positif Negatif Infeksi kecacingan pada anak SD Total Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

3 4. Jenis Infeksi Cacing Campuran Anak Sekolah Dasar


jenis sth * Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Crosstabulation 30 0 0 0 0 30 100,0% ,0% ,0% ,0% ,0% 100,0% 100,0% ,0% ,0% ,0% ,0% 14,9% 0 21 0 0 0 21 ,0% 100,0% ,0% ,0% ,0% 100,0% ,0% 100,0% ,0% ,0% ,0% 10,4% 009009 ,0% ,0% 100,0% ,0% ,0% 100,0% ,0% ,0% 100,0% ,0% ,0% 4,5% 0 0 0 22 0 22

,0% ,0% ,0% 100,0% ,0% 100,0% ,0% ,0% ,0% 40,7% ,0% 10,9% 0 0 0 18 0 18 ,0% ,0% ,0% 100,0% ,0% 100,0% ,0% ,0% ,0% 33,3% ,0% 8,9% 000606 ,0% ,0% ,0% 100,0% ,0% 100,0% ,0% ,0% ,0% 11,1% ,0% 3,0% 000808 ,0% ,0% ,0% 100,0% ,0% 100,0% ,0% ,0% ,0% 14,8% ,0% 4,0% 0 0 0 0 88 88 ,0% ,0% ,0% ,0% 100,0% 100,0% ,0% ,0% ,0% ,0% 100,0% 43,6% 30 21 9 54 88 202 14,9% 10,4% 4,5% 26,7% 43,6% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% 100,0% Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Count % within jenis sth % within Jenis cacing yang menginfeksi anak SD ascar tri hok ascar + tri ascar + hok tri + hok ascar + tri + hok negatif

jenis sth Total Ascaris lumbricoides Trichuris trichiura Hookworm Campuran Negatif Jenis cacing yang menginfeksi anak SD Total Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

4 5. Karakteristik Anak Sekolah Dasar Umur responden Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid 6-8 tahun 98 48.5 48.5 48.5 9-11 tahun 80 39.6 39.6 88.1 12 tahun 24 11.9 11.9 100.0 Total 202 100.0 100.0 Jenis kelamin Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid laki-laki 116 57.4 57.4 57.4 perempuan 86 42.6 42.6 100.0 Total 202 100.0 100.0 Makan obat cacing 6 bulan terakhir Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid < 6 bulan 37 18.3 18.3 18.3 6 bulan 165 81.7 81.7 100.0 Total 202 100.0 100.0 6. Lingkungan Anak Sekolah Dasar Responden Yang mempunyai jamban (WC) Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Tidak Ada 155 76.7 76.7 76.7

Ada 47 23.3 23.3 100.0 Total 202 100.0 100.0


Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

5 Tempat biasa pembuangan tinja Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Kebun 105 52.0 52.0 52.0 Sembarangan 58 28.7 28.7 80.7 Jamban Sendiri 39 19.3 19.3 100.0 Total 202 100.0 100.0 Personal Higiene Frequency Percent Valid Percent Cumulative Percent Valid Baik 20 9.9 9.9 9.9 Sedang 138 68.3 68.3 78.2 Buruk 44 21.8 21.8 100.0 Total 202 100.0 100.0 7. Berat Ringannya Infeksi Kecacingan Anak Sekolah Dasar Ascaris lumbricoides
Infeksi ascaris * Berat ringannya infeksi Ascaris lumbricoides Crosstabulation 70 8 0 78 27.0 3.1 47.9 78.0 89.7% 10.3% .0% 100.0% 34.7% 4.0% .0% 38.6% 0 0 21 21 7.3 .8 12.9 21.0 .0% .0% 100.0% 100.0% .0% .0% 10.4% 10.4% 0099 3.1 .4 5.5 9.0 .0% .0% 100.0% 100.0% .0% .0% 4.5% 4.5% 0066 2.1 .2 3.7 6.0 .0% .0% 100.0% 100.0% .0% .0% 3.0% 3.0% 0 0 88 88 30.5 3.5 54.0 88.0 .0% .0% 100.0% 100.0% .0% .0% 43.6% 43.6% 70 8 124 202 70.0 8.0 124.0 202.0 34.7% 4.0% 61.4% 100.0% 34.7% 4.0% 61.4% 100.0% Count Expected Count % within Infeksi ascaris % of Total Count Expected Count % within Infeksi ascaris % of Total Count

Expected Count % within Infeksi ascaris % of Total Count Expected Count % within Infeksi ascaris % of Total Count Expected Count % within Infeksi ascaris % of Total Count Expected Count % within Infeksi ascaris % of Total ascar tri hok tri + hok negatif Infeksi ascaris Total Ringan Sedang Negatif Berat ringannya infeksi Ascaris lumbricoides Total

Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

6 Hookworm
Infeksi hookworm * Berat ringannya infeksi Hookworm Crosstabulation 0 0 30 30 .0% .0% 100.0% 100.0% 0 0 21 21 .0% .0% 100.0% 100.0% 39 2 0 41 95.1% 4.9% .0% 100.0% 0 0 22 22 .0% .0% 100.0% 100.0% 0 0 88 88 .0% .0% 100.0% 100.0% 39 2 161 202 19.3% 1.0% 79.7% 100.0% Count % within Infeksi hookworm Count % within Infeksi hookworm Count % within Infeksi hookworm Count % within Infeksi hookworm Count % within Infeksi hookworm Count % within Infeksi hookworm ascar tri hok ascar + tri negatif Infeksi hookworm Total Ringan Sedang Negatif Berat ringannya infeksi Hookworm Total

Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

7 8. Crosstabs Umur Anak Sekolah Dasar

Umur responden * Infeksi kecacingan pada anak SD Crosstabulation 51 47 98 55.3 42.7 98.0 52.0% 48.0% 100.0% 44.7% 53.4% 48.5% 25.2% 23.3% 48.5% 48 32 80 45.1 34.9 80.0 60.0% 40.0% 100.0% 42.1% 36.4% 39.6% 23.8% 15.8% 39.6% 15 9 24 13.5 10.5 24.0 62.5% 37.5% 100.0% 13.2% 10.2% 11.9% 7.4% 4.5% 11.9% 114 88 202 114.0 88.0 202.0 56.4% 43.6% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 56.4% 43.6% 100.0% Count Expected Count % within Umur responden % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Umur responden % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Umur responden % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Umur responden % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total 6-8 tahun 9-11 tahun >12 tahun Umur responden Total Positif Negatif Infeksi kecacingan pada anak SD Total

Chi-Square Tests 1.542a 2 .462

1.545 2 .462 1.416 1 .234 202 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value df Asymp. Sig. (2-sided) 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10.46. a.
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

8 9. Crosstabs Jenis Kelamin Responden


Jenis kelamin * Infeksi kecacingan pada anak SD Crosstabulation 64 52 116 65.5 50.5 116.0 55.2% 44.8% 100.0% 56.1% 59.1% 57.4% 31.7% 25.7% 57.4% 50 36 86 48.5 37.5 86.0 58.1% 41.9% 100.0% 43.9% 40.9% 42.6% 24.8% 17.8% 42.6% 114 88 202 114.0 88.0 202.0 56.4% 43.6% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 56.4% 43.6% 100.0% Count Expected Count % within Jenis kelamin % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Jenis kelamin % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Jenis kelamin % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total laki-laki perempuan Jenis kelamin

Total Positif Negatif Infeksi kecacingan pada anak SD Total Chi-Square Tests .177b 1 .674 .077 1 .782 .177 1 .674 .774 .391 .176 1 .675 202 Pearson Chi-Square Continuity Correcation Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) a. Computed only for a 2x2 table 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 37. 47. b.
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

9 10. Crosstabs Kepemilikan Jamban Responden


Responden Yang mempunyai jamban (WC) * Infeksi kecacingan pada anak SD Crosstabulation 88 67 155 87.5 67.5 155.0 56.8% 43.2% 100.0% 77.2% 76.1% 76.7% 43.6% 33.2% 76.7% 26 21 47 26.5 20.5 47.0 55.3% 44.7% 100.0% 22.8% 23.9% 23.3% 12.9% 10.4% 23.3% 114 88 202 114.0 88.0 202.0 56.4% 43.6% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 56.4% 43.6% 100.0% Count Expected Count % within Responden Yang mempunyai jamban (WC) % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count

% within Responden Yang mempunyai jamban (WC) % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Responden Yang mempunyai jamban (WC) % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Tidak Ada Ada Responden Yang mempunyai jamban (WC) Total Positif Negatif Infeksi kecacingan pada anak SD Total
Chi-Square Tests .031b 1 .860 .000 1 .993 .031 1 .860 .868 .495 .031 1 .860 202 Pearson Chi-Square Continuity Correction a Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) Computed a. only for a 2x2 table 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 20. 48. b. Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

10 11. Crosstabs Tempat Biasa Pembuangan Tinja


Tempat biasa pembuangan tinja * Infeksi kecacingan pada anak SD Crosstabulation 59 46 105 59.3 45.7 105.0 56.2% 43.8% 100.0% 51.8% 52.3% 52.0% 29.2% 22.8% 52.0% 36 22 58 32.7 25.3 58.0 62.1% 37.9% 100.0% 31.6% 25.0% 28.7% 17.8% 10.9% 28.7% 19 20 39

22.0 17.0 39.0 48.7% 51.3% 100.0% 16.7% 22.7% 19.3% 9.4% 9.9% 19.3% 114 88 202 114.0 88.0 202.0 56.4% 43.6% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 56.4% 43.6% 100.0% Count Expected Count % within Tempat biasa pembuangan tinja % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Tempat biasa pembuangan tinja % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Tempat biasa pembuangan tinja % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Tempat biasa pembuangan tinja % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Kebun Sembarangan Jamban Sendiri Tempat biasa pembuangan tinja Total Positif Negatif Infeksi kecacingan pada anak SD Total

Chi-Square Tests 1.696a 2 .428 1.696 2 .428 .250 1 .617 202 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value df Asymp. Sig. (2-sided) 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 16.99.

a.
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

11 12. Crosstabs Personal Higiene Responden


Total Personal Higiene * Infeksi kecacingan pada anak SD Crosstabulation 7 13 20 11.3 8.7 20.0 35.0% 65.0% 100.0% 6.1% 14.8% 9.9% 3.5% 6.4% 9.9% 71 67 138 77.9 60.1 138.0 51.4% 48.6% 100.0% 62.3% 76.1% 68.3% 35.1% 33.2% 68.3% 36 8 44 24.8 19.2 44.0 81.8% 18.2% 100.0% 31.6% 9.1% 21.8% 17.8% 4.0% 21.8% 114 88 202 114.0 88.0 202.0 56.4% 43.6% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 56.4% 43.6% 100.0% Count Expected Count % within Total Personal Higiene % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Total Personal Higiene % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Total Personal Higiene % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Total Personal Higiene % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Baik Sedang Buruk Total Personal Higiene Total

Positif Negatif Infeksi kecacingan pada anak SD Total

Chi-Square Tests 16.664a 2 .000 17.861 2 .000 15.810 1 .000 202 Pearson Chi-Square Likelihood Ratio Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value df Asymp. Sig. (2-sided) 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8.71. a.
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

12 13. Crosstabs Makan Obat Cacing


Frekuensi makan obat cacing * Infeksi kecacingan pada anak SD Crosstabulation 113 52 165 93.1 71.9 165.0 68.5% 31.5% 100.0% 99.1% 59.1% 81.7% 55.9% 25.7% 81.7% 1 36 37 20.9 16.1 37.0 2.7% 97.3% 100.0% .9% 40.9% 18.3% .5% 17.8% 18.3% 114 88 202 114.0 88.0 202.0 56.4% 43.6% 100.0% 100.0% 100.0% 100.0% 56.4% 43.6% 100.0% Count Expected Count % within Frekuensi makan obat cacing % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Frekuensi makan obat cacing % within Infeksi kecacingan pada anak SD % of Total Count Expected Count % within Frekuensi makan obat cacing % within Infeksi

kecacingan pada anak SD % of Total >= 6 bulan < 6 bulan Frekuensi makan obat cacing Total Positif Negatif Infeksi kecacingan pada anak SD Total Chi-Square Tests 53.194b 1 .000 50.552 1 .000 61.838 1 .000 .000 .000 52.931 1 .000 202 Pearson Chi-Square Continuity Correctiona Likelihood Ratio Fisher's Exact Test Linear-by-Linear Association N of Valid Cases Value df Asymp. Sig. (2-sided) Exact Sig. (2-sided) Exact Sig. (1-sided) Computed only a. for a 2x2 table 0 cells (.0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 16. 12. b.
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008

13

Jawaban Atas Pertanyaan Kuesioner


No Pernyataan Atas Pertanyaan untuk Personal Higiene Jawaban Total ABC Jlh % Jlh % Jlh % Jlh % 1 Sebelum makan apakah adik mencuci tangan? 118 93,1 12 5,9 2 1,0 202 100 2 Apakah sebelum makan adik mencuci tangan dengan sabun? 13 6,4 51 25,3 138 68,3 202 100 3 Setelah buang air besar apakah adik mencuci tangan? 58 28,7 58 28,7 86 42,6 202 100 4 Apakah setelah buang air besar adik mencuci tangan dengan sabun? 13 6,4 46 22,8 143 70,8 202 100 5 Berapa kali adik mandi satu hari? 39 19,3 161 79,7 2 1,0 202 100

6 Setiap kali mandi apakah adik menggunakan sabun? 173 85,6 24 11,9 5 2,5 202 100 7 Apakah adik sering makan sambil bermain di tanah? 172 85,1 26 12,9 4 2,0 202 100 8 Setelah bermain di tanah apakah adik membersihkan kaki dan tangan? 23 11,4 84 41,6 95 47,0 202 100 9 Apakah setelah bermain di tanah adik mencuci kaki dan tangan dengan sabun? 13 6,4 48 23,8 141 69,8 202 100 10 Apakah adik menggunakan alas kaki setiap bermain diluar rumah? 46 22,8 74 36,6 82 40,6 202 100 11 Pada waktu istirahat sekolah apakah adik memakai sepatu setiap kali bermain? 125 61,9 69 34,1 8 4,0 202 100 12 Apakah seminggu sekali adik memotong kuku? 45 22,3 66 32,7 91 45,0 202 100 13 Apakah adik sering menggigit kuku ketika sedang bermain? 160 79,2 34 16,8 8 4,0 202 100 14 Lihat keadaan kuku anak (observasi) 51 25,2 94 46,5 57 28,2 202 100 15 Dari mana sumber air minum adik? 175 86,6 2 1,2 25 12,4 202 100 16 Lihat kondisi air bersih (tidak berbau, tidak berasa, tidak berwarna) (observasi) 167 82,7 32 15,8 3 1,5 202 100 17 Lihat ketersediaan saluran pembuangan air limbah di rumah. (observasi) 15 7,4 49 24,3 138 68,3 202 100 18 Lihat letak WC? (observasi) 26 12,9 21 10,4 155 76,7 202 100 19 Apakah adik selalu meminum air yang sudah dimasak dengan matang? 137 67,8 63 31,2 2 1.0 202 100
Agustaria Ginting : Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Kejadian Kecacingan Pada Anak Sekolah Dasar Di Desa Tertinggal Kecamatan Pangururan Kabupaten Samosir Tahun 2008, 2009 USU Repository 2008