Anda di halaman 1dari 36
PEMERIKSAAN FISIK DAN DIAGNOSTIK SISTEM PERNAFASAN • Disertai riwayat keperawatan
PEMERIKSAAN FISIK DAN
DIAGNOSTIK SISTEM PERNAFASAN
• Disertai riwayat
keperawatan

Pengkajian keperawatan fungsi

kardiopulmonar • Riwayat keperawatan fungsi kardiopulmonal normal klien dan fungsi kardiopulmonal saat ini, kerusakan fungsi sirkulasi
kardiopulmonar
• Riwayat keperawatan fungsi
kardiopulmonal normal klien dan fungsi
kardiopulmonal saat ini, kerusakan fungsi
sirkulasi dan fungsi pernapasan pada
masa yang lalu
• Pemeriksaan fisik status kardiopulmonal
klien, termasuk inspeksi, palpasi, perkusi,
dan auskultasi.
Pengkajian keperawatan fungsi kardiopulmonar • Peninjauan kembali hasil pemeriksaan laboratorium dan hasil pemeriksaan diagnostik, termasuk hitung
Pengkajian keperawatan
fungsi kardiopulmonar
• Peninjauan kembali hasil
pemeriksaan laboratorium dan hasil
pemeriksaan diagnostik, termasuk
hitung darah lengkap, EKG, dan
pemeriksaan fungsi pulmonar,
sputum, dan oksigenasi, seperti
arteri gas darah (AGD) atau oksimetri
nadi.
RIWAYAT KEPERAWATAN • Riwayat keperawatan harus berfokus pada kemampuan klien dalam memenuhi kebutuhan oksigen, untuk mengkaji
RIWAYAT KEPERAWATAN
• Riwayat keperawatan harus berfokus pada
kemampuan klien dalam memenuhi
kebutuhan oksigen, untuk mengkaji fungsi
paru meliputi nyeri dan karakteristik nyeri,
dispnea. keletihan. sirkulasi perifer, faktor
risiko penyakit paru dan jantung, dan
adanya kondisi-kondisi jantung dan paru
pada masa yang lalu dan kondisi-kondisi
yang menyertai.
RIWAYAT KEPERAWATAN
RIWAYAT KEPERAWATAN
• Riwayat keperawatan tentang fungsi paru meliputi pengkajian adanya batuk, sesak napas, mengi, nyeri, pemaparan lingkungan,
• Riwayat keperawatan tentang fungsi paru
meliputi pengkajian adanya batuk, sesak
napas, mengi, nyeri, pemaparan
lingkungan, frekuensi infeksi saluran
pernapasan, faktor risiko pulmonar,
masalah pernapasan yang lalu,
penggunaan obat-obatan saat ini, dan
riwayat merokok atau terpapar asap
rokok.
RIWAYAT KEPERAWATAN • Riwayat keperawatan harus berisi informasi tentang frekuensi dan durasi infeksi saluran
RIWAYAT KEPERAWATAN
• Riwayat keperawatan harus berisi informasi
tentang frekuensi dan durasi infeksi saluran

pernapasan. Walaupun setiap orang kadang kala mengalami flu, untuk beberapa orang, flu dapat mengakibatkan bronkhitis dan

pneumonia. Tetapkan apakah klien pernah mendapatkan vaksin flu atau vaksin pneumococcus di masa lalu. • Perawat
pneumonia. Tetapkan apakah klien pernah
mendapatkan vaksin flu atau vaksin
pneumococcus di masa lalu.
• Perawat dapat menanyakan klien setiap
pemaparan terhadap tuberculosis dan hasil
tes kulit tuberkulin.
RIWAYAT KEPERAWATAN • Tetapkan risiko klien untuk terjangkit infeksi HIV. Klien yang memiliki riwayat menggunakan obat-obatan
RIWAYAT KEPERAWATAN
• Tetapkan risiko klien untuk terjangkit
infeksi HIV. Klien yang memiliki riwayat
menggunakan obat-obatan intravena,
berganti-ganti pasangan seksual tanpa
menggunakan pelindung, atau menjalani
gaya hidup homoseksual berisiko
terjangkit infeksi HIV. Klien mungkin tidak
memperlihatkan gejala infeksi HIV sampai
terjadi infeksi Pneumocystis carinii (PCP)
atau infeksi
Keletihan.
Keletihan.
Keletihan merupakan sensasi subjektif, yaitu klien melaporkan bahwa ia kehilangan daya tahan. Keletihan pada klien yang
Keletihan merupakan sensasi subjektif,
yaitu klien melaporkan bahwa ia
kehilangan daya tahan. Keletihan pada
klien yang mengalami perubahan
kardiopulmonal seringkali merupakan
tanda awal perburukan proses kronik yang
mendasari perubahan
Dispnea • Dispnea merupakan tanda klinis hipoksia dan termanifestasi dengan sesak napas. Dispnea merupakan sensasi subjektif
Dispnea
• Dispnea merupakan tanda klinis hipoksia
dan termanifestasi dengan sesak napas.
Dispnea merupakan sensasi subjektif pada
pernapasan yang sulit dan tidak nyaman
(Gift, 1990). Dispnea dapat dikaitkan
dengan tanda-tanda klinis, seperti usaha
napas yang berlebihan, penggunaan otot
bantu napas, pernapasan cuping hidung,
dan peningkatan frekuensi dan kedalaman
pernapasan yang menyolok.
Ortopnea • Ortopnea adalah kondisi abnormal, yaitu klien harus menggunakan banyak bantal saat berbaring atau harus
Ortopnea
• Ortopnea adalah kondisi abnormal, yaitu
klien harus menggunakan banyak bantal
saat berbaring atau harus duduk saat
bernapas. Keparahan ortopnea biasanya
dinilai dengan menghitung jumlah bantal
yang dibutuhkan saat klien tidur, seperti
yang terjadi pada ortopnea-dua atau tiga
bantal.
Batuk • Batuk merupakan pengeluaran udara dan paru-paru yang tiba-tiba dan dapat didengar. Saat individu menghirup
Batuk
• Batuk merupakan pengeluaran udara dan
paru-paru yang tiba-tiba dan dapat
didengar. Saat individu menghirup napas,
maka glotis akan menutup sebagian dan
otot bantu pernapasan berkontraksi untuk
mengeluarkan udara secara paksa.
• Batuk merupakan refleks untuk membersihkan trakea, bronkus, dan paru- paru untuk melindungi organ-organ tersebut dan
• Batuk merupakan refleks untuk
membersihkan trakea, bronkus, dan paru-
paru untuk melindungi organ-organ
tersebut dan iritan dan sekresi. Karena,
titik bifukasi pada batang utama bronkus
kanan dan kiri, merupakan daerah yang
paling peka untuk memproduksi batuk.
• Batuk sulit untuk dievaluasi dan hampir
setiap orang pernah mengalami batuk.
Klien yang menderita batuk kronik
cenderung untuk menyangkal,
meremehkan, atau meminimalkan batuk
mereka.dikarenakan mereka sudah sangat
terbiasa dengan hal tersebut.
• Batuk diklasifikasikan menurut waktu saat klien paling sering batuk ,pada sinusitis kronik dapat batuk hanya
• Batuk diklasifikasikan menurut waktu saat
klien paling sering batuk ,pada sinusitis
kronik dapat batuk hanya pada awal pagi
hari atau segera setelah bangun tidur.
Batuk ini membersihkan jalan napas dan
lendir, yang berasal dan drainase sinus.
Klien yang mengalami bronkhitis knonik
umumnya memproduksi sputum
sepanjang hari, walaupun jumlah sputum
yang paling banyak dihasilkan setelah
bangun dan posisi semirekumben atau
posisi telentang datar. Hal ini disebabkan
oleh penurunan mobilitas.
Mengi • Mengi ditandai dengan bunyi musik yang bernada tinggi, yang disebabkan gerakan udara berkecepatan tinggi
Mengi
• Mengi ditandai dengan bunyi musik yang
bernada tinggi, yang disebabkan gerakan
udara berkecepatan tinggi melalui jalan
napas yang sempit. Mengi dapat dikaitkan
dengan asma,bronkhitis akut, atau
pneumonia. Mengi dapat terjadi saat
inspirasi, ekspirasi, atau keduanya.
Perawat harus menetapkan setiap faktor
presipitasi, seperti infeksi pernapasan,
alergen, latihan fisik, atau stres.
Nyeri dada • Nyeri dada perlu dievaluasi dengan seksama dengan memperhatikan lokasi, durasi, radiasi, dan frekuensi
Nyeri dada
• Nyeri dada perlu dievaluasi dengan
seksama dengan memperhatikan lokasi,
durasi, radiasi, dan frekuensi nyeri. Nyeri
jantung tidak menyertai variasi
pernapasan. Nyeri ini paling sering terjadi
di sisi kiri dada dan menyebar

Nyeri muskuloskeletal dapat timbul setelah latihan fisik, trauma iga, dan rangkaian batuk yang berlangsung lama. Nyeri ini juga diperburuk oleh gerakan inspirasi dan

kadang-kadang dengan mudah
kadang-kadang dengan mudah
dipersepsikan sebagai nyeri dada pleuritik.
dipersepsikan sebagai nyeri dada pleuritik.
Nyeri dada pleuritik • Nyeri dada pleuritik hanya terjadi di perifer dan beradiasi ke regio skapula.
Nyeri dada pleuritik
• Nyeri dada pleuritik hanya terjadi di
perifer dan beradiasi ke regio skapula.
Nyeri ini diperburuk,jika klien melakukan
manuver inspirasi, seperti batuk,
menguap, dan menghela napas. Nyeri
pleuritik seringkali disebabkan oleh
inflamasi atau infeksi di ruang pleura dan
dideskripsikan sebagai sensasi seperti
irisan pisau, yang berlangsung dan satu
menit sampai beberapa jam. Nyeri ini
selalu dikaitkan dengan inspirasi.
obat-obatan
obat-obatan

Komponen terakhir riwayat keperawatan harus memuat uraian obat-obatan yang klien pergunakan. Komponen ini mencakup obat- obatan yang diresepkan, obat-obatan yang dibeli secara bebas, dan obat-obatan dan substansi yang tidak legal. Obat-obatan tersebut mungkin memiliki efek yang merugikan akibat kerja obat

itu sendiri atau karena intreraksi obat tersebut dengan obat-obatan lain. Individu yang menggunakan obat
itu sendiri atau karena intreraksi obat tersebut
dengan obat-obatan lain. Individu yang
menggunakan obat
PEMERIKSAAN FISIK • Inspeksi. Saat melakukan teknik inspeksi, perawat melakukan observasi dari kepala-sampai ke ujung kaki
PEMERIKSAAN FISIK
• Inspeksi.
Saat melakukan teknik inspeksi, perawat
melakukan observasi dari kepala-sampai ke ujung
kaki klien untuk mengkaji kulit dan warna
membran mukosa, penampilan umum, tingkat
kesadaran, keadekuatan, sirkulasi sistemik, pola
pernapasan, dan gerakan dinding dada. Setiap
kelainan harus diperiksa selama palpasi, perkusi,
dan auskultasi.
Palpasi • Palpasi dada dilakukan untuk mengkaji berapa daerah. Dengan palpasi, jenis dan jumlah kerja thoraks,
Palpasi
• Palpasi dada dilakukan untuk mengkaji berapa
daerah. Dengan palpasi, jenis dan jumlah kerja
thoraks, daerah nyeri tekan dapat diketahui dan
perawat dapat mengidentifikasi taktil fremitus,
getaran pada dada (thrill), angkatan dada
(heaves), dan titik impuls jantung maksimal.
Palpasi juga memungkinkan perawat untuk
meraba adanya massa atau benjolan di aksila
dan jaringan payudara. Palpasi pada ekstremitas
menghasilkan data tentang sirkulasi perifer,
adanya nadi perifer, temperatur kulit, warna,
dan pengisian kapiler
Perkusi • Perkusi adalah tindakan mengetuk-ngetuk suatu objek untuk menentukan adanya udara. cairan, atau benda padat
Perkusi
• Perkusi adalah tindakan mengetuk-ngetuk suatu
objek untuk menentukan adanya udara. cairan,
atau benda padat di jaringan yang berada di
bawah objek tersebut (Malasanos, Barkauskas,
dan Stoltenberg-allen, 1990). Perkusi
menimbulkan getaran dan daerah di bawah area
yang diketuk dengan kedalaman 4 sampai 6 cm

(Seidel dkk, 1995). Lima nada perkusi adalah resonansi, hiperesonansi, redup, datar, dan timpani. Perkusi memungkinkan perawat untuk menentukan adanya cairan yang tidak normal, udara di paru-paru, atau kerja diafragma.

auskultasi • Penggunaan auskultasi memampukan perawat mengidentifikasi bunyi paru dan jantung yang normal maupun yang tidak
auskultasi
• Penggunaan auskultasi memampukan
perawat mengidentifikasi bunyi paru dan
jantung yang normal maupun yang tidak
normal. Auskultasi sistem kardiovaskular
harus meliputi pengkajian dalam
mendeteksi bunyi S dan S. normal,
mendeteksi adanya bunyi 53 dan 54 yang
tidak normal, dan bunyi murmur, serta
bunyi gesekan. Pemeriksa harus
mengidentifikasi lokasi, radiasi, intensitas,
nada, dan kualitas bunyi murmur.
• Auskultasi juga digunakan untuk mengidentifikasi bunyi bruit di atas arteri karotis, aorta abdomen, dan arteri
• Auskultasi juga digunakan untuk mengidentifikasi
bunyi bruit di atas arteri karotis, aorta abdomen,
dan arteri femoral.
Auskultasi bunyi paru dilakukan dengan
mendengarkan gerakan udara di sepanjang
lapangan paru anterior, posterior, dan lateral.
Suara napas tambahan terdengar, jika suatu
daerah paru mengalami kolaps terdapat cairan di
suatu lapangan paru, atau terjadi obstruksi.
Auskultasi juga dilakukan untuk mengevaluasi
respons klien terhadap intervensi yang dilakukan
untuk meningkatkan status pernapasan.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK • Pemeriksaan untuk Mengukur Keadekuatan Ventilasi dan Oksigenasi. Pemeriksaan fungsi paru, kecepatan aliran ekspirasi

Pemeriksaan untuk Mengukur Keadekuatan Ventilasi dan Oksigenasi. Pemeriksaan fungsi paru, kecepatan aliran

ekspirasi puncak, pemeriksaan gas darah arteri, oksimetri, dan hitung darah lengkap digunakan untuk mengkaji keadekuatan ventilasi
ekspirasi puncak, pemeriksaan gas darah
arteri, oksimetri, dan hitung darah lengkap
digunakan untuk mengkaji keadekuatan
ventilasi dan oksigenasi.
Pemeriksaan fungsi paru • Pemeriksaan fungsi paru menentukan kemampuan paru-paru untuk melakukan pertukaran oksigen dan karbon
Pemeriksaan fungsi paru
• Pemeriksaan fungsi paru menentukan
kemampuan paru-paru untuk melakukan
pertukaran oksigen dan karbon dioksida
secara efisien. Pemeriksaan ventilasi dasar
dilakukan dengan menggunakan
spirometer dan alat pencatat sernentara
klien bernapas melalui masker mulut
(mouthpiece) yang dihubungkan dengan
selang penghubung. Pengukuran yang
dilakukan mencakup volume tidal (V1),
volume reserve inspirasi (TRy), volume
residual (VR), dan volume ckspirasi yang
dipaksa selama 1 detik (FEV).
Pemeriksaan gas darah arteri • Pemeriksaan gas darah arteri. Pengukuran gas darah arteri dilakukan bersamaan dengan
Pemeriksaan gas darah arteri
• Pemeriksaan gas darah arteri. Pengukuran gas
darah arteri dilakukan bersamaan dengan
pemeriksaan fungsi paru untuk menentukan
konsentrasi ion hidrogen, tekanan parsial oksigen
dan karbon dioksida, dan saturasi
oksihemoglobin. Pemeriksaan gas darah arteri
memberikan informasi tentang difusi gas melalui
membran kapiler alveolar dan keadekuatan
oksigenasi jaringan .
Oksimetri • Pengukuran saturasi oksigen kapiler yang kontinu dapat dilakukan dengan menggunakan oksimetri kutaneus. Saturasi oksigen
Oksimetri
• Pengukuran saturasi oksigen kapiler yang
kontinu dapat dilakukan dengan menggunakan
oksimetri kutaneus. Saturasi oksigen (O2sat)
adalah persentase hemoglobin yang disaturasi
oksigen. Keuntungan pengukuran oksimetri
transkutaneus meliputi mudah dilakukan, tidak
invasif, dan dengan mudah diperoich (Whitney,
1990). Oksimetri tidak menimbulkan nyeri, jika
dibandingkan dengan pungsi arteri. Klien yang
mengalami kelainan perfusi/ventilasi, seperti
pneumonia,menggunakan oksmetri nadi (Ahrens
dan Rutherford,1993
Hitung darah lengkap
Hitung darah lengkap
• Hitung darah lengkap menentukan jumlah dan tipe sel darah merah dan sel darah putih per
• Hitung darah lengkap menentukan jumlah
dan tipe sel darah merah dan sel darah
putih per mm3 darah. Perawat
memperoleh contoh darah vena dengan
menggunakan pungsi vena. Nilai normal
untuk hitung darah lengkap bervariasi
menurut usia dan jenis kelamin.
Pemeriksaan sinar-X dada
Pemeriksaan sinar-X dada
• Pemeriksaan sinar-X dada terdiri dan radiografi thoraks, yang memungkinkan perawat dan dokter mengobservasi lapangan paru
• Pemeriksaan sinar-X dada terdiri dan radiografi
thoraks, yang memungkinkan perawat dan dokter
mengobservasi lapangan paru untuk mendeteksi
adanya cairan (mis. seperti yang terjadi pada
pneumonia), massa (mis. kanker paru), fraktur
(mis. fraktur klavikula dan tulang iga), dan
proses-proses abnormal lain (mis. tuberkulosis).
Biasanya suatu film lateral dan PA (posterior-
anterior) dilakukan untuk memvisualisasi
lapangan paru secara adekuat.
Bronkoskopi • Bronkoskopi adalah pemeriksaan visual pada pohon trakeobronkial melalui bronkoskop serat- optik yang fleksibel, dan
Bronkoskopi
• Bronkoskopi adalah pemeriksaan visual pada
pohon trakeobronkial melalui bronkoskop serat-
optik yang fleksibel, dan sempit. Brokoskopi
dilakukan untuk memperoleh sampel biopsi dan
cairan atau sampel sputum dan untuk
mengangkat plak lendir atau benda asing yang
menghambat jalan napas.
Klien biasanya dipuasakan sebelum menjalani
bronkoskopi. Perawat memberi obat-obatan,
seperti sedatif atau atropin untuk mengurangi
sekeresi oral. Perawat melanjutkan observasi
klien setelah prosedur untuk melihat tanda dan
gejala distress pernapasan atau hipoksia.
Sebelum memberikan cairan per oral, kaji apakah
refleks gaglmenelan klien utuh.
kultur tenggorok • Suatu sampel kultur tenggorok diperoleh dengan mengusap daerah tonsil dan daerah orofaring dengan
kultur tenggorok
• Suatu sampel kultur tenggorok diperoleh
dengan mengusap daerah tonsil dan
daerah orofaring dengan swab steril.
Kultur tenggorok menentukan adanya
mikroorganisme patogenik. Apabila
diprogramkan pemeriksaan sensitivitas,
maka antibiotik yang paling sensitif
terhadap mikroorganisme tersebut juga
ditentukan
Torasentesis • Torasentesis merupakan perforasi dinding dada dan ruang pleura dengan jarum untuk mengaspirasi cairan untuk
Torasentesis
• Torasentesis merupakan perforasi dinding dada
dan ruang pleura dengan jarum untuk
mengaspirasi cairan untuk tujuan diagnostik
atau tujuan terapeutik atau untuk mengangkat
spesimen untuk biopsi. Prosedur dilakukan
dengan teknik aseptik dengan menggunakan
anestesi lokal. Klien biasanya duduk tegak
dengan thoraks anterior yang ditopang bantal
atau dengan di atas tempat tidur.
Sakit tidaknya prosedur ini tergantung pada
toleransi terhadap nyeri.