Anda di halaman 1dari 13

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Indonesia memiliki angka kematian ibu (AKI) paling tinggi se-Asia Tenggara, yaitu 262 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup pada tahun 2010.Angka kematian ibu di Indonesia menunjukkan penurunan, tetapi angka tersebut masih jauh dari target Millenium Development Goals (MDGs) yaitu sebesar 102 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Saat ini angka kematian ibu di Jawa Tengah pada tahun 2010 mencapai 104,97/100.000 kelahiran hidup. Angka ini cenderung menurun bila dibandingkan dengan AKI tahun 2008 dan 2009 yaitu sebesar 114,42/100.000 dan 117,02/100.000 kelahiran hidup. Namun pada tahun 2011 terjadi peningkatan AKI di Jawa Tengah, yaitu sebesar 116,01/100.000 kelahiran hidup.1,2,3 Departemen Kesehatan menyusun rencana jangka panjang untuk menurunkan angka kematian ibu dan angka kematian bayi baru lahir yang dikenal dengan sebutan Making Pregnancy Safer (MPS). Terdapat tiga pesan kunci MPS, yaitu setiap persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan terlatih, setiap komplikasi obstetri dan neonatal mendapat pelayanan yang adekuat, dan setiap wanita usia subur mempunyai akses terhadap pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan dan penanganan komplikasi keguguran.4 Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan persalinan dan nifas normal. Ibu hamil rentan mengalami berbagai risiko. Sebanyak 62,3% ibu hamil dapat mengalami anemia, 27,6% ibu hamil mengalami KEK (Kurang Energi Kronis), 6-10% mengalami preeklampsia, dan 4% dapat mengalami diabetes gestasional. Oleh karena itu, untuk mencegah komplikasi pada ibu hamil diperlukan suatu pemeriksaan kehamilan yang disebut dengan Antenatal Care yang merupakan pemeriksaan kehamilan yang dilakukanuntuk memeriksa keadaan ibu dan janin secara berkala, yang diikuti dengan upaya koreksi terhadap penyimpangan yang ditemukan.5 Ada 7 standar minimal pemeriksaan pada antenatal care yang dikenal dengan 7 T yaitu, menimbang berat badan dan tinggi badan; mengukur tekanan darah; mengukur tinggi 1

fundus uteri; pemberian imunisasi tetanus toxoid; pemberian tablet Fe, pemeriksaan laboratorium rutin (Hb, protein urin, gula darah, dan hepatitis B) dan khusus (HIV, sifilis, TBC, thalasemia); temu wicara (konseling). Selain pemeriksaan rutin yang wajib dilaksanakan oleh ibu hamil, perlu dilaksanakan pendekatan keluarga atau yang disebut dengan pendekatan kedokteran keluarga agar setiap penatalaksanaan pasien dalam hal ini ibu hamil dapat lebih komprehensif dan berkesinambungan. 1.2. Tujuan Tujuan dari penyusunan laporan ini adalah untuk mengetahui penatalaksanaan pada ibu hamil 35 minggu dengan primigravida muda dan pre eklamsia dengan pendekatan kedokteran keluarga. 1.3. Manfaat Penyusunan laporan kasus ini diharapkan dapat menjadi media belajar bagi mahasiswa agar dapat melaksanakan praktek kedokteran keluarga secara langsung kepada pasien ibu hamil risiko tinggi.

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Kehamilan Risiko Tinggi 2.1.1. Definisi Risiko adalah suatu ukuran statistik dari peluang atau kemungkinan untuk terjadinya suatu keadaan gawat yang tidak diinginkan dikemudian hari, misalnya terjadinya kematian, kesakitan atau kecacatan pada ibu dan bayinya.5 Faktor risiko adalah karasteristik atau kondisi pada seseorang atau sekelompok ibu hamil yang dapat menyebabkan peluang atau kemungkinan terjadinya kesakitan atau kematian pada ibu dan atau bayinya. Untuk itu dibutuhkan sekali kegiatan skrining adanya faktor risiko pada semua ibu hamil sebagai komponen penting dalam perawatan kehamilan.5,6 Kehamilan risiko tinggi adalah kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya bahaya dan komplikasi yang lebih besar baik terhadap ibu maupun terhadap janin yang dikandungnya selama masa kehamilan, melahirkan ataupun nifas bila dibandingkan dengan kehamilan, persalinan, dan nifas normal. Dari definisi tersebut menunjukkan bahwa pada kelompok risiko tinggi cenderung akan mengalami mortalitas dan morbiditas yang lebih tinggi baik pada ibu maupun pada bayinya.7 Untuk menentukan suatu kehamilan risiko tinggi, dilakukan penilaian terhadap wanita hamil untuk menentukan apakah dia memiliki keadaan atau ciri-ciri yang menyebabkan ibu atau janinnya lebih rentan terhadap penyakit atau kematian. Cara menentukan kehamilan risiko tinggi terdiri dari 2 cara yaitu dengan cara skoring dan cara kriteria.7 2.1.2. Cara Menentukan Kehamilan Risiko Tinggi6,7 Cara skoring. Kelompok Faktor Risiko I: Ada Potensi Gawat Obstetrik/APGO dengan 7 Terlalu dan 3 Pernah. Tujuh Terlalu adalah primi muda, primi tua, primi tua sekunder, umur 35 tahun, grande 3

multi, anak terkecil umur < 2 tahun, tinggi badan rendah 145 cm dan 3 Pernah adalah riwayat obstetri jelek, persalinan lalu mengalami perdarahan pascapersalinan dengan infuse/transfuse, uri manual, tindakan pervaginam, bekas operasi sesar. (masing-masing memilki skor 4) Kelompok Faktor Risiko II: Ada Gawat Obstetrik/AGO penyakit ibu, preeclampsia ringan, hamil kembar, hidramnion, hamil serotinus, IUFD, letak sungsang, dan letak lintang.(masing-masing memiliki skor 4, kecuali letak lintang dan letak sungsang dengan skor 8) Kelompok Faktor Risiko III: Ada Gawat Darurat Obstetrik/AGDO; perdarahan antepartum dan preeclampsia berat/eklampsia (masing-masing memiliki skor 8) Berdasarkan jumlah skor, ada 3 kelompok risiko: 1. Kelompok Non risiko tinggi (KRR) jumlah skor 2, selama hamil tanpa faktor risiko. 2. Kelompok Risiko Tinggi (KRT) jumlah skor 6 10, dapat dengan FR tunggal dari kelompok FR I, II, atau III, dan dengan FR ganda 2 dari kelompok FR I dan II. 3. Kelompok Risiko Sangat Tinggi (KRST)jumlah skor 12, ibu hamil dengan FR ganda dua atau tiga dan lebih. Cara Kriteria Apabila dalam anamnesis dan pemeriksaan ibu hamil didapatkan satu atau lebih faktor risiko (kriteria) maka dapat digolongkan sebagai ibu hamil dengan risiko tinggi. Sedangkan apabila tidak terdapat faktor risiko digolongkan sebagai faktor risiko rendah. Faktor-faktor risiko atau kriteria ibu hamil risiko tinggi adalah:6,7 1. Sehubungan dengan kondisi ibu, yaitu : Primigravida usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun Usia kehamilan lebih dari 42 minggu Berat badan ibu tergolong obesitas Ukuran lingkar lengan atas ibu hamil kurang dari 23,5 cm Tekanan darah systole lebih dari 130 mmHg dan diastole antara lebih dari 95 mmHg Jumlah kelahiran anak lebih dari 5 Jarak antar kelahiran kurang dari 2 tahun

2. Sehubungan dengan penyakit, yaitu : Terdapat riwayat asma Terdapat riwayat hipertensi Terdapat riwayat diabetes melitus Terdapat riwayat sakit kronik lainnya Riwayat persalinan prematur Riwayat perdarahan Riwayat operasi Riwayat penyulit persalinan

3. Sehubungan dengan riwayat persalinan, yaitu :

2.1.3. Komplikasi Ibu Hamil Risiko Tinggi Komplikasi yang bisa terjadi pada ibu: 1. Sehubungan dengan kondisi ibu, yaitu : - Perdarahan berulang - Kesulitan dalam persalinan - Kelelahan dalam persalinan - Kecacatan ibu dan janin - Kematian ibu dan janin 2. Sehubungan dengan penyakit, yaitu : - Sesak nafas - Kejang - Koma - Perdarahan berulang - Penurunan daya tahan tubuh - Kesulitan dalam persalinan - Kematian ibu dan janin 3. Sehubungan dengan riwayat persalinan, yaitu : - Perdarahan berulang - Robekan dalam rahim - Kesulitan dalam persalinan - Kematian ibu dan janin

2.1.4. Hubungan Usia Ibu dengan Kehamilan Usia produktif yang optimal untuk reproduksi sehat adalah antara 20 35 tahun. Risiko akan meningkat pada usia di bawah 20 tahun maupun di atas 35 tahun. Wanita yang hamil di usia muda, belum mencapai kematangan fisik dan mental yang cukup. Kehamilan di usia muda akan menghabiskan persediaan makan yang sebenarnya sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan bagi seorang gadis yang sedang dalam masa pertumbuhan. Sehingga wanita yang hamil di usia muda, berisiko menderita berbagai komplikasi seperti anemia, preeklampsia, eklampsia dan mengakibatkan kelahiran bayi dengan berat badan rendah. Sedangkan kehamilan pada usia tua (> 35 tahun) mempunyai risiko yang lebih besar untuk mendapatkan penyulit kehamilan (preeklampsia eklampsia, plasenta previa) maupun penyulit persalinan (bedah caesar, perdarahan postpartum) dikarenakan organ reproduksi yang tidak elastis lagi.1,7-9 2.1.5. Infeksi dalam Kehamilan Infeksi dalam kehamilan berdasarkan penyebabnya dikelompokan menjadi tiga penyebab yaitu :10 - Infeksi virus, meliputi varisela zoster, influenza, parotitis, rubeola, virus pernapasan, enterovirus, parfovirus, rubella, sitomegalovirus. - Infeksi bakteri meliputi streptokokus grup A, streptokokus grup B, listeriosis, salmonella, sigela, morbus hansen. - Infeksi protozoa meliputi toksoplasmosis, amubiasis. Terdapat empat jenis penyakit infeksi yang berbahaya bagi janin apabila infeksi ini diderita oleh ibu hamil, di mana keempat penyakit infeksi ini dikenal dengan istilah TORCH yaitu toksoplasma, rubella, sitomegalovirus dan herpes.10 2.1.6. Hubungan Jarak Kehamilan terhadap Kehamilan Jarak kehamilan adalah suatu pertimbangan untuk menentukan kehamilan yang pertama dengan kehamilan berikutnya. Jarak kehamilan yang terlalu dekat menyebabkan ibu mempunyai waktu singkat untuk memulihkan kondisi rahimnya agar bisa kembali ke kondisi sebelumnya, dan berisiko terjadi anemia dalam kehamilan karena setelah cadangan zat besi ibu hamil pulih akhirnya terkuras untuk keperluan janin yang dikandungnya.8

2.1.7. Pengaruh Nutrisi pada Kehamilan Peningkatan berat badan yang optimal dan sehat selama hamil diharapkan akan mencapai usia hamil yang cukup bulan (aterm), tumbuh kembang janin yang baik, komplikasi selama hamil dan persalinan yang minimal dan pada akhirnya akan menunjang kondisi ibu selama masa laktasi dan sesudahnya. Ibu hamil yang underweight (BMI< 19,8) dengan peningkatan berat badan selama hamil tidak adekuat akan melahirkan bayi dengan berat lahir rendah (< 2500 gr ), sebaliknya ibu hamil yang overweight (BMI > 26,0) dengan peningkatan berat badan selama hamil berlebihan akan melahirkan bayi dengan berat lahir yang tinggi melebihi yang seharusnya (makrosomia).9 Pengukuran lingkar lengan atas (LiLA) dimaksudkan untuk mengetahui prevalensi wanita usia subur umur 20-35 tahun dan ibu hamil yang menderita Kurang Energi Kalori (KEK). Kurang energy kalori pada ibu hamil bisa terjadi karena konsumsi energi maupun protein mengalami kekurangan dalam jangka waktu yang lama. Ambang batas LiLA pada WUS dengan risiko KEK adalah 23,5 cm. Wanita yang memiliki risiko KEK adalah wanita dengan LiLA kurang dari 23,5 cm. Di mana pada wanita yang mengalami KEK ini cenderung akan mengalami anemia gizi yang nantinya dapat menyebabkan komplikasi saat kehamilan, persalian, maupun masa nifas.6,9 2.1.8. Anemia dalam Kehamilan Wanita yang sedang hamil sering mengalami anemia. Batasan anemia pada ibu hamil ialah bila kadar Hb kurang dari 11 g/dl pada trimester ke-1 dan ke-3 dan pada trimester kedua kurang dari 10,5 g/dl. Hal ini terjadi karena peningkatan volume plasma, sedangkan pada akhir kehamilan plasma menurun dan massa hemoglobin meningkat terus.7 Kebutuhan besi dalam kehamilan yaitu 1 gram, di mana 300 mg ditujukan untuk janin, sisanya untuk perkembangan ibu dan plasenta. Pengaruh anemia dalam kehamilan ialah kemungkinan peningkatan risiko kelahiran preterm.Wanita hamil yang mengalami anemia berat bisa menjadi lelah berlebihan, nafas tersengal, dan sakit kepala berkunangkunang. Risiko persalinan preterm dan infeksi setelah melahirkan pun akan meningkat.6 2.1.9. Hipertensi dalam Kehamilan Hipertensi dalam kehamilan adalah salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas ibu disamping perdarahan dan infeksi. Di Indonesia preeklampsia dan eklamsia masih

merupakan penyebab dari kematian ibu. Sebagai batasan hipertensi dalam kehamilan adalah kenaikan tekanan darah diastolik 90 mmHg dan tekanan darah sistolik 140 mmHg dan proteinuria. Klasifikasi hipertensi dalam kehamilan antara lain:9 Hipertensi gestasional adalah kenaikan tekanan darah yang hanya dijumpai dalam kehamilan sampai 12 minggu pasca persalinan, tidak dijumpai keluhan dan tandatanda preeklampsia lainnya. Diagnosa akhir ditegakkan pasca persalinan. Hipertensi kronis adalah hipertensi yang sudah ada sebelum kehamilan, selama kehamilan sampai sesudah masa nifas. Tidak ditemukan keluhan dan tanda-tanda preeklampsia lainnya. Superimposed preeklampsia adalah gejala dan tanda-tanda preeklampsia muncul sesudah kehamilan 20 minggu pada wanita yang sebelumnya menderita hipertensi kronis Preeklamsia ringan, preeklampsia berat, eklampsia : 9 a. Preeklampsia ringan adalah jika tekanan darah 140/90 mmHg pada usia kehamialn > 20 minggu, proteinuria > 300 mg dalam 24 jam atau dipstick+1. b. Preeklampsia berat adalah jika tekanan darah > 160/110 mmHg , proteinuria +2 (usia kehamilan > 20 minggu). c. Eklampsia adalah kelainan akut pada wanita hamil dalam persalinan atau nifas yang ditandai dengan timbulnya kejang dan atau koma. Sebelumnya wanita ini menunjukkan gejala-gejala preeklampsia berat (kejang timbul bukan akibat kelainan neurologik). 2.1.10. Diabetes Mellitus dalam Kehamilan Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) didefinisikan sebagai gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa membedakan apakah penderita perlu mendapat insulin atau tidak. Pembagian diabetes mellitus pada kehamilan :11 1. DM yang memamg sudah diketahui sebelumnya dan kemudian menjadi hamil (DM hamil = DM progestasional). Sebagian besar termasuk golongan IDDM (Insulin Dependent DM)

2.

DM yang baru saja ditemukan pada saat kehamilan (DM Gestasional = DMG). Umumnya termasuk golongan IIDDM (Non Insulin Dependent DM).

DMG sendiri dibagi dua sub kelompok, yaitu : Sudah mengidap DM sebelumnya, tetapi baru diketahui pada saat hamil (sama dengan DMH). Belum pernah mengidap DM dan baru mengidap DM pada masa kehamilan (Pregnancy-Induced Diabetes Mellitus). Merupakan DMG sesungguhnya, sesuai dengan definisi lama WHO 1980. Kedua sub-kelompok ini baru dapat dibedakan setelah dilakukan tes toleransi glukosa oral (TTGO) ulangan pasca persalinan. Untuk sub kelompok DMH, hasil TTGO pasca persalinan masih tetap abnormal, sedangkan untuk DMG hasil akan kembali normal.11 2.1.11. Hubungan Riwayat Perdarahan dengan Kehamilan Riwayat perdarahan pada kehamilan dapat bersumber dari kelainan plasenta maupun non plasenta.Perdarahan akibat plasenta (perdarahan antepartum) terdiri dari plasenta previa, solutio plasenta, dan vasa previa.6 2.1.12. Usaha Pencegahan Kematian Ibu Hamil dengan Risiko Tinggi Usaha pencegahan kematian ibu hamil dapat dimulai dari dalam keluarga, maupun karena keluarga merupakan orang terdekat dari ibu hamil dan dapat memberikan pengawasan sehari-hari. Oleh sebab itu, perlu dibicarakan dengan ibu hamil, suami, dan keluarga tentang tempat dan penolong untuk persalinan yang aman. Keluarga dapat ikut berperan serta dalam mengambil keputusan untuk mempersiapkan mental ibu dan merencanakan biaya, transportasi, dan kebutuhan lainnya jauh sebelum persalinan sehingga menuju ke kepatuhan untuk Rujukan Dini Berencana dan Rujukan Tepat Waktu.Di mana sebagian besar kematian ibu disebabkan oleh 4 terlambat (4T), antara lain :6-9 1. Terlambat mengenali tanda bahaya risiko tinggi 2. Terlambat mengambil keputusan 3. Terlambat memperoleh transportasi 4. Terlambat memperoleh penanganan gawat darurat secara memadai. Oleh karena itu, diupayakan untuk mencegah 4T dengan cara :

1. Mencegah terlambat mengenali tanda bahaya risiko tinggi. 2. Mencegah terlambat mengambil keputusan dalam keluarga. 3. Mencegah terlambat memperoleh transportasi dalam rujukan. 4. Mencegah terlambat memperoleh penanganan gawat darurat secara memadai. 2.2. Keluarga Berencana Rasional Seorang perempuan telah dapat melahirkan segera setelah ia mendapat haid yang pertama (menarche). Kesuburan seorang perempuan akan terus berlangsung sampai mati haid (menopause). Kehamilan dan kelahiran terbaik, artinya risiko paling rendah untuk ibu dan anak adalah antara 20-35 tahun pada persalinan pertama dan kedua dengan jarak antara dua kelahiran sebaiknya 2-4 tahun. Agar dapat memperkecil risiko pada kehamilan, perlu pengaturan masa kehamilan salah satunya dengan menggunakan alat kontrasepsi. Alat kontrasepsi yang dipilih sudah seharusnya sesuai dengan tujuan dari pengggunaan alat kontrasepsi atau yang disebut dengan pemilihan kontrasepsi yang rasional. Pola pemilihan kontrasepsi yang rasional adalah sebagai berikut:12 a. Fase Menunda Kehamilan (usia ibu < 20 tahun) Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan : - Reversibilitas tinggi, artinya kembalinya kesuburan dapat terjamin 100%, karena pada masa ini peserta belum mempunyai anak. - Efektifitas tinggi, artinya tingkat terjadinya kegagalan pada pemakaian alat kontrasepsi ini kecil, karena kegagalan akan menyebabkan kehamilan dengan risiko tinggi. Kontrasepsi yang cocok : - Pil prioritas oleh karena reversibilitas tinggi - IUD - Sederhana - Implan - Suntikan b. Fase Menjarangkan Kehamilan (usia ibu 20-35 tahun) Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan : - Efektifitas cukup tinggi - Reversibilitas cukup tinggi, karena peserta masih mengharapkan punya anak lagi

10

- Dapat dipakai 3 sampai 4 tahun, yaitu sesuai dengan jarak kehamilan yang direncanakan - Tidak menghambat air susu ibu (ASI) Kontrasepsi yang cocok : - IUD - Suntikan - Minipil - Pil - Implan - Sederhana c. Fase Tidak Hamil Lagi (usia ibu > 35 tahun) Ciri-ciri kontrasepsi yang diperlukan : - Efektifitas sangat tinggi - Dapat dipakai untuk jangka panjang - Tidak menambah kelainan yang sudah ada. Beberapa kelainan pada usia tua seperti penyakit jantung, darah tinggi, keganasan dan metabolik biasanya meningkat. Oleh karena itu, sebaiknya tidak diberikan cara kontrasepsi yang menambah kelainan tersebut. Kontrasepsi yang cocok : - Steril - IUD - Implan - Suntikan - Sederhana - Pil 2.3. Kedokteran Keluarga 2.3.1. Hakikat Kedokteran Keluarga Kedokteran keluarga merupakan disiplin akademik profesional, yaitu pengetahuan klinik yang dimplementasikan pada komunitas keluarga. Dokter harus mmahami manusia bukan hanya sebagai makhluk biologik, tetapi juga makhluk sosial. Dalam hal ini harus memahami hakikat biologik, psikologik, sosiologik, ekologik, dan medik.13

11

a. Hakikat biologik Kedokteran keluarga memperhatikan pula perihal dinamika kehidupan keluarga sebagai makhluk biologis, yaitu masuk keluarnya seseorang anggota keluarga dalam organisasi keluarga. Mulai dari proses pra-konsepsi/ pra-nikah sampai lahirnya anak, atau bertambahnya jumlah anggota keluarga. Bertambahnya usia kemudian meninggal, atau anggota keluarga yang pindah tempat, sehingga berkurang jumlah anggota keluarga.13 Untuk lebih terinci menilai permasalahan keluarga, dinilai dari kualitas hidup keluarga serta fungsi keluarga, yaitu peranan fungsi biologis keluarga perihal yang berkenaan dengan organ sistem terpadu dari individu dan anggota keluarga lainnya yang mempunyai risiko, meliputi: adanya faktor keturunan, kesehatan keluarga, dan reproduksi keluarga; yang semuanya berpengaruh terhadap kualitas hidup keluarga.13 b. Hakikat psikologik Sebagai makhluk sosial, manusia mempunyai aktivitas dan tingkah laku yang meerupakan gambaran sikap manusia yang menentukan penampilan dan pola perilakuk dan kebiasaannya.13 c. Hakikat sosiologik Dalam kehidupannya manusia berhubungan dengan sesama baik lingkup keluarga, pekerjaan, budaya, dan geografis, yang menimbulkan berbagai proses dan gejolak. Kebijaksanaan yang digunakan dokter keluarga adalah yang berorientasikan penyakit/ permasalahan yang berhubungan dengan:13 Proses dinamika dalam keluarga Potensi keluarga Kualitas hidup yang dipengaruhi oleh budaya positif Pendidikan dan lingkungannya Ekologi dalam kedokteran keluarga membahas manusia seutuhnya dalam interaksinya dengan sesamanya dan spesies lainnnya juga hubungannya dengan lingkungan fisik dalam rumah tangganya.13 e. Hakikat medik

d. Hakikat ekologik

12

Temuan-tmuan di bidang teknologi kedokteran akan juga mempengaruhi ilmu kedokteran keluarga. Pergeseran pola perilaku dan pola penyakit, akan mempengaruhi pola pelayanan kedokteran. Karena itu, kedokteran keluarga sebagai ilmu akan berkembanga dalam bidang yang mempengaruhi kesehatan, kesejahteraan, dan kebahagiaan keluarga.13 2.3.2. Pendekatan Kedokteran Keluarga Prinsip dalam kedokteran keluarga adalah pendekatan keluarga. Pendekatan keluarga merupakan serangkaian kegiatan pelayanan kesehatan yang terencana, terarah, untuk menggali, meningkatkan, dan mengarahkan peran serta keluarga agar dapat memanfaatkan potensi yang ada guna menyembukan anggota keluarga dan menyelesaikan masalah kesehatan keluarga yang mereka hadapi. Dalam pendekatan ini diberdayakan apa yang dimiliki oleh keluarga dan anggota keluarga untuk menyembukan dan menyelesaikan masalah keluarga. Hal ini dapat dilakukan bila memahami profil dan fungsi keluarga.13 Pelayanan kedokteran keluarga merupakan pelayanan yang bersifat komprehensif, meliputi upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Materi kedokteran keluarga pada hakikatnya merupakan kepedulian dunia kedokteran perihal masalah-masalah ekonomi dan sosial, di samping masalah organobiologik, yaitu ditujukan terhadap pengguna jasa sebagai bagian dalam lingkungan keluarga. Demikian pula pemanfaatan ilmunya yang bersifat menyeluruh, yaitu pelayanan terhadap masalah organ, mentalpsikologikal dan sosial keluarga.13

13