Anda di halaman 1dari 8

3.

Kebutuhan ASI pada Bayi


Setiap pemberian ASI, kedua payudara sebaiknya diberikan masing-masing selama minimal 7-10 menit untuk setiap payudara. Bayi yang diberikan ASI biasanya tergantung pada jam (biasanya setiap 4 jam). Jumlah ASI yang dibutuhkan oleh bayi : Minggu ke 1 100 ml - 450 ml. Minggu ke 2-3 450 ml - 500 ml. Minggu ke 4-7 600 ml - 650 ml. Minggu ke 8-12 650 ml - 750 ml. Minggu ke 12-24 750 ml - 850 ml (Moehji, 1988 dalam
Suyatno, 2009).

4. Tanda Bayi Mendapat Cukup ASI


Produksi ASI akan berlimpah pada hari ke-2 sampai ke-4 setelah melahirkan Bayi menyusu 8-12 kali/hari, dengan perlekatan yang benar pada setiap payudara dan mengisap secara teratur selama minimal 10 menit pada setiap payudara. Bayi akan tampak puas setelah menyusu dan sering kali tertidur pada saat menyusu. Frekuensi buang air kecil (BAK) bayi > 6 kali/hari. Kencing jernih, tidak kekuningan. Butiran halus kemerahan (yang mungkin berupa berupa Kristal urat pada urin) merupakan salah satu tanda ASI kurang. Frekuensi buang air besar (BAB) > 4kali/hari dengan volume paling tidak 1 sendok makan. Tidak hanya berupa noda membekas pada popok bayi, pada usia 4 hari sampai 1 minggu. Sering ditemukan bayi yang BAB setiap ibu menyusu.
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP (2011)

Feses berwarna kekuningan dengan butiran-butiran berwarna putih susu diantaranya (seedy milk), setelah bayi berusia 4-5 hari. Bila setelah bayi berumur 5 hari, fesesnya masih mekoneum (hitam) atau transisi antara hijau kecoklatan (mungkin salah satu tanda bayi kurang ASI). Puting payudara akan terasa sedikit sakit pada hari-hari pertama menyusui. Bila sakit bertambah dan menetap setelah 5-7 hari, dan bila disertai lecet ini merupakan tanda bahwa bayi tidak melekat dengan baik saat menysuu. Bila tidak hal ini tidak dibenarkan posisinya maka akan menurunkan produksi ASI. Berat badan (BB) bayi tidak turun lebih dari 10 % dibanding berat lahir. Berat badan bayi kembali seperti berat lahir pada usia 10-14 hari setelah lahir.
Departemen Ilmu Kesehatan Anak FK UNDIP (2011)

5. Kontraindikasi Pemberian ASI


Bayi yang menderita galaktosemia Ibu dengan HIV/AIDS yang dapat memberikan PASI (Pengganti ASI) yang memenuhi syarat AFASS (Acceptable, Feasable, Affordable, Sustainable, and Save). Ibu dengan penyakit jantung yang apabila menyusui dapat terjadi gagal jantung. Ibu yang memerlukan terapi dengan obat-obat tertentu (antikanker). Ibu yang memerlukan pemeriksaan dengan obatobat radioaktif.

6. Pemberian ASI pada Keadaan Khusus


A. Pemberian ASI pada Bayi Kurang Bulan (BKB) Bagi BKB, ASI adalah makanan terbaik. Bayi dengan masa gestasi > 34 minggu dapat disusukan langsung kepada ibunya karena refleks menghisap dan menelannya sudah cukup baik. Komposisi ASI yang prematur akan berubah menjadi ASI matur dalam waktu 3-4 minggu. Masa gestasi belum 37 minggu, selain ASI perlu ditambahkan Human Milk Fortifier atau susu formula untuk BKB. Masa gestasi > 32-34 minggu, refleks menelan sudah cukup baik tetapi refleks hisapnya belum. ASI perlu diperah dan diberikan dengan sendok/cangkir/pipet. Masa gestasi < 32 minggu, ASI perah diberikan dengan sonde lambung karena refleks hisap dan menelan belum baik.

B. Ibu dengan TBC Paru Kuman TBC tidak melalui ASI sehingga bayi boleh menyusu ke ibu. Ibu perlu diobati secara adekuat dan diajarkan pencegahan penularan ke bayi dengan menggunakan masker.

C. Ibu dengan Hepatitis B Transmisi virus Hepatitis B sekitar 50% apabila ibu tertular secara akut sebelum, selama, atau segera setelah kehamilan. Ibu dengan HbsAg (+) boleh menyusui asalkan bayinya telah diberikan vaksin Hepatitis B bersama dengan imunoglobulin spesifik HbIg.

D. Ibu dengan HIV Transmisi HIV dari ibu ke bayi adalah 35%. Dua puluh persen saat antenatal dan intanatal dan 15% melalui ASI. Pemberian ASI dari ibu dengan HIV dilarang dan bayi diberi susu formula. Pemberian susu formula ini harus memenuhi syarat AFASS (Acceptable, Feasable, Affordable, Sustainable, dan Save). E. Ibu dengan CMV Boleh memberikan ASI pada bayi cukup bulan (BCB). Pada BKB kurang dari 1500 gram, perlu dipertimbangkan (caranya :membekukan dan atau pasteurisasi asi)

F. Ibu dengan Varisela/Herpes zoster Kalau ibu terlihat lesi antara 5 hari sebelum dan 5 hari setelah lahir, pisahkan bayi dan ibunya sampai ibu tidak infeksius lagi. Bayi boleh diberi ASI perah apabila tidak ada lesi pada payudara. Setelah tidak ada infeksius, bayi dapat menetek langsung.

G. Ibu dengan toksoplasmosis Mengingat ringannya infeksi pascanatal dan adanya antibodi dalam ASI, tidak ada alasan untuk tidak memberikan ASI dari ibu yang terinfeksi toksoplasma
H. Ibu dengan infeksi lain Bila tidak ada kontraindikasi menyusui, ibu yang demam boleh memberikan ASI. Ibu dianjurkan melaksanakan hal-hal untuk mencegah penularan