Anda di halaman 1dari 22

Pengertian Kreativitas

"Kreativitas" merupakan salah satu istilah yang sering digunakan meskipun merupakan istilah yang taksa (ambiguous) dalam peneli tian psikologi masa kini. la bahkan lebih taksa lagi dan sering digunakan dengan bebas di kalangan orang awam. Untuk memahami arti istilah "kreativitas" seperti yang digunakan para psikolog, pengkajian pengertian istilah ini yang populer dan umum akan membantu memperlihatkan apa yang tidak benar atau hanya benar sebagian dalam berbagai bentuk yang berbeda ini dan mengapa para psikolog telah memilih definisi istilah seperti yang sekarang lazim di kalangan mereka (2, 21,91).

Arti Kreativitas yang Populer


Terdapat banyak arti kreativitas yang populer, di antaranya delapan yang sering digunakan. Pertama, salah satu arti kreativitas yang paling populer menekankan pembuatan sesuatu yang baru dan berbeda. Kebanyakan orang menganggap bahwa kreativitas dapat dinilai melalui hasil atau apa saja yang dicip- takan seseorang. Akan tetapi, kreativitas tidak selalu membuahkan hasil yang dapat diamati dan dinilai. Sebagai contoh, pada saat melamun, seorang merancang sesuatu yang baru dan berbeda, tetapi hanya pela mun itu sendiri yang mengetahuinya. Dengan demikian, kreativitas harus dianggap sebagai suatu proses suatu proses adanya sesuatu yang baru, apakah itu gagasan atau Benda dalam bentuk atau rangkaian yang baru dihasilkan. Penekanan pada tin dakan menghasilkan ketimbang pada hasil akhir, tindakan tersebut sekarang diterima sebagai inti konsep kreativitas. Arti kedua yang populer dari kreativitas memandangnya sebagai kreasi sesuatu yang baru dan orisinal secara kebetulan, sebagaimana seorang anak yang bermain denga nbalok-balok kayu membangun tumpukan yang Diakui bahwa semua kreativitas mencakup menyerupai rumah dan kemudian menyebutnya gabungan dari gagasan atau produk lama ke dalam rumah. Demikian juga halnya, jika seorang seniman bentuk baru, tetapi yang lama merupakan dasar bagi sedang mencampur yang baru. Pelukis yang menghasilkan warna merah yang baru menggunakan warna lama seperti halnya warna dan secara kebetulan menemukan warna anak yang menciptakan dunia impian dan merah atau hijau yang lain dari warna yang biasa menggunakan suasana dan pengalaman dari digunakan, maka seniman itu dinilai sebagai kehidupan sehari-hari atau media massa. "orisinal." Selanjutnya, keunikan merupakan prestasi yang sifatnya pribadi, namun belum tentu merupakan Terdapat sedikit bukti tentang kesahihan konsep prestasi yang universal. Sebagai contoh, orang kreativitas yang populer ini. Sekarang telah diketahui dapat menjadi kreatif bila mereka menghasilkan bahwa semua kreativitas mempunyai tujuan, sesuatu yang belum pernah mereka hasilkan walaupun tujuan itu mungkin tidak lebih dari sebelumnya, walaupun hal itu sudah pernah kesenangan langsung yang diperoleh orang itu dari dihasilkan dalam bentuk yang hampir sama atau berbagai kegiatan (34). bahkan sangat serupa oleh orang lain. Konsep kreativitas ketiga yang populer menyatakan bahwa apa saja yang diciptakan selalu baru dan berbeda dari yang telah ada dan karenanya unik. Terdapat banyak bukti bahwa konsep ini tidak benar atau hanya benar sebagian. Gagasan populer keempat dari kreativitas adalah bahwa ia merupakan proses mental yang unik, suatu proses yang semata-mata dilakukan untuk menghasilkan sesuatu yang baru, berbeda, dan

orisinal. Sebaliknya, kreativitas mencakup jenis pemikiran spesifik, yang disebut Guilford "pemikiran berbeda" (divergent thinking). Menurut Guilford, pemikiran berbeda menyimpang dari jalan yang telah dirintis sebelumnya dan mencari variasi. la melampaui apa yang jelas dan nyata, mempertimbangkan beberapa jawaban yang mungkin ada untuk suatu masalah, bukan hanya satu penyelesaian yang benar. Hal ini berbeda dari "pemikiran selaras" (convergent thinking) yang mengikuti jalur konvensional di mana pemikir menggunakan informasi yang tersedia untuk
sampai pada kesimpulan yang mengarah ke satu jawaban yang

lah satu aspek kecerdasan sebagaimana kolega ingatan atau penalaran. Konsep kreativitas yang umum keenam, yaitu sepercik kejeniusan yang diwariskan pada seseorang dan tidak ada kaitannya dengan belajar atau lingkungan menyatakan, bahwa orang kreatif merupakan sarana konsep. Ini menyatakan bahwa mereka tidak berperan dalam perilaku kreatif mereka, kecuali untuk mengungkapkan suatu ciri bawaan dalam tindakan yang jelas yang tidak berkaitan dengan pengalaman dan keputusan- nya sendiri. Sebaliknya, terdapat bukti bahwa jika orang ingin kreatif, mereka memerlukan pengetahuan yang diterima sebelum mereka dapat menggunakannya dengan cara yang baru dan orisinal (29). Ketujuh, kreativitas umumnya dianggap sinonim dengan imajinasi dan fantasi dan karenanya merupakan bentuk permainan mental. Goldner telah mengatakan bahwa kreativitas merupakan "kegiatan otak yang teratur, komprehensif, dan imajinatif menuju suatu hasil yang orisinal." Jadi ia lebih inovatif d a r i p a d a reproduktif (36). Konsep kreativitas kedelapan yang populer adalah bahwa semua orang umumnya terbagi dalam dua kelompok besar: "penurut" dan "pencipta." Penurut (conformers) melakukan apa yang diharapkan dari mereka tanpa mengganggu atau menyulitkan orang lain. Sebaliknya, pencipta (creators) menyertakan gagasan orisinal, titik pandang yang berbeda, atau cara baru menangani masalah dan menghadapinya. Mereka tidak mengikuti jalan yang banyak ditempuh dan adakalanya menjadi unsur pengganggu dalam kelompok sosial. Tingkat gangguan dan penerimaan mereka bergantung pada seberapa jauh mereka menyimpang dari jalan yang lazim ditempuh kebanyakan orang. Konsep ini menyatakan bahwa anak merupakan orang yang kreatif atau tak kreatif, penurut atau pencipta. Konsep ini tidak mengakui adanya variasi dalam tingkatan kreativitas yang dimiliki seseorang. Meksipun pengukuran kreativitas masih pada tahap awal pertumbuhannya, terutama karena sulitnya menemukan cara untuk

benar, sebuah jawaban yang serupa dengan yang akan dicapai orang lain (38). Orang yang kreatif suka mengutak-atik segala sesuatu secara mental dan mencoba berbagai kemungkinan, bahkan juga bila mereka salah. Pemikiran seperti ini yang sering dilakukan dalam kegiatan sehari-hari biasanya tidak dianggap kreatif. Akan tetapi, orang yang kreatif lebih luwes dan lancar dari pemikir selaras dan tidak terikat pada informasi yang ada. ini menimbulkan arus gagasan yang lebih kaya dan hasilnya membuka jalan ke arah penyelesaian yang baru dan karenanya kreatif (10). Karakteristik pemikiran berbeda lainnya jenis yang digunakan dalam kreativitas ialah yang meloncat-loncat, la tidak bergerak dalam tahapan yang mudah diamati dan didefinisikan, sebagaimana pada pemikiran selaras. Pemikiran selaras berlangsung secara berurutan; bergerak langkah demi langkah dan diarahkan oleh suatu tujuan; jadi pemikiran ini mengkaji alternatif dan memasang kendali untuk memeriksa kebenaran dalil- dalil yang sedang dipertimbangkan (38). Kelima, kreativitas seringkali dianggap sinonim dengan kecerdasan tinggi. Keyakinan ini telah diperkuat dengan kenyataan bahwa orang dengan IQ yang sangat tinggi disebut "jenius," istilah yang oleh orang awam disamakan dengan kreativitas. Hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa kecerdasan tinggi dan kreativitas tinggi selalu berjalan seiring. Sebaliknya, kreativitas hanyalah sa-

mengukurnya dengan tepat, dari pengamatan dan pengukuran sederhana yang sekarang tersedia terdapat cukup bukti yang menunjukkan bahwa gagasan ini tidak benar. Anak-anak tidak dapat lagi dibagi menjadi dua kelompok besar berdasarkan kreativitas seperti yang dapat dilakukan dalam hal kecerdasan atau karakteristik lainnya. Mereka memiliki berbagai tingkatan kreativitas sebagaimana mereka memiliki berbagai tingkatan kecerdasan. Ini berarti bahwa sebagian besar anak mungkin merupakan penurut, namun pada saat yang sama mereka juga mempunyai beberapa kemampuan kreatif dan sebaliknya.

kreativitas merupakan kegiatan yang jauh lebih rumit dari apa yang disadari banyak orang.

Hubungan Kreativitas Kecerdasan

dengan

Arti Psikologis dari Kreativitas


Banyak definisi kreativitas yang mungkin dapat diterima para psikolog demikian singkatnya sehingga tidak mencakup seluruh unsur penting yang dibutuhkan dalam definisi yang dapat dipakai. Oleh karena itu, definisi Drevdahl (29) dipilih sebagai definisi yang ba'\k dan dapat d'vpakaV. Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk menghasilkan komposisi, produk, atau gagasan apa saja yang pada dasarnya baru, dan sebelumnya tidak dikenal pembuatnya. la dapat berupa kegiatan imajinatif atau sintesis pemikiran yang hasil nya bukan hanya perangkuman. la mungkin mencakup pembentukan pola baru dan gabungan informasi yang diperoleh dari pengalaman sebelumnya dan pencangkokan hubungan lama ke situasi baru dan mungkin mencakup pembentukan korelasi baru. la harus mempunyai maksud atau tujuan yang ditentukan, bukan fantasi semata, walaupun merupakan hasil yang sempurna dan lengkap, la mungkin dapat berbentuk produk seni, kesusastera- an, produk ilmiah, atau mungkin bersifat prosedural atau metodologis. Karena kreativitas begitu rumit dan sering disalahpahamkan, unsurnya yang penting dirangkum bersama dan disajikan secara ringkas dalam Kotak 12-1 (2,44,91). Penelitian terhadap unsur tersebut secara seksama akan mengungkapkan dua kenyataan: Pertama, kreativitas, menurut para psikolog, sangat berbeda dari konsepnya yang populer, dan kedua,

Kadang-kadang ada laporan tentang orang dengan bakat kreatif yang tinggi sedangkan tingkat kecerdasannya rendah dan telah diketahui bahwa tidak semua orang dengan kecerdasan yang tinggi merupakan pencipta. Sebagai contoh, banyak anak pandai mencapai keberhasilan akademis, tetapi hanya sedikit yang menunjukkan cara berpikir kreatif yang tidak sekedar "memberikan yang diinginkan guru." Apakah kecerdasan dan kreativitas tinggi akan berjalan seiring, sebagian besar bergantung pada faktor di luar kreativitas dan kecerdasan. Faktor dalam lingkungan atau dalam diri seseorang sering mengganggu perkembangan kreativitas. Misalnya cara mendidik anak yang sangat otoriter di rumah atau di sekolah selama tahun-tahun pembentukan akan tas, tetapi tidak mempengaruhi kecerdasan tinggi. Dalam kondisi demikian hubungan antara inteligensi dan kreativitas akan rendah. Akan tetapi, terdapat hubungan positif antara kecerdasan dan kreativitas. Hal ini sekilas mungkin terdengar kontradiktif. Akan tetapi, perlu diingat bahwa kreativitas yang menjurus ke penciptaan sesuatu yang baru bergantung pada kemampuan untuk mendapatkan pengetahuan yang sudah umum diterima. Pengetahuan tersebut kemudian diatur dan diolah ke dalam bentuk baru dan orisinal. Kreativitas tidak dapat berfungsi dalam kekosongan, la menggunakan pengetahuan yang diterima sebelumnya dan ini bergantung pada kemampuan intelektual seseorang. Bila tidak ada hambatan yang mengganggu perkembangan kreativitas, cukup aman untuk mengatakan bahwa semakin cerdas anak semakin dapat ia menjadi kreatif. Sebaliknya, dapat dipersoalkan apakah anak dengan kecerdasan yang sangat rendah dapat menjadi lebih kreatif sekalipun dalam ling- kungan yang sangat menguntungkan.

Sindrom Kreativitas
Sejumlah studi telah dilakukan tentang pola kepribadian anak, remaja, dan orang dewasa yang sangat kreatif. Studi ini melaporkan bahwa tidak ada ciri tunggal yang secara khas ditemukan di kalangan mereka yang kreatif melainkan sekelompok ciri yang berhubungan, yang diacu sebagai 'kfeatWtasri-' Di antara tssbdalam sindrom kreativitas itu adalah keluwesan, ketidakpatuhan, kebutuhan akan otonomi, kebutuhan bermain, kesenangan mengolah gagasan, ketegasan, ketenangan, keyakinan diri, rasa humor, keterbukaan, persistensi intelektual, kepercayaan diri, keingintahuan, kesenangan mengambil risiko yang sudah diperhitungkan bila keberhasilan bergantung pada kemampuan sendiri, minat yang tidak sesuai dengan jenis kelamin, perasaan malu dalam situasi sosial, lebih menyukai fantasi daripada petualangan nyata, keberanian berpetualang, dan ketekunan mengembangkan minat yang dipilih sendiri (1,7,72,78). Dari penelitian orang yang dianggap "kreatif" secara luas, Delias dan Gaier telah menyimpulkan (26): Konstelasi ciri psikologis tertentu timbul secara konsisten pada individu yang kreatif dan membentuk kerangka kepribadian kreatif yang dapat dikenal. Kerangka ini menunjukkan bahwa pribadi yang kreatif lebih menonjol karena minat, sikap, dan dorongan ketimbang karena kecerdasa n ... . Kemampuan kognitif yang tampak paling sering dikaitkan dengan kreativitas adalah kecerdasan di atas rata- rata dan penggunaan kecerdasan itu secara efektif, kemampuan untuk menghasilkan gagasan yang luar biasa dan tepat, kemampuan mengingat yang istimewa dan lebih banyaknya pengalaman hidup, kemahiran menghasilkan gagasan dan kemampuan untuk mensin tesis gagasan yang asing dan berbeda, pengamatan yang diskriminatif dan keluwesan kognitif u m u m . . . . Individu yang kreatif memitiki kekuatan ego yang superior serta cara

positif dan konstruktif dalam menanggapi masalah. Intuisi juga merupakan tanda orang yang k r e a t i f . . . . Kemandirian dalam sikap dan perilaku sosial tampak selalu mendampingi kreativitas. Untuk sebagian besar, hanya sedikit bukti yang menunjukkan bahwa anak yang kreatif sulit menyesuaikan diri atau kesepian, sebagaimana yang diyakini selama ini. Jika demikian halnya, ini terutama akibat sikap sosial yang tidak menguntungkan terhadap mereka telah menimbulkan penyesuaian diri yang buruk dan isolasi sosial. Situasi tersebut sangat mirip dengan anak yang sangat tinggi IQ-nya. Apabila karakteristik sindrom kepribadian yang kreatif digabungkan dengan tingkat kecerdasan yang tinggi, hal itu cenderung menimbulkan prestasi yang berhasil dan penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Bila digabungkan dengan kecerdasan yang rendah dan ini tidak umum besar kemungkinan kesulitan akan timbul bagi individu dan kelompok sosialnya. Anak yang sesuai dengan gambaran terakhir sering menjadi pemberontak, penentang, dan pembangkang yang merepotkan.

Nilai Kreativitas
Keyakinan populer tentang nilai kreativitas berpusat pada apa yang dihasilkan orang kreatif bagi keuntungan dan kesenangan kelompok sosial dan bagi kemajuan sosial. Nilai kreativitas bagi orang yang kreatif sering hampir sama sekali diabaikan. Nilai ini terlalu penting untuk diabaikan, seperti yang terbukti dari kenyataan berikut. Kreativitas memberi anak-anal^aK/Win^-1 an pribadi yang sangat besar penghargaan yang mempunyai pengaruh nyata terhadap perkembangan kepribadiannya. Sebagai contoh, tidak ada yang dapat memberi anak rasa puas yang lebih besar daripada menciptakan sesuatu sendiri, apakah itu ber- bentuk rumah, yang dibuat dari kursi yang dibalik dan ditutupi selimut atau gambar seekor anjing. Dan tidak ada

yang lebih mengurangi harga dirinya daripada kritik atau ejekan terhadap kreasi itu atau pertanyaan apa sesungguhnya bentuk yang dibuatnya itu (42). Menjadi kreatif juga penting artinya bagi anak kecil karena menambah bumbu dalam permainannya - pusat kegiatan hidup mereka. Jika kreativitas dapat membuat permainan menyenangkan, mereka akan merasa bahagia dan puas. Ini sebaliknya akan menumbuhkan penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Dengan bertambahnya usia anak, prestasi merupakan kepentingan utama dalam penyesuaian hidup mereka. Kreativitas yang membantu mereka mencapai keberhasilan di bidang yang berarti bagi mereka dan dipandang baik oleh orang yang berarti baginya akan menjadi sumber kepuasan ego yang besar (63). Salah satu nilai kreativitas penting yang sering dilupakan adalah sumbangannya pada kepemimpinan. Pada setiap tingkatan usia, pemimpin harus menyumbangkan sesuatu kepada kelompok yang penting artinya bagi anggota kelompok. Sumbangan itu mungkin dalam bentuk usulan bagi kegiatan bermain yang baru dan berbeda, atau berupa usulan mengenai bagaimana mengatur gang menjadi panitia, masing-masing dengan peran dan tanggung jawab khusus terhadap kelompok. Bagaimana pentingnya peran kepemimpinan bagi penyesuaian pribadi dan sosial anak telah dibahas secara terinci dalam Bab 10 Jilid 1. Di samping kepuasan pribadi yang diperoleh anak dari kreativitas, apabila kreativitas itu memperbesar rasa puas dalam memainkan peran sebagai pemimpin, hal ini akan menjamin adegan penyesuaian sosial dan pribadi yang baik. Nilai kreativitas tampak jelas dalam kasus anak yang kurang kreatif. Spock mengatakan, "Orang yang sangat berpikiran literal mempunyai kegunaan terbatas bagi dunia dan kemampuan terbatas untuk memperoleh kegembiraan" (79). Kreativitas berharga, tetapi ini tidak berarti bahwa hanya karena itu semakin kreatif seseorang semakin besar sumbangannya pada kelompok

sosial dan semakin bahagia dan baik penyesuaiannya. Terlalu kreatif mungkin membuat orang menjadi "pemimpi yang tidak praktis" yaitu mereka yang mencipta secara mental tetapi tampaknya tidak pernah mampu mewujudkan mimpinya ke dalam bentuk praktis yang akan menguntungkan dirinya atau kelompok sosial. Akibatnya, mereka tidak pernah mencapai sesuatu yang sebetulnya mereka mampu lakukan. Ini akan menimbulkan perasaan gagal yang membahayakan penyesuaian pribadi dan sosial.

Penemuan Kreativitas
Di masa lampau orang yang kreatif ditemukan hanya setelah mereka menghasilkan sesuatu yang orisinal, seperti film, komposisi musik, atau penemuan lainnya. Dengan pengetahuan kita sekarang mengenai bagaimana kemampuan untuk menjadi kreatif umumnya dikenal sebagai "bakat" dapat dipupuk atau dibekukan oleh pengaruh lingkungan; nyatalah bahwa sekedar menunggu sampai orang yang kreatif menghasilkan sesuatu yang pantas dihargai, bagi kebanyakan anak, berarti menunggu hingga sangat terlambat. Akibatnya, minat sekarang dipusatkan pada cara menemukan potensi kreativitas agar potensi ini dapat diberi kesempatan untuk berkembang. Menemukan potensi kreativitas terbukti merupakan tugas yang sangat sulit. Dalam upaya mencarinya, usaha yang dilakukan diarahkan pada penyusunan tes yang dapat mengukur kreativitas atau beberapa aspeknya. Beberapa tes kreativitas berbentuk verbal dan yang lain visual. Dalam tes verbal, kreativitas diukur dengan melihat jumlah kata yang dapat dikaitkan anak dengan suatu kata yang diberikan misalnya "petir" atau "hujan." Atau anak-anak diminta untuk menyebutkan semua benda bulat yang terpikirkan olehnya atau menjelaskan apa persamaan seekor burung kakaktua dengan sebuah kentang (6, 26, 57, 64). Dalam tes visual kreativitas, diberikan pola atau gambar garis pada anak dan imajinasinya dinilai

dengan melihat apa arti gambar tersebut bagi mereka. Salah satu alasan mengapa tes seperti itu kurang berhasil ialah karena kreativitas merupakan konsep yang tidak begitu jelas. Apakah hal-hal yang dites itu merupakan kreativitas atau merupakan kemampuan lain? Selanjutnya kritik mengenai tes itu menyatakan bahwa tes tersebut tidak selalu memenuhi persyaratan rancangan eksperimen yang ketat. Para guru mencoba mengidentifikasi kreativitas dengan menentukan seberapa orisinal anak itu dalam memecahkan masalah atau seberapa banyak "sentuhan pribadi" yang diungkapkannya dalam bercerita, melukis, atau mengarang. Penilaian ini subjektif dan karenanya kurang mengandung ilmiah. Akan tetapi, bagi guru tersebut penilaian ini dapat digunakan sebagai pedoman dalam upaya menemukan dan mendorong kreativitas. Bagi para orang tua dan orang lain yang pekerjaannya berhubungan dengan membimbing perkembangan anak, pendekatan serupa seyogianya digunakan. Sampai saat tes objektif yang dapat diandalkan dapat dikembangkan, kreativitas harus ditemukan melalui pengejawantahannya dalam kegiatan anak tersebut.

Lehman menjelaskan, puncak awal dalam kreativitas disebabkan oleh faktor lingkungan seperti kesehatan yang buruk, lingkungan keluarga, tekanan keuangan, dan kekurangan waktu luang. Tidak terdapat bukti bahwa puncak awal atau penurunan berikutnya disebabkan oleh batasan bawaan (48). Apakah pola ini akan diikuti atau tidak sebagian besar bergantung pada pengaruh- pengaruh lingkungan yang memudahkan atau menghalangi ekspresi kreativitas. Spock menekankan betapa pentingnya sikap awal orang tua terhadap ekspresi kreativitas anak ketika ia mengatakan (79): Orang tua yang memperkenalkan bayi ke dunia benda mati atau tidak melakukannya menunjukkan mereka, apa saja kesenangan yang dapat diperoleh dengan meletakkan sejumlah sendok dalam panci, melihat gambar buku, atau menari mengikuti irama musik. Apabila orang tua mengajar mereka dengan semangat positif ini, mereka bukan saja akan menimbulkan perasaan bahwa hal-hal itu dapat dinikmati namun mereka juga anan mampu melakukannya sendiri dengan baik. Atau jika orang tua mempunyai sikap yang berlawanan, mereka akan mengajarkan bahwa benda-benda itu harus dihindari karena bermain dengannya dapat menimbulkan bahaya atau kemarahan orang tua.

Perkembangan Kreativitas
Studi-studi mengenai kreativitas menunjukkan bahwa perkembangannya mengikuti pola yang dapat diramalkan. Ini tampak pada awal kehidupan dan pertama-tama terlihat dalam permainan anak, lalu secara bertahap menyebar ke berbagai bidang kehidupan lainnya seperti pekerjaan sekolah, kegiatan rekreasi, dan pekerjaan (47, 70, 82) Hasil kreatif biasanya mencapai puncaknya pada usia tiga puluh dan empat puluhan. Setelah itu tetap mendatar atau secara bertahap menurun (27, 48). Erikson menyebut usia menengah sebagai "usia krisis," saat "generativity" (kecenderungan untuk men- cipta atau mewujudkan sesuatu) atau "stagnasi" akan mendominasi (31).

Arasteh melaporkan, bahwa perkembangan kreativitas mungkin terhambat pada beberapa "periode kritis" selama masa kanak-kanak dan remaja (7). Kotak 12-2 menyajikan periode ini dan menjelaskan mengapa dipandang kritis. Beberapa anak dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang menyebabkan kebekuan kreativitas mereka pada periode ini, sedangkan anak lain dengan usia sama tidak mengalaminya. Misalnya, anak yang masuk taman kanak-kanak mungkin menunjukkan kreativitas yang lebih besar pada usia itu daripada anak yang belum masuk sekolah. Ini sebagian karena lingkungan taman kanakkanak memperkenalkan kreativitas dan tidak begitu

terstruktur dan evaluatif rumah atau tetangga (22).

ketimbang

lingkungan

Variasi Kreativitas
Walaupun kenyataan menunjukkan bahwa kreativitas mengikuti pola yang dapat diramalkan, namun ada variasi dalam pola ini. Ada sejumlah faktor yang turut menimbulkan variasi ini, lima di antaranya dianggap penting. JENIS KELAMIN Anak laki-laki menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari anak perempuan, terutama setelah berlalunya masa kanak-kanak. Untuk sebagian besar hal ini disebabkan oleh perbedaan perlakuan terhadap anak laki-laki dan anak perempuan. Anak laki-laki lebih diberi kesempatan untuk mandiri, didesak oleh teman sebayanya untuk lebih mengambil risiko, dan didorong oleh para orang tua dan gum untuk lebih menunjukkan inisiatif dan orisinalitas (7, 13, 25, 88). Torrance mengatakan, "tidak perlu diragukan bahwa sikap dan perlakuan masyarakat terhadap anak perempuan dan wanita mempengaruhi perkembangan kreativitas dan perilaku mereka" (89). STATUS SOSIOEKONOMI Anak dari kelompok sosioekonomi yang lebih tinggi cenderung fetfflv Wttf fcsv ^ yang lebih rendah. Yang pertama, kebanyakan dibesarkan dengan cara mendidik anak secara demokratis, sedangkan yang terakhir mungkin iebih mengalami pendidikan yang otoriter. Kontrol demokratis mempertinggi kreativitas karena memberi kesempatan yang lebih banyak bagi anak untuk menyatakan individualitasnya, mengembangkan minat dan kegiatan yang dipilihnya sendiri. Lebih penting lagi, lingkungan anak kelompok so- sioekonomi yang lebih tinggi memberi lebih banyak kesempatan untuk memperoleh pengetahuan dan pengalaman yang diperlu- ka n bagi kreativitas. Misalnya, anak kecil dari lingkungan yang kekurangan hanya mempunyai sedikit bahan kreatif untuk bermain dan sedikit dorongan untuk bereksperimen dengan lilin, lukisan, dan boneka dibandingkan dengan mereka yang mempunyai lingkungan sosioekonomi yang lebih baik.

URUTAN KELAHIRAN Studi-studi mengenai urutan kelahiran dan pengaruhnya terhadap perkembangan anak (lihat buku Jilid I halaman 63-65 untuk pembahasan studi ini) melaporkan bahwa anak dari berbagai urutan kelahiran menunjukkan tingkat kreativitas yang berbeda. Penjelasan mengenai perbedaan ini lebih menekankan lingkungan daripada bawaan. Anak yang lahir di tengah, lahir belakangan, dan anak tunggal mungkin lebih kreatif dari yang lahir pertama. Umumnya, anak yang lahir pertama lebih ditekan untuk menyesuaikan diri dengan harajwn^ranj tua dari mereka yang lahir kemudian tekanan ini lebih mendorong anak untuk menjadi penurut daripada pencipta. Anak tunggal agak bebas dari tekanan orang tua, yang umum terjadi di rumah yang ada saudara kandung lainnya dan juga diberi kesempatan untuk mengembangkan individualitasnya. UKURAN KELUARGA Anak dari keluarga kecil, bilamana kondisi lain sama, cenderung lebih kreatif dari anak keluarga besar. Dalam keluarga besar, cara mendidik anak yang otoriter dan kondisi sosioekonomi yang kurang menguntungkan mungkin lebih mempengaruhi dan menghalangi perkembangan kreativitas. LINGKUNGAN KOTA VERSUS LINGKUNGAN PEDESAAN Anak dari lingkungan kota cenderung lebih kreatif dari anak lingkungan pedesaan. Di pedesaan, anak- anak lebih umum dididik secara
otoriter dan merangsang lingkungan pedesaan kurang

kreativitas dibandingkan lingkungan kota dan sekitarnya (49, 88). Gambar 12-1 menunjukkan perbedaan antara kelompok kota dan desa - yang terakhir didasarkan atas studi anak Amish - dalam tes kreativitas, orisinalitas, dan keluwesan. INTELIGENSI Pada setiap umur, anak yang pandai menunjukkan kreativitas yang lebih besar dari anak yang kurang pcndai. Mereka mempunyai lebih banyak gagasan baru untuk menangani suasana konflik sosial dan mampu merumuskan lebih banyak penyelesaian bagi konflik tersebut. Ini merupakan salah satu alasan mengapa mereka lebih sering terpilih sebagai pemimpin dibandingkan teman seusia mereka yang kurang pandai (3).

Faktor-faktor yang Meningkatkan Kreativitas


Ketika masih diyakini bahwa kreativitas me rupakan unsur bawaan yang hanya dimiliki sebagian kecil anak, dianggap bahwa kreativitas akan berkembang secara otomatis dan tidak dibutuhkan adanya rangsangan lingkungan atau kondisi lingkungan yang menguntungkan bagi perkembangan ini. Bertentangan dengan itu, sekarang diketahui bahwa semua anak mempunyai potensi untuk kreatif, walaupun tingkat kreativitasnya berbeda- beda. Akibatnya, kreativitas seperti halnya setiap potensi lain, perlu diberi kesempatan dan rangsangan oleh lingkungan untuk berkembang. Titik pandangan baru mengenai kreativitas mendorong diadakannya penelitian untuk menentukan apa saja kondisi lingkungan yang menguntungkan dan yang membekukan perkembangan kreativitas. Penelitian ini telah menunjukkan dua faktor yang penting. Pertama, sikap sosial yang ada dan tidak menguntungkan kreativitas harus ditanggulangi. Alasannya karena sikap seperti itu mempengaruhi teman sebaya, orang tua, dan guru serta perlakuan mereka terhadap anak yang berpotensi kreatif. Apabila harus dibentuk kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan kreativitas, faktor negatif ini harus dihilangkan. Hal ini banyak diusahakan orang tua dengan menekankan kenormalan anaknya yang kreatif dan dengan mendorongnya untuk berbuat seperti teman sebayanya dan menaruh perhatian terhadap apa saja yang menjadi perhatian teman sebaya. Kedua, kondisi yang menguntungkan bagi perkembangan kreativitas harus diadakan pada awal kehidupannya ketika kreativitas mulai berkembang dan harus dilanjutkan terus sampai berkembang dengan baik. Torda telah menjelaskan (86): Kreativitas tidak saja bergantung pada potensi bawaan yang khusus, tetapi juga pada perbedaan mekanisme mental yang menjadi

sarana untuk mengungkapkan sifat bawaan. Mekanisme mental ini dihasilkan oleh suatu tipe adaptasi awal khus u s . . . . Tampaknya orang yang kreatif dan tidak kreatif menggunakan mekanisme mental yang serupa dan berbeda.... Orang yang kreatif dan tidak kreatif ber beda dalam hal sikap (falsafah hidup), apa yang mereka anggap penting dan yang menimbulkan kecemasan, dan menunjukkan perbedaan dalam kecakapan memecahkan masalah. Perbedaan ini sebagian berasal dari sifat bawaan dan sebagian dari proses adaptasi awal yang berakar dalam sikap orang tua. Sejumlah hal dapat dilakukan untuk meningkatkan kreativitas; yang paling penting dari kondisi ini dan perannya dalam upaya mempertinggi kreativitas disajikan dan dijalankan secara singkat dalam Kotak 12-3.

Ketetapan Kreativitas
Cara terbaik untuk menelaah ketetapan kreativitas (persistence of creativity) adalah dengan mengikuti perkembangan sekelompok anak sejak awal masa kanak-kanak sampai dewasa atau bahkan sampai pada usia menengah. Pendekatan ini hingga sekarang belum diterapkan untuk menelaah kreativitas. Hambatannya bukan kurangnya perhatian ilmiah, melainkan terutama kurangnya piran- ti pengukur yang memadai - tes standar yang dapat menemukan kreativitas anak dan mengukur perubahan yang terjadi dengan bertambahnya usia. Beberapa tes yang tersedia sekarang, seperti telah diterangkan sebelumnya, dianggap eksperimental dan sama sekali tidak dapat diandalkan untuk digunakan dalam studi genetik. Beberapa studi kreativitas yang mencakup waktu singkat menunjukkan bahwa kreativitas tetap bertahan pada tahun-tahun awal kehidupan (66, 73). Scheffler, yang menelaah anak yang berusia 5 sampai 6 tahun, melaporkan bahwa khayalan sedikit berubah selama waktu itu tetapi cenderung menjadi lebih tetap daripada berubah selama waktu itu tetapi

cenderung menjadi lebih tetap daripada berubah (70). Kogan dan Pan- kove menelusuri kreativitas selama jangka waktu 5 tahun dan menemukan bahwa terdapat konsistensi selama periode ini (46). Dalam Genetic Studies of Genius, Terman dan Oden secara tidak langsung mempelajari kreativitas mulai masa kanak-kanak sampai masa dewasa sehubungan dengan studi mereka tentang perhatian dan kegiatan anak yang sangat pandai. Mereka melaporkan bahwa minat yang kreatif bertahan selama bertahun-tahun (85). Dennis dan Lehman yang mempelajari kreativitas terutama di bidang sains melaporkan bahwa mereka yang mencapai kemashuran karena kreatif dalam bidangnya sejak awal masa kanak-kanak telah menunjukkan perhatian pada bidang keberhasilan mereka (27, 48). Akan tetapi studi ini sifatnya retrospektif dan seperti halnya semua bentuk restrospeksi, terdapat ketidaktepatan karena faktor kelupaan pelaku dan kecenderungan untuk membesar-besarkan kemampuan atau pengalaman yang menyenangkan. Helson melaporkan hasil penelitian terhadap sekelompok minat pada masa kanak-kanak yang berkaitan dengan kreativitas pada wanita. Walaupun ini juga merupakan studi retrospektif, Helson memusatkan pada minat wanita ini, bukan pada prestasi mereka. Karena minat masa kanak-kanak lebih sedikit kemungkinannya dilupakan atau dibesarbesarkan dibandingkan dengan prestasi masa kanakkanak, studi ini sangat berarti sebagai bukti adanya ketetapan (persistensi). Menurut penemuan Helson, wanita yang kreatif, semasa anak-anak, menunjukkan baik minat maupun pengalaman yang berkaitan dengan kegiatan kreatif seperti bermain imajinatif, melukis, mengarang cerita, atau bermain sandiwara. Ini kontras dengan wanita yang tidak kreatif yang pada masa kanak-kanaknya menyukai kegiatan kelaki-laki- an (tomboy) termasuk agresi dan persaingan, atau mereka yang menyukai permainan konvensional dan melakukan di mana permainan yang tidak menuntut kreativitas (40).

Ekspresi Kreativitas Kanak-kanak

di

Masa

Pada halaman berikut akan dibahas beberapa cara yang paling umum digunakan anak untuk mengekspresikan kreativitas nada berbagai usia. Setiap ekspresi akan dinilai'secara kritis untuk menentukan apakah hal itu akan menjurus ke penyesuaian pribadi dan sosial yang baik dan menimbulkan kepuasan bagi anak itu.

Animisme
Animisme adalah kecenderungan untuk menganggap benda mati SfthagaiJhjdup. Anak kecil mempunyai pengetahuan dan pengalaman yang terlalu minim untuk mampu membedakan antara hal-hal yang mempunyai sifat hidup dan yang tidak. Mereka menganggap bahwa karena mereka merasa dan bertindak dengan cara tertentu dalam berbagai situasi, maka segala sesuatu berbuat demikian pula. Sulit untuk mengatakan kapan pemikiran animistik dimulai karena anak yang sangat kecil tidak dapat mengungkapkan pikirannya secara verbal. Jadi pikiran mereka harus dinilai berdasarkan bentuk tindakannya. Pendekatan ini menghasilkan kesimpulan bahwa pemikiran animistik dimulai sekitar usia analgp^hun, mencapai puncaknya an- tara kemudian menurun dengan^pattfa#mnghilang segera sesudah anak masuk sekolah (12, 50, 74). Kecenderungan anak untuk memandang segala sesuatu sebagai mahluk hidup seperti dirinya seringkali diperkuat orang tua. Mereka membacakan cerita atau mendorong mereka untuk melihat buku komik, siaran televisi, atau film dengan pohon, mainan, hewan dan segala macam benda yang menyerupai manusia. Mereka mencoba mencegah anak melukai dirinya atau merusak benda lain pada waktu sedang mengamuk dengan mengatakan, "Jangan menyepak kursi malang itu nanti kamu akan melukai kakinya" atau "Bagaimana perasaanmu bila ibu melemparmu seperti kamu melempar bonekamu?" Dalam situasi seperti ini, dapat dimengerti bahwa anak akan memandang benda mati sebagai

sesuatu yang hidup. Hal ini diperlihatkan dalam Gambar 12-2. Dalam upaya mereka untuk menjelaskan gejala alam, seperti awan, anak untuk memikirkannya sebagai sesuatu yang hidup. Hanya setelah anak memperoleh lebih banyak pengalaman dan mulai memahami penjelasan yang diberikan tentang perbedaan antara benda mati dan hidup, pemikiran animistiknya semakin berkurang. Akibatnya, animisme dapat dianggap sebagai kegiatan kreatif di masa kanak-kanak, tetapi hal ini jarang berlanjut setelah anak mulai sekolah. EVALUASI Bahwa animisme memberikan kesenangan pada anak kecil tidak dapat disangkal lagi. Animisme menambah kesenangan bermainnya ketika mereka masih terlalu kecil untuk bermain lebih banyak dengan orang lain. Ketika anak telah cukup matang untuk mengerti bahwa mainan dan binatang mainan tidak mempunyai sifat manusia dan binatang hidup, mereka mulai kurang berminat pada mainan dan mulai mengalihkan minatnya pada permainan tanpa alat-alat tersebut. Tidak terdapat bukti bahwa memberi sifat hidup pada benda mati mengganggu pe nyesuaian pribadi dan sosial anak. Sebaliknya, pemikiran animistik membantu anak untuk membayangkan dirinya pada posisi orang la in, jadi mengembangkan sikap simpati dan empati. Misalnya, anak yang merasa kasihan terhadap mainan yang dipukul anak lain karena marah, belajar merasa kasihan terhadap orang lain dalam suasana yang serupa Ha! ini membantu anak untuk belajar mengekang tindakan agresif terhadap anak lain. Yang sama pentingnya adalah identifikasi diri dengan mainan memberikan anak perasaan aman yang seringkali kurang dirasakannya. Sebagai contoh, membawa tidur boneka anjing ternyata membantu anak kecil untuk menanggulangi rasa takut akan gelap. Anak merasa bahwa mainan itu akan melindunginya sebagaimana seekor anjing piaraan keluarga akan melindungi keluarganya.

Bermain drama, sebagaimana telah dikemu- kakan dalam bab sebelumnya sering disebut "permainan pura-pura," sejajar dengan pemikiran animistik. Permainan ini kehilangan daya tariknya kurang lebih pada saat anak masuk sekolah. Bila kemampuan penalaran dan pengalaman menjadikan anak mampu membedakan antara kenyataan dan khayalan, mereka kehilangan minat pada permainan pura- pura dan mengalihkan dorongan kreatifnya ke kegiatan lainnya, biasanya permainan yang konstruktif. Pada mulanya sebagaimana yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya, bermain drama sifatnya reproduktif. Dalam permainan ini, anak meniru perilaku orang tertentu dan situasi kehidupan atau media massa yang digunakannya sebagai tema permainan drama dengan ketepatan yang mengagumkan. Dengan sangat cepat permainan drama yang reproduktif digantikan dengan permainan drama yang produktif, wahana bagi anak untuk menciptakan tokoh dan tema permainannya, yang didasarkan atas orang dan situasi dalam kehidupan atau media massa. Kadang-kadang hasil kreatif ini sangat mendekati orang dan situasi sesungguhnya; kadangkadang sebagian besar hanya merupakan hasil imajinasi dan sedikit kemiripannya dengan orang atau situasi sebenarnya (19 25, 74). Meskipun tema permainan drama sangat bervariasi, cara anak menampilkan temanya mengikuti pola tertentu dan dapat diramalkan. Sonte dan Church (81) menggambarkan pola khas dramatisasi anak-anak sebagai berikut: Bagi anak usia tiga tahun, sebuah batok kayu dapat menjadi boneka, kereta api, bangunan, atau sapi. Bagi anak usia lima tahun, sebuah balok merupakan bahan bangunan, dan ia ingin bahwa kereta api yang k e/uar dan masuk stasiun mirip kereta api sesungguhnya. Anak usia tiga tahun dapat mengisi suatu dunia dengan potongan kayu, batu, dan kertas dan kain yang tidak dibentuknya menjadi bentuk yang mirip orang. Anak usia empat tahun yang

Bermain Drama

berusaha menjadi seorang koboi yang gagah, menginginkan pelengkap yang menonjol misalnya topi yang lebar, pistol, atau sapu tangan pengikat leher. Baginya satu unsur dapat menggantikan seluruh peran "koboi." Tetapi anak usia lima tahun, mungkin merasa kurang puas dengan permainannya apabila ia tidak dapat menggunakan semua pakaian dan tanda koboi.

menggantikannya dengan bala, sepatu roda, dan alat bermain yang lebih dewasa. Hanya jika bermain drama merupakan kegiatan gang yang populer pada pe riode akhir masa kanak-kanak, permainan ini akan ada sekalipun minat bermain mereka telah berorientasi-gang. Kotak 12-4 menggambarkan beberapa sumbangan permainan drama terhadap penyesuaian pribadi dan sosial anak kecil. Walaupun guru di taman bermain dan tam'an ka- nak-kanak menyadari nilai penting permainan drama bagi penyesuaian sosial, orang tua seringkali mengabaikannya dan memberi lebih banyak perhatian pada sumbangannya bagi penyesuaian pribadi (63).

EVALUASI Ham'a apabila permainan drama ini tetap bertahan jauh melampaui waktu anak biasanya terlibat dalam bentuk kegiatan kreatif ini, ada kemungkinan bahwa penyesuaian pribadi dan sosial anak akan terganggu. Seperti halnya animisme, bermain drama biasanya ditinggalkan kebanyakan anak tidak lama sesudah masuk sekolah. Pada waktu itu mereka tidak dapat lagi memberikan sifat hidup pada mainannya dan mereka terlalu realistis untuk ingin berpura-pura menganggap dramatisasinya itu sungguh- an. Selanjutnya, dengan meningkatnya perhatian pada kegiatan dengan teman sebaya dan semakin kuatnya keinginan untuk diterima dalam masyarakat, anak ingin melakukan apa saja yang dilakukan teman sebaya. Ini berarti bahwa betapapun banyaknya kesenangan yang mereka peroleh dari bermain drama, mereka meninggalkannya jika teman sebaya mereka menganggap hal itu kekanak- kanakan dan telah .Bermain konstruktif awal sifatnya reproduktif. Anak meniru apa saja yang dilihatnya dalam kehidupan sehari-hari. Dengan bertambahnya usia, mereka kemudian mencip- takan konstruksi dengan menggunakan benda dan situasi sehari-hari serta mengubahnya agar sesuai dengan khayalannya. Dua jenis permainan konstruktif yang pa ling umum dan populer adalah ^narpbuat bendfi dan'Mfff^nhbar.|Seperti halnya dengan permainan kreatif lain, ada variasi yang nyata dalam frekuensi keterlibatan anak dalam kegiatan ini dan terdapat perbedaan da lam jenis benda yang dibangun. Sebagai contoh, anak laki-laki menyukai permainan konstruktif seperti halnya anak perempuan, tetapi anak laki-laki dan perempuan berusia sama mengikuti pola permainan konstruktif yang berbeda. Pada permainan konstruktif awal, anak- anak membuat benda dari tanah, pasir, balok, tanah liat, cat, dan kertas dan lem. Di taman kanak-kanak, kebanyakan anak beralih dari membangun dengan

Permainan Konstruktif

Pada saat anak mencapai usia sekolah dan lebih dapat membedakan antara khayalan dan kenyata an, anak kehilangan minat untuk bermain drama dan mengalihkan perhatiannya ke permainan konstruktif. Ini tidak berarti bahwa bermain konstruktif dimulai pada saat bermain drama berakhir. Bermain konstruktif dimulai sejak awal, seringkali lebih awal dari bermain drama, tetapi permainan ini dikalahkan oleh permainan pura-pura yang lebih menyenangkan Kemudian apabila permainan pura-pura kehilangan daya tariknya bagi anak, mereka mengalihkan perhatian mereka ke tipe permainan kreatif yang sebelumnya dianggap menyenangkan dan banyak menghabiskan waktu mereka balok ke melukis, anak-anak membuat model, tekateki, dan merekat. Pada akhir masa kanak-kanak mereka membangun kemah, rumah-rumahan, boneka salju dan bendungan. Gambar dini biasanya meniru gambar dalam buku menggambar, yang berarti sifatnya reproduktif. Apabila diberikan krayon atau pinsil serta kertas untuk menggambar sesuai dengan keinginannya, gambarnya menjadi lebih konstruktif. Anak menciptakan gambar orang atau tempat, bukan seperti yang diingatnya melainkan seperti yang diinginkannya. Mereka tidak memperhatikan perspektif dan proporsi. Sebaliknya mereka menggambar hal-hal yang disukainya secara terinci seperti kancing baju, dan pada saat yang sama menghilangkan hal-hal yang penting seperti kaki orang. Pada waktu anak masuk sekolah, gambaran mereka menunjukkan perhatian untuk perspektif, ukuran relatif, dan ketepatan rincian. Kecuali jika

benar-benar berbakat, sebagai hasil pendidikan formal yang diterimanya waktu menggambar di sekolah, tahun demi tahun anak-anak kurang menunjukkan orisinalitas dalam gambar (9, 18). Dari studi longitudinal terhadap gambar salah seorang anak. Gambar 12-3 menunjukkan menyusutnya orisinialitas yang cenderung terjadi setelah anak masuk sekolah. Gambar anak kecil biasanya mewakili benda yang dikenal, jarang sekali desain. Bertfuk orang paling populer, dan bentuk orang dewasa sedikit lebih populer dari bentuk anak. Binatang kurang sering digambar dibandingkan dengan rumah dan pepohonan. Pada anak yang lebih besar, penekanan nya terutama pada gambar mesin, desain, binatang, rumah, bunga, dan pohon dan tidak banyak pada bentuk manusia. Anak yang lebih tua sering menggambar kartun yang serupa dengan tokoh komik. Subjeknya bervariasi, tetapi tokoh favorit adalah guru dan teman sebaya yang tidak disukainya (33, 37, 51,77).

rasa bosan dan perasaan sial yang timbul bila mereka tidak mempunyai teman bermain. Anak yang merasa bosan sering menyesali diri sendiri. Lebih buruk lagi mereka berusaha mencari kompensasi untuk kebosanan mereka dengan jalan melamun tipe permainan yang memberi kepuasan sementara namun akhirnya akan merusak penyesuaian pribadi dan sosial. Hal ini dibahas kemudian dalam bab ini. Sumbangan permainan konstruktif terhadap penyesuaian pribadi yang baik tidak berakhir pada masa kanak-kanak, seperti halnya permainan drama. Seringkali permainan konstruktif berkembang menjadi hobi seumur hidup. Jadi sumbangannya bagi penyesuaian pribadi menetap.

Teman Imajiner
Teman imajiner adalah orang, hewan, atau benda yang diciptakan anak dalam khayalannya untuk memainkan peran seorang teman. Karena banyak permainan membutuhkan teman bermain, supaya menyenangkan, anak yang tidak mempunyai teman sering mencip- takan seorang teman imajiner. Anak yang pemalu atau pernah mengalami pengalaman sosial dini yang tidak menyenangkan mungkin lebih menyukai teman bermain imajiner dari teman sesungguhnya. Apabila anak menginginkan seorang untuk teman bermain, teman imajinernya akan berfungsi sebagai teman sesungguhnya. Jadi, teman imajiner, seperti halnya teman sesungguhnya, akan merupakan teman bermain atau kawan (seperti dijelaskan dalam bab mengenai penyesuaian sosial). Terlepas dari peran yang dimainkan teman imajiner, anak itu memperoleh kepuasan dari perasaan bahwa ada seseorang yang selalu menemaninya. A.A. Milne menjelaskan bagaimana perasaan anak kecil tentang teman imajinernya (58): Piko demikian aku memanggilnya merupakan rahasiaku sendiri. Dan Piko merupakan alasan mengapa aku tidak pernah merasa kesepian. Sambil bermain di taman, duduk di tangga. Apa saja yang sedang kulakukan, Piko selalu ada di sana.

E VA L U A S I Permainan konstruktif menyumbang

bagi penyesuaian pribadi yang baik tetapi hanya sedikit meningkatkan penyesuaian sosial. Permainan konstruktif biasanya lebih dilakukan sebagai kegiatan perseorangan daripada kegiatan kelompok sehingga tidak membantu penyesuaian sosial. Hanya apabila anak membuat sesuatu dengan anak lain atau beberapa anak lain, permainan konstruktif dapat membantu penyesuaian sosial dengan cara yang sama seperti bermain drama. Permainan konstruktif membantu penyesuaian pribadi secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung, sumbangannya berupa kepuasan ego yang diperoleh anak karena dapat membangun sesuatu sendiri dan dari penghargaan sosial yang diterimanya berkat bangunannya itu. Sayang sekali, usaha konstruktif mereka sering dikritik atau diejek oleh teman sebaya, orang tua, atau guru. Pengalaman seperti ini akan mengecilkan hati anak. Secara tidak langsung, permainan konstruktif membantu penyesuaian pribadi dengan menghalau

Kebanyakan teman imajiner adalah manusia terutama anak-anak dari usia dan jenis kelamin yang sama. Mereka mempunyai nama yang dipilih anak dan karakteristik kepri- bad ia n yang disukainya sering yang ingin dimilikinya sendiri. Teman imajiner dapat dan mau melakukan apa saja yang diinginkan anak itu. Ini tentu saja menambah kesenangan yang diperoleh anak itu dari teman imajiner. TEMAN IMAJINER SEBAGAI GEJALA UMUM Ka rena teman imajiner merupakan "rahasia diriku sendiri," anak tidak selalu bercerita pada orang lain tentang teman imajiner mereka. Mengamati anak dan mendengarkan apa yang mereka katakan bila mereka bermain sendiri seringkali akan mengungkapkan bahwa mereka mempunyai teman imajiner. Kerahasiaan anak kecil ini adalah sumber kesulitan metodologi dalam upaya mengetahui sejauh mana teman imajiner merupakan gejala umum, jenis anak mana yang paling suka mempunyai teman imajiner, dan pada usia berapa teman imajiner cenderung paling- penting dalam kehidupan seorang anak. Studi mengenai teman imajiner, yang lebih sering didasarkan atas laporan retrospektif daripada atas pengamatan langsung terhadap anak kecil, menunjukkan bahwa teman imajiner lebih menonjol di kalangan anak yang inteligensinya lebih tinggi daripada antara mereka yang rata-rata (8, 39, 69). Dalam studi remaja yang kreatif, Schaefer menarik kesimpulan bahwa anak yang mempunyai teman imajiner lebih banyak ditemukan di antara mereka yang pandai, terutama yang berkecenderungan kreatif dalam bidang sastra dan kurang umum di antara mereka yang kurang pandai atau kurang tertarik pada kegiatan karang-mengarang (69). Tidak ada satu pun tipe kepribadian yang menentukan apakah anak cenderung memiliki teman imajiner atau tidak. Anak yang bahagia dan baik penyesuaiannya mempunyai teman imajiner selama tahun-tahun prasekolah seperti halnya anak lain. Telah dilaporkan bahwa hal ini paling umum di kalangan anak yang mempunyai kesulitan kepribadian, seperti malu dengan kehadiran anak lain, mendominasi anak lain, takut dengan kegiatan fisik, peka, dan sikap yang kurang terbuka, suka berkelit, tidak bertanggung jawab, senang

menjadi pusat perhatian, dan takut kalah dari orang lain (36, 39 52 69). Semua anak yang tidak mendapatkan teman yang didambakannya akan mencari kompensasi dengan menciptakan teman imajiner untuk memenuhi kebutuhannya. Teman imajiner sedemikian umum pada awal masa kanak-kanak sehingga hal ini dianggap sebagai normal. Akan tetapi, jika anak lebih menyukai teman imajiner pada usia hal ini tidak lazim lagi, ini dapat dianggap sebagai isyarat adanya penyesuaian pribadi dan sosial yang buruk. EVALUASI Teman imajiner tidak berarti penyelesaian yang memuaskan bagi masalah anak yang kesepian. Walaupun mempunyai teman imajiner membantu anak untuk mengurangi rasa kesepian, ia tidak membantu anak melakukan penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Hal ini dibahas secara terinci dalam bab penyesuaian sosial dalam bagian tentang bahaya dalam penyesuaian sosial. Beberapa studi telah dilakukan terhadap para mahasiswa universitas yang pada masa kanakkanaknya mempunyai teman imajiner. Studi tersebut menunjukkan ada sedikit bukti yang menunjukkan adanya pengaruh negatif permanen akibat teman imajiner pada awal masa kanak-kanak. Umumnya para mahasiswa itu cenderung menjadi lebih introvert, kurang sosial dalam minat mereka, dan kurang termotivasi untuk berprestasi, tetapi apabila kecenderungan ini tidak sangat kuat hal ini tidak terlalu mengganggu penyesuaian sosial. Namun, penemuan ini menunjukkan bahwa anak yang mempunyai teman imajiner membutuhkan bimbingan dan bantuan untuk menjamin bahwa kecenderungan ini dapat ditanggulangi sebelum menjadi pola kebiasaan penyesuaian pribadi dan sosial (39).

Melamun
Seperti halnya semua permainan, melamun merupakan kegiatan yang dilakukan karena memberi kesenangan. Melamun merupakan bentuk permainan mental, dan biasanya disebut "khayalan" untuk membedakannya dari ekspresi imajinasi yang lebih terkendali. Blazer menulis: "Khayalan

merupakan pelarian atau mekanisme defensif yang memberikan hiburan atau pelepasan semu dari kenyataan yang tidak memuaskan atau kepuasan imajiner dari keinginan yang pemuasan sebenarnya terhambat karena larangan" (15). Melamun berbeda dari bermain pura-pura dalam arti bahwa peran yang dimainkan anak dalam lamunannya lebih menarik, lebih heroik dan lebih sedikit hubungannya dengan kehidupan sehari-hari. Misalnya, dengan melamun anak dapat menjadi putri atau putra raja, atlet olah raga terkemuka atau presiden. Bahan yang diramu dalam lamunan sering berasal dari media massa seperti film, televisi, buku, atau komik. Terlepas dari tempat atau kegiatan melamun, tokoh inti utama selalu pelamunnya. Semua tokoh lainnya tidak menonjol, walaupun peran mereka berkaitan dengan dan mempengaruhi tindakan pelamun. Sebagai contoh, jika lamunan berlatarkan sebuah sirkus, pelamun adalah seorang penjinak singa atau artis trapeze, sedangkan orang yang lain memainkan peran tambahan dan peran pengagum. Walaupun melamun dapat dimulai sejak awal juga pada anak yang pandai - kegiatan ini mencapai puncaknya selama masa puber. Melamun merupakan bentuk hiburan favorit di kalangan anak yang lebih tua bila mereka merasa bosan atau kemungkinan untuk permainan lain terbatas. TEMA LAMUNAN Walaupun melamun dapat mencakup semua adegan imajinatif dan dapat berhubungan dengan setiap kegiatan, tiga kategori utama paling umum dan populer di masa kanakkanak. Ketiga kategori ini dijelaskan secara singkat dalam Kotak 12-5. Biasanya pada anak yang dapat menyesuaikan diri dengan baik, lamunan bertokoh pahlawan penakluk merupakan lamunan dominan, walaupun hampir semua anak yang baik penyesuaiannya pada suatu waktu pernah mempunyai lamunan bertokoh pahlawan yang menderita dan mempunyai penya- kit atau cacat imajiner. Sebaliknya, pada anak yang buruk penyesuaian dirinya lamunan pahlawan yang menderita dan berpenya- kit imajiner dominan.

Saat anak mendekati masa puber dan mulai mengembangkan sikap antisosial serta merasa rendah diri secara fisik, lamunan pahlawan yang menderita dan berpenyakit imajiner lebih meningkat frekuensinya dan lebih menonjol. Kenyataannya hal ini hampir universal selama masa puber, walaupun tentu saja setiap anak remaja juga asyik dengan lamunan pahlawan penakluk. Gambar 12-4 menunjukkan berbagai penyebab fisik yang diberikan sebagai alasan absen sekolah di kalangan anak-anak pada berbagai usia, yang menekankan betapa umumnya penyakit imajiner itu (yang dicatat sebagai "penyebab tidak sah") pada saat anak menjelang masa puber. EVALUASI Melamun begitu umum, dan begitu memuaskan pada masa kanak-kanak sehingga evaluasi pengaruhnya terhadap penyesuaian pribadi dan sosial merupakan suatu keharusan. Dalam evaluasi ini, yang disajikan dalam Kotak 12-6, jelaslah bahwa hambatan bagi penyesuaian yang baik jauh melampaui manfaatnya. Ini terutama benar bila melamun menjadi kebiasaan.

Dusta Putih
Suatu ekspresi kreativitas yang umum di kalangan anak-anak kecil adalah menceritakan "dusta putih" (white lies), yang sering dise- but "dongeng berlebihan" (tall tales). Dusta masa kanak-kanak sangat berbeda dari apa yang dimaksud orang dewasa dengan berdusta. Dusta putih adalah kebohongan yang diceritakan seorang anak yang sebenarnya merasa yakin bahwa hal itu benar. Tidak bertujuan untuk menipu orang lain dan tidak ada niat untuk melakukan hal itu. Anak yang menceritakan dusta putih merasa yakin tentang kebenaran hal-hal yang dikatakannya karena hal itu tampak sangat jelas dan realistis, sehingga dianggapnya benar. Sebaliknya, "berbohong" adalah dusta yang disengaja untuk menipu. Anak yang terpaksa berbohong sering melakukannya untuk menghindari hukuman atau teguran akibat melakukan sesuatu yang mereka tahu dilarang atau tidak disetujui. Kadang-kadang anak berbohong untuk membuat orang lain terkesan sehingga berbohong lebih

merupakan bentuk menonjolkan diri daripada melindungi diri. Apa pun bentuk motivasinya, anak-anak sadar sepenuhnya akan ketidakbenaran kata-kata mereka. Pada dasarnya, perbedaan di antara keduanya adalah bahwa dusta putih digunakan untuk menonjolkan diri sedangkan berbohong untuk melindungi diri, walaupun beberapa kebohongan, sebagaimana diuraikan di atas, mungkin juga bertujuan menonjolkan diri. Anak yang melakukan dusta putih membesar-besarkan dan memperindah kenyataan karena ia mengetahui bahwa dengan cara ini perhatian terpusat pada dirinya dan meningkatkan wibawanya. Sebagai contoh, anak kecil yang bercerita melihat singa di jalan kepada anggota keluarganya saat mereka sedang makan malam bersama, mengetahui bahwa cerita ini menarik lebih banyak perhatian daripada cerita melihat anjing. Anak itu akhirnya akan yakin telah melihatnya di jalan dan bukannya di layar televisi atau dalam sebuah buku. Banyak dusta putih berasal dari melamun. Apabila anak dalam dunia lamunannya melihat dirinya melakukan hal-hal yang diinginkannya dalam kehidupan sebenarnya, kepuasan ego yang diperoleh dari melamun membantu meningkatkan keyakinannya bahwa ia sebenarnya memang melakukan hal itu. Selain itu, jika di samping melamun anak didorong mengaitkan sifat hidup pada benda mati dan mendengar ceritera atau melihat gambar benda atau hewan yang dibuat dan berkata sesuatu seperti halnya manusia dalam realitas, mereka cenderung percaya bahwa hal itu memang benar ada atau mungkin nyata. Ini membuat mereka lebih cenderung berdusta putih.

intensitasnya antara usia 4 dan 5 tahu n untuk kemudian menghilang dengan cepat saat penalaran anak maju dan pengetahuan meningkat. Mungkin juga lingkungan tempat anak hidup dan tanggapan orang yang berarti dalam hidupnya akan mempengaruhi kecenderungan mereka untuk berdusta. Biasanya dusta putih ini jarang terjadi setelah anak berusia 6 tahun dan sebagian besar waktu mainnya diisi dengan permainan dengan teman seusia yang cenderung kurang mentoierir dusta si anak dibandingkan orang tuanya. EVALUASI Tidak ada bukti bahwa dusta putih menunjang penyesuaian pribadi atau sosial yang baik. Apakah dusta putih ini akan memperburuk dan seberapa jauh, sebagian besar akan bergantung pada tanggapan orang dewasa atau orang lain yang berarti dalam hidup anak. Orang dewasa sering menanggapi dusta putih anak kecil dengan sikap toleran dan perasaan geli. Mereka bahkan mendorong anak untuk menceritakan dongeng yang berlebih-lebihan karena "lucu" atau menggelikan. Bahaya tanggapan orang tua seperti ini adalah bahwa anak menafsirkannya sebagai persetujuan terhadap dusta putih. Oleh karena itu, anak tidak termodivasi untuk mempelajari secara kritis apa saja yang dikatakannya untuk menentukan apakah hal itu sekedar imajinasi atau memang benar terjadi. Tanggapan orang dewasa juga mendorong anak untuk membesar-besarkan apa saja yang mereka katakan karena hal ini memperbesar perhatian. Kelak, membual dan melebih-lebihkan, yang dilakukan dengan tujuan mengesankan orang lain dan sebab itu merupakan* suatu bentuk berbohong, mungkin menjadi kebiasaan. Sebagaimana yang telah dikemukakan dalam bab perkembangan bicara, tidak satu pun di antaranya yang menunjang penerimaan sosial. Tanggapan umum kedua dari orang dewasa terhadap dusta putih adalah menganggapnya sebagai dusta yang sebenarnya dan menganggap anak itu mencoba menipu. Tanggapan ini timbul karena orang dewas

Terdapat beberapa bukti bahwa dusta putih mencapai puncak frekuensinya dan meningkat atidak menyadari bahwa anak kecil secara mental masih kurang matang untuk mampu

membedakan antara apa yang sifatnya imajinatif dan yang memang benar terjadi. Karena orang dewasa merasa bahwa anak yang berdusta akan sulit menyesuaikan diri dalam kehidupan, mereka menghukum anak untuk mencegah perilaku itu menjadi kebiasaan. Bagaimanapun bentuk hukuman yang diberikan, pada anak yang dibuat merasa bersalah dan malu akan berkembang perasaan bersalah secara umum

terhadap setiap bentuk pemikiran imajinatif. Celaan orang dewasa dapat diperkuat oleh reaksi anak yang lebih besar yang juga tidak menyadari bahwa anak kecil sering tidak mampu membedakan pengalaman imajiner dari pengalaman nyata. Reaksi yang tidak positif ini dapat membuat anak merasa bahwa imajinasi itu sendiri salah. Ini akan mengekang setiap kemampuan alami untuk kreatif. Tanggapan orang dewasa yang ketiga dan yang paling sehat terhadap dusta putih anak- anak adalah memahaminya sebaqai sesuatu yang alami di awal masa kanak-kanak namun sumber potensial bagi penolakan sosial. Reaksi ini, jika disertai bimbingan untuk membantu anak menganalisis apa yang mereka katakan untuk menentukan apakah mereka benar-benar mengalaminya atau hanya membayangkannya, akan membantu mereka mengeritik dir : sendiri tanpa menjadi tertekan karena merasa bersalah.
)

Melucu/Humor
Humor mempunyai dua aspek: kemampuan untuk mempersepsikan kelucuan dan kemampuan melucu. Kedua aspek ini dapat menunjang penerimaan sosial, karena ha\ \tu _ mwtaXu meucvplakan kesan bahwa anak
dan sportif .yang akan dianggap lucu oleh orang lain. Humor ini

itu cukup menyenangkan dalam pergaulan

tidak menuntut ciptaan yang sama sekali baru.

Untuk menciptakan sesuatu yang lucu juga dibutuhkan pengetahuan mengenai jenis situasi yang oleh orang lain dipersepsikan sebagai lucu, dan motivasi yang akan menghasilkan lelucon. Sebagaimana yangdikemu- kakan McGhee dan Grodzitsky, jika "anak telah mencapai tingkat penguasaan konseptual yang tinggi dalam bidang tertentu, ia mungkin akan menganggap setiap penggambaran yang kurang tepat sebagai sesuatu yang lucu." Misalnya, apabila ia mengetahui peran yang direstui oleh masyarakat bagi kedua jenis kelamin, ia menganggap setiap penyimpangan dari peran ini sebagai "lucu." Pengetahuan tentang hal-hal yang oleh orang lain dianggap lucu sebagian berasal dari pengamatan hal-hal yang ditertawakan orang dalam suasana kehidupan sehari-hari dan sebagian dari pengamatan reaksi orang terhadap lelucon di media massa. Sebagai contoh, anak kecil melihat bahwa hampir setiap orang tertawa jika seseorang terpeleset dan jatuh karena menginjak kulit pisang, dan bahwa orang akan lebih keras tertawa lagi apabila orang yang terpeleset itu adalah seseorang yang dianggap superior karena usia atau kedudukan. Anak juga menemukan apa saja yang membuat

orang tertawa dari membaca buku komik, dari ceritera orang tuanya atau guru, dan yang mereka lihat di layar film atau televisi. Anak yang ingin diterima secara sosial, terutama bila penerimaan mereka terbatas, mempunyai motivasi kuat untuk belajar membuat lelucon sebagai alat bantu untuk mencapai tujuan. Mereka bersedia menghabiskan waktu dan tenaga untuk menemukan apa saja yang membuat orang tertawa, dan membuat lelucon yang akan menarik perhatian orang lain. Humor mempunyai banyak bentuk, berkisar dari yang sederhana sampai dengan yang rumit dan dari bentuk yang kasar sampai dengan yang halus. Dalam Kotak 12-7 disajikan beberapa hasil bentuk humor yang umum di kalangan anak di Amerika. Daftar itu menunjukkan bahwa humor anak sebagian besar bergantung pada pengamatan mereka mengenai apa saja yang dapat membuat orang lain tertawa. Unsur kreatif datang dari kemampuan memanfaatkan informasi dari pengalaman lalu dan menerapkannya pada situasi baru. Misalnya, anak yang melihat orang tertawa jika melihat badut tersandung karena sepatunya yang kebesaran, akan menirunya dengan berjalan memakai sepatu

ayahnya dan tersandung, dan membuat teman sebayanya tertawa. EVALUASI Anak yang mampu membuat orang lain tertawa atau yang mampu memojokkan orang lain ke posisi yang sulit akan mengembangkan kepercayaan dan keyakinan diri. Sekilas orang mungkin menyimpulkan bahwa melucu merupakan bantuan untuk penyesuaian pribadi. Akan tetapi, orang harus mengkaji lebih dalam, untuk mengetahui apakah bentuk kreativitas ini sering menimbulkan reaksi sosial yang tidak menguntungkan yang akan merugikan penyesuaian pribadi. Walaupun hampir semua jenis lelucon pertama-tama disambut dengan tertawa dan orang yang melucu pada mulanya menerima reaksi sosial yang menyenangkan, reaksi selanjutnya mungkin akan sebaliknya. Sebagai contoh, anak yang dapat membuat teman sekelasnya tertawa dengan membadut atau "melucu," tidak lama kemudian akan menyadari bahwa mereka dianggap sebagai "pengganggu." Demikian juga halnya, reaksi pertama terhadap lelucon yang agak porno, mungkin tampaknya positif, namun bila lelucon itu menimbulkan rasa malu pada mereka yang mendengarnya, maka orang yang melucu tidak akan dihargai. Tiga kondisi sering menimbulkan reaksi sosial yang tidak menguntungkan terhadap upaya melucu. Pertama, setiap lelucon yang menimbulkan kemarahan atau mengganggu hal-hal yang ingin dilakukan orang lain akan ditanggapi dengan penilaian sosial bahwa orang yang melucu itu merupakan pengganggu. Kedua, lelucon yang membuat malu atau merendahkan orang lain, terutama jika orang itu tidak mungkin membalas, dianggap sebagai tindakan yang tidak sportif. Dan ketiga, lelucon yang diulang dengan variasi yang kurang orisinal akan membuat orang lain berpikir bahwa si tukang humor tidak terlalu orisinal atau tidak lucu sama sekali. Pengalaman pribadi penulis dapat contoh dalam hal ini. Ketika penulis berbicara di depan murid kelas tiga, salah murid mengangkat tangan untuk bertanya, menjadi sedang seorang la mulai

dengan berkata, "Dr. Hislock," dan kemudian menambahkan, dengan rasa malu yang bagi penulis jela's dibu- at-buat, "Saya maksudkan Dr. Hurlock." la menghendaki bahwa teman sekelasnya mengira bahwa hal itu merupakan kekhilafan ucapan. Tentu saja perbuatan itu disambut dengan ledakan tawa. Dua kali lagi selama pelajaran yang sama, anak itu membuat kesalahan yang sama dan dua kali ia mencoba bersikap seolah-olah hal itu tidak disengaja dan bahwa ia merasa malu. Pada pengulangan pertama, teman sekelasnya beraksi dengan tertawa separuh hati. Pada pengulangan yang kedua, hampir- hampir tidak ada yang tertawa dan salah satu temannya justru memberi komentar mengejek, "Wah, matikan saja rekamannya. Kami sudah pernah mendengarnya."

Bercerita
Beberapa anak menghibur teman sebayanya atau adiknya dengan bercerita. Apabila pendengar menunjukkan reaksi senang terhadap cerita mereka, anak akan terdorong untuk bercerita dan kelak mencatatnya sebagai tugas untuk pelajaran bahasa atau sebagai kesenangan (hobi). Pada mulanya bercerita sifatnya reproduktif. Anak menceritakan hal-hal yang telah mereka dengar dari radio atau televisi atau yang diceritakan padanya. Kelak cerita mereka akan menjadi kreatif. Anak membuat cerita berdasarkan bahan dari berbagai sumber, terutama dari media massa dan menambah detik-detik orisinal pada cerita itu. Telah dilaporkan bahwa anak yang paling besar kemungkinan menyukai bentuk kreativitas ini adalah mereka yang ketika masih kecil, mempunyai teman imajiner dan mempunyai kebiasaan berbicara dengan teman atau sahabatnya ini seolah-olah mereka teman benar-benar (69). Dilaporkan pula bahwa bercerita juga lebih umum di kalangan anak yang pandai daripada di antara anak yang kurang pandai (3). Ini juga benar dalam hal mempunyai teman imajiner seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.

EVALUASI Terdapat sedikit bukti bahwa bercerita berbahaya bagi penyesuaian pribadi dan sosial dan banyak bukti yang menunjukkan bahwa bercerita turut menyumbang penyesuaian diri. Anak yang dapat menghibur teman seusianya atau anak yang lebih kecil, besar kemungkinannya diterima dengan baik dan bahkan dipilih untuk memainkan peran pemimpin. Di samping itu, anak mendapatkan wawasan sosial dengan mengamati bagaimana reaksi pendengar terhadap ceritanya. Misalnya, jika pendengar bereaksi lebih positif terhadap cerita yang menggambarkan kebaikan dibandingkan dengan cerita yang tentang kekerasan, anak akan mengetahui bagaimana perasaan orang lain terhadap agresivitas dalam berbagai bentuk ekspresinya. Bercerita tidak saja membantu anak melakukan penyesuaian sosial yang baik, bercerita juga membantu mereka melakukan penyesuaian pribadi yang baik. Pengetahuan bahwa mereka dapat menjadi pusat perhatian menimbulkan keyakinan dan kepercayaan diri si anak. Selain itu, hal itu membantu anak meningkatkan wawasan diri dengan mengetahui bagaimana reaksi orang lain terhadapnya dan caranya bercerita. Anak belajar bagaimana berbicara dengan orang lain dan memperoleh keterampilan bercakap-caBercerita merupakan salah satu dari beberapa bidang kreativitas yang jarang menim- bulk an kritik sosial atau ejekan. Betapapun fantastisnya cerita mereka, jauh lebih sedikit kemungkinan bahwa pendengarnya akan mengeritik atau mengejeknya dibandingkan dengan kritik atau ejekan yang dilontarkan atas hasil kreasi lainnya seperti menggambar, membangun, atau humor. Tiadanya kritik dan ejekan memperbesar kesenangan yang diperoleh anak dari bentuk kreativitas ini. Hal ini mendorong anak untuk lebih banyak meluangkan waktu dan pikiran dalam upaya meningkatkan keterampilan di bidang ini. Dari segi negatifnya, satu-satunya pengaruh bercerita yang tidak menguntungkan timbul jika anak menjadi terlalu terbiasa menghias-hias cerita mereka untuk memperoleh perhatian lebih besar sehingga mereka mengembangkan kebiasaan.membesar-besarkan segala sesuatu,

termasuk apa yang dikatakan tentang dirinya. Sebagaimana yang telah dikemukakan sebelumnya, anak yang cenderung membesar-besarkan, terutama bila berbicara tentang dirinya, menghadapi hambatan yang serius bagi penyesuaian sosial yang baik karena lingkungan tidak merasa senang dengan bualannya.

Aspirasi untuk Berprestasi


Apabila dibiarkan sebagaimana adanya, kebanyakan anak hanya memikirkan masa sekarang dan tidak memikirkan masa depan. Akan tetapi, mereka tidak dibiarkan begitu saja. Jauh sebelum mereka masuk sekolah, orang tua, keluarga, dan teman keluarganya bertanya-tanya tentang rencana mereka setelah dewasa. Kebanyakan orang dewasa menganggap anak yang berkata, "Saya ingin menjadi Presiden" atau "Saya ingin menjadi dokter," sebagai ambisius, dan juga pemberani bila berambisi menjadi orang pertama ^ang menjejakkan kaki di Planet Mars. Dalam lingkungan budaya yang memberi kesempatan luas bagi para anggotanya untuk menjadi dan mencapai yang diinginkan, dapat dipahami jika anak pada usia dini akan menghadapi tekanan untuk menciptakan aspirasi bagi masa depannya. Aspirasi dianggap maupun mendorong anak memanfaatkan kesempatan yang disediakan orang tua dan masyarakat. Tekanan sosial untuk merencanakan masa depan diperkuat oleh persaingan antaranggota kelompok teman sebagai dalam permainan atau tugas-tugas sekolah. Membandingkan apa yang dapat dilakukannya dan yang dilakukan teman sebayanya, menambah arti baru dalam aspirasi mereka dan meletakkan tekanan baru pada penciptaan aspirasi yang memberi kepuasan pada dirinya dan dikagumi anggota kelompok sosialnya. Dengan demikian, membentuk aspirasi merupakan bidang kreativitas yang penting di masa kanakkanak. ARTI ASPIRASI Bagi orang aw<Sm, "aspirasi" sama artinya dengan "ambisi." Ini menunjukkan bahwa seseorang bukan saja merencanakan

peningkatan pribadi tetapi juga menerapkan rencana ini dalam kehidupan sebenarnya. Dalam arti yang tepat, sebagaimana yang digunakan para psikolog dan didefinisikan dalam kamus standar, ambisi berarti suatu keinginan untuk memperoleh kehormatan, kekuasaan, atau pencapaian sesuatu. Sebaliknya aspirasi berarti keinginan akan sesuatu yang lebih tinggi, dengan kemajuan sebagai tujuannya. Perbedaan halus di antara kedua istilah ini adalah bahwaggfrasi menekankan atau melebihi staful* pada sedangk3n

Aspirasi masa kanak-kanak kemungkinan tidak realistis karena pengetahuan dan pengalaman pada usia ini terbatas. Akibatnya, anak tidak mampu menilai kemampuan mereka sendiri dengan tepat untuk mengetahui apa yang dapat dan tidak dapat dilakukannya, atau apa saja hambatan lingkungan yang dapat menghalangi mereka melakukan sesuatu yang diinginkan. Ini menghambat mereka mengkaji pemikiran divergennya dengan kenyataan yang ada dan memberi kesempatan bagi daya imajinasi untuk berkelana dengan bebas. Sebagian aspirasi berkaitan dengan sosok dan kepribadian yang didambakan anak dan sebagian lain dengan apa yang ingin dicapainya. Yang pertama, biasanya disebut "konsep diri ideal" yang akan dibahas dalam bagian selanjutnya. Dan yang kedua, disebut "aspirasi untuk berprestasi" yang akan dibahas berikut ini. Sebagai aspirasi diungkapkan dan sebagian lagi tidak. Aspirasi untuk berprestasi mungkin lebih diungkapkan dari konsep diri yang ideal. Anak-anak mengetahui bahwa aspirasi untuk prestasi yang diungkapkan menimbulkan reaksi sosial yang menguntungkan; anak ini mungkin dianggap "ambisius." Sebaliknya, konsep diri ideal yang diungkapkan sering menimbulkan reaksi lingkungan yang tidak positif; anak dianggap sombong atau seperti yang dikatakan teman sebaya, "anak itu besar kepala." PERKEMBANGAN ASPIRASI UNTUK BERPRESTASI Aspirasi untuk berprestasi lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan daripada oleh faktor pribadi. Sebagai penga ruh lingkungan mendorong perkembangan aspirasi langsung dan sebagian lagi mendorong aspirasi tidak langsung; beberapa di antaranya mempertinggi aspirasi positif sedangkan yang lain mempertinggi aspirasi negatif; sebagian memotivasi anak untuk menjadi realistis dan sebagian lagi tidak. Kotak 12-8 menyajikan faktor lingkungan dan pribadi yang paling mempengaruhi pembentukan aspirasi untuk berprestasi. Pada awal masa kanak-

tertentu.

^^^f^l^gfe - keku" asaan, kehormatan, atau prestasi

Apabila aspirasi dan ambisi adalah sinonim dan berarti pencapaian sesuatu yang terhormat, orang akan merasa puas jika prestasi mereka diakui dan dihargai orang lain. Sebagai contoh, anak akan merasa puas bila orang tua pemuji rumah yang dibangunnya dari balok kayu atau yang digambarnya. Sebaliknya, apabila yang dipertimbangkan adalah keinginan untuk memperbaiki atau meningkatkan diri anak belum tentu merasa puas dengan rumah baloknya atau gambarnya hanya karena orang tua memuji mereka. Sebatiknya, mereka hanya akan merasa puas apabila rumah balok atau gambarnya memenuhi standar yang ditetapkannya sendiri. Perbedaan ini penting karena membantu menjelaskan betapa banyak perasaan tidak puas anak dan begitu pula remaja dan orang dewasa - berkaitan dengan prestasi mereka dan, mengapa, sebab itu aspirasi memainkan peran begitu besar dalam penyesuaian pribadi dan sosial.
VA R I A S I A S P I R A S I Aspirasi bukan saja berbeda beda kekuatannya, tetapi yang lebih penting lagi juga berbeda-beda jenisnya. Aspirasi dapat bersifat

positif atau negatif. Yang pertama penekanannya pada keberhasilan atau berpestasi lebih baik dari yang sebelumnya, sedangkan yang kedua penekanannya pada upaya menghindari kegagalan. Aspirasi langsung (immediate aspiration), merupakan tujuan yang ingin dicapai seseorang pada waktu dekat atau tidak terlalu lama sekarang, besok, minggu depan, atau bulan depan sedangkan aspirasi jauh (remote corporation), merupakan tujuan yang ingin dicapai untuk masa mendatang seperti, "kalau saya besar nanti."

kanak sebelum anak cukup besar untuk mengetahui apa kemampuan, minat, dan nilainya, aspirasi terutama diben- tuk oleh lingkungan. Dengan bertambahnya usia dan ketika anak lebih menyadari kemampuan dan minatnya, faktor pribadi lebih berpengaruh, namun banyak aspirasi mereka yang masih timbul dari lingkungan. EVALUASI Dari segi positif, aspirasi untuk berprestasi merupakan penunjang penting bagi penyesuaian pribadi dan sosial. Secara pribadi, aspirasi ini melambungkan ego anak (ego-inflating) untuk berpikir bahwa mereka akan mencapai tujuan yang sangat dihargai kelompok sosial. Aspirasi ini juga memotivasi mereka untuk melakukan semua yang mampu mereka lakukan guna mencapai tujuan

yang telah mereka tentukan sendiri. Di samping itu, hal ini bertindak sebagai pedoman untuk mengarahkan energinya ke saluran yang akan memungkinkan mereka mencapai tujuan mereka. Aspirasi untuk berprestasi membantu pe nyesuaian sosial dengan menimbulkan kesan kepada orang lain bahwa anak itu anak yang serius dan berhati-hati, dan bukan pemimpi yang tidak praktis. Bahkan juga ketika prestasi anak jauh di bawah harapan kelompok, kebanyakan orang menghargai si anak karena usahanya dan menilainya lebih baik daripada jika mereka memberi kesan tidak berorientasi tujuan. Dari segi negatif, aspirasi untuk berorientasi dapat menimbulkan penyesuaian pribad

idan sosial yang buruk jika aspirasi anak terlalu tinggi atau rendah. Anak yang bercita-cita melebihi batas kemampuannya mau tidak mau akan sulit menggapai harapannya sendiri dan harapan orang lain. Akibatnya, mereka akan menganggap dirinya gagal dan ini akan mendorong orang lain untuk menilai mereka sebagai orang yang gagal. Anak dengan aspirasi yang sangat rendah jarang merasa puas dengan prestasinya, terutama jika mereka merasa bahwa mereka seharusnya berprestasi lebih baik. Demikian juga halnya, kelompok sosial tidak mungkin akan menilai mereka secara positif jika terdapat alasan untuk menduga bahwa mereka tidak berusaha sebaik-baiknya dengan kemampuan yang dimiliki. Pengaruh aspirasi yang tidak realistis terhadap kepribadian akan dibahas secara lebih terinci dalam Bab 18.

Konsep Diri yang Ideal


Konsep diri yang ideal adalah aspirasi anak tentang sosok dan kepribadian yang didambakannya dan bukan apa yang ingin dicapainya. Yang terakhir berkenaan dengan aspirasi untuk berprestasi, yang telah dibahas sebelumnya. Konsep diri yang ideal antara lain mencakup wajah yang diinginkan anak - konsep diri mereka secara fisik - dan kemampuan apa saja yang diinginkannya - konsep diri psikologis. Seperti halnya aspirasi untuk berprestasi, orientasi waktu dalam konsep diri yang ideal dapat masa sekarang atau masa yang akan datang. Apabila konsep diri yang ideal berorientasi masa yang akan datang, konsep ini biasanya tidak realistis, karena hanya sedikit anak yang merasa puas dengan keadaan dirinya. Dengan bertambah luasnya lingkup sosial, sehingga mencakup orang di luar rumah, teman sebaya, dan orang dewasa, dan dengan bertambahnya perhatian mereka terhadap media massa, mereka senantiasa membandingbandingkan diri dengan model ideal dan melihat pada diri mereka berbagai kekurangan. Dengan demikian, berkembanglah ketidakpuasan terhadap diri. Anek yang tidak sepenuhnya merasa puas dengan dirinya, pada suatu waktu tertentu kelak, akan menciptakan berbagai aspirasi tentang diri

yang ideal. Anak yang sangat pandai, karena wawasan diri dan sosial