Anda di halaman 1dari 25

BAB I PENDAHULUAN

Sinusitis dianggap salah satu penyebab gangguan kesehatan tersering di dunia Data dari DEPKES RI tahun 2003 menyebutkan bahwa penyakit hidung dan sinus berada pada urutan ke-25 dari 50 pola penyakit peringkat utama atau sekitar 102.817 penderita rawat jalan di rumah sakit. 1 Survei Kesehatan Indera Penglihatan dan Pendengaran 1996 yang diadakan oleh Binkesmas bekerja sama dengan PERHATI dan Bagian THT RSCM mendapatkan data penyakit hidung dari 7 propinsi. Data dari Divisi Rinologi Departemen THT RSCM JanuariAgustus 2005 menyebutkan jumlah pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435 pasien, 69%nya adalah sinusiti.2 Kejadian sinusitis umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sinusitis sering juga disebut dengan rhinosinusitis. Rinosinusitis adalah penyakit inflamasi yang sering ditemukan dan mungkin akan terus meningkat prevalensinya. Rinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan kualitas hidup yang berat, sehingga penting bagi dokter umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala dan metode diagnosis dari penyakit rinosinusitis ini.1 Penyebab utamanya ialah infeksi virus yang kemudian diikuti oleh infeksi bakteri. Secara epidemiologi yang paling sering terkena adalah sinus etmoid dan maksila. Yang berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi akibat tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi yang tak dapat dihindari.1 Tatalaksana dan pengenalan dini terhadap sinusitis ini menjadi penting karena hal diatas. Awalnya diberikan terapi antibiotik dan jika telah begitu hipertrofi, mukosa polipoid dan atau terbentuknya polip atau kista maka dibutuhkan tindakan operasi.1-3

BAB II LAPORAN KASUS

I.

IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis kelamin Alamat Agama Pekerjaan Register : Tn. AS : 23 Tahun : Laki-laki : Rt.13 Tehok : Islam : Pegawai Dinas perhubungan (DLLAJ) : 65-35-30

II.

ANAMNESIS Autoanamnesis, Tgl : 14 Oktober 2011 Keluhan Utama Hidung sering tersumbat disertai pilek sejak 3 tahun yang lalu yang sifatnya hilang timbul. Riwayat Perjalanan Penyakit Pasien datang berobat ke poliklinik THT RSUD Raden Mattaher dengan keluhan Hidung sering tersumbat disertai pilek sejak 3 tahun yang lalu yang sifatnya hilang timbul. Awalnya keluhannya terutama kambuh pada pagi atau malam hari, saat kecapaian dan bila terpapar debu. Bersin-bersin (+). Sejak 5 bulan terakhir pasien sering terbangun dari tidurnya karena merasa sesak napas baik pada posisi tidur terlentang ataupun miring. Hidung tersumbat (+), ingus yang awalnya encer dan bening sekarang menjadi lebih lengket, kental, namun tetap bening. Penciuman hidung kanan dan kiri berkurang. Kadang-kadang terasa ingus mengalir ketenggorokkan, kadang-kadang terasa nyeri disekitar

tulang pipi kanan dan kiri. tenggorokkan terasa kering dan gatal terutama pada saat bangun tidur. Sejak 1 minggu terakhir keluhan ini dirasakan semakin berat dan tak kunjung membaik, pasien juga sering mengeluh rasa panas diulu hatinya. Nafsu makan sama dengan saat sehat. Keluhan lain seperti demam, nyeri kepala, nyeri telinga, sakit gigi, hidung berbau, keluar darah dari hidung, gangguan penglihatan,nyeri menelan, rasa mengganjal ditenggorokkan dan batuk disangkal. 1 hari sebelum ke RS pasien merasa keluhan semakin berat hingga sulit tidur. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat keluhan yang sama (+) saat usia 12 tahun namun hilang dengan pengobatan, Riwayat alergi obat dan makanan (-), Riwayat asma (-), Riwayat sering pilek dan bersin-bersin dipagi hari (+), riwayat radang tenggorokkan sebelumnya (-) Riwayat Penyakit Keluarga Tidak ada anggota keluarga lain yang menderita penyakit yang sama dengan pasien III. STATUS PRESEN Sensorium Pernapasan Suhu : compos mentis : 18 x/ menit : 36,9 C Nadi : 78 x/ menit

KU/KP/KG : Baik

IV. HAL-HAL PENTING HIDUNG


Kanan Cairan Darah Nanah Berbau Tumpat + + Kiri + +

Penciuman

TELINGA Kanan Cairan Darah Nanah Gatal Dikorek Sakit Bengkak Buka Mulut Berdenging Pendengaran + + Kiri + +

TENGGOROKAN Hasil Nyeri menelan Sangkut menelan Rasa mengganjal Gatal dan terasa kering Lendir + -

LARING Hasil Suara serak Sesak napas Batuk -

V.

PEMERIKSAAN FISIK a) Kepala dan Leher Kanan Regio Frontalis Regio Maksilaris Regio Mandibularis Regio Parotis Regio Servikalis b) Telinga Daun Telinga Anotia/mikrotia/makrotia Keloid Perikondritis Kista Fistel Ott hematoma Liang Telinga Atresia Serumen prop Epidermis prop Korpus alineum Jaringan granulasi Exositosis Osteoma Furunkel Membrana Timpani Hiperemis Retraksi Bulging Atropi Kanan Kanan Kanan Kiri Kiri Kiri Dbn Nyeri tekan (+) Dbn Dbn Dbn Kiri Dbn Nyeri tekan (+) Dbn Dbn Dbn

Perforasi Bula Sekret Retro-aurikular Fistel Kista Abses Pre-aurikular Fistel Kista Abses Tuba Eustachii Valsava test Politzer test c) Hidung Rinoskopi Anterior Vestibulum nasi Kavum nasi Selaput lendir Septum nasi Lantai + dasar hidung Konka inferior Meatus nasi inferior Konka media Meatus nasi media Polip Korpus alineum Massa tumor Rinoskopi Posterior Kavum nasi

Kanan Kanan Kanan Tidak dpt dilakukan Tidak dpt dilakukan

Kiri Kiri Kiri Tidak dpt dilakukan Tidak dpt dilakukan

Kanan Dbn Dbn Dbn Dbn Dbn Eutropi Hiperemis (+) Dbn Dbn Secret (-) Kanan Dbn

Kiri Dbn Dbn Dbn Dbn Dbn Hipertropi Hiperemis (+) Dbn Dbn Secket (+) Kiri Dbn

Selaput lendir Koana Septum Nasi Konka superior Meatus nasi media Muara tuba Adenoid Massaa tumor Polip Post nasal drip Nasofaring Transiluminasi Sinus

Dbn Dbn Dbn Dbn Dbn Dbn Dbn (-) (-) (-) Dbn Kanan Hasilnya sulit dinilai

Dbn Dbn Dbn Dbn Sekret (+) Dbn Dbn (-) (-) (-) Dbn Kiri

d) Mulut Hasil Selaput lendir mulut Bibir Lidah Gigi Kelenjar ludah e) Faring Hasil Uvula Palatum mole Palatum durum Plika anterior Tonsil Bentuk normal, terletak ditengah Normal Normal Hiperemis (-) Dekstra : tonsil hipertropi T1, permukaan licin, detritus (-) Sinistra : tonsil hipertropi T1, permukaan licin, detritus(-) Normal Mukosa lembab Normal Karies (-) Normal

Plika posterior Mukosa orofaring

Normal Hiperemis (+), permukaan bergranuler (+)

f) Laring (laringoskopi indirek) Hasil Tidak tampak kelainan

g) Kelenjar Getah Bening Leher Inspeksi Palpasi : pembesaran KGB lnn. Submandibularis dekstra dan sinistra (-) : pembesaran KGB lnn. Submandibularis dekstra dan sinistra (-), nyeri tekan (-)

VI. PEMERIKSAAN AUDIOLOGI Tes Pendengaran Tes rinne Tes weber Tes schwabach Kanan + Tidak ada lateralisasi Sama dg pemeriksa Kiri + Tidak ada lateralisasi Sama dg pemeriksa

Kesimpulan : Pendengaran normal VII. PEMERIKSAAN PENUNJANG Radiologi Foto sinusparanasal (posisi waters) => tampak perselubungan dikedua sinus maksilaris kiri dan kanan dan tampak gambaran mukokel di maksilaris kiri L R

VIII. RESUME Seorang anak laki-laki, 23 tahun, datang berobat dengan keluhan utama hidung sering tersumbat disertai pilek sejak 3 tahun yang lalu yang sifatnya hilang timbul. Keluhannya terutama kambuh pada pagi atau malam hari, saat kecapaian dan bila terpapar debu. Bersin-bersin (+). Sejak 5 bulan terakhir keluhan memberat, hidung tersumbat (+), ingus menjadi lebih lengket dan kental dan penciuman kanan dan kiri berkurang. Kadang-kadang terasa ingus mengalir ketenggorokkan, dan kadang-kadang terasa nyeri disekitar tulang pipi kanan dan kiri. Sejak 1 minggu terakhir pasien mengeluh rasa kering ditenggorokkan dan kadang-kadang terasa gatal terutama pada saat bangun tidur. Riwayat sakit gigi, alergi makanan dan obat, keluarga dengan keluhan yang sama disangkal. Riwayat keluhan yang sama (+) saat usia 12 tahun. Pada pemeriksaan fisik KU: baik, Nadi: 78x/menit, Respirasi : 18 x/menit, Suhu: 36,9C. Status Lokalis Hidung: (rinoskopi anterior) mukosa hidung kanan dan kiri hiperemis dengan sekret (+), konka inferior kiri hipertropi dan hiperemis dengan sekret kental di meatus media, polip (-). Tenggorokan: tampak pembesaran tonsil bilateral T1-T1, permukaan licin, dan detritus (-), Dinding posterior faring hiperemis dan bergranuler. Hasil foto sinus paranasal didapatkan tanda-tanda perselubungan di kedua sinus maksilaris kiri dan kanan, dan tampak adanya mukokel di sinus maksilaris kiri. IX. DIAGNOSIS BANDING

1. Rhinosinusitis Kronik dengan Hipertropi Tonsil dan Faringitis Kronik 2. Tumor Sinus Maksilaris X. DIAGNOSIS KERJA Rhinosinusitis Kronik dengan Hipertropi Tonsil dan Faringitis Kronik XI. PENATALAKSANAAN Medikamentosa (untuk 5 hari): Amoxicillin clavulanat 3 x 1 tab 500 mg Efedrin HCL 1% (semprot hidung) 2x sehari Metilprednisolon 2x1 tab 4mg Bromheksin HCl 3x1 tab 8mg Lansoprazol 1x1 tab 30mg pagi sebelum makan Obat kumur benzydamine HCL 15 ml dikumur selama 1 menit, 3 kali sehari. Edukasi: - Menjelaskan kepada pasien tentang penyakit dan cara penatalaksanaan penyakitnya. Kontrol ulang pada hari ke-5 - Anjurkan banyak minum air putih & istirahat yang cukup XII. PROGNOSIS Quo ad vitam : bonam Quo ad functionam Quo ad sanationam : dubia ad bonam : bonam

XIII. PEMERIKSAAN ANJURAN Rino Endoskopi dan CT-Scan (bila perlu) Kultur kuman dan Tes Sensitivitas kuman Sarankan operasi Caldwell luc untuk mengevakuasi mukokelnya. BAB III TEORI DAN PEMBAHASAN

10

3.1. DEFINISI Sinusitis adalah peradangan mukosa sinus paranasal yang dapat berupa sinusitis maksilaris, sinusitis etmoid, sinusitis frontal, dan sinusitis sfenoid. Bila yang terkena lebih dari satu sinus disebut multisinusitis, dan bila semua sinus terkena disebut pansinusitis. Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rhinosinusitis.1-3 Tonsilo faringitis adalah peradangan yang berulang pada tonsil dan faring yang memiliki faktor predisposisi antara lain rangsangan kronis rokok, makanan tertentu, higiene mulut yang buruk, pasien yang biasa bernapas melalui mulut karena hidungnya tersumbat, pengaruh cuaca dan pengobatan tonsilofaringitis sebelumnya yang tidak adekuat.1 3.2. ANATOMI Ada delapan sinus paranasal, empat buah pada masing-masing sisi hidung. Anatominya dapat dijelaskan sebagai berikut: sinus frontal kanan dan kiri, sinus ethmoid kanan dan kiri (anterior dan posterior), sinus maksila kanan dan kiri (antrium highmore) dan sinus sfenoid kanan dan kiri. Semua sinus ini dilapisi oleh mukosa yang merupakan lanjutan mukosa hidung, berisi udara dan semua bermuara di rongga hidung melalui ostium masing-masing. Pada meatus medius yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka inferior rongga hidung terdapat suatu celah sempit yaitu hiatus semilunaris yakni muara dari sinus maksila, sinus frontalis dan ethmoid anterior. Pada meatus superior yang merupakan ruang diantara konka superior dan konka media terdapat muara sinus ethmoid posterior dan sinus sfenoid.1,4 Sinus maksila merupakan sinus yang sering terinfeksi oleh karena (1) merupakan sinus paranasal yang terbesar, (2) letak ostiumnya lebih tinggi dari dasar, sehingga aliran sekret (drenase) dari sinus maksila hanya tergantung dari gerakan silia, (3) dasar sinus maksila adalah dasar akar gigi (prosesus alveolaris), sehingga infeksi gigi dapat menyebabkan sinusitis maksila, (4) ostium sinus maksila terletak di meatus medius di sekitar hiatus semilunaris yang sempit sehingga mudah tersumbat.5

11

Keterangan : Gambaran skematik sinus paranasal. F - Frontal sinuses, E - Ethmoid sinuses, M - Maxillary sinuses, O - Maxillary sinus ostium, SS - Sphenoid sinus, ST- Superior turbinate, T - Middle turbinate, ITInferior turbinate, SM - Superior meatus, MM- Middle meatus, SR Sphenoethmoidal recess, S - Septum, ET - Eustachian tube orifice, A Adenoids. 3

Fungsi sinus paranasal adalah : 1,4 1. Membentuk pertumbuhan wajah karena di dalam sinus terdapat rongga udara sehingga bisa untuk perluasan. Jika tidak terdapat sinus maka pertumbuhan tulang akan terdesak. 2. Sebagai pengatur udara (air conditioning). 3. Peringan cranium. 4. Resonansi suara. 5. Membantu produksi mukus. Faring adalah suatu kantong fibromuskuler yang bentuknya seperti corong, yang besar di bagian atas dan sempit di bagian bawah. Kantong ini mulai dari dasar tengkorak terus menyambung ke esophagus setinggi vertebra servikalis ke6. Ke atas, faring berhubungan dengan rongga hidung melalui koana, ke depan berhubungan dengan rongga mulut melalui ismus orofaring, sedangkan dengan laring di bawah berhubungan melalui aditus laring dan ke bawah berhubungan dengan esophagus. Panjang dinding posterior faring pada orang dewasa kurang lebih 14 cm, bagian ini merupakan bagian dinding faring yang terpanjang. Atas dasar klinis, berdasarkan letaknya faring dibagi menjadi 3 bagian utama yaitu nasofaring, orofaring, dan laringofaring, atau hipofaring.5,6

12

Gambar 1. Anatomi Faring Sumber : http://infirmierzen.free.fr/cariboost_files/pharynxdk4.gif

3.3. ETIOLOGI Terjadinya sinusitis dapat merupakan perluasan infeksi dari hidung (rinogen), gigi dan gusi (dentogen), faring, tonsil serta penyebaran hematogen walaupun jarang. Sinusitis juga dapat terjadi akibat trauma langsung, barotrauma, berenang atau menyelam.1,2 Faktor predisposisi yang mempermudah terjadinya sinusitis adalah kelainan anatomi hidung, hipertrofi konka, polip hidung, dan rinitis alergi. Rinosinusitis ini sering bermula dari infeksi virus pada selesma, yang kemudian karena keadaan tertentu berkembang menjadi infeksi bakterial dengan penyebab bakteri patogen yang terdapat di saluran napas bagian atas. Penyebab lain adalah infeksi jamur, infeksi gigi, dan yang lebih jarang lagi fraktur dan tumor.2 Pada kasus ini yang diduga menjadi faktor predisposisi sinusitisnya adalah rhinitis alergi. Hal ini diperkuat dari anamnesa yaitu pasien sering pilek dan bersin-bersin dipagi hari, saat cuaca dingin, ataupun saat terpapar debu. Dan dari pemeriksaan fisik juga didapatkan tanda-tanda peradangan pada mukosa hidung, hipertropi konkainferior sinistra dan sekret yang kental tapi nonpurulen. Sedangkan diagnose hipertropi tosil dan faringitis kronik terjadi akibat kebiasaan bernapas melalui mulut. Kebiasaan ini terjadi akibat hidung pasien yang sering tersumbat sehingga kadang-kadang pasien ini merasa sesak napas, untuk mencukupi kebutuhan oksigennya maka pasien bernapas melalui mulut.

13

Kebiasaan bernapas melalui mulut akan membuat mukosa faring dan rongga mulut menjadi kering dan lama kelamaan akan terjadi peradangan didaerah faring. Hal ini memudahkan terjadinya infeksi, dan sebagai mekanisme pertahanan tubuh yang pertama, tonsil bekerja aktif untuk menghasilkan imunoglubulin untuk melawan infeksi yang terjadi, akibatnya tosil akan tampak membesar.3 3.4. KLASIFIKASI SINUSITIS Secara klinis sinusitis dibagia atas: 6 1. Sinusitis akut : gejala berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu 2. Sinusitis subakut : gejala berlangsung lebih dari 4 minggu sampai 3 bulan 3. Sinusitis Kronis : gejala berlangsung lebih dari 3 bulan Sedangkan berdasarkan penyebabnya sinusitis: 6 a. Rhinogenik (penyebab kelainan atau masalah di hidung), Segala sesuatu yang menyebabkan sumbatan pada hidung dapat menyebabkan sinusitis b. Dentogenik/Odontogenik (penyebabnya kelainan gigi), yang sering menyebabkan sinusitis infeksi pada gigi geraham atas (pre molar dan molar)

3.5. PATOFISIOLOGI Kesehatan sinus dipengaruhi oleh patensi ostium-ostium sinus dan kelancaran klirens dari mukosiliar didalam komplek osteo meatal (KOM). Disamping itu mukus juga mengandung substansi antimikrobial dan zat-zat yang berfungsi sebagai pertahanan terhadap kuman yang masuk bersama udara pernafasan.1-3 Bila terinfeksi organ yang membentuk KOM mengalami oedem, sehingga mukosa yang berhadapan akan saling bertemu. Hal ini menyebabkan silia tidak dapat bergerak dan juga menyebabkan tersumbatnya ostium, sehingga akan menimbulkan tekanan negatif didalam rongga sinus yang menyebabkan terjadinya transudasi atau penghambatan drainase sinus dan gangguan ventilasi dalam sinus.

14

Efek awal yang ditimbulkan adalah keluarnya cairan serous yang dianggap sebagai sinusitis non bakterial yang dapat sembuh tanpa pengobatan. Bila tidak sembuh maka sekret yang tertumpuk dalam sinus ini akan menjadi media yang poten untuk tumbuh dan multiplikasi bakteri, dan sekret akan berubah menjadi purulen yang disebut sinusitis akut bakterialis yang membutuhkan terapi antibiotik. Jika terapi inadekuat maka keadaan ini bisa berlanjut, akan terjadi hipoksia dan bakteri anaerob akan semakin berkembang. Keadaan ini menyebabkan perubahan kronik dari mukosa yaitu hipertrofi, polipoid atau pembentukan polip dan kista.1

3.6. DIAGNOSIS 4 Penegakan diagnosis sinusitis secara umum: 1. Kriteria Mayor : a. Nyeri di wajah b. Sekret nasal yang purulen c. Drenase faring yang purulen d. Purulent Post Nasaldrip e. Batuk f. Foto rontgen (Watersradiograph atau air fluid level) : Penebalan lebih 50% dari antrum g. Coronal CT Scan : Penebalan atau opaksifikasi dari mukosa sinus

15

2. Kriteria Minor : a. Sakit kepala b. Sakit gigi c. Nyeri telinga d. Gangguan tenggorok e. Nafas berbau f. Bersin-bersin bertambah sering g. Demam h. Tes sitologi nasal (smear) : neutrofil dan bakteri i. Ultrasound Kemungkinan terjadinya sinusitis jika : Gejala dan tanda : 2 mayor atau 1 mayor dan 2 kriteria minor Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan pembantu yang penting adalah poto polos atau CT scan. Foto polos posisi waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-sinus besar seperti sinus maksila dan frontal. Kelainan akan terlihat perselubungan, batas udara cairan (air fluid level) atau penebalan mukosa. CT scan sinus merupakan gold standar diagnosis sinusitis karena mampu menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus secara keseluruhan dan perluasannya,. Namun karena mahal hanya dikerjakan sebagai penunjang diagnosis sinusitis kronik yang tidak membaik dengan pengobatan atau pra operasi sebagai panduan operator saat melakukan operasi sinus. 1 Sedangkan untuk menegakkan diagnosis sinusitis menurut klasifikasinya adalah sebagai berikut: 7

SINUSITIS AKUT A. Gejala Subyektif

16

Dari anamnesis biasanya didahului oleh infeksi saluran pernafasan atas (terutama pada anak kecil), berupa pilek dan batuk yang lama, lebih dari 7 hari. Gejala subyektif terbagi atas gejala sistemik yaitu demam dan rasa lesu, serta gejala lokal yaitu hidung tersumbat, ingus kental yang kadang berbau dan mengalir ke nasofaring (post nasal drip), halitosis, sakit kepala yang lebih berat pada pagi hari, nyeri di daerah sinus yang terkena, serta kadang nyeri alih ke tempat lain.7 B. Gejala Obyektif Jika sinus yang berbatasan dengan kulit (frontal, maksila dan ethmoid anterior) terkena secara akut dapat terjadi pembengkakan dan edema kulit yang ringan akibat periostitis. Palpasi dengan jari mendapati sensasi seperti ada penebalan ringan atau seperti meraba beludru. Pembengkakan pada sinus maksila terlihat di pipi dan kelopak mata bawah, pada sinusitis frontal terlihat di dahi dan kelopak mata atas, pada sinusitis ethmoid jarang timbul pembengkakan, kecuali bila ada komplikasi. Pada rinoskopi anterior tampak mukosa konka hiperemis dan edema. Pada sinusitis maksila, sinusitis frontal dan sinusitis ethmoid anterior tampak mukopus atau nanah di meatus medius, sedangkan pada sinusitis ethmoid posterior dan sinusitis sfenoid nanah tampak keluar dari meatus superior. Pada sinusitis akut tidak ditemukan polip,tumor maupun komplikasi sinusitis. Pada rinoskopi posterior tampak mukopus di nasofaring (post nasal drip). Pada posisional test yakni pasien mengambil posisi sujud selama kurang lebih 5 menit dan provokasi test yakni suction dimasukkan pada hidung, pemeriksa memencet hidung pasien kemudian pasien disuruh menelan ludah dan menutup mulut dengan rapat, jika positif sinusitis maksilaris maka akan keluar pus dari hidung. Pada pemeriksaan transiluminasi, sinus yang sakit akan menjadi suram atau gelap. Pemeriksaan radiologik yang dibuat ialah posisi waters, PA dan lateral. Akan tampak perselubungan atau penebalan mukosa atau batas cairan udara ( air fluid level) pada sinus yang sakit. Pemeriksaan mikrobiologik sebaiknya diambil sekret dari meatus medius atau meatus superior. Mungkin ditemukan bermacam-macam bakteri yang merupakan flora normal di hidung atau kuman patogen, seperti pneumococcus,

17

streptococcus, staphylococcus dan haemophylus influensa. Selain itu mungkin juga ditemukan virus atau jamur. 1,5 SINUSITIS SUBAKUT Gejala klinisnya sama dengan sinusitis akut hanya tanda-tanda radang akutnya (demam, sakit kepala hebat, nyeri tekan) sudah reda. Pada rinoskopi anterior tampak sekret di meatus medius atau superior. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring. Pada pemeriksaan transiluminasi tampak sinus yang sakit, suram atau gelap.1,5,8 SINUSITIS KRONIS Sinusitis kronis berbeda dengan sinusitis akut dalam berbagai aspek, umumnya sukar disembuhkan dengan pengobatan medikamentosa saja. Harus dicari faktor penyebab dan faktor predisposisinya. Polusi bahan kimia menyebabkan silia rusak, sehingga terjadi perubahan mukosa hidung. Perubahan tersebut juga dapat disebabkan oleh alergi dan defisiensi imunologik, sehingga mempermudah terjadinya infeksi, dan infeksi menjadi kronis apabila pengobatan sinusitis akut tidak sempurna.1,5 A. Gejala Subjektif Bervariasi dari ringan sampai berat, terdiri dari : a. Gejala hidung dan nasofaring, berupa sekret pada hidung dan sekret pasca nasal (post nasal drip) yang seringkali mukopurulen dan hidung biasanya sedikit tersumbat. b. Gejala laring dan faring yaitu rasa tidak nyaman dan gatal di tenggorokan. c. Gejala telinga berupa pendengaran terganggu oleh karena terjadi sumbatan tuba eustachius. d. Ada nyeri atau sakit kepala. e. Gejala mata, karena penjalaran infeksi melalui duktus nasolakrimalis. f. Gejala saluran nafas berupa batuk dan komplikasi di paru berupa bronkhitis atau bronkhiektasis atau asma bronkhial. g. Gejala di saluran cerna mukopus tertelan sehingga terjadi gastroenteritis.1,5,8

18

B. Gejala Objektif Temuan pemeriksaan klinis tidak seberat sinusitis akut dan tidak terdapat pembengkakan pada wajah. Pada rinoskopi anterior dapat ditemukan sekret kental, purulen dari meatus medius atau meatus superior, dapat juga ditemukan polip, tumor atau komplikasi sinusitis. Pada rinoskopi posterior tampak sekret purulen di nasofaring atau turun ke tenggorok.1 Dari pemeriksaan endoskopi fungsional dan CT Scan dapat ditemukan etmoiditis kronis yang hampir selalu menyertai sinusitis frontalis atau maksilaris. Etmoiditis kronis ini dapat menyertai poliposis hidung kronis. Hal-hal yang mungkin ditemukan pada pemeriksaan CT-Scan : Kista retensi yang luas; polip; massa pada cavum nasi yang menyumbat sinus; mukokel berupa penekanan, atrofi dan erosi tulang yang berangsur-angsur oleh massa jaringan lunak mukokel yang membesar dan gambaran pada CT Scan sebagai perluasan yang berdensitas rendah dan kadang-kadang pengapuran perifer; tumor. Foto sinus paranasal menunjukkan gambaran berupa penebalan mukosa, opasifikasi sinus ( berkurangnya pneumatisasi), gambaran air fluid level yang khas akibat akumulasi pus yang dapat dilihat pada foto waters.1,4,8 Pemeriksaan mikrobiologi : merupakan infeksi campuran oleh bermacammacam mikroba, seperti kuman aerob S. aureus, S. viridans, H. influenzae dan kuman anaerob Pepto streptococcus dan fuso bakterium.1,5 Pada kasus Tn.AS ini didapatkan gejala mayor hidung tersumbat, sekret yang kental dengan post nasal drip, nyeri disekitar tulang pipi kanan dan kiri, hiposmia. Dan gejala minor yang ditemukan berupa gangguan pada tenggorokkan dan bersin-bersin. Hal ini sudah memenuhi kriteria untuk menegakkan diagnosis sinusitis melalui anamnesis, dan karena terdapat pula tanda-tanda rhinitis pada mukosa hidung pasien ini maka diagnosanya menjadi rhinosinusitis. Diagnose rhinosinusitis ini juga diperkuat dengan hasil foto sinus paranasal yang menunjakkan adanya perselubungan dikedua sinus maksilaris kiri dan kanan, serta adanya gambaran mukokel di sinus maksilaris kiri yang menunjukkan suatu proses yang kronik, sehingga diagnosisnya adalah rhinosinusitis kronik dengan hipertropi tosil dan faringitis kronik.

19

2.7. TERAPI SINUSITIS AKUT Kuman penyebab sinusitis akut yang tersering adalah Streptococcus pneumoniae dan Haemophilus influenzae. Diberikan terapi medikamentosa berupa antibiotik empirik (2x24 jam). Antibiotik yang diberikan lini I yakni golongan penisilin atau cotrimoxazol dan terapi tambahan yakni obat dekongestan oral + topikal, mukolitik untuk memperlancar drenase dan analgetik untuk menghilangkan rasa nyeri. Pada pasien atopi, diberikan antihistamin atau kortikosteroid topikal. Jika ada perbaikan maka pemberian antibiotik diteruskan sampai mencukupi 10-14 hari. Jika tidak ada perbaikan maka diberikan terapi antibiotik lini II selama 7 hari yakni amoksisilin klavulanat/ampisilin sulbaktam, cephalosporin generasi II, makrolid dan terapi tambahan. Jika ada perbaikan antibiotic diteruskan sampai mencukupi 10-14 hari.1 Jika tidak ada perbaikan maka dilakukan rontgen-polos atau CT Scan dan atau naso-endoskopi.Bila dari pemeriksaan tersebut ditemukan kelainan maka dilakukan terapi sinusitis kronik. Tidak ada kelainan maka dilakukan evaluasi diagnosis yakni evaluasi komprehensif alergi dan kultur dari fungsi sinus.1 Terapi pembedahan pada sinusitis akut jarang diperlukan, kecuali bila telah terjadi komplikasi ke orbita atau intrakranial, atau bila ada nyeri yang hebat karena ada sekret tertahan oleh sumbatan.1 SINUSITIS SUBAKUT Terapinya mula-mula diberikan medikamentosa, bila perlu dibantu dengan tindakan, yaitu diatermi atau pencucian sinus. Obat-obat yang diberikan berupa antibiotika berspektrum luas atau yang sesuai dengan resistensi kuman selama 10 14 hari. Juga diberikan obat-obat simptomatis berupa dekongestan. Selain itu dapat pula diberikan analgetika, anti histamin dan mukolitik. Tindakan dapat berupa diatermi dengan sinar gelombang pendek (Ultra Short Wave Diathermy) sebanyak 5 6 kali pada daerah yang sakit untuk memperbaiki vaskularisasi sinus. Kalau belum membaik, maka dilakukan pencucian sinus. Pada sinusitis maksilaris dapat dilakukan pungsi irigasi. Pada

20

sinusitis ethmoid, frontal atau sphenoid yang letak muaranya dibawah, dapat dilakukan tindakan pencucian sinus cara Proetz.5 SINUSITIS KRONIS Jika ditemukan faktor predisposisinya, maka dilakukan tata laksana yang sesuai dan diberi terapi tambahan. Jika ada perbaikan maka pemberian antibiotik mencukupi 10-14 hari. Jika faktor predisposisi tidak ditemukan maka terapi sesuai pada episode akut lini II + terapi tambahan. Sambil menunggu ada atau tidaknya perbaikan, diberikan antibiotik alternative 7 hari atau buat kultur. Jika ada perbaikan teruskan antibiotik mencukupi 10-14 hari, jika tidak ada perbaikan evaluasi kembali dengan pemeriksaan naso-endoskopi, sinuskopi (jika irigasi 5 x tidak membaik). Jika ada obstruksi kompleks osteomeatal maka dilakukan tindakan bedah yaitu BSEF atau bedah konvensional. Jika tidak ada obstruksi maka evaluasi diagnosis. Diatermi gelombang pendek di daerah sinus yang sakit. Pada sinusitis maksila dilakukan pungsi dan irigasi sinus, sedang sinusitis ethmoid, frontal atau sfenoid dilakukan tindakan pencucian Proetz.5 Pembedahan PembedahanRadikal: a. Sinus maksila dengan operasi Cadhwell-luc. b. Sinus ethmoid dengan ethmoidektomi. c. Sinus frontal dan sfenoid dengan operasi Killian. Pembedahan Non Radikal : bedah Sinus Endoskopik Fungsional (BSEF). Prinsipnya dengan membuka dan membersihkan daerah kompleks ostiomeatal.1,5 Pada kasus ini diberikan terapi antibiotik sistemik (amoxicillin-klavulanat 3x500 mg) selama 14 hari, sebaiknya sambil dilakukan kultur kuman untuk dan terapi simptomatik berupa dekongestan dalam bentuk semprot hidung, kortikosteroid (metilprednisolon) untuk mengurangi efek edema mukosa akibat proses inflamasi. Bromheksin HCL diberi sebagai mukolitik untuk memperlancar drainase. Serta diberikan pula lansoprazol 30 mg satu kali sehari sebelum makan untuk mengobati keluhan rasa panas di ulu hati pasien yang kemungkinan terjadi

21

akibat refluks esophagus dan mencegah ulkus lambung. Pemberian obat kumur benzydamine HCL untuk menjaga kehigienitasan rongga mulut dan orofaring.

3.8 KOMPLIKASI CT-Scan penting dilakukan dalam menjelaskan derajat penyakit sinus dan derajat infeksi di luar sinus, pada orbita, jaringan lunak dan kranium. Pemeriksaan ini harus rutin dilakukan pada sinusitis refrakter, kronis atau berkomplikasi. 1. Komplikasi orbita Kelainan orbita, disebabkan oleh sinus paranasal yang berdekatan dengan mata (orbita). Yang paling sering ialah sinusitis etmoid, kemudian sinusitis frontal dan maksila. Penyebaran infeksi terjadi melalui tromboflebitis dan perkontinuitatum. Kelainan yang dapat timbul ialah edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiosteal, abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi trombosis sinus kavernosus.1,9 2. Kelainan intrakranial Kelainan intrakranial dapat berupa meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses otak dan tombosis sinus kavernosus. Terapi komplikasi intra kranial ini adalah antibiotik yang intensif, drainase secara bedah pada ruangan yang mengalami abses dan pencegahan penyebaran infeksi.1,9 3. Osteomielitis dan abses periosteal Osteomielitis dan abses periosteal, paling sering timbul akibat sinusitis frontal dan biasanya ditemukan pada anak-anak. Pada osteomielitis sinus maksila dapat timbul fistula oroantral atau fistula pada pipi. Gejala klinisnya berupa nyeri tekan sinus setempat. Gejala sistemik berupa malaise, demam dan menggigil.1,5,9 4. Kelainan paru Kelainan paru seperti bronkitis kronik dan bronkiektasis. Adanya kelainan sinus paranasal disertai dengan kelainan paru ini disebut sinobronkitis. Selain itu dapat juga menyebabkan kambuhnya asma bronkial yang sukar dihilangkan sebelum sinusitisnya disembuhkan.1,9

22

5. Mukokel Mukokel adalah suatu kista yang mengandung mukus yang timbul dalam sinus, kista ini paling sering ditemukan pada sinus maksilaris, sering disebut sebagai kista retensi mukus dan biasanya tidak berbahaya. Dalam sinus frontalis, ethmoidalis dan sfenoidalis, kista ini dapat membesar dan melalui atrofi tekanan mengikis struktur sekitarnya. Kista ini dapat bermanifestasi sebagai pembengkakan pada dahi atau fenestra nasalis dan dapat menggeser mata ke lateral. Dalam sinus sfenoidalis, kista dapat menimbulkan diplopia dan gangguan penglihatan dengan menekan saraf didekatnya. Piokel adalah mukokel terinfeksi, gejala piokel hampir sama dengan mukokel meskipun lebih akut dan lebih berat. Prinsip terapi adalah eksplorasi sinus secara bedah untuk mengangkat semua mukosa yang terinfeksi dan memastikan drainase yang baik atau obliterasi sinus.5 Pada pasien ini diduga sudah terjadi komplikasi berupa mukokel di sinus maksilaris kirinya yang tampak pada foto sinus paranasal (waters potition). Untuk lebih jelasnya dianjurkan pemeriksaan CT-Scan sekaligus untuk membedakannya dengan tumor hidung dan sinus paranasal. Dan juga disarankan untuk operasi maksilarisnya. Caldwell luc untuk mengevakuasi mukokel dari sinus

BAB IV KESIMPULAN

23

Telah dilaporkan sebuah kasus Rhinosinusitis kronik dengan Hipertropi tonsil dan Faringitis kronik pada pasien laki-laki usia 23 tahun. Sinusitis adalah peradangan mukosa sinus paranasal yang umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rhinosinusitis. Penyebab lain adalah kelainan anatomi hidung, hipertrofi konka, polip hidung, infeksi jamur, infeksi gigi, dan yang lebih jarang lagi fraktur dan tumor. Tonsilofaringitis merupakan peradangan yang berulang pada tonsil dan faring yang memiliki faktor predisposisi antara lain rangsangan kronis rokok, makanan tertentu, higiene mulut yang buruk, pasien yang biasa bernapas melalui mulut karena hidungnya tersumbat, pengaruh cuaca dan pengobatan tonsilofaringitis sebelumnya yang tidak adekuat.1,2,9 Klasifikasi sinusitis terdiri dari sinusitis akut bila gejala berlangsung beberapa hari sampai 4 minggu, sinusitis subakut bila gejala berlangsung lebih dari 4 minggu sampai 3 bulan, dan sinusitis kronis bila gejala berlangsung lebih dari 3 bulan.6 Diagnosa ditegakkan berdasarkan criteria mayor dan criteria minor serta ditunjang dengan pemeriksaan foto sinus paranasal, CT-Scan, pemeriksaan laboratorium dan mikrobiologi. Penatalaksanaan kasus sinusitis tergantung stadium akur, subakut, atau kronik yang terdiri dari pengiobatan dengan antibiotik yang adekuat dan pengobatan simptomatik serta pembedahan.4

DAFTAR PUSTAKA

24

1. 2. 3. 4. 5.

Mangunkusumo E, Soetjipto D. Sinusitis. Dalam buku ajar ilmu kesehatan telinga hidung tenggorok kepala dan leher. FKUI. Jakarta 2007. Hal 150-3 PERHATI. Fungsional endoscopic sinus surgery. HTA Indonesia. 2006. Hal 1-6 Ghorayeb B. Sinusitis. Dalam Otolaryngology Houston. Diakses dari www.ghorayeb.com/AnatomiSinuses.html Pletcher SD, Golderg AN. 2003. The Diagnosis and Treatment of Sinusitis. In advanced Studies in Medicine. Vol 3 no.9. PP. 495-505 Endang Mangunkusumo, Nusjirwan Rifki, Sinusitis, dalam Eviati, nurbaiti, editor, Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher, Balai Penerbit FK UI, Jakarta, 2002, 121 125

6. 7. 8.

Wikipedia. Sinusitis. Diakses dari www.wikipedia.org/wiki/sinusitis Anonim, Sinusitis, dalam ; Arif et all, editor. Kapita Selekta Kedokteran, Ed. 3, Penerbit Media Ausculapius FK UI, Jakarta 2001, 102 106 Damayanti dan Endang. Sinus Paranasal. Dalam : Efiaty, Nurbaiti, editor. Buku Ajar Ilmu Kedokteran THT Kepala dan Leher, ed. 5, Balai Penerbit FK UI, Jakarta 2002, 115 119.

9.

Adams GL, Boies LR, dan Higler PA. Buku ajar penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta: EGC. 1997; 240-59.

25