Anda di halaman 1dari 34

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2013 RABU, 19 JUNI 2013

SYOK DAN PERDARAHAN

Oleh: REZA ADITYAWAN PRAKOSO (201210401011010)

Pembimbing: Dr. dr. KOERNIA SWA OETOMO, Sp.B., FINACS, (K) TRAUMA, FIBC.
1

PENDAHULUAN
Syok adalah sindrom gangguan perfusi dan oksigenasi sel secara menyeluruh sehingga kebutuhan metabolisme jaringan tidak terpenuhi. Akibatnya, terjadi gangguan fungsi sel atau jaringan atau organ, berupa gangguan kesadaran, fungsi pernapasan, system pencernaan, perkemihan, serta system sirkulasi itu sendiri. (de Jong, 2010).
2

PENDAHULUAN Lanjutan,
Sebagai respon terhadap menurunnya pasokan oksigen, metabolisme energi sel akan berubah menjadi metabolisme anaerobik. Keadaan ini hanya dapat ditoleransi tubuh untuk sementara waktu, dan jika berlanjut, timbul kerusakan pada jaringan organ vital yang dapat menyebabkan kematian. Syok bukanlah suatu penyakit dan tidak selalu disertai kegagalan perfusi jaringan. Syok dapat terjadi setiap waktu pada siapapun. (de Jong, 2010).
3

DEFINISI
Syok adalah kegagalan sirkulasi umum yang progresif, bersifat akut atau subakut, disertai oleh gangguan mikrosirkulasi, dan kurangnya perfusi organ vital.

(Silbernagl, Stefan, 2012).

KLASIFIKASI SYOK
Syok Hipovolemik Syok Obstruktif

Syok Kardiogenik
Syok Distributif

(de Jong, 2010).

SYOK

Hipodinamik

Hiperdinamik

Syok Hipovolemik

Syok Distributif

Syok Kardiogenik

Syok Obstruktif
(de Jong, 2010).

PATOFISIOLOGI

(Armstrong, D.J., 2004)

Syok Hipovolemik

ETIOLOGI
Syok hipovolemik disebabkan oleh hilangnya cairan intravaskular yang biasanya darah utuh atau plasma. Kehilangan seluruh darah :
luka terbuka kehilangan darah mungkin tersembunyi di ruang perut atau dada. dalam jaringan retroperitoneal atau dalam jaringan sekitarnya patah tulang. (Worthley, 2007).
9

ETIOLOGI Lanjutan,
Kehilangan plasma :
penurunan volume intravaskular dapat terjadi dengan kondisi apapun yang menyebabkan hilangnya cairan ekstrasel yang berlebihan dengan atau tanpa hilangnya plasma protein. Misalnya, pankreatitis, peritonitis, luka bakar, dan anafilaksis cenderung memiliki kehilangan protein plasma yang tinggi, sedangkan, muntah, diare, fistula , nefropati dan terapi diuretik biasanya berhubungan dengan kadar protein plasma yang rendah. (Worthley, 2007).
10

SYOK Hipovolemik

Hemoragik

Non-Hemoragik
akibat hilangnya cairan tubuh total dan keluarnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler atau interstisial
luka bakar luas, muntah hebat atau diare, obstruksi ileus, diabetes atau penggunaan diuretic kuat, sepsis berat, pankreatitis akut, atau peritonitis purulenta difus

Terlihat
-

Tidak Terlihat
tukak duodenum cedera limpa KET patah tulang pelvis

Luka hematemesis pada tukak lambung

(de Jong, 2010).

11

Syok Obstruktif

12

ETIOLOGI
Syok obstuktif terjadi akibat obstruksi mekanis aliran darah di luar jantung, paling sering akibat tamponade jantung (de Jong, 2010). Syok obstruktif menggambarkan obstruksi kardiovaskular dan ditandai dengan gangguan pengisian diastolik atau afterload yang berlebihan (Morgan, 2012).

13

ETIOLOGI Lanjutan,
Kehilangan plasma :
penurunan volume intravaskular dapat terjadi dengan kondisi apapun yang menyebabkan hilangnya cairan ekstrasel yang berlebihan dengan atau tanpa hilangnya plasma protein. Misalnya, pankreatitis, peritonitis, luka bakar, dan anafilaksis cenderung memiliki kehilangan protein plasma yang tinggi, sedangkan, muntah, diare, fistula , nefropati dan terapi diuretik biasanya berhubungan dengan kadar protein plasma yang rendah. (Worthley, 2007).
14

Tamponade Jantung
Perfusi sistemik menurun gangguan pengisian ventrikel perubahan volume aliran balik vena

Berlangsung lama

Gangguan pada curah jantung

Gangguan perfusi sistemik

Kematian sel

(de Jong, 2010).

15

Syok Kardiogenik

16

ETIOLOGI
Penyebab primer syok kardiogenik adalah kegagalan fungsi jantung sebagai pompa sehingga curah jantung menurun 80% Syok kardiogenik disebabkan oleh gangguan fungsi ventrikel kiri akibat infark miokard dengan ST elevasi Mortalitas akibat syok kardiogenik adalah sekitar 50% (de Jong, 2010).
17

Lanjutan,
Kriteria syok kardiogenik adalah
tekanan darah sistol 90 mmHg atau penurunan tekanan darah sistol sebesar 30 mmHg secara mendadak hipoperfusi yang ditandai dengan produksi urin 20 cc/jam, gangguan fungsi saraf pusat dan vasokontriksi perifer (akral dan keringat dingin)

(de Jong, 2010).


18

Syok Distributif

19

PENGERTIAN
Syok distributif adalah jenis syok yang timbul akibat kesalahan distribusi aliran dan volume darah. Berbagai keadaan yang termasuk ke dalam kelompok syok distributif antara lain syok septik, syok anafilaktik, dan syok neurogenik (de Jong, 2010).
20

Syok Distributif Syok Septik Syok Anafilaktik Syok Neurogenik

Dipicu oleh sepsis

Hipersentivitas umum tipe I Endotoksin

Reaksi vasovagal berlebihan vasodilatasi


lingkungan yang panas, terkejut, takut, atau nyeri

Gram negatif
Peningkatan permeabilitas kapiler

Oedem

Pusing, pingsan. Denyut nadi lambat, tetapi umumnya kuat dan isinya cukup.

(de Jong, 2010).

21

Gejala Klinis
Penurunan tekanan darah sistolik dianggap merupakan tanda khas syok hipovolemik Sebelum tekanan darah menurun, tubuh mengkompensasi dengan melakukan vasokontriksi kapiler kulit sehingga kulit menjadi pucat dan dingin

(de Jong, 2010).


22

Gejala Klinis
terjadi penurunan diuresis dan takikardi Akibat tindakan kompensasi ini, tekanan darah untuk sementara waktu tidak menurun. Metabolisme jaringan hipoksik menghasilkan asam laktat yang menyebabkan asidosis metabolic sehingga terjadi takipnea Akhirnya akan terus-menerus kehilangan cairan intravaskuler, tindakan kompensasi tidak dapat mempertahankan tekanan darah yang memadai sehingga terjadi dekompensasi yang mengakibatkan penurunan tekanan darah secara tiba-tiba
(de Jong, 2010).
23

PATOFISIOLOGI DAN GEJALA KLINIS

(Silbernagl, Stefan, 2012).

24

Tatalaksana
Tata laksana syok dimulai dengan pemulihan perfusi jaringan dan oksigenasi sel. Tindakan ini tidak bergantung pada penyebab syok. Diagnosis juga harus segera ditegakkan sehingga dapat diberikan pengobatan kausal.

(de Jong, 2010).


25

Tatalaksana
Kebutuhan oksigen juga harus segera dicukupi dengan mengoptimalkan penyediaan oksigen dalam darah (oxygen delivery, DO2). Volume cairan intravaskuler juga harus dicukupi agar volume preload maksimal. Selain itu, harus dipertimbangkan pemberian zat inotropik untuk merangsang miokard dan vasokonstriktor untuk mengatasi vasodilatasi perifer
(de Jong, 2010).

26

Tatalaksana
Kebutuhan oksigen juga harus segera dicukupi dengan mengoptimalkan penyediaan oksigen dalam darah (oxygen delivery, DO2). Volume cairan intravaskuler juga harus dicukupi agar volume preload maksimal. Selain itu, harus dipertimbangkan pemberian zat inotropik untuk merangsang miokard dan vasokonstriktor untuk mengatasi vasodilatasi perifer
(de Jong, 2010).

27

Agar perfusi dapat memenuhi kebutuhan metabolit dan oksigen jaringan, tekanan darah harus sekurangkurangnya 70-80 mmHg, yang dicapai dengan memperhatikan prinsip resusitasi ABC pada syok hipovolemik murni atau hipovolemik relative (syok septik dan anafilaktik) dapat diatasi dengan pemberian cairan intravena dan mempertahankan fungsi jantung

(de Jong, 2010).


28

PRINSIP
1. 2. 3. 4. Primary Survey Resusitasi Secondary Survey Definitive Care

(Koernia, 2011)
29

Primary Survey Airway Penilaian saluran nafas Non-surgical Breathing Circulation

BAG VALVE FACE MASK Cardiac output Surgical Pulse


- Radial >80 x/m - Femoralis >80 x/m - Carotis ?6 x/m

Bleeding

Chin lift Jaw thrust Suction Mayo tube Nasopharyngeal airway EOA Pre Intubation Ventilation Endotrscheal Intubation

Wana kulit Capillary filling

Identifikasi tempat Kontrol perdarahan Langsung menekan luka Pakai splints pneumatic & mast suit

Cricothyroidotomy Surgicalcricotthyroidotomy

(Koernia, 2011)

30

Resusitasi Oxygen Fluid resusitasi Pemeriksaan Laboratorium Tranfusi Monitor ECG Kateter folley NGT

Nasal cannula/ face mask pasien sadar Ventilatory support intubasi

Kristaloid

MAST

IV Line

RAPID RESPONSE - Bila respon baik, penderita stabil, cairan diberikan lambat, indikasi klas 1 TRANSIEN RESPONSE - Keadaan pasien buruk, indikasi klas II dan III, diberikan cairan dan mulai tranfusi MINIMAL/ NO RESPONSE - Indikasi klas IV, atau tanpa perdarahan segera berikan tranfusi

Type O Type spesific Cross Matched Platelet dan FFP Calcium Memindahkan darah dari ext inferior Meningkatkan resistensi vaskuler perifer Meningkatkan afterload

Lokasi Type IV Line Jumlah IV Line

(Koernia, 2011)

31

Resusitasi Oxygen Fluid resusitasi Pemeriksaan Laboratorium Monitor ECG Kateter folley NGT

Tipe dan cross match Jumlah darah dan trombosit PT, PTT Elektrolit, Ca, Creatinin, BUN, Glukose, dan Bj Kadar ethanol Sickle cell bila perlu Test kehamilan bila perlu BGA

Untuk monitioring output urine Kontraindikasi trauma urethra

Untuk mencegah atau mengurangi terjadinya gastric dilatasi dengan mengeluarkan isi gaster dan mencegah aspirasi Kontraindikasibila suspek fraktur oscribriformis, bloody ottorrhoe, maxillo fascial trauma

(Koernia, 2011)

32

33

34