Anda di halaman 1dari 41

HUBUNGAN RIWAYAT DIABETES MELLITUS PADA IBU POST PARTUM DENGAN KEJADIAN BAYI MAKROSOMIA DI RUMAH SAKIT PUSRI

PALEMBANG 2013

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Berdasarkan penelitian Worl Health Organization (WHO) tahun 2007, di seluruh dunia terdapat kematian ibu sebesar 500.000 jiwa per tahun dan kematian bayi khususnya neonatus sebesar 10.000.000 jiwa per tahun. Hampir dua pertiga kematian maternal disebabkan oleh penyebab langsung yaitu perdarahan (25%), infeksi/sepsis (15%), preeklampsia/eklampsia (12%), abortus yang tidak aman (10%), partus macet (8%), bayi lebih dari 4000 gr makrosomia (8%). Menurut data badan kesehatan dunia World Health Organization (WHO) Indonesia menempati urutan keempat dalam jumlah penderita Diabetes Mellitus di dunia. Pada tahun 2000 yang lalu terdapat sekitar 5,6 juta penduduk Indonesia yang mengidap Diabetes Mellitus. Pada tahun 2009, diperkirakan jumlah penderita Diabetes Mellitus di Indonesia meningkat tajam menjadi 14 juta orang,

dimana baru 50% yang sadar mengidapnya dan diantara mereka baru sekitar 30% yang datang berobat secara teratur. Di Asia menunjukkan Diabetes Mellitus kini telah menjadi penyakit global dimana jumlah penderita sebanyak 240 juta pada tahun 2001, diperkirakan akan terus bertambah hingga 380 juta pada tahun 2025 dan lebih dari 60 persen pasien diabetes tersebar di Asia khususnya negara-negara berkembang yang paling cepat pertumbuhan ekonominya. 2

Di Indonesia, menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2009 mengungkapkan rata-rata per tahun terdapat 401 bayi di Indonesia yang meninggal dunia sebelum umurnya mencapai 1 tahun. Bila dirinci terdapat 157.000 bayi meninggal dunia per tahun, atau 430 bayi per hari. Penyebab kematian terbanyak disebabkan oleh sepsis (infeksi sistemik), kelainan bawaan, dan infeksi saluran pernapasan akut (Riset Kesehatan Dasar Depkes, 2007). Salah satu penyebab bayi mengalami gangguan pernapasan adalah bayi yang tubuhnya di atas normal (makrosomia). Kelahiran bayi besar ini menimbulkan komplikasi dalam persalinan, kemungkinan bayi akan lahir dengan gangguan nafas dan kadangkala bayi lahir dengan trauma tulang leher dan bahu (Diandra, 2011). Sedangkan di indonesia, tepatnya di Medan, Sumatera Utara bayi terberat pernah dilahirkan oleh seorang ibu berumur 41 tahun pada tahun 2009 dengan berat mencapai 8,7 kg.

Berdasarkan data medical record pada tahun 2012 terdapat 732 ibu melahirkan, ibu yang mengalami riwayat Diabetes Mellitus 36 ibu, dan 34 kejadian bayi makrosomia (Medrec RS Pusri palembang, 2013). Definisi Diabetes Mellitus (DM) menurut World Health Organization (WHO) dengan sedikit modifikasi yang telah dilakukan oleh American Diabetes Association (ADA) adalah intoleransi glukosa pada waktu kehamilan pada wanita normal atau yang mempunyai gangguan toleransi setelah terminasi kehamilan. Estimasi kasus Diabetes Melittus berdasarkan prevalensi global pada tahun 1995 adalah kira-kira 135 juta orang manakala

projeksinya ke tahun 2025 akan menunjukkan angka peningkatan yaitu kira-kira 300 juta. Kira-kira 135,000 wanita hamil yang mengalami DM setiap tahun yaitu kira-kira 3-5%. Diabetes Mellitus adalah intoleransi glukosa yang dimulai atau baru ditemukan pada waktu hamil. Tidak dapat dikesampingkan kemungkinan adanya intoleransi glukosa yang tidak diketahui yang muncul seiring kehamilan. Setelah ibu melahirka, keadaan DMG sering akan kembali ke regulasi glukosa normal (Sarwono, 2008:851). Menurut data skrining dan diagnosis DM yang dikeluarkan oleh American Diabetes Association (ADA) Standard of Medical Care (2008), pada wanita ras

Hispanik, Afrika, Amerika, Asia Timur, Asia Selatan mempunyai resiko mendapat DM berada dikategori sedang. Mereka perlu melakukan tes gula darah pada kehamilan 24-28 minggu. Ditambah lagi resiko mendapat DM pada ibu hamil yang umurnya kurang dari 21 tahun adalah 1%, lebih dari 25 tahun adalah 14%, umur diantara 21-30 tahun adalah kurang dari 2%, dan pada ibu yang umurnya lebih dari 30 tahun adalah 8-14%. Dengan ini kita bisa merangkumkan wanita di Negara Asia atau Negara Indonesia sendiri mempunyai resiko untuk mendapatkan DM dan pada lingkupan usia lebih dari 25 tahun mempunyai resiko mendapat DM. Komplikasi yang mungkin terjadi pada kehamilan dengan diabetes sangat bervariasi. Pada ibu akan meningkatkan resiko terjadinya preeklampsia, seksio sesarea, dan terjadinya diabetes mellitus tipe 2 di kemudian hari, sedangkan pada janin meningkatkan risiko terjadinya makrosomia, trauma persalinan,

hiperbilirubinemia, hipoglikemi, hipokalsemia, polisitemia, hiperbilirubinemia neonatal, sindroma distres respirasi (RDS), serta meningkatnya mortalitas atau kematian janin (Sarwono, 2008:851). 4

Makrosomia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bayi baru lahir dengan berat yang berlebihan. Definisinya adalah berat kelahiran 40004500 gr atau lebih besar dari 90% menurut usia kehamilan setelah mengoreksi jenis kelamin dan etinis (Surianingsih, 2012).

Sedangkan menurut Pratiwi (2009), mengatakan bahwa Makrosomia adalah bayi yang lahir lebih dari 4000 gram, kemunculan bayi seperti ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, faktor kondisional atau hanya diduga penyebabnya misalnya orangtua yang memang besar. Kedua, faktor ibu hamil yang menderita diabetes mellitus. Ketiga, faktor ibu yang mengalami kelebihan berat badan saat hamil dan terakhir faktor ibu yang mengalami kehamilan lewat waktu. 1.2 Rumusan Masalah Apakah ada hubungan riwayat penyakit Diabetes Mellitus pada ibu post partum dengan kejadian makrosomia di Rumah Sakit Pusri Palembang tahun 2013 ?

1.3 Tujuan Penelitian Tujuan Umum Untuk mengetahui hubungan riwayat penyakit Diabetes Mellitus pada ibu post partum dengan kejadian makrosomia di Rumah Sakit Pusri Palembang 2013 ?

Tujuan Khusus 1. Diketahinya distribusi frekuensi dengan bayi makrosomia di Rumah Sakit Pusri Palembang. 2. Diketahuinya distribusi penyakit Diabetes Mellitus pada ibu post partum di Rumah Sakit Pusri Palembang. 3. Diketahuinya hubungan riwayat Diabetes Mellitus pada ibu post partum dengan kejadian Makrosomia.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis Hasil penelitian ini dapat menambah pengetahuan, wawasan dan pengalaman dalam menerapkan teori-teori yang berhubungan dengan diabetes mellitus dengan kejadian bayi makrosomia. 1.4.2 Manfaat Praktis Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan masukan bagi pihak Rumah Sakit Pusri dalam menangani ibu dengan riwayat Diabetes Mellitus.

2.1 Tinjauan Kasus 2.1.1 Definisi Makrosomia Makrosomia atau bayi besar adalah bayi baru lahir yang berat badan lahir pada saat persalinan lebih dari 4000 gram. Bayi baru lahir yang berukuran besar tersebut biasanya dilahirkan cukup bulan. Tetapi bayi preterm dengan berat badan dan tinggi menurut umur kehamilan mempunyai mortalitas yang secara bersama lebih tinggi daripada bayi yang diahirkan cukup bulan dengan ukuran yang sama. Diabetes dan obesitas ibu merupakan faktor prediposisi. Makrosomia adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan bayi baru lahir dengan berat yang berlebihan. Definisinya adalah berat kelahiran 4000 4500 gram atau lebih besar dari 90% menurut usia kehamilan setelah mengoreksi jenis kelamin dan etnis. Bayi makrosomia gambaran umum bayi-bayi besar (makrosomia) sering dilahirkan dari multi paritas dan ibu diabetes mellitus (Surianingsih, 2012).

2.1.2 Etiologi Makrosomia Beberapa keadaan pada ibu dapat menyebabkan terjadinya kelahiran bayi besar / baby giant. Faktor-faktor dari bayi tersebut diantaranya : 1. Bayi dan ibu yang menderita diabetes sebelum hamil dan bayi dari ibu yang diabetes selama kehamilan. Sering memiliki kesamaan, mereka cenderung besar dan montok akibat bertambahnya lemak tubuh dan membesarnya organ dalam, mukanya sembab dan kemerahan (plethonic) seperti bayi yang sedang mendapat 7

kortikosteroid.

Bayi

dari

ibu

yang

menderita

diabetes

memperlihatkan insiden sindrom kegawatan pernafasan yang lebih besar dari pada bayi ibu yang normal pada umur kehamilan yang sama. Insiden yang lebih besar mungkin terkait dengan pengaruh antagonis antara kortisol dan insulin pola sintesis surfakton. 2. Terjadinya obesitas pada ibu juga dapat menyebabkan kelahiran bayi besar (bayi giant). 3. Pola makan ibu yang tidak seimbang atau berlebihan juga mempengaruhi kelahiran bayi besar.

2.1.3 Komplikasi yang Mungkin Terjadi

Bayi besar yang sedang berkembang merupakan suatu indikator dari efek ibu. Yang walaupun dikontrol dengan baik dapat timbul pada janin, maka sering disarankan persalinan yang lebih dini sebelum aterm. Situasi ini biasanya dinilai pada sekitar kehamilan 38 minggu. Penilaian yang seksama terhadap pelvis ibu. Tingkat penurunan kepala janin dan diatas serviks. Bersama dengan pertimbangan terhadap riwayat kebidanan sebelumnya. Seringkali akan menunjukkan apakah induksi persalinan kemungkinan dan menimbulkan persalinan dan pervaginam. Jika tidak maka persalinan dilakukan dengan seksio sesarea yang direncanakan. Pada kasus-kasus Bordeline dapat dilakukan persalinan percobaan yang singkat. Resiko dari trauma lahir yang tinggi jika bayi lebih besar dibandingkan panggul ibunya perdarahan intrakranial, distosia bahu, ruptur uteri, serviks, vagina, robekan perineum dan fraktur anggota gerak merupakan 8

beberapa komplikasi yang mungkin terjadi. Jika terjadi penyulit-penyulit ini dapat dinyatakan sebagai penatalaksanaan yang salah. Karena hal ini sebenarnya dapat dihindarkan dengan seksio sesarea yang terencana. Walupun demikian, yang perlu diingat bahwa persalinan dari bayi besar (baby gint) dengan jalan abdominal bukannya tanpa resiko dan hanya dapat dilakukan oleh dokter bedah kebidanan yang terampil.

2.1.4 Penatalaksanaan Pemeriksaan klinik dan ultrasonografi yang seksama terhadap janin yang sedang tumbuh, disertai dengan faktor-faktor yang diketahui merupakan predisposisi terhadap makrosomia (bayi besar) memungkinkan dilakukannya sejumlah kontrol terhadap pertumbuhan yang berlebihan. Peningkatan resiko bayi besar jika kehamilan dibiarkan hingga aterm harus diingat dan seksio sesarea efektif harus dilakukan kapan saja persalinan pervaginam.

2.1.5 Definisi Diabetes Mellitus Diabetes Mellitus Gestasional adalah intoleransi glukosa yang dimulai atau baru ditemukan pada waktu hamil. Tidak dapat

dikesampingkan kemungkinan adanya intoleransi glukosa yang tidak diketahui yang muncul seiring kehamilan. Setelah ibu melahirkan, keadaan DMG sering akan kembali ke regulasi glukosa normal (Sarwono, 2012).

Diabetes Mellitus adalah kelainan metabolism karbohidrat, di mana glukosa darah tidak dapat digunakan dengan baik, sehingga menyebabkan keadaan hiperglikemia. DM merupakan kelainan endokrin yang banyak dijumpai yang paling sering terjadi yaitu DM yang diketahui sewaktu hamil

yang disebut DM gestasional dan DM yang telah terjadi sebelum hamil yang dinamakan DM pragstasi. Disebut Diabetes Mellitus Gestasional bila gangguan toleransi glukosa yang terjadi sewaktu hamil kembali normal dalam 6 minggu setelah persalinan, dianggap diabetes mellitus (jadi bukan gestasi) bila gangguan toleransi glukosa menetap setelah persalinan. Pada golongan ini kondisi diabetes mellitus dialami sementara selama masa kehamilan . Artinya kondisi diabetes atau intoleransi glukosa pertama kali didapati selama masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua atau ketiga. Diabetes Mellitus Gestasional didefinisikan sebagai gangguan toleransi glukosa berbagai tingkat yang diketahui pertama kali saat hamil tanpa membedakan apakah penderita perlu mendapat insulin atau tidak. Pada kehamilan trimester pertama kadar glukosa akan turun antara 55-65% dan hal ini merupakan respon terhadap transportasi glukosa dari ibu ke janin. Sebagian besar DMG asimtomatis sehingga diagnosis ditentukan secara kebetulan pada saat pemeriksaan rutin. Diabetes Mellitus adalah penyakit kelainan metabolisme dimana tubuh penderita tidak bisa secara otomatis mengendalikan tingkat gula (glukosa) dalam darahnya. Penderita Diabetes Mellitus (DM) tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah yang cukup sehingga terjadi kelebihan gula dalam tubuh (Ay Yeyeh, 2010).

10

Pengertian Diabetes Mellitus menurut Kapita Selekta Jilid II, 2006 yaitu Diabetes Melitus merupakan kelainan metabolisme yang kronis terjadi defisiensi insulin atau retensi insulin, ditandai dengan tingginya keadaan glukosa darah (hiperglikemia) dan glukosa dalam urine (glukosuria) atau merupakan sindroma klinis yang ditandai dengan hiperglikemia kronik dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein sehubungan dengan kurangnya sekresi insulin secara absolute atau relative dan atau adanya gangguan fungsi insulin.

2.1.6 Etiologi Kekurangan insulin disebabkan adanya kerusakan sebagian kecil atau sebagian besar sel-sel beta palau langerhans dalam kelenjar pankreas yang bekerja menghasilkan insulin. Dalam kehamilan terjadi perubahan metabolisme endokrin dan karbonhidrat untuk makanan janin dan persiapan menyusui bila tidak mampu meningkatkan produksi insulin (hypoinsulin) yang mengakibatkan hyperglikemia atau DM kehamilan atau DM yang timbul hanya dalam masa kehamilan (Ay Yeyeh, 2010). Penyebab genetik atau faktor keturunan, virus dan bakteri, bahan toksik atau beracun, nutrisi. 1. Faktor autoimun setelah infeksi mumps, rubella dan coxsakie B4. 2. Genetik

Diabetes Mellitus dapat diwariskan dari orangtua kepada anak. Gen penyebab diabetes mellitus akan dibawa oleh anak jika orangtuanya menderita diabetes mellitus. 11

Pewarisan gen ini dapat sampai ke cucunya bahkan cicit walaupun resikonya sangat kecil. Secara klinis, penyakit DM awalnya didominasi oleh resistensi insulin yang disertai defect fungsi sekresi. Tetapi, pada tahap yang lebih lanjut, hal itu didominasi defect fungsi sekresi yang disertai dengan resistensi insulin. Kaitannya dengan mutasi DNA mitokondria yakni karena proses produksi hormon insulin sangat erat kaitannya dengan mekanisme proses oxidative phosphorylation (OXPHOS) di dalam sel beta pancreas. Penderita DM proses pengeluaran insulin dalam tubuhnya mengalami gangguan sebagai akibat dari peningkatan kadar glukosa darah. Mitokondria menghasilkan adenosine trifosfat (ATP). Pada penderita DM, ATP yang dihasilkan dari proses OXPHOS ini mengalami peningkatan. Peningkatan kadar ATP tersebut otomatis menyebabkan peningkatan beberapa senyawa kimia yang terkandung dalam ATP. Peningkatan tersebut antara lain memicu tercetusnya proses pengeluaran hormone insulin. Berbagai mutasi yang menyebabkan DM telah dapat diidentifikasi.

2.1.7 Klasifikasi Diabetes Mellitus

Terdapat 4 macam klasifikasi diabetes yaitu : 1. Diabetes Tipe 1 Disebabkan oleh destruksi sel yang akan menyebabkan defisiensi absolute insulin. Bila kerusakan sel beta telah mencapai 80-90% maka gejala DM mulai muncul. Perusakan sel beta ini lebih cepat terjadi pada anak-anak daripada dewasa. Sebagian besar penderita DM tipe 1 mempunyai antibody yang menunjukkan adanya 12

proses autoimun, dan sebagian kecil tidak terjadi autoimun. Kondisi ini digolongkan sebagai tipe 1 idiopatik. Sebagian besar 75% kasus terjadi sebelum usia 30 tahun, tetap usia tidak termasuk kriteria untuk kalsifikasi. 2. Diabetes Tipe 2 Disebabkan oleh defect sekresi insulin yang progresif karna adanya insulin yang resisten. Pada diabetes ini terjadi penurunan kemampuan insulin bekerja dijaringan perifer (insulin resistance) dan disfungsi sel beta. Akibatnya, pankreas tidak mampu memproduksi insulin yang cukup untuk mengkompensasi insulin resistan. Kedua hal ini menyebabkan terjadinya defisiensi insulin relative. Gejala minimal dan kegemukan sering berhubungan dengan kondisi ini, yang umumnya terjadi pada usia > 40

tahun. Kadar insulin bisa normal, rendah, maupun tinggi, sehingga penderita tidak tergantung pada pemberian insulin. 3. Diabetes Mellitus Gestasional (DMG) Diabetes Mellitus Gestasional adalah kehamilan normal yang disertai dengan peningkatan insulin resisten (ibu hamil gagal

mempertahankan euglycemia). Faktor risiko GDM : riwayat keluarga DM, kegemukan dan glikosuria. GDM ini meningkatkan morbiditas neonates, misalnya hipoglikemia, ikterus, polisitemia, dan makrosomia. Hal ini terjadi karna bayi dari ibu GDM menskresi insulin lebih besar sehingga merangsang pertumbuhan bayi dan makrosomia. Frekuensi GDM kira-kira 3-5% dan para ibu tersebut meningkat risikonya untuk menjadi DM di masa datang. 4. Diabete Tipe Lain 13

Tipe Diabetes Mellitus lainnya disebabkan oleh faktor genetik, penyakit endokrin, pankreas atau oabat-obatan.

2.1.7 Patofisiologi Sebagian kehamilan ditandai dengan adanya resistensi insulin dan hiperinsulinemia, yang pada beberapa perempuan akan menjadi faktor predisposisi untuk terjadinya Diabetes Mellitus selama kehamilan. Resistensi ini

berasal dari hormon diabetogenik hasil sekresi plasenta yang terdiri atas hormon pertumbuhan (growth hormone), corticotrophin releasing hormone, placental lactogen, dan progesteron. Hormon ini dan perubahan endokrinolgik serta metabolik akan menyebabkan perubahan dan menjamin pasokan bahan bakar dan nutrisi ke janin sepanjang waktu. Akan terjadi Diabetes Mellitus Gestasional apabila fungsi pankreas tidak cukup untuk mengatasi keadaan resistensi insulin yang diakibatkan oleh perubahan hormone diabetogenik selama kehamilan. Kadar glukosa yang meningkat pada ibu hamil sering menimbulkan dampak yang kurang baik terhadap bayi yang dikandungnya. Bayi yang lahir dari ibu dengan DM biasanya lebih besar, dan bisa terjadi juga pembesaran dari organ-organnya (hepar, kelenjar adrenal, jantung). Segera setelah lahir, bayi dapat mengalami hipoglikemia karena produksi insulin janin yang meningkat, sebagai reaksi terhadap kadar glukosa ibu yang tinggi. Oleh karena itu, setelah bayi dilahirkan kadar glukosanya perlu dipantau dengan ketat. Ibu hamil dengan penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan baik akan meningkatkan risiko terjadinya keguguran atau bayi lahir mati. Bila diagnosis 14

diabetes mellitus sudah dapat ditegakkan sebelum kehamilan, tetapi tidak terkontrol dengan baik, maka janin beresiko mempunyai kelainan kongential (Sarwono, 2012).

2.1.8 Tanda dan Gejala Diabetes Mellitus Dapat disebabkan oleh sekresi hormone insulin atau defisiensi pendistribusian gula dalam tubuh. Dapat pula disebabkan oleh keduanya. Diabetes Mellitus dikenal dengan berbagai tipe yaitu tipe I yang disebabkan oleh faktor genetik atau karena keturunan, Tipe II, sebagian besar disebabkan oleh gaya hidup, dan tipe III yaitu oleh diabetes yang dialami oleh ibu hamil. Beberapa tanda yang tampak pada orang yang menderita diabetes mellitus (Ay Yeyeyh, 2010). 1. Sering kencing pada malam hari ( polyuria ). 2. Selalu merasa haus ( polydipsia ). 3. Selalu merasa lapar ( polyfagia ).

4. Selalu merasa lelah atu kekurangan energi. 5. Infeksi dikulit 6. Hyperglaisimia ( peningkatan abnormal gula dalam darah ). 7. Glaikosuria ( gukosa dalam urine ). 8. Penglihatan menjadi kabur.

15

2.1. 9 Diagnosis dan Skrining Diabetes Mellitus Gestasional Skrining awal diabetes mellitus gestasional adalah dengan cara melakukan pemeriksaan beban 50 g glukosa pada kehamilan 24 28 minggu. Untuk tes ini pasien tidak erlu puasa. Kadar glukosa serum atau plasenta yang normal harus kurang dari 130 mg per dl 97,2 mmol per 1) atau kurang dari 140 mg per dl (7,8 mmol per 1). Dengan memakai nilai 130 mg per dl atau lebih akan meningkatan sensitivitas tes sekitar 80 90 %, tetapi menurunkan spesifitasnya dibanding bila dipakai nilai 149 mg per dl atau lebih. Apabila yang dipakai hanya nilai 130 mg per dl, hal ini akan meningkatkan deteksinya kasus diabetes mellitus gestasional yang berarti akan meningkatkan hasil positif palsu. Oleh karna itu, untuk mendeteksi adanya diabetes mellitus gestasional sebaiknya dipakai tidak hanya satu nilai, tetapi keduanya yaitu 130 mg per dl dan 140 mg per dl. Hasil tes satu jam yang abnormal harus dilanjutkan dengan pemeriksaan beban 100 g glukosa. Selama tiga hari pasien disuruh diet yang tidak ketat, kemudian dilakukan pemeriksaan darah puasa yang diambil dari pembuluh darah vena, serta setelah 1, 2, 3 jam pemberian 100 g glukosa.

Selama periode pemeriksaan pasien harus tetap duduk dan tidak boleh merokok. Untuk kriteria diagnostik sering dipakai kriteria dari the National Diabetes Data Group (NDDG), tetapi beberapa memakai kriteria dari Carpenter dan Caustan (lihat

16

table dibawah ini). Diagnosis diabetes mellitus gestasional ditegakkan apabila didapatan dua atau lebih nilai yang abnormal. Pemeriksaan berdasarkan modifikasi WHO-PERKENI yang

dianjurkan adalah pemeriksaan kadar glukosa 2 jam pasca beban glukosa 75 g dan hasilnya digolongkan dalam criteria berikut : Glukosa Darah >200 mg/dl 140-200 mg/dl <140 mg/dl Kriteria Diabetes Mellitus Toleransi glukosa terganggu Normal

TABEL

Darah

National

Diabetes

Data

Carpenter and Caustan

Puasa 1 jam 2 jam 3- jam

Group 105 mg per dl (5,8 mmol per 1) 190 mg per dl (10,5 mmol per 1) 165 mg per dl (9,2 mmol per 1) 145 mg per dl (8,0) mmol per 1)

95 mg per dl (95 mmol per 1) 180 mg per dl (10,0 mmol per 1) 155 mg per dl (8,6 mmol per 1) 140 mg per dl (7,8 mmol per 1)

17

2.1.10 Pengaruh Kehamilan Hypermesis gravidarum, pemakaian glikogen bertambah, pertumbuhan janin, pankreas dan adrenaline janin in otero sudah berfungsi, meningkatnya metabolisme basal, sebagian insulin ibu dimusnahkan oleh enzim uninsulin dalam plasenta, insulin dalam kehamilan dikurangi oleh plasenta laktogen dan mungkin juga oleh esterogen dan progesterone (Ay Yeyeyh, 2010).

2.1.11 Pengaruh Persalinan Kegiatan otot rahim dan usaha meneran mengakibatkan pemakaian glukosa lebih banyak, sehingga dapat terjadi hipoglikemia, apabila disertai dengan muntah-muntah (Ay Yeyeh, 2010).

2.1.12 Pengaruh Nifas Laktasi menyebabkan keluarnya zat-zat makanan, termasuk hydratarang dari tubuh ibu, DM lebih sering mengakibatkan infeksi nifas dan sepsis dan menghambat luka jalan lahir, baik rupture perinnei maupun luka episiotomy (Ay Yeyeyh, 2010). 2.1.13 Komplikasi dalam Kehamilan Abortus dan partus prematus, pre-eklampsia, Hydramnion, Kelainan letak janin karena bayi besar, insufisiensi plasenta (Ay Yeyeyh, 2010).

18

2.1.14 Penyulit dalam Persalinan Inersia uteri dan atonia uteri, distosia bahu karena anak besar, kelahiran mati, lebih sering pengakhiran partus dengan tindakan, termasuk operasi sectio cesaria, lebih muda terjadi infeksi, angka kematian maternal lebih tinggi (Ay Yeyeh, 2010).

2.1.15 Mencegah atau Menghambat Timbulnya Komplikasi-Komplikasi Menjaga agar kadar glukosa (gula) dalam darah tetap normal, tidak merokok, berolahraga secara teratur, memakan makanan yang seimbang, kadar lemak yang rendah, dan kadar serat yang tinggi (komplek krbohidrat), agar tekanan darah dan kadar kolesterol diperiksa secara teratur oleh dokter. Penanganan yang dilakukan : Diet berat badan rata-rata pada ibu hamil adalah 1200-1800 kalori/hari, terutama trimester 1, insulin dikurangi karena emisis menyebabkan hypoglikemik, Trimester II dan III, insulin ditambah karena makan mulai bertambah, Persalinan dan nifas, insulin kurangi karena cadangan hidratarang berkurang, anjurkan infuse glukosa dan insulin (Ay Yeyeh, 2010).

19

2.1.16 Penanganan Diabetes Mellitus

Penanganan DMG dilakukan secara terpadu oleh spesiais penyakit dalam dan spesialis obstetric ginekologi, ahli gizi dan spesialis anak. Tujuan penanganan adalah mencapai dan mempertahankan keadaan normoglikemia sejak hamil hingga persalianan yaitu, kadar glukosa darah puasa < 105 mg/dl dan dua jam sesudah makan < 120 mg/dl. Untuk mencapai sasaran tersebut dilakukan : Perencanaan makan yang sesuai dengan kebutuhan, Pemantauan glukosa darah sendiri dirumah, Pemberian insulin bila belum tercapai normoglikemia dengan perencanaan makan. Segera setelah pasien didiagnosis DMG, dilakukan pemeriksaan glukosa darah puasa dan 2 jam sesudah makan untuk menentukan langkah penatalaksanaan. Bila kadar glukosa darah puasa > 130 mg/dl pada pasien langsung diberikan insulin disamping perencanaan makan, terutama pada penderita yang terdiagnosis setelah kehamilan mencapai 28 minggu. Bila kadar glukosa darah puasa < 130 mg/dl, dimulai dengan perencanaan makan saja dahulu. Monitor kesejahteraan janin. Saat melahirkan janin disesuaikan dengan kemampua kontrol gula darah dan kesejahteraan janin. Pada kelahiran pravaginam perhitungkan kemungkinan terjadinya kesulitan karena makrosomia (Sarwono, 2009).

20

Penanganan yang paling umum yang sering digunakan secara klinis adalah pemeriksaan konsentrasi gula darah ibu agar konsentrasi gula darah dapat dipertahankan seperti kehamilan normal. Pada perempuan dengan DMG harus dilakukan pengamatan gula darah preprandial dan posprandial. Fourth International Workshop Conference on Stational Diabetes Mellitus

menganjurkan untuk mempertahankan konsentrasi gula darah kurang dari 95 mg/dl (5,3 mmol/1) sebelum makan dan kurang dari 140 dan 120 mg/dl (7,8 dan 6,7 mmol/1), satu atau dua jam setelah makan. Pendekatan dengan pengaturan pola makan bertujuan menurunkan konsentrasi glukosa serum maternal, dengan cara membatasi asupan karbohidrat hingga 40 % - 50 % dari keseluruhan kalori, protein 20 %, lemak 30 40 % (saturated kurang dari 10), makan tinggi serat. Kenaikkan berat badan selama kehamilan (weight gain) diusahakan hanya sekitar 11 12,5 kg saja. Program pengaturan gizi dan makanan yang dianjurkan oleh Ikatan Diabetes Amerika (American Diabetes Association) adalah pemberian kalori dan gizi yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan kehamilan dan mengurangi hiperglikemi ibu. Kalori harian yang dibutuhkan bagi perempuan dengan berat badan normal pada paruh kedua kehamilan adalah 30 kcal per kg berat badan normal (Sarwono, 2012).

21

2.1.17 Penatalaksanaan Diabetes Mellitus Penatalaksanaan antepartum pada perempuan Diabetes Mellitus

Gestasional bertujuan untuk : Melakukan penatalaksanaan kehamilan trimester ketiga dalam upaya mencegah bayi lahir mati atau asfiksia, serta menekan sekecil mungkin kejadian morbiditas ibu dan janin akibat persalinan. Memantau pertumbuhan janin secara berkala dan terus menerus (misalnya dengan USG) untuk mengetahui perkembangan dan pertumbuhan ukuran janin sehingga dapat ditentukan saat dan cara persalinan yang tepat. Memperkirakan maturitas (kematangan) paru-paru janin (misalnya dengan amniosintesis) apabila ada rencana terminasi (seksio sesarea) pada kehamilan 39 minggu. Pemeriksaan antenatal dianjurkan dilakukan sejak umur kehamilan 32 sampai 42 minggu. Pemeriksaan antenatal dilakukan terhadap ibu hamil yang kadar gula darahnya tidak terkontrol, yang mendapat pengobatan insulin, atau yang menderita hipertensi. Dianjurkan untuk melakukan

pemeriksaan nonstress test, profil biofisik, atau modifikasi pemeriksaan profil biofisik seperti nonstrees test dan indeks cairan amnion.

22

Pemberian Insulin Perempuan yang memiliki gejala morbiditas janin (berdasarkan pemeriksaan glukosa atau adanya janin besar) atau perempuan yang mempunyai konsentrasi gula darah yang tinggi harus dirawat lebih saksama dan diberi insulin. Terapi insulin dapat menurunkan kejadian makrosomia janin dan morbiditas perinatal. Dosis insulin yang diberikan sangant individual. Pemberian insulin ditunjukkan untuk mencapai konsentrasi gula darah pasca prandial kurang dari140 mg/dl sampai mencapai kadar glikemi di bawah rata-rata dan hasil perinatal yang lebih baik, ketimbang dilakukannya upaya mempertahankan konsentrasi gula darah praprandial kurang dari 105 mg/dl, tetapi keadaan janin tidak diperhatikan. Kejadian makrosomia dapat diturunkan dengan cara pemberian insulin untuk mencapai konsentrasi gula darah praprandial kurang lebih 80 mg/dl (4,4 mmol/1). Oleh karena itu, dalam merancang penatalaksanaan pemberian

insulin harus dipertimbangkan ketepatan waktu pengukuran gula darah, konsentrasi target glukosa, dan karakteristik pertumbuhan janin. Sebagai alternative pemberian obat antidiabetik seperti metformin dan sulfonyurea dapat dipakai untuk mengendaikan gula darah (Sarwono, 2012).

23

Jenis Obat Diabetes Mellitus Obat Diabetes Mellitus penyakit memang harus di obati dan setiap penyakit pasti ada obatnya, Diabetes Mellitus merupakan penyakit kronis yang membutuhkan intervensi obat-obatan seumur hidup terutama untuk mengelola penyakit dan mencegah komplikasi lebih lanjut. Diabetes Mellitus merupakan penyakit mahal. Data 2002 di Amerika Serikat sekitar 6,2 % penduduk atau 18,2 juta orang mengidap diabtes. Setiap tahun, ongkos perawatan per kapita penderita diabetes tak kurang dari 13.243 dollar. Bandingkan dengan hanya 2.560 dolar bagi yang terbebas dari penyakit ini. Metformin juga memiliki efek manfaat pada kadar lipid dan kolesterol dan bersifat protektif untuk jantung. Pada sebuah studi banding metformin menurunkan angka kematian hingga 85% dibandingkan

insulin (28%), sulfonyurea (16%), thiazolidinedione (14%). Obat ini juga pilihan pertama untuk anak-anak dan terbukti efektif untuk wanita yang menderita polikistik ovarium dan resistensi insulin. Sulfonylurea menstimulasi sel-sel beta dalam pankreas untuk memproduksi lebih banyak insulin. Obat Diabetes Mellitus ini juga membantu sel-sel dalm tubuh menjadi lebih baik dalam mengelola insulin. Pasien yang paling baik merespon sulfonylurea adalah pasien DM tipe 2 berusia dibawah 40 tahun, dengan durasi penyakit kurang dari lima tahun sebelum pemberian obat pertama kali, dan kadar gula darah saat puasa kurang dari 300 mg/dl (16,7 mmol/L).

24

2.1.18 Implikasi Diabetes Mellitus Antepartum Morbiditas antepartum pada erempuan dengan Diabetes Mellitus Gestasional (DMG), adalah kemungkinan terjadinya peningkatan gangguan hipertensi. Oleh karena itu perlu pemantauan tekanan darah, kenaikan berat badan, dan ekskresi proteinuria, khususnya pada paruh kedua kehamilan secara baik. Kriteria diagnostik standard dan penatalaksanaan gangguan hipertensi dapat diterapkan pada perempuan dengan DMG. Resiko klinik antepartum yang paling dominan dari DMG adalah terhadap janinnya. Resiko terjadinya kelainan kongential pada janin akan

meningkat, terutama pada bayi yang ibunya mengalami hiprglikemia berat (misalnya konsentrasi gula darah puasa segera berada di atas 120 mg/dl (6,7 mmol/1). Dalam keadaan seperti ini sebaiknya dilakukan konseling dan pemeriksaan USG yang terarah untuk mendeteksi kelainan janin. Kematian janin intrauterine merupakan salah satu komplikasi yang bisa terjadi pada kehamilan dengan diabetes, termasuk pula perempuan diabetes mellitus gestasional yang tidak dikelola dengan baik. Pasien semacam ini hendaknya dirujuk ke pusat pelayanan kesehatan yang lebih baik agar dapat dilakukan pemantauan gerakan janin dan pemeriksaan kardiotokografi. Makrosomia (bayi lebih dari 4000 gr) merupakan morbiditas yang paling sering dijumpai dan merupakan masalah serius karena bisa menyebabkan timbulnya kesulitan dan trauma perssalinan. Makrosomia diduga disebabkan oleh adanya glukosa janin

25

yang berlebihan akibat hiperglikemia pada ibu, selain faktor lainnya seperti ibu yang gemuk (obesitas), ras, dan etnis. Perempuan hamil dengan diabetes dan obes atau dengan kenaikkan berat badan waktu hamil berlebihan, merupakan faktor resiko utama

terjadinya preeklampsia, seksio sesarea, kelahiran premature, makrosomia janin, dan kematian janin (Sarwono, 2012).

2.2 Penelitian Terdahulu Dalam penelitian yang diakukan Yasinta terdapat 5-7% kejadian makrosomia yang dilahirkan dari ibu yang menderita Diabetes Mellitus selama kehamilan yang akan beresiko mempersulit proses persalinan, meningkatkan kemungkinan perobekan atau perdarahan, serta kemungkinan melahirkan lewat operasi Caesar. Sementara janin sendiri berisiko mengalami macet di bahu atau patah tulang selangka saat proses persalinan. Di klinik bersalin Niar Balai Dessa Kecamatan Medan Patumbak tahun 2011 peneliti menemukan 13 ibu hamil dengan Diabetes Mellitus dan 11 bayi yang berat badan nya lebih dari 400 gram.

2.3 Kerangka Konsep Kerangka konsep penelitian pada dasarnya adalah kerangka hubungan antara konsep-konsep yang ingin diamati atau diukur melalui penelitianpenelitian yang akan dilakukan. Berdasarkan hubungan fungsional antara variabel-variabel satu dengan yang lainnya, variabel dibedakan menjadi dua yaitu variabel tergantung, terikat, akibat 26

terpengaruh

atau

variabel

dependent

dan

variabel

bebas,

sebab,

mempengaruhi atau variabel independent (Notoatmodjo, 2010:100). Berdasarkan tinjauan teori diatas maka peneliti mengambil faktor

yang menjadi variabel penelitian Makrosomia adalah variabel akibat sedangkan riwayat DM adalah sebab.

Dalam penelitian ini dapat dilihat pada kerangka konsep di berikut ini: Bagan 2.1 Variabel Independen Riwayat DM Kejadian Makrosomia Variabel Dependen

2.5 Hipotesis 1. Ada hubungan antara antara riwayat DM pada ibu post partum dengan kejadian makrosomia di Rumah Sakit Pusri Palembang 2013.

27

Metodelogi Penelitian 3.1 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini dalam lingkup maternitas khususnya pada ibu yang melahirkan dengan makrosomia di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2013 dengan melihat faktor riwayat diabetes mellitus.

3.1.1 Rancangan Penelitian A. Format Penelitian Jenis penelitian ini menggunakan survey analitik atau penelitian yang mencoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan ini terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional yaitu suatu penelitian yang mempelajari dinamika korelasi antara variabel sebab dengan akibat, dengan cara pendekatan observasi atau pengumpulan data, dimana variabel independen adalah riwayat diabetes mellitus sedangkan variabel dependen adalah kejadian makrosomia.

B. Waktu dan Tempat Penelitian

Di Rumah Sakit Pusri Palembang. C. Sasaran Semua ibu post partum di Rumah Sakit Pusri Palembang pada tahun 2012.

28

3.2 Data dan Cara Pengumpulannya 3.2.1 Data Primer Data primer yaitu data atau sumber informasi yang berlangsung berasal dari yang mempunyai wewenang dan bertanggung jawab terhadap data tersebut (Saryono, 2010). Pada penelitian ini peneliti tidak menggunakan data primer. 3.2.2 Data Sekunder Data sekunder adalah data yang diperoleh lewat pihak lain, tidak langsung diperoleh oleh peneliti dari subjek penelitiannya, biasanya berupa data dokumentasi atau data laporan yang telah tersedia (Saryono, 2010:78). Dalam penelitian ini dipakai data sekunder yang diperoleh di RS Pusri Palembang tahun 2012 berupa data rekam medik yang menunjang variabel dalam penelitian. 3.2.3 Cara Pengumpulan Data

Metode

pengumpulan

data

merupakan

cara

peneliti

untuk

mengumpulkan data yang akan dilakukan dalam penelitian. Sebelum mengumpulkan data, perlu dilihat alat ukur pengumpulan data tersebut antara lain dapat berupa check list (Hidayat dalam Susanti, 2011). Metode pengumpulan data dengan menggunakan data sekunder yang diperoleh dengan cara mencatat data rekam medik di Rumah Sakit Pusri Palembang Tahun 2012 berdasarkan variabel (riwayat ibu DM) dan variabel (kejadian makrosomia). 3.2.4 Tekhnik Pengelolaan Data Menurut Notoatmojo (2010) proses pengelolaan data melalui tahap sebagai berikut : 29

3.3.3.1 Editing Hasil wawancara ,angket, atau pengamatan dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. secara umum editing adalah merupakan kegiatan untuk mengecekan dan perbaikan isian formulir atau kuesioner tersebut. 3.3.3.2 Coding Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya dilakukan pengkodean atau coding , yakni mengubah data berbentuk

kalimat huruf menjadi angka data atau bilangan. Coding atau pemberian kode ini sangat berguna dalam memasukkan data (data entry). 3.3.3.3 Memasukkan Data (data entry) atau proccessing Data yakni jawabanjawaban dari masingmasing responden yang dalam kode (angka atau huruf ) dimasukkan kedalam program atau software komputer. Software komputer ini bermacam-macam, masingmasing mempunyai kelebihan dan kekurangannya. Salah satu paket program yang paling sering digunakan untuk enty data penelitian adalah paket program SPSS for window. Dalam proses ini juga dituntut ketelitian dari orang yang melakukan data entryini. Apabila tidak maka akan terjadi bias, meskipun hanya data saja.

30

3.2 Populasi dan Sampel Penelitian Serta Tehnik Pengambilan Sampel 3.3.1 Populasi Penelitian Populasi adalah keseluruhan objek penelitian atau objek yang diteliti (Notoatmojo, 2010:115).

Populasi pada penelitian ini adalah semua ibu yang melahirkan di Rumah Sakit Pusri Palembang periode Januari Desember tahun 2012 berjumah 732 ibu.

3.3.2 Sampel Penelitian Sampel penelitian adalah objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoadmojo, 2010:115). Sampel penelitian ini adalah semua dari ibu yang melahirkan di Rumah Sakit Pusri Palembang pada bulan Januari s/d Desember 2012 dengan kriteria inklusi yaitu ibu yang mempunyai data rekam medik yang lengkap meliputi data riwayat DM. Penetapan besar sampel berdasarkan rumus menurut Notoatmodjo (2005), untuk populasi kecil atau lebih kecil dari 10.000 dengan menggunakan formula seperti berikut:
N 2 n= 1 + N (d )

Keterangan: N= besar populasi n= besar sampel

d= tingkat kepercayaan/ketepatan yang diinginkan (0,1) (Notoatmodjo, 2005:92).

Besar Sampel :

n=

732 1 + 732 (0,1)

n=

732 1 + 732 (0,01)

n=

732 1 + 7,32

n=

732 8,32

n = 87,98 n = 88

Jadi dari rumus di atas didapatkan jumlah sampel 88 orang.

32

3.3.3 Cara Pengambilan Sampel Cara pengambilan sampel yang digunakan ialah Simple Random Sampling atau pengambilan sampel secara acak atau sederhana adalah bahwa setiap anggota atau unit dari populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk diseleksi sebagai sampel. Teknik pengambilan sampel secara acak sederhana ini dibedakan menjadi dua cara, yaitu dengan mengundi anggota populasi (lottery technique) atau teknik undian, dan dengan menggunakan tabel bilangan atau angka acak (random number) (Notoatmodjo, 2010:120). 3.4 Tehnik Analisis Data yang disajikan dengan mendistribusikan melalui analisis univariat dan analisis bivariat. a. Analisis Univariat Analisis univariat adalah analisis yang bertujuan untuk menjelaskan atau mendeskripsikan karakteristik setiap variabel penelitian (Notoatmodjo, 2010:182). Analisis univariat pada penelitian ini dilakukan untuk mengetahui distribusi riwayat DM pada ibu post partum dengan kejadian makrosomia. b.Analisis Bivariat

Menurut Notoatmojo (2010) analisis bivariat merupakan analisis yang dilakukan terhadap dua variabel yang diduga berhubungan/korelasi. Analisis bivariat pada penelitian ini dilakukan terhadap variabel (riwayat DM) dan variabel (kejadian makrosomia). Uji statistik yang digunakan Chi-Square (X2) dimana Confident Interval 95% dengan derajat kemaknaan 0,05. Jika p value <0,05 artinya ada hubungan bermakna antara variabel dependen dan variabel independen sedangkan bila p value >0,05 maka tidak ada hubungan bermakna antara variabel dependen dan variabel independen.

33

3.5 Definisi Operasional Variabel


N Variabel o 1 Makrosomia Pengertian Cara ukur Alat ukur Hasil ukur Skala ukur

Berat badan bayi lebih dari 4000 gram (Surianingsih, 2012).

Melihat data rekam medik

Chick list

1. Ya, bila bayi baru badan lahir nya berat lebih

Ordinal

dari 4000 gram. 2. Tidak, bila berat badan bayi normal 2500-4000 2012). gram. (Surianingsih,

Riwayat DM Glukosa darah pada Melihat data pada ibu ibu hamil >200 mg/dl (Mansjoer 2010). Arief, rekam medic post partum.

Chek list

1. Ya,

bila

ibu

Ordinal

mempunyai riwayat DM saat hamil. 2. Tidak, bila ibu tidak saat mempunyai hamil riwayat DM pada

(Mansjoer 2010).

Arief,