Anda di halaman 1dari 28

PENGUJIAN MOLUSKISIDA FENTIN ASETAT 60% TERHADAP PERKEMBANGAN SIPUT SEMAK (Bradybaena similaris ferussac) DAN PRODUKSI TANAMAN

KUBIS BUNGA (Brassica oleracea Var. botrytis L )

USULAN PENELITIAN Diajukan Untuk Menempuh Ujian Sarjana Pada Fakultas Agrobisnis dan Rekayasa Pertanian Universitas Subang

ASEP MUNAJAT F1A.O6.024

FAKULTAS AGROBISNIS DAN REKAYASA PERTANIAN UNIVERSITAS SUBANG SUBANG 2011

LEMBAR PENGESAHAN USULAN PENELITIAN

Nama NPM Judul

: : :

ASEP MUNAJAT F1A.06.024 PENGUJIAN MOLUSKISIDA FENTIN ASETAT 60% TER HADAP PERKEMBANGAN SIPUT SEMAK (Bradybaena similaris ferussac) DAN PRODUKSI TANAMAN KUBIS BUNGA (Brassica oleracea Var. botrytis L ) Balai Penelitian Tanaman Sayuran Cikole Lembang

Lokasi

Subang, Agustus 2011 Mengetahui, Dosen Pembingbing

Dr. Titin Supriatun, MS. NIP 195108241979032001

Mengesahkan, Ketua Program Studi Agroteknologi

Tita Kartika Dewi, STP.MP.

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN DAFTAR ISI. i DAFTAR GAMBAR.................................................................................... iii DAFTAR TABEL. iv DAFTAR LAMPIRAN................................................................................ v BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang.. 3 1.2 Identifikasi Masalah.. 3 1.3 Maksud dan Tujuan... 3 1.4 Kegunaan Penelitian.. 3 1.5 Kerangka Pemikiran.. 3 1.6 Hipotesis 5 1.7 Metodologi 5 1.8 Lokasi dan Waktu Penelitian. 5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Sejarah Perkembangan Kubis bunga. 6 2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Kubis Bunga.. 6 2.1.2 Syarat Tumbuh. 8 2.2 Siput Semak.. 9 2.2.1 Morfologi. 10 2.2.2 Fisiologi... 10 2.3 Pestisida 10 2.4 Pentin Asetat 12 2.4 Bestnoid 60 WP 13 BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Alat dan Bahan. 14 3.1.1 Alat.. 14 3.1.2 Bahan... 14 3.2 Metode Penelitian. 14

3.3 Cara Kerja 3.3.1 Persemaian... 15 3.3.2 Pembentukan Bedengan dan pemasangan Mulsa.................... 15 3.3.3 Penanaman... 15 3.3.4 Pemeliharaan 15 3.4 Pengamatan... 16 3.5 Analisa Data.. 18 DAFTAR PUSTAKA................................................................................... 19

DAFTAR TABEL Tabel 1.1 Tabel Perlakuan. 5 Tabel 3.1 Tabel Perlakuan. 14

DAFTAR GAMBAR Gambar 2.1 Gambar Siput Semak 9 Gambar 2.2 Struktur Rumus Fentin Asetat. 13 Gambar 2.3 Gambar Bestnoid 60 WP. 13

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Denah Plot Percobaan Lampiran 2. Denah Pengambilan Sampel

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Kubis bunga merupakan salah satu komoditi sayuran yang banyak dikonsumsi di

Indonesia. Selain untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, kubis bunga juga dipasarkan secara meluas keluar negeri antara lain Jepang, Singapura, Malaysia dan Taiwan. Bahkan kubis bunga telah menduduki jajaran kelompok enam besar sayuran segar yang menjadi andalan komoditi ekspor Indonesia ke beberapa negara (Cahyono, 2001). Produksi kubis bunga di Indonesia masih terkendala oleh beberapa permasalahan. Harga jual yang tidak stabil serta gangguan dari hama dan penyakit merupakan kendala terpenting dalam budidaya kubis bunga ini. Beberap hama penting tanaman kubis ini,yaitu ulat daun plutella xylostela, ulat tanah, Agrotis ipsilon, ulat grayak Spodoptera litura, dan ulat krop Crocidolomia pavonata (Tindal, 1983). Sedangkan penyakit yang umum menyerang tanaman kubis bunga adalah penyakit mati bujang Phytium ultimum, busuk daun Xanthomonas campetris dan busukpangkal batang Rhizoctonia solani (Ashari, 1995) Pemanasan global menyebabkan peningkatan intensitas kejadian iklim ekstrim (El-Nino dan La-Nina) dan ketidak teraturan musim, Selama 30 tahun terakhir terjadi peningkatan suhu global secara cepat dan konsisten sebesar 0,2oC per dekade, Sepuluh tahun terpanas terjadi pada periode setelah tahun 1990, Pertanian merupakan salah satu sektor yang sangat rentan terhadap perubahan iklim yang berdampak pada produktivitas tanaman dan pendapatan petani (Mosip, 2009). Peningkatan kejadian iklim ekstrim yang ditandai dengan fenomena banjir dan kekeringan, perubahan pola curah hujan yang berdampak pada pergeseran musim dan pola tanam, fluktuasi suhu dan kelembaban udara yang semakin meningkat yang mampu menstimulasi pertumbuhan dan perkembangan organisme pengganggu tanaman yang merupakan beberapa pengaruh perubahan iklim yang berdampak buruk terhadap pertanian di Indonesia(Mosip, 2009). .

Namun demikian, disentra tanaman sayur rejang lebong Bengkulu, diketahui terjadi kerusakan kubis bunga yang cukup parah kibat serangan siput. Populasi siput ditemukan lebih tinggi pada tanaman tua daripada tanaman muda. Sehingga bagi petani setempat siput merupakan hama utama pada tanaman kubis bunga (Apriyanto,2003). Siput juga dilaporkan banyak ditemukan di pegunungan tengger menyerang pertanaman syur-sayuran dan menimbulkan kerusakan pada tanaman muda. Di Jawa Tengah siput juga menyebabkan kerusakan pada persemaian milik rakyat seluas 1,5 ha (Rahayu dkk, 2000). Hasil pengamatan di lapangan dan wawancara petani sayuran yang dilkukan di areal perkebunan Cikole, diperoleh bahwa terjadi serangan yang diakibatkan oleh siput semak Bradybaena similaris. Siput semak banyak ditemukan pada tanaman kubis dan kubis bunga. Bahkan petani setempat menyatakan siput semak merusak krop kubis bunga sehingga menurunkan harga jual. Dewasa ini untuk melindungi tanaman usahataninya dari serangan hama dan penyakit, sebagian besar petani tanaman pangan masih mengandalkan penggunaan pestisida kimia yang dapat diperoleh dengan mudah di pasaran. Sejak digulirkannya kebijakan deregulasi di bidang pendaftaran pestisida pada tahun 2001, dimana jumlah dan jenis pestisida yang beredar di pasaran semakin meningkat. Sampai tahun 2010 Jumlah pestisida yang terdaftar untuk pertanian mencapai 2.628 formulasi sedangkanpestisida terdaftar untuk tanaman pangan sebanyak 1.872(Kementan, 2011) Adapun pestisida yang ada dipasaran berdasarkan buku pedoman umum skrining pestisida 2010, hanya ada satu macam pestisida yang biasa digunakan untuk menanggulangi siput diarel tanaman holtikultura. Maka di cobalah pemakaian pestisida berbahan aktif Fentin asetat 60% dengan merk dagang Betsnoid 60 WP yang biasa digunakan di areal kolam dan tambak untuk menanggulangi serangan serangan hama siput semak pada tanaman kubis bunga. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bawa keberadaan Bradybaena similaris perussac pada tanaman kubis bunga ini cukup merugikan, namun informasi dan pengendalian Bradybaena similaris ini belum ada. Oleh karena itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui pengaruh populsi Bradybaena similaris perussac dan umur tanaman terhadap kerusakan dan produksi kubis bunga.

1.2

Identifikasi Masalah 1. Apakah moluskisida fentin asetat 60% berpengaruh dalam menekan populasi siput semak dan kerusakan yang diakibatkan siput semak terhadap tanaman kubis bunga. 2. Berapakah konsentrasi dosis yang tepat moluskisida fentin asetat 60% dalam menekan populasi siput semak dan kerusakan yang diakibatkan siput semak terhadap tanaman kubis bunga

1.3

Maksud dan Tujuan Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian

moluskisida betsnoid 60 wp (fentin asetat 60%) dalam meningkatkan hasil panen kubis bunga. Adapun tujuannya adalah untuk mendapatkan konsentrasi yang terbaik moluskisida fentin asetat 60% dalam menekan populasi siput semak, kerusakan yang diakibatkan siput semak, dan untuk meningkatkan hasil panen kubis bunga. 1.4 Kegunaan Penelitian Kegunaan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai konsetrasi pemakaian moluskisida fentin asetat 60% terhadap tanaman kubis bunga yang terserang hama siput semak sehingga dapat meningkatkan kualitas hasil panen kubis bunga. 1.5 Kerangka Pemikiran Organisme Penganggu Tanaman (OPT) merupakan faktor pembatas produksi tanaman di Indonesia baik tanaman pangan, hortikultura maupun perkebunan. Organisme pengganggu tanaman secara garis besar dibagi menjadi tiga yaitu hama, penyakit dan gulma. Hama menimbulkan gangguan tanaman secara fisik, dapat disebabkan oleh serangga, tungau, vertebrata, moluska ( Wiyono, 2007 ). Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) khususnya hama dan penyakit merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan tanaman kubis kubisan di Indonesia. Kehilangan hasil akibat serangan hama., dapat mencapai 100% bila tidak terkendali. (Rukmana, 1994). Hama seperti mahluk hidup lainnya. Perkembangannya dipengaruhi oleh faktor faktor iklim baik langsung maupun tidak langsung. Temperatur, kelembaban udara

relatif dan foroperiodisitas berpengaruh langsung terhadap siklus hidup, keperidian, lama hidup, serta kemampuan diapause serangga (Wiyono, 2007 ). Beberapa jenis siput merupakan hama bagi tanaman pertanian dan sebagian merupakan hama utama, seperti siput raksasa dari Afrika yaitu Achatina fulica, belicong Lamallaxis gracilis, siput kerucut pendek Bradybaena similaris dan lain sebagainya. Mereka menghancurkan tumbuh-tumbuhan yang daunnya yang perlu dipanen secara utuh, sayur-sayuran dan tanaman hias (Finando, 2009) Tanaman sayuran yang banyak diserang hama siput adalah (kubis, bunga kol dan sawi) cabe merah, tomat, wortel dan bawang daun. Petani sayur telah melakukan pengendalian secara manual dengan mengumpulkannya pada malam hari (saat siput aktif mencari makan) atau pada siang hari (saat siput istirahat dibawah serasah, gulma, atau bongkahan tanah). Pengendalian secara kimia jarang dilakukan karena mahal dan dianggap tidak epektif (Apriyanto dan Toha, 2003) Di Houston Siput semak mengkonsumsi berbagai tanaman kebun yang luas, sehingga terjadi gangguan pada tanamam hortikultura, banyak ter jadi kerusakan pada bunga dan vegetasi, yang ditandai dengan daun lecet-lecet dan berlubang (Anton, 2010) Pestisida sering digunakan sebagai pilihan utama untuk memberantas organisme pengganggu tanaman. Sebab, pestisida mempunyai daya bunuh yang tinggi, penggunaannya mudah, dan hasilnya cepat untuk diketahui. Namun bila diaplikasikan kurang bijaksana dapat membawa dampak pada pengguna, hama sasaran, maupun lingkungan yang sangat berbahaya (Surbakti, 2008). Siput merupakan binatang yang dapat mengeluarkan lendir dan mempunyai kebiasaaan hidup bersembunyai di tempat teduh pada siang hari. Pada malam hari moluska akan mencari makanan tanaman yang sudah membusuk ataupun yang masih hidup. Berbagai jenis tanaman diserangnya , merusak persemaiaan dan tanaman yang baru tumbuh. Dalam perjalanannya meningglkan jejak berupa lender yang mengkilat. Karena sulit ditemukan disiang hari, maka pengendaliannya biasanya dengan moluskisida yang berupa umpan beracun. (Laras, 2011) Semakin tinggi jumlah siput pada fase generatif mengakibatkan produksi kubis bunga menurun (Maryani Dkk, 2011)

Pemberian Ventin asetat sebanyak 0,2 sampai 0,9 kg/ha epektif membunuh siput di areal persemaian padi (Pablico and Moody, 2003) 1.6 Hipotesis 1. Pemberian moluskisida fentin asetat 60% berpengaruh dalam menekan

populasi siput semak dan kerusakan yang diakibatkan siput semak terhadap tanaman kubis bunga. 2. Terdapat Konsentrasi moluskisida fentin asetat 60% yang tepat dalam menekan populasi siput semak dan kerusakan yang diakibatkan siput semak. 1.7 Metodologi Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor, yaitu Fentin Asetat 60 % dengan 5 taraf, 0, 1, 2, 3, 4 gr/l. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali, adapun parameter yang diamati adalah kerusakan tanaman, populasi siput semak dan bobot hasil panen tanaman kubis bunga. Tabel 1.1 Tabel Perlakuan No Macam Perlakuan 1 Fentin Asetat 2 Fentin Asetat 3 Fentin Asetat 4 Fentin Asetat 5 Kontrol

Konsentrasi Formulasi 1 g/l 2 g/l 3g/l 4 g/l -

Data yang terkumpul diuji melalui sidik ragam, apabila ada terjadi perbedaan yang nyata, maka penghitungan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan. 1.8 Lokasi dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan dikebun percobaan Balai Penelitian Tanaman Sayuran Cikole. Sedangkan waktu percobaan dimulai pada bulan april 2011.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Sejarah Perkembangan Kubis Bunga Kubis bunga diduga berasal dari Eropa, pertama kali ditemukan di Cyprus Italia

Selatan dan Mediterania. Beberapa spesies kubis bunga telah tumbuh di Mediterania selama lebih dari 2000 tahun, dan selama beberapa ratus tahun terakhir banyak terjadi perbaikan warna maupun ukuran bunga terutama di Denmark. Sekitar tahun 1660, di Erfurt (Jerman) ditemukan sejenis kubis bunga kuno yang yang disebut Erfurt. Kubis ini ukurannya sama dengan yang ditemukan di Mediterania,yaitu berdaun kecil, pendek,massa bunga kecil dan berdaun hijau. Disamping itu ditemukan kubis bunga berbunga kecil kecil yang sejak lama tumbuh di India (Rukmana, 1994). Pada tahun 1866, Mc. Mahon seorang ahli benih dari Amerika mencatat bahwa jenis-jenis kubis bunga sangat beragam; ada yang massa bunganya warna ungu, putih, hijau dan merah kehitam-hitaman. Sejak saat itulah berkembang adanya kubis bunga putih, hijau dan ungu, yang kemudian menyebar luas keseluruh dunia, terutama negaranegara yang telah dikenal daerah pertaniannya. Mengenai masuknya kubis bunga ke Indonesia tidak terdapat keterangan yang pasti, diduga terjadi pada abad XIX, yang varietasnya berasal dari India. (Rukmana, 1994) 2.1.1 Klasifikasi dan Morfologi Kubis Bunga Menurut Rukmana (1994) taksonomi tanaman kubis bunga diklasifikasikan sebagai berikut: Divisi Kelas Famili Genus Spesies : Magnoliophyita : Magnoliopsida : Cruciferae : Brassica : Brassica oleracea Var. botrytis L. Kubis bunga termasuk tanaman yang mempunyai batang agak pendek, daunnya berbentuk bujur telur atau panjang dan bergerigi , tangkai bunga dan pangkal menebal, serta menghasilkan massa bunga yang berwarna putih dan lunak. Daun kubis bunga umumnya lebih panjang dan lebih sempit disbanding kubis krop. Daun-daun yang

tumbuh sebelum terbentuk massa bunga, umumnya berukuran kecil dan melengkung untuk melindungi bunga (Rukmana, 1994) 1. Akar Sistem perakaran kubis bunga memiliki akar tunggang (Radix Primaria) dan akar serabut. Akar tunggang tumbuh ke pusat bumi (kearah dalam), sedangkan akar serabut tumbuh ke arah samping (horizontal), menyebar, dan dangkal (20 cm 30 cm). Dengan perakaran yang dangkal tersebut, tanaman akan dapat tumbuh dengan baik apabila ditanam pada tanah yang gembur dan porous (

Cahyono, 2001). 2. Batang Batang tanaman kubis bunga tumbuh tegak dan pendek (sekitar 30 cm). Batang tersebut berwarna hijau, tebal, dan lunak namun cukup kuat dan batang tanaman ini tidak bercabang. 3. Daun Daun kubis bunga berbentuk bulat telur (oval) dengan bagian tepi daun bergerigi, agak panjang seperti daun tembakau dan membentuk celah - celah yangbmenyirip agak melengkung ke dalam (Cahyono, 2001). Daun tersebut berwarna hijau dan tumbuh berselang - seling pada batang tanaman. Daun memiliki tangkai yang agak panjang dengan pangkal daun yang menebal dan lunak. Daun - daun yang tumbuh pada pucuk batang sebelum massa bunga tersebut berukuran kecil dan melengkung ke dalam melindungi bunga yang sedang atau mulai tumbuh (Sugeng, 1981). 4. Bunga Massa bunga (curd) terdiri dari bakal bunga yang belum mekar, tersusun atas lebih dari 5.000 kuntum bunga dengan tangkai pendek, sehingga tampak membulat padat dan tebal berwarna putih bersih atau putih kekuning-kuningan. Diameter massa bunga kubis bunga dapat mencapai lebih dari 20 cm, tergantung varietas dan kecocokan tempat bertanam. Pada kondisi lingkungan yang sesuai, massa bunga kubis bunga dapat tumbuh memanjang menjadi tangkai bunga yang penuh dengan kuntum bunga. Tiap bunga terdiri atas empat helai daun kelopak (calyx) (Rukmana, 1994). 5.Buah dan biji

Biji kubis bunga mempunyai bentuk dan warna yang hampir sama, yaitu bulat kecil yang berwarna coklat sampai kehitam-hitaman. Biji-biji tersebut dihasilkan melalui penyerbukan sendiri ataupun silang dengan bantuan serangga lebah madu. Buah yang terbentuk seperti polong-polongan, tetapi ukurannya kecil, ramping dan panjangnya 3-5 cm (Rukmana,1994). 2.1.2 1. Iklim Kubis bunga dikenal sebagai tanaman sayuran daerah yang beriklim dingin (sub tropis), sehingga di Indonesia cocok ditanam di daerah dataran tinggi antara 1000 2000 meter dari atas permukaan laut (dpl) yang suhu udaranya dingin dan lembab. Kisaran temperatur optimum untuk pertumbuhan dan produksi sayuran ini antara 150 C 180 C, dan maksimum 240 C (Rukmana, 1994). Kubis bunga termasuk tanaman yang sangat peka terhadap temperatur terlalu rendah ataupun terlalu tinggi, terutama pada periode pembentukan bunga. Bila temperatur terlalu rendah, sering mengakibatkan terjadinya pembentukan bunga sebelum waktunya. Sebaliknya pada temperatur yang terlalu tinggi, dapat menyebabkan tumbuhnya daun - daun kecil pada massa bunga (curd) (Pracaya, 2000). 2. Tanah Tanaman kubis bunga cocok ditanam pada tanah lempung berpasir, tetapi toleran terhadap tanah ringan seperti andosol. Namun syarat yang paling penting keadaan tanahnya harus subur, gembur dan mengandung banyak bahan organik. Tanah tidak boleh kekurangan magnesium (Mg), molibdenum (Mo) dan Boron (Bo) kacuali jika ketiga unsur hara mikro tersebut ditambahkan dari pupuk, kisaran pH antara 5,5 6,5 dengan pengairan dan drainase yang memadai. Syarat Tumbuh

3. Ketinggian Tempat

Di Indonesia, sebenarnya kubis bunga hanya cocok dibudidayakan di daerah pegunungan berudara sejuk sampai dingin pada ketinggian 1.000-2.000 m dpl. 2. 2 Siput Semak Siput semak Bradybaena similaris (Feussac), umumnya dikenal sebagai trampsnail Asia, merupakan siput tanah asli Asia yang diperkenalkan ke daerah lain di dunia melalui perdagangan pada tanaman. Di Brazil, populasi spesies ini dengan baik dibudidayakan dan didistribusikan dari negara bagian Amap di utara ke Rio Grande do Sul di selatan (Camilla et all., 2008). Kehidupan Bradybaena similaris dicirikan oleh kombinasi hidup yang pendek, kematangan seksual dini dan beberapa peristiwa reproduksi, dengan upaya reproduksi tinggi di setiap peristiwa dan kematian yang tinggi setelah reproduksi

pertama. Berdasarkan hal tersebut dikarenakan adanya hubungan antara pertumbuhan, reproduksi dan umur panjang pola Bradybaena similaris. Hubungan ini disebabkan alokasi perbedaan energi antara pertumbuhan somatik, rumah ostasis dan aktivitas reproduksi yang menentukan sejarah pola hidup yang cenderung r-strategi (Camilla et all., 2008). Adapun klasifikasi dari siput semak adalah: Filum Kelas Ordo Family Genus Spesies : Mollusca : Gastropoda : eupulmonata : Bradybaeninae : Bradybaena : Bradybaena similaris

Gambar 2.1 Gambar Siput Semak

2.2.1 Morfologi

Bentuk tubuhnya ramping dan terdapat bintik-bintik seperti kutil, warnanya coklat putih, atau pucat berdaging, baris pedal sangat sedikit ditunjukkan dengan alur, pedikel dan tentakel yang kelabu putih, cangkang kusam putih susu dengan sedikit warna merah terang. Ketika hewan ini cukup segar total panjang kaki sama untuk membentuk dua setengah sampai tiga diameter lebih lama dari kerang " (Stoliczka, 1873). 2.2.2 Fisiologi Rahang Bradybaena similaris sekitar 1 mm, dengan tiga tulang rusuk pusat yang kuat, diikuti dengan satu atau lebih luas di kedua sisinya, sedangkan berikutnya hanya ditunjukkan dengan garis samar gelap. Radula ini bila dibandingkan dengan ukuran hewan besar, sekitar 2,3 mm, dan luasnya lebih dari satu mm; itu terdiri dari sekitar 90 baris melintang, dengan 67 gigi di masing-masing dari mereka. Pusat jauh lebih kecil dari lateral yang berdampingan, dengan titik puncak melengkung panjang. Para lateral agak cepat menurun dalam ukuran setelah 14 lempeng basal terluar secara bertahap menghilang, sementara luasnya melebihi panjang gigi

mereka "(Stoliczka, 1873) 2.3 Pestisida Pestisida berasal dari kata pest yang berarti hama dan cide yang berarti mematikan/racun. Jadi pestisida adalah racun hama. Secara umum pestisida dapat didefenisikan sebagai bahan yang digunakan untuk mengendalikan populasi jasad yang dianggap sebagai pest (hama) yang secara langsung maupun tidak langsung merugikan kepentingan manusia. Menurut Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1973 tentang pengawasan atas peredaran, penyimpanan dan penggunaan pestisida, pestisida adalah semua zat kimia dan bahan lain serta jasad renik dan virus yang dipergunakan untuk : 1. Memberantas atau mencegah hama-hama dan penyakit-penyakit yangmerusak tanaman, bagian-bagian tanaman atau hasil-hasil pertanian 2. Memberantas rerumputan 3. Mematikan daun dan mencegah pertumbuhan yang tidak diinginkan 4. Mengatur atau merangsang pertumbuhan tanaman atau bagian-bagiantanaman tidak termasuk pupuk

5. Memberantas atau mencegah hama-hama luar pada hewan-hewan piaraan atauternak 6. Memberantas atau mencegah hama-hama air 7. Memberantas atau mencegah binatang-binatang dan jasad-jasad renik

dalamrumah tangga, bangunan dan dalam alat-alat pengangkutan. 8. Memberantas atau mencegah binatang-binatang yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia atau binatang yang perlu dilindungi denganpenggunaan pada tanaman, tanah atau air 9. Pestisida mempunyai sifat-sifat fisik, kimia dan daya kerja yang berbedabeda,karena itu dikenal banyak macam petisida. Pestisida dapat digolongkan menurut berbagai cara tergantung pada

kepentingannya, antara lain: berdasarkan sasaran yang akan dikendalikan, berdasarkan cara kerja, berdasarkan struktur kimianya dan berdasarkan bentuknya. Penggolongan pestisida berdasarkan sasaran yang akan dikendalikan yaitu (Wudianto, 2001). Insektisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang bias mematikan semua jenis serangga. 1. Fungisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun dan bias digunakan untuk memberantas dan mencegah fungi/cendawan. 2. Bakterisida. Disebut bakterisida karena senyawa ini mengandung bahan aktif beracun yang bisa membunuh bakteri. 3. Nematisida, digunakan untuk mengendalikan nematoda/cacing. 4. Akarisida atau sering juga disebut dengan mitisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk membunuh tungau, caplak, dan laba-laba. 5. Rodentisida adalah bahan yang mengandung senyawa kimia beracun yang digunakan untuk mematikan berbagai jenis binatang pengerat, misalnya tikus. 6. Moluskisida adalah pestisida untuk membunuh moluska, yaitu siput telanjang, siput setengah telanjang, sumpil, bekicot, serta trisipan yang banyak terdapat di tambak. 7. Herbisida adalah bahan senyawa beracun yang dapat dimanfaatkan untuk membunuh tumbuhan pengganggu yang disebut gulma.

Sedangkan jika dilihat dari cara kerja pestisida tersebut dalam membunuh hama dapat dibedakan lagi menjadi tiga golongan, yaitu (Ekha, 1988): 1. Racun perut Pestisida yang termasuk golongan ini pada umumnya dipakai untuk membasmi serangga-serangga pengunyah, penjilat dan penggigit. Daya bunuhnya melalui perut. 2. Racun kontak Pestisida jenis racun kontak, membunuh hewan sasaran dengan masuk ke dalam tubuh melalui kulit, menembus saluran darah, atau dengan melalui saluran nafas. 3. Racun gas Jenis racun yang disebut juga fumigant ini digunakan terbatas pada ruanganruangan tertutup. 2.4 Fentin Asetat : fentin asetat. : triphenyltin asetat. : 409 : C 20 H 18 O 2 Sn

Nama umum Nama Kimia Berat Molekul Rumus Molekul

Menurut Pablico and Moody (1991) Fentin asetat adalah senyawa organotin yang berbentuk kristal padat putih digunakan sebagai fungisida, bakterisida, pengawet kayu, Fungisida, industri; Herbisida, atraktan serangga, nyamuk dan Moluskisida. Adapun sifat fisik Fentin Asetat adalah: H-Bond Donor: 0, H-Bond Penerima: 2, Obligasi Hitung rotatable: 5, Titik lebur: 118-122 C, Kepadatan: 1,55 g / cm3, Penyimpanan Temp: Approx 4 C, Kelarutan air: 28 mg / L (20 C. (Pablico and Moody, 1991).

Gambar 2.2 Gambar Struktur Rumus Ventin Asetat

Struktur rumus: 2.5 Bestnoid 60 WP Bestnod 60 WP adalah moluskisida yang berbahan aktif fentin asetat 60% yang diproduksi oleh PT. Dharma Guna Wibawa dengan nomor pendaftaran: RI.3102/32008/T. Bestnod 60 WP merupakan moluskisida racun lambung berbentuk tepung yang dapat disuspensikan berwarna putih. Moluskisida tersebut untuk mengendalikan siput trisipan pada budidaya udang dan ikan bandeng ditambak. Gambar 2.3 Gambar Bestnoid 60 WP

BAB III BAHAN DAN METODE 3.1 Alat dan Bahan

3.1.1 Alat Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah: cangkul, selang penyiraman, ember kecil,ember besar, meteran, ajir bambu, cat, mulsa plastic, penyemprot

punggung semi otomatis, gelas ukur, pisau, timbangan mini, neraca analitik, kantong plastik, alat tulis, buku. 3.1.2 Bahan Bahan bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah: bibit kubis bunga yang telah disemaikan, moluskisida Fentin Asetat 60% dengan merk dagang Bestnoid 60 WP, pupuk kotoran ayam, pupuk mas hitam, pupuk NPK Ponska, pupuk organik sidomuncul, Pestisida untuk membasmi ulat. 3.2 Metode Penelitian Penelitian dilakukan secara eksperimental dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok satu faktor, yaitu Fentin Asetat 60 % dengan 5 taraf, 0, 1, 2, 3, 4 gr/l. Masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali, adapun parameter yang diamati adalah kerusakan tanaman, populasi siput semak dan bobot hasil panen tanaman kubis bunga. Tabel 3.1 . Tabel Perlakuan No 1 2 3 4 5 Macam Perlakuan Fentin Asetat Fentin Asetat Fentin Asetat Fentin Asetat Kontrol Konsentrasi Formulasi 1 g/l 2 g/l 3g/l 4 g/l -

Data yang terkumpul diuji melalui sidik ragam, apabila ada terjadi perbedaan yang nyata, maka penghitungan dilanjutkan dengan uji jarak Duncan.

3.3 3.3.1

Cara Kerja Persemaian Persemaian dilakukan di bumbung yang terbuat dari daun pisang dengan ukuran

diameter dan tinggi 5 cm dan tinggi 5 cm. Media penyemaian adalah campuran tanah halus dengan pupuk kandang (2:1) sebanyak 90%. 3.3.2 Pembentukan Bedengan dan pemasangan Mulsa. Lahan dibersihkan dari tanaman liar dan sisa-sisa akar, dicangkul sedalam 40-50 cm, lalu dibuat bedengan selebar 90 cm panjang 480 cm, tinggi 35 cm dengan jarak antar bedengan 40 cm. Setelah bedengan terbentuk, di berikan pupuk dasar yang terdiri dari pupuk kandang sebanyak 100 karung, dan NPK Ponska 100 kg. bedengan yang telah diberikan pupuk dasar, ditutup dengan menggunakan mulsa plastik 3.3.3 Penanaman Bibit di dalam bumbung daun pisang ditanam langsung tanpa membuang bumbungnya ke dalam lubang tanam yang telah disediakan dengan jarak tanam 40 x 50 cm. Penanaman tersebut dilakukan dengan terlebih dahulu menyiram bedengan melalui lubang-lubang tanam yang telah dibuat pada mulsa plastik. 3.3.4 Pemeliharaan

3.3.4.1 Penyulaman Penyulaman dilakukan Jika ada tanaman yang rusak atau mati. Adapun batas waktu penyulaman sdilakukan sebelum tanaman berumur kira-kira 2 minggu 3.3.4.2 Penyiangan Penyiangan pada parit-parit bedengan dilakukan pada saat populasi rumput sekitar parit telah tumbuh tinggi, sedangkan penyiangan disekitar areal tanaman, penyiangan dilakukan sebelum pemupukan, dan bila ditemukan populasi rumput yang dapat mengganggu laju pertumbuhan tanaman. Penyiangan tersebut dilakukan dengan pencabutan rumput secara langsung, ataupun dengan menggunakan cangkul.

3.3.4.3 Pemupukan Pemupukan pada kubis bunga diberikan dengan cara pengecoran kedaerah sekitar tanaman pada saat tanaman telah berumur 20 hari setelah tanam dengan pemberian pupuk mas hitam sebanyak 5 Kg yang dilarutkan dengan air sebanyak 200 liter. Pupuk susulan diberikan 2 minggu setelah pemupukan pertama dengan pemberian pupuk pupuk organic cair herbafarm, dan pemberian pupuk organic cair diulang setiap 2 minggu sekali. 3.3.4.4 Penyiraman Pada fase pertumbuhan awal apabila tidak terjadi hujan Penyiraman dilakukan setiap hari, sedangkan apabila tanaman sudah dewasa penyiraman dilakukan dengan melihat kondisi tanah dibedengan. Waktu penyiraman diberikan pada pukul 01.00 atau 02.00. 3.3.5 Pengendalian Hama Penyakit Hama utama tanaman kubis bunga adalah ulat, adapun pengendaliannya adalah dengan membunuh langsung ulat yang berada di daun, dan dilakukan pemetikan

terhadap daun yang diidentifikasi banyak ulat dan telur-telur ulat. Pemberian aplikasi pestisida dilakukan apabila serangan hama telah melewati batas ambang ekonomi. 3.4 Pengamatan Jumlah tanaman contoh yang diamati adalah 10 tanaman per petak perlakuan, adapun metode pengambilan contoh dilakukan secara sistematis dengan bentuk U (Ushape). a. Dihitung tingkat populasi siput pertanaman contoh b. Kerusakan tanaman oleh serangan siput diamati dengan jalan menaksir nilai scoring kerusakan tanaman dari tiap tanaman contoh, kemudian kerusakannya dihitung dengan menggunakan rumus menurut Abbot (Ciba- Geigy 1981) n.v P= Z.N X 100

P, Adalah intensitas kerusakan tanaman (%) N, Adalah jumlah tanaman yang memiliki skoring yang sama V, Adalah nilai scoring yang menunjukan nilai kerusakan tanaman, yaitu 0= > Tanaman sehat (tidak ada serangan) 1= > 0 - 20 % bagian daun terserang 3= > 20 - 40 bagian daun terserang 5= > 40 - 60% bagian daun terserang 7= > 60 - 80% bagian daun terserang 9= > 80 - 100% bagian daun terserang Z, Adalah scoring kerusakan tanaman tertinggi. N, Adalah jumlah tanaman yang diamati (Sastrosiswojo dkk, 1993) c. Pengamatan pendahuluan pada tanaman kubis bunga dilakukan pada umur 13 hari setelah tanam dengan interval satu minggu, sampai ditemukan populasi atau gejala serangan yang diakibatkan oleh siput. d. Pengamatan selanjutnya dilakukan pada satu hari sebelum dan tiga hari setelah penyemprotan, masing-masing diulang setiap minggu. e. Diamati gejala fotoksisitas tanaman yang disebabkan oleh perlakuan

moluskisida yang diuji f. Ditimbang bobot hasil panen bersih tiap petak perlakuan. Tingkat efikasi moluskisida yang diuji terhadap hasil panen dihitung dengan menggunakan rumus menurut Abbot (Ciba- Geigy 1981)

Hp - Hk EP = Hk = X 100%

EP : tingkat efikasi moluskisida yang diuji terhadap hasil panen (%) HP: hasil panen pada petak perlakuan yang disemprot dengan moluskisida Hk: Hasil panen pada petak control (Sastrosiswojo dkk, 1993) 3.5 Analisis Data Model analisis ragam yang digunakan pada percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 1 Faktor. Model linier yang digunakan adalah : Yij = + i+ j + ij Dimana : Yij i j ij = nilai pengamatan perlakuan ke-i dalam kelompok ke-j = Nilai Tengah Populasi = Pengaruh aditif perlakuan ke-i = Pengaruh aditif dari kelompok ke-j = pengaruh galat percobaan dari perlakuan ke-i pada kelompok ke-j. Dari model linier diatas dapat disusun daftar analisis ragam seperti tabel 3.2 berikut: Tabel 3.2 Tabel Analisis Ragam Sumber Ragam Kelompok Perlakuan Galat Total DB r-1 t -1 (r-1)(t-1) rt - 1 JK JKK JKP JKG JKT KT Fh KTK KTP/KTG KTP KTG -

Untuk melihat perbedaan dua rata-rata antara perlakuan, dilakukan dengan menggunakan Uji Jarak Berganda Duncan pada taraf nyata 5 % dengan rumus sebagai berikut : LSR ( , dbG, p ) = SSR ( , dbG, p ) Sx

Galat Baku Standar Uji Jarak Berganda Duncan : Sx = r Keterangan : LSR SSR dbG = Least Significant Ranges = Studentized Significant Ranges = Taraf nyata 5 % = Derajat Bebas Galat KTG

KTG = Kuadrat Tengah Galat r Sx = Ulangan = Galat Baku

DAFTAR PUSTAKA

Ashari, S. 1995. Hortikultura Aspek Budidaya. UI Press. Jakarta. Anton. M, 2010, Asia Tramp Siput, Bradybaena similaris (Frussac, 1821), Artikel Molluskman.com, Diunduh 1 Agustus 2011. Apriyanto, D. 2003. Konsoidensi 2 Spesies Respo di Sentra Produksi Sayur Rejang Lebong, Bengkulu. Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 5 (1):711. Apriyanto, D., Toha.B, 2003. Ledakan Popopulasi Jenis Respo, Filicaulis Bleekeri Tanaman Indonesia. 9 (1):1621. Cahyono, B. 2001. Kubis Bunga dan Brocolli. Penerbit Kanisius. Yogyakarta. Camilla, M. C., Elisabeth. C.A.B, Sthefane. D., 2008, Life History Strategy Of Bradybaena Similaris (Frussac, 1821), Mollusca, Pulmonata, Bradybaenidae, Molluscan Research, 28(3): 171174 Ekha. I., 1988. Dilema Pestisida Tragedi Revolusi Hijau . Kanisius. Yogyakarta. Kementan, 2011. Pedoman Umum Skrining Pestisida. Direktorat Jendral Prasarana dan Sarana Diroktorat Pupuk Dan Pestisida Laras.P, 2011, Moluskisida. Blog pertanian ,http://www.pupukcair.co.cc/2010 /11/ moluskisida.html. Diunduh 20 Mei 2011 Mosip. E., 2009. Dampak Perubahan Iklim Terhadap Serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) Serta Strategi Antisipasi Dan Adaptasi Dalam Upaya Meningkatkan Produksi Pertanian. Artikel .Fakultas Pertanian Jember. Pablico.P., Moody. K, 1991, Effect Of Fentin Acetate On Wet-Seeded Rice, Pistia Stratiotes and Azolla pinnata, Crop protection, Pages 45-47 Pracaya, 2000. Kol alias kubis. Penebar swadaya. Jakarta. Rukmana, R. 1994. Budidaya Kubis Bunga dan Broccoli. Kanisius. Yogyakarta. Rahayu, B., S. Indarti & T. Harjaka. 2000. Beberapa Catatan Mengenai Hama Baru : Penggulung Daun Teh Siput Tanpa Cangkang, Parmarion pupillaris. Jurnal Perlindungan Tanaman. 6(1):6164. Sugeng, 1981. Bercocok tanam sayuran. Aneka ilmu. Semarang. di

Sentra Produksi Sayur Rejang Lebong, Bengkulu. Jurnal Perlindungan

Stolicka, F. (1873). Pada Kerang Tanah Pulau Penang, Dengan Deskripsi Dari Hewan Dan Anatomi Catatan; Bagian Kedua, Helicacea. Journal of Asiatic Society of Bengal. 42, 11-38 Sastrosiswojo S. 1996. Sistem pengendalian hama terpadu dalam menunjang agribisnis sayuran. Di dalam Duriat AS et al. Editor. Prosiding Seminar Nasional Komoditas Sayuran. Balitsa Bekerjasama dengan PFI Komda Bandung dan CIBA Plant Protection Wiyono. S., 2007, Perubahan Iklim Dan Ledakan Hama dan Penyakit Tanaman, Seminar sehari tentang keanekaragaman hayati ditengah perubahan iklim, Kehati, Jakarta Wudianto. R., 2001. Petunjuk dan penggunaan pestisida, Penebar Swadaya Jakarta