Anda di halaman 1dari 21

BAB I LAPORAN KASUS

A. IDENTITAS PASIEN Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Pekerjaan Status Menikah Tanggal masuk poli : Tn. H : 74 tahun : Laki - Laki : Magelang . : PNS Golongan II : Menikah : 29 Mei 2013

B. ANAMNESIS Keluhan Utama Pandangan mata kanan kabur

Riwayat Penyakit Sekarang Pandangan mata kanan dikeluhkan kabur perlahan di rasa sejak setahun yang lalu. Pasien merasa penglihatan mata kanan semakin buruk terutama setelah mata kiri operasi katarak yaitu kurang lebih sebulan yang lalu. Pasien mengeluhkan adanya mata berair, mata terasa gatal, namun keluhan iritasi pada mata dan mata merah disangkal. Nyeri pada mata, cekot-cekot ,mual/muntah, dan melihat pelangi (halo) di sekitar lampu disangkal oleh pasien. Pandangan yang menyempit dan tersandung jika berjalan juga disangkal oleh pasien. Mata kiri tidak ada keluhan. Penglihatanya masih samar-samat namun lebih baik dari sebelum operasi.

Riwayat Penyakit Dahulu o Pasien mengatakan penglihatan kurang jelas sejak kurang lebih setahun yang lalu, penglihatan seperti berkabut, yang semakin lama semakin berat. Sehingga pasien hanya mampu melihat benda seperti bayangan saja.

o Riwayat Hipertensi diakui oleh pasien, pasien tidak melakukan pengobatan. o Riwayat Diabetes Mellitus disangkal o Riwayat adanya trauma pada mata seperti mata terkena bahanbahan kimia, terbentur benda tumpul atau benda tajam disangkal

Riwayat Pengobatan o Riwayat alergi disangkal o Riwayat operasi katarak mata kiri o Riwayat mengkonsumsi obat-obat tertentu dalam waktu lama disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga o Tidak ada anggota keluarga yang mengalami hal serupa o Riwayat penyakit gula (DM) disangkal o Riwayat darah tinggi (hipertensi) disangkal

Riwayat Sosial Ekonomi Kesan ekonomi cukup

C. PEMERIKSAAN FISIK Status Umum Kesadaran Aktivitas Kooperatif Status gizi : Compos mentis : Normoaktif : Kooperatif : Baik

Vital Sign TD Nadi RR : 170/100 mmHg : 82 x/menit : 20 x/menit

Suhu : 36,50C

STATUS OPHTHALMICUS No Pemeriksaan Oculus Dexter Oculus Sinister

1 2 3

Visus Gerakan Bola Mata Suprasilia Palpebra Superior : - Edema - Hematom - Entropion - Ektropion - Silia - Ptosis Palpebra Inferior : - Edema - Hematom - Entropion - Ektropion - Silia Konjungtiva - Hiperemi - Injeksi konjungtiva - Injeksi siliar - Sekret Kornea - Kejernihan - Mengkilat - Edema - Lacrimasi - Infiltrat - Keratik presipitat - Ulkus - Sikatrik - Flouresin Test

1/~ nc Baik ke segala arah Normal

5/60 nc Baik ke segala arah Normal

Trikiasis ( - ) -

Trikiasis ( - ) -

Trikiasis ( - )

Trikiasis ( - )

+ + + Tidak dilakukan

+ + + Tidak dilakukan

pemeriksaan COA Iris 9 - Kripte - Edema - Sinekia Pupil Lensa Normal -

pemeriksaan

Kedalaman Hifema Hipopion Efek tyndall

Normal -

Normal -

Normal -

10

Bentuk diameter reflek pupil sinekia Isokoris kejernihan iris shadow Bentuk

Bulat 2mm + + Keruh Normal

Bulat 2mm + _ + Jernih Pseudofakia

11

12

Corpus vitreum - Kejernihan Retina - Fundus Refleks - Papil N II - Retina TIO

Sulit dinilai

Jernih

13

Sulit dinilai Sulit dinilai Sulit dinilai Normal

+ Suram Round, firm boundaries Eksudat (-) Normal

14

D. DIAGNOSA BANDING Oculus Dexter 1. OD Katarak insipien Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan kekeruhan telah menutupi seluruh lensa (+), iris shadow (-) dan COA normal 2. OD Katarak imatur Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan kekeruhan

pada seluruh lensa (+), dengan iris shadow (-) dan COA normal

3. OD Katarak matur Ditegakkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan seluruh lensa mengalami kekeruhan, selain itu didapatkan pula iris shadow (-) dan COA cukup. 4. OD Katarak hipermatur Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh (+) namun tidak bersifat masif, iris Shadow (-) dan COA normal 5. OD Katarak akibat terinduksi obat Disingkirkan karena dari hasil anamnesis tidak ditemukan adanya pengobatan tertentu yang dapat mengakibatkan kekeruhan lensa, seperti penggunaan kortikosteroid jangka panjang 6. OD Katarak komplikata Disingkirkan karena dari hasil anamnesis pasien tidak ada keturunan penyakit gula (DM) atau sedang mengalami sakit gula (DM) maupun riwayat penyakit mata lain. Selain itu pasien juga menyangkal adanya riwayat trauma mata.

Oculus Sinister 1. OS Pseudofakia Ditegakan karena pada pemeriksaan fisik didapatkan IOL (+) 2. OS Afakia Disingkirkan karena pada pemeriksaan fisik didapatkan adanya IOL

E. DIAGNOSA OD : Katarak Senilis Matur OS : Pseudofakia

F. TERAPI a. Medikamentosa i. Topikal : Cendo Lyteers ED BT.1 3dd.gtt.1 ODS

ii. Oral : Neurodex No. XX 1dd.tab.1 b. Operatif (Usulan) i. Konsul penyakit dalam untuk mengontrol tekanan darah ii. EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular) + Penanaman IOL (Intra Okular Lensa) OD

G. EDUKASI a. Menjelaskan bahwa visusnya berkurang disebabkan karena daya akomodasi mata yang melemah dan adanya kekeruhan pada lensa mata pasien b. Perlu melakukan operasi pada mata kanannya, karena kataraknya sudah matang. c. Menjelaskan bahwa obat-obatan yang diberikan hanya untuk mengurangi gejala-gejala yang ada tanpa membantu dalam perbaikan penglihatan kembali, untuk membantu dalam perbaikan penglihatan, cara yang dapat dilakukan adalah dengan operasi

H. PROGNOSA Prognosis Quo ad visam Quo ad sanam Quo ad functionam Quo ad vitam Quo ad kosmetikam Oculus Dexter Dubia ad Bonam Bonam Dubia ad Bonam Bonam Bonam Oculus Sinister Dubia ad Bonam Bonam Dubia ad Bonam Bonam Bonam

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ANATOMI LENSA Lensa adalah suatu struktur bikonveks, avaskuler, tak bewarna dan transparan. Pada orang dewasa, tebalnya sekitar 5 mm dan diameternya 9 mm dengan berat 255 mg. Lensa digantung oleh zonulla zinni, yang

menghubungkannya dengan korpus siliaris. Di sebelah anterior lensa terdapat humor aquos, di sebelah posteriornya terdapat corpus vitreous.

Permukaan posterior lensa lebih cembung daripada permukaan anterior. Bagian depan lensa ditutupi oleh kapsul anterior dan bagian belakang oleh kapsul posterior. Lensa terdiri dari : 1. Kapsul lensa Kapsul lensa adalah suatu membrane yang elastik dan transparan dengan kandungan kolagen tipe IV. Membrannya bersifat

semipermeabel (sedikit lebih permeable daripada dinding kapiler) sehingga air dan elektrolit dapat masuk. Kapsul membantu lensa untuk mendapatkan nutrisi dari humor aqueous kerna kapsul adalah satusatunya sel yang avaskuler. Kapsul lensa memiliki fungsi yaitu membentuk lensa saat akomodasi.

2. Epitel lensa Epitel lensa terletak di anterior lensa equator antara kapsul dan serat lensa. Epitel lensa dibagi atas zona- zona sebagai berikut : Zona sentral : stabil, jumlah sel menurun sesuai umur. Zona intermediet : sel sel kecil dgn proses mitosis yg jarang. Zona germinatif : mitosis sel serat lensa.

3. Korteks lensa Korteks : serat lensa yg terbentuk selanjutnya dan terletak di lapisan luar. 4. Nukleus lensa Nukleus : serat lensa yg terbentuk paling awal dan terletak sentral.

2.2. FISIOLOGI LENSA Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Kemampuan menyesuaikan kekuatan lensa sehingga baik sumber cahaya dekat atau jauh dapat difokuskan di retina (akomodasi)

Kekuatan lensa bergantung pada bentuknya, yang diatur oleh otot siliaris. Ketika otot siliaris melemas, lig.suspensorium tegang dan menarik lensa lensa berbentuk gepeng dengan kekuatan refraksi minimal. Ketika berkontraksi, garis tengah otot ini berkurang dan tegangan di lig.suspensorium mengendur lensa menjadi bentuk lebih sferis (bulat). Semakin besar kelengkungan lensa, semakin besar kekuatannya, sehingga berkas cahaya lebih dibelokkan. Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi, menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai ukurannya yang terkecil, daya refraksi lensa diperkecil sehingga berkas cahaya paralel atau terfokus ke retina.

Untuk memfokuskan cahaya dari benda dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. Kapsul lensa yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh peningkatan daya biasnya.

Metabolisme Lensa Transparansi lensa dipertahankan oleh keseimbangan air dan kation (sodium dan kalium). Kedua kation berasal dari humour aqueous dan vitreous. Kadar kalium di bagian anterior lensa lebih tinggi di bandingkan posterior. Kadar natrium di bagian posterior lebih besar. Ion K bergerak ke bagian posterior dan keluar ke aqueous humour, dari luar Ion Na masuk secara difusi dan bergerak ke bagian anterior untuk menggantikan ion K dan keluar melalui pompa aktif Na-K ATPase, sedangkan kadar kalsium tetap dipertahankan di dalam oleh Ca-ATPase Metabolisme lensa melalui glikolsis anaerob (95%) dan HMP-shunt (5%). Jalur HMP shunt menghasilkan NADPH untuk biosintesis asam lemak dan ribose, juga untuk aktivitas glutation reduktase dan aldose reduktase. Aldose reduktse adalah enzim yang merubah glukosa menjadi sorbitol, dan sorbitol dirubah menjadi fructose oleh enzim sorbitol dehidrogenase.

2.3

KATARAK

2.3.1 Definisi. Setiap keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat keduanya. Biasanya kekruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama (Ilyas, S. 2007).

10

2.3.2. Faktor Risiko Faktor individu Faktor individu yang mempengaruhi diantaranya ras, keturunan dan usia pasien Faktor lingkungan Bahan toksik dan merokok merupakan faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi Faktor nutrisi Orang yang tinggal di daerah pegunungan banyak mengkonsumsi protein hewani yang bisa menghambat katarak dengan jalan mencegah denaturasi protein Faktor protektif Faktor protektif diantaranya adalah keracunan obat dan penggunaan kortikosteroid Beberapa penelitian menyatakan, bahwa katarak senilis dipercepat oleh beberapa faktor antara lain : penyakit diabetes melitus, hipertensi dengan sistole naik 20 mmHg, paparan sinar ultraviolet B dengan panjang gelombang antara 280-315 m lebih dari 12 jam, indeks masa badan lebih dari 27, asap rokok lebih dari 10 batang/hari baik perokok aktif maupun pasif (Sheila et al, 1995; Glynn et al, 1995).

11

2.3.3 Epidemiologi Katarak senilis terjadi pada usia lanjut, yaitu di atas 50 tahun. Insidensi katarak di dunia mencapai 5-10 juta kasus baru tiap tahunnya. Katarak senile merupakan penyebab utama kebutaan, sangat sering ditemukan dan bahkan dapat dikatakan sebagai suatu hal yang dapat dipastikan timbulnya dengan bertambahnya usia penderita (Depkes RI, 1996). Di negara berkembang, katarak merupakan 50-70% dari seluruh penyebab kebutaan, selain kasusnya banyak dan munculnya lebih awal. Di Indonesia, pada tahun 1991 didapatkan prevalensi kebutaan 1,2% dengan kebutaan katarak sebesar 0,67% dan tahun 1996 angka kebutaan meningkat 1,47% (Depkes RI, 1996).

2.3.4. Etiologi dan Patofisiologi Kekeruhan pada lensa dapat disebabkan oleh kelainan kongenital mata, trauma, penyakit mata, proses usia atau degenerasi lensa, kelainan sistemik seperti diabetes melitus, riwayat penggunaan obat-obatan steroid dan lainnya. Kerusakan oksidatif oleh paparan sinar ultraviolet, rokok dan alkohol, dapat meningkatkan risiko terjadinya katarak (Ilyas, S. 2007). Penyebab katarak senile sampai sekarang masih belum diketahui secara pasti. Ada beberapa konsep penuaan yang mengarah pada proses terbentuknya katarak senil (Ilyas, S. 2007) : Jaringan embrio manusia dapat membelah 50 kali kemudian akan mati Teori cross-link yang menjelaskan terjadinya pengikatan bersilang asam nukleat dan molekul protein sehingga mengganggu fungsi Imunologis, dengan bertambahnya usia menyebabkan bertambahnya cacat imunologis sehingga mengakibatkan keruasakan sel. Teori mutasi spontan dan teori radikal bebas Pada dasarnya, semua sinar yang masuk ke mata harus terlebih dahulu melewati lensa. Karena itu setiap bagian lensa yang menghalangi, membelokkan atau menyebarkan sinar bisa menyebabkan gangguan penglihatan. Pada katarak terjadi kekeruhan pada lensa, sehingga sinar yang masuk tidak terfokuskan pada retina, maka bayangan benda yang dilihat akan tampak kabur (Ilyas, S. 2007).

12

2.3.5 Gambaran Klinis Seorang penderita katarak mungkin tidak menyadari telah mengalami gangguan katarak. Katarak terjadi secara perlahan-lahan, sehingga penglihatan penderita terganggu secara berangsur, karena umumnya katarak tumbuh sangat lambat dan tidak mempengaruhi daya penglihatan sejak awal. Daya penglihatan baru terpengaruh setelah katarak berkembang sekitar 3-5 tahun. Karena itu, pasien katarak biasanya menyadari penyakitnya setelah memasuki stadium kritis (Ilyas S., 2007; Daniel V. et al, 2000). Gejala umum gangguan katarak meliputi (Ilyas, S. 2007) : Penglihatan tidak jelas, seperti terdapat kabut menghalangi objek Peka terhadap sinar atau cahaya Dapat melihat ganda pada satu mata Kesulitan untuk membaca Lensa mata berubah menjadi buram

2.3.6. Klasifikasi Katarak Katarak dapat diklasifikasikan berdasarkan usia, letak kelainan pada lensa maupun berdasarkan stadiumnya (Daniel V. et al, 2000). a. Berdasarkan Usia 1. Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun 2. Katarak juvenil, katarak yang terjadi sesudah usia > 3 bulan tetapi kurang dari 9 tahun 3. Katarak senil, katarak setelah usia 50 tahun b. Bedasarkan Letak 1. Katarak Nuklear Katarak yang lokasinya terletak pada bagian tengah lensa atau nukleus. Nukleus cenderung menjadi gelap dan keras (sklerosis), berubah dari jernih menjadi kuning sampai coklat. Biasanya mulai timbul sekitar usia 60-70 tahun dan progresiviasnya lambat. Bentuk ini merupakan bentuk yang paling banyak terjadi. Pandangan jauh lebih dipengaruhin daripada pandangan dekat, bahkan pandangan baca dapat menjadi lebih baik, sulit

13

menyetir

pada

malam

hari.

Penderita

juga

mengalami

kesulitan

membedakan warna, terutama warna biru dan ungu (Daniel V. et al, 2000). 2. Katrak Kortikal Katarak menyerang lapisan yang mengelilingi nukleus atau korteks, biasanya mulai timbul sekitar usia 40-60 tahun dan progresivitasnya lambat. Terdapat wedge-shape opacities/cortical spokes atau gambaran seperti ruji. Banyak pada penderita DM, dengan keluhan yang paling seringa yaitu penglihatan jauh dan dekat terganggu, disertai penglihatan merasa silau (Daniel V. et al, 2000).

Gambar 2. Katarak Nuklear dan Katarak Kortikal

3. Katarak Subkapsularis Posterior Bentuk ini terletak pada bagian belakang dari kapsul lensa. Katarak subkapsularis posterior lebih sering pada kelompok usia lebih muda daripada katarak kortikal dan katarak nuklear. Biasanya timbul pada usia sekitar 40-60 tahun dan progresivitasnya cepat, bentuk ini lebih sering menyerang orang dengan diabetes obesitas atau pemakaian steroid jangka panjang. Katarak ini menyebabkan kesulitan membaca, sulau, pandangan kabur pada kondisi cahaya terang (Daniel V. et al, 2000).

14

Gambar 3. Katarak Subscapsular dan Katarak Lanjut c. 1. Berdasarkan Stadium (untuk katarak senilis) Katarak Insipien

Pada stadium ini kekeruhan lensa tidak teratur, tampak seperti bercak-bercak yang membentuk gerigi dengan dasar di perifer dan daerah jernih diantaranya, kekeruhan biasanya terletak di korteks anterior dan posterior. Kekeruhan ini pada awalnya hanya nampak jika pupil dilebarkan. Pada stadium ini, terdapat keluhan poliopia yang disebabkan oleh indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang menetap untuk waktu yang lama (Ilyas, S. 2007). 2. Katarak Imatur Pada katarak imatur, terjadi kekeruhan yang lebih tebal, tetapi belum mengenai semua lapisan lensa sehingga masih terdapat bagian-bagian yang jernih pada lensa. Terjadi penambahan volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif. Pada keadaan lensa yang mencembung akan dapat menimbulkan hambatan pupil, mendorong iris ke depan, mengakibatkan bilik mata dangkal sehingga terjadi glaukoma sekunder. Pada pemeriksaan uji bayangan iris atau shadow test, maka akan terlihat bayangan iris pada lensa, sehingga hasil uji shadow test (+) (Ilyas, S. 2007). 3. Katarak Intumesen

15

Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam lensa menyebabkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibandingkan dalam keadaan normal. Katrak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan menyebabkan miopia lentikular (Ilyas, S. 2007). 4. Katarak Matur Pada katarak matur kekeruhan telah

mengenai seluruh lensa. Proses degenerasi yang berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air bersama hasil disintegrasi melalui kapsul, sehingga lensa kembali ke ukuran normal. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali. Tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga bayangan iris negatif (Ilyas, S. 2007). 5. Katarak Hipermatur Merupakan proses degenerasi lanjut lensa, sehingga masa lensa yang mengalami degenarsi akan mencair dan keluar melalui kapsul lensa. Lensa menjadi mengecil dan berwarna kuning. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai kapsul yang tebal., maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan sekantong susu dengan nukleus yang terbenam di korteks lensa. Uji banyangan iris memberikan gambaran pseudopositif (Ilyas, S. 2007).

Tabel 1. Perbandingan Katarak Berdasarkan Stadium

16

2.3.7 Diagnosis Banding . 1. Katarak Diabetik Merupakan katarak yang terjadi akibat adanya penyakit diabetes melitus. Katarak bilateral dapat terjadi karena gangguan sistemik, seperti salah satnnya pada penyakit diabetes melitus. Katarak pada diabetes meluts dapat terjadi da;am 3 bentuk (Ilyas, S. 2007) : Pasien dengan dehidrasi berat, asidosis dan hiperglikemia nyata, pada lensa akan terlihat kekeruhan berupa garis akibat kapsul lensa berkerut. Bila dehidrasi lama akan terjadi kekeruhan lensa, kekeruhan akan hilang bila terjadi rehidrasi dan kadar gula normal kembali Pasien diabetes juvenile dan tua tidak terkontrol, dimana terjadi katarak serentak pada kedua mata dalam 48 jam, bentuk dapat snow flake atau bentuk piring subkapsular Katarak pada pasien diabetes dewasa dimana gambaran secara histopatologi dan biokimia sama dengan katarak pasien non-diabetik 2. Katarak Komplikata Merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang dan porses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaukoma, tumor intraokular, iskemia okular, nekrosis anterior segmen, buftalmos, akibat suatu trauma dan pasca bedah mata (Ilyas, S. 2007).

17

Katarak komplikata dapat pula disebabkan oleh penyakit sistemik endokrin, seperti diabetes melitu, hipoparatiroid, galaktosemia dan miotonia distrofi, maupun disebabkan oleh keracunan obat (tiotepa intravena, steroid lokal lama, steroid sistemik, oral kontraseptik dan miotika antikolinesterase). Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana kekeruhan dimulai di daerah bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan dapat difus, pungtata, linier, rosete, reticulum dan biasanya terlihat vakuol (Ilyas, S. 2007) 3. Katarak Traumatik Katarak jenis ini paling sering disebabkan oleh cedera benda asing di lensa atau trauma tumpul terhadap bola mata. Sebagian besar katarak traumatik dapat dicegah (Ilyas, S. 2007). Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing, karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan kadang-kadzng corpus vitreum masuk dalam struktur lensa. Pasien mengeluh penglihatan kabur secara mendadak. Mata menjadi merah, lensa opak dan mungkin disertai terjadinya perdarahan intraokular. Apabila humor aqueus atau korpus vitreum keluar dari mata, mata menjadi sangat lunak. Penyulit adalah infeksi, uveitis, ablasio retina dan glaukoma (Ilyas, S. 2007).

2.3.8 Penatalaksanaan Penatalaksanaan pada katarak adalah tindakan pembedahan. Pengobatan yang diberikan biasanya hanya memperlambat proses, tetapi tidak menghentikan proses degenerasi lensa. Beberapa obat-obatan yang digunakan untuk menghambat proses katarak adalah vitamin dosis tinggi, kalsium sistein maupun iodium tetes (Ilyas, S. 2007). Tindakan pembedahan dilakukan dengan indikasi : a. Indikasi Optik : pasien mengeluh gangguan penglihatan yang mengganggu kehidupan sehari-hari, dapat dilakukan operasi katarak b. Indikasi Medis : kondisi katarak harus dioperasi diantaranya katarak hipermatur, lensa yang menginduksi uveitis, dislokasi/subluksasi lensa, benda asing intraretikuler, retinopati diabetik, ablasio retina atau patologi segnen posterior lainnya.

18

c. Indikasi Kosmetik : jika kehilangan penglihatan bersifat permanen karena kelainan retina atau saraf optik, tetapi leukokoria yang diakibatkan katarak tidak dapat diterima pasien, operasi dapat dilakukan meskipun tidak dapat mengembalikan penglihatan.

Pembedahan katarak dapat dilakukan dengan beberapa cara, diantaranya yaitu : a. EKIK (Ekstraksi Katarak Intra Kapsular) Ekstraksi jenis ini merupakan tindakan bedah yang umum dilakukan pada katarak senil. lensa beserta kapsulnya dikeluarkan dengan memutus zonula Zinn yang telah mengalami degenerasi. Pada saat ini pembedahan intrakapsuler sudah jarang dilakukan (Ilyas, S. 2007). b. EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular) Lensa diangkat dengan meninggalkan kapsul, untuk memperlunak lensa sehingga mempermudah pengambilan lensa melalui sayatan yang kecil, digunakan gelombang suara berfrekuensi tinggi (fakoemulsifikasi). Termasuk kedalam golongan ini ekstraksi linear, aspirasi dan irigasi. Pembedahan ini dilakukan pada pasien katarak muda, pasien dengan kelainan endotel, bersama-sama keratoplasti, implantasi lensa intra okular, kemungkinan akan dilakukan bedah gloukoma, mata dengan presdiposisi untuk terjadinya prolaps badan kaca, sebelumnya mata mengalami ablasi retina, mata dengan sitoid makular edema, pasca bedah ablasi, untuk mencegah penyulit pada saat melakukan pembedahan katarak seperti prolaps badan kaca. Penyulit yang dapat timbul pada pembedahan ini yaitu dapat terjadinya katarak sekunder (Ilyas, S. 2007). c. Fakoemulsifikasi Ekstraksi lensa dengan fakoemulsifikasi, yaitu teknik operasi katarak modern menggunakan gel, suara berfrekuensi tinggi dengan sayatan 3 mm pada sisi kornea. Pada teknik ini diperlukan irisan yang sangat kecil (sekitar 2-3 mm) di kornea. Getaran ultrasonik akan digunakan untuk menghancurkan katarak, selanjutnya mesin phaco akan menyedot massa katarak yang telah hancur tersebut sampai bersih.

19

Sebuah lensa intra ocular (IOL) yang dapat dilipat dimasukkan melalui irisan tersebut. Untuk lensa lipat (foldable lens) membutuhkan insisi sekitar 2,8 mm, sedangkan untuk lensa tidak lipat insisi sekitar 6 mm. Karena insisi yang kecil untuk foldable lens, maka tidak diperlukan jahitan, akan pulih dengan sendirinya, yang memungkinkan dengan cepat kembali melakukan aktivitas sehari-hari. Indikasi teknik fakoemulsifikasi berupa calon terbaik pasien muda (40-50 tahun), tidak mempunyai penyakit endotel, bilik mata dalam, pupil dapat dilebarkan hingga 7 mm. Kontraindikasinya berupa tidak terdapat hal-hal salah satu di atas, luksasi atau subluksasi lensa. Prosedurnya dengan getaran yang terkendali sehingga insidens prolaps menurun. Insisi yang dilakukan kecil sehingga insiden terjadinya astigmat berkurang dan edema dapat terlokalisasi, rehabilitasi pasca bedahnya cepat, waktu operasi yang relatif lebih cepat, mudah dilakukan pada katarak hipermatur. Tekanan intraokuler yang terkontrol sehingga prolaps iris, perdarahan ekspulsif jarang. Kerugiannya berupa dapat terjadinya katarak sekunder sama seperti pada teknik EKEK, alat yang mahal, pupil harus terus dipertahankan lebar, endotel loss yang besar (Ilyas, S. 2007).

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Shock JP, Richard AH, MD. Lensa. Dalam : Whitcher John P, Paul Riordan Eva, editor. Oftalmologi Umum; edisi ke-17. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC, 2010 : 169-177. 2. Ilyas S. Lensa Mata. Dalam: Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran; edisi ke-2. Cetakan I. Jakarta: FKUI, 2002: 143157. 3. Ilyas S. Penglihatan Turun Perlahan Tanpa Mata Merah. Dalam: Ilmu Penyakit Mata; edisi ke-3. Cetakan I. Jakarta: FKUI, 2006: 200-211. 4. Rahmadani, Siti. Diktat Kuliah Ilmu Penyakit Mata Tingkat IV. Jakarta: 2007. http://www.nei.nih.gov/health/cataract/cataract_facts.asp http://medicastore.com/penyakit/65/Katarak.html http://users.telenet.be/mvanlint/anatomie/html/Fysiologie.htm http://majiidsumardi.blogspot.com/2011/03/anatomi-dan-fisiologilensa.html

21