P. 1
Part 3 Tinjauan Pustaka

Part 3 Tinjauan Pustaka

|Views: 9|Likes:
Dipublikasikan oleh Melisha L. Gaya
epilepsi
epilepsi

More info:

Published by: Melisha L. Gaya on Jul 28, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

11/22/2013

pdf

text

original

Case Report Session

EPILEPSI

Oleh: Alina Binti Abdul Shukor 05 120 182 Preseptor: DR. Dr. Darwin Amir, Sp.S (K) Dr. Syarif Indra, Sp.S

BAGIAN ILMU PENYAKIT SARAF RSUP DR M. DJAMIL FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PADANG 2011

BAB I TINJAUAN PUSTAKA

A. PENDAHULUAN Epilepsi adalah manifestasi klinik yang sangat bervariasi, mulai dari kejang umum, kejang fokal, penurunan kesadaran, gangguan tingkah laku sampai manifestasi “aneh-aneh” sulit dimengerti. Prinsip yang harus dipegang ialah terjadi berulang kali dengan pola yang sama, tanpa memperhatikan tempat, waktu dan keadaan. Epilepsi bervariasi luas dalam bentuk, penyebab dan beratnya. Cetusan abnormal mungkin melibatkan sebagian otak saja (serangan parsial/fokal) atau daerah luas pada kedua belahan otak (serangan umum). Epilepsi dapat terjadi pada siapa saja di seluruh dunia tanpa batasan usia, gender, ras, sosial dan ekonomi. Angka kejadian epilepsi masih tinggi ; di Indonesia belum ada data yang pasti tentang insidensi maupun prevalensi. Berdasarkan asumsi bahwa Indonesia termasuk negara yang sedang berkembang, maka angka kejadian epilepsi di Indonesia lebih tinggi daripada di negara maju. Di kalangan masyarakat awam masih terdapat pandangan yang keliru terhadap epilepsi. Ini berpengaruh negatif terhadap upaya pelayanan pasien epilepsi. Di negara-negara yang sedang berkembang pelayanan pasien epilepsi masih menghadapi banyak kendala. Di lain pihak, oleh karena berbagai kendala tadi maka penatalaksanaan kasus-kasus epilepsi oleh tenaga medik masih kurang memadai. Epilepsi berpotensi untuk menimbulkan masalah sosio-medikolegal yang secara keseluruhan dapat menurunkan atau mengganggu kualitas hidup pasien epilepsi, bahkan keharmonisan keluarga pasien epilepsi juga dapat terganggu. Masalah sosio-medikolegal meliputi kesempatan untuk memperoleh pekerjaan, hak untuk memperoleh tanggungan asuransi, hak untuk memperoleh SIM, hak dan kewajiban dalam bidang hukum, pendidikan, karir dan perkahwinan. B. DEFINISI Epilepsi didefinisikan sebagai suatu keadaan yang ditandai oleh bangkitan (seizure) berulang sebagai akibat dari adanya gangguan fungsi otak secara intermiten yang disebabkan oleh lepas muatan listrik abnormal dan berlebihan di neuron-neuron secara paroksismal, didasari oleh berbagai faktor etiologi. Bangkitan epilepsi (epileptic seizure) adalah manifestasi klinik dari bangkitan serupa (stereotipik), berlangsung secara mendadak dan sementara dengan atau tanpa perubahan kesadaran, disebabkan oleh hiperaktivitas listrik sekelompok sel saraf di otak, bukan disebabkan oleh suatu penyakit otak akut (unprovoked).

D. PATOFISIOLOGI Neuron adalah suatu tempat terjadinya kegiatan listrik dengan adanya potensial membran. toksik (alkohol.7 0/00. Ketika terjadi perambatan potensial aksi ke terminal. Kriptogenik Dianggap simptomatik tetapi penyebabnya belum diketahui. Usia 20 tahun kebawah + 80%. usia 21 tahun sampai 55 tahun + 15%. obat). Sinaps terdiri dari presinaps dan postsinaps. Na. Serangan epilepsi merupakan gangguan fungsi neuron-neuron otak dan tansmisi pada sinaps. lalu neurotransmitter tersebut dilepaskan ke celah sinaps.2-0.C. gangguan peredaran darah otak (GPDO). Cl dari dalam /luar sel neuron. akan ditangkap oleh reseptor yang cocok pada postsinaps. E. Idiopatik Penyebabnya tidak diketahui. Perbedaan konsentrasi ion-ion menimbulkan potensial membran (terjadi depolarisasi. Proses ini akan diikuti dengan menempelnya neurotransmitter pada membran neuron. 2. Di Indonesia diperkirakan ada 1-1. kelainan neurodegeneratif. Termasuk disini adalah Sindrom West. usia diatas 55 tahun + 1-2%. Potensial membran. Laki-laki lebih sering dari pada perempuan. Simptomatik Disebabkan oleh kelainan/ lesi pada SSP. metabolik. lesi desak ruang.8 juta penderita. Ca. sindrom Lennox-Gastaut dan epilepsi mioklonik. tergantung permeabilitas membtan neuron yang menseleksi ion-ion K. EPIDEMIOLOGI Insiden: 0. yaitu neurotransmitter eksitasi dan inhibisi. Gambaran klinik sesuai dengan ensefalopati difus. Ikatan reseptor dengan neurotransmitter akan mengubah permeabilitas membrane otot sehingga ion Na akan . Bila neurotransmitter eksitasi yang keluar. umumnya mempunyai predisposisi genetik. kanal Ca pada presinaps akan membuka. Serangan pertama pada anak dibawah 4 tahun : + 33% diatas 4-10 tahun : 52%. Prevalensi: 4-7 0/00. Neurotransmitter ada dua macam. 3.repolarisasi. kelainan kongenital. ETIOLOGI 1. dst).

KLASIFIKASI Klasifikasi International League Against Epilepsy (ILAE) untuk jenis bangkitan epilepsi: 1.2.1. perubahan permeabilitas akan memudahkan ion Cl masuk. Hal ini mengakibatkan depolarisasi abnormal dan terjadilah lepas muatan yang berlebihan.1. Kejang terjadi akibat lepas muatan paroksismal yang berlebihan dari sebuah fokus kejang akibat suatu keadaan patologik.1 Bangkitan parsial sederhana yang diikuti dengan gangguan kesadaran 1. Ketidakseimbangan ion yang mengubah keseimbangan asam basa atau elektrolit yang mengganggu homeostasis kimiawi neuron sehingga terjadi kelainan pada depolarisasi neuron. ada beberapa fenomena yang terjadi : Instabilitas membrane sel.1 Bangkitan parsial sederhana 1.masuk. yang akan menyebabkan terjadinya depolarisasi. Kelainan polarisasi yang disebabkan oleh kelebihan asetilkolin atau defisiensi gama aminobutirat acid (GABA). Membrane sel yang tidak stabil.2 Bangkitan parsial yang disertai gangguan kesadaran saat awal bangkitan .3 Otonom 1.2 Sensorik 1.2. setelah berikatan dengan reseptor.2 Bangkitan parsial kompleks 1.1 Motorik 1. Apabila terdapat lesi pada neuron di otak. Sedangkan bila neurotransmitter inhibisi yang keluar. Bangkitan Parsial 1. Ion Cl mengakibatkan muatan sel menjadi negative.4 Psikis 1. Kejadian selanjutnya adalah akan terbentuk ikatan aksin myosin sehingga otot akan berkontraksi. maka terjadilah hiperpolarisasi dan inhibisi. F. dan apabila terpicu akan melepaskan muatan berlebihan.1. Neuron-neuron hipersensitif dengan ambang untuk melepaskan muatan menurun.1. Terjadilah potensial aksi. ketika terjadi sedikit saja rangsangan akan mengubah permeabilitas.

5 Tonik-klonik 2.Sering diikuti oleh automatisme yang stereotipik seperti mengunyah. kaki atau muka (unilateral/fokal) kemudian menyebar pada sisi yang sama ( Jacksonian March ) . Bangkitan Umum Sekunder . Bangkitan Parsial Kompleks .2 Parsial kompleks menjadi umum tonik klonik 1. Bangkitan Umum 2.Kepala mungkin berpaling ke arah sisi tubuh yang mengalami kejang ( adversif ) 3.3 Bangkitan parsial yang menjadi umum sekunder 1.1 Lena (absence) 2.Berkembang dari bangkitan parsial sederhana atau kompleks yang dalam waktu singkat menjadi bangkitan umum .3.Tidak terjadi perubahan kesadaran .3 Klonik 2.1 Parsial sederhana menjadi parsial kompleks kemudian menjadi umum tonik klonik 2. Bangkitan Parsial Sederhana .6 Atonik 3.3.Bangkitan parsial dapat berupa aura .1.Bangkitan fokal disertai terganggunya kesadaran . MANIFESTASI KLINIS 1.Wajah mungkin berpaling ke arah sisi tubuh yang mengalami kejang ( adversif ) 2.2 Mioklonik 2. Tak Tergolongkan G.Bangkitan umum yang terjadi biasanya bersifat kejang tonik-klonik .3.Bangkitan dimulai dari tangan.1 Parsial sederhana yang menjadi umum tonik klonik 1. menelan dan kegiatan motorik lainnya tanpa tujuan yang jelas .4 Tonik 2.

sentakan . Bangkitan Umum Tonik-Klonik . berlangsung beberapa detik . benda yang dipegang terlontar (flying saucer syndrome). Bangkitan Umum Mioklonik . Bisa lateral. sinkron berulang. Biasa pasien mendadak jatuh.Sangat jarang kesadaran menurun. Tubuh. Paling sering terjadi sewaktu tidur. ia seringkali akan jatuh Lamanya berlangsung < 20 detik . Bangkitan Umum Atonik . 9. Jika seseorang sedang berdiri sewaktu kejang bermula.Dapat didahului prodormal seperti jeritan.Mata memandang jauh ke depan .4. 8. kaku (fase tonik) selama 10-30 detik.Gangguan kesadaran secara mendadak.Pasien sering tidur setelah bangkitan 6. lengan serta tungkai terlihat kaku.Selama bangkitan kegiatan motorik terhenti dan pasien diam tanpa reaksi . terjatuh karena kehilangan tonus otot tidak diikuti gerakan atau serangan tonik klonik. Lamanya bervariasi.Pemulihan kesadaran segera terjadi tanpa perasaan bingung .singkat. Mulai gerakan halus sampai sentakan hebat. 7.Kontraksi kelompok otot anggota gerak. kadang-kadang mengenai kedua sisi tubuh. Biasanya pasien sadar. Bangkitan Umum Lena (Absence) . dan biasanya mengenai kedua sisi tubuh.Sesudah itu pasien melanjutkan aktivitas semula 5. Bisa serangan tunggal atau berulang.Mungkin terdapat automatisme .Selesai bangkitan pasien menjadi lemas (fase flaksid) dan tampak bingung . diikuti gerakan kejang kelojotan pada kedua lengan dan tungkai (fase klonik) selama 30-60 detik. Bangkitan Umum Tonik Tonus otot sangat meningkat. Bangkitan Umum Klonik Gerakan menyentak pada ekstremitas atas dan bawah. dapat disertai mulut berbusa .Pasien kehilangan kesadaran. bisa kepala terkulai tiba-tiba.

Faktor pencetus . infeksi telinga atau sinus.Usia pada saat terjadinya serangan pertama .Ada/ tidaknya penyakit lain yang diderita sekarang . gangguan kongenital. diagnosis epilepsi ditegakkan atas dasar: 1. Pemeriksaan penunjang -Pemeriksaan penunjang dilakukan sesuai dengan indikasi dan bila memungkinkan. Pemeriksaan fisik umum dan neurologik . Secara struktural. selama dan pascabangkitan . Anamnesis (auto dan allo anamnesis) . misalnya: trauma kepala. 3.Frekuensi bangkitan .Lama bangkitan .hal-hal yang perlu diperiksa antara lain adanya tanda-tanda dari gangguan yang berhubungan dengan epilepsi.Gejala sebelum.H. dan kanker.Riwayat terapi epilepsi sebelumnya .Riwayat penyakit epilepsi dalam keluarga 2. gangguan neurologik fokal atau difus. .Riwayat pada saat dalam kandungan. DIAGNOSIS Diagnosis epilepsi ditegakkan atas dasar adanya gejala dan tanda klinik dalam bentuk bangkitan epilepsi berulang (minimum 2 kali) yang ditunjang oleh gambaran epileptiform pada EEG. persalinan / kelahiran dan perkembangan bayi/anak .Pola/ bentuk bangkitan . kecanduan alkohol atau obat-obat terlarang.

2 Pemeriksaan Pencitraan Otak • Magnetic Resonance Imaging (MRI) merupakan prosedur pencitraan pilihan untuk epilepsy dengan sensitivitas tinggi dan lebih spesifik dibandingkan dengan Computed Tomography Scan (CT Scan). tidur. Semua kasus bangkitan pertama yang diduga ada kelainan struktural 2. Bangkitan pertama pada usia lebih dari 25 tahun 6. Epilepsi dengan bangkitan parsial 5. hiperventilasi.1 Pemeriksaan Elektroensefalografi • Rekaman EEG sebaiknya dilakukan pada saat bangun. Adanya perubahan bentuk bangkitan 3. Untuk persiapan operasi epilepsi . Bila diulang pemeriksaannya. • Pemeriksaan MRI diindikasikan untuk epilepsi yang sangat mungkin memerlukan terapi pembedahan. maka dapat dilakukan EEG ulangan dengan persyaratan khusus. • Bila EEG normal dan persangkaan epilepsi sangat tinggi. Membantu menegakkan diagnosis epilepsi 2. gambaran epileptiform meningkat menjadi 59-77%. Membantu dalam menentukan letak fokus 5. EEG tunggal menunjukkan kelainan epileptiform. Bila ada perubahan bentuk bangkitan 3. • Indikasi: 1.3. Pertimbangan dalam penghentian OAE 4. Terdapat defisit neurologik fokal 4. stimulasi tertentu sesuai pencetus bangkitan • Kira-kira 29-38% dari pasien epilepsi dewasa. Membantu prognosis pada kasus tertentu 3. • Indikasi: 1. dengan stimulasi fotik.

trombosit. Bila didapatkan kegagalan monoterapi maka dapat dipertimbangkan untuk diberi kombinasi OAE 8.3. Pemilihan jenis obat sesuai dengan jenis bangkitan Sebaiknya terapi dengan monoterapi Pemberian obat dimulai dengan dosis rendah dan dinaikkan secara bertahap sehingga dosis efektif tercapai 6. kadar gula. Pada prinsipnya terapi dimulai dengan obat antiepilepsi lini pertama. Bila memungkinkan dilakukan pemantauan kadar obat sesuai indikasi . maka dosis obat pertama diturunkan secara bertahap dan dosis obat kedua dinaikkan secara bertahap 7.3 Pemeriksaan Laboratorium • Pemeriksaan darah meliputi hemoglobin. hematokrit. elektrolit. SGPT). Dilakukan bila terdapat minimum 2 kali bangkitan dalam setahun Terapi mulai diberikan bila diagnosis telah ditegakkan dan setelah pasien dan keluarga menerima penjelasan tentang tujuan pengobatan dan kemungkinan efek samping 3. 4. TERAPI Tujuan terapi adalah untuk mengontrol gejala atau tanda secara adekuat dengan menggunakan obat tanpa/ dengan efek samping minimal • • Prinsip terapi: 1. 5. leukosit. ureum dan kreatinin serta lain-lain atas indikasi • Pemeriksaan cairan serebrospinal bila dicurigai adanya infeksi SSP I. 2. fungsi hati (SGOT. Bila diperlukan penggantian obat.

Pada pemeriksaan neurologik dijumpai kelainan yang mengarah pada adanya kerusakan otak 4. Pemilihan Obat Anti Epilepsi Atas Dasar Jenis Bangkitan Epilepsi Jenis Bangkitan OAE Lini Pertama Sodium Valproate Lamotrigine Topiramate Carbamazepine Sodium Valproate Lamotrigine Sodium Valproate Topiramate OAE Lini Kedua Clobazam Levetiracetam Oxcarbazepine Clobazam Topiramate Clobazam Topiramate Levetiracetam Lamotrigine Piracetam Clobazam Levetiracetam Topiramate Clobazam Levetiracetam Topiramate Clobazam Gabapentin Levetiracetam Phenytoin Tiagabine Bangkitan umum tonik klonik Bangkitan lena Bangkitan Mioklonik Bangkitan Tonik Sodium Valproate Lamotrigine Sodium valproate Lamotrigine Carbamazepine Oxcarbazepine Sodium Valproate Topiramate Lamotrigine Bangkitan Atonik Bangkitan Fokal Dengan/ Tanpa Umum Sekunder . Ada riwayat infeksi otak atau trauma kapitis terutama yang disertai dengan penurunan kesadaran 6. Ada riwayat epilepsi pada orang tua dan saudara kandung kecuali kejang demam sederhana 5. Pada pemeriksaan CT Scan atau MRI otak dijumpai lesi yang berkorelasi dengan bangkitan 3. Dijumpai fokus epilepsi yang jelas pada EEG 2.• Pasien dengan bangkitan pertama direkomendasikan untuk memulai terapi bila: 1. Bangkitan pertama berupa status epileptikus • Jenis Obat Anti Epilepsi Tabel 1.

Tabel 2. lupus-like syndrome. dizziness. paradoxical increase in seizure. mengantuk. cariasis. depresi. muntah. ataxia. Sindroma Stevens-Johnson. neutropenia. teratogenecity Jerawat. efek hepatotoksik. Sindroma Stevens-Johnson. ruam. anemia megaloblastik . Dupuytren’s contracture. hirsutism. hipertrofi gusi. mual. teratogenicity Phenytoin Nistagmus. Dosis Obat Anti Epilepsi Untuk Orang Dewasa OBAT DOSIS AWAL DOSIS RUMATAN (mg/hari) (mg/hari) 400-600 200-300 500-1000 50-100 1 10 600-900 1000-2000 100 900-1800 50-100 400-1600 200-400 500-2500 50-200 4 10 30 600-3000 1000-3000 100-400 900-3600 20-200 JUMLAH DOSIS PER HARI 2-3x 1-2x 2-3x 1 1 atau 2 2-3x 2-3x 2x 2x 2-3x 1-2x 2 2 s/d 5 2 2 s/d 6 2 s/d 10 2 s/d 6 WAKTU PARUH PLASMA (Jam) 2 s/d 7 3 s/d 15 2 s/d 4 Carbamazepine Phenytoin Valproic acid Phenobarbital Clonazepam Clobazam Oxcarbazepine Levetiracetam Topiramate Gabapentin Lamotrigine Tabel 3. efek hepatotoksik. nyeri kepala. agranulositosis. anemia aplastik. mengantuk. Efek samping obat anti-epilepsi klasik DRUG Carbamazepin SIDE EFFECT TERKAIT DOSIS Diplopia. mual. coarse facies. hiponatremia IDIOSINKRETIK Ruam morbiliform.

tetratogenicity Kelelahan. udem perifer Ruam makulopapular. disinhibition Perubahan perilaku. tremor. dizziness. dispepsia. dizziness. depresi. mengantuk. dizziness. nyeri kepala. kelelahan. depresi. kebotakan. ensefalopati . dizziness.Valproic acid Tremor. Juga dilaporkan penurunan kecil kadar sel darah merah. kelelahan. listlesness. arthritic changes. nyeri kepala. mengantuk. nyeri kepala. efek hepatotoksik. Efek samping obat anti-epilepsi baru ___________________________________________________________________________ EFEK SAMPING YANG LEBH OBAT EFEK SAMPING UTAMA SERIUS NAMUN JARANG Levetiracetam Somnolen. mual. Psikosis Sindroma Stevens. gangguan saluran cerna Sedasi. ruam. lethargy Pankreatitis akut. berat badan bertambah. insomnia (pada anak). exfoliation. lupus-like syndrome. muntah. teratogenicity Ruam. gangguan saluran cerna Dizziness. lupus-like syndrome. irritability (pada anak) Kelelahan. psikosis. sedasi. ataksia. gangguan saluran cerna Ruam. efek hepatotoksik. sering muncul ataksia. ataksia. agranulositosis. kelelahan Gangguan kognitif. Somnolen. trombositopenia Phenobarbital Pirimidone Ethosuximide Clonazepam Kelelahan. tremor. dizziness. sedasi. trombositopenia. anoreksia. irritability. diplopia. eritema multiformis. ataksia. libido menurun. impoten Mual. diplopia. trombositopenia. dan hematokrit. dizziness. berat badan bertambah. nekrosis epidermal toksik. nyeri kepala. ataksia. gangguan saluran cerna. Dupuytren’s contracture. asthenia. kelemahan. agresi (pada anak) hiperkinesia (pada anak) Tabel 4. hiperkinesia (pada anak). depresi. ataksia. distractability (pada anak). hiponatremia Somnolen. muntah agitasi. anoreksia.Johnson Gabapentin Lamotrigine Clobazam Vigabatrin Oxcarbazepine Zonisamide Tiagabine Topiramate . dizziness. depresi. Sindroma Steven-Johnson. listlessness. agranulositosis. nyeri kepala. anemia aplastik Ruam. renal calculi Confusion. hemoglobin. teratogenicity Ruam. kelelahan.

kemudian di evaluasi kembali. Pertimbangkan kemungkinan kekambuhan bangkitan lebih besar pada : riwayat kejang umum tonik-klonik primer atau sekunder. setiap bulan dalam jangka waktu 3-6 bulan. Dimulai dari 1 OAE yang bukan utama. tergantung bentuk bangkitan. masih mendapatkan satu atau lebih bangkitan setelah memulai terapi mendapat terapi 10 tahun atau lebih. Bila bangkitan timbul kembali maka dosis terakhir dipertahankan. dan yang selama lima tahun atau lebih. penggunaan lebih dari satu OAE. . pada umumnya 25% dari dosis semula. Bertahap.gangguan saluran cerna. riwayat bangkitan neonatal gambaran EEG masih abnormal Semakin tua usia kemungkinan timbulnya kekambuhan makin tinggi Kemungkinan kekambuhan kecil pada pasien yang telah bebas bangkitan antara tiga sampai lima tahun. renal calculi Penghentian OAE:      Penghentian OAE dapat didiskusikan dengan pasien atau keluarganya setelah minimal 2 tahun bebas bangkitan dan sesuai indeks prognosis . riwayat bangkitan mioklonik. Gambaran EEG “normal” / membaik.

STATUS EPILEPTIKUS Status epileptikus (SE)adalah bangkitan yang berlangsung lebih dari 30 menit. nadi dan suhu EKG Memasang infuse pada pembuluh darah besar Ambil 50-100cc darah untuk pemeriksaan lab Pemberian OAE emergensi : Diazepam 10-20mg i.. lalu dilakukan tapering off Stadium III (0-60/90 menit) - Stadium IV (30-90 menit) - .v. 15-18 mg/kg dengan kecepatan 50mg/menit Memulai terapi dengan vasopresor bila diperlukan Mengoreksi komplikasi Bila kejang tetap tidak teratasi selama 30-60 menit. Namun demikian penanganan bangkitan harus dimulai dalam 10 menit setelah awitan suatu bangkitan. Menangani asidosis Menentukan etiologi Bila kejang berlangsung terus selama 30 menit setelah pemberian diazepam pertama. diulang bila perlu) atau thipentone (100-250mg bolus i.v.v.v. resusitasi Pemeriksaan status neurologic Pengukuran TD. transfer pasien ke ICU. beri propofol (2mg/kgBB bolus i. pemberian oksigen. beri phenytoin i.v. atau adanya 2 bangkitan atau lebih di mana antara bangkitan-bangkitan tadi tidak terdapat pemulihan kesadaran. PROTOKOL PENANGANAN STATUS EPILEPTIKUS Stadium Stadium I (0-10 menit) Stadium II (1-60 menit) Penatalaksanaan Memperbaiki fungsi kardio respirasi Memperbaiki jalan nafas. dilanjutkan dengan bolus 50mg setiap 2-3 menit). pemberian dalam 20 menit. (kecepatan pemberian <2-5 mg/ menit atau rectal dapat diulang 15 menit kemudian) Memasukkan 50 cc glukosa 50% dengan atau tanpa thiamine 250mg i. dilanjutkan sampai 12-24 jam setelah bangkitan klinis atau bangkitan EEG terakhir.

kedua mata pasien melirik ke arah atas. riwayat infeksi telinga (-).- Memantau bangkitan dan EEG. lidah tergigit. saat sadar pasien merasa lemas. seluruh tubuh pasien menjadi kaku selama beberapa detik.Djamil Padang pada tanggal 21 April 2011 pukul 10. lamanya kurang lebih 4 menit. memulai pemberian OAE dosis rumatan BAB II ILUSTRASI KASUS Seorang pasien perempuan berusia 16 tahun datang ke Poliklinik Neurologi RS Dr M. Pasien sadar beberapa detik setelah kejang.00 wib dengan: Keluhan Utama: Kejang seluruh tubuh Riwayat Penyakit Sekarang: Kejang seluruh tubuh 1 minggu yang lalu. yang kedua ketika berusia 11 tahun dan yang ketiga kira-kira 1 bulan yang lalu. Riwayat trauma kepala (-). Pasien tidak pernah dibawa berobat. kemudian tangan dan kaki kiri pasien kelihatan bergerak seperti menyentaknyentak. kejang sebanyak 1 kali. setiap kalinya berlangsung selama kira-kira 1 menit. Saat kejang pasien tidak sadar. terjadi tiba-tiba sewaktu pasien sedang bermain dengan adiknya dimana pasien tiba-tiba terjatuh. kebingungan dan pusing Sebelumnya pasien berobat ke praktek dokter umum lalu dirujuk ke RS Dr M Djamil Padang Riwayat Penyakit Dahulu: Pasien pernah mengalami kejang seperti ini sebelumnya sebanyak 3 kali yaitu yang pertama sewaktu berumur 7 bulan. Kejang terjadi dengan pola yang sama. Riwayat Penyakit Keluarga: Tidak ada anggota keluarga pasien yang menderita penyakit seperti ini . tekanan intracranial. keluar busa dari mulut dan ngompol .

: Normochest.8 °C . sklera tidak ikterik Kiri : konjunctiva tidak anemis. kanan LSD. Pembesaran kelenjar getah bening tidak ada JVP 5-2 cmH2O. Kebiasaan dan Kejiwaan: Pasien seorang pelajar Pasien mempunyai kebiasaan sering tidur lewat malam untuk belajar. ronchi (-/-). : Bunyi jantung murni.Riwayat Pekerjaan. wheezing (-/-). : : : : : : CMC GCS 15 (E4M6V5) 120/70 mmHg 84x /menit 20x /menit 36. Kanan : konjunctiva tidak anemis. Riwayat kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang tidak ada Pasien lahir secara persalinan normal. kiri 1 jari medial LMCS RIC V. bising (-). perkembangan pada masa anak-anak baik PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis : Keadaan umum Kesadaran Tekanan darah Nadi Nafas Suhu Status Internus : Mata : Leher : Thorak : Paru : Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Jantung: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi : Iktus tidak terlihat. Simetris kiri dan kanan (dalam keadaan statis dan dinamis) : Fremitus kiri = kanan : Sonor : Vesikuler. : Iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC V : Batas jantung atas RIC II. Sosioekonomi. irama tidak teratur. sklera tidak ikterik. cukup bulan.

I (Olfaktorius) Penciuman Subjektif Objektif (dengan bahan) N. Ke arah medial (+). II (Optikus) Penglihatan Tajam penglihatan Lapangan pandang Melihat warna N. Ke arah atas (+). Ke arah atas (+). III (Okulomotorius) Kanan Bola mata Ptosis Gerakan bulbus Ortho Ke arah bawah (+). Kranialis : N.Abdomen: Inspeksi Palpasi Perkusi Auskultasi Punggung : Tidak tampak membuncit : Supel. refilling kapiler baik Status Neurologis : GCS 15 (E4 M6 V5) Tanda Rangsangan Meningeal : Kaku kuduk Brudzinky I Brudzinky II Kernig Nn. nyeri tekan (-). Kiri ortho Ke arah bawah (+). Ke arah medial (+). hepar dan lien tidak teraba membesar : Timpani : Bising usus (+) normal : Tidak ada kelainan Ekstremitas : Oedem tidak ada. nyeri lepas (-). Kanan Visus: 6/6 Baik Baik Kiri Visus: 6/6 Baik Baik Kanan Baik Baik Kiri Baik Baik : (-) : (-) : (-) : (-) Tanda peningkatan tekanan intrakranial: (-) .

bentuk bulat.Ke arah medial atas (+) Ke arah medial atas (+) Strabismus Nistagmus Ekso/endoftalmus Pupil refleks cahaya (+). IV ( Troklearis ) Kanan Gerakan mata ke lateral bawah Sikap bulbus Diplopia N. Bentuk bulat.refleks kornea  Divisi maksila .sensibilitas N. V ( Trigeminus ) Kanan Motorik Membuka mulut Menggerakkan rahang Menggigit Mengunyah Sensorik  Divisi oftalmika . refleks akomodasi (+) refleks akomodasi (+) N. Ø 3mm.sensibilitas  Divisi mandibula . Ø 3mm. refleks cahaya (+). VI ( Abdusen ) Kanan Gerakan mata ke lateral Sikap bulbus Diplopia + ortho + + + + + Ortho - Kiri + ortho - Kiri + + + + + + + + + + Kiri + ortho - .

kekuatan sama sewaktu coba dibuka oleh pemeriksa Simetris. IX ( Glossofaringeus ) Kanan Sensasi lidah 1/3 belakang Refleks muntah + + Kiri + + .N VII ( Fasialis ) Kanan Raut wajah Sekresi air mata Mengerutkan dahi Mengangkat alis Menutup mata Mencibir/ bersiul Memperlihatkan gigi Sensasi lidah 2/3 depan Hiperakusis N. sama kuat Simetris Baik Simetris + Kiri N. VIII ( Vestibularis ) Kanan Suara berbisik Detik arloji Rinne test Weber test Schwabach test Nistagmus Tidak dilakukan + + Kiri + + Baik + Simetris Simetris Simetris.

XII ( Hipoglossus ) Kanan Kedudukan lidah dalam Kedudukan lidah dijulurkan Tremor Fasikulasi Atropi Motorik: Ekstremitas Atas Kanan Gerakan Kekuatan Tonus Tropi Aktif 555 Eutonus Eutropi Kiri Aktif 555 Eutonus Eutropi Ekstremitas Bawah Kanan Aktif 555 Eutonus Eutropi Kiri Aktif 555 Eutonus Eutropi Di tengah Di tengah Kiri + + + + Kiri Sensorik: . XI ( Asesorius ) Kanan Menoleh ke kanan Menoleh ke kiri Mengangkat bahu kanan Mengangkat bahu kiri N. frekuensi 84x/menit Kiri N.N X ( Vagus ) Kanan Arkus faring Uvula Menelan Suara Nadi Simetris Di tengah Baik Normal Teratur.

Sensibilitas taktil Sensibilitas nyeri Sensibilitas termis Pengenalan 2 titik Pengenalan rabaan Baik Baik Baik Baik Baik Fungsi Otonom Defekasi Miksi Sekresi Keringat Refleks Refleks Fisiologis: Biseps Triseps KPR APR : ++/++ : ++/++ : ++/++ : ++/++ Refleks Patologis : Babinsky Chaddok Oppenheim Gordon Hoffman trommer Fungsi luhur : Kesadaran Reaksi bicara Fungsi intelek Reaksi emosi baik baik baik Tanda Demensia Refleks glabella Refleks snout Refleks mengisap Refleks memegang Refleks palmomental Rencana Pemeriksaan Tambahan Diagnosis: Diagnosis Klinis : Epilepsi bangkitan umum tonik klonik Pemeriksaan laboratorium: darah rutin. kimia darah EEG : -/: -/: -/: -/: -/: Normal : Normal : Normal .

Segera bawa pasien ke dokter atau RS bila kejang berlangsung 5 menit atau lebih .Memberikan informasi kemungkinan kejang berulang kembali .g kelelahan Kepada Keluarga Pasien: . 4. Tetap tenang dan tidak panik 2. dengan kepala miring. Bersihkan muntahan atau lendir di mulut atau hidung.o.Ciptakan suasana yang nyaman bagi pasien agar pasien tidak stress . posisikan pasien telentang. Kendurkan pakaian yang ketat terutama di sekitar leher 3. Jangan cuba melawan gerakan pasien dan tetap bersama pasien selama kejang 7. Bila tidak sadar.o.Dianosis Topik Diagnosis Etiologi Prognosis: Quo ad vitam Quo ad sanam : Intrakranial : Idiopatik : dubia ad bonam : dubia ad bonam Quo ad fungsionam : dubia ad bonam Terapi: Carbamazepine 2x 200mg p.Beri dukungan kepada pasien . Observasi dan catat lama dan bentuk kejang 5. Edukasi: Kepada Pasien: . Asam Folat 2 x 5mg p. Walaupun kemungkinan lidah tergigit. jangan memasukkan sesuatu ke dalam mulut.Memberikan informasi cara penanganan kejang 1.Hindari faktor pencetus e.Harus patuh minum obat .Kontrol ke pelayanan kesehatan secara teratur .

setiap kalinya berlangsung selama kira-kira 1 menit.Djamil Padang pada tanggal 21 April 2011. kedua mata pasien melirik ke arah atas. kemudian kedua tangan dan kaki pasien kelihatan bergerak seperti menyentak-nyentak. lamanya ± 4 menit. Pasien langsung sadar beberapa detik setelah kejang. Saat sadar pasien merasa lemas. terjadi tiba-tiba sewaktu pasien sedang bermain dengan adiknya di mana pasien tibatiba terjatuh. yang kedua ketika berusia 11 tahun dan yang ketiga kira-kira 1 bulan yang lalu. keluar busa dari mulut dan ngompol. Pasien tidak pernah dibawa berobat. kebingungan dan pusing. Kejang terjadi dengan pola yang sama. Pada kasus ini. Penatalaksaan farmakologis yang diberikan pada pasien ini adalah Carbamazepine 2x 200mg dan asam folat 2 x 5mg. pasien mengalami bangkitan epilepsi mungkin karena faktor dari kebiasaannya yaitu sering tidur lewat malam untuk belajar. Saat kejang pasien tidak sadar. sesuai dengan teori bahwa kurang tidur dapat mencetuskan bangkitan epilepsi. Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. diagnosis topiknya intrakranial manakala diagnosis etiologinya adalah idiopatik. Diagnosis klinik pada pasien ini adalah epilepsi bangkitan umum tonik-klonik (grand-mal seizure). Pasien telah dianjurkan untuk menjalani pemeriksaan elektroensefalografi (EEG). seluruh tubuh pasien menjadi kaku selama beberapa detik. M. Pasien pernah mengalami kejang seperti ini sebelumnya sebanyak 3 kali yaitu yang pertama sewaktu berumur 7 bulan. Edukasi juga diberikan kepada pasien dan keluarganya sebagai suatu bentuk penatalaksanaan non farmakologis .DISKUSI Telah diperiksa seorang pasien perempuan berumur 16 tahun yang datang ke Poliklinik Saraf Dr.lidah tergigit. Dari pemeriksaan fisik tidak ditemukan sebarang kelainan pada pasien ini. Dari anamnesis diketahu bahwa pasien kejang seluruh tubuh 1 minggu yang lalu sebanyak 1 kali.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->