Anda di halaman 1dari 7

PENDAHULUAN Pneumonia adalah suatu keradangan pada saluran nafas bagian bawah yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi

seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Pnemonia ditandai oleh demam, batuk, sesak (peningkatan frekwensi pernafasan), nafas cuping hidung, retraksi dinding dada dan kadang-kadang sianosis.4 Banyak faktor yang dapat menyebabkan pneumonia diantaraya adalah faktor host, infeksi maupun penyebab non infeksi. Pada anak-anak penyebab pneumonoia terbanyak adalah infeksi virus, infeksi bakteri hanya sekitar 10-30% dari semua kasus pneumonia pada anak.2 Gejala klinis pneumonia meliputi gejala klinis penyakit yang mendasarinya, dan juga terdapat gejala umum pneumonia sendiri yang meliputi pilek, batuk, demam, sesak (napas cepat/napas cuping hidung), retraksi dinding dada, sianosis. Dalam menegakkan diagnosis pneumonia meliputi gejala klinis pneumonia, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium dan pemeriksaan radiologis Sebagian besar pneumonia pada anak-anak sembuh dengan cepat dan sempurna, pada pemerikksaan rontgen ditemukan hasil yang normal antara minggu ke 6-8. Sedangkan sebagian kecil pneumonia pada anak-anak sembuh lebih lama(>1bulan) dan mungkin berulang.2

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Definisi Pneumonia adalah suatu keradangan pada saluran nafas bagian bawah yang disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti bakteri, virus, jamur dan benda asing. Pnemonia ditandai oleh demam, batuk, sesak (peningkatan frekwensi pernafasan), nafas cuping hidung, retraksi dinding dada dan kadang-kadang sianosis.4 2.2 Etiologi Banyak faktor yang dapat menyebabkan pneumonia, 1. Faktor host Daya tahan lokal (saluran pernafasan) atau daya tahan tubuh secara umum yang rendah/terganggu. 2. Infeksi Misal infeksi oleh virus (respiratory syncytial, adeno virus, virus influenza dan lain-lain), bakteri (pneumokokus, stafilokokus aureus, klebsilla pneumonia, dan lain-lain), mikoplasma. 3. Non-infeksi Misal alergi/hipersensitivitas, aspirasi, dan lain-lain Pada anak-anak penyebab pneumonoia terbanyak adalah infeksi virus, infeksi bakteri hanya sekitar 10-30% dari semua kasus pneumonia pada anak.2 2.3 Patogenesis Inhalasi droplet Saluran nafas atas Aspirasi dll Focus infeksi dalam tubuh

Aliran limfe Saluran nafas bawah Jaringan interstisial parenkim paru

Aliran darah

pneumonia 2.4 Klasifikasi Pneumonia diklasifikasikan berdasarkan anatomis dan etiologis4 Pembagian anatomis meliputi : 2

Pneumonia lobaris Pneumonia lobularis (bronkopneumonia) Pneumonia interstitialis (bronkiolitis) Sedangkan pembagian secara etiologis meliputi : Bakteri : diplococcus pneumonia, pneumococus, streptococcus aureus dll Virus : respiratory syncitial virus, virus influenza, adeno virus dll Mycoplasma pneumonia Aspirasi : makanan, kerosen (bensin, minyak tanah), cairan amnion, benda asing 2.5 Gejala klinik Gejala klinik pneumonia meliputi : 1. Gejala penyakit yang mendasarinya, misal morbili, pertusis, tuberkulosis dll 2. Gejala umum yaitu pilek, batuk, demam, sesak (napas cepat/napas cuping hidung), retraksi dinding dada, sianosis. Terdapat perbedaan antara pneumonia yang disebabkan oleh virus dan bakteri, pada infeksi oleh virus sering dihubungkan dengan batuk, wheezing, stridor, pada pemeriksaan laboratorium leukosit tidak terlalu meningkat dan demam kurang menonjol dibandingkan infeksi bakteri. Pada infeksi oleh bakteri sering dihubungkan dengan batuk, demam yang tinggi, menggigil, napas cepat,dan terdapat peningkatan leukosit (>15.000-20.000/mm3) Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan3 1. Gejala klinik 2. Pemeriksaan fisik Gejala fisik sangat tergantung lokalisasi, luas dan sebaran infiltrat/konsolidasi Gejala Deviasi trakhea Fremitus fokal Perkusi Suara nafas Ronchi Infiltrat Normal/meningkat Agak redup Bronkovesikuler + Konsolidasi masif Meningkat Redup Bronkial +/Konsolidasi + obstruksi saluran nafas Redup Menurun/-

2.6

3. Pemeriksaan laboratorium a. Darah tepi

Tergantung penyebab, pada infeksi oleh bakteri leukosit cenderung naik, sedangkan infeksi oleh virus leukosit tidak terlalu meningkat b. Kultur Kultur darah jarang positif, kultur dari cairan pleura atau pungsi paru mempunyai korelasi yang baik, sedangkan kultur dari saluran nafas hasilnya kurang dapat dipercaya. c. Kadang diperlukan pemeriksan khusus seperti tes alergi, tes tuberkulin 4. Pemeriksaan radiologis Perlu diperhatikan : a. Bentuk b. Lokalisasi c. Luas d. Kelainan lain 2.7 1. Therapi3 Oksigen Diberikan bila ada tanda-tanda hipoksemia seperti gelisah, sianosis dll. Pada bayi umur < 2 tahun biasanya dibeerikan 2 liter/menit, daiatas 2 tahun diberiakan 4 liter/menit Humiditas Hanya bila udara terlalu kering atau anak dengan intubasi/trakheostomi. Biasanya dengan mengalirkan melalui cairan. Deflasi abdomen Bila distensi abdomen mengganggu pernapasan, dengan sonde lambung (maag slang) atau sonde rectal (darm buis) Cairan dan makanan bergizi a. Cairan : komposisi paling sederhana adalah d5%, komposisi lain tergantung kebutuhan, jumlah 60-70% kebutuhan total, beberapa penulis menyatakan dapat diberikan sesuai kebutuhan maintenance. b. Makanan : bila tidak dapat peroral, dapat dipertimbangkan pemberian intravena seperti asam amino, emulsi lemak dll. Simptomatis a. Antipiretika, diberikan bila terdapat hiperpireksia. Asetosal tidak diberikan karena dapat memperberat asidosis. b. Mukolitik/eksektoran pemberian mukolitik/eksepktoran tidak menunjukkan manfaat yang nyata

2. 3. 4.

5.

6. Antiviral / antibiotika a. Antiviral

Hanya untuk pneumonia viral yang berat atau cenderung menjadi berat (disertai kelainanan jantung atau penyakit dasar yanglain Virus Rsv Varisela Influenza-a Sitomegalo virus Antivirus Ribavirin Asiklovir Amantidin Gansiklovir

b. Antibiotika Berdasarkan usia Usia Etiologi Rawat jalan 0-2 minggu Streptokokus gram (-) (+) Enterobacter gram (-) (-) 2-4 minggu 1-6 bulan Idem+ h. Influenza (-)

Rawat inap Ampicilin+gentamicin Ampicilin+cefotaxim Ampicilin+seftriakson Seftriakson/nafsilin+klora mfenikol

Pneumokokus, Eritromisin/ h.influenza, sulfisoksasol stafilokokus aureus, mungkin klamidia Pneumokokus, h.infuenza, stafilokokus aureus

6bulan-6 tahun

Eritromisin/sulfiksas Seftriakson/nafsilin+klora ol atau mfenikol amoksisislin/klavulan at atau trimetoprim, sulfametoksasol Erytromisin penissilin (-) atau Nafsilin atau eritromisin Vankomisin dan seftasidim

> 6 tahun Dengan gangguan imunologi

M.pneumonia, pneumokokus Banyak penyebab

Berdasarkan perkiran asal infeksi

Asal infeksi Lingkungan (komunitas)

Perkiraan kuman Pneumokokkus

Berat sakit Ringan Berat

Antibiotika Aminopenisillin, amoksisilin atau makrolid, eritromisin Sefalosporin generasi ii/iii, sefuroxim+makrolid, eritromisin. Sefalosporin generasi ii/iii, sefuroxim sefalosporin generasi ii/iii, Sefuroxim+aminoglikosida, gentamisin

Nosokomial

Enterobakter gram Ringan (-), stafilokokus aureus Berat

Aspirasi

Stafilokokus aureus, pneumokokus, h.influenza

(-)

Aminopenisillin, amoksisilin+metronidazol

7. Obat khusus : Tergantung penyebab, misal diberikan tuberkulostatika 8. Kortikosteroid Kadang-kadang diberikan pada kasus-kasus yang berat (konsolidi masif), atelektasis, infiltrasi milier (dengan sesak dan sianosis), diberikan dalam jangka pendek. 2.8 Prognosis Sebagian besar pneumonia pada anak-anak sembuh dengan cepat dan sempurna, pada pemerikksaan rontgen ditemukan hasil yang normal antara minggu ke 6-8. Sedangkan sebagian kecil pneumonia pada anak-anak sembuh lebih lama(>1bulan) dan mungkin berulang.2

DAFTAR PUSTAKA

1. Richard E.Behrman,MD,Robert M.Kliegman,MD, Hal B.jenson, MD, Pneumonia, Dalam : Nelson Textbook of pediatrics, Edisi 17,2004, p 1432-1434 2. Richard E.Behrman,MD,Robert M.Kliegman,MD, Pneumonia, Dalam : Nelson Essentials of pediatrics 2002, p 541-543 3. Suraatmaja S, Soetjiningsih, Pneumonia, Dalam : Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Cetakan II Denpasar. Lab/SMF Ilmu Kesehatan Anak FK UNUD/RSUP Sanglah, 2000. p 276-281 4. Pneumonia, dalam : Ilmu Kesehatan Anak 3, Bagian Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 1985, p 1229-1234