Anda di halaman 1dari 4

2011

LAPORAN PRAKTIKUM TEKNIK LABORATORIUM

Pengawatan Corak Warna Kulit Amphibi

Disusun oleh Dyna Kholidaziah Biologi A Semester 2

JURUSAN BIOLOGI

FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

5/12/2011

Pengawetan Corak Warna Kulit Amphibi


Data Diri Praktikan

Nama NIM Semester/kelas Jurusan

: DYNA KHOLIDAZIAH : 1210702018 : II/A : BIOLOGI SAINS

I. -

Alat dan Bahan Alkohol Kapas Spesimen (katak) Gelas kimia 100mL Parafin Jarum Gunting Tissue Sarung Tangan Kertas Karton Aluminium foil Pisau kater Pinset Jarum pencokel Eter Air Masker mulut

II.

Prosedur Keja

Sebelum praktikan mengkuliti spesien (kodok), terlebih dahulu praktikan menyiapkan larutan eter, kemudian laruan eter d.teteskan ke gelas kimia yang berisi kapas dan tutup menggunaka alumunium foil. Setelah itu, praktikan mematikan spesien dengan memasukkan spesien ke dalam gelas kimia tadi dan tutup dengan alumunium foil sampai spesien (kodok) itu mati kira-kira 5 menit.

Setelah spesien kodok itu mati, terlebih dahulu sediakan parafin, kemudian kodok itu diletakkan diatas parafin dengan posisi terlentang dan bagian atasnya adalah bagian adnomen. Kemudian kulit kodok itu di sayat dengan menggunakan pisau kater atau gunting, dari mulai

bagian rahang bawah sampai bagian anal, dan jangan sampai kodok itu berdarah sehingga dilakukan dengan hati-hati. Untuk bagian tangan dan kaki terlebih dahulu ditarik pada bagian samping abdomen, kemudian menyayat dengan telaten dan hati-hati, sediki-sedikit agar kulit spesien tidak sobek. Sayatan pada bagian tempurung otak sampai mata lakukan denga hati-hati. Dan bagain mata dicongkel pelan-pelan sehingga mata kodok dapat lepas dan menyatu pada kulit sayatan tersebut. Setelah selesai disayat, angkat kulit spesien dari tubuhnya dengan hati-hati terutama pada saat melepaskan kulit di bagian jari jari kaki dan tangan katak, lalu gunakan air untuk membalikan kulit spesien tersebut. Setelah melakukan pengelupasan kulit kodok, kemudian kulit spesien diapungkan pada sebuah cawan yang telah disediakan dan berisi air, bersihkan semua partikel yang ada pada kulit dan jaringan yang melekat. Kemudian kulit spesien dibiarkan terapung dengan posisi yang baik. Kemudian praktikan menyediakan kertas karton, dan kulit spesien diletakkan diatas karton dengan posisi terlentang. Ratakan kulit spesien itu dengan menggunakan jari tangan agar tidak ada udara. Kemudian kulit yang telah diletakkan pada karton itu dikeringkan selama 3-7 hari.

III.

Hasil

Gambar 1

Gambar 2

Ketika spesien setelah mati dan siap untuk di sayat

gambar 1

gambar 2

gambar 3

IV.

Pembahasan

Spesien (kodok) dimatikan terlebih dahulu agar pratikan lebih mudah untuk menyayatnya, karena jika spesien itu hidup akan susah untuk dipegang karena akan bergerak dan meloncat. Praktikan menyayat kulit spesien itu dari bagian rahang bawah sampai anal agar praktikan lebih mudah untuk menyayat karena pada bagian abdomen ini seratnya lebih tebal. Ketika melakukan penyayat pada kulit spesien dilakukan secara perlahan dan lebih hati-hati, agar tidak sobek. Sayatan pada bagian tangan dan kaki itu sukar, karena bagian ini sangat berliku-liku (tidaklah lurus seperti pada bagian abdomen sebelumnya). Karena pada bagian ini terdapat pergelangan tulang yang memisahkan antara tulang bahu dengan humerus dan antara humerus dengan radius pada bagian tangan, sedangkan pada bagian kaki terdapat persendian antara tulang femur dengan tibia dan tulang panggul dengan betis katak. Dimana dibagian tersebut terbentuk jaringan ikat yang sangat kuat untuk alat gerak kodok tersebut. Dengan itu praktikan akan lebih sulit, sehingga untuk mempermudahnya praktikan menekuk terlebih dahulu dan kemudian disayat pada serat-serat katak tersebut. Praktikan juga mengalami keadaan menyayat yang sulit bagian kedua adalah pada bagian tempurung otak dan di bagian ini pula praktikan lebih berhati-hati agar kulit spesien tidak sobek. Secara tidak sengaja pada penyayatan bagian ini, praktikan menekan bagian abdomen kodok, sehingga pada saat yang bersamaan tinja kodok keluar dari anusnya dan menyebabkan praktikan merasakan bau. Tempurung otak ini sangat sulit karena pada bagian ini tidak terdapat jaringan lemak (adiposa) yang banyak bahkan bisa disebut sedikit sekali. Dengan kata lain, kulit yang akan disayat tersebut langsung menempel pada tempurung otak katak dan hanya dipisahkan dengan sedikit serat yang sulit untuk disayat. Praktikan mengalami kesulitan. Untuk menyelesaikan penyayatan kulit katak tersebut praktikan memerlukan waktu 3 jam.

Setelah sayatan semua selesai, praktikan membalikan kulit kodok seperti aslinya, praktikan menggunakan air untuk membalikan kulit spesien itu, brtujuan agar lebih mudah. Kemudian praktikan merebahkan kulit tersebut pada kertas karton yang telah disediakan dan mendiamkannya hingga kering. Bahkan praktikan mengunakan tumpukan buku-buku tebal untuk menindih karton yang berisi kulit kodok itu agar hasilnya lebih bagus. Kulit kodok yang telah di simpan diantas karton dan ditidih itu, tidak boleh terkena sinar matahari, karena akan cepat pudar warna kulitnya dan warnanya tidak sesuai dengan harapan praktikan.