Anda di halaman 1dari 36

TUBERKULOSIS PADA ANAK

ILMU KESEHATAN ANAK 1

Aspek umum
Negara sedang berkembang >>
WHO dan Unicef : - Yogyakarta : 0,6 %. - Desa : kota = 0,5-0,8 % : 0,3-0,4 %. - Uji Mantoux 50 % (+).

Etiologi
Mycobacterium tuberculosa. Mycobacterium bovis. Dapat hidup dan tetap virulen beberapa minggu dalam keadaan kering, dalam cairan mati pada suhu 60 C dalam 15-20 menit. Fraksi protein --- nekrosis jaringan, lemak tahan asam --- fibrosis, terbentuk sel epitheloid dan tuberkel.

Penularan Udara --- focus primer dalam paru. Per oral (susu). Kontak langsung (luka/lecet pada kulit). Patogenesa Infeksi dipengaruhi : - Virulensi. - Banyaknya basil tuberculosa. - Daya tahan tubuh. Infeksi primer dalam paru (Ghon,Kudlich). Basil tbc masuk ke paru --- eksudasi dan konsolidasi (fokus primer) --- Lnn --- Ghon komplek.

Masa inkubasi : waktu antara terjadinya infeksi sampai terbentuk komplex primer. Tuberkulosis primer cenderung sembuh sendiri, tetapi sebagian akan menyebar-Kx. Komplikasi terjadi dalam 12 bulan setelah terjadinya penyakit. Penyebaran hematogen/milier, meningitis (4 bulan).

Efusi pleura (6-12 mg).


Tulang, lnn superficial (6 bulan).

Klasifikasi
Ranke --- 3 stadium : Stadium pertama : komplex primer dengan penyebaran limfogen.
Stadium kedua : pada waktu penyebaran hematogen. Stadium ketiga : tbc paru menahun (chronic pulmonary tuberculosis).

Klasifikasi lain : Tuberculosis primer . Tuberculosis subprimer (Kx tbc primer). Tuberculosis pascaprimer (reinfeksi). Klasifikasi sekarang : Tuberkulosis primer. Tuberculosis pascaprimer.

Gejala klinis

Panas, batuk, pilek, anoreksia dan BB<<.


Bronkopneumonia yang tidak menunjukkan perbaikan. Conjunctivitis fliktenularis. Eritema nodusum.

Diagnosa
Gejala klinis. Kontak dengan penderita tbc dewasa. Uji tuberkulin (+). Radiologi paru.

Basil tuberkulosis tidak selalu dapat ditemukan pada anak.

Uji tuberkulin
Dasar : hypersensitivitas terhadap tuberkuloprotein karena adanya infeksi. Cara : - Moro dengan salep. - Patch test cara von Pirquet. - Mantoux. - Multiple puncture method.

Reaksi lokal pada uji Mantoux : 1. Erithema karena vasodilatasi primer. 2. Edema karena reaksi antigen. 3. Indurasi --- dibentuk sel mononukleus. Pembacaan : 48-72 jam setelah penyuntikan diukur diameter melintang dari indurasi yang terjadi.

False negatif pada uji tuberculin


Malnutrisi Energi Protein. Tuberculosis berat. Morbili, Varicella. Pertusis, Difteria, Tifus abdominalis. Pemberian kortikosteroid yang lama. Vaksin virus (poliomielitis). Penyakit ganas (Hodgkin disease).

Radiologi
Komplex primer dengan atau tanpa kalsifikasi.

Kelenjar paratrakeal >>.


Penyebaran milier. Penyebaran bronkogenik. Atelektasis. Pleuritis dengan efusi.

Pemeriksaan bakteriologi
Basil tbc (+) --- diagnosa pasti tbc.

Tetapi tidak ditemukannya basil tbc bukan berarti tidak menderita tbc. Negara maju : 50-90 % (+) dari anak dengan tbc.
Bahan : bilasan lambung, sekret bronkus, sputum, cairan pleura, LCS, cairan ascites.

Patologi anatomi
Tidak dilakukan secara rutin.
Biasanya diperiksa kelenjar getah bening, hepar, pleura, peritoneum, kulit.

Ditemukan tuberkel dan basil tahan asam.

Uji BCG
Bila pada anak yang mendapat BCG langsung terdapat reaksi lokal yang besar, waktu kurang dari hari setelah penyuntikan --- curiga tuberculosa.
Pada anak dengan tbc, BCG akan menimbulkan reaksi lokal yang lebih cepat dan besar.

Therapi
Pertimbangan : Adanya mutan yang resisten terhadap obat.
Adanya basil tuberculosa yang hidup karena pertumbuhannya yang lambat dan intermitten. Rifampisin do 10-15 mg/kgbb/hari, sekali sehari peroral saat lambung kosong (6-9 bl) INH (isoniazid) do 10-20 mg/kgbb/po (18-24 bl).

Streptomisin do 30-50 mg/kgbb/hari sec IM, do max 750 mg/hari, diberikan tiap hari selama 1-3 bulan --2-3 kali seminggu selama 1-3 bulan lagi.

Pirazinamid do 30-35 mg/kgbb/hari, peroral 2 kali sehari selama 4-6 bulan.


Etambutol do 20 mg/kgbb/hari, peroral pada waktu lambung kosong (1 tahun). PAS (para-aminosalisilat) do 200-300 mg/kgbb/hari, peroral 2-3 kali sehari (1 th). Atinamid. Sikloserin. Kortikosteroid do 10-15 mg/kgbb/hari, prednison do 1-3 mg/kgbb/hari. Meningitis serosa --- + kortikosteroid do 20 mg/hari selama 2-4 mg --- tappering.

Pencegahan

Vaksinasi BCG. Kemoprofilaksis : INH do 10 mg/kgbb/hari selama 1 tahun.


Penyebaran Hematogen Tersembunyi (occult hematogenic spread). Umum (generalized hematogenic spread). Berulang (protracted or repeated hemato genic spread).

TUBERKULOSIS BRONKUS Sering terdapat pada tbc primer. Tbc bronkus dapat progresif --- ulserasi granulasi -- sumbatan -- atelektasis. Infeksi sekunder --- bronkiektasis, emfisema. Perforasi --- bronkopneumonia/pneumonia lobaris.

Radiologi
Pembesaran kelenjar.
Perkabutan segmen/lobus. Obstruksi bronkus : terdapat bayangan berbentuk segitiga, batas tegas, pada satu segmen.

Bronkoskopi Permulaan : dinding bronkus kaku, mukosa N --edema pada satu bagian dari cabang trakeobronkial --tuberkel, jar granulasi.
Perforasi dinding bronkus, terdapat masa kiju/caseosa di dalam lumen bronkus. Bronchografi Untuk menilai luas kerusakan yang irreversiblesetelah endobronkitis sembuh.

Dikerjakan kalau Ro paru tampak sequele.

Gambaran klinis
Bayi --- batuk persisten. Merasa enak bila tidur telungkup.

Wheezing.
Distress pernafasan. Batuk hebat, cyanosis, ronki (+).

Therapi
Obat tuberkulostatikum. Antibiotika spektrum luas. Kortikosteroid.

Drainase kelenjar.
Reseksi jaringan paru --- jika bronkiektasis luas dengan sistem drainage jelek, aliran darah (-), stenosis bronkus.

Penyebaran bronkogen
Komplex primer --- kelenjar getah bening regional --- endothorakal --- >> dan caseosa.
Perlekatan --- perforasi.

Kemungkinan
Perforasi kecil --- dibatukkan tanpa didapat gejala klinis.
Kelenjar getah bening >> --- menekan bronkus --lumen bronkus menyempit. Sumbatan parsial --- bronkostenosis. Bronkopneumonia yang baru.

Gejala klinis
Anak tampak lebih sakit, sesak nafas, batuk ringan.
Ro : sarang-sarang infiltrat tersebar diseluruh paru kanan dan kiri, infiltratnya kasar dan penyebarannya tidak teratur.

PLEURITIS TUBERKULOSA Biasanya disertai efusi pleura. Unilateral.

Komplikasi dini pada tbc paru primer.

Patogenesa
Perluasan suatu fokus tbc di daerah subpleura (Rich).
Penyebaran hematogen (milier).

Hipersensitivitas thd tuberkulin.

Gambaran klinis
Panas 1-2 minggu, akhir ninggu ketiga turun.
Anak besar : nyeri dada yang akan bertambah pada pernafasan dalam. PD : sama seperti empiema, secara klinis p tidak terlihat begitu sesak, kecuali bila cairan efusi >>, ICS menonjol, perkusi --- redup/pekak, bising nafas <<.

Diagnosa
Gejala klinis.

Uji tuberkulin (+).


Pungsi pleura : jernih/sedikit hemorrhagik, uji Rivalta (+), limfosit >>. BTA --- langsung, biakan.

Biopsi pleura.
Patologi anatomi : 50 % kasus (+).

Diagnosa Banding Demam rheumatik. Infeksi jamur. Lupus eritematosus. Neoplasma pleura.

Terapi Obat tuberkulostatika + kortikosteroid. Penderita sesak >> -- drainage cairan pleura Fisiotherapi --- cegah skoliosis.

Prognosis
Sekuele : skoliosis, retraksi dari sisi thorax yang terkena.
Penebalan pleura (-).

Dengan obat tuberkulostatikum bagus.

LIMFADENITIS TUBERKULOSA
Paling sering terjadi dalam 6 bulan I setelah infeksi. Hyperplasia limfoid dan terbentuk tuberkel. Terjadi granulasi kronis. Pada kelenjar sering terjadi nekrosis dan pengkejuan. Lokasi : cervical, aksila, inguinal, submandibula. Therapi : obat tuberkulostatikum, operasi, abses + antibiotika.

Tbc selaput otak dan SSP


Meningitis tuberkulosa. Tuberkuloma. Tuberkulosis tulang dan sendi. Spondilitis. Koksitis. Gonitis. Daktilitis.

Tuberkulosis abdomen
Tuberkulosis primer. Tuberkulosis kelenjar abdomen. Peritonitis tuberkulosa. Tuberkulosis jantung dan perikardium. Perikarditis tuberkulosa.