Anda di halaman 1dari 8

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 LATAR BELAKANG Dewasa ini segala yang berhubungan mengenai dunia kedokteran sudah sangat maju. Mulai dari teknologi dengan mesin-mesin yang sangat canggih dan sangat membantu dalam mempertegas diagnosa juga ilmu di kedokteran itu sendiri yang sudah jauh lebih maju dibandingkan beberapa dekade yang lalu. Dunia kedokteran dengan teknologi dan ilmunya terus berkembang tanpa mengenal kata berhenti dan menunggu para dokter untuk dapat mempelajari mereka. Dikarenakan hal tersebutlah para dokter diharapkan senantiasa terus memperdalam ilmu mereka dengan metode longlife learning. Sehingga segala update yang ada sebanyak mungkin dapat diketahui oleh para dokter. Dengan demikian akan mengurangi resiko-resiko malpraktek dan sebagainya. Di satu sisi penguasaan ilmu serta teknologi kedokteran yang tinggi tentu sangat membantu jika disertakan oleh attitude yang baik dalam melayani pasien. Namun sangat disayangkan sekali , melihat semakin berkembangnya ilmu pengetahuan , attitude para dokter terhadap pasien terlihat semakin lama semakin pudar. Tentunya hal tersebut akan berpengaruh terhadap kesembuhan pasien. Secara ideal, ada trias peran profesi dokter yaitu sebagai "agent of treatment, agent of change, dan agent of development". Artinya, para dokter diharapkan memberikan perbaikan dalam hal kesehatan fisik, mental (pola pandang), dan sosial (kebiasaan hidup) di masyarakat. Sayangnya saat ini di Indonesia, banyak dokter yang terjebak pada rutinitas profesionalisme yang sempit alias hanya concern pada penanganan penyakit saja. Anjuran medisnya pun hanya berkisar di minum vitamin, mineral, dan sebagainya tanpa ada penjelasan gamblang dan continue bagaimana mengubah pola hidup menjadi lebih sehat. Banyak dokter yang semakin komersil dan enggan mengarahkan kelompok masyarakat dalam memperbaiki lingkungan sosial-medisnya. Jadi, saat ini kebanyakan dokter baru berperan sampai level "agent of treatment" saja. Baru dicari orang kalau sudah timbul penyakitnya.1 Dengan hanya peran dokter yang sebagai penyembuh tersebut, belum tentu kesembuhan pasien dapat terjamin. Tentu banyak faktor-faktor dari dalam dan luar pasien

Student Project I

Page 1

yang menghambat kesembuhan. Disanalah peran dokter agar dapat memberikan sebanyak mungkin informasi kepada pasien sehingga dapat mengurus diri sendiri kelak.

1.2

Perumusan Masalah Ilmu kedokteran serta teknologinya yang pergerakannya sangat dinamis memerlukan

kemampuan seorang dokter yang khusus agar apat mengikuti perkembangnnya tanpa tertinggal. Dimana hal tersebut adalah lielong learning atau belajar sepanjang hayat. Dengan Student Project kasus 2 ini dapat di ambil permasalahan sebagai berikut : 1.2.1 Bagaimana pendapat Anda terhadap sikap dr A? 1.2.2 Sikap seperti apa yang seharusnya ditunjukkan oleh seorang dokter agar bisa menjadi dokter yang baik ? 1.2.3 Pengertian Profesionalisme kedokteran 1.2.4 Pengertian kompeten dan hubungannya dengan profesionalisme 1.3 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan paper ini sebagai berikut : 1.3.1 Agar dapat menjelaskan kepada teman sejawat maupun masyarakat bagaimana seharusnya seorang dokter yang baik itu bertindak agar kelak dapat menjadi seorang dokter yang bertanggung juga profesional dalam menangani pasien dan melayani masyarakat. 1.3.2 Untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan profesionalisme kedokteran 1.3.3 Agar dapat menjelaskan pengertian kompeten serta hubungannya dengan profesionalisme. 1.4 Manfaat Penulisan Manfaat penulisan dari paper ini guna menambah wawasan mahasiswa tentang profesionalisme dalam dunia kedokteran yang menuntut seorang dokter untuk selalu bersikap profesional dalam setiap situasi dan pengambilan tindakan. Dengan demikian mahasiswa dapat lebih mendalami tentang profesionalisme sebelum terjun mempraktekannya di dunia kerja nanti

Student Project I

Page 2

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Uraian Kasus Dokter A adalah dokter yang sangat dikenal di seuah kabupaten. Dokter A sudah sejak 25 tahun yang lalu melakukan praktek kedokteran, dan pasinnya sangat ramai, sehingga baru selesai setelash larut malam. Karena pasien sangat banyak maka dokter A hannya punya sedikit waktu untuk berbicara dengan pasiennya dan terkesan agak terburuburu. Selama 25 tahun menjadi dokter tidak sekaliipun dokter A mau menghadiri seminar ataupun diskusi tentang ilmu kedokteran. Bahkan dokter A tidak pernah membaca buletin/majalah kedokteran. Dokter A selalu mengatakan bahwa pengalamannya selama 25 tahun menjadi dokter melebihi apa yang ada di buku atau sebuah seminar. 2.2 Tinjauan Kepustakaan Profesionalisme dikatakan adalah istilah yang dipergunakan untuk menjelaskan tentang keterampilan, sikap, dan perilaku yang diharapkan dari seseorang selama melaksanakan profesinya. Dimana profesi merupakan pekerjaan yang dikerjakan oleh sekelompok orang dengan komitmen kuat, standar moral tinggi, penguasaan ilmu pengetahuan dan tehnologi serta skill yang mumpuni, dan kemandirian 2. Profesi serta profesionalisme pada dokter akan berpengaruh ke dalam praktek kedoktearan. Praktik kedokteran merupakan suatu praktik yang tentunya hanya boleh dilaksanakan oleh seorang dokter yang telah memiliki pendidikan yang cukup kompeten di bidangnnya serta profesional. Praktik kedokteran dilaksanakan berasaskan Pancasila dan didasarkan pada nilai ilmiah, manfaat, keadilan, kemanusiaan, keseimbangan, serta perlindungan dan keselamatan pasien 3. Pengaturan praktik kedokteran bertujuan untuk : 1. Memberikan perlindungan kepada pasien 2. Mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh dokter 3. Memberikan kepastian hukum kepada masyarakat, dokter dan dokter gigi4. Student Project I Page 3

Undang-undang praktik kedokteran diatur dalam UU Nomor 29 tahun 2004 5. Praktek kedokteran merupakan kombinasi sains dan seni penyembuhan. Sains dan teknologi adalah bukti dasar atas berbagai masalah klinis dalam masyarakat. Seni kedokteran adalah penerapan gabungan antara ilmu kedokteran, intuisi, dan keputusan medis untuk menentukan diagnosis yang tepat dan perencanaan perawatan untuk masingmasing pasien serta merawat pasien sesuai dengan apa yang diperlukan olehnya. Pusat dari praktik kedokteran adalah hubungan relasi antara pasien dan dokter yang dibangun ketika seseorang mencari dokter untuk mengatasi masalah kesehatan yang dideritanya. Di dalam praktik, seorang dokter harus : membangun relasi dengan pasien ; mengumpulkan data (riwayat kesehatan dan pemeriksaan fisik dengan hasil laboratorium atau citra medis) ; menganalisa data ; membuat rencana perawatan (tes yang harus dijalani berikutnya, terapi, rujukan) ;merawat pasien ; memantau dan menilai jalannya perawatan dan dapat mengubah perawatan bila diperlukan
6

. Praktek kedokteran erat hubungan dengan

hubungan antar dokter dengan pasien atau relasi dokter-pasien. Relasi pasien dan dokter adalah proses utama dari praktik kedokteran. Terdapat banyak pandangan mengenai hubungan relasi ini. Oleh karena itu, seorang dokter harus paham benar bagaimana keadaan normal dari manusia sehingga ia dapat menentukan sejauh mana kondisi kesehatan pasien. Proses inilah yang dikenal sebagai diagnosis. Kualitas relasi pasien dan dokter sangat penting bagi kedua pihak. Saling menghormati, kepercayaan, pertukaran pendapat mengenai penyakit dan kehidupan, ketersediaan waktu yang cukup, mempertajam ketepatan diagnosis, dan memperkaya wawasan pasien tentang penyakit yang dideritanya; semua ini dilakukan agar relasi kian baik 6. Namun hanya dengan mengandalkan apa yang didapat saat kuliah tentu tidak akan cukup bagi seorang dokter untuk melakukan praktik dokter. Seorang dokter harus terus menambah wawasannya, sebab ilmu dan teknologi kedokteran akan terus berkembang selama manusia masih terus melawan berbagai penyakit yang muncul. Cara untuk mengobati suatu penyakit tidak akan sama lagi 10 tahun yang akan datang. Pasti akan ditemukan cara yang lebih efektif dan efisien.

Student Project I

Page 4

2.3

Solusi Penyelesaian Kasus 2.3.1 Pendapat saya terhadap sikap dokter A Pada kasus dokter A ini , dapat dikatakan dokter A belum sepenuhnya

kompeten. Walaupun kompeten dalam menangani pasien beliau juga harus tetap menjaga profesionalisme sebagai seorang dokter. Misalnya dengan menjaga sopan santun dan tata krama (attitude) sehingga pasien merasa dihormati dan diperhatikan. Dalam kasus diatas dokter A terkesan buru-buru dikarenakan pasien yang membajirinya . Seharusnya dokter A mengatur waktu agar tidak terkesan buru-buru karena dapat membuat pasien merasa tidak puas dan tersinggung. Kepercayaan kepada dokter juga bisa berkurang, walaupun beliau kompeten dalam menangani pasien. Namun setidaknnya beliau dapat meluangkan waktu agar pasien dapat berkonsultasi. Dalam kurun waktu 25 tahun dokter A sama sekali tidak pernah mengikuti kegiatan seinar apapun atau membaca jurnal dan berdiskusi masalah kedokteran. Hanya dengan wawasan saat kuliah serta pengalaman praktik selama 25 tahun tidak akan cukup untuk memberikan pelayan yang memadai sehingga menambah wawasan merupakan hukum wajib sebagai seorang dokter. Hal tersebut telah tercantum pada pasal 17 KODEKI bahwa setiap dokter harus senantiasa mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi kedokteran atau kesehatan. Ilmu pengtahuan dan teknologi kedokteran berkembang terus dengan pesat. Seorang dokter harus mengikuti perkembangan tersebut baik untuk kepentingan sendiri maupun kepentingan pasiennya. Dengan majunya ilmu pengetahuan pada umumya, akan main meningkatkan atau lebih baik sesuai dengan kemajuan 2.3.2 Sikap yang Seharusnya Ditunjukkan Oleh Seorang Dokter agar Dapat Menjadi Dokter yang Baik Dokter yang baik atau good doctor memiliki ciri-ciri sebagai berikut : menempatkan kepentingan pasien sebagai kepentingan utama , memiliki kompetensi , selalu menjaga pengtahuan dan ketrampilan mereka sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan , membangun dan mempertahankan hubungan yang baik dengan pasien dan kolega , jujur dan dapat dipercaya , dan selalu menunjukkan integritas dalam setiap tindakannya 5. Sikap seperti itulah yang harus ditunjukkan seorang dokter , tidak hanya ditunjukkan namun juga diilakukan dengan tulus. 2.3.3 Pengertian Profesionalisme Kedokteran Student Project I Page 5

Profesionalisme kedokteran menurut saya adalah kegiatan kedokteran , aktivitas , usaha , pekerjaan , yang dilakukan untuk memberi kontribusi dengan mengandalkan keahlian , ketrampilan , kemahiran dengan melibatkan komitmen sebagai seorang dokter. Dalam mencapai profesionalisme kedokteran seorang dokter harus mampu melaksanakan kegiatan atau pun praktik kedokteran secara profesional sesuai yang telah tercantum dalam KODEKI. 2.3.4 Pengertian Kompeten dan Hubungannya dengan Profesionalisme Kompeten adalah ketrampilan yang diperlukan seseorang yang ditunjukkan oleh kemampuannya dengan konsisten memberikan tingkat kinerja yang memadai atau tinggi dalam suatu fungsi pekerjaan spesifik
7

. Pengertian profesionaisme sendiri telah

dipaparkan pada tinjauan kepustakaan. Hubungan kompeten dengan profesionalisme menurut saya yaitu setiap sikap profesional seseorang dalam menjalani suatu profesi akan memperlihatkan seberapa kompeten orang tersebut. Salah satu ciri profesionalisme dalam kedokteran adalah dengan terus menambah wawasan. Dapat dikatakan profesionalisme merupakan bagian dari kompeten. Dengan terus menjunjung dan melaksanakan profesionalisme maka dapat dikatakan seseorang sudah kompeten di bidangnnya.

BAB III Student Project I Page 6

PENUTUP 3.1 Kesimpulan Profesionalisme seorang dokter sangat diperlukan dalam penanganan pasien. Terutama dalam hal terus mengikuti perkembangan di dunia kedokteran juga sikap mementingkan kepentingan pasien di atas kepentingan pribadi. Seorang dokter juga harus senantiasa mengikuti segala perkembangan yang terjadi di dunia kedokteran sehingga dapat terus menambah wawasannya.Pengetahuan serta tenik skill memang berpengaruh besar dalam mendiagnosis penyakit serta penanganan tepat pada pasien. Namun disamping hal tersebut mementingkan kepentingan pasien di atas kepentingan pribadi merupakan sikap profesionalisme seorang dokter yang tak kalah pentingnya. Kenyamanan pasien merupakan hal yang utama, dengan merasa nyamannya pasen maka akan lebih mudah kita memberi diagnosis. Pasien pastinya akan lebih puas atas pelayanan yang diberikan padanya. Sehingga terbangun suatu kepercayaan antara dokter dengan pasien. 3.2 Saran-saran Beberapa saran yang dapat diberikan penulis pada paper ini adalah sebagai berikut a. Diharapkan bagi setiap dokter untuk terus menambah wawasannya dan tidak hanya mengandalkan pengtahuan yang didapat saat masih mengenyam pendidikan dan pengalaman praktik bertahun-tahun b. Dalam menangani pasien hendaknya lebih mementingkan kepentingan pasien di atas kepentingan pribadi. Baik dalam mengatur waktu bagi setiap pasien berkonsultasi maupun etika di depan pasien.

DAFTAR PUSTAKA Student Project I Page 7

1. http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20081113051409AAE7qnF 2. Kuliah Atribut Profesionalisme ; Rabu 21-12-2011 oleh Prof. dr. I.D.P Widjana, DAP&E, Sp.Park 3. http://hukumkes.wordpress.com/2009/05/26/uu-no-292004-tentang-praktikkedokteran/ 4. http://www.ilunifk83.com/t253-praktik-kedokteran 5. Modul mahasiswa Profesionalisme Kedokteran 2011 6. http://id.wikipedia.org/wiki/Kedokteran 7. http://deroe.wordpress.com/2007/10/05/kompeten-dan-kompetensi/

Student Project I

Page 8