Anda di halaman 1dari 32

Abses Mamae et causa Mastitis

KELOMPOK A3 Ketlyne Laura H Anthony Hadi Wibowo Marcella Deviana Steven Martin Fuliman Rini Resmina Citra P Dwi Cahya Advent M Komalah Ravendran Jeffry Rulyanto

ANAMNESIS
Nama, Alamat, Tempat / tanggal lahir, Umur, Jenis kelamin, Status sosial ekonomi keluarga serta Lingkungan tempat tinggal.

Identitas Pasien

RPS

Keluhan utama : Nyeri payudara kiri dan bengkak sejak 1 minggu. Keluhan tambahan : Demam sejak 1 minggu yang lalu, ada cairan keluar dari puting, berdarah atau tidak ? Sakit sejak kapan? Nyeri di daerah mana? Perubahan pada kulit di payudara? Mual, muntah? Sakit kepala? Penurunan berat badan? Kelelahan?
Biopsi atau operasi payudara atau di tempat lain Pemakaian obat, hormone, pil KB Hipertensi Diabetes mellitus

RPD

ANAMNESIS
Usia menarche, Frekuensi menstruasi, Lama menstruasi, teratur atau tidak, Jumlah kehamilan, anak, laki-laki atau perempuan, abortus , Riwayat menyusui, Lamanya menyusui

Riwayat Reproduksi

Riwayat Keluarga

Sehubungan dengan penyakit kanker lain (Ca ovarium, Ca rekti, sarkoma jaringan lunak) Hubungan keluarga : ibu, saudara

Riwayat sosial

Merokok Minum alkohol

PEMERIKSAAN FISIK
Sangat penting pada saat pemeriksaan supaya penderita dalam keadaan senyaman mungkin. Jelaskan maksud dan tujuan pemeriksaan, tangan pemeriksa dan kamar dalam keadaan hangat dengan kamar periksa mempunyai penerangan yang cukup. Bila dokter pria, saat melakukan pemeriksaan sebaiknya ditemani paramedis wanita.

Prinsip

Inspeksi

Perhatikan apakah kedua payudara simetris. nodul pada kulit yang berbentuk seperti papula? Adakah perubahan warna? Adakah luka/borok? Bengkak? Dimpling? Nipple discharge?

PEMERIKSAAN FISIK
Digunakan untuk mengetahui hubungan nodul dengan muskulus pektoralis. Manuver ini juga dapat untuk membedakan apakah benjolan pada payudara tersebut terfiksasi atau dapat bergerak (mobile). Massa yang terfiksasi akan lebih sulit untuk digerakkan pada saat muskulus pektoralis dikontraksikan.

Manuver kontraksi m. pektoralis

Palpasi

Palpasi dilakukan pada posisi duduk dan berbaring. Prinsip keduanya hampir sama dengan palpasi pada umumnya. Palpasi selalu dimulai dari payudara yang tidak ada keluhan terlebih dahulu. Palpasi dilakukan secara sirkuler mengikuti arah jarum jam dengan payudara pasien diantara tangan pemeriksa. Palpasi juga dilakukan pada daerah aksila (ketiak) dan leher. Palpasi pada daerah ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada metastase dari keganasan di payudara.

PEMERIKSAAN FISIK
Bila pada palpasi terdapat nodul, maka perlu dilaporkan :

Lokasi lesi mengikut kuadran

Jumlah nodul

Sensitivitas

Konsistensi nodul

Mobilitas/Fiksasi pada dinding dada

PEMERIKSAAN PENUNJANG

Pemeriksaan Darah Rutin

Pemeriksaan USG

Mammografi

Kultur Pus

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Aspirasi Pus

FNAB

CNB

Sumber: http://reksamedja.blogspot.com/2010/06/sadari-lebih-awal-gejalakanker.html

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pada penderita abses biasanya pemeriksaan darah menunjukkan peningkatan jumlah sel darah putih. Dua jenis alat yang digunakan untuk mendeteksi dini benjolan pada payudara adalah mammografi dan ultrasonografi (USG). Dengan pemeriksaan ini dapat dibedakan lesi solid dan kistik.

GEJALA KLINIK
Tanda dan gejala antara lain :

Nyeri payudara yang berkembang selama periode laktasi Fisura putting susu Fluktuasi dapat dipalpasi atau edema keras Warna kemerahan pada seluruh payudara atau local Limfadenopati aksilaris yang nyeri Pembengkakan yang disertai teraba cairan dibawah kulit Suhu badan meningkat dan menggigil Payudara membesar, keras dan akhirnya pecah dengan borok serta keluarnya cairan nanah bercampur air susu serta darah.

DIAGNOSTIK
Working Diagnosa : Abses Mamae et causa Mastitis Differential Diagnosa : Mastitis Infeksiosa , Mastitis non infeksiosa

DIFFERENTIAL DIAGNOSA
Mastitis Infeksiosa dan Mastitis non infeksiosa

MASTITIS non - Infeksiosa


Stasis ASI Bendungan Payudara Frekuensi menyusui Kenyutan pada payudara Sisi yang disukai dan pengisapan yang kurang efisien Faktor mekanis lain

MASTITIS Infeksiosa
Infeksi Organisme penyebab infeksi Kolonisasi bakteri pada bayi dan payudara Mastitis puerperalis epidemik Rute infeksi

MASTITIS
Leukosit < 10^6 /ml ASI Bakteri <10^3/ml ASI Statis ASI Leukosit >10^6/ml ASI Mastitis noninfeksiosa

Bakteri >10^3/ml ASI

Mastitis infeksiosa

WORKING DIAGNOSIS
Abses Mamae et causa Mastitis adalah akumulasi nanah pada jaringan payudara akibat penanganan mastitis yang kurang baik. Hal ini biasanya disebabkan oleh infeksi pada payudara. Cedera dan infeksi pada payudara dapat menghasilkan gejala yang sama dengan di bagian tubuh lainnya, kecuali pada payudara, infeksi cenderung memusat dan menghasilkan abses kecil. Hal ini dapat menyerupai kista

WORKING DIAGNOSIS
Sumber: http://www.gfmer.ch/selected_i mages_v2/detail_list.php?cat1= 2&cat3=28&stype=d

Sumber: http://medicastore .com/penyakit/88 5/Infeksi_&_Abse s_Payudara.html

ETIOLOGI
Staphylococcus Aureus

Infeksi bakteri bisa menyebabkan abses melalui beberapa cara yaitu sebagai berikut : 1. Bakteri masuk ke bawah kulit akibat luka dari tusukan jarum tidak steril 2. Bakteri menyebar dari suatu infeksi dibagian tubuh yang lain. 3. Bakteri yang dalam keadaan normal, hidup di dalam tubuh manusia dan tidak menimbulkan gangguan, kadang bisa menyebabkan abses.

ETIOLOGI
Peluang terbentuknya suatu abses akan meningkat jika : 1. Terdapat kotoran atau benda asing di daerah tempat terjadinya infeksi. 2. Daerah yang terinfeksi mendapatkan aliran darah yang kurang. 3. Terdapat gangguan system kekebalan tubuh.

PATOFISIOLOGI
Luka pada puting susu sehingga terjadi peradangan / Daerah puting susu tidak bersih setelah menyususi Bakteri atau kuman masuk ke dalam payudara Penyumbatan duktus Pengeluaran susu terhambat Infeksi yang tidak tertangani Terjadinya abses

FAKTOR RESIKO
Diabetes Mellitus Perokok Tindik di puting susu Infeksi setelah melahirkan Kelelahan Anemia Penggunaan obat steroid Rendahnya sistem imun Injeksi Silikon

EPIDEMIOLOGI
Mastitis merupakan masalah yang sering dijumpai pada ibu menyusui. Diperkirakan sekitar 3-20% ibu menyusui dapat mengalami mastitis. Sebagian besar mastitis terjadi dalam 6 minggu pertama setelah bayi lahir (paling sering pada minggu ke-2 dan ke-3), meskipun mastitis dapat terjadi sepanjang masa menyusui bahkan pada wanita yang sementara tidak menyusu

TATALAKSANA
Non medikamentosa Mengajarkan pada ibu cara menyusui yang benar : Teknik menyusui yang benar. Kompres payudara dengan air hangat dan air dingin secara bergantian. Beristirahat Mengkonsumsi cairan yang adekuat dan nutrisi berimbang

TATALAKSANA
Pijatan payudara yang dilakukan dengan jari-jari yang dilumuri minyak atau krim selama proses menyusui dari daerah sumbatan ke arah puting juga dapat membantu melancarkan aliran ASI.

TATALAKSANA
Terapi Bedah Evakuasi abses dengan cara dilakukan operasi (insisi abses) dalam anestesi umum. Setelah diinsisi, diberikan drain untuk mengalirkan sisa abses yang mungkin masih tertinggal dalam payudara. Abses / nanah kemudian diperiksa untuk kultur resistensi dan pemeriksaan PA. Jika abses diperkirakan masih banyak tertinggal dalam payudara, selain dipasang drain juga dilakukan bebat payudara dengan elastic bandage.

TATALAKSANA
Setelah 24 jam tindakan, pasien kontrol kembali untuk mengganti kassa. Pasien diberikan obat antibiotika dan obat penghilang rasa sakit.

PENCEGAHAN
Segera setelah melahirkan menyusui bayi dilanjutkan dengan pemberian ASI eksklusife. Melakukan perawatan payudara dengan tepat dan benar. Masase payudara, kompres hangat dan dingin, pakai bh yang menyokong kedua payudara . Rajin mengganti bh / bra setiap kali mandi atau bila basah oleh keringat dan ASI, BH tidak boleh terlalu sempit dan menekan payudara.

PENCEGAHAN
Segera mengobati puting susu yang lecet, bila perlu oleskan sedikit ASI pada puting tersebut. Bila puting bernanah atau berdarah, konsultasikan dengan bidan di klinik atau dokter yang merawat Biasakan untuk menyusui secara rutin bergantian pada kedua payudara kanan dan kiri. Bila menemui kesulitan seperti puting payudara tenggelam atau ASI tidak bisa lancar keluar tetapi payudara tampak mengeras tanda berproduksi ASI maka konsultasikan dengan bidan cara memerah ASI dengan benar agar tidak terjadi penumpukan produksi ASI

PENCEGAHAN
Biasakan untuk menyusui bayi hingga kedua payudara terasa kosong dan bila bayi tampak sudah kenyang namun payudara masih terasa penuh atau ASI menetes deras, segera kosongkan dengan cara memerah secara manual, bisa diberikan kembali Puting susu dan payudara harus dibersihkan sebelum dan setelah menyusui.Setelah menyusui, puting susu dapat diberikan salep lanolin atau vitamin A dan D. Hindari pakaian yang menyebabkan iritasi pada payudara

Komplikasi
Mastitis Kronik Infeksi berulang bila penanganan dan pencegahan yang kurang baik

PROGNOSIS
Dengan pengobatan yang baik akan menghasilkan prognosis yang baik.

KESIMPULAN
Abses mamae merupakan mastitis yang tidak mendapat penanganan yang baik sehingga terjadi abses. Oleh karena itu perlu dilakukan penanganan yang baik untuk mencegah komplikasi buruk terjadinya abses pada payudara. Dengan pengobatan yang baik, prognosisnya juga akan baik.