Anda di halaman 1dari 8

IMPETIGO KRUSTOSA A. TINJAUAN PUSTAKA. I. Pendahuluan.

Impetigo merupakan salah satu bentuk pioderma superfisialis yang sangat menular, dan masih sering terjadi di tengah - tengah masyarakat saat ini, terdapat dua jenis impetigo, yaitu (1) impetigo bulosa yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus dan (2) impetigo krustosa yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, Streptococcus betahemolytic grup A atau keduanya. (1,2,3,4,5,6) Impetigo krustosa adalah bentuk yang
paling sering terjadi, yaitu sekitar 70% dari seluruh pioderma,(1,6) dan lebih menular dibanding impetigo bulosa. (6)

Gambar 1. (a) Impetigo bulosa, (b) impetigo krustosa. (7) II. Definisi Impetigo krustosa adalah infeksi kulit yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus, Streptococcus beta hemolytic grup A atau oleh keduanya, yang ditandai dengan bentukan vesikel yang terpisah (discrete) dengan dinding yang tipis dan secara cepat akan berubah menjadi pustula dan kemudian pecah.(8,9)

III.

Sinonim. Impetigo non bulosa, Impetigo kontagiosa, impetigo vulgaris, impetigo tillbury fox.(5)

IV.

Epidemiologi impetigo masih merupakan penyakit kulit tersering ketiga yang paling
umum pada anak-anak,

dapat terjadi pada semua ras, tidak ada perbedaan


(1,2,3,4,8)

angka kejadian antara laki-laki dan perempuan. (2,6) Impetigo krustosa sering terjadi pada anak-anak, walaupun dapat juga mengenai dewasa. impetigo.
(2,6)

Sekitar 10 % anak-anak yang datang ke klinik karena penyakit kulit adalah Kejadian impetigo lebih tinggi pada wilayah dengan suhu tertentu, sering pada musim panas dan lingkungan yang lembab. Pada umumnya sumber infeksi pada anak-anak adalah hewan peliharaan, kuku yang kotor, tempat penitipan anak, tempat tinggal yang padat dan anakanak lain di sekolah; sedangkan pada dewasa, sumber infeksi tersering adalah anak-anak yang terinfeksi, atau dapat juga melalui auto-inokulasi.
(3,6,8)

V.

Etiologi Dahulu Streptococcus dianggap sebagai penyebab tersering impetigo krustosa, namun sejak tahun 1970, Staphylococcus aureus diketahui sebagai patogen yang sangat berperan terhadap terjadinya impetigo krustosa. Beberapa survei menyatakan sekitar 50-70% kejadian impetigo krustosa disebabkan oleh Staphylococcus aureus. sedangkan sekitar 20-45% dari kasus impetigo krustosa disebabkan oleh kombinasi Staphylococcus aureus dan Streptococcus beta hemolitikus grup A.
(6,8)

Streptococcus beta hemolitikus grup A merupakan patogen utama di dalam populasi yang berkembang. Streptococcus grup B, C dan G adalah penyebab impetigo krustosa yang jarang terjadi. Streptococcus grup B dihubungkan dengan impetigo pada neonatus.(8)

VI.

Patogenesis Kondisi dimana terjadi kerusakan pada lapisan epidermis contohnya pada luka bekas gigitan serangga, abrasi, laserasi, varicella, herpes simpleks, luka bakar, merupakan port d entre untuk masuknya kuman patogen penyebab impetigo.
(1)

lapisan epidermis merupakan


(5)

pelindung kulit, jika terjadi kerusakan, fungsi kulit sebagai pelindung akan terganggu sehingga memudahkan terjadinya infeksi. Bakteri tersebut berpindah dari satu orang ke orang lain melalui kontak langsung. Setelah berhasil masuk, bakteri kemudian menyebar ke kulit yang sehat dalam waktu 7-14 hari, kemudian lesi impetigo akan muncul setelah 7-14 hari kemudian. (2,6) Infeksi Staphylococcus aureus atau streptococcus yang ada pada tubuh
seseorang, sekitar 30 % berasal dari hidung, dan sekitar 10% berasal dari infeksi pada faring dan juga infeksi pada perineum, pada individu yang hanya sebagai karier, dapat juga menularkan terhadap orang lain. Keadaan Imunosupresi akan memperberat infeksi dan mempercepat pertumbuhan bakteri, contohnya pada penggunaan obat-obatan jangka panjang (misalnya kortikosteroid sistemik, retinoid oral, kemoterapi), adanya penyakit sistemik yang mendasari (misalnya, infeksi HIV, diabetes mellitus), penyalahgunaan narkoba, dan dialisis. (2,6)

VII.

Gejala klinis Penyakit ini diawali dengan makula eritematous yang berukuran 1-2 mm yang kemudian secara cepat berkembang menjadi vesikel, pustula atau bula yang kemudian pecah. Segera setelah lesi ini pecah, tampak adanya pengeluaran cairan seropurulen yang akan mengering menjadi krusta tebal berwarna kekuningan yang memberi gambaran karakteristik seperti madu (honey coloured). Jika krusta ini dilepas akan meninggalkan permukaan yang halus, kemerahan, dan basah yang segera terisi oleh eksudat baru yang dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain melalui jari tangan, handuk. Sering krusta menyebar ke perifer dan sembuh dibagian tengah.
(3,5,8)

Tempat

predileksi impetigo adalah pada muka terutama di sekitar hidung dan mulut, leher dan pada anggota gerak
(1,3,5)

dan badan (kecuali telapak

tangan dan kaki) biasanya tanpa disertai gejala konstitusi (demam, malaise, mual) kecuali bila kelainan kulitnya berat.(3,5) gatal dan perih seringkali dikeluhkan oleh pasien.(1)

Gambar 2
(7)

VIII. Histopatologi. Pada pemeriksaan histopatologi pada impetigo didapatkan suatu radang superfisial yang berbentuk corong bagian atas dari folikel pilosebasea. Suatu vesikopustul pada umumnya dibentuk di subcorneal, berisi rantai coccus yang menyebar bersama dengan sisa leukosit polimorfonuklear (PMN), dan sel epidermal. Pada lapisan dermis terdapat suatu reaksi radang yang ringan ditandai dengan dilatasi pembuluh darah, edema, dan penyebaran dari leukosit PMN.(8) IX.
(6)

Diagnosis. Diagnosis impetigo krustosa ditegakkan berdasarkan gejala klinis. Pemeriksaan penunjang seperti pengecatan gram dilakukan pada impetigo bulosa, bahan diambil dari eksudat yang berasal dari bula, pada impetigo akan ditemukan bakteri coccus gram positif. (1) kultur bakteri dan

uji sensitivitas hanya direkomendasikan pada keadaan tertentu, yaitu; (1) pada kasus dimana dicurigai bakteri staphylococcus aureus telah resisten terhadap mehicilin (MRSA), (2) terjadi Kejadian luar biasa (outbreak) impetigo, dan (3) jika terjadi komplikasi glomerulonefritis postreptococcal. (6) X. Diagnosis banding. Impetigo mungkin mirip dengan beberapa penyakit. Circinate patches sering disalah artikan dengan tinea, tetapi secara klinis pada dasarnya berbeda, impetigo krustosa ditandai dengan lesi superfisial yang basah tertutup oleh krusta tebal, berwarna kuning mengkilat atau jingga dengan karakteristik seperti madu (honey coloured), dengan tepi yang mudah terlepas, tidak menyerupai bentukan patch dengan eritema yang tegas pada bagian tepi yang didapatkan pada Tinea circinata.(8) Impetigo mungkin bisa keliru dengan dermatitis toxicodendron yang lebih berkrusta, pustula, melibatkan lubang hidung, sudut mulut dan telinga. Tidak disertai dengan pembengkakan kelopak mata dan lesi linier, atau gatal-gatal; hal tersebut sering muncul pada dermatitis yang berkaitan dengan poison ivy. Impetigo juga memiliki bentukan yang mirip dengan ektima, namun pada ektima lesinya berupa ulkus yang berkrusta, bukan merupakan erosi, dan sering disertai dengan limfadenitis, dan dapat merupakan komplikasi dari impetigo.(8)

XI.

Penatalaksanaan. Pengobatan topikal Pada lesi yang bersifat lokal dengan krusta yang sedikit dan terjadi pada penderita dengan kondisi tubuh yang sehat, dan personal higien yang baik, pemberian terapi topikal cukup efektif sebagai pengobatan tunggal.
(3,5,8)

Bila krusta melekat kuat, dikompres terlebih dahulu dengan larutan


(3,4,5)

sodium chloride 0,9% agar krusta terlepas, supaya obat topikal dapat bekerja efektif. Salep natrium fusidat atau salep mupirocin

(bactroban) merupakan antibiotik topikal yang cukup efektif pada impetigo.(1,2,8) Mupirocin juga merupakan DOC pada impetigo dengan lesi yang
kecil dan lokal tanpa adanya limfadenopati. Antibiotik topikal Retapamulin (Altabax) juga dapat dipakai pada pengobatan impetigo, tersedia sebagai sediaan salep 1 %, yang bekerja dengan Menghambat sintesis protein dengan mengikat subunit 50S ribosom. Diindikasikan untuk impetigo yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus atau Streptococcus pyogenes.(6)

antibiotik topikal Gentamicin banyak digunakan di

banyak negara, cukup efektif untuk terapi topikal pada impetigo maupun pioderma yang lain, namun pada penggunaan jangka panjang dapat bersifat ototoksik dan nefrotoksik. (6) Pengobatan sistemik. Antibiotik sistemik diberikan pada kasus-kasus berat, lama pengobatan paling sedikit 7 hari.
(1,2,3)

Karena penyebab tersering impetigo yang

krustosa adalah bakteri staphylococcus, pemilihan antibiotik generasi pertama. (1) Contoh obat-obat golongan penisilin semisintetik : 1) Penisilin G procain injeksi Dosis pada dewasa : 0,6-1,2 juta I.U, im, 1-2 kali sehari.

dianjurkan adalah golongan penisilin semisintetik atau sefalosporin

Pada anak-anak : 25.000-50.000 I.U/kg/dosis, 1-2 kali sehari. 2) Ampicilline Dosis pada dewasa : 250-500mg/dosis, 4 kali sehari. Pada anak-anak : 7,5 25 mg/kg/dosis, 4 kali sehari a.c. 3) Amoxicillin Dosis pada dewasa : 250-500mg/dosis, 3 kali sehari. Pada anak-anak : 7,5 25 mg/kg/dosis, 3 kali sehari a.c. 4) Cloxacillin (Untuk infeksi staphylococcus yang resisten terhadap penisilinase) Dosis pada dewasa : 250-500mg/dosis, 4 kali sehari a.c. Pada anak-anak : 10 25 mg/kg/dosis, 4 kali sehari a.c. 5) Dicloxacillin (Dycill, Dynapen) Dosis pada dewasa : 125- 250 mg dosis, 4 kali sehari a.c.

Pada anak-anak : 5 15 mg/kg/dosis, 3-4 kali sehari a.c. 6) Eritromycin (pada penderita yang memiliki riwayat alergi penisilin) Dosis pada dewasa 250-500mg/dosis, 4 kali sehari setelah makan. Pada anak-anak 12,5-25mg/kg/dosis, 4 kali sehari setelah makan. 7) Clindamycin (bila alergi penisilin disertai dengan gangguan saluran cerna) Dosis pada dewasa 150-300mg/dosis, 3-4 kali sehari. Pada anak-anak (>1 bulan) 8-20mg/kg/hari, 3-4 kali sehari.(4) Agar terapi yang diberikan dapat efektif, penderita daanjurkan untuk menjaga higiene personal yang baik, menghindari kontak dengan orang lain yang juga terinfeksi, tidak menggunakan handuk secara bergantian dan hindari kontak langsung dengan orang disekitarnya sampai dinyatakan sembuh sempurna.
dapat menurunkan jumlah patogen pada kulit.(6)
(1,3)

Mengobati

penyakit yang mendasarinya juga tidak kalah penting, karena telah terbukti

XII.

Komplikasi. Impetigo biasanya akan sembuh dengan antibiotik topikal atau oral,
dan sangat jarang terjadi komplikasi yang serius.(6)

Glomerulonephritis akut

dapat terjadi pada 2-5% individu dengan impetigo yang disebabkan oleh Streptococcus beta hemolitikus grup A tipe 49, 55, 57, dan 60. Sering pada anak-anak yang berusia dibawah 6 tahun.
(3,8)

Serangan

pada umumnya terjadi pada 10 hari setelah luka impetigo yang pertama tampak, tetapi dapat terjadi 1-5 minggu kemudian. Proteinuria dan hematuria mungkin terjadi selama impetigo dan diselesaikan kembali sebelum keterlibatan ginjal berkembang. Perawatan dengan

antibiotik tidak akan mencegah perkembangan glomerulonephritis, tetapi akan membatasi penyebaran penyakit ke individu yang lain. Selain itu dapat terjadi sepsis, pneumonia dan meningitis, hal tersebut
akan memerlukan perawatan di rumah sakit dengan terapi antibiotik intravena. (6)

XIII. Prognosis. Prognosis impetigo secara umum sangat baik, terutama pada penderita yang mendapat pengobatan dini dan tepat. Penyembuhan luka pada umumnya terjadi setelah 7-10 hari perawatan, tanpa meninggalkan jaringan parut. Jika luka belum sembuh dalam waktu 7-10 hari setelah pemberian antibiotik, kultur dan uji sensitivitas harus dilakukan untuk penanganan selanjutnya.(2)