Anda di halaman 1dari 10

UJI EFEK ANTIMIKROBA EKSTRAK KULIT POHON RAMBUTAN (Nephellium lappaceum L) TERHADAP Escherichia coli SECARA IN VITRO

Sri Murwani*, Soemardini**, Putri Rachma Safitri***

ABSTRAK

Escherichia coli merupakan bakteri penyebab tersering infeksi saluran kemih (ISK) dan diare. Untuk mengatasi penyakit infeksi tersebut, banyak dikembangkan penggunaan antimikroba, termasuk antimikroba herbal. Salah satu yang diduga mengandung antimikroba adalah kulit pohon rambutan. Kulit pohon rambutan diketahui mengandung tannin, saponin, dan flavonida yang memiliki efek antimikroba. Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa ekstrak kulit pohon rambutan memiliki efek antimikroba terhadap E. coli secara in vitro. Penelitian ini merupakan eksperimental, menggunakan the post test only control group design yang dilakukan terhadap E. coli dengan metode dilusi tabung. Kelompok perlakuan yaitu kelompok bakteri yang diberi ekstrak kulit pohon rambutan dengan konsentrasi 10%; 12%; 14%; 16%; dan 18%. Kelompok kontrol terdiri dari kontrol bakteri sebagai kontrol positif dan kontrol ekstrak kulit pohon rambutan sebagai kontrol negatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kadar Hambat Minimal (KHM) sebesar 16%, sedangkan Kadar Bunuh Minimal (KBM) diperoleh pada 18%. Analisa data menggunakan One-way ANOVA dengan α = 0,05 menunjukkan terdapat perbedaan efek antimikroba antara tiap perlakuan konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan terhadap jumlah koloni E. coli. Uji korelasi menunjukkan semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan, maka semakin rendah pertumbuhan E. coli secara in vitro. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu ekstrak kulit pohon Rambutan mempunyai efek antimikroba terhadap E. coli, dengan KHM 16% dan KBM 18%.

Kata Kunci : Escherichia coli, ekstrak kulit pohon Rambutan, antimikroba.

ABSTRACT

Escherichia coli is the most common bacteria cause of urinary tract infection (UTI) and diarrhoea. In order to eliminate the infection, the use of antimicrobial is developed, included herb antimicrobial. One of herb which is supposed to prove the antimocrobial effect is the bark of rambutan. The bark of Rambutan is known contain tannin, saponin, and flavonida that have antimicrobial effect. This research is conducted to prove the antimicrobial effect of bark of Rambutan extract on E. coli using in vitro Method. This research isan experimental study which use the post test only control group design is carried out to E. coli with tube dilution method. The treated groups are bacteria groups which are given the Rambutan bark extract with range of concentration which are 10%, 12%, 14%, 16%, ang 18. The control groups are consist of bacteria control as positive control and extract control as negative control. The result indicated that minimal inhibitory concentration (MIC) is 16% and minimal bactericidal concentration (MBC) is found at 18%. Results of One-way ANOVA with α = 0,05, showed significant difference between the antimicrobial effects of each concentration of Rambutan bark ex- tract to the growth of colonies of E. coli. Correlation test showed that the higher concentration of bark extract Rambutan, the less number of colony growth. The conclusion of this study is that Rambutan bark extract has antimicrobial effect against E. coli, with MIC is 16% and MBC is 18%.

Keywords: Escherichia coli, Rambutan bark extract, antimicrobial agent.

* Laboratorium Mikrobiologi FKUB ** Laboratorium Faal FKUB *** Program Studi Pendidikan Dokter FKUB

PENDAHULUAN

Escherichia coli merupakan flora normal yang terdapat di saluran pencernaan manusia. Bakteri ini mempunyai peranan yang cukup pent- ing yaitu selain sebagai penghuni usus besar, E. coli juga menghasilkan kolisin yang dapat melin- dungi saluran pencernaan dari bakteri patogenik. E. coli akan menjadi patogen apabila pindah dari habitatnya yang normal ke bagian lain dalam inang, misalnya, apabila E. coli di dalam usus masuk ke dalam saluran kandung kemih dapat menyebabkan sistitis (Melliawati, 2009). Galur-galur tertentu E. coli juga telah terbukti menyebabkan gastroenteritis taraf se- dang sampai parah pada manusia. Bakteri ini juga dapat menyebabkan diare akut. Di Indonesia, diare merupakan penyakit penyum- bang kematian bayi terbesar. Nilainya mencapai 31,4 persen dari total kematian bayi. Diare juga menjadi penyebab kematian terbesar balita. Ter- catat, 25,2 persen kematian balita di tanah air disebabkan oleh diare. Diare bukan hanya menyerang bayi dan balita saja, orang dewasa pun bisa terkena. Selain itu, E. coli juga sering menyebabkan kolesistitis, bakterimia, kolangitis, meningitis neonatus dan pneumonia (Melliawati, 2009; Riskesdas, 2008). Salah satu masalah serius yang sedang dihadapi dalam pengobatan penyakit infeksi adalah terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik yang digunakan. Dengan berkembangnya populasi bakteri yang resisten, maka antibiotik yang pernah efektif untuk mengobati penyakit-penyakit tertentu kehilangan

nilai kemoterapeutiknya. Selain itu, pemakaian obat antibiotik dalam dunia pengobatan sering menimbulkan berbagai efek samping yang tidak menyenangkan seperti mual, muntah, sakit ke- pala, hingga alergi. Oleh karena itu, pengembangan obat-obatan yang efektif dan aman perlu dilakukan (Dzulkarnain dkk, 1996). Rambutan merupakan tanaman buah hortikultural yang berasal dari Indonesia. Rambutan banyak ditanam sebagai pohon buah, terkadang ditemukan sebagai tumbuhan liar, terutama di luar Jawa. Bagian yang paling sering dimanfaatkan dari Rambutan adalah buahnya. Buah Rambutan terkenal manis dan enak dikonsumsi. Selain buahnya, masyarakat sering memanfaatkan kulit buah, daun, biji, akar, dan kulit pohon Rambutan (Ristek, 2000). Kulit pohon Rambutan berwarna merah kecoklatan atau coklat keabu-abuan. Kulit pohon ini sering dimanfaatkan untuk pengobatan sariawan. Kulit pohon ini mengandung tannin, saponin, flavonida, pectic substance, dan zat besi. Bahan aktif seperti tannin, saponin dan flavonida dapat dimanfaatkan sebagai alternatif antimikroba alamiah dengan mekanisme yang berbeda - beda. (Thulaja, 2003) . Berdasarkan uraian di atas, maka penulis ingin melakukan penelitian uji efek antimikroba ekstrak kulit pohon Rambutan (Nephellium lappaceum L) terhadap E. coli secara in vitro.

METODOLOGI PENELITIAN

Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan penelitian eksperimental dengan post-test control design dan dilakukan secara in vitro. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek antimikroba ekstrak kulit pohon Rambutan terhadap E. coli. Uji kepekaan antimikroba yang dipakai adalah uji kepekaan antimikroba dengan metode dilusi tabung. Metode dilusi tabung dengan menggunakan ekstrak kulit pohon Rambutan ini meliputi 2 tahap, yaitu tahap pengujian bahan di media cair dengan tujuan

untuk mencari seberapa besar Kadar Hambat Minimum (KHM), kemudian dilanjutkan dengan tahap penggoresan pada media NAP yang ditujukan untuk menentukan Kadar Bunuh Minimum (KBM) dari ekstrak kulit pohon Rambutan tersebut terhadap E. coli.

Sampel dan Besar Sampel

Sampel yang digunakan di dalam penelitian ini adalah E. coli yang dimiliki oleh Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. Sampel diperoleh dari spesimen yang berasal dari urin salah satu pasien infeksi

saluran kemih yang terinfeksi E. coli di Rumah sakit Saiful Anwar Malang.

Estimasi Jumlah Pengulangan Sampel

Banyaknya pengulangan yang diperlukan untuk penelitian ini dapat dihitung dengan menggunakan rumus (Solimun, 2001):

p ( n – 1 ) ≥ 15

Keterangan :

p = jumlah perlakuan (terdiri dari lima macam perlakuan/konsentrasi)

n = jumlah ulangan yang diperlukan

Penelitian ini menggunakan 5 konsentrasi (A, B, C, D, E) dari ekstrak kulit pohon Rambutan dan 1 kontrol E. coli tanpa diberi ekstrak kulit pohon

Rambutan (p = 5 + 1 = 6) maka didapatkan jumlah pengulangan:

6 (n - 1) ≥ 16 6n – 6 ≥ 16 6n ≥ 22 n ≥ 3,667 ≈ 4 Jadi jumlah pengulangan yang perlu dilakukan pada penelitian ini adalah 4 kali (isolat sama).

Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Mi- krobiologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang pada bulan Maret hingga Juni

2011.

Variabel Penelitian

Variabel penelitian terdiri atas variabel bebas dan variabel tergantung.

Variabel Bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini adalah ekstrak kulit pohon Rambutan dengan konsen- trasi tertentu yang diperoleh melalui eksplorasi (penelitian pendahuluan).

Variabel Tergantung

Variabel tergantung dalam penelitian ini ada- lah Jumlah koloni E. coli.

Definisi Operasional

Di dalam penelitian ini ada beberapa hal yang perlu diketahui yaitu:

1. Sediaan ekstrak kulit pohon Rambutan adalah kulit luar dari batang pohon Rambutan (Nephellium lappaceum L) yang didapat dari dusun Ringin Anom, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang. Kulit pohon yang digunakan merupakan kulit pohon terluar dari bagian tengah pohon Rambutan.

2.

Ekstrak kulit pohon Rambutan adalah kulit pohon Rambutan yang telah dikeringkan, setelah itu dilakukan ekstraksi dingin (maserasi) dengan menggunakan etanol

96%.

3.

Escherichia coli yang digunakan dalam penelitian ini berasal dari Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya dari spesimen urin salah satu pasien infeksi saluran kemih (ISK) Rumah Sakit Saiful Anwar.

4.

Kadar Hambat Minimal (KHM) adalah konsentrasi antimikroba terendah yang mampu menghambat pertumbuhan kuman.

5.

Kadar Bunuh Minimal (KBM) adalah konsentrasi antimikroba terendah yang mampu membunuh kuman.

6.

Original inoculum adalah inokulum bakteri dengan konsentrasi 10 6 CFU/mL yang di- inokulasikan pada media agar padat sebe- lum diinkubasi dan digunakan untuk menca- ri kategori KBM.

7.

Kontrol negatif adalah ekstrak kulit pohon Rambutan murni yang tidak dicampur den- gan bakteri E. coli yang digunakan untuk mengetahui apakah bahan yang digunakan steril di mana nilai kontrol negatif adalah 0 (tidak terdapat pertumbuhan koloni bakteri jenis apa pun).

8.

Kontrol positif adalah biakan E. coli murni yang tidak dicampur dengan ekstrak kulit pohon Rambutan yang dapat digunakan sebagai standar jumlah pertumbuhan bakteri tanpa ekstrak kulit pohon Rambutan.

1.1

Analisis Data

Seluruh teknis pengolahan data hasil penelitian akan dianalisis secara komputerisasi dengan menggunakan software Statistical Product and Service Solution 16 PS (SPSS 16) for Windows dengan tingkat signifikansi atau nilai probabilitas 0,05 dan taraf kepercayaan 95% (α = 0,05). Pada penelitian ini, variabel yang akan dianalisis yaitu jumlah koloni E. coli yang tumbuh pada NAP berdasarkan tingkat konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan. Untuk mengetahui apakah terdapat keragaman antar perlakuan dilakukan uji hipotesis komperatif. Metode yang dapat digunakan, yaitu uji parametrik One-way ANOVA (Analysis of Variance) dengan alternatifnya yaitu uji non- parametrik Kruskal-Wallis. Metode One-way ANOVA dapat digunakan jika data memenuhi syarat-syarat uji parametrik sebagai berikut (Dahlan, 2004) :

1. Terdapat lebih dari dua kelompok yang tidak berpasangan.

2. Distribusi data normal (p > 0,05), yang dapat diketahui dari uji normalitas (Kolmogrov- Smirnov Goodness of Fit Test). Jika distribusi data tidak normal, maka diupayakan untuk melakukan transformasi data supaya distribusi data menjadi normal.

3. Ragam data sama atau homogen (p > 0,05), yang dapat diketahui dari uji homogenitas Levene (Levene Test Homogenity of Variance). Jika varians data tidak sama atau homogen, maka diupayakan untuk melakukan transformasi data supaya ragam data menjadi sama atau homogen.

4. Jika data hasil transformasi tidak terdistribusi

normal atau ragam data tetap tidak sama, maka dipilih uji Kruskal-Wallis sebagai alternatifnya. Uji One-way ANOVA atau uji Kruskal-Wallis digunakan untuk menganalisis apakah terdapat perbedaan hasil yang bermakna antar masing- masing kelompok perlakuan dengan melihat besarnya nilai signifikansi (nilai p). Bila p < 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa paling tidak terdapat perbedaan hasil yang bermakna antara dua kelompok perlakuan. Sedangkan apabila nilai p > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil yang bermakna antar masing-masing kelompok perlakuan (Dahlan, 2004).

Untuk mengetahui kelompok mana yang berbeda secara bermakna dilakukan uji Post-Hoc dengan menggunakan uji Tukey HSD untuk data yang menggunakan uji One-way ANOVA, dan uji Mann-Whitney untuk data yang menggunakan uji Kruskal-Wallis. Perbedaan antar kelompok dikatakan bermakna apabila didapatkan nilai signifikansi kurang dari 0,05 (p < 0,05) (Dahlan,

2004).

Untuk mengetahui seberapa kuat korelasi antara pemberian beberapa konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan dangan jumlah koloni E. coli yang tumbuh pada NAP, dilakukan uji korelasi Pearson dengan alternatif berupa uji korelasi Spearman jika syarat uji parametrik tidak terpenuhi. Dari uji korelasi, dapat diketahui besarnya perbedaan secara kualitatif kelompok yang berbeda secara bermakna, yang telah diketahui sebelumnya dari hasil uji Post-Hoc Tukey HSD, maupun Mann-Whitney. Interpretasi hasil uji korelasi didasarkan pada nilai p, kekuatan korelasi (r), dan arah korelasi (Dahlan,

2004).

Selanjutnya dilakukan uji regresi linear, yang digunakan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh pemberian ekstrak kulit pohon Rambutan dengan jumlah koloni E. coli yang tumbuh pada NAP.

HASIL PENELITIAN

Hasil Identifikasi Bakteri

Sebelum melakukan uji efek antimikroba, peneliti mengidentifikasi bakteri Escherichia coli yang tersedia di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya. E. coli yang digunakan adalah hasil isolat dari urin salah satu pasien infeksi saluran kemih (ISK) di Laboratorium Mikrobiologi FKUB. Identifikasi bakteri dilakukan melalui dua tahap. Tahap

pertama adalah pewarnaan gram. Dari pewarnaan gram, diperoleh hasil batang gram negatif (gambar 5.1). Tahap kedua adalah penanaman bakteri pada medium EMB. Pada medium EMB, E. coli memberi karakteristik yang khas, yaitu koloni bewarna metallic sheen (gambar 5.2). Berdasarkan hasil kedua tahap identifikasi bakteri tersebut, dapat disimpulkan bahwa bakteri yang akan diuji merupakan E. coli.

bahwa bakteri yang akan diuji merupakan E. coli . Gambar 5.1 Hasil Pewarnaan gram, E. coli

Gambar 5.1 Hasil Pewarnaan gram, E. coli berbentuk batang dan bersifat gram negatif yang ditandai dengan warna merah

Gambar 5.2 Hasil Penanaman E. coli pada Medium EMB, koloni E. coli memberikan warna khas

Gambar 5.2 Hasil Penanaman E. coli pada Medium EMB, koloni E. coli memberikan warna khas metallic sheen

Hasil Penentuan Kadar Hambat Minimal

Langkah pertama untuk mengetahui Kadar Hambat Minimal (KHM) dari suatu bahan uji terhadap suatu bakteri adalah melakukan uji dilusi tabung dengan konsentrasi yang sudah ditentukan. Setelah diinkubasi selama 18-14 jam, dilakukan pengamatan dengan mata telanjang terhadap kekeruhan masing-masing tabung.

Konsentrasi terkecil pertama yang menunjukkan kejernihan merupakan KHM dari bahan uji yaitu ekstrak kulit pohon Rambutan. Dari pengamatan terhadap hasil dilusi tabung ekstrak kulit pohon Rambutan didapatkan KHM pada dosis ekstrak kulit pohon Rambutan 16% (Gambar 5.3).

pada dosis ekstrak kulit pohon Rambutan 16% (Gambar 5.3). Gambar 5.3 Hasil Dilusi Tabung Ekstrak Kulit

Gambar 5.3 Hasil Dilusi Tabung Ekstrak Kulit Pohon Rambutan terhadap E. coli Tampak pada gambar bahwa pada dosis 10%, 12%, 14% media masih keruh, sedangkan pada dosis 16% dan 18% media sudah jernih. Maka KHM didapat pada dosis 16%.

Keterangan:

10%

: konsentrasi ekstrak 10%

12%

: konsentrasi ekstrak 12%

14%

: konsentrasi ekstrak 14%

16%

: konsentrasi ekstrak 16%

18%

: konsentrasi ekstrak 18%

Hasil Penentuan Kadar Bunuh Minimal

Kadar bunuh minimal (KBM) dapat diperoleh dari streaking hasil uji dilusi tabung pada medium NAP, kemudian diinkubasi selama 18-24 jam. KBM didapat dari jumlah koloni <0,1% dari

original inoculum. Jumlah koloni pada original inoculum sebanyak 460 CFU/plate. KBM dari original inoculum sebesar 0,46 sehingga Kadar Bunuh Minimal (KBM) dari ekstrak kulit pohon Rambutan terhadap E. coli terletak pada konsentrasi 18% (Gambar 5.4).

18% 14% 16% 10% 12%
18%
14%
16%
10%
12%

Gambar 5.4 Hasil Penanaman E. coli dengan Konsentrasi Tertentu Ekstrak Kulit Pohon Rambutan pada Medium NAP Tampak bahwa pada konsentrasi 10%,12%, 14%, 16% masih ada koloni kuman yang tumbuh, sedangkan pada konsentrasi 18% tidak terdapat pertumbuhan koloni. Artinya 18% merupakan KBM ekstrak kulit pohon Rambutan.

Keterangan:

10%

: konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan 10%

12%

: konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan 12%

14%

: konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan 14%

16%

: konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan 16%

18%

: konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan 18%

Selanjutnya pada setiap dosis ekstrak, dihitung jumlah koloni kuman yang tersisa. Ini diperlukan untuk mengetahui apakah

Hasil pengamatan jumlah koloni disajikan pada tabel berikut :

peningkatan dosis ekstrak berpengaruh secara signifikan secara statistik terhadap penurunan jumlah koloni.

Tabel 5.1 Jumlah Koloni E. coli pada Pemberian Berbagai Dosis Ekstrak Kulit Pohon Rambutan

Konsentrasi

Jumlah Koloni (Pengulangan)

 

I

II

III

IV

0%

1506

1485

1520

1477

10%

111

165

166

125

12%

69

61

76

83

14%

21

17

30

36

16%

2

3

1

1

18%

0

0

0

0

PEMBAHASAN

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh ekstrak kulit pohon Rambutan (Nephellium lappaceum L) sebagai antimikroba terhadap E. coli secara in vitro. Selain untuk mengetahui hubungan antara ekstrak dan mengetahui seberapa besar pengaruh pemberian ekstrak kulit pohon Rambutan terhadap pertumbuhan E. coli, penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui Kadar Hambat Minimal (KHM) dan Kadar Bunuh Minimal (KBM) ekstrak kulit pohon Rambutan terhadap E. coli. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Tube dilution test untuk mengetahui KHM dan dengan menggunakan media Nutrient Agar Plate (NAP) untuk menentukan KBM. Isolat bakteri yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari stock culture Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Malang. Sebelum digunakan untuk penelitian, E. coli diidentifikasi terlebih dahulu dengan pewarnaan Gram dan penanaman pada medium EMB. Dari pewarnaan gram, didapatkan gambaran bentuk bakteri batang (basil) Gram negatif, yang ditandai dengan warna merah pada bakteri, sedangkan dari penanaman pada medium EMB didapatkan koloni berwarna metallic sheen. Ekstrak kulit pohon Rambutan yang digunakan dalam penelitian ini merupakan ekstrak cair hasil ekstraksi dengan pelarut etanol 96%, yang kemudian dievaporasi. Kulit pohon Rambutan yang digunakan diperoleh dari pohon Rambutan di Dusun Ringin Anom, Kecamatan Kromengan, Kabupaten Malang, yang kemudian dikeringkan dan dihaluskan hingga menjadi bubuk. Kemudian dilakukan proses ekstraksi dengan menggunakan etanol dan dievaporasi dengan water bath. Lalu didapatkan ekstrak kulit pohon Rambutan (konsentrasi 100%) berwarna coklat kehitaman. Sebelumnya, penulis telah melakukan penelitian pendahuluan terlebih dahulu sebelum mendapatkan konsentrasi dari perlakuan. Penelitian pendahuluan menggunakan konsentrasi ekstrak dengan pengenceran bertingkat (3,125%; 6,25%; 12,5%; 25%; 50%; 100%), dimana pertumbuhan koloni E. coli sudah tidak ditemukan pada konsentrasi 25%. Kemudian menggunakan konsentrasi antara 12,5% sampai 25%. Dari hasil itulah, penulis memutuskan untuk menggunakan konsentrasi 10%; 12%; 14%; 16%; dan 18% sebagai konsentrasi perlakuan. Pada penelitian ini didapatkan KHM pa- da 16%, dimana hasil dilusi tabung menunjukkan

kejernihan pertama dibandingkan dosis lain. Pa- da mulanya, yaitu sebelum inkubasi, didapatkan pola bahwa semakin tinggi konsentrasi, hasil dilusi tabung akan semakin keruh, sebab pen- campuran ekstrak lebih banyak. Namun, setelah inkubasi selama 18 – 24 jam, keadaan menjadi berbalik, yaitu semakin tinggi konsentrasi, sema- kin jernih warna tabungnya. Hal ini disebabkan, selama inkubasi, bakteri berkembang biak. Pada dosis 10%, 12%,dan 14% tidak ditemukan efek penghambatan. Oleh sebab itu, hasil dilusi ta- bungnya tampak keruh. Lain halnya dengan kon- sentrasi 16% dan 18%, dimana ada penghamba- tan pertumbuhan bakteri, sehingga hasil dilusi tabung nampak jernih. Masing-masing konsentrasi perlakuan beserta dengan kontrol, di-streaking pada NAP (Nutrient Agar Plate) kemudian diinkubasi pada suhu 37 o C selama 18 - 24 jam. Jumlah koloni bakteri yang tumbuh pada masing-masing NAP dihitung dengan menggunakan colony counter. Dari hasil perhitungan tersebut, diketahui bahwa pertumbuhan koloni yang merupakan Kadar Bunuh Minimal (KBM) dimana jumlah koloni < 0,1% dari original inoculum pada tiap pengulangan terletak pada konsentrasi ekstrak 18%. Sedangkan dari persamaan Uji Regresi, estimasi konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan yang dapat membunuh jumlah koloni hingga 100% (LD100) adalah pada konsentrasi

16,73%.

Hasil perhitungan jumlah koloni E. coli kemudian dianalisis dengan menggunakan uji statistik non-parametrik Kruskal-Wallis, uji Mann- Whitney, uji korelasi Pearson dan uji regresi linear. Hasil uji Kruskal-Wallis menunjukkan nilai signifikansi sebesar 0,001 (p < 0,05), sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan efek antimikroba pada pemberian ekstrak kulit pohon Rambutan antara tiap perlakuan terhadap jumlah koloni E. coli yang tumbuh pada NAP. Hasil uji Mann-Whitney seluruh perbandingan jumlah koloni antara tiap perlakuan konsentrasi ekstrak menunjukkan nilai signifikansi kurang dari 0,05 (p < 0,05) yang berarti memiliki perbedaan yang signifikan. Hasil uji korelasi Pearson menunjukkan nilai signifikansi 0,000 (p < 0,05), yang berarti terdapat korelasi yang signifikan antara pemberian ekstrak kulit pohon Rambutan dengan jumlah koloni bakteri E. coli. Besar koefisien korelasi Pearson yaitu r = -0,914. Tanda negatif menunjukkan arah korelasi negatif, yaitu bahwa semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan maka semakin sedikit jumlah koloni E. coli yang tumbuh, dan sebaliknya. Nilai 0,914 menunjukkan bahwa

terdapat korelasi yang kuat antara konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan dengan jumlah koloni E. coli. Dari uji regresi linear, dapat diketahui seberapa besar pengaruh pemberian ekstrak kulit pohon Rambutan terhadap jumlah koloni E. coli yang tumbuh pada NAP. Hasil persamaan regresi linearnya, yaitu : Y = 296,150 – 17,700 X. Y adalah jumlah koloni E. coli yang tumbuh pada NAP sedangkan X adalah perlakuan konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan. Hasil uji regresi linear juga menunjukkan koefisien korelasi R Square (r ) sebesar 0,835. Angka ini menunjukkan besarnya derajat keeratan korelasi antara konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan dengan jumlah koloni E. coli yaitu 83,5%. Hal ini berarti kontribusi pemberian ekstrak kulit pohon Rambutan dalam menurunkan jumlah koloni E. coli diduga sebesar 83,5% sedangkan sisanya 16,5% disebabkan oleh faktor-faktor lain yang tidak diteliti (Dahlan, 2004). Hasil analisa data tersebut didukung oleh data pada beberapa literatur. Beberapa penelitian telah dilakukan untuk membuktikan adanya efek antimikroba dari kulit pohon Rambutan. Penelitian ini dilakukan oleh dilakukan oleh Thulaja, dkk di Singapura pada 2003 yang menyebutkan bahwa kulit pohon Rambutan dapat dijadikan pengobatan infeksi pada lidah. Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh sentra Iptek Indonesia, yang dikemukakan dalam websitenya, menduga bahwa dalam kulit pohon Rambutan, terdapat zat – zat yang bisa berpotensi menjadi antimikroba. Kemungkinan efek anti mikroba kulit pohon Rambutan terhadap E. coli diduga karena kulit pohon Rambutan mengandung bahan aktif seperti tanin, saponin, dan flavonoid. Tannin merupakan salah satu senyawa kimiawi yang termasuk dalam golongan polifenol yang diduga dapat mengikat salah satu protein yang dimiliki oleh bakteri yaitu adhesin dan apabila hal ini terjadi maka dapat merusak ketersediaan reseptor pada permukaan sel bakteri. Tannin juga telah dibuktikan dapat membentuk kompleks senyawa yang irreversibel dengan prolin, suatu protein lengkap, yang mana ikatan ini mempunyai efek penghambatan sintesis protein untuk pembentukan dinding sel (Agnol dkk,2003). Sementara menurut Ajizah (2004), tanin diduga dapat mengkerutkan dinding sel atau membran sel sehingga mengganggu permeabilitas sel itu sendiri. Akibat terganggunya permeabilitas, sel tidak dapat melakukan aktivitas hidup sehingga pertumbuhannya terhambat atau bahkan mati. Masduki (1996) menyatakan bahwa tanin mempunyai daya antimikroba dengan cara mempresipitasi protein, karena diduga tanin mempunyai efek yang sama

2

dengan senyawa fenolik. Efek antimikroba tanin antara lain melalui: reaksi dengan membran sel, inaktivasi enzim, dan destruksi atau inaktivasi fungsi materi genetik. Tanin menyebabkan denaturasi protein dengan membentuk kompleks dengan protein melalui kekuatan nonspesifik seperti ikatan hidrogen dan efek hidrofobik sebagaimana pembentukan ikatan kovalen, menginaktifkan adhesion kuman (molekul untuk menempel pada sel inang), menstimulasi sel-sel fagosit yang

berperan dalam respon imun selular (Asti, 2009). Senyawa saponin dapat bekerja sebagai antimikroba dengan cara merusak membran si- toplasma dan membunuh sel mikroba. Saponin memiliki aktivitas antifungi dan antimikroba bers- pektrum luas. Gugus lipofilik pada saponin dapat merusak membran sel mikroba (Arsyi, 2008). Flavonoid berfungsi sebagai antimikroba dengan cara membentuk senyawa kompleks terhadap protein extraseluler yang mengganggu integritas membran sel bakteri. Senyawa flavonoid diduga mekanisme kerjanya adalah mendenaturasi protein sel bakteri dan merusak membran sel mikroba tanpa dapat diperbaiki lagi (Arsyi, 2008). Keseluruhan mekanisme kerja kandungan ekstrak kulit pohon Rambutan yang telah diuraikan di atas adalah tidak spesifik. Sementara itu, struktur bakteri patogen dan flora normal adalah tidak berbeda. Hal ini menyebabkan besar kemungkinan flora normal juga terbunuh akibat kerja dari kandungan ekstrak kulit pohon Rambutan. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diperlukan untuk menemukan dan mengembangkan spesifitas dari mekanisme kerja ekstrak kulit pohon Rambutan terhadap bakteri patogen. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan, antara lain: pembuatan ekstrak yang bersifat kasar, sehingga tidak diketahui secara pasti bahan aktif apa saja yang terkandung dalam ekstrak kulit pohon Rambutan yang digunakan dan seberapa banyak prosentase masing-masing bahan aktif. Selain itu, tidak adanya standardisasi pembuatan ekstrak bahan alam, memungkinkan diperolehnya hasil ekstrak dengan efek yang berbeda apabila proses ekstraksi dilakukan pada laboratorium yang berbeda. Adanya variasi normal dari tiap ekstrak kulit pohon Rambutan juga dapat mempengaruhi perbedaan efek dari ekstrak yang digunakan. Faktor lainnya yang mungkin mempengaruhi efek dari ekstrak yang digunakan, yaitu lama penyimpanan ekstrak. Biasanya, semakin lama ekstrak disimpan, sensitivitas ekstrak akan semakin menurun. Oleh karena itu, untuk penelitian-penelitian selanjutnya, perlu ada standardisasi, baik dari pemilihan bahan yang digunakan (kulit pohon

Rambutan), alat dan proses ekstraksi, serta lama penyimpanan ekstrak sehingga apabila dilakukan penelitian yang sama di tempat yang berbeda akan didapatkan hasil yang sama. Berdasarkan analisa data hasil penelitian yang ditunjang dengan hasil studi literatur, dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit pohon

Rambutan memiliki efek antimikroba terhadap E. coli. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan, maka semakin rendah tingkat pertumbuhan E. coli yang ditandai dengan jumlah koloni yang semakin sedikit. Dengan demikian, hipotesis penelitian terbukti benar.

KESIMPULAN

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:

a. Ekstrak kulit pohon Rambutan (Nephellium lappaceum L) memiliki efek antimikroba terhadap E. coli secara in vitro.

b. Kadar Hambat Minimal (KHM) dari ekstrak kulit pohon Rambutan (Nephellium lappaceum L) yang dapat menghambat pertumbuhan koloni E. coli

pada konsentrasi ekstrak 16%. Sedangkan Kadar Bunuh Minimal (KBM) dari ekstrak kulit pohon Rambutan (Nephellium lappaceum L) yang dapat membunuh E. coli pada konsentrasi ekstrak 18%.

c. Semakin tinggi konsentrasi ekstrak kulit pohon Rambutan (Nephellium lappaceum L), maka semakin rendah pertumbuhan koloni E. coli.

DAFTAR PUSTAKA

Agnol, R.Dall; Ferraz, A.; Bernardi, A.P.; Albring, D.; Nor, C.; Sarmento, L; Lamb, L. 2003. Antimicrobial Activity of Some Hypericum species. Brazil: TANAC SA. Hal: 511-516

Ajizah, A. 2004. Sensitivitas Salmonella Typhimu- rium Terhadap Ekstrak Daun Psidium Gua- java L. Bioscientiae, Vol. 1, No. 1 : 31-8

Akiyama,H.; Fujii, K.; Yamasaki, O.; Oono, T.; Iwatsuki, T. 2001.Antibacterial Action of Several Tannins Agains Staphylococcus aureus. Journal of Antimicrobial Chemo- therapy. Vol. 48 : 487-91

Arsyi, IA. 2008. Uji aktivitas Antibakteri Fraksi Etil Asetat Ekstrak Etanol Dan Arbenan (Duchesnea Indica Andr.Focke) terhadap Staphyloscoccus aureus dan Pseudomonas Aeroginosa Multiresisten Antibiotik beserta Profil Kromatografi Lapisan Tipisnya. (online), (http:// etd.eprints.ums.ac.id, diakses 23 Mei

2011)

Asti, RH. 2009. Ekstrak Daun Salam (Syzgium polyanthum) sebagai Pegobatan Demam Tifoid. (online), (http://www.beswandjarum.com/article, diakses 23 Mei 2011)

Baron E J, Finegold S M, Peterson L R. 1994. Balley and Scott Diagnostic Microbiology,

9 th

edition. New York: Mosby year Book,

Inc: 168 – 175

Brooks, G.F. 2007. Mikrobiologi Kedokteran Ja- wetz, Melnick, Adelberg. Alih Bahasa Hu- riawati Hartanto dkk. Edisi 23. Jakar- ta:EGC. Hal: 251-257

CDC. 2008. Escherichia coli. (online), (http://www.cdc.gov/ecoli/clinicians.htm, diakses tanggal 23 Desember 2010)

Cowan, MM. 1999. Plant Product as Antimicrobi- al Agents. Clinical Microbiology Reviews, Hal 564-582, (Online), (http://www. pub- medcentral.nih.gov/about/copyright.html, Diakses 23 Mei 2011)

Dahlan, S. 2004. Seri Statistik: Statisik untuk Kedokteran dan Kesehatan Uji Hipotesis dengan Menggunakan SPSS Program 12 Jam. Jakarta: PT Arkans.

Dzen, S.M., Roekitiningsih, Santoso, S. Winar- sih, S. 2003. Bakteriologi Medik. Malang:

Bayu Media Publishing. Hal: 106-113, 119- 123, 197-206.

Dzulkarnain, B, Wahjoedi, B. 1996. Informasi Ilmiah kegunaan Kosmetika Tradisional. Pusat Penelitian dan Pengembangan Farmasi Badan Penelitian dan Pengem- bangan Kesehatan. Depkes RI. Majalah Cermin Dunia Kedokteran. Jakarta. No. 108. Hal: 24

Eisenhower, S.G. 2005. Indol Presence Test. (online),

(http://www.micrologylabs.com/Articles/Ind ol, diakses 23 desember 2010)

Ipteknet. 2005. Rambutan. (online), (http://www.iptek.net.id/ind/pd_tanobat/vie w.php, diakses 23 Mei 2011)

Masduki, I. 1996. Efek Antibakteri Ekstrak Biji Pinang (Areca catechu) terhadap S. au- reus dan E. coli. Cermin Dunia Kedokteran 109 : 21-4

Melliawati, R. 2009. Escherichia coli dalam Kehi- dupan Manusia. (online), (http://www.biotek.lipi.go.id/images/stories/

bio-

trends/vol4no1/EcoliR.Melliawati1014.pdf?

PHPSES-

SID=d138eeb38a41b805b034146dd5f5b7

3b, diakses 12 Desember 2010)

Melderen. 2002. Molecular interaction of the CcdB poison with its bacterial target, the DNA gyrase, IJMM, 2002, 291, 537 – 544.

Neal, M. J. 2006. At A Glance Farmakologi Medis. Edisi 5. Jakarta: PT Gelora Aksara Pratama. Hal: 81

Nenden S.; Anny NT; Astuti S; Pujiastuti F; Nila. 2007. Penentuan Indeks Kepedasan, Indeks Pengembangan, dan Kadar Tanin dalam Simplisia. (online), (http://hub.indonesiadl.net/download.php?i d=167, diakses 23 Mei 2011)

Nio, OK. 1989. Zat-zat Toksik yang Secara Alamiah Ada pada Bahan Makanan Nabati. (online),

(http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/58_1

0_ZatZatToksikAlamiah.pdf/5810_Zat-

ZatToksikAlamiah.html diakses 23 Mei

2011)

Riskesdas. 2007. Riset Kesehatan Dasar. Badan Litbang Departemen Kesehatan RI. (on- line),

(http://www.filestube.com/r/riskesdas+200

7, diakses 12 Desember 2010)

Ristek. 2000. Rambutan (Nephellium sp). (online), (http://www.warintek.ristek.go.id/pertanian/ Rambutan.pdf, diakses 23 Desember

2010)

Robinson, T. 1991. Kandungan Organik Tumbuhan Tinggi(Edisi 6), Prof Dr Kosasih Padmawinata, Institut Teknologi Bandung, Bandung, Indonesia, Hal 57,157, 192 dan

208.

Rukmana R.;Yoeniarsih, Y.O. 2002. Rambutan, Komoditas Unggulan dan Prospek Agri- bisnis. Kanisius : Jakarta

Solimun. 2001. Diklat Metodologi Penelitian LKIP dan PKM Kelompok Agrokompleks. Ma- lang: Universitas Brawijaya.

Thitilertdecha, Nont; Theelawutgulrag;Rakayiratham. 2008. An- tioxidant and antibacterial activities of Ne- phelium lappaceum L. extracts. (online), (http://www.stuartxchange.org/Rambutan.h tml, diakses 23 Mei 2011).

Todar, K. 2008. Pathogenic E. coli. (online), (http://www.textbookofbacteriology.net/e.c oli.html, diakses 24 Desember 2010)

Tortora, G.J., Funke, B.R., Case, C.L. 2007. Mi- crobiology an Introduction 9 th Edition. San Fransisco: Pearson Education Inc. Hal:

166, 455.

Thulaja; Ratnala N. 2003. Rambutan. (online),

(http://infopedia.nl.sg/articles/SIP_208_20

04-12-16.html, diakses 21 Mei 2011)

Virella, G. 1997. Microbiology and Infectious Dis- ease 3 rd Edition. Pensylvania: Williams & Wilkins. Hal: 144-146

Widayati, P. 2008. Efek Ekstrak Etanol Herba Meniran (Phyllanthus niruri L) terhadap Penurunan Kadar Asam Urat mencit putih Jantan Galur BALB-C Hiperurisemia. (online),

(http://etd.eprints.ums.ac.id/1460/1/K1000

40052.pdf, diakses 23 Mei 2011)

Zein, U., Sagala, K.H., Ginting, J. 2004. Diare Akut Disebabkan Bakteri. (online),

(http://72.14.235.132/search?q=cache:0w

M0h67Kxi8J:library.usu.ac.id/download/fk/

penydalam-

umar5.pdf+infeksi%2BE.coli%2Bperingkat

+penyebab+kematian%2Bdata+WHO&hl=i

d&ct=clnk&cd=4&gl=id, diakses 23 De- sember 2010)

Zipcodezoo. 2009. Escherichia coli. (online), (http://zipcodezoo.com/Bacteria/E/Escheri chia_coli/, diakses tanggal 23 Desember

2010)

Telah disetujui oleh,

Dr, drh, Sri Murwani, MP NIP. 19630101 198903 2 001