Anda di halaman 1dari 41

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Kesehatan adalah hak asasi manusia dan sekaligus investasi untuk keberhasilan pembangunan bangsa. Pembangunan kesehatan diarahkan untuk mencapai Indonesia Sehat, yaitu suatu keadaan dimana setiap orang hidup dalam lingkungan yang sehat, berperilaku hidup bersih dan sehat, mempunyai akses terhadap pelayanan kesehatan serta memiliki derajat kesehatan yang setinggitingginya (Dinkes, 2009). Menurut World Health Organization (WHO) kesehatan adalah suatu keadaan sehat yang utuh secara fisik, mental, dan sosial serta bukan hanya merupakan bebas dari penyakit. Salah satu cara menjaga agar tubuh tetap dalam keadaan sehat adalah dengan gaya hidup yang bersih dan sehat. Mencegah lebih baik dari pada mengobati. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) merupakan upaya memberikan pengalaman belajar dan menciptakan suatu kondisi bagi perorangan/individu, keluarga, kelompok serta masyarakat, dengan cara membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku melalui pendekatan pimpinan, bina suasana dan pemberdayaan masyarakat. Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masing-masing dan masyarakat dapat menerapkan cara-cara hidup sehat dan menjaga, memelihara, dan meningkatkan kesehatannya (Depkes 2002). Dalam hal pemerataan pembangunan yang berwawasan kesehatan tentunya mencakup semua golongan masyarakat, baik kelompok anak-anak maupun kelompok orang dewasa. Hal ini yang menyebabkan perlu dilakukan penelitian dari ruang lingkup masyarakat, dan kelompok anak-anak khsusunya yang berada di panti asuhan.

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007, menunjukkan praktik PHBS di Indonesia masih rendah, yaitu 38,7%, dibandingkan dengan target Nasional sampai tahun 2010 sebesar 65,0%. Hasil Riskesdas juga menghasilkan peta masalah kesehatan yang terkait dengan praktik PHBS, yaitu kurang makan buah dan sayur pada penduduk umur kurang dari 10 tahun adalah 93,6%, pemakaian air bersih dalam rumah tangga per orang setiap hari < 20 liter adalah 14,4%, yang menggunakan jamban sendiri adalah 60%, rumah tangga yang tidak ada penampungan sampah dalam rumah adalah 72,9% (Depkes, 2008). Lebih lanjut data Riskesdas menunjukkan sebanyak 33 provinsi mempunyai prevalensi PHBS di bawah prevalensi nasional, diantaranya adalah Provinsi Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu, Lampung Kepulauan Riau, dan Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang paling rendah pencapaiannya, yaitu sebesar 36,8% (Depkes, 2008). Di Indonesia, anak usia sekolah, berisiko terhadap penyakit tidak menular, yang ditunjukkan kurangnya konsumsi sayur dan buah 93,6% dan sudah biasa merokok 2%. Perilaku hidup bersih juga masih rendah, yaitu yang benar berperilaku buang air besar 68,2%, dan yang benar dalam cuci tangan hanya 17,2%. mengkonsumsi makanan berisiko, yaitu mengandung penyedap 75,4% dan makanan / minuman manis 63,1% (Depkes 2008). Data terbaru Hasil Analisis Riset Data Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010 memperlihatkan bahwa 41,2 % di Indonesia mengkonsumsi makanan di bawah kebutuhan minimal. Banyak masalah kesehatan yang terjadi pada anak usia sekolah seperti Diare, cacingan, infeksi saluran pernafasan akut, serta reaksi simpang terhadap makanan akibat buruknya sanitasi dan keamanan pangan serta permasalahan perilaku sehat pada anak usia sekolah biasanya berkaitan dengan kebersihan perorangan dan lingkungan seperti gosok gigi yang baik dan benar, kebiasaan cuci tangan pakai sabun, kebersihan diri, perilaku berisiko seperti merokok, semakin menguatkan bahwa penanaman nilai PHBS pada anak-anak, khususnya anak usia sekolah dasar masih minimal dan belum dapat mencapai tingkat yang diharapkan. (Ananto, 2006)

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

Khususnya masalah PHBS pada anak usia sekolah di Yayasan Panti Asuhan seperti kurangnya konsumsi sayur dan buah, tidak mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan kegiatan, kebersihan perorangan yang sangat rendah ditandai dengan jarang menggosok gigi sesudah makan dan sebelum tidur. Dari berbagai permasalahan di atas, perlu banyak pihak yang seharusnya memperhatikan masalah ini baik sekolah, departemen terkait maupun otang tua sendiri (Zaviera, 2008). Jumlah anak usia sekolah mencapai 30% dari total penduduk Indonesia atau sekitar 73 juta orang dan usia sekolah merupakan masa keemasan untuk menanamkan nilai-nilai perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sehingga berpotensi sebagai agen perubahan untuk mempendidikan PHBS, baik dilingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat (Dinkes sumatera selatan, 2010). Hasil observasi yang dilakukan tanggal 30 April 2013 di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang didapatkan data bahwa jumlah anak penghuni Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang berjumlah 29 orang yang mana perilaku hidup bersih dan sehat masih rendah. Berkaitan dengan hal tersebut di atas maka peneliti berkeinginan meneliti tentang perngaruh pendidikan kesehatan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat dengan cara menyampaikan materi pendidikan kesehatan, tidak hanya memberi informasi tetapi juga harus mempraktikan menggunakan alat peraga. Di samping itu peneliti juga harus dapat memberi contoh cara-cara berperilaku kesehatan. Alasan kenapa peneliti mengadakan penelitian di Yayasan Panti Asuhan Peduli Kasih, karena peneliti sudah pernah terlibat suatu kegiatan di tempat tersebut dan secara tidak langsug peneliti tidak sedikit mengetahui bagaimana cara kehidupan dan tempat tinggal penghuni khususnya anak-anak di Yayasan Panti Asuhan tersebut.

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

1.1.1 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka rumusan masalah pada penelitian yaitu diketahuinya Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada anak usia sekolah di panti asuhan di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang 2013. 1.1.2 Pertanyaan Penelitian Apakah ada Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat pada Anak Usia sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih di Palembang 2013 ? 1.2 Tujuan Penelitian 1.2.1 Tujuan Umum Diketahuinya Pengaruh Pendidikan Kesehatan terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Anak Usia Sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang 2013. 1.2.2 Tujuan Khusus a. Diketahuinya gambaran perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebelum dilakukan pendidikan kesehatan pada anak usia sekolah di Yayasan Panti Asuhan Peduli Kasih, Palembang. b. Diketahuinya gambaran perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sesudah dilakukan pendidikan kesehatan pada anak usia sekolah di Yayasan Panti Asuhan Peduli Kasih, Palembang. c. Diketahuinya pengaruh perilaku hidup bersih dan sehat sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan pada anak usia sekolah di Yayasan Panti Asuhan Peduli Kasih, Palembang.

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

1.3 Manfaat Penelitian 1.3.1 Bagi Peneliti Sebagai sarana unuk mengaplikasikan ilmu yang telah didapatkan selama mengikuti perkuliahan, serta menambah wawasan dan pengetahuan dalam memberikan asuhan keperawatan. 1.3.2 Bagi Panti Asuhan Penelitian ini diharapkan bermanfaat sebagai bahan informasi serta masukan bagi Panti Asuhan,khususnya Kasih,Palembang 2013. 1.3.3 Bagi Program Institusi Pendidikan Hasil penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai referensi untuk dapat meningkatkan kualitas pendidikan bagi mahasiswa Keperawatan Kemenkes Palembang khususnya dan mahasiswa kesehatan lainnya pada umumnya. 1.4 Ruang Lingkup Penelitian Penelitian ini membahas mengenai pengaruh pendidikan kesehatan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada anak sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang 2013 yang dilakukan dengan menggunakan rancangan One Group Pretest Posttest, data diperoleh dengan observasi dan wawancara dengan alat ukur cheklist, penelitian ini dilaksanakan pada Tanggal 10 - 23 Bulan Juni 2013. Dengan Objek Penelitian yaitu Anak usia sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih. dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan bagi anak-anak di Yayasan Panti Asuhan Peduli

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pendidikan Kesehatan 2.1.1 Definisi Pendidikan kesehatan merupakan suatu cara penunjang program-program kesehatan, yang dapat menghasilkan perubahan dan peningkatan pengetahuan dalam waktu yang pendek. Konsep pendidikan kesehatan juga proses belajar pada individu, kelompok, atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu mengatasi masalah kesehatan menjadi mampu (Notoatmodjo, 2007). Pendidikan kesehatan yang lebih efektif biasanya dilakukan dengan cara metode pendidikan individual. Menurut Notoatmodjo (2007), peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Dengan kata lain, pendidikan kesehatan adalah suatu usaha untuk menyediakan kondisi psikologis dan sasaran agar mereka berperilaku sesuai dengan tuntunan nilai-nilai kesehatan. Pembentukan perilaku diawali dari kelompok sosial terkecil yaitu keluarga. Keluarga merupakan kelompok primer yang paling penting di dalam masyarakat karena pengalaman interaksi sosial di dalam keluarga, turut menentukan cara-cara tingkah laku anggota keluarganya. Meningkatnya kesadaran keluarga menjaga kesehatan lingkungan akan mencerminkan perilaku yang proaktif. Perilaku masyarakat perlu diarahkan pada perilaku hidup sehat sebagai sasaran dari pembangunan kesehatan. Perilaku masyarakat yang diharapkan untuk memelihara dan

meningkatkan kesehatan, mencegah risiko terjadinya sakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berpartisipasi aktif dalam gerakan kesehatan masyarakat. Kesehatan masyarakat dapat dipengaruhi oleh latar belakang sosial, struktur sosial ekonomi (Dinkes, 2005).
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

2.1.2 Tujuan Pendidikan Kesehatan Tujuan pendidikan kesehatan secara umum yaitu untuk mengubah perilaku individu atau masyarakat dalam bidang kesehatan. Selain hal tersebut, tujuan pendidikan kesehatan ialah : a. Menjadikan kesehatan sebagai suatu yang bernilai di masyarakat b. Menolong individu agar mampu secara mandiri atau berkelompok mengadakan kegiatan unuk mencapai PHBS c. Mendorong pengembangan dan penggunaan secara tepat sarana pelayanan kesehatan yang ada d. Agar penderita (masyarakat) memiliki tanggung jawab yang lebih besar pada kesehatan (dirinya) e. Agar orang melakukan langkah-langkah positif dalam mencegah terjadinya sakit, mencegah berkembangnya sakit menjadi parah dan mencegah keadaan ketergantungan melalui rehabilitas cacat yang disebebkan oleh penyakit f. Agar orang memiliki pengertian yang lebih baik tentang eksistensi perubahanperubahan sistem, cara memanfaatkannya dengan efisien dan efektif g. Agar orang mempelajari apa yang dapat dia lakukan sendiri dengan bagaimana caranya tanpa selalu meminta pertolongan kepada sistem pelayanan kesehatan yang formal (Notoatmodjo, 2003, Suliha, 2002). 2.2 Konsep Perilaku Perilaku manusia pada hakekatnya adalah suatu aktifitas dari manusia itu sendiri, yang mempunyai bentangan yang sangat luas mencakup berjalan, berbicara, bereaksi, berpikir, persepsi dan emosi. Perilaku juga dapat diartikan sebagai aktifitas organisme, baik yang dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung (Notoatmodjo, 2007). 2.2.1 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Proses pembentukan dan perubahannya, perilaku dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor yang berasal dari dalam dan faktor dari luar individu itu sendiri (faktor internal dan faktor eksternal) (Notoatmodjo, 2003).
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

Faktor intern mencakup: pengetahuan, kecerdasan, persepsi, emosi, motivasi dan sebagainya yang berfungsi untuk mengolah rangsangan dari luar, Sedangkan faktor ekstern meliputi lingkungan sekitar, baik fisik maupun non fisik seperti: iklim, manusia, sosial-ekonomi dan kebudayaan. Perubahan-perubahan perilaku yang terjadi dalam diri seseorang dapat diketahui melalui : 1) Persepsi, yaitu pengalaman yang dihasilkan melalui panca indera, setiap orang mempunyai persepsi yang berbeda walaupun mengamati objek yang sama. 2) Motivasi, yaitu suatu dorongan untuk bertindak suatu tujuan juga dapat terwujud dalam bentuk perilaku. 3) Emosi, aspek psikologi yang mempengaruhi emosi berhubungan erat dengan keadaan jasmani, pada hakikatnya merupakan faktor bawaan (keturunan).

Perilaku hidup bersih dan sehat dapat di praktekkan anak-anak apabila lingkungan tempat tinggalnya memfasilitasi dengan role model atau contoh untuk dijadikan acuan budaya hidup bersih. 2.3 Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) 2.3.1 Definisi PHBS Perilaku Sehat adalah pengetahuan, sikap, dan tindakan proaktif untuk memelihara dan mencegah resiko terjadinya penyakit, melindungi diri dari ancaman penyakit, serta berperan aktif dalam Gerakan Kesehatan Masyarakat (Depkes RI, 2008). Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PHBS) adalah semua perilaku yang dilakukan atas kesadaran sehingga anggota keluarga atau keluarga dapat menolong dirinya sendiri di bidang kesehatan dan berperan aktif dalam kegiatan kegiatan kesehatan dimasyarakat (Depkes RI, 2008). Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat (PBHS) adalah sebagai wujud operasional promosi kesehatan merupakan dalam upaya mengajak, mendorong kemandirian masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat (Ekasari, 2008).
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

Berdasarkan beberapa defenisi PHBS adalah upaya untuk mewujudkan kesehatan anggota keluarga agar tahu, mau dan mampu melaksakan perilaku hidup bersih dan sehat. 2.3.2 Tujuan PHBS 1. Tujuan Umum Meningkatnya rumah tangga sehat didesa kabupaten/kota di seluruh Indonesia. 2. Tujuan Khusus a. Meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan anggota rumah tangga untuk melaksanakan PHBS. b. Berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat. 2.3.3 Program PHBS Upaya untuk memberikan pengalaman belajar atau menciptakan suatu kondisi bagi perorangan, keluarga, kelompok dan masyarakat, dengan membuka jalur komunikasi, memberikan informasi dan melakukan edukasi, untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku, melalui pendekatan pimpinan (Advokasi), bina suasana (Social Support) dan pemberdayaan masyarakat (Empowerment). Dengan demikian masyarakat dapat mengenali dan mengatasi masalahnya sendiri, terutama dalam tatanan masing-masing, dan masyarakat dapat menerapkan cara-cara hidup senhat dengan menjaga, memelihara dan meningkatkan kesehatannya (Dinkes, 2006). 2.3.4 Tatanan PHBS Tatanan adalah tempat di mana sekumpulan orang hidup, bekerja, bermain, berinteraksi dan lain-lain. Dalam hal ini ada 5 tatanan PHBS yaitu rumah tangga, sekolah, tempat kerja, sarana kesehatan dan tempat umum. Dalam penelitian ini adalah pada tatanan institusi pendidikan, tujuannya adalah upaya pemberdayaan dan peningkatan kemampuan untuk berperilaku hidup bersih dan sehat di tatanan institusi pendidikan (Depkes, 2008).

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

2.3.5 Manajemen PHBS Pengelolaan PHBS yang dilaksanakan melalui 4 tahap kegiatan yaitu : a. Pengkajian b. Perencanaan c. Penggerakkan pelaksanaan d. Pemantauan dan penilaian 2.3.6 Strategi PHBS Adalah cara atau pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan Perilaku Hidup Bersih Sehat. Dalam hal ini ada tiga strategi utama dalam melakukan Perilaku Hidup Bersih Sehat. Dapat digambarkan dalam tabel berikut : Strategi Memberdayakan (Empowerment) Sasaran Primer Tujuan Peningkatan Cara yang dilakukan

Penyuluhan Pengetahuan, Sikap perorangan,kelompok, pelatihan atau dan (PHBS) orientasi, mendistribusikan bahan penyuluhan

Pembinaan Suasana (Social Sekunder Support)

Pengembangan Pendekatan pendapat umum, perorangan dan opini, norma kelompok

Pendekatan Pimpinan (Advocacy)

Persetujuan, Tersier dukungan Konsultasi, pertemuan

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

2.3.7 Manfaat PHBS a. Setiap rumah tangga meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit. b. Anak tumbuh sehat dan cerdas. c. Produktivitas kerja anggota keluarga meningkat dengan meningkatnya kesehatan anggota rumah tangga maka biaya yang dialokasikan untuk kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan, pemenuhan gizi keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan keluarga. 2.3.8 Indikator PHBS Indikator diperlukan untuk menilai apakah aktifitas pokok yang dijalankan telah sesuai dengan rencana dan menghasilkan dampak yang diharapkan. Dengan demikian indikator merupakan suatu alat ukur untuk menunjukkan suatu keadaan atau kecenderungan keadaan dari suatu hal yang menjadi pokok perhatian (Depkes RI, 2006). Indikator PHBS adalah suatu alat ukur untuk menilai keadaan atau permasalahan kesehatan di rumah tangga. Indikator mengacu pada Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang kesehatan. Ada 8 indikator PHBS yang. Dengan rincian sebagai berikit : a. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun b. Menggunakan air bersih c. Menggosok gigi sebelum tidur d. Menggunakan jamban sehat e. Ada tempat sampah f. Memberantas jentik di rumah g. Makan sayur dan buah setiap hari h. Melakukan aktifitas fisik setiap hari i. Tidak merokok di dalam rumah

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

2.4 PHBS di Tatanan Panti Asuhan 2.4.1 Panti Asuhan Panti asuhan merupakan suatu lembaga yang sangat populer untuk membentuk perkembangan anak-anak yang tidak memiliki keluarga ataupun yang tidak tinggal bersama dengan keluarga. Anak-anak panti asuhan diasuh oleh pengasuh yang menggantikan peran orang tua dalam mengasuh, menjaga dan memberikan bimbingan kepada anak agar anak menjadi manusia dewasa yang berguna dan bertanggung jawab atas dirinya dan terhadap masyarakat di kemudian hari (Santoso, 2005). 2.4.2 Indikator PHBS di Panti Asuhan 1. Mencuci tangan dengan air bersih Perilaku cuci tangan pakai sabun ternyata bukan merupakan perilaku yang biasa dilakukan sehari-hari oleh masyarakat pada umumnya. Rendahnya perilaku cuci tangan pakai sabun dan tingginya tingkat efektifitas perilaku cuci tangan pakai sabun dalam mencegah penularan penyakit, maka sangat penting adanya upaya promosi kesehatan bermaterikan peningkatan cuci tangan tersebut. Dengan demikian dapat dipahami betapa perilaku ini harus dilakukan, antara lain karena berbagai alasan sebagai berikut: a.Mencuci tangan pakai sabun dapat mencegah penyakit yang dapat menyebabkan ratusan ribu anak meninggal setiap tahunnya. b.Mencuci tangan dengan air saja tidak cukup. c.CTPS (cuci tangan pakai sabun) adalah satu-satunya intervensi 2010). Waktu kritis untuk cuci tangan pakai sabun yang harus diperhatikan,Yaitu saatsaat sebagai berikut : a. Sebelum makan b. Sebelum menyiapkan makanan c. Setelah buang air besar dan buang air kecil d. Setelah memegang unggas atau hewan
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

kesehatan yang

paling cost-effective jika dibanding dengan hasil yang diperolehnya (Rahmani,

Beberapa manfaat yang diperoleh setelah melakukan cuci tangan pakai sabun, yaitu antara lain : a. Membunuh kuman penyakit yang ada di tangan b. Mencegah penularan penyakit c. Tangan menjadi bersih dan bebas dari kuman Cara mencuci tangan yang benar adalah sebagai berikut : a. Cuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan memakai sabun tangan c. Bersihkan tangan menggunakan lap bersih (Rahmani, 2010) 2. Menggunakan air bersih Air bersih adalah sangat penting bagi kehidupan manusia. Manusia akan lebih cepat meninggal karena kekurangan air dari pada kekurangan makanan. Kebutuhan manusia akan air sangat kompleks antara lain untuk minum, masak, dan mencuci, dan sebagainya. Diantara kegunaan-kegunaan air tersebut yang sangat penting adalah kebutuhan akan air minum. Oleh karena itu, untuk keperluan minum (termasuk untuk masak) air harus mempunyai persyaratan khusus agar air tersebut tidak menimbulkan penyakit bagi manusia (Notoatmodjo, 2007). A. Pengertian Air sebagai kebutuhan Dasar Manusia : Air adalah kebutuhan dasar yang dipergunakan sehari-hari untuk minum, memasak, mandi, berkumur, membersihkan lantai, mencuci alat-alat dapur, mencuci pakaian, dan sebagainya, agar kita tidak terkena penyakit dan terhindar dari sakit. B. Syarat-syarat Air Bersih : Air bersih secara fisik dapat dibedakan melalui indera kita, antara lain (dapat di lihat, di rasa, di cium, dan di raba) 1. Air tidak berwarna harus bening / jernih seperlunya b. Bersihkan telapak tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari dan punggung

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

2. Air tidak keruh, harus bebas dari pasir, debu, lumpur, smpah, busa dan kotoran lainnya 3. Air tidak berasa, tidak berasa, tidak berasa asin, tidak berasa asam, dan tidak pahit harus bebas dari bahan kimia beracun 4. Air tidak berbau seperti bau amis, anyir, busuk atau belerang C. Manfaat menggunakan air bersih Manfaat menggunakan air bersih, antara lain : 1. Terhindar dari gangguan penyakit seperti diare, kolera, disentri, thypus, kecacingan, penyakit mata, penyakit kulit, dan keracunan 2. Setiap anggota keluarga terpelihara kebersihan dirinya D. Asal sumber air bersih Sumber air bersih, antara lain dapat berasal dari : 1. Mata air 2. Air sumur atau air sumur pompa 3. Air ledeng atau perusahaan air minum 4. Air hujan 5. Air dalam kemasan E. Cara menjaga sumber air bersih 1. Jarak letak sumber air dengan jamban dan tempat pembuangan sampah paling sedikit 10 meter 2. Sumber mata air harus dilindungi dari pencemaran 3. Sumber gali, sumber pompa, kran umum dan mata air harus di jaga bangunannya tidak rusak seperti lantai sumur tidak boleh retak, bibir sumur harus di plester, dan sumur sebaiknya di beri penutup 4. Harus di jaga kebersihannya seperti tidak ada bercak-bercak kotoran, tidak berlumut pada lantai / lantai dinding sumur. Ember / gayung pengambil air harus tetap bersih dan di letakan di lantai (ember / gayung di gantung di tiang sumur).

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

3. Menggosok gigi sebelum tidur Menurut Notoatmodjo (2004) bahwa penyebab timbulnya masalah kesehatan gigi dan mulut pada masyarakat salah satunya adalah faktor perilaku atau sikap mengabaikan kebersihan gigi dan mulut. Hal tersebut dilandasi oleh kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan gigi dan mulut. Frekuensi menyikat gigi yang baik adalah 2 kali sehari, pagi 30 menit setelah sarapan pagi dan malam hari sebelum tidur (Maulani, dkk, 2005). 4. Menggunakan jamban sehat Untuk mencegah sekurang-kurangnya mengurangi kontaminasi tinja terhadap lingkungan maka pembuangan kotoran manusia harus dikelola dengan baik, maksudnya pembuangan kotoran harus di suatu tempat tertentu atau jamban yang sehat (Notoatmodjo, 2007) Notoatmodjo (2007) menyatakan bahwa, suatu jamban yang sehat harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : 1. Tidak mengotori permukaan tanah di sekeliling jamban tersebut 2. Tidak mengotori air permukaan disekitarnya 3. Tidak mengotori air tanah disekitarnya 4. Tidak terjangkau oleh serangga terutama lalat dan kecoa, dan binatang lainnya 5. Tidak menimbulkan bau 6. Mudah digunakan dan dipelihara 7. Sederhana desainnya 8. Dapat diterima oleh pemakainya 5. Ada tempat sampah Sampah adalah termasuk yang mempengaruhi kelestarian lingkungan hidup, karena sampah mempengaruhi lingkungan alam dan lingkungan sosial, apabila ada kesalahan dalam pembuangan sampah maka akan berakibat fatal bagi lingkungan hidup di masa sekarang dan di masa yang akan datang. Membuang sampah pada tempatnya merupakan cara sederhana yang sangat besar manfaatnya untuk menjaga kebersihan lingkungan namun sangat
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

susah untuk diterapkan. Hasil penelitian ini sesuai dengan pernyataan oleh Andang Binawanyang menyebutkan bahwa kebiasaan membuang sampah sembarangan dilakukan hampir di semua kalangan masyarakat, tidak hanya warga miskin, bahkan mereka yang berpendidikan tinggi pun melakukannya (Kartiadi, 2009). 6. Memberantas jentik dirumah Pemberantasan jentik didalam rumah agar rumah bebas dari jentik. Populasi nyamuk menjadi terkendali sehingga penularan penyakit dengan perantara nyamuk dapat dicegah atau dikurangi dan kemungkinan terhindar dari penyakit semakin besar seperti Demam Berdarah Dengue (DBD), malaria, chikungunya dan kaki gajah (Depkes RI, 2007 dalam Suryani, 2009) 1. Tujuan memberantas jentik di rumah adalah agar rumah bebas jentik 2. Pengertian rumah bebas jentik Rumah bebas jentik adalah rumah yang setelah dilakukan pemeriksaan jentik secara berkala tidak terdapat jentik nyamuk. 3. Hal-hal yang harus dilakukan agar rumah bebas jentik Lakukan pemberantasan sarang nyamuk dengan cara 3Mplus (Menguras, Menutup, Mengubur, plus Menghindari gigitan nyamuk) 3 M Plus adalah : a. Menguras dan menyikat tempat-tempat penampungan air seperti bak mandi, tatakan pot kembang dan tempat air minum burung b. Menutup rapat-rapat tempat penampungan air seperti lubang bak control, lubang pohon, lekukan-lekukan yang dapat menampung air hujan c. Mengubur atau menyingkirkan barang-barang bekas yang dapat menampunga air seperti ban bekas, kaleng bekas, plastik-plastik yang di buang sembarangan (bekas botol / gelas aqua, plastik kresek, dll) d. Plus Menghindari gigitan nyamuk, yaitu : Menggunakan kelambu saat tidur, Memakai obat yang dapat mencegah gigitan nyamuk, misalnya obat nyamuk, semprot, oles / usap ke kulit, dll, Menghindari kebiasaan menggantung pakaian di dalam kamar, Mengupayakan pencahayaan
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

dan ventilasi yang memadai, Memperbaiki saluran talang air yang rusak, Menaburkan bubuk pembunuh jentik. 7. Makan sayur dan buah setiap hari Sayur merupakan salah satu sumber daya yang banyak terdapat disekitar kita, mudah diperolah dan berharga relatif murah serta merupakan sumber vitamin dan mineral. Sayur antara lain mengandung karoten, vitamin C, vitamin B, kalsium, zat besi dan karbohidrat dalam bentu selulosa dan pektin atau disebut juga serat. Sayur umunya rendah dalam kandungan protein dan lemak tetapi tinggi dalam kandungan besi, kalsium, vitamin C dan provitamin A, kecuali untuk beberapa jenis sayur tertentu. Jenis sayur yang banyak mengandung serat adalah sayur daun hijau antara lain bayam, kangkung, daun singkong, daun katuk, dan daun melijo (Anwar,Marliyati, Sulaiman, 1992 dalam Setiowati, 2000). Anwar, Marliyati,Sulaiman (1992 dalam Setiowati, 2000), buah merupakan salah satu sumber bahan pangan nabati yang potensial dan banyak mengandung zat gizi terutama vitamin dan mineral. 8. Melakukan aktivitas fisik setiap hari Melakukan aktivitas fisik setiap hari dapat terhindar dari penyakit jantung, stroke, osteoporosis, kanker, tekanan darah tinggi, kencing manis dan lain-lain. Berat badan terkendali, otot menjadi lentur dan tulang menjadi lebih kuat, bentuk tulang bagus, lebih percaya diri, lebih bertenaga, dan bugar dan secara keseluruhan keadaan kesehatan menjadi baik (Depkes RI, 2007 dalam Suriyani, 2009). 9. Tidak merokok dalam rumah Rokok ibarat pabrik kimia. Dalam satu batang rokok yang dihisap akan mengeluarkan sekitar 4000 bahan kimia berbahaya, diantaranya yang paling berbahaya adalah Nikotin, Tar, dan Carbon Monoksida (CO). Nikotin ini menyebabkan ketagihan dan merusak jantung dan aliran darah. Tar menyebabkan kerusakan paru-paru dan kanker. CO menyebabkan berkurangnya kemampuan

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

darah membawa oksigen, sehingga sel-sel tubuh akan mati (Depkes RI, 2007 dalam Suriyani, 2009).

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

BAB III KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL 3.1 Kerangka Konsep Menurut Green (1980), pendidikan kesehatan mempunyai peranan penting dalam mengubah dan menguatkan faktor perilaku yang diantaranya pengetahuan dan sikap, karena perilaku masyarakat sangat erat kaitannya dengan upaya peningkatan pengetahuan sehingga menimbulakan perilaku positif dari anak (Maulana, 2009). Berdasarkan tujuan penelitian dan konsep teori di atas maka kerangka konsep yang didapat penulis adalah sebagai berikut terdiri dari variabel independen (Pre Test PHBS) dan variabel dependen (Post Test PHBS) :

Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian

Pendidikan Kesehatan

Pre Test PHBS

Post Test PHBS

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

3.2 Definisi Operasional Variabel Pre PHBS Definisi Cara Ukur Alat Ukur Hasil Ukur Skala

Operasional test Tindakan reponden sebelum intervensi dalam rangka hidup bersih dan sehat

Wawancara Cheklist Observasi

Ukur Skor yang Rasio diperoleh responden pada test. Benar = 1 Salah = 0 Total skor 15. pre

Pendidikan Penyampaian Kesehatan tentang PHBS Materi Pendidikan Kesehatan. Yaitu pengertian PHBS, tujuan PHBS, macammacam PHBS, faktor-faktor yang mempengaruhi PHBS, dampak yang sering timbul
37

Alat Peraga Leaflet :

Poltekkes Kemenkes Palembang

pada masalah PHBS, tentang cara mencuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun.

Post PHBS

test Tindakan responden sesudah intervensi dalam rangka hidup bersih dan sehat

Wawancara Cheklist Observasi

Skor yang Rasio diperoleh responden pada test. Benar = 1 Salah = 0 Total skor 15. post

3.3 Hipotesis Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap PHBS pada anak usia sekolah tahun di Panti Asuhan Peduli Kasih, Palembang, 2013.

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

BAB IV METODELOGI PENELITIAN 4.1 Desain Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian pra eksperimental dengan menggunakan one group pre test-post test dimana sebelumnya sudah dilakukan observasi pertama (pre test) yang memungkinkan peneliti dapat menguji perubahan setelah adanya eksperimen (Setiadi, 2007). Gambar 4.1 Disain penelitian

Eksperimen 01 02 Keterangan :

Perlakuan X

Post test 02

01 : PHBS sebelum dilakukan intervensi 02 : PHBS setelah dilakukan intervensi X : Perlakuan 4.2 Populasi dan Sampel 4.2.1 Populasi Populasi penelitian adalah subjek yang akan diteliti. (Notoatmodjo, 2005) Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh anak - anak usia sekolah sejumlah 29 orang penghuni Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang. 4.2.2 Sampel Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruhan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Notoatmodjo, 2010). Sampel
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

pada penelitian ini adalah total sampling anak usia sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang. 4.3 Lokasi dan Waktu Penelitian 1. Lokasi Penelitian ini dilakukan di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013. 2. Waktu Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10 23 bulan Juni Tahun 2013 4.4 Etika Penelitian Dalam melakukan penelitian, peneliti membawa surat rekomendasi dari institusi dengan cara mengajukan permohonan izin kepada tempat penelitian yang dituju oleh peneliti. Setelah mendapat persetujuan, barulah peneliti dapat melakukan penelitian dengan menekankan masalah etika yang meliputi (Hidayat, 2009) a. informed Concent Lembar persetujuan ini diberikan kepada responden yang diteliti. Bila responden menolak, maka peneliti tidak boleh memaksa dan tetap menghormati hak-hak subjek. b. Anonimity Untuk menjaga kerahasiaan, maka peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, tetapi pada lembar tersebut hanya diberi kode. c. Confidentiality Kerahasiaan informasi yang didapat dari responden dijamin oleh peneliti.

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

4.5 Pengumpulan Data 4.5.1 Jenis Data 1) Data Primer Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumber data. Pengumpulan data dilakukan pada minggu kedua bulan juni 2013, pada minggu kedua hari pertama dilakukan penilaian secara observasi pre PHBS pada anakanak panti asuhan, minggu ketiga peneliti melakukan Pendidikan Kesehatan tentang pengertian, tujuan, macam-macam PHBS, faktor-faktor yang mempengaruhi PHBS, dampak yang sering timbul pada masalah PHBS dan salah satu cara mencuci tangan dengan menggunakan air mengalir dan sabun. Kemudian di Minggu ketiga hari keempat peneliti melakukan penilaian secara observasi post PHBS di Panti Asuhan Peduli Kasih, Palembang. 2) Data Sekunder Data sekunder adalah data jumlah anak yang didapatkan dari ketua/pemilik Panti Asuhan Peduli Kasih, Palembang 2013. 4.5.2 Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data pada penelitian ini dengan cara mengobservasi dan mengisi pernyataan dengan menggunakan pedoman observasi / cheklist yang dilakukan oleh peneliti sendiri sebagaimana hasil dari penelitian sebelum dan sesudah dilakukan pendidikan kesehatan pada anak usia sekolah di panti asuhan peduli kasih, palembang. 4.5.3 Instrumen Pengumpulan Data Instrumen pengumpulan data berupa daftar pernyataan. Adapun pernyataan yang diajukan meliputi 15 pernyataan yang dapat menunjukkan pengetahuan tentang PHBS.

Lembar Observasi
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

Pernyataan yang meliputi tindakan responden tentang PHBS. Untuk mengukur tindakan responden tentang PHBS, maka masing-masing pernyataan diberi skor. Adapun kategorinya sebagai berikut : Benar dengan skor 1 Salah dengan skor 0 Total Skor : 15 4.6 Pengolahan Data Langkahlangkah yang harus ditempuh dalam proses pengolahan data diantaranya: 4.6.1 Editing (Pengeditan) Adalah upaya untuk memeriksa kembali kebenaran data yang diperoleh atau dikumpulkan. Editing dapat dilakukan pada tahap pengumpulan data atau setelah data terkumpul. Dari editing dapat dilihat bahwa data: 1. Lengkap, semua pertanyaan sudah terisi jawabannya 2. Jelas, jawaban pertanyaan apakah tulisannya cukup jelas terbaca 3. Relevan, jawaban yang ditulis apakah relevan dengan pertanyaannya 4. Konsisten, apakah antara beberapa pertanyaan yang berkaitan isi jawabannya konsisten 4.6.2 Coding (Pengkodean) Adalah kegiatan pemberian kode numerik (angka) terhadap data yang terdiri atas beberapa kategori. Pemberian kode ini sangat penting bila pengolahan dan analisa data menggunakan computer. Biasanya dalam pemberian kode juga dibuat daftar kode dan artinya dalam satu buku (code book) untuk memudahkan kembali melihat lokasi dan arti suatu kode dari suatu variabel. 4.6.3 Processing (Pengolahan Data) Pengolahan data dilakukan dengan cara meng-entry data ke paket program computer 4.6.4 Cleaning (Pembersihan Data)
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

Cleaning (pembersihan data) merupakan kegiatan pengecekan kembali data yang sudah di-entry apakah ada kesalahan atau tidak. Kesalahan tersebut dimungkinkan terjadi pada saat kita meng-entry ke computer. 4.7 Analisis Data 4.7.1 Univariat Analisa univariat dilakukan untuk melihat distribusi frekuensi dari perilaku variabel penelitian. Penelitian ini meliputi variabel dependen (Post Test PHBS) dan variabel indenpenden (Pre Test PHBS).

4.7.2 Bivariat Analisa bivariat bertujuan melihat pengaruh pendidikan terhadap PHBS. Pada penelitian ini dilakukan uji normalitas data terlebih dahulu untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Uji normalitas data dibagi menjadi dua, yaitu 1. Kolmogorof smirnov, jika sampel >50 2. Shapiro wilk, jika sampel <50 Uji normalitas data ini menggunakan uji normalitas shapiro wilk, dikarenakan sampel <50, Setelah mengetahui data tidak berdistribusi normal maka dipilih uji alternatif lain yaitu Uji wilcoxon.

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

BAB V HASIL PENELITIAN 5.1 Gambaran Umum Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Panti Asuhan Peduli Kasih adalah yayasan yang berbadan hukum dari Menteri Kehakiman dan Hak Azasi Manusia dengan No. Izin Akte Notaris NO : 067.2012 yang didirikan oleh Bapak Jhon Knedy sejak tahun 2003. Panti Asuhan Peduli Kasih berlokasi di JL. Dwikora II, RT 33, RW 11, Kelurahan sei pangeran, Kecamatan ilir timur 1 Palembang dan jumlah anak-anak yang didik sebanyak 46 orang. Panti Asuhan ini merupakan yayasan yang didirikan oleh Bapak Jhon knedy sebagai tempat anak-anak kurang mampu untuk di didik sampai pada batas waktu tertentu, dan anggaran operasionalnya berasal dari pendiri serta adanya bantuan tetap pada setiap bulannya oleh pemerintah sebagai donatur tetap dan berbagai donatur tidak tetap lainnya seperti BANK, perusahan-perusahan, mahasiswa dan lain-lain. 5.1.1 Adapun Visi dan Misi didirikannya Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Visi Panti Asuhan Peduli Kasih merupakan lembaga sosial yang dikenal amanah dan profesional serta memperoleh dukungan luas dari berbagai lapisan masyarakat dalam menyelenggarakan berbagai pelayanan sosial dan keagamaan. Misi 1. Menyelenggarakan pelayanan sosial untuk anak yatim dan anak-anak keluarga miskin 2. Menyelenggarakan usaha-usaha pendidikan bagi semua lapisan masyarakat

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

3. Menyelenggarakan berbagai usaha ekonomi sebagai sumber pendanaan serta menggalang berbagai dukungan dari berbagai komponen masyarakat. 5.1.2 Hasil Penelitian Berikut akan ditampilkan data karakteristik responden dan data hasil penelitian mengenai perilaku hidup bersih dan sehat sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan. 5.2 Karakteristik Responden Dalam penelitian ini, karakteristik responden yang diteliti meliputi umur, jenis kelamin dan tingkat pendidikan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dalam daftar table di bawah ini : Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Umur di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang, Tahun 2013 N % 6 1 2,2 7 6 13,6 8 1 2,2 9 1 2,2 10 10 21,7 11 1 2,2 12 9 19,6 Total 29 100 Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden berumur 1 2 3 4 5 6 7 10 tahun yaitu sebanyak 10 orang (21,7%). No Umur Jumlah

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Karakteristik Jenis Kelamin di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013 Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Jumlah N 20 9 29 % 68,96 31,03 100

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 20 orang (68,96%) 5.3 Analisa Univariat Dalam analisa univariat dihasilkan distribusi Deskriptif dari rata-rata atau nilai mean masing-masing variabel sebagai terlihat pada tabel berikut ini : 5.3.1 PHBS Responden Sebelum Intervensi Dari analisa univariat dihasilkan distribusi frekuensi jumlah skor dan presentase dari 15 pernyataan PHBS sebagai mana terlihat pada tabel 5.3 : Tabel 5.3 Distribusi Skor PHBS Anak Usia Sekolah Sebelum Pemberian Pendidikan Kesehatan di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013 Skor/Nilai Anak 2 3 4 5 6 Total Jumlah Anak 2 1 17 6 3 29 % 6,9 3,4 58,6 20,7 10,3 100,0

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata skor PHBS sebelum pendidikan kesehatan yang diperoleh responden sebagian besar mendapat skor 4
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

dengan jumlah responden 17 (58,6%). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel 5.4 Tabel 5.4 Rerata Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Sebelum Pendidikan Kesehatan di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013 Variabel Rata-rata Perilaku Hidup Bersih Sehat pendidikan ksesehatan dan sebelum 4,24 4,00 0,951 2-6 3,88-4,80 Mean Median SD MinMax 95% CI

Dari tabel 5.5, didapatkan rata-rata skor PHBS anak usia sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih sebelum pendidikan kesehatan adalah 4,24 , median 4,00 , dengan standar deviasinya 0,951. Skor tertinggi 6 dan skor terendah 2. 5.3.2 PHBS Responden Sesudah Intervensi Dari analisa univariat dihasilkan distribusi frekuensi jumlah skor dan presentase dari 15 pernyataan PHBS sebagai mana terlihat pada tabel 5.5 :

Tabel 5.5

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

Distribusi Skor PHBS Anak Usia Sekolah Sesudah Pemberian Pendidikan Kesehatan di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013 Skor/Nilai Anak 10 11 12 13 14 Total Jumlah Anak 16 7 3 2 1 29 % 55,2 24,1 10,3 6,9 3,4 100,0

Dari tabel diatas, dapat dilihat bahwa rata-rata skor PHBS sebelum pendidikan kesehatan yang diperoleh responden sebagian besar mendapat skor 10 dengan jumlah responden 16 (55,2%). Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel 5.6 Tabel 5.6 Rerata Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Sesudah Pendidikan Kesehatan di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013 Variabel Rata-rata Perilaku Hidup Bersih Sehat pendidikan kesehatan dan sesudah 10,79 10,00 1,114 10-14 10,3711,22 Mean Median SD MinMax 95% CI

Dari tabel 5.6, didapatkan rata-rata skor PHBS anak usia sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih sesudah pendidikan kesehatan adalah 10,79 , median 10,00 , dengan standar deviasinya 1,114. Skor tertinggi 14 dan skor 10.
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

5.3.2 Analisa Bivariat Analisa bivariat bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian pendidikan kesehatan antara pre test dan post test phbs. Analisa statistic pada penelitian ini menggunakan uji T test berpasangan dan uji Wilcoxon sebagai uji statistic alternative, bila uji t tidak dapat dilakukan. Hubungan secara statistic dianggap bermakna jika p<0,05. Syarat uji t bisa dilakukan jika: 1. Distribusi data normal 2. Kedua kelompok data dependen/pair 3. Jenis variabel : numerik (skor) Sebelum menentukan analisa bivariat, maka dilakukan uji normalitas terlebih dahulu untuk mengetahui apakah data terdistribusi normal atau tidak dan untuk menentukan uji statistik yang akan digunakan. Uji normalitas dikatakan normal jika Pvalue > 0,05. Dan hasilnya dengan uraian tabel berikut: Tabel 5.7 One Sample Shapiro Wilk Test Pre PHBS Shapiro Wilk Asymp.Sig (2-tailed) 0,000 0,000 0,828 Post PHBS 0,740

Berdasarkan hasil uji normalitas (Shapiro Wilk) diatas, didapatkan p value 0,000 ( > 0,05), sehingga data dikatakan tidak normal dan digunakan uji alternative yaitu uji Wilcoxon. Hasil analisis bivariat menemukan pengaruh pemberian pendidikan kesehatan antara masing-masing variabel pre test dan post test sebagai uraian pada table berikut ini:
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

Tabel 5.8 Distribusi Analisis Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pada Anak Usia Sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013 N Median (minimummaksimu) Perilaku sebelum pendidikan kesehatan Perilaku sesudah pendidikan kesehatan 29 4 (2-6) 4,24 0,951 0,000 29 10 (10-14) 10,79 1,114 Rerata s.b P

Hasil analisis sebelum pendidikan kesehatan didapatkan rata-rata skor PHBS 4,24 , median 4,00 , dengan standar deviasinya 0,951. Skor tertinggi 6 dan skor terendah 2. Dan hasil analisis sesudah pendidikan kesehatan didapatkan ratarata skor PHBS 10,79 , median 10,00 , dengan standar deviasinya 1,114. Skor tertinggi 14 dan skor 10. Uji statistik menunjukkan hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai significancy 0.000 (p < 0,05), maka ada perbedaan perilaku antara sebelum dan sesudah pendidikan kesehatan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada anak usia sekolah.

BAB VI PEMBAHASAN 6.1 Keterbatasan Penelitian Dalam melakukan penelitian dengan judul Pengaruh Pendidikan Kesehatan Terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat Pada Anak Usia Sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013, peneliti menyadari masih
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

banyak kekurangan atau keterbatasan dalam penelitian ini seperti, peneliti hanya melakukan pendidikan kesehatan, pre test dan post test hanya dalam waktu 2 minggu, peneliti tidak menggunakan kelompok kontrol dan peneliti tidak melakukan uji validitas kuesioner terlebih dahulu. 6.2 PHBS Sebelum Pendidikan Kesehatan 6.2.1 PHBS Sebelum Pendidikan Kesehatan Rata-rata PHBS sebelum pendidikan kesehatan di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang Tahun 2013, didapatkan rata-rata PHBS sebelum pendidikan kesehatan adalah 4,24 , median 4,00 , dengan standar deviasinya 0,951. Skor tertinggi 6 dan skor terendah 2. Menurut peneliti sendiri, PHBS yang kurang di lakukan oleh anak-anak panti asuhan peduli kasih disebabkan karena kurangnya kegiatan PHBS itu sendiri sebagai kegiatan rutin mereka sehari-hari, anak-anak panti asuhan hanya melakukan kegiatan bersih-bersih jika disuruh oleh pengurus panti, mereka juga kurang dibimbing dan diajarkan untuk melakukan kegiatan PHBS itu sendiri, Fasilitas untuk mendukung kegiatan PHBS itu juga sangat minim, seperti alat-alat bersih rumah yang sudah rusak dan tidak bisa di gunakan lagi, keperluan untuk personal higiene juga sudah tidak layak pakai, seperti sikat gigi yang sudah lama tidak diganti, kenyamanan diwaktu malam mereka tidur juga sangat kurang, anak-anak panti tidur bersama dalam satu kasur yang tipis dan berhimpit-himpitan, anak-anak juga jarang menkonsumsi buah, sayur, dan susu untuk kesehatan mereka sehingga dari responden tersebut kurang memperhatikan pentingnya PHBS bagi kesehatan mereka.

6.3 PHBS Sesudah Pendidikan Kesehatan 6.3.1 PHBS Sesudah Pendidikan Kesehatan Rata-rata PHBS sesudah pendidikan kesehatan 10,79 , median 10,00 , dengan standar deviasinya 1,114. Skor tertinggi 14 dan skor 10.

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa 29 responden mengalami perubahan perilaku ke arah yang lebih baik/positif tentang PHBS setelah pemberian pendidikan kesehatan. Pada penelitian ini, peneliti menggunakan uji statistik wilcoxon karena tidak memenuhi syarat, yaitu sebaran data tidak normal. Peneliti ingin melihat adakah pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada anak usia sekolah. Ternyata setelah dilakukan penelitian, ada pengaruh antara pemberian pendidikan kesehatan terhadap PHBS pada anak usia sekolah. Hasil uji statistik juga memperlihatkan adanya pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap PHBS pada anak usia sekolah yaitu nilai p value < (p value = 0,000). Penelitian yang dilakukan peneliti sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Agus Purwanto (2012) yang dalam penelitiannya juga menyatakan bahwa ada pengaruh pemberian pendidikan kesehatan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat terhadap praktik gosok gigi pada anak usia sekolah di SDN 1 Sambiroto Semarang. Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Notoatmodjo (2007) bahwa pendidikan kesehatan merupakan suatu cara penunjang program-program kesehatan, yang dapat menghasilkan perubahan dan peningkatan pengetahuan dalam waktu yang pendek. Konsep pendidikan kesehatan juga proses belajar pada individu, kelompok, atau masyarakat dari tidak tahu tentang nilai-nilai kesehatan menjadi tahu, dari tidak mampu mengatasi masalah kesehatan menjadi mampu. Pendidikan Kesehatan yang lebih efektif biasanya dilakukan dengan cara metode pendidikan individual. Menurut Notoatmodjo (2007) peranan pendidikan kesehatan adalah melakukan intervensi faktor perilaku sehingga perilaku individu, kelompok atau masyarakat sesuai dengan nilai-nilai kesehatan. Dengan kata lain, pendidikan kesehatan adalah suatu usaha untuk menyediakan kondisi psikologis dan sasaran agar mereka berperilaku sesuai dengan tuntunan nilai-nilai kesehatan. Dari hasil penelitian, teori-teori yang ada dan menurut analisis peneliti pendidikan kesehatan terhadap PHBS sangat memberikan pengaruh yang besar bagi anak-anak usia sekolah di panti asuhan tersebut. Karena dalam kehidupan sehari-hari, kebersihan akan mempengaruhi kesehatan dan psikis seseorang,
37 Poltekkes Kemenkes Palembang

begitu juga dengan personal higiene berawal dari kesehatan pribadi dan merupakan tuntutan dasar, namun itu sangat tergantung pada pribadi masingmasing yaitu nilai individu dan kebiasaan untuk mengembangkannya. Pemenuhan kebutuhan untuk kebersihan diri dan lingkungan pun merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia. Ini berarti bahwa setiap manusia membutuhkan kenyamanan pada diri dan lingkungannya. Oleh sebab itu kesadaran dan kemauan dari setiap individu sangat penting untuk dapat melakukan PHBS, Dengan demikian perlunya tindak lanjut dari orang tua pengasuh dan masyarakat dalam menyediakan fasilitas dirumah agar menstimulasi perilaku kesehatan anak.

BAB VII SIMPULAN DAN SARAN 7.1 Simpulan

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan pada anak-anak tentang PHBS di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut : 1. Distribusi frekuensi skor PHBS anak usia sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih sebelum pendidikan kesehatan adalah 4,24 , median 4,00 , dengan standar deviasinya 0,951. Skor tertinggi 6 dan skor terendah 2. 2. Distribusi frekuensi skor PHBS anak usia sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih sesudah pendidikan kesehatan adalah 10,79 , median 10,00 , dengan standar deviasinya 1,114. Skor tertinggi 14 dan skor 10. 3. Ada pengaruh pendidikan kesehatan terhadap perilaku hidup bersih dan sehat pada anak usia sekolah di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang (p value 0,000) 7.2 Saran Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka saran yang bisa disampaikan peneliti yaitu : 1. Bagi para pengasuh anak-anak di Panti Asuhan Peduli Kasih Palembang diharapkan pendidikan kesehatan yang sudah diberikan dijadikan bahan pelajaran reguler bagi anak-anak penghuni panti asuhan. 2. Bagi Institusi Pendidikan, diharapkan agar hasil Karya Tulis Ilmiah yang mungkin masih belum sempurna ini dapat dijadikan literature dan menambah kepustakaan bagi institusi. 3. Bagi peneliti yang akan datang, diharapkan dapat melakukan penelitian untuk meneliti variabel yang berbeda (pendidikan kesehatan yang lain) dalam berperilaku hidup bersih dan sehat agar didapatkan perbandingan hasil penelitian. DAFTAR PUSTAKA

Ananto.(2006). Tanamkan Prilaku Hidup Bersih dan Sehat Sejak Usia Dini. http://www.surabaya.go.id/berita/detail.php?id=5002

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

Dahlan,M.(2008). Statistik Untuk Kedokteran dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.

Dinkes.(2009). Pengetahuan Orang Tua Tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada Keluarga di Lingkungan XIII Kelurahan Binjai Estate. (Online) http://www.usu.ac.id.pdf, diakses 4 april 2013

Depkes,RI.(2008). Perilaku Hidup Bersih dan Sehat di Tatanan Rumah Tangga . Jakarta : Pusat Promosi Kesehatan Depkes RI (Online) http://www.digilib.unimus.ac.id/files/disk1/130/jtptunimus-gdl-ikekristia6494-2-babiph-s.pdf, diakses 15 April 2013

Diffah,Hanim.(2011). Komunikasi Informasi Edukasi PHBS. Jakarta : Fakultas Kedokteran UNS (Online) http://www. http://fk.uns.ac.id/static/filebagian/SEMESTER_5_2011_KOMUNIKASI_ INFORMASI_EDUKASI_PHBS_ %28PERILAKU_HIDUP_BERSIH_DAN_SEHAT%29.pdf, diakses 18 April 2013

Habeahan,Jariston.(2009 Pengetahuan, Sikap dan Tindakan PHBS Anak-anak Di Yayasan Panti Asuhan Rapha-El Simalingkar Kecamatan Medan Tuntungan Kota Medan Tahun 2009). Medan : Skripsi FKM USU (online)

Kemenkes,RI.(2011). Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) (Online) http://promkes.depkes.go.id/download/pedoman_umum_PHBS.pdf, diakses 20 April 2013

Notoatmodjo,Soekidjo.(2010). Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta

Oktobriariani,R.R.(2010). Pengaruh Pendidikan Kesehatan. Surakarta : DIV Kebidanan (Online) http://www. http://www.eprints.uns.ac.id/178/1/165970109201010131.pdf, diakses 11 April 2013

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

Purwan,Agus.(2011). Pengaruh Pendidikan Kesehatan Tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) Terhadap Praktik Gosok Gigi Pada Anak Usia Sekolah di SD N 1 Sambiroto. Semarang : SI Keperawatan Anak (Online) http://www.digilib.unimus.ac.id.pdf, diakses 10 April 2013

Saraswati,Nidya.(2011). Evaluasi Pelaksanaan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) DI SDN PONDOK PINANG 03 Pagi . Jakarta : SI Kesehatan Masyarakat (Online) http://www.library.upnvj.ac.id.pdf, diakses 4 april 2013

Sari,Ratina.(2011). Efektifitas Pendidikan Kesehatan Menggunakan Metode Pendidikan Individual Terhadap Peningkatan Pengetahuan Keluarga. (Online) http://www. http://www.repository.unri.ac.id/bitstream/123456789/1849/1/PDF %20JURNAL.pdf, diakses 15 april 2013

Setiadi.(2007). Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu

World

Health Organization. (2010). Pengertian http://www.undip.ac.id.pdf, diakses 4 april 2013

Kesehatan.

(Online)

PEDOMAN OBSERVASI / CHEKLIST PENGARUH PENDIDIKAN KESEHATAN TERHADAP PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT PADA ANAK USIA SEKOLAH DI PANTI ASUHAN PEDULI KASIH PALEMBANG TAHUN 2013

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

(Diisi oleh peneliti) No Pertanyaan 1. Anak-anak mencuci sebelum makan. Anak-anak mencuci Melakukan tangan Tidak Melakukan

dengan air mengalir dan sabun 2. tangan

dengan air mengalir dan sabun 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10 . 11 . 12 13 . 14 . 15 sesudah makan Anak-anak menggunakan bersih untuk cuci baju Anak-anak menggunakan bersih untuk mandi Anak-anak menggunakan air air air

bersih untuk mencuci piring Anak-anak menggosok gigi sebelum tidur. Anak-anak buang air kecil di jamban. Anak-anak buang air besar di jamban Anak-anak membuang sampah di tempat yang disediakan. Anak-anak membersihkan kamar. Anak-anak pagi Anak-anak membersihkan

lingkungan panti asuhan setiap memakan sayur

setiap hari. Anak-anak memakan buah setiap hari Anak-anak melakukan olahraga secara rutin di panti asuhan. Anak-anak merokok lingkungan panti asuhan di

37

Poltekkes Kemenkes Palembang

37

Poltekkes Kemenkes Palembang