Anda di halaman 1dari 2

BAB I PENDAHULUAN Tubuh manusia mempunyai kemampuan untuk melawan hampir semua jenis organisme atau toksin yang

cendrung merusak jaringan dan organ tubuh. Kemampuan ini disebut imunitas. Sebagian besar imunitas merupakan imunitas didapat yang tidak timbul sampai tubuh pertama kali diserang oleh bakterri, virus atau toksin, sering kali membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-berbulan untuk membentuk imunitas ini. Pada beberapa kondisi, salah satu efek samping imunitas yang penting adalah timbulnya reaksi aleri atau jenis hipersensitivitas lainnya (Guyton & Hall, 2008). Alergi adalah akusisi reaktivitas spesifik yang tidak sesuai, atau hipersensitivtas, terhadap bahan lingkungan yang tidak berbahaya, misalnya debu atau serbuk sari tanaman. Bahan penyebab dieknal sebagai allergen. Pajanan ulang pada orang yang telah tersensitivasi memicu serangan imun, yang bervariasi dari reaksi ringan yang hanya mengganggu hingga reaksi berat yang sifatnya merusak tubuh bahkan memtikan (Sherwood, 2007). Respon alergi diklasifikasikan menjadi dua katogori: hipersensitivitas tipe cepat dan hipersentivitas tipe lambat. Pada hipersentivtas tipe cepat, reaksi alergi muncul dalam waktu skitar 20 menit setelah sesorang yang tersensitasi terpajan ke allergen. Pada hipersentivtas tipe lambat, reaksi umumnya belum muncul pada satu hari atau lebih setelah pajanan. Perbedaan dalam waktu ini disebabkan oleh perbedaan mediator-mediator kimiawi yang berperan. Salah satu contoh dari mediator kimiawi yang menandai hipersentivias tipe cepat yaitu histamin (Sherwood, 2007). Histamin adalah amin aktif secara biologi yang dijumpai di berbagai jaringan, mempunyai efek fisiologi dan patologi yang kompleks, dan biasanya dilepas setempat. Histamin meruapakan perantara penting dari reaksi cepat dan reaksi peradangan; berperan dalam sekresi asam lambung; dan berfungsi sebagai neurotransmitter dan neuromodulator (Katzung, 1998). Pengaruh histamin yang dihasilkan tubuh dapat dikurangi dengan antagonis histamin. Salah satu contoh dari antagonis histamin yaitu chlorfenilramin maleat (ctm). Ctm merupakan antagonis antihistamin reseptor H1 dengan cara menghambat kerja histmain pada pembuluh darah, bronkus dan bermacam-macam otot polos, secara antagonis kompetitif yang reversible. Dosis terapi ctm umumnya menyebabkan penghambatan system saraf pusat dengan gejala seperti kantuk, berkurangnya kewaspadaan, dan waktu reaksi yang lambat (Katzung, 1998).

BAB 2 ISI 2.1 Penggolongan Obat dan Nama lainnya.

2.1.1 Penggolongan Obat. Chlorfenilramin maleat (ctm) adalah merupakan obat antihistamin sedative, antagonis reseptor H1 golongan alkilamin, sedikit yang termasuk golongan antagonis reseptor H2. Ctm menyebabkan rasa kantuk, karena efek sampingnya melibatkan simulasi sistem saraf pusat dibandingkan kelompok golongan lainnya 2.1.2 Nama lainnya Sinonim ekschlorfeniramino maleatas; Dekskloorifeniramiinimaleaatti; Dexchlorfeniraminmaleint; Dexchlorphenamine Maleate; Dexchlorpheniramini Maleas; Dexclorfeniramina, maleato de; Dexklrfeniramin-malet; Dexklorfeniraminmaleat (Anon., 2006). Nama dagang Chlor-trimeton 2.2 Morfologi Nama kimia