Anda di halaman 1dari 27

PERCOBAAN VII

DISOLUSI

A. Tujuan
Untuk mengukur serta mengetahui jumlah zat aktif yang terlarut dalam
medium pelarut yang diketahui konsentrasi dan volumenya pada waktu tertentu
dengan menggunakan alat tertentu yang di design untuk uji parameter disolusi.

B. Dasar teori
Disolusi obat adalah suatu proses pelarutan senyawa aktif dari bentuk sediaan
padat ke dalam media pelarut. Pelarut suatu zat aktif sangat penting artinya bagi
ketersediaan suatu obat sangat tergantung dari kemampuan zat tersebut melarut ke
dalam media pelarut sebelum diserap ke dalam tubuh. Sediaan obat yang harus
diuji disolusinya adalah bentuk padat atau semi padat, seperti kapsul, tablet atau
salep (Martin, 2008).
Laju disolusi suatu obat adalah kecepatan perubahan dari bentuk padat
menjadi terlarut dalam medianya setiap waktu tertentu. Jadi disolusi
menggambarkan kecepatan obat larut dalam media disolusi (Moechtar, 1990).
Laju disolusi bahan obat dapat mempengaruhi kecepatan dan jumlah obat
yang diabsorpsi.Untuk bahan obat yang mudah larut dalam air, disolusi cenderung
lebih cepat, namun kemampuan obat untuk menembus membran sel tidak cepat.
Sebagai tahap penentu laju adalah absorpsi melalui membran pencernaan. Untuk
obat yang tidak larut dalam air, mudah larut dalam lemak maka obat tersebut lebih
mudah menembus membran sel, kecepatan absorbsinya dibatasi oleh suatu
kecepatan disolusi dari obat yang tidak larut dari bentuk sediaan. Terdapat empat
klasifikasi biofarmasetika obat berdasarkan kelarutan dan permeabilitas yaitu
kelas A memiliki kelarutan tinggi dan permeabilitas yang tinggi, kelas B memiliki
kelarutan rendah dan permeabilitas tinggi, kelas C memiliki kelarutan tinggi dan
permeabilitas yang rendah, sedangkan kelas D memiliki kelarutan yang rendah
dan permeabilitas yang rendah. (Moechtar, 1990).
Untuk menguji disolusi tablet maka diperlukan medium yang sesuai. Medium
yang digunakan dalam disolusi merupakan pelarut dengan karakteristik tertentu
dan merupakan suatu medium pembanding bagaimana suatu zat aktif bekerja
dalam tubuh. Air merupakan medium pelarut yang bersifat netral, dan dapar
posfat dengan pH tertentu digunakan untuk memperkirakan nasib suatu obat di
dalam usus (Effendy, 2011).
Agar suatu obat diabsorbsi, mula-mula obat tersebut harus larutan dalam
cairan pada tempat absorbsi. Sebagai contoh, suatu obat yang diberikan secara
oral dalam bentuk tablet atau kapsul tidak dapat diabsorbsi sampai partikel-
partikel obat larut dalam cairan pada suatu tempat dalam saluran lambung-usus.
Dalam hal dimana kelarutan suatu obat tergantung dari apakah medium asam atau
medium basa, obat tersebut akan dilarutkan berturut-turut dalam lambung dan
dalam usus halus. Proses melarutnya suatu obat disebut disolusi (Moechtar, 1990).
Bila suatu tablet atau sediaan obat lainnya dimasukan ke dalam beaker glass
yang berisi air atau dimasukan ke dalam saluran cerna (Saluran gastrointestinal),
obat tersebut mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padanya. Kalau tablet
tersebut tidak dilapisi polimer, matriks padat juga mengalami disintegrasi menjadi
granul-granul, dan granul-granul mengalami pemecahan menjadi partikel halus.
Disintegrasi, deagregrasi dan disolusi bisa berlangsung secara serentak dengan
melepasnya suatu obat di tempat obat tersebut diberikan (Martin, 2008).
Efektivitas dari suatu tablet dalam melepas obatnya untuk absorpsi sistemik
agaknya bergantung pada laju disintegrasi dari bentuk sediaan dan deagregasi dari
granul-granul tersebut (Martin, 2008).
Jika proses disolusi untuk suatu partikel obat tertentu adalah cepat, atau jika
obat diberikan sebagai suatu larutan dan tetap ada dalam tubuh seperti itu, laju
obat yang terabsorbsi terutama akan tergantung pada kesanggupannya menembus
pembatas membran. Tetapi, jika laju disolusi untuk suatu partikel obat lambat,
misalnya mungkin karena karakteristik zat obat atau bentuk dosis yang diberikan ,
proses disolusinya sendiri akan merupakan tahap yang menentukan laju dalam
proses absorbsi. Perlahan-lahan obat yang larut tidak hanya bisa diabsorbsi pada
suatu laju rendah, obat-obat tersebut mungkin tidak seluruhnya diabsorbsi atau
dalam beberapa hal banyak yang tidak diabsorbsi setelah pemberian oral, karena
batasan waktu alamiah bahwa obat bisa tinggal dalam lambung atau saluran usus
halus (Moechtar, 1990).
Pemikiran awal dilakukannya uji hancurnya tablet didasarkan pada kenyataan
bahwa tablet itu pecah menjadi lebih luas dan akan berhubungan dengan
tersedianya obat di dalam cairan tubuh. Namun sebenarnya uji hancur hanya
waktu yang diperlukan tablet untuk hancur di bawah kondisi yang ditetapkan dan
lewatnya partikel melalui saringan. Uji ini tidak memberi jaminan bahwa partikel-
partilkel tersebut akan melepas bahan obat dalam larutan dengan kecepatan yang
seharusnya (Moechtar, 1990).
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju disolusi yaitu:
1. Sifat fisikokimia obat.
a. Karakteristik fase padat.
Laju disolusi dipengaruhi oleh bentuk amorf dan kristal. Dari beberapa
penelitian menunjukkan bahwa bentuk amorf dari obat lebih memberikan
kelarutan yang lebih besar dan laju disolusi yang lebih tinggi daripada bentuk
kristal karena dalam bentuk kristal energi yang dibutuhkan untuk melepas hidrat
dalam kisi-kisi kristal lebih besar (Martin, 2008).
b. Polimorfisme.
Polimorf merupakan bentuk kristal obat yang terdiri lebih dari satu bentuk
kristal. Polimorf menunjukkan kinetika pelarut yang berbeda meskipun memiliki
struktur kimia yang identik. Beberapa laporan menunjukkan bahwa polimorfisme
dalam bentuk hidrat, solvat atau kompleks secara nyata mempengaruhi
karakteristik disolusi dan obat (Martin, 2008).
c. Karakteristik partikel.
Laju disolusi secara langsung berhubungan dengan permukaan obat. Jika
daerah permukaan diperbesar dengan memperkecil ukuran partikel, laju disolusi
menjadi tinggi disebabkan pengurangan ukuran partikel (Martin, 2008).



2. Faktor formulasi
a. Bahan tambahan.
Laju disolusi suatu obat murni dapat berubah secara bermakna saat dicampur
dengan berbagai bahan tambahan selama proses pencetakan bentuk sediaan.
Bahan tambahan ini antara lain bahan pengisi, pengikat, penghancur, pelicin, dan
sebagainya (Martin, 2008).
b. Ukuran partikel.
Untuk meningkatkan laju disolusi dipilih ukuran partikel optimal yaitu cukup
kecil untuk memberikan luas permukaan spesifik yang berarti, tetapi tidak terlalu
kecil agar kesulitan pembasahan yang disebabkan oleh muatan partikel yang
terjadi selama penggerusan dapat dihindari (Martin, 2008).
Tujuan uji disolusi tablet yaitu untuk menentukan kesesuaian dengan
persyaratan disolusi yang tertera dalam masing-masing monografi (misal
Farmakope) untuk sediaan tablet dan kapsul, kecuali pada etiket dinyatakan
bahwa tablet harus dikunyah. Persyaratan disolusi tidak berlaku untuk kapsul
gelatin lunak kecuali bila dinyatakan lain yaitu biasanya masing-masing dalam
suatu monografi (Martin, 2008).
Persyaratan dipenuhi bila jumlah zat aktif yang terlarut dari sediaan yang
diuji sesuai dengan table penerimaan.Lanjutkan pengujian sampai 3 tahap kecuali
bila hasil pengujian memenuhi tahap S1 atau S2. Harga Q adalah jumlah zat aktif
yang terlarut seperti tertera pada masing-masing monografi, dinyatakan dalam
persentasi kadar pada etiket, angka 5% dan 15% dalam tablet adalah persentasi
dari kadar pada suatu etiket, dengan demikian mempunyai arti yang sama dengan
Q (Hutagaol, 2010).
Kriteria penerimaan dalam uji disolusi dapat diuraikan sebagai berikut:
Tahap Jumlah yang diuji Kriteria penerimaan
S
1
6 Tiap unit sediaan tidak kurang dari Q + 5 %
S
2
6
Rata-rata dari 12 unit (S
1
+ S
2
) adalah sama
dengan atau lebih besar dari Q dan tidak satu
unit sediaan yang lebih kecil dari Q 15 %
S
3
12
Rata-rata dari 24 unit (S
1
+ S
2
+ S
3
) adalah
sama dengan atau lebih besar dari Q, tidak
lebih dari dua unit Q 15 % dan tidak satu
unit pun yang lebih kecil dari Q 25 %
Sejumlah metode untuk menguji disolusi dari tablet dan granul secara in vitro
dapat digunakan metode keranjang dan dayung (Martin, 2008).
1. Apparatus 1 (metode keranjang)
Metode keranjang terdiri atas keranjang silinder yang ditahan oleh tangkai
motor. Keranjang menahan cuplikan dan berputar dalam suatu labu bulat yang
berisi media pelarutan. Keseluruhan labu tercelup dalam suatu zat yang bersuhu
konstan 37
0
C. Kecepatan berputar dan posisi keranjang harus memenuhi
rangkaian syarat khusus dalam uap yang terakhir beredar. Tersedia standar
kalibrasi pelarutan untuk meyakinkan bahwa syarat secara mekanik dan syarat
operasi telah dipenuhi (Shargel, 2004).
2. Apparatus 2 (metode dayung)
Metode dayung terdiri atas suatu dayung yang dilapisi khusus yang berfungsi
melapisi turbelensi yang disebabkan oleh pengadukan. Dayung diikat secara
vertikal ke suatu motor yang berputar dengan suatu kecepatan yang terkendali.
Tablet atau kapsul dicelupkan dalam labu pelarutan yang beralas bulat yang juga
berfungsi untuk memperkecil turbelensi dari media pelarutan. Alat yang
disemprotkan dalam suatu bak air yang bersuhu 37
o
C. Posisi kesejajaran dayung
ditetapkan dalam USP. Metode dayung sangat peka terhadap kemiringan dayung
pada beberapa produk obat kesejajaran dayung yang tidak tepat secara drastic
dapat mempengaruhi hasil dari pelarutan. Standar kalibrasi dari pelarutan yang
sama digunakan untuk memeriksa peralatan uji sebelum uji tersebut dapat
dilaksanakan (Shargel, 2004).
3. Apparatus 3
Desain dari USP apparatus 3, didasarkan pada uji disintegrasi, selain itu
menggabungkan fitur hidrodinamik dari metode botol berputar dan menyediakan
kemampuan pengadukan dan perubahan komposisi media selama menjalankan
serta otomatisasi penuh dari prosedur. Sangh vietal.15 telah melakukan upaya
untuk membandingkan hasil yang diperoleh dengan USP apparatus 3 dan USP
apparatus 1 dan 2. Apparatus 3 dapat sangat berguna dalam kasus-kasus di mana
satu atau lebih pH/penyangga perubahan yang diperlukan dalam prosedur
pengujian disolusi misalnya, enteric-coated/ sustained bentuk sediaan
rilis(Shargel, 2004).
4. Apparatus 4
Aliran-melalui-sel terdiri dari reservoir untuk medium disolusi dan pompa
yang memaksa medium disolusi melalui sel tahanan sampel uji. Laju alir berkisar
4-16 mL / menit. Enam sampel diuji selama pengujian disolusi, dan menengah
dipertahankan pada 37C. Aparatus 4 dapat digunakan untuk bentuk sediaan
modified-release yang mengandung bahan aktif yang memiliki kelarutan sangat
terbatas (Shargel, 2004).
Ada banyak variasi dari metode ini. Pada dasarnya, sampel dipegang dalam
posisi tetap sementara medium disolusi dipompa melalui pemegang sampel,
sehingga melarutkan obat.Aliran laminar medium dicapai dengan menggunakan
pompa pulseless. Peristaltik pompa sentrifugal atau tidak dianjurkan.Laju aliran
biasanya dipertahankan antara 10 dan 100 mL / menit. Medium disolusi mungkin
diresirkulasi. Dalam kasus media ini, laju disolusi setiap saat dapat diperoleh,
sedangkan di dayung resmi atau metode keranjang, tingkat pelarutan kumulatif
dimonitor. Keuntungan utama dari aliran melalui metode ini adalah mudah
pemeliharaan kondisi wastafel untuk pembubaran. Sebuah volume besar medium
disolusi juga dapat digunakan, dan modus operasi mudah disesuaikan dengan
peralatan otomatis (Shargel, 2004).
5. Apparatus 5
Aparatatus 5 terdiri dari pemegang sampel atau perakitan disk yang
memegang produk.Seluruh persiapan ditempatkan dalam labu disolusi yang diisi
media tertentu dipertahankan pada 32 C. Dayung ditempatkan langsung di atas
perakitan disk. Sampel diambil di tengah antara permukaan media disolusi dan
bagian atas pisau dayung pada waktu yang ditentukan. Mirip dengan pembubaran
pengujian dengan kapsul dan tablet, unit enam diuji selama masing-masing
berjalan. Kriteria penerimaan dapat dinyatakan dalam monografi obat individu
(Shargel, 2004).
6. Apparatus 6 (metode silinder)
Metode silinder (Apparatus 6) untuk menguji persiapan transdermal
dimodifikasi dari metode keranjang (Apparatus 1). Di tempat keranjang, sebuah
silinder stainless steel digunakan untuk menyimpan sampel. Sampel dipasang ke
cuprophan (bahan selulosa berpori lembab) dan seluruh menganut sistem untuk
silinder. Pengujian dipertahankan pada 32 C. Sampel diambil di tengah antara
permukaan media disolusi dan bagian atas silinder yang berputar untuk dapat
analisis (Shargel, 2004).
7. Apparatus 7 (metode piringan bolak balik)
Metode piringan bolak balik untuk pengujian produk transdermal, drive
perakitan motor (Apparatus 7) digunakan untuk membalas sistem vertikal, dan
sampel ditempatkan pada pemegang berbentuk cakram menggunakan cuprophan
mendukung. Tes ini juga dilakukan pada 32 C, dan frekuensi reciprocating
adalah sekitar 30 siklus per menit. Kriteria penerimaan tercantum dalam monograf
obat individu (Shargel, 2004).

Ada dua sasaran dalam mengembangkan uji disolusi in vitro yaitu untuk
menunjukkan :
1. Penglepasan obat dari tablet kalau dapat mendekati 100%
2. Laju penglepasan obat seragam pada setiap batch dan harus sama dengan laju
penglepasan dari batch yang telah dibuktikan bioavaibilitas dan efektif secara
klinis (Ansel, 1989).
Kecepatan disolusi dalam berbagai keadaan dapat menjadi tahap pembatasan
kecepatan zat aktif ke dalam cairan tubuh. Apabila zat padat ada dalam saluran
cerna, maka terdapat dua kemungkinan tahap pembatasan kecepatan zat aktif
tersebut, yaitu :
- Zat aktif mula-mula harus larut
- Zat aktif harus dapat melewati membran saluran cerna
(Martin, 2008).

1. Uraian Uji Disolusi Tablet Acyclovir
Nama tablet : Tablet acyclovir
Apparatus : Metode dayung( Aparatus 2)
Medium disolusi : HCl 0,1 N
Waktu : 45 menit
Kecepatan : 50 rpm
Prosedur analisis : Di uji dengan alat uji dosolusi degan menggunakan 6
buah tabung dengan menggunakan apparatus 2 yaitu
metode dayung medium yang digunakan Hcl 0,1 N dengan
kecepatan 50 rpm selama 45 menit
Batas penerimaan : Tablet acyclovir tidak kurang 80% terdisolusi.
(Ditjen Pom, 1995)
2. Spektrofotometer UV-Vis
Spektrofotometer merupakan alat yang digunakan untuk mengukur kadar
atau konsentrasi suatu zat dalam suatu sampel dengan mengukur absorbansi atau
banyaknya cahaya yang diserap sampel pada panjang gelombang tertentu. Maka,
banyaknya cahaya yang diserap oleh sampel sebanding dengan kadar suatu zat
dalam sampel. Setelah didapatkan absorbansi Panjang gelombang maksimum
adalah panjang gelombang dimana nilai serapan yang dihasilkan juga maksimum
atau absorbansinya maksimum(Anief, 1997).











C. Alat dan Bahan
1. Alat
a. Alat uji disolusi
b. Apparatus 2 (paddle)
c. Gelas kimia
d. Holder filter
e. Labu takar
f. Kertas saring
g. Kuvet
h. Pipet volume
i. Pro pipet
j. Spektrofotometer uv-vis
k. Spoid
l. Stopwatch
m. Termometer
2. Bahan
a. Air suling
b. HCl 0,1N, 900 ml
c. Tablet acyclovir 200 mg

D. Prosedur Kerja
1. Penentuan panjang gelombang maksimum acyclovir
a. Diisi kuvet bersih dengan larutan acyclovir
b. Diisi kuvet blanko dengan aquadest
c. Dibaca absorbansi (A) larutan acyclovir pada kisaran panjang gelombang 254
nm. Pada setiap pergantian panjang gelombang, absorbansi dinolkan dengan
larutan blanko
2. Pembuatan kurva baku acyclovir
a. Dibuat seri konsentrasi larutan acyclovir
b. Dibaca absorbansi (A) pada panjang gelombang maksimum
c. Di plotkan data absorbansi yang didapat pada grafik dengan sumbu y adalah
absorbansi sedangkan sumbu x adalah konsentrasi (ppm)
d. Ditentukan persamaan garis lurus dan nilai R
2

3. Pengujian disolusi
a. Disediakan alat disolusi yang mempunyai 6 buah labu disolusi dan 6 buah
apparatus 2 (paddle)
b. Dimasukkan 900 ml media disolusi HCl 0,1N, pH 1,2 pada masing-masing
gelas disolusi
c. Dihidupkan alat disolusi, ditunggu media disolusi hingga mencapai suhu 37
0
C
0,5
0
C
d. Keenam tablet acyclovir dimasukkan pada masing-masing labu disolusi
e. Dijalankan alat tersebut dijalankan dengan kecepatan 50 rpm selama 45 menit
f. Diambil filtrat sampel pada menit ke 5, 10, 15, 20, 30 dan 45
g. Diukur absorbansi (A) pada panjang gelombang maksimum sebanyak 3 kali
pengulangan
h. Dihitung konsentrasi (ppm) sampel dan rata-rata konsentrasi (ppm)
i. Dikonversikan nilai rata-rata konsentrasi (ppm) tiap waktu ke dalam bentuk
persen jumlah terdisolusi dari tablet yang mengandung acyclovir 200 mg
4. Pembuatan profil disolusi tablet acyclovir
a. Diplotkan data yang diperoleh dalan grafik profil disolusi dengan sumbu y
adalah persen terdisolusi dan sumbu x adalah waktu (menit)



E. Hasil Pengamatan
1. Tabel Pengamatan
a. Penentuan Panjang Gelombang Tablet Acyclovir
Panjang Gelombang (nm) Absorbansi
253 0,440
254 0,445
255 0,432
256 0,432
257 0,434
Jadi panjang gelombang maksimumnya adalah 254 nm
b. Pembuatan Kurva Baku Tablet Acyclovir
Konsentrasi (ppm) Absorbansi
4 0,269
6 0,401
8 0,507
10 0,623
12 0,745
Jadi Persamaan garis lurusnya adalah ybxa
y0,0587 0,0394
c. Pengujian Disolusi
Waktu
(menit)
Absorbansi
Pengenceran
1 2 3
0 0 0 0 0
5 0,532 0,521 0,533 10
10 0,528 0,530 0,525 20
15 0,625 0,630 0,624 20
20 0,653 0,655 0,669 20
30 0,659 0,660 0,661 20
45 0,667 0,670 0,664 20

1) Perhitungan konsentrasi berdasarkan persamaan linear
Waktu
(menit)
Absorbansi Rata-rata
konsentrasi
(ppm)
1 2 3
0 0 0 0 0
5 83,918 82,044 84,088 83,350
10 166,474 167,155 165,451 166,360
15 199,523 201,226 199,182 199,977
20 209,063 209,744 214,514 211,107
30 211,107 211,448 211,788 211,447
45 213,833 214,855 212,810 213,832
2) Faktor koreksi
Konsentrasi rata-rata Faktor Koreksi
0 0
83,350 83,350
166,360 167,289
199,977 202,751
211,107 216,103
211,447 218,789
213,832 223,523
4. Persen disolusi
Waktu (menit) Jumlah Disolusi (%)
0 0
5 37,507
10 75,279
15 91,239
20 97,247
30 98,456
45 100,586

2. Perhitungan
a. Konsentrasi Tablet Acyclovir
Persamaan Linear ybxa
y0,0587 0,0394
x
y-0,0394
0,0587

1) Menit ke-5
Konsentrasi 1
x
y-0,0394
0,0587

0,532-0,0394
0,0587
10
83,918 ppm
Konsentrasi 2
x
y-0,0394
0,0587

0,521-0,0394
0,0587
10
82,044 ppm
Konsentrasi 3
x
y-0,0394
0,0587

0,533-0,0394
0,0587
10
84,088 ppm
Rata-rata Konsentrasi
K
1
K
2
K
3
3

83,91882,04484,088
3

83,350 ppm
2) Menit ke-10
Konsentrasi 1
x
y-0,0394
0,0587

0,528-0,0394
0,0587
20
166,474 ppm
Konsentrasi 2
x
y-0,0394
0,0587

0,530-0,0394
0,0587
20
167,155 ppm
Konsentrasi 3
x
y-0,0394
0,0587

0,525-0,0394
0,0587
20
165,451 ppm
Rata-rata Konsentrasi
K
1
K
2
K
3
3

166,474167,155165,451
3

166,360ppm
3) Menit ke-15
Konsentrasi 1
x
y-0,0394
0,0587

0,625-0,0394
0,0587
20
199,523 ppm
Konsentrasi 2
x
y-0,0394
0,0587

0,630-0,0394
0,0587
20
201,226 ppm

Konsentrasi 3
x
y-0,0394
0,0587

0,624-0,0394
0,0587
20
199,182 ppm
Rata-rata Konsentrasi
K
1
K
2
K
3
3

199,523201,226199,182
3

199,977ppm
4) Menit ke-20
Konsentrasi 1
x
y-0,0394
0,0587

0,653-0,0394
0,0587
20
209,063 ppm
Konsentrasi 2
x
y-0,0394
0,0587

0,655-0,0394
0,0587
20
209,744 ppm
Konsentrasi 3
x
y-0,0394
0,0587

0,669-0,0394
0,0587
20
214,514 ppm
Rata-rata Konsentrasi
K
1
K
2
K
3
3

209,063209,744214,514
3

211,107ppm
5) Menit ke-30
Konsentrasi 1
x
y-0,0394
0,0587

0,659-0,0394
0,0587
20
211,107 ppm
Konsentrasi 2
x
y-0,0394
0,0587

0,660-0,0394
0,0587
20
211,448 ppm
Konsentrasi 3
x
y-0,0394
0,0587

0,661-0,0394
0,0587
20
211,788 ppm
Rata-rata Konsentrasi
K
1
K
2
K
3
3

211,107211,448211,788
3

211,447ppm
6) Menit ke-45
Konsentrasi 1
x
y-0,0394
0,0587

0,667-0,0394
0,0587
20
213,833 ppm
Konsentrasi 2
x
y-0,0394
0,0587

0,670-0,0394
0,0587
20
214,855 ppm
Konsentrasi 3
x
y-0,0394
0,0587

0,664-0,0394
0,0587
20
212,810 ppm
Rata-rata Konsentrasi
K
1
K
2
K
3
3

213,833214,855212,810
3

213,832 ppm
b. Jumlah Tablet Acyclovir Terdisolusi
Konsentrasi Acyclovir dalam tubuh
200 mg
900 mL

222,22 ppm
1) Menit ke-5
Faktor koreksi A

A
83,350
Jumlah tablet terdisolusi
83,350 ppm
222,22 ppm
100
37,507
2) Menit ke-10
Faktor koreksiB
'
B {
10
900
(A)}
166,360 {
10
900
(83,350)}
166,3600,926
167,286
Jumlah tablet terdisolusi
167,286
222,22
100
75, 279
3) Menit ke-15
Faktor koreksiC
'
C {
10
900
(AB)}
199,977 {
10
900
(83,350 166,360)}
199,9772,774
202,751
Jumlah tablet terdisolusi
202,751
222,22
100
91,239
4) Menit ke-20
Faktor koreksiD
'
D {
10
900
(ABC)}
211,107 {
10
900
(83,350 166,360199,977)}
211,1074,996
216,103
Jumlah tablet terdisolusi
216,103
222,22
100
97,247
5) Menit ke-30
Faktor koreksiE
'
E {
10
900
(ABCD)}
211,447 {
10
900
(83,350 166,360199,977211,107)}
211,4477,342
218,789
Jumlah tablet terdisolusi
218,789
222,22
100
98,456
6) Menit ke-45
Faktor koreksiF
'
F {
10
900
(ABCDE)}
213,832 {
10
900
(83,350 166,360199,977211,107 211,447)}
213,8329,691
223,523
Jumlah tablet terdisolusi
223,523
222,22
100
100,586

3. Grafik
a. Kurva Baku












y = 0.059x + 0.0394
R = 0.999
0
0.1
0.2
0.3
0.4
0.5
0.6
0.7
0.8
0 2 4 6 8 10 12 14
A
b
s
o
r
b
a
n
s
i

Konsentrasi (ppm)
Kurva Baku Acyclovir
b. Profil Disolusi Tablet Disolusi






0
20000
40000
60000
80000
100000
120000
0 10 20 30 40 50
J
u
m
l
a
h

d
i
s
o
l
u
s
i

(
%
)

Waktu (menit)
Disolusi Tablet Acyclovir
F. Pembahasan
Disolusi adalah proses ketika molekul obat dibebaskan dari fase padat dan
masuk ke dalam fase larutan. Disolusi merupakan sebuah proses yang dimulai dari
beberapa tahap yaitu dimulai dari proses desintegrasi yang merupakan proses
pelepasan zat aktif dari sediaannya yang membentuk granul-granul yang
kemudian akan mengalami lagi proses deagregasi yaitu proses penghalusan
granul-granul tersebut menjadi partikel-partikel yang lebih kecil yang kemudian
akan mengalami proses disolusi dari bentuk partikel-partikel padat yang melarut
dalam suatu pelarut dan berubah menjadi bentuk yang sama dengan pelarutnya.
Proses pelarutan yang cepat dari zat aktif tersebut akan menimbulkan efek yang
cepat pula dan begitu juga sebaliknya. Bila pelarutan suatu obat lambat, maka
efek yang ditimbulkan dari obat tersebut juga akan lambat. Maka apabila proses
disolusi atau pelarutan suatu obat lambat, maka hal ini akan mengakibatkan proses
absorpsi yang dihasilkan juga akan lambat. Sehingga ketersediaan obat didalam
cairan dan jaringan tubuh juga akan sedikit. Proses absorpsi obat yaitu proses
masuknya obat dan zat aktifnya ke dalam sirkulasi darah yang kemudian akan
didistribusikan ke seluruh cairan dan jaringan tubuh.
Uji disolusi digunakan untuk berbagi alasan dalam industri farmasi seperti
dalam pengembangan produk baru, untuk pengawasan mutu, dan untuk membantu
menentukan kesetaraan hayati.
Obat yang digunakan pada percobaan kali ini yaitu acyclovir yang merupakan
obat yang berada dalam bentuk sediaan tablet. Acyclovir merupakan obat yang
digunakan sebagai obat yang membantu pengobatan bagi infeksi virus herpes
simplex, dimana absorbansi secara peroralnya yaitu sekitar 15-30 %.
Peralatan disolusi terdiri dari beberapa tipe yang digunakan yang disesuaikan
dengan jenis sediaan obat yang akan diujikan. Peralatan disolusi dinamakan
dengan apparatus yang terdiri dari apparatus 1 hingga apparatus 7 yang berbeda
metode dan penggunaannya. Pengujian disolusi tablet dapat menggunakan
apparatus 1 dan 2. Dalam pengujian kali ini menggunakan apparatus 2, apparatus
2 merupakan metode dayung yang menggunakan pengaduk, terdiri dari batang
dan daun pengaduk. Batang pada posisi sedemikian sehingga sumbunya tidak
lebih dari 2 mm pada tiap titik dari sumbu vertikal wadah dan berputar dengan
halus tanpa goyangan yang berarti. Daun melewati diameter batang sehingga
dasar batang dan daun rata, dengan spesifikasi jarak 29 mm 2 mm dayung
dengan bagian dalam wadah dipertahankan selama pengujian berlangsung.
Menurut USP, uji disolusi untuk tablet acyclovir digunakan medium HCl
dengan kensentrasi 0,1 N, dan pH 1,2 serta volume yang digunakan sebanyak 900
mL. Penggunaan HCl dengan pH 1,2 dikarenakan untuk menyesuaikan dengan
kondisi pelepasan obat di dalam lambung, selain itu volume yang digunakan
sebanyak 900 mL didasarkan karena volume maksimal lambung adalah 1000 mL.
Kecepatan pengadukan yang digunakan pada alat untuk uji ini adalah 50 rpm
selama 45 menit, hal ini setara dengan gerakan motilitas lambung. Selain itu, batas
minimum sediaan tablet acyclovir terdisolusinya selama 45 menit adalah tidak
kurang dari 80 %.
Pada percobaan ini, mula-mula diisi bak disolusi dengan air suling. Bak ini
berfungsi untuk memanaskan labu disolusi yang berisi medium untuk melarutkan
acyclovir. Kemudian diatur suhunya 38 C dan setelah tercapai suhu tersebut
maka dimasukkan medium disolusi ke dalam labu disolusi dan diukur suhunya.
Alasan digunakan suhu 38 C pada bak disolusi yakni diharapkan nantinya suhu
pada medium disolusi dapat berada pada kisaran 37C 0,5C sehingga
pengkondisian suhu ekuivalen dengan suhu tubuh. Selanjutnya digunakan 6 buah
labu disolusi yang berisi medium HCl 0,1 N untuk tablet Acyclovir dan satu buah
tabung disolusi berisi stok medium yaitu HCl 0,1 N, selanjutnya dimasukkan
tablet Acyclovir 200 mg kedalam 6 buah labu disolusi yang digunakan. Diambil
5-10 mL pada menit ke 5, 10, 15, 20, 30, dan 45. Pengambilan 5-10 mL dilakukan
untuk menghindari dari kepekatan sampel yang akan diukur absorbansi nya,
sehingga dapat dilakukan pengenceran. Setiap pengambilan, volume medium
dalam labu disolusi dicukupkan kembali menjadi 900 ml. Pengambilan dilakukan
dengan holder filter yang telah di pasangkan dengan spoid dan kertas saring.
Kertas saring bertujuan untuk menghindari molekul-molekul acyclovir yang
belum larut turut terambil.
Prosedur selanjutnya yaitu dilakukan penentuan panjang gelombang
maksimum dengan menggunakan alat spektrofotometer dimana menurut literatur
yang digunakan yaitu USP menyebutkan panjang gelombang maksimum untuk
sediaan obat tablet Acyclovir yaitu pada 254 nm, sehingga dalam penentuan
panjang gelombang maksimum ini dilakukan pada rentang panjang gelombang
253-257 nm, selanjutnya diukur absorbansi maksimum pada masing-masing
panjang gelombang. Didapatkan data pada panjang gelombang 253 absorbansinya
yaitu 0,440, pada panjang gelombang 254 nilai absorbansinya yaitu 0,445,
panjang gelombang 255 nm absorbansinya 0,435, panjang gelombang 256 nm
absorbansinya 0,432, dan panjang gelombang 257 nm absorbansinya 0,434.
Berdasarkan data yang telah diperoleh didapatkan data absorbansi maksimum obat
Acyclovir yaitu pada panjang gelombang 254 nm. Prinsip dari spektrofotometer
sendiri adalah mengubah sinar polikromatik yang jatuh pada sampel berwarna
menjadi sinar monokromatik dilakukan oleh monokromator, kemudian sinar
monokromatik ini ada yang diserap sebagai absorban dan ada juga yang
diteruskan sebagai transmitan. Jumlah atau banyaknya absorbansi inilah yang
terbaca oleh detektor dan menjadi dasar untuk menghitung konsentrasi dari
acyclovir. Pada umumnya, digunakan panjang gelombang maksimum karena
perubahan absorbansi untuk setiap satuan konsentrasi adalah yang paling besar
dan kesalahan yang ditimbulkan akan semakin kecil. Panjang gelombang
maksimum adalah panjang gelombang dimana nilai serapan yang dihasilkan juga
maksimum atau absorbansinya maksimum. Prinsip kerja dari metode ini adalah
jumlah cahaya yang diabsorbsi oleh larutan sebanding dengan konsentrasi sampel
yang diuji dalam larutan.
Berdasarkan hasil yang diperoleh dari hasil absorbansi didapatkan dengan
melakukan pengenceran pada menit ke-5 yaitu sebanyak 10x. Sedangkan pada
rentang waktu selanjutnya sampai menit ke 45, pengenceran dilakukan sebanyak
20x. Nilai absorbansi yang diperoleh kemudian dihitung ke dalam bentuk
konsentrasi yang kemudian dikonversikan ke dalam jumlah persen yang
ditetapkan sebagai persen terdisolusi dari obat tersebut. Sehingga diperoleh pada
menit ke-5 persen terdisolusi sebanyak 37,507 %. Menit ke-10 persen terdisolusi
sebanyak 75,279 %. Menit ke-15 sebanyak 91,239 %. Menit ke-20 sebanyak
97,247 %. Menit ke-30 sebanyak 98,456 %. Menit ke-45 sebanyak 100,586 %.
Dari hasil ini menunjukkan bahwa semakin lama waktu yang digunakan, maka
semakin semakin banyak juga jumlah obat yang dapat terdisolusi. Walaupun
demikian kenaikan lebih terlihat pada menit ke 10 yaitu dari 37,507 % ke 75,279
% dan pada menit ke 15 yaitu dari 75,279 % ke 91,239 %. Selanjutnya kenaikan
hanya terjadi sedikit (relatif konstan) yaitu pada menit ke 20, 30, 45.

G. Kesimpulan
Berdasarkan data hasil pengamatan dari percobaan yang dilakukan, maka
dapat disimpulkan bahwa:
1. Persentase tablet acyclovir yang terdisolusi yaitu pada menit ke-5 yaitu
37,507 %, menit ke-10 75,279 5, menit ke-15 91,239 %, menit ke-20
97,247 %, menit ke-30 98,456 %, dan menit ke-45 100,586%
2. Semakin lama waktunya, maka tablet acyclovir yang terlarut dan
terdisolusi semakin tinggi, naik pada menit ke 5, 10 dan 15, serta relatif
konstan pada menit ke 20, 30 dan 45.


DAFTAR PUSTAKA

Anief, M. 1997. Ilmu Meracik ObatTeori dan Praktik. Universitas Gadjah Mada
Press : Yogyakarta.

Ansel, C. H. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi Keempat.
Universitas Indonesia Press : Jakarta.

Effendy, Putra. 2011. Pengujian Disolusi Pada Tablet dengan Metode Keranjang.
Jurnal Farmasi volume 3 nomor 2

Hutagaol, Lungguk. 2010. Disolusi Kapsul Teofilin dalam Model Resep Dokter.
Jurnal Farmasi Indonesia volume 5 nomor 1

Martin, A. 2008. Farmasi Fisik Dua. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Moechtar. 1990. Farmasi Fisika. Universitas Gadjah Mada Press: Yogyakarta.

Shargel, Leon. 2004. Apptied Biopharmaceutic dan Pharmacokinetic Edisi
Kelima