Anda di halaman 1dari 31

BAB 1 Macam- macam pengaman / proteksi

1. FUSE (sekering ) 2. CB (Circuit Brreaker) 3. MCB (Miniatur Circuit Breaker) 4. MCCB (Moulded Circuit Case Breaker 5. ACB ( Air Circuit Breaker) 6. OCB (Oil Circuit Breaker) 7. VCB (Vacum Circuit Breaker ) 8. SF6 CB (Sulfur Hexaflouride Circuit Breaker ) 9. ELCB (Erth Lekuage Circuit Breaker)

Defenisi / jenisnya:
1. FUSE 1.1 Patron Lebur (Sekering) Sekering adalah pengaman listrik dari adanya arus hubung singkat dan arus lebih. Ada dua macam sekering yaitu : A. Sekering Non Otomatis Bentuk Ulir Sekering model ini sudah tidak banyak digunakan karena kurang praktis. Apabila terjadi arus pendek atau arus yang melebihi dari batas arus yang ditentukan,maka sekering ini akan putus. Sekering putus apabila arus beban sebesar 2,3 x arus nominalnya. Biasanya sekering ditempatkan dalam rumah sekering.

Gambar. 1 Pengaman lebur non otomatis

B. Sekering Otomatis. Sekering otomatis merupakan pengganti sekering bentuk ulir. Secara fisik bentuknya sama namun untuk sekering otomatis memiliki dua buah tombol yaitu tombol besar dan tombol kecil. Tombol yang besar berada ditengah berfungsi untuk menghubungkan aliran listrik setelah terjadinya konslet atau arus lebih. Tombol kecil berada di tepi berfungsi untuk mematikan aliran listrik.

Gbr. 2 Sekering Otomatis Fuse adalah alat pengaman listrik yang paling familiar dan sering kita jumpai. Fuse terpasang dalam rangkaiaan listrik tersusun secara seri, sehingga jika terlewati arus yang melebihi kapasitas kerja dari fuse tersebut, maka fuse akan terbakar dan memutus arus yang ada dalam rangkaian tersebut. Element penghantar yang terdapat dalam fuse tersebut akan meleleh, dan memutus rangkaian listrik tersebut sebagai pengaman terhadap komponen-komponen lain dalam rangkaian listrik tersebut dari bahaya arus besar. Jika kita dapati fuse yang telah terbakar atau putus elementnya kita harus menggantinya dengan yang baru, tetapi yang perlu diingat adalah penggantian dengan kapasitas arus yang sama. Jika menggantinya dengan kapasitas arus yang lebih besar maka akan berakibat kerusakan pada rangkaian listrik tersebut, karena jika ada arus lebih dalam rangkaian tersebut, fuse tidak akan putus atau terbakar.

1.2 FUSIBLE LINK Ada 2 category yang disebut dengan fusible link, yaitu : fuse element cartridge dan fusible link itu sendiri., namun secara fungsi antara fuse dengan fusible link adalah sama yaitu sebagai pengaman listrik. Perbedaan yang paling terlihat adalah kapasitas arus yang diamankan, fusible link fuse element cartridge aplikasinya adalah untuk pengamanan arus di atas 30 ampere. A. Fuse Element Cartridge Fuse element adalah tipe fusible link yang berbentuk catridge atau kadang juga disebut pacific fuse. Element Fuse yang digunakan dilengkapi dengan terminal dan housing. Secara umum fuse element yang sering kita jumpai di pasaran adalah yang cara pasangnya dengan cara plug-in atau dengan menggunakan bolt. Fusible link berbentuk kawat penghantar yang didesain akanmeleleh dan putus saat dilewati oleh arus lebih yang melebihi kapasitas arusnya, karena desainnya yang seperti itu maka isolation nya terbuat dari bahan yang tidak mudah terbakar.

2. CB (Circuit Breaker)
Circuit Breaker atau Pemutus Daya (PMT) adalah peralatan pada sistem tenaga listrik yang berfungsi untuk memutuskan atau menghubungkan pada rangkaian sistem tenaga listrik dan sisi beban yang dapat bekerja secara otomatis ketika terjadi gangguan atau secara manual ketika dilakukan perawatan atau perbaikan. Ketika kontak PMT dipisahkan, beda potensial di antara kontak tersebut menimbulkan medan elektrik di antara kontak tersebut. Medan elektrik ini akan menimbulkan ionisasi yang mengakibatkan terjadinya perpindahan elektron bebas ke sisi beban sehingga muatan akan terus berpindah ke sisi beban dan arus tetap mengalir. Karena hal ini menimbulkan emisi thermis yang cukup besar, maka timbul busur api (arc) di antara kontak PMT tersebut. Agar tidak mengganggu kestabilan sistem, maka arc tersebut harus segera dipadamkan. Seperti gamabra dibawah ini:

3.MCB (MiniaturCircuit Breaker) MCB adalah suatu Rangkaian pengaman yang dilengkapi dengan komponen thermos (bimetal) untuk pengaman beban lebih dan juga dilengkapi relay elektromagnetik untuk pengaman hubung singkat. MCB banyak digunakan untuk pengaman sirkit 1 phasa dan tiga fasa. Keungtungan mengunakan MCB, yaitu: a. Dapat memutuskan rangkaian tiga fasa walaupun terjadi hubung singkat pada sakah satu fasanya. b. Dapat diggunkan kembali setelah rangkaian diperbaiki akibat hubung singkat atau beban lebih. c. Mempunyai resppon yang baik apabila terjadi hubung sinkat atau beban lebih.. Pada MCB terdapat dua jenis pengaman yaitu thermos dan elktromagnetic. Pengaman thermos berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman thermos berfungsi untuk mengamankan arus beban lebih sedangkan pengaman elektromagnetis berfungsi untuk mengamankan jika terjadi hubung singkat. Pengaman thermos pada MCB memiliki prinsip yang samaa dengan thermal overload yaitu menggunakan dua buah logam yang digabungkan (bimetal). Pengaman secara thermos memiliki kelambatan. Ini bergantung pada besaarnya arus yang harus dan yang dapat menarik sebuah angker dari besi lunak. MCB dibuat hanya memiliki tiga kutub denagn tuas yang disatukan. Sehingga apabilla terjadi gangguan pada salah satu kutub maka kutub yang laianya juga akan ikuut terputus. Berdasarkan penggunaan dan daerah kerjanya, MCB dapat digolongkan menjadi 5 jenis. 1. Tipe Z (rating dan breaker breaking capacity kecil) : digunakan untuk pengaman rangkaian semikonduktor dan trafo trafo yang sensitive terhadapa tegangan. 2. Tipe K (ratingan dan breaking capacity kecil): Digunakan unutuk mengamankan alat alat rumah tangga 3. Tipe G (rating besar) untuk pengaman motor. 4. Tipe L (rating besar) untuk pengaman kabell atau jaringan. 5. Tipe H untuk pengaman instalasi penerangan bangunan.

MCB 4 .MCCB (Moulded Case Circuit Breaker) MCCB merupakan salah satu alat pengamaan yang dalam proses opersainya mempunyai dua funsi yaitu sebagai pengama dan sebagai alat untuk penghubung. Jika dilihat dari segi pengaman. Maka mccb dapa berfungsi sebagai pengaman gangguan arus hubungg singkat dan arus beban lebih. Pada jenis tertentu pengaman ini, mempunyai kemampuan pemutusan yang dapat diatur sesuai dengan yang diinginkan.

MCCB

5. ACB (Air Circuit Breaker) ACB merupakan jenis circuit breaker dengan sarana pemadam busur api berupa udara. ACB dapat digunakan pada tegangan rendah dan tegangan menengah. Udara pada tekanan ruanag atmosfer digunaka sebagai peredam busur api yang timbul akibat proses switching maupun gangguan. ACB daapat digunaka pada tegangan rendah dan tegangan menegah. Ratinga standar ACB yang dijumpai dipasaran seperti yang ditunjukkan pada gambar diatas. Pengoperasian pada bagian mekanik ACB dapat dilakukan dengan bantuan solenoid motor ataupun pneumatic. Perlengkapan laian yangs erring diintegrasikan dalam ACB adalah : A. Over Current Relai (OCR) B. Under Voltage Relai (UVR) 6.OCB (Oil Circuir Breaker) Sakelar PMT ini dapat digunakan untuk memutus arus sampai 10 kA dan pada rangkaian bertegangan sampai 500 kV. Pada saat kontak dipisahkan, busur api akan terjadi didalam minyak, sehingga minyak menguap dan menimbulkan gelembung gas yang menyelubungi busur api, karena panas yang ditimbulkan busur api, minyak mengalami dekomposisi dan menghasilkan gas hydrogen yang bersifat menghambat produksi pasangan ion. Oleh karena itu, pemadaman busur api tergantung pada pemanjangan dan pendinginan busur api dan juga tergantung pada jenis gas Hasil Dekomposisi minyak. Sakelar PMT minyak terbagi menjadi 2 jenis, yaitu: a. sakelar PMT dengan banyak menggunakan minyak (Bulk Oil Circuit Breaker) b. Sakelar PMT dengan sedikit menggunakan minyak (Low oil Content Circuit Breaker)

7. VCB (Vacum Circuit Breaker) VCB merupakan sakelar PMT yang memilki ruang hampa udara untuk memadamkan busur api, pada saat circuit breaker terbuka (open), sehingga dapat mengisolir hubungan setelah hubungan setelah bunga api terjadi, akibat gangguan gangguan atau sengaja dilepas. Salah satu tipe dari circuit breaker adalah reclose. Recloser hampa udara dibuat untuk memutuskan dan menyambung kembali arus bolak balik pada rangkaian secara otomatis. Pada saat melakukan pengesetan besaran waktu sebelumnya atau pada saat recloser dalam keadaan terputus yang
7

kesekian kalinya, maka recloser akan terkunci (lock Out), sehingga recloser harus dikembalikan pada posisi semula secara manual.

8.SF6 CB (Sulful Hexafloride Circuit Breaker)


SF6 CB adalah pemutus rangkaian yang menggunakan gas SF6 sebagai saranan pemadam busur api. Gas Sf6 merupakan gas berat yang mempunyai sifat elektris dan sifat memadamkan busur api yang baik sekali. Prinsip pemadaman busur apinya adalah gas SF6 ditiupkan sepanjan busur api, gas ini akan mengmbill panas dari busur api tersebutt dan akhirnya padam. Rating tegangan CB adalah antara 3.6 KV-760 KV.

9.ELCB (Erth Lekuage Circuit Breker ) Earth Leakaque Circuit Breaker atau alat pengaman arus bocor tanah atau juga disebut saklar pengaman arus sisa (SPAS) bekerja dengan sistim differential, saklar ini memiliki sebuah transformator arus dengan inti berbentuk gelang, inti ini melingkari semua hantaran suplay ke mesin atau peralatan yang diamankan, termasuk hantaran netral, ini berlaku untuk semua sambungan satu-phasa, sambungan tiga-phasa tanpa netral maupun sambungan tiga-phasa dengan netral. Dalam keadaan normal, jumlah arus yang dilingkari oleh inti trafo adalah sama dengan nol, kalau terjadi arus bocor ketanah, misalkan 0,5 ampere, maka keadaan setimbang ini akan terganggu, karena itu dalam inti trafo akan timbul medan magnet yang membangkitkan suatu tegangan dalam kumparan sekunder, Arus defferntial terkecil yang masih menyebabkan saklar ini bekerja disebut arus jatuh nominal (If) dari saklar. Saklar ini direncanakan untuk suatu arus jatuh nominal tertentu.

ELCB (Earth Leakage Circuit Breaker)

A. Konstruksi Circuit Breaker Dalam hal ini circuit breaker yang dipakai adalah Air Circuit Breaker dengan tegangan menengah. Secara umum circuit breaker ini terdiri atas 3 (tiga) bagian utama yaitu : 1. Bagian pemutus Interrupter 2. Bagian mekanis penggerak Operating Mechanism 3. Peralatan Bantu sebagai peralatan yang menunjang operasi circuit breaker 1. Bagian Interupter Bagian pemutus Interrupter adalah bagian yang memutuskan dan menghubungkan arus beban listrik sesuai dengan arus kerjanya Rating Current dan memutuskan arus hubung singkat yang besar atau arus gangguan lain. Bagian pemutus Interrupter ini terdiri atas: a. Kontak-kontak Kontak dalam circuit breaker harus dapat mengalirkan atau menghubungkan arus beban dengan sempurna, sehingga hubungan antara kontak kontaknya harus sempurna. b. Perlatan Udarar Tembus (Puffer) :Peralatan udara hembus yang terpasang pada circuit breaker dipakai sebagai penghembus busur api listrik yang timbul pada kontak saat operasi pemutusan, agar busur api listrik tersebut dapat segera dipadamkan, sehingga tidak merusak kontak - kontak breaker. c. Pemutus Busur Api Listrik Arc - Chute dalam circuit breaker dipakai untuk memutuskan loncatan busur api listrik yang timbul diantara kontak kontak breaker, sehingga busur api tersebut dapat dipadamkan lebih cepat dan mudah. d. Primary Disconnecting Contact ini dipakai untuk menghubungkan kutub kutub kontak circuit breaker dengan rangkaian sumber dan beban listrik didalam cubicle. e. Secondary Disconnecting Contact Digunakan untuk menghubungkan kontak control operasi breaker dengan rangkaian didalam cubicle. 2. Bagian Mekanis Penggerak Mekanisme penggerak adalah yang menggerakkan kontak kontak gerak circuit breaker. Kecepatan membuka kontak kontak dapat mempercepat pemadaman busur api listrik dan mempersingkat terjadi restriking arc saat pemutusan beban. Kecepatan kontak tersebut tergantung dari kecepatan mekanisme penggerak.Mekanisme penggerak terdiri atas

a. Pegas pegas penggerak kontak (Spring) : Pegas pegas ini berfungsi untuk penggerak kontak dalam circuit breaker. Pegas pegas ini berguna untuk membuka dan menutup breaker b. Solenoid Penutup :Solenoid ini berguna untuk menyambung breaker pada saat open ke closing dan terkunci c. Levering device :Suatu alat yang digunakan untuk memposisikan breaker di cubicle pada posisi reg out, test, dan reg in. d. Puffer :Alat untuk udara hembus pada air circuit breaker. Puffer berguna untuk menghilangkan busur api listrik e. Perlengkapan Pengunci Otomatis Interlock adalah permitivitas agar breaker close atau open. Interlock sangat berguna bagi human maupun peralatan tersebut f. Solenoid trip :Solenoid yang digunakan untuk membuka breaker g. Motor DC berguna sebagai motor penekan dan peregang spring. Dan digunakan untuk menggerakkan circuit breaker untuk reg up dan reg down pada PLTU unit III. 3. Pelatan Bantu Peralatan Bantu merupakan alat pelengkap yang menunjang operasi circuit breaker dalam suatu rangkaian sistem tenaga listrik seperti : a. Auxiliary contact dalam circuit breaker dipakai untuk menunjang operasinya breaker dan untuk fasilitas interlock sistem yang bekerja bersamaan dengan kontak breaker dan posisi auxiliary contack disesuaikan dengan kebutuhan.

10

BAB II Alat Pengaman Jaringan Distribusi


1. a. Alat Pengaman Celah Alat Pengaman Celah Batang (rod gap)

Alat pengaman celah batang (rod gap) merupakan alat pengaman paling sederhana, yang terdiri dari dua batang logam dengan penampang tertentu. Batang logam bagian atas diletakkan di puncak isolator jenis pos (post type insulator) dihubungkan dengan kawat penghantar jaringan distribusi, sedangkan batang logam bagian bawah diletakkan pada bagian dasar isolator jenis pos yang langsung berhubungan dengan ground. Jarak celah kedua batang logam tersebut disesuaikan dengan tegangan percikan untuk suatu bentuk gelombang tegangan tertentu. Pada tabel di bawah ini memperlihatkan panjang celah yang diizinkan pada suatu tegangan

Keuntungan alat pengaman celah batang ini selain bentuknya sederhana, juga mudah dibuat dan kuat konstruksinya. Sedangkan kelemahan dari celah batang ini, bila terjadi percikan bunga api
11

akibat tegangan lebih maka bunga api yang ditimbulkan pada celah akan tetap ada walaupun tegangan lebih sudah tidak ada lagi. Untuk memadamkan percikan bunga api yang ditimbulkan, dapat dilakukan dengan memutus jaringan tersebut dengan menggunakan saklar pemutus udara (air break switch). Saat gelombang pendek, tegangan gagalnya akan naik lebih tinggi dari pada isolasi yang akan dilindunginya, sehingga diperlukan celah yang sempit untuk gelombang yang curam. Untuk lebih jelasnya lihat gambar 86 di atas. b. Alat Pengaman Tanduk Api (arcing horn) Seperti halnya alat pengaman celah batang, alat pengaman tanduk api ini diletakkan dikedua ujung isolator gantung (suspension insulator) atau isolator batang panjang (long rod insulator). Tanduk api dipasang pada ujung kawat penghantar dan ujung isolator yang berhubungan langsung dengan ground (tanah) yang dibentuk sedemikian rupa, sehingga busur api tidak akan mengenai isolator saat terjadi loncatan api. Jarak antara tanduk atas dan bawah diatur sekitar 75-85 % dari panjang isolator seluruhan. Tegangan loncatan api untuk isolator gandengan dengan tanduk api ditentukan oleh jarak tanduk tersebut. Untuk jelasnya lihat gambar di bawah ini.

c. Alat Pengaman Celah Sekring (fuse rod gap) Alat pengaman celah sekring ini merupakan gabungan antara celah batang (rod gap) dengan sekring yang dihubungkan secara seri. Penggabungan ini digunakan untuk menginterupsikan arus susulan (power follow current) yang diakibatkan oleh percikan api. Oleh sebab itu celah sekring mempunyai karakteristik yang sama dengan celah batang, dan alat ini dapat menghindarkan adanya pemutusan jaringan sebagai akibat percikan, serta memerlukan penggantian dan perawatan sekring yang telah dipakai. Kecuali itu agar supaya penggunaannya efektif harus diperhatikan juga koordinasi antara waktu leleh sekring dengan waktu kerja rele pengaman. d. Alat Pengaman Celah Kontrol (control gap) Alat pengaman celah kontrol terdiri dari dua buah celah yang diatur sedemikian rupa, sehingga karakteristiknya mendekati celah bola ditinjau dari segi lengkung volt-waktunya yang
12

mempunyai karakteristik lebih baik dari celah batang. Celah kontrol ini dapat dipakai bersama atau tanpa sekring; meskipun alat ini dapat dipakai sebagai perlindungan cadangan atau sekunder, dan dianggap sekelas dengan celah batang. e. Alat Pengaman Celah Tanduk (horn gap) Alat pengaman ini terbuat dari dua buah batang besi yang masing-masing diletakkan diatas solator. Celah yang dibuat oleh kedua batang besi itu, satu batang dihubungkan langsung dengan kawat penghantar jaringan sedangkan yang lainnya dihubungkan dengan sebuah resistor yang langsung terhubung ke ground (tanah). Celah tanduk ini biasanya bekerja pada saat terjadi tegangan loncatan api pada celahnya. Ketika tegangan surja mencapai 150 200 % dari tegangan nominal jaringan, maka akan terjadi pelepasan langsung pada celah dan langsung diteruskan ke ground melalui resistor. Fungsi dari celah tanduk ini untuk pemutus busur api yang terjadi pada saat tegangan lebih. Busur api cenderung naik akibat panas yang terlalu tinggi, juga disebabkan peristiwa arus loop sebesar mungkin pada sisi lain membuat tembus rangkaian magnit maksimum. Hanya celah tanduk sebagai arrester jauh dari memuaskan yang seringkali busur api yang tak perlu. Pengaman ini tidak cukup karena dapat dibandingkan dari nilai pelepasan yang rendah resistor. Dan ini tidak selalu menahan secara dinamis busur api yang mengikuti pelepasan peralihan (transient discharge). Akibatnya salah satu pada keadaan tetap tanduk ground atau dibinasakan oleh celah. Oleh sebab itu celah tanduk arrester sekarang hampir tidak diapakai lagi sebagai alat pengaman petir.

2. Alat Pengaman Tabung Pelindung (protector tube)


Alat pengaman tabung pelindung ini terdiri dari : (1) tanduk api (arcing horn) yang dipasang di bawah kawat penghantar, yang terhubung dengan tabung fiber. (2) Tabung fiber yang terdiri dari elektroda atas yang berhubungan dengan tanduk api dan elektroda bawah yang berhubungan langsung dengan tanah (ground). Apabila tegangan petir mengalir ke kawat penghantar, maka akan terjadi percikan api antara kawat penghantar dengan tanduk api. Percikan api akan mengalir dari elektroda atas ke elektroda bawah. Karena panas tabung fiber akan menguap disekitar dindingnya, sehingga gas yang ditimbulkan akan menyembur ke percikan apai dan memadamkannya. Alat pengaman tabung pelindung ini digunakan pada saluran transmisi untuk melindungi isolator dan mengurangi besarnya tegangan surja yang mengalir pada kawat penghantar. Selain itu digunakan juga pada gardu induk untuk melindungi peralatan disconnect switches, rilbus, dan sebagainya.

13

3. Alat Pengaman Lightning Arrester


Lightning arrester adalah suatu alat pengaman yang melindungi jaringan dan peralatannya terhadap tegangan lebih abnormal yang terjadi karena sambaran petir (flash over) dan karena surja hubung (switching surge) di suatu jaringan. Lightning arrester ini memberi kesempatan yang lebih besar terhadap tegangan lebih abnormal untuk dilewatkan ke tanah sebelum alat pengaman ini merusak peralatan jaringan seperti tansformator dan isolator. Oleh karena itu lightning arrester merupakan alat yang peka terhadap tegangan, maka pemakaiannya harus disesuaikan dengan tegangan sistem. Arrester petir atau disingkat arrester adalah suatu alat pelindung bagi peralatan system tenaga listrik terhadap surya petir. Alat pelindung terhadap gangguan surya ini berfungsi melindungi peralatan system tenaga listrik dengan cara membatasi surja tegangan lebih yang datang dan mengalirkannya ketanah. Disebabkan oleh fungsinya, Arrester harus dapat menahan tegangan system 50 Hz untuk waktu yang terbatas dan harus dapat melewatkan surja arus ke tanah tanpa mengalami kerusakan. Arrester berlaku sebagai jalan pintas sekitar isolasi. Arrester membentuk jalan yang mudah untuk dilalui oleh arus kilat atau petir, sehingga tidak timbul tegangan lebih yang tinggi pada peralatan. Selain melindungi peralatan dari tegangan lebih yang diakibatkan oleh tegangan lebih external, arrester juga melindungi peralatan yang diakibatkan oleh tegangan lebih internal seperti surja hubung, selain itu arrester juga merupakan kunci dalam koordinasi isolasi suatu system tenaga listrik. Bila surja datang ke gardu induk arrester bekerja melepaskan muatan listrik serta mengurangi tegangan abnormal yang akan mengenai peralatan dalam gardu induk. Persyaratan yang harus dipenuhi oleh arrester adalah sebagai berikut : a. Tegangan percikan (sparkover voltage) dan tegangan pelepasannya (discharge voltage), yaitu tegangan pada terminalnya pada waktu pelepasan, harus cukup rendah, sehingga dapat mengamankan isolasi peralatan. Tegangan percikan disebut juga tegangan gagal sela (gap breakdown voltage) sedangkan tegangan pelepasan isebut juga tegangan sisa (residual voltage) atau jatuh tegangan (voltage drop) Jatuh tegangan pada arrester = I x R Dimana I = arus arrester maksimum (A) R = tahanan arrester (Ohm) b. Arrester harus mampu memutuskan arus dinamik dan dapat bekerja terus seperti semula. Batas dari tegangan system di mana arus susulan ini masih mungkin, disebut tegangan dasar (rated voltage) dari rester.

14

Pada prinsipnya arrester membentuk jalan yang mudah dilalui oleh petir, sehingga tidak timbul tegangan lebih yang tinggi pada peralatan. Pada kondisi normal arrester berlaku sebagai isolasi tetapi bila timbul surja arrester berlaku sebagai konduktor yang berfungsi melewatkan aliran arus yang tinggi ke tanah. Setelah arus hilang, arrester harus dengan cepat kembali menjadi isolator. Pada dasar arrester terdiri dari dua bagian yaitu : Sela api (spark gap) dan tahanan kran (valve resistor). Keduanya dihubungkan secara seri. Batas atas dan bawah dari tegangan percikan ditentukan oleh tegangan system maksimum dan oleh tingkat isolasi peralatan yang dilindungi. Untuk penggunaan yang lebih khusus arrester mempunyai satu bahagian lagi yang disebut dengan Tahanan katup dan system pengaturan atau pembagian tegangan (grading system). Jika hanya melindungi isolasi terhadap bahaya kerusakan karena gangguan dengan tidak memperdulikan akibatnya terhadap pelayanan, maka cukup dipakai sela batang yang memungkinkan terjadinya percikan pada waktu tegangan mencapai keadaan bahaya. Dalam hal ini, tegangan system bolak balik akan tetap mempertahankan busur api sampai pemutus bebannya dibuka. Dengan menyambung sela api ini dengan sebuah tahanan, maka kemungkinan api dapat dipadamkan. Tetapi bila tahanannya mempunyai harga tetap, maka jatuh tegangannya menjadi besar sekali sehingga maksud untuk meniadakan tegangan lebih tidak terlaksana, dengan akibat bahwa maksud melindungi isolasi pun gagal. Oleh sebab itu disrankan memakai tahanan kran (valve resistor), yang mempunyai sifat khusus, yaitu tahanannya kecil sekali bila tegangannya dan arusnya besar. Proses pengecilan tahanan berlangsung cepat yaitu selama tegangan lebih mencapai harga puncak. Tegangan lebih dalam hal ini mengakibatkan penurunan drastis pada tahanan sehingga jatuh tegangannya dibatasi meskipun arusnya besar. Bila tegangan lebih habis dan tinggal tegangan normal, tahanannya naik lagi sehingga arus susulannya dibatasi kira kira 50 ampere. Arus susulan ini akhirnya dimatikan oleh sela api pada waktu tegangan sistemnya mencapai titik nol yang pertama sehingga alat ini bertindak sebagai sebuah kran yang menutup arus, dari sini didapatkan nama tahanan kran.

15

Pada arrester modern pemadaman arus susulan yang cukup besar (200300 A) dilakukan dengan bantuan medan magnet. Dalam hal ini, baik amplitude maupun lamanya arus susulan dapat dikurangi dan pemadaman dapat dilakukan sebelum tegangan system mencapai harga nol. Tegangan dasar (rated voltage) yang dipakai pada lightning arrester adalah tegangan maksimum sistem, dimana lightning arrester ini harus mempu-nyai tegangan dasar maksimum tak melebihi tegangan dasar maksimum dari sis-tem, yang disebut dengan tegangan dasar penuh atau lightning arrester 100 %. a. Lightning Arrester Jenis Oksida Film Dalam tabung porselin dari alat pengaman lightning arrester tipe oksida film ini memiliki 2 ruang, yaitu : (1) ruang celah (gap chamber) dan (2) ruang butiran oksida timah hitam. Ruang celah terbuat dari porselin annulus yang berbentuk silinder, yang berisi sebuah pegas, lempengan cakram dan celah elektroda. Lempengan cakram terdiri dari dua lempeng yang disatukan (crimped), yang masing memiliki dimeter sebesar 19 cm dan tebal 1,59 cm. Permukaan lempengan cakram dilapisi dengan film yang diisolasi dengan vernis. Kekuatan tembus untuk setiap lempeng cakram tersebut terjadi pada tegangan 300 V. Jumlah unit lempeng cakram ditentukan oleh tegangan jaringan dan kondisi petir agar dapat menahan tegangan maksimum sistem. Pada ruang celah ini ditempatkan juga sebuah pegas pada bagian atas dan celah elektroda (gap electrode) pada bagian bawah. Sedangkan ruang butiran oksida timah hitam (lead peroxida) berisi dengan butiran-butiran oksida timah hitam. Dimana panjang ruangan kira-kira 5,1 cm (2 inchi) per kV dari tegangan dasar. Satu tabung dapat digunakan untuk tegangan diatas 25 kV ketika titik netral diketanahkan dengan induktansi coil. Butiran-butiran oksida timah hitam mempunyai diameter 2,38 mm dengan kulit berlubang tipis dari litharge. Ketika tegangan pelepasan (discharge voltage) mengalir ke ruang celah melalui pegas, maka tegangan pelepasan akan menembus film yang berlapis vernis diatas lempeng cakram. Apabila tegangan melebihi dari batas kekuatan lempeng cakram per unit, loncatan busur api akan diteruskan ke celah elektroda. Dan mengalir langsung ke ruang butiran oksida timah hitam. Panas yang berkembang akibat busur api menyebabkan oksida timah hitam berubah menjadi merah. Sehingga busur api akan padam dan energi yang tersisa akan mengalir ke ground. b. Lightning Arrester Jenis Thyrite Elemen kran (valve) untuk arrester jenis thyrite ini terbuat dari bahan lempengan keramik yang berkualitas baik, yang bertindak sebahai penghantar tegangan tinggi surja dan memperlihatkan tahanan tinggi untuk tenaga jaringan (line energy). Pada arrester thyriet magne-valve memperlihatkan arus petir lewat langsung celah by-pass seri ke celah utama, dan oleh elemen thyrite ke ground. Jika energi jaringan berusaha mengikuti energi petir, maka energi jaringan dibuat untuk mengalirkan langsung ke lilitan seri, dan menciptakan medan magnit cukup kuat untuk memadamkan busur api dari pelepasan arus petir. Pemadaman ini bereaksi dengan cepat dan mengambil kedudukan kurang lebih setengah gelombang energi jaringan.
16

Thyrite adalah bahan campuran padat tak organik dari keramik alam, yang mempunyai resistansi lebih cepat untuk mengurangi.

c. Lightning Arrester Jenis Katup (Valve) Alat pengaman arrester jenis katup (valve) ini terdiri dari sebuah celah api (spark gap) yang dihubungkan secara seri dengan sebuah tahanan non linier atau tahanan katup (valve resistor). Dimana ujung dari celah api dihubungkan dengan kawat fasa, sedangkan ujung dari tahanan katup dihubungkan ke ground (tanah). Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini. Saat terjadi tegangan lebih maka pada celah api akan terjadi percikan yang akan menyebabkan timbulnya bunga api (arc). Api percikan ini akan timbul terus menerus walaupun tegangan lebihnya sudah tidak ada. Untuk menghentikan percikan bunga api pada celah api tersebut, maka resistor non linier akan memadamkan percikan bunga api tersebut. Nilai tahanan non linier ini akan turun saat tegangan lebih menjadi besar. Tegangan lebih akan mengaki-batkan penurunan secara drastis nilai tahanan katup, sehingga tegangan jatuh-nya dibatasi walaupun arusnya besar. Karakteristik Arrester. Oleh karena arrester dipakai untuk melindungi peralatan system tenaga listrik maka perlu diketahui karakteristiknya sehingga arrester dapat digunakan dengan baik dalam pemakaiannya. Arrester mempunyai tiga karakteristik dasar yang penting dalam pemakaiannya yaitu : 1. Tegangan rated 50 c/s yang tidak boleh dilampaui 2. Mempunyai karakteristik yang dibatasi oleh tegangan (voltage limiting) bila dilalui oleh berbagai macam arus petir. Sebagaimana diketahui bahwa arrester adalah suatu peralatan tegangan yang menpunyai tegangan ratingnya. Maka jelaslah bahwa arrester tidak boleh
17

dikenakan tegangan yang melebihi rating ini, baik pada keadaan normal maupun dalam keadaan abnormal. Oleh karena itu menjalankan fungsingnya ia menanggung tegangan system normal dan tegangan lebih transiens 50 c/s. Karakteristik pembatasan tegangan impuls dari arrester adalah harga yang dapat ditahan oleh terminal ketika melalukan arus arus tertentu dan harga ini berubah dengan singkat baik sebelum arus mengalir maupun mulai bekerja. Batas termis ialah kemampuan untuk mengalirkan arus surja dalam waktu yang lama atau terjadi berulang ulang tanpa menaikan suhunya. Meskipun kemampuan arrester untuk menyalurkan arus sudah mencapai 65000 100.000 ampere, tetapi kemampuannya untuk melalukan surja hubung terutama bila saluran menjadi panjang dan berisi tenaga besar masih rendah. Maka agar supaya tekanan stress pada isolasi dapat dibuat serendah mungkin, suatu system perlindungan tegangan lebih perlu memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Dapat melepas tegangan lebih ke tanah tanpa menyebabkan hubung singkat ke tanah ( saturated ground fault) b. Dapat memutuskan arus susulan. c. Mempunyai tingkat perlindungan (protection level) yang rendah, artinya tegangan percikan sela dan tegangan pelepasannya rendah. 4. Alat Pengaman Arus Lebih a. Fuse Cut Out Fuse cut out (sekring) adalah suatu alat pengaman yang melindungi jaringan terhadap arus beban lebih (over load current) yang mengalir melebihi dari batas maksimum, yang disebabkan karena hubung singkat (short circuit) atau beban lebih (over load). Konstruksi dari fuse cut out ini jauh lebih sederhana bila dibandingkan dengan pemutus beban (circuit breaker) yang terdapat di Gardu Induk (sub-station). Akan tetapi fuse cut out ini mempunyai kemampuan yang sama dengan pemutus beban tadi. Fuse cut out ini hanya dapat memutuskan satu saluran kawat jaringan di dalam satu alat. Apabila diperlukan pemutus saluran tiga fasa maka dibutuhkan fuse cut out sebanyak tiga buah. Penggunaan fuse cut out ini merupakan bagian yang terlemah di dalam jaringan distribusi. Sebab fuse cut out boleh dikatakan hanya berupa sehelai kawat yang memiliki penampang disesuaikan dengan besarnya arus maksimum yang diperkenankan mengalir di dalam kawat tersebut. Pemilihan kawat yang digunakan pada fuse cut out ini didasarkan pada faktor lumer yang rendah dan harus memiliki daya hantar (conductivity) yang tinggi. Faktor lumer ini ditentukan oleh temperatur bahan tersebut. Biasanya bahan-bahan yang digunakan untuk fuse cut out ini adalah kawat perak, kawat tembaga, kawat seng, kawat timbel atau kawat paduan dari bahan-bahan tersebut. Mengingat kawat perak memiliki konduktivitas 60,6 mho/cm lebih tinggi
18

dari kawat tembaga, dan memiliki temperatur 960 C, maka pada jaringan distribusi banyak digunakan. Kawat perak ini dipasangkan di dalam tabung porselin yang diisi dengan pasir putih sebagai pemadam busur api, dan menghubungkan kawat tersebut pada kawat fasa, sehingga arus mengalir melaluinya. Jenis fuse cut out ini utnuk jaringan distribusi dugunakan dengan saklar pemisah. Pada ujung tas dihubungkan dengan kontak-kontak yang berupa pisau yang dapat dilepaskan. Sedangkan pada ujungbawah dihubungkan dengan sebuah engsel. Untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini. Kalau arus beban lebih melampaui batas yang diperkenankan, maka kawat perak di dalam tabung porselin akan putus dan arus yang membahayakan dapat dihentikan. Pada waktu kawat putus terjadi busur api, yang segera dipadamkan oleh pasir yang berada di dalam tabung porselin. Karena udara yang berada di dalam porselin itu kecil maka kemungkinan timbulnya ledakan akan berkurang karena diredam oleh pasir putih. Panas yang ditimbulkan sebagian besar akan diserap oleh pasir putih tersebut. Apabila kawat perak menjadi lumer karena tenaga arus yang melebihi maksimum, maka waktu itu kawat akan hancur. Karena adanya gaya hentakan, maka tabung porselin akan terlempar keluar dari kontaknya. Dengan terlepasnya tabung porselin ini yang berfungsi sebagai saklar pemisah, maka terhidarlah peralatan jaringan distribusi dari gangguan arus beban lebih atau arus hubung singkat. Umur dari fuse cut out initergantung pada arus yang melaluinya. Bila arus yang melalui fuse cut out tersebut melebihi batas maksimum, maka umur fuse cut out lebih pendek. Oleh karena itu pemasangan fuse cut out pada jaringan distribusi hendaknya yang memiliki kemampuan lebih besar dari kualitas tegangan jaringan, lebih kurang tiga sampai lima kali arus nominal yang diperkenankan. Fuse cut out ini biasanya ditempatkan sebagai pengaman tansformator distribusi, dan pengaman pada cabang cabang saluran feeder yang menuju ke jaringan distribusi sekunder.

19

BAB III MACAM MACAM PENGAMAN LISTRIK PADA SALURAN UDARA TEGANGAN MENENGAH ( SUTM )
JENIS PENGAMAN PADA SISTEM DISTRIBUSI ( SUTM ) Berdasarkan pengamanan gangguan sistem distribusi : 1. PMT, 2. Relay arus lebih ( OCR ) 3. Pemutus balik otomatis ( Recloser ) 4. Saklar seksi otomatis ( sectionalizer ) 5. Pelebur / fuse cut out( FCO) 6.Lightening Arester 7. Nh Fuse 8. LBS ( load break switch ) 9. grounding

Defenisi 1. Pemutus Tenaga (PMT)


Pemutus Tenaga (PMT) adalah alat pemutus otomatis yang mampu memutus/menutup rangkaian pada semua kondisi, yaitu pada kondisi normal ataupun gangguan.Secara singkat tugas pokok pemutus tenaga adalah : a) Keadaan normal, membuka / menutup rangkaian listrik. b) Keadaan tidak normal, dengan bantuan relay,PMT dapat membuka sehingga gangguan dapat dihilangkan.

20

2. Relay Arus Lebih (OCR)


Relay arus lebih adalah relay yang bekerja terhadap arus lebih, ia akan bekerja bila arus yang mengalir melebihinilai setingnya ( I set ). Prinsip Kerja Pada dasarnya relay arus lebih adalah suatu alat yang mendeteksi besaran arus yang melalui suatu jaringan dengan bantuan trafo arus. Harga atau besaran yang boleh melewatinya disebut dengan setting.

3. Pemutus Balik Otomatis (Recloser)


Pemutus balik otomatis (Automatic circuit recloser =Recloser) ini secara fisik mempunyai kemampuan seperti pemutus beban, yang dapat bekerja secara otomatis untuk mengamankan sistem dari arus lebih yang diakibatkan adanya gangguan hubung singkat.

4. Saklar seksi Otomatis (sectionaliser)


Sectionaliser adalah alat perlindungan terhadap arus lebih,hanya dipasang bersama-sama dengan PBO yang berfungsi sebagai pengaman back-upnya. Alat ini menghitung jumlah operasi pemutusan yang dilakukanoleh perlindungan back-upnya secara otomatis disisi hulu dan SSO ini membuka pada saat peralatan pengaman disisi hulunya sedang dalam posisi terbuka.

21

5. Pelebur (fuse cut out)


Adalah suatu alat pemutus, dimana dengan meleburnya bagian dari komponen yang telah dirancang khusus dan disesuaiakan ukurannya untuk membuka rangkaian dimana pelebur tersebut dipasang dan memutuskan arus bila arus tersebut melebihi suatu nilai dalam waktu tertentu. Oleh karena pelebur ditujukan untuk menghilangkan gangguan permanen, maka pelebur dirancang meleleh pada waktu tertentu pada nilai arus gangguan tertentu.

22

6. ARRESTER
Arrester adalah alat pelindung bagi peralatan sistem tenaga listrik terhadap tegangan lebih, baik yang disebabkan oleh surja petir maupun surja hubung. Alat ini bersifat sebagai by passdi sekitar isolasi yang membentuk jalan dan mudah dilalui oleh arus kilat, sehingga tidak timbul tegangan lebih pada peralatan. Jalan tersebut harus sedemikian sehingga tidak mengganggu sistem 50 Hertz. Pada keadaan normal arrester berlaku sebagai isolator, namun bila terkena sambaran petir ia berlaku sebagai konduktor yang tahanannya relatif rendah, sehingga dapat mengalirkan arus surja ke tanah. Setelah surja hilang, arrester harus dengan cepat kembali menjadi isolator, sehingga pemutus tenaga (PMT) tidak sempat membuka.

7. NH Fuse :
adalah sebagai pengaman trafo terhadap arus lebih yang terpasang di sisi tegangan rendah (220 Volt), untuk melindungi trafo terhadap gangguan arus lebih yang disebabkan karena hubung singkat dijaringan tegangan rendah maupun karena beban lebih.

23

8. LBS (Load Breake Switch) Adalah suatu alat pemutus tegangan pada jaringan dengan kondisi diberi beban.Alat ini memungkinkan perbaikan jaringan saat terjadi gangguan ditengah tengah jalur jaringan,sehingga tidak sampai memutuskan aliran listrik.

9.GROUNDING a) Grounding panel :sebagai pengaman bila terjadi arus bocor yang mengalir di panel. b) Grounding Arrester : untuk menyelurkan arus ketanah yang disebabkan oleh tegangan lebih karena sambaran petir dan switching. c) Graunding Trafo : untuk menghindari terjadi tegangan lebih pada phasa yang sehat bila terjadi gangguan satu fasa ketanah maupun yang disebutkan oleh beban tidak seimbang.

24

BAB IV

Jenis-jenis Relay
Macam-macam rele
1. Relay Arus Lebih 2. Relay Diffrensial 3. Relai gangguan tanah terbatas 4. Relai Bucholtz 5. Relai jansen 6. Relai zero sequenze current 7. Relai tekan lebih 8. Relai Impedansi 9. Directional Comparison Relay. 10. Relai hubung tanah (GFR)

11.Relay Suhu
DEFENISI

1.Relay Arus Lebih


Merupakan rele Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan terpasang pada Jaringan Tegangan tinggi, Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator tenaga. Rele ini berfungsi untuk mengamankan peralatan listrik akibat adanya gangguan phasa-phasa. Jenis Relay Arus Lebih: a. Relay invers; waktu kerjanya tergantung kepada besarnya arus hubung singkat, makin besar makin cepat. Pada koordinasi antara relay-relay invers berlaku koordinasi arus dan waktu sekaligus. b. Relay Cepat; digunakan dalam kombinasi dengan relay definit/invers apabila diperlukan waktu kerja yang lebih cepat misalnya jika terjadi gangguan dengan arus hubung singkat besar. c. Relay Definit; bekerjanya tidak tergantung kepada besarnya arus hubung singkat yang melaluinya. Waktu kerjanya disetel tertentu dan biasanya dikoordinasikan dengan waktu kerja pengaman didepan dan dibelakangnya.
25

Gambar 3. Bentuk fisik dari relay arus lebih

2. Relay Diffrensial
Relay Differensial pada prinsipnya adalah sama saja dengan relay arus lebih hanya saja lebih peka karena harus bekerja terhadap arus yang kecil. Perbedaan dengan relay arus lebih terletak pada rangkaian listrik yang bertugas mendeteksi arus.

Gambar 4. Skema dan bentuk fisik relay diffrensial

26

3.Relai gangguan tanah terbatas


Rele Gangguan Tanah Terbatas ini berfungsi untuk mengamankan transformator terhadap tanah didalam daerah pengaman transformator khususnya untuk gangguan didekat titik netral yang tidak dapat dirasakan oleh RELE differential, yang disambung ke instalasi trafo arus ( CT ) dikedua sisi.

Gambar 5. Single diagram Rele Gangguan Tanah Terbatas

4. Relai Bucholtz
Rele Bucholtz berfungsi untuk mendeteksi adanya gas yang ditimbulkan oleh loncatan ( bunga ) api dan pemanasan setempat dalam minyak transformator. Penggunaan rele deteksi gas (Bucholtz) pada Transformator terendam minyak yaitu untuk mengamankan transformator yang didasarkan pada gangguan Transformator seperti : arcing, partial discharge, over heating yang umumnya menghasilkan gas.

Gambar 6. Bentuk fisik dari relai Bucholtz

27

5. Relai jansen berfungsi untuk mengamankan pengubah tap (tap changer) dari transformator.
a. Tap changer adalah alat yang terpasang pada trafo,berfungsi untuk mengatur tegangan keluaran (sekunder) akibat beban maupun variasi tegangan pada sistem masukannya (input). b. Tap changer umumnya dipasang pada ruang terpisah dengan ruang untuk tempat kumparan,dimaksudkan agar minyak tap changer tidak bercampur dengan minyak tangki utama. c. Untuk mengamankan ruang diverter switch apabila terjadi gangguan pada sistem tap changer ,digunakan pengaman yang biasa disebut :RELE JANSEN (bucholznya Tap changer). d. Jenis dan tipe rele jansen bermacam-macam bergantung pada merk Trafo: misalnya RS 1000,LF 15,LF 30. e. Rele jansen dipasang antara tangki tap changer dengan konservator minyaktap changer.

Gambar 7. Bentuk fisik dari relai Jensen

6. Relai zero sequenze current


Konstruksi dan prinsif kerjanya adalah seperti relay arus lebih, hanya rangkaian arusnya yang bertugas mendeteksi arus zero sequenze yang berbeda. Juga karena arus zero sequenze ini ordenya lebih kecil maka relay arus zero sequenze ini juga harus lebih peka dari relai arus lebih. Dalam keadaan normal maka arus dalam setiap fasa IR, IS, dan IT sama besarnya (Simetris) masing-masing berbeda fasa 1200 , sehingga arus melewati kumparan Zo =0. tetapi apabila ada gangguan hubung tanah maka keadaan arus setiap fasa tidak simetris lagi dan mengalirkan komponen arus urutan nol lewat kumparan Zo sehingga relai arus zero Sequenze bekerja.

28

Gambar 8. Rangkaian arus relai zero sequencec cureent dan diagram vektornya

7. Relai tekan lebih


Rele Tekanan Lebih ini berfungsi mengamankan tekanan lebih pada transformator, dipasang pada transformator tenaga dan bekerja dengan menggunakan membrane.Tekanan lebih terjadi karena adanya flash over atau hubung singkat yang timbul pada belitan transformator tenaga yang terendam minyak, lalu berakibat decomposisi dan evaporasi minyak, sehingga menimbulkan tekanan lebih pada tangki transformator.

Gambar 9. Bentuk fisik dari relai tekan lebih

8. Relai Impedansi
Relay impedansi disebut juga relay jarak atau impedance relay atau Distance relay. Disebut relay impedansi karena mendeteksi impedansi tapi disebut relay jarak karena bersifat mengukur jarak. Rele ini mempunyai beberapa karaktristik seperti mho, quadralateral, reaktans, dll. Sebagai unit proteksi relai ini dilengkapi dengan pola teleproteksi seperti putt, pott dan blocking. Jika tidak terdapat teleproteksi maka rele ini berupa step distance saja

29

Gambar 10. Relai Impedansi

9. Directional Comparison Relay.


Relai penghantar yang prinsip kerjanya membandingkan arah gangguan, jika kedua relai pada penghantar merasakan gangguan di depannyamaka relai akan bekerja. Cara kerjanya ada yang menggunakan directional impedans, directional current dan superimposed

Gambar 11. Gambar single line diagram directional comparison relai

10. Relai hubung tanah (GFR)


Rele hubung tanah merupakan rele Pengaman yang bekerja karena adanya besaran arus dan terpasang pada jaringan Tegangan tinggi,Tegangan menengah juga pada pengaman Transformator tenaga.

Gambar 12. Diagram Pengaman arus lebih dengan 3 OCR + GFR

30

11. Relay Suhu


Relay ini digunakan untuk mengamankan transformator dari kerusakan akibat adanya suhu yang berlebihan. Ada 2 macam relay suhu pada transformator, yaitu : a. Relay Suhu Minyak Relay ini dilengkapi dengan sensor yang dipasang pada minyak isolasi transformator. Pada saat transformator bekerja memindahkan daya dari sisi primer ke sisi sekunder, maka akan timbul panas pada minyak isolasi, akibat rugi daya maupun adanya gangguan pada transformator. b. Relay Suhu Kumparan Relay ini hampir sama dengan relay suhu minyak. Perbedaannya terletak pada sensornya. Sensor relay suhu kumparan berupa elemen pemanas yang dialiri arus dari transformator arus yang dipasang pada kumparan-kumparan transformator.

Gambar 13. Rangakaian relai suhu Relay digunakan untuk Relay proteksi dan relay contactor. Untuk relay proteksi digunakan relay over current , relay differential current dan relay ground volt

31