P. 1
hiv-aids

hiv-aids

|Views: 3|Likes:
Dipublikasikan oleh Ai Niech Inoel

More info:

Published by: Ai Niech Inoel on Jul 29, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

07/30/2014

pdf

text

original

Tugas Makalah Farmasi

DIABETES MELITUS

Oleh: Ria Widowati G 0006217

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU PENYAKIT DALAM FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN
Diabetes mellitus, DM yang juga dikenal di Indonesia dengan istilah penyakit kencing gula adalah kelainan metabolis yang disebabkan oleh banyak faktor, dengan simtoma berupa hiperglisemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein, sebagai akibat dari: • defisiensi sekresi hormon insulin • penurunan resistensi insulin • atau keduanya. Berbagai penyakit, sindrom dan simtoma dapat terpicu oleh diabetes mellitus, antara lain: Alzheimer, ataxia-telangiectasia, sindrom Down, penyakit Huntington, kelainan mitokondria, distrofi miotonis, penyakit Parkinson, sindrom Prader-Willi, sindrom Werner, sindrom Wolfram,[3] leukoaraiosis, demensia,[4] hipotiroidisme, hipertiroidisme, hipogonadisme,[5] dan lain-lain. Pada tahun 2000 diperkirakan sekitar 150 juta orang di dunia mengidap diabetes mellitus. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi dua kali lipat pada tahun 2005, dan sebagian besar peningkatan itu akan terjadi di negaranegara yang sedang berkembang seperti Indonesia. Populasi penderita diabetes di Indonesia diperkirakan berkisar antara 1,5 sampai 2,5% kecuali di Manado 6%. Dengan jumlah penduduk sekitar 200 juta jiwa, berarti lebih kurang 3-5 juta penduduk Indonesia menderita diabetes. Tercatat pada tahun 1995, jumlah penderita diabetes di Indonesia mencapai 5 juta jiwa. Pada tahun 2005 diperkirakan akan mencapai 12 juta penderita . Walaupun Diabetes mellitus merupakan penyakit kronik yang tidak menyebabkan kematian secara langsung, tetapi dapat berakibat fatal bila pengelolaannya tidak tepat. Pengelolaan DM memerlukan penanganan secara multidisiplin yang mencakup terapi non-obat dan terapi obat.

Berbagai penyakit. kelainan mitokondria. Asymptomatic atau Sub-clinical Diabetes.[5] dan lain-lain. hipertiroidisme. atau disebabkan oleh kurang responsifnya selsel tubuh terhadap insulin. namun tetap mempertahankan istilah "Insulin-Dependent Diabetes Mellitus" (IDDM) dan "Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus" (NIDDM). walaupun ternyata dalam publikasi-publikasi WHO selanjutnya istilah DM Tipe 1 dan 2 tetap muncul.[3] leukoaraiosis. Young Diabetics. yaitu Potential Diabetes. sindrom dan simtoma dapat terpicu oleh diabetes mellitus. WHO pun telah beberapa kali mengajukan klasifikasi diabetes melitus. yaitu "InsulinDependent Diabetes Mellitus" (IDDM) disebut juga Diabetes Melitus Tipe 1 dan "Non-Insulin-Dependent Diabetes Mellitus" (NIDDM) yang disebut juga Diabetes Melitus Tipe 2. B. British Diabetes Association (BDA) mengajukan istilah yang berbeda. Dahulu diabetes diklasifikasikan berdasarkan waktu munculnya (time of onset). Adult Diabetics dan Elderly Diabetics. ataxia-telangiectasia. Suspected Diabetes. Pada tahun 1980 WHO mengemukakan klasifikasi baru diabetes melitus memperkuat rekomendasi National Diabetes Data Group pada tahun 1979 yang mengajukan 2 tipe utama diabetes melitus. sindrom Werner. sebab banyak sekali kasus-kasus diabetes yang untuk mengklasifikasikannya. Chemical atau Latent Diabetes dan Overt Diabetes untuk pengklasifikasiannya. penyakit Parkinson.[4] hipotiroidisme. demensia. Diabetes yang muncul sejak masa kanak-kanak disebut “juvenile diabetes”. dan Clinical Diabetes. PENGERTIAN Diabetes mellitus (DM) sebagai suatu penyakit atau gangguan metabolisme kronis dengan multi etiologi yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat. penyakit Huntington. ADA (American Diabetes Association) mengajukan rekomendasi mengenai standarisasi uji toleransi glukosa dan mengajukan istilah-istilah Pre-diabetes. lipid dan protein sebagai akibat insufisiensi fungsi insulin. antara lain Childhood Diabetics. Latent Diabetes. KLASIFIKASI DIABETES MELLITUS Klasifikasi diabetes melitus mengalami perkembangan dan perubahan dari waktu ke waktu.BAB II Tinjauan Pustaka A. Namun klasifikasi ini sudah tidak layak dipertahankan lagi. distrofi miotonis. sindrom Down. sedangkan yang baru muncul setelah seseorang berumur di atas 45 tahun disebut sebagai “adult diabetes”. hipogonadisme. . Pada tahun 1968.Pada tahun 1965 WHO mengajukan beberapa istilah dalam pengklasifikasian diabetes. sindrom Wolfram. Pada tahun 1985 WHO mengajukan revisi klasifikasi dan tidak lagi menggunakan terminologi DM Tipe 1 dan 2. antara lain: Alzheimer. Insufisiensi fungsi insulin dapat disebabkan oleh gangguan atau defisiensi produksi insulin oleh sel-sel beta Langerhans kelenjar pankreas. sindrom Prader-Willi.

Klinefelter. pentamidin. tiazid. Sidroma genetik lain: Sindroma Down. dilantin. Toleransi Glukosa Terganggu atau Impaired Glucose Tolerance (IGT) dan Diabetes Melitus Gestasional atau Gestational Diabetes Melitus (GDM). Saat ini terdapat kecenderungan untuk melakukan pengklasifikasian lebih berdasarkan etiologi penyakitnya. asam nikotinat. glukokinase (dahulu disebut MODY 2) • kromosom 20. interferon f. Diabetes Imunologi (jarang) h. Melalui proses imunologik (Otoimunologik) B. HNF-4 α (dahulu disebut MODY 1) • DNA mitokondria b. Sindroma Cushing 3. Akromegali 2. Diabetes Mellitus Tipe 2 Bervariasi. pada klasifikasi tahun 1980 dan 1985 ini WHO juga menyebutkan 3 kelompok diabetes lain yaitu Diabetes Tipe Lain. Idiopatik 2. hormon tiroid. Chorea. Penyakit eksokrin pankreas: • Pankreatitis • Trauma/Pankreatektomi • Neoplasma • Cistic Fibrosis • Hemokromatosis • Pankreatopati fibro kalkulus d. Feokromositoma 4. Diabetes Mellitus Tipe Lain a. 1. tetapi merupakan faktor risiko untuk DM Tipe 2 5. Hipertiroidisme e.Disamping dua tipe utama diabetes melitus tersebut. IFG (Impaired Fasting Glucose) = GPT (Glukosa Puasa Terganggu) . Diabetes Mellitus Tipe 1: Destruksi sel β umumnya menjurus ke arah defisiensi insulin absolut A. Pra-diabetes: a. Defek genetik fungsi sel β : • kromosom 12. Diabetes Mellitus Gestasional Diabetes mellitus yang muncul pada masa kehamilan. Diabetes karena infeksi 13 g. Diabetes karena obat/zat kimia: Glukokortikoid. mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensi insulin relatif sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin 3. Turner. vacor. umumnya bersifat sementara. • kromosom 7. Klasifkasi ini akhirnya juga dianggap kurang tepat dan membingungkan sebab banyak kasus NIDDM (NonInsulin-Dependent Diabetes Mellitus) yang ternyata juga memerlukan terapi insulin. Pada revisi klasifikasi tahun 1985 WHO juga mengintroduksikan satu tipe diabetes yang disebut Diabetes Melitus terkait Malnutrisi atau Malnutrition-related Diabetes Mellitus (MRDM. Defek genetik kerja insulin c. HNF-1 α (dahulu disebut MODY 3). Huntington. Endokrinopati: 1. Prader Willi 4.

E. iritabilitas. IGT (Impaired Glucose Tolerance) = TGT (Toleransi Glukosa Terganggu) C. DIAGNOSIS . Pada DM Tipe 2 gejala yang dikeluhkan umumnya hampir tidak ada. Melahirkan bayi dengan berat badan >4 kg. hiperlipidemia. Etnik/Ras 5. makin mudah untuk mengendalikan kadar glukosa darah dan mencegah komplikasikomplikasi yang mungkin terjadi. 2. dan umumnya menderita hipertensi.b. penurunan berat badan. dan polifagia (banyak makan/mudah lapar). Riwayat : Diabetes dalam keluarga. FAKTOR RISIKO Setiap orang yang memiliki satu atau lebih faktor risiko diabetes selayaknya waspada akan kemungkinan dirinya mengidap diabetes. polidipsia (sering haus). Para petugas kesehatan. Penderita DM Tipe 2 umumnya lebih mudah terkena infeksi. Selain itu sering pula muncul keluhan penglihatan kabur. Faktor-faktor resiko DM : 1. cepat merasa lelah (fatigue). koordinasi gerak anggota tubuh terganggu. Kadar lipid darah tinggi >250mg/dl 20 8. dan berat badan menurun tanpa sebab yang jelas: 1. polidipsia. obesitas. Diabetes Gestasional. daya penglihatan makin buruk. Hipertensi >140/90mmHg 6. Karena makin cepat kondisi diabetes melitus diketahui dan ditangani. Umur : 20-59 tahun : 8. Namun demikian ada beberapa gejala yang harus diwaspadai sebagai isyarat kemungkinan diabetes. Obesitas : >120% berat badan ideal 3. Faktor-faktor Lain Kurang olah raga 9. dokter. Kista ovarium (Polycystic ovary syndrome). IFG (Impaired fasting Glucose) atau IGT (Impaired glucose tolerance) 2. kesemutan pada tangan atau kaki. dan juga komplikasi pada pembuluh darah dan syaraf. dan menyarankan untuk melakukan beberapa pemeriksaan untuk mengetahui kadar glukosa darahnya agar tidak terlambat memberikan bantuan penanganan. GEJALA KLINIK Diabetes seringkali muncul tanpa gejala. DM Tipe 2 seringkali muncul tanpa diketahui. apoteker dan petugas kesehatan lainnya pun sepatutnya memberi perhatian kepada orang-orang seperti ini. Gejala tipikal yang sering dirasakan penderita diabetes antara lain poliuria (sering buang air kecil). sukar sembuh dari luka. Hiperlipidemia Kadar HDL rendah <35mg/dl 7. dan penanganan baru dimulai beberapa tahun kemudian ketika penyakit sudah berkembang dan komplikasi sudah terjadi. polifagia. Pola makan rendah serat D. timbul gatal-gatal yang seringkali sangat mengganggu (pruritus). dan pruritus (gatal-gatal pada kulit).7% > 65 tahun : 18% 4. Pada DM Tipe I gejala klasik yang umum dikeluhkan adalah poliuria.

sampai hilang kesadaran. Pada hipoglikemia. Hasil pemeriksaan kadar glukosa darah puasa > 126 mg/dl juga dapat digunakan sebagai patokan diagnosis DM.Diagnosis klinis DM umumnya akan dipikirkan apabila ada keluhan khas DM berupa poliuria. atau dari hasil uji toleransi glukosa oral didapatkan kadar glukosa darah paska pembebanan >200 mg/dL. kadar glukosa darah puasa yang abnormal tinggi (>126 mg/dL). keluar keringat dingin. Dari hasil survei yang pernah dilakukan di Inggeris diperkirakan 2 – 4% kematian pada penderita diabetes tipe 1 disebabkan oleh serangan hipoglikemia. yang dapat dialami 1 – 2 kali perminggu. detak jantung meningkat. Hipoglikemia lebih sering terjadi pada penderita diabetes tipe 1. mata kabur. komplikasi akut : HIPOGLIKEMIA Sindrom hipoglikemia ditandai dengan gejala klinis penderita merasa pusing. gatal-gatal. dan pruritus vulvae pada wanita. pitam (pandangan menjadi gelap). disfungsi ereksi pada pria. Apabila ada keluhan khas. polifagia. walaupun ada orang-orang tertentu yang sudah menunjukkan gejala hipoglikemia pada kadar glukosa plasma di atas 50 mg/dl. kadar glukosa plasma penderita kurang dari 50 mg/dl. Apabila tidak segera ditolong dapat terjadi kerusakan otak dan akhirnya kematian. Diperlukan konfirmasi atau pemastian lebih lanjut dengan mendapatkan paling tidak satu kali lagi kadar gula darah sewaktu yang abnormal tinggi (>200 mg/dL) pada hari lain. lemas. KOMPLIKASI Diabetes yang tidak terkontrol dengan baik dapat menimbulkan komplikasi akut dan kronis. Kadar glukosa darah yang terlalu rendah menyebabkan sel-sel otak tidak mendapat pasokan energi sehingga tidak dapat berfungsi bahkan dapat rusak. perlu dilakukan konfirmasi dengan hasil uji toleransi glukosa oral. Berikut ini akan diuraikan beberapa komplikasi yang sering terjadi dan harus diwaspadai: 1. Pada penderita diabetes tipe . dan penurunan berat badan yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. pandangan berkunang-kunang. polidipsia. Keluhan lain yang mungkin disampaikan penderita antara lain badan terasa lemah. Glukosa Plasma Puasa : Normal <100 mg/dL Pra-diabetes 100 – 125 mg/dL IFG atau IGT –– Diabetes >126 mg/dL Glukosa Plasma 2 jam setelah makan : Normal <140 mg/dL Pra-diabetes –– IFG atau IGT 140 – 199 mg/dL Diabetes >200 mg/dL Untuk kelompok tanpa keluhan khas. sering kesemutan. Untuk menegakkan diagnosis DM Tipe 1. hasil pemeriksaan kadar glukosa darah abnormal tinggi (hiperglikemia) satu kali saja tidak cukup kuat untuk menegakkan diagnosis DM. hasil pemeriksaan kadar glukosa darah sewaktu > 200 mg/dl sudah cukup untuk menegakkan diagnosis DM. Kurva toleransi glukosa penderita DM Tipe 1 menunjukkan pola yang berbeda dengan orang normal sebagaimanayangditunjukkan dalam gambar F. gemetar.

hiperglikemia dapat dicegah tidak menjadi parah. Satusatunya cara yang signifikan untuk mencegah atau memperlambat jalan perkembangan komplikasi mikrovaskular adalah dengan pengendalian . Oleh sebab itu dapat terjadi dua orang yang memiliki kondisi hiperglikemia yang sama. Disamping karena kondisi hiperglikemia. dan infeksi jamur pada vagina. termasuk pengendalian tekanan darah. Hiperglikemia ditandai dengan poliuria. dan neuropati. Walaupun komplikasi makrovaskular dapat juga terjadi pada DM tipe 1. polifagia. kadar kolesterol dan lipid darah. yang keduanya dapat berakibat fatal dan membawa kematian. berolah raga secara teratur. Hipergikemia dapat memperburuk gangguan-gangguan kesehatan seperti gastroparesis. namun yang lebih sering merasakan komplikasi makrovaskular ini adalah penderita DM tipe 2 yang umumnya menderita hipertensi. dan penyakit pembuluh darah perifer (peripheral vascular disease = PVD). Hyperinsulinemic Syndrome. HIPERGLIKEMIA Hiperglikemia adalah keadaan dimana kadar gula darah melonjak secara tiba-tiba. termasuk mengupayakan berat badan ideal. dan pandangan kabur. antara lain Syndrome X. Hiperglikemia yang berlangsung lama dapat berkembang menjadi keadaan metabolisme yang berbahaya. antara lain retinopati. Keadaan ini dapat disebabkan antara lain oleh stress. mengurangi stress dan lain sebagainya. ketiga komplikasi ini juga dipengaruhi oleh faktor genetik. KOMPLIKASI MIKROVASKULAR Komplikasi mikrovaskular terutama terjadi pada penderita diabetes tipe 1. Komplikasi kronik KOMPLIKASI MAKROVASKULAR 3 jenis komplikasi makrovaskular yang umum berkembang pada penderita diabetes adalah penyakit jantung koroner (coronary heart disease = CAD). Untuk itu penderita harus dengan sadar mengatur gaya hidupnya. polidipsia. penyakit pembuluh darah otak. disfungsi ereksi. tidak merokok. antara lain ketoasidosis diabetik (Diabetic Ketoacidosis = DKA) dan (HHS). maka pencegahan komplikasi terhadap jantung harus dilakukan sangat penting dilakukan. diet dengan gizi seimbang. atau Insulin Resistance Syndrome. Cardiac Dysmetabolic Syndrome. Hiperglikemia dapat dicegah dengan kontrol kadar gula darah yang ketat. Hal inilah yang mendorong timbulnya komplikasi-komplikasi mikrovaskuler. dan konsumsi obat-obatan tertentu. Namun demikian prediktor terkuat untuk perkembangan komplikasi mikrovaskular tetap lama (durasi) dan tingkat keparahan diabetes. Hiperglikemia yang persisten dan pembentukan protein yang terglikasi (termasuk HbA1c) menyebabkan dinding pembuluh darah menjadi makin lemah dan rapuh dan terjadi penyumbatan pada pembuluh-pembuluh darah kecil. meskipun penderita tersebut mendapat terapi insulin. Penderita diabetes sebaiknya selalu menjaga tekanan darahnya tidak lebih dari 130/80 mm Hg. nefropati. dislipidemia dan atau kegemukan. serangan hipoglikemia lebih jarang terjadi. Karena penyakit-penyakit jantung sangat besar risikonya pada penderita diabetes. kelelahan yang parah (fatigue). infeksi.2. Kombinasi dari penyakit-penyakit komplikasi makrovaskular dikenal dengan berbagai nama. Apabila diketahui dengan cepat. berbeda risiko komplikasi mikrovaskularnya. 2.

baik dokter. karena tidak banyak mengandung lemak. sesuai dengan kecukupan gizi baik sebagai berikut: • Karbohidrat : 60-70% • Protein : 10-15% • Lemak : 20-25% 25 Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan. TERAPI TANPA OBAT a. namun jangan melebihi 300 mg per hari. Sumber lemak diupayakan yang berasal dari bahan nabati. apa pun langkah penatalaksanaan yang diambil. atau kombinasi keduanya. Pengendalian intensif dengan menggunakan suntikan insulin multi-dosis atau dengan pompa insulin yang disertai dengan monitoring kadar gula darah mandiri dapat menurunkan risiko timbulnya komplikasi mikrovaskular sampai 60%. Sebagai sumber protein sebaiknya diperoleh dari ikan. satu faktor yang tak boleh ditinggalkan adalah penyuluhan atau konseling pada penderita diabetes oleh para praktisi kesehatan. . dan setiap kilogram penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu harapan hidup. Pengaturan Diet Diet yang baik merupakan kunci keberhasilan penatalaksanaan diabetes. umur. ahli gizi maupun tenaga medis lainnya. Bersamaan dengan itu. Diet yang dianjurkan adalah makanan dengan komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat. PENATALAKSANAAN DIABETES Penatalaksanaan diabetes mempunyai tujuan akhir untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas DM. dapat dikombinasikan dengan langkah farmakologis berupa terapi insulin atau terapi obat hipoglikemik oral. G. 1. Apabila dengan langkah pertama ini tujuan penatalaksanaan belum tercapai. status gizi. Pada dasarnya ada dua pendekatan dalam penatalaksanaan diabetes. Menjaga agar kadar glukosa plasma berada dalam kisaran normal. pilihan jenis bahan makanan juga sebaiknya diperhatikan. tahu dan tempe. Masukan kolesterol tetap diperlukan.kadar gula darah yang ketat.6% (HbA1c adalah salah satu parameter status DM). 2. Mencegah atau meminimalkan kemungkinan terjadinya komplikasi diabetes. ayam (terutama daging dada). yang pertama pendekatan tanpa obat dan yang kedua adalah pendekatan dengan obat. Penurunan berat badan telah dibuktikan dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respons sel-sel β terhadap stimulus glukosa. protein dan lemak. Dalam salah satu penelitian dilaporkan bahwa penurunan 5% berat badan dapat mengurangi kadar HbA1c sebanyak 0. yang secara spesifik ditujukan untuk mencapai 2 target utama. apoteker. Selain jumlah kalori. stres akut dan kegiatan fisik. yang mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh. yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Dalam penatalaksanaan DM. langkah pertama yang harus dilakukan adalah penatalaksanaan tanpa obat berupa pengaturan diet dan olah raga. yaitu: 1.

disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi penderita. antara lain jalan atau lari pagi. Saat ini ada dokter olah raga yang dapat dimintakan nasihatnya untuk mengatur jenis dan porsi olah raga yang sesuai untuk penderita diabetes. b. maka perlu .Rhytmical. Olah Raga Berolah raga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal. makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. Prinsipnya. bersepeda. makanan berserat yang tidak dapat dicerna oleh tubuh juga dapat membantu mengatasi rasa lapar yang kerap dirasakan penderita DM tanpa risiko masukan kalori yang berlebih. diusahakan paling tidak 25 g per hari. Interval. dan setiap kilogram penurunan berat badan dihubungkan dengan 3-4 bulan tambahan waktu harapan hidup. Endurance Training). Disamping itu makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral. Disamping akan menolong menghambat penyerapan lemak. diusahakan paling tidak 25 g per hari. Selain jumlah kalori. umur. Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes. status gizi. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan penggunaan glukosa. TERAPI OBAT (Obat Anti Diabetik) Apabila penatalaksanaan terapi tanpa obat (pengaturan diet dan olah raga) belum berhasil mengendalikan kadar glukosa darah penderita. Penurunan berat badan telah dibuktikan dapat mengurangi resistensi insulin dan memperbaiki respons sel-sel β terhadap stimulus glukosa. dan lain sebagainya.6% (HbA1c adalah salah satu parameter status DM). ayam (terutama daging dada). karena tidak banyak mengandung lemak. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan. yang mengandung lebih banyak asam lemak tak jenuh dibandingkan asam lemak jenuh. tahu dan tempe. olah raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan. berenang. Beberapa contoh olah raga yang disarankan. Dalam salah satu penelitian dilaporkan bahwa penurunan 5% berat badan dapat mengurangi kadar HbA1c sebanyak 0. Sedapat mungkin mencapai zona sasaran 75-85% denyut nadi maksimal (220-umur). Olahraga yang disarankan adalah yang bersifat CRIPE (Continuous. Disamping itu makanan sumber serat seperti sayur dan buah-buahan segar umumnya kaya akan vitamin dan mineral.Masukan serat sangat penting bagi penderita diabetes. Sebagai sumber protein sebaiknya diperoleh dari ikan. Sumber lemak diupayakan yang berasal dari bahan nabati. stres akut dan kegiatan fisik. pilihan jenis bahan makanan juga sebaiknya diperhatikan. tidak perlu olah raga berat. 2. namun jangan melebihi 300 mg per hari. Olahraga aerobik ini paling tidak dilakukan selama total 30-40 menit per hari didahului dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri pendinginan antara 5-10 menit. Progressive. yang pada dasarnya ditujukan untuk mencapai dan mempertahankan berat badan ideal. Masukan kolesterol tetap diperlukan. Disamping akan menolong menghambat penyerapan lemak.

seperti pada infeksi berat. o Penderita DM yang mendapat nutrisi parenteral atau yang memerlukan suplemen tinggi kalori untuk memenuhi kebutuhan energi yang meningkat. Walaupun sebagian besar penderita DM Tipe 2 tidak memerlukan terapi insulin. terapi insulin. sel-sel β Langerhans kelenjar pankreas penderita rusak. atau kombinasi keduanya: a. ada berbagai jenis sediaan insulin yang tersedia. Indikasi terapi insulin: o Semua penderita DM Tipe 1 memerlukan insulin eksogen karena produksi insulin endogen oleh sel-sel β kelenjar pankreas tidak ada atau hampir tidak ada . o Insulin manusia kerja menengah (intermediate) : humulin N. sehingga tidak lagi dapat memproduksi insulin. yaitu: o Insulin analog kerja cepat (rapid acting) : apidra. apabila diet saja tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah.dilakukan langkah berikutnya berupa penatalaksanaan terapi obat. levemir. o Penderita DM Tipe 2 tertentu kemungkinan juga membutuhkan terapi insulin apabila terapi lain yang diberikan tidak dapat mengendalikan kadar glukosa darah o Keadaan stres berat. tindakan pembedahan. yang terutama berbeda dalam hal mula kerja (onset) dan masa kerjanya (duration). Actrapid. namun hampir 30% ternyata memerlukan terapi insulin disamping terapi hipoglikemik oral. TERAPI INSULIN Terapi insulin merupakan satu keharusan bagi penderita DM Tipe 1. Pada DM Tipe I. Respon individual terhadap terapi insulin cukup beragam. insulatard. Sebagai penggantinya. oleh sebab itu jenis sediaan insulin mana yang diberikan kepada seorang . novorapid. infark miokard akut atau stroke o DM Gestasional dan penderita DM yang hamil membutuhkan terapi insulin. humolog. o Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat o Kontra indikasi atau alergi terhadap OHO PENGGOLONGAN SEDIAAN INSULIN Untuk terapi. o Insulin analog kerja panjang (Long-acting insulin) : lantus. Sediaan insulin untuk terapi dapat digolongkan menjadi 4 kelompok. secara bertahap memerlukan insulin eksogen untuk mempertahankan kadar glukosa darah mendekati normal selama periode resistensi insulin atau ketika terjadi peningkatan kebutuhan insulin. o Ketoasidosis diabetik o Insulin seringkali diperlukan pada pengobatan sindroma hiperglikemia hiperosmolar non-ketotik. baik dalam bentuk terapi obat hipoglikemik oral. maka penderita DM Tipe I harus mendapat insulin eksogen untuk membantu agar metabolisme karbohidrat di dalam tubuhnya dapat berjalan normal. o Insulin analog kerja pendek ( short acting) : Humulin R.

yaitu: o Obat-obat yang meningkatkan sekresi insulin. baru di berikan terapi insulin intensif (basal plus/bolus) b. Umumnya. Pasien DM tipe 2 yang baru datang pertama kali di berikan terapi pola hidup dan metformin. 2. bahkan seringkali memerlukan penyesuaian dosis terlebih dahulu. siang. dosis insulin yang diberikan pada pasien DMT1 yang baru adalah 0. Pemilihan dan penentuan rejimen hipoglikemik yang digunakan harus mempertimbangkan tingkat keparahan diabetes (tingkat glikemia) serta kondisi kesehatan pasien secara umum termasuk penyakit-penyakit lain dan komplikasi yang ada. maupun 2 kali siang dan sore. Insulin kerja singkat diberikan sebelum makan. Jika dalam 2-3 bulan target terpai tidak tercapai. dan malam). Kemudian dosis insulin harian total berdasar perhitungan: 40% insulin basal (pemberian nya dapat 1kali pada pagi hari maupun di bagi menjadi 2 siang. Namun. DM tipe 2 Tidak semua pasien DMT2 membutuh kan insulin.5 unit/bbKg/hr. 60% insulin prandial(pemberian di bagi menjadi 3 sebelum makan pagi. pada tahap awal diberikan sediaan insulin dengan kerja sedang. tetapi memanjang pada penderita diabetes yang membentuk antibodi terhadap insulin. Pemberian insulin basal di sini sama dengan DMT1 yang dapat diberi sekali pada pagi hari. meliputi obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea dan glinida (meglitinida dan turunan fenilalanin). sedangkan Insulin kerja sedang umumnya diberikan satu atau dua kali sehari dalam bentuk suntikan subkutan. MEMULAI DAN ALUR PEMBERIAN TERAPI INSULIN 1. farmakoterapi hipoglikemik oral dapat dilakukan dengan menggunakan satu jenis obat atau kombinasi dari dua jenis obat. dalam kurun waktu 2-3 bulan sasaran terapi belum tercapai dapat ditambah OHO yang lain atau mulai d beri insulin basal. maka tersedia sediaan campuran tetap dari kedua jenis insulin regular (R) dan insulin kerja sedang (NPH).penderita dan berapa frekuensi penyuntikannya ditentukan secara individual. Bergantung pada tingkat keparahan penyakit dan kondisi pasien. obat-obat hipoglikemik oral dapat dibagi menjadi 5 golongan. PENGGOLONGAN OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL Berdasarkan mekanisme kerjanya. karena tidak mudah bagi penderita untuk mencampurnya sendiri. ginjal dan otot. Waktu paruh insulin pada orang normal sekitar 5-6 menit. TERAPI OBAT HIPOGLIKEMIK ORAL Obat-obat hipoglikemik oral terutama ditujukan untuk membantu penanganan pasien DM Tipe II. Pemilihan obat hipoglikemik oral yang tepat sangat menentukan keberhasilan terapi diabetes. kemudian ditambahkan insulin dengan kerja singkat untuk mengatasi hiperglikemia setelah makan. DM tipe I Pada umumnya. . Insulin dimetabolisme terutama di hati. dan sore). Gangguan fungsi ginjal yang berat akan mempengaruhi kadar insulin di dalam darah.

Gangguan saluran cerna berupa mual. yang dapat membantu tubuh untuk memanfaatkan insulin secara lebih efektif. Setelah diabsorpsi. Oleh sebab itu. ginjal dan tiroid. sulfonilurea menghambat degradasi insulin oleh hati. Pada dosis tinggi. obat-obat golongan sulfonilurea sangat bermanfaat untuk penderita diabetes yang kelenjar pankreasnya masih mampu memproduksi insulin. Gangguan susunan syaraf pusat berupa vertigo. bingung. hipersekresi asam lambung dan sakit kepala. diare. pemberian obat-obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea tidak bermanfaat. Dalam plasma sebagian terikat pada protein plasma terutama albumin (70-90%). sehingga dapat diberikan per oral. DPP-IV inhibitor. agranulosistosis dan anemia aplastik dapat terjadi walau jarang sekali. antara lain gangguan saluran cerna dan gangguan susunan syaraf pusat. Penurunan kadar glukosa darah yang terjadi setelah pemberian senyawa-senyawa sulfonilurea disebabkan oleh perangsangan ekresi insulin oleh kelenjar pancreas. oleh sebab itu hanya efektif apabila sel-sel β Langerhans pankreas masih dapat berproduksi. tetapi karena sesuatu hal terhambat sekresinya. senyawa-senyawa obat ini masih mampu meningkatkan sekresi insulin. Meliputi metformin. sehingga GLP-1 dapat bekerja dengan maksimal. Gejala hematologik termasuk leukopenia. Penghambat glukoneogenesis di hati. sakit perut. Absorpsi senyawa-senyawa sulfonilurea melalui usus cukup baik. Disebut juga “starchblocker”. karena ternyata pada saat glukosa (atau kondisi hiperglikemia) gagal merangsang sekresi insulin. Klorpropamida dapat meningkatkan ADH . antara lain inhibitor α-glukosidase (arcabose) yang bekerja menghambat absorpsi glukosa pada usus halus dan umum digunakan untuk mengendalikan hiperglikemia post-prandial (post-meal hyperglycemia). Sampai beberapa tahun yang lalu. DPP-IV inhibitor menghambat kerja DPP-IV. Pada penderita dengan kerusakan sel-sel β Langerhans kelenjar pancreas. Obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea merupakan obat pilihan (drug of choice) untuk penderita diabetes dewasa baru dengan berat badan normal dan kurang serta tidak pernah mengalami ketoasidosis sebelumnya. Senyawasenyawa sulfonilurea sebaiknya tidak diberikan pada penderita gangguan hati. Obat-obat kelompok ini bekerja merangsang sekresi insulin di kelenjar pancreas. ataksia dan lain sebagainya. dapat dikatakan hampir semua obat hipoglikemik oral merupakan golongan sulfonilurea. Sifat perangsangan ini berbeda dengan perangsangan oleh glukosa.o o o o Sensitiser insulin (obat-obat yang dapat meningkatkan sensitifitas sel terhadap insulin). Golongan Sulfonilurea Merupakan obat hipoglikemik oral yang paling dahulu ditemukan. meliputi obat-obat hipoglikemik golongan biguanida dan tiazolidindion. Inhibitor katabolisme karbohidrat. trombositopenia. obat ini tersebar ke seluruh cairan ekstrasel. Efek samping obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea umumnya ringan dan frekuensinya rendah.

Golongan Biguanida . glipizida. Obat atau senyawa-senyawa yang dapat meningkatkan risiko hipoglikemia sewaktu pemberian obat-obat hipoglikemik sulfonilurea antara lain: alkohol. oksifenbutazon. gliklazida. Senyawa-senyawa ini umumnya tidak terlalu berbeda efektivitasnya. klorpropamida. Untuk pasien dengan gangguan fungsi ginjal masih dapat digunakan glikuidon. sehingga risiko terjadinya hipoglikemia harus diwaspadai. dan ketoasidosis merupakan kontra indikasi bagi sulfonilurea. dan glikuidon. Hipoglikemia dapat terjadi apabila dosis tidak tepat atau diet terlalu ketat. dikumarol. Wanita hamil dan menyusui. insulin. dan atau gangguan fungsi ginjal. Umumnya senyawa obat hipoglikemik golongan meglitinida dan turunan fenilalanin ini dipakai dalam bentuk kombinasi dengan obat-obat antidiabetik oral lainnya. Banyak obat yang dapat berinteraksi dengan obat-obat sulfonilurea. juga pada gangguan fungsi hati atau ginjal atau pada lansia. atau tolbutamida yang kerjanya singkat. probenezida. guanetidin. dan klofibrat. steroida anabolik. tolazamida dan tolbutamida. penghambat MAO (Mono Amin Oksigenase). glimepirida. Kontraindikasi: Penggunaan obat-obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea harus hati-hati pada pasien usia lanjut. Tidak boleh diberikan sebagai obat tunggal pada penderita diabetes yuvenil. Kedua golongan senyawa hipoglikemik oral ini bekerja meningkatkan sintesis dan sekresi insulin oleh kelenjar pankreas. Klorpropamida dan glibenklamida tidak disarankan untuk pasien usia lanjut dan pasien insufisiensi ginjal. kloramfenikol. Hipogikemia sering diakibatkan oleh obat-obat hipoglikemik oral dengan masa kerja panjang. porfiria. fenilbutazon. wanita hamil. dan diabetes melitus berat. Yang saat ini beredar adalah obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea generasi kedua yang dipasarkan setelah 1984.(Antidiuretik Hormon). sulfonamida. fenfluramin. glikazida. antara lain gliburida (glibenklamida). salisilat dosis besar. Golongan Meglitinida dan Turunan Fenilalanin Obat-obat hipoglikemik oral golongan glinida ini merupakan obat hipoglikemik generasi baru yang cara kerjanya mirip dengan golongan sulfonilurea. fenformin. namun berbeda dalam farmakokinetikanya. Ada beberapa senyawa obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea yang saat ini beredar (Tabel 9). penderita yang kebutuhan insulinnya tidak stabil. Obat hipoglikemik oral golongan sulfonilurea generasi pertama yang dipasarkan sebelum 1984 dan sekarang sudah hampir tidak dipergunakan lagi antara lain asetoheksamida. pasien dengan gangguan fungsi hati. yang harus dipertimbangkan dengan cermat dalam pemilihan obat yang cocok untuk masing-masing pasien dikaitkan dengan kondisi kesehatan dan terapi lain yang tengah dijalani pasien. Obat-obat golongan sulfonilurea cenderung meningkatkan berat badan.

Pada keadaan gawat juga sebaiknya tidak diberikan biguanida Golongan Tiazolidindion (TZD) Senyawa golongan tiazolidindion bekerja meningkatkan kepekaan tubuh terhadap insulin dengan jalan berikatan dengan PPARγ (peroxisome proliferator activated receptor-gamma) di otot. Bila diminum bersama-sama obat golongan sulfonilurea (atau dengan insulin) dapat terjadi hipoglikemia yang hanya dapat diatasi dengan glukosa murni. jadi tidak dapat diatasi dengan . yang akan berkurang setelah pengobatan berlangsung lebih lama. Obat ini merupakan obat oral yang biasanya diberikan dengan dosis 150-600 mg/hari. jaringan lemak. dan hampir tidak pernah menyebabkan hipoglikemia. gangguan fungsi ginjal.Obat hipoglikemik oral golongan biguanida bekerja langsung pada hati (hepar). Satu-satunya senyawa biguanida yang masih dipakai sebagai obat hipoglikemik oral saat ini adalah metformin. Kontra Indikasi Sediaan biguanida tidak boleh diberikan pada penderita gangguan fungsi hepar. Obat ini umumnya diberikan dengan dosis awal 50 mg dan dinaikkan secara bertahap sampai 150-600 mg/hari. muntah. Obat ini efektif bagi penderita dengan diet tinggi karbohidrat dan kadar glukosa plasma puasa kurang dari 180 mg/dl. Obatobat inhibitor α-glukosidase dapat diberikan sebagai obat tunggal atau dalam bentuk kombinasi dengan obat hipoglikemik lainnya. Golongan Inhibitor α-Glukosidase Senyawa-senyawa inhibitor α-glukosidase bekerja menghambat enzim alfa glukosidase yang terdapat pada dinding usus halus. sehingga dapat mengurangi peningkatan kadar glukosa post prandial pada penderita diabetes. Metformin masih banyak dipakai di beberapa negara termasuk Indonesia. Senyawasenyawa TZD juga menurunkan kecepatan glikoneogenesis. Dianjurkan untuk memberikannya bersama suap pertama setiap kali makan. Inhibisi kerja enzim ini secara efektif dapat mengurangi pencernaan karbohidrat kompleks dan absorbsinya. Senyawa inhibitor α-glukosidase juga menghambat enzim α-amilase pankreas yang bekerja menghidrolisis polisakarida di dalam lumen usus halus. isomaltase. Obat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada waktu makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu. Obat ini hanya mempengaruhi kadar glukosa darah pada waktu makan dan tidak mempengaruhi kadar glukosa darah setelah itu. Efek samping obat ini adalah perut kurang enak. karena frekuensi terjadinya asidosis laktat cukup sedikit asal dosis tidak melebihi 1700 mg/hari dan tidak ada gangguan fungsi ginjal dan hati. Enzim-enzim α-glukosidase (maltase. glukomaltase dan sukrase) berfungsi untuk menghidrolisis oligosakarida. lebih banyak flatus dan kadang-kadang diare. Efek samping yang sering terjadi adalah nausea. dan hati untuk menurunkan resistensi insulin. pada dinding usus halus. Senyawasenyawa golongan biguanida tidak merangsang sekresi insulin. menurunkan produksi glukosa hati. penyakit jantung kongesif dan wanita hamil. dan dapat menyebabkan asidosis laktat. kadangkadang diare.

serta dianjurkan untuk memberikannya bersama suap pertama setiap kali makan. Obat ini umumnya diberikan dengan dosis awal 50 mg dan dinaikkan secara bertahap. RM Tanggal Masuk RS : Ny. Identitas Pasien Nama Umur Jenis Kelamin Alamat Suku Agama Status Perkawinan Pekerjaan No. Pasien juga merasa lemas dan mudah lelah. Surakarta : Jawa : Islam : Menikah : Ibu Rumah Tangga : 810743 : 11 Mei 2011 Tanggal Pemeriksaan : 17 Mei 2011 B.pemberian gula pasir. BAK lancar. dengan frekuensi 9-10 kali perhari sebanyak ½ . BAB II LAPORAN KASUS I. kemudian dirasakan terus menerus. Keluhan Utama: Kesemutan pada kedua tangan dan kaki. anyanganyangan. tidak ada darah saat berkemih. . Awal mula kesemutan hilang timbul. nyeri. warna kuning jernih. BAB sebanyak 1-2 kali perhari. Sri Martini : 65 tahun : Perempuan : Kaplingan RT 02/20 Jebres.1 gelas belimbing. tidak terasa panas. tidak ada darah maupun lendir pada tinja. Kesemutan tidak berkurang saat dipijat maupun diberi obat balsam pada kulit. Riwayat Penyakit Sekarang ± 1 minggu SMRS pasien mengeluh mengalami kesemutan pada kedua tangan dan kaki. ANAMNESIS A. warna kuning kecoklatan. C. berbentuk.

Tanda Vital Tensi Respirasi Nadi Suhu C. Oedema palpebra (-/-). compos mentis. : 65 : 155 : 27. Status Gizi Berat Badan Tinggi Badan BMI D. E. conjungtiva suffusion (-/-).08 (overweight) : 120/80 : 20 x / menit : 84 x / menit. darah (-). ± 9-10 kali sehari @ ½ gelas belimbing. gizi kesan cukup . luka (-). Hidung Nafas cuping hidung (-). ikterik (-). reflek cahaya (+/+). nyeri tekan mastoideus (-). uban (-). A. gatal hilang timbul. pasien sering merasa mudah haus dan mudah lapar. rambut hitam. Pasien juga merasakan gatal-gatal pada tangan dan kaki. oleh pasien hanya di beri bedak gatal. D. mudah dicabut (-). tes rumple leed (-). epistaksis (-). F. Keadaan Umum B. mudah rontok (-). moon face (-). jaringan sikatrik (-). perdarahan konjungtiva (-/-). turgor menurun (-). Kulit Warna sawo matang. PEMERIKSAAN FISIK Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 17 Mei 2011. conjungtiva palpebra pucat (-/-). Padahal pasien tidak melakukan kegiatan di luar kebiasaan. BAK juga meningkat. sklera ikterushemoragik (-/-). H. reguler. Kepala Bentuk mesocephal. Telinga Sekret (-). pupil isokor dengan diameter (3mm/3mm).± 3 bulan lalu. lurus. Mata Mata cowong (-/-). G. sekret (-).5° C (per axiller) : sakit sedang. hiperpigmentasi (-). fungsi pembau baik (+). isi dan tegangan cukup : 36.

pernafasan toracoabdominal. tidak teraba. O. gusi berdarah (-). luka pada sudut bibir (-). L. retraksi intercostal (-). trachea di tengah. iga tidak mendatar. gallop (-). : SIC II linea sternalis sinistra. pembesaran KGB axilla (-/-). tonsil T1/T1. Thorax Bentuk simetris. : iktus kordis tidak tampak : iktus kordis tidak kuat angkat. pucat (-). aksilaris dan inguinalis tidak membesar. bising(-). Auskultasi : HR : 84 kali/menit reguler Bunyi jantung I-II murni. sela iga melebar (-). : SIC V 2 cm medial linea medioklavicularis sinistra.I. submandibuler. intensitas normal. lidah tiphoid (-). : SIC IV linea sternalis dextra. J. pembesaran limfonodi cervical (-). Leher JVP R+2 cmH2O . Batas jantung kanan atas Batas jantung kanan bawah Batas jantung kiri atas Batas jantung kiri bawah . Tenggorokan Faring hiperemis (-). Limfonodi Kelenjar limfe retroaurikuler. sela iga tidak melebar. servikalis. stomatitis (-). N. papil lidah atrofi (-). pembesaran tonsil (-) K. Jantung Inspeksi Palpasi Perkusi : : SIC II linea sternalis sinistra. simetris. Mulut Sianosis (-). spider nevi (-). simetris. foetor ex ore (-). Pulmo Depan Inspeksi Statis : normochest. reguler. mukosa bibir kering (-). supraklavikularis. Kesan : batas jantung kesan tidak melebar. M.

suara tambahan (-). sela iga tidak melebar. skoliosis(-). simetris. Belakang Inspeksi : Statis retraksi (-) Dinamis Palpasi Statis Dinamis Perkusi Auskultasi : pengembangan dada kanan = kiri. mulai redup sesuai pada batas jantung. ronchi basah halus (-) didaerah basal. ronki basah kasar (-). sela iga tidak melebar. retraksi intercostalis (-) : normochest. suara tambahan wheezing (-). fremitus raba kanan = kiri . sela iga : simetris. suara tambahan ronchi basah kasar (-). Palpasi Statis Perkusi Kanan Kiri : sonor mulai redup di SIC VI : sonor. ronki basah kasar (-). eksperium diperpanjang (-). nyeri ketok wheezing (-).Dinamis : pengembangan dada simetris kanan = kiri. batas paru lambung Auskultasi Kanan : suara dasar vesikuler normal. fremitus raba kanan = kiri : Sonor menjadi redup mulai SIC IX : Kanan : suara dasar vesikuler (+) normal. ronchi basah halus (-) di daerah basal. di Spatium Inter Costale (SIC) VI linea medioclavicularis sinistra. Kiri : suara dasar vesikuler normal. ronki basah halus (-) kifosis kostovertebra(-/-) tidak melebar. ronki basah halus(-) Kiri Punggung : : suara dasar vesikuler (+) normal. suara tambahan ronchi basah kasar (-). : simetris Dinamis : pergerakan kanan = kiri. sela iga tidak melebar. lordosis (-). retraksi (-) : pergerakan kanan = kiri. wheezing (-). wheezing(-). retraksi intercostal (-).

6-5. pekak sisi (-).5-1. distended (-). Q. area troube LS 14cm.6 40 5. pekak alih (-).0 8. Abdomen Inspeksi Auskultasi Perkusi Palpasi R. tanda-tanda radang (-). 1. : supel. Genitourinaria : ulkus (-).P. Ekstremitas : Akral dingin eritema _ _ _ _ _ _ _ _ +Sianosis _ _ _ _ Oedem palmar : dinding perut // dinding dada.5 4. sekret (-). Darah Pemeriksaan Darah rutin Hb Hct Retikulosit AE AL AT GDS G 2j PP GDP 16/05/2011 14. sikatrik (-) : peristaltik (+) normal.8 169 240 181 253 Satuan g/dl % % 6 µ 10 l 103 / µ l 103/ µ l mg/dl mg/dl mg/dl Rujukan 12-16 38-47 0.5-11 150-440 60-140 70-110 76-110 . venektasi (-).1 4. hepar/lien tidak teraba. II. nyeri ketok costovertebral (-) : timpani. PEMERIKSAAN PENUNJANG Laboratorium a.

DM tipe II Overweight . BAK 9-10 kali per hari @ ½-1 gelas belimbing. Ass RENCANA PEMECAHAN MASALAH : penatalaksanaan Problem .1 gelas belimbing. 7. 4. kreatinin: 1. sering merasa haus. 3. 5.a. G2PP: 181 mg/dl. Dari anamnesis sistem didapatkan badan lemas.Gatal-gatal (+) pada tangan dan kaki.9 mg/dL. Pada pemeriksaan laboratorium darah didapatkan GDS: 264 mg/dl. 8. ANALISIS DAN SINTESIS Abnormalitas 1. Lemas (+). 5. GDP: 253 mg/dl. 2. sering merasa lapar. 3. kesemutan pada kedua ekstremitas. ABNORMALITAS Anamnesa : 1. suhu 36. Badan lemas Mudah lelah DAFTAR Kesemutan pada seluruh badan terutama pada kedua tangan dan kaki BAK 9-10 kali per hari @ ½-1 gelas belimbing Sering merasa lapar Sering merasa haus Banyak minum GDS: 264 mg/dl G2PP: 181 mg/dl Laboratorium Darah 10. GDP: 253 mg/dl VI. 2. 9. 4. tensi 120/80 mmHg. Merasa mudah haus(+) dan mudah lapar(+). 6. 6. banyak minum. 8. nadi 80 x/menit. ureum: 71 mg/dl. mudah lelah. Frekuensi BAK meningkat (+) 9-10 kali perhari sebanyak ½ . 10 → DM tipe II Overweigt VII. b. mudah lelah (+). RESUME ± 1 minggu SMRS pasien mengeluh kesemutan (+) pada kedua tangan dan kaki. 9. 7.50C per axiller.

yang mana dipilih metformin. Setelah pemberian terapi di atas. 2-3 bulan kemudian di cek HbA1C untuk melihat sasaran terapi sudah tercapai atau belum. GD2PP.sel β pankreas akan semakin mengalami kelelahan sehingga fungsinya semakin menurun. overweight. insulin masih dihasilkan secara normal oleh sel β pankreas. Pemberian OHO jenis pemacu sekresi insulin (preparat sulfonil urea) sangatlah dihindari karena pasien ini sudah berusia di atas 60 th. Pengaturan diet. profil lipid : Bedrest tidak total Pengaturan Diet DM 1300 kkal Metformin 3 x 1 Mx Ex : : edukasi kepada pasien tentang penyakit dan komplikasi yang mungkin terjadi. EMG. Jikan belum tercapai dapat ditambahkan OHO dari golongan lain. Sedangkan preparat sulfonilurea memacu kerja sel-sel ini. tes monofilament. sehingga terapi lini pertama adalah perubahan pola hidup serta pemberian OHO dengan jenis sensitizer insulin. Pada orang dengan berat badan yang berlebih. Tapi resistensi nya menurun. dimana fungsi sel-sel β pankreas sudah menurun. atau tambahan penggunaan insulin. pasien baru pertama kali didiagnosa menderita DM. dan meningkatkan kegiatan jasmani. Dx Tx : GDP. . elektrolit. diharap dengan pemberian metformin sudah cukup untuk mengembalikan kadar gula. Resep: R/ Metformin Tab mg 500 No. Sri Martini / 68 th PEMBAHASAN KASUS Pada kasus tersebut diatas. Sel.Ip. Oleh karena itu pada kasus ini dipilih metformin. XXX S 3 dd tab I Pro : Ny.

Hindari merokok. Kurangi makanan manis atau yang berkalori tinggi yang mengandung banyak glukosa. Bagaimana caranya? • • • • • • • • • • Menurunkan berat badan. Penderita diabetes yang merokok bahkan lebih berisiko. Hindari stres. Minum obat yang dianjurkan dokter untuk menurunkan kadar gula.BAB IV Kesimpulan Dan Saran KESIMPULAN DM merupakan penyakit metabolik yang dapat menyebabkan berbagai macam komplikasi yang sangat mempengaruhi kualitas hidup penderita. sehinga perlu mendapat perhatian serius dari semua pihak. Berolahraga secara teratur. Minum banyak air. . diawetkan atau goreng-gorengan. SARAN Mengingat bahaya dan komplikasi yang dapat disebabkan penyakit diabetes. karena kebiasaan mereka merusak jantung serta sistem sirkulasi. Pada setiap penanganan penyandang DM harus ditetapkan target yang akan dicapai sebelum pengobatan. pemberian insulin secara teratur perlu diberikan melalui terapi insulin. Lemak dalam tubuh dapat menyerap insulin. Hal ini bertujuan untuk mengetahuikeberhasilan program pengobatan dan penyesuaian regimen terapi sesuai kebutuhan. Bagi penderita diabetes tipe 1. Sebaliknya. Pengobatan DM ini sangat spesifik dan individual untuk masing-masing pasien. Sampai saat ini memang belum ditemukan cara atau pengobatan yang dapat menyembuhkan diabetes secara menyeluruh. Hindari alkohol atau softdrink. Sebuah referensi menyatakan bahwa 95 persen amputasi yang berkaitan dengan diabetes dilakukan pada para perokok. maka menghindari atau mengendalikan kadar gula yang tinggi adalah cara terbaik. dan mempersempit pembuluh darah. Namun harus diingat bahwa DM dapat dikendalikan. Hindari makanan berlemak. pilih makanan yang berserat tinggi dan glukosa kompleks.

. tetapi dengan mengendalikan gula dalam darah.Obat penyembuh diabetes memang tidak ada. seseorang dapat terhindar dari bahaya penyakit ini. Mengubah pola makan dan gaya hidup menjadi lebih baik dan lebih sehat harus dijalankan.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->